BAHAN AJAR AGAMA
KATOLIK
PERKAWINAN DALAM TRADISI KATOLIK
D
I
S
U
S
U
N
OLEH:
ROMIAN NAINGGOLA, S.Ag
SMA NEGERI 5 MEDAN
KELAS XII
Doa Pembuka
Allah Bapa yang penuh kasih, Puji dan syukur kami haturkan kehadirat-mu atas anugerah
kehidupan yang Engkau berikan kepada kami. Bimbinglah kami ya Bapa dalam kegiatan
pembelajaran tentang perkawinan dalam tradisi Katolik, sehingga kami sungguh memahami dan
menghayatinya kelak. Doa ini kami sempurnaka dengan doa yang diajarkan Yesus Putra-Mu…
Bapa Kami….
Pemikiran Dasar
Perkawinan antara seorang pria dan wanita dalam agama apapun merupakan suatu
peristiwa kehidupan manusia yang sangat sakral. Karena itu tidak boleh dinodai atau dihianati
oleh siapapun dengan motif apapun. Sayang sekali bahwa dalam masyarakat, kita sering
mendengar atau menyaksikan pertikaian antara pasangan suami-isteri yang menimbulkan
keretakan hubungan atara mereka. Tak jarang relasi suami-isteri yang sangat bersifat pribadi itu
dibawa keranah publik, terutama para pesohor, entah artis, polotisi, dan tokoh masyarakat
dijadikan konsumsi masyarakat umum melalui infotainment di televisi atau sarana sosial media
digital yang kini berkembang pesat. Pemberitaan media massa tentang kasus perkawinan dengan
berbagai latarbelakangnya itu, dapat menciptakan suatu pandangan masif dalam masyarakat
bahwa perceraian suami-isteri merupakan hal yang biasa-biasa saja bahkan dianggap sebagai
suatu budaya dalam kehidupan moderen.
Tujuan Pembelajaran
1. Melalui membaca Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 peserta didik dapat
menjelaskan makna perkawinan
2. Melalui membaca Kitab Suci peserta didik dapat menjelaskan makna perkawinan
menurut Kitab Suci (Kej 2:18-25; Mark 10: 2-12)
3. Melalui membaca Dokumen Gereja peserta didik dapat menjelaskan sifat perkawinan
menurut ajaran Gereja (Hukum Kanonik 1055 dan Gaudium et Spess art. 3a, 48,52a).
a. Landasan biblis (perjanjian Lama dan Perjanjian Baru)
Spiritualitas Keluarga Abraham : Nilai dan konflik
Konflik Ciri Solusi Kitab Suci
Kemapanan Taat, beriman Menurut dan Kej 16. 1 – 4
Kej 16. 4 – 15
Allah menyuruh Abraham berangkat. Kej. 21. 8 – 14
Kej 22. 1 – 19
pergi dari mencari tanah baru
Keturunan Sarai mulai putus Sarai memberikan
Sampai tua Abraham dan Sara asa dan tidak pembantunya
belum memiliki keturunan percaya kepada Abraham
Pertengkaran Sakit hati dan Sarai menindas
Hagar mengandung dan marah Hagar sehingga dia
merasa tinggi hati. melarikan diri.
Warisan Cemas dan egosi Hagar dan Ismail
Sara tidak mau Ismail disuruh pergi
mendapat bagian warisan
Persembahan Taat, beriman Allah sendiri
Allah meminta Abraham menyediakan
untuk menjadikan Isaak sbg korban pengganti,
korban bakaran. seekor domba.
Spiritualitas Keluarga Nazareth : Kebiasaan, nilai dan konflik.
Konflik Ciri Solusi Kitab suci
Matius 1. 18 –
Maria Mengandung sebelum Maria taat Maria akan diceraikan 19
Matius 1: 20
menikah secara diam-diam – 25
Yusuf mau menceraikan Maria Marah Malaikat Lukas 2: 1 - 6
memberitahukan Yusuf
Dipaksa melakukan perjalanan Taat, setia dan untuk tidak melakukan Matius 2 : 13
jauh saat Maria hamil tua, saling mendukung niatnya itu. – 15
kesulitan mendapatkan Takut Mendapatkan tempat
penginapan Cemas penginapan di kandang. Lukas 2: 41-
Herodes memburu Yesus Hening dan pasrah 51
Hening dan pasrah Malaikat menyuruh
Yesus tertinggal di Bait Allah Yusuf membawa anak Lukas 2: 19,
ketika berumur 12 tahun dan istrinya ke Mesir 51
Kembali ke Yerusalem
Kebingungan Maria tentang untuk mencari Yesus Matius 27
kedirian Yesus sehari perjalanan.
Maria menyimpan
Yesus disiksa dan disalibkan semua perkara dalam
hati
Maria menyimpan
semua perkara dlm hati
b. Hakikat Spiritual (sebagai peristiwa iman, cinta sebagai pengalaman
rohani)
- Cinta sebagai dasar dan suci : kesediaan untuk terbuka, saling menerima dan berkurban.
Tingkatan Cinta
a. Agape : cinta yang tulus bahkan disertai pengurbanan diri. Misal : Ayah terhadap anak-
anaknya, Istri terhadap suami. Teman yang rela berkoban agar temannya selamat. Tuhan
Yesus yang rela wafat untuk manusia.
b. Phileo : menyayangi secara murni, hubungan saling melengkapi (dua sahabat yang baik)
c. Stergo : tertarik spontan, mau melindungi, rasa bertanggung jawat terhadap
kesejahteraan. (Pemerintah terhadap rakyat, guru terhadap siswa, dll)
d. Eros : ketertarikan secara fisik– seksual. Bersifat emosional belaka dan sesaat.
- Menanggapi panggilan Tuhan : Menjadi ayah / ibu adalah panggilan untuk menjadi rekan
kerja Allah dalam mewartakan kasih, dan menciptakan manusia baru.
- Makna sakramen Pernikahan : Perkawinan adalah suci karena Allah sendiri yang telah
merestui perkawinan. Maka tidak ada perceraian, sebab Allah tidak mungkin memasangkan dua
orang secara acak dan coba-coba.
- Keluarga sebagai gereja mini : Gereja = tempat tinggal Allah. Allah hadir dalam tiap
keluarga, dan tiap keluarga melaksanakan misi gereja yakni mewartakan kasih Allah.
c. Hakikat sosial pernikahan (Sosial – hubungan yang khusus antara
dua atau lebih pribadi)
- Persekutuan hidup dan cinta : perkawinan adalah persatuan antara dua pribadi yang
berbeda. Dimana cinta bisa mengalahkan semua perbedaan, menjadi dasar dan tujuan dari
persekutuan tersebut. Dan sangat terbuka terhadap kehadiran anak-anak / anggota sosial yang
lain.
- Monogami dan tak terceraikan : Perkawinan itu hanya untuk satu laki-laki dan
perempuan, memiliki ketetapan hukum sehingga tidak dapat seenaknya saja bercerai untuk
kawin lagi.
d. Tujuan Perkawinan
a) Kesejahteran hidup bersama suami – istri (Bonum vitae). Tujuan utama perkawinan
adalah agar suami - istri untuk saling membahagiakan.
b) Membentuk persekutuan hidup bersama (Bonum Cognium/ Comune). Suami istri
harus menerima pasangan secara total, seluruh diri dan apa adanya. Cinta yang tanpa syarat.
c) Kebaikan hidup anak-anak (Bonum Proles). Perkawinan itu harus terbuka pada
kelahiran anak (procreatio) dan bertanggung jawab untuk kebahagiaan dan kemandirian anak-
anak.
e. Ciri Perkawinan Katolik
1. Monogami : Perkawinan itu hanya untuk satu laki-laki dan satu perempuan.
2. Tak terceraikan : Setia dengan satu pasangan sampai akhir hayat sebab apa yang
telah disatukan Allah tidak dapat diceraikan oleh manusia.
3. Sakramental (Matius, 5:32; 19.6)
: Perkawinan itu direstui oleh Allah sendiri dan Allah hadir di
dalam keluarga tersebut.
f. Proses Pernikahan Katolik
Syarat pernikahan : Sah bila
1. Ada kesepakatan / perjanjian nikah.
2. Kesepakatan diterima oleh pejabat gereja (uskup, imam atau diakon).
3. Ada saksi minimal dua orang.
Syarat tambahan :
4. Pasangan bebas dan memahami –lewat KPP) tentang perkawinan.
5. Penyelidikan Kanonik : untuk memastikan kelayakan secara moral dan hukum suatu
perkawinan.
Halangan perkawinan
Halangan pernikahan dari hukum ilahi : halangan yang bersifat kodrati, tidak terbantahkan.
1. Impotensi yang bersifat tetap (Kak 1084)
2. Masih terikat perkawinan sebelumnya (Kan. 1085)
3. Ada hubungan darah dalam garis lurus (kebawah atau ke atas) – (Kan 1091 $ 1)
Garis lurus : ayah/ Ibu – Anak – Cucu – Cicit, dst.
Halangan nikah menurut Kitab Hukum Kanonik :
1. Belum cukup Umur (Pr. 14 th & Lk. 16 th).
2. Beda Agama
3. Masih terikat Tahbisan Suci
4. Masih terikat kaul biarawan/ wati
5. Penculikan
6. Kriminal
7. Hubungan darah ke samping : Adik-kakak sepupuh.
8. Hubungan semenda (anak tiri dan ipar)
9. Kelayakan public.
10. Pertalian adopsi.
Tugas
1. Apa makna perkawinan menurut negara atau peraturan perundang-undangan?
2. Apa maksud teks Kej 2:18-25 berkaitan dengan perkawinan?
3. Apa maksud teks Mrk 10: 2-12 berkaitan dengan perkawinan?
4. Apa makna ajaran Gereja tetang perkawinan dalam KHK 1055, GS art 3a, 48, 52a?
Doa Penutup
DEMIKIANLAH MATERI KITA HARI INI
SELAMAT BELAJAR
TUHAN MEMBERKATI
DEO GRATIAS