PELAKSANAAN
ITSP
Wahju Kusbandi Salam ah, S, Hut
A. Penentuan Jalur Ukur
Mencari batas-batas blok dan petak kerja tahunan di
lapangan
Penentuan Starting point (Titik awal)
pengecekan dan memastikan bahwa blok atau petak
yang akan di-cruising adalah sesuai dengan rencana.
B. Penempatan
Jalur dalam Petak
1. Mencocokkan titik ikat di peta
dan di lapangan
• Mencocokkan antara keterangan dan tanda-tanda
yang terdapat di peta dengan keadaan yang
sebenarnya di lapangan.
• pengecekan terhadap jarak dan azimuth yang
terdapat pada peta dengan lapangan, yaitu dari
titik ikat ke arah titik awal jalur cruising, titik awal jalur
cruising adalah berupa batas blok atau petak di
lapangan.
B. Penempatan Jalur dalam Petak
2. Mengukur azimuth jalur cruising
• Azimuth jalur cruising di lapangan adalah 0° arah Utara atau 180° (arah Selatan).
• Mengukur jarak datar sepanjang 20 meter (lebar jalur) dari batas petak
• setiap jalur diberi tanda dengan menggunakan patok kayu yang diberi cat warna
merah dan diberi nomor jalur secara berurutan mulai dari jalur nomor 1 dan nomor
selanjutnya ke arah azimuth 90°
• Arah jalur cruising dimulai dari utara ke selatan dan sebaliknya atau dari barat ke timur atau
sebaliknya sesuai dengan keadaan lapangan
0 1 2 34 5 1 km 50 B.
Penempatan
Y Jalur dalam
Petak
• Batas petak Utara –
Selatan (sumbu Y)
berfungsi
sebagai ordinat,
• Batas petak Timur –
Barat (sumbu X)
berfungsi
sebagai absis
X
3. Pembuatan Sumbu X dan Sumbu Y serta Pembuatan Jalur
B. Penempatan Jalur
dalam Petak
4. Penomoran jalur timber cruising
• Dimulai dari angka 0 pada batas petak Utara – Selatan
sebelah kanan,
• Berakhir pada nomor 50 sebelum batas petak berikutnya.
C. Pembuatan Jalur
dalam Petak
1. Membuat rintisan jalur cruising
• Tujuan : Mempermudah pencatatan pohon
oleh recorder
• digunakan dalam pelaksanaan kegiatan-
kegiatan silvikultur selanjutnya, seperti
inventarisasi tegakan tinggal (ITT),
pemeliharaan, pengayaan, dll.
• Rintisan harus lurus.
C. Pembuatan Jalur dalam Petak
2. Tanda batas jalur di lapangan dibuat sejelas mungkin
• lorong batas jalur diusahakan tidak memotong/menebas permudaan dari jenis-
jenis pohon niagawi
3. Pemberian batas yang jelas dan tanda khusus sesuai peruntukan
• Pada tempat yang berbatasan dengan bagian-bagian hutan yang dikecualikan
dari kegiatan produksi, misalnya untuk areal hutan wisata dan suaka
alam/margasatwa, sumber mata air dan lain-lain,
• tempat-tempat yang mengandung batu galian tambang dan batuan lain yang
bernilai tinggi
• digambarkan pada cruising dan peta kerja
C. Pembuatan Jalur dalam Petak
3. Pembuatan batas jalur selebar 1 meter
4. Pembuatan Patok Petak Ukur
• Dibuat setiap 20 m
• Diberi Nomor urut 1 – 50
• Setiap 5 PU (100 m) dibuat Patok Hm
• Tujuan Pembuatan Patok Hm :
o memudahkan juru catat (recorder) dalam mencatat pohon
o memudahkan dalam melakukan rekapitulasi data,
o Memudahkan penggambaran peta penyebaran pohon
o Memudahkan pemeriksaan
D. PEMASANGAN
LABEL/PENANDAAN
POHON
D. PEMASANGAN
LABEL/PENANDAAN POHON
Label Plastik Warna Merah bernomor untuk phon yang akan
ditebang
Label Kuning bernomor untuk menandai pohon inti dan dilindungi
Label dipasang menghadap sumbu jalur
Penulisan pada label dengan menggunakan spidol permanen
PT. : D. Pemasang
an Label/
RKT th. : Penandaan
Pohon
No Petak : Label warna
merah untuk
No Pohon : 6 cm pohon yang
ditebang
Jenis : 3 cm
Diameter : 3 cm Ukuran 6 x 12
cm
No Petak :
No Pohon :
Jenis :
No Petak :
No Pohon :
Jenis :
6 cm
PT. : Potongan 1 D. Pemasang
an Label/
RKT th. : dipindah ke tonggak Penandaan
Pohon
No Petak :
No Pohon :
Jenis :
Diameter :
Potongan 2 diserahkan oleh juru
tebang kepada mandor
No Petak : produksi untuk monitoring Peruntukkan
dan pengupahan masing masing
No Pohon : potongan
pada label
Jenis : merah
Potongan 3 dipasang pada bontos
kayu, sebagai dasar untuk
No Petak : pencatatan selanjutnya
sesuai dengan peraturan
No Pohon : tata usaha kayu yang telah
ditetapkan.
Jenis :
PT. : D. Pemasang
RKT th. : an Label/
Penandaan
No Petak : 8cm Pohon
Label warna
No Pohon : kuning untuk
pohon inti dan
Jenis : dilindungi
Diameter awal : Ukuran 6 x 8
cm
6 cm
E. PENGUMPULAN DATA POHON
➢Pengumpulan data pohon ditebang (label warna merah )
- jenis pohon
- diameter pohon
- tinggi pohon
➢Pengumpulan data pohon inti dan dilindungi (label warna kuning
- jenis pohon
- diameter pohon
➢Semua pohon diberi nomor (pohon yang akan ditebang, pohon inti dan
dilindungi)
➢Semua pohon diambil data posisinya
➢Semua pohon dipetakan dalam peta penyebaran pohon, dengan skala 1:10000
E. PENGUMPULAN DATA POHON
➢Timber cruising untuk penyusunan RKT dilaksanakan secara teratur sesuai tata
waktunya (Et – 2) atau 2 tahun sebelum penebangan
➢Pohon inti dipilih dari semua jenis pohon niagawi yang berdiameter antara 20
– 49 cm dan jaraknya tidak kurang dari 10 m satu sama lain, dengan jumlah 25
batang per hektar (ha).
➢Pada kegiatan timber cruising dilakukan pula pencatatan data topografi
lapangan yang meliputi ketinggian dan kemiringan tempat serta jenis
tanah/batuan pada areal yang dicacah. Data tersebut digunakan untuk
bahan pertimbangan dalam menentukan arah jalan angkutan yang akan
dibangun, dan pertimbangan lainnya.
TUGAS
Buatlah panduan praktikum untuk membuat jalur ukur,
mengumpulkan data dan informasi lapangan, yang isinya :
1. Pengorganisasian Kerja
2. Petunjuk Praktik
- Sarana
- Alat dan Bahan
- Prosedur Praktik