The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Mata Kuliah Metodologi Penelitian Pendidikan

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Fitri Salzabillah, 2023-02-19 08:11:22

RUANG LINGKUP PENELITIAN PENDIDIKAN KELOMPOK 1

Mata Kuliah Metodologi Penelitian Pendidikan

RESUME METODOLOGI PENELITIAN “ Ruang Lingkup Penelitian Pendidikan” Dosen Pengampu Prof. Dr. Arono, M.Pd Disusun Oleh Kelompok 1 : 1. Fiska Agnesia Amanda (A1G021074) 2. Fitri Salzabillah (A1G021076) 3. Derlyani Harahap ( A1G021077) 4. Teddy Syach (A1G021086) 5. Devy Sefiana Putri (A1G021144) Kelas : 4D PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS BENGKULU 2023


2 RUANG LINGKUP PENELITIAN PENDIDIKAN Penelitian pendidikan adalah upaya ilmiah untuk memahami beragam masalah pendidikan dan fenomena yang ada di dunia pendidikan. Fenomena merujuk pada masalah yang muncul dalam sistem pendidikan formal, nonformal, maupun informal. Ruang lingkup penelitian pendidikan luas sekali karena pendidikan sendiri merupakan bidang kajian yang terkait erat dengan beberapa disiplin ilmu lain seperti psikologi, sosiologi, antropologi, politik, dan ekonomi. Banyak sekali konsep atau teori pendidikan yang dikembangkan dengan mendapatkan inspirasi atau berlandaskan berbagai bidang ilmu tersebut. Penggunaan berbagai konsep dan pendekatan dari berbagai disiplin ilmu memperkaya khasanah penelitian pendidikan. Hal tersebut membuka kemungkinan satu aspek pendidikan dikaji dari berbagai pendekatan yang berbeda sehingga peluang untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh semakin terbuka lebar. 1. Sistem Pendidikan Sistem pendidikan di Indonesia adalah mengacu pada Sistem Pendidikan Nasional yang merupakan sistem pendidikan yang akan membawa kemajuan dan perkembangan bangsa dan menjawab tantangan zaman yang selalu berubah hal ini sebagaimana visi dan misi Sistem Pendidikan Nasional yang tertuang dalam UU RI NO. 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS adalah sebagai berikut: “Terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga Negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.” Adapun misi yang diemban oleh SISDIKNAS adalah: “Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat (UU RI SISDKNAS: 41).” Pasal 1 UU SISDIKNAS no. 20 tahun 2003 disebutkan bahwa Sistem Pendidikan Nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Adapun komponen-


3 komponen dalam pendidikan nasional antara lain adalah lingkungan, saranaprasarana, sumberdaya, dan masyarakat. Komponen-komponen tersebut bekerja secara bersama-sama, saling terkait dan mendukung dalam mencapai tujuan pendidikan. Jadi, makna pendidkan sebagai sistem adalah seluruh komponen yang ada dalam pendidikan (seperti lingkungan, masyarakat, sumber daya) dapat bekerja sama dalam mencapai tujuan pendidikan pendidikan nasional, yang dalam implementasinya dapat dilihat dari aspek-aspek sistem yaitu input-proses-output, dan hasil akhir dari output dapat memberikan umpan balik terhadap input dan proses sehingga dapat diketahui hasil akhir tujuan pendidikan. 2. Falsafah Pendidikan Filsafat diakui sebagai induk ilmu pengetahuan ( the mother of sciences ) yang mampu menjawab segala pertanyaan dan permasalahaan. Mulai dari masalahmasalah yang berhubungan dengan alam semesta hingga masalah manusia dengan segala problematika dan kehidupanya. Di antara permasalahan yang dapat dijawab oleh filsafat adalah permasalahan yang ada di lingkungan pendidikan. Menurut John Dewey (dalam Amka, 2019), seorang filosof Amerika, filsafat merupakan teori umum dan landasan pertanyaan dan menyelidiki faktor-faktor realita dan pengalaman yang terdapat dalam pengalaman pendidikan Apa yang dikatakan John Dewey memang benar. Karena itu filsafat dan pedidikan memiliki hubungan hakiki dan timbal balik, filsafat pendidikan yang berusaha menjawab dan memecahkan persoalan-persoalan pendidikan yang bersifat filosifis dan memerlukan jawaban secara filosofis. Pikiran yang muncul karena rasa ingin tahu adalah pemikiran filsafat, usaha untuk mendapatakna jawaban atau pemecahan terhadapnya telah menimbulkan teori-teori dan sistem pemikiran seperti idealisme, realisme, pragmatisme. Oleh karena itu, filsafat dimulai oleh rasa heran, bertannya dan memikir tentang asumsiasumsi kita yang fundamental (mendasar), maka kita perlu untuk meneliti bagaimana filsafat itu menjawabnya. Tujuan filsafat pendidikan memberikan inspirasi bagaimana mengorganisasikan proses pembelajaran yang ideal. Teori pendidikan bertujuan menghasilkan pemikiran tentang kebijakan dan prinsipprinsip pendidikan yang didasari oleh filsafat pendidikan. Praktik pendidikan atau


4 proses pendidikan menerapkan serangkaian kegiatan berupa implementasi kurikulum dan interaksi antara guru dengan peserta didik guna mencapai tujuan pendidikan dengan menggunakan rambu-rambu dari teori-teori pendidikan. Peranan filsafat pendidikan memberikan inspirasi, yakni menyatakan tujuan pendidikan negara bagi masyarakat, memberikan arah yang jelas dan tepat Filsafat Pendidikan 23 dengan mengajukan pertanyaan tentang kebijakan pendidikan, dan praktik di lapangan dengan menggunakan rambu-rambu dari teori pendidik. 3. Kebijakan Pendidikan Penelitian kebijakan pendidikan merupakan bagian dari kajian kebijakan publik yang sudah berkembang pesat dan keilmuan yang sudah mapan. Konsep penelitian kebijakan pendidikan adalah penelitian yang dilakukan apabila sedang atau sudah selesai diimplementasi kebijakan pendidikan. Apabila sedang diimplementasikan kebijakan pendidikan yang diteliti, maka tujuannya untuk meningkatkan kualitas, efektivitas, dan efesiensi dari kebijakan pendidikan tersebut. Penelitian kebijakan pendidikan dilakukan pada saat kebijakan pendidikan itu sudah selesai diterapkan atau diimplementasikan, maka tujuannya untuk menilai kebijakan pendidikan tersebut secara menyeluruh berhasil atau gagal, menemukan masalah yang fundamental untuk diselesaikan bagi para pengambil kebijakan pendidikan (Putra dalam Arwildayanto, 2018). Penelitian kebijakan pendidikan juga diterjemahkan sebagai tindakan untuk memecahkan masalah pendidikan, atas dasar rekomendasi yang dibuat oleh policy researcher berdasarkan hasil penelitinya. penelitian kebijkan pendidikan juga dipandang sebagai perpanduan antara dua unsur, yaitu ilmu dan seni. Ilmu yang dimaksudkan disini dikonstruksikan dari batang tubuh teori, konsep dan prinsipprinsip metodologi. Dari sisi proses, paling tidak ada dua dimensi ilmu yang mendukungnya, yaitu ilmu dalam arti subject matter dan ilmu dalam arti metodologi. Dua hal ini harus dimiliki oleh peneliti kebijakan pendidikan, pertama berkenaan dengan akurasi kajian atas permasalahan pendidikan, kedua berkenaan dengan akurasi cara pengkajian (methodology) yang digunakan. Sedangkan dari sisi seni (art) terdiri dari langkah, gaya, dan cara melakukan kerja penelitian. Orientasi dari penelitian kebijakan pendidikan adalah mendukung kebijkan pendidikan itu sendiri dengan cara tidak mengada-ada, dilakukan secara teratur


5 untuk membantu pengambil kebijakan memecahkan masalah pendidikan yang fundamental dengan menyediakan rekomendasi yang berorientasi pada tindakan (Ann Majchrzak dalam Arwildayanto, 2018). Fungsi penelitian kebijakan pendidikan yakni; 1. Memberikan layanan dalam bentuk fakta (evidensi), masukan yang bersifat verifikasi-afirmatif sebagai penyempurnaan untuk seluruh tahapan dalam proses penelitian kebijakan dan dapat digunakan di setiap tahapan atau unsur kebijakan serta terhadap seluruh unsur kebijakan pendidikan. 2. Memberikan kritik berupa perspektif, alternatif bersifat falsifikasi atau kritikkonstruktif terhadap peningkatan mutu (quality) kebijakan pendidikan melalui perumusan kebijakan, 3. Membantu pembuat kebijakan (policymaker) dalam menyusun rencana kebijakan, dengan jalan memberikan pendapat atau informasi yang mereka perlukan untuk memecahkan masalah pendidikan yang fundamental. Manfaat penelitian kebijakan pendidikan; untuk merumuskan, mengevaluasi, memperbaiki dan meningkatkan kualitas kebijakan baik yang sedang berjalan maupun yang sudah berjalan, serta mengukur dampak yang ditimbulkan dari kebijakan yang ada baik melalui metode, kuantitatif, mulai dari perhitungan sederhana, menggunaan analisis t-test, kolerasi sederhana, multivariat, metode kualitatif, metode sintesis terfokus, metode analisis data sekunder, metode eksperimen lapangan, metode survai, penelitian kasus, metode analisis biayakeuntungan (cost-benefit analysis), metode analisis keaktifan biaya (costeffectiveness analysis), metode analisis kombinasi (mix method) dan penelitian tindakan (action research). 4. Teori-teori pendidikan Teori pendidikan adalah teori yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Salah satu penerapan teori belajar yang terkenal adalah teori dari John Dewey yaitu teori “learning by doing”. Teori belajar ini merupakan sub ordinat dari teori pendidikan. Karenanya sebelum membahas teori belajar tersebut, perlu diuraikan pengertian teori pendidikan.


6 Peran teori adalah sebagai penjelasan tentang sejumlah asumsi, sesuatu yang terjadi, telah terjadi, dan akan terjadi. Sejumlah aspek ini merujuk pada pola dari teori sebagai alat untuk penjelasan logis dan membuat prediksi.Namun menurut Moore (1974) pengertian teori seperti ini merupakan pengertian yang digunakan dalam sains seperti fisika dan matematika.Sedangkan untuk kasus teori pendidikan pengertian tersebut tidaklah terlalu tepat. Jika dihubungkan dengan pendidikan maka teori pendidikan merupakan seperangkat penjelasan yang rasional sistematis membahas tentang aspek- aspek penting dalam pendidikan sebagai sebuah sistem. Mudyahardjo (2002) menjelaskan bahwa teori pendidikan adalah sebuah pandangan atau serangkaian pendapat ihkwal pendidikan yang disajikan dalam sebuah sistem konsep. Pendidikan sebagai sistem mengandung arti suatu kelompok tertentu yang setidaknya memiliki hubungan khusus secara timbal balik dan memiliki informasi. Pengertian teori pendidikan memiliki perbedaan mendasar dibandingkan dengan teori dalam sains. Teori pendidikan pada awalnya mengambil sedikit saja dari tahap pengamatan atau eksperimen melalui metodis sistematis terhadap sesuatu yang berhubungan dengan konsep dan proses pendidikan. Ruang lingkup dari teori pendidikan pun terdiri dari teori umum dan teori khusus. Moore (1974) menjelaskan yang dimaksud teori khusus pendidikan membahas secara mendalam aspek pedagogis, seperti bagaimana cara yang paling efektif untuk belajar dan mengajar. Teori belajar merupakan salah satu dari teori khusus pendidikan.Sedangkan teori umum pendidikan adalah teori yang luas dari segi cakupan dan tujuannya.Teori umum pendidikan tidak hanya sebuah rekomendasi tentang kondisi pembelajaran yang efektif tetapi juga rekomendasi untuk membentuk dan menghasilkan tipe manusia tertentu, kadang-kadang juga tipe masyarakat ideal. Teori umum pendidikan memperhatikan masalah sekitar membentuk manusia ideal dan pembahasannnya tidak hanya bertumpu pada apa yang dianggap sebagai cara terbaik mengajar tetapi meluas pada persoalan apa yang harus diajarkan dan untuk tujuan apa. menurut Nana Syaodih Sukmadinata (1997) Dalam bukunya berjudul “Pengembangan Kurikum; Teori dan Praktek” mengupas tentang konsep teori pendidikan. Beliau membagi empat teori pendidikan, yaitu: pertama pendidikan


7 klasik; kedua pendidikan pribadi; ketiga teknologi pendidikan dan terakhir adalah teori pendidikan interaksional. 1. Pertama adalah pendidikan klasik. Teori pendidikan klasik berlandaskan pada filsafat klasik, seperti Perenialisme, Essensialisme, dan Eksistensialisme dan memandang bahwa pendidikan berfungsi sebagai upaya memelihara, mengawetkan dan meneruskan warisan budaya. Teori ini lebih menekankan peranan isi pendidikan dari pada proses. Isi pendidikan atau materi diambil dari khazanah ilmu pengetahuan yang ditemukan dan dikembangkan para ahli tempo dulu yang telah disusun secara logis dan sistematis. Dalam prakteknya, pendidik mempunyai peranan besar dan lebih dominan, sedangkan peserta didik memiliki peran yang pasif, sebagai penerima informasi dan tugas-tugas dari pendidik. Teori klasik mencakup sebagai berikut: 1) Materi: Pengetahuan yang berguna bagi siswa terorganisasi secara logis dan jelas. 2) Guru: Ahli dan model 3) Siswa: Individu yang pasif 2. Kedua adalah pendidikan pribadi. Teori pendidikan ini bertolak dari asumsi bahwa sejak dilahirkan anak telah memiliki potensi-potensi tertentu. Pendidikan harus dapat mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki peserta didik dengan bertolak dari kebutuhan dan minat peserta didik. Dalam hal ini, peserta didik menjadi pelaku utama pendidikan, sedangkan pendidik hanya menempati posisi kedua, yang lebih berperan sebagai pembimbing, pendorong, fasilitator dan pelayan peserta didik. Teori pendidikan personal menjadi sumber bagi pengembangan model kurikulum humanis. Yaitu suatu model kurikulum yang bertujuan memperluas kesadaran diri dan mengurangi kerenggangan dan keterasingan dari lingkungan dan proses aktualisasi diri. Kurikulum humanis merupakan reaksi atas pendidikan yang lebih menekankan pada aspek intelektual (kurikulum subjek akademis). Teori pendidikan pribadi mencakup sebagai berikut: 1) Materi: Student’s experiences


8 2) Guru: Facilitator 3) Siswa: Whole person 3. Ketiga yakni teknologi pendidikan. Teknologi pendidikan yaitu suatu konsep pendidikan yang mempunyai persamaan dengan pendidikan klasik tentang peranan pendidikan dalam menyampaikan informasi. Namun diantara keduanya ada yang berbeda. Dalam tekonologi pendidikan, lebih diutamakan adalah pembentukan dan penguasaan kompetensi atau kemampuankemampuan praktis, bukan pengawetan dan pemeliharaan budaya lama. Dalam teori pendidikan ini, isi pendidikan dipilih oleh tim ahli bidang-bidang khusus, berupa data-data obyektif dan keterampilanketerampilan yang yang mengarah kepada kemampuan vocational. Isi disusun dalam bentuk desain program atau desain pengajaran Guru Materi Siswa dan disampaikan dengan menggunakan bantuan media elektronika dan para peserta didik belajar secara individual. Peserta didik berusaha untuk menguasai sejumlah besar bahan dan pola-pola kegiatan secara efisien tanpa refleksi. Keterampilan-keterampilan barunya segera digunakan dalam masyarakat. Guru berfungsi sebagai direktur belajar, lebih banyak tugas-tugas pengelolaan dari pada penyampaian dan pendalaman bahan. 4. Keempat ialah pendidikan interaksional. Pendidikan interaksional yaitu suatu konsep pendidikan yang bertitik tolak dari pemikiran manusia sebagai makhluk sosial yang senantiasa berinteraksi dan bekerja sama dengan manusia lainnya. Pendidikan sebagai salah satu bentuk kehidupan juga berintikan kerja sama dan interaksi. Dalam pendidikan interaksional menekankan interaksi dua pihak dari guru kepada peserta didik dan dari peserta didik kepada guru. Lebih dari itu, interaksi ini juga terjadi antara peserta didik dengan materi pembelajaran dan dengan lingkungan, antara pemikiran manusia dengan lingkungannya. Interaksi ini terjadi melalui berbagai bentuk dialog. Dalam pendidikan interaksional, belajar lebih sekedar mempelajari fakta-fakta. Peserta didik mengadakan pemahaman eksperimental dari fakta-fakta tersebut, memberikan interpretasi yang bersifat menyeluruh serta memahaminya dalam konteks kehidupan. Filsafat


9 yang melandasi pendidikan interaksional yaitu filsafat rekonstruksi sosial. Pendidikan interaksional menjadi sumber untuk pengembangan model kurikulum rekonstruksi sosial, yaitu model kurikulum yang memiliki tujuan utama menghadapkan para peserta didik pada tantangan, ancaman, hambatan-hambatan atau gangguan-gangguan yang dihadapi manusia. Peserta didik didorong untuk mempunyai pengetahuan yang cukup tentang masalah-masalah sosial yang mendesak dan bekerja sama untuk memecahkannya. 5. Manajemen Pendidikan 1. Pengertian Manajemen Pendidikan Manajemen merupakan kegiatan yang dilakukan oleh seorang manajer untuk mendorong sumber daya manusia yang ada di dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuan yang telah disepakati dengan memanfaatkan sumber daya lainnya yang ada dalam organisasi (Wijaya dan Rifai’I, 2016). Pendapat di atas sejalan dengan pendapat oleh Abdullah (2014) yang menyatakan bahwa manajemen merupakan keseluruhan kegiatan dalam menyelesaikan tugas dalam organisasi melalui fungsi manajemen untuk mencapai tujuan yang telah disepakati. Selain berupa kegiatan, manajemen juga merupakan suatu proses untuk mengkoordinasikan kegiatan operasional yang dilakukan oleh masing-masing sumber daya manusia yang ada dalam organisasi untuk mencapai tujuan yang tidak mungkin dapat dilakukan oleh sendirian oleh manager (Ismainar, 2015). Jadi manajemen merupakan serangkaian proses kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi melalui pemanfaatan orang lain dalam mengelola sumber daya yang ada dalam organisasi. Manajemen pendidikan merupakan proses kerja yang sistematik, sistemik dan komprehensif untuk mengembangkan pendidikan dan mencapai tujuan pendidikan melalui pelaksanaan fungsi manajemen (Andang, 2014). Pendapat lain mengatakan bahwa manajemen pendidikan merupakan proses kegiatan usaha yang dilakukan secara terencana dan sistematis untuk mengelola semua kegiatan pendidikan antara pendidik dan peserta didik serta dengan lingkungannya (hapidin, dkk, 2013). Sementara menurut Engkoswara dan Aan (2018) menyatakan bahwa manajemen


10 pendidikan merupakan serangkaian aktivitas mulai dari perencanaan sampai evaluasi serta pelaporan secara sistematis terhadap kegiatan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan yang berkualitas. Hakikat manajemen pendidikan tidak terlepas dari mutu pendidikan. Hakikat manajemen pendidikan ini menyangkut bagaimana kepala sekolah selaku manager di sekolah dalam mengelola seluruh kegiatan pendidikan di sekolah untuk mengembangkan keseluruhan sistem yang terikat secara integral dalam pendidikan yang akhirnya akan bermuara pada peningkatan mutu pendidikan. Mutu pendidikan ini yang menjadi kunci utama untuk mempertahankan keberadaan dan peningkatan prestasi peserta didik di satuan pendidikan yang dipimpin oleh kepala sekolah. Jadi manajemen pendidikan adalah kegiatan pengembangan pendidikan secara sistematis untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui pelaksanaan fungsi manajemen. 2. Fungsi Manajemen Pendidikan Manajemen pendidikan berfungsi sebagai tolak ukur dalam pengembangan kinerja dari seluruh elemen lembaga pendidikan untuk menciptakan lulusan peserta didik yang berkualitas , bermoral dan berkarakter baik. Menurut (Saebani dan Koko, 2016).Fungsi manajemen pendidikan meliputi: 1) Planning, yaitu upaya perencanaan kegiatan pendidikan berupa program kerja yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan pendidikan. 2) Organizing, yaitu kegiatan mengelola pendidik dan tenaga kependidikan melalui penetapan struktur untuk mengetahui pembagian tugas dan tanggung jawab dari masing-masing elemen yang ada di sekolah. 3) Staffing, yaitu kegiatan menempatkan pendidik dan tenaga kependidikan sesuai dengan kompetensi keahliannya masing-masing mulai dari perekrutan, penempatan, pelatihan, pendidikan dan pengembangan kompetensi keahlian dari pendidik dan tenaga kependidikan yang merupakan aset utama dalam lembaga pendidikan. 4) Directing, yaitu kegiatan pemberian instruksi, bimbingan, arahan, motivasi dan teladan dari kepala sekolah sebagai manager sekolah kepada pendidik dan tenaga kependidikan agar tujuan pendidikan dapat tercapai.


11 5) Coordinating, yaitu kegiatan mengkoordinasikan agar terjadi keseimbangan pelimpahan tugas dan tanggung jawab kepada setiap elemen yang ada dalam lembaga pendidikan. 6) Controlling, yaitu kegiatan mengevaluasi terhadap keseluruhan kegiatan pendidikan yang telah dilaksanakan untuk dijadikan koreksi perbaikan untuk pelaksanaan kegiatan pendidikan yang akan datang. Sedangkan menurut (Maujud, 2018) fungsi manajemen pendidikan meliputi: 1) Perencanaan adalah proses penetapan keputusan, kegiatan dan proses kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapaitujuan. 2) Pengorganisasian adalah proses pembagian tugas dan tanggung jawab dalam integrasi hubungan kerja sesuai dengan bidang kerja masingmasing untuk mencapai tujuan. 3) Pengawasan adalah tindakan penilaian dan koreksi terhadap kegiatan pendidikan yang dilakukan oleh pendidik dan tenaga kependidikan agar sesuai dengan arah pencapaian tujuan. Jadi fungsi manajemen pendidikan dijalankan oleh kepala sekolah selaku manager di satuan pendidikan untuk melaksanakan kegiatan pendidikan yang dimulai dari kegiatan perencanaan sampai dengan kegiatan pengawasan untuk menilai kegiatan pendidikan yang telah dilakukan untuk mencapai tujuan pendidikan. 3. Tujuan Dan Manfaat Manajemen Pendidikan Manajemen pendidikan perlu dilakukan dalam dunia pendidikan untuk mengelola kegiatan pendidikan dalam satu satuan pendidikan. Manajemen pendidikan dilaksanakan dengan tujuan untuk membentuk moral dan karakter peserta didik sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi tumbuh menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003). Tujuan pendidikan sebagai acuan pelaksanaan manajemen pendidikan. Adapun tujuan dan manfaat manajemen pendidikan menurut (Usman, 2013) dapat diuraikan sebagai berikut:


12 1) Mewujudkan proses pembelajaran dan suasana belajar yang menyenangkan, kreatif, edukatif, aktif dan bermakna. 2) Aktif menciptakan potensi peserta didik. 3) Mengoptimalkan peran tenaga pendidik sebagai manager di lingkungan sekolah. 4) Mencapai tujuan pendidikan nasional secara efektif dan efisien. 5) Membekali tenaga pendidik dengan ilmu manajemen sebagai dasar untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik. 6) Mengatasi masalah manajemen di lingkungan sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikan. 7) Menciptakan masalah pendidikan yang tidak menyangkut SARA. 8) Menciptakan Citra positif pendidikan. Sedangkan menurut (Saebani dan Koko, 2016) tujuan dan manfaat manajemen pendidikan sebagai berikut: 1) Membangun karakter dan mental peserta didik yang kuat dalam menghadapi cobaan dan cerdas dalam menyelesaikan masalah. 2) Mewujudkan generasi muda yang berakhlak, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 3) Mewujudkan generasi muda yang cerdas yang bermanfaat bagi kehidupan orang lain. Jadi tujuan dan manfaat manajemen pendidikan harus sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi tumbuh menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003). 4. Ruang Lingkup Manajemen Pendidikan Manajemen pendidikan sebagai proses dalam melaksanakan kegiatan pendidikan tentu saja tidak terlepas dari fungsi manajemen pendidikan mulai dari tahap perencanaan sampai pada tahap pengawasan terhadap sumber daya yang ada dalam lingkungan pendidikan. Menurut (Rohiat, 2010) Ruang lingkup manajemen pendidikan meliputi:


13 1) Manajemen Kurikulum. Kurikulum menjadi penentu utama kegiatan di sekolah. Kurikulum harus dirumuskan sedemikian rupa agar tidak bertentangan dengan filsafat dan cita-cita bangsa, perkembangan peserta didik, tuntutan dan perkembangan di masyarakat. Kepala sekolah harus memahami konsep dasar manajemen kurikulum yang dijadikan sebagai acuan dalam membuat keputusan dalam mengimplementasikan kurikulum yang akan dilakukan oleh pendidik supaya semua pendidik memiliki persepsi yang sama terhadap kurikulum yang ditetapkan di satuan pendidikan yang dipimpin kepala sekolah. 2) Manajemen Peserta Didik. Manajemen peserta didik menyangkut kegiatan pengelolaan masalah peserta didik di sekolah. Tujuan manajemen peserta didik adalah untuk mengelola peserta didik mulai dari perencanaan sampai lulus sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. 3) Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Manajemen pendidik dan tenaga kependidikan menjadi tanggung jawab kepala sekolah. Kepala sekolah harus mampu mengetahui kompetensi masing-masing pendidik dan tenaga kependidikan, memanfaatkan kompetensi masing-masing pendidik dan tenaga kependidikan dalam pencapaian tujuan pendidikan, memberikan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan dan memberikan promosi jabatan kepada pendidik dan tenaga kependidikan yang memiliki kinerja baik. 4) Manajemen Sarana dan Prasarana. Manajemen sarana dan prasarana menyangkut persiapan keseluruhan peralatan/material bagi pencapaian tujuan pendidikan. kegiatan manajemen sarana dan prasarana dimulai dari kegiatan perencanaan kebutuhan, pengadaan sarana dan prasarana, penyimpanan, penginventarisasian, pemeliharaan dan akhirnya pemusnahan sarana dan prasarana yang sudah tidak layak pakai. 5) Manajemen Keuangan Penanggung jawab. manajemen pembiayaan pendidikan adalah kepala sekolah. Manajemen keuangan meliputi kegiatan perencanaan, penggunaan, pencatatan, pelaporan dan pertanggungjawaban dana yang digunakan sesuai perencanaan.


14 6) Humas Humas berperan untuk menjembatani kebutuhan sekolah dengan masyarakat sehingga terbina hubungan yang timbal balik antara sekolah dengan masyarakat. 7) Layanan Khusus. Layanan khusus dilakukan untuk mendukung keberhasilan kegiatan pendidikan seperti UKS, bimbingan konseling, kantin sekolah dan lainnya yang berbeda di tiap satuan pendidikan. 6. Satuan Pendidikan Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan. Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan. Berdasarkan jenjangnya, satuan pendidikan terbagi menjadi pendidikan dasar (SD dan SMP), pendidikan menengah (SMA dan SMK), dan pendidikan khusus (SDLB, SMPLB, SMALB, dan SLB). 1. Pendidikan formal Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. pendidikan formal merupakan bagian dari pendidikan nasional, dan secara singkat pengertian pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang sistematis, terstruktur, bertingkat dan berjenjang yang terdiri dari pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.12 Pendidikan formal merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah atau perguruan tinggi yang biasa disebut dengan lembaga pendidikan. Dalam pelaksanaan pendidikan formal, sekolah merupakan tempat terbaik, dimana dalam pelaksanaan pendidikan sekolah memiliki suatu organisasi dan rencana yang tersusun rapi dalam melaksanakan aktivitasnya dengan sengaja hal ini disebut dengan kurikulum. tujuan pendidikan formal yaitu ; 1) Pendidikan yang bertujuan untuk membantu keluarga untuk mendidik dan mengajar, memperbaiki dan memperdalam serta memperluas, tingkah laku


15 anak yang dibawa dari keluarga serta membantu mengembangkan bakat yang ada dalam diri peserta didik. 2) Pendidikan formal bertujuan untuk mengembangkan kepribadian peserta didik secara terarah melalui kurikulum. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik mampu bergaul dengan baik kepada guru, karyawan dan teman serta masyarakat sekitar, agar peserta didik mampu belajar taat kepada peraturan dan disiplin, serta untuk mempersiapkan peserta didik agar mampu terjun di masyarakat dengan norma-norma yang berlaku dan sesuai dengan peraturan yang ada. Tingkat pendidikan formal yang disebutkan dalam UU RI No.20 tahun 2003 ada tiga macam, yaitu : 1) Pendidikan Dasar. Pendidikan dasar merupakan pendidikan yang diselenggarakan untuk memberikan bekal dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat berupa pengembangan sikap, pengetahuan dan ketrampilan dasar. Dimana pendidikan dasar ini ada untuk mempersiapakan peserta didik untun dapat memenuhi persyaratan dalam melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah. Pendidikan dasar yang sesuai dengan Undang-undang RI No.20 Tahun 2003 yaitu meliputi Taman Kanak-kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD)/ sederajat. 2) Pendidikan Menengah. Pendidikan menengah merupakan pendidikan yang diselenggarakan untuk memperluas dan melanjutkan pendidikan dasar, serta mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjadi anggota masyarakat, dimana seseorang dalam pendidikan menengah ia telah mampu mengadakan hubungan timbal balik dengan masyarakat, dengan lingkungan budaya dan alam sekitar. pendidikan menengah sesuai yang ada didalam UU RI No. 20 Tahun 2003 yaitu Sekolah Menengah Pertama (SMP) /sederajat, dan Sekolah Menengah Atas (SMA) /sederajat 3) Pendidikan Tinggi Pendidikan tinggi adalah kelanjutan dari pendidikan menengah, dimana pendidikan tinggi ini lebih mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik atau profesional yang mampu mengembangkan atau menciptakan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan tinggi ini


16 merupakan pendidikan yang diselenggarakan oleh universitas, perguruan tinggi, institut dan sederajat. 2. Pendidikan nonformal Pendidikan non formal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Marzuki (2012:137) berpendapat bahwa pendidikan nonformal merupakan aktivitas belajar diluar sistem persekolahan atau pendidikan formal yang dilakukan secara teorganisir, Pendidikan nonformal dilaksanakan terpisah maupun merupakan bagian penting dari suatu kegiatan yang lebih besar untuk melayani sasaran didik tertentu dan belajarnya tertentu pula. Selain itu Miradj & Sumarno (2014:9) mengatakan bahwa pendikan nonformal merupakan salah satu jalur pendidikan yang dapat dipilih oleh sebagian masyarakat, selain jalur pendidikan formal. Pendidikan nonformal mempunyai sifat pembelajaran yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat, fleksibel, bertumpu pada kecakapan hidup mempunyai kemampuan untuk menembus seluruh lapisan masyarakat. Pendidikan nonformal sebagai sumber pembelajaran kepada masyarakat harus dapat dilihat sebagai daya dukung terhadap realisasi dan pengelolaan program, dan dijadikan sebagai pengembangan program di masa yang akan datang. Selain itu Farrow, Arcos, Pitt & Weller (2015: 51) mengatakan bahwa pembelajaran non-formal adalah aspek yang signifikan dari pengalaman belajar. Belajar sekarang dapat terjadi dalam berbagai cara melalui komunitas praktik, jaringan pribadi, dan melalui penyelesaian tugas-tugas yang berhubungan dengan pekerjaan. Belajar adalah proses berkelanjutan, yang berlangsung seumur hidup. Berdasarkan definisi-definisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan nonformal merupakan jenis pendidikan yang diselenggarakan diluar pendidikan formal yang direncanakan dengan matang dan berorientasi pada pembelajaran mandiri. Pendidikan nonformal bertujuan agar kelompok, peserta didik, atau masyarakat dapat memiliki sikap dan cita-cita sosial guna meningkatkan taraf hidup yang lebih baik. Sifat-sifat pendidikan nonformal yaitu: 1) Pendidikan nonformal lebih fleksibel


17 Pendidikan nonformal lebih fleksibel, artinya penyelenggaraan disesuaikan dengan kesempatan yang ada, dapat beberapa bulan, beberapa tahun, atau beberapa hari saja. Dari segi tujuan, maka tujuan pendidikan nonformal bisa luas dan juga bisa sepesifik sesuai dengan kebutuhan. Serta pengajarnya tidak perlu syarat yang ketat, hanya dalam pelajaran serta metode disesuaikan dengan besarnya kelas. 2) Pendidikan nonformal lebih efektif dan efisien untuk bidang- bidang pelajaran tertentu Bersifat efektif oleh karena program pendidikan nonformal bisa spesifik sesuai dengan kebutuhan dan tidak memerlukan syarat- syarat (guru, metode, fasilitas lain) secara ketat. Efisien karena tempat penyelenggaraannyapun dapat dimana saja seperti di sawah, bengkel, pasar, rumah, maupun tempat kerja yang lain. 3) Pendidikan nonformal bersifat quick yielding Artinya dalam waktu yang singkat dapat digunakan untuk melatih tenaga kerja yang dibutuhkan, terutama untuk memperoleh tenaga yang memiliki kecakapan. 4) Pendidikan nonformal sangat instrumental Pendidikan yang bersangkutan bersifat luwes, mudah, dan murah sehingga dapat menghasilkan dalam waktu yang relatif singkat. Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta lembaga sejenis. Pendidikan non formal paling banyak ditemui pada pendidikan anak usia dini, serta pendidikan dasar, adalah TPA, atau Taman Pendidikan Al Quran, yang banyak terdapat di Masjid dan Sekolah Minggu, yang terdapat di semua Gereja. Selain itu, ada juga berbagai kursus, diantaranya kursus memasak, musik, bimbingan belajar dan sebagainya. Termasuk pendidikan kesetaraan meliputi Paket A, Paket B dan Paket C, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. Seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, majelis taklim, sanggar, dan lain sebagainya, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.


18 3. Pendidikan informal Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan tertentu pada kegiatan belajar individu yang dilaksanakan dengan sikap yang bertanggung jawab. Pendidikan informal merupakan pendidikan yang diperoleh seserang melalui pengalaman sehari-hari secara sadar atau tidak sadar. Pendidikan informal didapatkan sejak lahir sampai menutup usia di dalam keluarga atau pergaulan sehari-hari. Tidak ada persyaratan khusus ataupun umum bagi peserta didik. Tidak ada batasan usia dan waktu. Tidak memiliki kurikulum resmi dalam proses pembelajaran. Pendidikan informal meliputi pendidikan secara langsung dan berkaitan dengan pribadi anak dengan pergaulan lingkungan. Menurut UU Sisdiknas, pendidikan informal merupakan jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Sedangkan menurut Mooridjan, seorang pengamat pendididkan dikatakan bahwa pusat pendidikan adalah di dalam rumah dengan ibu dan ayah sebagai pendidik. Ciri-ciri pendidikan informal di antaranya adalah pendidikan dilakukan dalam lingkungan keluarga. Tidak ada persyaratan khusus yang berlaku dalam pendidikan informal. Anda tidak perlu mengikuti ujian yang diselenggarakan karena dalam pendidikan informal tidak adan hal pasti yang dapat diujikan. Dalam pendidikan informal tidak berlaku kurikulum dan tidak ada jenjang pendidikan atau tingkatan dalam pendidikan. Pendidikan informal dilakukan tanpa adanya batasan waktu dan ruang, dan guru dalam pendidikan informal adalah orang tua. Contoh jalur dalam pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan dapat berupa pendidikan budi pekerti, pendidikan agama, pendidikan etika, pendidikan sopan santun, pendidikan moral, dan sosialisasi dengan lingkungan. Anda bisa mendapatkan pendidikan informal juga melalui lingkungan pendidikan formal yang baik, melalui guru pengajar yang terbaik. 7. Jenis pendidikan Jenis pendidikan terbagi menjadi 4 yaitu: a. Pendidikan Umum Contoh: Penerapan Pedagogi dan Andragogi pada Pendidikan Kesetaraan di Kelurahan Sunyaragi


19 b. Pendidikan Kejuruan Contoh: Efektivitas Pemberdayaan Tim Pelaksana Usaha Kesehatan Pengaruhnya terhadap Kesehatan Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 1. c. Pendidikan Khusus Contoh: Pendidikan Nonformal dalam Upaya Peningkatan Ekonomi Anak Jalanan Kota Cirebon d. Pendidikan Luar Biasa Contoh: Peningkatan Prestasi Belajar Matematika melalui Media Gelas Bilangan pada Anak Tunagrahita Ringan kelas IV di SLB Bakti Putra Ngawis Karangmojo Gunungkidul. 8. Program Pendidikan Program pendidikan adalah kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan dalam rangka mencapai tujuan-tujuan pendidikan, sesuai dengan strategi dan kebijakan pendidikan yang telah diterapkan (Ananda, 2016:9). Adapun berikut ini merupakan 7 program prioritas pendidikan pada tahun 2021 dari Mendikbudristek Nadiem Makarim, di antaranya yaitu: 1) Pembiayaan pendidikan Melalui beberapa program seperti Indonesia pintar atau Kartu Indonesia Pintar (KIP) sekolah, KIP kuliah, tunjangan profesi guru hingga pembinaan sekolah Indonesia luar negeri. 2) Digitalisasi Sekolah Digitalisasi sekolah adalah bentuk kemerdekaan bagi peserta didik untuk mendapatkan informasi dan konten yang setara, seperti konten-konten kurikulum yang baik dan konten pengajaran. 3) Sekolah Penggerak dan Guru Penggerak Peningkatan mutu tidak bisa diwujudkan tanpa adanya peningkatan mutu dari guru. 4) Peningkatan Kualitas Kurikulum dan Asesmen Kompetensi Minimum Dalam hal ini bukan lagi masalah penguasaan materi, melainkan berkaitan dengan kemampuan mengolah informasi dan bernalar kritis. 5) Revitalisasi Pendidikan Vokasi


20 Dalam hal ini, fokus utamanya yaitu peningkatan kualitas SDM, serta melengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan. 6) Program Kampus Merdeka Program kampus merdeka juga membebaskan mahasiswa untuk mendapatkan kesempatan dalam mengembangkan diri dan pengalaman di luar kampus. 7) Pemajuan Budaya dan Bahasa Program pemajuan budaya dan bahasa ini sangat bermanfaat, untuk menjaga dan menanamkan nilai-nilai budaya pada generasi kita. 9. Proses pembelajaran Aunurrahman mengemukakan pendapatnya bahwa pembelajaran merupakan proses aktivitas dari mengajar yang dapat membuat seseorang menjadi belajar untuk memperoleh suatu perubahan dan tingkah laku yang baru. Sedangkan Arief S. Sadiman mengemukakan pendapatnya bahwa proses pembelajaran pada hakikatnya merupakan proses interaksi antara guru dan peserta didik. Prosesnya yaitu penyampaian pesan dari guru melalui media tertentu ke penerima pesan atau peserta didik. Pesan yang akan disampaikan oleh guru kepada peserta didik adalah isi ajaran atau materi yang ada pada kurikulum. Adapun hal hal dalam proses pembelajaran ialah: a. Kurikulum, silabus b. Teknologi pembelajaran c. Media pendidikan, buku ajar dll d. Penampilan mengajar guru e. Manajemen kelas f. Sistem evaluasi belajar g. Sistem ujian akhir 10. Kontribusi Pendidikan Bagi Bangsa Dan Negara Kontribusi pendidikan mempunyai tiga hal utama dalam pembangunan suatu bangsa, yaitu sumber daya manusia, teknologi dan dana. Semakin besar jumlah sumberdaya manusia semakin besar pendapatan nasional dan semakin tinggi pertumbuhan Ekonomi Negara. Meskipun sumber daya manusia yang


21 terbatas, Negara maju memberikan dukungan finansial yang cukup dan memadai contohnya jepang, sumber daya manusia yang terbatas tetapi dari modal dasar lainnya unggul sehingga dapat meningkatkan pendapatan nasional dalam peningkatan kesejahteraan warganya. Di negara-negara maju faktor kualitas sudah menjadi prioritas utama sedangkan pada negara-negara berkembang faktor kuantitas masih menjadi arah pembangunan manusia, Ada beberapa hal yang dapat dijadikan acuan dalam menentukan kualitas manusia, yaitu: aspek kesehatan, aspek Pendidikan, aspek ekonomi, aspek aktualisasi diri, dan aspek kehidupan social. Aspek pendidikan memiliki peranan penting dalam kualitas manusia, karena melalui pendidikan,manusia dianggap memperoleh pengetahuan yang dapat membangun keberadaan hidupnya yang lebih baik. Ada beberapa Teori utama, yaitu teori modal manusia,teori alokasi dan teori reproduksi strata social. Teori modal manusia ialah proses dimana pendidikan memiliki pengaruh positif pada pertumbuhan ekonomi. Pada Teori persaingan status memperlakukan pendidikan sebagai suatu lembaga social sebagai fungsi mengalokasikan personil menurut strata pendidikan. Dengan keterbatasan yang dimiliki,seperti sumber daya manusia,capital atau dana,dan teknologi demi upaya yang segnifikan untuk mengangkat sumber daya manusia dengan keunggulan untuk menemukan dan teknologi bagi kemajuan bangsa. Karena tanggung jawab tersebut tidak semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah dan pihak-pihak berkempentingan lainnya. Faktor manusia sangat menentukan dalam pembangunan. Tetapi dalam jangka panjang tentu sangat dikeluarkan untuk upah ahli asing lebih besar dari ahli dalam negeri. Bila dilihat dari besarnya investasi di bidang pendidikan,kondisi ini lebih baik dibandingkan dengan china. Keadaan di Indonesia jauh lebih kecil. Dampak dari kesepakatan global dalam bidang ekonomi sesuai dengan berbagai kesepakatan regional dan internasional, mengharuskan Indonesia pada suatu situasi persaingan yang ketat. Dengan demikian,peningkatan investasi di bidang pendidikan tidak bisa dihindarkan, baik oleh pemerintah maupun swasta. Sebenarnya, setiap tahun pemerintah telah meningkatkan anggaran sector pendidikan melalui berbagai


22 program seperti dana kompensasi bahan bakar minyak ataupun melalui BOS (bantuan operasional sekolah). Kebanyakan masyarakat kita menganggap ukuran keberhasilan hidup seseorang dari kemampuan ekonomi seseorang tersebut, memang tidak seluruhnya salah tetapi ada suatu hal yang harus diluruskan. Keberhasilan suatu negara untuk memajukan pendidikan akan membawa perubahan tidak hanya pada sektor ekonomi,akan tetapi ada sektor politik, sosial, dan budaya. Banyak ahli yang menjelaskan berbagai teorinya mengenai sumber daya manusia, seperti pendapat Mulyadi S.(2003: 4-13) yaitu: a. Teori Klasik Adam Smith (1729-1790) yaitu mekanisme pencapaian tingkat kemakmuran dapat tercapai tanpa adanya campur tangan pemerintah, diamana mekanisme pasar menjadi alat alokasi sumber daya yang efesien. b. Teori Klasik J.B. Say (1767-1832) yaitu penawaran akan menciptakan permintaan sendiri secara alami, maksudnya naik pendapatan suatu Negara bukan ditentukan banyaknya jumlah uang yang beredar melainkan produksi barang dan jasa yang dilakukan. c. Teori Malthus (1766-1834) yaitu berpendapat bahwa penduduk akan memengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi dimana pertambahan penduduk meningkat secara deret ukur. d. Teori Keynes(1883-1946) yaitu tingkat upah yang diterima oleh tenaga kerja pada masa sekarang dipengaruhi oleh negosiasi upah pada masa lalu. e. Teori Harrod-Domar(1946) adalah perlu adanya pembentukan modal atau investasi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang teguh. Salah satu kunci keberhasilan pembangunan ekonomi adalah komitmen yang kuat dalam membangun pendidikan. Contoh lain di Korea yang terungkap dari berbagai studi yang menunjukkan, basis pendidikan di Korea memang sangat kokoh. Pemerintah Korea mengambil langkah-langkah ekspansif di tahun 1960-an dan 1990-an guna memperluas akses pendidikan bagi segenap warga negaranya. Program wajib belajar pendidikan dasar (universal basic education) sudah dilaksanakan sejak lama dan berhasil dituntaskan pada tahun 1965, sementara


23 Indonesia baru memulainya pada tahun 1984. Sedangkan wajib belajar jenjang SLTP berhasil dicapai pada tahun 1980-an, dan jenjang SLTA hampir bersifat universal pada periode yang sama. Setelah merasa cukup berhasil pemerintah korea menurunkan anggaran untuk pendidikan antara 14 sampai dengan 17 persen dari total belanja negara atau sekitar 2,2 sampai 4,4 persen dari GNP. Pemerintah Korea menyadari benar bahwa pendidikan dasar sangat penting bagi kehidupan seseorang selanjutnya sehingga mengalokasikan anggaran untuk pendidikan dasar jauh lebih besar dibandingkan level menengah dan tinggi. Seiring berkembangnya zaman biaya pendidikan semakin tinggi hal ini menjadikan salah satu hal yang perlu dipersiapkan oleh orang tua di masa depan untuk anak-anak nya yaitu biaya pendidikan mulai dari jenjang taman kanak-kanak sampai jenjang perguruan tinggi. Meskipun pemerintah memberikan jaminan pendidikan gratis orang tua tetap harus menyiapkan dana pribadi. tentunya orang tua menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya,seperti menimba ilmu disekolah swasta yang fasilitas dan pengajaran canggih atau kuliah di perguruan tinggi swasta dengan jurusan tertentu. Namun tidak semua oran tua memiliki kemampuan finansial yang mapan. Hal ini yang menyebabkan banyaknya orang tua yang terlambat atau menunda persiapan pendidikan anak-anak mereka di tengah inflasi pendidikan yang terus meningkat. Perlu diketahui bahwa rata-rata biaya pendidikan di Indonesia naik 15% hingga 20% per tahun. Sebagai solusinya, orang tua harus merencanakan sedini mungkin pendidikan anak, sehingga masa depan anak-anak bisa terjamin. Jaminan ini juga meliputi berbagai jenis produk rencana pendidikan, termasuk tabungan, investasi, maupun proteksi pendidikan. 11. Ilmu-ilmu pendukung Pendidikan Adapun ilmu bantu dalam pendidikan adalah ilmu ilmu yang dijadikan landasan untuk membantu proses pendidikan yang merupakan strategi, cara berpikir atau model berpikir dalam masalah pendidikan, ilmu-ilmu itu adalah: a) Filsafat


24 Ilmu filsafat ini dapat memberi inspira bagi para pendidikan untuk melaksanakan ide tertentu dalam pendidikan. Melalui filsafat tentang pendidikan, filososf memamparkan idenya bagaimana pendidikan itu, kemana diarahkan pendidikan itu, siapa saja yang patut menerima pendidikan itu dan bagaimana cara mendidik serta peran didik. Pendidikan menurut filsafat ini bertujuan mengembangkan kesadaran individu, memberi kesempatan untuk bebas memilih etika, mendorong pengetahuan diri sendiri, bertanggung jawab sendiri dan mengembangkan komitmen diri, peserta didik perlu mendapatkan pengalaman sesuai dengan perbedaan-perbedaan individual mereka, guru harus bersifat demokratis dengan tehnik mengajar tidak langsung. b) Agama Pendidikan agama disekolah bertujuan untuk membina dan menyempurnakan pertumbuhan dan kepribadian anak didik, pendidikan agama disekolah meliputi dua aspek yang penting: Aspek pembentukkan (yang ditunjukkan kepada jiwa) Tugas guru adalah menyadarkan anak didik tentang adanya Tuhan, melatih anak didik untuk melakukan ibadah, membiasakan anak didik untuk bersopan santun dan berakhlak yang mulia. Aspek Pengajaran Agama (ditunjukkan kepada fikiran) Tugas guru adalah menunjukkan apa yang disuruh dan apa yang dilarang sesuai dengan ajaran agama. Jadi pendidikan agama tidak boleh lepas dari pengajaran agama, artinya pengetahuan, pemahaman, norma-norma, kewajiban-kewajiban, dan hukum-hukum yang berlaku. c) Psikologi Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala/ prosesproses yang ada dijiwa manusia, jiwa adalah roh dalam keadaan mengendalikan jasmani yang dapat dipengaruhi oleh alam sekitar, psikologi pendidikan perlu dipelajari oleh setiap calon guru karena dengan mempelajari psikologi anak dan remaja ia akan mendaptkan bantuan yang sangat berharga dalam mengembangkan tugasnya selaku pendidik. Peran guru adalah membantu para siswa mengubah tingkah lakunya sesuai dengan arah proses perubahan yang diinginkan, dalam hal ini terdapat faktor utama


25 yakni perubahan tingkah laku dan kriteria (arah yang diinginkan secara khusus) yang dirumuskan dalam tujuan pendidikan. Pengajaran disesuaikan dengan perkembangan anak, karena jiwa anak dinamis dan aktif mak apelajaran harus dapat menyalurkan dinamika mereka dalam bentuk belajar lewat kegiatan-kegiatan tertentu, psikologi belajar adalah perubahan perilaku yang relatif permanen sebagai hasil pengamatan (bukan hasil perkembangan, pengaruh obat atau kecelakaan) dan bisa melaksanakannya pada pengetahuan lain serta mampu mengkomunikasikannya kepada orang lain. Kesiapan belajar yang bersifat efektif dan kognitif perlu diperhatikan oleh pendidik agar materi yang dipelajari anak-anak dapat dipahami dan diinternalisasi dengan baik kesiapan afeksi harus dikembangkan dengan model pengembangan motivasi, sedangkan kesiapan kognisi dipelajari dari perkembangan seorang anak didik. d) Sosiologi Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antar manusia dengan kelompok-kelompok dan struktur sosialnya. Pendidikan yang diinginkan oleh mayarakat ialah proses pendidikan yang bisa memperhatikan dan meningkatkan keselarasan hidup dalam pergaulan manusia untuk mewujudkan cita-cita, pendidikan sangat membutuhkan bantuan sosiologi, konsep teori sosiologi memberi petunjuk –petunjuk kepada guru-guru tentang bagaimana seharusnya mereka membina para siswa agar mereka bisa memiliki kebiasaan hidup yang harmonis, bersahabat dan akrab sesama teman. Para guru dan pendidik lainnya akan menerapkan konsep sosiologi dilembaga pendidikan masing-masing, dalam aspek sosiologi ini, sekolah harus dapat menggantikan peranan sosialisasi keluarga, sebab banyak ibu-ibu yang banyak berkerja, anak-anak perlu diberi kesempatan belajar sambil bergaul dan berkerja. e) Antropologi Antropologi berasal dari bahasa Yunani"antrphos" yang berarti manusia dan "logos" yang berarti ilmu, jadi antropologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang manusia sebagai makhluk bermasyarakat, sedangkan antropologi pendidikan adalah sebuah kajian sistematik, tidak hanya mengenal praktik pendidikan dalam perspektif budaya tetapi juga dengan asumsi yang dipakai


26 antropologi terhadap pendidikan dan asumsi yang dicerminkan oleh praktik-praktik pendidikan. Pendidikan dapat diperoleh melalui lembaga formal, non formal dan informal, penyampaian kebudayaan melalui lembaga informal tersebut dilakukan semenjak kecil dilingkungan keluarga, dalam masyarakat pendidikan memiliki fungsi yang besar dalam memahami kebudayaan sebagai satu keseluruhan. Kebudayaan terus berubah sejalan dengan perkembangan zaman, percepatan perkembangan ilmu dan tehnologi serta perkembangan kepandaian manusia, pendidikan adalah suatu proses membuat orang kemasukkan budaya, membuat orang berperilaku mengikuti budaya yang memasuki dirinya, jadi kebudayaan menyangkut seluruh cara hidup dan kehidupan manusia yang diciptakan oleh manusia ikut mempengaruhi pendidikan atau perkembangan anak, dan sebaliknya pendidikan juga bisa mengubah kebudayaan. f) Sejarah Sejarah adalah keadaan masa lampau dengan segala macam kejadian atau kegiatan yang dapt didasari oleh konsep-konsep tertentu, sejarah dalam pendidikan merupakan motivasi yang kuat sebagai faktor penggerak dalam diri manusia dalam hal ini nilai-nilai masa lampau yang telah teruji oleh zaman, adapun fungsi sejarah adalah mengabdikan pengalaman-pengalaman masyarakat diwaktu yang lampau yang menjadi bahan pertimbangan bagi masyarakat dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Perkembangan manusia adalah sama dengan perkembangan alam, mulai dari kuncup menjadi mekar, sehingga tugas pendidik adalah mengontrol pertumbuhan anak agar menuju kearah yang benar sebagai anak manusia baik dan juga harus mengetahui tingkatan-tingkatan perkembangan mental anak dengan baik, maka perlu mempelajari perkembangan mental jenis manusia dalam sejarah kehidupan. g) Ekonomi Dalam dunia pendidikan faktor ekonomi bukan sebagai pemegang peran yang utama melainkan sebagai pemeran yang cukup menentukkan keberhasilan pendidikan, sebab ekonomi merupakan salah satu dari bagian sumber pendidikan yang membuat anak mampu mengembangkan afeksi, kognisi dan keterampilan.


27 Dengan demikian ekonomi pendidikan yang berfungsi sebagai materi pelajaran dalam masalah ekonomi kehidupan manusia seperti diketahui anak-anak jika dewasa kelak kehidupannya tidak akan lepas adri kegiatan ekonomi, sebagaimana disebutkan diatas ekonomi cukup menentukkan keberhasilan pendidikan, sebab dengan ekonomi yang memadai: a. Prasarana, sarana, media, alat belajar, dan kebutuhan lainnya terpenuhi b. Proses belajar mengajar bisa dilaksanakan dengan baik dan intensif c. Motivasi dan kegairahan kerja personalia pendidikan meningkat mereka siap pula untuk meningkatkan profesi. Adapun fungsi ekonomi pendidikan adalah : Untuk menunjang kelancaran proses Pendidikan dan Bahan pelajaran untuk membentuk manusia ekonomi (memiliki etos kerja dan prokduktif). h) Hukum Hukum berarti melandasi atau mendasariatau titik tolak, landasan hukum dapat diartikan peraturan tertentu sebagai tempat berpijak atau titik tolak dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu, dalam hal ini kegiatan pendidikan, tetapi tidak semua kegiatan pendidikan dilandasi oleh aturan-aturan, cukup banyak pendidikan yang dilandasi oleh aturan lain seperti aturan kurikulum, aturan cara mengajar, cara membuat persiapan, apalagi bila dikaitkan dengan mengajar atau seni mendidik sangat banyak kegiatan pendidikan yang dikembangkan sendiri oleh para pendidik, kegiatan pendidik yang dilandasi oleh hukum antara lain adalah calon siswa SD tidak harus lulusan TK, masyarakat harus membantu pembiayaan pendidikan adanya kerjasama antara masyarakat dan sekolah. 12. Fungsi penelitian Pendidikan Penelitian pendidikan pada hakikatnya tidak berbeda dengan penelitian ilmuilmu perilaku manusia pada umumnya, terutama dari segi metodologisnya. Perbedaan hanya dalam bidang kajian, masalah dan variable yang diteliti, tujuan dan manfaatnya. Secara umum fungsi penelitian pendidikan dapat dibedakan menjadi : Pengembangan ilmu pendidikan, artinya penelitian pendidikan yang ditujukan untuk kepentingan pengembangan ilmu pendidikan itu sendiri


28 termasuk ilmu-ulmu bantunya. Penelitian untuk pengembangan ilmu sering disebut penelitian murni. Pemecahan masalah pendidikan, artinya penelitian pendidikan yang ditujukan untuk memecahkan masalah- masalah pendidikan terutama masalah yang berkenaan dengan kualitas proses pendidikan dan pengajaran, kualitas atau mutu hasil pendidikan efisiensi, dan efektifitas pendidikan, relevansi pendidikan, dan lain-lain. Penelitian kebijaksanaan pendidikan. Penelitian ini hampir sama dengan penelitian pemecahan masalah. Beberapa perbedaan terletak dalam lingkup masalah dan pemanfaatannya. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi para pengambil keputusan pendidikan baik pada tingkat nasional, regional maupun lokal. Penelitian pendidikan yang dapat menunjang pembangunan. Di samping tiga fungsi di atas penelitian pendidikan dapat juga dilaksanakan untuk kepentingan sector pembangunan, khusus yang berkenaan dengan peranan, posisi, tugas dan tanggung jawab pendidikan dalam pembangunan nasional. Ada 5 (lima) fungsi penelitian pendidikan yaitu mencakup: 1. Menunjukan isi dan cara mengajar serta mengorganisasikan dan menjalankan sekolah. 2. Menilai program, prosedur dan bahan-bahan untuk menunjukan hasil pendidikan yang telah dicapai, biaya dalam ukuran waktu, usaha dan bahan-bahan, dan keadaan hasil-hasil yang dicapai. 3. Membentuk suatu badan informasi tentang usaha pendidikan yang bermanfaat dalam penyusunan kebijakan dalam dua pengambilan keputusan. 4. Menyediakan pandangan, rangsangan dan penyuluhan yang berhasil untuk pembaruan pendidikan. 5. Mengembangkan teori yang lebih memadai dan sahih (valid) tentang proses pendidikan serta pengoperasian usaha


29 Daftar Pustaka Amka. (2019). FILSAFAT PENDIDIKAN. Banjarmasin: Nizamia Learning Center. Arwildayanto. (2018). ANALISIS KEBIJAKAN PENDIDIKAN Kajian Teoretis, Eksploratif, dan Aplikatif. Bandung: CENDIKIA PRESS. Abdullah. 2014. Manajemen dan Evaluasi Kinerja Karyawan. Yogyakarta: Aswaja Pressindo. Andang. 2014. Manajemen dan Kepemimpinan Kepala Sekolah. Yogyakarta: ARRUZZ Media. Arief S. Sadiman, dkk. 2012. Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Jakarta. PT Raja Grafindo Persada. Aunurrahman. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta Danuri, Maisaroh. S. 2019. Metode Penelitian Pendidikan. Yogyakarta. Samudra Biru Engkoswara dan Aan Komariah. 2012. Administrasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta. Hapidin, dkk. 2013. Manajemen Pendidikan TK. Tangerang: Universitas Terbuka. Kurniawan. S. 2018. Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya Maujud, Fathul. 2018. Implementasi Fungsi_fungsi Manajemen Dalam Lembaga Pendidikan Islam (Studi Kasus Pengelolaan Madrasah Ibtidaiyah Islahul Muta'allim Pagutan). Jurnal Penelitian Keislaman. Vol.14, No. 1. Munirah. (2015). SISTEM PENDIDIKAN DI INDONEISA antara keinginan dan realita. AULADUNA, 233-345. Rohiat. 2010. Manajemen Sekolah - Teori Dasar dan Praktik. Bandung: PT Refika Aditama. Suprijanto. 2007. Pendidikan Orang Dewasa. Jakarta. Bumi Aksara. Saebani, Beni Ahmad dan Koko. 2016. Filsafat Manajemen Pendidikan. Bandung: CV Pustaka Setia. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Usman, Husaini. 2013. Manajemen: Teori, Praktik dan Riset Pendidikan. Edisi 4, Cetakan 1. Jakarta: Bumi Aksara.


30 Undang-undang No.20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional,12. Wijaya, Candra dan Muhammad Rifa’i. 2016. Dasar-Dasar Manajemen. Medan:Perdana Pubhlishing.


Click to View FlipBook Version