TAHUKAH SAUDARA TENTANG MAKNA DAN SEPERTI APA PUASA MENURUT ALKITAB?
Laku spiritual dalam bentuk berpuasa, bukanlah sebuah hal asing dalam Alkitab. Dalam Perjanjian Lama puasa dituliskan dalam beberapa bentuk yakni tsum, tsom, dan ‘inna nafsyό. Arti harafiahnya: merendahkan diri dengan berpuasa. Jika berkaca pada Perjanjian Lama, ada beberapa makna dibalik ritual puasa, antara lain: 1. Pernyataan Pertobatan (I Samuel 7:6; I Raja-raja 21:27; Nehemia 9:1-2; Daniel 9:3-4; Yunus 3:5-8). Ayat-ayat ini menggambarkan pertobatan perorangan, maupun umat atau bangsa atas dosa-dosa yang telah mereka lakukan. Biasanya puasa pernyataan bertobat ini disertai dangan mengenakan pakaian kabung dan abu di kepala. Kitab Yunus menggambarkan puasa pertobatan dengan sangat gamblang. Pemberitaan yang disampaikan Nabi Yunus kepada bangsa Niniwe, bahwa jika bangsa itu tidak bertobat mereka semua akan dihukum. Lalu raja Niniwe memerintahkan semua rakyat beserta hewan ternaknya harus berpuasa dan berkabung. Panitia MPMP GKJ Tangerang
2. Bukti lahiriah ungkapan dukacita (I Samuel 31:13; 2 Samuel 1:12; 3:35; Nehemia 1:4; Ester 4:3; Mazmur 35:13-14). Ayat-ayat di atas mencatat puasa sebagai cara untuk mengungkapkan dukacita karena kematian kerabat atau kondisi bangsa yang sedang mengalami penderitaan. Tentu di dalam suasana dukacita, puasa tidak dimaksudkan untuk menyiksa diri melainkan tetap memohon pertolongan dan belaskasihan dari Tuhan. Lamanya puasa tergantung perkabungan dan dukacita yang sedang dirasakan oleh seseorang atau umat. Bisa tujuh hari (I Sam 31:13) atau beberapa hari (Neh.1:4). 3. Merendahkan diri di hadapan Tuhan (Ezra 8:21; Mazmur 69:11). Kitab Ezra mencatat perjalanan kembali umat menuju Yerusalem. Ketika berada di tepi sungai Ahawa, Ezra mengajak umat yang dipimpinya untuk berpuasa, puasa dimaksudkan untuk, “…supaya kami merendahkan diri di hadapan Allah kami dan memohon kepada-Nya jalan yang aman bagi kami, bagi anak-anak kami dan segala harta benda kami.” Panitia MPMP GKJ Tangerang
4. Memperoleh bimbingan dan pertolongan dari Tuhan (Keluaran 34:28; Ulangan 9:9; 2 Samuel 12:16-23; 2 Tawarik 20:3-4). Keluaran 34:28 dan Ulangan 9:9 mencatat peristiwa Musa tidak makan dan tidak minum selama 40 hari dan 40 malam. Musa melakukan hal itu ketika berhadapan langsung dengan TUHAN dan menerima Sepuluh Hukum TUHAN. Panitia MPMP GKJ Tangerang
Itulah beberapa makna atau motivasi seseorang atau umat dalam menjalankan ritual puasa. Meskipun demikian ada juga persepsi yang keliru dan dikritik dalam Perjanjian Lama ini. Misalnya, ada orang yang berpikir dengan tindakannya melakukan puasa, otomatis akan menjamin bahwa Allah akan mendengar dan mengindahkan apa yang ia minta. “Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?” (Yesaya 58:3a) Untuk menentang hal ini para nabi menyatakan, bahwa tanpa kelakuan yang benar, tindakan berpuasa adalah ibadah yang mubazir (Yesaya 58:5- 12; Yeremia 14:11-12; Zakharia 7:1-14) Rupaya TUHAN menghendaki puasa itu bukan dalam bentuk formalitas dan ritual: Tidak makan, tidak minum, dan berpakaian kabung, sehingga mudah ditengarai orang lain. Rupanya pada zaman itu manusia https://online.anyflip.com/hkewe/umkp/mobile/index.html telah terjebak pada formalitas ritual dan mengabaikan makna sesungguhnya dari puasa. Sehingga melalui Yesaya, TUHAN menegur cara ibadah yang demikian: “Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggubelenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memecah-mecahkan rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!” (Yesaya 58:6,7) Dengan kata lain, manfaat puasa atau ibadah yang benar itu adalah: hidup dalam terang, mengupayakan pemulihan, kebenaran, semakin mendengar tuntunan TUHAN dan menjadi saluran berkat bagi orang lain. Panitia MPMP GKJ Tangerang
Dalam Perjanjian Baru, puasa rupanya sudah melembaga dan menjadi standar kesalehan bagi orang Yahudi. Orang Farisi, misalnya tidak hanya berpuasa pada hari-hari tertentu (:Hari Pendamaian) namun, mereka melakukannya juga setiap Hari Senin dan Kamis, seminggu dua kali (bnd. Lukas 18:12). Akibatnya ritual puasa seperti ini berpotensi sebagai cara untuk memamerkan kesalehan di depan publik. Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya jika mereka berpuasa, hakekatnya mereka berhadapan dengan Allah bukan dengan manusia (Matius 6:16-18) karena itu puasa jangan dijadikan alat pamer atau sikap permisif. Muka menjadi muram dan lesu, tidak melakukan pekerjaan seperti biasa, lemas karena puasa. Yesus malah menganjurkan agar untuk meminyaki rambut, mencuci muka agar selalu terlihat fresh, tidak kumal, atau pucat sehingga tidak ada seorang pun menyangka bahwa dia sedang berpuasa. Rupanya Yesus menghendaki setiap bentuk ibadah, baik itu doa, memberi sedekah dan puasa sama sekali bukan untuk pamer kesalehan. Melalui paparan di atas jelaslah orang Kristen mengenal puasa. Namun, puasa yang dimaksud bukan lagi sebagai sarana untuk mendepositkan amal ibadah suapaya TUHAN memperhitungkannya sebagai pertimbangan keselamatan. Karena dalam keyakinan kristiani keselamatan itu telah Allah anugerahkan kepada manusia melalui Yesus Kristus.
Dalam pelaksanaannya, ada 3 jenis puasa yang sering diungkapkan dalam Alkitab, yaitu: 1. Puasa Biasa Tidak makan apapun, namun tetap minum air putih. 2. Puasa Sebagian (Berpantang) Membatasi makanan yang disukai dan bukan berarti tidak makan apapun sama sekali. 3. Puasa Penuh Tidak makan dan tidak minum selama beberapa waktu.
CARA BERPUASA DALAM TRADISI KRISTIANI Untuk cara berpuasa bisa ditentukan oleh masing-masing pribadi seperti 8 jam, 1 hari, 1 hari 1 malam, 3 hari, 7 hari, 40 hari dan sebagainya. Selain itu tentukan juga apa jenis puasa yang dilakukan (memilih salah satu dari tiga jenis puasa sebagaimana yang dituliskan dalam Alkitab), seperti: tidak makan dan tidak minum, hanya makan sayur saja, puasa kebiasaan buruk seperti tidak merokok, tidak berjudi dan lain sebagainya. Puasa juga dibarengi dengan doa, sehingga pada waktu tertentu perlu menyediakan diri untuk berdoa. 1. Pagi Hari Awalilah aktifitas puasa dengan memuji nama Tuhan dan merenungkan firman Tuhan (bisa menyesuaikan dengan bacaan harian). Lalu berdoa kepada Tuhan, yang isinya: ▪ Pengakuan dosa. ▪ Penyerahan diri kepada Tuhan. ▪ Memohon kekuatan dari Roh Kudus. 2. Siang Hari Sempatkanlah waktu untuk memuji dan berdoa kepada Tuhan, yang isinya: ▪ Mengucap syukur atas anugerah Tuhan. ▪ Memohon kerendahan hati dan sukacita. ▪ Menyatakan ketaatan dan kepasrahan pada kehendak Tuhan. 3. Sore/Malam Hari Akhirlah aktifitas puasa (sebelum makan dan minum) dengan memuji Tuhan dan merenungkan firman Tuhan (bisa menyesuaikan dengan bacaan harian). Lalu berdoa kepada Tuhan, yang isinya: ▪ Pengakuan dosa. ▪ Pengucapan syukur. ▪ Menyampaikan pergumulan dan memohon pertolongan Tuhan. ▪ Memohon kuasa Roh Kudus agar hati diselimuti damai sejahtera.