MENGENAL
MANUSIA PURBA
SEJARAH INDONESIA
KELAS X
A. TEMPAT DI TEMUKAN FOSIL MANUSIA PURBA
1. Sangiran
Perjalanan kisah perkembangan manusia di Kepulauan
Indonesia tidak dapat kita lepaskan dari keberadaan bentangan luas
perbukitan tandus yang berada di perbatasan Kabupaten Sragen dan
Kabupaten Karanganyar. Lahan itu dikenal dengan nama Situs
Sangiran. Di dalam buku Harry Widianto dan Truman Simanjuntak,
Sangiran Menjawab Dunia diterangkan bahwa Sangiran merupakan
sebuah kompleks situs manusia
purba dari Kala Pleistosen yang
paling lengkap dan paling penting
di Indonesia, dan bahkan di Asia.
Lokasi tersebut merupakan pusat
perkembangan manusia dunia,
yang memberikan petunjuk tentang
keberadaan manusia sejak 150.000
tahun yang lalu. Situs Sangiran itu
mempunyai luas delapan kilometer
pada arah utara-selatan dan tujuh
kilometer arah timur-barat. Situs
Sangiran merupakan suatu kubah
raksasa yang berupa cekungan
besar di pusat kubah akibat adanya
erosi di bagian puncaknya. Kubah
raksasa itu diwarnai dengan
perbukitan yang bergelombang.
Kondisi deformasi geologis itu
menyebabkan tersingkapnya Gambar : L
berbagai lapisan batuan yang
mengandung fosil-fosil manusia
purba dan binatang, termasuk artefak. Berdasarkan materi tanahnya,
Situs Sangiran berupa endapan lempung hitam dan pasir fluvio-
vulkanik, tanahnya tidak subur dan terkesan gersang pada musim
kemarau.
1
Sumber: Phillip V. Tobias, Sangiran pertama kali ditemukan dan diteliti oleh
Paläontologische Zeitschrift, P.E.C. Schemulling tahun 1864, dengan laporan
December 1983, Volume 57. penemuan fosil vertebrata dari Kalioso, bagian dari
wilayah Sangiran. Semenjak dilaporkan Schemulling
. situs itu seolah-olah terlupakan dalam waktu yang
lama. Eugene Dubois juga pernah datang ke Sangiran,
akan tetapi ia kurang tertarik dengan temuan-temuan di
wilayah Sangiran. Pada 1934, Gustav Heindrich Ralph
von Koeningswald menemukan artefak litik di
wilayah Ngebung yang terletak sekitar dua km di barat
laut kubah Sangiran. Artefak litik itulah yang
kemudian menjadi temuan penting bagi Situs
Sangiran. Semenjak penemuan von Koeningswald,
Situs Sangiran menjadi sangat terkenal berkaitan
dengan penemuan- penemuan fosil Homo erectus
secara sporadis dan berkesinambungan. Homo erectus
adalah takson paling penting dalam sejarah manusia,
sebelum masuk pada tahapan manusia Homo sapiens,
manusia modern.
Situs Sangiran tidak hanya memberikan
gambaran tentang evolusi fisik manusia saja, akan
tetapi juga memberikan gambaran nyata tentang
evolusi budaya, binatang, dan juga lingkungan.
Beberapa fosil yang ditemukan dalam seri
geologis-stratigrafis yang diendapkan tanpa
terputus selama lebih dari dua juta tahun,
menunjukkan tentang hal itu. Situs Sangiran telah
diakui sebagai salah satu pusat evolusi manusia di
dunia. Situs itu ditetapkan secara resmi sebagai
Warisan Dunia pada 1996, yang tercantum dalam
nomor 593 Daftar Warisan Dunia (World
Heritage List) UNESCO.
Sumber: Harry Widianto dan Truman
Simanjuntak. 2011. Sangiran Menjawab
Dunia (Edisi Khusus). Jawa Tengah: Balai
Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran.
Gambar : Sertifikat the Sangiran early man
2
2. Trinil, Ngawi, Jawa Timur
Sebelum penemuannya di Trinil, Eugene Dubois mengawali
temuan Pithecantropus erectus di Desa Kedungbrubus, sebuah desa
terpencil di daerah Pilangkenceng, Madiun, Jawa Timur. Desa itu
berada tepat di tengah hutan jati di lereng selatan Pegunungan
Kendeng. Pada saat Dubois meneliti dua horizon/lapisan berfosil di
Kedungbrubus ditemukan sebuah fragmen rahang yang pendek dan
sangat kekar, dengan sebagian prageraham
yang masih tersisa. Prageraham itu menunjukkan
ciri gigi manusia bukan gigi kera, sehingga
diyakini bahwa fragmen rahang bawah tersebut
milik rahang hominid. Pithecantropus itu
kemudian dikenal dengan Pithecantropus A.
Trinil adalah sebuah desa di Sumber : Harry Widianto dan Truman
pinggiran Bengawan Solo, masuk wilayah Simanjuntak. 2011. Sangiran Menjawab
administrasi Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Dunia (Edisi Khusus). Jawa Tengah: Balai
Tinggalan purbakala telah lebih dulu ditemukan Pelastarian Situs Manusia Purba Sangiran.
di daerah ini jauh sebelum von Koeningswald
menemukan Sangiran pada 1934. Ekskavasi yang Gambar : Fosil-fosil temuan di Kedungbrubus
dilakukan oleh Eugene Dubois di Trinil telah
membawa penemuan sisa-sisa manusia purba yang
sangat berharga bagi dunia pengetahuan.
Penggalian Dubois dilakukan pada endapan
alluvial Bengawan Solo. Dari lapisan ini
ditemukan atap tengkorak Pithecanthropus
erectus, dan beberapa buah tulang paha (utuh dan
fragmen) yang menunjukkan pemiliknya telah
berjalan tegak.
3
Tengkorak Pithecanthropus erectus dari
Trinil sangat pendek tetapi memanjang ke belakang.
Volume otaknya sekitar 900 cc, di antara otak kera
(600 cc) dan otak manusia modern (1.200-1.400 cc).
Tulang kening sangat menonjol dan di bagian
belakang mata, terdapat penyempitan yang sangat
jelas, menandakan otak yang belum berkembang.
Pada bagian belakang kepala terlihat bentuk yang
meruncing yang diduga pemiliknya merupakan
perempuan. Berdasarkan kaburnya sambungan
Sumber : Harry Widianto dan Truman perekatan antartulang kepala, ditafsirkan inividu ini
Simanjuntak. 2011. Sangiran Menjawab
Dunia (Edisi Khusus). Jawa Tengah: Balai telah mencapai usia dewasa.
Pelastarian Situs Manusia Purba Sangiran.
Selain tempat-tempat di atas, peninggalan
Gambar : Eugene Dubois banyak manusia purba tipe ini juga ditemukan di Perning,
mengabadikan hidupnya untuk Mojokerto, Jawa Timur; Ngandong, Blora, Jawa
menggali fosil manusia purba
Tengah; dan Sambungmacan, Sragen, Jawa Tengah.
Temuan berupa tengkorak anak-anak berusia sekitar 5
tahun oleh penduduk yang sedang membantu
penelitian Koeningswald dan Duyfjes perlu untuk
dipertimbangkan. Temuan itu menjadi bahan diskusi
yang menarik bagi para ilmuwan. Metode pengujian
penanggalan potasium-argon yang digunakan oleh
Tengku Jakob dan Curtis terhadap batu apung yang
terdapat disekitar fosil tengkorak itu menunjukkan
angka 1,9 atau kurang lebih 0,4 juta tahun.
Pengujian juga dilakukan dengan mengambil sampel
endapan batu apung dari dalam tengkorak dan
menunjukkan angka 1,81 juta tahun. Hasil uji
penanggalan-penanggalan tersebut menjadi
perdebatan para ahli dan perlu untuk dikaji lebih
lanjut.
4
Bila penanggalan itu benar, maka tengkorak anak Homo erectus dari
Perning, Mojokerto ini merupakan individu Homo erectus tertua di
Indonesia.
Temuan Homo erectus juga ditemukan di Ngandong, yaitu
sebuah desa di tepian Bengawan Solo, Kabupaten Blora, Jawa
Tengah. Tengkorak Homo erectus Ngandong berukuran besar dengan
volume otak rata-rata 1.100 cc. Ciri-ciri ini menunjukkan Homo
erectus ini lebih maju bila dibandingkan dengan Homo erectus yang
ada di Sangiran. Manusia Ngandong diperkirakan berumur antara
300.000-100.000 tahun.
Berdasarkan beberapa penelitian yang dilakukan oleh para ahli,
dapatlah direkonstruksi beberapa jenis manusia purba yang pernah
hidup di zaman pra-aksara.
1. Jenis Meganthropus
Jenis manusia purba ini terutama berdasarkan penelitian
von Koeningswald di Sangiran tahun 1936 dan 1941 yang
menemukan fosil rahang manusia yang berukuran besar. Dari
hasil rekonstruksi ini kemudian para ahli menamakan jenis
manusia ini dengan sebutan Meganthropus paleojavanicus,
artinya manusia raksasa dari Jawa. Jenis manusia purba ini
memiliki ciri rahang yang kuat dan badannya tegap.
Diperkirakan makanan jenis manusia ini adalah tumbuh-
tumbuhan. Masa hidupnya diperkirakan pada zaman Pleistosen
Awal.
2. Jenis Pithecanthropus
Jenis manusia ini didasarkan pada
penelitian Eugene Dubois tahun 1890 di
dekat Trinil, sebuah desa di pinggiran
Bengawan Solo, di wilayah Ngawi. Setelah
direkonstruksi terbentuk kerangka manusia,
tetapi masih terlihat tanda-tanda kera.
Oleh karena itu jenis ini dinamakan
Pithecanthropus erectus, artinya manusia
kera yang berjalan tegak. Jenis ini juga
ditemukan di Mojokerto, sehingga disebut
5
Pithecanthropus mojokertensis. Jenis manusia purba yang juga
terkenal sebagai rumpun Homo erectus ini paling banyak
ditemukan di Indonesia. Diperkirakan jenis manusia purba ini
hidup dan berkembang sekitar zaman Pleistosen Tengah.
3. Jenis Homo
Fosil jenis Homo ini pertama diteliti oleh von Reitschoten di
Wajak. Penelitian dilanjutkan oleh Eugene Dubois bersama kawan-
kawan dan menyimpulkan sebagai jenis Homo. Ciri-ciri jenis manusia
Homo ini muka lebar, hidung dan mulutnya menonjol. Dahi juga masih
menonjol, sekalipun tidak semenonjol jenis Pithecanthropus. Bentuk
fisiknya tidak jauh berbeda dengan manusia sekarang. Hidup dan
perkembangan jenis manusia ini sekitar 40.000 – 25.000 tahun yang lalu.
Tempat-tempat penyebarannya tidak hanya di Kepulauan Indonesia
tetapi juga di Filipina dan
Cina Selatan.
Homo sapiens artinya ‘manusia sempurna’ baik dari segi fisik, volume
otak maupun postur badannya yang secara umum tidak jauh berbeda
dengan manusia modern. Kadang-kadang Homo sapiens juga diartikan
dengan ‘manusia bijak’ karena telah lebih maju dalam berpikir dan
menyiasati tantangan alam. Bagaimanakah mereka muncul ke bumi
pertama kali dan kemudian menyebar dengan cepat ke berbagai penjuru
dunia hingga saat ini? Para ahli paleoanthropologi dapat melukiskan
perbedaan morfologis antara
6
Sumber : Harry Widianto dan Truman Simanjuntak. 2011. Sangiran Menjawab Dunia (Edisi
Khusus). Jawa Tengah: Balai Pelastarian Situs Manusia Purba Sangiran.
Gambar : Evolusi manusia
Homo sapiens dengan pendahulunya, Homo erectus. Rangka Homo
sapiens kurang kekar posturnya dibandingkan Homo erectus.
Salah satu alasannya karena tulang belulangnya tidak setebal dan
sekompak Homo erectus.
Hal ini mengindikasikan bahwa secara
fisik Homo sapiens jauh lebih lemah dibanding
sang pendahulu tersebut. Di lain pihak, ciri-ciri
morfologis maupun biometriks Homo sapiens
menunjukkan karakter yang lebih berevolusi
dan lebih modern dibandingkan dengan Homo
erectus. Sebagai misal, karakter evolutif yang
paling signifikan adalah bertambahnya kapasitas
otak. Homo sapiens mempunyai kapasitas otak yang
jauh lebih besar (rata-rata 1.400 cc), dengan atap
tengkorak yang jauh lebih bundar dan lebih tinggi
dibandingkan dengan Homo erectus yang
mempunyai tengkorak panjang dan rendah, Sumber : Harry Widianto dan Truman
dengan kapasitas otak 1.000 cc. Simanjuntak. 2011. Sangiran Menjawab Dunia
(Edisi Khusus). Jawa Tengah: Balai
Segi-segi morfologis dan tingkatan Pelastarian Situs Manusia Purba Sangiran.
kepurbaannya menunjukkan ada perbedaan
Gambar : Rekonstruksi tengkorak
Homo erectus
7
yang sangat nyata antara kedua spesies dalam genus Homo
tersebut. Homo sapiens akhirnya tampil sebagai spesies yang sangat
tangguh dalam beradaptasi dengan lingkungannya, dan dengan
cepat menghuni berbagai permukaan dunia ini.
Berdasarkan bukti-bukti penemuan, sejauh ini manusia
modern awal di Kepulauan Indonesia dan Asia Tenggara paling
tidak telah hadir sejak 45.000 tahun yang lalu. Dalam
perkembangannya, kehidupan manusia modern ini dapat
dikelompokkan dalam tiga tahap, yaitu (i) kehidupan manusia
modern awal yang kehadirannya hingga akhir zaman es (sekitar
12.000 tahun lalu), kemudian dilanjutkan oleh (ii) kehidupan
manusia modern yang lebih belakangan, dan berdasarkan karakter
fisiknya dikenal sebagai ras Austromelanesoid. (iii) mulai di
sekitar 4000 tahun lalu muncul penghuni baru di Kepulauan
Indonesia yang dikenal sebagai penutur bahasa Austronesia.
Berdasarkan karakter fisiknya, makhluk manusia ini tergolong dalam
ras Mongolid.
8