The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by bentamaka, 2024-05-14 13:42:35

Tempat Musik dalam Liturgi

Tempat Musik dalam Liturgi

1 | T e m p a t M u s i k d a l a m L i t u r g i


2 | T e m p a t M u s i k d a l a m L i t u r g i Tempat Musik dalam Liturgi


3 | T e m p a t M u s i k d a l a m L i t u r g i A. MENYATU DALAM LITURGI 1. Liturgi Liturgi yang dimaksud adalah bakti atau karya umat sebagai ungkapan syukur atas anugerah Tuhan yang telah diterimanya. Pengertian ini berbeda dengan liturgi pada Perjanjian lama yang memaknainya sebagai upacara kurban dan pemberitaan firman atau bahkan pengertian liturgi Yunani kuno yang mengartikan bahwa liturgi sebagai karya pemerintah kepada rakyatnya. Tanpa mengecilkan makna luas liturgi sebagai sikap hidup umat Tuhan dan pelayan, liturgi merupakan penyembahan umat saat pertemuannya dengan Tuhan. Dalam penyembahan umat mendapatkan pemberitaan karya keselamatan Allah dan mengucap syukur kepada Tuhan. Penyembahan ini dilakukan umat dengan penuh hormat dan keagungan karena Allah kita adalah Allah yang Maha Agung dan Maha Besar. GPIB memahami ibadah dalam tiga makna: 1) Ibadah sebagai suatu pertemuan jemaat dengan Tuhan. Tuhan memanggil dan jemaat datang untuk bertemu dengan-Nya. 2) Ibadah adalah perayaan atas karya keselamatan yang telah Tuhan Allah lakukan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Itu sebabnya maka GPIB menjadikan 'Keselamatan' sebagai pokok pertama dalam 'Pemahaman Iman'-nya. 3) Ibadah adalah suatu ungkapan syukur atas berkat yang Tuhan sudah berikan kepada jemaat. Dengan perkataan lain, jemaat beribadah bukan supaya mendapatkan berkat dari Tuhan, tetapi karena sudah diberkati Tuhan, sehingga jemaat datang untuk mengucap syukur kepada Tuhan. Agar dapat terlaksana dengan baik maka dilakukanlah penataan pada liturgi sebagaimana tata ibadah yang disusun dalam beberapa rumpun: 1) Menghadap Tuhan 2) Pemberitaan Firman 3) Jawaban Jemaat 4) Pengutusan 2. Musik adalah anugerah Allah Sebagaimana pemahaman iman GPIB mengenai manusia yang diciptakan Allah sebagai mahluk religius dan makhluk sosial yang diberikan kemampuan untuk membangun relasi


4 | T e m p a t M u s i k d a l a m L i t u r g i secara positif dengan sesamanya, demi kebersamaan dan kesejahteraan seluruh ciptaan-Nya, maka manusia menggunakan pikiran dan perasaannya untuk mengungkapkan gagasannya baik dalam aspek religius maupun antar sesamanya. Perasaan dan pikiran manusia merupakan anugerah Allah, dan manusia berupaya untuk mengutarakan perasaan dan pikirannya dengan mendayagunakan apa yang ada di dalam dirinya berupa suara dan gerak serta apa yang ada di sekitarnya baik kekayaan alam, tulang hewan, tumbuhan dan sebagainya. Penyusunan musik oleh manusia memanfaatkan ciptaan Tuhan dan mencerminkan keteraturan, keindahan, dan keragaman. Untuk mengungkapkan ide atau gagasannya melalui musik, selain menggunakan suaranya, manusia juga menciptakan beberapa alat musik dengan menggunakan apa yang ada di sekitarnya. Beberapa alat musik tersebut antara lain adalah: 1. Batu musik Gobustan, dari Azerbaijan. Diperkirakan batu ini digunakan sebagai alat musik pengiring ritual kuno suku Yalli. 2. Divje Babe, dari Slovenia. Berupa suling dari tulang paha beruang 3. Sangkakala 4. Tulila dari suku Batak. Berupa suling dari bambu dengan nada sesuai jarak jari ke lubang di suling tersebut. 5. Dan alat musik lainnya 3. Pertemuan dengan Allah Atas inisiatif Allah, Allah mengajak/mengundang umatNya untuk memperingati karya keselamatan ini di setiap ibadah di hari Minggu dan ibadah2 lainnya. Juga atas inisiatif Allah, umat diberi-Nya ruang dan waktu untuk menyampaikan ungkapan syukurnya. Dengan demikian, yang menjadi pusat ibadah adalah Allah. Seluruh kegiatan, penataan ruangan, simbol, lambang dan sebagainya dilakukan sebaik mungkin hanyalah untuk Allah sebagai Pusat Ibadah. Memperhatikan kedudukan Allah yang Maha Kuasa dan Maha Suci maka diperlukan tatanan dalam peribadahan agar berlangsung dengan teratur dan tertib. Tatanan yang dimaksud mencakup tata waktu, tata simbol, tata busana, tata ruang, tata ibadah.


5 | T e m p a t M u s i k d a l a m L i t u r g i Di dalam ibadah ini terjadi dialog antara Tuhan-umat dan sesama umat, baik dalam doa, pujian syukur, permohonan, janji (ikrar) umat, dan maksud lainnya sesuai tata acara ibadah (liturgi). Sebagai ilustrasi, musik dalam resepsi pernikahan dilakukan untuk merayakan peristiwa pernikahan bagi mempelai dan musik ini terjadi karena semua pihak diundang oleh mempelai. Melalui musik itu, para undangan dan panitia memberikan yang terbaik kepada mempelai, baik melalui suguhan permainan musik dan olah vokal sang penyanyi maupun dengan suguhan tata cahaya, tata panggung, tarian, dan sebagainya untuk memperkuat penghargaan yang diberikan kepada mempelai. Stage manager, penata cahaya, pemusik, penyanyi, dan semua pihak berupaya menyuguhkan yang terbaik kepada mempelai sebagai obyek yang menjadi pusat di acara tersebut. Dalam musik ibadah, baik berupa nyanyian maupun instrumentalia pun harus disiapkan dengan baik bahkan harus istimewa karena pusat dalam ibadah adalah Allah yang Maha Kuasa dan Maha Suci. Musik dan nyanyian dalam ibadah juga dapat berbentuk penguatan bagi sesama umat dengan mengedepankan bahwa penguatan itu hanyalah berasal dari Allah. Semua pihak yang terlibat dalam ibadah yaitu Umat, Kantoria, Prokantor, Pemusik, Penata suara, Petugas Multi Media, dan pihak lain yang terkait dengan ibadah harus besungguh-sungguh memberikan yang terbaik. Musik yang dibawakan dalam ibadah harus juga dilakukan dengan tertib dan layak dari kerendahan manusia yang menghadap Allah yang Maha Kudus. B. MEMBANTU UMAT MENDALAMI DAN MERESAPI PERTEMUANNYA DENGAN TUHAN 1. Musik sebagai ungkapan hati Suatu musik dapat terbentuk dari nada-nada atau bahkan hanya rhythm yang tertata dengan baik. Namun yang terutama dalam suatu musik adalah ide atau gagasan. Bunyi yang dihasilkan oleh tetesan air, atau suara mesin motor, atau suara penempa baja yang sedang bekerja, atau suara air karena kayuhan perenang yang sedang berlomba belum dapat dikatakan sebagai musik. Bunyi atau suara2 itu harus diolah dengan suatu


6 | T e m p a t M u s i k d a l a m L i t u r g i gagasan terentu agar menjadi musik. Sebagai contoh bunyi atau suara2 pengiring meditasi dikatakan musik apabila diolah menjadi media pendukung proses meditasi. Musik menempati posisi penting dalam kehidupan orang Ibrani, terutama dalam ibadat mereka kepada Allah. Musik ditampilkan dalam acara penobatan, digunakan dalam upacara keagamaan, dan berperan dalam peperangan. Musik digunakan untuk mengkapkan isi hati. • Setelah melepaskan diri dari Mesir dan menyeberangi laut Merah, bangsa Israel bernyanyi untuk Tuhan (Kel. 15.) untuk mengucap syukur • Sejak tabut mendapat perhentian, Daud menugaskan beberapa orang untuk bernyanyi di hadapan Kemah Suci sampai Salomo mendirikan rumah Tuhan di Yerusalem (1 Taw. 6: 31-32) untuk memuji Tuhan. • Kitab Mazmur memberikan kesaksian bahwa dalam suka dan duka, baik sebagai pujian maupun ratapan, umat beriman mengungkapkannya dengan menyanyikannya kepada Tuhan. • Nyanyian himne dinyanyikan oleh Yesus dan murid-muridnya (Mat. 26:30). • Rasul Paulus memerintahkan umat di Kolose, “Hendaklah firman Kristus diam dengan berlimpah di dalam kamu; saling mengajar dan menegur dengan segala hikmat; dan dengan rasa syukur di dalam hatimu nyanyikan mazmur, himne, dan lagu rohani kepada Tuhan. Dan apa pun yang kamu lakukan, baik perkataan maupun perbuatan, lakukanlah segala sesuatunya dalam nama Tuhan Yesus sambil mengucap syukur kepada Allah Bapa melalui Dia” (Kol. 3:16-17). Musik di Zaman Perjanjian Baru Musik juga digubah dari doa dan ucapan syukur. Dalam Perjanjian Baru terdapat pujian yang sangat kita kenal antara lain adalah: • Pujian Maria (Magnificat) yang terdapat pada Lukas 1: 46-55. Maria mengucap syukur saat mengunjungi Elisabet karena telah dianugerahkan Tuhan untuk mengandung bayi Yesus yang akan menyelamatkan umat manusia. Pujian syukur ini ditujukan kepada Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih • Pujian Zakharia (Benedictus) yang terdapat pada Lukas 1: 67-80. Zakharia mengucap syukur saat memberi nama anaknya Yohanes dengan menulisnya di atas batu pada acara penyunatan Yohanes dan saat itu Zakharia dapat berbicara.


7 | T e m p a t M u s i k d a l a m L i t u r g i Zakharia mengucap syukur karena ia memperoleh anak yang dijanjikan Tuhan yang mana sebelumnya ia tidak mempercayainya karena kondisinya dan istrinya (Elisabet) yang sudah tua secara manusia tidak mungkin mereka memperoleh anak dan karena ketidakpercayaannya itu ia menjadi bisu. Namun tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, Zakharia memperoleh anak yang dinamakan Yohanes yang akan membaptiskan Tuhan Yesus Kristus Sang Juruselamat. Atas anugerah ini, ia mengucap syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih. • Pujian Simeon (Nunc Dimitii) yang terdapat pada Lukas 2: 25-35. Simeon sebagai orang yang dipenuhi Roh Kudus mengucap syukur karena diberi kesempatan untuk melihat Yesus Sang Juruselamat yang berumur 8 hari saat diantar orang tuanya ke Bait Allah untuk diserahkan kepada Tuhan, dan ditandai dengan sunat. Simeon bersyukur karena telah melihat kemurahan dan kebesaran Allah dalam Yesus Kristur. Simeon bersyukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih. • Juga pada kitab yang menceriterakan pelayanan dan kesaksian Paulus. Semua pujian ini ditujukan hanya kepada Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih, bukan kepada sosok lain. Pujian ini dapat dilantunkan dalam bentuk musik. Kembali lagi bahwa bernyanyi merupakan isi hati orang percaya (Kristen) yang diungkapkan dalam bunyibunyian yang bernada dan berirama secara harmonis dalam bentuk lagu dan nyanyian. Teolog Reformed, Karl Barth, menyatakan bahwa menyanyi bukanlah suatu pilihan bagi umat Allah; itu adalah salah satu pelayanan penting gereja. Nyanyian tersebut bukan sebuah konser, tapi merupakan ekspresi atau ungkapan hati umat kepada Tuhan. 2. Musik membantu memasuki kedalaman spiritual Arahan utama nyanyian jemaat adalah kepada Tuhan (Mzm. 96:1). Musik dibuat pertama-tama untuk Tuhan dan yang kedua untuk satu sama lain dengan pesan utama bahwa Tuhanlah Yang Maha Kuasa, Maha Pengasih. Musik harus mengkomunikasikan dan mengungkapkan rasa kagum dan takjub di hadapan Tuhan; hal ini harus mengarahkan pikiran kita kepada Tuhan dan bukan pada diri kita sendiri. Musik dalam ibadah dilantunkan atau dimainkan dengan alat musik untuk mendukung ibadah dalam hal pengembangan teologi gereja, membantu untuk umat berperan aktif dalam


8 | T e m p a t M u s i k d a l a m L i t u r g i ibadah. Musik gereja dibutuhkan untuk memenuhi Dimensi Kristologis, Dimensi Eklesiologis, dan Dimensi Liturgis. 1) Dimensi Kristologis Sebagai manusia yang hidup 2000 tahun setelah kelahiran Yesus Kristus maka cukup sulit memahami maksud kedatangan Yesus Kristus ke dunia. Bahkan pada masa Yesus Kristus di dunia, banyak manusia yang tidak dapat memahaminya. Melalui syairnya, musik gereja memperjelas pemahaman manusia terhadap Yesus Kristus yang Maha Mulia dan Maha Kudus. Banyak intsrumentalia musik yang telah diciptakan untuk membantu manusia mendalami sesuatu yang tidak dapat dinyatakan dengan kata-kata atau tulisan. Musik yang dimaksud ini antara lain musik pengantar meditasi, musik pengantar perenungan, dan hal lain untuk memahami sesuatu yang abstrak. Melalui melodi dan musiknya, musik gereja juga membantu umat merenung dan berkontemplasi terkait pemahaman iman. Musik dan melodi membantu umat masuk ke dalam suasana pemahaman iman. 2) Dimensi Eklesiologis Sebagai musik yang dinyanyikan bersama-sama oleh umat, maka Musik Gereja dapat membantu umat berpartisipasi secara aktif dan sadar di dalam pelayanan, kesaksian, dan persekutuan. Dengan syair yang dinyanyikan, umat dapat saling menguatkan sebagai satu tubuh Kristus. Musik gereja juga dapat turut berperan dalam pertumbuhan jemaat melalui Paduan Suara dan Kantoria. Sebagai Paduan Suara atau Kantoria maka harus melalui proses latihan yang intensif sehingga dalam proses latihan ini para penyanyi dapat berinteraksi dalam suasana yang terbentuk oleh syair yang dinyanyikan. 3) Dimensi Liturgis Musik gereja tidak terpisahkan dari liturgi ibadah bahkan menjadi bagian utuh dalam liturgi untuk mengutarakan pengakuan dosa, permohonan pengampunan dosa, respon atas berita anugerah dan Firman Tuhan yang menguatkan umat, mengekspresikan perasaan dan niat saat persembahan, maupun janji umat dalam pengutusan. Memperhatikan hal ini maka musik gereja turut melengkapi liturgi. Dengan musik, umat terbantu untuk mendalami dan meresapi pertemuannya dengan Tuhan maupun dengan sesama umat. Mengacu pada pendapat H.A. Van Dop bahwa Musik Gereja berfungsi sebagai berikut:


9 | T e m p a t M u s i k d a l a m L i t u r g i • Musik menjadi mata rantai liturgi, artinya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan rangkaian ibadat. Ibadat akan terganggu atau rusak apabila musik/nyanyian berjalan tidak sebagaimana mestinya • Musik memberi bobot/mempertajam pengungkapan iman dan perasaan yang tidak cukup bila hanya diungkapkan dengan kata-kata. Sehingga kegiatan ibadat tidak hanya jatuh pada ruang akal perasaan semata, tetapi memasuki kedalaman (depth) spiritual. Melalui Musik Gereja, ruang spiritual penghayatan dan kesadaran tentang kebesaran, kuasa, dan kasih Tuhan orang percaya semakin diperkaya. Menyimpulkan pendapat tersebut maka fungsi musik gereja merupakan mata rantai liturgi dan berfungsi juga untuk membantu umat mencapai kedalaman pemahaman imannya, bukan untuk kepuasan pemusik dengan menyuguhkan bentuk musik yang rumit tanpa mendukung upaya penghayatan umat. Berdasarkan uraian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa musik gereja adalah musik yang: • Dapat membantu umat dalam pemahaman imannya terhadap Yesus Kristus • Membantu umat berpartisipasi secara aktif dan sadar di dalam pelayanan, kesaksian, dan persekutuannya • Menjadi kesatuan dalam liturgi 3. Musik sejalan dengan kepentingan liturgi Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya bahwa liturgi GPIB tertata dalam rumpun ibadah, maka musik harus sejalan dengan kepentingan liturgi. Musik harus dipahami dan dihayati sesuai tata cara pada rumpun tersebut. Dengan demikian cara menyanyikan lagu dapat berbeda bahkan untuk lagu yang sama atau masing-masing bait pada lagu yang sama. 1) MENGHADAP TUHAN: Bahwa Tuhan memanggil, dan jemaat datang menghadap Tuhan. Nyanyian: dinyanyikan dengan penuh keagungan a. Votum: Semuanya terjadi, bukan dari pihak jemaat, tetapi hanya karena pertolongan Tuhan b. Salam: dan berdasarkan ajaran para rasul c. Nas Pembimbing: Sehingga, seluruh ibadah harus berlangsung sesuai kehendak Tuhan dan diteguhkan oleh Tuhan


10 | T e m p a t M u s i k d a l a m L i t u r g i Nyanyian: dinyanyikan dengan penuh sukacita d. Pengakuan Dosa dan Lagu Kirieeleison: Bahwa jemaat yang datang menghadap Tuhan adalah jemaat yang berdosa, itu sebabnya jemaat harus mengaku dosanya dan memohon pengasihan Tuhan Nyanyian: dinyanyikan dengan penuh penyesalan dan permohonan sungguhsungguh atas pengampunan dosa e. Berita Pengampunan: Terhadap pengakuan dosa dan permohonan agar dikasihani maka Tuhan berbelas kasih kepada jemaat dan memberikan anugerah pengampunan. Nyanyian: dinyanyikan dengan penuh sukacita dan syukur atas pengampunan dosa f. Perintah Hidup Baru: Jemaat yang telah diampuni dosanya harus bersedia untuk menjalani hidup yang baru, yakni hidup yang mencintai Tuhan dan sesama, hidup yang memuliakan Tuhan. Nyanyian: dinyanyikan dengan penuh penghormatan kepada Allah 2) PEMBERITAAN FIRMAN (DAN PELAYANAN SAKRAMEN) a. Doa Memohon Bimbingan Roh Kudus: Bahwa dengan atau kepada jemaat yang telah dibarui dan bersedia hidup baru inilah Tuhan mau berbicara, bersabda/ bertitah, dan jemat dituntut untuk taat mendengar. Bahwa yang akan Tuhan bicarakan, sabdakan dan titahkan itu terdapat dalam Alkitab. Dan karena Alkitab berisikan firman Tuhan dari permulaan dunia sampai akhirnya maka jemaat harus berdoa memohon jamahan dan urapan Roh Kudus. Sebab hanya dengan cara itu jemaat dapat mendengar dan memahami semua yang Tuhan bicarakan, sabdakan dan titahkan, baik melalui bacaan Alkitab maupun pemberitaan Firman dan Sakramen-Nya. b. Pembacaan Alkitab: Nyanyian: dinyanyikan dengan penuh keagungan c. Khotbah: 3) JAWABAN JEMAAT a. Saat Teduh: Mendengar semua yang Tuhan sabdakan/ titahkan, terlebih hikmat dan pengertian yang jemaat telah miliki maka jemaat bersaat teduh sejenak untuk merenungkan dan menghayati firman Tuhan. Kemudian jemaat menjawab dengan pujian sebagai bentuk kesediaan dan kesanggupan untuk melakukan firman itu dalam kehidupan sehari-hari. Nyanyian: dinyanyikan dengan penuh sukacita atas firman yang telah disampaikan


11 | T e m p a t M u s i k d a l a m L i t u r g i b. Pengakuan Iman: Tidak hanya itu, jemaat juga diingatkan untuk selalu hidup dalam kesatuan dan kebersamaan selaku persekutuan beriman c. Doa Syafaat: dan tanggung jawab untuk mendoakan semua orang d. Pengucapan Syukur: serta memberi persembahan syukur untuk mendukung pelaksanaan pelayanan dan kesaksian kepada sesama yang membutuhkan (unsur Pengucapan Syukur). Nyanyian: dinyanyikan dengan penuh syukur 4) PENGUTUSAN a. Warta Jemaat: Akhirnya, jemaat diutus oleh Tuhan untuk mewujudkan tanggung jawabnya secara pribadi, keluarga maupun sektoral b. Amanat Pengutusan: dan untuk melakukan firman Tuhan dalam seluruh kehidupannya. Nyanyian: dinyanyikan dengan penuh semangat untuk menunaikan pengutusan c. Berkat: Bahwa mengingat dunia tempat jemaat diutus penuh tantangan maka Tuhan mengutus jemaat- Nya tidak dengan tangan hampa tetapi dengan membawa berkat dari Tuhan. 4. Kreativitas dalam Bernyanyi John Calvin mengakui kekuatan nyanyian jemaat dan doa bersama membantu umat mengekspresikan dan mengalami kesatuan tubuh Kristus. Ditegaskan bahwa lidah manusia diciptakan secara khusus untuk menyatakan puji-pujian kepada Allah, baik melalui bernyanyi maupun berbicara. Dalam doa-doa yang dipanjatkan secara bersama terdengar seolah-olah dengan mulut yang sama, semua bersama-sama memuliakan Tuhan, menyembah Dia dengan satu roh dan iman yang sama. Menyanyi dalam ibadah merupakan seni yang bersifat korporat. Menyanyi merupakan bentuk seni yang paling cocok untuk mengekspresikan kesatuan gereja dalam tubuh Kristus. Secara bersama-sama dengan warna suara yang berbeda, bagian lagu yang berbeda dipadukan untuk menghasilkan karya keindahan yang hidup, dan terpadu kepada Tuhan. Nyanyian ibadah merupakan nyanyian komunitas yang relatif mudah dinyanyikan oleh orang banyak. Para Pelayan perlu memastikan bahwa jemaat telah menguasai lagu yang akan dinyanyikannya. Setelah jemaat menguasainya, dapat dilakukan beberapa variasi pada nyanyian jemaat dengan maksud agar jemaat lebih meresapi kedalaman syair yang dinyanyikannya.


12 | T e m p a t M u s i k d a l a m L i t u r g i Gereja telah menunjukkan keterbukaan yang lebih besar terhadap variasi nyanyian yang lebih luas—mulai dari himne klasik hingga nyanyian nuansa etnis, Hal ini mencerminkan keragaman dan kekayaan ciptaan Tuhan. Namun variasi dan pilihan nyanyian dan cara bernyanyi memerlukan kearifan dan perhatian yang lebih besar dalam perencanaan dan pelaksanaan pelayanan musik di gereja. Hal yang utama saat umat Tuhan bernyanyi adalah: • apa yang mereka nyanyikan, • bagaimana cara mereka bernyanyi, • bagaimana iringan musik yang mendukung mereka bernyanyi Agar tujuan ibadah dapat lebih dimaknai dan juga memenuhi dimensi dalam ibadah, maka musik harus mendukungnya dengan beberapa kreativitas yang dilakukan. Beberapa cara menyanyikan Nyanyian Jemaat: 1) Alternatim Cara bernyanyi ini dilakukan dengan bergilir ganti setiap bait oleh pria, wanita, anakanak, dan sebagainya. Alternatim dapat dipakai pada lagu dengan bait yang banyak, yang merupakan cerita yang memiliki alur dan klimaks. Contoh pada KJ 170, 80, 69, 78, GB 111,388 2) Antifonal Antifonal dilakukan dengan cara menyanyi secara bergantian dalam bait yang sama oleh beberapa kelompok pemusik atau penyanyi yang jumlahnya seimbang. Contoh pada KJ 100, 437, 44, 269, 428 Dalam berkreasi dengan Antifonal harus diperhatikan agar pemenggalan kalimat tidak menyalahi maskud syair. Contoh pada lagu GB 25, bait lagu harus dinyanyikan oleh seluruh umat tanpa adanya 12ntiphonal. 3) Responsonal Cara bernyanyi ini dilakukan dengan saling menanggapi antara solois atau kantoria dan umat. Contoh pada KJ 13, 47, GB 8, 24, 28, 29, 36, 82. 4) Kanon Canon atau cara bernyanyi dengan melodi yang berkejaran dan membentuk garis suara yang harmonis. Contoh pada KJ 299, 437, 469, 470; GB 57, 299, 356 5) Cantus firmus di suara tertentu


13 | T e m p a t M u s i k d a l a m L i t u r g i Cara ini dilakukan dengan menyanyikan lagu dasar pada suara tertentu misalnya tenor dan suara lainnya sebagai pengiring. Contoh pada GB 402 6) Diskantus Diskantus dilakukan dengan menyanyikan beberapa nada tinggi di luar lagu dasar (cantus firmus) untuk menghiasi lagu. Contoh pada Gb 78, 80, 178, 200, 260, 376, 388, 402c *) Hal penting yang harus diperhatikan dalam cara alternatim dan antifonal adalah pemenggalan syair tidak boleh mengurangi atau bahkan mengambil "hak" jemaat dalam menyanyikan syair lagu Pelayanan musik harus mendukung umat untuk mencapai puncaknya secara nyata dalam nyanyian komunitas di dalam ibadah. Jemaat selalu menjadi paduan suara utama. Peran pelayan musik hanya membantu seluruh umat Allah dalam ibadah mereka. Pelayan musik yang dimaksud antara lain adalah Prokantor, Kantoria, Pemusik. 1) Prokantor dan kantoria Prokantor dan kantoria merupakan satu kesatuan. Tidak ada prokantor tanpa kantoria dan tidak ada kantoria tanpa prokantor. Istilah ini diambil dari bahasa Latin. Cantare adalah bahasa Latin yang berarti menyanyi. Cantor adalah sebutan dalam bahasa Latin untuk orang yang menyanyi. Beberapa orang penyanyi yang bernyanyi bersama dalam satu kelompok dikenal dengan nama schola cantorum atau kelompok biduan. Kelompok biduan ini dipimpin oleh procantor. Dengan demikian maka Prokantor adalah pemimpin penyanyi yang memandu Kantoria, Pemusik, dan Umat. Sesuai dengan fungsinya maka Kantoria seharusnya terdiri dari sekelompok orang yang menyanyi selaras dengan jemaat, bukannya menutupi suara jemaat dengan bantuan mikrofon yang bersuara melebih jemaat. Jika memang diperlukan untuk menyanyi dengan bantuan mikrofon, maka volume mikrofon diatur sedemikian rupa sehingga hanya sekadar menguatkan, bukan mendominasi. Fungsi Kantoria • Menuntun jemaat untuk mengenal dan menyanyikan lagu-lagu baru Banyak ditemukan lagu-lagu yang baru dikenal oleh jemaat dalam proses ibadah. Jemaat akan terganggu saat memahami syair lagu yang dinyanyikan karena lebih terfokus pada cara menyanyikan melodi lagu. Kantoria berfungsi untuk


14 | T e m p a t M u s i k d a l a m L i t u r g i mengenalkan lagu baru tersebut kepada jemaat sebelum ibadah di mulai. Pengenalan ini dapat dengan cara menyanyikan dan jemaat mendengarnya, namun yang terbaik adalah dengan menyanyikannya bersama jemaat sebelum ibadah dimulai. • Menuntun jemaat untuk memperbaiki nyanyian yang salah dinyanyikan Beberapa lagu telah terbiasa dinyanyikan dengan cara yang salah, baik dalam hal melodi, panjang nada, tempo, maupun dinamikanya. Kantoria berfungsi untuk menuntun jemaat menyanyikannya dengan benar. Hal ini dapat dilakukan dengan cara Kantoria menyanyikannya terlebih dahulu. Untuk melakukan hal ini perlu memperhatikan rumpun tata ibadah dan syair lagu agar tidak mengambil "hak" jemaat mengkomunikasikan syair lagu yang dinyanyikan. Kantoria juga harus membantu umat menyanyikan lagu dengan panjang nada yang tepat. Panjang nada ini banyak ditemukan pada lagu yang berisi fermata dan juga pada lagu dengan tempo lambat, contoh pada lagu Gita Bakti no. 25 “Tuhan, kami berlumuran dosa”. • Membantu jemaat untuk meresapi nyanyian ibadah Syair lagu ibadah dapat berkurang maknanya apabila terjadi kesalahan dalam penetapan tempo lagu, misalnya lagu "KepadaMu Puji-pujian" dinyanyikan tanpa kesan keagungan atau lagu permohonan pengampunan dosa dinyanyikan dengan tempo cepat dan bersemangat. Kantoria berperan sebagai pelayan yang membantu jemaat untuk membantu meresapi kedalaman syair lagu. 2) Pemusik Pengiring Tuhan dapat dimuliakan melalui suara-suara yang indah, dan roh dapat digembirakan melalui melodi yang menyenangkan, namun penggabungan nada ke dalam tekslah yang memberi makna pada lagu-lagu Kristen. Teks dan nada tidak hanya harus memuliakan Tuhan, namun nada harus sesuai dengan teks. Musik, terlepas dari teks terkaitnya, mampu membangkitkan emosi yang kuat. Yang pertama menggugah pada nyanyian adalah ritme lalu diikuti oleh melodi musik. Ritme


15 | T e m p a t M u s i k d a l a m L i t u r g i menggugah syaraf motorik sedangkan melodi menambah kesesuaian perasaan dalam nyanyian. Calvin memperingatkan bahwa “kita harus sangat berhati-hati agar telinga kita tidak lebih memperhatikan melodi daripada pikiran kita terhadap makna spiritual dari katakatanya. Musik memang dapat menggerakkan seseorang untuk menyesali, bersyukur, memuja, mencintai, atau salah satu dari berbagai emosi., namun harus diciptakan tanpa mengganggu perasaan dan ungkapan umat pada syair yang dinyanyikan. Oleh karena itu, penting agar suasana emosional lagu tertentu sepadan dengan makna teksnya. Musik pengiring harus dapat melayani umat dengan rhythm, chord yang sederhana dan sesuai dengan syair yang dinyanyikan. Tempo dan nada dasar yang telah ditetapkan dalam buku nyanyian jemaat harus dicermati dan bila diperlukan dapat dilakukan sedikit penyesuaian agar nyanyian dapat lebih diresapi oleh umat yang bernyanyi. Penambahan melodi pada musik pengiring dapat dilakukan pada beberapa nada panjang dan fermata sehingga dapat menuntun umat menyanyikan lagu dengan benar. Para pengiring (organis, pianis, kibordis, pemain musik) perlu memahami ciri-ciri khas nyanyian gereja. Peng-iring-an tidak sama dengan peng-giring-an. Alat pengiring mengabdi pada nyanyian umat, tidak memaksa. Para pengiring harus ikut bernafas dengan umat yang bernyanyi. Pengiring instrumental harus memiliki keterampilan yang menyatu dengan psikologi nyanyian bersama, sehingga ia sanggup turut menuntun dengan baik. Kesederhanaan lebih utama dalam mengiringi nyanyian dalam ibadah. Pengiringan nyanyian jemaat bersifat pengabdian dan tidak terkesan seolah-olah suara intrumeninstrumen pengiring lebih penting dari nyanyian yang diiringi. Tentunya segala kreatifitas dan fantasi boleh kita pakai, asal tetap dengan tujuan menjiwai nyanyian gereja, sehingga jemaat benar-benar menemukan ekspresi imannya di dalam nyanyian itu. Paduan Suara atau Kelompok Vokal sebagai Jemaat yang menyanyikan pujian Pujian oleh paduan suara merupakan umat yang menyampaikan pernyataan imannya juga ungkapan syukur melalui nyanyian tanpa ada unsur pertunjukan sama sekali. Pernyataan iman ini harus sesuai dengan liturgi dan tema pada saat itu.


16 | T e m p a t M u s i k d a l a m L i t u r g i C. KESIMPULAN 1. Musik menyatu dalam liturgi yang merupakan Perayaan atas karya keselamatan yang telah Tuhan Allah lakukan di dalam Tuhan Yesus Kristus. 2. Musik sebagai anugerah Allah, membantu umat mendalami dan meresapi proses dalam liturgi yang ditata dalam 4 (empat) rumpun ibadah. Diawali dengan menghadap Tuhan, pemberitaan firman, jawaban umat, dan pengutusan. 3. Melalui musik bahkan dapat memperjelas pemahaman manusia terhadap Yesus Kristus yang Maha Mulia dan Maha Kudus juga membantu umat berpartisipasi secara aktif dan sadar di dalam pelayanan, kesaksian, dan persekutuan 4. Untuk itu pelayan musik harus dapat menyesuaikan musiknya baik teks maupun nada agar umat dapat semakin mengungkapkan perasaannya dan masuk pada kedalaman spiritualnya.


17 | T e m p a t M u s i k d a l a m L i t u r g i Referensi 1. RCA Commission on Worship; The Theology and Place of Music in Worship 2. Svetlana Yatskaya; Music and Liturgy in early Christianity Dissertation 3. Materi Bina Diaken Penatua GPIB 4. B.F. Tamaka; Musik Gereja


Click to View FlipBook Version