TP. 2020 /2021
Eli Elvita,M.S.I
Gusniati,S.PDI
Sakdah,S.AG
Dra.Rosmainar
Kata Pengantar
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,
Puji dan Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas limpahan
rahmatnya, sehingga buku Bahan Ajar Mata Pelajaran Fikih untuk
Madrasah Tsanawiyah Kelas 7 dapat kami selesaikan tanpa kendala
yang berarti.
Buku Bahan Ajar ini disusun dan disajikan untuk memenuhi kebutuhan
peserta didik dalam menghadapi Proses Belajar Mengajar ditengah
pandemi COVID-19.
Bahan ajar ini disajikan dengan struktur materi dan dibantu dengan
beberapa soal pilihan ganda dan esay. Semoga buku Bahan ajar ini dapat
membantu siswa dalam Belajar Fikih.
Seperti peribahasa “ Tidak ada gading yang tak retak” begitu juga
dengan buku bahan ajar untuk siswa MTs kelas Tujuh ini. Untuk itu
saran, masukan dan kritikan yang membangun dari semua pihak selalu
kami nantikan untuk meningkatkan kualitas pada karya selanjutnya.
Terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu menyusun buku
bahan ajar ini. Semoga Allah SWT membalas dengan balasan yang
terbaik.
Wassalamualaikum warahmatullahi Wabarakatuh.
Hormat Kami
Penyusun
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 2 Semester Genap
BAB 6
MERAIH KHIDMAT DENGAN MENGAGUNGKAN JUM’AT
I. Kompetensi Inti
1. Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya
2. Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin,tanggung jawab, peduli (toleransi,
gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan linkungan
social dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaanya.
3. Memahami dan menerapkan pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural)
berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait
fenomena dan kejadian tampak mata
4. Mengolah, menyaji dan menalar dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai,
merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak ( menulis, membaca,
menghitung, menggambar dan mengarang ) sesuai dengan yang dipelajari di madrasah
dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/ teori.
II. Kompetensi Dasar
1.6. Mengamalkan shalat jum’at sebagai bukti ketaatan kepada ajaran islam.
2.6. Menjalankan sikap bertanggung jawab sebagai implementasi dari pengetahuan
tentang shalat Jum’at.
3.6. Menganalisis ketentuan shalat Jum’at
4.6. Mengkomu-nikasikan hasil analisis tentang tata cara shalat Jum’at.
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 3 Semester Genap
III. Indikator
1.6.1 Meyakini shalat jum’at sebagai perintah Allah swt berdasarkan tanda-
tanda yang digambarkan dalam Al-Qur’an dan hadits
1.6.2 Membuktikan shalat Jum’at sebagai perintah Allah swt berdasarkan
tanda-tanda yang digambarkan dalam Al-Qur’an dan hadits.
2.6.1 Memadukan unsur-unsur tanggung jawab yang terkandung dalam
pelaksanaan shalat Jum’at.
2.6.2 Menyusun rumusan tentang penerapan unsur-unsur tanggung jawab
yang terkandung dalam pelaksanaan shalat Jum’at ke dalam kehidupan
sosial.
2.6.3 Menerapkan prinsip tasamuh dalam pelaksanaan shalat berjama’ah.
2.6.4 Menerapkan prinsip tahadhdhur dalam pelaksanaan shalat berjama’ah
3.6.1 Mengkategorikan bagian-bagian yang harus terpenuhi dalam shalat
Jum’at.
3.6.2 Menyusun secara terperinci bagian-bagian yang harus terpenuhi dalam
shalat Jum’at sebagai satu kesatuan tata cara pelaksanaan.
4.6.1 Mendiskusikan tentang tata cara pelaksanaan shalat Jum’at.
4.6.2. Membuat kesimpulan secara individual terhadap data yang diperoleh dari
kegiatan diskusi kelas tentang tata cara pelaksanaan shalat Jum’at.
4.6.3 Mendemonstrasikan tata cara pelaksanaan shalat Jum’at.
IV. Peta Konsep
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 4 Semester Genap
A. Ketentuan Shalat Jumat
Umat Islam mempunyai satu hari yang sangat istimewa didalam satu minggu, hari
istimewa tersebut adalah hari Jumat. Satu hari yang diagungkan oleh umat Islam karena
didalamnya terdapat satu ibadah yang hanya dilaksanakan pada hari Jumat. Oleh karena itu, hari
Jumat sangat ditunggu tunggu oleh umat Islam karena hukum melaksanakan shalat Jumat
hukumnya wajib
Allah Swt menetapkan hari Jumat sebagai induknya hari ( sayyidul ayyam ) dalam satu
minggu. Segala aktivitas yang berhubungan dengan keduniaan harus dihentikan sejenak.
1. Pengertian dan Dasar Hukum Shalat Jumat
Setiap hari Jum’at kita pasti melaksanakan shalat Jum’at secara berjama’ah di
masjid Shalat Jum’at ( ) الصﻼةاﶺعةmerupakan shalat dua rekaat yang dilakukan setelah
tergelincirnya mata hari atau waktu shalat Dhuhur dengan ketentuan-ketentuan yang
telah diatur secara terperinci. Hukum melaksanakannya adalah fardlu ‘ain bagi setiap
laki-laki yang sudah baligh.
Bagi orang yang telah melaksanakan shalat Jum’at maka tidak diwajibkan untuk
melaksanakan shalat Dhuhur.
2. Dasar Hukum Shalat Jumat
a) H ِرaْطdِفiْلtاsَمNْوaَويbَ iىSa َﲵwْ :ٔ َ َو ُه َو َا ْع َظ ُم ِع ْن َد ِﷲ ِم ْن يَ ْو َم ا, َوَا ْع َظ ُمهَا ِع ْن َد ِﷲ,ِان يَ ْو َم الْ ُج ُم َع ِة َس ِّي ُد ا ْ َﻻ ِم
Artinya:
“Hari Jum’at adalah tuannya semua hari, dan bagi Allah merupakan hari paling agung. Di mata Allah,
hari Jum’at lebih agung dari hari Idul Fitri dan Idul Adha” (HR. Ibnu Majjah)
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 5 Semester Genap
b) Firman Allaعhَ ْيSلْ َبw اtا:َ ِاﳞَاا ِ ْ َن َا َم ُ ْوا ِا َذا نُ ِد َي ِلص َﻼ ِة ِم ْن ي ْو ِم الْ ُج ُم َع ِة فَا ْس َع ْوا ِا َﱃ ِذ ْك ِر ِﷲ َو َذ ُرو
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah
kamu mengingat Allah dan tinggalkan lah jual beli” (QS. Al-Jumu’ah (62): 9).
c) Nabi Saw bersabda: َر َوا ُح الْ ُج ُم َع ِة َ َﲆ ُ ِّﰻ ُم ْح َت ِ ٍﲅ
Artinya:
”Pergi menunaikan shalat Jum’at wajib bagi semua laki-laki yang sudah memasuki usia baligh” (HR.
An-Nasa’i dan Abu Dawud).
3. Syarat wajib dan syarat sah shalat Jumat
1). Syarat Wajib Shalat Jumat
Syarat wajibyaitu suatu ketentuan yang menyebabkan seseorang berkewajiban
melaksanakannya karena telah dianggap cukup memenuhi syarat. Adapun syarat wajib
shalat Jumat adalah sebagai berikut.
a) Muslim
Orang kafir tidak wajib shalat Jumat, bahkan jika mengerjakanya tidak sah.
Sebagaimana firman Allah Swt berikut.
... ِ ِ َو َما َم َ َعهُ ْم َا ْن تُ ْق َ َل ِم ْﳯُ ْم نَ َفق ُﳤُ ْم ِا َﻻ َا ُﳖ ْم َك َف ُر ْوا ِ ِ َوِ َر ُس ْو
Artinya : Dan yang menghalang halngi infak mereka untuk diterima adalah karena mereka
kafir ( ingkar ) kepada Allah dan rasul Nya ( Q.S. At-Taubah, 9: 54
b) Baligh
Anak laki-laki yang suda mumayiz ( biasanya berusia tujuh tahun lebih), dianjurkan
kepada walinya agar menyuruhnya menghadiri shalat Jumat. Hal ini berdasarkan sabda
Rasul SAW. Sebagai berikut.
( ُم ُر ْوا الص ِﱯ ِ لص َﻼ ِة ا َذا بَلَ َغ َس ْب َع ِس ِن ْ َﲔ )رواه ابو داود
Artinya : Perintahkan anak kecil untuk mengerjakan shalat apabila sudah berumur tujuh
tahun. ( H.R. Abu dawud )
c) Berakal
Orang yang gila secara total berarti ia bukan orang yang cakap untuk diarahkan
kepadanya perintah agama atau laranganya.
d) Laki-laki, merdeka dan sehat.
Perempuan tidak wajib shalat Jumat, sedangkan laki-laki wajib shalat Jumat. Nabi
Muhammad SAW. Bersabda.
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 6 Semester Genap
ْو, ْو َص ِﱯ, ِوا ْم َر ٌة, َع ْب ٌد َم ْملُ ْو ٌك:الْ ُج ُم َع ُة َحق َوا ِج ٌب َ َﲆ ُ ِّﰻ ُم ْس ِ ٍﲅ ِ ْﰲ َ َﲨا َ ٍة ِاﻻ َا ْربَ َع ًة
(َم ِريْ ٌض )رواه ابو داود
Artinya : Shalat Jumat adalah hak yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim secara
berjamaah, kecuali empat golongan : budak sahaya, perempuan, anak-anak
dan orang yang sakit. ( H.R. Abu Dawud ).
e) Menetap ( bermukim )
Orang musafir termasuk orang yang mendapat rukhsah ( keringanan ) dari Allah Swt.
untuk tidak melaksanakan puasa, demikian juga halnya dengan shalat Jumat.
Diantara dalil yang menegaskan bahwa musafir tidak diwajibkan untuk shalat Jumat
adalah hadis Jabir ra. Mengatakan “ Kemudian (muazin) mengumandangkan azan lalu
ikamah, Nabi SAW. Shalat Zuhur. Kemudian (muazin) ikamah, lalu shalat Asar.” (
Shahih Muslim).
f) Orang yang tidak ada halangan (uzur)
Orang yang mempunyai halangan untuk pergi shalat Jumat boleh tidak shalat Jumat tapi
harus menggantinya dengan shalat Zuhur. Contoh halangan Jumat adalah sakit atau
hujan lebat.
2). Syarat Sah Shalat Jumat
Adapun syarat sah shalat Jumat adalah sebagai berikut.
a) Shalat Jumat dilakukan dalam satu tempat yang telah ditetapkan, yaitu masjid, baik di
kota ataupun di desa. Mendirikan shalat Jumat di tempat yang tidak merupakan daerah
tempat tinggal, seperti diladang atau jauh dari perkampungan penduduk adalah tidak
sah.
b) Shalat Jumat dilakukan secara berjamaah. Jumlah jamaah menurut pendapat sebagian
ulama adalah 40 orang laki-laki dewasa dari penduduk masyarakat setempat. Sebagian
ulama yang lain berpendapat lebih dari 40 orang jamaah. Sebagian pendapat ulama yang
lain berpendapat cukup dengan dua orang saja, karena dua orang sudah sah shalat
berjamaah.
c) Dikerjakan di waktu Zuhur, sebgaimana sabda Rasulullah SAW.
َع ْن َا َ ٍس ْ ِن َماِ ٍ َر ِ َﴈ ُﷲ َع ْن ُه َان الن ِﱯ َصﲆ ﷲ َلَ ْي ِه َو َس َﲅ َﰷ َن يُ َص ِّﲆ الْ ُج ُم َع َة ِ ْ َﲔ تَ ِم ْي ُل
( الش ْم ُس ) رواه الب اري
Artinya : Dari Anas bin Malik ra. Rasulullah SAW. Bersabda, “ Shalat Jumat ketika telah
tergelincir Matahari”. ( H.R. Bukhari )
d) Dilaksanakan setelah dua Khutbah, sebagaimana Sabda Rasulullah SAW.
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 7 Semester Genap
َع ِن اْ ِن ُ َﲻ َر َر ِ َﴈ ﷲ َع ْﳯُ َما َﰷ َن َر ُس ْو ُل ﷲ َصﲆ َلَ ْي ِه َو َس َﲅ َ ْﳜ ُط ُب يَ ْو َم الْ ُج ُم َع ِة قَائِ ًما ُخ ْط َبتَ ْ ِﲔ َ ْﳚ ِل ُس
( بَ ْ َﳯُ َما )رواه الب اري و مسﲅ
Artinta : dari Ibnu Umar ra. Rasulullah SAW. Barsabda, “ Berkhotbalah pada Hari
Jumat dua Khotbah dengan berdiri dan belilau duduk diantara kedua khotbah itu”. (
H.R. Bukhari dan Muslim ).
B. Ketentuan Khutbah Jumat
Tidak sah shalat Jumat apabila tidah didahului dengan dua khutbah Jumat. Oleh
sebab itu, apabila khatib sedang menyampaikan materi khutbah, jamaah harus
mendengarkan dan dilarang berbicara.
1. Rukun Khutbah Jumat
a) Hamdalah
khutbah Jumat wajib dimulai dengan Hamdalah yaitu lafal yang memuji allah Swt.
contoh lafal Hamdalah.
ِان الْ َح ْم َد ِ َﳓ َم ُد ُه َو َ ْس َت ِع ْي ُن ُه َو َ َس َت ْغ ِف ُرُه نَ ُع ْو ُذِ ِ ِم ْن ُ ُﴍ ْو ِر َانْ ُف ِسنَا َوِم ْن َس ِّ َا ِت َا ْ َﲻاِلنَا َم ْن
ُ َ ْﳞ ِد ِﷲ فَ َﻼ ُم ِضل ُ َو َم ْن ي ْض ِل ْل فَ َﻼ َها ِد َي
b) Membaca dua kalimat syahadat pada khutbah pertama dan khutbah kedua
َا ْش َه ُد َا ْن ﻻ ِا َ َ ِاﻻﷲ َوَا ْشهَ ُد َان ُم َحم ًدا َر ُس ْو ُل ﷲ
c) Membaca Selawat Nabi
َالهُم َص ِّل َو َس ِّْﲅ َ َﲆ ُم َهم ٍد َو َ َﲆ َاِ ِ َوَا ْ َﲱاِب ِه َو َم ْن تَ ِب َع ُه ْم ِ ْح َسا ٍن ِا َﱃ يَ ْو ِم ا ِّ ْ ِن
d) Wasiat untuk Taqwa
Khatib mengajak kepada dirinya dan seluruh jamaah agar selalu bertaqwa dalam
dua khutbahnya. Contoh dengan mengucapkan :
ُا ْو ِص ْي ُ ْﲂ َونَ ْف ِ ْﴘ ِب َت ْق َوى ﷲ َو َطا َعتِ ِه لَ َعل ُ ْﲂ تُ ْف ِل ُح ْو َن,فَ َ َاﳞَاا ْ ِﻻ ْخ َوا ِن
e) Membaca ayat al Quran pada salah satu khutbah
f) Pada salah satu khutbah khatib membaca
َ َاﳞَال ِ ْ َن ٓ َم ُ ْوا ات ُقوا َﷲ َحق تُ َقا ِت ِه َو َﻻتَ ُم ْو ُن ِاﻻ َوَانْ ُ ْﱲ ُم ْس ِل ُم ْو َن
Doa untuk kaum muslimin dan muslimat. Doa dibaca ,pتaِ dاa ِل َمkْسhمuُ ْلtواbَ aَﲔhْ مkِ ِلeسdْ uلْ ُمaِ
ا ْغ ِف ْر لهُم َا
ِان َك َ ِﲰ ْي ٌع,ِم ْﳯُ ْم َوا ْ ْم َوا ِت َوالْ ُم ْؤ ِم ِ ْ َﲔ َوالْ ُم ْؤ ِم َا ِت ا ْ َﻻ ْح َا ِء قَ ِريْ ٌب ُم ِج ْي ُب ا َع َوا ِت
2. Syarat Khutbah
a. Khotbah dilaksanakan pada waktu Zuhur
b. Berdiri jika mampu
c. Dengan suara yang keras
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 8 Semester Genap
d. khatib duduk diantara dua khutbah
e. Khatib menutup aurat
f. Berurutan antara khutbah pertama degan khutbah kedua
g. Tertib
3. Syarat Khatib Jumat
a. Berpenampilan baik, rapid an sopan
b. Mengetahui syarat, rukun dan sunah khutbah
c. Fasih mengucapkan Al-Quran dan Hadis
d. Muslim yang telah baligh, berakal sehat dan taat beribadah
e. Suci dari hadas dan najis, baik badan, pakaian serta menutup aurat
f. Memiliki akhlak yang baik, tidak tercela di mata masyarakat dan tidak melakukan
perbuatan dosa.
4. Sunah Khutbah Jumat
a. khatib menghadap jamaah
b. Menggunakan bahasa yang mudah dipahami
c. Memberi salampada permulaan khutbah
d. Dilakukan ditempat yang lebih tinggi atau diatas mimbar
e. Disampaikan dengan kalimat yang jelas, sistematik, dan temanya sesuai dengan
kondisiyang terjadi
f. Materi khutbah hendakla pendek jangan terlalu panjang.
5. Adab Shalat Jumat
a. Sebelum berangkat ke masjid , hendaklah terlebih dahulu mandi, memotong kuku,
memotong kumis, berpakaian bersih serta memakai wangi-wangian.
b. Berangkat ke masjid lebih awal.
c. Mengisi saf yang kosong, kemudian shalat tahiyatul masjid.
d. Memperbanyak zikir, berdoa, selawat Nabi dan membaca Al-Quran sebelum khatib
naik mimbar
e. Mendegarkan khotbah dan tidak berbicara, menegur jamaah lain, tidak tidur sehingga
mengetahui isi khutbah. Sabda Rasulullah
ِا َذا ُق ْل َت ِل َصا ِح ِ ِك يَ ْو َم الْ ُج ُم َع ِة َانْ ِص ْت َوا ْ ِﻻ َما ِم َ ْﳜ ُط ُب فَ َق ْد لَ َغ ْو َت
Artinya : Apabila anda berkata dengan temanmu, pada hari Jumar, “diamlah”, padahal
imam telah menyampaikan khotbahnya, maka shalat Jumatmu sia-sia. (H.R.
Bukhari dan Muslim ).
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 9 Semester Genap
f. Jamaah tenang mendengarkan khutbah dan duduk menghadap kiblat
g. Jamaah berdoa atau membaca istighfar saat khatib duduk diantara dua khutbah.
C. Tata Cara Shalat Jumat dan Khutbah Jumat
Shalat Jumat harus dilaksanakan secara berjamaah dan dilarang mengerjakan shalat
Jumat sendiri. Shalat Jumat yang tidak didahului dengan dua khutbah bukan disebut shalat
Jumat, melainkan shalat Zuhur.
Tata cara shalat Jumat sebagai berikut
1. Tata Cara Pelaksanaan Shalat Jumat
a. Khatib naik ke mimbar mengucapkan salam, mjuazin mengumandangkan azan yang
kedua ( bagi yang melaksanakan azan dua kali ) aatau azan pertama ( bagi yang
melaksanakan azan satu kali saja )
b. Khatib menyampaikan dua khutbah yang diselingi dengan duduk diantara dua
khutbah.
c. Pada saat khutbah dibacakan, jamaah memperhatikan dengan khusuk, tidak
bercakap-cakap meskipun suara khatib tidak terdengar.
d. Setelah selesai khutbah, muazin mengumandangkan ikamah sebagai tanda
dimulainya shalat jumat.
e. Jamaah bersiap-siap untuk meaksanakan shalat Jumat.
f. Sebelum shlat dimulai, imam hendaknya mengingatkan makmum untuk meraptkan
dan meluruskan saf serta mengisi saf yang masih kosong.
g. Imam memimpin shalat Jumat berjamaah dua rakaat
h. Jamaah disunahkan untuk berzikir dan berdoa setelah selesai shalat Jumat.
i. Sebelum meninggalkan masjid jamaah disunahkan untuk melaksanakan shalat
bakdiah terlebih dahulu.
2. Tata Cara Khutbah Jumat
a. Dalam membuat naskah khutbah Jumat, perhatikan hal-hal berikut.
1. Daerah mana kita kan berkhutbah
2. Waktu yang diperlukan 20 menit
3. Materi sesuaikan dengan masalah dan kondisi yang terjadi di masyarakat
4. Susunlah makalah khutbah pertama dan kedua
b. Tata Cara pelaksanaan khutbah Jumat
1. Khutbah pertama
a. Khatib berdiri dimimbar sambil mengucapkan salam.
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 10 Semester Genap
b. Duduk ketika dikumabdangkan azan
c. Selesai azan khatib berdiri dan membaca rangkaian rukun khutbah :
ِان الْ َح ْم َد ِ َﳓ َم ُد ُه َو َ ْس َت ِع ْينُ ُه َو َ َستَ ْغ ِف ُرُه نَ ُع ْو ُذِ ِ ِم ْن ُ ُﴍْو ِر َانْ ُف ِسنَا َوِم ْن َس ِّ َا ِت َا ْ َﲻاِلنَا َم ْن
َا ْشهَ ُد َا ْن ﻻ ِا َ َ ِاﻻﷲ َوَا ْش َه ُد َان ُم َحم ًدا َر ُس ْو ُل,ُ َ ْﳞ ِد ِﷲ فَ َﻼ ُم ِضل ُ َو َم ْن ي ْض ِل ْل فَ َﻼ َها ِد َي
. َال ُهم َص ِّل َو َس ِّْﲅ َ َﲆ ُم َهم ٍد َو َ َﲆ َاِ ِ َوَا ْ َﲱاِب ِه َو َم ْن تَ ِب َع ُه ْم ِ ْح َسا ٍن ِا َﱃ يَ ْو ِم ا ِّ ْ ِن,ﷲ
:قال ﷲ تعاﱃ
َ َاﳞَال ِ ْ َن ٓ َم ُ ْوا ات ُقوا َﷲ َحق تُ َقا ِت ِه َو َﻻتَ ُم ْو ُن ِاﻻ َوَانْ ُ ْﱲ ُم ْس ِل ُم ْو َن
يَ ﳞَاال ِ ْ َن ٓ َم ُ ْوا ات ُقوﷲ َو ُق ْولُ ْوا قَ ْو ًﻻ َس ِديْ ًدا يُ ْص ِل ْح لَ ُ ْﲂ َا ْ َﲻالَ ُ ْﲂ َويَ ْغ ِف ْرلَ ُ ْﲂ ُذنُوَ ُ ْﲂ َو َم ْن ي ِطعِ ﷲ
َاما بَ ْع ُد,َو َر ُس ْو َ ُ فَ َق ْد فَا َز فَ ْو ًزا َع ِظ ْي ًما
ُا ْو ِص ْي ُ ْﲂ َونَ ْف ِ ْﴘ ِب َت ْق َوى ُﷲ َو َطا َع ِت ِه لَ َعل ُ ْﲂ تُ ْف ِل ُح ْو َن
Dalam memberi wasiat hendaklah membaca ayat Al-Quran dan Hadis
sebagai dasar wasiat dalam menyampaikan khutbah.
d. Penutup khutbah pertama
Diakhir khutbah pertama ini, marilah kita dekatkan diri kita kepada Allah
Swt. dan selam masih hidup, manusia senantiasa perlu bertobat dan
istighfarkepada Allah azza wajalla.
َ َر َك ُﷲ ِ ْﱄ َولَ ُ ْﲂ ِ ْﰲ الْ ُق ْرا ِن ال َع ِظ ْ ِﲓ َونَ َف َع ِ ْﲏ ِب ِه ِم َن ْا َﻻ َ ِت َوا ِّ ْك ِر الْ َح ِك ْ ِﲓ َاقُ ْو ُل قَ ْو ِ ْﱄ َه َذا
.ْس َت ْغ ِف ُر ِﷲ ِ ْﱄ َولَ ُ ْﲂ َوِل َسا ِ ِر الْ ُم ْس ِل ِم ْ َﲔ َوالْ ُم ْس ِل َما ِت فَا ْس َت ْغ ِف ُر ْو ُه ِان ُه ُه َوالْ َغ ُف ْو ُرالر ِح ْ ُﲓ
Atau dalam kalimat yang lain
َج َعلَنَا ُﷲ َوِا ُ ْﰼ ِم َن الْ َفا ِ ِزْ َن ا ْ ٓ ِم ِ ْ َﲔ َوَا ْد ِلْنَا َوِا ُ ْﰼ ِ ْﰲ ُزْم َرِة الصاِل ِ ْ َﲔ َاقُ ْو ُل قَ ْو ِ ْﱄ َه َذا َوا ْس َت ْغ ِف ُر
َﷲ الْ َع ِط ْ ِﲓ ِ ْﱄ َولَ ُ ْﲂ َوِل َسا ِ ِر الْ ُم ْس ِل ِم ْ َﲔ َوالْ ُم ْس ِل َما ِت فَا ْس َت ْغ ِف ُر ْو ُه ِان ُه ُه َوالْ َغ ُف ْو ُرالر ِح ْ ِﲓ َو ُق ْل َر ِّب
ا ْغ ِف ْر َو َانْ َت َ ْ ُﲑالرا ِ ِﲪ ْ َﲔ
2. Khutbah kedua
a. Selesai khutbah pertama khatib duduk sebentar lalu berdiri untuk khutbah
kedua.
b. Boleh menyampaikan kesimpulan khutbah pertama setelah membaca
hamdalah, dua kalimah syahadat dan salawat atas Nabi Muhammad SAW
c. Diakhiri dengan membaca doa
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 11 Semester Genap
Untuk doa yang dibaca khatib harus ada doa yang ditujukan untuk kaum
muslimin dan kaum muslimat atau untuk umat Islam umumnya.
ِان َك َ ِﲰ ْي ٌع, َوالْ ُم ْؤ ِم ِ ْ َﲔ َوالْ ُم ْؤ ِم َا ِت ا ْ َﻻ ْح َا ِء ِم ْﳯُ ْم َوا ْ ْم َوا ِت,َال ُهم ا ْغ ِف ْر ِلْ ُم ْس ِل ِم ْ َﲔ َوالْ ُم ْس ِل َما ِت
قَ ِريْ ٌب ُم ِج ْي ُب ا َع َوا ِت
d. Kalimat penutup khutbah kedua
ِان َﷲ يَ ُم ُرِ لْ َع ْد ِل َوا ْ ِﻻ ْح َسا ِن َوِايْتا ِء ِذى الْ ُقر َﰉ َوَ ْﳯَى َع ِن ا ْلفَ ْح َشا ِء َوالْ ُم ْن َك ِر.ِع َبا َد ِﷲ
.َوالْ َب ْغ ِي يَ ِع ُظ ُ ْﲂ لَ َعل ُ ْﲂ تَ َذك ُر ْو َن فَا ْذ ُك ُرو َﷲ الْ َع ِظ ْ َﲓ يَ ْذ ُك ْر ُ ْﰼ َو َ ِ ْك ُر ِﷲ اَ ْك َ ُﱪ
e. Khatib turun dari mimbar dan bersamaan dengan itu muazin
mengumandangkan ikamah.
3. Nilai-nilai Pendidikan dalam Shalat Jumat
a. Disiplin waktu. Shalat Jumat merupakan shalat wajib mingguan yang hanya
dilaksanakan pada hari Jumat pada waktu Zuhur. Dengan pelaksanaan shalat
Jumat mendidik umay untuk menggunakan waktu Jumat dengan sebaik
baiknya.
b. Memilih untuk mengingat Allah dann tidak hubbudunya ( cinta dunia ) sikap
ini tergambar dengan firman Allah Swt. Surah Al-Jumuah ayat 9 dalam
penjelasan ayat ini menuntun manusia agar tidak terpedaya dunia ketika
seruan Allah Swt. Telah datang.
c. Nilai kebersamaan. Nilai ini tercermin dalam tata cara shlat Jumat yang
dilaksanakan secara berjamaah. Bahkan dalam shalat Jumat pelaksanaanya
dilaksankan oleh seluruh penduduk. Shalat Jumat adalah kewajiban Islam yang
paling kuat dan merupakan perkumpulan orang-orang Muslim yang paling
besar karena dilakukan secara berjamaah.
d. Nilai menghargai orang lain. Nilai ini tercermin dalam pelaksanaan shalat
Jumat pada saat khatib sedang melaksanakan khutbahnya. Dalam shalat Jumat
setiap muslim diharuskan untuk mendengarkan khutbah, dan jika tidak maka
disebut laghhaw ( sia-sia ). Barang siapa yang termasuk laghhaw maka
dianggap tidak mengikuti shalat Jumat.
e. Membiasakan hidup bersih dan rapi. Hal ini dilihat dan tergambar dari
aktivitas yang dianjurkan ketika hendak melaksanakan shalat Jumat yaitu
mandi dan memakai wangi-wangian.
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 12 Semester Genap
D. Halangan Shalat Jumat
Tidak semua kaum Muslimin bisa melaksanakan shalat Jumat. Apabila terdapat
halangan boleh tidak melaksanakan shlat Jumat, tetapi wajib mengerjakan shalat
Zuhur. Seorang muslim boleh tidak melaksanakan Shalat Jumat apabila terdapat
halangan sebagai berikut.
1. Sakit
Orang yang sedang sakit dan tidak mampu menghadiri shalat Jumat diperbolehkan
tidak melaksanakan shalat Jumat, tetapi dia harus tetap melaksanakan shalat Zuhur.
Hadis Rasulullah SAW.
ْو َم ِريْ ٌض )رواه, ْو َص ِﱯ, ِوا ْم َر ٌة, َع ْب ٌد َم ْملُ ْو ٌك:ا ْل ُج ُم َع ُة َحق َوا ِج ٌب َ َﲆ ُ ِّﰻ ُم ْس ِ ٍﲅ ِ ْﰲ َ َﲨا َ ٍة ِاﻻ َا ْربَ َع ًة
(ابو داود
Artinya : Shalat Jumat adalah hak yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim secara
berjamaah, kecuali empat golongan : budak sahaya, perempuan, anak-anak
dan orang yang sakit. ( H.R. Abu Dawud ).
2. Dalam perjalanan jauh ( Musafir )
Orang yang sedang dalam perjalanan jauh ( lebih dari 80 km ) boleh tidak
melaksanakan shalat Jumat , tetapi harus tetap melaksanakan shalat Zuhur.
3. Karena hujan lebat, angin kencang, dan bencana alam yang menyulitkan
terselenggaranya shalat Jumat. Dalam konsdisi seperti ini masyarakat muslim
diwilayah itu boleh tidak menyelenggarakan shalat Jumat, tetapi masing-masing
harus tetap melaksanakan shalat Zuhur.
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 13 Semester Genap
UJI KOMPETENSI
Objektif
Berilah tanda silang ( X ) pada satu jawaban a, b, c atau
1. Shalat yang dikerjakan pada hari Jumat secara berjamaah diwaktu Zuhur sesudah
khotbah, adalah pengertian dari…
a. Shalat Subuh c. Shalat Asar
b. Shalat Zuhut d. Shalat Jumat
2. Firman Allah yang mewajibkan shalat Jumat terdapat dalam ….
a. Q.S Al Jumuah : 9 c. Q.S Al Jumuah : 11
b. Q.S. Al jumuah : 10 d. Q.S Al Jumuah : 12
3. Isi kandungan surat Al Jumuah ayat 9 adalah tentang perintah Allah untuk
melaksanakan shalat Jumat dan meninggalkan …
a. Pekerjaan c. kewajiban
b. Jual beli d. makan
4. Salah satu rukun khutbah Jumat adalah membaca lafal hamdalah, bunyi lafal
hamdalah adalah …
a. Astaghfirullah c. Alhamdulillah
b. Bismillah d. Subhanallah
5. Berwasiat untuk taqwa yang ditujukan kepada jamaah Jumat, merupakan salah satu
hal yang harus dilakukan oleh seorang khatib. Wasiat untuk taqwa merupakan ….
Khutbah
a. Sunah c. anjuran
b. Syarat d. rukun
6. Dalam hadis Rasulullah dijelaskan ada beberapa golongan yang tidak wajib shalat
Jumat, yaitu …kecuali
a. Perempuan c. hamba sahaya
b. Wanita d. laki-laki
7. Laki-laki dewasa adalah salah satu dari … shalat Jumat.
a. Sunah c. syarat sah
b. Rukun d. syarat wajib
8. Syarat adalah sesuatu yang harus dipenuhi oleh seseorang sebelum melakukan
sesuatu, berikut ini yang termasuk syarat wajib shalat Jumat adalah …
a. Dilakukan pada waktu zuhur
b. Dilakukan secara berjamaah
c. Dilakukan dua rakaat
d. Laki-laki yang sudah baligh
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 14 Semester Genap
9. Berikut ini yang termasuk syarat sah shalat Jumat adalah …
a. Islam
b. Baling
c. Secara berjamaah
d. bermikim
10. و, ْو َص ِﱯ, ِوا ْم َر ٌة, َع ْب ٌد َم ْملُ ْو ٌك:الْ ُج ُم َع ُة َحق َوا ِج ٌب َ َﲆ ُ ِّﰻ ُم ْس ِ ٍﲅ ِ ْﰲ َ َﲨا َ ٍة ِاﻻ َا ْربَ َع ًة
َم ِريْ ٌض
Arti kata yang bergaris bawah pada hadis diatas adalah …
a. Perempuan c. hamba shaya
b. Anak-anak d. sakit
11. Dibawah ini yang tidak termasuk syarat khatib adalah…
a. Muslim yang telah balighberakal sehat dan taat
b. Mengetahui syarat, rukun dan sunah khutbah
c. Suci dari hadas dan najis
d. Hafal Al-Qur’an 30 juz
12. Laki-laki mjuslim dewasa boleh meninggalkan shalat Jumat dengan alasan …
a. Bekerja c. sibuk
b. Sakit d. malas
13. Membaca dua kalimat syahadat termasuk …. Khutbah
a. Sunah c. rukun
b. Kesempurnaan d. syarat sah
14. Lafaz syahadat dibaca pada urutan ke … didalam rukun khutbah
a. 1 c. 3
b. 2 d. 4
15. Dibawah ini yang tidak termasuk syarat khatib adalah…
a. Muslim yang telah baligh berakal sehat dan taat
b. Mengetahui syarat, rukun dan sunah khutbah
c. Suci dari hadas dan najis
d. Hafal Al-Qur’an 30 juz
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 15 Semester Genap
Menjodohkan
Pilihlah jawaban yang sesuai
1.Shalat wajib selain shalat Membaca pujian
lima waku kepada Allah
Laki-laki muslim
2.Dalil Shalat Jumat
3.Hukum shalat Jumat Berbicara
4.Orang yang tidak wajib dengan jamaah
Jumat Hujan lebat
5.Syarat wajib Shala Jumat
6.Syarat sah shalat Jumat Suci dari hadas
7.Rukun khutbah Jumat
8.Yang membatalkan shalat Perempuan
Jumat Al Jumuah ayat :
9.Halangan jumat 9
10. Syarat Khutbah
Shalat Jumat
Essay
Shalat Jumat
Dilaksanakan
Wajib
1. Jelaskan pengertian shalat Jumat ................................................................................................
2. Jelaskan rukun shalat ........................................................................................................................
3. Jelaskan syarat sah shalat Jumat ..................................................................................................
4. Jelaskanlah halangan shalat Jumat ..............................................................................................
5. Jelaskanlah nilai pendidikan dalam shalat Jumat .................................................................
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 16 Semester Genap
BAB 7
DIBALIK KESULITAN TERDAPAT KEMUDAHAN
KOMPETENSI INTI
KI-1 Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya.
KI-2 Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan
percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan guru.
KI-3 Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati mendengar,
melihat, membaca dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya,
makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya
di rumah dan di sekolah.
KI-4 Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis, dalam karya
yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam
tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia.
KOMPETENSI DASAR
KD. 1.7 Mengamalkan shalat Jama’ dan Qashar ketika ada sebab yang membolehkan
sebagai rasa syukur atas kemurahan Allah Swt.
KD. 2.7 Menjalankan sikap syukur sebagai implementasi dari pengetahuan tentang
shalat Jama’ dan Qashar.
KD. 3.7 Menganalisis ketentuan shalat Jama’ dan Qashar.
KD. 4.7 Mengkomunikasikan hasil analisis tentang shalat Jama’ dan Qashar.
INDIKATOR
3.7.1 Mengkategorikan bagian- bagian yang harus terpenuhi dalam shalat jama’
dan qashar.
3.7.2 Menyusun secara terperinci bagian- bagian yang harus terpenuhi dalam
Shalat jama’ dan qashar sebagai satu kesatuan tata cara pelaksanaannya.
4.7.1 Mendiskusikan tentang tata cara pelaksanaan shalat jama’ dan qashar.
4.7.2 Membuat kesimpulan secara individual terhadap data yang diperoleh dari
4.7.3 kegiatan diskusi kelas tentang tata cara pelaksanaan shalat jama’ dan
Qashar.
Mendemonstrasikan tata cara pelaksanaan shalat jama’ dan qashar.
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 17 Semester Genap
PETA KONSEP
SHALAT FARDHU
JAMA’ , QASHAR DAN JAMA’ QASHAR
KETENTUAN KETENTUAN KETENTUAN
SHALAT JAMA’ SHALAT QASHAR SHALAT JAMA’ QASHAR
PENGERTIAN PENGERTIAN PENGERTIAN
SHALAT JAMA’ SHALAT QASHAR SHALAT JAMA’ QASHAR
HUKUM DAN DALIL HUKUM DAN DALIL HUKUM DAN SYARAT
SHALAT JAMA’ SHALAT QASHAR SHALAT JAMA’
QASHAR
SYARAT- SYARAT SYARAT –
SHALAT JAMA’ SYARAT TATACARA
SHALAT JAMA’
MACAM – MACAM TATACARA
SHALAT JAMA’ SHALAT QASHAR QASHAR
TATACARA PRAKTEK PRAKTEK
SHALAT JAMA’ SHALAT QASHAR SHALAT JAMA’
PRAKTEK HIKMAH QASHAR
SHALAT JAMA’ SHALAT JAMA’ , QASHAR
Semester Genap
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 DAN JAMA’ QASHAR
18
MATERI AJAR
A.Ketentuan Shalat Jama’
Ketaatan dalam melaksanakan shalat fardhu lima waktu merupakan landasan
pokok dalam kehidupan kaum muslimin . Shalat fardhu yang terdiri dari lima waktu
yaitu : subuh, zuhur,ashar, magrib dan isya wajib dikerjakan sesuai dengan waktu yang
telah diperintahkan dan ditetapkan syari’at Islam.
Namun apabila terdapat keadaan darurat tertentu, yang dapat menghalangi
seseorang untuk mengerjakan shalat pada waktunya, Allah swt memberikan keringanan
untuk melaksanakannya atau disebut juga dengan Rukhsah.Misalnya: dalam perjalan
jauh , maka shalat boleh dikerjakan dengan cara menjama’ . Untuk mengetahui arti
shalat jamak , maka ikuti pembahasan berikut!.
1. Pengertian Shalat Jama’
Menurut bahasa , Jama’ berarti mengumpulkan.Sedangkan menurut istilah, Shalat
Jama’ adalah mengumpulkan dua waktu shalat fardhu yang dikerjakan dalam satu
waktu, misalnya :
a) Mengumpulkan shalat zuhur dan shalat ashar di kerjakan pada waktu zuhur atau
waktu ashar.
b) Mengumpulkankan shalat magrib dan shalat isya yang dikerjakan pada waktu
magrib atau waktu isya.
2. Hukum dan Dalil Shalat Jama’
Menjama' shalat hukumnya : mubah / boleh, bagi orang yang sudah memenuhi
syarat – syaratnya.
Sabda Rasulullah saw :
عن ا س رﴈ ﷲ عنه قال ﰷن رسؤل ﷲ صﲆ ﷲ ليه ؤسﲅ اذا ر ل ق ل
ان زيغ الشمس اخر الظهر اﱃ وقت العﴫ ﰒ زل ﳚمع ب ﳯﲈ فان زا غت الشمس ق ل ان رﲢل
صﲆ الظهرﰒ رب رؤاه الب اري ومسﲅ
Artinya :
Dari Anas ia berkata: Rasulullah saw , apabila berangkat sebelum tergelincir
Mata hari , maka beliau shalat zuhur keashar, kemudian ( dalam perjalanan)
beliau turun ( dari kendaraan ) menjama’kan kedua shalat itu . Apabila Beliau
berangkat sesudah tergelincir matahari , maka beliau kerjakan shalat zuhur
baru berangkat naik kendaraan. ( HR.Al- Bukhari dan Muslim )
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 19 Semester Genap
3. Syarat Shalat Jama’
a. Musafir yaitu orang yang dalam perjalanan jauh dan perjalanannya bukan untuk
maksiat.
b. Jarak perjalanan minimal 80,64 km.
c. Tidak boleh makmum dengan orang yang mukim.
d. Berniat shalat jama’.
4. Macam – Macam Shalt Jama’
a. Jama’ Ta’dim :
Yaitu Mengumpulkankan dua waktu shalat yang dikerjakan pada waktu yang lebih
awal.
Contohnya :
a) Mengumpulkan shalat zuhur dan shalat ashar di kerjakan pada waktu zuhur.
b) Mengumpulkan shalat magrib dan shalat isya di kerjakan pada waktu magrib.
b. Jama’ ta’khir :
Yaitu Mengumpulkan dua waktu shalat yang dikerjakan pada waktu yang lebih
akhir.
Contohnya :
a) Mengumpulkan shalat zuhur dan shalat ashar di kerjakan pada waktu ashar.
b) Mengumpulkan shalat magrib dan shalat isya di kerjakan pada waktu isya.
5. Tata Cara Shalat Jama’
a. Cara melaksanakan shalat jama’ takdim .
Misalnya :
Mengumpulkan shalat zuhur dengan shalat ashar pada waktu Zuhur. Lakukan
shalat zuhur terlebih dahulu empat rakaat, kemudian baru mengerjakan shalat
ashar empat rakaat.
Tata caranya sebagai berikut :
1. Berniat shalat zuhur dengan jama’ ta’dim . Lafal niatnya sebagai berikut :
اصﲇ فرض الظهر اربع ر عات ﶍو ا لعﴫ ﲨع تقدﱘ تعا ﱃ
Artinya :
Aku niat shalat zuhur empat rakaat dijama’ dengan shalat Ashar dengan jama’
ta’dim karena Allah ta’ala.
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 20 Semester Genap
2. Takbirratul ihram.
3. Shalat zuhur empat rakaat seperti biasa.
4. Salam
5. Berdiri lagi dan berniat shalat yang kedua ( shalat ashar ), dengan niat sebagai
berikut :
اصﲆ فرض العﴫ اربع ر عات ﶍو ا ااظهر ﲨع تقد ﱘ تعا ﱃ
Artinya : Aku niat shalat ashar empat rakaat digabungkan dengan shalat
Zuhur dengan jama’ ta’dim karena Allah ta’ala.
6. Takbrratul ihram
7. Shalat ashar empat rakaat seperti biasa .
8. Salam.
CATATAN :
Setelah salam pada shalat pertama , harus langsung berdiri , tidak boleh diselingi
perbuatan atau perkataan . Seperti : zikir, berdo’a ataupun bercakap – cakap.
b. Cara melaksanakan shalat jama’ ta’khir.
Misalnya :
Mengumpulkan shalat magrib dengan isya dikerjakan pada waktu
isya. Boleh shalat magrib dulu tiga rakaat kemudian dilanjutkan
dengan shalat Isya empat rakaat.
Tata caranya sebagai berikut :
1. Berniat menjama’ shalat magrib dengan jama’ ta’khir.Lafal niatnya se-
bagai berikut :
اصﲆ فرض اﳌغرب ثﻼ ث ر عات ﶍو ا لعشاء ﲨعا ْ ﲑ تعاﱃ
Artinya :
Aku niat shalat magrib tiga rakaat digabungkan dengan shalat isya dengan
Jamak ta’khir karena Allah ta’ala.
2. Takbirratul ihram
3. Shalat magrib tiga rakaat seperti biasa.
4. Salam.
5. Berdiri lagi dan berniat shalat yang kedua ( shalat isya ),niat seperti berikut.
ا صﲆ فرض العشاءاربع ر عات ﶍو ا ﳌغرب ﲨعات ٔ ﲑ تعاﱃ
Artinya : Aku berniat shalat ‘isya empat rakaat digabung dengan shalat
Maghrib dengan Jamak takhir karena Allah taala.
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 21 Semester Genap
6. Takbiratulihram
7. Shalat Isya empat rakaat seperti biasa
8. Salam
CATATAN :
Ketentuan setelah salam pada shalat yang pertama sama seperti shalat
Jama’ ta;dim.( Langsung berdiri, tidak boleh diselingi perbuatan atau
Perkataan , seperti :berdo’a , berzikir ataupun bercakap - cakap ).
untuk menghormati datangnya waktu shalat, hendaknya ketika waktu
shalat pertama sudah tiba, maka orang yang akan menjama’ ta’khir ,
sudah berniat untuk menjama’ ta’khir shalatnya, walaupun shalatnya
dilaksanakan pada waktu yang kedua.
B. KETENTUAN SHALAT QASHAR.
Ketika seorang muslim tidak bisa mengerjakan shalat secara tunai dan tepat
waktu, Allah swt juga meberikan rukhsah , diperbolehkan untuk mengqashar shalatnya.
Ini sebagai Bukti bahwa ajaran Islam itu tidak memberatkan umatnya.
1. Pengertian Shalat Qashar.
Qashar menurut bahasa berarti : Meringkas .
Shalat Qashar menurut Istilah : Yaitu mengerjakan shalat fardhu dengan cara
meringkas Shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat.
Shalat yang boleh di qashar adalah : Shalat yang bilangan rakaatnya empat rakaat.
Sedangkan shalat magrib dan shalat subuh tidak boleh diqashar.
2. Hukum dan Dalil Shalat Qashar.
Hukum shalat qashar adalah : mubah / boleh
Firman Allah dalam surat : An- Nisa’ ayat : 101.
َوِا َذا َ َﴐبۡ ُ ۡﱲ ِﰱ اۡ َﻻ ۡر ِض فَلَ ۡ َس َلَ ۡي ُ ۡﲂ ُج َا ٌح َا ۡن تَ ۡق ُ ُﴫ ۡوا ِم َن الص ٰلو ِة
Artinya :
Dan apabila kamu bepergian dimuka bumi, maka tidaklah berdosa kamu
mengqashar shalat . ( QS. An-nisa’ ayat : 101 )
Shalat qashar boleh dilakukan bagi seseorang yang sudah memenuhi syarat-
syaratnya.
3. Syarat – Syarat Shalat Qashar.
a. Musafir : Yaitu orang yang dalam perjalanan jauh, yang perjalanannya bukan
untuk maksiat.
b. Berniat mengqasar pada waktu takbiratulihram.
c. Jarak perjalanan sekurang-kurangnya 80,64 km .
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 22 Semester Genap
d. Shalat yang diqashar bukan shalat yang berstatus hutang ( qadha’).
e. Tidak makmum pada imam yang shalatnya sempurna empat rakaat ( jika
berjamaah )
f. Daerah yang menjadi tujuan jelas.
4. Tata Cara Shalat Qashar.
a. Berniat untuk shalat qashar dengan lafalnya sebagai berikut :
1) Shalat zuhur : اصﲆ فرض الظهر ر عتﲔ قﴫا اداء تعا ﱃ
Artinya : Aku niat shalat fardhu zuhur dua rakaat qashar karena Allah ta’ala.
تعﲆ2) Shalat ashar : اصﲆ فرض العﴫ ر عتﲔ قﴫا اداء
Artinya : Aku niat shalat fardhu ashar dua rakaat qashar karena Allah ta’ala.
3) Shalat Isya : اصﲆ فرض العشاء ر عتﲔ قﴫا اداء تعﲆ
Artinya : Aku niat shalat fardhu isya dua rakaat qashar karena Allah ta’ala.
b. Kemudian lanjutkan dengan bacaan shalat seperti biasa sampai salam.
5. Praktek Shalat Qashar.
KETENTUAN SHALAT JAMA’ QASHAR.
Apabila kita sudah paham dengan shalat jama’ dan shalat qashar , maka kita tidak
sulit Untuk memahami tentang shalat jama’ qashar.Berikut ini pembahasannya.
1. Pengertiaqn Shalat Jama’ Qashar
Shalat jama’ qashar :
Yaitu mengumpulkan dua waktu shalat yang dikerjakan pada Salah satu waktu
shalat , sekali gus meringkas bilangan rakaatnya.
2. Hukum danSyarat Shalat Jama’ Qashar.
Hukum dan syarat shalat jama’ qashar sama dengan syarat shalat jama’ dan
shalat qashar.
Contoh shalat jama’ qashar adalah sebagai berikut :
Shalat jama’ Ketika kita menjama’ shalat zuhur dan ashar yang dilakukan
qashar Zuhur dan adalah :
“ 4 rakaat shalat zuhur sampai salam dan dilanjutkan
Ashar. dengan4 rakaat shalat ashar sampai salam “
Ketika kita menjama’ qashar shalat Zuhur dan Ashar yang
dilakukan adalah :
“ 2 rakaat shalat zuhur sampai salam dan dilanjutkan
dengan 2 rakaat shalat Ashar
Sampai salam”.
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 23 Semester Genap
Shalat jama’ Ketika menjama’ shalat magrib dan isya maka yang kita
qashar Magrib lakukan adalah : “ 3 rakaat shalat magrib sampai salam dan
dilanjutkan dengan 4 rakaat shalat isya sampai salam”.
dan Isya. Ketika kita menjama’ qashar shalat magrib dan isya maka
yang kita lakukan adalah: “3 rakaat shalat magrib sampai
salam dan dilanjutkan dengan 2 rakaat shalat isya
sampai salam”.
Sampai salam”.
Tata Cara Shalat Jama’ Qashar.
a. Shalat jama’ qashar ta’dim : Zuhur dan Ashar.
1. Berniat menjama’ qashar shalat Zuhur dengan jama’ ta’dim. Lafal niatnya ;
اصﲆ فرض الظهر ر عتﲔ قﴫا ﶍؤ ا مع العﴫ ﲨع تقدﱘ تعﲆ
Artinya :
Aku berniat shalat zuhur dua rakaat digabungkan dengan shalat ashar
Dengan jama’ takdim diqashar karna Allah ta’ala.
2. Takbirratul ihram.
3. Shalat zuhur 2 rakaat ( di ringkas )
4. Salam
5. Berdiri dan langsung niat shalat ashar sebagai berikut :
اصﲆ فرض العﴫ ر عتﲔ قﴫا ﶍو ا مع الظهر ﲨع تقد ﱘ تعاﱃ
Artinya :
Aku berniat shalat ashar dua rakaat digabungkan dengan shalat zuhur dengan jama’
ta’dim di qashar karena Alla ta’ala.
6. Takbrratul ihram
7. Shalat ashar 2 rakaat ( di ringkas )
8. Salam.
b. Shalat jama’ qashar ta’khir : Magrib dan Isya.
1. Berniat menjama’ qashar shalat Magrib dan Isya dengan jama’ ta’khir.
Lafal niatnya :
اصﲆ فرض اﳌغرب ثﻼ ث ر عا ت ﶍو ا مع العشاء ﲨع ت ٔ ﲑ تعاﱃ
Artinya :
Aku berniat shalat magrib tiga rakaat digabungkan dengan shalat isya
dengan jamak ta’khir qashar karena Allah ta’ala.
2. Takbirratul ihram
3. Shalat magrib 3 rakaat seperti biasa
4. Salam
5. Berdiri dan langsung niat shalat Isya dengan niat sebagai berikut :
اصﲆ فرض العشاء ر عتﲔ قﴫا ﶍو ا مع اﳌغرب ﲨع ت ٔ ﲑ تعاﱃ
Artinya :
Aku berniat shalat Isya dua rakaat dijama’ dengan shalat magrib dengan jama’ ta’khir
qashar karena Allah ta’ala.
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 24 Semester Genap
6. Takbirrratul ihram
7. Shalat Isya 2 rakaat ( di ringkas )
8. Salam.
C. HIKMAH SHALAT JAMA’, QASHAR DAN JAMA’ QASHAR
1. Shalat jama’ , qashar dan jama’ qashar merupakan rukhsah ( keringanan ) dari
Allah swt , terhadap hambaNya manakala kita sedang bepergian , sehingga dapat
melaksanakan ibadah secara mudah sesuai dengan kondisinya.
2. Melaksanakan shalat secara jama’, qashar dan jama’ qashar , mengandung arti
bahwa Allah swt , tidak memperberat terhadap hambaNya , karena sekalipun shalat-
nya dikumpulkan dan diringkas tetapi tidak mengurangi pahalanya.
3. Disyari’atkan shalat jama’ , qashar dan jama’ qashar , supaya manusia tidak berani
meninggalkan shalat karena ia dapat melaksanakannya dengan mudah dan cepat.
4. Belajar bersyukur atas keringanan / Ruksah yang di berikan Allah swt sebagai bukti
bahwa Allah swt adalah zat yang Maha Penderma ( Al-Barri ) yang selalu mem
berikan kemudahan kepada hambaNya untuk menjalankan perintahNya.
PENILAIAN HARIAN
A. OBJEKTIF
Berilah tanda silang ( X ) pada salah satu jawaban a,b,c atau d yang kamu anggap paling
tepat!
1. Mengumpulkan dua waktu shalat yang di kerjakan pada satu waktu desebut dengan …..
a. Shalat jama’ c. jama’ qashar
b. Shalat qashar d. jama’ ta’dim.
2. Mengerjakan shalat magrib dan isya di kerjakan pada waktu isya disebut dengan……
a. Jama’ ta’dim c. jama’ qashar
b. jama’ ta’khir d. shalat qashar
3. Dalil tentang di perbolehkannya meringkas shalat terdapat dalam alqur’an surah……..
a. An –Nisa’ ayat : 101 c. An- Nisa’ ayat : 105
b. An- Nisa’ ayat : 108 d. An- Nisa’ ayat : 109
4. Ibadah yang tidak dapat ditinggalkan walau dalam keadaan apapun adalah …………
a . Haji c. Puasa
b. Haji d. Shalat
5. Shalat jama’ boleh dilakukan bagi orang – orang yang memenuhi syarat. Diantara
syarat Yang harus terpenuhi adalah dalam perjalanan jauh/ musafir. Jarak
perjalanannya minimal…..
a . 60,64 km c. 80,64 km
b. 70,64 km d. 90,64km
6. Shalat zuhur dan ashar apabila dilakukan dengan cara jama’ qashar di lakukan dengan
cara ……….
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 25 Semester Genap
a. Zuhur 2 rakaat dan ashar 2 rakaat c. Zuhur 4 rakaat dan ashar 4 rakaat
b. Zuhur 2 rakaat dan ashar 4 rakaat d. Zuhur 4 rakaat dan ashar 2 rakaat.
7. Mengumpulkan dua waktu shalat dan sekali gus meringkas bilangan rakaatnya
merupakan pengertian dari ……..
a. Shalat jama’. c. shalat jama’ qashar
b. Shalat qashar d. shalat ashar.
8. Orang yang dalam perjalanan jauh boleh mengqashar shalat. . Qashar itu berarti ……..
a. Menambah c. Mengurangi
b. Meringkas d. Mengumpulkan
9. Hukum melaksanakan shalat jamak bagi orang yang sakit adalah ………….
a. Wajib c. Sunah
b. Haram d. Mubah
10. Mengerjakan shalat zuhur dan ashar pada waktu zuhur masing- masing 4 rakaat di
sebut dengan …….. c. qashar ta’dim
a. Jama’ ta’khir
b. Jama’ ta’dim d. qashar ta’khir
11. Melaksanakan shalat wajib 4 rakaat diringkas menjadi 2 rakaat dinamakan shalat …….
a. Shalat jamak’ c. shalat jama’ qashar
b. Shalat qashar d. jama’ ta’khir
12. Arman ingin melaksanakan shalat jama’ qashar magrib dengan isya. Maka cara mela
kukannya adalah sebagai berikut ………….
a. Magrib 3 rakaat dan isya 2 rakaat c. Magrib 2 rakaat dan isya 4 rakaat
b. Magrib 2 rakaat dan isya 2 rakaat d. Magrib 3 rakaat dan isya 4 rakaat
13. Berikut ini cara yang benar dalam melaksanakan shalat jama’ ta’khir zuhur dan ashar
adalah …….
a. Shalat zuhur 4 rakaat dilanjutkan shalat ashar 4 rakaat.
b. Shalat zuhur 2 rakaat dilanjutkan shalat ashar 4 rakaat
c. Shalat ashar 4 rakaat dilanjutkan shalat zuhur 4 rakaat
d. Shalat ashar 2 rakaat dilanjutkan shalat zuhur 2 rakaat.
14. Pasangan shalat yang boleh di jama’ di bawah ini adalah ………
a. Zuhur dengan isya c. Ashar dengan magrib.
b. Magrib dengan isya d. Isya dengan subuh
15. Shalat zuhur dan ashar yang dikerjakan pada waktu zuhur adalah contoh dari shalat
Jama’ ……..
a. Qashar c. ta’dim
b. ta’khir d. wajib.
16. Agar proses belajar tidak teganggu di sekolah, Hamid menjama’ shalat zuhur dengan
Ashar . Pelaksanaan shalat yang dilakukan Hamid ini menurut hukum agama
adalah….
a. Dibenarkan c. Tidak di benarkan
b. Boleh boleh saja d. sangat boleh sekali
17. Orang yang dalam perjalanan jauh yang bukan untuk maksiat di sebut ………
a. Musafir c. Muazin
b. Mualim d. Mustahik.
18. Keringanan dan kemudahan yang diberikan Allah swt di sebut ………….
a. Kifarat c. Rukhsah
b. Denda d. Fidiah
19. Shalat wajib lima waktu sehari semalam yang tidak boleh diqashar adalah shalat……
a. Ashar c . Subuh
b. Magrib d. Zuhur
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 26 Semester Genap
20. Pak zulkifli adalah seorang pedagang dipasar.Karena sibuk melayani pembeli , ia
Mejama’ shalat zuhur ke ashar. Shalat jama’ yang dilakukan pak Zulkifli hukumnya
adalah ……….
a. Tidak syah c. Mubah
b. Sunah d. wajib.
B. MENJODOHKAN
Pasangkanlah soal dibawah ini dengan jawaban yang tersedia disamping kanan!
NO SOAL JAWABAN
1 Shalat yang tidak boleh diqashar adalah……….. a. Jama’ qashar
2 Hukum mengqashar shalat bagi orang yang dalam b. qashar
perjalanan jauh adalah
3 Pengertian jama’ menurut bahasa adalah….. c. Rukhsah
4 Pengertian qashar menurut bahasa adalah……. d. subuh
5 Orang yang dalam perjalanan jauh disebut……. e. jama’ taqdim
6 Jarak tempuh perjalanan dibolehkan menjamak shalat f. jama’ takhir
adalah ……
7 Mengumpulkan dua waktu shalat yang dikerjakan g. 80,64 km
diwaktu yang lebih awal disebut …
8 Mengumpulkan dua waktu shalat yang dikerjakan h. Meringkas
diwaktu yang lebih akhir disebut …
9 Keringanan yang diberikan oleh Allah swt untuk shalat i. mengumpulkan
Jama’ disebut dengan…
10 Shalat zuhur dan ashar dikerjakan masing-masing 2 j. musafir
rakaat disebut…..
C. ESSAY.
Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan benar dan tepat!
1. Apakah setiap shalat fardhu yang dapat dijama’ juga sekali gus bisa di qashar?
Berikan pendapat dan alasan ananda!
2. Kita telah mempelajari tentang shalat jama’.Tuliskan pendapat ananda tentang
Macam-macam shalat jama’!
3. Berikanlah pendapat ananda tentang perbedaan antara , shalat jama’, shalat qashar
dan jama’ qashar!
4. Tuliskanlah syarat- syarat yang membolehkan shalat jama’!
5. Tuliskanlah hikmah yang dapat diambil tentang dibolehkan kita untuk
melaksanakan shalat jama’, qashar dan jama’ qashar!
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 27 Semester Genap
BAB. 8
SHALAT DALAM KEADAAN TERTENTU
I. KOMPETENSI INTI
1. Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya.
2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli (toleran,
gotong royong), santun, percaya diri, dan percaya diri dalam berinteraksi secara
efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan
keberadaannya.
3. Memahami pengetahuan (factual, konseptual dan procedural) dengan cara
mengamati [mendengar, melihat,membaca] berdasarkan rasa ingin tahu tentang
ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya terkait fenomena dan kejadian
tampak mata.
4. Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai,
merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca,
menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di
sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori
II. KOMPETENSI DASAR
1.8 Mengamalkan shalat dalam berbagai keadaan darurat ketika ada sebab yang
membolehkan.
2.8 Menjalankan sikap tanggung jawab dan istikamah sebagai implementasi dari
pemahaman tentang tata cara shalat wajib dalam berbagai keadaan tertentu
3.8 Memahami ketentuan shalat dalam berbagai keadaan tertentu
4.8 Memperagakan tata cara shalat dalam keadaan tertentu
III. INDIKATOR
1.8.1 Meyakini shalat fardlu sebagai sebagai perintah Allah Swt. berdasarkan
1.8.2 tanda- tanda yang digambarkan dalam al-Qur’an dan Hadis.
Membuktikan shalat fardlu sebagai perintah Allah Swt. berdasarkan
2.8.1 tanda- tanda yang digambarkan dalam al-Qur’an dan hadis melalui
pelaksanaan dalam kondisi tertentu.
2.8.2 Menyusun rumusan tentang penerapan unsur-unsur tanggung jawab dan
3.8.1 istikamah yang terkandung dalam pelaksanaan shalat fardlu dalam
3.8.2 kondisi tertentu.
4.8.1 Menerapkan prinsip tathawwur wal ibtikar terhadap perbedaan tata cara
4.8.2 dalam pelaksanaan shalat fardlu dalam kondisi tertentu.
Memetakan kondisi- kondisi tertentu yang menyebabkan tata cara
pelaksanaan shalat fardlu secara khusus.
Menganalogikan kondisi-kondisi masa kini dengan peristiwa masa lalu
yang berhubungan dengan shalat fardlu dalam kondisi tertentu.
Mampu menjelaskan tata cara pelaksanaan shalat fardlu dalam kondisi
tertentu.
Mendemonstrasikan tata cara pelaksanaan shalat fardlu dalam kondisi
tertentu.
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 28 Semester Genap
IV. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran melalui, peserta didik dapat:
1. Menunjukkan keimanan terhadap Allah Swt. sebagai Al-Basith (Dzat Yang
Maha Melapangkan) dan Al-Muqsith (Dzat yang Maha Pemberi Keadilan) bagi
umat manusia dan pemberi ujian maupun cobaan di dunia.
2. Membuktikan keimanan dalam kehidupan sehari-sehari melalui pelaksanaan
shalat fardlu dalam kondisi tertentu sebagai perwujudan istiqamah dalam
beribadah kepada Allah melalui pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
3. Meyakini prinsip tathawwur wal ibtikar sebagai ajaran Islam yang
membentuk kesalehan individual dan kesalehan sosial dalam pengamalan
shalat fardlu di tengah kondisi tertentu.
4. Pengertian shalat fardlu dalam kondisi tertentu.
5. Menggambarkan sebab-sebab yang memperbolehkan pelaksanaan shalat
fardlu dalam kondisi tertentu.
6. Menguraikan tata cara pelaksanaan shalat fardlu dalam kondisi tertentu
disebabkan karena
kondisi perang, sakit, bepergian, dan di tengah berlangsungnya bencana
alam.
7. Mendemonstrasikan pelaksanaan shalat fardlu dalam karena sebab-sebab
tertentu sesuai dengan ketentuan
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 29 Semester Genap
VI. Materi
Shalat fardhu lima waktu adalah suatu kewajiban yang disyariatkan
Allah kepada hamba-hamba-Nya untuk dikerjakan. Perintah shalat ini berlaku
juga bagi orang yang sedang menderita sakit, sedang dalam kendaraan dan
orang yang sedang dalam keadaan bagaimanapun selama ingatannya masih
ada, ia wajib mengerjakan shalat.
Bagi orang yang sedang sakit maupun orang yang sedang dalam
keadaan sulit melaksanakan shalat, Allah memberikan keringanan-keringanan
(rukhsah) sesuai dengan kondisinya masing-masing. Dengan demikian, shalat
dalam keadaan darurat adalah shalat dalam keadaan terpaksa.
A. Shalat Khauf
Shalat khauf merupakan shalat fardlu yang dilaksanakan di tengah munculnya
kekhawatiran atau ketakutan. Pada masa Nabi Saw, shalat khauf dilaksanakan di
tengah kecamuknya pertempuran melawan orang kafir. Beliau bersama sahabat
melaksanakan shalat khauf karena sebab adanya perasaan khawatir dan takut
serangan mendadak dari pihak musuh.
Tata Cara shalat khauf :
1. Musuh akan menyerang dari arah kiblat
a. Pada rakaat pertama, Imam mengatur barisan shalat menjadi dua atau lebih.
b. Imam melaksanakan shalat bersama barisan pertama dan shaf kedua secara
bersamaan.
c. Imam dan kedua barian melaksanakan takbiratul ihram hingga ruku’ bersama-
sama.
d. Imam dan barisan pertama melakukan sujud sedangkan barisan kedua tetap
berdiri untuk berjaga-jaga
e. Setelah imam dan barisan pertama bangkit dari sujudnya dan berdiri seperti
semula, maka barisan kedua kedua melakukan sujud, sedangkan iman dan
pertama berjaga- jaga.
f. Pada rakaat kedua, barisan kedua ikut sujud bersama imam, sedangkan barisan
pertama berjaga-jaga.
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 30 Semester Genap
g. Ketika imam dan barisan kedua melakukan sujud dan duduk bertasyahud, maka
barisan pertama menyusulnya.
h. Imam, barisan kedua dan barisan pertama melaksanakan tasyahud bersama
disusul mengakhiri shalat dengan salam.
2. Musuh akan menyerang dari arah selain kiblat
a. Salah satu jama’ah mengumandangkan azan dan iqamah.
b. Imam membagi jama’ah kedalam dua kelompok.
c. Kelompok pertama bersama shalat bersama imam, dan kelompok kedua berjaga-
jaga.
d. Jika shalat yang dilaksanakan berjumlah dua rakaat, kelompok pertama yang
shalat bersama imam cukup berjama’ah satu rakaat. Setelah itu menyelesaikan
shalatnya sendiri-sendiri untuk selanjutnya berjaga-jaga.
e. Jika shalat yang dilaksanakan berjumlah tiga atau empat rakaat, kelompok
pertama yang shalat bersama imam cukup berjama’ah dua rakaat. Setelah itu
menyelesaikan shalatnya sendiri-sendiri untuk selanjutnya berjaga-jaga.
f. Setelah kelompok pertama selesai shalatnya, kelompok kedua bergabung dengan
imam.
g. Imam meneruskan shalatnya hingga salam. Sedangkan kelompok kedua
meneruskan secara sendirian hingga mengakhirinya dengan salam
B. Shalat bagi orang sakit
Orang yang sedang sakit diwajibkan pula melaksanakan shalat selama akal
dan ingatannya masih sehat atau masih sadar. Shalat adalah fardu ain yaitu
kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap pribadi muslim. Telah kita ketahui
bersama bahwa shalat itu tiang agama, maka barang siapa yang mendirikan shalat
berarti agamanya telah tegak, sebaliknya jika meninggalkan shalat berarti
agamanya telah roboh.
Karena pentingnya shalat itu, maka dalam kondisi dan situasi apa pun kita
wajib melaksanakan shalat. Bagi orang yang tidak bisa berdiri, maka dapat
mengerjakan shalat dengan duduk seperti duduk di antara dua sujud. Jika tidak
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 31 Semester Genap
mampu dengan duduk dengan berbaring di atas lambung, dan jika tidak mampu,
maka dengan berbaring terlentang. Rasulullah SAW bersabda:
يْ َم ِن ُم ْس َت ْق ِ َل َﲆٰفَاﲆ َْجنْ َِبجلَِْهِب ْمِْاه،ٰ يْا ُيَُروَضَقصج َِّعطقََاﲇَِئلﲏﲈًقَ ُا( ِا ُﲭِْدنوًا َداُه ْصسيُلَّٰتـَصَطىِّا َﲇََع،سَْصُس)َِّتَرْد ِﲇوطاْعهْالْو ََمام ِْرن.َََُ َْي َتيَِ ِطِفَطْٕعاْﲇع ْنْالْ ِقنلَْْْنم،ْلَلََُْرْمُمُك ْ َوِمَِْمْسِهاس َت ْخ َف َض ِم ْن
َ ْس َت ِط ْع َصلّٰـى فَا ْن،ِ َ ْ الْ ِق
َصلّٰـى،ْا يْ َم ِن فَا ْن،ق َا ِد ًا
ُم ْس َتلْ ِق ي ًا ِر
“Orang yang sakit jika hendak melakukan shalat, apabila mampu berdiri, maka
shalatnya dengan berdiri, apabila tidak mampu berdiri, maka dengan duduk,
apabila tidak mampu sujud, maka dengan isyaroh dan menjadikan sujudnya
lebih rendah daripada ruku’nya, apabila tetap tidak mampu, maka dengan tidur
miring sambil menghadap qiblat, apabila tidak masih mampu, maka dengan
mengarahkan kakinya ke arah qiblat (tidur terlentang).” (HR. Ad Daruquthni)
Orang yang akan menunaikan shalat hendaklah suci dari hadas dan najis.
Namun jika tidak bisa melaksanakan sendiri bisa minta bantuan orang lain. Dan
jika tidak mungkin boleh bersuci sebisanya. Cara wudhunya, jika masih mampu
menggunakan air wudu dapat dilakukan di atas tempat tidur atau dengan bantuan
orang lain atau diwudukan orang lain, akan tetapi jika tidak sanggup menggunakan
air atau menurut pertimbangan dokter tidak boleh, maka digantikan dengan
tayamum atau ditayamumkan oleh orang lain sebagai ganti wudu dan mandi.
1) Shalat Berdiri tetapi tidak bisa ruku atau sujud
Orang yang mampu berdiri namun tidak mampu ruku’ atau sujud, ia tetap
wajib berdiri. Ia harus shalat dengan berdiri dan melakukan ruku’ dengan
menundukkan badannya. Bila ia tidak mampu membungkukkan punggungnya sama
sekali, maka cukup dengan menundukkan lehernya, kemudian duduk, lalu
menundukkan badan untuk sujud dalam keadaan duduk dengan mendekatkan
wajahnya ke tanah sebisa mungkin
2) Shalat Dengan Duduk
Shalat dengan duduk boleh dilakukan dengan berbagai posisi duduk, tetapi
yang lebih utama adalah dengan duduk iftirosy seperti ketika tasyahud awal.
Sedangkan rukun shalat yang lain dilakukan seperti orang yang sehat, termasuk
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 32 Semester Genap
ruku’ dan sujudnya. Hanya saja, apabila tidak mampu ruku’ secara sempurna, maka
ruku’ dilakukan dalam keadaan duduk dengan cara membungkukkan kepala sekira
kening sejajar dengan kedua lutut atau sejajar dengan tempat sujud, dan sujud
dilakukan secara sempurna. Bila tidak mampu, maka dengan membungkukkan
kepala sekira posisi kepala saat sujud lebih rendah dibanding saat ruku’.
3) Shalat dengan Tidur Miring
Saat shalat dilakukan dengan tidur miring, maka sunah memakai sisi lambung
sebelah kanan, dan posisi kepala berada di utara. Seperti halnya shalat dengan
posisi duduk, shalat dengan posisi ini juga harus melakukan rukun shalat yang lain
seperti orang sehat. Untuk ruku’ dan sujud bila tidak bisa dilakukan dengan
sempurna, maka isyaroh kepala untuk sujud lebih rendah dibanding isyaroh untuk
ruku’.
4) Shalat dengan Terlentang
Bila shalat dilakukan dengan terlentang, maka posisi kepala wajib sedikit
diangkat. Hal ini agar kepala dan sebagian dada dapat menghadap ke arah qiblat.
Sedangkan untuk ruku’ dan sujud dilakukan dengan isyaroh kepala bila tidak
mampu dilakukan secara sempurna. Dan yang harus diperhatikan di sini adalah
isyaroh kepala untuk sujud harus lebih rendah dibanding isyaroh untuk ruku’.
5) Shalat dengan Isyaroh Mata dan Shalat dalam Hati
Saat kondisi seseorang benar-benar kritis dan yang bisa digerakkan hanya
matanya, maka semua rukun shalat dikerjakan dengan isyaroh mata.
1. Cara shalat dengan duduk
a. Duduklah seperti duduk di antara dua sujud seperti pada (tahiyat awal),
sedekap, membaca doa iftitah, fatihah dan membaca ayat Al-Qur'an.
b. Rukuk yaitu dengan duduk membungkuk membaca tasbih rukuk sebagaimana
biasa.
c. I'tidal (dengan duduk kembali).
d. Sesudah itu sujud sebagaimana sujud biasa dengan membaca tasbih.
Kemudian menyempurnakan rakaat yang kedua sebagaimana rakaat
yang pertama.
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 33 Semester Genap
2. Cara shalat dengan tidur pada lambung
a. Hendaklah berbaring dengan di atas lambung kanannya (tidur miring)
membujur ke selatan.
b. Telinga sebelah kanan tertindih kepala bagian kanan.
c. Perut dada kaki menghadap kiblat, kemudian niat dan takbiratul ihram, lalu
membaca bacaan seperti biasa dalam shalat.
d. Untuk melakukan rukuk dan sujud cukup dengan anggukan kepala dan ke
depan pelupuk mata.
e. Jika tidak bisa, maka gunakan dalam hati selama kita masih sadar. Demikian
dilakukan hingga salam.
3. Cara shalat dengan terlentang
a. Dengan cara tidur terlentang kepala ditinggikan dengan bantal muka
diarahkan ke kiblat.
b. Kemudian berniat shalat sesuai dengan shalat yang diinginkan.
c. Untuk melakukan rukuk sujud cukup dengan kedipan mata.
d. Jika tidak bisa gunakan dalam hati selama masih sadar.
e. Adapun bacaan-bacaannya adalah seperti dalam bacaan shalat biasa sampai
selesai.
C. Shalat di kendraan
Seseorang yang berpegian dengan kendaraan, tidak bisa melakukan banyak
aktivitasnya secara normal, termasuk melaksanakan shalat. Mengingat kita di atas
kendaraan, bisa jadi tidak memungkinkan untuk shalat dengan sempurna. Karena itu,
ada beberapa catatan penting yang perlu kita perhatikan:
1) Shalat wajib harus dilakukan dengan cara sempurna, yaitu dengan berdiri, bisa
rukuk, bisa sujud, dan menghadap kiblat. Jika di atas sebuah kendaraan seseorang
bisa shalat sambil berdiri, bisa rukuk, bisa sujud, dan menghadap kiblat maka dia
boleh shalat wajib di atas kendaraan tersebut. Seperti orang yang shalat di kapal.
2) Bersuci (wudu), bila tidak memungkinkan menggunakan air karena keterbatasan
air, boleh bertayamum.
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 34 Semester Genap
3) jika di atas sebuah kendaraan seseorang tidak mungkin shalat sambil berdiri dan
menghadap kiblat, maka cara shalatnya adalah duduk semampunya. Dari Imran bin
,Husain radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
ف ٕان ﱂ ستطع فعﲆ ج ب، ص ِّل قاﲚ ًا ف ٕان ﱂ ستطع فقا د ًا
“Shalatlah sambil berdiri, jika tidak mampu, sambil duduk, dan jika tidak
mampushalatlah sambil tiduran.” (HR. Bukhari)
4) jika di atas kendaraan mampu shalat sambil menghadap kiblat maka wajib shalat
dengan menghadap kiblat, meskipun sambil duduk. Namun jika tidak
memungkinkan menghadap kiblat, dia bisa shalat dengan menghadap sesuai arah
kendaraan. Allah juga berfirman,
فاتقوا ﷲ ما استطعﱲ
“Bertaqwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. At-Taghabun: 16).
5) Pada waktu takbiratul ihram hendaklah menghadap kiblat, seterusnya dapat
menghadap sesuai dengan arah tujuan kendaraan. Firman Allah :
... ...
"Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram dan dimana saja kamu berada
palingkan mukamu ke arahnya" : (QS. Al Baqarah : 144)
6) ketentuan di atas hanya berlaku untuk shalat wajib. Adapun shalat sunah, boleh
dilakukan dengan duduk dan tidak menghadap kiblat, meskipun dua hal itu bisa
dilakukan. Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,
ٔن النﱯ صﲆ ﷲ ليه وسﲅ ﰷن يصﲇ التطوع وهو را ب ﰲ ﲑ الق
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat sunah di atas kendaraan
tanpa menghadap kiblat. (HR. Bukhari)
D. Shalat di tengah bencana
Apakah yang kita pahami dengan kondisi yang tidak pasti? Keadaan yang
memungkinkan umat Islam tidak dapat melaksanakan shalat fardlu secara normal.
Contohnya ketika aparat keamanan yang muslim mengepung sindikat pengedar ganja
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 35 Semester Genap
bersenjata, sedang melaksanakan evakuasi warga di lereng gunung yang sedang meletus,
berada di tempat yang rawan bencana, dan seterusnya.
Keadaan tidak pasti dapat diartikan sebagai satu kondisi yang menciptakan rasa
was-was, khawatir dan takut akan terjadinya sesuatu, jika kita melaksanakan shalat
dengan cara yang normal atau wajar.
Untuk memastikan boleh tidaknya kita dapat melakukan metode analogi dengan
tahapan berikut
Kegiatan Hasil
1.Menentukan 1.1. Shalat dalam pertempuran yang sudah jelas dasar
hukumnya.
perkara yang
sudah ada dasar 2.1. Kondisi-kondisi saat ini yang menciptakan rasa
hukumnya khawatir dan ketakutan, tetapi belum ditemukan
hukum pastinya. Apakah
2. Mengidentifikasi masih kondisi tertentu yang memperbolehkan shalat
perkara yang dengan cara lebih luwes atau tidak.
belum
ada dasar 2.2. Ancaman bencana besar dengan berbagai bentuknya,
hukumnya. serangan dari sindikat pengedar ganja bersenjata,
dan bentuk- bentuk kejahatan besar lainnya yang
3.Menentukan membahayakan nyawa manusia.
kriteria
3.1. Perkara yang sudah ada dasar hukumnya
4.Menemukan merupakan kondisi
persamaan yang menyebabkan kekhawatiran dan ketakutan.
perkara yang 3.2.Perkara yang sudah ada dasar hukumnya berupa
sudah ada kondisi yang tidak merubah status wajib dalam
dasar hukumnya pelaksanaan shalat fardlu.
dengan perkara
4.1.Sama-sama melahirkan akibat munculnya
yang belum ada kekhawatiran dan ketakutan hilangnya nyawa.
dasar hukumnya
berdasarkan 5.1.Perkara yang belum ada dasar hukumnya
kriteria. merupakan masalah-masalah yang seringkali terjadi
pada saat ini.
5.Menentukan
perbedaan kedua 5.2. Perkara yang sudah ada dasar hukumnya terjadi
perkara pada masa Rasulullah dan saat ini.
berdasarkan
kriteria.
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 36 Semester Genap
6. Menyusun 6.1. Boleh melaksanakan shalat fardlu dengan cara yang
inferensi sama dengan shalat khauf, ketika sedang
mengepung sindikat pengedar ganja bersenjata,
ditengah-tengah bencana yang masih belum
berhenti atau peristiwa-peristiwa kejahatan besar
lainnya yang dapat mengancam nyawa manusia.
Kita menemukan ukuran yang pasti sekarang. Selain peperangan, sakit, dan
bepergian, shalat dalam kondisi tertentu juga dapat dipraktekkan bagi orang yang sedang
berhadapan dengan bentuk-bentuk kejahatan besar. Demikian pula, di tengah ancaman
bencana yang bisa datang sewaktu-waktu, seperti saat melakukan evakuasi korban
tsunami, gunung meletus dan sebagainya.
E. Hikmah Shalat Dalam Keadaan Tertentu
1. Mengurai Karamah Dalam Shalat Fardlu Dalam Kondisi Tertentu
Kita sering sekali mendengar kata-kata bijak dari para ulama terdahulu! Dalam
ungkapan berbahasa Arab dikatakan:
Artinya: “Istikamah lebih baik daripada seribu karomah, dan tumbuhnya
karomah dengan menjaga istikamah”.
Pepatah bijak di atas selaras dengan hadis Nabi Saw dari Siti Aisyah Ra yang
mengatakan:
Artinya:
“Pekerjaan-pekerjaan (yang baik) yang lebih disukai Allah adalah pekerjaan yang
terus-menerus dikerjakan walaupun pekerjaan itu sedikit” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Hadis Nabi Saw dan pepatah Arab di atas sangat tepat untuk mengurai hikmah
dibalik pensyariatan shalat fardlu dalam kondisi tertentu. Shalat fardlu yang
tetap menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk melakukannya dimaksudkan
oleh Allah agar orang yang melaksanakannya terpupuk kepribadiannya. Pelaksanaan
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 37 Semester Genap
shalat dalam kondisi yang sulit akan membentuk kita menjadi peribadi yang
konsisten dalam beribadah. Konsistensi tersebut merupakan buah, hasil atau
karomah yang muncul disebabkan shalat yang kita jalankan.
Kita dapat membandingkan dengan peristiwa bersedekah. Jika orang mau
bersedekah dalam kondisi lapang bisa jadi karena dalam diri orang tersebut terdapat
jiwa asah, asih, dan asuh terhadap sesamanya. Tetapi derajat asah, asih, dan asuh yang
dimilikinya bernilai biasa. Karena, setiap orang dengan gelimang harta benda
akan mudah sekali untuk menyisihkan sebagian hartanya untuk orang lain. Berbeda
jika orang dalam kondisi sulit dengan harta yang bahkan kurang untuk memenuhi
kebutuhannya sehari-hari. Kemauan untuk tetap bersedekah menjadi bukti nyata
orang tersebut telah memiliki kepribadian asah, asih, dan asuh yang sesungguhnya.
Selain itu, hikmah yang dapat kita ambil pelaksanaan shalat fardlu dalam kondisi
tertentu adalah keistikamahan yang akan berdampak kedalam bentuk istikamah
dalam pelaksanaan ibadah selain shalat. Shalat fardlu merupakan ibadah paling ulama
di sisi Allah Swt. . Shalat merupakan bagian terdepan dari keseluruhan ibadah yang
kitalaksanakan. Jika shalat kita jalankan dengan sungguh-sungguh dan penuh
penghayatan, maka amal ibadah lainnya akan mengikutinya. Oleh karena itu, ketika
kita istikamah menjalankan shalat dalam berbagai kondisi apapun, maka akan
melahirkan istikamah kita dalam ibadah lainnya.
2. Beristikamah Secara Sosial
Telah kita jelaskan sebelumnya. Istikamah dalam pelaksanaan shalat fadlu di
berbagai kondisi tertentu akan berdampak sosial pada munculnya daya juang dan
kemampuan diri untuk bertahan dalam segala situasi dan kondisi.
Kondisi sulit yang kita hadapi tidak kita lihat sebagai hambatan hidup kita.
Sebaliknya, kondisi sulit justru menjadi peluang untuk menuju hidup lebih baik.
Kesulitan-kesulitan yang kita hadapi pada saat shalat di atas kendaraan atau di tengah
pertemuan akan membuat berfikir cepat, cermat dan tepat mengambil keputusan.
Selain itu, kesulitan tersebut juga membangun mentalitas kita menjadi pribadi
dengan daya juang yang tinggi.
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 38 Semester Genap
3. Islam Wasathiyyah
BELAJAR TATHAWWUR WAL IBTIKAR
Apa yang kita pahami dengan istilah tathawwur wal ibtikar? Bagaimana
hubungan istilah tersebut dengan shalat fardlu dalam kondisi tertentu?
Tathawwur wal ibtikar merupakan prinsip dinamis dan inovatif yang
mengantarkan kita selalu terbuka perubahan sesuai dengan perkembangan
zaman demi tercapainya kemashlahatan umat manusia.
Keterbukan tidak dilakukan tanpa batas, tetapi terinspirasi dari dua nama Tuhan
Yang Maha Agung, yaitu Al-Basith (Dzat Yang Maha Melapangkan) dan Al-
Muqsith(Dzat yang Maha Pemberi Keadilan). Dengan menghayati Allah sebagai Al-
Basith, maka setiap perubahan merupakan sunnatullah atau sudah menjadi
qudrah dan iradah-Nya.
Perubahan juga tidak berjalan tanpa batas, tetapi kewajiban untuk menyelaraskan
dengan nilai-nilai keadilan yang dapat kita gali dari Nama Agung Al-Muqsith.
Contoh:
Kita dapat memutuskan kondisi-kondisi tertentu berdasarkan perubahan yang
terjadi pada saat ini. Seperti memperbolehkan shalat di atas kursi pada saat kita
bepergian dengan alat transportasi pesawat terbang, kereta api, kapal laut,
dan sebagainya.
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 39 Semester Genap
Soal latihan
A. OBJEKTIF
Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar!
1. Sepulang dari sekolah fadhil mengalami a. Berbaring ke sebelah kanan dengan
keelakaan sehingga ia tidak mampu shalat menghadap kiblat,sementara kepala
dengan cara berdiri . meskipun demikian berada di barat dan kaki di timur.
fadhil harus melaksanakan shalat dengan
cara b. Berbaring ke sebelah kanan dengan
a. Tetap berdiri sebisanya menghadap kiblat sementara kepala
b. Berbaring berada di utara dan kaki di selatan.
c. Telentang
d. Duduk c. Berbaring ke sebelah kanan dengan
menghadap kiblat sementara kepala
2. Syarat diperbolehkannya shalat khauf berada di selatan dan kaki di utara
diantaranya...
a. Kekhawatiran dan rasa takut habis d. Berbaring ke sebelah kanan dengan
waktu shalat menghadap kiblat sementara kepala
b. Kekhawatiran dan rasa takut ancaman berada timur dan kaki di barat.
musuh
c. Kekhawatiran dan rasa takut 5. Pak Norman sedang dirawat di rumah
wudhunya batal sakit, namun beliau tidak pernah
d. Kekhawatiran dan rasa takut meninggalkan shalat meskipun hanya
ketinggalan berjama’ah dilaksanakan dengan posisi terlentang.
Posisi yang benar adalah :
3. Perhatikan hadis berikut: a. Badan miring ke barat, kaki
dihadapkan ke kiblat
ف ٕان ﱂ ستطع، ًص ِّل قاﲚ ًا ف ٕان ﱂ ستطع فقا دا b. Kedua kaki menghadap ke kiblat
فعﲆ ج ب dan kepala agak ditinggikan
c. Kepala menghadap ke kiblat dan
Kandungan hadis menjelaskan bagian kaki di timur
dari unsur tata cara melaksanakan shalat d. Kepala di selatan dan kaki di utara
bagi orang yang...
6. Termasuk penggunaan alat transporasi
a. Di tengah pertempuran yang menyebabkan diperbolehkan
b. Di tengah bencana alam menjalankan shalat fardlu dalam
c. Di atas kendaraan kondisi tertentu, kecuali…
d. Sakit a. Sepeda motor pribadi
b. Kereta api
4. Di bawah ini yang merupakan tata cra c. Kapal laut
shalat dengan berbaring bagi orang d. Pesawat
Indonesia adalah……
7. Diantara kondisi saat ini yang dapat
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 40 dianalogikan dengan kondisi pada saat
peperangan di jalan Allah Swt.
adalah…
Semester Genap
a. Perjalanan menuju sanak kerabat 9. Jika si Ahmad shalat dalam posisi
b. Pengepungan judi sabung ayam duduk dilantai maka cara ruku dan
c. Pengepungan sindikat narkotika sujudnya ....
a. ruku membungkuk dan sujud
bersenjata seperti sujud biasa
d. Pemadaman kebakaran hutan b. ruku dan sujudnya dengan cara
membungkuk
8. Perkara yang di sunnahkan dalam c. gerakan ruku,sujud dan seterusnya
pelaksanaan shalat fardlu di atas cukup mengerakkan kepala
kendaraan adalah.... d. ruku dan sujud seperti salat biasa
a. Menghadap kiblat pada waktu
takbiratul ihram 10. Shalat darurat boleh dilaksanakan
b. Meminta izin ke penumpang lain bila seseorang mengalami keadaan ...
sebelum shalat a. sakit atau perjalanan
c. Berganti pakaian yang lebih sopan b. sehat atau sakit
d. Menggunakan kursi sebagai tempat c. bekerja keras
shalat d. tertidur
B. MENJODOHKAN
Pasangkanlah soal di bawah ini dengan jawaban yang tersedia !
No Soal Jawaban
1 Shalat dalam keadaan takut disebut juga dengan....
2 Seseorang yang tidak bisa melaksanakan shalat dengan a. Isyarat
cara duduk maka dilaksanakan dengan cara.... b. Pesawat
3 Shalat boleh dilakukan dalam keadaan duduk jika tidak c. Khauf
memungkinkan untuk berdiri, adalah shalat yang
dilakukan di.... d. Atas kendaraan
4 Penggunaan alat transfortasi yang membolehkan shalat e. Tidur miring
dalam kondisi tertentu adalah....
5 Jika seseorang benar-benar kritis dan yang bisa
digerakkan hanya matanya maka cara shalatnya adalah
denga...
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 41 Semester Genap
C. ESSAY
Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan jelas dan tepat!
1. Dalam shalat khauf dibedakan tata cara pelaksanaan antara sebab ancaman dari
arah kiblat dan selain kibat. Jelaskan menurut anda perbedaan tata cara antara
keduanya!
2. Orang yang sakit memiliki banyak pilihan tata cara pelaksanaan shalat fardlu. Atas
dasar pertimbangan apakah, orang sakit tersebut dapat beralih dari satu pilihan
tata cara ke tata cara lainnya!
3. Apakah semua jenis bepergian dapat dikategorikan sebagai keadaan tertentu?
Berikan pendapat anda!
4. Jelaskanlah tata cara shalat dalam keadaan sakit!
5. Seorang pekerja pemadam kebakaran hendak shalat dhuhur berjama’ah
bersama teman-teman kerjanya, tetapi ia bingung menggunakan tata cara
pelaksaan yang seperti biasa atau cara yang berlaku dalam kondisi yang
tertentu! Bantu pekerja tersebut untuk menerapkan metode analogi, sehingga
tata cara shalat yang dipilihnya benar-benar sesuai dengan ketentuan fikih!
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 42 Semester Genap
BAB.9
MERAIH GELAR MAHMUDAH DENGAN AMALIAH SUNAH
Kompetensi Inti
KI - 1 Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya.
KI - 2
Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli,
dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan
guru.
KI - 3 Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati
[mendengar, melihat, membaca] dan menanya berdasarkan rasa
ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya,
dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan di sekolah.
KI - 4 Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis,
dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak
sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak
beriman dan berakhlak mulia.
Kompetensi Dasar
1.9 Menjalankan sikap percaya diri sebagai implementasi dari pengetahuan
tentang sunnah mu’akkad dan ghairu mu’akkad.
2.9 Menjalankan sikap percaya diri sebagai implementasi dari pengetahuan
tentang sunnah mu’akkad dan ghairu mu’akkad.
3.9 Menganalisis shalat sunnah mu’akkad dan shalat sunnah ghairu mu’akkad.
4.9 Mengkomu-nikasikan hasil analisis tentang shalat sunnah mu’akkad dan
sunnah ghairu mu’akkad
Indikator
1.9.1 Meyakini shalat sunnah mu’akkad dan ghairu mu’akkad sebagai perintah Allah
1.9.2 Swt berdasarkan tanda-tanda yang digambarkan dalam al-Qur’an dan Hadits.
Membuktikan shalat sunnah mu’akkad dan ghairu mu’akkad sebagai perintah
2.9.1 Allah Swt berdasarkan tanda-tanda yang digambarkan dalam al-Qur’an dan
2.9.2 hadits melalui pembiasaan sehari-hari.
Menyusun rumusan tentang penerapan unsur-unsur percaya diri yang
terkandung dalam pelaksanaan shalat sunnah mu’akkad dan ghairu mu’akkad
dalam kehidupan sosial.
Menerapkan prinsip tasamuh terhadap perbedaan tata cara dalam pelaksanaan
shalat sunnah mu’akkad dan ghairu mu’akkad dalam kehidupan sehari-hari.
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 43 Semester Genap
2.9.3 Menerapkan prinsip tahadhdhur terhadap perbedaan tata cara dalam
pelaksanaan shalat sunnah mu’akkad dan ghairu mu’akkad dalam kehidupan
2.9.4 sehari-hari.
3.9.1 Penerapan prinsip syura dalam pelaksanaan shalat sunnah mu’akkad dan ghairu
3.9.2 mu’akkad dalam kehidupan sehari-hari.
Mengkategorikan bagian-bagian yang harus terpenuhi dalam shalat sunnah
4.9.1 mu’akkad dan ghairu mu’akkad.
4.9.2 Menyusun secara terperinci bagian-bagian yang harus terpenuhi dalam shalat
sunnah mu’akkad dan ghairu mu’akkad sebagai satu kesatuan tata cara
4.9.3 pelaksanaan.
Mendiskusikan tentang tata cara pelaksanaan shalat sunnah mu’akkad dan
ghairumu’akkad.
Membuat kesimpulan secara individual terhadap data yang diperoleh dari
kegiatan diskusi kelas tentang tata cara pelaksanaan shalat sunnah mu’akkad
dan ghairu mu’akkad.
Mendemonstrasikan tata cara pelaksanaan shalat sunnah mu’akkad dan ghairu
mu’akkad.
Peta Konsep
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 44 Semester Genap
A. SALAT SUNNAH MU’AKKAD
1. Pengertian Shalat Sunnah Mu’akkad dan Pembagiannya
Tahukah kita, apa yang dimaksud dengan sunnah mu’akkad? Sunnah
mu’akkad ( ) اﳌؤكد السنةsecara bahasa adalah sunnah yang dikuatkan atau sangat
dianjurkan. Secara istilah, sunnah mu’akkad merupakan ibadah-ibadah yang selalu
dijalankan atau dilestarikan oleh Nabi Muhamamd Saw dan tidak ditinggalkan,
kecuali sekali atau dua kali untuk memberi petunjuk bahwa ibadah tersebut tidak
wajib hukumnya.
Banyak sekali ibadah yang termasuk shalat sunnah mu’akkad, seperti shalat
sunnah rawatib, shalat tahajjud, shalat witir, shalat dua hari raya, dan shalat
tahiyyat masjis. Bahkan shalat sunnah rawatib sangat dianjurkan karena dapat
menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang terjadi dalam pelaksanaan shalat
fardlu lima kali.
2. Shalat Rawatib dan Tata Cara Pelaksanaanya
Ayo kita cermati! Shalat rawatib merupakan shalat sunnah yang
pelaksanaanya menyertai shalat fardlu lima kali. Shalat rawatib disebut juga dengan
sunnah qabliyah yang berarti dilaksanakan sebelum shalat fardlu dan sunnah
ba’diyah yaitu shalat sunnah yang dilaksanakan setelah shalat fardlu. Termasuk
dalam shalat rawatib yang mu’akkad adalah sepuluh rekaat rawatib, yaitu:
1. Dua rakaat sebelum shalat subuh.
Dilakukan dengan sendirian dengan tata cara seperti shalat fardlu dua rekaat. Niat
shalat sebelum subuh adalah:
Artinya:
“Aku berniat shalat sunnah sebelum shalat subuh dengan menghadap kiblat pada saat
ini dan semata-mata karena Allah Swt”.
Dianjurkan dalam rekaat pertama membaca surat Al-Kafirun dan rekaat kedua
membaca surat Al-Ikhlash. Juga disunnah memisah antara sunnah sebelum subuh
dengan shalat subuh dengan berdzikir dan berdo’a atau perbuatan-perbuatan yang
diperbolehkan lainnya.
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 45 Semester Genap
2. Dua rekaat sebelum shalat dhuhur dan shalat Jum’at.
Tata cara pelaksanaan shalat sebelum dhuhur dan shalat Jum’at adalah sama dengan
sunnah sebelum subuh. Hanya saja surat yang dibaca setelah membaca Al-Fatihan
tidak ditentukan.
ُا َص ِّﲇ ُسن ِة ال ُظ ْه ِر َر ْك َع َت ْ ِﲔ قَ ْ ِلي ِة ُم ْستَ ْق ِ َل الْ ِق ْ َ ِ َا َدا َء ِ ِ تَ َعا َﱃ
Artinya:
“Aku berniat shalat sunnah sebelum shalat dhuhur/Jum’at dengan menghadap kiblat
pada saat ini dan semata-mata karena Allah Swt”.
3. Dua rekaat sesudah shalat dhuhur dan shalat Jum’at.
Tata cara pelaksanaannya seperti shalat sunnah sebelum shalat dhuhur dan Jum’at,
dengan niat sebagai berikut:
ُا َص ِّﲇ ُسن ُة ُظ ْه ِر َر ْك َع َت ْ ِﲔ بَ ْع ِدي ِة ُم ْس َت ْق ِ َل الْ ِق ْ َ ِ َا َدا َء ِ ِ تَ َعاﱃ
Artinya:
“Aku berniat shalat sunnah sesudah shalat dhuhur/Jum’at dengan menghadap kiblat
pada saat ini dan semata-mata karena Allah Swt”.
4. Dua rekaat sesudah shalat maghrib.
Tata cara pelaksanaan shalat sunnah sesudah shalat maghrib sama dengan sunnah
sebelum shalat subuh. Termasuk bacaan surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlash setelah
membaca Al-Fatihah dalam sunnah sebelum shalat subuh juga dianjurkan dibaca
dalam shalat sunnah setelah shalat maghrib. Niat shalat sunnah sesudah maghrib
adalah:
ُا َص ِّﲇ ُسن ِة الْ َم ْغ ِر ِب َر ْك َع َت ْ ِﲔ بَ ْع ِدي ِة ُم ْس َت ْق ِ َل الْ ِق ْلَ ِت َا َدا َء ِ ِ تَ َعا َﱃ
“Aku berniat shalat sunnah sesudah shalat maghrib dengan menghadap kiblat pada
saat ini dan semata-mata karena Allah Swt”.
5. Dua rekaat sesudah shalat Isya’.
Tata cara pelaksanaan shalat sunnah sebelum isya’ sama dengan shalat sunnah
sebelum shalat dhuhur atau Jum’at.
ُا َص ِّ ِﲇ ُسن َة الْ ِع َشا ِء َر ْك َع َت ْ ِﲔ بَ ْع ِد ي َة ُم ْس َت ْق ِ َل ِق ْ َ ِ َا َدا َء ِ ِ تَ َعا َﱄ
Artinya:
“Aku berniat shalat sunnah sesudah shalat Isya’ dengan menghadap kiblat pada saat
ini dan semata-mata karena Allah Swt”.
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 46 Semester Genap
3. Shalat Tahajjud dan Tata Cara Pelaksanaannya
Ayo kita cermati! Shalat tahajjud merupakan shalat sunnah yang dikerjakan
setelah shalat Isya’ setelah terjaga dari tidur, meski tidurnya dalam waktu yang
singkat. Waktu terbaik dilaksanakannya shalat tahajjud adalah sepertiga malam
terakhir. Tidak ada batasan jumlah rekaat paling banyak dalam tahajjud, tetapi paling
sedikitnya adalah satu rekaat seperti dalam shalat witir. Niat shalat tahajjud adalah:
ُا َص ِّﲇ ُسن َة ا ْ َﳤَ ِد َر ْك َع َت ْ ِﲔ ِ ِ تَ َعا َﱃ
Artinya:
”Aku berniat shalat tahajjud dua rekaat hanya karena Allah Swt”.
4. Shalat Witir dan Tata Cara Pelaksanannya
Apa yang kita pahami tentang shalat witir? Shalat witir merupakan shalat sunnah
yang dilaksanakan pada malam hari setelah shalat isya’ sampai terbitnya fajar atau
waktu shalat subuh. Pelaksanaan shalat witir pada bulan ramadhan berbeda dengan
hari-hari selain di bulan ramadhan.Pelaksanaan shalat setelah shalat tarawih.Bagi
orang yang khawatir sulit bangun malam dianjurkan menyegerakan dan bagi yang
mudah terjaga dari tidurnya dianjurkan mengakhirkan di sepertiga malam.
Dilaksanakan secara berjama’ah. Kebiasaan jumlah rekaatnya tiga rekaat.
Terdapat perbedaan pelaksanaan shalat witir pada bulan Ramadhan dan bulan-
bulan selainnya. Dalam bulan ramadhan, shalat witir biasanya dilaksanakan setelah
shalat tarawih secara berjama’ah. Sedangkan jumlah rekaatnya biasanya ada tiga
dengan dua kali salam.
Pada salam pertama, jumlah rekaat ada dua dengan niat shalat sebagai berikut:
Artinya:
“Aku berniat shalat witir dengan rekaat pada saat ini sebagai imam/makmum hanya
karena Allah Swt.
Surah yang dibaca dalam rekaat pertama adalah Surah Al-A’la (87) dan rekaat
keduanya membaca Surah Al-Kafirun (109). Sedangkan dalam rekaat kedua membaca
tiga surah pendek, yaitu: Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas.
Sedangkan waktu pelaksanaan shalat witir di luar bulan ramadhan dapat
disegerakan atau di akhirkan. Bagi orang yang khawatir sulit bangun malam
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 47 Semester Genap
dianjurkan menyegerakan dan bagi yang mudah terjaga dari tidurnya dianjurkan
mengakhirkan di sepertiga malam.
Ayo kita bandingkan! Jumlah rekaat dalam shalat witir selain bulan ramadhan adalah
tidak terbatas, tetapi harus tetap ganjil dan dilakukan secara sendirian.
5. Shalat Hari Raya Idul Fitri dan Tata Cara Pelaksanannya
Pernahkah anda memutuskan berakhirnya puasa ramadhan setelah mendengar
keputusan Sidang Itsbat yang dipimpin oleh Menteri Agama? Shalat hari raya idul fitri
merupakan shalat sunnah yang dilaksanakan setelah berakhirnya puasa ramadhan,
tepat pada tanggal satu syawal. Cara yang paling umum untuk menentukan akhir bulan
ramadhan adalah mengikuti keputusan Sidang Istbat yang dipimpin oleh Menteri
Agama dan dihadiri organisasi-organisasi keagamaan Islam di Indonesia.
Ayo kita pahami! Shalat hari raya memiliki tata cara pelaksanaan yang diatur
secara ketat. Meskipun hukum shalatnya itu sendiri adalah sunnah mu’akkad.
Rangkaian pelaksanaan shalat hari raya idul fitri hmpir sama dengan shalat Jum’at
yang menyertakan adanya dua khutbah sebagai bagian satu kesatuan.
Ayo kita cermati penjelasan berikut!
1. Mandi sunnah dengan niat untuk melaksanakan shalat hari raya idul fitri.
2. Memakai wewangian.
3. Memakai pakaian yang paling bagus.
4. Disunnahkan sarapan sebelum shalat Idul Fitri
5. Bagi imam disunnahkan mengundur sedikit pelaksanaan shalat idul fitri untuk
menyelesaikan zakat fitrah
6. Hendaknya berjalan kaki sambil bertakbir terus-menerus mulai berangkat dari rumah
hingga tiba di masjid.
7. Shalat Idul Fitri dan Idul Adha dikerjakan sebelum khutbah
8. Tidak ada adzan dan iqamah dalam shalat Hari Raya. Imam shalat cukup mengucapkan
“Asshalatu jami’ah”
9. Shalat Id dilakukan dua rakaat, pada rakaat pertama diawali dengan takbiratul ihram
dan 7 kali takbir. Raka'at kedua membaca rakbir sebanyak lima kali (selain takbir saat
berdiri). Takbiratul ihram disertai dengan niat shalat:
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 48 Semester Genap
ا ُ◌ َص ِّﲇ ُسن َة ِل ِع ْي ِد الْ ِف ْط ِر َر ْك َع َت ْ ِﲔ َم ُم ْو ًما ِل ِ تَ َعا َلى
Artinya:
“Aku berniat shalat idul fitri dua rekaat sebagai imam/makmum hanya
semata-mata karena Allah”.
10. Di antara dua takbir diperbolehkan membaca tasbih, tahmid dan shalawat
secara keseluruhan atau memilih salah satu dari ketiganya. Contoh bacaan
sebagai berikut:
َال ُ اَ ْك َ ُﱪ َك ِب ْ َﲑا واﶵد ل كثﲑا وسب ان ال كرة واصيﻼ
Allah Maha Besar dengan segala kebesaran-Nya, segala puji bagi Allah dengan pujian
yang banyak, Maha Suci Allah, baik di waktu pagi dan petang”.
Atau membaca: ُس ْب َا َن ال ُ َوالْ َح ْم ُد ِل ُ َو َ ٔ ِا َ َ ِا ٔ ال ُ َوال ُ اَ ْك َ ُﱪ
“Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, Allah maha besar”.
11. Pada setiap takbir mengangkat kedua tangan
12. Bacaan surah setelah Al-Fatihah pertama adalah surat Qaf dan rakaat kedua adalah
surat Al-Qamar. Dapat pula membaca surah Al-A'la pada rakaat pertama dan Al-
Ghasiyah pada rakaat kedua
13. Disunnahkan melalui jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulangnya
14. Hendaknya semua umat Islam, laki-laki. perempuan, anak-anak, dewasa, maupun
orang tua keluar ke masjid untuk mendengarkan khutbah sebagai syiar Islam. bagi
wanita yang haid maka disediakan tempat husus diluar masjid untuk mendengarkan
khutbah. Sunnah seorang Imam berkhutbah dua kali pada shalat hari raya Idul Fitri,
dan memisahkan kedua khutbah dengan duduk. Pada khutbah pertama khatib
disunnahkan memulainya dengan takbir hingga sembilan kali, sedangkan pada
khutbah kedua membukanya dengan takbir tujuh kali.
15. Apabila khatib lupa tidak bertakbir sebanyak 7 kali (setelah takbiratul ihram langsung
membaca Fatihah) atau tidak bertakbir pada rakaat kedua sebanyak 5 kali, maka shalat
tetap sah dan tidak perlu sujud sahwi.
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 49 Semester Genap
Tahukah kita, tata cara pelaksanaan shalat hari raya idul fitri memiliki perbedaan antar
umat Islam di Indonesia. Perbedaan ditemukan dalam beberapa perkara, seperti
penentuan akhir bulan ramadhan sehingga shalat akan dilakukan esok harinya, tempat
pelaksanaan shalat, dan tata cara khutbah hari raya idul fitri. Lalu bagaimana sikap
kita? Seperti halnya perbedaan yang terjadi dalam berbagai peribadatan lainnya, sikap
terbaik yang dianjurkan adalah mengikuti kebiasaan yang berlaku umum di kalangan
para jama’ah atau lingkungan sekitar.
6. Shalat Hari Raya Idul Adha dan Tata Cara Pelaksanaanya
Ayo kita pahami! Shalat idul adha merupakan shalat hari raya yang dilaksanakan
pada setiap tanggal 10 Dzulhijah. Sedangkan waktu pelaksanaanya sejak mata hari terbit
hingga waktu shalat dhuhur. Namun disunnah pelaksanaan shalat lebih awal untuk
memberikan kesempatan lebih luas bagi umat Islam yang hendak berkurban.
Ayo kita bandingkan! Shalat hari raya idul adha pada dasarnya hampir sama
dengan pelaksanaan shalat idul fitri. Perbedaan hanya terletak pada tidak
disunnahkannya makan pagi sebelum berangkat ke masjid. Perbedaan lainnya, jika dalam
shalat idul fitri imam disunnahkan memberikan kesempatan kepada jama’ah untuk
menyelesaikan penyerahan zakat fitrah, tetapi waktu shalat idul adha lebih baik
disegerakan.
7. Shalat Tahiyyatul Masjid dan Tata Cara Pelaksanaanya
Ayo kita cermati! Agama Islam menganjurkan umatnya agar selalu menjaga tata
krama pada saat memasuki masjid. Oleh karena itu, ketika memasuki masjid sangat
dianjurkan membaca doa, berada dalam keadaan suci, memakai pakaian bersih dan
suci, serta memperbanyak amal saleh dan berbagai macam ibadah di dalamnya. Salah
satu ibadah yang disunahkan ketika berada di dalam masjid adalah shalat sunah
tahiyyatul masjid.
Shalat tahiyatul masjid diartikan sebagai shalat untuk menghormati kesucian
dan keagungan masjid. Jumlah rekaat shalatnya adalah dua rekaat secara sendirian dan
dilaksanakan sebelum duduk sesampainya di masjid, meskipun dalam waktu yang
sangat singkat. Sedangkan niat shalatnya sebagai berikut:
Bahan Ajar Fiqih Kelas 7 50 Semester Genap