DAR 2/Profesional/027/1/2019
PENDALAMAN MATERI BAHASA INDONESIA
MODUL 1. BAHASA INDONESIA
Nama Penulis:
Prof. Tatat Hartati, M.Ed., Ph.D.
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
2019
Judul : Pendalaman Materi Bahasa Indonesia
Penulis : Prof. Tatat Hartati, M.Ed., Ph.D.
ISBN :
Editor :
Penyunting :
Desain Sampul dan Tata Letak:
Penerbit :
Kemendikbud
Redaksi :
Jl.
Distributor Tunggal :
Cetakan Pertama : 2019
Hak cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang memperbanyak modul ini dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa
ijin tertulis dari penerbit
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha Esa atas kuasa dan
izin-Nya, Modul 1 tentang Pendalaman Materi Bahasa Indonesia Sekolah Dasar
dapat diselesaikan dengan baik. Modul 1 ini disusun dengan tujuan untuk
meningkatkan kemampuan peserta Program Profesi Guru (PPG) dalam
mengembangkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), bahan ajar, media
pembelajaran, Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), dan instrumen penilaian
untuk digunakan dalam pembelajaran di SD. Berdasarkan tujuan tersebut,
Modul 1 ini dikembangkan menjadi empat kegiatan belajar sebagai berikut:
1. Kegiatan Belajar 1: Ragam Teks dan Satuan Bahasa Pembentuk Teks
2. Kegiatan Belajar 2: Struktur, Fungsi, dan Kaidah Kebahasaan Teks Fiksi
3. Kegiatan Belajar 3: Struktur, Fungsi, dan Kaidah Kebahasaan Teks Nonfiksi
4. Kegiatan Belajar 4: Apreasiasi dan Kreasi Sastra Anak
Kami ucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah bekerja keras
dan berkontribusi positif dalam mewujudkan penyelesaian Modul 1 ini. Semoga
Modul 1 ini dapat memandu peserta PPG dalam melaksanakan pembelajaran
mandiri melalui daring, sehingga mereka dapat merencanakan, melaksanakan, dan
melakukan penilaian pembelajaran dengan baik, dan pada akhirnya dapat
dipraktikkan di sekolah tempat mereka bekerja dengan sebaik-baiknya
Bandung, 7 November 2019
Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar .................................................................................................... iii
Daftar Isi ................................................................................................................iv
Kegiatan Belajar 1
A. Pendahuluan ....................................................................................................2
Capaian Pembelajaran .....................................................................................4
C. Subcapaian Pembelajaran ................................................................................4
D. Uraian Materi...................................................................................................4
E. Forum Diskusi................................................................................................66
F. Rangkuman ....................................................................................................66
G. Tes Formatif ..................................................................................................67
H. Kunci Jawaban Tes Formatif.........................................................................73
I. Daftar Pustaka .................................................................................................74
Kegiatan Belajar 2
A. Pendahuluan ..................................................................................................77
B. Capaian Pembelajaran ...................................................................................79
C. Subcapaian Pembelajaran ..............................................................................79
D. Uraian Materi.................................................................................................79
E. Forum Diskusi..............................................................................................149
F. Rangkuman ..................................................................................................149
G. Tes Formatif ................................................................................................150
H. Kunci Jawaban Tes Formatif.......................................................................154
I. Daftar Pustaka ...............................................................................................155
Kegiatan Belajar 3
A. Pendahuluan ................................................................................................158
B. Capaian Pembelajaran .................................................................................161
C. Subcapaian Pembelajaran ............................................................................161
D. Uraian Materi...............................................................................................161
E. Forum Diskusi..............................................................................................221
F. Rangkuman ..................................................................................................221
G. Tes Formatif ................................................................................................222
H. Kunci Jawaban Tes Formatif.......................................................................228
I. Daftar Pustaka ...............................................................................................229
Kegiatan Belajar 4
A. Pendahuluan ................................................................................................233
B. Capaian Pembelajaran .................................................................................235
C. Subcapaian Pembelajaran ............................................................................235
D. Uraian Materi...............................................................................................235
E. Forum Diskusi..............................................................................................281
F. Rangkuman ..................................................................................................281
G. Tes Formatif ................................................................................................282
H. Kunci Jawaban Tes Formatif.......................................................................285
I. Tes Sumatif ...................................................................................................285
J. Daftar Pustaka...............................................................................................
DAR 2/Profesional/027/1/2019
MODUL 1
BAHASA INDONESIA
KEGIATAN BELAJAR 1
RAGAM TEKS DAN SATUAN BAHASA PEMBENTUK TEKS
Nama Penulis:
Tatat Hartati, dkk.
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
2019
KEGIATAN BELAJAR 1
RAGAM TEKS DAN SATUAN BAHASA PEMBENTUK TEKS
A. Pendahuluan
1. Deskripsi Singkat
Pemahaman yang kuat terhadap pola dan variasi teks merupakan modal
budaya atau cultural capital bagi manusia. Pemahaman tentang ragam teks dapat
membantu menciptakan koneksi antara pembaca dan penulis. Pembaca akan
mampu membaca cepat, dan penulis akan mampu mengantisipasi harapan
pembaca ketika membaca tulisannya berdasarkan teks sejenis yang sudah dibaca
sebelumnya.
Dalam KB 1 ini, Saudara akan mempelajari ragam teks dan satuan bahasa
pembentuk teks. Pada pokok bahasan ragam teks, diuraikan materi tentang teks
faktual, teks tanggapan, teks cerita dan teks normatif. Selanjutnya, pada pokok
uraian satuan bahasa pembentuk teks diuraikan materi tentang kalimat dan
paragraf.
2. Relevansi
Modul ini disusun secara cermat sesuai dengan tujuan yang harus dicapai
dalam implementasi kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah
dasar. Materi yang disajikan relevan dengan kompetensi yang harus dimiliki oleh
seorang guru profesional ketika mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan
dalam rangka mencerdaskan generasi bangsa Indonesia.
Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pasal 10
ayat (1) menyatakan bahwa, “Kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi
sosial, dan kompetensi profesional. Kompetensi profesional guru, merupakan
kemampuan di dalam penguasaan materi pembelajaran, konsep, struktur
keilmuan, serta masalah-masalah timbul di dalam pembelajaran. Di dalam mata
pelajaran bahasa Indonesia, salah satu kompetensi yang harus dikuasai adalah
materi kebahasaan tentang ragam teks dan satuan bahasa pembentuk teks. Tidak
hanya menguasai materi, Saudara juga akan mampu mengembangkan materi
ragam teks dan satuan bahasa pembentuk teks secara kreatif dalam kegiatan
pembelajaran di sekolah dasar. Hal ini mengingat siswa sekolah dasar
memerlukan pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan.
Di dalam modul ini, Saudara akan belajar tentang bagaimana memahami
peserta didik dengan karakter dan kemampuan bahasa yang beragam dari segi
perkembangan bahasa, ragam teks dan satuan bahasa pembentuk teks. Di samping
itu Saudara diminta merancang perencanaan pelaksanaan pembelajaran serta
evaluasi pembelajaran bahasa Indonesia yang sesuai dengan konteks ragam teks
dan satuan bahasa pembentuk teks.
3. Petunjuk Belajar
Untuk membantu Saudara memahami modul ini perlu diperhatikan
beberapa petunjuk belajar berikut:
a. Bacalah dengan cermat uraian-uraian penting yang terdapat di dalam modul ini
sampai Saudara memahami secara tuntas tentang apa, untuk apa, dan
bagaimana mempelajari modul ini!
b. Pahamilah pengertian – pengertian yang terdapat di dalam modul ini melalui
pemahaman dan pengalaman sendiri serta diskusikanlah dengan mahasiswa
atau dosen pembimbing Saudara!
c. Bacalah dan pelajarilah sumber-sumber lain yang relevan. Saudara dapat
menemukan bacaan dari berbagai sumber, termasuk internet!
d. Mantapkanlah pemahaman Saudara melalui pengerjaan tes formatif yang
tersedia dalam modul ini dengan baik. Kemudian, nilai sendiri tingkat
pencapaian Saudara dengan membandingkan jawaban yang telah Saudara buat
dengan kunci jawaban tes formatif yang terdapat diakhir modul!
e. Diskusikanlah apa yang telah dipelajari, termasuk hal-hal yang dianggap masih
sulit, dengan teman-teman Saudara!
Selamat belajar. Semoga berhasil.
B. Inti
Pada bagian inti modul ini, akan diuraikan hal-hal yang terkait dengan (1)
capaian pembelajaran, (2) subcapaian pembelajaran, (3) uraian materi, dan (4)
forum diskusi.
1. Capaian Pembelajaran
Sesuai isi Kurikulum PPG PGSD 2019, Capaian Pembelajaran Mata
Kegiatan (CPMK) ke-2 Pendalaman Materi Bidang Studi Bahasa Indonesia untuk
KB-1 adalah menguasai materi berbagai ragam teks, satuan bahasa pembentuk
teks serta aplikasinya dalam pembelajaran di SD
2. Subcapaian Pembelajaran
Berdasarkan capaian pembelajaran di atas, dijabarkan subcapaian
pembelajaran untuk KB-1 ini adalah:
a. menganalisis berbagai ragam teks;
b. menganalisis satuan bahasa pembentuk teks; dan
c. merancang pembelajaran ragam teks di sekolah dasar.
3. Uraian Materi
Dalam KB 1, Saudara akan mempelajari materi ragam teks yang mencakup
teks faktual, teks cerita, teks tanggapan, dan teks normatif. Selain itu, Saudara
juga akan mempelajari materi satuan bahasa pembentuk teks yang mencakup
kalimat dan paragraf.
Sebelum Saudara mempelajari ragam teks lebih lanjut, bacalah beberapa
teks di bawah ini! Pahami isinya, kemudian diskusikan dengan teman Saudara,
tentang isi teks, karakteristik masing-masing teks, dan bentuk teks tersebut.
Teks 1.
Penyelidikan Kebakaran Pasar Ngunut Tulungagung
Butuh Waktu 1 Minggu
Tim Laboratorium Forensik Polda Jawa Timur hingga saat ini
tengah melakukan penyelidikan untuk mengungkap penyebab
terjadinya kebakaran di Pasar Ngunut Tulungagung. Salah satu pasar
sentral di Tulungagung itu mengalami kebakaran besar pada Jumat 8
November 2019 sekitar pukul 17.30 WIB. Perwira Urusan Humas
Polres Tulungagung Ipda Anwari mengatakan, pemeriksaan itu
biasanya membutuhkan waktu sekitar seminggu. "Terhitung dari
pelaksanaan (olah TKP), seminggu (hasil keluar)," ujar Anwari saat
dihubungi melalui ponsel, Senin (11/11/2019).
(dimodifikasi dari: kompas.com)
Teks 2.
Tangisan Yang Tulus
Ditengah malam yang sunyi, Putri Liliput duduk termenung
melihat bulan dan bintang. Dia tidak peduli dengan apapun di
sekelilingnya, tetapi dia hanya pedulikan rasa damai dan tenang
bersama dengan semilir angin yang seolah-olah membelainya dengan
penuh rasa sayang.
Sebagai putri kerajaan Liliput, dia memikirkan nasib rakyat yang
tidak bahagia karena perbuatan ayahnya yang seenaknya sendiri. Ia
berjuang keras untuk memperjuangkan hak rakyatnya tetapi tetap saja
hasilnya nihil. Karena ayahnya tidak lain adalah raja kerajaan Liliput
yang selalu merusak dan menggagalkan rencananya.
Dia menangis dan menyesal karena perbuatan ayahnya.
Mendadak seorang kakek lewat dan mengajaknya bicara. Putri Liliput
pun menceritakan semua kejadian yang dialaminya kepada kakek
tersebut.
Kakek tersebut hanya tersenyum lalu berkata, “Tuan putri, jika
kau memang ingin memperjuangkan apa yang menurutmu benar,
teruslah berjuang!! Serta jangan pernah hiraukan apapun resikonya,
tetapi pikirkanlah anugerah apa yang akan kau peroleh jika kau terus
bekerja keras dan melakukan dengan sepenuh hati. Percayalah!”.
Setelah itu sang kakek menghilang dari pSaudarangan sang putri.
Putri Liliput pun kaget, dan perkataan kakek tadi terngiang-ngian terus
di pikirannya. Lalu dia bergegas menemui ayahnya, dia menangis di
kaki ayahnya sembari memohon.
“Ayah… dengan tidak mengurangi rasa hormatku padamu, aku
mohon jangan siksa rakyat kecil dengan ketidakadilan dan
ketidaksewenangan yang ayah lakukan.
Apa salah mereka ayah? Mereka mencintai ayah dengan sepenuh
hati, jiwa, dan raga, mereka menghormati ayah.---”
Raja pun turut menangis dan berkata, “Anakku, kau memang
gadis yang berhati mulia, tangisan tulusmu telah meluluhkan hatiku.
Baiklah, mulai sekarang aku akan berlaku adil kepada mereka dan
tidak semena-mena lagi. Aku akan berusaha mencintai mereka dengan
sepenuh hati seperti engkau mencintai mereka. “Terimakasih ayah..
Ayah memang lelaki terbaik di dunia ini”. Putri liliput memeluk erat
ayahnya.
Sejak saat itu, semua rakyat kerajaan Liliput termasuk raja dan
putri Liliput berbahagia karena penindasan yang dilakukan raja sudah
tidak ada lagi. Rakyat sangat berterimakasih kepada Putri Liliput karena
berkat tangisan tulusnya, hati raja bisa luluh.
Dimodifikasi dari: https://www.yuksinau.id/contoh-teks-cerita-ulang/)
Teks 3
Tidur Secara Teratur Dapat Memelihara Kesehatan Tubuh dan Otak
Tubuh dan otak manusia merupakan organ utama yang sangat
rentan terkena virus. Ketahanan organ lain manusia bergantung pada
kondisi fisik tubuh dan fikiran. Ketika tubuh manusia sudah tidak
mampu mentolerir virus dari luar maka, organ vital lainnya yang berada
didalam tubuh juga akan terserang virus. Itulah mengapa kesehatan
tubuh sangat penting dilakukan. Begitu juga ketika fikiran manusia
terganggu atau kelelahan maka organ yang lain juga akan terganggu.
Salah satu cara menjaga kesehatan tubuh dan memelihara fungsi
otak yang paling lazim dan praktis adalah membiarkan kedua organ
utama tubuh kita beristirahat sesuai dengan anjuran kesehatan. Tubuh
manusia jika diibaratkan dengan benda, sama halnya dengan barang
elektronik lainnya yang apabila terus-terusan digunakan akan
menyebabkan kerusakan. Seseorang yang berfikir terlalu sering juga
akan menjadi beban fikiran yang berimplikasi terhadap kesehatan.
Tidur merupakan salah satu bentuk kegiatan yang dapat
mengistirahatkan tubuh dan otak manusia. Manusia dianjurkan tidur
minimal 6 jam perharinya untuk tetap menjaga fungsi organ tubuh dan
otak. Terbukti ketika seseorang mengalami kekurangan tidur maka
tubuhnya akan terasa sakit dan kepala yang terasa aagak berat. Hal
tersebut dirasakan karena tubuh dan otak tidak menerima istirahat yang
cukup.
Ketika kita tertidur, organ dan otak akan memperbaiki dirinya
sendiri dan mengembalikan stamina dan energi yang terkuras selama
kita terbangun. Orang yang memiliki kebiasaan tidur larut malam
bahkan begadang semalamam rentan terkena penyakit berbahaya.
Penelitian membuktikan bahwa orang yang memiliki kebiasaan tersebut
terkena diabetes meskipun kadar gula yang mereka konsumsi tiap
harinya rendah. Karena tidur pada malam hari, tubuh manusia
memproduksi insulin yang berfungsi sebagai penyeimbang kadar gula
dalam darah. Meskipun tidur dianggap hal yang sepele namun kegiatan
ini sangatlah penting untuk menjaga kesehatan harian manusia terutama
orang-orang yang bekerja baik fisik dan otak pada siang.
(dimodifikasi dari https://www.yuksinau.id/contoh-teks-eksposisi/)
Teks 4.
Fahro
Suatu hari di perkampungan daerah desa Mojolaban hiduplah
seorang anak tunggal yang bernama Fahro, Fahro adalah anak yang
rajin karena dia selalu menuruti nasihat dari orang tuanya. Tidak
hanya itu, Fahro termasuk anak yang mandiri dan juga taat beribadah.
Di waktu kecil nya Fahro bersekolah di SDN 1 Mojolaban yang
tempatnya sangat dekat dari rumahnya, hampir setiap hari Fahro tidak
pernah terlambat ke sekolah dan dia juga selalu mendapatkan ranking
10 besar, apalagi ketika Fahro duduk di kelas 6 dia sudah bisa
mendapatkan prestasi meraih ranking 2 paralel di sekolahnya.
Sehabis pulang dari sekolah Fahro tidak langsung pergi tidur
melainkan dia melakukan sholat duhur dan diteruskan dengan mengaji.
Masa kecil Fahro memang sangat disiplin sampai dia menginjak masa
remaja. Pada tanggal 2 Januari tahun 2007 Fahro pindah ke daerah
Lamongan, karena ayah Fahro yang bekerja sebagai buruh pabrik
terkena phk yang membuat dia terpaksa mencari pekerjaan baru.
Saat di Lamongan ayah Fahro bekerja sebagai wartawan, jadi
agak larut malam pulangnya sampai sampai Fahro jarang untuk bertemu
ayahnya sendiri. Di lamongan Fahro bersekolah di SMPN Jaya dia
masih rajin dan berdisiplin, setiap hari dia selalu mengerjakan tugas
tugasnya di sekolah. Hal ini tetap berlanjut sampai dia akhirnya lulus
dan diterima di sma favorit di SMAN 4 Jakarta, lalu sewaktu dia
berumuh 17 tahun ibunya meninggal dunia jadi setelah itu Fahro
merasa sangat sedih dan tak pernah lupa akan kesedihannya itu, dia
selalu mencari cari cara untuk melupakannya dimulai dari banyak
mencari kenalan teman baru, melakukan aktifitas aktifitas olahraga, dan
pergi bersama teman dekatnya. Hal itu kerap ia lakukan hingga Fahro
tidak sadar akan apa yang dia lakukan itu.
Sekarang Fahro kerap membolos sekolah, tak pernah
mengerjakan tugas tugas setiap matapelajaran, dan juga sampai minum
minuman keras. Meskipun Fahro dulunya orang yang sangat disiplin
tetapi karena keadaan yang menyakitkan itu dia menjadi seperti ini,
apalagi sekarang ayah Fahro yang sangat sibuk akan dan tidak pernah
lagi memberi nasihat kepada Fahro.
Fahro berubah menjadi anak yang nakal dan hampir saja dia
dikeluarkan dari sekolah, sebenarnya Fahro mempunyai sahabat yang
bernama Irul. Irul selalu mengingatkan Fahro untuk menghentikan
perbuatan perbuatannya itu yang pasti akan merugikan Fahro, tetapi
Fahro tidak pernah menghiraukannya.
Suatu hari Fahro pulang sangat larut malam sekitar jam setengah
3 pagi, saat tertidur pulas dia bermimpi bertemu ibunya yang sangat ia
sayangi Fahro memeluk erat ibunya itu, dan keesokan harinya Fahro
bangun dengan tetesan air mata yang menggenangi matanya. Setelah itu
dia tersadar untuk berubah menjadi orang yang benar seperti apa yang
selalu diajarkan ibunya. Dan pada akhirnya Fahro bisa membenahi
sikapnya dan melanjutkan sekolahnya dengan benar, hingga akhirnya
ia meraih prestasi yang ia inginkan. Sekarang Fahro sudah sukses, dia
berhasil dalam usaha wiraswastanya di bidang peternakan sapi.
Dimodifikasi dari: http://anggizhfr.blogspot.com/2016/02/cerpen-
pelanggaran-tata-tertib.html
Setelah Saudara membaca 4 teks di atas, apakah Saudara paham isinya?
Dapatkah Saudara menemukan perbedaan keempat teks tersebut, bagaimanakah
karakteristik masing-masing teks?
Keempat teks tersebut memang berbeda untuk lebih jelasnya pelajarilah
uraian berikut ini.
a. Ragam Teks
Ragam teks adalah macam atau jenis teks/naskah berupa kata-kata asli
pengarang, bahan tertulis untuk dasar memberikan pelajaran, berpidato, dan
sebagainya. Sementara itu, menurut Nurgiyantoro (2014) ragam teks adalah
macam atau tipe teks yang memiliki karakteristik umum. Hal tersebut sejalan
dengan pendapat Mitchel (2003) yang mengemukakan bahwa ragam teks
merupakan kategori pengelompokan teks yamg berdasarkan isi dan bentuk.
Dengan demikian, ragam teks adalah pengelompokkan teks berdasarkan isi dan
bentuk teks di antaranya macam-macam atau jenis-jenis teks yang terdiri atas teks
faktual, teks cerita, teks tanggapan, dan teks normatif.
1) Teks Faktual
Sebelum mempelajari teks faktual, bacalah teks di bawah ini!
Tak Konsisten
Suara alarm begitu keras mengusik tidur Joni yang begitu terlelap.
Dia masih mengeliat menahan rasa kantuk. Kemudian perlahan
membuka matanya.
“Oh Tuhan!” Joni terkaget melihat jam ternyata pukul 7 pagi. Dia
langsung bergegas mandi dan merapikan diri lalu tancap gas untuk
pergi ke kantor. Sesampai di kantor, dia sudah telat menghadiri meeting
yang dilaksanakan lebih cepat dari jam biasannya karena bosnya akan
segera ke luar kota. “Permisi, Pak. Bolehkah saya masuk?” Tanya Joni
pada bosnya yang sedang memimpin meeting. ”Silahkan duduk, Jon,
tapi maaf hari ini proyekmu digantikan Hamid.” “Tapi kenapa, Pak?
Saya hanya telat sebentar.” “Bukan masalah sebentar atau lama. Kita di
sini para pekerja profesional. Proyek itu sudah lama saya percayakan
padamu tapi kamu ternyata tidak bisa konsisten. Walaupun telat
sebentar, ada temanmu yang bisa memberi ide bagus untuk proyek itu.
Jadi maaf, sudah bagus kamu tidak saya keluarkan dari tim.” Jelas
bosnya dengan tegas.
Seketika Joni terdiam dengan wajah pucat. Setelah meeting
selesai joni pergi menuju meja kerjanya. “Ada apa hari ini, Jon? Kamu
sampai terlambat tak seperti biasanya.” “Ini salahku, Mer. Aku
begadang nonton bola sampai larut malam, sampai lupa kalau ada
proyek penting yang seharusnya menguntungkan bagiku.” “Oalah
makanya utamakan profesi dari pada hobi.” Sambung Meri sedikit
menasehati.
(dimodifikasi dari http://thegorbalsa.com/contoh-cerpen-singkat)
Setelah Saudara membaca teks di atas, dapatkah Saudara menjelaskan isi
yang terkandung di dalamnya? Adakah persamaan dengan teks sebelumnya?
Apakah teks tersebut berisi data dan fakta? Apakah teks tersebut bersifat nyata
dan benar-benar terjadi? Coba bandingkan dengan teks berikut ini.
Sungai Ciliwung Kembali Meluap
Terjadi banjir bSaudarang di sekitar sungai Ciliwung, banjir
tersebut disebabkan oleh adanya curah hujan yang turun dengan sangat
deras dari jam 18.00 WIB sampai pagi pukul 08.00 WIB. Sudah banyak
keluarga dari 3 desa yang terendam telah mengungsi ke kampung
sebelah.
Sekitar 130 kepala keluarga terancam kehilangan tempat tinggal
mereka disebabkan oleh banjir. Pemerintah dengan segera memberikan
bantuan berupa makanan, minuman, air bersih, pakaian dan obat-
obatan.
Sebelumnya, sudah pernah terjadi banjir yang melanda desa
tersebut 3 tahun silam. Namun, rupanya banjir pada tahun ini jauh lebih
besar jika dibandingkan banjir tahun sebelumnya. Salah satu faktor
penyebabnya adalah kebiasaan masyarakat sekitar yang membuang
sampah sembarangan di sungai Ciliwung, hingga mengakibatkan banjir
pada musim hujan.
(dimodifikasi dari https://moondoggiesmusic.com)
Bagaimanakah hasil Saudara membandingkan dua teks tersebut, apa yang
Saudara ketahui? Apakah teks kedua berisi data dan fakta? Apakah teks kedua
bersifat nyata dan benar-benar terjadi?
Benar, pada teks pertama tidak ditemukan adanya data dan fakta. Selain
itu, kejadian yang diceritakan pun bukanlah kejadian yang bersifat nyata, tapi
bersifat fiktif. Teks pertama tidak termasuk ke dalam teks faktual. Sebaliknya,
pada teks kedua terdapat data dan fakta mengenai peristiwa banjir di sekitar
sungai Ciliwung yang disebabkan oleh curah hujan yang deras. Data yang terdapat
pada teks kedua mencakup: a) jumlah kepala keluarga yang menjadi korban banjir
sebanyak 130 kepala keluarga; b) bantuan yang diberikan oleh pemerintah berupa
makanan, minuman, air bersih, pakaian, dan obat-obatan; dan c) data tentang
riwayat banjir bandang yang melanda desa tersebut. Berdasarkan hal tersebut,
disimpulkan bahwa teks kedua termasuk ke dalam teks faktual.
Agar pemahaman Saudara tentang teks faktual lebih jelas, berikut ini akan
diuraikan tentang pengertian teks faktual, rmacam-macam teks faktual beserta
contohnya.
Teks faktual adalah teks yang berisi suatu kejadian yang bersifat nyata,
benar-benar terjadi, tetapi tidak terikat dengan waktu. Dengan kata lain, suatu
kejadian yang faktual bisa terjadi di masa lalu atau pun masa sekarang. Menurut
Mahsun (2018), teks genre faktual dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu teks
deskripsi dan teks prosedur/arahan. Agar lebih jelas kedua genre tersebut akan
diuraikan di bawah ini.
a) Teks Deskripsi
Bacalah teks berikut ini!
Olahraga untuk kesehatan tubuh
Olah raga mempunyai manfaat yang sangat banyak bagi tubuh
kita. Jika kita sering berolahraga, tubuh kita akan segar dan bugar
kembali.Namun, ada beberapa hal yang harus di perhatikan saat kita
berolah raga, seperti kuat tidaknya jantung kita jika berolahraga dalam
jangka waktu yang lama.
Setiap orang memiliki kekuatan jantung yang berbeda-beda,ada
jantung yang kuat berolahraga dalam jangka waktu yang lama karena
sudah terlatih dalam bidang olah raga, ada juga jantung yang tidak kuat.
(dimodifikasi dari https://notepam.com)
Coba perhatikan teks di atas apakah teks tersebut menggambarkan suatu
objek/benda/peristiwa berdasarkan ciri spesifiknya? Apakah teks tersebut
menggambarkan ciri spesifik suatu objek/benda/peristiwa? Coba bandingkan
dengan teks di bawah ini!
Keindahan Pantai Nusa Penida
Pantai Nusa Penida memiliki keindahan alam yang menarik,
khususnya bagi wisatawan yang mendambakan suasana nyaman,
tenang, jauh dari kebisingan kota. Pohon-pohonnya rindang. Bentangan
lautnya luas. Bagi penyelam, Pantai Nusa Penida menawarkan alam
bawah laut yang sangat indah. Ikan warna-warni berenang saling
berkejaran di laut lepas. Karang berbaris membentuk pemSaudarangan
yang eksotis. Di sore hari, kita bisa melihat matahari terbenam yang
merupakan saat sangat istimewa.
(dimodifikasi dari http://kompasiana.com)
Setelah Saudara membandingkan dua teks tersebut, apakah Saudara
menemukan perbedaan antara teks pertama dan teks kedua?
Benar, teks pertama berisi pendapat penulis tentang manfaat olah raga dan
hal-hal yang harus diperhatikan ketika berolahraga. Sedangkan teks kedua berisi
gambaran spesifik pantai Nusa Penida. Jadi teks pertama tidak termasuk ke dalam
teks deskripsi, sedangkan teks kedua adalah teks deskripsi. Agar lebih jelas,
berikut ini akan diuraikan pengertian teks deskripsi beserta contohnya.
Teks deskripsi adalah tipe teks yang memiliki tujuan sosial untuk
menggambarkan suatu ojek/benda secara individual berdasarkan ciri fiksinya.
Gambaran yang dipaparkan dalam teks ini haruslah yang spesifik menjadi ciri
keberadaan objek yang digambarkan. Teks deskripsi adalah sebuah teks/wacana
yang disampaikan dengan cara meggambarkan secara jelas objek, tempat atau
peristiwa yang sedang menjadi topik kepada pembaca, sehingga pembaca seolah-
olah merasakan langsung apa yang sedang diungkapkan dalam teks tersebut (Ulfa,
2018). Teks deskripsi tidak dapat digeneralisasi karena lebih bersifat
penggambaran ciri khusus objek yang dideskipsikannya. Berbeda dengan teks
laporan penggambaran pada teks laporan dapat di generalisasi. Teks deskripsi
memiliki struktur berpikir yaitu: pernyataan umum dan uraian setiap bagian-
bagiannya (Mahsun, 2018). Contoh jelasnya, dapat dilihat pada bagan berikut.
Tabel 1. Contoh Teks Deskripsi
Struktur Teks Teks
Judul Pantai Jumiang Pemekasan
Pernyataan Tuhan menciptakan alam semesta beserta isinya untuk
Umum dimanfaatkan oleh manusia. Salah satu ciptaan Tuhan yang
yang bermanfaat bagi manusia adalah pantai. Pantai
Uraian bagian- Jumiang merupakan salah satu pantai yang keberadaannya
bagian sangat bermanfaat bagi manusia disekitarnya.
Pantai Jumiang merupakan pantai yang ada di Pulau
Madura, tepatnya di Desa Tanjung. Kecamatan Pademawu,
Kabupaten Pemakasan. Pantai ini berjarak sekitar 12 km
dari pusat kota Pamekasan, Jalan menuju objek wisata ini
kondisinya beraspal cukup baik. Kendaraan yang berlalu
lalang tidak banyak, sehingga perjalanan dengan
menggunakan mobil dapat ditempuh dalam waktu 10 menit
dari Kota Pamekasan.
Pantai Jumiang memiliki pemSaudarangan alam yang tidak
jauh berbeda dengan wisata Tanah Lot di Bali. Di pantai
Jumiang banyak batu karang yang sangat kokoh walaupun
berkali-kali diterjang ombak. Ombak yang menghantam
karang-karang tersebut menyuguhkan pemSaudarangan
yang sangat indah untuk dilihat. Ombak yang bergulung-
gulung berkejaran dari laut lepas.
Kalau berjalan mu;ai dari arah barat, kita akan menjumpai
aneka pepohonan yang mengitari Pantai Jumiang, mulai
dari pohon mimba, kosambi, malandingan, bahkan semak-
semak yang makin menambah uniknya Pantai Jumiang.
Apabila melihat selatan, kita akan terpesona luas dari
indahnya laut, ombak bergulung-gulung saling berkejaran,
serta bebatuan yang membentuk rongga yang eksotik. Lain
halnya apabila pSaudarangan kita arahkan ke Utara Pantai
Jumiang. Kita akan menyaksikan hamparan sawah, para
petani yang mengolah sawah, dan burung-burung
bertebangan yang melengkapi pesona Pantai Jumiang.
Terdapat pemSaudarangan yang cukup mencolok di Pantai
Jumiang. Di tengah-tengah Pantai Jumiang terdapat sebuah
makam yang disakralkan oleh masyarakat setempat.
Makam tersebut banyak dikunjungi oleh orang-orang yang
mempunyai tujuan tertentu. Pada malam Jumat manis
makam tersebut lebih ramai daripada hari-hari biasanya.
(Sumber: Mahsun, 2018)
Sebuah teks, tentu memiliki struktur yang membentuk teks. Struktur pembentuk
teks ini diikat oleh benang pengikat yang berupa pengulangan konstruksi
“...Pantai Jumiang...”, “..ombak..” dan lain-lain. Untuk mengikat bagian-bagian
yang dideskripsikan, penulis menguraikannya secara berturut-turut dengan
menggunakan petunjuk arah: “...barat...”, “...selatan...” dan “...utara...”.
Berikut adalah teks deskripsi , silakan Saudara analisis teks deskripsi
tersebut seperti contoh di atas.
Parangtritis nan Indah
Salah satu andalan wisata Kota Yogyakarta adalah Pantai
Parangtritis. Tepatnya, Pantai Parangtritis berada di Kecamatan Kretek,
Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pantai ini terletak sekitar 27 km
arah selatan Yogyakarta.
Pemandangan Pantai Parangtritis sangat memesona. Di sebelah
kiri, terlihat tebing yang sangat tinggi. Di sebelah kanan, kita bisa
melihat batu karang besar yang seolah-olah siap menjaga gempuran
ombak yang datang setiap saat. Pantai bersih dengan buih-buih putih
bergradasi abu-abu dan kombinasi hijau sungguh elok. Kemolekan
pantai secara sempurna di sore hari. Di sore hari, kita bisa melihat
matahari terbenam yang merupakan saat sangat istimewa. Lukisan alam
yang sungguh memesona. Semburat warna merah keemasan di langit
dengan kemilau air pantai yang tertimpa matahari sore menjadi
pemandangan yang memukau. Rasa hangat berbaur dengan lembutnya
hembusan angin sore, melingkupi seluruh tubuh. Seakan tersihir, kita
menyaksikan secara perlahan matahari seolah-olah masuk ke dalam
hamparan air laut.
Banyaknya wisatawan yang selalu mengunjungi Pantai
Parangtritis membuat pantai ini tidak pernah sepi dari pengunjung. Di
Pantai Parangtritis ini kita bisa menyaksikan kerumunan anak-anak
bermain pasir. Tua muda menikmati embusan segar angin laut. Kita
juga bisa naik kuda ataupun angkutan sejenis andong yang bisa
membawa kita ke arah karang laut yang sungguh sangat indah.
Dimodifikasi dari: Kosasis & Kurniawan, 2019
b) Teks Prosedur/Arahan
Teks prosedur/ arahan merupakan jenis teks yang termasuk genre faktual,
subgenre prosedural. Menurut Mahsun (2018), “Tujuan sosial teks ini adalah
mengarahkan atau mengajarkan tentang langkah-langkah yang telah di tentukan.”
Jenis teks ini lebih menekankan pada aspek bagaimana melakukan sesuatu, yang
dapat berupa salah satunya percobaan atau pengamatan. Teks ini memiliki
struktur berpikir: judul, tujuan, daftar bahan (yang diperlukan untuk mencapai
tujuan), urutan tahapan pelaksanaan, pengamatan, dan simpulan. Untuk lebih
jelasnya dapat dicermati contoh teks berikut.
Tabel 2. Contoh Teks Prosedur/Arahan
Benda Pengantar Listrik Judul
Menyalakan lampu dengan memanfaatkan energi Tujuan
listrik Daftar Bahan
Untuk mengetahui benda yang dapat mengantar
listrik, maka perlu dilakukan percobaan. Sebelum Urutan tahapan
percobaan dilaksanakan, perlu di siapkan bahan pelaksanaan
bahan yang diperlukan. Bahan-bahan yang
diperlukan itu adalah: (a) baterai, (b) dua buah Pengamatan
kabel, (c) bohlam, (d) benang, dan (e) tali plastik. Simpulan
Setelah bahan-bahan yang digunakan terkumpul, Sumber: Mahsun (2018)
maka langkah yang ditempuh adalah berikut ini.
Pertama, hubungan kedua kabel masing-masing
pada kedua ujung baterai. Selanjutnya, hubungkan
kedua ujung kabel ke bohlam. Bohlam akan
menyala.
Kemudian, gantikan kabel itu dengan benang.
Hubungankan kedua benang pada kedua ujung
baterai. Setelah itu, hubungkan kedua benang itu ke
bohlam. Bohlam tidak menyala. Akhirnya, hal yang
sama, ganti kedua benang itu dengan tali plastik.
Kemudian hubungkan kedua tali plastik itu ke
bohlam. Bohlam tidak meyala.
Dari percobaan tersebut, terlihat bahwa bohlam
menyala ketika dihubungkan pada baterai dengan
menggunakan kabel. Namun, bohlam tidak menyala
ketika dihubungkan pada baterai dengan
menggunakan benang atau tali plastik.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kabel
dapat mengantar arus listrik, sedangkan benang dan
tali plastik tidak dapat mengantar arus listrik.
Untuk mengikat semua struktur teks agar menjadi satu, pemanfaatan
konjungsi penghubung antarparagraf pengisi struktur teks dimanfaatkan,
misalnya:”...setelah bahan-bahan..” , “...dari percobaan tersebut...”, dan “...dengan
demikian...” merupakan konjungsi penghubungan antarparagraf dalam struktur
yang berbeda. Konjungsi: “...setelah bahan-bahan...” digunakan untuk megikat
struktur “daftar bahan” dengan struktur “Urutan tahapan pelaksanaan” sedangkan
konjungsi “...dari percobaan tersebut...” digunakan untuk mengikat struktur urutan
tahapan pelaksanaan” dengan struktur “pengamatan”, dan konjungsi “...dengan
demikian...” digunakan untuk mengikat struktur “pengamatan” dengan struktur
“simpulan”, dengan cara demikian seluruh struktur teks menjadi satu kesatuan
yang kohesif. Untuk menambah pemahaman Saudara, silakan Saudara mencari
lagi contoh-contoh teks prosedur/arahan.
Sebagai bahan latihan analisislah teks prosedur berikut seperti contoh di
atas.
Membuat Batik Tulis
Proses pembuatan batik tulis adalah proses yang membutuhkan
teknik, ketelitian, dan kesabaran yang tinggi. Batik sebagai warisan
budaya yang agung perlu kita lestarikan. Dengan latihan yang tekun
dan semangat melestarikan budaya, kita dapat belajar membuat batik
tulis. Pembuatan batik tulis membutuhkan bahan dan alat yaitu: 1)
canting, 2) pensil pola, 3) kain mori putih,4) lilin malam (wax), 5)
kompor atau pemanas lilin malam, 6) bahan pewarna kain.
Adapun langkah membuatnya sebagai berikut: 1) Siapkan
kain mori/sutra, kemudian buatlah motif di atas kain tersebut dengan
menggunakan pensil, 2) Setelah motif selesai dibuat, sampirkan atau
letakkan kain pada gawangan dengan posisi melebar supaya mudah
dibatik. 3) Panaskan malam/lilin ke dalam wajan dengan api kecil
sampai malam.lilin mencair sempurna. Untuk menjaga agar suhu
kompor/anglo stabil, biarkan api tetap menyala kecil.4) Ambil sedikit
malam yang sudah cair dengan menggunakan canting, tiup-tiup
sebentar agar tidak terlalu panas kemudian torehkan canting dengan
mengikuti pola. Dalam proses ini harus dilakukan dengan hati-hati
agar jangan sampai malam yang cair menetes di atas permukaan kain
karena karena akan mempengaruhi hasil motif batik. Canting untuk
bagian halus dan kuas untuk bagian berukuran besar. Proses ini
bertujuan agar pada saat pencelupan bahan/kain ke dalam larutan
pewarna bagian yang diberi lapisan malam tidak terkena pewarna.
5) Setelah semua motif yang tidak ingin diberi warna tertuttup oleh
malam/lilin, kemudian celupkan kainnya ke dalam larutan pewarna.
6) Proses ini merupakan pewarnaan pertama pada bagian yang tidak
tertutup oleh malam. Sebaiknya, pencelupan dimulai dengan warna-
warna muda, dilanjutkan dengan warna lebih tua atau gelap pada
tahap berikutnya. 7) Jemur kain yang telah diwarnai sampai kering.
8) Setelah kering, lakukan proses pelodoran yaitu dengan cara lilin
dikerik dengan pisau, kemudian kain direbus bersama-sama dengan
air yang telah diberi soda abu. Proses ini bertujuan menghilangkan
lapisan malam sehingga motif yang telah digambar menjadi terlihat
jelas. Jika diinginkan beberapa warna pada batik yang kita buat,
proses dapat diulang beberapa kali tergantung pada jumlah warna
yang kita inginkan.9) Setelah kain bersih dari malam, lakukan kembali
proses pembatikan dengan penutupan malam, pewarnaan kedua, dan
seterusnya. Proses diulang seperti proses sebelumnya sebanyak jumlah
warna yang diinginkan. 10) Setelah beberapa kali proses pewarnaan,
kain yang telah dibatik dicelupkan ke campuran air dan soda untuk
mematikan warna yang menempel pada batik. Hal ini untuk
menghindari kelunturan. 11) Proses terakhir, rendam batik dalam air
dingin dan jemur sebelum dapat digunakan dan dipakai. 12) Perlu
ketelitian dan kecermatan untuk belajar membatik. Demikianlah cara
membuat batik, meski agak sulit, tidak ada salahnya dicoba.
Berkreasilah untuk melestarikan tradisi dan warisan nenek moyang
kita.
(Dimodifikasi dari: Kosasih & Widianingsih, 2019)
2) Teks Tanggapan
Teks tanggapan adalah teks yang berisi sambutan terhadap ucapan (kritik,
komentar, dan sebagainya) dan apa yang diterima oleh pancaindra, bayangan
dalam angan-angan. Teks genre ini dapat dibedakan menjadi dua buah teks, yaitu
teks eksposisi dan teks ekplanasi (Mahsun, 2018, & Tim Sergu dalam jabatan,
2017).
a) Teks Eksposisi
Teks ini berisi paparan gagasan atau usulan sesuatu yang bersifat pribadi.
Itu sebabnya, teks ini sering juga disebut sebagai teks argumentasi satu sisi
(Wiratno, 2014). Struktur berpikir yang menjadi muatan teks ekposisi adalah:
tesis/pernyataan pendapat dan alasan/argumentasi, serta pernyataan ulang
pendapat. Untuk lebih jelasnya dapat terlihat di dalam contoh berikut.
Tabel 3 Contoh Teks Eksposisi
Struktur Teks Teks
Judul Goa Ngerit Nyaris Dilupakan
Tesis/Pernyataan Goa Ngerit yang berada di Desa Pakel, Kecamatan
Pendapat Watulimo, Kabupaten Trenggalek sudah lama tidak
Argumentasi terdengar gaungnya. Tempat tersebut sudah jarang sekali
dikunjungi orang sebagai tempat rekreasi. Mengapa hal itu
Pernyataan bisa terjadi?
Ulang Pendapat Ada beberapa alasan mengapa tempat tersebut kini jarang
dikunjungi. Pertama, keindahan Goa Ngerit sudah tidak
seperti yang dulu. Masyarakat sekitar tampak secara liar
menambang batu yang ada di sekitar sungai maupun
ditubuh goa. Hal itu mengurangi keindahan dari tubuh goa
itu sendiri dan tebing sungai tampak semakin curam.
Kedua, kini tidak lagi terdengar kicauan burung yang
merdu karena sudah banyak yang mati diburu secara liar.
Masyarakat dengan bebesnya berburu burung atau hewan
lain karena merasa tidak ada sangsi yang tegas. Ketiga,
habitat sungaipun juga mulai terganggu karena
menggunakan obat dan alat strum ketika menangkap ikan
sehingga kejernihan serta keaslian sudah tidak kentara
lagi. Keempat, kesejukan dan keindahan tempat itu kini
tidak terasa lagi. Pencurian/penebangan hutan dianggap
sudah seperti pekerjaan biasa bagi masyarakat sekitar
tanpa berpikir dampaknya. Kelima, pemerintah tidak
pernah memikirkan akses jalan menuju ke lokasi tersebut
saat membangun jalan utama, sehingga tempat tersebut
terkesan terkucil karena sulit dijangkau oleh pengunjung.
Melihat kenyataan itu perlu perhatian dari pemerintah
daerah dan kesadaran dari masyarakat untuk
mengembalikan keindahan Goa Ngerit agar menjadi
tempat wisata yang bisa mendatangkan pendapatan daerah
Kota Trenggalek pada umumnya dan sarana mengais
rezeki bagi masyarakat di sekitar Goa Ngerit pada
Khususnya.
Trimulat (dalam Mahsun, 2018)
Pada teks di atas, penggunaan konjungsi penghubung antarkalimat, yang
berupa nomina bilangan: “...pertama...”, “...kedua...”, “...ketiga...”, ”...keempat...”,
dan “...kelima...”, konjungsi ini relatif sama dengan konjungsi yang digunakan
pada teks genre cerita dan genre faktual: prosedur. Hanya bedanya, konjungsi
pada teks eksposisi digunakan untuk mengurut alasan-alasan yang digunakan
untuk memperkuat pendapat, sedangkan pada kedua genre tersebut masing-
masing digunakan untuk mengurutkan peristiwa yang dialami oleh tokoh utama
dan untuk mengurut tahapan pelaksanan percobaan.
Saudara silakan teks eksposisi berikut ini dianalisis sesuai contoh di atas, sebagai
latihan Saudara.
Nasib Hutan Kita yang Semakin Suram
Oleh Wisnu Rusmantoro
Jika pemerintah tak cepat bertindak dalam 10 tahun
mendatang, maka hutan Sumatera akan musnah dan diikuti oleh
musnahnya hutan Kalimantan.
Pengelolaan hutan di sepanjang tahun 2002 tak menunjukkan
adanya tanda-tanda perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Sebaliknya, kecenderungannya justru semakin memburuk. Kebakaran
hutan masih terus terjadi; penebangan liar semakin meningkat.
Diperburuk lagi dengan rencana pembukaan lahan hutan lindung bagi
pertambangan. Keadaan tersebut jelas menambah suram nasib hutan
selama 2002.
Keterpurukan sektor kehutanan bersumber dari sistem
pengelolaan yang didominasi oleh pemerintah pusat dan
mengesampingkan keberadaan masyarakat lokal. Adanya konflik-
konflik seperti antarmasyarakat lokal, masyarakat lokal dengan
perusahaan, atau antara masyarakat lokal dan pemerintah, semakin
memperburuk kondisi kehutanan di Indonesia.
Selain itu, lemahnya penegakan hukum menyebabkan makin
parahnya keruakan hutan. Kerusakan hutan telah mencapai kurang
lebih dua juta ha per tahun. Hal ini berarti setiap menitnya kita
kehilangan hutan seluas tiga hektare atau sama dengan enam kali luas
lapangan bola.
Reformasi tahun 1998 diharapkan membawa perbaikan bagi
sektor kehutanan. Namun kenyataan di lapangan justru sebaliknya.
Beberapa hal justru mempercepat laju kerusakan hutan di Indonesia
hampir dua kali lipat. Penyebabnya antara lain dengan adanya tekanan
masyarakat akibat krisis ekonomi. Kondisi demikian mengakibatkan
merajalelanya penebangan liar. Bersamaan dengan itu, eksploitasi
sumber daya alam oleh pemerintah juga semakin meningkat sebagai
konsekuensi dari kebutuhan pemerintah untuk membayar utang
negara. Belum lagi adanya otonomi daerah, yang mendorong
pemerintah lokal meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD)-nya
dengan menebang hutan secara berlebihan. Sebelum itu, kondisi hutan
Indonesia benar-benar sudah memprihatinkan. Dalam kurun waktu 50
tahun, hutan alam Indonesia mengalami penurunan luas sebesar 64
juta hektare. Pembukaan hutan alam di dataran rendah di Sulawesi
telah memusnahkan keanekaragaman hayati. Berjuta-juta spesies flora
dan fauna musnah dengan percuma.
Pembukaan lahan dengan cara membakar hutan menambah
masalah kerusakan hutan. Munculnya El Nino secara priodik
diperkirakan tiap 2-7 tahun memperburuk kondisi hutan.
Selama bulan JanuaI-Oktober 2002, 45% dari keseluruhan titik
kebakaran terkonsentrasi di Provinsi Riau. Kemudian Oktober 2002
terjadi kenaikan jumlah titik kebakaran yng cukup signifikan di
Provinsi Riau, Sumatera Barat, dan Jambi.
Di Sumatera, bardasarkan titik kebakaran terjadi di hutan rawa
gambut sebanyak 49%, alang-alang 13%, hutan dataran rendah 10%,
permukiman/pertanian masyarakat 10%, perkebunan 8%, dan sisanya
rawa (nongambut). Kebakaran hutan memberikan kerugian tak sedikit.
Tahun 1997, diperkirakan kerugiannya sebesar $3-4 miliar atau sekitar
Rp 2-4 triliun. Rupanya kedua masalah itu belum cukup, sebab
kemudian pemerintah menambahnya dengan rencana pembukaan
kawasan hutan lindung untuk pertambangan. Kebijakan tersebut jelas
semakin menympurnakan derita hutan Indonesia.
Dimodifikasi dari: Kosasih & Widianingsih, 2019.
b) Teks Eksplanasi
Teks eksplanasi adalah teks yang berisi penjelasan tentang proses terjadinya
fenomena alam, sosial, ilmu pengetahuan dan budaya (Priyatni, 2014). Teks
eksplanasi memiliki fungsi sosial menjelaskan atau menganalisis proses muncul
atau terjadinya sesuatu. Tujuan dari teks ini adalah memaparkan sesuatu agar
bertambah pengetahuan. Oleh karena itu, menurut Mahsun (2018), “Teks
Ekplanasi memiliki struktur berpikir: judul, pernyataan umum, deretan penjelas,
dan interpretasi.” Untuk lebih jelasnya marilah kita lihat contoh di bawah ini.
Tabel 4. Contoh Teks Eksplanasi
Struktur Teks Teks
Judul Definisi Penelitian Bahasa
Pernyataan Untuk menjelaskan pengertian penelitian bahasa, tidak
Umum dapat dilepaskan dari pengertian penelitian ilmiah itu
sendiri. Hal itu disebabkan, bahwa bunyi tutur atau bahasa
merupakan objek dari salah satu bidang ilmu pengetahuan,
dalam hal ini linguistik. Penelitain ilmiah, seperti yang
dinyatakan oleh Karlinger (1993) adalah penelitain yang
sistematis, terkontrol, empiris, dan kritis terhadap
proposisi-proposisi hipotesis tentang hubungan yang
Penjelasan 1 diperkirakan terdapat antargejala alam. Berdasarkan
batasan penelitian ilmiah di atas dapat dikemukakan bahwa
Penjelasan 2 yang dimaksudkan dengan penelitian bahasa adalah
Penjelasan 3 penelitian yang sistematis, terkontrol, empiris, dan kritis
terhadap objek sasaran yang berupa bunyi tutur (bahasa).
Penelitian terhadap objek sasaran yang berupa bunyi tutur
atau bahasa itu dikatakan sistematis, maksudnya bahwa
penelitian itu dilakukan secara sistematis dan terencana.
Mulai dari identifikasi masalah terkait dengan objek kajian
yang berupa bunyi tutur itu (termasuk di dalamnya upaya
menjelaskan masalah itu secara cermat dan dan terinci;
penyeleksian dan penentuan variabel-variabel dan
instrumen-instrumen yang akan digunakan);
menghubungkan masalah tersebut dengan teori-teori
linguistik tertentu; melakukan penyediaan; analisis, dan
interpretasi data; sampai pada penarikan kesimpulan serta
menggabungkan kesimpulan-kesimpulan tersebut ke dalam
khazanah ilmu bahasa (linguistik). Kesemua proses itu
harus dilalui secara sistematis, tidak boleh melompat-
lompat, karena diantaranya memiliki hubungan
pendasaran. Sekedar penjelas, bahwa tahap analisis data
tidak mungkin dilaksanakan jika tahap penyediaan data
belum selesai dilakukan., karena analisis hanya
dimungkinkan dapat dilakukan jika data telah tersedia.
Artinya, antara tahap analisis dengan tahap penyediaan
data memiliki hubungan pendasaran. Begitu pula tahap
penyediaan data tidak mugkin dapat dilaksanakan jika
masalah yang hendak dijawab belum teridentifikasi dengan
jelas. Wujud data yang dikumpulkan sangat tergantung
pada masalah yang hendak dipecahkan.
Terkontrol, maksunya bahwa setiap aktivitas yang
dilakukan dalam masing-masing tahapan itu dapat
dikontrol baik proses pelaksanaan kegiatannya maupun
hasil yang dicapai melalui kegiatan tersebut. Termasuk
dalam sifat terkontrol ini adalah pilihan penggunaan
metode dan teknik-teknik tertentu (tentunya terkandung
pula makna pengabaian metode dan teknik tertentu yang
sengaja yang tidak di pilih karena sesuatu alasan) memiliki
dasar logika pemilihan yang dikaitkan dengan sasaran
yang hendak dicapai. Dari sinilah si peneliti dapat
mengontrol pemilihan dan tujuan pemilihan penggunaan
metode atau teknik-teknik tersebut.
Penelitian bahasa yang bersifat empiris, maksudnya bahwa
fenomena lingual yang menjadi objek penelitian bahasa itu
adalah fenomena yang benar-benar hidup dalam
pemakaian bahasa, jadi benar-benar bersumber pada fakta
Penjelasan 4 lingual yang dipikirkan oleh si penutur yang menjadi
informasinya atau yang dipikirkan oleh si penelitiannya
Penjelasan 5 sendiri.
Interpretasi Adapun yang dimaksud dengan penelitian bahasa yang
bersifat kritis adalah kritis terhadap hipotesis-hipotesis
tentang hubungan yang diperkirakan terjadi antara bunyi
tutur sebagai objek penelitian bahasa dengan fenomena
ekstralingual yang memungkinkan bunyi tutur itu muncul.
Sebagai contoh, dalam kajian variasi bahasa (kajian secara
dialektologis) mungkin kita akan tergoda untuk membuat
suatu hipotesis bahwa suatu bahasa dapat memunculkan
berbagai varian yang disebabkan faktor perbedaan tempat
tinggal penutur-penutur bahasa tersebut. Hipotesis tentang
munculnya varian dalam bahasa tertentu mungkin ini ada
benarnya, tetapi kita juga tidak hanya terpaku pada
hipotesis ini karena ternyata berbagai kelompok penutur
bahasa itu yang berbeda tempat tinggalnya secara
geografis tidak juga membuat maksan tententu memiliki
realisasi secara formatif berbeda. Dapat saja perbedaan itu
muncul karena faktor sosio-psikologis penutur-penutur
bahasa itu, yang ingin tampil dengan bentuk bahasa yang
berbeda pada medan makna (glos) tertentu, seperti
munculnta varian yang bersifat sosiologis yang tidak lagi
terkait dengan faktor perbedaan tempat tinggal
penutupannya.
Selain itu, pengertian kritis dapat pula mengandung makna
kreatif, yaitu jika si peneliti dalam melaksanakan
penelitiannya dalam menggunakan metode penyediaan
data tertentu dalam tahapan penyediaan ternyata dengan
metode ini data yang diharapkan muncul tidak juga
terjaring. Untuk keperluan itu, peneliti harus segera
melakukan revisi metodologi, jadi tidak terpaku pada apa
yang telah direncakan, tetapi harus berani mengubah
rencana jika tidak mencapai apa yang diharapkan.
Batasan penelitian bahasa di atas mempersyaratkan adanya
empat proses yang menjadikan penelitian bahasa sebagai
kegiatan ilmiah, yaitu dilaksanakan secara sistematis,
terkontrol, empiris, dan kritis. Keempat hal itu
memungkinkan pakar yang lain memungkinkan hal yang
sama untuk menguji kembali hal yang dicapai dari
penelitian sebelumnya.
Sumber: Moh. Nurullah (dalam Mahsun, 2018)
Seperti halnya teks-teks lain di atas, keseluruhan struktur teks eksplanasi
juga diikat oleh piranti yang berupa pengulangan/repetisi, misalnya pengulangan
konstruksi “sistematis”, terkentrol, empiris, dan kritis yang muncul pada setiap
paragraf pengisi struktur penjelas teks. Selain penggunaan piranti berupa
pengulangan bentuk juga kekohesian dankekoherensian teks dijaga dengan
menggunakan konjungsi penghubung berupa, misalnya: “adapun, selain itu...”.
3) Teks Cerita
Teks cerita adalah teks yang menuturkan bagaimana terjadinya suatu hal,
peristiwa, mengisakan kejadian yang telah ada, perbuatan, pengalaman yang
dinamis dalam suatu rangkaian waktu.(Keraf, 2001 &KBBI, 2018). Teks cerita
termasuk genre sastra dalam jenis teks tunggal (teks cerita). Teks cerita terdiri dari
teks cerita ulang, naratif, anekdot, dan eksemplum. Untuk keempat jenis teks
tersebut akan di kutip teks hasil modifikasi oleh Santosa (2013) dan
dikembangkan oleh Mahsun (2018).
a) Teks Cerita Ulang
Menurut Mahsun (2018), “Teks ini memiliki tujuan sosial menceritakan
kembali peristiwa pada masa lalu agar tercipta semacam hiburan atau
pembelajaran berdasarkan pengalaman masa lalu bagi pembaca atau
pendengarnya.” Teks ini memiliki struktur judul, pengenalan/orientasi, dan
rekaman kejadian.
Tabel 5. Contoh Teks Cerita Ulang
Struktur Teks Teks
Judul Lebai Malang
Pengenalan/Orientasi Tersebutlah kisah seorang guru agama yang hidup di
tepi sungai di sebuah desa di Sumatra Barat. Pada
Rekaman Kejadian suatu hari, ia mendapat undangan pesta dari dua orang
kaya desa tetangga. Sayangnya, pesta tersebut
diadakan pada hari dan waktu yang bersamaan.
Pak Lebai menimbang-nimbang untung dan rugi
setiap undangan. Ia tidak pernah dapat mengambil
keputusan dengan cepat apakah ia akan pergi ke desa
hulu atau ke hilir. Apabila ia pergi ke pesta di desa
hulu sungai, ia akan mendapatkan dua ekor kepala
kerbau. Namun, masakan orang-orang hulu sungai
tidak seenak orang hilir sungai. Kalau ia pergi ke hilir
sungai, ia akan mendapat hadiah seekor kepala kerbau
yang dimasak dengan enak. Hingga ia mulai
mengayuh perahunya ke tempat pesta pun, ia belum
dapat memutuskan pesta mana yang akan dipilih.
Pertama, dikayuh sampannya menuju hulu sungai.
Baru tiba di tengah perjalanan ia mengubah
pikirannya. Ia berbalik mendayung perahunya ke arah
hilir. Begitu hampir sampai di desa hilir sungai,
dilihatnya beberapa tamu menuju hulu sungai. Tamu
tersebut mengatakan bahwa kerbau yang disembelih
di sana sangat kurus. Ia pun mengubah haluan
perahunya menuu hulu sungai. Sesampainy di tepi
desa hulu sungai, para tamu sudah beranjak pulang.
Pesta di sana sudah selesai.
Pak lebai cepat-cepat mengayuh perahunya menuju
desa hilir sungai. Sayangnya, di sana pun pesta sudah
berakhir.
Akhirnya, Pak Lebai tidak mendapat kepala kerbau
yang diinginkannya.
Sumber: Mahsun (2018)
Pada teks cerita ulang terlihat bahwa rentetan peristiwa yang dialami tokoh
Lebai Malang ditata dengan menggunakan konjungsi yang menunjukkan urutan
peristiwa. Mulai dari penggunaan konjungsi “pertama” lalu “akhirnya”. Konjungsi
pengurutan peristiwa menjadi salah satu benang pengikat yang menyatukan
antarparagraf pembentuk teks tersebut. Selain menggunakan konjungsi, teks diikat
oleh piranti penyatuan yang berupa pengulangan dalam bentuk anaforis: “ia” atau
“-nya” yang merujuk pada “Lebai Malang”. Patut ditambahkan, bahwa pada teks
penceritaan ulang atau rekon, gagasan/pikiran tentang “masalah” dimuat dalam
satu struktur teks, yaitu struktur rekaman kejadian.
b) Anekdot
Anekdot dapat diartikan sebagai cerita rekaan yang tidak harus didasarkan
pada kenyataan yang terjadi di masyarakat (Oktarisa, 2014). Teks anekdot
memiliki tujuan sosial yang sama dengan teks cerita ulang (Mahsun, 2018).
Hanya saja, peristiwa yang ditampilkan membuat pasrtisipan yang mengalaminya
merasa jengkel atau konyol (Wiratno, 2014). Teks ini memiliki struktur berpikir:
judul, pengenalan/orientasi, krisis/masalah, reaksi.
Tabel 6. Contoh Teks Anekdot
Struktur Teks Teks
Judul Lebai Malang
Pengenalan/Orientasi Tersebutlah kisah seorang guru agama yang hidup di
tepi sungai disebuah desa di Sumatra Barat. Pada
Masalah/Krisis suatu hari, ia mendapat undangan pesta dari dua
orang kaya dari desa-desa tetangga.
Sayangnya pesta tersebut diadakan pada hari dan
waktu yang bersamaan. Pak Lebai menimang-nimang
untung dan rugi dari setiap undangan. Tetapi, ia tidak
pernah dapat mengambil keputusan dengan cepat. Ia
berpikir, kalau ia ke pesta di desa hulu sugai, tuan
rumah akan memberinya hadiah dua ekor kepala
kerbau. Namun, ia belum begitu kenal dengan tuan
rumah tersebut. Menurut berita, masakan orang-
orang hulu sungai tidak seenak orang hilir sungai.
Kalau ia pergi ke pesta di hilir sungai, ia akan
mendapat hadiah seekor kepala kerbau yang di masak
dengan enak. Ia juga kenal betul dengan tuan rumah
tersebut. Tetapi, tuan rumah di hulu sungai akan
memberi tamunya tambahan kue-kue. Hingga ia
mulai mengayuh perahunya ke tempat pesta pun ia
belum dapat memutuskan pesta mana yang akan di
pilih.
Pertama, dikayuh sampannya menuju hulu sungai.
Baru tiba di tengah perjalan ia mengubah pikirannya.
Ia berbalik mendayung perahunya ke arah hilir.
Begitu hampir sampai di desa hilir sungai, dilihatnya
beberapa tamu menuju hulu sungai. Tamu tersebut
mengatakan bahwa kerbau yang disembelih di sana
sangat kurus. Iapun mengubah haluan perahunya
menuju hulu sungai, sesampainya di tepi desa hulu
sungai, para tamu sudah beranjak pulang. Pesta di
sana sudah selesai.
Pak Lebai cepat-cepat mengayuh perahunya menuju
desa hilir sungai. Sayangnya. Sesampainya di
sanapun pesta sudah berakhir.
Kedua pesta telah berakhir, Pak Lebai hanya tinggal
menyesali kenapa ia tak menghadiri salah satunya,
sehingga kerbau yang diinginkannya pun lenyap
begitu saja. Padahal saat itu ia sangat lapar.
Kemudian ia memutuskan untuk memancing ikan
dan berburu. Lalu ia membawa bekal nasi dan tidak
lupa ia pun mengajak anjing kesayangannya.
Reaksi Setibanya di sungai, ia mempersiapkan peralatan
untuk memancing. Setelah menemukan tempat yang
nyaman untuk memancing, Pak Lebai melemparkan
kailnya ke tengah-tengah sungai. Dengan sabar, ia
menunggu kailnya dimakan ikan. Setelah memancing
agak lama, akhirnya kailnya dimakan ikan. Namun,
kail itu menyangkut di dasar sungai. Pak Lebai pun
terjun untuk mengambil ikan tersebut.
Namun sayang, ikan itu dapat meloloskan diri.
Sementara ia terjun, anjingnya memakan nasi yang
dibawanya. Akhirnya, ia menggigit jari dan tak ada
lagi yang dapat dimakan untuk mengisi perutnya
yang semakin keroncongan. Kemalangan telah
menimpanya hingga diketahui banyak orang. Sejak
saat itu, Pak Lebai mendapat julukan dari orang-
orang sekampung sebagai Pak Lebai Malang Perahu.
Akhirnya, Pak Lebai pun menggerutu menyesali apa
yang dilakukan. Ia tidak mendapat kepala kerbau
yang diinginkannya.
Sumber: Mahsun (2018)
Teks anekdot di atas memperlihatkan penggunaan konjungsi (konjungsi
dalam teks ditebalkan) dan piranti pengikat teks, bertujuan agar seluruh struktur
teks menjadi padu sama dengan teks penceritaan ulang/rekon. Masalah yang
muncul serta pemecahannya tercantum dalam struktur yang sama, yaitu pada
struktur: masalah/krisis. Bedanya, pada teks penceritaan ulang berakhir dengan
kejadian tanpa ditampakkan reaksi pelaku terhadap peristiwa yang dialaminya,
sedangkan pada teks anekdot reaksi pelaku atas peristiwa yang dialaminya
ditampakan secara eksplisit. Itu sebabnya, pada teks tipe ini memiliki struktur teks
tambahan yang berupa struktur: reaksi.
c) Eksemplum
Pendapat Mahsun (2018), “Teks ini memiliki tujuan sosial menilai perilaku
atau karakter dalam cerita. Itu sebabnya, teks ini memiliki struktur: judul,
pengenalan/orientasi, kejadian/insiden, dan interpretasi.” Untuk jelasnya dapat di
cermati teks berikut ini.
Tabel 7. Contoh Teks Eksemplum
Struktur Teks Teks
Judul Lebai Malang
Pengenalan/Orientasi Tersebutlah kisang seorang guru agama yang hidup di
Kejadian/Insiden tepi sungai di sebuah desa di Sumatra Barat. Pada
suatu hari, ia mendapat undangan pesta dari dua
Interpretasi orang kaya dari desa-desa tetangga.
Sayangnya pesta tersebut diadakan pada hari dan
waktu yang bersamaan. Pak Lebai menimang-nimang
untung dan rugi dari setiap undangan. Ia tidak pernah
dapat mengambil keputusan dengan cepat. Ia berpikir,
kalo pergi ke pesta di desa hulu sungai, tuan rumah
akan memberinya hadia dua ekor kepala kerbau.
Namun, ia belum begitu kenal dengan tuan rumah
tersebut. Menurut berita, masakan orang-orang hulu
sungai tidak enak orang hilir sungai.
Kalau ia pergi ke pesta di hilir sungai, ia akan
mendapat hadiah seekor kepala kerbau dengan di
masak dengan enak. Ia juga kenal betul dengan tuan
rumah tersebut. Tetapi, tuan rumah di hulu sungai
akan memberi tamunya dengan tambahan kue-kue.
Hingga ia mulai mengayuh perahunya ke tempat
pestapun ia belum dapat memutuskan pesta mana
yang akan dipilih.
Pertama, dikayuh sampannya menuju hulu
sungai.baru tiba ditengah perjalanan, ia mengubah
pikirannya. Ia berbalik mendayung perahunya ke arah
hilir. Begitu hampir sampai di desa hilir sungai,
dilihatnya beberapa tamu menuju hulu sungai. Tamu
tersebut mengatakan bahwa kerbau yang disembelih
di sana sangat kurus. Ia pun mengubah haluan
perahunya menuju hulu sungai. Sesampainya di tepi
desa hulu sungai, para tamu sudah beranjak pulang.
Pesta di sana sudah selesai.
Pak Lebai cepat-cepat mengayuh perahunya menuju
desa hilir sungai. Sayangnya, di sana pun pesta sudah
berakhir.
Akhirnya, pak Lebai pun menggerutu menyesali apa
yang dilakukan. Pak Lebai tidak mendapat kepala
kerbau yang diinginkannya.
Maka, sebaiknya orang itu jangan tamak. Maunya
mendapatkan banyak, tapi akhirnya tidak ada yang
didapat sama sekali.
Sumber: Mahsun (2018)
Seperti halnya kedua teks genre cerita yang dipaparkan di atas, teks
eksemplum juga memanfaatkan konjungsi dan piranti pengikat struktur teks
lainnya agar keseluruhan struktur teks menjadi padu. Masalah yang muncul serta
pemecahannya tercantum di dalam struktur yang sama, yaitu pada struktur:
masalah/krisis/insiden. Bedanya, teks penceritaan ulang berakhir dengan kejadian
tanpa ditampakkan reaksi pelaku terhadap peristiwa yang dialaminya, dan pada
teks anekdot terdapat reaksi pada peristiwa yang dialami tokoh. , maka pada teks
eksemplum bukan reaksi individu pelaku utama terhadap peristiwa tetapi
peristiwa yang berupa pesan moral dari kejadian yang dialami tokoh utama. Pesan
itu tidak terkait dengan tokoh utama tetapi terkait dengan pihak partisipan yang
mendengar atau membaca cerita. Dengan demikian, struktur akhir teks itu adalah
interpretasi penulis terhadap kejadian yang dialami pelaku, dan diharapkan dapat
menjadi bahan renungan moralitas bagi partisipan.
d) Naratif
Teks tipe ini, sama dengan ketiga teks genre cerita yang dipaparkan
sebelumnya. Menurut Mahsum (2018), “Teks naratif model penceritaan pada teks
tipe ini, antara masalah dengan pemecahan masalah tidak menyatu dalam satu
struktur teks seperti pada teks penceritaan ulang, anekdot, dan eksemplum.” Ia
terpisah dalam struktur teks yang berbeda. Itu sebabnya, teks tipe ini memiliki
struktur berpikir: judul, pengenalan/orientasi, masalah/komplikasi, dan
pemecahan masalah.
Tabel 8. Contoh Teks Naratif
Struktur Teks Teks
Judul Lebai Malang
Pengenalan/Orientasi Tersebutlah kisah seorang guru agama yang hidup
ditepi sungai di sebuah desa di Sumtra Barat. Pada
Masalah/Komplikasi suatu hari, ia mendapat undangan pesta dari dua
orang kaya dari desa-desa tetangga.
Sayangnya pesta tersebut diadakan pada hari dan
waktu yang bersamaan. Pak Lebai menimang-nimang
untung dan rugi dari setiap undangan. Ia berpikir,
kalau ia ke pesta di desa hulu sungai, tuan rumah
akan memberinya hadiah dua ekor kepala kerbau.
Namun, ia belum begitu kenal dengan tuan rumah
Pemecahan tersebut. Menurut berita, masakan orang-orang hulu
Masalah/Resolusi sungai tidak seenak orang hili sungai.
Kalau ia pergi ke pesta di hilir sungai, ia akan
mendapat hadia seekor kepala kerbau yang dimasak
dengan enak. Ia juga kenal betul dengan tuan rumah
tersebut. Tetapi, tuan rumah di hulu sungai akan
memberi tamunya tambahan kue-kue.
Pak Lebai berpikir keras untuk mendapat semuanya.
Setelah beberapa saat, dikayuh sampainya menuju
hilir sungai lebih dahulu dari tetangganya. Karena ia
kenal baik dengan tuan rumah itu, ia diterima dengan
baik oleh tuan rumah. Sesaat kemudian, pak Lebai
mulai berakting. Ia tidak bisa berlama-lama
mengahdiri pesta ini karena sesuatu hal. Oleh karena
itu, tuan rumah mengizinkannya. Dan karena sudah
menghadiri pestanya, maka tuan rumah memberikan
hadiah satu kepala kerbau yang dimasak enak.
Setelah pamitan, Pak Lebaipun segera pergi ke pesta
hulu sungai. Ia mengayuh dengan cepat, karena tidak
ingin melambat. Ketika sampai di sana, acara baru di
mulai. Maka legalah hatinya. Setelah selesai pesta,
Pak Lebaipun mendapat dua kepala ekor kerbau dan
ditambah kue-kue.
Sumber: Mahsun (2018)
Seperti halnya, ketiga teks genre cerita yang dipaparkan sebelumnya, piranti
yang berupa pengulangan/repetisi, anaforis, konjungsi penghubungan
antarparagraf: setelah beberapa saat, saat kemudian, oleh karena itu, setelah
pamitan, setelah selesai dan lain-lain dimanfaatkan untuk mengikat keseluruhan
unsur pengisi struktur teks menjadi satu kesatuan.
Perbedaan mendasar teks cerita ulang dengan teks naratif, anekdot, dan
eksemplum, terletak pada sudut pSaudarang dalam melihat peristiwa yang
diceritakan. Teks cerita ulang memSaudarang peristiwa sebagai sesuatu yang
wajar atau lazim terjadi, sedangkan teks naratif, anekdot, dan eksemplum
memSaudarang peristiwa sebagai sesuatu yang tidak lazim.
4) Teks Normatif
Normatif adalah berpegang teguh pada norma aturan dan ketentuan-
ketentuan yang berlaku (KBBI, 2018). Jadi pada dasarnya teks normatif adalah
teks yang isinya ditulis berdasarkan sebuah peraturan, norma-norma atau
peraturan yang berlaku, baik di lingkungan masyarakat maupun dalam lingkungan
kenegaraan yang berkaitan dengan hukum atau undang-undang. Teks normatif
biasanya memiliki unsur tentang agama atau nilai kebaikan.Untuk lebih jelasnya,
lihatlah contoh teks normatif di bawah ini.
Tabel 9. Contoh Teks Normatif
Struktur Teks
Teks
Hijabmu Mahkotamu
Judul
Rinai hujan yang memusimkan di bulan November seakan
akan awan menangis dan langit pun menyelimuti
Zaman kini telah berbeda, dimana masa yang banyak
dipengaruhi oleh budaya asing. Seolah-olah manusia mudah
terjerumus dengan hal hal yang negatif. Yang tak disangka
malah terjadi, sedangkan yang diharapkan tak terwujudkan.
Berawal dari 2 orang akhwat yang bersahabat bernama
Maidina Fadhila dan Hanifa Salsabila. Maidin (Maidina
Fadhila) mempunyai karakter yang religius, pintar agama, dan
selalu sabar dalam hal apapun. Sedangkan Ifa (Hanifa
Salsabila) sifat nya kalah jauh dari sahabatnya, ia senang
sekali bergaul dengan para ikhwan walaupun yang baru
dikenalnya pun ia sudah bisa langsung akrab dan ia selalu
tebar pesona terhadap para kaum adam tersebut.
Saat di halte, mereka sedang menunggu bus sambil
berbincang- bincang.
“Maidin, kamu lihat gak cowok geng motor yang kulitnya
putih terus pake anting sebelah dan dia sering nongkrong di
kafe moccala itu? dia kece banget Mai” ucap Ifa yang
terpesona.
“Astagfirullah Ifa, istighfar. Ini bulan puasa, jaga
perkataanmu dari yang bukan makhram mu. Dosa!” tegur
Maidin.
“Hmmm iya iya Mai, maaf.”
“Maafnya jangan sama aku, tetapi minta ampun sama Allah”
ucapnya sedikit tegas. Ifa pun terdiam saat ditegur oleh
sahabatnya.
“---------
Keesokan harinya…
Maidin berkunjung ke rumah Ifa.
“Assalamu’alaikum ifa”
“Wa’alaikum salam. Eh Maidin, tumben ke rumahku” dengan
senyum terpaksa
“Hehe iya. Mau silaturahmi aja.” Senyumnya yang sangat
manis.
“Hmmm bilang aja mau ngekritik aku lagi.” Tak tahu kenapa
ada penyakit hati yang di dalam diri Ifa sampai ia bergumam
seperti itu di dalam hatinya.
“Maidin, kita ke mall yuk. Di sana banyak barang yang lagi
promo loh!” ajak Ifa.
“Maaf ya Ifa, aku gak bisa. Lebih baik kamu ikut aku ke
pengajian aja. Daripada ke mall gak ada faedahnya, udah gak
dapat pahala, ngabis ngabisin duit lagi. Lagian barang
barangmu di rumah kan masih banyak yang bagus.” Maidin
menolak ajakan Ifa dan ia balik mengajak nya ke tempat
pengajian, karena di bulan Ramadhan ini Maidin tidak ingin
menyia nyiakan waktunya untuk berfoya-foya.
“Hmm ya sudah kalau gitu, aku mau pergi ke mall bareng
Fauzi aja.” Ifa tetap menolak ajakan Maidin dan ia malah
hendak kencan dengan seorang ikhwan lain.
“Astagfirullah. Fauzi? Siapa lagi itu Fa?” Maidin langsung
menyentuh dadanya karena terkejut sahabatnya akan
berpergian berdua dengan yang bukan makhramnya.
“Dia hanya teman aku kok. Udah kamu tenang aja aku bakal
aman sama dia” Ifa merangkul bahu Maidin.
“Ya Allah, Ifa mengumbar ngumbar auratnya sehingga tidak
memakai hijabnya dan ia hendak berkencan dengan seorang
ikhwan yang bukan makhramnya. Ampuni sahabatku ya
Allah.” Maidin merintih dalam hati.
“Ya udah Fa, aku berangkat ke pengajian dulu ya.
Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam”
-----------------------------------
Dikeramaian orang- orang pada isak tangis.
“Aku kenapa?” Ifa kebingungan.
“Bu, ibu. Ifa kenapa bu? Kok tubuh Ifa di tidurkan di depan
banyak orang? Dan kenapa tubuh Ifa ditutupi kain kafan?” Ifa
semakin panik. Jelas ibunya tak menjawab karena ibunya tak
bisa melihat rohnya tersebut.
Selang beberapa waktu kemudian, lalu Maidin datang untuk
ke rumah Ifa. “Nah itu Maidin, pasti dia bisa melihat aku.”
Meyakini dirinya dan sambil menghampiri Maidin.
“Maidin, kamu kenapa menangis? Kamu bisa melihat aku
kan?” Ifa terus menanyakan Maidin, sedangkan Maidin pun
tak heran heran karena ia juga tak bisa melihat rohnya Maidin.
“Kenapa semua orang tak bisa melihatku? Apa aku sudah
benar benar mati?” Ifa bersedih meratapinya.
Tak sengaja, Ifa melihat sebuah bak mandi yang berisikan
rambut panjang yang bersemir pirang di kamarnya.
“Ini rambut siapa? Seperti rambutku, tapi kenapa bau sekali
dan rontok begini?” Ifa terheran.
Lalu, ia pun bercermin untuk melihat keadaannya.
“Masya Allah, mana rambutku? Dan kenapa kepalaku
menjadi botak bahkan tak ada satupun sehelai rambut yang
ada di kepalaku?” Ifa menangis dan terlihat sangat syokh.
“Sudah Ifa untuk apa kamu menangisinya. Semuanya sudah
berlalu, kamu gak akan kembali hidup di bumi lagi. Ayo Ifa
sudah saatnya kamu akan dipilihkan ke pintu neraka atau
surga.” Ucap seorang bidadari kanan yang terdengar di telinga
kanannya. Saat hendak menaiki tangga, Ifa masih bingung
jalur manakah yang akan ia lalui. Apakah surga atau neraka?
Jika ia memilih jalur kiri maka masuklah ia ke dalam neraka.
Tetapi jika ia memilih jalur kanan maka masuklah ia ke dalam
surga atas izin Allah swt.
Roh ifa sudah mulai memilih jalur kanan dan ia pun
melangkah tangga surga itu.
Lalu, saat hampir ke tangga surga yang ke 7, ia pun ternyata
ditolak untuk memasuki surga atau menghuninya.
Mengapa? Padahal ia selalu mengerjakan shalat 5 waktu dan
ibadah sunah lainnya sering ia kerjakan. Tetapi dia ditolak
untuk menghuni surga.
Jawabannya yaitu walaupun Ifa selalu mengerjakan shalat 5
waktu dan mengerjakan ibadah sunah lainnya tetapi pada saat
di bumi apakah ia menutupi seluruh auratnya?
itulah sebabnya Ifa ditolak untuk menghuni surga.
Lalu, roh Ifa pun memilih tangga neraka karena roh tidak
bakal bisa mengelak atau membohongi walaupun Ifa
memaksa hendak masuk ke surga tetapi mau bagaimana lagi
jika rohnya tetap berjalan sendiri tanpa diperintahkan kembali.
“Panas… panas…” teriakan Ifa.
“Astagifirullahaladzim” Ifa terbangun dari mimpinya.
Ifa pun menangis saat ia mendapati mimpi seperti itu.
“Ya Allah, hamba sadar. Ini sudah teguran bagiku. Maafkan
hamba ya Allah” Ifa menyadari kesalahannya.
Setelah Ifa mendapat mimpi itu, Ifa mulai berhijrah dengan
bertaubat untuk berjanji akan menutup auratnya serta menjaga
pSaudarangannya dari yang bukan makhram.
Ini adalah gambaran untuk kaum hawa agar senantiasa
menutupi auratnya. Patuhilah perintah Allah dengan anjuran
menutup aurat khususnya yang sudah baligh.
Seperti halnya terdapat pada hadits Rasulullah SAW: “Tidak
diterima sholat wanita dewasa kecuali yang memakai khimar
(jilbab). (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, bn Majah)”
Maka dari itu, berhijrahlah dari sekarang. Sebab untuk apa
kita menunda berhijrah sedangkan kita tak tahu kapan ajal
menjemput.
Sumber: Cerita Karya Sania Herawati
Teks cerita yang berjudul “Hijabmu Mahkotamu” merupakan teks cerita yang
berkaitan dengan norma keagamaan. Dalam norma keagamaan termasuk agama
islam, betapa penting dan wajibnya seorang perempuan menggunakan hijab di
dalam kehidupannya.
b. Satuan Bahasa Pembentuk Teks
Saudara, masih ingatkah apa yang dimaksud dengan satuan bahasa
pembentuk teks? Coba, ingat-ingat kembali. Untuk membantu Saudara mengingat
kembali konsep tentang satuan bahasa pembentuk teks, bacalah penggalan teks di
bawah ini.
Membuat Batik Tulis
Proses pembuatan batik tulis adalah proses yang membutuhkan teknik,
ketelitian, dan kesabaran yang tinggi. Batik sebagai warisan budaya yang
agung perlu kita lestarikan. Dengan latihan yang tekun dan semangat
melestarikan budaya, kita dapat belajar membuat batik tulis.
(Sumber: Kosasih & Kurniawan, 2019)
Saudara, unsur bahasa apa sajakah yang membentuk teks tersebut? Apakah
Saudara menemukan kata, frasa, klausa, kalimat, dan paragraf?
Benar, satuan bahasa pembentuk teks terdiri atas kata, frasa, klausa, kalimat
dan paragraf.Agar lebih jelas, berikut diuraikan satuan bahasa pembentuk teks
beserta contohnya.
1) Kalimat
Kalimat adalah satuan gramatikal yang disusun oleh konstituen dasar dan
intonasi final. Konstituen dasar itu dapat berupa klausa, frase, maupun kata
(Keraf, 2000).
Contohnya:
a. Aldo membeli buku (klausa)
b. Buku baru! (frase)
c. Buku! (kata)
Kalimat di atas jika dilafalkan maka akan jelas peranan intonasi final dalam
menentukan status kalimat. Kalimat satuan sintaksis dapat diperluas dengan
menambah klausa dengan sifat hubungan parataktis koordinatif atau subordinatif.
a) Klasifikasi kalimat
Berdasarkan jumlah klausanya, kalimat dibedakan menjadi kalimat tunggal,
kalimat bersusun, dan kalimat majemuk.
(1) Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri dari satu klausa bebas.
Contoh:
(a) Dia datang dari Bandung.
(b) Nenekku masih sehat.
(c) Saya sedang membaca buku di kamar.
(2) Kalimat bersusun
Kalimat bersusun adalah kalimat yang terjadi dari satu klausa bebas dan
sekurang-kurangnya satu kalimat terikat.Ada beberapa sebutan untuk sebutan
kaliat bersusun, misalnya kalimat majemuk bertingkat, atau kalimat majemuk
subordinatif.
Contoh:
(a) Kalau Alya menangis, Aldo pun ikut menangis.
(b) Aldo tidak pergi ke sekolah karena sedang sakit.
(c) Karena ada banyak siswa yang tidak siap, ujian dibatalkan.
(3) Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk adalah kalimat yang terjadi dari beberapa klausa bebas yang
disebut juga sebagai kaliat setara.
Contoh:
(a) Alya membuka jendela kaar lalu membersihkan tempat tidur.
(b) Aldo hobi bermain bola dan sering menciptakan gol.
Berdasarkan struktur klausanya, kalimat dibedakan menjadi:
(1) Kalimat Lengkap
Kalimat lengkap adalah kalimat yang mengandung klausa lengkap.Sekurang-
kurangnya terdapat unsur objek dan predikat.
Contoh:
(a) Ibu guru mengajar bahasa Indonesia di depan kelas.
(b) Adik bermain sepeda di halaman rumah.
(2) Kalimat Tidak Lengkap
Kalimat tidak lengkap adalah kalimat yang hanya terdiri dari subjek saja,
predikat saja, objek saja, atau keterangan saja.
Contoh:
(a) Selamat Pagi!
(b) Silakan antre!
(c) Alya!
Berdasarkan amanat wacana, kalimat dibedakan menjadi:
(1) Kalimat deklaratif
Kalimat deklaratif adalah kalimat yang mengandung intonasi deklaratif yang
dalam ragam tulis diberi tSaudara titik.
Contoh:
(a)Gaji guru honor tidak dinaikan.
(b) Dalam bulan ramadhan kaum muslim berpuasa.
(2) Kalimat introgatif
Kalimat introgatif adalah kalimat yang mengandung intonasi introgatif, yang
dalam ragam tulis biasanya diberi tSaudara Tanya.
(a) Apakah Saudara seorang guru?
(b) Di mana tepat terjadinya Perang Dunia II?
(3) Kalimat imperatif
Kalimat imperatif adalah kalimat kalimat yang mengandung intonasi imperatif
yang dalam ragam tulis biasanya diberi tSaudara seru.
(a) Berikan hadiah ini kepada temanmu!
(b) Bukalah pintu itu!
a) Kalimat aditif
Kalimat aditif adalah kalimat terikat yang bersambung pada kalimat
pernyataan, berupa kalimat lengkap atau tidak.
Contoh:
(1) Sedangkan bulan Mei, terang hujan tidak ada.
(2) Hanya belum punya anak.
b) Kalimat responsif
Kalimat responsif adalah kalimat terikat yang bersabung pada kalimat
pertanyaan, berupa kalimat lengkap atau tidak.
Contoh:
(1) Ya!
(2) Tadi malam!
c) Kalimat interjektif
Kalimat interjektif adalah kalimat yang dapat terikat atau tidak.
Contoh:
(1) Wah ini baru namanya penampilan!
(2) Semoga Allah memberikan petunjuk!
Berdasarkan pembentukan kalimat dari klausa inti dan perubahannya,
kalimat dibedakan menjadi kalimat inti dan kalimat noninti.
b) Kalimat Inti
Kalimat inti adalah kalimat yang dibentuk dari klausa inti yang lengkap,
bersifat deklaratif, aktif, netral, atau firmatif.Biasanya disebut kalimat dasar.
Contoh:
(1) FN + FV : Bapak datang
(2) FN + FV + FN : Ibu membeli sayur
(3) FN + FN : Ayah guru.
c) Kalimat Noninti
Kalimat ini dapat diubah menjadi kaliat noninti dengan berbagai proses
transforasi; pemasifan, pengingkaran, penanyaan, pemerintahan, pelepasan,
dan penembahan.
Contoh:
(1) Buku dibaca oleh Alya.
(2) Alya tidak membaca buku.
(3) Apakah Alya membaca buku?
Berdasarkan jenis klausa, kalimat dibedakan atas kalimat verbal dan kalimat
nonverbal.
a) Kalimat verbal
Kalimat verbal adalah kalimat yang dibentuk dari klausa verbal.
Contoh:
(1) Alya menulis surat,
(2) Ibu bertamu ke rumah bibi.
(3) Surat ditulis Alya.
b) Kalimat nonverbal
Kalimat nonverbal adalah kalimat yang dibentuk oleh klausa nonverbal sebagai
kontituen dasarnya.
Contoh:
(1) Nenekku pensiunan guru.
(2) Mereka di kamar depan.
(3) Ibu guru cantik sekali.
Berdasarkan fungsi kalimat sebagai pembentuk paragrap, kalimat dibedakan atas:
a) Kalimat Bebas
Kalimat bebas adalah kalimat yang mempunyai potensi untuk menjadi ujaran
lengkap, atau kalimat yang dapat memulai sebuahparagrap, wacana tanpa
konteks lain yang memberi penjelasan.
b) Kalimat Terikat
Kalimat terikat adalah kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai ujaran
lengkap.
Contoh:
Sekarang di Riau sukar mencari terubuk (1). Jangankan ikannya, telurnya pun
sangat sukar diperoleh (2). Kalau pun bisa diperoleh, harganya melambung
selangit (3). Makanya, ada kecemasan masyarakat nelayan di sana bahwa
terubuk yang spesifik itu akan punah (4).
Kalimat (1) pada teks di atas adalah contoh kalimat bebas. Tanpa harus diikuti
kalimat (2), (3), dan (4), kaliat sudah dapat menjadi ujaran lengkap yang bisa
dipahami. Sedangkan kalimat (2), (3), dan (4) adalah kalimat terikat. Ketiga
kalimat itu secara sendiri-sendiri tidak dapat dipahami, sehingga tidak dapat
berdiri sendiri sebagai sebuah ujaran.
2) Paragraf
Paragraf dapat diartikan sebagai satuan gagasan di dalam bagian suatu
wacana, yang dibentuk oleh kalimat-kalimat yang saling berhubungan dalam
mengusung satu kesatuan pokok pembahasan.Dengan demikian, paragraf
merupakan satuan bahasa yang lebih besar daripada kalimat.Namun, paragraf juga
masih merupakan bagian dari satuan bahasa lainnya, yaitu wacana.Sebuah wacana
umunya dibentuk lebih dari satu paragraf. (Kosasih & Hermawan, 2012)
Secara umum, paragraf dibentuk oleh unsur gagasan pokok dan beberapa
gagasan penjelas.Selain itu, ada unsur yang disebut kalimat utama dan kalimat
penjelas. Hubungan kalimat utama dengan kalimat penjelas sering kali memerluka
kehadiran unsur lain yang berupa kata penghubung atau konjungsi. Berikut
disajikan diagram unsur-unsur paragraf.
Unsur-unsur
paragraf
Gagasan utama Gagasan
Kalimat utama penjelas
Kalimat penjelas
Gambar 1. Unsur-unsur Paragraf
a) Gagasan Pokok dan Gagasan Penjelas
Secara umum, paragraf dibentuk oleh dua unsur, yakni gagasan pokok dan
beberapa gagasan penjelas.
(1) Gagasan pokok merupakan gagasan yang menjadi dasar pengembangan suatu
paragraph. Dengan demikian, fungsinya sebagai pokok, patokan, atau dasar
acuan pengembangan suatu paragraf.
(2) Gagasan penjelas merupakan gagasan yang berfungsi menjelaskan gagasan
pokok. Penjelasannya, bisa dalam bentuk uraian-uraian kecil, contoh-contoh,
atau ilustrasi, kutipan-kutipan, dan sebagainya (Kosasih, 2012).
Berikut contoh pola hubungan gagasan pokok dengan gagasan penjelas.
Adapun pengembangannya ke dalam bentuk paragrap adalah sebagai berikut.
Tabel 9. Pola Pengembangan Gagasan Pokok Dengan Gagasan Penjelas
Pola 1: Deduktif Pola 2: Induktif
Gagasan Gagasan Gagasan penjelas Gagsan pokok
pokok
Laut penjelas Telebanking
mempunyai merupakan inovasi
beberapa 1. Suhu tidak 1. Seorang harus baru untuk
kelebihan mempermudah
dibandingkan berubah- datangke bank para nasabah
darat. melakukan
ubah dengan memenuhi berbagai kegiatan
transaksi
segala perbankan.
persyaratannya.
2. Air yang 2.Seorang nasabah
cukup yang mau
tersedia mentransfer dana ke
rekening lain, harus
3. Makhluk datang ke bank
hidup di dengan memenuhi
laut dapat segala persyaratan.
menyerap
air 3. Segala transaksi
langsung harus dilakukan di
masuk tempat bank.
sistem 4. Sekarang, para
tubuh nasabah bank
4. Makhluk dipermudah.
hidup di
laut dapat 5. Transaksi dapat
memperol dilakukan dari
eh oksigen jarak jauh.
dan
karbon
Pengembangan pola gagasan pokok dan gagasan penjelas dalam bentuk
paragraf sebagai berikut:
1) Sebagai tempat hidup, laut mempunyai kelebihan dibandingkan darat.
Kelebihan-kelabihan laut, antara lain, suhu yang kurang berubah-ubah,
dukungan yang lebih banyak untuk melawan gravitasi bumi, air yang cukup
tersedia. Dengan air yang cukup tersebut, makhluk hidup di laut dapat
menyerap air secara langsung masuk system tubuh. Makhluk hidup di laut
dapat memperoleh oksigen dan karbon.
2) Pada masa lalu bila seseorang ingin menabung atau mengambil uang di bank,
dia harus dating ke banktersebut dengan memenuhu segala persyaratannya.
Demikian juga bila seorang nasabah mau mentransfer dana ke rekening lain,
dia harus dating ke bank tersebut dengan memenuhu segala persyaratannya.
Segala transaksi harus dilakukan di tempat bank itu berada. Sekarang, para
nasabah bank dipermudah dengan teknik layanan baru. Bila mau mengadakan
transaksi mulai dari menabung, mengambil uang, mengecek saldo akhir,
hingga membayar rekening telepon, dan lain-lain dapat dilakukan dari jarak
jauh, tinggal tekan tombol. Telebanking merupakan inovasi baru untuk
mempermudah para nasabah melakukan berbagai kegiatan transaksi
perbankan. (Kosasih & Hermawan, 2012)
b) Kalimat Utama dan Kalimat Penjelas
Kalimat utama merupakan kalimat yang menjadi tempat dirumuskannya
gagasan pokok. Letaknya bisa di awal, di tengah, ataupun di akhir paragraf. Ada
pula kalimat utama yang berada di awal dan di akhir paragraf secara
sekaligus.Walaupun terdapat pada dua kalimat, tidak berarti paragraf itu memiliki
dua gagasan pokok, gagasan pokok paragraf tersebut tetap satu. Adapun
keberadaan kedua kalimat utama hanya saling menegaskan: kalimat pertama
menegaskan kalimat terakhir ataupun sebaliknya. (Kosasih, 2012)
Sementara itu kalimat penjelas merupakan kalimat yang menjadi tempat
dirumuskannya gagasan penjelas.Satu kalimat utama lazimnya mewakili satu
gagasan penjelas.
Bacalah paragraf di bawah ini
Proses penemuan fotokopi bukan karena ditunjang oleh fasilitas
yang memadai, tetapi karena ketekunan. Sang penemu terbiasa
mengatur waktu kosongnya yang relatif singkat. Ketika menginjak usia
29 tahun, dia sudah mulai mengadakan penelitian tentang berbagai efek
cahaya atas berbagai bahan guna memindahkan suatu tulisan dari satu
lembar ke lembar lain. Karena itu, dia mulai bereksperimen di
apartemennya dengan menggunakan efek fotoelektrik untuk
mengadakan pengadaan.Tiap menjelang tidur malam, dia membaca
buku yang dipinjamnya dari perpustakaan.
Gagasan pokok paragraf tersebut adalah proses penemuan fotokopi karena
ketekunan. Gagasan tersebut terdapat dalam kalimat pertama.Kalimat-kalimat
yang ada di bawahnya mengandung gagasan penjelas, yang fungsinya
membuktikan tentang bagaimana ketekunan si penemu fotokopi itu.Dijelaskan
bahwa penemu fotokopi itu rajin mengadakan penelitian dan rajin membaca buku
walaupun waktu yang dimilikinya sangat sempit. (Kosasih, 2012)
c) Hubungan Unsur-unsur Paragraf
Tabel berikut mengemukakan secara lebih jelas tentang hubungan gagasan
pokok dengan gagasan penjelas serta kalimat utama dengan kalimat penjelas.
Tabel 10. Hubungan Gagasan Pokok dengan Kalimat Utama
Gagasan Pokok Kalimat Utama
Penemuan fotokopi karena Proses penemuan fotokopi bukan karena
ketekunan. ditunjang oleh fasilitas yang memadai,
tetapi karena ketekunan.
Tabel 11. Hubungan Gagasan Penjelas dengan Kalimat Penjelas
No Gagasan Penjelas Kalimat Penjelas
1 Dia mengatur waktu
Dia mengatur waktu kosongnya yang
kosongnya relatif singkat.
2 Dia mengadakan penelitian Ketika menginjak usia 29 tahun, dia
sudah mulai mengadakan penelitian
3 Dia mengadakan tentang berbagai efek cahaya atas
eksperimen. berbagai bahan guna meindahkan suatu
tulisan dari satu lembar ke lebar lain.
4 Dia membaca buku. Karena itu, dia mulai bereksperien di
apartemennya dengan menggunakan
efek fotoelektrik untuk mengadakan
penggSaudaraan.
Tiap menjelang tidur malam, dia
membaca buku yang dipinjamnya dari
perpustakaan.
Hubungan antarunsur paragraf, terutama kalimat utama dengan kalimat
penjelas atau kalimat penjelas dengan kalimat penjelas lainnya, sering
menggunakan kata penghubung atau konjungsi.Konjungsi yang berfungsi
menggabungkan kalimat-kalimat itu sering disebut konjungsi antarkalimat. Dalam
paragraf di atas, tampak satu contoh konjungsi antarkalimat, yakni dengan,
demikian. Contoh konjungsi antarkalimat lainnya adalah biarpun demikian,
setelah itu, sebaliknya, oleh sebab itu, dan kecuali itu.
d) Ciri-ciri Paragraf yang Baik
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menulis sebuah paragraf.
1) Kepaduan Paragraf
Kepaduan paragraf adalah keeratan ataupun kekompakan hubungan
antarunsur-unsur paragraf, baik itu antarkalimat utama dengan kalimat
penjelasnya ataupun antarkalimat penjelas itu sendiri. Kepaduan itu harus tampak
dalam isi serta dalam bentuknya. Dengan demikian, kepaduan suatu paragraf
mencakup dua hal, yakni kepaduan isi dan kepaduan bentuk.
(a) Kepaduan Isi
Kepaduan isi atau koheren adalah kekompakan sebuah paragraf yang
dinyatakan oleh kekompakan kalimat-kalimat di dalam mendukung satu gagasan
pokok. Sebuah paragraf memenuhi syarat kepaduan isi apabila kalimat-kalimat
dalam paragraf tersebut tidak melenceng dari gagasan pokoknya. Misalnya,
kalimat awalnya membahas masalah bencana alam, namun dalam kalimat
keduanya membahas musim durian.
Kepaduan isi ditandai pula oleh hubungan kalimat yang satu dengan yang
lainnya berdasarkan penalaran atau kelogisan. Perhatikan contoh berikut!
Contoh:
Pak Amat mengidap kanker paru-paru. Oleh sebab itu, ia banyak merokok.
Cuplikan tersebut menyatakan hubungan sebab-akibat. Namun demikian,
hubungan tersebut tidak logis. Ketidaklogisan tersebut terletak pada penggunaan
konjungsi sebab itu, yang berarti kanker merupakan penyebab seseorang banyak
merokok. Padahal justru sebaliknya: banyak merokok dapat menyebabkan kanker.
(b) Kepaduan Bentuk
Kepaduan bentuk dalam suatu paragraf dapat dilakukan dengan cara-cara
berikut.
1) Penggunaan konjungsi, misalnya:
a. biarpun begitu, namun untuk menyatakan hubungan pertentangan dengan
kalimat sebelumnya;
b. sesudah itu atau kemudian untuk menyatakan hubungan kelanjutan dari
peristiwa sebelumnya;
c. selain itu untuk menyatakan hal lain di luar yang telah dinyatakan
sebelumnya;
d. sebaliknya untuk menyatakan kebalikan dari yang dinyatakan
sebelumnya;
e. sesungguhnya untuk menyatakan keadaan yang sebenarnya.
2) Pengulangan kata atau frasa.
a. Anak-anak biasanya mudah terkena ETS. Hal ini karena pada anak-anak
saluran pernapasan mereka lebih kecil dan bernapas lebih cepat daripada
orang tua.
b. Minyak bumi adalah sumber energy yang tidak terbarukan. Artinya,
minyak bumi yang telah dipakai tidak didaur ulang.
3) Pemakaian kata ganti atau kata yang sama maknanya
Contoh:
Putri penyair kenamaan itu makin besar juga.Gadis itu sekarang duduk di
sekolah menengah.
4) Pemakaian kata yang berhiponimi, yakni kata yang merupakan
bagian dari kata lainnya.
Contoh:
Dia tidak menyangka bahwa adiknya itu sangat cantik.Rambutnya
panjang, matanya bulat, dan hidungnya mancung.
2) Kesatuan paragraf
Kesatuan paragraf adalah bagian karangan yang terdiri dari beberapa kalimat yang
berkaitan secara utuh, padu, dan membentuk satu kesatuan pikiran.
3) Kelengkapan
Paragraf yang baik harus memiliki unsur-unsur paragraf yang lengkap seperti
gagasan pokok, kalimat utama, dan kalimat penjelas.
4) Ketepatan Pemilihan Kata
Pemilihan kata harus sesuai dengan situasi dan kondisi
pemakainya.Pemakaian kata dia, misalnya, tidak tepat digunakan untuk orang
yang usianya lebih tua, yang tepat adalah kata beliau.Demikian pula halnya
dengan kata menonton, kata ini tidak tepat bila digunakan dalam paragraf yang
menyatakan maksud melihat orang sakit.Dalam hal ini kata yang harus digunakan
adalah mengunjungi, menjenguk, atau menengok. (Kosasih & Hermawan, 2012)