MAKALAH MODEL APRESIASI PUISI
(Membaca, dramatisasi, deklamasi, musikalisasi dan juga rampak puisi)
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Apresiasi danKajian Prosa Fiksi
Indonesia yang diampu oleh:
Ibu. Yeni Cania Puspita, M.Pd.
Disusun Oleh:
Andika Zaka Munggaran
195030070
UNIVERSITAS PASUNDAN
FAKULTAS PENDIDIKAN DAN ILMU KEGURUAN
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
Jl. Tamansari No. 6-8, Bandung
2019/2020
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Puji dan Syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
kami kemudahan sehingga dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Model
apresiasi puisi (membaca, dramatisasi, deklamasi, musikalisasi dan juga rampak puisi)”. Ini
dengan tepat waktu. Tanpa rahmat dan karunia-Nya tentu kami tidak akan dapat
menyelesaikan makalah ini dengan baik dan benar. Shalawat serta salam semoga
terlimpah curahkan kepada baginda kita yakni Nabi Muhammad SAW serta kepada
keluarganya, kepada para sahabatnya, dan semoga sampai kepada kita semua
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Apresiasi dan
Kajian Puisi Indonesia. Kami berharap makalah ini dapat memenuhi salah satu
tugas yang telah diberikan.
Kami menyadari makalah ini masih perlu banyak penyempurnaan karena
kesalahan dan kekurangan. Kami terbuka terhadap kritik dan saran pembaca agar
makalah ini dapat lebih baik.
Demikian makalah ini kami buat, besar harapan kami agar makalah ini dapat
digunakan sebaik-baiknya, serta bermanfaat bagi kita selaku pembacanya.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Bandung, 30 November 2020
Penulis
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..................................................................................................................... i
DAFTAR ISI............................................................................................................................ ii
BAB 1 .......................................................................................................................................iii
PENDAHULUAN ...................................................................................................................iii
1.1 Latar Belakang..............................................................................................................iii
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................................iii
1.3 Tujuan............................................................................................................................iii
BAB II ...................................................................................................................................... 1
PEMBAHASAN ...................................................................................................................... 1
2.1 Model Apresiasi Puisi ................................................................................................... 1
2.1.1 Membaca Puisi ....................................................................................................... 1
2.1.2 Dramatisasi Puisi.................................................................................................... 2
2.1.3 Deklamasi Puisi ...................................................................................................... 3
2.1.4 Musikalisasi Puisi................................................................................................... 3
2.1.5 Rampak Puisi ......................................................................................................... 4
BAB III..................................................................................................................................... 5
PENUTUP................................................................................................................................ 5
3.1 Kesimpulan.................................................................................................................... 5
3.2 Saran .............................................................................................................................. 5
ii
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sastra merupakan ungkapan ekspresi manusia berupa karya tulisan atau lisan
berdasarkan pemikiran, pendapat, pengalaman, hingga ke perasaan dalam bentuk
yang imajinatif, cerminan kenyataan atau data asli yang dibalut dalam kemasan
estetis melalui media bahasa. Pembelajaran sastra seharusnya ditekankan pada
kenyataan bahwa sastra merupakan salah satu bentuk seni yang dapat diapresiasi.
Oleh karena itu, pembelajaran sastra haruslah bersifat apresiatif.
Puisi merupakan ragam sastra yang terikat oleh unsur-unsurnya, seperti irama,
mantra, rima, baris, dan bait. Puisi juga dapat dikatakan sebagai ungkapan emosi,
imajinasi, ide, pemikiran, irama, nada, susunan kata, kata-kata kiasan, kesan
pancaindra, dan perasaan. Puisi adalah ungkapan yang memperhitungkan aspek-
aspek bunyi di dalamnya, serta berupa pengalaman imajinatif, emosional, dan
intelektual penyair dari kehidupan individu dan sosialnya. Puisi diungkapkan
dengan teknik tertentu sehingga dapat membangkitkan pengalaman tertentu dalam
diri pembaca atau pendengarnya.
Apresiasi puisi merupakan suatu kegiatan untuk mengindahkan dan menghargai
puisi dengan memperhatikan beberapa aspek yaitu aspek kognitif, aspek emotif
dan aspek evaluatif. Dalam apresiasi puisi ini memiliki macam-macam model
apresiasi yaitu membaca, dramatisasi, deklamasi, musikali, dan rampak puisi.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Apresiasi Puisi?
2. Apa saja macam-macam Model Apresiasi Puisi?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian Apresiasi Puisi.
2. Untuk mengetahui macam-macam Model Apresiasi Puisi.
iii
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Model Apresiasi Puisi
Istilah apresiasi berasal dari bahasa Latin apreciatio yang
berarti"mengindahkan"atau"menghargai". Dalam konteks yang lebih luas, istilah
apreasiasi menurut Gove dalam Aminuddin (2011:34) mengandung makna
pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin dan pemahaman dan pengakuan
terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang. Pada sisi lain, Squire
dan Taba (dalam Aminuddin 2011:34) berkesimpulan bahwa sebagai suatu proses,
apresiasi melibatkan tiga unsur inti, yakni aspek kognitif, aspek emotif dan dan
aspek evaluatif.
Apresiasi puisi merupakan salah satu kegiatan dalam pembelajaran sastra di
sekolah terutama di SMA. Banyak model sajian pengajaran apresiasi puisi. Model
ini hendaknya disesuaikan dengan karakteristik puisi dan kondisi subjek
(Endraswara, 2005: 129). Pengapresiasian dari sebuah karya sastra berupa puisi
dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Apalagi kini metode yang ada telah
berkembang begitu pesat. Akan tetapi, sebagian besar guru Bahasa Indonesia
kaitannya dengan metode pembelajaran sastra dalam mengapresiasi puisi terutama
mendeklamasikan puisi, masih menggunakan cara lama dari tahun ke tahun tanpa
mengutamakan unsur kreativitas.
2.1.1 Membaca Puisi
Membaca puisi adalah perbuatan menyampaikan hasil-hasil sastra (puisi)
dengan bahasa lisan (Aftarudin, 1984 hlm. 24). Membaca puisi sering
diartikan sama dengan deklamasi. Suharianto (dalam Mulyana, 1997:34)
membatasi bahwa hakikat membaca puisi tidaklah berbeda dengan
deklamasi, yaitu menyampaikan puisi kepada penikmatnya dengan setepat-
tepatnya agar nilai-nilai puisi tersebut sesuai dengan maksud penyairnya.
Dalam membaca puisi terdapat 4 aspek yang harus diperhatikan diantaranya
ekspresi, lafal, tekanan dan intonasi.
a. Ekspresi
Ekspresi merupakan mimik wajah yang dibuat sesuai dengan
bait tertentu, ekspresi yang diungkapkan haruslah sesuai dengan
isi puisi tersebut. Puisi yang mengisahkan sebuah kesedihan maka
ekspresi wajah harus sendu, demikian pula bila puisi mengisahkan
suka cita maka ekspresi wajah harus terlihat gembira.
1
b. Tekanan
Dalam membaca puisi perlu diperhatikan tekanan dari kuat
lemahnya nada pada kata tertentu. Setiap kata terkadang memiliki
tekanan yang berbeda, biasanya semakin penting kata tersebut
maka semakin kuat penekanannya.
c. Lafal
Lafal adalah pengucapan bunyi bahasa yang sesuai dengan
alat ucap yang digerakan. Ketika membacakan sebuah puisi, maka
setiap pelafalan kata-kata harus tepat dan jelas. Lafal di setiap
huruf harus dilatih dengan baik, termasuk termasuk huruf vokal
A, I, U, E dan O.
d. Intonasi
Intonasi adalah pola perubahan nada saat seseorang sedang
berbicara. Ketika membacakan sebuah puisi, sebaiknya
menggunakan nada atau intonasi sesuai dengan karakter kata di
dalam puisi. Intonasi pun ada naik dan turun, sehingga tidak
membosankan ketika dibaca.
2.1.2 Dramatisasi Puisi
Dramatisasi puisi adalah proses apresiasi yang menggabungkan dua unsur
genre sastra yaitu drama dan puisi karya puisi yang didramatisasikan harus
memperhatikan banyak faktor dan melibatkan lebih dari satu orang. Faktor
disini antara lain penafsiran puisi dan unsur-unsur pertunjukan. Dramatisasi
puisi memerlukan kolaborasi antar pemeran. Untuk itu, dramatisasi
memerlukan penyutradaraan sederhana yang bertugas memberikan instruksi
secara garis besar permainan dramatisasi puisi (Waluyo 2001:98).
Penyutradaraan ini diperlukan untuk memberikan anasir dalam dramatisasi
berupa menginterpretasikan isi puisi, mengubah puisi menjadi dialog,
memberikan instruksi garis besar permainan dramatisasi puisi, dan mengatur
dialog, akting, setting, dan property seperlunya.
Ketika membuat sebuah dramatisasi puisi, kita tidak boleh
menghilangkan unsur-unsur penting di dalam puisi. Kita juga tidak boleh
menambahkan unsur-unsur lain yang tidak sesuai dengan jiwa puisi. Unsur-
unsur lain tersebut, misalnya membuat dialog baru yang sama sekali tidak
ada di dalam puisi, atau bahkan menambahkan adegan baru yang bisa
mengaburkan isi puisi. Menambahkan unsur-unsur lain tentu diperbolehkan,
tetapi selama hal tersebut tidak mengganggu atau mengaburkan jiwa puisi,
2
misalnya penambahan aransemen musik/ musik latar, penyertaan narator
untuk“memberi pengantar” terhadap adegan/ cerita yang akan disampaikan,
penambahan dialog “kata seruan” (seperti hah, huu, heh, aduh, dll.)
2.1.3 Deklamasi Puisi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), deklamasi artinya
penyajian sajak yang disertai lagu dan gaya. Mendeklamasikan puisi adalah
salah satu cara untuk memberikan apresiasi pada suatu karya. Dalam
mendeklamasikan puisi, ada langkah-langkah yang harus diperhatikan,
diantaranya:
a. Membaca dan menangkap isi puisi
b. Menghafalkan puisi yang akan dideklamasikan.
c. Memberi tanda-tanda pembacaan puisi.
d. Berlatih mendeklamasikan puisi sesuai dengan tanda-tanda dan isi
puisi yang telah ditentukan.
2.1.4 Musikalisasi Puisi
Musikalisasi puisi adalah aktivitas mempresentasikan puisi dengan cara
diiringi musik, memakai irama dan dilagukan sesuai dengan isi puisi. Esensi
musikalisasi puisi itu sendiri adalah kerjasama sebuah seni untuk
menghargai sebuah karya dengan medium puisi, musik dan pertunjukan.
Dengan musikalisasi puisi, kita bisa melakukan penghargaan kepada sebuah
musik dan puisi dengan cara mementaskan/mengekspresikan pada sebuah
pertunjukan.
a. Jenis Musikalisasi Puisi
1. Musikalisasi Puisi Murni (Versi Penyanyi)
Musikalisasi murni adalah pengubahan puisi menjadi syair
lagu tanpa mengikutsetakan pembacaan puisi. Pementasan
puisi dengan cara benar-benar menampilkan sebuah lagu, dan
puisi hanya berperan sebagai syair lagu.
2. Musikalisasi Puisi Versi Sastra (Versi Pemain Teater)
Musikalisasi puisi versi sastra adalah pembacaan puisi yang
diiringi oleh permainan alat-alat musik. Pementasan puisi
dengan cara pembacaan puisi tanpa dinyanyikan, tetapi
selama pembacaan puisi ada backsound live permainan alat
musik seperti biola, gitar, atau alat musik lainnya.
3
3. Musikalisasi Puisi Campuran (Kombinasi)
Musikalisasi puisi campuran adalah kombinasi musikalisasi
jenis murni dan versi sastra. Pementasan puisi dengan
perpaduan pembacaan puisi dan nyanyian. Porsi pembacaan
dan nynyian bergantung ketepatan apresiasi dan kenyamanan
melodisasi terhadap puisi.
b. Cara membuat musikali puisi
1. Menikmati Musikalisasi Puisi
2. Memilih Puisi yang Akan Dimusikalisasi
3. Memahami Isi Puisi yang akan Dimusikalisasi
4. Menentukan Irama yang Sesuai dengan Suasana Puisi
c. Manfaat Musikalisasi Puisi
1. Bisa menyentuh perasaan sehingga bisa lebih halus,
2. Mengembangkan imajinasi,
3. Memotivasi individu untuk bisa lebih tergerak dalam
berpikir,
4. Bisa membuat hati senang sebagai alat hiburan.
2.1.5 Rampak Puisi
Rampak puisi dapat dianggap sebagai varian dari baca puisi sebab
pembacanya masih mengandalkan teks puisi. Perbedaannya, apabila baca
biasa dilakukan oleh seorang pembaca, rampak puisi lazimnya dilakukan
oleh lebih dari satu orang. Selain itu, rampak puisi memiliki beberapa
keuntungan. Misalnya, dalam membaca puisi epik atau naratif, pembaca
puisi tunggal harus dapat membedakan narasi dan karakter tokoh,
sedangkkan dalam rampak puisi,hal itu merupakan tugas bersama. Dalam
membaca puisi, sebut saja, “Penangkapan Sukra” secara rampak, kita tinggal
menyesuaikan para pembaca dengan karakter tokoh: siapa yang menjadi
narator, Sukra, Putra Mahkota, perempuan yang menjerit, dan kelompok
koor. Sebagian pembaca dapat juga bertugas memberi efek suara tertentu,
seperti suara serigala, kuda, tombak yang dihentakkan, suara batin Sukra.
atau suara keramaian orang.
Namun, satu hal yang perlu diperhatikan, rampak puisi tidak perlu
memanfaatkan pentas secara optimal. Pembaca puisi hanya berusaha agar
pembacaannya puitis dan agar tidak mengganggu pandangan penonton, para
pembaca mestilah mengatur posisi bacanya sehingga “enak” dipandang.
4
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas mengenai model apresiasi puisi dapat ditarik
kesimpulan mengenai macam-macam model apresiasi puisi yaitu Membaca puisi
adalah perbuatan menyampaikan hasil-hasil sastra (puisi) dengan bahasa lisan
(Aftarudin, 1984: 24). agar pesan yang ada dalam puisi dapat tersampaikan secara
keseluruhan dan maksimal, maka kita harus memperhatikan 4 aspek dalam
membaca puisi, diantaranya ekspresi, lafal, tekanan, dan intonasi. Dramatisasi
puisi adalah proses apresiasi yang menggabungkan dua unsur genre sastra yaitu
drama dan puisi karya puisi yang didramatisasikan harus memperhatikan banyak
faktor dan melibatkan lebih dari satu orang. Faktor disini antara lain penafsiran
puisi dan unsur-unsur pertunjukan. Dramatisasi puisi memerlukan kolaborasi antar
pemeran. Deklamasi puisi merupakan salah satu cara membacakan puisi tanpa
menggunakan teks puisi. Biasanya, orang yang mendeklamasikan puisi harus
menghafalnya terlebih dahulu. Mendeklamasikan puisi bermakna menyajikan
puisi dengan gerak dan ekspresi wajah yang tepat. Musikalisasi puisi adalah
aktivitas mempresentasikan puisi dengan cara diiringi musik, memakai irama dan
dilagukan sesuai dengan isi puisi. Esensi musikalisasi puisi itu sendiri adalah
kerjasama sebuah seni untuk menghargai sebuah karya dengan medium puisi,
musik dan pertunjukan.Rampak puisi dapat dianggap sebagai varian dari baca
puisi sebab pembacanya masih mengandalkan teks puisi. Perbedaannya, apabila
baca biasa dilakukan oleh seorang pembaca, rampak puisi lazimnya dilakukan oleh
lebih dari satu orang.
3.2 Saran
Penulis sadar sepenuhnya bahwa penulisan makalah ini masih jauh
darisempurna dan masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran
yang membangun masih penulis harapkan untuk perbaikan di masa yang akan
datang.
5