Pengenalan Dasar Konstruksi
1. WIRE ROPE UTAMA
Berfungsi sebagai pemikul beban
dan gaya-gaya yang bekerja pada
hanger dan menyalurkan beban
tersebut ke pylon dan angkur utama
Dihubungkan ke
angkur utama dan
diikat menggunakan
wire clip/ buldog
grip (kuku macan).
Konstruksi Jembatan 2. PYLON
Berfungsi sebagai penahan beban
utama yang timbul dari berat gelagar/
struktur jembatan dan beban lalu lintas
di atasnya yang disalurkan melalui wire
rope utama yang kemudian disalurkan
ke tanah melalui pondasi.
47
Pengenalan Dasar Konstruksi
3. ROLLER
Saddle dan roller adalah
bagian dari pylon yang
letaknya di atas yang
berfungsi sebagai tumpuan
wire rope utama dengan
menggunakan rol untuk
mengurangi pengaruh
ketidakseimbangan
menara akibat lendutan
wire rope utama.
Konstruksi Jembatan 4. HANGER
Komponen yang menahan beban/ berat
gelagar/ struktur jembatan & lalu lintas di
atasnya dan menyalurkanya ke wire rope
utama untuk kemudian didistribusikan ke
pylon dan angkur utama, berupa
perpaduan antara besi bulat assental /
roundbar dan walter mur.
48
Pengenalan Dasar Konstruksi
Walter Mur Walter mur dipasang pada
Hanger bagian tengah hanger.
Berfungsi untuk mengatur
tinggi/ panjang pendeknya
hanger agar elevasi dan
Konstruksi Jembatan chamber jembatan dapat
dibentuk sedemikian rupa
sesuai rencana sehingga
beban/ berat jembatan dan
lalu lintas di atasnya dapat
disebar secara merata ke
semua hanger yang
terpasang.
49
2018 | MARET PengenaMlanADHaEsaSrAKoSnOstrLuUksSi I
Klem Hanger Berfungsi memindahkan
beban jembatan ke wire
rope utama yang
Pada bagian bawah terbuat dari plat dan
hanger dihubungkan dijepitkan disisi kanan
ke gelagar/ struktur dan kiri hanger dengan
jembatan dengan menggunakan baut.
klem girder Agar klem tersebut
tidak bergeser wire
rope diselimuti dengan
timah hitam.
Klem Garder
Konstruksi Jembatan 50
Pengenalan Dasar Konstruksi
5. IKATAN ANGIN
Wire rope ikatan angin
dirakit dan dihubungkan di
sebelah kanan kiri gelagar/
struktur jembatan dan
ditahan oleh 4 buah angkur
yang ditanam di pondasi
ikatan angin,
Berfungsi sebagai pengaku
untuk menahan gerakan/
getaran/ goyangan yang
terjadi pada gelagar/
struktur jembatan.
6. GELAGAR/ STRUKTUR JEMBATAN
Konstruksi Jembatan Berfungsi sebagai pengaku dan
sebagai tumpuan beban-beban
konstruksi dan beban lalu
lintas yang bekerja di atasnya.
Gelagar/ struktur jembatan
yang menyatu dengan pelat
lantai jembatan merupakan
bagian elemen struktur utama
yang memikul beban luar,
kemudian disalurkan ke sistem
kabel.
51
Pengenalan Dasar Konstruksi
3.2 KOMPONEN JEMBATAN
RANGKA
Jembatan rangka (truss bridge), tersusun dari batang-batang
yang dihubungkan satu sama lain dengan pelat buhul, dengan
pengikat paku keling, baut atau las.
Gambar Komponen Jembatan Rangka (Truss Bridge)
Gambar Jembatan Rangka (Truss Bridge) Gambar Jembatan Rangka Baja Lengkung
(Arch Bridge)
Konstruksi Jembatan 52
Pengenalan Dasar Konstruksi
3.2.1 KONSTRUKSI
JEMBATAN BAGIAN BAWAH
Konstruksi bagian bawah jembatan meliputi :
1. Pangkal jembatan / abutment + pondasi
2. Pilar / pier + pondasi
3. Perletakan
1. PANGKAL JEMBATAN
/ ABUTMENT
Konstruksi Jembatan Kepala jembatan /
abutment adalah
struktur bawah
jembatan yang
berada di kedua
ujung jembatan
Berfungsi untuk
menerima beban
langsung dari
stuktur atas
kemudian
diteruskan ke
pondasi
53
Pengenalan Dasar Konstruksi
2. PILAR/PIER &
PERLETAKAN (SUPPORT)
Pilar berfungsi untuk memikul
seluruh beban pada ujung-ujung
bentang dan gaya-gaya yang
lainnya serta meneruskannya ke
fondasi.
Perletakan berfungsi untuk
menyalurkan seluruh gaya-gaya
dari struktur menuju abutment
atau pilar yang kemudian akan
diteruskan ke pondasi.
Jenis-Jenis Perletakan/Tumpuan
pada Jembatan
Perletakan Rol (Roll
Support)
Konstruksi Jembatan 54
Pengenalan Dasar Konstruksi
Perletakan Sendi
(Pinned Support)
Perletakan Elastis
(Elastomeric
Bearing Pad)
Konstruksi Jembatan 55
Pengenalan Dasar Konstruksi
3.2.2 KONSTRUKSI
JEMBATAN BAGIAN ATAS
1. GELAGAR
Konstruksi Jembatan 56
Pengenalan Dasar Konstruksi
Gelagar induk merupakan komponen utama
yang berfungsi untuk mendistribusikan
beban-beban secara longitudinal dan biasanya
didesain untuk menahan lendutan.
Gelagar melintang/ crossgirder / diafragma
berfungsi untuk menerima atau memikul beban-
beban dari stringer dan plat lantai diatasnya
yang kemudian disalurkan ke rangka utama.
Ikatan angin (windbrace) berfungsi
menyalurkan gaya akibat angin menuju
perletakan
Stringer atau balok memanjang
berfungsi menerima beban yang berasal
dari lantai kendaraan yang kemudian
disalurkan menuju gelagar melitang
Konstruksi Jembatan 57
Pengenalan Dasar Konstruksi
2. RANGKA UTAMA
Rangka utama berfungsi menerima gaya-gaya yang
bekerja dari komponen lantai-gelagar-stringer dan gaya
lain seperti gaya angin tiup.
Konstruksi Jembatan 58
Pengenalan Dasar Konstruksi
PELAT BUHUL/SIMPUL/JOINT/
GUSSET PLATE
Berfungsi sebagai
penghubung antara
elemen-elemen pada
jembatan dengan
bantuan baut mutu
tinggi.
3. LANTAI JEMBATAN :
EXPANSION JOINT/SIAR MUAI/
PELAT INJAK
Salah satu jenis sambungan
yang digunakan untuk
menyambung beton pada
sebuah konstruksi jembatan.
Dengan adanya sambungan
tersebut, kendaraan dapat
melintas secara aman di atas
jembatan.
Konstruksi Jembatan 59
Pengenalan Dasar Konstruksi
3.3 BANGUNAN PELENGKAP
PENAHAN JEMBATAN
Bangunan pelengkap merupakan pelengkap dari konstruksi
jembatan yang berfungsi untuk pengamanan terhadap
struktur jembatan secara keseluruhan dan keamanan
terhadap pemakai jalan. Macam-macam bangunan pelengkap
seperti dibawah ini.
1.SALURAN DRAINASE
Drainase bisa
mengurangi genangan
air atau banjir pada
jalan jembatan, pada
saat musim penghujan.
Konstruksi Jembatan 60
Pengenalan Dasar Konstruksi
2. JALAN PENDEKAT
(OPRIT JEMBATAN)
Jalan ini berfungsi sebagai jalan masuk bagi kendaraan yang
akan lewat jembatan agar terasa nyaman. Terletak dikedua
ujung jembatan.
3. TALUD
Fungsi utama dari talud
adalah sebagai pelindung
abutment dari aliran air
sehingga sering disebut talud
pelindung, terletak sejajar
dengan arah arus sungai
Konstruksi Jembatan 61
PEMERIKSAAN
MUTU
KONSTRUKSI
Pengenalan Dasar Konstruksi
4.1. PENGUJIAN KUALITAS MUTU BETON
Mutu Beton adalah pertanda dari kualitas atau kekuatan
karakteristik beton yang biasanya ditunjukan dengan satuan
angka dan huruf seperti K dan F’c.
Perbedaan Mutu Beton K dan F’c :
Mutu beton K adalah perhitungan kuat tekan beton dengan
menggunakan perhitungan dengan satuan kg/cm2,
sedangkan dengan mutu beton yang menggunakan istilah
F’c adalah perhitungan kekuatan beton dengan satuan MPa.
Perbedaan kedua adalah dalam pembuatan sampel, mutu
beton K menggunakan kubus ukuran 15 cm x 15cm x 15 cm ,
sedangkan pada mutu beton F’c menggunakan benda uji
silinder berukuran diameter 15 cm dan tinggi 30 cm.
Perbedaan yang ketiga adalah mutu beton K adalah
mengacu kepada peraturan beton bertulang Indonesia (PBI)
tahun 1971 yang lebih lamasedangkan mutu beton F’c
mengacu pada peraturan terbaru yakni SNI-03-2847-2002
Note : Untuk konversi mutu beton K ke mutu beton F’c dapat
dilihat pada Lampiran
Pemeriksaan Mutu Konstruksi 63
Pengenalan Dasar Konstruksi
1. PENGUJIAN BETON SEGAR :
_ SLUMP TEST
Uji Slump adalah suatu uji empiris/metode yang digunakan
untuk menentukan konsistensi/kekakuan (dapat dikerjakan
atau tidak) dari campuran beton segar (fresh concrete)
untuk menentukan tingkat workability nya. Kekakuan dalam
suatu campuran beton menunjukkan berapa banyak air yang
digunakan. Untuk itu uji slump menunjukkan apakah
campuran beton kekurangan, kelebihan, atau cukup air.
Alat :
Suatu cetakan bentuk kerucut terpancung, tinggi 300
mm, diameter alas 200 mm, diameter atas 100 mm.
Batang penusuk
Pemeriksaan Mutu Konstruksi 64
Pengenalan Dasar Konstruksi
Cara pengujian :
diisi adukan beton dalam tiga lapis pengisian, masing-masing
lapis ditusuk sebanyak 25 kali dengan batang penusuk
berdiameter 16 mm.
Cetakan diangkat vertikal secara hati-hati
Nilai slump* = tinggi alat slump – tinggi beton setelah terjadi
penurunan
Semakin tinggi nilai slump maka kuat tekan beton semakin
turun demikian pula sebaliknya
Kelebihan dari Uji Slump adalah dapat dilakukan oleh semua orang:
mudah dilakukan dan mudah diukur, bahkan oleh tukang / pekerja
sekalipun. Sehingga Uji ini lebih populer dibandingkan uji lainnya
dan sampai saat ini masih digunakan.
Gambar Pengujian Slump Beton 65
*Nilai slump yang ideal dapat dilihat pada Lampiran
Pemeriksaan Mutu Konstruksi
Pengenalan Dasar Konstruksi
Slump sebenarnya (true slump)
adukan memenuhi syarat workabilitas
bentuk slump benar dan ideal
campuran adukan sudah benar dan
siap digunakan
Slump geser (shear slump)
adukan tidak memenuhi syarat
workabilitas
Pada keadaan ini bagian atas
sebagian bertahan, sebagian
runtuh sehingga berbentuk
miring, mungkin terjadi karena
adukan belum rata tercampur.
Slump runtuh (collapse)
adukan tidak memenuhi syarat
workabilitas
Pemeriksaan Mutu Konstruksi disebabkan penggunaan air yang
terlalu banyak sehingga
campuran dalam cetakan runtuh
sempurna.
Proporsi air yang terlalu banyak
akan menghasilkan kekuatan
beton yang rendah.
66
Pengenalan Dasar Konstruksi
2. PENGUJIAN BETON KERAS :
UJI HAMMER TEST
Hammer test merupakan suatu alat pemeriksaan mutu beton
tanpa merusak beton. Metode pengujian ini dilakukan
dengan memberikan beban tumbukan (impact) pada
permukaan beton. Data hasil pengujian akan diperoleh
dalam waktu yang relatif singkat. Standar pengujian yang
dipakai pada hammer test adalah SNI ASTM C805: 2012
mengenai Metode Uji Angka Pantul Beton Keras
Secara umum alat ini dapat digunakan untuk :
Memeriksa keseragaman kualitas beton pada struktur
Mendapatkan perkiraan kuat tekan beton
Gambar Alat Hammer Test 67
Pemeriksaan Mutu Konstruksi
Pengenalan Dasar Konstruksi
Benda Uji
Kupas/chipping plesteran/acian hingga permukaan beton.
Permukaan dengan tekstur yang kasar, lunak, atau terkelupas
mortarnya harus diratakan dengan amplas/batu penggosok;
Tebal minimum 100 mm
Hindari pengujian pada daerah yang menunjukkan adanya
keropos, permukaan beralur (scaling), permukaan kasar, atau
daerah dengan porositas yang tinggi, dan beton harus bebas
dari karbonasi;
Pengujian tidak diizinkan apabila di bawah permukaan beton
terdapat batang tulangan dengan selimut kurang dari 20 mm;
Pemeriksaan Mutu Konstruksi 68
Pengenalan Dasar Konstruksi
Posisi Pengujian : Posisi alat harus tegak lurus dengan
bidang uji.
Terdapat tiga poisi pengujian hammer test yang dapat
mempengaruhi nilai pengujian, yaitu:
Posisi A, yaitu posisi horisontal ke samping (0 derajat);
Posisi B, yaitu posisi vertikal ke bawah (-90 derajat);
Posisi C, yaitu posisi vertikal ke atas (90 derajat).
Pemeriksaan Mutu Konstruksi 69
Pengenalan Dasar Konstruksi
Cara pengujian :
Note
Hasil pembacaan alat
kemudian akan dianalisis
lebih lanjut oleh Konsultan
Teknis atau Laboratorium
1. Bagi dan tandai areal pengujian untuk minimal 10 titik
dengan jarak antar titik minimal 25 mm. Periksa
permukaan beton setelah tumbukan, batalkan
pembacaan jika tumbukan memecahkan atau
menghancurkan permukaan beton karena terdapat
rongga udara, dan ambil titik bacaan yang lain;
2. Alat ditekan secara perlahan dengan arah tegak lurus
bidang uji sampai terjadi pukulan pada titik uji ;
3. Catat semua nilai pembacaan yang ditunjukkan oleh
skala (hammer rebound)
Pemeriksaan Mutu Konstruksi 70
Pengenalan Dasar Konstruksi
4.2 PENGUJIAN JALAN ASPAL
Pengujian core drill ini bertujuan untuk menentukan dan
mengambil sampel perkerasan di lapangan sehingga dapat
diketahui tebal dan karakteristik campuran perkerasan.
Pengujian ini dilakukan beberapa titik STA* yang telah
ditentukan bersama.
Gambar Mesin Core Drill Gambar pengukuran tebal perkerasan aspal
dengan jangka sorong
*Titik STA = jarak langsung yang diukur dimulai dari titik awal hingga titik tujuan 71
Pemeriksaan Mutu Konstruksi
Pengenalan Dasar Konstruksi
Langkah Pengujian
Gambar Pelaksanaan Core Drill Aspal
1. Alat diletak pada lapisan aspal dalam posisi datar
2. Sediakan air dengan alat yang ada sistem pompa
3. Masukkan air ke dalam alat core drill melalui selang yang telah
tersedia di alat tersebut. Air berfungsi sebagai pendingin, dan
juga agar mata bor tidak cepat aus serta tidak mengalami
kerusakan selama pengujian.
4. Lalu hidupkan mesin core drill.
5.Setelah mesin dihidupkan, mata bor diturunkan secara perlahan
pada titik yang telah ditentukan sampai kedalaman tertentu. Jika
telah mencapai kedalaman tertentu mesin dimatikan dan mata
bor dinaikkan kembali.
6. Lubang hasil pengeboran ditutup kembali menggunakan bahan
yang telah disediakan.
7. Hasil pengeboran diambil dengan menggunakan alat penjapit.
Untuk diukur ketebalan dengan menggunakan jangka sorong.
8. Lalu foto pengujian untuk dokumentasi dan hasil pengukuran
tersebut dicatat untuk dihitung rata-ratanya.
Pemeriksaan Mutu Konstruksi 72
PENJELASAN
TEKNIS
1.CARA MEMBACA
DETAIL TULANGAN
PADA GAMBAR TEKNIS
CONTOH GAMBAR TEKNIS
TUMP : tulangan di pasang di daerah tumpuan (daerah ujung)
LAP : tulangan di pasang di daerah lapangan (di tengah bentang)
Penjelasan Teknis 74
Informasi yang DIperoleh dari Gambar Teknis
1. Penampang balok memiliki ukuran lebar 300 mm dan tinggi
400 mm.
2. Tulangan Utama
3D16
Tulangan atas dan tulangan bawah mempunyai 3 buah
tulangan utama dengan diameter tulangan 16 mm
Penjelasan Teknis 75
Pengenalan Dasar Konstruksi
TULANGAN
SENGKANG/BEGEL/CINCIN
D10-100
Tulangan sengkang di daerah tumpuan menggunakan tulangan
dengan diameter 10 mm, jarak antar sengkang 100 mm
D10-200
Tulangan sengkang di daerah lapangan menggunakan tulangan
dengan diameter 10 mm, jarak antar sengkang 200 mm
Penjelasan Teknis 76
2. CARA
KONVERSI NILAI
MUTU BETON
RUMUS : = F’C / 0,083
= K X 0,083
NILAI MUTU BETON K
NILAI MUTU BETON F’C
Contoh 1 : Contoh 2 :
Suatu hasil pengujian beton Diketahui nilai mutu beton K-150,
memiliki nilai kuat tekan
f'c = 25 MPa Nilai f’c = K x 0,083
Konversinya = 25 MPa / 0,083 = = 150 x 0,083
30,120 MPa atau 300,120 Kg/cm2 = 12,45 MPa
Penjelasan Teknis 77
3. STANDAR
NILAI SLUMP
BERDASARKAN PERATURAN BETON BERTULANG
INDONESIA, 1971 , NILAI SLUMP YANG IDEAL
ADALAH SEBAGAI BERIKUT :
Catatan :
Jika pada sat uji slump bentuk yang dihasilkan adalah collapse atau
shear, maka tidak perlu membuat campuran baru terburu-buru.
Cukup ambil sample beton segar yang baru dan mengulang
pengujian. Jika pengujian kedua hasilnya tetap sama, maka harus
membuat adukan yang baru yang memenuhi syarat workabilitas.
Penjelasan Teknis 78
DAFTAR PUSTAKA Kementerian PUPR, Modul 1 Diklat
Perkerasan Kaku, 2017
Kementerian PUPR, Modul 3 Diklat
Perkerasan Kaku, 2017
Kementerian PUPR, Manual Desain
Perkerasan Jalan No:02/M/BM/2013
Peraturan Beton Bertulang Indonesia,
1971
Bridge Inspector's Reference Manual,
Federal Highway Administration, U.S.
Department of Transportation, 2006.
Uji Kekuatan Beton dengan Hammer
Test. https://hesa.co.id/uji-kekuatan-
beton-dengan-hammer-test/
Cara Pengujian Core Drill Aspal.
https://www.kitasipil.com/2017/04/cara-
pengujian-core-drill-aspal/
Agregat Kasar (Split) : Parameter untuk
beton struktural
https://lauwtjunnji.weebly.com/agregat
-kasar--parameter.html
Production of Road and Superstructure
Material.
https://www.simgemat.com.tr/en/Faali
yetAlanlari/YolVeUstyapiMalzemeUreti
mleri
TENTANG PENULIS Farras Puti Dzakirah lahir di
Bengkulu, pada 30 November
1995. Ia menyelesaikan gelar
sarjana di Universitas
Gunadarma, Jawa Barat. Ia
mengawali karier sebagai
estimator di sebuah perusahaan
konsultan konstruksi.
Selanjutnya pernah bekerja
sebagai asisten tenaga ahli
konstruksi di Satuan Kerja Non
Vertikal Tertentu (SNVT)
Penyediaan Perumahan
Bengkulu Direktorat Jenderal
Perumahan Kementerian PUPR.
Pengalaman ini
menginspirasinya untuk menulis
buku edukasi terkait konstruksi.