MAKALAH
Al-UMURU BI MAQOSHIDIHA
Dosen Pengampu: K.H. Zia Ul Haramein, Lc, M.Si.
Disusun Oleh :
Abdul Muhith
Ahmad Mumtaz Hakki
Ahmad Darmawan
Ramadani Nasution
Rasendry Padantya
Zulkifli
PROGRAM STUDI ILMU AL - QUR’AN DAN TAFSIR
FAKULTAS USHULLUDDIN
INSTITUT PEGURUAN TINGGI ILMU AL - QUR’AN JAKARTA
2020/2021
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...............................................................................................................3
BAB I .........................................................................................................................................4
PENDAHULUAN .....................................................................................................................4
A. LATAR BELAKANG ....................................................................................................4
B. RUMUSAN MASALAH................................................................................................5
C. TUJUAN .........................................................................................................................5
BAB II........................................................................................................................................6
PEMBAHASAN ........................................................................................................................6
A. PENGERTIAN Al-UMURU BI MAQASHIDIHA .......................................................6
B. PENERAPAN NIAT DALAM IBADAH ......................................................................7
C. PENERAPAN NIAT DALAM MUAMALAH..............................................................7
D. MENGGABUNGKAN DUA NIAT...............................................................................8
BAB III ......................................................................................................................................9
PENUTUP..................................................................................................................................9
A. KESIMPULAN...............................................................................................................9
B. SARAN ...........................................................................................................................9
DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................................................10
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan semesta alam, yang mana
dengan nikmat-Nya lah makalah yang berjudul “Al-Umuru Bi Maqoshidiha” ini dapat
diselesaikan tepat pada waktunya. Shalawat serta salam semoga selalu terlimpahcurahkan bagi
Baginda Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam hingga hari kiamat kelak, beserta
keluarganya, sahabatnya, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan mereka yang mengikuti orang-orang
shalih tersebut hingga akhir hayatnya.
Terima kasih juga kami haturkan kepada bapak K.H. Zia Ul Haramein, Lc, M.Si.,
selaku dosen pengampu kami di mata kuliah Kaidah Fiqh. Semoga Beliau selalu diberikan
rahmat oleh Allah azza wa jalla, diberikan kesehatan yang paripurna agar dapat selalu
membagikan ilmu-ilmu Beliau kepada para murid Beliau. Aamiin aamiin allahumma aamiin.
Kami sangat amat bersyukur telah mendapatkan tugas pembuatan makalah yang
berjudul “Al-Umuru Bi Maqoshidiha” ini. Harapannya, makalah ini dapat memberikan
manfaat bagi kami, selaku penulis, dan para pembaca yang budiman.
Kami menyadari banyaknya kekurangan yang terdapat di dalam makalah ini, sehingga
kritik dan saran yang membangun sangat amat kami harapkan demi perkembangan studi kami
di hari depan.
Sekian yang dapat kami sampaikan, lebih kurangnya mohon dimaafkan, yang benar
datangnya dari Allah, yang salah datangnya dari diri kami dan syaithan. Wa billahi taufiq wal
hidayah,
Jakarta, 02 November 2021,
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Al-Umuru Bi Maqashidiha bermakna “Segala Sesuatu Didasarkan Pada Niatnya”. Kaidah
ini didasarkan pada hadits Rasulullah S.A.W. yang menyatakan bahwa “Innamal A’malu bin
Niyaat” yang artinya “Segala amal perbuatan tergantung niatnya”.
Kaidah ini menganjurkan bahwa ketika menilai keabsahan dan akibat hukum suatu
perbuatan, niat untuk melakukan perbuatan tersebut harus diperhitungkan. Seperti misalnya,
ketika seseorang menemukan barang orang lain tercecer dijalan dan mengambilnya, yang
kemudian barang tersebut hilang ataupun rusak ditangannya, maka kewajiban mengganti
barang tersebut tergantung pada niat dari mengambilnya.
Jika niatnya untuk dikembalikan kepada yang punya dan supaya orang lain tau, maka ia
dianggap amanah dan ia tidak diharuskan untuk membayar ganti rugi. Namun, jika niatnya
adalah untk memiliki barang tersebut, maka dia diharuskan membayar ganti rugi kepada
pemilik.
Contoh diatas menunjukkan bahwa karena niat, status orang yang menemukan barang
dipinggir jalan tadi berubah dari orang yang dipercaya (amanah) menjadi pencuri.
Ulama fiqh telah menetapkan banyak transaksi seperti itu yang tidak sah. Dimana tujuannya
tidak konsisten dengan dengan niat melakukan transaksi itu. Sehingga, mereka telah
menyatakan bahwa penjualan buah anggur kepada orang yang mengekstrak anggur menjadi
minuman yang memabukkan tidak sah, sebab motivasi membelinya tidak diperbolehkan.
Begitu juga dengan suatu akad nikah yang ditujukan untuk membantu pernikahan kembali
2 orang yang bercerai adalah tidak sah, sebab pihak-pihak yang terlibat dalam akad ini tidak
berniat untuk hidup bersama selamanya dari pernikahan ini. Perlu diketahui bahwa Allah telah
menetapkan tujuan pernikahan adalah untuk kehidupan bersama selamanya.
Tidak ada pertentangan diantara ulama fiqh tentang konsistensi niat antara pihak-pihak
yang melakukan akad dengan niat Allah S.W.T.. Jika niat pihak yang melakukan akad tidak
selaras dengan niat Allah S.W.T., maka akadnya menjadi tidak sah. Alasannya, karena Allah
S.W.T. memiliki maksud dan tujuan tertentu dari setiap akad atau tindakan. Jika pihak yang
melakukan akad memiliki niat yang sama dengan Allah S.W.T. maka akad tersebut sah.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian Al-Umuru Bi Maqashidiha?
2. Bagaimana penerapan niat dalam ibadah?
3. Bagaimana penerapan niat dalam muamalah?
4. Bagaimana cara menggabungkan 2 niat?
C. TUJUAN
1. Agar kita bisa memahami arti serta makna dari Al-Umuru Bi Maqashidiha.
2. Supaya kita mengetahui cara-cara penerapan niat dalam hal ibadah dan juga niat dalam
muamalah, serta dapat mengetahui perbedaannya.
3. Agar kita bisa bisa mengetahui cara menggabungkan 2 niat.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN Al-UMURU BI MAQASHIDIHA
Al-Umuru Bi Maqashidiha berarti segala sesuatu berdasarkan maksudnya. Kaidah ini
bersumber dari hadis Rasulullah S.A.W yang merupakan hadis pusaka dalam diskursus ilmu
hadis, yang berbunyi :
َس ِم ْع ُت َر ُس ْو َل الل ِه صلى الله عليه:َع ْن أَ ِم ْي ِر ا ْل ُم ْؤ ِم ِن ْي َن أَ ِب ْي َح ْف ٍص ُع َم َر ْب ِن ا ْل َخ َّطا ِب َر ِض َي اللهُ َع ْنهُ قَا َل
ُ فَ َم ْن َكانَ ْت ِه ْج َرتُهُ ِإلَى اللهِ َو َر ُس ْو ِل ِه َف ِه ْج َرتُه. إِنَّ َما اْلأَ ْع َما ُل ِبال ِنيَّا ِت َوإِنَّ َما ِل ُك ِل ا ْم ِر ٍئ َما نَ َوى:وسلم يَقُ ْو ُل
َو َم ْن َكا َن ْت ِه ْج َرتُهُ ِل ُد ْنيَا يُ ِص ْيبُ َها أَ ْو ا ْم َرأَ ٍة يَ ْن ِك ُح َها فَ ِه ْج َرتُهُ إِلَى َما َها َج َر ِإلَ ْي ِه،ِإلَى اللهِ َو َر ُس ْو ِل ِه
Artinya : “Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab radhiallahuanhu, dia
berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya
setiap perbuatantergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan
apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan
Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya
karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin
dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.” (HR. Bukhary)
Kaidah ini berperan signifikan dalam banyak aspek keislaman seperti aqidah, ibadah,
muamalah, munakahat, jinayat, dan lain-lain. Dengan demikian, niat memiliki faedah yang
amat luas dalam islam, antara lain adalah;
1. Mengkhususkan tujuan ibadah hanya karena Allah
2. Membedakan antara perkara wajib dan sunnah
3. Membedakan antara kebiasaan/budaya dengan ibadah
4. Membedakan antara ibadah kontan dengan ibadah qadha’
Dalam kaidah fiqh, niat bertempat di dalam hati dan diperkuat dengan ucapan lisan. Jika
yang diucapkan lisan berbeda dengan yang niat dalam hati, maka yang dianggap adalah yang
di dalam hati, sesuai dengan firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 225 yang berbunyi :
ََل يُ َؤا ِخذُ ُك ُم ّٰلهلاُ ِباللَّ ْغ ِو فِ ْٓي اَ ْي َمانِ ُك ْم َو ٰل ِك ْن يُّ َؤا ِخذُ ُك ْم بِ َما َك َسبَ ْت قُلُ ْوبُ ُك ْم ۗ َوّٰلهلاُ َغفُ ْو ٌر َح ِل ْي ٌم
Yang artinya : “Allah tidak menghukum kamu karena sumpahmu yang tidak kamu sengaja,
tetapi Dia menghukum kamu karena niat yang terkandung dalam hatimu. Allah Maha
Pengampun, Maha Penyantun.”
B. PENERAPAN NIAT DALAM IBADAH
Niat dalam ibadah memiliki beberapa syarat, seperti :
1. Niat tidak disyaratkan dalam ibadah yang tidak serupa dengan kebiasaan seperti
membaca Al-Quran, berdzikir, bershalawat, dan lain-lain.
2. Niat harus ditentukan dalam ibadah yang memiliki kesamaan seperti shalat, puasa,
menyembelih hewan ternak, dan sebagainya.
3. Dianjurkan untuk menentukan kata “fardhu/fardhon” pada ibadah yang memiliki
kesamaan antara wajib, sunnah dan mubah.
4. Dianjurkan untuk membedakan antara niat ibadah yang dilakukan secara “ada-an”
dengan “qodho-an”, meskipun ini bukan suatu kewajiban.
5. Ucapan “lillahi ta’ala” pun bukan sebuah kewajiban, sebab niat melakukan ibadah jika
bukan karena Allah, maka otomatis adalah sebuah kesyirikan.
6. Dalam perbuatan yang disyaratkan niat, maka kesalahan penyebutannya dapat
membatalkan amalan tersebut.
C. PENERAPAN NIAT DALAM MUAMALAH
Niat dalam muamalah banyak ditemui dalam ranah interaksi sosial, baik dengan keluarga
maupun masyarakat. Topik ini terpusat pada satu kaidah besar yakni “Hal yang dianggap dalam
akad (transaksi) ialah maksud dan maknanya, bukan pada ucapan dan rangkaian kata-katanya”.
Namun jika yang terbesit dalam hati tidak terlalu kuat atau bimbang, maka apa yang diucapkan
menjadi penentu akad tersebut.
Seperti yang terdapat pada sebuah hadis Rasulullah S.A.W. yang artinya “Barangsiapa
berhutang dan berniat untuk tidak mengembalikannya, maka saat ia mati, ia akan menghadap
Rabb-nya sebagai seorang pencuri.” (HR. Ibnu Majah).
Dari hadits diatas kita bisa mengambil contoh, jika kita meminjam uang atau barang dan
tidak berniat untuk mengembalikannya, maka kita dapat dihitung sebeagai pencuri. Sama
halnya ketika kita beribadah, sebaik apapun prakteknya, jika naitnya hanya ingin dilihat orang,
maka akan dinilai sebagai riya’.
D. MENGGABUNGKAN DUA NIAT
Dua ibadah dengan niat yang berbeda dapat digabungkan niatnya dengan konsekuensi
sebagai berikut:
1. Dua-duanya sah, seperti shalat fardhu berjamaah dengan niat shalat tahiyyatul masjid.
2. Yang wajib sah dan yang sunnah batal. Seperti menggabung niat haji pertama dengan
haji kedua, ketiga, dan seterusnya, maka yang sah hanya haji wajib.
3. Yang sunnah sah dan yang wajib batal. Seperti beribadah zakat yang diniati sebagai
shodaqah, maka yang sah adalah shodaqahnya.
4. Keduanya tidak sah. Seperti melakukan takbiratul ihram dengan niat takbir ruku’, maka
keduanya (bahkan shalatnya) otomatis batal.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Al-Umuru Bi Maqashidiha berarti segala sesuatu berdasarkan maksudnya. Kaidah ini
bersumber dari hadis Rasulullah S.A.W yang merupakan hadis pusaka dalam diskursus ilmu
hadis, yang menyatakan bahwa “Innamal A’malu bin Niyaat” yang artinya “Segala amal
perbuatan tergantung niatnya”.
Niat dalam ibadah memiliki beberapa syarat, seperti :
1. Niat tidak disyaratkan dalam ibadah yang tidak serupa dengan kebiasaan.
2. Niat harus ditentukan dalam ibadah yang memiliki kesamaan.
3. Dianjurkan untuk menentukan kata “fardhu/fardhon” pada ibadah yang memiliki
kesamaan antara wajib, sunnah dan mubah.
4. Dianjurkan untuk membedakan antara niat ibadah yang dilakukan secara “ada-an”
dengan “qodho-an”, meskipun ini bukan suatu kewajiban.
5. Ucapan “lillahi ta’ala” pun bukan sebuah kewajiban, sebab niat melakukan ibadah jika
bukan karena Allah, maka otomatis adalah sebuah kesyirikan.
6. Dalam perbuatan yang disyaratkan niat, maka kesalahan penyebutannya dapat
membatalkan amalan tersebut.
Niat dalam muamalah banyak ditemui dalam ranah interaksi sosial, baik dengan keluarga
maupun masyarakat. Topik ini terpusat pada satu kaidah besar yakni “Hal yang dianggap dalam
akad (transaksi) ialah maksud dan maknanya, bukan pada ucapan dan rangkaian kata-katanya”.
Namun jika yang terbesit dalam hati tidak terlalu kuat atau bimbang, maka apa yang diucapkan
menjadi penentu akad tersebut.
Menggabungkan dua niat antara niat wajib dan sunnah bisa sah dua-duanya, bisa sah
sunnahnya dan batal wajibnya, bisa sah wajibnya dan batal sunnahnya dan bisa juga batal dua-
duanya, bergantung kepada kondisi.
B. SARAN
Demikianlah makalah ini kami susun, semoga makalah ini bermanfaat bagi para
pembaca. Dalam penulisan ini kami sadari masih banyak kekurangan, saran dan kritik yang
membangun sangat kami harapkan untuk menyempurnakan makalah kami ini.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an al-karim
An-Nawawy, Muhyiddin, Al-Hambaly, Ibnu Rajab. 1440. Al-Arba’un An-Nawawiyyah.
Prof. Dr. Muhammad Tahir Mansoori. 2010. Kaidah-kaidah Fiqih keuangan dan transaksi
bisnis. Bogor: Ulil Albab Institute