The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by hannymaulidarahma, 2021-06-10 10:23:20

perjuangan kemerdekaan UAS

perjuangan kemerdekaan UAS

Aydiraz Fadhlurahman Hanny Maulida Rahma
1806701 1805211

Alifia Aulia Iqbal Fatin
180203 1800286

Perjuangan untuk mencapai kemerdekaan suatu Negara bukanlah suatu hal yang mudah. Perjuangan
tersebut membutuhkan pengorbanan besar. Mengingat, bahwa Indonesia sempat dijajah oleh bangsa
barat atau Eropa (Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda). Para bangsa Eropa tersebut mencoba
menguasai negara Indonesia demi keuntungan negaranya sendiri tanpa menghiraukan penderitaan
bangsa Indonesia sendiri sebagai salah satu negara yang dijajah. Kedatangan para bangsa Eropa
tersebut ingin menguasai sumber daya alam yang dimiliki oleh Indonesia karena memiliki tanah subur,
lautan luas, keanekaragaman hayati, hingga rempah-rempah yang melimpah. Berdasarkan hal itulah
bangsa Eropa tersebut berani untuk berlayar ke Indonesia untuk berdagang dan mendapatkan
macam-macam rempah-rempah. Namun niat para bangsa Eropa untuk berdagang dan mendapatkan
rempah-rempah tersebut pupus oleh keserakahan mereka sendiri. Kendati demikian, para bangsa
Eropa pada saat itu melakukan praktik penjajahan di Indonesia. Hal ini mengacu pada semboyan 3G
(Gold Gospel, Glory). Semboyan para bangsa barat ini sebagai symbol melakukan penjajahan. Gold
bermakna bahwa bangsa Barat menginginkan kekayaan melalui penjajahan atau yang lainnya. Bangsa
Barat juga ingin mendapat kejayaan atau kemenangan yaitu glory. Tujuan yang lainnyaya itu ingin
memperluas keyakinannya yaitu agama nasrani di Asia.Bangsa barat ingin mendapatkan kekayaan
sebanyak-banyaknya untuk meningkatkan perkonomian negara.

Sebelum negara ini merdeka, Indonesia harus mencicipi kejamnya penjajahan oleh beberapa negara asing. Diawali dari Portugis yang pertama kali datang ke Malaka
pada 1509. Dipimpin oleh Alfonso de Albuquerque Portugis dapat menguasai Malaka pada 10 Agustus 1511. Setelah mendapatkan Malaka, portugis mulai bergerak dari
Madura sampai ke Ternate. Alfonso de Albuquerque arsitek utama ekspansi portugis ke Asia, bangsa ini merupakan bangsa Eropa pertama yang tiba di Nusantara, dan
mencoba mendominasi sumber-sumber rempah-rempah berharga dan berusaha menyebarkan Katolik Roma.

Pada 1511-1526, Nusantara menjadi pelabuhan maritim penting bagi Bangsa Portugis, yang secara rutin menjadi rute maritim untuk menuju Pulau Maluku, Jawa,
Sumatera dan Banda. Pada 1511 Portugis menaklukkan Kerajaan Malaka. Kemudian pada 1512 Portugis menjalin Hubungan dengan Kerajaan Sunda untuk
menandatangani perjanjian dagang. Perjanjian dagang ini kemudian diimplementasikan pada tanggal 21 Agustus 1522 dalam bentuk dokumen kontrak. Pada hari yang
sama dibangun juga sebuah prasasti yang disebut Prasasti Perjanjian Portugal-Sunda.

Pada 1512 juga Afonso deAlbuquerque mengirim Franscisco Serrao serta Antonio Albreu untuk memimpin armadanya mencari jalan ke tempat asal rempah-rempah di
Maluku.

Pertemanan Portugis dan Ternate berakhir pada tahun 1570. Peperangan dengan Sultan Babullah berlangsung selama 5 tahun (1570-1575), membuat Portugis harus
menyingkir dari Ternate dan terusir ke Tidore dan Ambon.

Kemudian Perlawanan rakyat Maluku akan Portugis digunakan Belanda untuk menjejakkan kakinya di Maluku.Pada 1605, Belanda berhasil membuat Portugis
menyerahkan pertahanannya di Tidore kepada Cornelisz Sebastiansz dan di Ambon kepada Steven vander Hagen. Demikian pula benteng Inggris di Kambelo, Pulau
Seram, dihancurkan oleh Belanda. Sejak itu Belanda dapat menguasai sebagian besar wilayah Maluku. Kedudukan Belanda di Maluku semakin kuat dengan berdirinya
VOC pada 1602, kemudian sejak itu Belanda menjadi penguasa tunggal di Maluku.

Proses penjajahan oleh bangsa Belanda merupakan proses ekspansi politik yang lambat, bertahap dan berlangsung selama beberapa abad sebelum mencapai batas-batas
wilayah Indonesia seperti yang ada sekarang. Pada 1598, Belanda melancarkan ekspedisinya untuk mencari „Kepulauan Rempah-rempah Sebanyak empat kapal dengan
249 awak dan 64 pucuk meriam berangkat di bawah pimpinan Cornelis deHoutman Pada Juni 1596, kapal-kapal deHoutman sampai di Banten, pelabuhan lada terbesar
di Jawa Barat.Namun belum lama singgah, Belanda sudah terlibat perang dengan rakyat pribumi. DeHoutman pun angkat kaki dan berlayar ke timur melalui pantai
utara Jawa. Selama abad ke-18, VereenigdeOost-IndischeCompagnie (disingkat VOC) memantapkan dirinya sebagai kekuatan ekonomi dan politik di pulau Jawa
setelah runtuhnya Kesultanan Mataram. Perusahaan dagang Belanda ini telah menjadi kekuatan utama di perdagangan Asia sejak awal 1600-an, tetapi pada abad ke-18
mulai mengembangkan minat untuk campur tangan dalam politik pribumi di pulau Jawa demi meningkatkan kekuasaannya pada ekonomi lokal. Namun korupsi,
manajemen yang buruk dan persaingan ketat dari Inggris (East India Company) mengakibatkan runtuhnya VOC menjelang akhir abad ke-18. Pada tahun 1796, VOC
akhirnya bangkrut dan kemudian dinasionalisasi oleh pemerintah Belanda. Akibatnya, harta dan milik (aset) VOC di Nusantara jatuh ke tangan mahkota Belanda pada
tahun 1800. Namun, ketika Perancis menduduki Belanda antara tahun 1806 dan 1815, aset-aset tersebut dipindahkan ke tangan Inggris. Setelah kekalahan Napoleon di
Waterloo diputuskan bahwa sebagian besar wilayah Nusantara kembali ke tangan Belanda.Masa penjajahan Indonesia tidak langsung dimulai ketika orang-orang
Belanda pertama kali menginjakkan kaki di Nusantara pada akhir abad ke-16. Sebaliknya, proses penjajahan oleh bangsa Belanda merupakan proses ekspansi politik
yang lambat, bertahap dan berlangsung selama beberapa abad sebelum mencapai batas-batas wilayah Indonesia seperti yang ada sekarang.

Dua nama menonjol sebagai arsitek Pemerintah Kolonial Belanda di Indonesia. Pertama, Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal 1808-1811 ketika Belanda

dikuasai oleh Perancis, dan, kedua, Letnan Inggris StamfordRaffles, Gubernur Jenderal 1811-1816 ketika Jawa dikuasai Inggris. Daendels mereorganisasi pemerintahan
kolonial pusat dan daerah dengan membagi pulau Jawa dalam distrik (yang juga dikenal sebagai residensi) yang dipimpin oleh seorang pegawai negeri sipil Eropa –
yang disebutkan residen – yang secara langsung merupakan bawahan dari – dan harus melapor kepada – Gubernur Jenderal di Batavia. Para residen ini bertanggung

jawab atas berbagai hal di residensi mereka, termasuk masalah hukum dan organisasi pertanian. Raffles melanjutkan reorganisasi pendahulunya (Daendels)

dengan mereformasi pengadilan, polisi dan sistem administrasi di Jawa. Dia memperkenalkan pajak tanah di Jawa yang berarti bahwa petani Jawa harus membayar

pajak, kira-kira nilai dua-perlima dari panen tahunan mereka, kepada pihak berwenang. Raffles juga sangat tertarik dengan budaya dan bahasa Jawa.

Sistem pemerintahan kolonial Belanda di Jawa adalah sistem yang direk (langsung) maupun dualistik. Bersamaan dengan hirarki Belanda, ada
hirarki pribumi yang berfungsi sebagai perantara antara petani Jawa dan layanan sipil Eropa. Bagian atas struktur hirarki pribumi ini terdiri dari
para aristokrasi Jawa, sebelumnya para pejabat yang mengelola kerajaan Mataram. Namun, karena dikuasai penjajah, para priyayi ini terpaksa
melaksanakan kehendak Belanda.Meningkatnya dominasi Belanda atas pulau Jawa tidak datang tanpa perlawanan. Ketika pemerintah kolonial
Belanda memutuskan untuk membangun jalan di tanah yang dimiliki Pangeran Diponegoro (yang ditunjuk sebagai wali tahta Yogyakarta setelah
kematian mendadak saudara tirinya), ia memberontak dengan didukung oleh mayoritas penduduk di Jawa Tengah dan ia menjadikannya perang
jihad. Perang ini berlangsung tahun 1825-1830 dan mengakibatkan kematian sekitar 215,000 orang, sebagian besar orang Jawa. Tapi setelah Perang
Jawa selesai – dan pangeran Diponegoro ditangkap – Belanda jauh lebih kuat di Jawa dibanding sebelumnya. Persaingan dengan para pedagang
Inggris, Perang Napoleon di Eropa, dan Perang Jawa mengakibatkan beban keuangan yang berat bagi pemerintah Belanda. Diputuskan bahwa Jawa
harus menjadi sebuah sumber pendapatan utama untuk Belanda dan karena itu Gubernur Jenderal Van den Bosch mendorong dimulainya era
Tanam Paksa (para sejarawan di Indonesia mencatat periode ini sebagai era Tanam Paksa namun pemerintah kolonial Belanda menyebutnya
Cultuurstelsel yang artinya Sistem Kultivasi) di tahun 1830.
Dengan sistem ini, Belanda memonopoli perdagangan komoditi-komoditi ekspor di Jawa. Terlebih lagi, pihak Belanda-lah yang memutuskan jenis
(dan jumlah) komoditi yang harus diproduksi oleh para petani Jawa. Secara umum, ini berarti bahwa para petani Jawa harus menyerahkan
seperlima dari hasil panen mereka kepada Belanda. Sebagai gantinya, para petani menerima kompensasi dalam bentuk uang dengan harga yang
ditentukan Belanda tanpa memperhitungkan harga komoditi di pasaran dunia. Para pejabat Belanda dan Jawa menerima bonus bila residensi
mereka mengirimkan lebih banyak hasil panen dibanding waktu sebelumnya, maka mendorong intervensi top-down dan penindasan. Selain
pemaksaan penanaman dan kerja rodi, pajak tanah Raffles juga masih berlaku! Sistem Tanam Paksa menghasilkan kesuksesan keuangan. Antara
tahun 1832 dan 1852, sekitar 19 persen dari total pendapatan pemerintah Belanda berasal dari koloni Jawa. Antara tahun 1860 dan 1866, angka ini
bertambah menjadi 33 persen. Semakin banyak suara terdengar di Belanda yang menolak sistem Tanam Paksa dan mendorong sebuah pendekatan
yang lebih liberal bagi perusahaan-perusahaan asing. Penolakan sistem Tanam Paksa ini terjadi karena alasan kemanusiaan dan alasan ekonomi.
Pada 1870 kelompok liberal di Belanda memenangkan kekuasaan di parlemen Belanda dan dengan sukses menghilangkan beberapa ciri khas
sistem Tanam Paksa seperti persentase penanaman beserta keharusan menggunakan lahan dan tenaga kerja untuk hasil panen dengan tujuan
ekspor. Kelompok liberal ini membuka jalan untuk dimulainya sebuah periode baru dalam sejarah Indonesia yang dikenal sebagai Zaman Liberal
(sekitar 1870-1900). Periode ini ditandai dengan pengaruh besar dari kapitalisme swasta dalam kebijakan kolonial di Hindia Belanda. Pemerintah
kolonial pada saat itu kurang lebih memainkan peran sebagai pengawas dalam hubungan antara pengusaha-pengusaha Eropa dengan masyarakat
pedesaan Jawa. Namun, walau kaum liberal mengatakan bahwa keuntungan pertumbuhan ekonomi juga akan mengucur kepada masyarakat lokal,
keadaan para petani Jawa yang menderita karena kelaparan, kurang pangan, dan penyakit tidak lebih baik di Zaman Liberal dibandingkan dengan
masa sistem Tanam Paksa.

Masa penjajahan Jepang di Indonesia dimulai pada tahun 1942. Secara resmi Jepang telah menguasai Indonesia sejak 8 Maret 1942 ketika Panglima
Tertinggi Pemerintah kolonial Hindia Belanda menyerah tanpa syarat di Kalijati, Bandung. Negeri Matahari terbit itu berhasil menduduki Hindia-
Belanda dengan tujuan untuk menguasai sumber-sumber alam, terutama minyak bumi, guna mendukung potensi perang Jepang serta mendukung
industrinya. Semisalnya Pulau Jawa yang dijadikan sebagai pusat penyediaan seluruh operasi militer di Asia Tenggara, dan Sumatera menjadi
sumber minyak utama. Saat menguasai Indonesia, Jepang tak mempunyai banyak perlawanan. Masyarakat Indonesi menyambut kedatangan bala
tentara Jepang dengan perasaan senang. Ini lantaran mereka mengira Jepang telah membebaskan bangsa Indonesia dari masa penjajahan Belanda.
Pemerintah militer Jepang bersikap baik terhadap bangsa Indonesia dengan mengaku sebagai saudara tua bangsa Indonesia. Namun sayang hal
itu berubah usai beberapa waktu menduduki Iindonesia Ini disebabkan karena Jepang mengetahui harapan yang besar dari bangsa Indonesia
untuk mencapai kemerdekaan, mereka mulai menciptakan propaganda-propaganda untuk menaruh kepercayaan pada hati bangsa Indonesia.
Upaya-upaya berlaku baik terus dilakukan pemerintah militer Jepang. Dengan membentuk organisasi yang akan memperkuat keyakinan Indonesia
bahwa Jepang berada di pihaknya. Organisasi-organisasi tersebut antara lain, Gerakan Tiga A, merupakan organisasi pertama yang didirikan
Jepang pada 29 April 1942 yang dipimpin oleh Mr. Syamsuddin. Lalu ada Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) atau Majelis Syura Muslimin Indonesia
(Masyumi) dibentuk pada 22 November 1943, dibawah pimpinan K.H Hasyim Asy’ari, menjadi organisasi Islam yang didirikan oleh Jepang.
Setelahnya ada Putera (Pusat Tenaga Rakyat), didirikan pada 1 Maret 1942. Organisasi ini dipimpin oleh empat serangkai, yaitu Ir. Soekarno, Drs.
Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan K.H. Mas Mansyur dan terakhir yakni Jawa Hokokai (Himpunan Kebaktian Jawa), didirikan pada 8 Januari
1944. Organisasi ini dipimpin oleh pejabat-pejabat Jepang.

Di masa kependudukan Jepang, bangsa Indonesia secara terus menerus dibuat menderita dan diperlakukan dengan sangat kejam dan tidak
manusiawi.Para penjajah Jepang memiliki cara yang licik untuk mengelabui rakyat Indonesia. Mereka datang mengaku sebagai “saudara tua”
bangsa kita untuk mendapatkan simpati. Tak hanya itu, janji kemerdekaan juga digemborkan di awal kedatangan, sehingga rakyat memercayainya.
Namun ternyata, semua kebaikan itu hanya berlangsung dalam waktu yang singkat. Tak lama setelah Jepang menduduki Banten, makanan, obat-
obatan, pakaian, dan berbagai barang kebutuhan lainnya menghilang dari pasar.Akibatnya, rakyat pun sangat menderita.
Mereka terpaksa makan seadanya dan mengenakan karung goni sebagai alat penutup tubuh. Belum lagi jika sakit, tak ada obat yang bisa diakses,
sehingga rakyat menggunakan tumbuh-tumbuhan herbal seadanya. Kemudian, kekejaman Jepang yang paling terkenal adalah romusha. Mereka
memaksa rakyat, terutama para petani, untuk mengerjakan berbagai hal. Mulai dari terjun ke medan perang, membangun berbagai benteng,
penjara, dan lain sebagainya. Para pekerja romusha direkrut dengan paksa. Setiap kepala daerah harus menyetorkan data laki-laki usia produktif,
setelah itu mereka akan dipanggil untuk menjadi romusha. Saat panggilan datang, keluarga harus merelakan mereka, karena sering kali para
pekerja tersebut tidak kembali lagi ke rumahnya.
Setelah menjadi romusha, mereka akan diberi pakaian “seragam” berupa karung goni yang berkutu. Setiap hari para pekerja paksa itu harus
melakukan tugas yang berat tanpa istirahat dan makanan yang cukup. Tubuh mereka pun kurus dan lemah, namun tetap harus bekerja dengan
berat. Para tentara Jepang pun mengawasinya setiap waktu. Cambuk, pentungan logam, dan berbagai senjata siap untuk diayunkan kapan saja
ketika ada romusha yang melawan, berusaha melarikan diri, atau mencuri waktu istirahat. Jepang juga terkenal dengan penjara-penjaranya yang
tak kenal ampun dan tidak manusiawi. Salah satu contohnya adalah penjara bawah tanah yang ada di Lawang Sewu, Semarang, Jawa Tengah.
Bangunan tersebut awalnya dibuat oleh pemerintah Belanda untuk kantor kereta api. Namun saat Jepang menguasai Indonesia, ia dialihfungsikan
menjadi penjara. Terdapat dua macam penjara yang terkenal di Lawang Sewu, yakni penjara jongkok dan berdiri. Penjara jongkok dibuat seperti
bak dengan tinggi 50 sentimeter. Para tahanan harus jongkok di dalamnya. Seakan tak cukup kejam, bak tersebut diisi air yang mencapai leher lalu
ditutup dengan besi. Sementara penjara berdiri dibuat dengan ukuran 1 x 1 meter. Ruangan tersebut biasanya diisi oleh delapan orang. Para
tahanan yang berasal dari pribumi maupun warga Belanda harus berdiri berdesak-desakan di dalamnya.

Propoganda terkenal yang diusung Jepang adalah gerakan tiga A yakni Jepang pelindung Asia, Jepang pemimpin Asia dan Jepang cahaya Asia.
Tetapi gerakan Tiga A hanya bertahan sementara. Penyebabnya adalah kurangnya simpati masyarakat Indonesia terhadap gerakan tersebut. Akan
tetapi Jepang semakin jelas menjajah Indonesia setelah sumber-sumber ekonomi dikontrol secara ketat oleh pasukan Jepang. Pengontrolan ini
dilakukan untuk kepentingan perang dan kemajuan industri Jepang. Setelah itu ada Heiho (Pembantu Prajurit Jepang), anggota Heiho ditempatkan
dalam kesatuan tentara Jepang sehingga bannyak dikerahkan ke medan perang; Pembela Tanah Air (PETA), dibentuk pada 3 Oktober 1943. Calon
perwira PETA mendapatkan pelatihan di Bogor. Tujuan didirikannya PETA adalah untuk mempertahankan wilayah mmasing-masingFujinkai
(Barisan Perhimpunan Wanita), Suishintai (Barisan Pelopor), Jibakutai (Barisan Berani Mati); Seinentai (Barisan Murid Sekolah dasar), Gakukotai
(Barisan Murid Sekolah dan Lanjutan), dan Hizbullah (Organisasi pemuda-pemuda Islam yang dididik milmiliter).

Memasuki tahun 1944, dalam Perang Pasifik, tentara Jepang mulai terdesak oleh tentara Sekutu pimpinan Jenderal Mc. Arthur.
Mula-mula, Jepang terdesak dan menderita kekalahan di Laut Karang, pantai timur Laut Australia. Kepulauan di Lautan Pasifik
satu persatu jatuh ke tangan Sekutu. Kota-kota di negeri Sakura sendiri pun juga menjadi sasaran tentara Mc. Arthur. Tahun 1945,
merupakan tahun yang sangat sulit bagi Jepang. Kedudukannya di daratan Asia juga sudah terancam. Oleh karena itu, untuk
menarik simpati rakyat, Jepang berjanji kepada bangsa Indonesia akan memberikan kemerdekaan. Tetapi Jepang semakin panik.
Pada pertengahan tahun 1945 tentara sekutu sudah mendarat di pelabuhan minyak Balikpapan. Jepang sudah tidak berdaya.
Apalagi setelah Amerika Serikat menjatuhkan bom Atom ke Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945 dan Nagasaki tanggal 9
Agustus 1945.Negeri Sakura ini sudah benar-benar lumpuh. Akhirnya pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang sudah menyerah tanpa
syarat kepada Ssekutu Penyerahan Jepang kepada sekutu tersebut telah menandai berakhirnya Perang Dunia 2 di Pasifik. Hal itu
juga menandai berakhirnya masa penjajahan Jepang di Indonesia.

1.Perlawanan Kesultanan Ternate
Perlawanan rakyat Ternate didorong oleh tindakan bangsa Portugis yang sewenang-wenang dan merugikan rakyat.
Perlawanan Ternate dipimpin oleh Sultan Hairun dari Ternate. Seluruh rakyat dari Irian sampai ke Jawa diserukan untuk
melakukan perlawanan. Sayang sekali Sultan Hairun ditipu oleh Portugis dan dihukum mati pada tahun 1570.Tetapi
kecongkakan Portugis akhirnya menuai balasan dengan keberhasilan Sultan Baabullah dalam mengusir Portugis dari
bumi Maluku tahun 1575. Selanjutnya Portugis menyingkir ke daerah Timor Timur (Timor Loro Sae).

2. Perlawanan Kesultanan Demak
Dominasi Portugis di Malaka telah mendesak dan merugikan kegiatan perdagangan orang-orang Islam. Oleh karena itu ,
Sultan Demak R. Patah mengirim pasukannya di bawah Pati Unus untuk menyerang Portugis di Malaka. Pati Unus
melancarkan serangannya pada tahun 1527, tentara Demak kembali melancarkan serangan terhadap Portugis yang mulai
menanam pengaruhnya di Sunda Kelapa. Di bawah pimpinan Fatahillah, tentara Demak berhasil mengusir Portugis dari
Sunda Kelapa. Nama Sunda Kelapa kemudian diubah menjadi Jayakarta.

3. Perlawanan Kesultanan Aceh
Setelah menguasai Malaka, Portugis kemudian mengirimkan pasukannya untuk menundukkan Aceh. Usaha inipun
mengalami kegagalan. Serangan Portugis ke Aceh menunjukkan bahwa kekuasaan Portugis di Malaka telah mengancam
dan merugikan Aceh. Apalagi kegiatan monopoli perdagangannya yang sangat menyulitkan rakyat Aceh. Untuk
mengusir Portugis dari Malaka, Aceh menyerang kedudukan Portugis di Malaka.

4. Perlawanan Kesultanan Mataram
Pada awalnya Mataram dengan Belanda menjalin hubungan baik. Belanda diizinkan mendirikan benteng (loji) untuk
kantor dagang di Jepara. Belanda juga memberikan dua meriam terbaik untuk Kerajaan Mataram. Dalam
perkembangannya, terjadi perselisihan antara Mataram-Belanda. Pada tanggal 8 November 1618, Gubernur Jenderal
VOC Jan Pieterzoon Coen memerintahkan Van der Marct menyerang Jepara. Peristiwa tersebut memperuncing
perselisihan antara Mataram dengan Belanda. Raja Mataram Sultan Agung segera mempersiapkan serangan terhadap
VOC di Batavia. Serangan pertama dilakukan pada tahun 1628.
5. Perlawanan Kesultanan Gowa
Dalam lalu lintas perdagangan, Gowa menjadi Bandar antara jalur perdagangan Malaka dan Maluku. Sebelum rempah-
rempah dari Maluku dibawa sampai ke Malaka, maka singgah dahulu di Gowa, begitu juga sebaliknya. Melihat
kedudukan Gowa yang begitu penting , maka VOC ingin sekali menguasai Bandar di Gowa. Usaha yang dilakukan adalah
melakukan blokade terhadap Pelabuhan Sombaopu. Disamping itu, kapal-kapal VOC juga diperintahkan untuk merusak
dan menangkap kapal-kapal pribumi maupun kapal-kapal asing. Menghadapi perkembangan yang semakin genting itu ,
maka raja Gowa , Sultan Hasanuddin mempersiapkan pasukan dengan segala perlengkapan untuk menghadapi VOC.
Beberapa kerajaan sekutu juga disiapkan. Benteng-benteng dibangun di sepanjang pantai kerajaan. Sementara itu, VOC
dalam rangka menerapkan politik adu domba, telah menjalin hubungan dengan seorang pangeran Bugis dari Bone
bernama Arung Palaka. Meletuslah perang antara VOC dengan Gowa pada 7 juli 1667. Tentara VOC dipimpin Spelman
yang diperkuat pengikut Arung Palaka menggempur Gowa. Karena kalah persenjataan , benteng pertahanan tentara
Gowa di Barombang dapat diduduki oleh pasukan Arung Palaka.

6. Perlawanan Rakyat Maluku (1817).
Perlawanan rakyat Maluku terhadap Belanda, hal itu disebabkan karena Belanda datang ke Nusantara untuk mendapatkan rempa-rempah
dengan harga yang semurah-murahnya untuk keuntungan yang berlipat ganda. Sehingga semua itu sangatlah memberatkan rakyat.
Hingga datanglah Inggris untuk mendapat simpati dari rakyat Maluku, dengan motif selalu membantu rakyat dari Belanda. Namun
Belanda kembali berkuasa dari tangan inggris setelah diterapkannya Konvensi London tahun 1814. Dan pada tanggal 17 Mei 1817
pemuda Sapurua yang dipimpin Pattimura, memulai perlawanan terhadap Belanda untuk merebut benteng Duurstede. Bentengpun
akhirnya dapat dikuasai dan Rasiden Van Der Berg ditembak mati. Serangan lain juga terjadi di daerah Maluku lain, sehingga hal itu
mengacaukan Belanda.
7. Perlawanan Kaum Padri (1819-1832).
Awalnya kedatangan islam di daerah Minangkabau tidak mempengaruhi pola hidup kaum Adat. Tetapi setelah datangnya tiga orang haji
dari Mekah yaitu H. Miskin, H. Sumanik, dan H. Piabang yang ingin meluruskannya ajaran islam, hal itu membuat adanya tantangan dari
kaum Adat. Sehingga terjadilah perang antara kaum Adat dengan kaum Padri. Dan setelah Belanda menerima penyerahan daerah
Sumatra Barat dari Inggris, Belanda membantu kaum Adat melawan kaum Padri. Namun setelah adanya perlawanan Diponegoro Di Jawa,
menyebabkan kesulitan bagi pemerintah Hindia Belanda, hingga pemerintah Belanda berhasil membujuk kaum Padri untuk berunding.
Kolonel Stuers pada tanggal 29 Oktober 1825 yang ditandatangani tanggal 15 November 1825 berhasil mengadakan perdamaian dengan
kaum Padri yang diwakili Tuanku Keramat yang berisi :

a. Belanda akan mengakui kekuasaan Tuanku-Tuanku di Lintau, Limapuluh Kota, Telawas, dan Agam.
b. Kedua belah pihak akan melindungi orang-orang yang sedang dalam perjalanan dan para pedagang.
c. Kedua belah pihak akan melindungi orang-orang yang kembali dari pengungsian.

8. Perlawanan Diponogoro (1825-1830).
Pangeran diponogoro adalah bangsawan mataram yang berusaha membebaskan tanah mataram dari dominasi Belanda. Perlawanan terjadi
antara tahun 1825-1830. perang yang terjadi, dilatar belakangi karena berbagai masalah yang muncul. Masalah Umum :

a. Kerajaan mataram semakin sempit kekuasaannya, akibat Belanda.
b. Campur tangan belanda dalam urusan istana mataram.
c. Penderitaan dan kesengsaraan mataram kerena banyak pajak yang dipungut Belanda.
d. Kaum ulama kecewa karena berkembangnya budaya barat.
e. Kaum bangsawan tidak diperkenankan menyewakan tanah.
9. Perang Jagaraga.
Pada tahun 1844, kapal Belanda terdampar di Pantai Buleleng. Sesuai dengan hukum Tawan Karang, kapal itu disita oleh kerajaan Buleleng.
Tetapi Belanda menuntut agar kapal itu dikembalikan dan seluruh kerajaan di Bali tunduk kepada Belanda. Tetapi Raja Beleleng
menolaknya, sehingga pada tahun 1846, Belanda mendaratkan 1700 pasukan dan terjadilah pertempuran di Buleleng. Kerajaan Buleleng
dipimpin oleh Patihnya,Gusti Ktut Jelantik. Namun pertempuran itu gagal yang kekalahan itu dianggap sebagai tunduknya semua kerajaan
di Bali terhadap Belanda.
Akhirnya Raja dan Patih Buleleng bersatu dengan kerajaan lain seperti Karangasem, Klungkung, Mengwi,dan Bandung sepakat untuk
menyerang pos-pos Belanda yang dipimpin Gusti Ktut Jelantik. Sehingga pada tahun 1848 belanda mengirim pasukan 2300 orang. Belanda
mengancam dan menuntut raja-raja di Bali. t.

1. Penjajahan Bangsa Eropa

a. Dampak Positif
• Adanya teknologi yang dibawa oleh Belanda
• Menambah pengetahuan masyarakat dalam bidang cocok tanam
• Pembangunan infrastruktur secara besar besaran seperti jalan, bangunan, sekolah, jalan kereta, rumah sakit, dsb.
• Pendidikan yang semakin baik (Tapi pendidikan hanya dirasakan oleh kaum bangsawan)
• Adanya budaya baru yang masuk
• Menambah pengetahuan tentang bahasa (bahasa Asing khususnya Bahasa Belanda)
• Rakyat Indonesia mengetahui tanaman yang banyak peminatnya di pasaran Eropa
• Rakyat Indonesia mengenal teknologi multicrops dalam pertanian.

 B. Dampak Negatif
 Rakyat semakin miskin dengan adanya kerja rodi
 Sawah dan ladang menjadi terlantar karena adanya kerja paksa
 Kesejahteraan rakyat yang sangat minim
 Terjadinya kesenjangan sosial
 Jumlah penduduk yang menurun
 Banyaknya kasus kelaparan
 Banyak kasus kematian
 Hasil pertanian yang dibeli dengan sangat murah
 Banyak masyarakat yang kesulitan mencari pangan
 Menjadi sarang penyakit.

 Penjajahan Jepang

 Dampak Positif

 Diperbolehkannya bahasa Indonesia untuk menjadi bahasa komunikasi nasional dan menyebabkan bahasa Indonesia mengukuhkan diri sebagai bahasa
nasional.

 Jepang mendukung semangat anti Belanda, sehingga mau tak mau ikut mendukung semangat nasionalisme Indonesia, antara lain menolak pengaruh-
pengaruh Belanda, misalnya perubahan nama Batavia menjadi Jakarta.

 Untuk mendapatkan dukungan rakyat Indonesia, Jepang mendekati pemimpin nasional Indonesia seperti Soekarno dengan harapan agar Soekarno mau
membantu Jepang memobilisasi rakyat Indonesia. Pengakuan Jepang ini mengukuhkan posisi para pemimpin nasional Indonesia dan memberikan mereka
kesempatan memimpin rakyatnya.

 Dalam bidang ekonomi didirikannya “kumyai” yakni koperasi yang bertujuan untuk kepentingan bersama, mendirikan sekolah-sekolah seperti SD 6 tahun,
SMP 9 tahun dan SLTA.

 Pembentukan stara masyarakat hingga tingkat paling bawah yakni rukun tetangga “RT” atau Tonarigumi.

 Mulai berkembangnya tradisi kerja bakti massal melalui kinrohosi.

 Bangsa Indonesia mengalami berbagai pembaharuan akibat didikkan Jepang yang menumbuhkan kesadaran dan keyakinan yang tinggi akan harga dirinya.

 Diperkenalkan suatu sistem baru bagi pertanian yakni line system “sistem pengaturan bercocok tanam secara efisien” yang bertujuan untuk meningkatkan
produksi pangan.

 Dibentuknya BPUPKI dan PPKI untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, dari sini muncullah ide Pancasila.

 Jepang dengan teprogram melatih dan mempersenjatai pemuda-pemuda Indonesia demi kepentingan Jepang pada awalnya, namun oleh pemuda hal ini
dijadikan modal untuk berperang yang dikemudian hari digunakan untuk menghadapi kembalinya pemerintah kolonial Belanda.

 Dalam pendidikan dikenalkan sistem Nipon-sentris dan diperkenalkannya kegiatan upacara dalam sekolah.

 Dalam bidang budaya, Jepang mendirikan Keimin Bunka Shidosho (Pusat Kebudayaan) tanggal 1 April 1943 di Jakarta. Fungsi lembaga ini mewadahi
aktivitas kebudayaan Indonesia

 Pembentukan Persatuan Aktris Film Indonesia (PERSAFI) yang bertujuan mendorong aktris- aktris profesional dan amatir Indonesia untuk bereksperimen
dengan mengubah lakon terjemahan bahasa asing ke Bahasa Indonesia

 Dampak Negatif

 Penghapusan semua organisasi politik dan pranata sosial warisan Hindia Belanda yang sebenarnya banyak diantaranya yang
bermanfaat bagi kemajuan ilmu pengetahuan, sosial, ekonomi dan kesejahteraan warga.

 Romusha, mobilisasi rakyat Indonesia “terutama warga Jawa” untuk kerja paksa dalam kondisi yang tidak manusiawi.

 Penghimpunan segala sumber daya seperti sandang, pangan, logam dan minyak demi kepentingan perang. Akibatnya beras dan
berbagai bahan pangan petani dirampas Jepang sehingga banyak rakyat yang menderita kelaparan.

 Krisis ekonomi yang sangat parah, hal ini karena dicetaknmya uang pendudukan secara besar-besaran sehingga menyebabkan
terjadinya inflasi.

 Kebijakan self sufficiency “kawasan mandiri” yang menyebabkan terputusnya hubungan ekonomi antar daerah.

 Kebijakan fasis pemerintah militer Jepang yang menyebar polisi khusus dan intelijen di kalangan rakyat sehingga menimbulkan
ketakutan. Pemerintah Jepang bebas melanggar hak asasi manusia dengan menginterogasi, menangkap, bahkan menghukum
mati siapa saja yang dicurigai atau dituduh sebagai mata-mata atau anti-Jepang tanpa proses pengadilan.

 Pembatasa pers sehingga tidak ada pers yang idependen semuanya dibawah pengawasan Jepang.

 Terjadinya kekacuan sistuasi dan kondisi keamanan yang parah seperti maraknya perampokan, pemerkosaan dan lain-lain.

 Pelarangan terhadap buku-buku berbahasa Belanda dan Inggris yang menyebabkan pendidikan yang lebih tinggi terasa mustahil.

 Banyak guru-guru yang dipekerjakan sebagai pejabat-pejabat pada masa itu yang menyebabkan kemunduran standar pendidikan
secara tajam.

 Pelarangan buku-buku berbahasa asing (Belanda dan Inggris) sehingga pendidikan dan pengetahuan lebih tinggi terasa mustahil.

 Guru-guru dipekerjakan sebagai pejabat setempat sehingga menyebabkan kemunduran standar pendidikan secara tajam.

 Pelanggaran HAM yang dilakukan oleh tentara Jepang karena menghukum keras orang-orang yang menyimpang/menentang dari
Jepang.

7 DISIPLIN ILMU SOSIAL TERKAIT PENJAJAHAN DAN PERLAWANAN BANGSA
INDONESIA

 Sejarah
Portugis yang pertama kali datang ke Malaka pada 1509 yang pada saat itu dipimpin oleh AlfonsodeAlbuquerque. Untuk Belanda pertama kali menginjakkan kaki di
Nusantara pada akhir abad ke-16, tepatnya pada tahun 1598 yang datang melancarkan ekspedisi untuk mencari kepulauan rempah-rempah yang dipimpin oleh Cornelis
deHoutman. Masa penjajahan oleh bangsa Jepang di Indonesia dimulai pada tahun 1942. Secara resmi Jepang telah menguasai Indonesia sejak 8 Maret 1942 ketika
Panglima Tertinggi Pemerintah kolonial Hindia Belanda menyerah tanpa syarat di Kalijati, Bandung. Negeri Matahari terbit itu berhasil menduduki Hindia-Belanda
dengan tujuan untuk menguasai sumber-sumber alam, terutama minyak bumi, guna mendukung potensi perang Jepang serta mendukung industrinya.
 Geografi
Berdasarkan kondisi dan aspek geografis, bangsa Eropa (Belanda, Portugis) dan Jepang yang tertarik untuk datang dan menjajah bangsa Indonesia itu karena pada
awalnya melihat posisi tempat yang strategis sebagai jalur perdagangan rempah-rempah dunia pada saat itu dengan menandatangani perjanjian dagang dan kerjasama di
bidang rempah-rempah.
 Sosiologi
Mempengaruhi terhadap tatanan sosial yang ada di masyarakat dimana terjadi perubahan dalam politik di pemerintahan sebagai hasil dari kebijakan Pax Nederlandica
pada akhir abad ke 19 hingga awal abad ke 20. Pax Nederlandica adalah perubahan dalam sistem pemerintahan dari administrasi tradisional kepada sistem administrasi
modern. Tujuan penerapannya adalah untuk menggantikan posisi pemerintah daerah yang penting kepada pemerintah Belanda dengan mengangkat dan menggaji
pegawai yang akan memegang jabatan struktur birokrasi. Jabatan tertinggi yang bisa dipegang oleh pribumi dalam struktur tersebut adalah Bupati, Wedana dan Patih.
Pada bidang sosial juga adanya penjajahan oleh belanda ini sngat mempengaruhi dan berdampak buruk bagi kaum penguasa pribumi yang semula memiliki kedudukan
tinggi kemudian berganti menjadi aparatur pegawai pemerintah Belanda dengan gaji kecil. Derajat mereka pun turun dihadapan masyarakat pribumi, kedudukannya pun
tidak dihormati oleh pemerintah kolonial, hanya dianggap sebagai pembantu dalam melaksanakan tugas yang sudah ditentukan. Kehidupan bermasyarakat dibagi
menjadi stratifikasi sosial, sebagai berikut :
Kelas 1 (atas) : Bangsa barat (Belanda dan Eropa lainnya).
Kelas 2 (menengah) : Orang Timur Asing seperti India, Cina dan Arab.
Kelas 3 (rendah) : Masyarakat Pribumi, pegawai tinggi pemerintah, pedagang kecil, petani dan pegawai rendahan.
Datangnya bangsa Belanda membuat budaya barat sangat berkembang dikalangan masyarakat saat itu. Beberapa perubahan contohnya seperti tata cara kehidupan,
bahasa, cara bergaul dan cara berpakaian. Perubahan ini terus berkembang dikalangan keraton dan masyarakat yang kemudian mengakibatkan tradisi di dalam keraton
semakin terkikis.

 Antropologi

Dimana kebudayaan yang ada di Indonesia menjadi beragam, dan akibat dari penjajahan juga mempengaruhi kebudayaan bangsa
Indonesia mulai dari kosa kata atau perbendaharaan kata, seni musik, seni tari, model pakaian, arsitektur dan cara berpikir rakyat
kita. Dampak pada budaya yang pertama adalah pada perbendaharaan kata bangsa Indonesia yaitu pada kata – kata serapan.
Misalnya sepatu dari kata sapato (portugis), bangku dari kata banco (portugis), kelas dari kata klas (belanda), pistol dari pistool
(belanda), buku dari book (inggris) dan telepon dari telephone (inggris). Selain itu, meluasnya pengaruh agama kristen juga
semakin terasa di kerajaan maupun masyarakat biasa. Nilai positif yang dapat diambil adalah memperkaya kebudayaan Indonesia
dan memahami nilai-nilai budaya asing. Intinya dapat memilah-milah mana yang baik dan buruk.

 Ekonomi

Bangsa Indonesia pada masa penjajahan dirugikan dalam bidang ekonomi dengan adanya kerja rodi dan romusha, Pendapatan
rempah-rempah terus menurun karena harga ditentukan oleh VOC. Produksi pangan nonrempah pun ikut menurun hingga terjadi
kelaparan. Akibatnya, angka kemiskinan meningkat dan membuat rakyat semakin menderita. Belanda juga mengeluarkan
kebijakan yang merugikan bangsa Indonesia di masa penjajahan, yaitu cultuurstelsel atau tanam paksa di tahun 1830. Sistem
tanam paksa mewajibkan rakyat Indonesia untuk menanam tanaman pokok. Tujuan utama tanam paksa adalah untuk mengisi
kekosongan kas Belanda.

 Psikologi Sosial

Masuknya ilmu pengetahuan ke Indonesia dibawa oleh penjajah.Kedatangan bangsa penjajah ke Indonesia yang membawa ilmu
pengetahuan menjadi nilai lebih bagi bangsa Indonesia yang patut dibanggakan. Namun dibalik kepintarannya, terbesit rasa tinggi
hati, kegoisan, dan tidak menghargai perasaan orang lain. Bahkan kecerdasan yang dimiliki kaum penjajah dimanfaatkan untuk
menindas dan membodohi orang Indonesia pada saat itu. Pada masa penjajahan juga sangat terlihat kesenjangan sosialnya yang
mana rakyat Indonesia harus tunduk dan patuh kepada para penjajah.

 Politik dan Hukum

 Politik DevideetImpera (Pecah Belah)

Politik DevideEtImpera, adalah politik memecah belah dan menaklukkan yang diterapkan penjajah Belanda. Politik ini dilakukan
VOC dengan mendukung salah satu dari pihak yang bertikai diantara kerajaan di Indonesia. VOC akan membantu pihak ini dan
sebagai gantinya VOC akan mendapatkan wilayah kekuasaan dan monopoli perdagangan.

 Politik Tanam Paksa

Tanam Paksa” atau dalam bahasa Belanda disebut “Cultuurstelsel” adalah sistem yang diterapkan penjajah Belanda agar dapat
mendapatkan penghasilan sebesar-besarnya dari wilayah jajahannya di Hindia Belanda. Pada sistem ini 20% (1/5) dari tanah
pertanian dipaksa digunakan untuk menanam tanaman untuk ekspor, dan d imana petani dipaksa untuk bekerja di perkebunan
milik Belanda selama 60 hari. Hasil tanam ini harus diserahkan kepada pemerintah Belanda.

 Politik Liberal

Politik Liberal dimulai dengan diberlakukannya Undang-undang Agraria 1870 (Agrarische Wet 1870), sebuah peraturan
perundang-undangan yang dikeluarkan pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1870, di masa Menteri Kolonial Belanda,
Engelbertus deWaal. Dalam UU Agraria ini, pengusaha swasta dapat menyewa tanah milik pemerintah selama 75 tahu, untuk
dimanfaatkan seperti untuk perkebunan. Dengan demikian, perkebunan di Indonesia tidak lagi menjadi monopoli pemerintah
Belanda, namun dilakukan liberalisasi, sehingga pemilik modal swasta dapat membuka perkebunan mereka sendiri.

 Politik Etis (Balas Budi)

Politik Etis adalah kebijakan Belanda yang dilakukan sebagai dampak dari Sistem Tanam Paksa. Penduduk asli Indonesia harus menderita karena harus bekerja dengan gaji kecil dan kondisi berat
dalam Sistem Tanam Paksa, sementara belanda memperoleh keuntungan. Politik Etis juga didorong desakan kelompok Liberal di Belanda pada akhir abad ke 19 M, seperti
ConradTheodorevanDeventer. Pemerintah Belanda menjalankan Politik Etis atau Politik Balas Budi ini dalam tiga kebijakan yang disebut dengan “Trias vanDeventer”, yaitu Irigasi, Edukasi dan
Imigrasi.

Jepang juga menerapkan kebijakan politik nya tersendiri disaat masa pendudukannya, yaitu:
 Melarang penggunaan bahasa Belanda dan mewajibkan penggunaan bahasa Jepang.
 Struktur pemerintahan sesuai keinginan Jepang.
 Melakukan seikerei setiap upacara bendera, yaitu penghormatan ke arah Tokyo dengan membungkukkan badan 90 derajat untuk Kaisar Jepang TennoHeika.
 Membentuk pemerintahan militer dengan angkatan darat dan angkatan laut, dan
 Membentuk organisasi-organisasi sebagai alat propaganda.

Adapun dampak penjajahan Portugis dalam bidang politik ternyata memiliki pengaruh besar sampai kehidupan sekarang, berikut diantaranya :

 Hukum perdata dan pidana yang dipakai saat pengadilan merupakan bentuk dari politik Portugis kala itu yang berhubungan dengan nilai dan norma sosial.
 Ketika Portugis menduduki Indonesia, suasana politik tidaklah kondusif. Rakyat tidak bisa menyampaikan apresiasi mereka.
 Sang penguasa cenderung dimanfaatkan Portugis untuk memeras dan menekan rakyat.
 Para pemimpin seperti bupati tidak dihormati oleh penjajah. Wibawa mereka hilang di hadapan rakyat.
 Segala tindakan diawasi oleh pimpinan penjajah. Mereka harus tunduk pada aturan yang dibuat pihak penjajah.
 Pihak Portugis tidak mengizinkan pimpinan seperti bupati membela rakyat. Kalau nekat maka penghasilan, jabatan, keluarga, nyawa mereka taruhannya.


Click to View FlipBook Version