yang perlu kita perhatikan dan kita harus memiliki sikap yang bijaksana
dan arfif memisahkan antara sosok seorang manusia dengan sosok sikap
perilaku yang sendiri.
Bagaimana sih supaya kita tidak bisa membenci orang lain?
Sebagaimana kita ketahui bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan
kelemahan. Namun kita selalu melihat dari sisi gelapnya saja, tetapi kita
juga harus melihat dari sisi terang nya, yaitu setiap mereka memiliki
kelebihan-kelebihan, memiliki kebaikan ketika kita berpikir posisitf.
Jadikanlah proses pembelajaran dari sesuatu yang positif dari mereka,
agar kebetradaan mereka menjadi sangat bermanfaat bagi kita. Dengan
demikian ketika kita merasakan memanfaat yang kita membutuhkan dari
keberadaannya, tentunya akan tumbuh benih-benih rasa senang dan
suka terhadap mereka. Inilah cara yang terbaik dalam menyikapi agar
kita tidak membenci seseorang.
WIDYAISWARA YANG BAHAGIA | 41
INDAHNYA MEMAAFKAN
DAN MELUPAKAN
Sebagian orang mungkin lebih mudah jika
memberikan uang dalam jumlah besar
ketimbang memberi secuil kata maaf
atas kesalahan orang lain.‛
Yanuardi Syukur & Muhammad Nahar
Memberikan maaf kepada orang yang sudah berbuat jahat kepada
kita terkadang memang sangat sulit sekali sih. Kita sudah berusaha
semaksimal mungkin melakukan sesuatu yang sangat berharga bagi
lembaga dalam mengembangkan sumber daya manusia. Kita sudah
berikhtiar, berpikir semaksimal mungkin dan menghasilkan karya agar
dapat mengembangkan sumber daya manusia dengan baik dan benar
sesuai dengan yang kita harapkan dalam mencapai visi dan misi
pemerintah. Namun kadangkala diberikan reaksi tidak baik oleh orang
lain kepada kita. Dihalangi dan bahkan dihambat oleh teman sejawat
terhadap ide-ide dan gagasan kita. Adanya sikap dan perilaku yang iri
dan dengki terhadap diri kita. Hal ini membuat kita kadang sangat kesal
dan jengkel dalam menghadapinya. Ketika kita memiliki sikap emosional
yang kurang baik, maka cenderung kita memberikan reaksi yang tidak
baik membalas kejahatan dengan kejahatan. Kita berusaha untuk
menunjukkan bahwa diri kita lebih baik atau lebih kuat dalam
menghadapi mereka. Karena kita ingin terlihat lebih dari segala-galanya.
Sikap seperti ini merupakan sebuah sikap yang sangat tidak baik
yang dimiliki oleh seorang Widyaiswara. Tidak selamanya kita harus
selalu maju dengan cara menginjak orang lain. Tidak selamanya kita
harus sukses dengan mengabaikan reaksi yang tidak baik dari orang lain.
Namun alangkah lebih baiknya jika kita memberikan respon yang baik
atas ketidak baikan orang lain terhadap diri kita atau memberikan maaf.
Dengan pemahaman yang tinggi terhadap sikap dan perilaku mereka,
kita dapat berpikir secara terbalik. Ketika kita melihat seseorang berjalan
kencang lebih cepat daripada kita dalam melaksanakan tugas dan
pekerjaan, kadang akan menimbulkan rasa iri dan dengki. Dengan
demikian kita dapat memberikan maaf kepada mereka atau sikap
42 | WIDYAISWARA YANG BAHAGIA
perilaku yang diberikan kepada kita. Memberikan maaf atas kesalahan
orang lain meiliki nilai yang sangat penting yang harus dimiliki
Widyaiswara, karena memberikan maaf jauh lebih baik daripada
meminta maaf kepada orang lain. Dengan memberikan maaf kita akan
merasakan kenyamanan dan kebahagiaan dalam kehidupan.
Memberikan maaf kepada orang lain dan melupakan kesalahannya
juga merupakan suatu kekuatan yang kita miliki untuk membuat mereka
dapat mendukung kita sepenuhnya. Memberikan manfaat membuat
mereka berubah dari energi negatif menjadi memiliki energi positif bagi
mereka dan termasuk kita sendiri. Bukankah kita menginginkan tim work
yang solid dalam mencapai visi misi sebuah lembaga kediklatan. Untuk
itu tentunya kita harus merubah mindset mereka, menggali potensi
mereka, merangkul mereka dengan cara memberikan maaf dan
melupakan atas kesalahan-kesalahan yang telah mereka lakukan
terhadap diri kita. Dengan semikian kita akan merasakan indahnya
kehidupan kita secara pribadi dan juga indah dilihat orang lain.
WIDYAISWARA YANG BAHAGIA | 43
JANGAN SUKA MEMBANDINGKAN
DIRI DENGAN ORANG LAIN
‚Jika salah satu diantara kalian melihat orang
yang memiliki kelebihan harta dan bentuk (rupa),
maka lihatlah kepada orang yang dibawahnya.‛
HR. Bukhari & Muslim
Hakikat dari bersyukur adalah ketika kita mampu memanfaatkan
seluruh potensi yang kita miliki agar lebih bermakna bagi bagi diri kita
maupun bagi orang lain. Namun tidak sedikit orang yang cenderung
melihat bahwa dirinya serba kekurangan ketika diberikan tugas dan
wewenang. Cenderung mengeluh merasakan bahwa dirinya tidak
mampu untuk melakukannya. Ketika dihadapkan kepada suatu
persoalan cenderung menganggap bahwa yang Maha Kuasa tidak
menyukai dirinya. Hal ini merupakan karakteristik bahwa orang tersebut
termasuk orang yang tidak mampu mensyukuri apa yang telah
diberikan.
Disisi lain juga suka melihat kelebihan yang dimiliki oleh orang lain.
Orang lain dipandang lebih mampu, lebih kuat dari pada dirinya dalam
menghadapi berbagai persoalan. Pada kondisi seperti ini mereka
membandingkan dirinya dengan orang lain yang justru membuat dirinya
lebih terpuruk lagi ketika dibandingkan dengan kebanyakan orang.
Sikap yang suka membanding-bandingkan diri ini dengan orang lain
akan menimbulkan sikap iri dan dengki kepada orang lain. Kenapa
demikian karena hanya melihat kekurangan yang ada pada dirinya yang
dibandingkan dengan kelebihan yang ada pada orang lain yang
menyebabkan dirinya menjadi pesimis tidak percaya diri yang berakhir
kepada sikap yang kurang bagus secara emosional dalam hubungan
sosial dengan orang lain.
Apa benar bahwa kita tidak boleh membandingkan diri kita dengan
orang lain? boleh saja sih. Asalkan kita bandingkan diri kita dengan
orang memberikan dampak yang positif terhadap diri kita maupun pada
orang lain. Bahkan kita harus mampu membandingkan diri kita dengan
para Uswatun Hasanah, misalkan seperti para rasul kita harus mampu
mencontoh kehidupan Nabi agar kita dapat hidup lebih baik di dunia
44 | WIDYAISWARA YANG BAHAGIA
maupun di akhirat. Dengan demikian membandingkan diri harus sesuai
dengan konteksnya. Ketika berdampak positif bagi diri kita dan maupun
bagi orang lain maka itu merupakan sesuatu yang lebih baik. Namun
ketika kita membandingkan diri dengan orang lain tetapi menimbulkan
dampak negatif baik bagi kita maupun bagi orang lain itu sebaiknya
jangan kita lakukan.
WIDYAISWARA YANG BAHAGIA | 45
BERANI MEMULAI PEKERJAAN
"Tak ada rahasia untuk menggapai sukses.
Sukses itu dapat terjadi karena persiapan, kerja keras,
dan mau belajar dari kegagalan."
Colin Powell
Yang paling sulit dilakukan adalah memulai sesuatu sejak awalnya.
Kenapa? karena kita harus mencurahkan seluruh potensi, pikiran, waktu
dan tenaga untuk memulai sesuatu. Kita cenderung berpikir terlebih
dahulu agar seluruh yang kita lakukan terlihat lebih baik. Karena manusia
memiliki sifat untuk berbuat sesuatu yang sangat sempurna, tanpa celah.
Maka setiap kita ingin memulai sesuatu sangat berat dilakukan. Karena
kita melihat terlebih dahulu celah-celah, kelemahan-kelemahan yang
kita miliki. Kita berusaha untuk melihat kekurangan-kekurangan yang
akan kita lakukan sebelum kita melakukan sesuatu. Bagaimana mungkin
kita melakukan evaluasi terhadap hal yang akan kita lakukan, sementara
kita sendiri belum melakukannya. Hal inilah membuat kita sangat berat
untuk mengawali sesuatu.
Lalu bagaimana solusinya? Ya silakan Anda lakukan terlebih dahulu.
Bagaimana menurut anda sendiri yang pada akhirnya pada saat proses
berjalan akan ada masukan-masukan baik dari diri Anda sendiri maupun
dari orang lain. Pengalaman yang anda dapatkan dalam proses
pelaksanaan hal tersebut menjadi suatu pendorong, motivasi dalam diri
kita untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Jika kita sering merasakan sulit
mengawali, tetapi setelah kita lakukan sulit untuk berhenti. Bahkan ahli
mengatakan ketika anda mengawali sesuatu pekerjaan sudah 25%
pekerjaan itu dianggap selesai, karena mengawali pekerjaan itu akan
menimbulkan dorongan yang sangat tinggi untuk menyelesaikan
pekerjaan tersebut.
Jangan takut salah. Kumpulkan keberanian untuk memulai sesuatu
pekerjaan. Pekerjaan yang anda anggap tidak mampu dikerjakan, maka
kerjakan lebih dahulu, karena pada dasarnya kita sebagaimana pikiran
kita. Ketika kita menganggap pekerjaan itu berat maka menjadi berat,
tetapi sebaliknya ketika kita menganggap pekerjaan itu ringan maka
menjadi ringan. Oleh sebab itu kita harus berani memulai sesuatu
pekerjaan dengan baik dan benar.
46 | WIDYAISWARA YANG BAHAGIA
BAGIAN – 4
TEKANAN VS PERJUANGAN
WIDYAISWARA YANG BAHAGIA | 47
INTEGRITAS DAN KETEGUHAN HATI
Kebenaran terbesar adalah kejujuran,
dan kepalsuan terbedsar adalah ketidakjujuran.‛
Abu Bakar. RA
Kata orang pintar bukti seseorang hidup adalah memiliki masalah.
Apapun yang kita lakukan selalu menghadapi hambatan, tantangan dan
gangguan. Tidaklah dikatakan suatu kesuksesan dalam mencapai suatu
kegiatan tertentu, jika tanpa mendapatkan tantangan yang sangat
berarti. Semakin kuat dan semakin tinggi tingkat gangguan dan
ancaman tentunya semakin tinggi pula tingkat kepuasan dan
kebahagiaan yang kita dapatkan setelah kita menyelesaikan suatu
persoalan tersebut. Permasalahannya adalah apakah kita mampu
menghadapi tekanan-tekanan tersebut baik tekanan dan hambatan dari
kita sendiri, maupun dari orang lain? Konon banyak orang yang
merasakan pasrah terhadap tekanan dan permasalahan, namun banyak
juga orang yang mampu menghadapi tekanan dan permasalahan
tersebut dengan baik. Sebetulnya sih sangat merugi orang yang tidak
pernah mengalami permasalahan atau mengalami tekanan yang kecil
dibandingkan dengan tekanan yang selalu bertubi-tubi yang kita hadapi.
Tekanan itu membuat orang semakin kuat, semakin tangguh semakin
ulet dan semakin telaten dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.
Kadang kala yang maha kuasa memberikan tekanan kepada
kehidupan kita, dalam melaksanakan pekerjaan kita di kantor agar kita
mampu belajar dengan baik, agar kita mampu mengintrospeksi diri, agar
kita lebih mapan dan lebih dewasa dan kita mampu menjadi orang yang
sukses. Tidak semua pengalaman ada dalam buku secara tekstual,
makanya dikatakan bahwa pengalaman adalah guru yang sangat
berharga. Maka dari itu ketika kita menghadapi tekanan yang sangat
kuat, kita tidak boleh pasrah begitu saja, kita tidak boleh kecewa, tidak
boleh mengambil sikap negatif, tetapi kita harus berpikir keras dalam
mencari berbagai alternative. Kita harus berjuang untuk mencapai apa
yang kita harapkan tentunya. Bahkan dikatakan tidak ada orang
melakukan perjuangan dalam kehidupan tanpa ada tekanan. Begitu
berharganya tekanan dalam kehidupan kita. Banyak orang yang
mendapatkan tekanan yang berdampak negatif dalam kehidupannya,
48 | WIDYAISWARA YANG BAHAGIA
memiliki jiwa yang labil, posesif, maladaptif dan justru akan merugikan
bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain.
Berbeda dengan Widyaiswara, tidak semua Widyaiswara sih
memiliki sikap dan perilaku seperti yang disampaikan diatas. Masih
banyak Widyaiswara memiliki perjuangan yang kuat dalam menghadapi
tekanan. Hal ini sangat ditentukan oleh motivasi dan niat untuk menjadi
seorang Widyaiswara tentunya. Bagaimana seorang Widyaiswara dapat
menghadapi tekanan dengan baik? dibutuhkan banyak keterampilan
hidup dan softskill yang harus dimiliki oleh Widyaiswara, sehingga dapat
memperjuangkan ide dan gagasan dalam kelembagaan tempat dia
bekerja. Widyaiswara harus memiliki kemampuan berkomunikasi yang
efektif, menciptakan jejaringan kerja dengan seluruh stakeholder,
berkolaborasi dan bekerja sama dengan seluruh unsur dalam mencapai
tujuan, visi dan misi lembaga nya. Memang tidak semua orang yang
mendukung terhadap ide dan gagasan yang kita berikan, namun sikap
tersebut bukan menjadi suatu tekanan yang besar bagi seorang
Widyaiswara tentunya. Tidak hanya harus mampu bagaimana mengelola
konflik dengan baik, tetapi juga harus mampu bekerjasama dan
merangkul seluruh sumber daya manusia yang ada.
Integritas dan keteguhan hati widyaiswara dalam melaksanakan
tugas dan fungsinya merupakan faktor kunci dalam mengembangkan
sumber daya manusia. Pertanyaannya adalah apakah Widyaiswaara
mampu menghadapi godaan, baik godaan yang bersumber dari peserta
pelatihan, godaan yang bersumber dari pengelola dan penyelenggara
bahkan godaan yang berasal secara internal yang bersumber dari
kebutuhan keluarganya secara pribadi? Ketika Widyaiswara mampu
untuk mengatakan tidak atau menolak terhadap godaan tersebut, maka
dapat dikatakan memiliki sikap yang jujur. Akan tetapi jujur belumlah
cukup menjamin seseorang untuk berintegritas dan memiliki keteguhan
hati, karena jujur merupakan kadar integritas yang sangat rendah.
Namun ketika mendapatkan tantangan dan godaan dari orang lain,
tetapi konsisten untuk melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik
sesuai ketentuan yang berlaku, maka dapat dikatakan sebagai orang
yang konsisten dalam menghadapi godaan.
Namun selanjutnya ketika Widyaiswara mampu untuk
menyampaikan sesuatu yang benar kepada orang lain dan mampu
mengajak orang lain untuk memiliki integritas yang tinggi. Inilah
WIDYAISWARA YANG BAHAGIA | 49
merupakan kadar sikap tertinggi integritas yang disebut dengan berani.
Berani menyampaikan kebenaran kepada orang lain, meskipun memiliki
berbagai konsekuensi yang harus dijalaninya sendiri, sehingga dikatakan
memiliki keteguhan hati dalam berintegritas.
50 | WIDYAISWARA YANG BAHAGIA
MENAPAK DITENGAH PUSARAN
Cukuplah bagi anda
bahwa orang yang iri terhadap anda
merasa tertekan di saat senang anda.‛
Utsman Bin Affan
Sebagai makhluk sosial tentunya sih Widyaiswara tidak terlepas
dari siapapun. Hidup dan bekerja bersama dengan orang lain,
komunikasi dan berinteraksi dengan semua orang. Sikap dan
perilakunya dipengaruhi oleh lingkungan dimana dia berada. Namun di
sisi lain, Widyaiswara harus memperlihatkan jati dirinya, eksistensilisnya
dalam mengaktualisasikan dirinya di tengah-tengah pusaran arus
kehidupan yang sangat kompleks. Kompleksitas permasalahan yang
dialami lingkungan Widyaiswara seperti adanya kelompok yang memiliki
mohon maaf sih motivasi yang rendah dan kompetensi yang rendah
yang kecenderungannya menjadi penghambat inovasi. Kelompok yang
memiliki kompetensi yang tinggi namun motivasinya sangat rendah,
yang selalu memberikan kritikan-kritikan terhadap siapapun yang tidak
pernah merasa puas dengan kondisi apapun dan ada juga yang memiliki
kompetensi yang rendah namun memiliki motivasi yang tinggi sehingga
selalu memiliki niat untuk belajar, belajar dan belajar mengembangkan
kapasitasnya masing-masing. Ditengah pusaran ini tidak harus dihindari
Widyaiswara, namun harus menjadi sosok sebagai agile leadership yang
cekatan dalam mengambil keputusan dan sikap perilaku yang memiliki
keteguhan hati dalam menjalani tajamnya kerikil-kerikil kehidupan pada
satu lembaga pelatihan. Jalan lurus nya Widyaiswara bukan tidak melihat
berbagai rambu-rambu jalanan yang sangat bervariasi tentunya, namun
harus selalu melakukan langkah demi langkah dalam mencapai tujuan
organisasi.
Menapak ditengah pusaran tidak dapat kulakukan tanpa ada
persiapan diri yang baik. Jiwa patriotisme dan nasionalisme harus
dimiliki Widyaiswara. Seperti apa sih jiwa patriotisme dan nasionalisme?
Widyaiswara harus kuat dalam menghadapi tekanan, harus selalu
berjuang dalam menghadapi berbagai hambatan untuk mencapai tujuan
organisasi. Bahkan harus rela berkorban pemipikiran, perhatian, waktu,
tenaga dan bahkan material. Kenapa demikian? karena dalam
WIDYAISWARA YANG BAHAGIA | 51
menghadapi tekanan dan menapak di tengah pusaran tentunya harus
siap dalam menghadapi berbagai alternatif yang akan muncul. Mengapa
membutuhkan sikap nasionalisme? tentunya menapak di tengah
pusaran tidak akan dapat dilakukan secara mandiri, tetapi dengan
merangkul seluruh unsur dan seluruh pihak dan memberdayakan
seluruh stakeholder yang ada pada satu lembaga.
Kuatnya arus kehidupan dalam menapak ditengah pusaran
diharapkan tidak akan berpengaruh negatif terhadap Widyaiswara dalam
melaksanakan tugas dan fungsinya. Integritas dan keteguhan hati yang
dimiliki Widyaiswara sangat dibutuhkan. Sebagaimana filosofi ikan yang
hidup dalam air laut yang asin, namun ikannya tidak pernah terasa asin.
Sikap empatik yang dimiliki Widyaiswara dalam mendukung
profesionalitas sangat dibutuhkan dalam menapak ditengah pusaran
dan menghadapi tekanan dengan perjuangan. Keinginan dan kebutuhan
yang besar dari Widyaiswara untuk lebih mau dalam mengembangkan
sumber daya manusia menjadfi pendorong bagi Widyaiswara dalam
menapak ditengah pusaran.
52 | WIDYAISWARA YANG BAHAGIA
PERLUNYA KOLABORASI
‚Kita sendiri bisa berbuat begitu sedikit,
bersama-sama kita bisa melakukan begitu banyak.‛
Hellen Keller
Mengapa sih kita perlu kolaborasi? sejak awal sudah sampaikan
bahwa dalam menggerakkan suatu lembaga untuk mencapai tujuannya
mustahil dapat dicapai secara mandiri. Diperlukan suatu sistim
kolaborasi yang sangat bagus dalam memberdayakan seluruh sumber
daya yang ada. Namun kolaborasi itu tidak semudah diucapkan, kadang
sulit untuk dilakukan di antara orang-orang yang memiliki
berkepentingan, memiliki berbagai motivasi yang berbeda-beda menjadi
widyaiswara. Syarat utama menciptakan kolaborasi adalah kemampuan
berkomunikasi, baik komunikasi secara internal, intrapersonal maupun
komunikasi dalam menggerakkan masa. Menyampaikan ide dan
gagasan kepada orang lain, bahkan menerima ide dan gagasan orang
lain.
Komunikasi dapat dilakukan secara satu arah atau secara dua arah
dan bahkan secara diagonal, tergantung konteksnya. Namun tidak
semua orang sih mampu melakukan komunikasi dengan baik sesuai
dengan kondisi tertentu. Misalkan dalam proses fokus grup diskusi,
belum tentu semua orang bisa menyampaikan ide dan gagasan atau
bisa menerima ide gagasan orang lain, atau dapat memahami
perbedaan antara satu dengan yang lainnya. Dalam konteks seperti ini
sangat diperlukan kemampuan widyaiswara dalam mengelaborasi
berbagai perbedaan-perbedaan yang terdapat pada peserta pelatihan,
ataupun lingkungan kerja Widyaiswara itu sendiri. Mengapa demikian?
karena memang Widyaiswara tidak hanya secara formal mampu
melaksanakan tugas dan fungsinya tetapi Widyaiswara juga harus dapat
berfungsi sebagai leadersif adaptif, beradaptasi menyesuaikan diri
dengan kondisi yang ada di lingkungannya, dan bahkan Widyaiswara
juga dituntut untuk memiliki komunikasi agile leadership yang cekatan,
cepat tanggap dalam memberikan solusi atau problem solving terhadap
berbagai persoalan persoalan.
Komunikasi yang terjadi juga sangat bervariasi dilingkungan
manapun. bukan hanya lingkungan Widyaiswara tentunya. Ada
WIDYAISWARA YANG BAHAGIA | 53
komunikasi yang berpengaruh secara positif yang bisa mengarahkan
dan menggerakkan orang lain dalam mencapai tujuan organisasi, namun
sebaliknya ada juga komunikasi yang bersifat berpengaruh negatif yang
juga bisa menciptakan opini dan mempengaruhi orang lain untuk
menolak suatu gagasan, untuk menghambat suatu gagasan orang lain.
Menghadapi orang seperti ini sangat diperlukan kemampuan kolaborasi,
pembeberan masalah masalah secara bersama agar tujuan yang kita
capai dapat dilaksanakan secara kolaboratif. Tetapi juga pada sisi
tertentu masih banyak juga orang yang memiliki sikap komunikasi yang
acuh tak acuh, tidak ada rasa kepedulian, rendahnya motivasi yang
disebut dengan apatis tentunya. Namun kelompok ini, Widyaiswara
harus mampu mempengaruhinya agar menjadi kelompok yang dapat
memberikan dukungan yang positif terhadap pencapaian tujuan
organisasi.
Salah satu media yang dapat digunakan agar suatu organisasi
dapat berkolaborasi dengan baik adalah learning community atau
community of practice. Kenapa perlu learning community? Learning
community dapat menciptakan kolaborasi dengan baik. Karena dengan
adanya komunitas komunitas tertentu akan menghasilkan kohesivitas
kelompok, perasaan we-feeling grup dalam kelompok tersebut yang
akan menghilangkan ego sektoral, menghilangkan prinsip-prinsip
individual dalam kelompok. Learning community akan melakukan share
and care dalam kelompok, saling berbagi pengetahuan, berbagai
keahlian dan keterampilan, sehingga terjadi suatu visi dan misi yang
sama dalam kelompok tersebut dalam mencapai tujuan organisasi.
Adanya kompetensi yang sama dalam kelompok tersebut, adanya
kepentingan yang sama dalam kelompok. Kepentingan yang sama dan
kompetensi yang sama, misi yang sama inilah sebagai akar dari adanya
kolaborasi dalam sebuah organisasi.
54 | WIDYAISWARA YANG BAHAGIA
INTROSPEKSI DIRI SEBAGAI ALAT
‚Jangan bertanya siapa yang menasihati kamu,
tetapi introspeksi dirilah kenapa mereka
menasihati kamu.‛
Permasalahan dalam kehidupan selalu bergulir dari masalah yang
satu kepada masalah yang lainnya. Semakin cepat kita mampu
menyelesaikan suatu permasalahan, tekanan dan hambatan, maka
semakin cepat kembali kita menemukan tekanan berikutnya. Tidak
semua permasalahan yang dialami oleh seseorang dapat menjadi suatu
pembelajaran bagi diri kita. Kadang kita melihat permasalahan itu
sebagai suatu proses perjuangan untuk menang dan kalah. Meskipun
kita menang dalam menghadapi tekanan, dalam menghadapi masalah,
memberikan kebahagiaan yang sesaat saja. Tetapi ketika kita bisa
mendapatkan makna esensi dari sebuah masalah dan tekanan dalam
kehidupan, justru dapat memberikan kebahagiaan yang tiada tara.
Sebetulnya apa sih kata kunci dalam memahami sebuah masalah?
Dalam menghadapi sebuah tantangan baik dalam lingkungan kerja
maupun lingkungan lainnya, kata kuncinya adalah introspeksi diri.
Introspeksi diri secara umum orang mengatakan adalah kemampuan kita
untuk memahami, melihat kembali, melihat ke dalam diri kita,
mengevaluasi diri kita. Saya mengevaluasi saya sendiri dengan standar
yang ada, dengan nilai-nilai yang berlaku, dengan etika yang dipahami
oleh orang lain secara universal. Orang tidak akan mampu melakukan
introspeksi diri jika orang tersebut tidak memiliki nilai-nilai dasar, tidak
memiliki standar, norma yang berlaku yang dijunjung oleh semua orang.
Bagaimana mungkin seseorang bisa mengevaluasi diri, sementara dia
tidak memiliki indikator atau kriteria terhadap penilaian sikap dan
perilaku. Oleh sebab itu Widyaiswara harus memiliki nilai, norma, etika
dan moral bahkan secara spiritual menjadi suatu kepribadian, agar
tekanan-tekanan yang didapatkan, agar masalah-masalah yang kita
alami menjadi bermakna secara esensi dalam kemajuan diri kita sendiri.
Banyak pendekatan yang bisa kita gunakan dalam melakukan
proses introspeksi diri. Paling tidak kita harus mampu sih melakukan
evaluasi dengan menggunakan pendekatan 5W 1H. Apa sih tujuan kita
melakukan sesuatu?, bagaimana cara kita melakukannya? Siapa saja
WIDYAISWARA YANG BAHAGIA | 55
yang perlu kita libatkan? Dengan siapa saja kita berkerja sama dan
berkolaborasi? Kapan kita saatnya menyampaiakn ide dan gagasan?, dan
seterusnya. Pertanyaan-pertanyaann tersebut merupakan titik kunci
untuk melakukan introspeksi diri bagi kita Widyaiswara. Kenapa
demikian? Agar dalam tujuan kita melakukan sesuatu berorientasi
kepada hal-hal yang sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku. Tentunya
bagi umat yang beragama harus berorientasi kepada ibadah secara
umum. Sehingga ketika kita melaksanakan sebuah kegiatan,
mendapatkan tekanan dan hambatan tidak akan mengalami kekecewaan
dalam mencapai tujuan oragnisasi tersebut.
Introspeksi diri juga akan memberikan kekuatan kepada diri kita.
Dengan introspeksi diri akan tumbuh bibit-bibit soft skill dalam diri kita,
seperti keuletan, kesungguh-sungguhan, kehati-hatian. Kepedulian,
kerjasama serta ketenangan. Semua itu menjadi di dasar keterampilan
hidup. Karena dengan karakter tersebut akan menjadi panutan bagi
setiap orang dan menjadi daya tarik bagi orang lain, yang tentunya kita
akan mudah mengarahkan, menggerakkan orang lain dalam mencapai
tujuan organisasi. Di samping itu membuat diri kita semakin bermakna
bagi orang lain. Hal tersebut merupakan sumber kebahagiaan.
Kebahagiaan adalah sumber kekuatan yang berasal dari dalam diri kita
sendiri.
56 | WIDYAISWARA YANG BAHAGIA
KECEKATAN KEPEMIMPINAN
SANGAT DIPERLUKAN
Hendaklah berjasa, Kepada yang sebangsa. Hendaklah jadi kepala,
Buang perangai yang cela. Hendaklah memegang amanat, Buanglah
khianat. Hendak marah, Dahulukan hujjah. Hendak dimalui,
Jangan memalui. Hendak ramai, Murahkan perangai.
Raja Ali Haji
Dalam menghadapi tekanan dan berbagai permasalahan. Menjadi
seorang Widyaiswara tentunya sih juga berperan sebagai pemimpin. Apa
itu pemimpin. Banyak konsep dari berbagai literature tentang
kepemimpinan. Namun penulis menggambarkan kepemimpinan sebagai
suatu gaya atau strategi dalam menggerakan orang lain dengan
menggunakan seluruh potensi yang dimilikinya untuk mencapai tujuan
secara bersama atau tujuan yang telah ditentukan secara bersama. Kita
mengenal berbagai pendekatan kepemimpinan yang ada. Mulai dari
gaya kepemimpinan yang otoriter dan kepemimpinan yang demoktratis,
leadership adaptif dan agile leadership, kepemimpinan militeristik dan
kepemimpinan lainnya. Dimana berbagai pendekatan tersebut tidaklah
bisa kita katakan bahwa pendekatan yang satu lebih baik dari yang
lainnya. Kenapa demikian? Karena setiap gaya dan pendekatan
kerpemimpinan memilki ruang dan waktu, memiliki konteks dan konsep
masing-masing.
Diera wabah covid 19 yang melanda negeri ini, tentunya
berpengaruh besar terhadap berbagai aspek kehidupan, terutama aspek
kesehatan, ekonomi termasuk dunia pendidikan. Dalam melaksanakan
pendidikan, pengajaran dan pelatihan serta evaluasi dan pengembangan
tentunya sih juga tidak terlepas dari perkembangan revolusi industri
yang sangat pesat ini. Kondisi covid 19 dan perkembangan teknologi
dan digitalisasi tentunya menjadi tantangan yang harus dihadapi
Widyaiswara sebagai praktisi pelatihan dalam pengembangan sumber
daya manusia. Menghadapi tantangan inilah Widyaiswara harus mampu
memiliki kepemimpinan yang cekatan, yang kreatif dan inovatif dalam
memberikan solusi atas berbagai permasalahan yang dihadapi.
Widyaiswara berkolaborasi, menciptakan jejaring kerja dan
WIDYAISWARA YANG BAHAGIA | 57
memanfaatkan teknologi yang tersedia dalam mendukung pelaksanaan
tugas dan fungsinya. Memberdayakan semua sumber daya yang tersedia
dan digital minded sesuai dengan perkembangan teknologi informasi.
Agile leadership menjadi keharusan dalam menopang pencapaian tujuan
pemberlajaran yang dilakukan Widyaiswara.
58 | WIDYAISWARA YANG BAHAGIA
BERPIKIR POSITIF
‚Anda harus melakukan sesuatu yang
anda pikir tak dapat melaklukannya’‛
Eleanor Roosevelt
Para ahli mengatakan ‚Anda adalah sebagaimana yang anda
pikirkan‛. Bahwa pikiran kita sangat mempengaruhi kehidupan kita
sendiri. Seperti apa cara berpikir kita, bagaimana kita menyikapi suatu
persoalan itu sangat menentukan pada keputusan yang kita ambil.
Seluruh kondisi kejiwaan kita menentukan terhadap apa yang kita
lakukan. Jika di dalam berpikir kita selalu negatif tentunya juga apa kita
lakukan selalu membuahkan hal-hal yang negatif dan sebaliknya jika kita
selalu berpikir positif tentunya seuluh hal yang kita lakukan akan
menghasilkan hal-hal yang positif. Maka dari itu ketika kita berpikir
tentang sesuatu hal, kita harus memahami bahwa apapun yang terjadi
pada diri kita selalu memiliki makna esensi yang positif. Kita harus selalu
bisa mencari alas an-alasan yang rasional yang sangat positif di balik
satu kejadian tertentu. Kenapa demikian? karena apa yang kita anggap
baik belum tentu baik menurut Yang Mahakuasa dan sebaliknya apa
yang kita anggap tidak baik belum tentu tidak baik menurut yang Maha
Kuasa. Tetapi segala sesuatu terjadi selalu memiliki makna yang sangat
positif. Maka dari itu kita sih harus bisa mencari makna positif dari
sesuatu tersebut. Disinilah dibutuhkannya suatu proses berpikir positif.
Jika kita percaya pada takdir maka dikatakan bahwa Allah itu
bersama bersama waksangka umatnya. Artinya apapun yang kita
pikirkan, baik berpikir positif maupun negatif akan memberikan
kemudahan kemudahan dalam mencapai hal tersebut. Sehingga ketika
kita berpikir negatif juga akan memberikan kemudahan pada hal-hal
yang negatif itu, namun sebaliknya jika kita berpikir positif, Allah akan
merestui dan memberikan kemudahan hal-hal yang akan dilakukan
tersebut. Berpikir positif juga akan memberikan ketenangan kepada
kita, memberikan kenyamanan dalam beraktivitas. Kenapa? karena akan
menghilangkan rasa gelisah, kegalauan dan berburuk sangka. Karena
sikap tersebut menjadi impuls-impuls atau dorongan-dorongan dalam
diri kita yang membuat kondisi psikis kita kurang baik dalam
menghadapi kehidupan.
WIDYAISWARA YANG BAHAGIA | 59
Tentunya ketika kita mendapatkan tekanan dan tantangan kita
harus berpikir berkali-kali sebelum mengambil keputusan. Bisa saja
dibalik sebuat tentangan terdapat beberapa hal yang positif atau kita
tidak tahu bahwa setelah kita melakukan hal-hal tersebut di balik itu ada
hal-hal yang kurang baik bagi diri kita. Disinilah kita harus berpikir positif
dan tawakal bahwa manusia hanya bisa berdoa, berikhtiar dan berusaha,
tetapi ketika mendapatkan hambatan yang sangat berat mendapatkan
tantangan yang sangat berat dan mengancam terhadap kegagalan yang
kita lakukan mana tahu dibalik itu ada hal-hal yang positif. Maka dari itu
kita harus berpikir positif terhadap tantangan dan tekanan yang kita
hadapi dalam kehidupan ini.
60 | WIDYAISWARA YANG BAHAGIA
BAGIAN – 5
PENCERAHAN JIWA
DENGAN AMAL JARIYAH
WIDYAISWARA YANG BAHAGIA | 61
INOVASI SEBAGAI AKTUALISASI DIRI
Sekali anda mengerjakan sesuatu,
jangan takut gagal dan jangan tinggalkan itu.
Orang-orang yang bekerja dengan ketulusan hati
adalah mereka yang paling bahagia.‛
Chanakya
Abraham Maslow mengatakan bahwa salah satu kebutuhan yang
tertinggi setiap orang adalah aktualisasi diri. Setiap manusia memiliki
kebutuhan untuk menunjukkan jati dirinya kepada orang lain dan
bahkan kepada sang pencipta. Aktualisasi ini dilakukan setiap orang
dengan berbagai cara. Aktualisasi ini erat kaitannya dengan need
echievement atau kebutuhan untuk lebih maju, kebutuhan untuk
berkembang. Kebutuhan ini yang membuat setiap orang tidak akan puas
pada suatu kondisi tertentu. Membuat kita tidak nyaman pada zona
nyaman, dan bahkan manusia selalu dalam keadaan ketidakpastian.
Ketidakpastian ini yang mendorong manusia memiliki sifat
keingintahuan yang tinggi, selalu mencari hal yang baru, memperbaiki
diri untuk lebih baik, dan bahkan menmdorong untuk berkarya pada
bidang tertentu.
Apa sih yang dikatakan inovasi? Inovasi dapat diartikan sebagai
sebuah ide atau gagasan atas kemampuan yang dihasilkan karema
proses berpikir kreatif dari seseorang yang dapat implementasikan atau
diaplikasikan yang memiliki nilai tambah atau manfaat kearah yang lebih
baik. Kapan kita melahirkan sebuah inovasi? Inovasi dapat bertujuan
untuk mengatasi berbagai permasalahan yang kita alami atau yang
dihadapi organisasi kita. Ketika kita mencapai tujuan organisasi,
tentunya sih kita harus mampi melakukan manajemen dengan baik atas
sumber daya yang dimiliki organisasi. Dalam mengelola pencapaian
kinerja organisasi kita dihadapkan pada hambatan dan tantangan yang
mempengaruhi terhadap pencapaian tujuan. Disinilah kita harus mampu
memberikan solusi dengan baik. Solusi tersebut dapat dicapai dengan
cara berpikir kreatif untuk menemukan ide dan gagasan.
Inovasi tidak hanya bertujuan untuk mengatasi permasalahan yang
dihadapi organisasi. Inovasi juga dapat dilakukan dalam
mengembangkan kualitas dan mutu pelayanan publik. Sebagaimana kita
62 | WIDYAISWARA YANG BAHAGIA
ketahui bahwqa pelayanan publik menurut Undang-Undang No. 25
Tahun 2009 bahwa pelayanan publik berorientasi pada kepuasan
pelanggan atau pengguna pelayanan. Kepuasan pelanggan terhadap
pe;layanan publik menjadi kunci utama dalam mencapai tujuan
organisasi. Meskipun kita sudah memiliki ISO dan SNI, namun tentunya
untuk mengembangkan mutu pelayanan publik setiap organisasi
pemerintah diperlukan inovasi yang tiada henti, yang selalu
berkesinambungan.
Disisi Widyaiswara inovasi merupakan kepastian. Orang selalu
mengatakan tidak ada yang tidak berubah didunia ini kecuali perubahan
itu sendiri. Sebagai seorang fasilitator sistem kediklatan, keberadaan
Widyaiswara ditandai dengan kemampouan menginovasi sistem
kediklatan. Inovasi pada sistem perancangan, pelaksanaan dan evaluasi.
Widyaiswara sebagai konsultan tentunya menjadi sosok inovator sistem
kediklatan. Sehingga inovasi-inovasi yang dilahirkan merupakan bentuk
aktualisasi diri sang Widyaiswara.
WIDYAISWARA YANG BAHAGIA | 63
KEBAHAGIAAN YANG MENJANJIKAN
‚Kebahagiaan adalah ketika apa yang kamu pikirkan, apa yang
kamu katakan dan apa yang kamu lakukan selaras.‛
Mahatma Gandhi
Pada awal buku ini, penulis sudah menyampaikan segala sesuatu
selalu diawali dengan niat. Niat menjadi dasar tujuan yang akan kita
capai. Siapa yang menabur angin akan menuai badai. Persoalannya
adalah setiap kita memiliki niat dan tujuan yang berbeda-beda. Seperti
apasih hubungan niat seseorang terhadap tujuan organisasi? Ketika
niatnya untuk kepentingan pribadi rendah dan tekanan tujuan organisasi
juga rendah maka tentunya motivasi kerjanya rendah dan pasif. Karena
kebahagiaan secara pribadi maupun kebahagiaan secara bersama tidak
tercapai dengan baik. Ketika niat kepentingan pribadinya rendah, namun
tujuan oragnisasi lebih kuat. Maka menjadi tipe gila kerja yang
berkepribadian sangat sederhana. Seseorang yang sangat aktif dan
betah atau stay at office. Namun jika niat kepentingan pribadinya lebih
tinggi sementara pencapaian tujuan organisasinya rendah, tentunya
kebahagiaan akan muncul dengan bersifat untung-rugi. Namun
kebahagiaan secara hakikat akan didapatkan apabila pencapaian tujuan
organisasi sangat tinggi yang diikuti dengan penghargaan jenjang karier
secara pribadi berjalan sesuai yang diharapkan. Mengapa demikian?
Karena segala sesuatu yang kita dapatkan akan mendapatkan
keberkahan yang berlimpah.
Bukankah sebetulnya hakikat dari kehidupan ini mencari
kebahagiaan baik kebahagiaan didunia maupun kebahagiaan diakhirat.
Namun untuk mendapatkan bagian tersebut tentunya dengan cara yang
berbeda-beda. Ada yang berusaha mencari kebahagiaan dengan hidup
sebagai petani, hidup sebagai pedagang, hidup sebagai buruh, hidup
sebagai pengusahadan bahkan hidup sebagai seorang aparatur. Namun
semua itu jika dilakukan dengan cara yang benar antara kepentingan
pribadi dengan kepentingan organisasi. Selaras antara dunia dan akhirat.
Jika kita lihat dari konsep kerja sebagai sebuah ibadah, tentunya semua
yang kita lakukan memiliki nilai ibadah dari yang maha kuasa. Kenapa
demikian? karena hidup didunia ini merupakan sementara untuk
mencapai kebahagiaan di akhirat.
64 | WIDYAISWARA YANG BAHAGIA
Menjadi seorang wirausaha merupakan salah satu cara atau salah
satu pilihan untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Kenapa
sih demikian? karena Widyaiswara merupakan seorang aparatur yang
dapat memberikan ilmu yang bermanfaat kepada orang lain bahkan
sebagai inovator dan sebagai pencerahan dalam kegelapan. Bukankah
orang yang berilmu ditinggikan seranting dimajukan selangkah daripada
yang lain. Bahkan yang maha kuasa memberikan penghargaan yang
setinggi-tingginya kepada orang yang memiliki ilmu dan orang-orang
yang mencari ilmu sebagai insan pembelajar. Di sinilah kita sebagai
Widyaiswara sangat menjanjikan kebahagiaan bagi yang melaksanakan
tugas dan funsinya dengan baik dan benar.
WIDYAISWARA YANG BAHAGIA | 65
HIDUP BERMAKNA BAGI YANG LAIN
‚Sebaik-baiknya manusia adalah
bermanfaat bagi yang lainnya.‛
Dalam agama dikatakan, kenapa manusia dilahirkan kedunia ini?
Karena menjadi kholifah, Rahmatan lilalamin, menjadi rahmat bagi alam
semesta. Bagaimana mungkin kita menjadi rahmatan lilalamin kalau kita
sendiri tidak mendapat rahmat dan keberkahan. Bagaimana sih untuk
mendapatkan rahmat dan keberkahan? kita tahu bahwa ayat yang
pertama turun kepada rasul kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi
Wasallam adalah Iqra. Ayat ini menandakan bahwa seseorang bisa
mendapatkan rahmat dan keberkahan, jika dia sudah memiliki
kemampuan untuk menentukan mana yang baik mana yang benar,
kemampuan untuk mencari solusi atas permasalahan-permasalahan
kehidupan, kemampuan untuk mentransfer knowledge-kan ilmu kepada
orang lain, kemampuan untuk membawa orang yang hidup kepada yang
lebih baik, dari kegelapan ke arah terang benderang.
Sebagai seorang Widyaiswara kita tidak akan bisa melakukan
apapun terhadap peserta pelatihan jika kita sebagai pribadi belum
mampu memperlakukan diri kita dengan baik. oleh sebab itu agar kita
dapat memberikan contoh keteladanan yang baik kepada peserta
pelatihan, memberikan pencerahan kepada orang lain, kita sendiri harus
tercerahkan terlebih dahulu. Agama menyatakan bahwa rubahlah dirimu
dulu, baru bisa merubah keluargamu, bangunlah keluargamu terlebih
dahulu, baru bisa membangun orang lain. Ini menandakan bahwa secara
pribadi kita harus bisa melihat diri kita sendiri, bermanfaat bagi diri kita
sendiri. Bagaimana mungkin kita bisa bermanfaat bagi orang lain, bagi
diri kita sendiri saja kita belum bisa bermanfaat dengan baik. Belum bisa
mengarahkan diri kita untuk yang lebih baik, mana yang benar dan
mana yang salah, mana yang bisa kita lakukan yang tidak bisa kita
lakukan. Semakin keras kita meperlakukan diri kita sendiri maka semakin
lembut kehidupan memperlakukan kita. Sebaliknya semakin lembut kita
memperlakukan diri sedniri maka semakin keras kehidupan
memperlakukan diri kita. Ini lah yang menjadi syarat kunci agar kita
Widyaiswara bermanfaat bagi yang lainnya.
66 | WIDYAISWARA YANG BAHAGIA
Widyaiswara bekerja dalam sebuah sistem kediklatan tidak hanya
bekerja secara personal. Widyaiswara harus bisa bekerja sama dengan
yang lain, harus memiliki kepedulian kepada yang lainnya. Kenapa
demikian? karena setiap Widyaiswara memiliki kelemahan dan kelebihan
masing-masing. Sehingga diperlukan saling melengkapi antara satu
dengan yang lainnya. Ketika kita memiliki sikap share and care sesama
Widyaisswara, ketika itulah kita dianggap sebagai manusia yang yang
bermanfaat bagi yang lainnya. Maka dikatakan sebaik-baiknya manusia
adalah ketika bermanfaat bagi yang lainnya. Hal ini juga yang akan
mendukung terhadap kelancaran pencapaian tujuan organisasi. Akan
menimbulkan kekuatan bagi orang lain, bagi seluruh sumber daya yang
ada dalam mencapai tujuan organisasinya dengan baik. Begitu besarnya
dampak dari kebermaknaan hidup kita bagi orang lain.
Kita bisa hidup bermakna bagi orang lain tentu kita harus memiliki
kompetensi, harus memiliki sikap integritas. Integritas dapat diartikan
sebagai kesatuan tindakan,sikap perilaku dengan ucapan dan pikiran.
Kita harus bisa menghasilkan berbagai inovasi untuk mempermudah dan
memperlancar setiap kegiatan dalam sebuah organisasi. Disinilah
dibutuhkan kecekatan seorang kepemimpinan Widyaswara, kreativitas
widyaiswara. Tentunya semua itu diawali dengan kebiasaan membaca,
belajar dalam rangka mengembangkan kemampuan diri.
WIDYAISWARA YANG BAHAGIA | 67
INTELEKTUALITAS
DAN KERENDAHAN HATI
"Jangan sedih sebab kekurangan yang kamu miliki.
Jangan sombong sebab kelebihan yang kamu punya.
Tetaplah rendah hati dan kerjakan sesuatu yang berarti."
Dalam hadits Nabi mengatakan bahwa ‚tuntutlah ilmu meskipun
sampai ke negeri Cina‛ dan ‚tuntutlah ilmu sampai ke liang lahat‛. Hal ini
membuktikan bahwa kita sebagai Widyaiswara tentunya harus selalu
mengembangkan kapasitas terutama aspek intelektual pada aspek
intelektual agar kita mampu melaksanakan tugas dan fungsi sebagai
Widyaiswara dengan baik dan benar. Kenapa demikian sih? Kenapa
orang harus selalu meningkatkan kapasitas pada aspek intelektual.
Intelektualitas itu merupakan inside atau wawasan yang dimiliki
oleh setiap orang yang mempermudah orang itu untuk menentukan
berbagai alternatif dalam kehidupan antara salah dan benar.
Menggunakan akal pikiran untuk mengambil keputusan. Orang
mengatakan ‚alam terkembang jadi guru‛ mengisyaratkan bahwa aspek
intelektual itu dapat dilakukan melalui dua cara yaitu ‚Iqra’ Qur’aniah‛
dan ‚Iqra’ Kauniah‛. Kita tidak hanya mengembangkan intelektualitas
melalui membaca buku literature-literatur yang ada tetapi kita sendiri
juga harus mampu menganalisis alam semesta sehingga meningkatkan
pemahaman kita dalam kehidupan ini.
Intelektualitas juga dapat dibentuk melalui experient atau
pengalaman dalam kehidupan. Semakin banyak pengalaman yang kita
dapatkan dalam hidup tentu semakin memberikan wawasan kepada kita
dalam aspek intelektualitas. Baik itu pengalaman yang bersifat positif
maupun pengalaman yang bersifat negative. Kenapa demikian? Orang
tidak akan tahu bagaimana cara bangkit dari tertelungkup kalau dia
tidak pernah jatuh tidak pernah tertelungkup. Begitu pentingnya
pengalaman-pengalaman hidup untuk membentuk wawasan dalam
kehidupan kita tentunya. Semakin banyak pengalaman semakin tinggi
wawasannya. Pengalaman tentunya dapat di dimiliki melalui panca indra,
apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, apa yang kita rasakan dan apa
yang kita alami dalam kehidupan. Semua itu menjadi alat untuk
68 | WIDYAISWARA YANG BAHAGIA
mendapatkan pengalaman, yang pada akhirnya akan membentuk aspek
intelektualitas manusia.
Bagaimana aspek intelektual terbentuk pada seseorang? Aspek
intelektual dibentuk dengan cara atau ketika kita menganalisa icon atau
simbol-simbol yang ada. Kita sebagai manusia tentu harus mampu
menganalisa symbol, gejala-gejala, fenomena-fenomena yang ada ada,
baik secara tekstual maupun secara kontekstual. Setiap fenomena,
setiap simbol memiliki makna, memiliki maksud tertentu. Semakin kita
dapat memahami makna setiap ikon, maka kita semakin mampu
menganalisis tentang sesuatu. Selanjutnya aspek intelektual itu sendiri
juga dibentuk oleh aspek verbal atau kosakata, bahasa yang kita
gunakan. Kita harus selalu menggunakan kosa kata secara positif,
berpikir positif ‚positif thinking‛ agar setiap ucapan yang kita keluarkan
dari mulut kita itu membentuk aspek intelektual dalam diri kita masing-
masing. Intelektualitas juga dibentuk oleh pengalaman dalam
kehidupan. Mulai semenjak kita lahir, bahkan dapat dikatakan
pengalaman yang kita alami mulai semenjak dalam kandungan sampai
saat ini, itu akan membentuk aspek intelektual.
Pepatah mengatakan kan ‚seperti padi semakin berisi semakin
merunduk‛. Pepatah ini memiliki nilai filosofi yang sangat tinggi, dimana
tentunya orang yang memiliki intelektualitas yang tinggi, maka semakin
memiliki kematangan secara psikologis. Rendah hati, bijaksana dalam
mengambil keputusan, mampu mengendalikan emosi dengan baik
sehingga terbebas dari sikap dan perilaku yang tidak baik. Maka
dikatakan kan iman tanpa ilmu akan sia-sia, meskipun ilmu tanpa iman
akan menjadi celaka. Begitu pentingnya aspek intelektual dalam
kehidupan kita widyaiswara agar kita memiliki sikap yang rendah hati
dalam menghadapi berbagai tantangan yang kita hadapi dalam
melaksanakan tugas dan fungsi kita.
WIDYAISWARA YANG BAHAGIA | 69
MENGUKIR DISENJA HARI
"Kalau usiamu tak mampu menyamai usia dunia,
maka menulislah. Menulis memperpanjang ada-mu di dunia
dan amalmu di akhirat kelak."
Helvy Tiana Rosa
Salah satu jabatan fungsional yang memiliki batas usia pensiun
yang sangat tinggi yaitu Widyaiswara, di mana Widyaiswara Ahli Utama
memiliki batas usia pensiun 65 tahun, sedikit dibawah guru besar
tentunya. Dengan kondisi seperti ini kalau kita melihat angka harapan
hidup di Indonesia, ini sudah dapat dikatakan usia di senja hari. Namun
demikian Widyaiswara tentunya masih diberi kesempatan untuk dapat
berkarya, mengabdi kepada Negara, melayani masyarakat, berpartisipasi
dalam mengembangkan sumber daya manusia dan semua itu memiliki
nilai yang tidak terhingga tentunya. Di usia yang dapat dikatakan senja
hari, kesempatan ini tidak semua orang mendapatkan, maka dari itu
Widyaiswara harus betul-betul memanfaatkan sisa waktu di ujung hari
untuk lebih bermakna ‚quality time‛ dalam kehidupan sebagai bekal
dalam perjalanan panjang panjang menuju tujuannya masing-masing.
Meskipun usia di senja hari, namun fakta membuktikan bahwa
seseorang menjadi pimpinan tertinggi, menjadi pemimpin puncak dalam
suatu perusahaan yang besar, tetap sukses secara optimal itu cenderung
rata-rata pada umur 60 tahun keatas. Dengan dua potensi ini dari
kesempatan dan kemampuan yang dimiliki Widyaiswara diharapkan
dapat berkiprah dengan baik di kancah pengembangan sumber daya
manusia. Agar negara kita memiliki aparatur yang handal, yang mampu
berkompetisi pada tataran global, birokrasi yang berkelas dunia. Semua
itu tergantung dari pada Widyaiswaranya. Widyaiswara dapat berkarya
dengan mengukitr ilmu melalui tulisan-tulisan, menyusun buku,
melakukan penelitian dengan mempublish melalui jurnal baik nasional
maupun internasional, mendorong peserta pelatihan untuk dapat
berinovasi dalam mengembangkan pelayanan publik dan sebagai
konsultan pemerintah baik secara internal maupun eksternal, coaching
internal dan coaching external di lingkup lembaganya masing-masing
70 | WIDYAISWARA YANG BAHAGIA
maupun pada berbagai organisasi perangkat daerah di lingkungan
pemerintah daerahnya.
Mengukir Karya tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu,
kapanpun dan dimanapun kita dapat membuktikan bahwa diri kita
mampu memiliki kontribusi dalam kehidupan ini. Terutama tentunya
dalam konteks sistem kediklatan di lembaganya masing-masing. Hal
inilah yang tentunya menjadi kebahagiaan yang sangat tinggi sebagai
amal jariyah yang didapatkan Widyaswara selama hidupnya.
WIDYAISWARA YANG BAHAGIA | 71
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Alfan.P, 2014, Jarrib! Dahsyatkan Diri Dengan Kekuatan Mencoba, Alex
Media Computindo.
Andini. NP, 2019, Harmonisasi dalam proses pembelajaran di era milenial
(Melek IT vs Mengajar Dengan Hati), Indonesian Journal of
Education and Learning. Vol. 3 No.1.
Asy’ari, KH.H, 2013, Pendidikan Karakter Ala Pesantren, Malang; Litera
Ulul Albab.
Branson. R, 2006, Prinsip Sukses dari CEO Perusahaan Raksasa Virgin
Group, London; Virgin Group
Carnegie. D, 1989, How to Enjoy Your Life and Your Job, Jakarta; PT
Gramedia Pustaka Utama.
Htapea. P, Thoha. N, 2008, Kompetensi Plus Teori, Desain, Kasus dan
Penerapan Untuk HR dan Organisasi Yang Dinamis, Jakarta; PT
Gramedia Pustaka Utama.
Karsidi, 2018, Ibadah dan Bisnis di BPR Syariah, Jakarta; PT Gramedia.
Khamis. M, 2011, Jangan Putus Asa Dari Rahmat Allah, Jakarta; Republika
Penerbit.
Rosidi. A, 2017. Niat Menurut Hadis dan Implikasinya Terhadap Proses
Pembelajaran. Jurnal Inspirasi-Vol.1, No.1, Januari-Juni 2017ISSN
2548-5717
Sumadi. I.S, 2005, Melawan Stigma Melalui Pendidikan Alternatif, Jakarta;
PT Grasindo
Sutarmi, 2019, Mutiara Kehidupan, Surakarta; CV Kekata Group.
Syukur. Y, Nahar. M, 2014, Kekuatan Memaafkan, Jakarta; PT Bhuana
Ilmu Populer.
72 | WIDYAISWARA YANG BAHAGIA
TENTANG PENULIS
Dr. Suparman, A.Ks., S.Pd.I., M.Si dengan
jabatan Widyaiswara Ahli Madya di Badan
Pengambangan Sumber Daya Manusia
Provinsi Riau. Sejak Tahun 2013, selama
menjadi Fungsional Widyaiaswara meniti
karir mulai dari Widyaiswara Ahli Pertama,
Widyaiswara Ahli Muda dan saat ini
Widyaiswara Ahli Madya. Lulusan STKS
Bandung Jurusan Pekerja Sosial Tahun
1996, Strata Satu (S1) Sekolah Tinggi
Agama Islam (STAI) Al-Azhar Pekanbaru Tahun 2004, Pasca Sarjana (S2)
Urban Studies Tahun 2010 dan Program Doktoral pada Ilmu Lingkungan
Universitas Riau (UNRI) tahun 2019.
Dosen tamu pada berbagai perguruan tinggi seperti UNRI, UIN,
dan lain-lain. Saat ini juga menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang
Akademik pada STAI A-Azhar Pekanbaru. Pengangkatan pertama
menjadi CPNS pada Dinas Sosial Provinsi Riau. Pernah menjadi guru
pada SMK Tunas Bakti mengampu Mata Pelajaran Pekerja Sosial dan
SPMA Pertanian mengampu Mata Pelajaran PPKN. Menulis beberapa
buku antara lain Menata Harapan Menuju Kemandirian, Corpiorate
Social Responsibility dan lainnya. Memilki 2 (dua) putri dari 1 (dsatu)
istri.
WIDYAISWARA YANG BAHAGIA | 73