http://facebook.com/indonesiapustaka Gerrard. Perempuan itu tinggal menunggu kesempatan
nya. Kurasa dia telah merencanakan cara pembunuhan
itu, dengan menggunakan apomorin untuk menguat
kan alibinya sendiri. Mungkin dia berniat untuk
mengajak Elinor dan Mary ke pondoknya, tapi waktu
Elinor datang ke pondok dan mengajak mereka ke
rumah untuk makan sandwich, dia segera menyadari
bahwa kesempatan yang sempurna telah muncul. Ren
cananya sudah jelas, bahwa Elinor yang harus dijadi
kannya terhukum.”
”Jika bukan karena kau—dia memang sudah menja
di terhukum,” kata Peter Lord lambatlambat.
Cepatcepat Hercule Poirot berkata,
”Bukan. Padamulah gadis itu harus berterima kasih
karena telah menyelamatkan hidupnya.”
”Aku? Aku tidak berbuat apaapa. Aku hanya
mencoba—”
Dia berhenti. Hercule Poirot tersenyum kecil.
”Mais oui, kau memang telah berusaha keras, bu
kan? Kau merasa tak sabar karena menurutmu aku
tidak mendapatkan kemajuan. Dan kau juga takut
kalaukalau dia ternyata memang bersalah. Dan oleh
karenanya, dengan kurang ajarnya, kau pun lalu ber
bohong! Tapi, mon cher, kau tidak begitu pandai ber
bohong. Kunasihatkan padamu supaya lain kali tetap
saja memeriksa penyakitpenyakit campak atau batuk
rejan dan tak usah mencampuri soalsoal penyelidikan
kejahatan.”
Wajah Peter Lord memerah.
”Apakah kau—selama ini sudah tahu?” tanyanya.
349
http://facebook.com/indonesiapustaka Dengan berpurapura marah, Poirot berkata,
”Kauajak aku ke tempat terbuka di semaksemak
itu, dan kaubuat aku menemukan sebuah kotak korek
api Jerman yang telah kautaruh sendiri. Suatu tindak
an kekanakkanakan.”
Peter Lord merinding.
”Suka benar kau mengingatingat terus kesalahan
kesalahanku itu!” geramnya.
Poirot berkata,
”Kau bercakapcakap dengan tukang kebun dan
membuatnya mengatakan bahwa dia telah melihat
mobilmu di jalan; tapi kau lalu purapura terkejut
dan mengatakan bahwa itu bukan mobilmu. Lalu kau
menatapku lekatlekat untuk meyakinkan dirimu bah
wa aku menyangka seseorang lain, seseorang yang tak
dikenal yang tentu berada di situ pagi itu.”
”Aku memang goblok sekali,” kata Peter Lord.
”Apa yang kaulakukan di Hunterbury pagi itu?”
Wajah Peter Lord memerah lagi.
”Hanya suatu gagasan gilagilaan saja.... A—aku
mendengar bahwa dia ada di situ. Aku pergi ke ru
mah itu ingin menjumpainya. Aku tidak bermaksud
untuk berbicara dengannya. A—aku hanya ingin—
yah—ingin melihatnya saja. Dari lorong jalan di anta
ra semaksemak itu aku melihatnya sedang memo
tongmotong roti dan mengoles mentega—”
”Seperti kisah Charlotte dan si penyair Werther
saja. Teruskan, sahabatku.”
”Ah, tak ada lagi yang bisa diceritakan. Aku hanya
350
http://facebook.com/indonesiapustaka menyelinap di celahcelah semak dan diam di situ
memperhatikannya sampai dia pergi.”
”Apakah kau jatuh cinta pada Elinor Carlisle sejak
kau melihatnya pertama kali?” tanya Poirot dengan
lembut.
Lama tak ada jawaban.
”Kurasa begitulah.” Lalu dilanjutkannya,
”Ah, tapi kurasa dia akan hidup berbahagia dengan
Roderick Welman selamalamanya.”
”Kau sama sekali tak yakin akan hal itu, sahabat
ku!” kata Hercule Poirot.
”Mengapa tidak? Elinor pasti sudah memaafkan
Roddy atas peristiwa dengan Mary Gerrard itu. Bagai
manapun, Roddy hanya terpesona.”
”Masalahnya lebih mendalam daripada itu...,” kata
Hercule Poirot. ”Antara masa lalu dan masa depan itu
kadangkadang ada jurang yang dalam. Bila seseorang
telah berjalan ke lembah yang dibayangbayangi kema
tian, dan keluar ke tempat yang disinari matahari—
maka, mon cher, mulailah kehidupan baru.... Masa
lalu tidak akan ada lagi artinya....”
Dia diam sebentar lalu melanjutkan,
”Suatu kehidupan baru... itulah yang sedang dimu
lai oleh Elinor Carlisle sekarang—dan kaulah yang
telah memberikan kehidupan itu padanya.”
”Tidak.”
”Ya. Ketetapan hatimu dan desakan yang disertai
dengan keangkuhanmu yang telah memaksaku mela
kukan apa yang kauminta. Akuilah sekarang, kepada
mulah dia menyatakan terima kasihnya, bukan?”
351
http://facebook.com/indonesiapustaka ”Ya, dia amat berterima kasih,” kata Peter Lord
lambatlambat, ”sekarang... dia memintaku untuk me
ngunjunginya—seringsering.”
”Ya, dia membutuhkanmu.”
Dengan kasar Peter Lord berkata,
”Tidak sebagaimana dia membutuhkan lakilaki
itu!”
Hercule Porot menggeleng.
”Dia tak pernah membutuhkan Roderick Welman.
Dia mencintai lakilaki itu dengan rasa tak bahagia—
bahkan dengan rasa putus asa.”
Dengan wajah yang keras dan penuh kesungguhan,
Peter Lord berkata dengan getir,
”Dia tidak akan pernah mencintai aku seperti
itu.”
”Mungkin tidak,” kata Hercule Poirot halus. ”Tapi
dia membutuhkanmu, sahabatku, karena hanya dengan
kaulah dia akan mampu menghadapi dunia ini.”
Peter Lord tidak berkata apaapa. Suara Hercule
Poirot sangat halus waktu dia berkata,
”Tak bisakah kau menerima faktafakta? Dia men
cintai Roderick Welman. Tapi apakah artinya itu?
Dengan kau, dia bisa berbahagia....”
352
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka Elinor Carlisle dan Roddy Welman merupakan
pasangan yang sempurna, dan hidup mereka semakin
sempurna karena Elinor mewarisi kekayaan Bibi Laura.
Tetapi sebuah surat tiba dan memulai serangkaian
peristiwa yang berakhir tragedi.
Dengan keyakinan bahwa Mary Gerrard, teman masa
kecil Elinor, berusaha merebut warisan sang bibi,
pasangan itu pergi ke rumah keluarga mereka untuk
menyelidiki. Tetapi, Roddy justru jatuh cinta pada Mary
yang cantik.
Elinor mencoba menghormati keinginan sang bibi,
meski hatinya terluka, dan memberi Mary sebagian
besar warisan Bibi Laura. Tetapi kemudian Mary tewas
diracun, dan semua bukti mengarah pada Elinor.
Detektif Hercule Poirot mendapat tugas untuk
memecahkan kasus yang tampaknya tak sesederhana
kelihatannya...
www.agathachristie.com NOVEL
Penerbit
PT Gramedia Pustaka Utama
Kompas Gramedia Building
Blok I, Lantai 5
Jl. Palmerah Barat 29-37
Jakarta 10270
www.gpu.id
www.gramedia.com