Bab 4
Sifat Ciri Pupuk Buatan dan
Pemrosesannya
4.1 Pendahuluan
Pupuk buatan merupakan pupuk mineral yang dibuat oleh industri berdasarkan
kebutuhan petani sebagai salah satu bahan untuk penyuburan tanaman dan
berasal dari bahan anorganik melalui proses kimia. Pupuk buatan dapat
digolongkan berdasarkan kandungan unsur penyusun dan fungsi pupuk yang
dibuat oleh industri. Salah satu sumber zat hara buatan yang diperlukan untuk
mengatasi kekurangan nutrisi terutama unsur-unsur nitrogen (N), fosfor (P),
dan kalium (K). Sedangkan unsur sulfur (S), kalsium (Ca), magnesium (Mg),
besi (Fe), tembaga (Cu), seng (Zn), dan boron (B) dalam jumlah sedikit.
Berdasarkan analisis, setiap tanaman membutuhkan sekitar 50 elemen atau
unsur. Sedangkan yang dibutuhkan oleh tanaman selama masa pertumbuhan
dan perkembangannya ada 16 unsur yang merupakan unsur hara esensial yang
dapat dibuat menjadi hara makro dan mikro. Unsur hara makro relatif banyak
diperlukan oleh tanaman, sedangkan unsur hara mikro juga sama pentingnya
dengan unsur hara makro hanya dalam hal ini kebutuhan tanaman terhadap
zat-zat ini hanya sedikit. Menurut analisis kimia ternyata, bahan organik terdiri
38 Pupuk dan Teknologi Pemupukan
dari Karbon (C) sekitar 47 %, Hidrogen (H) sekitar 7%, Oksigen (O) sekitar 44
%, Nitrogen (N) sekitar 0,2% - 2% (Mulyani, 1999).
4.2 Pupuk Buatan
Pupuk buatan atau pupuk kimia memiliki kelebihan pada unsur dan senyawa
yang mudah larut, serta cepat diserap oleh tanaman tanpa memerlukan proses
penguraian. Pupuk bagi tanaman sama seperti makanan pada manusia, jika
dalam makanan manusia dikenal ada istilah gizi maka pupuk dalam tanaman
berfungsi untuk hidup, tumbuh, dan berkembang. Pupuk yang beredar saat ini
terdiri dari bermacam-macam jenis, bentuk, warna, dan merek.
Namun, berdasarkan cara aplikasinya hanya ada dua jenis pupuk akar dan
pupuk daun. Manfaat pupuk adalah menyediakan unsur hara yang kurang atau
bahkan tidak tersedia di tanah untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Namun, secara lebih rinci manfaat pupuk ini dapat dibagi dalam dua macam,
yaitu yang berkaitan dengan perbaikan sifat fisik dan kimia tanah (Marsono,
2005). Aplikasi senyawa pada pupuk buatan secara umum dapat merangsang
pertumbuhan tanaman sesuai kebutuhan misalnya untuk buah, biji dan lain-
lain.
4.2.1 Jenis Pupuk Buatan Di Indonesia
Secara umum pupuk yang dibuat di Indonesia mudah larut atau bersifat
hidroskopis. Adapun jenisnya terdiri dari: pupuk urea, ZA, SP-36, Phonska,
DAP, NPK, ZK, Petroganik, KCL, Rock Phosphate, TSP dan industri kimia
lainnya.
Industri pupuk di Indonesia antara lain:
1. PT. Pupuk Kaltim
2. PT. Pupuk Kujang
3. PT. Petrokimia gresik
4. PT. Pupuk Sriwijaya Palembang
5. PT. Mega Eltra
6. PT. Pupuk Indonesia Logistik
7. PT. Pupuk Indonesia Energi
8. PT. Pupuk Indonesia Pangan.
Bab 4 Sifat Ciri Pupuk Buatan dan Pemrosesannya 39
Pupuk Urea
Pupuk Urea merupakan pupuk tunggal yang mengandung nitrogen (N) tinggi
sebesar 45-46%. Pupuk ini memiliki rumus kimia CO(NH2)2, sekitar 46 kg
nitrogen terkandung dalam 100 kg pupuk urea. Kandungan yang cukup tinggi
tersebut mampu mempercepat pertumbuhan dan perkembangan tanaman,
sebab unsur nitrogen akan memudahkan proses fotosintesis, sehingga
menghasilkan lebih banyak klorofil. Pupuk urea memiliki sifat mudah terlarut
sehingga unsur yang dibutuhkan oleh tanaman dapat cepat tersedia.
Namun, karena sifat ini ada beberapa kerugian jika diaplikasikan di permukaan
dan tidak dimasukkan ke dalam tanah misalnya terdapat kehilangan nitrogen
ke udara yang dapat mencapai 40%. Salah satu strategi efisiensi penggunaan
pupuk untuk efisiensi penggunaan pupuk yaitu mengatur waktu pemberian
pupuk urea. Waktu pemberian pupuk urea dengan hasil baik adalah 2 kali
pemberian pupuk (Ramadhani et al., 2014).
Adapun kemasan pupuk urea yang diproduksi oleh pupuk Indonesia seperti
pada gambar 4.1.
Gambar 4.1: Kemasan Pupuk Urea Produksi Pupuk Indonesia
Pupuk ZA (Zwavelzure Ammonium)
Pupuk Zwavelzure Amonium mempunyai rumus kimia (NH4)2SO4 yang
mengandung sekitar 21% nitrogen dan 24% sulfur. Biasanya diterapkan
sebagai pupuk dasar oleh petani, sebab reaksi kerja yang agak lambat. Manfaat
lain dari pupuk ZA, mampu menambah unsur hara pada tanaman. ZA dapat
memperbaiki kualitas tanaman, serta menambah nilai gizi tanaman dan dapat
40 Pupuk dan Teknologi Pemupukan
meningkatkan hasil panen para petani. Pupuk ZA bersifat higroskopis atau
mudah menyerap uap air.
Terutama pada kelembaban 80 % atau lebih, sehingga mudah diserap oleh
tanaman. Nitrogen minimal 20,8%, belerang minimal 23,8% dan kadar air
maksimum 1%. Kadar asam bebas sebagai H2SO4 maksimal 0,1%.
(http://www.petrokimia-gresik.com). Adapun kemasan pupuk ZA yang
diproduksi oleh pupuk Indonesia seperti pada gambar 4.2
Gambar 4.2: Kemasan Pupuk ZA Produksi Pupuk Indonesia
SP-36 (super phosphate)
Pupuk SP-36 (super phosphate) atau tertulis P2O5 dalam rumus kimia. Pupuk
ini dibuat dengan pencampuran asam sulfat (belerang) dengan fosfat alam dan
mengandung fosfor sekitar 36 % dalam bentuk P2O5 (fosfat).
Adapun kemasan pupuk SP-36 yang diproduksi oleh pupuk Indonesia seperti
pada gambar 4.3
Gambar 4.3: Kemasan Pupuk SP 36 Produksi Pupuk Indonesia
Bab 4 Sifat Ciri Pupuk Buatan dan Pemrosesannya 41
Pupuk SP-36 cocok digunakan sebagai pupuk dasar tanaman karena reaksi
kimia yang cukup lambat dan meningkatkan kandungan unsur hara phospor
pada tanaman. Pupuk SP-36 digunakan oleh petani untuk membantu tanaman
menghasilkan buah, memperbaiki kualitas biji, merangsang pembelahan
tanaman, mempercepat pemasakan buah, menguatkan batang tanaman, dan
memperbesar jaringan sel perkebunan dan hortikultura yang lebih banyak
(http://www.pupuk-indonesia.com).
KCl (Kalium Klorida)
Pupuk KCl dibuat dari ekstraksi mineral kalium dan mengandung sekitar 60 %
Kalium dalam bentuk K2O. Bentuknya bubuk atau serbuk merah. Jenis pupuk
yang mudah larut dalam air, sehingga mudah diserap oleh tanaman. Pupuk ini
dapat meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan ham, penyakit dan
kekeringan.
Unsur klorida yang terkandung bersifat toksik atau racun bagi tanaman
tertentu, seperti wortel dan kentang. Cocok digunakan sebagai pupuk dasar
atau pupuk susulan karena seluruh unsur penyusun pupuk KCL dapat larut
dalam air dan larutan asam sitrat yang sangat dibutuhkan oleh tanaman.
Kandungan ion klorida (Cl -) tidak berapa memberikan pengaruh negatif
terhadap tanah dan tanaman.
Adapun kemasan pupuk KCL yang diproduksi oleh pupuk Indonesia seperti
pada gambar 4.4
Gambar 4.4: Kemasan Pupuk KCL Produksi Pupuk Indonesia
42 Pupuk dan Teknologi Pemupukan
NPK (Nitrogen Phosphate Kalium)
Pupuk NPK digunakan sebagai penyeimbang unsur hara makro dan mikro
pada tanah. Pupuk NPK mengandung unsur hara yang dibutuhkan oleh
tanaman, yakni nitrogen, fosfat, kalium, magnesium, dan kalsium. Komposisi
dari pupuk NPK yaitu N sebanyak 15%, fosfat dalam bentuk PO2 5 sebanyak
15%, K sebanyak 15%, S sebanyak 10% dan unsur lainnya. Adapun kelebihan
pupuk NPK yaitu mencegah tanaman supaya tidak kerdil, pertumbuhan akar
lebih kuat, banyak, dan panjang, sehingga mudah menyerap zat hara dari
tanah. Pupuk ini bisa diaplikasikan di berbagai jenis tanah, sebab
menimbulkan reaksi kimia yang netral dan dapat digunakan sebagai pupuk
dasar atau pupuk susulan.
Unsur N, P, dan K merupakan faktor penting dan harus tersedia bagi tanaman
karena berfungsi sebagai proses metabolisme dan biokimia sel tanaman.
Nitrogen digunakan sebagai pembangun asam nukleat, protein, bioenzim, dan
klorofil. Fosfor digunakan sebagai pembangun asam nukleat, fosfolipid,
bioenzim, protein, senyawa metabolit yang merupakan bagian dari ATP
penting dalam transfer energi. Kalium digunakan sebagai pengatur
keseimbangan ion-ion sel yang berfungsi dalam mengatur berbagai
mekanisme metabolik seperti fotosintesis, tetapi pemberian dosis pupuk N, P
dan K akan memberikan pengaruh baik terhadap pertumbuhan dan hasil
tanaman (Firmansyah et al., 2017).
Berikut Gambar 4.5 merupakan kemasan pupuk NPK dan klasifikasi
kandungan di dalamnya.
Gambar 4.5: Kemasan Pupuk NPK Produksi Pupuk Indonesia
Bab 4 Sifat Ciri Pupuk Buatan dan Pemrosesannya 43
Unsur N, P, dan K merupakan hara esensial untuk tanaman dan sebagai faktor
batas bagi pertumbuhan tanaman. Peningkatan dosis pemupukan N di dalam
tanah secara langsung dapat meningkatkan kadar protein (N) dan produksi
tanaman, namun pemenuhan unsur N saja tanpa P dan K akan menyebabkan
tanaman mudah rebah, peka terhadap serangan hama penyakit dan
menurunnya kualitas produksi usaha tani (Tuherkih & Sipahutar, 2008).
Dolomite (Kapur Karbonat)
Dolomite atau biasa dikenal dengan kapur pertanian memiliki manfaat sebagai
penyedia unsur hara makro sekunder Ca dan Mg. Reaksi kimia yang
ditimbulkan basa (alkali) sehingga menetralkan pH tanah. Pupuk ini berbentuk
butiran halus berwarna putih keabu-abuan atau putih kebiruan, memiliki sifat
yang mudah diserap air dan mudah dihancurkan, meningkatkan ketersediaan
unsur hara dalam tanah, menghilangkan sifat racun dari senyawa - senyawa
beracun baik organik maupun non anorganik, merangsang populasi & aktivitas
mikroorganisme tanah.
Adapun kemasan dolomite yang diproduksi oleh pupuk Indonesia seperti pada
gambar 4.6
Gambar 4.6: Kemasan Dolomite Produksi Pupuk Indonesia
44 Pupuk dan Teknologi Pemupukan
4.3 Unsur – Unsur Penyusun Pupuk
Buatan
Unsur Fosfor (P)
Fosfor (P) termasuk unsur hara makro yang sangat penting untuk pertumbuhan
tanaman, namun kandungannya di dalam tanaman lebih rendah dibandingkan
nitrogen (N), dan kalium (K), (Novriani, 2010). Unsur fosfor (P) bagi tanaman
berguna untuk merangsang pertumbuhan akar, khususnya akar benih dan
tanaman muda. Selain itu, fosfor berfungsi sebagai bahan mentah untuk
pembentukan sejumlah protein tertentu; membantu asimilasi dan pernapasan;
serta mempercepat pembungaan, pematangan biji, dan buah (Lingga &
Marsono, 2013).
Nilai pupuk ditentukan oleh banyaknya unsur hara yang terkandung di
dalamnya, makin tinggi kadar unsur haranya berarti pupuk semakin baik.
Unsur hara yang diperlukan oleh tanaman adalah C, H, O (ketersediaan di
alam masih melimpah), N, P, K,Ca, Mg, S (hara makro, kadar dalam tanaman
> 100 ppm), Fe, Mn, Cu, Zn, Cl, Mo, B (hara mikro, kadar dalam tanaman <
100 ppm). Ke-13 unsur hara tersebut sangat terbatas jumlahnya dan cenderung
asupannya kurang di dalam tanah (Marsono, 2001).
Tanah yang kekurangan fosfor akan berpengaruh bagi tanaman. Gejala yang
tampak adalah warna daun seluruhnya berubah warna dan sering tampak
mengkilap kemerahan. Tepi daun, cabang, dan batang terdapat warna merah
ungu yang lambat laun akan berwarna kuning. Kalau tanamannya berubah,
buahnya kecil, tampak jelek, dan lekas matang. Pada tanah seperti itu perlu
diberi pupuk yang mengandung unsur fosfor (P) (Lingga & Marsono, 2013).
Unsur Nitrogen (N)
Dalam spesifikasi produk yang berlaku secara umum, pupuk ZA yang
dihasilkan harus memiliki kandungan nitrogen dan sulfur total masing-masing
minimal 20,8% dan 23,8%, serta kadar air maksimal 1% dengan sifat tidak
higroskopis, mudah larut dalam air, dan berbentuk kristal. Nitrogen merupakan
unsur hara utama bagi tumbuhan yang pada umumnya sangat diperlukan untuk
pembentukan atau pertumbuhan bagian-bagian vegetatif tanaman, seperti daun
batang dan akar tetapi kalau terlalu banyak dapat menghambat pembuangan
dan pembuahan pada tanaman.
Bab 4 Sifat Ciri Pupuk Buatan dan Pemrosesannya 45
Unsur hara nitrogen berperan penting dalam pembentukan hijau daun yang
sangat berguna dalam proses fotosintesis. Fungsi lainnya yaitu membentuk
protein, lemak dan berbagai persenyawaan organik lainnya. Peranan utama
nitrogen (N) bagi tanaman adalah untuk merangsang pertumbuhan secara
keseluruhan, khususnya batang, cabang, dan daun (Lingga & Marsono, 2013).
Unsur Kalium (K)
Kalium berperan dalam memperkuat tubuh tanaman agar daun, bunga, dan
buah tidak mudah gugur. Fungsi utama kalium (K) ialah membantu
pembentukan protein dan karbohidrat. Kalium merupakan sumber kekuatan
bagi tanaman dalam menghadapi kekeringan, penyakit dan hama (Lingga &
Marsono, 2013).
Tanaman yang tumbuh pada tanah yang kekurangan unsur kalium akan
memperlihatkan gejala-gejala seperti daun mengerut atau keriting terutama
pada daun tua walaupun tidak merata. Kemudian pada daun akan timbul
bercak merah coklat. Selanjutnya, daun akan mengering, lalu mati. Buah
tumbuh tidak sempurna, kecil, mutunya jelek, hasilnya rendah, dan tidak tahan
simpan (Lingga & Marsono, 2013).
46 Pupuk dan Teknologi Pemupukan
Bab 5
Tatalaksana Pemupukan
5.1 Pendahuluan
Pupuk dan pemupukan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam
budidaya tanaman. Hal ini dikarenakan tanaman yang di lapangan
memerlukan unsur hara tambahan untuk nutrisi (Mpapa, 2016). Apabila nutrisi
tanaman terpenuhi maka pertumbuhan dan perkembangan tanaman akan
optimal. Sehingga hasil produksi tanaman tersebut akan maksimal dan
memiliki nilai jual yang tinggi (Prita et al., 2013).
Pupuk yang seimbang dapat meningkat kesuburan tanaman, akan tetapi pupuk
yang tidak seimbang atau berlebih dapat menimbulkan keracunan terhadap
tanaman tersebut. Tanaman yang mengalami keracunan akan mengalami
kerusakan dan kematian (Wiraatmaja, 2017). Setiap tanaman memiliki
kebutuhan unsur-unsur hara yang berbeda dalam menyerap nutrisi untuk
pertumbuhan dan perkembangan tanaman tersebut (Rajiman, 2020).
Pupuk memiliki formulasi yang berbeda-beda adanya yang cair dan padat.
Dalam penggunaannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan dalam budidaya
tanaman. Pupuk dapat digolongkan ke dalam pupuk organik dan pupuk
anorganik. Pupuk organik dapat terbuat dari bahan-bahan yang alami, seperti
tanaman-tanaman, sisa-sisa bahan organik dan lain-lainya . Pupuk organik
48 Pupuk dan Teknologi Pemupukan
merupakan salah satu pupuk yang digunakan untuk meningkat pertumbuhan
dan perkembangan tanaman (Sunarianti et al., 2021).
Akan tetapi, pemakaian pupuk organik tidak langsung berdampak secara cepat
bagi tanaman. Karena pupuk organik membutuhkan proses dalam
meningkatkan kesuburan tanaman. Pemberian pupuk organik di lapangan
membutuhkan jumlah yang banyak, karena untuk membantu proses
perombakan mikroorganisme di lahan pertanian tersebut. Sehingga untuk
mencapai kesuburan tanah secara maksimal membutuhkan waktu yang lama.
Proses seperti ini yang menjadi permasalahan dalam budidaya pertanian
(Harahap dan Nurliana, 2017).
Pupuk anorganik merupakan pupuk yang berasal dari bahan kimia yang dapat
membantu percepatan pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pemakaian
pupuk ini secara berlebihan dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman yang
dibudidayakan. Karena tanaman yang mendapatkan unsur hara berlebih juga
dapat menimbulkan serangan hama dan penyakit dengan cepat. Tanaman padi
yang memiliki batang yang lembut dan mudah patah dapat disebabkan
kelebihan unsur hara nitrogen.
Selain itu, kebanyakan pupuk nitrogen dapat memicu serangan hama wereng
pada tanaman padi tersebut. Karena wereng menyukai batang padi yang
lembut, sehingga dapat meningkat populasi hama tersebut di lapangan.
Apabila serangan hama wereng banyak menyerang tanaman padi dapat
menimbulkan penyakit. Wereng merupakan serangga yang dapat menularkan
penyakit ke tanaman padi. Penyakit yang disebabkan oleh hama wereng
seperti, virus kerdil pada padi. Padi yang diserang wereng akan mengalami
pertumbuhan yang terhambat dan lama-kelamaan akan mati. Wereng juga
dapat menyebabkan virus tungro pada tanaman padi.
Hal ini semuanya bisa dikarenakan pemakaian pupuk yang tidak seimbang
khususnya pupuk nitrogen (Sianipar et al., 2017; Wahyu et al., 2017;
Widiatmika, Wijana dan Artha, 2017). Tanaman yang kekurangan unsur hara
dapat menyebabkan tanaman menjadi terhambat. Karena kandungan unsur
hara di dalam tanah tidak bisa memenuhi kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan
oleh tanaman, sehingga perlu adanya menambah unsur hara dari luar. Pupuk
organik dan pupuk anorganik dapat dilakukan secara berdampingan, karena
pupuk organik dapat membantu percepatan pupuk anorganik sehingga nutrisi
yang dibutuhkan oleh tanaman cepat diserap.
Bab 5 Tatalaksana Pemupukan 49
Pemakaian pupuk organik seperti, kotoran hewan ternak dapat dilakukan
sebelum penanaman tanaman yang dibudidayakan. Pemberian pupuk kompos
yang terbuat dari sisa-sisa sampah organik dapat membantu meningkat
kesuburan tanaman. Karena pupuk seperti ini banyak mengandung
mikroorganisme yang dapat membantu proses pengurai di dalam tanah.
Sehingga nutrisi yang ada di dalam tanah mudah diserap oleh tanaman dan
menjaga kesuburan tanah (Dewanto et al., 2017; Suyamto, 2017; Asroh and
Novriani, 2020; Yuniarti, Solihin dan Arief Putri, 2020).
Pupuk sering sekali tidak terserap secara maksimal oleh tanaman yang
dibudidayakan di lapangan. Hal ini dikarenakan kurang ketelitian dalam
aplikasi pupuk ke tanaman. Dalam aplikasi pupuk bisa jadi terdapat kesalahan
karena tidak sesuai cara mengaplikasikan pupuk tersebut. Pupuk harus
diaplikasikan sesuai jenis tanaman di lahan pertanian. Pemberian pupuk yang
benar dapat membantu meningkatkan kesuburan tanah dan tanaman (Rajiman,
2020).
5.2 Tatalaksana Pemupukan
Tanaman akan menghasilkan produksi yang maksimal dan baik apabila pupuk
yang diberikan ke tanaman tersebut tepat. Pupuk yang tepat dapat membantu
tanaman tumbuh dengan optimal dan baik. Sehingga hasil yang dikeluarkan
oleh tanaman juga baik. Dalam budidaya kita harus memperhatikan tanaman
yang dibudidayakan, hal ini dikarenakan tanaman membutuhkan nutrisi tidak
sama antara tanaman satu dengan tanaman lain. Setiap tanaman memiliki
nutrisi yang dibutuhkan tergantung dari jenis tanaman tersebut. Apabila nutrisi
tanaman tersebut terpenuhi maka pertumbuhan dan perkembangan tanaman
akan baik atau optimal.
Setiap tanaman membutuhkan unsur hara untuk pada masing-masing fase
tanaman berbeda. Proses persemaian pupuk yang dibutuhkan oleh tanaman
berbeda dengan yang di lapangan. Tanaman membutuhkan pupuk untuk
nutrisi dalam proses siklus hidup tidak sama. Jadi tanaman memerlukan pupuk
tidak sama baik dari segi dosis dan pemberiannya ke tanaman (Widiatmika et
al., 2017).
Pupuk yang diberikan pada tanaman yang dibudidayakan di lapangan tidak
sama pada masing-masing lokasi. Pupuk yang diberikan dapat kita lihat dari
50 Pupuk dan Teknologi Pemupukan
keadaan tanah tempat kita membudidayakan tanaman tersebut. Karena tanah
memiliki kandungan unsur-unsur hara yang berbeda pada masing-masing
lokasi. Jadi antara lokasi satu dengan lokasi lainnya memiliki unsur hara yang
berbeda.
Begitu juga dengan tanaman, tanaman kebutuhan akan pupuk tergantung dari
tanaman tahunan, tanaman pangan dan tanaman hortikultura. Masing-masing
tanaman tersebut memiliki dosis yang berbeda dan interval pemupukan juga
berbeda. Dalam melakukan pemberian pupuk pada tanaman sering sekali tidak
tepat sasaran. Hal ini dapat memicu pertumbuhan dan perkembangan tanaman
menjadi terganggu. Apabila pertumbuhan dan perkembangan tanaman
menjadi terganggu maka tanaman tidak akan maksimal dalam hasil
produknya. Jika hal ini terjadi di dalam budidaya pertanian maka akan
berakibat terhadap petaninya. Sehingga petani akan mengalami rugi karena
tanaman yang ditanam tidak menghasilkan atau produktivitas dari tanaman
tidak maksimal (Rajiman, 2020).
Budidaya tanaman pada lahan pertanian untuk dapat meningkatkan hasil
secara optimal, petani harus dapat menggunakan pupuk dan pemupukan yang
tepat pada tanaman. Pemupukan yang tepat pada tanaman dapat meningkat
produksi tanaman dan tanaman dengan tepat menyerap unsur hara tersebut. Di
dalam pemupukan harus di pertimbangkan 4 komponen yang harus dipatuhi. 4
komponen tersebut terdiri dari, bagaimana cara pemupukan, dosis yang
digunakan sesuai dengan kebutuhan tanah dan tanaman, aplikasi pupuk
disesuaikan dengan waktu dan pemberian pupuk dilihat dari tanaman yang
dibudidayakan (Rahmaniah et al., 2021).
Dengan demikian, apabila hal ini diperhatikan tanaman akan dapat tumbuh
dan berkembang dengan baik. Pupuk yang digunakan dalam proses
pemupukan tergantung dari keadaan tanaman tersebut. Selain keadaan
tanaman, pupuk juga dapat diaplikasikan ke tanaman tergantung dari pupuk
yang akan diberikan ke tanaman. Pupuk juga dapat diberikan dalam ke
tanaman secara langsung atau bisa dilakukan pencampuran dengan air. Pupuk
yang diberikan ke tanaman, harus dilakukan dengan cara melihat dari tanaman
tersebut dan memperhatikan bagaimana cara memberikan ke tanaman. Pupuk
harus diberikan ke tanaman dapat dilakukan dengan melihat kondisi tanaman
tersebut.
Hal ini dapat dimulai tanaman dari persemaian sampai tanaman mulai
berbunga. Sehingga produktivitas dari tanaman tersebut dapat menghasilkan
secara maksimal. Pupuk yang diberikan ke tanaman tergantung dari tipe pupuk
Bab 5 Tatalaksana Pemupukan 51
tersebut, tanah yang diolah, tanaman yang dibudidayakan, tingkat unsur hara
yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman, kondisi akar tanaman yang
dibudidayakan, keadaan tanah, kandungan unsur hara di dalam tanah dan
kemampuan tanah dalam menyediakan unsur hara (Krisnawati dan Adirianto,
2019). Dalam proses pemberian pupuk ke tanaman yang dibudidayakan dapat
dilakukan dengan cara sebagai berikut:
Pemupukan Dengan Cara Ditabur Pada Lahan Pertanian
Proses pupuk yang ditabur di areal pertanaman dapat dilakukan pada saat
tanaman belum di tanam di lahan tersebut. Pemupukan ini dilakukan untuk
tanaman padi yang memiliki areal yang luas. Akan tetapi, proses tabur pupuk
pada lahan pertanian dapat dilakukan pada saat tanaman sudah di lahan
pertanian. Proses taburan pupuk pada lahan pertanian dilakukan supaya pupuk
tersebut tersebar ke seluruh bagian lahan.
Pada saat pupuk ditabur pada lahan pertanian diharapkan tanah atau lahan
tersebut tidak tergenang air dan kondisi lahan agak kering. Karena apabila
lahan tersebut tergenang air bisa jadi pupuk yang diberikan akan menyebar
tidak merata. Hal ini bisa dikarenakan kemiringan lahan atau keadaan lahan
pertanian. Pupuk yang ditabur pada lahan pertanian dapat dilakukan dengan
cepat dan tidak membutuhkan jumlah orang yang banyak (Bara, 2019;
Rajiman, 2020) (Gambar 5.1).
Gambar 5.1: Pemupukan Tanaman Padi Dengan Cara Ditabur (Kliktani,
2018)
Proses pemupukan secara ditabur pada tanaman harus keadaan lahan karena
pupuk yang diberikan dapat menimbulkan kerusakan pada tanaman yang
52 Pupuk dan Teknologi Pemupukan
dibudidayakan. Biasanya proses pupuk yang ditabur pada lahan pertanian
dapat dilakukan pada lahan tanaman pangan. Proses seperti ini dapat dilakukan
pada pemupukan pertama dan pemupukan selanjutnya. Pupuk yang ditabur
pada lahan pertanian diusahakan bisa membantu memenuhi kebutuhan unsur
hara pada tanah dan tanaman.
Selain itu, pupuk yang ditabur harus tersalurkan ke seluruh bagian lahan dan
dapat diberikan pada saat pengelolaan lahan yang siap tanam. Pupuk yang
harus diperhatikan dalam pemberian di lahan pertanian seperti, pupuk yang
mengandung N dan K. Pupuk ini mudah sekali menguap dan dapat
menyebabkan kerusakan pada tanaman. Pemberian pupuk yang pertama
dilakukan pada lahan yang belum di tanam dan pemberian pupuk seperti ini
tergantung dari pupuknya. Pupuk kompos atau pupuk dari ternak dapat
dilakukan sebelum tanam dengan jarak minimal 7 hari. Akan tetapi bisa lebih
cepat apabila pupuk yang diberikan sudah jadi kompos. Karena apabila
tanaman tidak kuat akan menyebabkan tanaman mati.
Penyebaran pupuk secara tabur dapat dilakukan dengan melihat tanaman yang
di lapangan. Biasanya tanaman yang pemupukan secara ditabur tanaman yang
jarang tanaman berdekatan, jarak tanaman tidak rapi, tanaman yang memiliki
akar yang pendek di dalam pada tanah, tingkat kesuburan tanah yang bagus,
pupuk yang ditabur cepat terurai dan langsung diserap oleh tanaman dan
pupuk yang tersedia banyak (Krisnawati dan Adirianto, 2019; Rajiman, 2020).
Pupuk yang diberikan ke tanaman melalui ditabur memiliki kelemahan, hal ini
dikarenakan pupuk yang ditabur tidak menyebar ke seluruh tanah yang
dipupuk. Sehingga pada lahan pertanian pupuk ini dapat menumpuk dalam
satu areal saja. Pupuk akan mengalami pergeseran sehingga tanaman hanya
mampu menyerap sedikit pupu tersebut. Pemupukan harus dilakukan sekitar
pukul 7 pagi atau keadaan cuaca cerah, hal ini bertujuan untuk menghindari
pupuk yang ditabur ke tanaman tertinggal di daun. Pupuk yang tertinggal di
daun ini dapat memicu tanaman menjadi rusak atau tanaman akan mati.
Kondisi lahan pertanian harus diperhatikan dalam proses penaburan pupuk ke
tanaman (Widiatmika et al., 2017; Rajiman, 2020).
Pemupukan Dengan Cara Pembuatan Lubang atau Jalur
Pupuk dapat diaplikasikan dengan cara pembuatan lubang sekitar tanaman
atau membuat alur. Pembuatan lubang dapat dilakukan dengan menggunakan
cangkul, bajak dan alat penggali lain. Pupuk yang diaplikasikan seperti ini
Bab 5 Tatalaksana Pemupukan 53
yaitu, pupuk yang berbentuk butiran atau cair. Proses ini dapat dilakukan
sebelum tanaman ditanam pada lahan pertanian.
Selain itu, dapat dilakukan pada tanaman yang sudah besar seperti tanaman
karet, kopi, kelapa sawit dan tanaman lainnya. Pembuatan lubang dapat
dilakukan apabila pada lahan yang memiliki kemiringan atau lahan yang tidak
datar. Lahan yang memiliki kemiringan di harus membuat lubang antar
tanaman untuk dilakukan pemupukan. Pertama-tama pembuatan lubang dapat
dilakukan menggunakan alat seperti bor tanah. Kemudian tanah yang ada di
bor tadi dikeluarkan untuk jarak lubang tergantung dari jenis tanaman. Lubang
tadi diberikan pupuk secukupnya tergantung kebutuhan dari tanaman tersebut.
Kemudian lubang tadi ditutup yang sudah diberikan pupuk ditutup dengan
dedaunan.
Tujuan penutupan lubang tersebut apabila hujan deras dan lubang berisi air
pupuk tidak keluar dari lubang tersebut. Selain itu, pupuk akan mencair dan
mudah diserap oleh akar tanaman apabila berada di dalam lubang. Pemupukan
dapat dilakukan dengan membuat lingkaran pada sekeliling tanaman, misalnya
tanaman karet dapat buat lingkaran di sekeliling batang kemudian pupuk
ditaburkan di sana lalu ditutup.
Pupuk juga dapat diaplikasikan menggunakan lubang dari bahan yang tajam
pada bagian ujungnya, untuk tanaman yang cocok seperti dengan pupuk ini
yang bukan tanaman utama (Gambar 5.2).
Gambar 5.2: Pemupukan Tanaman Durian Dengan Cara Dibuat Jalur
Melingkar Dan Ditutup Dengan Tanah (Arwani, 2019)
Proses kegiatan pemupukan seperti ini, harus diperhatikan dalam proses
pemberian pupuk yaitu, pupuk yang digunakan untuk pemupukan tanaman
tidak terlalu banyak, sehingga harus benar mengenai tanaman yang akan
54 Pupuk dan Teknologi Pemupukan
diberikan pupuk tersebut. Tanaman yang diberikan pupuk memiliki jarak yang
tidak terlalu dekat dan memiliki jarak antar jalur tanaman tidak terlalu jauh.
Pemupukan yang diberikan dengan cara dilubang pada tanah, biasanya
tanaman memiliki unsur hara yang sedikit, tanaman memiliki akar tidak
banyak atau jenis tanaman akar sedikit dan dapat terjadi tanah memiliki unsur
hara banyak (Efendi dan Ramon, 2019; Tarigan et al., 2019) (Gambar 5.4).
Gambar 5.3: Pemupukan Tanaman Kopi Dengan Cara Digali (Pertanian,
2017)
Pemupukan Dengan Cara Penyemprotan Pada Bagian Tanaman
Pupuk yang diberikan ke tanaman dapat dilakukan melalui bagian tanaman
seperti daun. Daun tanaman dapat diaplikasikan pupuk akan tetapi dalam
kegiatan seperti ini perlu hati-hati. Hal ini dikarenakan pupuk yang
diaplikasikan ke daun tanaman dapat menimbulkan kerusakan pada daun
tersebut.
Selain itu, dapat menyebabkan daun tanaman menjadi gugur. Kerusakan pada
daun dapat disebabkan oleh pupuk yang digunakan pada penyemprotan
tersebut menggunakan dosis yang tinggi. Pemupukan seperti dosis yang
digunakan tidak terlalu banyak atau sedikit, sehingga kegiatan tersebut harus
dilakukan sesering mungkin untuk hasil maksimal pada tanaman
(Tedjasarwana et al., 2011; Nadhira dan Berliana, 2017; Ayuningtyas et al.,
2020).
Harus diperhatikan pemupukan pada daun memiliki pengeluaran yang tinggi.
Pemupukan pada bagian tanaman dapat dilakukan apabila kondisi tanah pada
areal tanaman tidak mendukung untuk diaplikasikan pupuk langsung di tanah.
Selain itu juga, pupuk yang digunakan untuk pemupukan terhadap tanaman
Bab 5 Tatalaksana Pemupukan 55
dibutuhkan tidak terlalu banyak, sehingga hanya dilakukan pada daun saja.
Pupuk yang akan diberikan ke tanaman memiliki sifat yang kurang bagus.
Pupuk tersebut terlebih dahulu dilakukan pencampuran dengan air, pada
proses ini dosis yang diberikan lebih sedikit dibandingkan dengan air.
Kemudian campuran tersebut diaplikasikan ke tanaman terutama pada bagian
daun. Daun tanaman dilakukan pemupukan harus diperhatikan hal-hal sebagai
berikut yaitu, harus sesuai dengan aturan dalam produk yang digunakan,
larutan yang dibuat harus lebih cair dan pupuk yang digunakan tidak terlalu
banyak. Daun yang diaplikasikan pupuk jangan daun yang menghadap ke atas,
karena daun memiliki stomata yang ke atas. Daun tanaman yang dilakukan
pemupukan harus dilakukan jangan siang hari karena apabila dilakukan pada
siang hari maka, pupuk tidak bisa terserap oleh tanaman karena terjadi
penguapan. Hujan dapat membuat pupuk tidak bisa diserap oleh tanaman, jadi
jika mau aplikasi pupuk sebaiknya dilakukan pada hari yang cerah (Rajiman,
2020) (Gambar 5.5).
Gambar 5.4: Pemupukan Tanaman Durian Pada Daun Tanaman (Arwani,
2019)
Pemupukan Dapat Dilakukan Dengan Menggunakan Alat Yang Bisa
Terbang
Penggunaan alat untuk aplikasi pupuk pada tanaman areal tanam yang luas
dapat dilakukan dengan cara pesawat dan drone. Untuk pemupukan seperti ini
dilakukan oleh perkebunan-perkebunan yang besar dan memiliki modal yang
besar. Selain itu, pemupukan menggunakan alat seperti ini dapat dilakukan
dengan kondisi lahan yang berbeda.
56 Pupuk dan Teknologi Pemupukan
Berbeda dengan kondisi lahan yang tidak bisa dilakukan pemupukan, seperti di
daerah pegunungan, tidak bisa dilalui dengan perjalanan, lahan yang masih
alami dan rumput yang luas (Misrianto et al., 2017; Rajiman, 2020) (Gambar
5.6)
Gambar 5.5: Pemupukan Menggunakan Alat Terbang (Farming.id, 2019)
Pemupukan Dapat Dilakukan Dengan Cara Penginfusan Di Dalam
Tanah
Pupuk dapat dilakukan dengan cara menginfus tanaman melalui akar. Akar
dapat dilakukan sebagai alat menyalurkan pupuk ke tanaman. Pemupukan
seperti ini dapat dilakukan dengan memotong bagian akar tanaman, akar
tanaman yang dipotong harus diperhatikan supaya akar tanaman yang
dipotong tidak mengganggu tanaman. Kemudian infus tadi kita benamkan ke
dalam tanah dan bagian akar yang dipotong tadi masukan ke dalam infus
tersebut (Rajiman, 2020).
Pemupukan Dapat Dilakukan Dengan Menggunakan Alat Irigasi
Alat yang digunakan untuk melakukan pemupukan dengan cara irigasi dapat
dilakukan memberikan pupuk yang dimasukkan ke dalam penampung air.
Kemudian penampungan air di pasang mesin air untuk menyalurkan air ke
seluruh tanaman pada lahan pertanian. Pemupukan seperti ini dapat dilakukan
pada penanaman secara hidroponik (Rajiman, 2020) (Gambar 5.7)
Bab 5 Tatalaksana Pemupukan 57
Gambar 5.6: Proses Tanaman Yang Di Infus Pada Akar Tanaman (Agung,
018)
Tanaman yang diberikan pupuk memiliki respons yang berbeda dan begitu
juga dalam cara pemberian di lapangan sangat memengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan tanaman. Pupuk yang diberikan memiliki peranan penting pada
setiap fase tanaman. Begitu juga dengan jumlah pupuk yang diberikan ke
tanaman memiliki respons yang berbeda. Jadi setiap tanaman pemberian
pupuk tidak boleh sama, selain itu tekstur tanah di lapangan juga memengaruhi
bagaimana cara aplikasi pupuk ke lapangan.
Waktu sangat memengaruhi pupuk yang diberikan ke tanaman, kita harus
memperhatikan waktu karena pupuk bisa jadi tidak terserap secara maksimal
pada musim panas dan musim hujan. Pupuk yang diberikan ke tanaman harus
melihat dari fase tanaman tersebut. Tanaman memiliki kebutuhan yang
berbeda-beda, hal ini dapat kita lihat dari tujuan yang akan dihasilkan atau
produk apa yang harus diambil dalam suatu tanaman.
Daun membutuhkan unsur hara nitrogen dalam pertumbuhannya sehingga
apabila produk yang akan dihasilkan adalah daun kita harus menggunakan
pupuk dengan kandungan N yang tinggi. Tanaman yang baik merupakan
tanaman yang dapat menghasilkan produk secara optimal dan pupuk yang
maksimal (Wahyu et al., 2017; Bubun Alfarisi, 2020; Rajiman, 2020; Pertiwi
et al., 2021).
58 Pupuk dan Teknologi Pemupukan
Bab 6
Faktor Yang Memengaruhi
Pemupukan
6.1 Pendahuluan
Tanaman selama proses hidupnya agar tumbuh dengan sehat dan memiliki
hasil yang optimal, maka harus tersedia unsur hara tanah dalam jumlah,
proporsi dan bentuk yang tepat pada waktu yang tepat. Unsur hara primer
digunakan oleh tanaman dalam jumlah yang relatif besar dan sering dilengkapi
sebagai pupuk (Nitrogen, Fosfor dan Kalium). Di sisi lain, nutrisi sekunder
seperti Ca, Mg dan S juga digunakan dalam jumlah besar tetapi cukup tersedia
dan biasanya tersedia, sedangkan Mikronutrien dibutuhkan dalam jumlah
kecil.
Pemupukan baik organik dan anorganik adalah upaya yang dilakukan guna
menutupi kekurangan unsur hara tanah dan penurunan kesuburan tanah akibat
budidaya yang terus menerus oleh petani dan terbawa oleh hasil panen.
Aplikasi pupuk anorganik menghasilkan akumulasi bahan organik tanah yang
lebih tinggi dan aktivitas biologis karena peningkatan produksi biomassa
tanaman dan kembalinya bahan organik ke tanah dalam bentuk akar yang
membusuk, serasah dan sisa tanaman.
60 Pupuk dan Teknologi Pemupukan
Penambahan bahan organik tanah akan meningkatkan kandungan karbon
organik tanah yang merupakan indikator penting kualitas tanah dan
produktivitas tanaman. Secara umum fungsi dari pemberian pupuk antara lain
adalah dapat memengaruhi sifat fisik tanah seperti stabilitas agregat, kapasitas
menahan air, porositas, laju infiltrasi, konduktivitas hidrolik dan bulk density
akibat peningkatan bahan organik tanah dan kandungan organik tanah.
Komponen bahan organik tanah seperti molekul humat dan polisakarida
meningkatkan stabilitas agregat dengan mengikat partikel mineral ke dalam
agregat dan mengurangi kerentanannya terhadap erosi oleh angin atau air.
Penambahan pupuk juga memengaruhi komposisi kimia larutan tanah yang
dapat menyebabkan dispersi/flokulasi partikel lempung sehingga
memengaruhi stabilitas agregasi tanah. Oleh karena itu, Jenis dan kadar pupuk
serta faktor lain yang diterapkan pada tanaman sangat penting dalam produksi
tanaman dan berperan penting dalam sistem tanam.
6.2 Faktor yang Memengaruhi
Pemupukan
6.2.1 Ketersediaan dan Kehilangan Hara Tanah
Tanaman membutuhkan tiga faktor untuk pertumbuhan dan reproduksi
meliputi cahaya, air, dan nutrisi. Nutrisi tanaman adalah unsur kimia yang
sebagian besar diserap oleh akar tanaman sebagai bahan kimia anorganik
terlarut dalam air. Pada waktu bersamaan, nutrisi tanaman digunakan oleh
bentuk kehidupan lain dan melalui banyak transformasi biologis yang
menentukan kapan dan bagaimana tanaman mengambilnya. Bahan biologis
seperti pupuk kandang adalah nutrisi utama sumber di banyak pertanian
"konvensional", serta pertanian organik, sementara mineral anorganik (kimia
bahan) seperti fosfat batu dan kapur adalah amandemen kesuburan yang dapat
diterima untuk organik bersertifikat produksi.
Justus von Liebig, seorang ahli kimia organik berkebangsaan Jerman pada
tahun 1840 mempublikasikan buku berjudul Organic chemistry in its
applications to agriculture and physiology (von Liebig dan Playfair, 1840) dan
versi bahasa Jerman, Die organische chemie in ihrer anwendung auf
agricultur und physiologie von Liebig (1841). Di dalam buku tersebut, Liebig
Bab 6 Faktor Yang Memengaruhi Pemupukan 61
membahas berbagai hal terkait fisiologi dan agrikultur di antaranya adalah
berkaitan dengan hukum minimum Liebig tentang teori humus. 'Hukum
minimum' sering diilustrasikan dengan tong air, dengan tongkat dengan
panjang yang berbeda. Kapasitas barel untuk menahan air ditentukan oleh
tongkat terpendek.
Gambar 6.1: The Law of The Minimum-Justus Von Liebig (Manggala, 2020)
Demikian pula, hasil panen sering dibatasi oleh kekurangan nutrisi atau air.
Setelah faktor pembatas (kendala) telah diperbaiki, hasil akan meningkat
sampai faktor pembatas berikutnya ditemukan. Berdasarkan pemikiran
tersebut, Liebig berhasil mengungkapkan bahwa nutrien di tanah yang telah
diambil oleh tumbuhan dapat digantikan dengan pemberian pupuk.
Gambar 6.2: Mineral Fertilizers Replace Nutrients Removed with the Harvest
(Europe, 2018)
62 Pupuk dan Teknologi Pemupukan
Ketika pupuk diperkenalkan, para petani mulai menggunakan pupuk untuk
memasok nutrisi utama N, P dan K dan pemupukan juga digunakan untuk
memasok unsur hara sekunder dan mikro sehingga unsur hara yang menjadi
faktor pembatasan produksi tanaman dapat dilakukan perbaikan.
6.2.2 Pupuk yang Digunakan dan Prinsip Lima Cara
Pemupukan
Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan di bidang pertanian yaitu
faktor pemupukan. Pengertian pemupukan yaitu penambahan bahan (yang
digunakan untuk mengubah sifat fisik, kimia, biologi tanah) ke tanah agar
tanah tersebut menjadi lebih sehat dan subur. Termasuk di antaranya yaitu
pengapuran, pemberian legin, pemberian pembenah tanah (soil condition),
pemberian urea dan lain sebagainya.
Penambahan hara dalam bentuk padat maupun cair memiliki tujuan untuk
meningkatkan hasil produksi pertanian. Akan tetapi, ada hal yang harus
diperhatikan mengenai tata cara pemupukan yang baik dan benar supaya
proses pemupukan menjadi lebih tepat. Menurut (Slamet, 2019), penjelasan
mengenai aplikasi pemupukan yang tepat dengan prinsip 5T, yaitu tepat jenis,
tepat dosis, tepat waktu, tepat tempat dan tepat cara.
Tepat Jenis
Arti tepat jenis adalah proses pemupukan seharusnya tepat dalam menentukan
jenis pupuk apa yang sesuai dengan kebutuhan tanamannya karena setiap jenis
pupuk mempunyai kandungan unsur hara, reaksi fisiologis, kelarutan, dan
kecepatan bekerja yang berbeda-beda. Misalnya unsur urea jika tanaman
kekurangan unsur N, atau SP 36 apabila tanaman kekurangan unsur P. Apabila
terjadi kesalahan dalam proses pemupukan maka tanaman yang dipupuk
menjadi tidak bagus perkembangan dan hasilnya.
Secara umum nilai suatu pupuk ditentukan oleh sifatnya yaitu:
1. Kadar unsur hara
Banyaknya unsur hara yang dikandung oleh suatu pupuk merupakan
faktor utama untuk menilai pupuk tersebut
2. Higroskopis
Kemampuan pupuk untuk menyerap molekul air dari udara atau
lingkungannya baik melalui absorpsi atau adsorpsi.
Bab 6 Faktor Yang Memengaruhi Pemupukan 63
3. Kelarutan
Sifat yang menunjukkan mudah tidaknya pupuk untuk larut dalam air
dan diserap oleh tanaman.
4. Kemasaman
Kemasaman berkaitan dengan pH pupuk. Sifat kemasaman pupuk
ada yang bersifat masam, alkali, dan netral yang dinyatakan dengan
Ekuivalen kemasaman
5. Indeks garam
Sifat pupuk yang dapat meningkatkan kemasaman tanah.
Tepat Dosis
Pengertian tepat dosis yaitu proses pada saat pemupukan dosis yang diberikan
harus tepat dan sesuai dengan kebutuhan tanaman. Tepat dosis ini berarti
bahwa dosis yang diberikan ke tanaman tidak terlalu banyak atau terlalu
sedikit.
Apabila pemberian pupuk sedikit tanaman tidak terlalu banyak atau terlalu
sedikit jika pemberian pupuk sedikit tanaman masih kekurangan unsur yang
dibutuhkan, terlalu banyak tentunya tanaman akan overdosis dan bisa menjadi
toksik.
Tepat Waktu
Adapun arti tepat waktu yaitu pada saat pemberian pupuk yang baik dan benar
sebaiknya disesuaikan waktu terbaik kapan tanaman itu butuh asupan lebih
unsur hara atau waktu yang tepat. Hal ini dimaksudkan supaya tanaman itu
dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal.
Pupuk yang bekerja cepat sebaiknya diberikan setelah tanam atau diberikan
sedikit demi sedikit dalam 2 atau 3 kali pemupukan, karena umumnya pupuk
ini mudah tercuci, sedangkan pupuk yang bekerjanya lambat dapat diberikan
sebelum tanam dan pemberiannya sekaligus.
Tepat Tempat
Tepat tempat yang dimaksud pada pemupukan artinya harus memperhatikan
tempat atau lokasi tanaman sehingga dapat mengaplikasikan pemupukan
secara tepat. Contohnya: lokasi pemupukan berada di ketinggian dan
kecepatan angin besar, maka hal ini tidak disarankan menggunakan pupuk cair
dan disemprotkan.
64 Pupuk dan Teknologi Pemupukan
Hal lain yang perlu diperhatikan yaitu cara peletakan pupuk pada tanaman. Hal
ini dapat memengaruhi hasil penyerapan tanaman akan asupan pupuk
nantinya.
Tepat Cara
Tepat cara yaitu pada saat pemupukan cara kita harus benar. Cara pemberian
pupuk yang salah akan membuat pupuk terbuang sia-sia ataupun tercuci oleh
air dan ter dinitrifikasi sehingga tidak dapat diserap atau ditangkap langsung
oleh tanaman.
Untuk itu cara pemupukan harus benar dan tepat sasaran. Secara umum, cara
dari pemupukan meliputi:
1. Broadcast (disebar): cara pemberian pupuk dengan disebar secara
merata di permukaan tanah, misalnya pada pemberian pupuk pada
tanaman padi. Pemupukan dengan cara sebar ini berpotensi tinggi
merangsang pertumbuhan tanaman-tanaman pengganggu (gulma).
Cara pemupukan ini dilakukan ketika populasi tanaman cukup tinggi,
sistem perakaran tanaman yang menyebar, volume pupuk berjumlah
banyak, tinggi kelarutan pupuk yang tinggi dan kesuburan tanah yang
baik.
2. Sideband (di samping tanaman): cara pemberian pupuk dengan
diletakkan di salah satu sisi atau kedua sisi tanaman, misalnya pada
pemupukan tanaman cabai. Metode ini terutama digunakan untuk
menerapkan sejumlah kecil pupuk sebagai starter tanaman. Aplikasi
pupuk starter dapat merangsang tanaman awal pertumbuhan dan
meningkatkan hasil. Hal ini sangat penting dalam sistem tanpa
pengolahan tanah di mana sisa tanaman atau penutup musim dingin
pada negara empat musim menghasilkan suhu tanah yang lebih
rendah dan tingkat kelembaban yang lebih tinggi.
3. In the row (dalam larikan): cara pemberian pupuk dengan diberikan
dalam larikan tanaman misalnya diberikan pada pemupukan tanaman
tebu dan jagung.
4. Top atau side dressed: Pemberian pupuk dengan cara sambung
tanaman.
Bab 6 Faktor Yang Memengaruhi Pemupukan 65
5. Pop up: pemberian pupuk dengan cara dimasukkan bersamaan
dengan biji yang ditanam. Pupuk yang digunakan misalnya dengan
menggunakan pupuk hayati atau Nitrogen yang dapat memacu proses
perkecambahan.
6. Foliar application: Pemberian pupuk dengan cara menyemprotkan
melalui daun menggunakan alat semprot volume rendah (hand
sprayer), volume sedang (sprayer gendong), maupun volume besar
menggunakan mesin kompresor, bahkan menggunakan pesawat
terbang kecil untuk hamparan pertanaman yang luas. Hal yang perlu
diperhatikan apabila menggunakan cara pemupukan ini antara lain
konsentrasi pupuk harus sesuai, faktor penguapan pupuk perlu
diperhatikan, dan cara mengaplikasikan harus langsung menuju ke
stomata tanaman agar cepat diserap tanaman.
7. Fertigation: pemberian pupuk melalui air irigasi. Sistem ini umumnya
banyak diterapkan pada sistem budidaya secara hidroponik karena
pupuk bersifat water soluble (sangat mudah larut dalam air) dengan
ampas sisa pupuk yang tidak terlarut berjumlah sangat sedikit.
Kelebihan pemupukan dengan cara ini yaitu pemberian nutrisi
tanaman dapat dilakukan dengan baik sesuai dengan fase
pertumbuhan, tingkat efisiensi dan efektivitas pemupukan tinggi
karena mudah diserap oleh tanaman, dan media pertumbuhan bersih
dan relatif bebas dari penyakit.
Dari kelima tepat tadi jika kita laksanakan dengan benar dan sesuai petunjuk
akan mendapatkan tanaman yang sehat sesuai dengan umur dan hasil yang
diharapkan dan dengan melaksanakan atau menggunakan lima tepat di setiap
sarana pertanian baik teknologi mekanisnya dan teknologi budidayanya akan
mendapat hasil yang optimal dan produksi yang diinginkan. Karena tujuan
budidaya yaitu mendapat produksi yang tinggi agar dapat menambah
pendapatan petani dan meningkatkan kesejahteraan keluarganya.
66 Pupuk dan Teknologi Pemupukan
6.2.3 Sifat, Ciri, dan Kemasaman Tanah (pH)
1. Sifat Tanah
Perbedaan status hara atau keragaman sifat tanah secara ruang dapat
dikelompokkan dalam dua golongan, yaitu keragaman sistematik dan
keragaman acak (Siswanto, 2018). Keragaman sistematik akan
memberi gambaran bahwa sebaran unsur hara dalam tanah berubah
secara berangsur menurut kecenderungan tertentu. Penyebab
keragaman sistematis antara lain perbedaan topografi, litologi, iklim,
aktivitas biologi dan umur suatu wilayah. Hasil penelitian (Sukarman,
D., Setyorini dan S. Ritung, 2012) mengemukakan bahwa suatu
lanskap bisa menjadi penyebab perbedaan sifat-sifat tanah dengan
posisinya di dalam lanskap.
Sifat tanah ini berhubungan dengan reaksi tanah, apakah tanah
tersebut masam, netral atau basa. Pupuk asam dapat digunakan pada
tanah basa, netral atau sedikit asam. Namun, pupuk asam tidak baik
digunakan pada tanah asam sebab pH tanah nantinya sangat turun
tingkat kesuburan tanahnya dan akan merosot. Sedangkan untuk
tanah masam, sebaiknya digunakan pupuk netral atau basa.
2. Pengaruh pH tanah terhadap Nitrogen
Adanya perubahan Amonium (NH4+) menjadi Nitrat (NH3-) akan
berlangsung sebagai proses oksidasi enzimatik dengan bantuan dari
bakteri Nitrobacter dan Nitrosomonas. Hal ini dinamakan proses
Nitrifikasi (proses perubahan amonium menjadi nitrat oleh bakteri)
berlangsung antara kisaran pH 5,5 – 10,0 dengan pH optimum 8,5
(Pohan, 2011).
Pada tanah yang masam atau pH tanah rendah, maka akan terjadi
penghambatan pada perubahan amonium menjadi nitrat. Hal ini juga
dipengaruhi kandungan oksigen dalam tanah atau Aerasi tanah dan
juga perbandingan kandungan Ca, P, Fe, Mn, serta unsur-unsur
lainnya.
3. Penambatan N oleh liat
Lain halnya apabila terjadi pada tanah masam, maka akan
memengaruhi ketersediaan N tanah. Hal ini disebabkan adanya
Bab 6 Faktor Yang Memengaruhi Pemupukan 67
penambatan dari ion-ion amonium antara kisi-kisi mineral yang
sudah mengembang ataupun mengerut (Pohan, 2011).
4. Pengaruh pH tanah terhadap ketersediaan Fosfor & Kalium
Aktivitas ion P yang terdapat dalam tanah berbanding lurus dengan
pH tanah. Hal ini berarti bahwa jika pH naik sampai ke tingkat
tertentu, maka unsur P akan tersedia. Namun apabila pH tanah
rendah, maka yang terjadi konsentrasi Al dan Fe meningkat yang
akan bereaksi dengan fosfat membentuk garam Fe dan Al-P yang
tidak larut. Adapun kisaran pH untuk ketersediaan P yang ideal yaitu
antara 6 – 7.
5. Pengaruh pH tanah terhadap unsur mikro
Adanya ketersediaan unsur hara mikro berhubungan dengan kegiatan
mikroorganisme tanah yang ikut mentransfer unsur itu ke tanah,
contohnya organisme tanah yang dapat membantu mempercepat
proses oksidasi unsur Mn, Zn, Cu, Mo, dan Al.
6.2.4 Tekstur Tanah
Pengertian tekstur tanah yaitu perbandingan kandungan fraksi pasir, debu dan
lempung dalam suatu massa tanah. Fraksi tersebut berhubungan dengan
kisaran ukuran partikel tanah, yakni partikel penyusun tanah tertentu. Tanah
yang berupa bongkahan terdiri dari bagian-bagian kecil yang disebut partikel-
partikel tanah yang dibedakan menjadi tiga bagian pokok yaitu pasir, debu,
lempung dan bahan-bahan organik.
Sedangkan batuan induk (batu) yaitu bahan yang mengalami pelapukan dan
akan berubah menjadi tanah dalam jangka waktu yang lama (Suprapto, 2016).
6.2.5 Iklim, Temperatur, dan Curah Hujan
Perubahan iklim sebagai fenomena alam yang kerap melanda dewasa ini mulai
dirasakan dampaknya di negara kita. Hal tersebut berdampak pada petani yang
gemar memprediksi pola curah hujan, sehingga berdampak pada sektor
pertanian (Karmaita, 2018). Menurut Hartatie, D., Irma Harlianingtyas dan
Supriyadi, (2020), faktor iklim terutama curah hujan ikut serta dalam
menentukan pertumbuhan dan produksi pertanian khususnya tebu, yang
68 Pupuk dan Teknologi Pemupukan
nantinya akan berpengaruh terhadap kadar gula (nira tebu) dan memengaruhi
besaran produksi gula.
Perubahan iklim yang terjadi dapat menyebabkan pola curah hujan menjadi tak
menentu dan sangat berpengaruh terhadap musim tanaman. Hubungan antara
rendemen tebu dengan pemupukan sebesar 0,056 dan menunjukkan sangat
lemah dan tidak signifikan, akan tetapi arah hubungannya positif dan
ditunjukkan semakin banyak pemupukan maka semakin tinggi rendemen tebu
yang akan dihasilkan (Hartatie, D., Irma Harlianingtyas dan Supriyadi, 2020).
Curah hujan erat kaitannya dengan pencucian, sedangkan radiasi matahari,
suhu, angin dan kelembaban kaitannya dengan vortilisasi. Berikut Gambar 6.3
yang menunjukkan hubungan antara curah hujan dengan pemupukan:
Gambar 6.3: Hubungan Curah Hujan Dengan Pemupukan (Roni, 2015)
Keterangan:
T1: Jika dilakukan pemupukan, dan tiba-tiba terjadi hujan maka pupuk yang
akan diaplikasikan mengalami leaching terutama untuk pupuk N, P dan S,
sehingga terjadi kerugian. Di samping itu, bersama run off aliran permukaan
tanah pupuk-pupuk itu akan masuk ke sungai dan berpotensi meracuni
perairan. Apabila terpaksa harus dilakukan maka sebaiknya menghindari
penggunaan metode broadcast/penyebaran, dan metode yang baik yaitu
penempatan pada larikan/barisan, pada lubang.
T2: waktu yang paling tepat melakukan pemupukan. Pada kondisi ini, tanah
dalam keadaan lembab (air tidak kurang juga tidak berlebihan) karena
pelarutan unsur hara memerlukan air yang cukup.
T3: pemupukan apa pun tidak baik dilakukan kecuali dilakukan penyiraman.
Pupuk akan mengikat agregat tanah pada kondisi ini, sehingga tanah menjadi
kompak.
Bab 6 Faktor Yang Memengaruhi Pemupukan 69
Catatan: pemupukan sebaiknya dilakukan pada pagi hari karena perbedaan
temperatur tidak terlalu jauh dan evapotranspirasi belum banyak.
6.2.6 Udara Tanah
Udara tanah yaitu udara yang berada dalam ruang pori tanah dan berfungsi
sebagai sumber O2, CO2 dan N2. Hal yang paling penting dari udara tanah
yaitu kebutuhan akan O2 yang selalu terpenuhi, sehingga mikroorganisme
dapat beraktivitas. Adapun pengelolaan penanaman untuk perbaikan O2 tanah
salah satu caranya yaitu dengan kerapatan tegakan tanaman, jumlah dan letak,
waktu pembenahan sisa-sisa tanaman dan pemupukan.
Komposisi udara tanah sangat bergantung pada banyaknya pori udara yang
tersedia, bersama-sama dengan adanya reaksi biokimia serta proses pertukaran
gas. Konsentrasi O2 dan CO2 dalam udara tanah sangat berhubungan dengan
aktivitas biologi dalam tanah. Komposisi mikrobial dari residu organik sangat
menentukan porsi utama CO2 yang akan terbentuk. Pemberian pupuk kandang
(manur), residu tanaman atau lumpur pembuangan kotoran dalam jumlah yang
banyak, khususnya jika kelembaban dan temperatur nya optimal, maka akan
merubah komposisi udara tanah.
6.2.7 Pola Pertanian
Istilah modernisasi dapat digunakan di bidang pertanian negara kita, yang
ditandai dengan perubahan yang mendasar pada pola-pola pertanian, dari cara-
cara tradisional menjadi beberapa cara yang lebih modern. Sebagai contoh
yaitu dalam hal perubahan penggunaan pupuk organik (kandang) menjadi
pupuk anorganik (kimia).
Menurut Togatorop (2017), terdapat beberapa faktor yang mendorong
modernisasi pola pertanian yaitu sistem pendidikan formal yang maju, sistem
terbuka masyarakatnya, dan peran PPL dalam memberikan berbagai ilmu
penting dalam adopsi pemakaian pupuk. Ada pula dampak dari modernisasi
pertanian di mana masyarakat melakukan pola tanam dengan penggunaan
pupuk anorganik, adanya penggunaan pupuk anorganik yang dapat
meningkatkan produktivitas hasil pertanian serta dapat meningkatkan taraf
hidup petani.
Sedangkan dampak negatif yang kerap ditemui antara lain dengan adanya
penggunaan pupuk anorganik, petani berdampak terhadap pengeluaran biaya
perawatan tanaman, dan lingkungan yang berubah, sehingga diharapkan agar
70 Pupuk dan Teknologi Pemupukan
para petani lebih menyeimbangkan penggunaan pupuk anorganik dan
organiknya, supaya tingkat kesuburan tanah tetap terjaga dan hasil produksi
tanaman juga semakin meningkat.
Bab 7
Pengawasan Mutu Pupuk
7.1 Pendahuluan
Pupuk merupakan nutrisi bagi tanaman budidaya, selain meningkatkan
kuantisasi, pupuk juga dapat meningkatkan kualitas produk tanaman yang
dibudidaya. Hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan pupuk agar efisien
meliputi penentuan jenis pupuk, dosis pupuk, metode pemupukan, waktu dan
frekuensi pemupukan, serta pengawasan mutu pupuk (Mansyur, 2021).
Pemupukan dilakukan dengan tujuan agar unsur hara yang terkandung di
dalam tanah dapat meningkat sehingga kondisi tanah menjadi subur dan efektif
untuk membantu aktivitas pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Kualitas
pupuk dan takaran dari dosis pupuk yang digunakan juga perlu diperhatikan
agar pertumbuhan tanaman maksimal dan residu dari penggunaan pupuk serta
pestisida kimia tidak menyebabkan terjadinya pencemaran tanah.
Unsur hara penting yang terdapat dalam pupuk mengandung sumber N
sebanyak 45% untuk pertumbuhan tanaman sawi (Sarif et al., 2015).
Pernyataan tersebut didukung oleh Wahyudi (2015) bahwa nitrogen memiliki
fungsi yang berguna untuk meningkatkan pertumbuhan vegetatif tanaman
sehingga daun pada tanaman akan lebih hijau dan besar. Kualitas tanaman
akan lebih baik apabila diberikan pupuk yang berkualitas yang dapat
72 Pupuk dan Teknologi Pemupukan
menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman budidaya sehingga
tanaman budidaya memiliki produktivitas yang berkualitas.
7.2 SNI Mutu/Kualitas Pupuk Kimia
Pupuk kimia dapat diartikan sebagai pupuk anorganik yaitu pupuk yang
berasal dari bahan mineral ataupun senyawa kimia yang diproses agar
membentuk senyawa kimia yang mampu diserap oleh tanaman untuk aktivitas
pertumbuhan dan perkembangannya. Pupuk anorganik dikelompokkan
menjadi pupuk hara makro dan pupuk hara mikro dalam bentuk padat dan cair
(Suriadirkarta et al., 2004).
Kandungan pupuk anorganik yang dibutuhkan oleh tanaman berupa unsur hara
NPK majemuk. Pupuk NPK majemuk merupakan pupuk yang mengandung
bermacam-macam unsur hara makro maupun unsur hara mikro dengan
kandungan NPK yang lebih diutamakan (Rosmarkam dan Yuwono, 2002).
Pupuk makro dan mikro anorganik yang memiliki SNI disajikan dalam Tabel
7.1 berikut:
Tabel 7.1: Pupuk Hara Makro dan Hara Mikro Anorganik yang Memiliki SNI
(Suriadirkarta et al., 2004)
No. Nama Pupuk Standar Parameter Analisis Persyaratan
Min. 20%
1. Nitrogen Min. 23%
Maks. 0,1%
Pupuk Amonium Sulfat 2. Belerang Maks. 1%
1. (NH4)2SO4) No. SNI 02- 3. Asam bebas sebagai Min. 46%
1760-1990 H2SO4 Min. 40%
Maks. 4%
4. Air Maks 4%
1. Unsur hara fosfat: Min. 45%
Min. 43%
a. Yang diserap Min. 35%
sebagai P2O5
Pupuk Tripel Super Posfat b. Yang larut
2. (TSP/Ca(H2PO4)2) dalam air
No. SNI 02-0086-1987
sebagai P2O5
2. Air
3. Asam bebas sebagai
H3PO4
1. Unsur hara fosfat
Pupuk Tripel Super Fosfat sebagai P2O5: dapat
a. Total
3. Plus Zn
No. SNI 02-2800-1992 b. Yang
diserap
c. Yang larut air
Bab 7 Pengawasan Mutu Pupuk 73
d. Air Maks. 5%
Maks. 5%
2. Asam bebas sebagai Min. 0,2%
Min. 6%
H3PO4
Min. 6%
3. Zn sebagai ZnO
Min. 6%
1. Nitrogen total Min. 30%
Maks. 2%
2. Fosfor larut asam Min. 26%
Maks. 1%
sitrat 2% sebagai Maks. 0,08%
4. Pupuk NPK Padat P2O5 Min. 18%
No. SNI 02-2803-2000 3. Kalium sebagai K2O Min. 30%
Maks. 3%
4. Jumlah kadar N, Maks. 5%
Maks. 3%
P2O5 dan K2O
100%
5. Air
Maks. 50%
1. Nitrogen Min. 60%
5. Pupuk Amonium Klorida 2. Air Maks. 0,5%
(NH4Cl) 3. Asam bebas sebagai Min. 11%
Min. 48
HCl Maks. 1%
Min. 20%
1. Magnesium sebagai Min. 20%
Maks. 1%
MgO
Min. 90%
2. Kalsium sebagai
Min. 18%
CaO Min. 46%
Maks 1%
6. Pupuk dolomit 3. Al2O3 + Fe3O3
(CaMg(CO3)2) 4. Air Min. 80%
No. SNI 02-2804-1992 5. Silikat sebagai SiO2
6. Bentuk tepung
a. Lolos saringan
40 mesh
b. Lolos saringan
60 mesh
Pupuk Kalium Klorida 1. Kalium sebagai K2O
7. (Muriate of
Potash/MOP/KCl) No. 2. Air
SNI 02-2805-1992
8 Pupuk Mono Amonium 1. Nitrogen
Fosfat (MAP/NH4H2PO4) 2. Fosfat sebagai P2O5
3. Air
1. Nitrogen
2. Fosfat sebagai P2O5
3. Air
Pupuk Urea Amonium 4. Ukuran butiran:
9. Fosfat a. Lolos ayakan
No. SNI 02-2811-1992 tyler 4 mesh dan
tidak lolos
ayakan tyler 16
mesh
1. Nitrogen
2. Fosfat sebagai P2O5
Pupuk Diamonium Fosfat 3. Air
10. (DAP/(NH4)2HPO4) 4. Ukuran butiran
No. SNI 02-2855-1992
a. Lolos ayakan
tyler 6 mesh dan
tidak lolos
74 Pupuk dan Teknologi Pemupukan
ayakan tyler 16
mesh
1. Unsur hara fosfat
sebagai P2O5
a. Total Min. 36%
11. Pupuk Super Fosfat b. Yang dapat Min. 34%
(SP36) diserap Min 30%
Min. 5%
No. SNI 02-3769-1995 c. Yang larut air Maks. 6%
2. Belerang sebagai S Maks. 5%
3. Asam bebas sebagai
H3PO4
4. Air
1. Unsur hara fosfor
sebagai P2O5
a. Total Min. 36%
b. Larut dalam Min. 34%
Min. 30%
Pupuk Super Fosfat (SP- asam sitrat 2% Min. 5%
Maks. 6%
12. 36) Plus Zn No. SNI 02- c. Larut air
0,2-0,3%
4873-1998 2. Belerang sebagai S
3. Asam bebas sebagai
H3PO4
4. Zn sebagai ZnO
5. Air Maks. 5%
1. Boron oksida (B2O3) Min. 45%
Pupuk Borat No. SNI 02- 2. Natrium oksida Min. 20%
4959-1999 3. (Na2O)
13. Maks. 0,02%
Sulfat (SO4) Maks. 35 ppm
4. Kadmium (Cd)
1. Keadaan:
a. Bentuk Cair
Coklat kehitaman
Pupuk cair sisa proses b. Warna
5,5-6,5
14. asam ammonium 2. pH
1,10-1,20
(Sipramin) No. SNI 02- 3. Bobot jenis pada
4959-1999 25oC Min. 4%
4. Total nitrogen
5. Bahan organik Min. 8% C
Uraian Kualitas
AB
1. Unsur hara fosfat Min. 28% Min. 24% Min.
sebagai P2O5 18%
a. Total
Pupuk Fosfat Alam untuk b. Larut dalam Min. 10% Min. 8% Min.
15. Pertanian 02-3376-1995 asam sitrat 2% Min. 14% Min. 14% 6%
c. Larut dalam Min.
asam formiat 35%
2%
2. Ca dan Mg setara Min. 40% Min. 40% Min.
Maks. 3% Maks. 6% 35%
C2O
Maks.
3. R2O3 (Al2O3 + 15%
Fe2O3)
Bab 7 Pengawasan Mutu Pupuk 75
4. Air Maks. 3% Maks. 3% Maks.
3%
5. Kehalusan Min. 50%
a. Lolos ayakan Min. 80% Min. 50% Min.
tyler 80 mesh Min. 80% 50%
b. Lolos ayakan
tyler 25 mesh Min.
80%
7.3 SNI Mutu/Kualitas Pupuk Kandang
atau Kompos
Pupuk kandang dapat berasal dari kotoran sapi, ayam atau bebek yang telah
matang atau mengalami pembusukan. Pupuk kandang atau kompos termasuk
dalam pupuk organik yang mengandung unsur hara makro dan unsur hara
mikro. Pupuk kandang dapat menghasilkan hormon sitokinin dan giberelin.
Hormon tersebut berfungsi untuk merangsang pertumbuhan tanaman
(Syarifuddin et al., 2012).
Kompos diperoleh dari bahan organik yang membusuk, untuk mempercepat
perombakan dapat ditambah dengan kapur yang akan menyebabkan rasio
kandungan C/N rendah (Roidah, 2013). Persyaratan yang harus dipenuhi oleh
kompos sesuai dengan SNI 19-7030-2004 yaitu kematangan kompos,
kandungan bahan asing, kandungan unsur mikro, kandungan organisme
patogen, kandungan pencemar organik, kandungan organik, kadar air, dan nilai
agronomi.
7.4 SNI Mutu/ Kualitas Pupuk Organik
Pupuk organik merupakan pupuk yang sebagian atau seluruhnya terdiri atas
bahan organik tumbuhan atau hewan yang dapat berbentuk padat atau cair
yang digunakan untuk menyediakan unsur hara tanaman. Pupuk organik
memiliki sifat untuk memperbaiki struktur tanah seperti permeabilitas tanah,
porositas tanah, struktur tanah, daya menahan air, dan kation-kation tanah
(Roidah, 2013).
76 Pupuk dan Teknologi Pemupukan
Terdapat ketentuan persyaratan teknis, komposisi unsur hara dalam pembuatan
pupuk organik, serta sumber beberapa unsur hara yang disajikan dalam Tabel
7.2, Tabel 7.3, dan Tabel 7.4
Tabel 7.2: Persyaratan Teknis Pupuk Organik (Suriadikarta et al., 2004)
No. Parameter Kandungan
Padat Cair
1 C-organik (%) Min. 15 > 10
2 C/N rasio 12-15 -
3 Bahan ikutan (%) <2 -
(krikil, beling, plasting)
Min. 20 -
4 Kadar air (%) Maks 35 -
Kadar logam berat
As (ppm) < 10 < 10
<1 <1
5 Hg (ppm) < 50 < 50
< 10 < 10
Pb (ppm) >4-<8 >4-<8
Dicantumkan Dicantumkan
Cd (ppm)
Dicantumkan Dicantumkan
6 pH
7 Kadar total (N + P2O5 + K2O)
8 Kadar unsur mikro (ppm) (Zn, Cu,
Mn, Co, Fe)
9. Mikroba patogen (E. coli, Dicantumkan Dicantumkan
Salmonella) (sel/ml)
Tabel 7.3: Hasil Analisis Kandungan Hara Dalam Bahan Organik Dari Sisa
Tanaman dan Beberapa Pupuk Kandang (Suriadikarta et al., 2004)
Tanaman N P K Ca Mg Fe Cu Zn Mn B
% Mg/kg
Gandum 23
Jagung 2,80 0,36 2,26 0,61 0,58 155 28 45 108 17
Kacang 2,97 0,30 2,39 0,41 0,16 132 12 21 117
tanah 28
Kedelai 4,59 0,25 2,03 1,24 0,37 198 23 27 170 39
Kentang 28
Ubi jalar 5,55 0,34 2,41 0,88 0,37 190 11 41 143 53
Jerami 3,25 0,20 7,50 0,43 0,20 165 19 65 160
padi 3,76 0,38 4,01 0,78 0,68 126 26 40 86 -
Sekam -
Batang 0,66 0,07 0,93 0,29 0,64 427 9 67 365
jagung -
Batang 0,49 0,05 0,49 0,06 0,04 173 7 36 109
gandum
Serbuk 0,81 0,15 1,42 0,24 0,30 186 7 30 38
kayu
0,74 0,10 1,41 0,35 0,28 260 10 34 28 -
1,33 0,07 0,60 1,44 0,20 999 3 41 259 -
Bab 7 Pengawasan Mutu Pupuk 77
Tabel 7.4: Sumber Unsur Hara (Suriadikarta et al., 2004)
Sumber N P K Ca Mg S Fe
Sapi perah 0,53 0,35 0,41 0,28 0,11 0,05 0,004
Sapi daging 0,65 0,15 0,30 0,12 0,10 0,09 0,004
Kuda 0,70 0,10 0,58 0,79 0,14 0,07 0,010
Unggas 1,50 0,77 0,89 0,30 0,88 0,00 0,100
Domba 1,28 0,19 0,93 0,59 0,19 0,09 0,020
7.5 SNI Mutu/ Kualitas Pupuk Hayati
Pupuk hayati atau dapat disebut dengan biofertilizer merupakan pupuk yang
terbuat dari mikroba yang memiliki kemampuan untuk menyediakan unsur
hara seperti nitrogen, fosfat, Mg, Zn, dan Cu (Suwahyono, 2017). Pupuk
hayati dibedakan menjadi tunggal (terdiri atas satu jenis mikroba) dan
majemuk (konsorsium mikroba). Fungsi dari pupuk hayati dibedakan menjadi
4 yaitu pupuk penghambat nitrogen, peluruh fosfat, pelarut bahan organik,
serta pemacu pertumbuhan dan pengendali penyakit (Suwahyono, 2017).
Persyaratan mutu inokulum mikroba berkisar 106-109 setiap gram
(Suriadikarta et al., 2004).
7.5.1 Quality Control Pupuk Saat Produksi
Perkembangan pertanian di Indonesia diiringi dengan penggunaan pupuk yang
meningkat. Kualitas pupuk yang diproduksi perlu diperhatikan sebagai upaya
menjaga kualitas produk agar dapat bersaing dengan produk lain sehingga
banyak diminati oleh kalangan pengguna. Pengendalian kualitas sering
menggunakan metode Statistical Processing Control (SPC), yaitu proses
memonitoring standar dengan menetapkan pengukuran dan tindakan yang
tepat atas produk yang dihasilkan.
Kualiti Kontrol pada proses produksi pupuk meliputi:
1. Sumber daya manusia dikarenakan dapat terjadi human error.
2. Bahan baku produksi yang digunakan saat proses produksi harus
sesuai dengan standard operational procedure (sop) karena bahan
yang digunakan berkaitan dengan reaksi kimia pada saat produksi
pupuk tersebut,
78 Pupuk dan Teknologi Pemupukan
3. Kinerja mesin yang rusak atau eror saat proses produksi pupuk dapat
berpengaruh pada kadar npk pupuk yang menyebabkan produk tidak
sesuai dengan spesifikasi yang diharapkan (himawan dan al habtsi,
2019).
7.5.2 Faktor yang Dapat Menurunkan Mutu Pupuk saat
Penyimpanan
Pupuk tanaman memiliki masa kadaluwarsa karena pupuk yang telah lama
disimpan akan memengaruhi kualitas pupuk tersebut. Selama penyimpanan,
kualitas unsur hara pupuk baik dalam bentuk padat maupun pupuk cair akan
menguap. Apabila masa penyimpanan pupuk semakin lama, maka kandungan
unsur hara yang terkandung di dalamnya juga akan banyak yang menguap.
Interaksi antar senyawa yang terkandung dalam pupuk menjadi kurang larut
yang akan ditandai dengan adanya endapan atau kekeruhan. Kandungan unsur
nitrogen pada pupuk cair selama penyimpanan akan mengalami penurunan
dengan adanya uap air pada dinding botol (Nurlaila et al., 2017).
Faktor lainnya yang memengaruhi mutu pupuk saat penyimpanan adalah suhu
dan kelembaban. Pupuk hayati terdiri atas mikroba, mikroba yang disajikan
dalam bentuk suatu formulasi pupuk hayati sangat berpengaruh terhadap
temperatur ruang penyimpanan. Temperatur ruang yang tidak sesuai akan
dapat menurunkan kualitas pupuk hayati karena mikroba yang terkandung
dalam pupuk hayati mengalami penurunan fungsi untuk membuat bahan
organik yang berguna bagi tanaman.
7.6 Pengontrolan dan Pengawasan
Mutu Pupuk di Pasaran
Pupuk yang telah beredar di pasaran telah melewati serangkaian uji dan
rekayasa teknologi agar sesuai dengan persyaratan mutunya. Pupuk yang
beredar telah diketahui banyak jenisnya, oleh karena itu perlu adanya
pengawasan mutu dan efektivitas pupuk yang dilaksanakan oleh Balai
Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) dan instansi terkait untuk melakukan
pengawasan di lapangan. Pengontrolan dan pengawasan diawali dari tahap
Bab 7 Pengawasan Mutu Pupuk 79
perencanaan formula pupuk, pengadaan sampai pada tahap penyaluran atau
penjualan pupuk di tingkat pusat maupun daerah setempat.
Pengawasan pupuk anorganik yang terdapat dalam Kepmen
No.239/Kpts./OT.210/4/2003 tentang Pengawasan Formula Pupuk Anorganik
sebagai meliputi:
1. penerapan standar mutu pupuk;
2. pelaksanaan uji mutu dan efektivitas;
3. penerapan sertifikat formula;
4. penggunaan nomor pendaftaran.
Pengawasan pupuk dilakukan dengan cara mengambil contoh pupuk yang
diambil dari tempat penjualan pupuk yang berada di pasaran dengan cara
survei yang selanjutnya akan dilakukan uji kandungan hara yang terkandung
dalam pupuk (Suriadikarta, 2004).
Penggunaan pupuk secara efisien harus memperhatikan beberapa hal yang
meliputi penentuan jenis pupuk, dosis pupuk, metode pemupukan, waktu dan
frekuensi pemupukan, serta pengawasan mutu pupuk. Jenis-jenis pupuk ada 4
yaitu pupuk kimia, pupuk organik, pupuk kandang, dan pupuk hayati. Kualitas
dari pupuk-pupuk tersebut harus memperhatikan kandungan unsur hara di
dalamnya. Unsur hara yang terdapat pada pupuk dapat berupa unsur hara
mikro dan unsur hara makro.
Pada proses produksi, pupuk perlu adanya quality control untuk tetap
mempertahan kualitas produk dan menjamin bahwa proses produksi dapat
dipertanggung jawabkan. Quality control yang dapat dilakukan meliputi
sumber daya manusia, bahan baku yang digunakan, dan mesin produksi.
Penyimpanan produk perlu diperhatikan. Apabila pupuk disimpan terlalu lama,
maka akan menyebabkan kandungan unsur hara yang terkandung di dalam
pupuk menjadi menguap dan menurunkan kualitas pupuk. Tahap pengontrolan
dan pengawasan produk pupuk di pasaran perlu dilakukan oleh Balai
Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) dan instansi terkait untuk mutu dari
produk pupuk di lapang.
80 Pupuk dan Teknologi Pemupukan
Bab 8
Dasar Pertimbangan
Pemupukan
8.1 Pendahuluan
Pupuk merupakan sumber unsur hara utama yang sangat menentukan tingkat
pertumbuhan dan produksi tanaman. Setiap unsur hara memiliki peranan
masing-masing dan dapat menunjukkan gejala tertentu pada tanaman apabila
ketersediaannya kurang. Beberapa hal yang harus diperhatikan agar
pemupukan efisien dan tepat sasaran adalah meliputi penentuan jenis pupuk,
dosis pupuk, metode pemupukan, waktu dan frekuensi pemupukan serta
pengawasan mutu pupuk. Tanaman dalam pertumbuhan dan
perkembangannya dipengaruhi oleh faktor tanah, iklim dan tanaman (Anonim,
2011).
Tanah merupakan media tumbuh tanaman yang menyediakan unsur hara.
Ketersediaan unsur hara dapat ditingkatkan dengan jalan pemupukan.
Pertumbuhan tanaman dapat dioptimalkan jika faktor pertumbuhan tersedia
dalam jumlah yang cukup dan berimbang. Pemeliharaan pertanaman tidak
dapat dilepaskan dari pemberian pupuk. Peranan pupuk sangat penting dalam
usaha peningkatan produksi pertanian, lebih lagi dengan digunakannya
82 Pupuk dan Teknologi Pemupukan
varietas unggul yang mempunyai respons tinggi terhadap pemupukan
(Rajiman, 2020).
Pupuk merupakan material yang ditambahkan pada media tanam, untuk
memenuhi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu
berproduksi dengan baik. Material pupuk dapat berupa bahan organik maupun
non-organik (mineral). Pupuk berbeda dari suplemen. Pupuk mengandung
bahan baku yang diperlukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman,
sementara suplemen seperti hormon tumbuhan membantu kelancaran proses
metabolisme.
Dalam pemupukan, perlu diperhatikan kebutuhan tumbuhan tersebut, agar
tumbuhan tidak mendapat terlalu banyak zat makanan. Terlalu sedikit atau
terlalu banyak zat makanan dapat berbahaya bagi tumbuhan. Pupuk dapat
diberikan lewat tanah ataupun disemprotkan ke daun (Anonim, 2021).
Dasar pertimbangan dilakukan pemupukan adalah:
1. Ketersediaan hara tanah.
2. Kehilangan hara tanah.
3. Gejala kekurangan unsur hara.
4. Untuk meningkatkan hasil tanaman.
5. Pelestarian produktivitas tanah.
8.2 Ketersediaan Hara Tanah
Ketersediaan hara tanah, dapat terjadi karena kandungan hara dalam tanah
yang berasal dari bahan induk pada umumnya memang rendah. Teknologi uji
tanah merupakan alat bantu dalam menentukan ketersediaan hara dalam tanah
secara akurat untuk penetapan pemupukan berimbang sesuai kebutuhan
tanaman. Pemberian pupuk anorganik secara terus - menerus dengan takaran
yang melebihi kebutuhan tanaman dapat mengganggu keseimbangan hara
dalam tanah. Masalah ini dapat diatasi dengan pengelolaan hara spesifik lokasi
yang didukung dengan teknologi uji tanah. Penerapan teknologi uji tanah
dalam pemupukan berimbang perlu didukung peta status hara (Al-Jabri, 2012).
Tingkat produksi tanaman salah satunya ditentukan oleh ketersediaan hara.
Hara bagi tanaman merupakan penentu kuantitas dan kualitas hasil produk
Bab 8 Dasar Pertimbangan Pemupukan 83
yang dihasilkan. Tanaman mengambil unsur hara dalam bentuk kation dan
anion dari larutan air tanah atau langsung dari kompleks koloid liat.
Ketersediaan unsur hara adalah konsentrasi unsur hara yang siap tersedia di
dalam larutan tanah bagi tanaman. Tanaman menyerap unsur hara esensial
melalui akar atau daun. Tanah mengandung unsur hara dalam jumlah yang
besar, tetapi hanya sedikit unsur hara yang tersedia untuk tanaman. Misalnya,
besi (Fe) total tanah > 5000 ppm, Fe tanah yang tersedia < 5 ppm (Hodges
2011). Tidak semua hara di dalam tanah berbentuk kation atau anion, tetapi
terikat oleh senyawa organik dan mineral tanah.
Tersedianya unsur hara tanaman di dalam tanah dipengaruhi oleh beberapa
faktor di antaranya derajat kemasaman tanah (pH tanah), pada derajat
kemasaman netral pH 6.5- 75 unsur hara tersedia dalam jumlah optimal. Pada
pH tinggi (>8) unsur N, Fe, Mn, B, Cu dan Zn tersedia dalam jumlah yang
sedikit, sedang unsur P tidak tersedia karena terikat oleh ion Ca. Unsur P pada
pH tanah masam akan terikat oleh Al dan Fe.
Pupuk yang ditambahkan ke dalam tanah tidak efektif apabila pH tanah di luar
batas optimal, karena pupuk yang telah ditebarkan tidak akan mampu diserap
tanaman dalam jumlah yang diharapkan. Pemilihan jenis pupuk tanpa
mempertimbangkan pH tanah juga dapat memperburuk pH tanah. Selain pH
tanah tersedianya unsur hara di dalam tanah dipengaruhi kelembaban tanah,
tersedianya unsur hara akan lebih besar pada tanah yang lembab jika
dibandingkan dengan tanah yang kering. Oleh karena itu pemberian pupuk
sebaiknya pada kondisi tanah lembab (Kementrian Pertanian, 2019).
Sifat - sifat tanah yang berkenaan langsung dengan tanah sebagai media
penyedia unsur hara bagi tanaman atau cadangan unsur hara (nutrient
reservoirs) adalah sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Sifat fisik tanah terdiri
atas struktur tanah, tekstur tanah, permeabilitas tanah, dan lengas tanah. Sifat
kimia terdiri atas Kapasitas Pertukaran Kation (KPK), pH, kejenuhan basa, dan
kejenuhan aluminium. Sifat biologi tanah meliputi bahan organik tanah, siklus
N, P, dan S, dan jasad renik tanah (aktivitas dan jumlah populasi). Dua hal lagi
yang menentukan tanah sebagai penyedia unsur hara adalah koloid tanah dan
larutan tanah. Sifat kimia tanah sangat berperan besar untuk menentukan
keberadaan dan ketersediaan hara dalam pertumbuhan tanaman dan
meningkatkan produksi lahan pertanian (Pardede, 2018).
84 Pupuk dan Teknologi Pemupukan
8.3 Kehilangan Hara
Hara yang hilang di lahan dapat terjadi akibat pencucian, terangkut bersama
hasil panen, erosi dan run off serta penguapan. Pencucian hara lebih banyak
dipengaruhi oleh kemampuan tanah dalam memegang hara, tekstur tanah,
kelembaban tanah serta tinggi dan rendahnya curah hujan. Produktivitas
tanaman menentukan jumlah hara yang terangkut akibat terbawa hasil panen.
Kehilangan hara tanah pada setiap panen (nutrient removal from harvest)
bervariasi. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat kesuburan tanah, hasil panen, sifat
genetik tanaman, dan sebagainya.
Tanah memiliki seluruh unsur-unsur hara yang dibutuhkan tanaman untuk
dapat tumbuh. Namun jumlah unsur hara yang tersedia dalam tanah jumlahnya
terbatas. Pada lahan-lahan budidaya pertanian dan perkebunan khususnya, laju
penyerapan unsur hara dari tanah lebih tinggi daripada laju penyediaan unsur
hara tersebut secara alami. Sehingga pada realitanya, alam tidak mampu
memenuhi seluruh kebutuhan tanaman akan unsur hara tersebut dengan
sendirinya.
Oleh karena itu, kita memerlukan input berupa pupuk. Dengan pemberian
pupuk yang cukup, kita tetap dapat memenuhi kebutuhan tanaman sesuai
dengan jumlah unsur hara yang dibutuhkan. Meskipun, katakanlah, tanah yang
kita tanami kurang subur, dengan mengaplikasikan pupuk, kebutuhan hara
tanaman tetap akan terpenuhi sehingga dapat tumbuh dan berproduksi
optimum.
Dengan semakin intensifnya lahan-lahan pertanian dan perkebunan untuk
budidaya tanaman, maka kebutuhan akan pupuk sebagai sumber nutrisi
tanaman menjadi semakin penting. Karena semakin cepat dan banyaknya hara
yang diserap tanaman dan “hilang” dari tanah, maka butuh masukan hara yang
cepat pula untuk dapat mengimbangi kebutuhan tanaman. Di sini lah mengapa
peran pemupukan sangat penting, yaitu untuk memberikan unsur hara yang
lebih cepat dan pada saat yang tepat bagi tanaman, sehingga tanaman dapat
tumbuh dan berproduksi sesuai yang diharapkan.
Tanah bertekstur pasir, pencucian hara akan lebih intensif atau lebih cepat
dibandingkan tanah bertekstur lempungan. Ketersediaan unsur hara dalam
tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya: kecepatan pelapukan
mineral tanah, sifat bahan induk, keadaan tanaman, laju pencucian oleh air
hujan, kandungan bahan organik, dan penguapan. Jika pencucian tinggi dan
Bab 8 Dasar Pertimbangan Pemupukan 85
pelapukan lambat, maka kehilangan hara lebih besar dibanding pengambilan
hara oleh tanaman. Kehilangan hara pada kondisi ini sering disebut
pemiskinan hara tanah. Jumlah hara yang terangkut hasil panen menentukan
tingkat produktivitas tanaman. Pada prinsipnya hara yang ada di tanaman
merupakan akumulasi penyerapan hara dari tanah. Kandungan hara tersebut
merupakan besarnya kehilangan hara dari lahan akibat panen.
Erosi merupakan proses perpindahan tanah dari tempat satu ke tempat lain
akibat terjadinya aliran permukaan (run of). Erosi pada umumnya akan
mengangkut tanah pada bagian top soil atau bagian yang subur. Pengangkutan
tanah akan menyebabkan kehilangan hara pada tanah yang terangkut.
Kehilangan hara akibat erosi
8.4 Gejala Kekurangan Unsur Hara
Hubungan antara pertumbuhan yang dicerminkan produksi berat kering
tanaman dengan ketersediaan dan konsentrasi hara mineral di dalam jaringan
tanaman pada prinsipnya hubungan tersebut dibedakan menjadi 4 zone di
antaranya zone defisiensi, peralihan, kecukupan dan lewat cukup. Artinya
adalah status nutrisi tanaman yang memengaruhi pertumbuhan dan hasil
adalah berbeda antara zone defisiensi, peralihan, kecukupan dan lewat cukup,
status nutrisi tersebut tidak selalu dapat berlaku umum, karena sangat
tergantung dari jenis hara mineral dan tanamannya (Sukadarmika, 2015).
Setiap unsur hara mempunyai fungsi berbeda dalam memengaruhi proses –
proses perkembangan dan pertumbuhan tanaman. Jika kekurangan salah satu
unsur, maka fungsi tersebut akan terganggu. Diagnosis defisiensi dan toksisitas
hara mineral bertujuan untuk menjelaskan bahasa tubuh dan status hara
mineral dalam tubuh tanaman. Tanaman sesungguhnya juga
mengkomunikasikan mengenai penderitaan yang dialami dari kekurangan atau
kelebihan hara mineral sebagai makanannya.
Namun bedanya tanaman diam, hanya divisualisasikan dengan bahasa visual
melalui gejala yang berkembang pada daun, batang, akar atau organ yang lain.
Dalam manajemen produksi pertanian modern, ke depan rekomendasi
pemberian nutrisi harus didahului dengan diagnosis hara mineral pada
tanaman, misalnya melalui diagnosis berdasarkan gejala visual (visible
symptoms) dan analisis tanaman (plant analysis). Untuk mencegah dampak
86 Pupuk dan Teknologi Pemupukan
negatif yang timbul, pemberian pupuk tertentu baru dilakukan bila status hara
mineral tersebut pada kisaran defisiensi.
Pola tanam secara terus menerus dan meningkatnya intensitas tanam dapat
menyebabkan problem gangguan hara, di antaranya menyebabkan defisiensi
hara tertentu dan dilain pihak menimbulkan toksisitas. Gejala defisiensi atau
kelebihan hara lebih mudah dilihat pada daun, tetapi mungkin juga terjadi pada
bagian lain dari tanaman pada pucuk batang, bagian buah dan akar tanaman.
Gejala defisiensi atau toksisitas umumnya spesifik untuk hara tertentu.
Dengan menggunakan gejala penampakan visual untuk mendiagnosis tanaman
yang sakit karena kekurangan atau kelebihan hara tertentu. Gejala visual
defisiensi hara dapat dilihat pada daun tua dan daun dewasa (“old and mature
leaf blades”) atau pada daun muda dan pucuk (“young leaf blades and apex”)
tergantung apakah hara yang didiagnosis sifatnya mobil atau immobil dalam
phloem.
Gejala gangguan hara beragam dan tergantung pada jenis tanaman, keadaan
lingkungan, umur tanaman dan kemiripan gejalanya dengan gangguan lain
seperti infeksi penyakit, kerusakan oleh hama atau karena gangguan gulma
(Grundon, 1987; Marschner, 1986; Baligar dan Duncan, 1990). Apabila
tanaman tidak dapat menerima hara yang cukup seperti yang dibutuhkan,
maka pertumbuhannya akan lemah dan perkembangannya tampak abnormal.
Pertumbuhan yang abnormal juga akan terjadi bila tanaman menyerap hara
melebihi untuk kebutuhannya bermetabolisme.
Diagnosis defisiensi dan toksisitas hara pada tanaman dapat dilakukan dengan
2 cara pendekatan yaitu pendekatan dengan diagnosis gejala visual dan analisis
tanaman (Grundon, 1987; Marschner, 1986; Baligar dan Duncan, 1990).
Tumbuhan menanggapi kurangnya masukan unsur esensial dengan
menunjukkan gejala kekahatan yang khas. Gejala yang terlihat meliputi
terhambatnya pada pertumbuhan akar tanaman, batang atau daun, serta
klorosis atau nekrosis pada berbagai organ tanaman. Gejala khas sering
membantu untuk mengetahui fungsi suatu unsur hara pada tumbuhan dan
pengetahuan akan gejala tersebut membantu para petani untuk memastikan
bagaimana serta kapan harus memupuk tanamannya.
Lebih lanjut dijelaskan gejala kekahatan suatu unsur hara bergantung pada dua
faktor yaitu fungsi unsur tersebut dan mudah tidaknya unsur tersebut
berpindah dari daun tua ke daun yang lebih muda atau ke organ-organ lainnya
(Epstein, 1972). Contoh yang baik untuk menjelaskan kedua faktor tersebut