The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by rinisetyo756, 2022-04-21 05:02:41

Agatha Christie - Mawar Tak Berduri

Agatha Christie - Mawar Tak Berduri

http://facebook.com/indonesiapustaka Gerrard. Perempuan itu tinggal menunggu kesempatan­
nya. Kurasa dia telah merencanakan cara pembunuhan
itu, dengan menggunakan apomorin untuk menguat­
kan alibinya sendiri. Mungkin dia berniat untuk
mengajak Elinor dan Mary ke pondoknya, tapi waktu
Elinor datang ke pondok dan mengajak mereka ke
rumah untuk makan sandwich, dia segera menyadari
bahwa kesempatan yang sempurna telah muncul. Ren­
cananya sudah jelas, bahwa Elinor yang harus dijadi­
kannya terhukum.”

”Jika bukan karena kau—dia memang sudah menja­
di terhukum,” kata Peter Lord lambat­lambat.

Cepat­cepat Hercule Poirot berkata,
”Bukan. Padamulah gadis itu harus berterima kasih
karena telah menyelamatkan hidupnya.”
”Aku? Aku tidak berbuat apa­apa. Aku hanya
mencoba—”
Dia berhenti. Hercule Poirot tersenyum kecil.
”Mais oui, kau memang telah berusaha keras, bu­
kan? Kau merasa tak sabar karena menurutmu aku
tidak mendapatkan kemajuan. Dan kau juga takut
kalau­kalau dia ternyata memang bersalah. Dan oleh
karenanya, dengan kurang ajarnya, kau pun lalu ber­
bohong! Tapi, mon cher, kau tidak begitu pandai ber­
bohong. Kunasihatkan padamu supaya lain kali tetap
saja memeriksa penyakit­penyakit campak atau batuk
rejan dan tak usah mencampuri soal­soal penyelidikan
kejahatan.”
Wajah Peter Lord memerah.
”Apakah kau—selama ini sudah tahu?” tanyanya.

349

http://facebook.com/indonesiapustaka Dengan berpura­pura marah, Poirot berkata,
”Kauajak aku ke tempat terbuka di semak­semak
itu, dan kaubuat aku menemukan sebuah kotak korek
api Jerman yang telah kautaruh sendiri. Suatu tindak­
an kekanak­kanakan.”
Peter Lord merinding.
”Suka benar kau mengingat­ingat terus kesalahan­
kesalahanku itu!” geramnya.
Poirot berkata,
”Kau bercakap­cakap dengan tukang kebun dan
membuatnya mengatakan bahwa dia telah melihat
mobilmu di jalan; tapi kau lalu pura­pura terkejut
dan mengatakan bahwa itu bukan mobilmu. Lalu kau
menatapku lekat­lekat untuk meyakinkan dirimu bah­
wa aku menyangka seseorang lain, seseorang yang tak
dikenal yang tentu berada di situ pagi itu.”
”Aku memang goblok sekali,” kata Peter Lord.
”Apa yang kaulakukan di Hunterbury pagi itu?”
Wajah Peter Lord memerah lagi.
”Hanya suatu gagasan gila­gilaan saja.... A—aku
mendengar bahwa dia ada di situ. Aku pergi ke ru­
mah itu ingin menjumpainya. Aku tidak bermaksud
untuk berbicara dengannya. A—aku hanya ingin—
yah—ingin melihatnya saja. Dari lorong jalan di anta­
ra semak­semak itu aku melihatnya sedang memo­
tong­motong roti dan mengoles mentega—”
”Seperti kisah Charlotte dan si penyair Werther
saja. Teruskan, sahabatku.”
”Ah, tak ada lagi yang bisa diceritakan. Aku hanya

350

http://facebook.com/indonesiapustaka menyelinap di celah­celah semak dan diam di situ
memperhatikannya sampai dia pergi.”

”Apakah kau jatuh cinta pada Elinor Carlisle sejak
kau melihatnya pertama kali?” tanya Poirot dengan
lembut.

Lama tak ada jawaban.
”Kurasa begitulah.” Lalu dilanjutkannya,
”Ah, tapi kurasa dia akan hidup berbahagia dengan
Roderick Welman selama­lamanya.”
”Kau sama sekali tak yakin akan hal itu, sahabat­
ku!” kata Hercule Poirot.
”Mengapa tidak? Elinor pasti sudah memaafkan
Roddy atas peristiwa dengan Mary Gerrard itu. Bagai­
manapun, Roddy hanya terpesona.”
”Masalahnya lebih mendalam daripada itu...,” kata
Hercule Poirot. ”Antara masa lalu dan masa depan itu
kadang­kadang ada jurang yang dalam. Bila seseorang
telah berjalan ke lembah yang dibayang­bayangi kema­
tian, dan keluar ke tempat yang disinari matahari—
maka, mon cher, mulailah kehidupan baru.... Masa
lalu tidak akan ada lagi artinya....”
Dia diam sebentar lalu melanjutkan,
”Suatu kehidupan baru... itulah yang sedang dimu­
lai oleh Elinor Carlisle sekarang—dan kaulah yang
telah memberikan kehidupan itu padanya.”
”Tidak.”
”Ya. Ketetapan hatimu dan desakan yang disertai
dengan keangkuhanmu yang telah memaksaku mela­
kukan apa yang kauminta. Akuilah sekarang, kepada­
mulah dia menyatakan terima kasihnya, bukan?”

351

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Ya, dia amat berterima kasih,” kata Peter Lord
lambat­lambat, ”sekarang... dia memintaku untuk me­
ngunjunginya—sering­sering.”

”Ya, dia membutuhkanmu.”
Dengan kasar Peter Lord berkata,
”Tidak sebagaimana dia membutuhkan laki­laki
itu!”
Hercule Porot menggeleng.
”Dia tak pernah membutuhkan Roderick Welman.
Dia mencintai laki­laki itu dengan rasa tak bahagia—
bahkan dengan rasa putus asa.”
Dengan wajah yang keras dan penuh kesungguhan,
Peter Lord berkata dengan getir,
”Dia tidak akan pernah mencintai aku seperti
itu.”
”Mungkin tidak,” kata Hercule Poirot halus. ”Tapi
dia membutuhkanmu, sahabatku, karena hanya dengan
kaulah dia akan mampu menghadapi dunia ini.”
Peter Lord tidak berkata apa­apa. Suara Hercule
Poirot sangat halus waktu dia berkata,
”Tak bisakah kau menerima fakta­fakta? Dia men­
cintai Roderick Welman. Tapi apakah artinya itu?
Dengan kau, dia bisa berbahagia....”

352

http://facebook.com/indonesiapustaka

http://facebook.com/indonesiapustaka Elinor Carlisle dan Roddy Welman merupakan
pasangan yang sempurna, dan hidup mereka semakin
sempurna karena Elinor mewarisi kekayaan Bibi Laura.

Tetapi sebuah surat tiba dan memulai serangkaian
peristiwa yang berakhir tragedi.

Dengan keyakinan bahwa Mary Gerrard, teman masa
kecil Elinor, berusaha merebut warisan sang bibi,

pasangan itu pergi ke rumah keluarga mereka untuk
menyelidiki. Tetapi, Roddy justru jatuh cinta pada Mary

yang cantik.

Elinor mencoba menghormati keinginan sang bibi,
meski hatinya terluka, dan memberi Mary sebagian
besar warisan Bibi Laura. Tetapi kemudian Mary tewas

diracun, dan semua bukti mengarah pada Elinor.

Detektif Hercule Poirot mendapat tugas untuk
memecahkan kasus yang tampaknya tak sesederhana

kelihatannya...

www.agathachristie.com NOVEL

Penerbit
PT Gramedia Pustaka Utama
Kompas Gramedia Building
Blok I, Lantai 5
Jl. Palmerah Barat 29-37
Jakarta 10270
www.gpu.id
www.gramedia.com


Click to View FlipBook Version