The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Berisi penjelasan mengenai struktur beserta pola pengembangan dan tahapan pengembangan alur pada teks cerita imajinasi

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by rumywidyanti97, 2021-09-08 20:37:36

Struktur Teks Cerita Imajinasi

Berisi penjelasan mengenai struktur beserta pola pengembangan dan tahapan pengembangan alur pada teks cerita imajinasi

Keywords: struktur teks cerita imajinasi

STRUKTUR TEKS CERITA

{ IMAJINASI
Rumy
Widyanti
Dwi
Ambarwati

XXX小学

Struktur Teks Fiksi

1. Orientasi, 2. Komplikasi, berisi cerita tentang 3. Resolusi, merupakan
berisi masalah yang dialami tokoh utama. bagian penyelesaian
pengenalan Pada bagian ini peristiwa-peristiwa di dari masalah yang
tema, tokoh, luar nalar ini biasanya terjadi. dialami tokoh
dan latar.
DDD

Setiap cerita tentu memiliki bagian pembuka Orientasi
di mana berisi pengenalan tokoh, latar
(tempat, waktu, suasana), watak tokoh, atau {
konflik. Nah, bagian pembuka ini disebut
dengan nama orientasi. Pembaca akan
mengetahui dasar cerita dan juga karakter-
karakter yang terlibat di dalam cerita
beserta watak dan sifatnya. Selain itu, awal
mula konflik juga mulai diperlihatkan di
bagian orientasi untuk membawanya ke
bagian komplikasi.

Bagian orientasi bisa dikembangkan dari (1)
deskripsi latar, (2) pengenalan tokoh, atau
(3) pengenalan konflik.

{ KOMPLIKASI
Setelah pembaca mengenal tokoh, watak,
latar, dan juga awal mula terjadinya konflik,
cerita imajinasi akan memasuki bagian yang
dinamakan komplikasi. Bagian komplikasi
berisi hubungan sebab akibat sehingga
memunculkan masalah, masalah menjadi
semakin rumit, dan masalah mencapai
puncaknya.

Bagian komplikasi bisa dikembangkan
dengan (1) mengahdirkan tokoh lain, (2)
mengubah latar, dan (3) melompat lintas
zaman.

Resolusi

Hampir tidak ada cerita yang tidak memiliki akhir
atau resolusi. Usai konflik terjadi begitu hebat
dan mencapai puncak, terdapat penurunan
konflik yang menuju penyelesaian. Bagian ini
disebut dengan resolusi. Bagian resolusi berisi
penyelesaian masalah dari konflik yang terjadi
dan timbulnya kesadaran tokoh. Biasanya di
bagian ini pembaca dapat memetik pelajaran dari
cerita imajinasi tersebut.

Bagian resolusi bisa dikembangkan dengan
(1) lompatan waktu, (2) sebab-akibat yang
unik, (3) kejutan (surprise)

ALUR DALAM STRUKTUR TEKS CERITA
IMAJINASI

Ketika Ananda membaca cerita imajinasi, apakah Ananda merasakan adanya
tahapan-tahapan cerita? Ya, tahapan-tahapan cerita tersebut tersusun
membentuk rangkaian cerita yang disebut alur.

Alur cerita yang lengkap terdiri atas empat tahapan, yaitu pengenalan,
rangkaian kejadian/ masalah, klimaks/puncak cerita, dan
penyelesaian/resolusi.

Akan tetapi tidak semua cerita imajinasi memiliki alur yang lengkap.

TAHAP PENGEMBANGAN ALUR DALAM
STRUKTUR TEKS CERITA IMAJINASI

Tahap pengenalan digunakan untuk mengawali cerita dengan mengenalkan
latar, tokoh, dan wataknya.

Tahap rangkaian kejadian ditandai dengan mulai munculnya masalah, masalah
semakin rumit.

Tahap klimaks merupakan puncak masalah yang ditandai dengan peristiwa
atau kejadian tertentu.

Tahap penyelesaian merupakan bagian akhir cerita yang ditandai dengan
munculnya alternatif pemecahan masalah hingga masalah terselesaikan.

CONTOH

Aku Bukan Patung

Awalnya gelap, tapi tiba-tiba… cahaya kuncupnya. Bunga mawar merah muda, bunga
mentarimenyilaukan. Sangat menyilaukan, tapi lily, anyelir, bunga kertas di tepi kolam juga ikut
kenapa aku tidak bisa menutup mataku? Ya mekar. Rumput yang hijau berembun dan pohon-
Tuhan, apa yang terjadi padaku? Tubuhku, oh pohon rindang yang meneteskan embun di
tubuhku tidak bisa bergerak. Kenapa tubuhku ujung-ujung daunnya terlihat segar. Indah sekali
membeku seperti ini? Kenapa ini Tuhan? Air, mereka, aku baru menyadarinya. Embun itu
ikan koi, bunga teratai merah muda? Aku menguap sekarang.
dikelilingi mereka. Aku berada di tengah-
tengah… kolam? Kenapa aku bisa berada di Gemericik pancuran kolam, ikan koi yang
tengah kolam ini, Tuhan? tenang, bunga teratai merah muda kuncup dan
mekar. Aku menikmati semuanya. Berulang-
Burung pipit kecil hinggap di bahuku, meloncat, ulang. Apa yang harus aku lakukan sekarang?
lalu pergi. Hei burung pipit kecil, tolong aku, aku Haruskah aku terperangkap di sini selamanya?
tidak bisa bergerak. Hei, jangan pergi.. ya Begini selamanya di tengah-tengah kolam?
Tuhan, bagaimana ini? Apakah suaraku tidak
terdengar? Siapapun, aku mohon tolong aku! Lalu, entah kenapa kali ini pandanganku tertuju
pada sosok gadis cantik berbaju krem lembut. Ia
Sepanjang hari, orang-orang yang lewat berjalan perlahan. Rambut lurus hitam terurai,
menyebutku tampan. Ah, benarkah. Aku bahkan bola mata coklat indah, bulu mata lentik, bibir
tidak menyadarinya. Aku terdiam lagi, merekah, kulit putih langsat berjalan perlahan,
mendengarkan gemericik pancuran air kolam, ke arahku. Ah tidak, ia berjalan lalu duduk di
mengamati bunga teratai merah muda yang kursi tepat di depanku. Ia mengeluarkan buku
perlahan mekar, meninggalkan masa dari tas tangan kecil putihnya dan membuka
perlahan buku itu.

Lalu, bola matanya bergerak ke kanan dan ke bisa. Menutup mataku karena mentari yang
kiri dengan lincah. Tapi, tiba-tiba matanya menyilaukan pun aku tak bisa. Kenapa aku
memandang padaku, melihatku agak lama, dan hanya sebuah patung? Patung yang indah,
kemudian berjalan ke arahku. Apakah dia bisa tampan, tapi tidak berguna. Kenapa? kenapa
mendengarku? “Patung ini bagus sekali, terlihat aku hanya sebuah patung? Kenapa?
tampan.” Ia lalu mengambil sesuatu di tas Kenapaaaa?
putihnya. Sebuah ponsel. Ia lalu mengambil
gambarku dengan ponsel itu dan kemudian Perlahan, aku membuka mataku. Terasa berat.
tersenyum. Oh, Tuhan. Kukedipkan mataku, berkali-kali. Kuraba
wajahku, masih lengkap dan tidak keras. Hanya
Sementara ia di dekatku, ingin sekali aku tulang hidungku yang keras. Kugerakkan
memetik dan memberikan setangkai mawar kepalaku, ke kanan dan ke kiri, jari tanganku,
merah muda yang ada di pinggir kolam ini lenganku, kakiku, semuanya, dan yang terakhir
padanya. Ah, tidak, menyapanya saja, itu sudah adalah badanku.
cukup bagiku. Tapi apa daya, aku tidak bisa
bergerak. Tubuhku beku. Bibirku bisu. Aku hanya Oh, aku masih berbaring di atas kasur empukku
sebuah patung tembaga di tengah-tengah kolam dan selimut hangat. Ternyata hanya mimpi. Aku
ikan koi kecil. Satu-satunya yang bisa kulakukan sedikit lega. Tuhan, aku bukan patung, aku
adalah melihatnya, melihatnya, dan… bukan patung, dan jangan jadikan aku patung.
melihatnya pergi. Aku adalah manusia. Aku janji akan mearaih
tujuanku, cita-citaku, hidupku. Aku tidak akan
Gadis itu pergi, gadis itu pergi. Oh, Tuhan, malas. Aku tidak akan menyia-nyiakannya. Aku
betapa menyedihkannya aku. Aku tidak bisa tidak akan membiarkannya pergi. Sekarang.
apa-apa. Aku hanya patung, tidak bisa bergerak,
berjalan, ataupun berlari. Bicara pun aku tak










Click to View FlipBook Version