Kata Pengantar
Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha
Esa. Berkat limpahan karunia-Nya, sehingga buku
tentang kumpulan cerita pendek ini dapat diselesaikan
dengan baik. Buku ini ditujukan untuk memenuhi tugas
dari mata kuliah Manajemen Penerbit Grafis dan
Elektronik.
Buku ini berisikan kumpulan cerita pendek yang
bertemakan tentang pengalaman dan perubahan diri
menjadi yang lebih baik lagi. Kiranya buku ini dapat
menjadi sebuah sumber inspirasi dan penambah
wawasan bagi pembacanya.
i2
Penulis menyadari bahwa buku ini masih jauh dari kata
sempurna, oleh karenanya penulis mengharapkan kritik
dan saran yang bersifat membangun untuk perbaikan di
masa yang akan datang, Akhir kata, penulis
mengucapkan banyak terima kasih.
Padang, 22 November 2021
Penyusun
i1i
Daftar Isi
Kata Pengantar……………………………………… i
Daftar Isi…………………………………………….. iii
Dilema………………………………………………. 1
Love yourself……………………………………….. 13
Bahagia itu sederhana………………………………. 23
i2ii
DILEMA
Saat matahari belum muncul, ada seorang gadis
bernama Dira yang sedang sibuk merapikan warung
makan miliknya yang akan segara buka. Itu adalah
kegiatan yang biasa dilakukan oleh Dira sebelum ia
berangkat ke sekolah. Hal itu dilakukan, karena ia ingin
membantu ibunya yang sedang sakit dan ayah nya
sedang berada di luar kota untuk bekerja.
Dira merupakan anak pertama dari tiga
bersaudara. Ia memiliki adik laki-laki dan perempuan
kembar yang duduk di bangku SMP Kelas 1. Adik
kembarnya itu bersekolah di daerah dekat rumah mereka.
Sebelum berangkat ke sekolah, Dira selalu membantu
adik-adiknya dalam mempersiapkan segala sesuatu yang
dibutuhkan untuk kesekolah dan juga menyiapkan bekal
untuk makan siang mereka.
Setiap pagi, Dira dan adik-adiknya pergi
bersama-sama ke sekolah dengan menggunakan sepeda
yang mereka miliki. Dira menggunakan sepeda miliknya
yang sudah sangat lama dan tampak reyot. Sedangkan
adik kembarnya menggunakan sepeda yang diberikan
1
oleh tentangga di seberang rumahnya yang masih sangat
bagus untuk digunakan.
Dira memiliki sifat yang ceria dan memiliki jiwa
yang penuh semangat. Setiap orang yang ada di dekatnya
akan selalu merasa senang karena aura positif yang ada
pada dirinya. Pada saat di sekolah pun, Dira terkenal
sebagai orang yang ramah dan baik, karena ia selalu
menyapa teman-teman di sekolahnya dengan dengan
senyuman yang lebar. Ia selalu bertutur kata yang baik
dan memiliki sopan santun kepada siapapun.
Selain memiliki perilaku yang baik, Dira juga
merupakan salah satu siswa terbaik yang ada di
sekolahnya. Perlombaan yang ada di sekolah selalu ia
ikuti karena semangat dan ambisi yang ia miliki. Dira
sering memenangkan berbagai perlombaan tersebut.
Piala-piala dan penghargaan yang di dapatkannya
berjejeran di lemari kaca sekolah. Bisa dibilang Dira
adalah salah satu murid kebanggaan sekolah.
Lisa dan Rara merupakan teman Dira yang juga
sering mengikuti berbagai perlombaan dan olimpiade di
sekolah. Mereka bertiga sering berkumpul di
perpustakaan untuk belajar ataupun untuk membaca
2
buku. Itulah kebiasaan orang-orang pintar yang tak bisa
jauh dari buku.
Dira adalah siswi SMA yang duduk di kelas 3
yang sedang mempersiapkan segala sesuatu untuk
menuju masa depan yang cerah dan cita-cita yang
diinginkannya. Dira bercita-cita ingin menjadi dokter di
salah satu universitas ternama yang ada di daerahnya.
Hari ini merupakan jadwal konsultasi untuk kelas
3 mengenai jurusan yang akan dipilih oleh para siswa.
Pada saat Dira berkonsultasi dengan gurunya, mereka
pun menyarankan agar Dira mendaftar ke jurusan dokter
di universitas yang diinginkannya tersebut. Nilai dan
kemampuan yang dimiliki oleh Dira sangat memenuhi
kriteria untuk masuk ke sana. Dira pun sangat senang
ketika gurunya menyarankan hal itu kepada Dira. Tetapi
permasalahan yang dimiliki oleh Dira adalah ia tidak
memiliki uang untuk melanjutkan kuliah, apalagi untuk
masuk jurusan kedokteran yang memerlukan banyak
sekali biaya. Ia juga memikirkan adik-adiknya yang
masih bersekolah dan keadaan ekonominya yang tidak
mecukupi.
31
Guru konseling menyarankan Dira agar tetap
melanjutkan untuk berkuliah dengan jurusan yang
diinginkannya. Karena di perkuliahan, jika terkendala
oleh dana bisa dibantu dengan banyaknya beasiswa yang
tersedia. Dira pun masih memikirkan dan
mempertimbangkan apa yang disarankan oleh gurunya
tersebut.
Dalam perjalanan pulang sambil menjemput
adik-adiknya pulang sekolah, Dira masih memikirkan
apakah ia akan melanjutkan kuliah atau tidak. Ia ingin
berdiskusi dengan ibunya tetapi jika ibunya tau ia akan
melanjutkan kuliah dengan jurusan kedokteran, itu akan
menjadi pikiran bagi ibunya. Dira tidak ingin ibunya
memikirkan hal itu dan malah tambah sakit. Dira
berusaha untuk mencari cara lain untuk melanjutkan
impiannya.
Setelah pulang sekolah, biasanya Dira pergi
membantu ibunya di warung makan untuk mengganti
kan ibunya dalam menjaga warung. Jika tidak ada
pengunjung, Dira membersihkan warung dan mencuci
piring. Terkadang si kembar pun ikut membantu Dira
atau menemaninya sambil bermain, sehingga Dira pun
42
tidak merasa kesepian. Tak jauh dari kegiatan orang-
orang pintar, Dira selalu membawa buku apapun yang
bisa dibacanya untuk mengisi kekosongannya.
Pada pukul 5 sore, warung makan pun tutup. Dira
bersama si kembar kembali ke rumah dan bersih-bersih.
Ibunya menyambut kedatangan mereka pulang dengan
menyediakan berbagai makanan. Kebetulan hari ini
adalah hari ulang tahun ayah Dira, namun ayahnya
masih belum bisa kembali ke rumah karena
pekerjaannya. Mereka pun menemukan solusi yakni
dengan melakukan video call dengan ayahnya. Ayahnya
sangat senang dengan kejutan yang telah disiapkan oleh
Dira, ibunya, dan si kembar. Ayahnya mengatakan
bahwa ia belum bisa kembali dalam waktu dekat karena
masih ada pekerjaan. Setalah itu, mereka melanjutkan
makan malam dan bercerita tentang keseharian si kembar
di sekolah yang menyenangkan.
Setelah selesai mencuci piring, Dira kembali ke
kamarnya untuk belajar dalam mempersiapkan berbagai
ujian atau tes dari sekolah maupun universitas. Si
kembar juga mengerjakan tugas sekolah mereka di
kamar Dira. Semua PR telah dikerjakan dan waktu
51
belajar malam pun dihentikan, Dira mengantarkan si
kembar ke kamar dan mengucapkan selamat tidur ke
mereka. Tidak lupa pula Dira memeriksa ibunya apakah
obat yang diberikan oleh dokter telah diminum atau
belum. Dira pun kembali ke kamarnya dan berusaha
untuk tidur.
Pada saat mata Dira sudah mulai tertutup, tiba-
tiba HP Dira berdering. Ternyata panggilan tersebut dari
Rumah sakit daerah tempat ayahnya bekerja. Dira pun
terkejut mendengar kabar bahwa ayahnya mengalami
kecelakaan pada saat bekerja. Ayah Dira berprofesi
sebagai kuli bangunan-bangunan tinggi. Dira pun
langsung memberitahu kabar ini kepada ibunya dan si
kembar. Mereka langsung menuju ke rumah sakit dengan
pakaian seadanya tanpa membawa apapun.
Sesampainya di rumah sakit, Ayah mereka masih
berada di ruang operasi. Kata dokter, Ayah mereka
mengalami patah tulang pada bagian kaki dan luka robek
pada bagian perut. Hal ini membutuhkan waktu yang
lama dalam mengoperasinya. Dira berusaha
menenangkan ibunya dan si kembar. Mereka berdoa
bersama-sama agar Ayah mereka selamat.
62
Setelah beberapa jam menunggu, dokter pun
keluar dari ruangan operasi dengan membawa berita
yang cukup baik dnegan mnegatakan bahwa operasi
yang dilakukan pada Ayahnya berhasil dan akan
dipindahkan ke ruang perawatan untuk memantau
perkembangan Ayahnya.
Dira dan si kembar terpaksa izin sekolah untuk
menjaga Ayahnya. Warung makan pun juga ikut tutup
karena Ibunya selalu berada di rumah sakit untuk
menemani Ayahnya.
Setelah beberapa jam kemudian, Ayah pun
tersadar. Tangisan di dalam ruangan tersebut meluap
karena Ayah telah sadar, mereka pun memanggil dokter
untuk memeriksa keadaan Ayah mereka. Dokterpun
mengatakan bahwa kondisi Ayah mereka mulai
membaik, tetapi untuk luka dan patah tulang ini
memerlukan waktu yang lama dalam penyembuhannya.
Ayahnya dirawat beberapa hari di rumah sakit untuk
penyembuhannya. Tetapi Ibunya merasa gelisah, untuk
memikirkan biaya pengobatan Ayahnya karena mereka
tidak memiliki cukup uang untuk membiayai rumah
sakit. Dira pun mengatakan kepada Ibunya, bahwa ia
71
memiliki cukup tabungan untuk membiayai rumah sakit.
Karena Dira menabungkan uang hasil kerja paruh
waktunya dan kerja lainnya untuk melanjutkan kuliah.
Tetapi Dira menyerahkan uang tersebut kepada Ibunya
untuk pengobatan Ayahnya. Ibunya pun menanyakan
kepada Dira uang apakah ini walaupun Ibunya telah
mengetahui bahwa uang ini adalah uang tabungan kuliah
Dira, karena ia meletakkan tabungannya di atas lemari
rak bukunya, tetapi Dira tidak mau memberitahu kepada
Ibunya uang apa itu.
Ibunya memilih untuk mencari cara lain untuk
membayar pengobatan Ayahya dengan meminjam uang
kepada tetangganya yang baik. Namun, Dira lebih dulu
membayarkan biaya operasi Ayahnya tersebut. Ibunya
merasa sangat menyesal dengan hal itu, karena tidak
memiliki cukup uang. Dira pun mengatakan kepada
Ibunya bahwa tidak apa-apa untuk menggunakan
uangnya tersebut.
Ayahnya pun pulang dengan keadaan sehat,
tetapi masih memerlukan waktu istirahat yang cukup
lama dan tidak boleh kecapekan. Dira dan si kembar pun
82
sudah mulai sekolah kembali dan menjalankan kegiatan
seperti biasanya.
Setibanya di sekolah, Dira dipanggil untuk
menemui guru konseling yang menanyakan apa
keputusan yang diambil oleh Dira. Dira pun telah
memikirkannya cukup lama dan ditambah lagi dengan
keadaan Ayahnya yang sedang tidak baik-baik saja. Ia
tidak mau membebankan kedua orang tuanya dengan ia
melanjutkan kuliah. Dira pun memutuskan untuk tidak
melanjutkan untuk berkuliah dan menjelaskan alasannya.
Guru konseling pun dengan berat hati menyayangkan
Dira karena tidak melanjutkan pendidikannya.
Sepulang sekolah, Dira pun berpikir sambil
berjalan menuju ke sekolah si kembar. Sebenarnya ia
masih ingin untuk melanjutkan pendidikannya, tetapi
bagaimana lagi ia harus merelakan cita-citanya tersebut.
Dalam perjalanan, ia melihat sebuah mobil yang
melaju dengan kencang menabrak tiang dan rumah
warga. Karena Kawasan itu sangat jarang dilalui oleh
orang, ia pun langsung dengan sigap menolong orang
kecelakaan tersebut.
91
Si pengandara mobil tidak sadarkan diri dan
hampir kehilangan dneyutnya, karena kemampuan yang
dimiliki oleh Dira yang telah memahami sedikit tentang
menangani orang yang jantungnya lemah, Dira pun
dengan cepat menekan dada orang tersebut seperti
gerakan memompa. Setelah itu, ia mengecek apakah
denyut nadinya telah kembali atau belum. Akhirnya,
denyut nadi si pengendara pun kembali dan warga yang
sudah berdatangan telah menelepon Rumah Sakit. Si
pengendara mobil pun dibawa ke rumah sakit dan Dira
ikut bersama mereka. Keluarga dari korban tersebut
langsung menghampiri Dira untuk berterima kasih telah
menyelamatkan nyawa korban tersebut.
Tak lama setelah kejadian kecelakaan itu, Dira
menjalankan kegiatan sehari-harinya seperti biasa. Saat
Dira sedang menjaga warung, tiba-tiba datang seorang
bapak-bapak yang mukanya tak asing. Ternyata bapak
itu adalah orang diselamatkan oleh Dira pada waktu
kecelakaan dahulu. Bapak itu telah mencari Dira
kemana-mana dan akhirnya bertemu karena ingin
mengucapkan terima kasih. Bapak itu ingin
menyampaikan maksud kedatangannya adalah dengan
120
memberikan uang kepada Dira sebagai tanda terima
kasih, namun Dira pun menolak karena ia menolongnya
dengan ikhlas. Bapak tersebut mengatakan bahwa
sebelum kecelakaan, ia juga ingin mencari Dira untuk
memberikan sebuah bantuan atau beasiswa untuk
melanjutkan kuliahnya, namun malangnya bapak itu
menggalami kecelakaan. Kebetulan sekali yang
menolong bapak tersebut adalah Dira. Dira tidka sadar
bahwa guru konseling telah mendaftarkan nama Dira ke
beasiswa dan berbagai bentuk bantuan untuk membiayai
pendidikan Dira selanjutnya.
Bapak tersbeut memberikan uang dnegan jumlah
yang cukup banyak kepada Dira untuk bisa melanjutkan
pendidikannya. Dira pun menangis dan merasa berterima
kasih kepada bapak tersebut dan guru konselingny
karena telah mendaftarkannya. Dira pun langsung pulang
kerumah dan mencertakan hal ini kepada Ibu dan
Ayahnya, mereka juga tampak snagat sennag dan
Bahagia mendengar hal itu. Hari itu, dipenuhi oleh
tangisan haru Dira.
Pada esok harinya, Dira langsung menemui guru
konselingnya dan berterima kasih sekali kepadanya
111
karena telah membantu dalam mewujudkan cita-citanya
tersebut. Dira pun kembali berkonsultasi dengan gurunya
dan mengatakan bahwa ia akan melanjutkan pendidikan
ke jenjang perkuliahan dengan jurusan dan universitas
yang telah ditentukannya sejak awal tadi.
Semua ini terjadi karena kesabaran dan ketegaran
Dira dalam mempertimbangkan segala sesuatu. Dira
yang selalu memikirkan keluarganya dan orang lain
tanpa ingin membebani orang lain, sehingga ia
mendapatkan sebuah hasil dari sikapnya tersebut.
122
Love Yourself
Namaku Serli, seorang siswa yang memiliki
penampilan berbeda dari aku yang dahulu. Pada saat hari
pertama aku masuk sekolah, aku adalah murid baru yang
benar-benar baru. Soalnya selama liburan, aku menjalani
diet dan berhasil besar. Aku keluar dari masa kegelapan
sebagai orang gemuk. Berat badanku mencapai rekor
terkurus. Setelah dietku berhasil, aku beli jaket, baju,
lalu tas dan sepatu. Lalu untuk pertama kalinya aku
tampil percaya diri di depan orang banyak.
Saat menuju gerbang masuk sekolah aku bertemu
dengan Yuna yakni sahabatku sejak masih kecil, aku
selalu melakukan apa yang disuruh oleh Yuna. Ia
merupakan sisiwi tercantik di sekolah dan juga kaya.
Tetapi dia sangat tertutup dengan orang lain sehingga ia
selalu menempel denganku kemana pun aku pergi.
Pada awal masuk ini, aku akan mencari teman
selain Yuna bagaimana pun caranya. Aku pun bertemu
dengan siswi cantik lagi yang duduk di depanku yang
bernama Syila. Ia tampak baik dan ramah sekali
113
denganku. Kami pun mengobrol dan memutuskan untuk
menjadi teman.
Pada saat jam istirahat, aku kaget melihat Yuna
yang juga sudah memiliki teman baru, padahal dia
merupakan orang yang tidak bisa berteman dengan siapa
pun. Ternyata dialah yang mendekati Yuna terlebih
dahulu, karena mereka sekelas. Ini suatu kemajuan untuk
Yuna.
Teman yang dibawa oleh Yuna itu bernama Miki.
Ia juga memiliki rupa yang sangat cantik, sepertinya
blasteran. Sejak saat perkenalan itulah, mereka jadi
sering berkunjung ke kelasku untuk mengajakku makan
ke kantin dan mengobrol. Saat itu juga, aku merasa telah
berada diantara putri-putri kerajaan dan aku kurcacinya.
Aku tidak sebanding dengan kecantikan mereka. Tapi
aku tidak masalah, karena mereka memang berteman
denganku bukan karena hal fisik atau apapun itu. Mereka
hanya telah menemukan orang yang sesuai dan nyaman
dengan mereka untuk dijadikan teman. Semenjak itu,
kami selalu pergi bersama-sama.
Mereka terlalu cantik dan tampak menarik
perhatian orang lain, setiap kami jalan berempat kami
124
selalu diperhatikan dengan mata yang mengangumi
teman-teman ku yang cantik ini, sedangkan aku mungkin
adalah orang yang dianggap ada jika berjalan di samping
mereka. Tetapi teman-temanku menganggapku istimewa
dan tidak mengabaikanku. Aku suka berteman dengan
mereka yang tidak membeda-bedakan dalam berteman.
Sepulang sekolah, seperti biasa Ayah
menanyakan bagaiman keadaan di sekolah dan memuji
diriku yang tampak cantik. Ayahku memang sering
memujiku, Ia adalah Ayah yang terbaik di seluruh dunia.
Saat disekolah tadi sebenarnya aku merasakan
ada kejanggalan. Orang-orang banyak mengambil foto
kami dan ada juga yang mengunggahnya di media sosial
milik kelasku. Ada yang berkomentar buruk tentangku
karena berteman dengan mereka bertiga. Aku berpikir
sepertinya aku harus menjauh dan tidak terlalu dekat
dengan mereka.
Keesokan harinya, aku memutuskan untuk
menghindari mereka dan berteman dnegan teman yang
lain. Karena aku sekelas dengan Syila, aku merasa akan
kesusahan untuk menghindarinya. Ternyata cukup
mudah menghindarinya, karena ia adalah orang yang
115
pemalu dan belum punya cukup keberanian untuk
membuka sebuah percakapan. Waktu pelajaran olahraga
ia merasa dikucilkan karena tidak ada yang mau
berpasangan dengannya. Aku tidak tega melihat ada
orang yang seperti itu, kemudian aku menjadi
pasangannya pada saat jam olahraga.
Aku memikirkan sesuatu, mengapa aku
menghindari Syila, padahal dia sangat baik dan ramah
kepadaku. Kedepannya aku akan terus menjadi teman
dekat untuknya.
Pada saat jam istirahat, seperti biasa Yuna dan
Miki pergi ke kelasku untuk mengajak makan di kantin.
Tetapi aku lagi malas untuk makan di kantin, kemudian
Yuna memutuskan untuk tidak makan juga, dan yang
lain pun ikut untuk tidak ke kantin juga. Karena kami
tidak ke kantin, Miki pun membawakan kami makanan
yang dibelinya saat sebelum berangkat sekolah ke taman
tempat kami duduk. Syila pun juga membawa bekalnya
yang telah disiapkan oleh dirinya sendiri dari rumah.
Aku juga tidak lupa membawa roti yang dibuat oleh
Ayahku, karena Ayahku memiliki usaha toko roti. Aku
membagi roti-rotiku dengan Yuna. Kemudian Miki dan
126
Syila juga kuberikan. Kami saling berbagi makanan.
Saat Syila juga menawarkan bekal miliknya kepadaku
aku sangat senang dan langsung mencobanya, ternyata
Syila adalah orang yang sangat pandai memask.
Kemudian Syila juga menawarkan kepada Miki dan
Yuna. Tetapi Yuna menolaknya, karena Ia tidak suka
makanan bekas milik orang lain kecuali punyaku. Yuna
memang orang yang dingin dan sangat kaku. Melihat
penolakan dari Yuna, Syila pun merasa sedih dan
kecewa. Kemudian aku menenangkan Syila dan
menghidupkan kembali suasana yang tadi tegang.
Untung saja Syila memahami sikap Yuna dan mereka
segera berbaikan. Walaupun Yuna masih biasa-biasa
saja.
Selain sering bepergian dengan Yuna, sekarang
aku juga sering bepergian dengan Miki. Ia orangnya asik
dan menyenangkan, bisa dibilang dia seperti tidak punya
sedikit, tetapi masih batas wajar. Karena itu, kami
menjadi sangat dekat sekarang.
Saat disekolah, Aku dan Syila sekelompok untuk
mengerjakan tugas penelitian. Sikap Syila yang pemalu
menjadi ketidaknyamanan bagi anggota lainnya. Pada
117
saat itu teman-teman yang lain jadi membicarakan
tentang Syila dibelakang. Padahal Syila bukan tidak
ingin berteman, ia hanya membutuhkan waktu untuk
terbuka dengan orang lain. Aku selalu berada di dekat
Syila agar dia tidak sedih karena tindakan teman lainnya.
Syila memiliki permaslahan dalam berteman, ia
tidak memiliki kepercayaan diri dalam membangun
sebuah pertemanan dengan orang lain. Ia takut
ditinggalkan dan dikhianti nantinya. Mungkin ia
memiliki pengalaman yang buruk dalam berteman
dahulunya. Tetapi aku akan membantunya untuk bisa
membuat Syila lebih terbuka lagi dengan orang lain dan
membuktikan bahwa tidak semua orang memiliki sifat
yang sama seperti itu. Lama kelamaan rumor buruk
tentang Syila pun menghilang dan ia sudah mulai bisa
terbuka dengan teman di kelas.
Saat aku berjalan pulang menuju rumah, aku
melihat sebuah gaun yang sangat cantik seperti gaun
putri kerajaan. Sejak dulu aku ingin sekali memakainya,
tetapi itu tidak cocok denganku karna sewaktu kecil
rambutku sangat pendek hampir mirip seperti laki-laki
dan baju-baju yang kupakai adalah baju bekas kakak ku.
128
Sehingga aku dulu mirip sekali dengan laki-laki.
Selanjutnya aku melihat toko kosmetik, yang sangat
menarik perhatianku adalah ada seorang Wanita cantik
yang berdiri disana sedang memilih benda yang akan
dibelinya. Aku pun masuk ke toko tersebut dan melihat-
lihat ke sekitar. Sebenarnya aku tidak mengetahui
tentang make up, karena aku hanya menggunakan
pelembab, bedak, dan lip balm saja ketika pergi.
Aku mencoba beberapa lip tint, tetapi sepertinya
ini tidak cocok denganku. Aku berpikir harus kembali ke
tempatku yakni dengan muka yang selalu polos tanpa
polesan make up. Wanita cantik tersebut menghampiri
ku karen aku terlihat bingung dengan peralatan make up,
kemudian ia juga memberitahuku make up mana saja
yang cocok denganku. Aku mencoba memakai lip tint
yang dipilihkannya, lalu ia memujiku dengan
mengatakan bahwa aku cantik sekali. Kemudian ia lanjut
mendandani ku dengan maku up yang natural. Saat aku
berkaca, aku tampak seperti orang yang berbeda dan
terlihat sangat cantik. Aku berterima kasih kepadanya
karena sudah mendadaniku. Aku mencoba melakukan
hal baru ini.
119
Keesokan harinya di sekolah, aku mencoba untuk
berdandan lagi tetapi hasilnya tidak sama dengan yang
dibuat oleh Wanita cantik kemarin. Aku pikir itu tidak
masalah, aku harus percaya diri dan berangkat ke
sekolah.
Setibanya di sekolah, Yuna, Miki, dan Syila telah
berkumpul di kelasku. Mereka bertanya kepadaku,
dimana aku belajar berias. Aku mengatakan bahwa itu
aku sendiri yang mencobanya. Tampaknya make up ku
terlihat aneh, kerena sejak tadi banyak tertawa melihat
aku saat berjalan menuju kelas. Mereka menenangkan
untuk tidak terlalu bersedih karena ini adalah pertama
kalinya buatku. Tetapi Yuna menegaskan kepadaku
untuk menghapus make up tersebut Seperti biasa, Yuna
emang memiliki sikap yang sangat keras. Aku berpikir
untuk melakukan perubahan sedikit, tetapi sepertinya
aku malah berubah terlalu banyak.
Saat pulang sekolah mereka mengajak untuk
tetap tinggal di kelas. Sepertinya mereka mau
mendandaniku, karena mereka terlihat membawa pouch
make up. Aku didandani oleh mereka senatural mungkin,
dan dengan perasaan yang tidak percaya bahwa hasilnya
220
sangat bagus. Mereka memang tahu apa yang
membuatku merasa lebih baik, terutama Yuna yang
selalu peduli kepadaku tentang apa pun itu.
Selama di sekolah, aku selalu mendengar dari
teman-teman yang lain bahwa aku tidak cocok bermain
dengan mereka, karena aku sangat berbeda. Aku selalu
dibanding-bandingkan, tidak dianggap, dan bahkan aku
sering dijadikan media orang yang suka dengan mereka
untuk mendekati mereka secara alami. Aku sangat
sayang dengan mereka, tetapi aku tidak ingin terkurung
dalam situasi ini terus-menerus. Aku ingin bebas
secepatnya.
Akhirnya, aku mengatakan dengan baik kepada
mereka, bahwa aku ingin mencari teman baru dan
suasana baru karena aku tidak nyaman jika bersama
mereka. Mereka pun mengerti hal itu, dan meminta maaf
kepadaku, lalu mereka perlahan tidak mengganggku.
Aku pun mulai berteman dengan teman yang
lain. Aku melihat Yuna yang selalu murung di kelasnya.
Aku pun merasa sangat bersalah. Kenapa aku hanya
memikirkan diriku sendiri, kenapa aku tidak percaya
diri, padahal mereka menerimaku apa adanya, mereka
211
berbeda dengan orang-orang yang pernah kutemui
sebelumnya. Hal itu membuatku memutuskan untuk
tidak seperti itulagi. Aku mulai bermain bersama
mereka lagi yakni Yuna, Miki, dan Syila. Aku sudah
tidak peduli dengan apa yang dipikirkan oleh orang lain
tentang diriku. Yang terpenting adalah aku tidak
kehilangan jati diriku dan teman-teman baikku yang
selalu ada disampingku kapanpun aku membutuhkannya.
222
Bahagia Itu Sederhana
Namaku Natasya, biasa dipanggil Aca. Aku
duduk di kelas 1 SMA . Aku anak terakhir dari lima
bersaudara. Aku mempunyai 2 kakak laki-laki dan 2
kakak perempuan. Kakak ku yang pertama bernama Ani,
yang kedua Rudi, yang ketiga Rara, dan yang keempat
Tio. Umurku terpaut cukup jauh denganku, Aku saja
berbeda 5 tahun dengan Kak Tio. Aku menjadi anak
kesayangan mama papa ku karena kakak-kakak ku sudah
memiliki kepentingan mereka masing-masing, sehingga
mereka sangat jarang berada di rumah. Terlebih lagi 3
kakak ku sudah menikah dan tinggal jauh dari rumahku.
Aku terbilang dari keluarga yang tercukupi,
apapun yang aku butuhkan, orangtuaku akan
memberikannya selagi itu hal yang bermanfaat buatku.
Sejak kecil aku diajarkan untuk tidak sombong, tetap
rendah hati, dan jangan terlalu mementingkan
kesenangan di dunia saja, karena harta kita yang ada saat
ini merupakan titipan dari Allah SWT. yang diberikan
kepada kita untuk sementara. Aku diajarkan untuk
bersikap mandiri dan tidak boleh mengeluh. Setiap kali
213
aku bepergian, aku selalu melihat orang-orang yang
kurang mampu sedang mengamen, meminta-minta, dan
ada juga yang berusaha dengan berjualan.
Pada suatu hari, aku sedang berjalan menuju ke
rumah karena jarak antara rumahku dan sekolah sangat
dekat, hanya membutuhkan sekitar 5 menit saja dengan
berjalan kaki. Aku melihat seorang ibu dan anak-
anaknya sedang duduk di taman untuk makan siang.
Sepertinya mereka habis mengamen. Aku melihat
kehangatan dna keharmonisan mereka pada saat mereka
makan. Senyuman yang tulu dan tawa dari sang anak
membuat orang yang melihat situasi itu akan ikut
bahagia juga. Ternyata bahagia itu tidak harus tentang
uang, tentang teman, tentang dunia, dan tentang lainnya,
melainkan dari kehangatan yang terbentuk dari sebuah
keluarga.
Aku terbilang cukup jarang berkumpul dengan
keluargaku. Orangtua ku sering bekerja ke luar kota,
Aku dan kakak ku Tio yang hanya tersisa di rumah.
Tetapi kak Tio pun juga jarang ada di rumah karena ia
sibuk dengan kegiatan yang ada di kampusnya dan
pulang pada sore atau malam hari. Walaupun kak Tio
224
sibuk, pada saat weekend, ia selalu menyempatkan diri
untuk mengajakku pergi kemana pun yang aku mau.
Sebab kak Tio belum punya pacar, jadi aku bisa
menikmati hari liburku dengan kakakku. Meskipun
hanya berdua saja kami tetap bersenang-senang.
Orangtuaku pulang sekali sebulan dan kakakku
yang lainnya juga terkadang mampir sebentar untuk
membawakan ku hadiah, oleh-oleh atau apapun itu.
Sebenarnya aku merasa masih kurang dengan itu semua,
karena yang aku butuhkan adalah mereka berkumpul
disini setidaknya hanya sekali saja, tetapi itu mungkin
snagat sulit untuk diwujudkan. Tetapi aku tetap merasa
bersyukur masih diberikan keluarga yang baik dan
harmonis seperti ini. Karena tidak semua orang memiliki
keluarga yang lengkapa seperti ku, ada juga orang yang
merasa kekurangan. Jadi, aku harus tetap tersenyum dan
jangan bersedih.
Semester satu pun hampir berakhir dan tiba
saatnya untuk menerima lapor hasil belajarku selama
semester satu ini disekolah ini. Wali kelasku meminta
untuk mengundang orang tua atau kakak ku untuk
mengambil rapor, tetapi aku mengatakan bahwa orang
215
tuaku sedang bekerja dan kakakku juga sedang sibuk,
Jadi, tidak ada yang bisa mengambil rapor ku. Wali
kelasku pun menelepon orang tua ku dan berbincang
dengan mereka cukup lama, aku tidak tau apa yang
mereka bincangkan hingga selama itu. Kemudian Wali
kelas ku, segera memulai membacakan siapa-siapa saja
yang termasuk dalam 5 besar. Aku bersyukur
mendapatkan juara 1 di semester ini, kedepannya aku
akan meningkatkan usahaku dalam belajar pikirku dalam
hati. Tetapi kenapa aku tidak merasa sesenang itu,
padahal aku mendapatkan juara satu. Ini disebabkan
tidak ada yang maju bersamaku kedepan dan
mengalungkanku sebuah piagam. Sedangkan teman-
teman ku yang tidak mendapatkan posisi pertama,
tersenyum lebar bersama orang tuanya sambil
berpelukan. Wali kelasku pun menghampiriku dan
memberikan piagam itu kepadaku. Wali kelas
menemaniku selama sesi berfoto. Aku sempat ingin
menangis tetapi untuk apa aku menangis, aku diajarkan
untuk selalu tegar dan tidak mengeluh.
Sepulang sekolah ada yang menelepon ku yaitu
kakak ku, ia mengatakan selamat kepada ku dan tetap
226
berada di rumah, karena ia tidak bisa pulang karena
masih ada kegiatan di kampusnya. Jika tidak ada orang
di rumah, aku selalu pergi ke tempat temanku yang
bernama Rino. Ia sudah seperti saudaraku karena kami
sudah berteman sejak kecil. Mama Rino berteman baik
dengan mamaku dan juga sangat baik. Terkadang aku
menginap di rumahnya. Bahkan aku mempunyai sebuah
kamar sendiri ketika aku menginap di rumah Rino. Hal
ini disebabkan karena aku sudah sering ditinggal sejak
dari masih kecil.
Rino menjadi teman ku bercerita, berbagi keluh
kesah, berbagi kesulitan, dan segalanya. Kadang aku
merasa iri dengan Rino, karena ia selalu bersama mama
nya sepanjang waktu, walaupun papanya sudah tidak
ada, aku merasa Rino sangat bahagia.
Malam itu aku berpikir, kapan aku bisa
berkumpul dengan keluargaku, sudah lama aku tidak
merasakan keramaian di rumah, yang kurasakan hanya
sebuah keheningan dalam ruangan yang cukup besar,
aku terkadang merasa sesak dan ingin menemui mereka
satu per satu dan membicarakan hal ini, tetapi aku tidak
bisa, karena itu adalah sikap yang egois menurutku.
217
Ketika matahari belum muncul, Rino mengajak
ku untuk keluar untuk olahraga. Kebetulan hari ini
adalah hari minggu, jadi kami bisa menghabiskan waktu
untuk hal-hal yang bermanfaat sambil menghilangkan
beban pikiran.
Rino memang selalu mengerti apa yang
kubutuhkan, Ia sering melontarkan candaan kepadaku
tentang apapun itu yang bisa membuat ku tertawa. Aku
merasa nyaman dengan suasana ini, aku ingin terus
merasakan kenyamanan ini terus menerus.
Siang harinya, Rino mengajak ku untuk pergi ke
taman bermain. Disana kami melakukan banyak hal
seperti membeli makanan, menaiki wahana, berbagi
makanan dengan hewan, dan masih banyak lagi yang
kami lakukan. Hingga tiba pada malah hari, kami
berhenti untuk makan di sebuah restoran di dekat taman
bermain, ternyata tempat itu telah di pesan oleh Rino
untuk kami. Suasana restoran itu sangat tentram dan
damai, diiringi music jazz yang kusukai dan harum
bunga yang menyejukkan.
Biasanya Rino tidak pernah melakukan hal yang
seperti ini, tetapi mengapa ia aneh saat ini. Aku pun
228
bertanya kepadanya, apakah ada yang sedang berulang
tahun atau apakah ada tanggal penting yang ku lewatkan.
Ternyata tidak ada. Jadi, aku bertanya lagi kepad Rino,
untuk apa semua ini dipersiapkan. Ia mengatakan bahwa
ia ingin menghiburku saat sedih, menemaniku saat
sendiri, menghampiriku saat aku membutuhkannya, dan
menjadi sandaran untukku. Awalnya kau tidak mengerti
maksud dari ucapannya, aku pun tertawa terbahak-bahak
karena ucapannya sama sekali tak bisa ku mengerti. Lalu
ia menegaskan bahwa ia suka dengan ku dan mengajak
untuk berpacaran. Aku pun terkejut mendengarnya.
Pada awalnya aku berteman dengannya karena ia
sangat lucu denganku, sewaktu kecil ia selalu
mentertawakan ku jika aku menangis. Sejak saat itu aku
sudah tidak pernah menangis di depannya karena itu
sangat menjengkelkan. Kemudian, ketika memasuki
SMP, kami masuk ke sekolah yang sama tetapi berbeda
kelas. Kata teman-temanku, Rino orang yang sangat
dingin dan susah diajak untuk berteman, tetapi aku
langsung menyangkalnya karena Rino yang aku kenal
tidak seperti itu. Temanku menunjukkan sebuah bukti
dengan mengajakku ke kelasnya dan melihat
219
perilakunya. Ternyata benar bahwa Rino berperilaku
seperti apa yang dibilang oleh orang-orang. Aku pun
menanyakan hal itu kepadanya dan ia menjawab bahwa
ia malas berurusan dengan orang lain selain aku. Aku
pun menjadi terkejut dan langsung mengajak nya
bercanda.
Ternyata sejak itu, ia telah menyatakan
perasaannya diam-diam kepadaku. Aku pun langsung
menjawab ajakannya tadi dengan jawaban “YA”. Kami
pun resmi berpacaran. Aku menjalani hari-hari sepiku
dengan Rino. Tetapi kenapa aku merasa masih ada yang
kurang, apakah aku memang membutuhkan keluargaku
untuk menemaniku.
Tiba waktunya untuk orang tua ku pulang ke
rumah. Aku dibawakan makanan kesukaan ku, baju, dan
sepatu yang aku inginkan. Aku ingin langsung
membicarakan permasalahanku dengan orang tua ku,
tetapi masih belum punya kesempatan karena orang tua
ku juga sesibuk di sana waktu jauh dari diriku.
Keesokan harinya, saat sarapan di meja makan,
Aku, mama, papa, dan kak Tio duduk bersama-sama.
Aku pun menghentikan makan ku untuk membicarakan
320
sesuatu yang sudah lama ingin kubicarakan. Mereka pun
juga berhenti untuk makan dan mendengarkan
keinginanku. Aku mengatakan bahwa kepada mereka
“Apakah aku bisa merasakan kehangatan sebuah
keluarga? walaupun mama, papa, dan kakak-kakak
masih memberikan perhatian kepadaku dengan barang-
barang, sebenarnya bukan itu yang kubutuhkan. Aku
meminta barang-barang kepada kalian, karena aku ingin
berkomunikasi dengan kalian seperti teman-temanku
yang bisa menceritakan keinginannya, keluh kesahnya,
kepada keluarganya sendiri. Aku tau ini memang
tindakan egois, aku ingin kalian selalu memberikan kasih
sayang yang benar-benar tulus kepadaku. Setiap kali aku
melihat orang lain bersama dengan keluarganya,
mentertawakan hal yang sederhana, aku merasa ingin
berteriak dan menangis. Karena aku ingin sepeti itu juga.
Itulah yang aku inginkan sejak dahulu, ini kusampaikan
karena aku tidak bisa menahan ini lagi”. Setelah
mngatakan semuanya, mama dan papaku langsung
memelukku dan meminta maaf kepadaku karena mereka
terlalu sibuk bekerja sehingga mereka melupakan putri
kecil mereka yang membutuhkannya.
311
Semenjak itu, mama dan papa ku bekerja dari
rumah saja, karena pekerjaannya bisa atasi oleh asisten
mereka masing-masing. Kemudian kakak-kakak ku juga
sering berkunjung untuk bermain dna menginap di
rumah. Kami pun merencanakan untuk pergi berpiknik
setelah aku selesai ujian dan mendapatkan nilai yang
bagus. Tak lupa dengan Rino yang juga sering
berkunjung ke rumah ku, walaupun kami belum
memberitahu kepada kedua orang tua kami tentang
hubungan kami.
Beberapa minggu kemudian, piknik yang
ditunggu-tunggu pun sudah di depan mata. Aku telah
menerima rapor semester dua dan ditemani oleh mama
ku. Aku sangat senang sekali akhirnya bisa berdiri di
depan kelas bersama mama ku. Kami pergi piknik
dengan beberapa mobil dan menginap disana selama 2
hari. Inilah keinginan yang sejak dulu aku inginkan,
kebersamaan, kehangatan, yang tidak bisa digantikan
oleh apapun. Aku sangat senang sampai ingin menangis.
322