The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

WILAYAH DAN TATA RUANG (1)-converted

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by suhaya664, 2021-08-04 23:53:32

BAHAN AJAR WILAYAH PERWILAYAHAN

WILAYAH DAN TATA RUANG (1)-converted

Keywords: BAHAN AJAR

 Tempat yang sentral dalam kenyataannya dapat berupa kota-kota
besar, pusat perbelanjaan atau mall, super market, pasar, rumah sakit,
sekolah, kampus-kampus perguruan tinggi, ibukota provinsi, kota
kabupaten dan sebagainya.

Hirarki tempat tempat sentral yang
kawasan daya pengaruhnya berbeda-beda
(Sumber: Sumaatmadja, 1988 halaman 25)

 Tempat yang sentral dan daerah yang dipengaruhinya (komplementer),
pada dasarnya dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu hierarki 3
(K=3), hierarki 4 (K=4), dan hierarki 7 (K=7). Adapun secara rinci dapat
diuraikan
sebagai berikut:

a. Hierarki K=3, merupakan pusat pelayanan berupa pasar yang selalu
menyediakan bagi daerah sekitarnya, sering disebut Kasus Pasar
Optimal. Wilayah ini selain empengaruhi wilayahnya sendiri, juga
mempengaruhi sepertiga bagian dari masing-masing wilayah
tetangganya.

Hirarki tempat yang sentral dengan K=3
(Sumber: Sumaatmadja, 1988, halaman 126)

b. Hierarki K=4, wilayah ini dan daerah sekitarnya yang terpengaruh
memberikan kemungkinan jalur lalu lintas yang paling efisien. Tempat
sentral ini disebut pula situasi lalu lintas yang optimum. Situasi lalu
lintas yang optimum ini memiliki pengaruh setengah bagian di masing-
masingwilayah tetangganya.

Hirarki tempat yang sentral dengan K=4
(Sumber: Sumaatmadja, 1988, halaman 127)

c. Hirarki K=7, wilayah ini selain mempengaruhi wilayahnya sendiri, juga
mempengaruhi seluruh bagian (satu bagian) masing-masing wilayah
tetangganya. Wilayah ini disebut juga situasi administratif yang optimum.
Situasi administratif yang dimaksud dapat berupa kota pusat pemerintahan.

Hirarki tempat yang sentral dengan K=7.
(Sumber: Sumaatmadja, 1988, halaman 127)

2. Teori Losch

Teori ini di kemukakan oleh ekonom dari Jerman bernama Losch. Teori
Losch merupakan kelanjutan dari teori tempat sentral Christaller dengan
menggunakan konsep yang sama yaitu ambang dan jangkauan.

Perbedaan pokok masing-masing Progresi wilayah pasaran untuk
prinsip optimal. berbagai barang dan jasa dengan
ambang yang semakin meningkat.

Masing-masing barang dan jasa
terdapat diberbagai wilayah pasaran
pada bentang lahan yang disusun
dengan penumpukan di atas wilayah
pasaran lainnya yang berbentuk
heksagonal. Berdasarkan teori losch
dapat disimpulkan bahwa suatu kota

akan lebih cepat berkembang bila
penduduknya padat dengan wilayah
yang luas.

Losch menggunakan jalur transportasi
yang dinamakan dengan bentang
lahan ekonomi.

3. Teori kutub pertumbuhan

Teori Kutub Pertumbuhan (Growth Poles Theory) disebut juga sebagai
teori pusat pertumbuhan (Growth Centres Theory). Teori ini dikemukakan
oleh Perroux pada tahun 1955. Dalam teori ini dinyatakan bahwa
pembangunan kota atau wilayah di manapun adanya bukanlah merupakan
suatu proses yang terjadi secara serentak, tetapi mucul di tempat-tempat
tertentu dengan kecepatan dan intensitas yang berbeda-beda. Tempat-
tempat atau kawasan yang menjadi pusat pembangunan tersebut dinamakan
pusat-pusat atau kutub-kutub pertumbuhan. Dari kutub-kutub tersebut
selanjutnya proses pembangunan akan menyebar ke wilayah-wilayah lain di
sekitarnya, atau ke pusat-pusat yang lebih rendah.

4. Potensi daerah setempat

Teori pusat pertumbuhan lainnya juga dikenal “Potential Model”.
Konsepnya adalah bahwa setiap daerah memiliki potensi untuk
dikembangkan, baik alam maupun manusianya. Sumber daya seperti luas
lahan yang terdapat di suatu daerah merupakan potensi untuk
dikembangkan misalnya untuk pertanian, peternakan, perikanan,
pertambangan, rekreasi atau wisata dan usaha-usaha lainnya.
Mengingat setiap daerah memiliki potensi yang berbeda-beda, maka
corak pengembangan potensi daerah itupun berbeda-beda pula.

5. Konsep agropolitan

Konsep pusat pertumbuhan lainnya adalah yang diperkenalkan oleh
Friedman (1975). Menurut konsep ini, perlunya mengusahakan pedesaan
untuk lebih terbuka dalam pembangunan sehingga diharapkan terjadi
beberapa “kota” di pedesaan atau di daerah pertanian (agropolis). Melalui
pengembangan ini diharapkan penduduk di pedesaan mengalami
peningkatan pendapatannya serta memperoleh berbagai fasilitas atau
prasarana sosial ekonomi yang dapat dijangkau oleh penduduk pedesaan
tersebut. Dengan demikian mereka mempunyai kesempatan yang sama
pula dalam meningkatkan kesejahteraannya sebagaimana yang dialami oleh
penduduk perkotaan.

6. Teori Sektor

Holmer Hoyt mengemukakan tentang teori sektoral (sector theory).
Pembahasan mengenai ini telah dibahas dalam pembahasan sebelumnya.
Akan tetapi, alangkah baiknya jika kita bahas kembali kali ini.
Menurut teori ini struktur ruang kota cenderung berkembang
berdasarkan sektorsektor dari pada berdasarkan lingkaranlingkaran
konsentrik. PDK (Pusat Daerah Kegiatan) atau CBD (Central Business
District) terletak di pusat kota, namun pada bagian lainnya berkembang
menurut saktor-sektor yang bentuknya menyerupai irisan kue bolu. Hal
ini dapat terjadi akibat dari faktor geografi, seperti bentuk lahan dan
pengembangan jalan sebagai sarana komunikasi dan transportasi.

a. Central Business District (CBD) atau
pusat kegiatan bisnis yang terdiri atas
bangunan-bangunan kontor, hotel,
bank, bioskop, pasar, dan pusat
perbelanjaan.

b. Sektor kawasan industri ringan dan
perdagangan.

c. Sektor kaum buruh atau kaum murba,
yaitu kawasan permukiman kaum
buruh.

d. Sektor permukiman kaum menengah
atau sektor madyawisma.

e. Sektor permukiman adiwisma, yaitu
kawasan tempat tinggal golongan atas
yang terdiri dari para eksekutif dan
pejabat.

7. Teori Polarisasi Ekonomi

Menurut Myrdal, setiap daerah mempunyai pusat pertumbuhan
yang menjadi daya tarik bagi tenaga buruh dari pinggiran. Pusat
pertumbuhan tersebut juga mempunyai daya tarik terhadap tenaga
terampil, modal, dan barang-barang dagangan yang menunjang
pertumbuhan suatu lokasi. Demikian terus-menerus akan terjadi
pertumbuhan yang makin lama makin pesat atau akan terjadi
polarisasi pertumbuhan ekonomi (polarization of economic growth).
Teori polarisasi ekonomi Myrdal ini menggunakan konsep pusat-
pinggiran (coreperiphery). Konsep pusat-pinggiran merugikan daerah
pinggiran, sehingga perlu diatasi dengan membatasi migrasi
(urbanisasi), mencegah keluarnya modal dari daerah pinggiran,
membangun daerah pinggiran, dan membangun wilayah pedesaan.

8. Teori Pusat Pertumbuhan

Teori pusat pertumbuhan dikemukakan oleh Boudeville. Menurut
Boudeville (ahli ekonomi Prancis), pusat pertumbuhan adalah
sekumpulan fenomena geografis dari semua kegiatan yang ada di
permukaan Bumi. Suatu kota atau wilayah kota yang mempunyai
industri populasi yang kompleks, dapat dikatakan sebagai pusat
pertumbuhan. Industri populasi merupakan industri yang mempunyai
pengaruh yang besar (baik langsung maupun tidak
langsung) terhadap kegiatan lainnya.

Identifikasi wilayah pertumbuhan didasarkan pada:

(1) pertumbuhan ekonomi dengan cara melihat angka pertumbuhan
ekonomi dari satu waktu ke waktu berikutnya;

(2) laju pertumbuhan penduduk dengan cara melihat angka
pertumbuhan penduduk dari waktu ke waktu; (3) perkembangan
pemukiman dengan cara melihat perkembangan perubahan
penggunaan lahan dari waktu ke waktu;

(4) tingkat pendidikan dan pengetahuan masyarakat dengan cara melihat
perkembangan tingkat pendidikan dari waktu ke waktu; (5)
penggunaan teknologi dengan cara melihat perkembangan
kemampuan teknologi yang digunakan;

(6) budaya masyarakat dengan cara melihat budaya yang berkembang
dalam masyarakat.

Langkah-langkah menentukan

batas-batas pertumbuhan wilayah :

1) Siapkan peta rupabumi atau peta topografi dengan skala yang sesuai
dengan kebutuhan atau peta geografis berskala kecil.

2) Buat peta dasar yang hanya memuat simbol batas wilayah, sungai,
jalan, nama tempat, dan lokasi pemukiman.

3) Tentukan kriteria pertumbuhan yang akan digunakan, apakah
berdasarkan tingkat ekonomi, penduduk, pendidikan, atau budaya.

4) Tentukan lokasi/pusat pertumbuhan.
5) Analisis data seri yang tersedia, kemudian hitung angka

pertumbuhannya.
6) Angka pertumbuhan yang diperoleh dari tiap-tiap lokasi/pusat

pertumbuhan kemudian digambar sesuai dengan besaran angka
pertumbuhannya.

 Batas wilayah pertumbuhan tersebut dapat dibuat pada daerah yang
sempit misalnya wilayah kecamatan atau wilayah kabupaten sampai
pada wilayah yang lebih luas yaitu provinsi atau negara. Angka
pertumbuhan yang dialami oleh suatu wilayah akan dijadikan dasar
dalam penyusunan pengembangan

 wilayah pembangunan yang disusun dalam bentuk Rencana Tata
Ruang (RTR).

Mekanisme penyebaran pusat perkembangan
ke Wilayah lain

1. Spread effect
Pertumbuhan kota mendorong pert. Kegiatan pertanian di pedesaan
Misal: Pembangunan kota mendorong perkembangan pedesaan

1. Backwash effect
Pertumbuhan kota yang mengakibatkan perpindahan modal dan
sumber lain.
Misal: pemindahan tenaga ahli, listrik,dsb

Fase-fase Menentukan batas Wilayah
pertumbuhan:

Fase Pra Industri
-wil. Belum berkembang
-kondisi ekonomi stagnasi
-tiap kota hanya melayani wil. Sendiri

Fase Transisi
-Mulai berkembang pusat pertumbuhan.
-Modal, tenaga trampil, modal mengalir ke pusat pertumbuhan.
-Masih terdapat Wil terbelakang

Fase Intregasi Sosial
-Terbentuk pusat pertumbuhan
-tiap wil.terintregrasi sec. menyeluruh
-tidak ditemukan wilayah-wilayah yang terbelakang

 Karakteristik wilayah sebagai pusat pertumbuhan adalah
memiliki pertumbuhan cepat, perkembangan cepat,
pembangunan menonjol, kegiatan ekonomi ramai.

 Faktor pendukung pusat pertumbuhan adalah kondisi geografis,
SDA, SDM, jarigan transportasi.

PUSAT PERTUMBUHAN INDONESIA

4 Wilayah pembangunan utama di Indonesia :

 Wilayah A : wilayah I & II (pusat: kota Medan)
 Wilayah B : wilayah III, IV, VI (pusat: kota Jakarta)
 Wilayah C : wilayah V, VII (pusat: kota Surabaya)
 Wilayah D : wilayah VIII,IX,X (pusat: kota Ujung

Pandang atau Makasar)

10 Wilayah pembangunan Indonesia:

Wilayah Pembangunan I
Aceh, Sumatera Utara

Wilayah pembangunan II (pusat:Pakanbaru)
Sumatera Barat, Riau

Wilayah pembangunan III (pusat: Palembang)
Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu

Wilayah Pembangunan IV (pusat: Jakarta)
Lampung, DKI Jakarta , Jawa Barat, Jawa Tengah
DI Yogyakarta

Wilayah Pembangunan VI (pusat: Pontianak)
- Kalimantan Barat, Pontianak

Wilayah pembangunan V(pusat: Surabaya)
Jawa Timur , Bali

Wilayah Pembangunan VII (pusat: Balikpapan,Samarinda)
Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur

Wilayah pembangunan VIII (pusat: Makasar)
NTT, NTB, P.Timor (Kupang), Sulsel, Sulawesi Tenggara

Wilayah pembangunan IX (pusat: Manado)
- Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara
Wilayah pembangunan X (pusat: Sorong)

Maluku, Papua





Wilayah pembangunan di atas selanjutnya dikembangkan lagi
menjadi wilayah pembangunan yang lebih kecil lagi yaitu tingkat
daerah pada provinsi. Contohnya Jawa Barat dibagi menjadi 6
wilayah pembangunan daerah, sebagai berikut:

1) Wilayah Pembangunan JABOTABEK (termasuk sebagian kecil
wilayah kabupaten sukabumi). Pada wilayah ini dikembangkan
berbagai aktivitas industri yang tidak tertampung di Jakarta.

2) Wilayah Pembangunan Bandung Raya. Wilayah ini dikembangkan
pusat aktivitas pemerintahan daerah, pendidikan tinggi,
perdagangan daerah,industri tekstil. Untuk konservasi tanah dan
rehabilitasi lahan kritis dipusatkan di wilayah-wilayah kabupaten
Garut, Cianjur, Bandung, dan Sumedang.

 3) Wilayah Pembangunan Priangan Timur. Wilayah ini meliputi
daerah kabupaten Tasikmalaya dan Ciamis.

 4) Wilayah Pembangunan Karawang. Wilayah ini dikembangkan
sebagai produksi pangan (beras/padi) dan palawija. Meliputi pula
daerah-daerah dataran rendah pantai utara (Pantura) seperti
Purwakarta, Subang, dan Karawang. Pusatnya Kota Karawang.

 5) Wilayah Pembangunan Cirebon dan sekitarnya. Wilayah ini
dikembangkan sebagai pusat industri pengolahan bahan agraris,
industri, petrokimia, pupuk, dan semen. Untuk keperluan tersebut,
pelabuhan Cirebon ditingkatkan fungsinya untuk menampung
kelebihan arus keluar masuk barang dari pelabuhan Tanjung Priok.

 6) Wilayah Pembangunan Banten. Wilayah ini berpusat di Kota Serang
dan Cilegon, terdiri atas 4 zone yaitu Bagian Utara diutamakan untuk
perluasan dan intensifiksi areal pesawahan teknis, selatan untuk
wilayah perkebunan dan tanaman buah-buahan, wilayah Teluk Lada
diperuntukkan bagi intensifikasi usaha pertanian, dan daerah sekitar
Cilegon dikembangkan sebagai pusat industri berat (besi baja).

WPPI

Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri (WPPI), yaitu suatu
benteng alam yang terdiri atas beberapa daerah yang berpotensi
untuk tumbuh dan berkembangnya kegiatan industri dan
memiliki keterkaitan ekonomi yang bersifat dinamis karena
didukung oleh sistem perhubungan yang mantap.

 Indonesia terbagi ke dalam delapan WPPI dengan potensi
sebagai berikut.

 WPPI Sumatera bagian utara, berlandaskan pada potensi sumber
daya alam.

 WPPI Sumatera bagian selatan (termasuk Banten) berlandaskan
pada potensi ekonomi batu bara, minyak bumi, timah, dan
mineral industri, seperti koalin dan kapur.

 WPPI Jawa dan Bali (tanpa Banten), berlandaskan pada
prasarana yang baik, tenaga kerja yang terampil, sumber energi,
dan sistem pertanian yang maju.

 WPPI Kalimantan bagian timur, berlandaskan pada potensi gas
dan batu bara.

 WPPI Sulawesi, berlandaskan pada potensi pertanian,
perikanan, nikel, aspal, kapur, dan kayu.

 WPPI Batam dan Kalimantan Barat, berlandaskan letak strategis,
potensi hasil hutan, dan gas alam.

 WPPI Indonesia Timur bagian selatan, berlandaskan potensi
sumber daya alam, budaya dan tenaga terampil untuk industri
kecil.

 WPPI Indonesia Timur bagian utara, berlandaskan pada potensi
hasil laut, hutan, dan mineral.

Batas Wilayah Pertumbuhan

1. Penentuan Batas Wilayah Pertumbuhan Berdasarkan

Teori Gravitasi



2. Penentuan Batas Wilayah Pertumbuhan
Berdasarkan Teori Titik Henti

Teori titik henti (The Breaking Theory) merupakan suatu cara untuk
memperkirakan lokai garis batas yang memisahkan pusat-pusat perdagangan dari
dua buah kota yang berbeda ukurannya. Esensi dari teori titik henti adalah bahwa
jarak yang lebih kecil ukurannya berbanding lurus dengan jarak antara kedua pusat
pandangan itu dan berbanding terbalik dengan satu ditambah akar kuadrat jumlah
penduduk dari wilayah yang penduduknya lebih besar dibagi dengan jumlah
penduduk kota yang lebih sedikit

35

 Jadi, lokasi titik henti antara kota X dan B adalah 32,32 km
diukur dari kota Y. Hal tersebut berarti bahwa penempatan
lokasi pusat-pusat pelayanan sosial yang paling strategis adalah
berjarak 32,32 km dari kota Y sehingga dapat dijangkau oleh
seluruh penduduk baik dari kota X maupun kota Y.

3. Penentuan Batas Wilayah Pertumbuhan
Berdasarkan Potensi Penduduk

Indeks potensi penduduk adalah ukuran untuk melihat
kekuatan potensi aliran pada tiap-tiap lokasi. Indeks penduduk
(PP) juga dapat mengukur kemungkinan penduduk di suatu
wilayah untuk melakukan interaksi dengan wilayah-wilayah
lainnya.



Dari hasil perhitungan tersebut,
berarti bahwa pusat pelayanan
sosial akan lebih baik apabila
ditempatkan menempati wilayah
yang memiliki nilai potensi penduduk
lebih kecil dibandingkan dengan
mendekati wilayah yang memiliki
potensi penduduk lebih besar. Hal
tersebut dimaksudkan agar pusat
pelayanan sosial itu dapat dijangkau
dari semua wilayah.

4. Penentuan Batas Wilayah Pertumbuhan
Berdasarkan Teori Grafik

Teori Grafik (Graph Theory) dikemukakan oleh K.J. Kansky dalam
tulisannya yang berjudul Structure of Transportation Network. Teori ini
diterapkan dalam geografi untuk menentukan batas wilayah secara
fungsional berdasarkan arah dan intensitas arus atau interaksi antara
wilayah inti dan wilayah di luar inti. Menurutnya, jaringan transportasi

merupakan salah satu ciri kekuatan interaksi antarwilayah. Dalam hal ini
wilayah yang dihubungkan oleh jaringan transportasi yang kompleks
cenderung memiliki pola interaksi keruangan yang lebih tinggi jika
dibandingkan dengan wilayah yang hanya memiliki jaringan transportasi

yang sederhana, seperti jaringan jalan yang lurus tanpa cabang. Besarnya
kekuatan interaksi antarwilayah berdasarkan Teori Grafik didasarkan
pada perhitungan konektivitas jaringan transportasi dengan
menggunakan indeks β , yaitu rasio antara jumlah rute dalam suatu
sistem transportasi (e) dibagi dengan jumlah titik atau simpul kota (v).

Berdasarkan perhitungan di atas
dapat ditarik kesimpulan bahwa
wilayah X memiliki kekuatan
interaksi = 1,00, sedangkan
wilayah Y memiliki kekuatan
interaksi = 1,25. Artinya,
pengaruh wilayah Y terhadap
wilayah sekitarnya lebih besar
daripada pengaruh wilayah X.

Pembangunan dan
Pengembangan Wilayah

Pembangunan adalah upaya secara sadar dari manusia untuk memanfaatkan
lingkungan dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya

Tujuan pembangunan tersebut dapat dicapai dengan memerhatikan berbagai
permasalahan antara lain:
a. pengendalian pertumbuhan penduduk dan kualitas sumber daya manusia,
b. pemeliharaan daya dukung lingkungan,
c. pengendalian ekosisitem dan jenis spesies sebagai sumber daya bagi

pembangunan,
d. pengembangan industri, dan
e. mengantisipasi krisis energi sebagai penopang utama industrialisasi.

Pengembangan Wilayah

Pengembangan wilayah harus mempertimbangkan keselarasan,
keserasian, dan keseimbangan fungsi budi daya dan fungsi lindung,
waktu, dan sumber daya seperti yang tercantum dalam rencana tata
ruang wilayah.
Pengembangan wilayah merupakan salah satu cara untuk mencapai
keberhasilan pelaksanaan pembangunan, sebagai bagian dari
pembangunan nasional.

BEBERAPA ISTILAH TERKAIT
PEMBANGUNAN

Kawasan Timur Indonesia (KTI)
Kawasan Barat Indonesia (KBI)
Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET)

 KAPET bertujuan
 sebagai berikut.
 1) Pemanfaatan sumber daya alam.
 2) Peningkatan dan pemerataan kegiatan ekonomi.
 3) Peningkatan pendapatan daerah.
 4) Memperkuat ketahanan dan posisi geografis.


Click to View FlipBook Version