The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Saya bersyukur bisa menyempurnakan rukun Islam kelima, haji, ketika usia muda pada 1996. Ketika itu saya datang dengan semangat yang begitu bergelora: melakukan napak tilas sejarah.

Haji adalah fakta sejarah dari sebuah agama yang tidak pernah selesai bertumbuh, berkembang dan menyebar. Dan tak akan pernah berhenti bertumbuh hingga kiamat kelak.

Haji adalah sejarah iman yang terangkai sejak ribuan tahun lalu. Sejak Nabi Ibrahim, Hajar dan Ismail, hingga Nabi Muhammad SAW. Jadi, haji saya, dan haji semua orang, adalah kesinambungan sejarah iman itu.

Uniknya, ada yang berbeda setiap kali saya menunaikan ibadah haji. Buku sederhana yang Anda baca ini merupakan dokumentasi perjalanan haji saya pada 2019 atau sebelum pandemi COVID-19 terjadi. Pada kesempatan berhaji, atas izin Allah, saya tidak hanya merasakan kembali pengalaman beribadah melainkan mendapatkan inspirasi melihat kembali perjalanan peradaban Islam, dan merenungi semua pemahaman dan pengetahuan saya mengenai hal ini. Walaupun tulisan-tulisan di buku ini sangatlah pribadi, saya berharap pembaca mereguk manfaat untuk menghadirkan perubahan bagi negeri ini.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by poestakarembugkopi, 2022-10-12 03:04:44

Haji - Catatan & Refleksi

Saya bersyukur bisa menyempurnakan rukun Islam kelima, haji, ketika usia muda pada 1996. Ketika itu saya datang dengan semangat yang begitu bergelora: melakukan napak tilas sejarah.

Haji adalah fakta sejarah dari sebuah agama yang tidak pernah selesai bertumbuh, berkembang dan menyebar. Dan tak akan pernah berhenti bertumbuh hingga kiamat kelak.

Haji adalah sejarah iman yang terangkai sejak ribuan tahun lalu. Sejak Nabi Ibrahim, Hajar dan Ismail, hingga Nabi Muhammad SAW. Jadi, haji saya, dan haji semua orang, adalah kesinambungan sejarah iman itu.

Uniknya, ada yang berbeda setiap kali saya menunaikan ibadah haji. Buku sederhana yang Anda baca ini merupakan dokumentasi perjalanan haji saya pada 2019 atau sebelum pandemi COVID-19 terjadi. Pada kesempatan berhaji, atas izin Allah, saya tidak hanya merasakan kembali pengalaman beribadah melainkan mendapatkan inspirasi melihat kembali perjalanan peradaban Islam, dan merenungi semua pemahaman dan pengetahuan saya mengenai hal ini. Walaupun tulisan-tulisan di buku ini sangatlah pribadi, saya berharap pembaca mereguk manfaat untuk menghadirkan perubahan bagi negeri ini.

Keywords: Haji,Anis Matta

HAJI

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta

Lingkup Hak Cipta

Pasal 1

Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan
prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa
mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Ketentuan Pidana

Pasal 113

(1) Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara
Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau
pidana denda paling banyak Rp 100.000.000 (seratus juta rupiah).

(2) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang
Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/ atau huruf h untuk Penggunaan
Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/
atau pidana denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

(3) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang
Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e, dan/ atau huruf g untuk Penggunaan
Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun
dan/atau pidana denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

(4) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang
dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling lama
10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 4.000.000.000,00
(empat miliar rupiah).

Anis Matta

HAJI

Catatan & Refleksi

Catatan & Refleksi

ISBN: 978-623-92379-8-1
Penulis
Anis Matta
Penyunting
Dadi Krismatono & Achmad Zairofi
Penata Letak
Aryamuslim
Perwajahan Sampul
Rohan K.
Foto Sampul
Agoes Soefiono

Cetakan I, Juli 2021
Cetakan II, Juli 2022
Hak Cipta dilindungi undang-undang.
All Rights Reserved.

Buku ini diterbitkan atas kerja sama antara
The Future Institute dan Poestaka Rembug Kopi

Diterbitkan oleh
Poestaka Rembug Kopi
Jl. Veteran No.148, Warungboto, Umbulharjo,
Kota Yogyakarta, D.I. Yogyakarta 55161

vi

Serban Hamka,
Ilham Anis Matta

Pengantar Redaksi

T atkala menginjakkan kaki ke Yogyakarta pada 1924,
Hamka belia masih jarang mendapati kaum lelaki
Muslim memakai peci. Yang banyak dijumpainya blang-
kon, seperti dipakai pemimpin Syarikat Islam, H.O.S.
Tjokroaminoto. Tiga tahun kemudian, saat Hamka tiba
di Tanah Suci, ia mendapati peci sudah lazim ditemui di
kepala jemaah asal Indonesia. Berserban masih jarang
ditemui, hanya dipakai oleh mereka yang sudah terbiasa
karena pernah pergi haji.

Pada masa Hamka belia pula, berserban seperti
satu “kemestian” bagi lelaki Islam Nusantara yang
telah menunaikan haji. Ia penanda ke publik: absah
menuntaskan rukun Islam kelima. Dan penahbisan ini

vii

Haji: Catatan & Refleksi

dilakukan semasa jemaah masih di Tanah Suci. Yang
menjalankan ritual ini lelaki setempat yang digelari
syeikh. Tugas utama sang syeikh ini sebenarnya hanya
memandu jemaah asal Indonesia. Karena ketidak-
tahuan, para jemaah memandang syeikh mereka itu
sebagaimana pemuka agama; dihormati sebegitu rupa
layaknya ulama.

Padahal, tak sedikit para syeikh di jemaah haji
asal Indonesia itu bertindak tak patut. Salah satunya
“memanfaatkan” kejahilan jemaah kita dalam soal
serban. Ada imbalan yang diincar oleh syeikh tersebut.
Hamka, yang masa itu masih dipanggil Malik, sudah
tentu termasuk yang ditawari untuk menjalani prosesi
ini. Dalam Kenang-kenangan Hidup I (cet. 3, 1974), Hamka
menceritakan kejadian tersebut.

“Menurut kebiasaan, sesudah kepala dicukur atau
digunting di hari kesepuluh di Mina itu, berkumpullah
haji-haji itu di keliling syeikhnya masing-masing. Pa-
kaian sudah ditukar; dan masing-masing telah menye-
diakan serban yang akan diikatkan dengan ‘resmi’ oleh
syeikhnya itu ke kepala masing-masing berganti-ganti.
Yang perempuan menyediakan malaya, yaitu selendang
tutup muka. Syeikh duduk di tengah-tengah. Orang haji
tampil satu per satu membawa serbannya.”

viii

Anis Matta

Hamka mencontohkan jemaah itu bernama Badu
Ali. Tutur Hamka, sang syeikh akan berkata pada si
Badu Ali begini, “Badu Ali! Sekarang engkau sudah
haji. Sebab itu sudah boleh memakai serban. Dan nama
engkau hendaklah ditukar; untuk menghapus dosa-
dosa selama ini.”

Posisi Badu Ali sendiri, kata Hamka, sudah serupa
dengan orang Katolik menghadap pendeta. Amat
takzim dan khusyuk. Lantas, bersimpuhlah Badu Ali
pada syeikh yang sebenarnya hanya tukang urus orang
berhaji.

Sesudah ditanya nama yang disukai sendiri
oleh Badu Ali, si syeikh pun berkata, “Sammaituka
sammakallah, bil Haji ’Abbas; falyaj’al hajjaka mabruran
wa sa’yaka masykuran.” Aku namai engkau, dan Allah
menamai engkau Haji ’Abbas. Moga-moga dijadikannya
hajimu berpahala dan saimu yang disyukuri. Begitu si
syeikh “meresmikan” haji jemaah kita.

Selesai? Tentu saja tidak. Para jemaah yang ditahbis
memberikan uang ke pinggan di hadapan si syeikh.

Tiba giliran Hamka. Para haji mengajak pemuda
Malik untuk mengikuti apa yang baru saja mereka
lakukan dengan si syeikh.

ix

Haji: Catatan & Refleksi

“Buat apa? Serban itu bagiku tidak perlu, dan nama
yang telah diberikan ayahku kepadaku tidak akan
kutukar! Ini hanya perbuatan khurafat semua,” katanya
enggan mengikuti.

Bagi Hamka, syeikh itu tak lebih manusia biasa,
meski jemaah lain memandangnya begitu hormat
seumpama ulama besar. Sudah tentu, sikap Hamka ini
amat tidak disukai si syeikh. Pembukaan “upacara” jadi
terlambat karena pembangkangan Hamka.

Hamka tak tahu bahwa beberapa purnama
berikutnya, serban itu bakal disebut lagi. Bukan oleh
syeikh “jadi-jadian”, melainkan oleh syeikh sebenarnya,
bahkan orang yang dikenalnya dari dekat.

***

koleksi digital New York Public Library

x

Anis Matta

Bulan pengujung 1927. Surat dari sang kakak yang
memintanya pulang kampung diabaikannya. Pikirnya,
guna apa saya pulang? Orang kampung tidak akan
menerima saya. Sebab saya “tidak alim.”

Tapi, bilamana suami sang kakak, seorang yang
dihormati dan turut berjasa dalam perjalanannya
selama ini, sukar diabaikan saat memintanya pulang.
Sang ipar, A.R. Sutan Mansur, menjemputnya untuk
kembali ke kampung halaman. Berhadapan dengan ipar
yang juga aktivis Muhammadiyah ini, segan dan takut
muncul pada diri Hamka. Perintahnya untuk berkemas,
tidak dapat dielakkan Hamka. Hingga akhirnya ia pun
berada di hadapan ayahandanya.

“Mengapa tidak engkau beri tahu bahwa begitu
mulia dan suci maksudmu?” tanya Haji Rasul, begitu
mereka berdua bertatapan mata lagi di rumah.

“Abuya ketika itu sedang susah dan miskin,” jawab
Hamka. Hamka tentu tak mengabaikan dampak gem-
pa bumi di Padang Panjang pada 28 Juni 1926 yang
mengakibatkan rumah Haji Rasul hancur parah; belum
lagi wafatnya beberapa kerabatnya pada kejadian itu.
Di samping tentunya sang ayah memiliki tanggungan
sebagai suami dengan banyak istri, dan mamak bagi
para kemenakan.

xi

Haji: Catatan & Refleksi

“Kalau itu maksudmu, tak kayu jenjang dikeping,
tak emas bungkal diasah.”

“Biarlah Buya! Kata Andung, tatkala aku dilahirkan,
Buya telah berjanji akan mengirimku belajar di sana
sepuluh tahun. Tetapi kemiskinan menghambat cita-
cita Buya. Sebab itu, hamba sendiri menebusnya. Sayang
tidak sepuluh tahun. Hanya setahun pergi pulang.”

Haji Rasul merenung beberapa saat. Begitu dituliskan
Hamka di Kenang-kenangan Hidup I.

repro dari buku Kenang-kenangan 70 Tahun Buya Hamka

xii

Anis Matta

“Mana serban! Mana jubah? Menurut adat jolong
pulang itu, baik juga memakai serban dan jubah,
pengobat hati orang kampung karena engkau telah
pulang kembali,” Haji Rasul berucap lagi.

“Tak ada serban, Buya! Tidak ada jubah. Tak ada
duit pembelinya.” Hamka berterus terang. Ihwal
ketidaksukaan dirinya memakai serban bagi jemaah
haji, dan insiden dengan syeikh saat di Mina, tidak
disampaikannya.

Tampak wajah haru terpancar dari Haji Rasul. Tak
lama kemudian ia menuju lemari. Mengambil jubah
anggrui, sehelai gamis putih, sadariah syami, dan se-
helai serban halabi.

“Pakailah ini! Pakaian ini hanya Buya pakai ketika
hari raya saja. Buya perbuat di Mekkah, sebelum Buya
kawin dengan uaik-mu.” Uaik di sini sebutan Hamka
pada ibu kandungnya, yang saat itu telah dicerai Haji
Rasul.

Tak perlu waktu lama, air mata menggelanggang
pada ruangan yang mempertemukan ayah dan anak
itu.

Pakaian “kebesaran” Haji Rasul itulah yang dikena-
kan Hamka. Agak lapang bagi badannya, tapi ini bukan
soal. Pas persuaan itu bertepatan dengan hari Jumat.

xiii

Haji: Catatan & Refleksi

Dekat waktu shalat Jumat tiba, Haji Rasul mengiringi
Hamka. Saban mereka bertemu orang-orang, tangan
Hamka segera diambil untuk bersalaman. Ada juga
yang sampai mencium tangannya. Haji Rasul tak
bisa menutup rasa bangganya. Jumat itu pula Hamka
dimintanya untuk menjadi khatib.

Orang-orang sekampung senang bukan kepalang.
Hadirnya Hamka menjadi jawaban atas cemas mereka
andaikan sewaktu-waktu Haji Rasul dipanggil Allah.
Dan kelak, bukan hanya warga di kampungnya yang
turut bangga memiliki alim baru jebolan musim haji
1927 masehi. Negerinya akan mengenalnya sebagai
ulama besar, bahkan namanya melampaui kepopuleran
sang ayah dan kakeknya, yang sama-sama sosok alim
berbudi. Menariknya, serban dan jubah yang pernah
“disepelekan” Hamka, akan melekat sebagai ciri pada
masa selanjutnya.

***

Musim haji 2019 pun tiba. Siapa sangka setahun
berikutnya perhelatan akbar Muslimin sedunia itu
terpaksa ditiadakan bagi para tamu Allah akibat wabah
pandemi COVID-19. Dua tahun kemudian juga masih
berlaku sama, entah sampai kapan Baitullah masih harus
dilakukan pembatasan untuk pelaksanaan ibadah haji.

xiv

Anis Matta

koleksi penulis

xv

Haji: Catatan & Refleksi

Bukan kebetulan bila pada tahun haji 2019, salah satu
tamu Allah di antara jutaan jemaah adalah Anis Matta,
penulis buku di tangan Anda kini. Sebenarnya momen
itu bukan kali pertama Anis Matta berhaji. Tapi, haji
2019—bersama di antaranya kawan diskusinya: Fahri
Hamzah—berasa istimewa. Ya, bukan kebetulan ia ingin
mencari “serban”; tentu serban dalam makna kiasan.

Serban sebagai simbol benda jelas tidak tebersit di
benak Anis Matta. Serban yang dicarinya tak lain sa-
far mencari ilham. Hal ini akibat buntunya kapasitas
pengetahuan yang dimilikinya untuk menerawang
masa depan Indonesia. Dalam satu kesempatan, Anis
Matta menyebutkan bahwa sejak 2009 lalu ia tersadar
pengetahuan yang dimilikinya mentok. Sepuluh tahun
kemudian, apa yang dicarinya sedikitnya sudah mem-
berikan peta jalan yang hendak dilaluinya. Malahan
hari-hari sebelum berhaji, ia sudah mematangkan satu
keputusan untuk membuat peta arah baru ke depan,
baik bagi Indonesia maupun umat Islam.

Bukanlah karena ikut tradisi tatkala Haji Rasul
penuh antusias memberikan serban spesialnya pada
putranya. Ia melihat pada putranya ada kesungguhan,
mampu membuktikan satu perjuangan menimba
pengetahuan yang bahkan tanpa peran serta langsung
dirinya selaku ulama besar di Nusantara. Hamka justru

xvi

Anis Matta

mampu membuktikan “kegelapan” asa sang ayahanda
pada dirinya di masa lalu adalah keliru. Tak ayal, Haji
Rasul tersadar dan membuat satu pembacaan baru
untuk anak lelakinya ini. Dan pembacaan Haji Rasul
tak keliru. Memberikan mimbar khotbah Jumat pada
orang lain bukanlah hal sepele. Satu kepercayaan
dimulai pada Hamka. Satu kepercayaan yang diawali
serban dan mimbar Jumat. Setelahnya, transfer intensif
pengetahuan keislaman di antara ayah dan anak yang
sebelumnya tak pernah terjadi sedekat itu.

Sementara itu, sebuah kompas yang dicari Anis
Matta kini berhasil digenggamnya. Ia tinggal melangkah
mengikuti kompas itu, lalu mengajak dan meyakinkan
banyak pihak untuk bersama-sama melakukan kolabo-
rasi membawa Indonesia ke depan. Dari spiritualisme
berhaji pada 2019 itulah, ia matangkan proses mencari
jalan keluar dari krisis yang mendera Indonesia. Dari
memori iman, pelepasan kerinduan pada prosesi demi
prosesi dalam berhaji, hingga renungan perjuangan
para nabi ulil azmi hingga para mujtahid-mujahid, Anis
Matta mengkristalkan satu peta yang hendak ditem-
puhnya ketika berkontribusi bagi negeri ini. Hasil-
nya berupa lima kekuatan menghadirkan perubahan
revolusioner: karakter ulil azmi, tradisi ijtihad, design
thinking, kelenturan, dan doa istilham.

xvii

Haji: Catatan & Refleksi

xviii

koleksi penulis

Anis Matta

Risalah renungan haji seorang Anis Matta selayak-
nya dibaca oleh pelbagai pihak; tak cuma kalangan
Islam. Ada tawaran inspirasi untuk hadirnya satu per-
ubahan. Memang tak detail mengingat sajian gagasan-
nya dikemas untuk publik digital, terutama warga
Twitter. Tapi, kesingkatan yang ada tak mengurangi
mutu renungan penulis, terlebih bila pembaca buku
ini demen dan loyal mengikuti syarahan Anis Matta
yang banyak didokumentasikan di kanal YouTube.
Akhirnya, kami mewakili redaksi Poestaka Rembug
Kopi berterima kasih untuk sebuah kepercayaan yang
diberikan penulis untuk menerbitkan satu renungan
yang amat menarik dan menginspirasi ini. Untuk pem-
baca budiman buku ini, selamat meresapi kekayaan
intelektual dan/atau jiwa penulis dari proses berhaji;
semoga bisa menggerakkan kita semua dalam meng-
hadirkan kolaborasi kebaikan dan inovasi kemajuan
bagi Indonesia.

Yogyakarta, 29 Mei 2021

Yusuf Maulana

xix

koleksi Izuddin Helmi Adnan

xx

Prakata Penulis

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Buku sederhana yang

Anda baca ini merupakan

dokumentasi kicauan di

Twitter selama perjalan-

an haji pada 2019. Pada

kesempatan itu, atas izin

Allah, saya tidak hanya

merasakan pengalaman

beribadah melainkan

mendapat inspirasi untuk

melihat kembali perja-

lanan peradaban Islam koleksi penulis

dan merenungi semua pemahaman dan pengetahuan

saya mengenai hal ini.

xxi

Haji: Catatan & Refleksi

Ini tulisan yang sangat pribadi, namun saya berha-
rap Anda mendapat manfaat dari membaca catatan ini.
Saya merasa perlu mendokumentasikannya ke dalam
format yang mudah dibaca dan tidak tertimbun oleh
lintasan percakapan di lini masa media sosial.

Terima kasih kepada seluruh sahabat yang telah
mengumpulkan serakan catatan ini menjadi buku
yang lebih nyaman dibaca. Pada 2020, tulisan ini
telah diterbitkan dalam format digital (e-book), dan—
alhamdulillah—tahun ini bisa sampai ke hadapan Anda
dalam bentuk buku.

Terima kasih kepada Dadi Krismatono, Yusuf
Maulana, Achmad Zairofi, Agoes Soefiono, serta seluruh
tim The Future Institute dan Poestaka Rembug Kopi
yang telah berkolaborasi mewujudkan terbitnya buku
ini. Selamat membaca.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Ciganjur, 10 Juni 2020

Anis Matta

xxii

Anis Matta

“Saya punya kebiasaan memikirkan
sesuatu masalah dalam waktu

yang lama secara terus-menerus.
Ketika saya mempunyai konsentrasi
dalam masalah politik, maka saya

akan memikirkan masalah politik
itu secara intens. Tetapi, saya selalu

menyediakan waktu-waktu untuk
merenung, berpikir tanpa melakukan

apa-apa. Dan juga menyediakan
waktu tertentu, biasanya dua atau
tiga hari, khusus untuk membaca.
Jadi, jika ada masalah besar yang
perlu dikaji dari berbagai sisi, maka
biasanya saya menyediakan waktu

satu hari atau dua hari tidak ke
mana-mana, hanya khusus untuk
membaca, merumuskan pikiran-
pikiran saya tentang masalah itu.”

xxiii

koleksi penulis

koleksi Roukaya19/Skyscrapercity

1

R asanya ada yang berbeda setiap kali saya menunai-
kan ibadah haji. Mungkin bermanfaat untuk saling
berbagi cerita.

Saya bersyukur bisa menunaikan haji pertama kali
pada 1996 atas fasilitas dari Rektor LIPIA saat itu, Syekh
Ibrahim Al-Husaen.

Suatu hari beliau memanggil saya ke kantornya dan
menanyakan, “Sudah haji belum?” Saya jawab, “Belum.”
“Mau haji enggak?” Saya jawab, “Tentu mau.”

1

Haji: Catatan & Refleksi

Saya memberitahu peristiwa itu kepada kedua
sahabat saya, Achmad Rilyadi dan Abu Bakar Al Habsyi.
Ternyata mereka berdua juga mau ikut. Saya kembali
menemui Syekh Ibrahim dan bersyukur mereka berdua
juga dapat kesempatan haji bersama.

2


Click to View FlipBook Version