Ebook
Sharing Novel All Platform
Kata Pengantar
Alhamdulillah, segala puji hanyalah milik Allah Azza wa Jalla, karena
Berkat limpahan-Nya, Event menulis Cerpen Tema Harapan yang di
selenggerakan oleh Grup Sharing All Platform (SNAP) Bisa terlaksana
dengan lancar.
Semoga buku ini nantinya bisa bermanfaat, menghibur, dan juga
menginspirasi bagi para pembaca yang membacanya.
Terima kasih kepada anggota Grup SNAP, karena berkat kalian lah kami
bisa berada di titik seperti sekarang.
Terima kasih juga kepada para Admin grup SNAP yang sudah dengan
lapang hati bersedia membimbing kami para penulis pemula untuk
menulis dan berkarya.
Semoga karya tulis Cerpen yang ditulis oleh 10 penulis keren ini bisa
bermanfaat khususnya bagi para penulis dan umumnya bagi para
pembaca.
Salam hangat, peluk jauh.
Tetap semangat dalam berkarya.
Grup SNAP, 21 Maret 2021
Daftar Isi
1. Ketiduran
2. Keinginan Terakhir Ibu
3. Bad Dream
4. Manisnya Perpaduan
antara Vanilla dan Latte
5. Beyond the Boundary
6. Story of Alendra
7. Menuju Mimpi
8. Sebatas Harapan
9. Keberadaan Dua Gadis
10. Harapan yang Sia-sia
Ketiduran
Karya: Langiteunoia
Sore itu, langkah Jevin kembali terarah ke sebuah taman. Taman yang telah banyak
mengikat kenangannya dengan seseorang yang sudah setahun lamanya tidak dia temui.
Seseorang yang sudah dengan tega meninggalkannya begitu saja tanpa mengatakan
sepatah katapun sebelum pergi. Perpisahan sepihak yang sangat menyakitkan hati dan
berbekas sangat dalam hingga waktupun tak mampu menyembuhkannya.
Walau begitu, Jevin seakan tak mampu untuk melupakan seseorang tersebut. Mungkin
karena rasa sakit yang teramat dalam atau mungkin juga karena memang dia begitu
sangat mencintainya. Tak sedikitpun ia akan bisa lupa dengan segala yang sudah mereka
lewati lima tahun lamanya itu.
Seperti sekarang, bila merasa rindu Jevin akan datang ke taman ini, mengenang kisah
mereka dan berharap jika seseorang itu akan kembali lagi.
Rasa lelah seharian ini membuat Jevin memilih untuk duduk beristirahat sejenak di salah
satu bangku panjang yang berada di sudut taman. Mukanya datar, cenderung lesu.
Jevin menatap orang-orang yang berada di sana. Sesekali orang yang sedang berjoging
sore melintas di depannya. Berseberangan dengan tempat duduknya itu ada lapangan
berumput hijau.
Tampak sepasang muda-mudi sedang bermain dengan anjing peliharaannya, membuat
Jevin teringat jika dulu di sana dia pernah bersama seseorang itu juga tertawa bahagia.
Dia ingat sekali kala itu, betapa antusiasnya wanita itu ketika membuka kado yang
dibawanya.
"Apa ini?" tanya wanita itu.
"Buka saja, kamu pasti kaget," jawab Jevin.
Sambil membuka kertas yang membungkus kado berbobot lumayan berat itu, sang wanita
berkata, "Jadi takut, kamu gak lah ngerjain aku kan?"
Jevin tertawa, melihat tatap curiga wanita itu.
"Enggak,” kata Jevin.
“Wah!” tiba-tiba wanita itu berteriak girang sampai orang-orang yang berada di
sekitar menengok ke arah mereka.
Betapa kagetnya ia melihat sepasang kelinci berwarna putih bermata besar yang sangat
menggemaskan berada di dalam kandangnya tersebut.
“Lucu banget,” kata wanita itu.
“Happy birthday, Sayang,” kata Jevin tulus, dengan senyuman tersungging di bibir.
Wanita itu melompat senang dan memeluk Jevin.
“Makasih, Sayang… kok kamu bisa tau aku pengen pelihara kelinci?”
“Kamu ingat waktu itu kita pernah ke sini? Aku ingat banget waktu itu, ada anak kecil
lagi lari-lari mengejar kucingnya persis di sini. Terus kamu bilang, lucu kali ya kalo di sini
ada kelinci. Pasti akan aku kejar-kejar kayak anak kecil itu. Katamu,” jawab Jevin.
Wanita itu tersenyum pada Jevin, dia terharu betapa perhatian kekasihnya itu pada
dirinya.
Jevin ingat sekali tawa itu, tingkah lucunya ketika berlarian mengejar kelinci
yang sudah dilepaskannya dari kandang. Jevin menghembuskan nafas panjang,
kemudian mengakhiri lamunannya pada masa itu, betapa rindu dan inginnya ia
mengulang itu semua.
Jevin menyandarkan punggungnya, pikirannya kembali melayang. Hari ini tepat
setahun yang lalu dia bersama seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya.
Teman merangkai bahagia, berbagi tawa, merajut asa tentang harapan mereka
ke depannya. Tepat di sini, saat terakhir kalinya dia bertemu dengan wanita itu.
Jevin berjanji ingin
mengikat hubungan mereka dengan ikatan suci yang direstui Sang Ilahi.
Tapi, tepat seminggu sebelum ikrar janji sehidup semati itu diucap sah oleh
Jevin, wanita itu pergi, hilang begitu saja meninggalkannya.
Semilir angin bertiup menerbangkan helaian rambutnya, membuat matanya
menutup dan terpejam sendu. Ah, andai saja, sesal Jevin.
Jevin yang mulai larut dengan kesendiriannya dan mata terpejam. Merasa
terganggu saat seseorang meniup wajahnya. “Cobaan apa lagi ini!” geram
Jevin dalam hati.
“Hei,” panggil seseorang itu kemudian.
Deg
Jantung Jevin tersentak kaget, karena dia mengenal betul suara itu. Seketika ia
membuka mata. Dan benar saja, di depannya telah berdiri seorang wanita. Dia
adalah Jessica. Seseorang yang sudah tega meninggalkan Jevin begitu saja
setahun lalu. Dan yang menjadi alasan Jevin untuk berada di sana sekarang.
“Jes?” sapa Jevin ragu. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Iya, ini aku Vin,” kata Jessica. “Boleh aku duduk?” tunjuknya pada kursi kosong di
sebelah Jevin.
Jevin hanya mengangguk.
Sekarang setelah apa yang diharapkan Jevin terjadi. Dia justru bingung dengan apa yang
harus dilakukannya. Hatinya gundah, entah dia harus marah karena merasa sangat
dikecewakan atau dia harusnya merasa senang karena akhirnya dia kembali seperti apa
yang diharapkannya selalu.
“Kenapa kamu bisa ada di sini?” tanya Jevin.
“Karena aku tau kamu pasti akan ke sini,” jawab Jessica.
“Tau dari mana?”
“Aku tau, karena aku selalu memperhatikanmu dari jauh Vin,” kata Jessica.
Walau sulit dipercaya tapi Jevin menerima saja jawaban Jessica itu.
“Kamu enggak mau marah sama aku?” tanyanya kemudian.
Jevin menatap mata Jessica. “Ya memang itu seharusnya yang aku lakukan Jes, tapi kamu
tau? saat aku melihatmu aku tak sanggup melakukan itu, karena aku sangat cinta kamu.”
Jessica tersenyum.
“Terima kasih sudah mencintaiku, Vin.”
“Tapi apa ini?” Jessica menatap Jevin dari ujung rambut sampai kakinya.
“Aku gak suka kamu yang sekarang!” ungkapnya.
"Hah? Kanapa?" tanya Jevin heran.
“Ini bukan style kamu yang aku kenal. Apa-apaan pake baju serba hitam gini?” Kritik
Jessica. “Terus ini lagi, liat rambut kamu… panjang banget! Terus kumis dan jenggot
gak pake dicukur lagi. Apa kamu jadi anak band metal sekarang?” sindir Jessica.
Jevin tertawa. ”Iya, rencananya aku mau jadi anak band metal Jes,” Jawab Jevin yang
tentu saja bohong dan Jessica pun tau itu. “Tapi karena kamu gak suka, gak jadi deh.
Aku mau kok berubah agar kamu bahagia.”
“Bukan begitu Vin. Kamu berubah bukan untuk aku atau orang lain, tapi berubahlah
untuk dirimu sendiri, agar lebih baik dan juga kebahagiaanmu sendiri,” pinta Jessica.
“Iya Jes, aku tau kok.”
Sesaat mereka terperangkap dalam hening. Walau sebenarnya banyak sekali pertanyaan
yang berkecamuk di pikiran Jevin, tapi tak sepatah katapun lidahnya mampu untuk
berucap. Bahkan untuk menanyakan status hubungan mereka saja Jevin tak sanggup,
karena dulu memang belum ada kata putus terucap dari keduanya.
“Vin, di taman ini banyak kenangan ya untuk kita,” kata Jessica memecah sunyi di antara
mereka.
“Iya, makanya kau suka datang ke sini.”
“Aku paling ingat pertama kali kita datang ke sini, dan saat itu juga kamu meminta aku
untuk jadi pacarmu. Saat aku jawab iya. Kamu langsung melompat, dan berlari-larian tak
perduli di liat banyak orang,” kenang Jessica.
"Haha ... iya karena aku memang sebahagia itu, Jes, Bisa jadian sama kamu."
Jessica tersenyum. “Aku juga bahagia Vin bisa bertemu dengan pria sepertimu.”
Mata Jessica kemudian teralihkan pada sebuah cincin yang melingkar di jari manis Jevin.
“Kamu sudah punya seseorang ya, Vin?” tanya Jessica menunjuk cincin Jevin.
“Siapa? Aku? Nggak akan mungkin, Jes.” Ia kemudian mengeluarkan kalung yang
dipakainya dan cincin yang sama dengan yang dipakai di jarinya tergantung di sana. “Ini
harusnya cincin pernikahan kita. Aku sengaja pakai agar orang tau kalau aku sudah punya
kamu.”
“Jadi itu untuk ku?” tanya Jessica.
“Iya,” jawab Jevin.
“Kalau benar begitu. Boleh aku minta untuk kamu pasangkan di jariku?”
“Jangan, Jes. Aku tidak bisa.” Jevin menolak permintaan Jessica.
“Kenapa? Kata kamu itu milikku?”
“Iya, Jes. Tapi aku gak bisa.” Wajah Jevin berubah panik.
“Kamu tidak sayang lagi sama aku?” tanya Jessica dengan raut wajah sedih.
“Aku sangat sayang sama kamu, Jes. Bahkan sampai sekarang. Kamu tau itu. Tapi
kumohon jangan ya?”
“Kalau begitu lakukan, Vin. Buktikan kalo kamu sayang sama aku,” pinta Jessica.
Begitulah Jevin, jika Jessica sudah memohon dengan bola matanya yang berbinar ia tidak
akan sanggup untuk menolaknya.
Walau berat hati, Jevin kemudian melepas cincin yang dipasang di kalungnya. Jessica
langsung menjulurkan tangannya pada Jevin agar segera dipasangkan.
Tangan Jevin tampak gemetar ketika ingin memasang cincin itu ke jari manis Jessica.
Ketika sudah berada di jari Jessica. Cincin itu terjatuh. Jevin menggelengkan
kepalanya seakan tak mengerti.
Kemudian Jevin mengambil cincin itu, lalu memasangkan kembali ke jari Jessica.
Tangan Jevin semakin gemetaran, kepalanya tunduk tak mampu menatap wajah
Jessica. Dan lagi ketika cincin itu sudah Jevin sematkan di jari manis Jessica, cincin
itu kembali jatuh ke tanah. Kali ini bersamaan dengan tetes air mata Jevin yang tak
dapat ia bendung lagi. Karena yang di lakukan Jevin sejak tadi hanya menembus
bayang Jessica.
“Kamu tega, Jes!” suara Jevin parau, menahan isak, dadanya sesak dengan gemuruh
rasa yang semakin mencekat.
“Tak bisa kah kau biarkan aku bahagia walau hanya dalam mimpi? Sebegitu inginnya
kah kamu mau menyadarkan aku dengan kenyataan ini?”
“Aku senang kalau kamu sudah sadar sekarang, Vin. Aku nggak mau lihat kamu begini
terus, Vin. Aku ingin kamu bahagia. Kamu juga gitu kan? Kamu mau melihat aku
bahagia? Aku akan bahagia di sana jika kamu juga sudah bisa bahagia di sini.”
“Tapi, Jes. Aku sangat cinta kamu. Aku nggak mungkin bisa lupa kamu.”
“Kalau kamu begitu, aku tidak akan bisa pergi dengan tenang ke sana, Vin. Kamu
harus bahagia dan jadi orang baik di sini. Mungkin kelak kita akan bertemu di sana.”
“Aku tau, Jes… tapi ini sangat berat.” Air mata Jevin kembali berderai.
"Aku pergi, Vin. Aku cinta kamu. Dan kamu harus bahagia.” Jessica perlahan
berdiri, melangkah pergi meninggalkan Jevin.
“Jessica! Tunggu sebentar lagi saja! Aku masih sangat merindukanmu!” teriak
Jevin memohon.
Tapi Jessica tetap berlalu dengan senyum manis, dan lambaikan tangan pada Jevin.
Perlahan ia hilang menyatu dengan cahaya senja sore.
“Jes… tunggu…!” lirih Jevin, menyebut nama Jessica.
Sampai akhirnya ia tersentak bangun dari mimpinya, ternyata dia sudah ketiduran
di bangku taman tersebut. Tangannya menyeka air mata yang masih berderai.
Sebelum datang ke taman, ia memang dari makam Jessica, memperingati hari
kematian gadis yang sangat di cintainya itu. Hari dimana dia kehilangan cintanya.
Semoga kamu bahagia Jes, aku akan mencoba bahagia juga, seperti keinginanmu.
~End~
~Tentang penulis
Langit, seorang pria penyuka musik, pengagum dan penulis puisi. Mencoba
belajar menulis novel sejak setahun terakhir.Di langit yang kau tatap, ada
rindu yang aku titip, mungkin kita cuma dipertemukan, tapi bukan untuk
dipersatukan.
~Langit, 11 Maret 2021
Keinginan Terakhir Ibu
Karya : Virna Nayla Batrisyia
Disebuah desa hidup seorang gadis bernama Lydia Artharin. Lydia seorang mahasiswi
Fakultas Hukum semester akhir, di semester inilah Lydia benar-benar harus bisa
membagi waktu antara harus menyelesaikan skripsi akhir dan membantu ibunya
berjualan daging ayam di pasar. Besok adalah hari dimana ia melaksanakan wisuda.
Lydia adalah anak yatim, sekarang ia hanya tinggal berdua bersama ibunya.
Ketika Lydia sedang menggunakan apron tiba-tiba ada seorang pembeli.
“Bu mau dagingnya 2 kilo ya.” ucap si Pembeli.
“Baik Bu sebentar saya panggil kan dulu anak saya.” jawab Ibu Lydia.
Dirinya pun memanggil Lydia untuk melayani pembeli tersebut.
“Nak tolong layani dulu sebentar, Ibu mau ke rumah dulu.” ujarnya sedikit berteriak.
“Iya Bu.” ucap Lydia sambil menghampiri Pembeli.
“Mau berapa kilo Bu?” tanyanya ramah.
“2 kilo aja Neng, di campur ya...” ucap si Pembeli.
“Iya Bu siap.”
Sembari memotong daging ayam, mereka pun berbincang-bincang sebentar.
“Neng udah kerja atau kuliah?”
“Saya kuliah Bu.” jawabnya ramah.
“Oala, kalo Ibu boleh tahu Neng ngambil fakultas apa?” tanyanya lagi.
“Fakultas Hukum semester akhir Bu.”
“Wah hebat, semoga lancar sampai wisuda nanti ya.”
“Iya Bu, aamiin aamiin terima kasih ya Bu.” jawabnya sambil memasukkan daging ayam
ke kantong plastik.
“Ini Bu, daging ayamnya.” menyerahkan kantong plastik itu kepada Ibu Pembeli.
“Ini uangnya....” menyerahkan selembar uang Rp. 50.000;
“Bu maaf apa tidak ada uang pas?” pinta Lydia.
“Yah tidak ada Neng atau begini saja kembaliannya ambil saja untuk Neng.”
“T-tapi Bu....” perkataan Lydia terpotong.
“Udah tidak apa-apa Neng ambil saja lagian Ibu buru-buru.” sambil memasukkan
daging ayamnya ke dalam tas belanjaannya.
“Oh begitu ya Bu, yaudah terima kasih Bu semoga rezekinya mengalir terus aamiin.”
“Aamiin Neng terima kasih ya.” pergi meninggalkan Lydia.
“Iya Bu terima kasih juga, hati-hati di jalan ya Bu.” ucap Lydia sedikit berteriak.
Lydia pun berguman mengucapkan syukur.
“Alhamdulillah Ibu pasti senang.” gumannya dalam hati.
Sambil menunggu dagangannya lebih baik ia mengerjakan skripsi akhir milikmya. Ketika
sedang asik mengerjakan tiba-tiba Ibunya datang.
“Sudah dilayani Nak?”
“Eh Ibu.... Sudah kok.” jawab Lydia.
2 jam berlalu kini hari sudah menjelang maghrib, Lydia dan Ibunya pun bergegas untuk
pulang karena sepertinya hujan akan turun.
“Yuk, Nak kita pulang sekarang keburu hujan turun.”
“Iya Bu ayo.” seraya menggandeng tangan Ibunya. Di perjalanan pulang mereka
berbincang-bincang seputar wisudanya Lydia.
“Oh ya Nak, kamu kapan wisuda?” tanya Ibunya dengan suara lembut.
“Besok Bu, pokoknya Ibu harus datang ya.” jawabnya dengan sangat antusias.
“Ibu pengen banget liat kamu wisuda.”
“Ya justru itu, Ibu datang ya.” jawabnya sambil merangkul Ibunya.
“Doakan saja semoga Ibu masih diberi umur panjang supaya bisa melihat kamu di
wisuda.” sambil menengok ke arah putrinya.
“Ihhh... Ibu kok ngomongnya begitu sih?” menghentikan langkahnya.
“Kenapa berhenti? yu jalan lagi sebentar lagi hujan akan turun.” sambil menggandeng
tangan putrinya.
Selama diperjalanan Lydia terus saja memikirkan apa maksud dari perkataan Ibunya tadi.
Akhirnya mereka pun sampai rumah dengan selamat.
“Yasudah ya Bu, Lydia mau mandi dulu, Ibu jangan lupa makan,"
“Iya Nak.” sambil menutup pintu utama. Ia pun menuju kamar dan duduk dipinggir
tempat tidur lalu mengambil secarik kertas dan pulpen kemudian ia menulis sesuatu dan
isinya seperti ini.
“Maafkan Ibu ya Nak, Ibu tahu Ibu salah karena selama ini telah menyembunyikan sesuatu
darimu. Sebenarnya Ibu mengidap penyakit kanker otak stadium 4 selama ini Ibu sering
tiba-tiba merasakan pusing, mungkin ini pengaruh dari penyakit Ibu. Ibu ingin sekali
cerita ini kepadamu Nak namun, Ibu takutnya membebani kamu dan Ibu tidak mau pikiran
kamu kacau karena Ibu takut mengganggu konsentrasi kamu karena sebentar lagi kamu
wisuda. Harapan Ibu semoga Ibu masih diizinkan oleh Allah SWT. Untuk melihat kamu
wisuda ya Nak, jika nanti Ibu sudah tidak ada Ibu titip pesan jangan jadi orang yang
mudah putus asa ya, Ibu yakin kamu pasti bisa ngelakuin itu semua tanpa Ibu sekalipun.”
Ia pun melipat surat tersebut dan menyimpannya di dalam lemari. Tak sadar ia pun
menitikkan air matanya, dan tak lama dari itu Lydia menghampiri Ibunya.
“Ibu kenapa menangis?” sambil mengusap air mata Ibunya.
“Hah? tidak kok Ibu tidak menangis, ini tadi Ibu hanya kelilipan saja.” sambil
menghapus air matanya dan mencoba untuk tersenyum.
“Yakin Ibu tidak apa-apa?”
“Iya Ibu tidak apa-apa, yaudah yu kita makan malem bersama.” ajaknya.
“Yasudah Lydia tidak akan memaksa Ibu untuk cerita tapi kalau ada apa-apa cerita saja
ke Lydia ya Bu.”
“Iya Nak.” mereka pun makan bersama.
BEBERAPA MENIT KEMUDIAN....
“Ibu tidur duluan ya, kalo kamu mau tidur, cek kembali pintu apakah sudah dikunci atau
belum.”
“Iya Bu siap.” sambil berjalan menuju pintu utama.
Selesai memeriksa pintu, Lydia pun bergegas menuju kamar dan duduk di meja belajar.
Perasaan Lydia saat ini sangat sulit diartikan, ia pun mengalihkan pandangannya menuju
baju wisuda yang akan ia kenakan besok dan berguman pelan.
“Ya Allah lancarkan acara besok dan aku berharap Ibu bisa datang melihat aku di wisuda
aamiin.” sambil tersenyum kecil. Ia pun melirik ke arah jam dinding yang sudah
menunjukkan pukul 21:00. Ia pun segera tidur.
Keesokan harinya ia terbangun dan mencari keberadaan Ibunya tetapi nihil ia tak melihat
kehadiran Ibunya karena, waktu masih masih menunjukkan pukul 07:00 sedangkan acara
wisudanya dimulai pukul 10:00. Ia pun berniat ke pergi ke pasar untuk mencari keberadaan
Ibunya, tetapi ketika Lydia sampai di pasar ia sama sekali tak melihat Ibunya dan ia pun
kembali ke rumah karena waktu sudah menunjukkan pukul 08:00.
Sesampainya di depan rumah ia bermonolog.
“Ck... Ibu ke mana sih? Dicari-cari tidak ada, apa Ibu lupa kalau sekarang adalah hari
wisudanya aku?” seraya berjalan memasuki rumah.
Beberapa menit kemudian ia sangat sudah siap untu berangkat, demgam berat hati ia
harus berangkat sendirian.
Setelah sampai di gedung utama Lydia pun segera masuk dan mencari tempat duduk
miliknya. 1 jam kemudian kini acara puncaknya yaitu pengumuman Mahasiswa/i terbaik.
Banyak Mahasiswa/i yang sangat antusias akan hal itu namun tidak dengan Lydia,
pikiran dirinya masih stuck pada kejadian tadi pagi.
“Ibu mana sih? Kok tidak datang.” sambil melirik kanan kiri mencari kehadiran sosok
Ibunya. Temannya yang memperhatikan gerak gerik Lydia langsung menanyakan apa
yang sedang terjadi pada dirinya.
“Hey, kamu kenapa? dari tadi aku perhatiin kaya gelisah gitu, ada apa coba cerita sini
siapa tahu aku bisa membantu kamu.” ucap Putri sambil menepuk pundak Lydia.
“Eh Put... ini loh daritadi Ibu ku belum datang terus.” sesekali melirik ke arah pintu
utama.
“Mungkin sebentar lagi Ibumu datang, yasudah yu kita duduk lagi.” ajaknya sambil
menarik pelan tangan Lydia.
“Iya mungkin ya,”
Setelah mereka duduk, rektor pun mulai mengumumkan Mahasiswa/i terbaik tahun
2020.
“Assalamualaikum wr.wb... Alhamdulillah hari ini acara lancar dan saya berdiri disini
akan mengumumkan Mahasiswa/i terbaik di kampus tercinta kita." gemuruh tepuk
tangan pun terdengar sangat riuh.
“Untuk mempersingkat waktu marilah kita mulai acara pengumuman Mahasiswa/i
terbaik tahun 2020.” ucap Rektor. Seluruh Mahasiswa/i sekaligus tamu undangan pun
terdiam.
“Mahasiswa terbaik tahun 2020 adalah Rayhan Dirgantara dari Fakultas Kedokteran.”
suara tepuk tangan pun terdengar sangat riuh.
“Dipersilahkan kepada Rayhan Dirgantara untuk naik ke atas podium.”
“Dan untuk Mahasiswi terbaik tahun 2020 adalah Lydia Artharin dari Fakultas Hukum.”
Tepuk tangan kembali terdengar. Lydia yang mendengar langsung membulatkan
matanya, ia tak menyangka bahwa dirinya terpilih sebagai Mahasiswi terbaik tahun 2020.
“Dipersilahkan kepada Lydia Artharin dari Fakultas Hukum naik ke atas podium.” Lydia
masih tak menyangka akan apa yang telah tadi ia dengar.
“Selamat ya Lydia.” ucap Putri sambil mengulurkan tangannya ke arah Lydia.
“I-ini tidak mimpi kan? tadi Rektor panggil nama aku?” tanyanya kepada Putri.
“Iyaaa Lydiaaa, kamu tidak mimpi kok dan tadi Rektor benar-benar panggil nama
kamu.” ucapnya panjang lebar.
“Udah sana naik ke atas podium jangan kebanyakan melamun.”
Lydia pun maju kedepan dengan penuh percaya diri dan tak lupa mengembangkan
senyuman kepada semua orang yang melihat dirinya.
“Andai Ibu melihat ini pasti Ibu bangga.” gumannya.
“Selamat ya untuk kalian berdua.” ucap Rektor sambil menyalami tangan mereka
berdua secara bergantian.
“Iya Pak, terima kasih.” ucap Rahyan dan Lydia bergantian.
Jujur Lydia masih tidak percaya akan hal apa yang telah ia rasakan sekarang sampai
tiba-tiba Dekan memanggil dirinya.
“Lydia, bolehkah kita berbicara?”
“Boleh Pak.” sambil menuruni anak tangga.
“Ada apa Pak?”
“Sebelumnya saya turut berduka cita yang sedalam dalamnya, jadi tadi saya dapat telepon
dari RS dan mengabarkan bahwa Ibu kamu sudah tidak ada.” ucapnya.
“APAAA! Bapak pasti berbohongkan? ya kan Pak?” tanya sedikit berteriak.
“Tidak Lydia, Saya tidak berbohong kalo kamu tidak percaya, mari Saya antarkan kamu ke
RS.”
Selama diperjalanan Lydia hanya bisa melamun memikirkan ibunya. Setelah sampai di RS
suara tangis Lydia benar-benar pecah, ia melihat Ibunya terkujur kaku.
“Ibuu bangun Buu, Ibu pasti tidur kan? ayo bangun Buu, lihat Lydia terpilih sebagai
Mahasiswi terbaik di kampus Buu, Ibu pasti banggkan?” suaranya pun semakin parau.
Tak lama kemudian Bu Siti tetangganya datang dan memberikan sepucuk surat.
“Lydia tadi pagi sebelum Ibumu berangkat ia sempat datang ke rumah saya dan menitipkan
ini untuk kamu.” sambil memberikannya kepada Lydia.
“Apa ini Bu?”
“Saya tidak tahu Nak.” Setelah membaca Lydia kembali menangis dan menjatuhkan surat
tersebut ke lantai.
“Ibu kenapa tidak cerita ke Lydia Bu?” sambil memeluk jasad ibunya.
“Yang sabar ya Lydia.” ucap Bu Siti berusaha menenangkan Lydia.
1 jam kemudian.
Proses pemakaman Ibunya berjalan lancar kini semua orang telah pulang ke rumahnya
masing-masing tidak terkecuali Lydia, ia masih setia duduk di pinggir makam Ibunya.
“Ibu kenapa ninggalin Lydia? terus kenapa Ibu tidak cerita kalo Ibu sedang sakit?
kenapa? kenapa Bu?” suaranya terpatah-patah.
Tak terasa hari pun sudah hampir malam dan ia segera pulang kerumah. Selama
diperjalan pikiran ia kosong dan ia pun mengingat kembali perkataan Ibunya....
“Doakan saja semoga Ibu masih bisa lihat kamu diwisuda.”
Apa ini maksud perkataan Ibu kemarin? tapi kenapa Bu? kenapa? kenapa Ibu
ninggalin Lydia sendirian disini? sambil menangis dibawah hujan.
5 tahun kemudian....
Lydia hidup berbahagia bersama suami dan juga anak-anaknya, ia akan ingat selalu
pesan yang pernah Ibu sampaikan untuk dirinya.
~End~
~ Tentang penulis
Hai perkenalkan aku Virna Nayla Batrisyia biasa dipanggil Naa. Aku berasal
dari Kota Bandung, tanggal lahir aku 5 juni 2005. Agama aku islam.
~Bandung, 4 Maret 2021
Bad Dream
Karya: Haeril
Di pagi hari di sebuah taman bermain, anak-anak dikejutkan dengan jatuhnya
sebuah ember besi oleh seekor burung. Mereka menangis sangat lama hingga siang
hari. Salah seorang anak yang tidak menangis, membujuk mereka agar tenang. Hari
mulai sore, anak-anak kembali bermain dengan biasa dan merasa ketakutan. Saat
sore tiba, satu per satu anak mulai pulang bersama orang tuanya. Tetapi, anak-
anak mulai menangis dan tidak ingin pulang. Para orang tua terpaksa mengendong
anak-anak mereka.
Taman mulai sepi, meninggalkan seorang gadis kecil yang sedang bermain ayunan
sendirian. Dia hanya melihat anak-anak itu menangis tanpa henti di pangkuan
orang tuanya. Lalu seorang wanita menghampiri taman yang sudah kosong itu.
“Lina, ayo pulang! Hari sudah mulai malam,” katanya.
Gadis itu melihat mamanya di pintu masuk taman. Dia turun dari ayunannya dan
mulai berlari ke arah mamanya. Dia langsung memeluk mamanya dan meminta untuk
mengendongnya. Dia digendong oleh mamahnya dan bertanya.
“Mama, kenapa semua anak-anak itu menangis?”
“Tidak apa-apa Lina, mereka mungkin hanya ingin bermain lebih lama.”
Lina dan mamanya mulai berjalan pulang dengan suasana kota yang suram dan
langit yang mendung, ditambah angin yang membuat daun-daun pohon
berguguran terbawa angin. Dengan wajah polosnya Lina bertanya kepada
mamanya.
“Mama!"
“Hm?”
“Seperti apa masa depan itu? Apa menyeramkan seperti yang kulihat?”
Mamanya terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan Lina, membuatnya berhenti
berjalan. Dia penasaran dengan masa depan yang dilihat putrinya. Supaya tidak membuatnya
takut, mamanya menjawab dengan wajah yang tersenyum.
“Lina, apa kau tahu? Masa depan itu bisa ditentukan dari sekarang loh...jika kau ingin masa
depan yang cerah kau bisa bekerja keras dan berbuat baik kepada semua orang. Dengan
begitu masa depanmu pasti cerah.”
“Begitu ya,” Lina melihat mamanya yang tersenyum dan menunduk, menandakan dia tidak
puas dengan jawaban dari mamanya. Masa depan yang Lina tahu terlihat menyeramkan dari
mimpinya, suram dan gelap, tersiksa oleh kehidupan, hidup dalam kesendirian.
“Mimpi buruk ini ada pada semua anak, takut akan masa depan yang 'misterius', dan
kehilangan harapan untuk hidup,” gumaman Lina tidak terdengar oleh mamanya yang
kembali berjalan pulang.
Dalam perjalanannya, Lina sama sekali tidak ingin melepaskan pangkuan mamanya. Dia terus
memikirkan apakah malam ini dia akan bermimpi indah atau buruk seperti biasanya?
Sesampainya di rumah, Lina langsung turun dari pangkuan mamanya. Dia langsung berlari ke
arah papanya.
“Papaa,” panggilnya. Lina langsung memeluk kaki papanya, lalu melepaskannya. Dan
Papanya berjongkok untuk menyesuaikan tinggi mereka berdua.
“Lina bagaimana hari ini? Kau bersenang-senang dengan temanmu kan?” ucapnya sambil
mengelus kepala Lina.
Dengan wajah sedih yang tertunduk, dia berkata “Tidak...semua temanku selalu
menangis, bahkan jika ada benda jatuh saja mereka menangis dengan kencang, padahal
jarak antara kami dengan benda jatuh itu cukup jauh.”
Yang Lina ucapkan membuat papa dan mamanya terdiam. Sudah lama anak-anak mulai
menangis setiap saat hampir tak berhenti. Banyak anak-anak menolak untuk tidur, lalu
menangis tanpa henti. Sehingga kekhawatiran orang tua membuatnya memberikan obat
tidur pada anak-anak mereka. Hari demi hari, semakin banyak anak-anak yang menolak
untuk tidur, dengan begitu pada malam hari, kota dipenuhi oleh tangisan dan teriakan
anak-anak.
Lina yang sudah berada dikamarnya, memandangi langit malam yang penuh bintang-
bintang. Dia menyatukan tangannya dan berharap bahwa malam ini mimpi indah akan
datang pada tidur semua orang. Orang tua Lina datang dan menyuruh Lina untuk
tidur. Lina pergi ke tempat tidur dan berbaring ditemani teman bonekanya, “Kesatria
Peri” miliknya. Tetapi, dia masih khawatir kalau mimpi buruk itu akan datang padanya
lagi. Sebelum orang tuanya benar-benar berbalik pergi, Lina berkata.
“Lina takut.” mendengar pernyataan Lina, mamah dan papanya berbalik dan
menenangkannya dengan mengatakan bahwa tidak ada yang perlu ditakuti.
“Lina sayang, tidak ada yang perlu kau takuti, tidurlah... mamah yakin, Lina akan
bermimpi sangat indah,” ucap mamahnya membujuk Lina untuk tidur.
“Lina harap begitu, tapi bagaimana kalau Kesatria Peri Lina kalah? Lina akan
mendapat mimpi buruk, dan akan terbangun seperti biasa.”
“Tapi sayang Kesatria Peri itu tidak ada, itu hanya nama dari mainan bonekamu. Jika
pun ada, dia pasti akan menang untuk dirimu dan memberimu mimpi yang sangat indah.
Karena itu, tidur dan mimpikanlah hal yang indah,” Mamahnya menyelimuti Lina.
“Baiklah,” Lina bersiap tidur dan melihat papa dan mamanya di depan pintu kamarnya.
Dengan wajah cemas, orang tua Lina menutup pintu kamarnya dan pergi, membiarkan
lampu tidur Lina menyala. Lalu Lina sedikit demi sedikit menutup matanya dan tertidur.
____
Di dunia lain, pertempuran sedang berlangsung, para pelindung melindungi permata-
permata supaya cahayanya tidak menghilang. Kesatria Peri muncul, ia terbentuk dari
harapan Lina untuk membuat mimpi indahnya, dia keluar dari bangunan kuno tempat para
permata. Dia lalu berlari ke arah moster-monster itu dan menyerang mereka, bergabung
dalam pertarungan bersama dengan para pelindung yang lain. Beberapa pelindung yang
dikalahkan berubah menjadi monster, sehingga beberapa permata kehilangan cahayanya,
dan membuat beberapa anak bermimpi buruk.
“Asya! Berhenti memberikan mimpi buruk pada anak-anak,” di tengah pertarungannya
Kesatria Peri berteriak kepada pemimpin para monster. “Kau hanya memberikan mereka
keputusasaan, tugas kita adalah memberikan harapan kepada anak-anak itu dengan mimpi
yang indah bukan dengan mimpi buruk yang kau ciptakan.”
Asya, pemimpin para monster hanya diam dan melihat semuanya, anak yang dia lindungi
dan yang dia beri harapan malah memberikannya keputusasaan. Harapan anak itu hancur
ketika orang tuanya menghancurkan impian dan masa depannya. Permata yang cahayanya
menghilang untuk pertama kali, membuat Asya jatuh dalam keputusasaan dan menarik
pelindung-pelindung lain ke dalam keputusasaan miliknya dengan memberikan mimpi buruk
pada anak-anak. Semakin banyak pelindung yang jatuh ke dalam keputusasaan, membuat
dunia ini perlahan jatuh ke dalam kegelapan, dan cahaya permata-permata yang dilindungi
perlahan menghilang satu demi satu.
Kesatria Peri menebas monster-monster itu dengan pedang cahayanya. Tetapi, sebanyak
apa pun dia menebasnya, monster-monster itu kembali seperti semula. Selama
keputusasaan masih ada, para monster itu tidak akan bisa dikalahkan. Hanya dengan
harapanlah keputusasaan akan hilang, itu pun jika harapan lebih besar daripada
keputusasaan.
Kesatria peri berlari ke arah Asya, menyerang semua monster yang menghalanginya.
Dia mulai menyerang Asya dengan pedangnya, tetapi Asya selalu bisa menghindari
serangan pedang miliknya. Asya pun mulai menyerang Kesatria Peri dan dengan
serangannya dia membuat pedang Kesatria Peri terlepas dari tangannya dan
tertancap di tanah yang jaraknya cukup jauh dari mereka.
Semuanya sudah berakhir, tidak ada harapan bagi anak-anak itu, mereka semua
sudah jatuh dalam keputusasaan, begitu pun anak yang kau lindungi itu, dia akan
kehilangan harapannya,” Lalu dia mengarahkan kekuatan keputusasaan miliknya ke
arah Kesatria Peri. Hanya dia yang tersisa, dan hanya permata milik Linalah yang
masih bersinar di saat permata lain sudah menghilang. Kesatria Peri yang dikelilingi
keputusasaan mulai kehilangan kesadarannya. Dan cahaya permata yang terakhir
perlahan menghilang.
____
Di dalam kamar Lina, dia mulai bermimpi buruk, raut wajahnya ketakutan dan dia
berbalik untuk memeluk “Kesatria Peri” di sampingnya. Dengan keadaan yang masih
tertidur, Lina berkata “Lina berharap mimpi buruk ini pergi, Lina berharap Lina
bermimpi indah, Lina berharap Kesatria Peri mengalahkannya. Karena itu Lina
percaya, Kesatria Peri akan mengalahkannya, dan membuat mimpi indah bagi Lina
dan semua orang.”
____
Di dunia lain, tubuh Kesatria Peri dan pedang cahaya miliknya mulai bersinar dan
melayang. Sinar itu pun mulai menghilang dan menurunkan Kesatria Peri dengan
pedang cahaya di genggamannya, menghilang semua kekuatan keputusasaan. Di
sekelilingnya, rumput yang mati mulai hidup hidup kembali, dia pun mulai menyerang
Asya dengan kekuatannya, menghilangkan keputusasaan dalam diri Asya dan
membuat para monster itu berubah menjadi para pelindung lagi. Alhasil semua
permata cahaya kembali bersinar dan membuat dunia kembali dalam cahaya dan
menghilangkan kegelapan.
Di dalam kamar, Lina terbangun, menandakan hari sudah pagi. Dia sudah tidak
mendengar suara tangisan anak-anak seusianya. Dan bagusnya Lina mendapat
mimpi yang dia inginkan, serta Kesatria Perinya membuat mimpi indah untuk
semuanya.
Dalam perjalanan ke Taman bermain, Lina melihat sebuah mainan di tempat
sampah. Mainan itu berbentuk seperti penyihir, memiliki jubah berwarna biru
seperti pakaian yang Lina kenakan. Di
bagian bawah mainan itu, terdapat nama yang tertulis.
“Asya,” ucap Lina. Lina lalu mengambil mainan itu dan memasukkannya ke dalam
tas bersama boneka Kesatria Peri miliknya. Dia pun melanjutkan perjalanannya ke
Taman bermain bertemu teman-temannya.
~End~
~Tentang Penulis
Panggil aku Haeril, aku lahir di Bandung,29 April 2005. Berawal dari hobiku
membaca buku novel. Aku mulai berimajinasi dan semua itu kutuangkan dalam
cerita yang kutulis. Bukan hanya membaca dan menulis, aku juga suka
menggambar apa yang ada di pikiranku, walau tidak sejelas yang dipikirkan. Dan
cita-citaku menjadi seorang penulis sehingga ceritaku disukai banyak orang.
Terima kasih.
IG.@Haeril_Hanipa
~Bandung, 08 Maret 2021
Manisnya Perpaduan antara
Vanilla dan Latte
Karya: Intan Zahiroh (VanillaRe_)
Aku bangun di pagi hari, yaiyalah bangun dipagi hari dikata kaya tetangga sebelah
yang bangun di siang hari, oke skip permulaan yang gaje.
Melakukan rutinitas di pagi hari, seperti hari-hari sebelumnya aku selalu berdoa
dan berharap hal-hal baik selalu menghampiri ku.
Sekarang aku sedang menunggu angkutan umum yang bisa membawaku sampai di
sebuah universitas yang sekarang menjadi tempatku menuntut ilmu, sadar bahwa
aku agak sulit dalam matematika aku agak ragu untuk mengambil jurusan akutansi
atau yang berkaitan dengan angka-angka lainnya, jurusan komunikasi pun bukan
lah hal yang kusukai, tapi mungkin ini saatnya anak yang biasanya demam panggung
dan sulit berkomunikasi keluar dari zona nyamanku untuk mencari pengalaman
baru.
Keluar dari zona nyaman bener-bener sulit, bahwa saat di pertengahan semester
aku sudah merasa salah jurusan, frustasi dan kata-kata lainnya yang dapat
mendeskripsikan bagaimana perasaan ku saat itu, padahal aku sendiri yang saat itu
gaya-gayaan ingin keluar dari zona nyaman ku.
Bahwa terbesit pikiran untuk mengundurkan diri, dan mengulang lagi di semester
depan dengan jurusan yang merupakan fesion ku, tapi aku sadar aku bukannya anak
sultan yang hanya mengeluarkan uang untuk kuliah saja bahwa tidak akan menguras
hartanya, tapi aku? Hanya anak kost, yang berasal dari desa dan merantau ke kota
dengan harapan mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang lebih baik.
Karna itu dengan beribu-ribu harapan walau kecemasan tetap lebih dominan aku memilih
untuk tetap melanjutkannya, benar-benar sulit bagi ku yang demam panggung untuk
berbicara di depan orang banyak.
Tapi ini sudah tuntutan dari jurusan yang ku pilih, terus jalani saja.
Lika liku anak introvert yang memilih jurusan komunikasi untuk keluar dari zona
nyamannya dimulai.
Aku Filya gadis introvert yang berhasil mencoba hal baru dan keluar dari zona
nyamanku, aku disini akan menceritakan sendikit bagaimana kisah lika liku diriku, sedikit
bernostalgia masa-masa sulit ku dulu.
~~~
"Sudah siap untuk pembahasan nanti?"
Aku beruntung karna mendapatkan teman yang berbaik hati seperti Xena.
Dia cukup menyenangkan dan absurd.
Sekarang kami sedang membahas presentasi untuk laporan tugas akhir, karna sekarang
sudah akhir semester satu jadi banyak kegiatan, tugas, dan yang paling membuat ku
keringat dingin adalah saat praktek.
Dan sekarang aku harus menghadapi tugas untuk presentasi, huft ini bukan lah kali
pertama aku presentasi tapi namanya belum terbiasa tetap saja membuat ku gemetar, dan
keringat dingin ahhh menyebalkan.
Aku mengangguk tidak yakin, nafas ku tidak beraturan benar-benar nervous, dan
giliran ku untuk presentasi.
Sudah selesai, aku keluar dari ruangan yang terasa panas sampai membuat keringat ku
bercucuran padahal ber AC itu, menghembuskan nafas lega dan pasrah dengan nilai ku,
karna aku sendiri menyadari, aku yang nervous sehingga aku sendiri sulit untuk
berkonsentrasi, banyak hal yang ingin ku katakan tapi mendadak hilang dari pikiran ku
dan ke gagapan saat berbicara tidak seperti anak komunikasi lainnya, ahh aku benar-
benar lemah dalam hal ini.
"Sudah lah tidak apa-apa, semangat."
Xena menyemangati ku lalu mengajak ku mengobrol agak aku tidak memikirkan kejadian itu
lagi, kadang aku iri dengannya dia memiliki pribadi yang hangat, menyenangkan membuat
siapa saja betah berlama-lama dengannya, dia juga cocok sekali menjadi anak komunitas
karna sifatnya yang memang gampang berkomunikasi dan mencari topik membuat setiap
pembahasan ku dengannya tidak garing, enaknya memiliki sifat sepertinya.
Xena yang sadar jika aku tidak terlalu menanggapi ocehannya dan lebih ke memperhatikan
dirinya, Xena adalah orang yang peka jika dihadapan laki laki yang menyukai dia tidak peka
dia hanya berpura-pura saja, walau belum lama kenal dengannya tapi aku sedikit tau
tentangnya dia paling tidak suka diperhatikan secara intens selain karna risih dia bisa
menebak bahwa itu adalah pandangan iri orang-orang kepadanya.
"Ada apa, hmm?" tanyanya sambil membelokkan kepala ku ke arah lain.
" Hehehe," aku hanya tertawa garing.
"Oh ayo lah, kau tidak perlu merasa iri dengan ku, kau tau kau itu hebat berani keluar dari
zona nyaman itu bukan lah perkara mudah," itu adalah kata-kata penyemangat darinya yang
selalu ampuh memberikan sedikit energi untukku.
"Aku bingung kenapa orang-orang suka iri sama ku? Emm cantik ya? Pasti kalau itu mah,
hahaha." tawanya sambil menyimbak rambutnya berlaga seperti model iklan sampo yang
terkenal.
"Idihh," Aku menggeleng-geleng akan tingkahnya yang selalu berhasil memperbaiki mood
orang-orang di sekitarnya.
Lihat sendirikan bagaimana menyenangkannya memiliki teman seperti Xena.
Dia selalu mengajak ku untuk berlatih bebicara di depan umum, dan henti-hentinya dia
memberikan semangat padaku, kadang aku selalu merasa dia memiliki segudang semangat
yang meluap sampai-sampai semangatnya itu tertular ke orang lain.
Dan, usaha tidak menghianati hasil bukan? Nilai hasil dari presentasi ku saat ini walau
tidak bisa di kategori bagus tapi ini sudah lebih dari lumayan dari pada yang
kemarin-kemarin jika aku sering berlatih dan terus melawan rasa nervous yang
menjadi penghalang itu mungkin saja aku bisa menjadi public speaking handal,
hahaha. Mimpi yang selalu dapat mendatangkan semangat agar bisa selalu
menggapainya.
•••
Tak
Kuletakkan kembali cangkir Vanilla late yang tadi ku minum, menikmati sebentar
rasanya yang masih tertinggi di dalam mulutku, tersenyum tipis, " Mungkin sudah
cukup cerita ku tadi, sudah dapat dikategorikan sendikit kan? "
Aku kembali tersenyum sumringah saat melihat Xena datang menghampiri ku yang
sedang duduk di cafe saat istirahat ini.
Dia menepuk bahuku dan membalas senyumku kini aku dan Xena sudah mencapai
semester lima dan aku sangat bersyukur karna selama itu pertemanan kita tetap
terjalin bahkan kami menjadi sosok sahabat yang saling mengerti, mendukung, dan
memberi semangat.
Ingatlah keluar dari zona nyaman memang bukanlah perkara mudah, banyak sekali
rintangan, lika liku yang harus dihadapin dan juga ketabahan hati.
Tapi aku bersyukur karna aku tidak jadi keluar dan tetap melanjutkan belajar di
jurusan ini, banyak hikmah dan pembelajaran yang bisa kita ambil dari setiap langkah
yang kita lewati, aku selalu berharap agar hari-hari ku berjalan dengan semestinya,
indah, dan memiliki harapan yang jelas, tapi harapan itu semua tidak akan terjadi
kita kita tidak berusaha. Berusaha dan berdoa adalah kunci dari semua harapan-
harapan manis yang mungkin saja bisa terwujud.
Sruut.
Aku melanjutkan menghabiskan minuman Vanilla late ku bersama Xena sambil
bercengkrama dan bercanda ria.
Ini juga termasuk dalam harapan-harapan ku agar diberikan kebahagiaan,
kebahagiaan kecil ini sudah cukup untuk membuat ku tersenyum, bahagia
memang kadang sesederhana ini.
~End~
~Tentang penulis
Intan zahiroh, line 04 , berdomisili di kebumen Jateng,
saat ini menduduki bangku sekolah menengah kejuruan,
Akun IG: Intanzzhr_
Akun WP: VanillaRe_
Motto: Hidup itu perjalanan dengan melihat struktur jalan dan Mengikuti
arahannya.
~VanillaLate, 11 Maret 2021
Beyond the Boundary
Karya: Audreana Ivy
“Jangan mendekat, aku tak pernah mengharapkanmu!”
“Kenapa kau sangat tidak tahu diri. Bisakah kau mati atau menghilan
“Aku membencimu, jangan mendekat!"
Entah sudah keberapa kalinya suara melengking itu kerap memekakan telinga
seorang gadis bersurai kelam. Iris obsidiannya hanya menatap sendu ujung kedua
kaos kaki hitamnya, tangannya saling bertautan satu sama lain seolah tengah
memberikan semangat bagi tubuhnya yang bahkan telah begetar hebat.
Bugh
Sebuah dorongan yang keras berhasil membuat tubuh kurusnya limbung dan
menabrak tembok usang tepat di belakangnya. Nyeri segera menjalar di sekujur
punggung rapuh si gadis, sepertinya beberapa luka di sana kembali terbuka.
Mungkin cairan kental merah itu kembali mengalir karena rasa perih yang turut
diterima oleh saraf-sarafnya.
Tertatih-tatih gadis itu berjalan menjauhi wanita bersurai mahoni yang masih
berteriak histeris, pecahan kaca tampak berserakan di atas lantai beralaskan
keramik berwarna abu-abu yang hampir pudar. Langkah si gadis kian tergesa kala
sebuah piring hendak melayang ke arahnya, tas ransel hitam usang di dekat tangga
segera disambarnya dan dalam beberapa detik selanjutnya suara derit pintu yang di
tutup terdengar.
Apa yang baru saja kalian lihat adalah sebuah pemandangan yang biasa dan telah
menjadi makanan sehari-hari seorang gadis bernama Mavra Hayes. Gadis berusia 17
tahun yang saat ini tengah bersekolah di tingkat menengah atas. Sama seperti gadis-
gadis muda lainnya, Mavra diberkahi paras imut dan cantik dari sang Ibu serta kulit
putih bersih milik sang Ayah. Hanya saja bisa dibilang ia tak hidup bak gadis
seumurannya
“Ups, sorry ghost's girl. Aku tidak tahu kau di sini karena hawa keberadaanmu sih
yang terlalu tipis,” ujar seorang gadis bersurai jahe yang baru saja menjatuhkan buku
Mavra. Bukannya tidak sengaja hanya saja gadis itu memang kerap menjahili atau
mungkin lebih tepatnya mengganggu si gadis bersurai kelam ini.
Ghost's girl atau si gadis hantu adalah julukan yang disematkan pada gadis berdarah
campuran Asia-Eropa ini, bukan karena Mavra adalah seorang hantu yang
bergentayangan karena itulah panggilan ini tersemat padanya. Melainkan karena semua
orang mengoloknya sebagai gadis penyendiri yang tak memiliki teman, kemudian
setelan seragam yang ia kenakan selama hampir tiga tahun tampak lusuh dan tua.
Jangan lupakan rambut hitam lurus panjang yang menjuntai membuatnya tampak
seperti hantu di film-film horor Asia. Ah, padahal gadis ini berparas begitu rupawan
bagai boneka hidup.
Ironis memang jika berbicara tentang manusia dan sejuta tindak tanduknya, tak dapat
ditebak bahkan terkadang lebih kejam dari para malaikat maut karena menyiksa
sesamanya. Entah mengapa Tuhan justru menyebutnya sebagai makhluk sempurna.
Menggelikan bahkan setiap sifat serta tindakannya jauh dari kata sempurna, bahkan
sebenarnya lebih rendah dan memalukan dari seorang iblis.
Lihat saja si gadis hantu cantik ini, kehidupannya begitu menyedihkan dan begitu
dipenuhi rasa sakit. Ia hidup di balik bayang-bayang kegelapan, berjalan dalam diam
tanpa siapapun di sisinya. Bahkan aku terkadang bertanya-tanya sebenarnya ia
bersama siapa di balik bayang kegelapan itu, hingga ia tak mengijinkan siapapun
mendekat atau mencoba berjalan dengan seseorang di sisinya.
Si gadis hantu itu berjalan dalam diam, iris obsidiannya masih menatap lurus
meskipun beberapa pasang mata menatapnya rendah. Terlihat menyedihkan, mereka
yang merasa sosok suci melemparkan sapaan sebagai bentuk rasa iba pada si gadis
hantu. Namun, raut bak boneka itu hanya menatap dingin seolah memberikan
peringatan,' Jangan menyapaku, jangan mendekat padaku!'
Kehampaan telah cukup lama mengisi hatinya, ia telah melarang setiap rasa juga
emosi menghuni raga serta jiwanya. Berharap ketika caci makian dilemparkan atau
saat jeritan wanita yang melahirkannya itu menulikan terlinganya. Nihil, sekalipun
rautnya tak menunjukkan satupun emosi, tetap saja air mata terus membasahi pipi
tirus porselennya. Belum lagi hatinya yang terus saja memohon pengampunan dan
melambungkan harapan-harapan kosong agar seseorang menerima keberadaannya.
Si gadis hantu berharap kelahirannya merupakan suatu hal yang dinantikan, ia
menginginkan jahitan pada luka di hatinya yang sudah hampir membusuk dan mengisi
setiap lubang dari setiap sisi dalam dirinya.
Sang mentari telah kembali ke peraduannya, digantikan rembulan yang telah
menggantung di atas hamparan permadani kelam bertaburkan bintang. Udara hangat
London pun tergantikan suhu dingin karena musim panas yang hendak mengucapkan
perpisahan, sehingga terasa cukup dingin bagi beberapa orang termasuk salah satu
tubuh kurus mungil yang kini tengah meringkuk di balik pintu kayu tua. Tubuh itu
bergetar, entah karena udara musim gugur yang dingin atau isak tangis.
Ah, lagi-lagi si gadis hantu meratapi penolakan dunia padanya. Menanyakan arti
keberadaannya yang sejati pada ruang hampa. Jari jemari yang dipenuhi balutan
perban itu saling mencengkram satu sama lain menciptakan cairan berbau anyir lain
yang membasahi lantai kamarmya yang dingin.
“Aku hanya berharap seseorang menyelamatkanku,” lirihnya entah pada siapa.
“A-aku ingin mendengar seseorang berkata ia senang aku hidup,” isaknya kian
menjadi, suaranya cukup tertahan karena bekapan pada tangannya. Ia takut wanita
yang melahirkannya itu mengamuk karena menemukan dirinya tengah menangis. Karena
Mavra tidak diperbolehkan menunjukkan emosi seperti menangis, marah atau tertawa.
Wanita tua sinting memang, padahal putrinya bukanlah sebuah robot melainkan
manusia. Ia bernafas dan hidup. Tak tahan mendengar isakannya itu hampir selama 17
tahun akhirnya aku memutuskan berbisik pada si gadis hantu,' Hei, Mavra.'
Merasa dirinya dipanggil sebuah suara yang begitu lirih Mavra mendongak mencari-
cari sosok si pemilik suara, alhasil membuatku terkekeh pelan.
'Mavra, terimakasih sudah hidup selama ini. Kau pasti sangat kesusahan bukan selama
ini? Aku sangat senang karena kau masih bernafas hingga saat ini,' ucapku masih
dengan suara yang lirih. Aku dapat melihat butiran kristal membasahi pipinya,
tangannya yang dipenuhi darah mencengkram erat seragam lusuhnya.
'Hei, apa kau lelah?' tanyaku.
Gadis bersurai kelam itu terdiam sesaat lalu mengangguk diiringi tubuhnya yang
gemetar. Seulas senyum tersemat di wajahku. Tanganku membelai ujung poni surai
hitam Mavra yang terasa begitu lembut, 'Mavra, kau bisa saja beristirahat jika kau
mau.'
'Aku tau dan sangat memahami setiap harapan yang kau sebut omong kosong itu,”
tambahku sembari memilin helai rambut legamnya. Mavra tampak terdiam, benaknya
tengah berpikir keras karena ucapanku barusan.
“Apa maksudmu kenapa dan bagaimana bisa kau memahaminya? Bahkan seolah kau
menginginkan kebahagiaan bagiku?” tanyanya masih dalam posisi kepala
menelungkup. aku terkekeh kembali setengah tertawa karena pertanyaan si gadis hantu
ini.
'Karena aku memang menginginkan itu semua, aku mengharapkan kebahagiaanmu.
Bahkan aku pun berharap ...'
'Membalaskan setiap rasa sakit yang diberikan dunia bagimu.'
Terisak kembali kesekian kalinya, gadis bermanik obsidian itu meneteskan air matanya
yang sepertinya selalu memiliki pasokan berlebih karena masih saja terus mengalir.
Setelah keheningan melanda cukup lama gadis itu akhirnya mengangguk. Kedua iris
kami beradu,aku mengulas senyum manis begitu pula dengannya.
Tanganku menjulur ke arahnya, 'Jangan khawatir tidak akan ada yang berani
menyentuh sehelai rambut kita. Karena aku tak akan membiarkan itu terjadi.'
Mavra tersenyum kian lebar di kedua sudut bibir pucat miliknya, tangannya menerima
uluran tanganku. Tubuh kurus nan rapuh itu ku dekap dan beberapa kali punggungnya
kuberikan tepukan pelan.
'Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja,' lirihku kesekian kalinya sebelum
mengantarkan si gadis hantu pada kegelapan yang telah bersiap menjemputnya.
******
Deru nafas memburu terdengar di sepanjang lorong sebuah rumah bergaya klasik dan
tua, seorang wanita bersurai mahoni tengah berlari kelimpungan ke sana kemari kala
mendengar senandung riang seorang gadis. Rautnya semakin pucat pasi, iris abu-
abunya melirik sebuah pintu yang mengarah pada ruang basemen. Dengan langkah
secepat kilat wanita itu membuka pintu kayu tua yang terletak menjorok ke bawah itu.
Menguncinya dengan sebuah meja tua dan melangkah mundur berharap si pemilik
senandung itu tak dapat menemukannya.
“Ah, kenapa dikunci begini Bu?”
“Ayo kita bermain Bu, kita tak pernah bermain bersama bukan?”
Wanita itu membekap mulutnya rapat, nafasnya tercekat saat mendengar suara seorang
gadis yang begitu familiar di telinganya. Ketakutan menjalar hingga ujung rambutnya
yang memulai memutih, wanita paruh baya itu menyesali perbuatan bodohnya.
Seharusnya ia tak menjambak rambut gadis itu. Tak semestinya tangannya memukul
keras kepala si gadis bersurai kelam itu. Namun, terlambat ia baru saja menggali
kuburnya sendiri.
Suara dobrakan mengagetkannya, jantungnya kian berpacu cepat kala melihat pintu
kayu di hadapannya berlubang, sedikit demi sedikit karena sebuah gebrakan bilah
kapak.
“Aku menemukanmu, Ibu,” seru sebuah suara yang kini terkikik pelan, iris yang serupa
dengan miliknya itu menatapnya. Jeritan kembali terdengar saat sosok gadis bersurai
kelam itu berhasil menghancurkan pintu kayu tua Basemen, menampakkan tawa
mengerikan dan raut menyeramkan si gadis.
Kelabakan, si wanita bersurai mahoni justru jatuh terjerembab karena langkahnya
sendiri. Jeritan kembali terdengar saat ia merasakan rasa sakit luar biasa mendera
kakinya. Wanita itu kian histeris kala menemukan sebelah kakinya telah terpotong
sehingga darah merah segar mengucur mengotori lantai. Tangannya berusaha
merangkak untuk melarikan diri, sayangnya tubuh gadis bersurai kelam itu telah
menimpa separuh tubuhnya sehingga ia tak dapat bergerak.
“Bu, jangan melarikan diri. Bukankah Ibu selalu meracau berkata ingin mati? Bukankah
Ibu sendiri yang bilang ingin meninggalkan dunia yang kejam ini?” ujar si gadis sembari
membelai wajah pucat si wanita bersurai mahoni yang telah menggeleng cepat.
“Aku akan menjadi putri yang berbakti dan mengabulkannya, karena itu anggap ini
sebagai hadiah karena telah melahirkanku ya, Bu.”
“Sampai Jumpa!”
Belum sempat mengatakan sepatah katapun ujung kapak tua itu berhasil memisahkan
kepala si wanita bersurai mahoni. Tawa si gadis bersurai kelam menjadi simfoni
mengiringi kepergiannya, tangan yang terbalut perban itu mengusap pelan kepala
jasad sang wanita yang berjasa telah melahirkannya ke dunia. Bersenandung riang
sembari memilin rambut kepala yang masih meneteskan cairan kental merah.
“Sudah kubilang bukan Mavra? Tidak akan ada yang bisa menyentuh kita, karena
aku adalah dirimu.”
“Dan seperti janjiku aku sudah mengabulkan salah satu harapanmu hehehe.”
~End~
~Tentang penulis
21 tahun yang lalu, pada tahun 1999. Seorang gadis telah lahir ke dunia. Audreana Ivy,
seorang sanguinis yang mencintai dunia tulis menulis sebagai sebuah hobi hingga
akhirnya bermimpi menjadi seorang penulis. Karyanya selalu identik dengan genre
Fantasi, Thriller, Action yang terkadang bertabur bumbu Romansa. Ia adalah sosok
yang sama dibalik nama 'Luthien'.
Hingga saat ini telah memiliki setidaknya tiga novel di dua platform online yaitu
Webnovel dan Goodnovel.
~Indonesia, 1 Maret 2021
Story of Alendra
Karya: Putri Nabilah
Duarr ... Duarr
Suara menggelegar saling bersahutan di atas sana. Cahaya warna-warni menjadi
pelengkap yang sempurna di hitamnya langit malam ini. Malam ini adalah malam tahun
baru 2021 banyak do'a dan harapan yang dipanjatkan untuk tahun yang baru ini.
Dinginnya udara di malam ini tak mengusik ketenangan seorang gadis yang sedang
berdiri di atas balkon kamarnya sambil terus menatap lurus ke arah langit.
“Harapanku masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya Tuhan. Aku ingin sembuh.”
batinnya berharap.
“Alendra. Sayang kamu udah tidur? Kalau belum keluar sebentar Bunda mau
ngomong!!” suara dari luar kamarnya berhasil menyadarkan Alendra dari
lamunannya. Dengan segera dia menghampiri Bundanya itu.
Ceklek
Pintu kamar terbuka memperlihatkan seorang gadis cantik dengan balutan piyama
bergambar Minions.
Bunda tersenyum mengusap tangan Alendra pelan”Ikut Bunda sebentar ya kebawah,
ada yang mau Ayah kamu omongin,”
Gadis yang kerap disapa Ale itu mengerutkan keningnya”Sama aku? Emangnya mau
ngomongin apa Bunda?”
“Nanti kamu juga tau. Udah ayo,” merekapun berjalan menuruni tangga.
Sesampainya Ale di ruang tengah rumahnya ternyata sudah ada Abangnya juga.
“Sini sayang, duduk deket Ayah,” ucap Ayah sambil menepuk-nepuk sofa di
sampingnya. Ale pun berjalan menghampiri Ayahnya“Ayah mau ngomong apa sama
Ale?” tanya-nya sembari memeluk Ayah dari samping.
“Ayah mau Ale menjalani pengobatan di luar negeri!!” ucap Ayah tegas.
Spontan Ale langsung melepaskan pelukannya”Lu-luar negeri? Gak mau Ayah. Ale
mau di sini aja sama Bunda sama Ayah,”
“Tapi ini demi kebaikan kamu sayang.” sahut Bunda.
”Ale bakalan selalu baik-baik aja, selama ada Bunda sama Ayah di samping Ale.”
“Masih untung, Ayah sama Bunda mau ngurusin Lo yang penyakitan. Bukanya
makasih malah gak tau diri. Dan jangan lupa Lo orang yang udah ngebuat Lia
pergi.” sinis Tengku.
Mendengar perkataan Abangnya benar-benar membuat hati Ale sakit. Lantas dia
segera berlari menaiki tangga menuju kamar, tanpa menghiraukan sedikitpun
panggilan dari Bunda dan Ayahnya.
“Apa pantas kamu berbicara seperti itu pada Adikmu sendiri Tengku?” tanya
Ayah.
Tengku hanya acuh bangkit dari duduknya pergi tanpa mengucapkan sepatah kata
pun.
Di dalam kamar seorang gadis sedang menangis sambil memegangi sebuah bingkai
foto. “Hikss, Ale juga gak mau bang jadi anak penyakitan, Ale gak mau terus-
terusan nyusahin Bunda sama Ayah,”
Kanker Otak. Ale sudah menderita penyakit itu selama empat tahun terakhir ini.
Entah keajaiban Tuhan atau bagaimana, Ale masih bisa bertahan hidup sampai
sekarang. Di saat dia sudah memiliki harapan untuk sembuh, tapi lagi-lagi takdir
Tuhan berkata lain, kemarin saat jadwal Check up dokter mengatakan bahwa kanker
yang di deritanya sudah sampai stadium empat
“Hikss hiks, Ale juga gak mau Lia pergi bang. Ale sayang sama Lia,”
Kejadian yang terjadi dua tahun lalu, berhasil merenggut nyawa kembarannya
sekaligus kasih sayang dari Abangnya.
Flashback on
Di pagi hari yang cerah ini dua orang gadis sedang bermain di sebuah taman, di
temani dengan seorang laki-laki yang merupakan kakak dari keduanya.
“Lia beli eskrim yu?” ajak gadis yang sedang memegang bonekanya.
“Ayu, di mana?“ Tanya Lia.
“Itu di sana, di atas trotoar Lia,”
“Ohh itu. Ya udah ayo bilang Abang dulu,”
“Abang kita mau beli eskrim dulu ya,” izin Lia.
“Iya kalian hati-hati.” Keduanya lantas pergi menghampiri penjual eskrim.
Saat sudah membeli eskrim keduanya bergegas untuk kembali ketempat mereka
bermain tadi. Mereka asik bermain saling mendorong di atas trotoar, sampai pada
saat tangan Ale baru saja menyentuh bahu Lia, kaki Lia tidak sengaja tergelincir dan
jatuh ketengah jalan. Di saat yang bersamaan sebuah mobil melesat dengan
kecepatan tinggi
BRAK
Tubuh itu terpelanting jauh. Jatuh di atas kasarnya aspal. Ale yang melihat itu
lantas langsung berlari, menuju tubuh saudara kembarnya yang tergeletak di aspal
dengan di penuhi banyak darah.
“Hiks,, Li-lia bangun Liaa. Hiks,, Ale mohon bertahan Lia,” Ale benar panik
melihat Lia yang menutup matanya.
Perlahan mata itu terbuka”A-ale. Lia udah ga-kuat, sa-kit.”
“Liabar yah, Ale panggil Abang kita kerumah sakit. Hiks hikss,"
Tangan Lia tergerak untuk menghapus air mata adiknya“Ja-jangan nang-is.
Besok ki-ta ulang tahun, se-selamat ulang tahun Ale do-a dan hara-pan Lia buat
Ale sem-moga A-ale panjang umur dan cepet sem-buh Lia sa-sayang Ale.” Dengan
susah payah Lia berbicara mengucapkan selamat ulang tahun untuk saudara
kembarnya, dia takut Tuhan tidak memberinya kesempatan untuk itu.
Mendengar perkataan Lia membuat tangisan Ale semakin bertambah.
Sementara di seberang sana tubuh seorang laki-laki membeku menyaksikan itu
semua. Tengku melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Ale mendorong
Lia hingga terjatuh ketengah jalan. Dia melihat bagaimana tubuh Adiknya itu
terpelanting karena berbenturan keras dengan mobil.
“LIAAAAAAAAA.”
Flashback of
Hari-hari berganti, sore hari ini Ale baru saja menyelesaikan kewajibannya sebagai
seorang muslim. Dia baru saja menunaikan ibadah Shalat Ashar.
"Ya Tuhan Do'a dan harapan Ale masih sama di setiap sujud Ale. Ale cuma mau Ayah, Bunda
sama Abang bahagia dan sehat selalu. Ale juga berharap Abang bisa maafin Ale sebelum Ale
pergi. Ale ikhlas Tuhan dangan penyakit di tubuh Ale. Ale ikhlas apabila memang ini takdir
hidup A—,“belum sempat Ale menyelesaikan do'anya kepalanya tiba-tiba terasa sangat
sakit. Ale terus memegangi kepalanya bahkan tak jarang memukulnya guna mengurangi rasa
sakit, tapi percuma rasa sakit itu semakin bertambah. Ale tidak kuat.
“BUNDAAAAA ARGHHHH,”
Bunda dan Ayah yang sedang berbincang langsung terkelonjak kaget mendengar teriakan
putrinya. Mereka langsung bergegas ke atas menuju kamar Ale. Saat membuka pintu mereka
terkejut melihat putrinya yang sudah tergeletak di bawah sambil terus merintih dan
memegangi kepalanya.
“ALEEEE.” Tariak Ayah dan langsung mengangkat tubuh putrinya itu untuk dibawa ke
rumah sakit.
Selama di perjalanan Bunda terus saja menangis, sambil berusaha menguatkan Ale”Sayang
Bunda mohon bertahan ya,” sebisa mungkin Bunda menahan isakkannya.
“Sa-kit Bunda,”
“Iya sayang, kamu sabar yah sebentar lagi kita sampe rumah sakit.”
Ale menangis perasaannya tidak enak”Bun-bunda tolong bilang sam-a Abang kak-kalau
arghhh—,” Ale benar-benar tidak tahan, kepalanya terasa sangat sakit.
“Udah sayang, kamu diem aja jangan di lanjutin!”
Ale menggeleng”Bi-lang kalau Ale sa-yang sama Abang!”
Bunda mengangguk”Iya sayang pasti Bunda bilangin, tapi Ale janji sama bunda kalau Ale
harus bisa bertahan!”
“Kamu kuat sayang. Sebentar lagi kita sampai rumah sakit, kamu pasti bakalan baik-
baik aja.” ucap Ayah sambil terus fokus mengemudi.
“Bun-da Ayah, makasih udah ma-u ngera-wat Ale yang penyaki-tan selama ini. A-ale
sayang banget sam-a Ayah sama Bun-da ma-af kalau selama ini Ale cuma bi-sa nyu-sain.
A-ale mau tidur Bunda.”
Mendengar perkataan Ale membuat Bunda semakin menangis”Enggak. Ale gak boleh
tidur Bunda gak izinin Ale buat tidur, denger ini sayang. Abang, Lia, dan Ale itu
merupakan hadiah dari Tuhan yang paling indah di hidup Bunda sama Ayah. Ale juga
enggak penyakitan, Ale cuma lagi diuji sama Tuhan sayang. Ale enggak sama sekali
nyusahin Bunda sama Ayah,” Bunda memejamkan matanya menghalau perasaan tidak
enak yang menyelimuti hatinya.
“Bunda mohon bertahan demi Bunda sayang,” Bunda benar-benar tidak sanggup
melihat Ale yang semakin kesakitan. Jangan Tuhan, jangan ambil putrinya lagi untuk
yang kedua kali.
Di tempat lain, Tengku berjalan memasuki kamar Lia. Tadi dia sempat melihat Ayah yang
membawa Ale untuk kerumah sakit tapi dia memutuskan tidak peduli, dan memilih untuk
mengunjungi kamar Lia.
Dia berjalan mendekati lemari kaca yang di penuhi oleh foto Lia dan Ale. Tanpa sengaja
netranya melihat sebuah kertas di dekat bingkai yang paling besar. Lantas dia
mengambilnya, ternyata sebuah surat.
'Hai Abang, apa kabar? Kalau Abang baca surat ini berarti Lia udah ada di surga. Hehe
Lia kan anak baik. Lia sengaja suruh Ale buat taro surat ini di dekat bingkai. Ale udah
cerita semuanya sama Lia, waktu Lia sadar di rumah sakit. Bukan Ale yang dorong Lia
bang, tapi waktu itu kaki Lia tergelincir di atas trotoar sampai akhirnya Lia jatuh
ketengah jalan. Abang jangan marah lagi ya sama Ale, Abang harus janji sama Lia buat
selalu jagain Ale.
Lia sayang banget sama Abang, sampai jumpa di kehidupan yang abadi Abang.
Tertanda, Lia cantik '
Deg
Tanpa pikir panjang Tengku langsung saja menuju garasi mengambil mobilnya
untuk menyusul ke rumah sakit. Karena terlalu kalut saat mengemudi, dia tidak
sadar bahwa ada mobil yang kehilangan kendali di depannya.
BRAKK
Lagi tanpa bisa dihindari kecelakaan itu terjadi begitu saja.
Tiga hari berlalu. Tengku baru saja sadar setelah kemarin menjalani operasi,
akibat dari kecelakaan yang menimpanya, ternyata dia sudah berada di rumah
sakit ada Ayah dan juga Bunda tapi, di mana Ale?
“Bunda, di mana Ale?” tanya-nya, namun Bunda tak kunjung menjawab dia
hanya diam dengan wajah yang terlihat sangat letih.
“Bunda jawab aku di mana Ale?” desak Tengku.
“Adik kamu sudah meninggal Tengku.” jawab Ayah.
Tengku tertawa bersamaan dengan air matanya yang mengalir namun dengan
segera dia menghapusnya ”Ayah pasti bercanda kan? Bunda. apa Bunda gak
marah? Ayah bercandanya keterlaluan Bun,”
“Kamu pikir kematian bisa dibuat untuk bercandaan?, di malam kamu
kecelakaan kondisi Adik kamu benar-benar kritis, dia sempat sadar dan tahu
bahwa kamu kecelakaan dan harus segera mendapatkan donor jantung. Sampai
akhirnya dia maksa donorin jantungnya buat kamu. Karena dia sayang banget
sama kamu.” jelas Ayah.
“Dia berharap banyak sama kamu. Dia mau kamu selesaikan kuliah kamu dan tetap
lanjutkan cita-cita kamu untuk menjadi dokter agar bisa menolong banyak orang.”
lanjut Ayah.
Mendengar penjelasan Ayahnya Tengku langsung menangis. Dia menyesal, sungguh
menyesal hanya karena sebuah kesalah pahaman dia sampai tega menyakiti Adik yang
sangat menyayanginya.
Kisah Alendra berakhir di sini, gadis cantik itu pergi dengan meninggalkan sejuta luka.
Terkadang segala sesuatu yang tampak belum tentu nyata, dan segala sesuatu yang kita
lihat belum tentu kebenarannya. Satu lagi, hargailah mereka yang ada di sekitarmu,
karena seringkali kehadiran seseorang baru terasa di saat orang itu sudah pergi
meninggalkan kita.
~End~
~Tentang penulis
Namaku Putri Nabilah, keluargaku biasa memanggilku Puput sedangkan teman-teman ku
memanggilku Nabilah. Lahir di Tegal, 21 April 2004. Anak pertama dari empat
bersaudara. Alumni SMP NEGERI 2 DUKUHTURI, dan sekarang masih menempuh
pendidikan di SMK NEGERI 2 TEGAL. Punya hobi membaca wattpad dan sangat
menyukai buah nanas madu.
~Tegal, 02 Maret 2021
Menuju Mimpi
Karya: LADYLAZY
Hai ... Namaku Nadia Fitriani. Aku seorang wanita biasa yang berumur 19 Tahun. Aku
berkerja di sebuah cafe ternama di Jakarta dan gajinya lumayan untuk kebutuhan
sehari-hari. Aku anak pertama dari tiga bersaudara, ibuku bernama Ningsih dan
ayahku bernama Dimas. Dia sudah meningal 6 tahun yang lalu dan aku sebagai anak
pertama menjadi tulang punggung untuk keluarga. Hidupku sangat sederhana, tidak
seperti orang lain yang bergemilang harta. Apa-apa harus berusaha terlebih dahulu
untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
Saat ini aku berjalan menuju ke cafe untuk bekerja. Cuaca hari ini sangat sejuk
akibat hujan subuh tadi, genangan pun masih terlihat di sisi jalan dan dedaunan
juga masih sedikit air hujan yang menempel.
Jalanan masih lenggang, ada beberapa kendaraan yang melintas. Tetapi, ini hari
senin biasanya banyak kendaraan yang berlalu lintas sampai jalanan macet. Padahal
jam udah menunjukan 07:30. Kemungkinan orang-orang masih berbaring di
tempat tidur.
Dari rumah ke tempat kerja lumayan dekat, tak perlu mengeluarkan uang untuk naik
ojek. Cukup berjalan kaki, itung-itung mengeluarkan keringat.
Setibanya aku di cafe, langsung mengeluarkan kunci dan meletakan tas di sebuah
kamar di belakang untuk para pegawai beristirahat ada tempat tidur dan loker
untuk meyimpan barang privasi pegawai. Bagunan ini bertema kpop seperti BTS,
BLACPINK, EXO dan NCT. Di setiap dinding terdapat poster serta foto idol sampai
setiap Album pun di pasang untuk membuat suasana lebih menarik.
Saat cafe dibuka tepat pada pukul delapan, sudah ada banyak pelanggan yang
berdatangan karena hari ini akan ada diskon dan berupa album gratis untuk satu orang
tetapi dengan menggunakan permainan untuk itu aku sekarang sangat sibuk
membagikan undian kepada orang lain.
Tidak hanya album gratis ada juga gantelan kunci dan boneka BT21 untuk pemenang
nomor dua. Jangan kawatir yang tidak mendapatkan hadiah akan diberikan foto BTS
secara Cuma-Cuma. Itu suara Mbak Keira—manajer di cafe ini bukan aku. Haha...
Dia ramah, baik dan kompeten dalam hal pekerjaan. Sering juga ia membantu orang
yang kesusahan. Namun, dia juga sosok yang begitu tegas. Dia tidak suka apabila
mendapati pegawainya datang terlambat.
Aku menghampirinya sesaat setelah dia selesai memberi arahan permainan,”Mbak hari
ini aku bekerja setengah hari saja,” kataku dengan menundukan kepala meminta izin.
“Memang kamu mau ke mana? Ada keperluan apa? Di sini masih banyak pekerjaan?”
dengan suara sedikit meninggi dan mata yang langsung menajam.
“Ada keperluan mendesak yang harus diselesaikan. Karena besok ada tes SBMPTN, aku
harus ke perpustakan dan juga ada karyawan lain yang bisa mengerjakan,” cicitku
menjelaskan.
“Baiklah, tapi minggu depan kamu harus lembur.” Dia langsung memberi perintah dan
pergi begitu saja. Aku tau dia lagi kesal pasti karena pengunjung sedang ramai aku
malah harus minta izin untuk keluar.
Sesudah mengganti pakaian dan mengambil tas aku pergi ke perpustakaan dengan
menggunakan ojek online karena jaraknya sangat jauh kemudian mampir sebentar ke
indomart untuk membeli makanan agar tak kelaparan di sana.
Di semua perpustakan hanya tempat ini yang bisa meminjam atau membeli buku tapi
harus memberi keterangan dan tandangan tangan serta kartu tanda izin meminjam-
membeli. Memang sangat repot tapi ini sudah aturan yang berlaku dan setiap dua hari
sekali ada buku baru yang datang.
Aku sedang mencari buku matematika yang perluku pelajari. Ada hal yang belum aku
mengerti maka aku butuh buku itu tapi aku tidak menemukannya. Mungkin ada di
tempat lain.
“Nah, itu.” aku mengambilnya tapi sebuah tangan langsung menyambar. Alhasil kami
saling berebut mendapatkannya.
“Maaf nona, aku menemukannya lebih dulu jadi tolong lepaskan tangan Anda.” Dia
berbicara sangat sinis dan matanya sangat menantangku.
“Sorry, aku lebih dulu menemukannya,” ucapku menarik buku itu dengan sedikit kuat
sehingga dia pun ikut tertarik. Dan terjadilah aksi tarik-menarik antara aku dengan
dia yang akhirnya menciptakan kerusuhan di perpustakaan. Hampir saja ada
bakuhantam kalau tidak ada petugas mendatangi kami.
Aku mengambil buku itu setelah diberikan buku yang sama dan mencari bangku yang
kosong. Namun, dia duduk di depan mejaku. Tidak bisakah dia di tempat lain. Jauh-
jauh dari ku. Ini sangat menyebalkan.
“Eh, kamu pergi sana cari bangku yang lain. Kenapa di sini? Emang gak ada tempat
kosong apa?”
“Enggak ada, hanya tempat ini yang kosong. Untuk urusan yang tadi aku minta maaf.
Aku sangat butuh buku ini. Dan perkenalkan aku Angga Firmansyah.”
“Aku Nadia Fitriani. Boleh tau kenapa kamu butuh itu?”
“Ini mimpiku untuk masuk di Universitas Indonesia. Untuk membuat orang mengakui
ku bahwa aku bisa tanpa mereka. Bahwa aku mampu dengan jalan yang aku pilih
meskipun banyak halangan di depan sana.”
“Aku ngerti, begitu pun denganku. Aku bermimpi ingin menjadi seorang dokter.
Ayahku meninggal karena mempunyai penyakit kangker dan saat itu aku tak punya
biaya untuk membawa dia ke rumah sakit. Alasan itulah aku ingin menjadi dokter.”
“Iya, kita punya alasan masing-masing untuk meraih mimpi. Ayo kita berjuang
bersama. Kalau kamu ada yang tidak mengerti matematika bisa tanyakan kepadaku.”
“Memang kamu jago dalam pelajaran matematika? Aku sangat meragukan itu.”
“Haha... aku juara olimpiade matematika ketika masih SMK.”
“Oke kita buktikan sekarang.”
Berbicara dengannya sangat menyenangkan seakan-akan kami sudah lama mengenal
padahal ini pertemuan pertama. Mungkin ini awal dari pertemanan kami. Dari sini aku
paham bahwa dia sangat baik sampai memberiku penjelasan yang mudah mengerti tidak
berbelit dan mudah di inget di kepala.
Awalnya aku gak percaya kalau dia juara olimpiade karena tampaknya yang gak
memungkinkan. Bener kata orang 'Jangan lihat orang dari luar tapi lihat kedalamya,
apa dia baik atau buruk' well hari ini aku mengakuinya.
“Nadia, apa kamu mengerti yang aku jelaskan? Tolong jawab dengan jujur. Ini pertama
kali aku mengajarkan orang lain.”
“Ah ya, aku mengeri, sangaaat mengerti. Apa yang kamu jelaskan sangat mengerti. Ini
udah cukup. Terimakasih sudah membantu.”