The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kumpulan cerita misteri berjudul Kereta Tebu Berhantu, terdiri dari 4 kisah misteri yang seru, loh! Semua cerita itu berlatar belakang tempat yang ada betulan.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by nakeisha485, 2020-10-11 05:26:21

Kereta Tebu Berhantu

Kumpulan cerita misteri berjudul Kereta Tebu Berhantu, terdiri dari 4 kisah misteri yang seru, loh! Semua cerita itu berlatar belakang tempat yang ada betulan.

Keywords: #ebook #cerpen #bobo #anak

KOMPAS GRAMEDIA

Editor in Chief:
Kussusani Prihatmoko
Managing Editor:
Vanda Parengkuan
Editorial Staff:
Aan Kurniawati Madrus
Visual Editor:
Sigit Purnomo
Secretary:
Ignatia Nandari, Anastasia Ayu P.
Documentation Adm. Assistant:
E. Tri Pristiadi, Irfan Sopian
Penulis:
Dwi Pujiastuti
Layout:
Troeno Danardana, Hariyanto
Ilustrator:
Hanif Muzakki
Business Manager:
Ign. Gatot Widhiyanto, Harianus l. Zebua
Promotion Manager:
FX Budi Marwanto
Circulation & Distribution:
Budiman Pangaribuan
Advertising:
Monika Rina Wijaya, Ni Luh Putu Alit Sari, Ricken Rora
Production Director:
Elizabeth Manalu

Kumpulan
Cerpen Bobo

83

Kereta Tebu
Berhantu

Penerbit:
PT Penerbitan Sarana Bobo
(021) 5330150, 5330170 Pesawat 33201 ,

Fax. (021) 5320627
Gedung Gramedia Majalah, It. 4

Jl. Panjang 8A
Jakarta 11530
KCB Juli 2013

Unit Layanan Jual
Gedung Kompas Gramedia Unit 6 It. 1

JI Palmerah Selatan no. 22-28
Jakarta 10270
021-5306263

Fax. 021 53699096
SMS 0811908680

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang.
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian
atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis Penerbit.

Daftar Isi

Anouk van Lawang Sewu ......................................................... 1
Dihantui Kendi Maling .............................................................. 5
Dikejar Jepit Rambut Raksasa .................................................. 9
Kereta Tebu Berhantu ............................................................ 13

Pengantar

Ide membuat cerita, bisa datang darimana saja. Bisa berasal dari
khayalan sendiri, dari bahan bacaan, bisa juga dari tempat-tempat wisata
yang kita kunjungi.

Kumpulan cerita misteri berjudul Naik Kereta Tebu Berhantu ini,
terdiri dari 16 kisah misteri yang seru, 10! Kalau diperhatikan, semua
cerita itu berlatar belakang tempat yang ada betulan. Cerita Anouk van
Lawang Sewu, berlokasi di Lawang Sewu, Semarang. Cerita Naik Kereta
Tebu berhantu, berlokasi di ladang tebu Sondokoro, Karanganyar. Dan
Kisah Orang Bunian, berlokasi di Kota Sambas, Kalimantan Selatan.

Ayo, segera baca cerita-cerita misteriyang seru ini. Tahukah kamu,
lokasi-lokasi cerita itu berada di kota mana saja? Ingin pintar menulis
cerita misteri seperti Kak Pradikha Bestari? Cobalah membuat cerita
misteri, dengan lokasi tempat yang ada betulan. Selamat membaca dan
mencoba, yaaa...

Anouk van Lawang Sewu

Kanti berdiri di depan pintu bangunan bersejarah, Lawang Sewu di

Semarang. Ia menoleh ke arah Om Sano yang asyik memotret di halaman
gedung. Kanti sudah taksabar ingin masuk, tetapi Om Sano malah sibuk sendiri.
Hmmm. .. Om Sano pasti tidak keberatan kalau dia melihat-lihat sebentar ke
dalam gedung.

Kanti melangkahkan kakinya, masuk ke ruang depan. Waaahh... ada
tangga megah

dengan kaca patri berwarna-warni yang indah sekali. Kanti berjalan ke arah
tangga itu. Namun, langkahnya lalu terhenti dan ia menoleh ke arah pintu. Kalau
dia masuk terlalu jauh sendirian, 0m Sano pasti khawatir.

1

"Bagus sekali, ya, jendela itu," sapa suatu suara di belakangnya. Kanti
menoleh. Seorang gadis kecil sebayanya yang menyapa. Gadis itu bermata biru
dan berambut pirang ikal.

"Anouk," ucapnya sambil mengulurkan tangan. Kanti menyalaminya
dengan perasaan bingung. Apa maksudnya Anouk itu?

"Anouk itu namaku," sahut gadis itu lagi seakan bisa membaca pikiran
Kanti, "Banyak orang yang tidak tahu nama Anouk, padahal di tempat asalku,
Belanda, nama itu terkenal, 10." lanjutnya lagi. Bahasa Indonesia Anouk lancer
sekali.

"Namamu siapa?" tanya Anouk dengan ramah. Kanti menyebutkan
namanya. Lalu, Anouk mengajaknya berkeliling Lawang Sewu. Serta merta, Kanti
mengiyakannya.

Ternyata, Anouk pintar sekali. Dia tahu banyak soal Lawang Sewu.
Katanya dia sering mengunjungi Lawang Sewu karena ia tinggal di dekat situ.
Tidak heran juga, sih, Lawang Sewu, kan, gedung bergaya Belanda, Anouk pasti
serasa
di negerinya sendiri di situ. Demikian pikir Kanti sambil menyimak baik-baik
penjelasan Anouk.

Tak terasa Anouk membawa Kanti jauh menyusuri bangunan depan
Lawang Sewu yang sudah direnovasi. Akhirnya, mereka sampai ke bangunan
belakang yang belum direnovasi.

Lorong-lorong beratap tinggi yang gelap dengan dinding bercat suram dan
retak-retak tiba-tiba mengingatkan Kanti akan cerita-cerita hantu di Lawang
Sewu. Kanti mulai merasa takut.

Berdua mereka mulai melangkah masuk ke dalam gedung suram itu.
Namun, ajaib! Tiba-tiba lorong panjang mengerikan itu menjadi terang oleh
lampu-lampu cantik di sepanjang lorong. Lantainya dilapisi karpet merah,
lukisan-lukisan berbingkai mewah muncul menghiasi dinding yang tak lagi retak
kekuningan. Kanti menatap ke sekelilingnya dengan bingung.

Anouk membuka pintu pertama di koridor yang kini bersih dan indah itu.
Suatu pesta dansa sedang berlangsung di sana. Ada meja penuh makanan-
makanan enak di sudut ruangan. Anouk menarik tangan Kanti untuk bergabung
dalam keriaan itu. Anouk mengenalkan Kanti ke beberapa anak Belanda di pesta
itu. Anak-anak itu ramah dan dengan segera Kanti merasa betah dan melupakan
kebingungannya.

Tiba-tiba 0m Sano masuk ke dalam ruang pesta itu sambil memanggil-
manggil namanya."0m Sano," jawab Kanti sambil berjalan menyongsongnya.

2

Namun, 0m Sano malah meninggalkan ruangan itu dan memanggil-
manggil namanya di sepanjang koridor. Kanti beranjak untuk mengejarnya,
tetapi Anouk menahan Kanti. Tiba-tiba

ruangan dansa mewah itu berubah kembali menjadi aula kosong berdebu
dengan dinding dan lantai yang kusam. Kanti mulai merasa takut, genggaman
tangan Anouk mendadak jadi keras dan dingin.

"Di sini saja, Kanti. Kita bisa bermain bersama-sama di sini, setiap hari," pinta
Anouk.
"Ya, di sini saja, Kanti," ucap anak-anak lain yang tadi bermain bersamanya.
"Tetapi 0m Sano... " bantah Kanti keras sambil berusaha melepaskan tangan
Anouk, tetapi sia-sia saja.

3

Cengkraman Anouk semakin kuat, "Kamu sendiri, kan, yang memisahkan
diri dari 0m Sano. 0m Sano tidak mempedulikanmu," ujarnya. Anak-anak yang
lain mulai merapat mengelilingi Kanti. Kanti takut sekali. Mata-mata mereka
begitu dingin dan kosong.

"Kamu tahu 0m Sano akan khawatir kalau kamu berkeliaran sendirian,
tetapi kamu tetap melakukannya, kan?" tambah Anouk lagi.

"Kanti! Kanti! Kanti!" suara panggilan 0m Sano bergema di seluruh
Lawang Sewu. Suaranya terdengar sangat cemas. Kanti mulai menangis. 0m
Sano baik dan pintar memotret. Hari pergi jalan-jalan dengan 0m Sano ini sudah
lama ia tunggu. Tapi sekarang dia malah tertahan di sini dan 0m Sano sangat
mencemaskannya.

Anouk tersenyum. Genggamannya melonggar. "Pergilah, susul 0m Sano.
Tapi janji, ya, jangan berkeliaran sendiri di tempat wisata, meninggalkan orang
dewasa yang menemanimu," ucapnya. Anouk dan teman-temannya mulai
memudar. Sinar matahari menembus masuk dari jendela Lawang Sewu. Kanti
mulai merasa hangat dan tenang.

"Kanti!" panggil 0m Sano yang muncul di
pintu ditemani bapak pemandu wisata Lawang
Sewu.

"0m Sano!" seru Kanti dengan lega sambil berlari-lari ke arah 0m Sano. Di
sudut ruangan Anouk tersenyum. Perlahan-lahan musik mulai kembali
berdenting, pesta dansa meriah itu mulai tergelar lagi dan Anouk kembali
bermain. Tentunya kali ini pesta itu tidak terlihat lagi oleh Kanti.

4

Dihantui Kendi Maling

Sati membuka koper usangnya dan langsung tersentak. Sebuah kendi

terselip di antara pakaiannya. Kendi itu adalah kendi maling.
Kamu tahu, kan, kendi maling itu apa? Itu, loh, kendi khas Lombok. Kendi

ini istimewa karena airnya dimasukkan lewat dasar kendi. Kendi biasa kan airnya
dimasukkan dari atas seperti biasa. Hebatnya, airnya tidak tumpah saat dibalik.

Kendi ini dinamai kendi maling karena seperti perilaku maling. Yaitu
masuk dari belakang rumah. Namun, ada juga legenda yang bilang, kendi maling
ini menunjukkan kalau maling di Lombok tidak akan bisa keluar dari Lombok.
Berputar-putar saja di pulau ini.

Tahukah kamu, kenapa Sati ketakutan melihat kendi ini? Ya, Sati memang
mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Saat ini, Sati dan teman-teman
sekelasnya sedang berdarmawisata ke Lombok. Untuk bisa pergi
berdarmawisata ini, Sati mencuri uang Cika, teman sekelasnya.

Sati tahu, ibunya tidak akan sanggup membayar uang darmawisata, tetapi
Sati ingiiiiiin sekali ikut berdarmawisata. Memang, sebagai anak yang kurang
mampu, Sati sudah mendapat keringan dari sekolah. Tetapi, tetap saja jumlah
yang harus dibayarkannya terlalu besar buat ia dan ibunya.

Lalu, suatu hari ia menemukan dompet Cika tergeletak begitu saja di
ruang kelas yang kosong. Sati tak kuasa menahan untuk tidak mengambil
lembaran-lembaran uang itu. Tentu saja, kelas heboh saat Cika menyadari
dompetnya hilang. Tetapi saat dompet Cika ditemukan kosong di luar sekolah, di
dekat gerbang depan, semua beranggapan Cika hanya sedang sial. Dompetnya
jatuh dan orang luar mengambil uangnya.

5

Walaupun deg-degan karena merasa bersalah dan ketakutan, Sati lega
juga karena tidak ada yang mencurigainya.

Tetapi sekarang? Kendi maling ini seperti menghantuinya. Tadi pagi saat
sarapan, dia menemukan kendi maling itu di kursinya. Begitu juga di kursi yang
ia duduki di bis. Juga di Pantai Kuta, saat ia kembali dari toilet, kendi itu
tergeletak di samping ranselnya. Lalu sekarang, kendi itu ada di antara
pakaiannya di dalam kopernya yang terkunci rapat!

Aduh, Lombok itu, kan, pulau yang mistis. Bagaimana kalau kendi maling
ini memang memiliki kekuatan gaib? Bagaimana kalau kekuatan itu tahu bahwa
Sati mencuri uang Cika? Bagaimana kalau ia memang tidak bisa keluar dari
Pulau Lombok selamanya? Duh duh. .. Sati semakin berkeringat dingin
membayangkan itu semua.

"Mengaku saja, Sat," ucap Lina, teman sekamarnya. Tiba-tiba Lina sudah
ada di samping Sati.

6

"A... apa maksudmu, Lin?" tanya Sati terbata-bata.
Lina tersenyum, "Maaf, ya, Sat, aku gak maksud bikin kamu takut,"

ucapnya. "Tapi melihat reaksi kamu saat melihat kendi maling ini, aku jadi yakin
kamu yang mengambil uang Cika," lanjutnya.

"Apa maksudmu, Lin?" tanya Sati. Otaknyaserasa lumpuh. Tidak bisa
menyusun kalimat lain.

"Pertama, Cika bilang, hari itu ia tidak masuk sekolah lewat gerbang
depan, melainkan gerbang belakang. Kok, bisa dompetnya terjatuh di dekat
gerbang depan?" ujar Lina. Sati semakin berkeringat.

"Lalu, di dompet Cika ada noda tinta biru. Setahu Cika, noda itu tidak ada
sebelumnya. Dan hari itu adalah hari pena birumu bocor dan mengenai
tanganmu. Tinta itu bisa saja tercetak di dompet Cika saat kamu mengambil
uang. Tanganmu pasti keringatan karena gugup, kan?" tambah Lina, membuat
Sati semakin berkeringat dingin. Saat itu pun tangannya berkeringat.

"Ditambah lagi, keesokan harinya, kamu melunasi pembayaran
darmawisata. Padahal kamu sempat bilang tampaknya tidak bisa ikut karena
tidak ada dana. Tapi wajahmu saat melihat kendi maling yang membuatku
yakin." kata Lina menutup penjelasannya.

"Ja... jadi. kamu yang menaruh kendi maling itu di kursiku di ruang makan,
di bis, di samping tasku di pantai, di..."

"Iya, itu aku semua. Aku mau memastikan reaksimu. Kamu selalu tampak
takut dan bersalah melihat kendi itu," sahut Lina tanpa membiarkan Sati
menyelesaikan kalimatnya. Sati menunduk semakin dalam

.

7

"Mengaku sajalah, Sat. Cika anak orang kaya, moga-moga dia tidak terlalu
manh uangnya hilang. Tapi setidaknya kamu harus minta maaf kepadanya. Cika,
kan, baik. Moga-moga dia mau memaafkan," tangan Lina merangkul bahu Sati
yang semakin lesu. Sati pun mengangguk. Lina berjanji akan menemani Sati
mengaku. Berdua mereka beranjak ke kamar Cika.

"Klotak!" Perlahan kendi maling di dalam koper Sati bergulir keluar. Lalu
menghilang di bawah kolong tempat tidurnya. Lina pasti kaget kalau melihat
kendi maling itu di koper Sati. Soalnya dia tidak memasukkannya ke situ. Koper
Sati, kan, terkunci. Sepintar-pintarnya Lina bisa memecahkan kasus uang hilang,
ia
tidak akan bisa memasukkan kendi ke dalam koper terkunci, bukan?

8

Dikejar Jepit Rambut Raksasa

Rania memandang padang rumput luas berbatas langit biru itu dengan

kagum. Indah sekali. Sahabat penanya, Hora, yang asli Sumba, menunjukkan
kuburan batu kuno yang terletak di padang rumput itu.

"Ini kuburan nenek moyangku. Roh nenek moyang ini yang
menyampaikan pesan kami ke Tuhan," jelas Hora.

Di atas kuburan batu itu, tampak beberapa sesaji sirih Pinang. "Kami
semua menghormati mereka.

Karena itu, kami memberi mereka hadiah seperti sirih Pinang ini," ucap
Hora lagi
sambil menyentuh kuburan batu itu dengan sangat khidmat.

9

Raina jadi terharu melihatnya. Dilepaskannya jepit rambut merahnya dan
diletakkannya di atas kuburan batu itu.

"Aku juga menghormati mereka. Aku kasih jepit rambut ini, ya," kata
Raina polos. Setelah itu mereka pergi meninggalkan kuburan kuno itu.

***

Malamnya, Raina bermimpi buruk. Ia bermimpi sedang berlari di padang
rumput indah yang tadi Siang ia kunjungi. Tetapi, lalu suatu bayangan hitam
besar menimpanya. Ternyata, ia dikejar jepit rambut raksasa.

Clop clop clop... begitu bunyi jepit rambut itu mengejarnya sambil
membabat setiap rumput yang dilewatinya. Raina menjerit dan berlari kencang
menghindarinya.

"Kenapa aku di sini. .. Aku mau pulang. .. " rintih jepit rambut raksasa
sambil terus mengejar Raina.

Raina berlari sampai tersudut ke kuburan batu. Jepit rambut raksasa itu
semakin dekat, "Bukan di sini tempatku... Kembalikan aku. " rintihnya lagi.

Raina tidak tahan lagi, ia menjerit sekeras mungkin.

"Raina! Raina!" Panggil Hora cemas. Raina terbangun dan langsung lega
karena semua itu cuma mimpi. Ia segera menceritakan mimpinya kepada Hora.
Hora juga tidak mengerti maksud mimpi Raina.

Setelah tenang, Raina berpikir untuk mencatat mimpi itu di buku catatan
perjalanannya. Ia mengambil buku catatan dan meminjam sebatang pena dari
Hora. Setelah selesai menulis, Raina menyimpan kembali buku dan pena biru
itu, lalu kembali tidur.

Keesokan paginya, mimpi itu terlupakan. Raina dan Hora asyik bermain
dan mengunjungi banyak tempat. Namun, sriiing. .. berulang kali Raina merasa
ada bayangan jepit rambut merah yang terus menghantuinya. Duh, Raina
takuuut
sekali. Saat ia tertidur malam harinya, lagi-lagi Raina bermimpi buruk soal jepit
rambut yang merintih-rintih minta dikembalikan.

***

Pada malam terakhirnya di Sumba, diam-diam Raina bersyukur ia akan
segera pulang. Sumba memang cantik, tetapi kalau dihantui jepit rambut... Hiii.
seram!

Setelah menuliskan catatan hari terakhirnya di Sumba, Raina sibuk
mengemasi barangnya untuk pulang ke Jakarta. Anehnya, Hora tampak gelisah.

10

Raina, eengg... emmm.. dari tadi Hora seperti mau bicara sesuatu tetapi
tidak jadi.

"Kenapa, sih?" tanya Raina sambil terus berkemas.

"Itu... pena biruku yang kamu pinjam, ikut terkemas masuk tas ransel
kamu," ucap Hora sambil menunduk.

Raina terkejut mendengarnya. Segera diambilnya pena biru itu.

"Oiya aku lupa! Maaf, yaa, ini aku kembalikan," kata Raina sambil
menyodorkan kembali pena itu.

Tepat saat itu, Raina teringat rintih jepit rambut raksasa dalam mimpinya.
Jepit rambut itu minta dikembalikan. Hwaaaah. .. Raina baru ingat! Jepit rambut
itu milik teman sekelasnya, Keysha, yang ia pinjam sejak awal tahun ajaran! Ini

11

memang satu kebiasaan buruk Raina. la suka lupa mengembalikan barang-
barang teman yang ia pinjam. Akhirnya barang-barang itu malah seperti sudah
menjadi miliknya sendiri!

Malam itu juga, Raina minta tolong diantarkan ke kuburan kuno itu untuk
mengambil kembali jepit rambut tersebut. Mungkin roh nenek moyang Sumba
marah karena ia member hadiah barang pinjaman, Atau, mungkin mereka
cuma ingin memberi pelajaran kepada Raina.

Atau, mungkin semua hanya kebetulan. Yang pasti, sejak itu Raina berjanji
lebih berhati-hati kalau meminjam barang.

12

Kereta Tebu Berhantu

Rei semangat sekali untuk Iiburan ke Solo kali ini. Paman Budi berjanji

mengajaknya menginap di daerah ladang tebu Sondokoro dan naik kereta
tuanya!

Pagi ini pun seusai sarapan ia langsung berlari menuju ladang tebu itu.
"Rei, kamar tidurmu sudah dirapikan belum?" seru Tante Tia. Duh, malas sekali
kalau harus kembali lagi ke rumah, begitu pikir Rei. "Sudah!" jawab Rei sambil
berharap Tante Tia tidak memeriksa kamarnyƄ yang masih berantakan.

"Sudah pakai topi belum, Rei?" seru Tante Tia lagi. Sayangnya, Rei sudah
terlalu jauh untuk bisa mendengar seruan Tante Tia itu. Ia terus berlari mengitari
sebagian ladang tebu dan sampai ke tempat kereta tebu kuno itu diparkir.

"Bagus ya," sapa sebuah suara dari belakang Rei. Rei menoleh dan
berhadapan dengan anak perempuan seusianya. Rambutnya pirang kecoklatan.
"Lieke," kata anak itu sambil mengulurkan tangan putihnya.
"Rei," sahut Rei singkat. Dalam hati ia berpikir namanya Lieke aneh sekali.

"Naik, yuk!" ajak Lieke sambil menggandeng tangan Rei, setengah
menariknya ke arah gerbong. Sebelum Rei bisa menolak, tiba-tiba mereka sudah
berada di atas salah satu gerbong kereta kuno itu. Lieke berseru, "Ga, de heer!"
Lalu kereta tua itu pun bergerak! Berjalan menyusuri rel. Rei menatap Lieke
dengan heran.
"Aku tadi bilang, 'Berangkat, Pak!' dalam bahasa Belanda," kata Lieke
menjelaskan.

13

"Wah, ternyata Lieke itu anak Belanda. Pantas berbeda," Batin Rei di
dalam hati.

Perjalanan naik kereta itu menyenangkan sekali. Rei dan Lieke tertawa-
tawa sambil memandangi lika-liku kebun tebu. Bahkan, saat mereka lapar, Lieke
tinggal meneriakkan beberapa kata dalam bahasa Belanda dan voila! Datanglah
beberapa potong roti isi dan minuman es jeruk.

"Rei!" seru suatu suara. Rei tersentak dan melihat ke sekelilingnya.
Suaranya seperti suara Tante Tia. Namun, Rei tak peduli panggilan itu dan
kembali asyik bermain halma dengan Lieke.
"Rei!" suara itu terdengar lagi. Rei kembali celingukan.
"Kenapa?" tanya Lieke.
"Rasanya seperti ada suara tanteku," jawab Rei acuh tak acuh.

14

"Oo.... Lieke lalu terdiam sesaat. "Kamu gak menjawabnya?" tanya Lieke
hati-hati.

"Ah, palingan aku cuma mau disuruh beresin kamar, bantu-bantu masak,
atau apalah. Tante Tia suka nyuruh-nyuruh!" sahut Rei. Suara Tante Tia kembali
terdengar.

"Tapi beresin kamar itu buat kamu juga. Kan gak enak tidur di kamar
berantakan. Terus masakan yang dibuat Tante Tia kan untuk kamu makan juga,"
kata Lieke pelan.

Rei terdiam mendengarnya. Benar juga, sih. Hanya saja bermain lebih
menyenangkan daripada menyahut panggilan Tante Tia dan beres-beres.

"Lagipula, kamu harusnya senang, masih ada yang memanggilmu... " ujar
Lieke dengan suara sedih. "Semua keluargaku sudah pindah ke Belanda. Tidak
ada yang memanggilku lagi." Lanjut Lieke.

"Maksudnya?" tanya Rei penasaran. Namun, entah mengapa Rei merasa
kepalanya pusing dan Lieke tampak semakin kabur. "Rei! Rei!" panggiIan Tante
Tia pun semakin dekat dan jelas.

"Rei!" Rei membuka mata dan melihat Tante Tia, Paman Budi, dan
beberapa orang lain yang menatapnya dengan cemas. Rupanya tadi Rei jatuh
pingsan di dekat tempat kereta kuno itu diparkir. Ia kepanasan gara-gara pergi
tanpa topi. Semua yang dialaminya bersama Lieke tadi hanya mimpi belaka!

Setelah Rei pulih, Rei, Paman Budi, dan Tante Tia pergi berwisata naik
kereta tebu. Rei senang sekali walau rasanya perjalanan naik keretanya bersama
Lieke lebih menyenangkan.

15

Hanya satu yang mengganjal perasaan Rei.nYaitu cerita penjaga tempat
wisata itu bahwa dulu ada anak kecil bernama Lieke yang meninggal karena
sakit. Lieke makamkan di sekitar kebun tebu itu. Sementara keluarganya
kembali ke Belanda saat penjajahan Belanda berakhir. Rei masih bisa mengingat
kesedihan di dalam suara Lieke.
"Rei, bereskan kamarmu!" panggil Tante Tia.
"Iya, Tante!" Rei langsung pergi menghampiri Tante Tia. Lieke benar, ia senang,
masih ada orang yang memanggilnya.

16


Click to View FlipBook Version