The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by saverinusgunawan21, 2021-11-10 20:07:48

DRAF BAHAN AJAR fix y (1)

DRAF BAHAN AJAR fix y (1)

BAHAN AJAR
PRAGMATIK

DISUSUN OLEH:
Maria Trifena Salut
Aleksandria Hasna Talibuana
Saverinus Septa Gunawan

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA SANTU PAULUS RUTENG

PRAKATA

Bahan ajar ini menyajikan sebuah konsep dalam kancah ilmu kebahasaan (linguistik).
Konsep tersebut adalah pragmatik yang lebih menitikberatkan kajian pada penggunaan bahasa
sesuai dengan situasi dan kondisi yang sebenarnya. Melalui bahan ajar ini, diharapkan
mahasiswa dapat memahami bahwa kajian bahasa tidak harus diarahkan pada upaya
mengutak-atik bahasa dari segi struktur dan bentuknya saja, melainkan harus dikembangkan
pada konsep hubungan bentuk dengan penggunaan bahasa tersebut di tengah masyarakat.

Dengan demikian, analisis bahasa diharapkan tidak lagi dibatasi pada aspek telaah
terhadap kaidah kebahasaan saja, melainkan telaah penggunaannya di tengah masyarakat juga
perlu diperhatikan. Telaah penggunaan bahasa akan sangat menjanjikan dan akan selalu
berkembang karena wujud kajiannya sangat dinamis daripada telaah yang hanya berkisar pada
hal-hal yang bersifat intrabahasa.

Untuk memahami seluk-beluk tentang pragmatik, dalam bahan ajar ini disajikan
beberapa konsep penting sehubungan dengan pragmatik yakni konsep pragmatik sebagai salah
satu cabang linguistik, konsep pragmatik, latar belakang munculnya pragmatik (yang
terangkum dalam historisitas pragmatik), dan hubungan pragmatik dengan disiplin ilmu yang
lain serta peranan pragmatik dalam studi linguistik. Untuk mengupayakan pemahaman yang
komprehensif tentang konsep pragmatik, mahasiswa diharapkan dan harus membaca bahan
ajar ini secara cermat dan teliti.

Oleh karena itu, sebagai mahasiswa Anda diharapkan dapat mensinkronkan materi yang
disajikan sehingga terwujud pemahaman yang lebih menyeluruh. Salah satu upaya yang dapat
Anda lakukan untuk memahami materi yang disajikan dalam bahan ajar ini, Anda diharapkan
juga mampu mengembangkan konsep yang disajikan dengan memunculkan contoh-contoh
konkret dalam kehidupan berbahasa sehari-hari. Walaupun dalam bahan ajar ini sudah tersaji
beberapa contoh aplikasi dari konsep yang dijelaskan, namun kesediaan Anda untuk lebih
kreatif mencari contoh lain masih sangat bermanfaat. Bila masih ada beberapa konsep yang
sulit Anda pahami, jangan bosan untuk mengulang kembali membacanya sampai Anda
menemukan jalan keluar dari permasalahan yang Anda hadapi. Di samping itu, Anda juga harus
mengerjakan latihan yang disajikan dalam bahan ajar ini guna mengukur sejauh mana
keterpahaman Anda tentang materi yang Anda pelajari.

Selamat belajar!

Salam,

Penyusun.

DAFTAR ISI
PRAKATA ..............................................................................................................................................................................i
DAFTAR ISI...........................................................................................................................................................................ii
BAB I PENGERTIAN, RUANG LINGKUP, DAN SEJARAH PRAGMATIK......................................................1
BAB II HUBUNGAN PRAGMATIK DENGAN CABANG ILMU LAIN, KEDUDUKAN PRAGMATIK
DALAM LINGUISTIK DAN KONTEKS TUTURAN ................................................................................................6
BAB III DEIKSIS..................................................................................................................................................................12
BAB VI TINDAK TUTUR..................................................................................................................................................16
BAB VII PRAANGGAPAN ................................................................................................................................................21
BAB VIII PRINSIP KESANTUNAN DAN PRINSIP KERJA SAMA....................................................................26

BAB IX IMPLIKATUR .......................................................................................................................................................30
BAB X PRAGMATIK DALAM PENGAJARAN BAHASA: SEBAGAI PENDEKATAN DALAM
PEMBELAJARAN DAN SEBAGAI MATERI AJAR..................................................................................................33
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................................................................36

BAB I

PENGERTIAN, RUANG LINGKUP, DAN SEJARAH PRAGMATIK

TUJUAN PEMBELAJARAN:

Mahasiswa mampu:

1. Menginterpretasi pengertian pragmatik dan ruang lingkupnya;

2. Menjelaskan sejarah pragmatik;

PENGERTIAN PRAGMATIK

Dengan mengetahui pengertian pragmatik menurut beberapa ahli berikut, anda
diharapkan mampu menginterpretasikan pengertian pragamatik berdasarkan pemahaman
anda. Istilah pragmatik diperkenalkan oleh seorang filosof yang bernama Charless Morris
ketika ia membicarakan bentuk umum ilmu tanda (semiotic). Ia menjelaskan dalam Levinson
bahwa semiotik memiliki tiga bidang kajian, yaitu sintaksis, semantik dan pragmatik. Sintaksis
merupakan kajian linguistik yang mengkaji hubungan formal antar tanda. Semantik adalah
kajian linguistik tentang hubungan tanda dengan orang yang menginterprestasikan tanda
tersebut. Pragmatik muncul sebagai usaha mengatasi kebuntuan semantik dalam
menginterpretasi makna kalimat.

Stephen C. Levinson (dalam Zamzani, 2007: 16--19), menyatakan bahwa pragmatik
merupakan kajian tentang pemakaian bahasa. Levinson juga memberikan lima sudut pandang
mengenai pragmatik sebagai berikut:

1. Pragmatik dipandang sebagai kajian tentang hubungan bahasa dengan konteks yang
digramatikalisasikan atau yang dikodekan dalam struktur bahasa. Pandangan
tersebut menunjukkan adanya keterkaitan yang erat antara sintaksis dan pragmatik.

2. Pragmatik merupakan kajian aspek makna yang tidak tercakup atau dimasukkan
dalam teori semantik. Pragmatik dipandang memiliki hubungan dengan semantik.
Baik pragmatik maupun semantik kedua-duanya mengkaji tentang makna atau arti.

3. Pragmatik merupakan kajian tentang hubungan antara bahasa dengan konteks yang
mendasari penjelasan pengertian atau pemahaman bahasa. Pandangan tersebut
menunjukkan adanya tiga aspek penting dalam kajian pragmatik, yaitu bahasa,
konteks, dan pemahaman. Pemahaman terkait dengan masalah makna pula.

4. Pragmatik merupakan kajian tentang kemampuan pemakai bahasa mengaitkan
dengan kalimat-kalimat dengan konteks yang sesuai atau cocok dengan kalimat itu.

5. Pragmatik sebagai bidang ilmu mandiri. Pragmatik memiliki lima cabang kajian,
yaitu deiksis, implikatur, praanggapan, tindak tutur atau tidak bahasa, dan struktur
wacana.

Pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur makna bahasa secara
eksternal, yaitu bagaimana satuan kebahasaan itu digunakan di dalam komunikasi. Hal ini
senada dengan Rahardi (2005:49) pragmatik adalah ilmu yang mempelajari kondisi

penggunaan bahasa manusia yang pada dasarnya sangat ditentukan oleh konteks yang
mewadahi dan melatarbelakangi bahasa itu. Senada dengan pendapat sebelumnya Wijana
(2010:3-4) yang mengemukakan bahwa pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang
mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yaitu bagaimana satuan kebahasaan itu
digunakan di dalam komunikasi.

Pragmatik adalah studi tentang maksud penutur dan sebagi akibatnya studi ini lebih
banyak berhubungan dengan analisis maksud tuturan daripada makna terpisah dari kata atau
frasa yang digunakan dalam tuturan itu sendiri (Yule, 2006:3). Menurut Tarigan (2009:30),
pragmatik menelaah ucapan-ucapan khusus dalam situasi-situasi khusus dan memusatkan
perhatian kepada aneka ragam cara yang merupakan wadah aneka konteks sosial. Dari
beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pragmatik adalah cabang ilmu yang
mempelajari dan mengkaji makna yang disampaikan oleh penutur atau penulis dan ditafsirkan
oleh pembaca atau pendengar dengan melihat kondisi dan situasi konteks penyampaiannya.

RUANG LINGKUP PRAGMATIK

Ruang lingkup merupakan penjelasan tentang batasan sebuah subjek yang terdapat di
sebuah masalah. Bila diartikan secara luas ruang lingkup adalah batasan. Pragmatik mempunyai
ruang lingkup tersendiri yang menjadi bidang kajiannya. Pragmatik mengkaji bidang-bidang
seperti deiksis, praanggapan, implikatur percakapan dan tindak tutur.

Ruanglingkup

Deiksis Praanggapan Implikatur TindakTutur

1. Deiksis
Deiksis adalah gejala semantik yang terdapat pada kata atau konstruksi yang

hanya dapat ditafsirkan acuannya dengan mempertimbangkan konteks
pembicaraan. Dengan kata lain adalah bahwa kata saya, sini, sekarang, misalnya,
tidak memiliki acuan yang tetap melainkan bervariasi tergantung pada berbagai hal.
Acuan dari kata saya menjadi jelas setelah diketahui siapa yang mengucapkan kata
itu. Kata sini memiliki rujukan yang nyata setelah di ketahui di mana kata itu di
ucapkan. Demikian pula, kata sekarang ketika diketahui pula kapan kata itu
diujarkan. Dengan demikian kata-kata di atas termasuk kata-kata yang deiktis.
Berbeda halnya dengan kata-kata seperti meja, kursi, mobil, dan komputer.
Siapapun yang mengatakan, di manapun, dan kapanpun, kata-kata tersebut memiliki
acuan yang jelas dan tetap.

Perhatikan contoh berikut!
Ketika seorang siswa yang mendapati tulisan di sebuah bus jurusan Unesa, yang
bertuliskan hari ini bayar, besok gratis. Demikian pula di dalam sebuah warung
makan di sekitar tempat kos mahasiswa, dijumpai sticker yang bertuliskan Hari ini

bayar, besok boleh ngutang. Ungkapan-ungkapan di atas memiliki arti hanya apabila

diujarkan oleh sopir mikrolet di hadapan para penumpangnya atau oleh pemilik

warung makan di depan para pengunjung warung makannya. Deiksis dapat di bagi

menjadi lima kategori, yaitu deiksis orang (persona), waktu (time), tempat (place),

wacana (discourse), dan sosial (social) (Levinson dalam Nadar, 2009:53).

2. Praanggapan

Praanggapan atau presupposisi adalah sesuatu yang diasumsikan oleh penutur

sebagai kejadian sebelum menghasilkan suatu tuturan. Jika suatu kalimat diucapkan,

selain dari makna yang dinyatakan dengan pengucapan kalimat itu, ikut turut serta

pula tambahan makna yang tidak dinyatakan tetapi tersiratkan dari pengucapan

kalimat itu. Kalimat yang dituturkan dapat dinilai tidak relevan atau salah bukan

hanya karena pengungkapannya yang salah melainkan juga karena praanggapannya

yang salah.

Perhatikan contoh berikut!

A: Bagaimana kalau kita mengundang John malam ini?

B: Ide yang bagus, maka dia bisa memberi Monica tumpangan

Praanggapan yang terdapat dalam percakapan di atas antara lain adalah (1)

Bahwa A dan B kenal dengan John dan Monica, (2) bahwa John memiliki kendaraan,

kemungkinan besar mobil, dan (3) bahwa Monica tidak memiliki kendaraan saat ini.

3. Implikatur

Konsep implikatur pertama kali diperkenalkan oleh H.P. Grice (1975) untuk

memecahkan persoalan makna bahasa yang tidak dapat diselesaikan oleh teori

semantik biasa. Implikatur dipakai untuk memperhitungkan apa yang disarankan

atau apa yang dimaksud oleh penutur sebagai hal yang berbeda dari apa yang

dinyatakan secara harfiah (Rani dkk, 2006:170). Yang dimaksud implikatur

percakapan adalah adanya keterkaitan antara ujaran-ujaran yang diucapkan antara

dua orang yang sedang bercakap-cakap.

Perhatikan contoh berikut!

Budi : sekarang jam berapa?

Jatmiko :hmm tukang susu sudah datang.

Jawaban dari pertanyaan di atas nampaknya tidak relevan dengan permintaan

Budi tentang waktu, namun Jatmiko sebenarnya ingin mengatakan bahwa yang

bersangkutan tidak tahu secara tepat pada saat itu pukul berapa. Dia berharap Budi

dapat memperkirakan waktunya sendiri dengan mengatakan bahwa tukang susu

sudah datang. Dalam konteks ini, nampaknya penutur dan lawan tutur sama-sama

sudah mengetahui pukul berapa tukang susu biasanya datang.

4. Tindak Tutur

Ahli pertama yang memperkenalkan istilah dan teori tindak tutur adalah Austin

pada 1962. Tindak tutur adalah produk atau hasil dari suatu kalimat dalam kondisi

tertentu dan merupakan kesatuan terkecil dari interaksi lingual.

Misalnya seorang berkata “Saya minta maaf”; “Saya berjanji”; artinya,

permintaan maaf dilakukan pada saat orang itu minta maaf dan bukannya

sebelumnya. Janji atau kedatangannya kelak harus dipenuhi, dan bukannya sekarang

ini. Dalam menganalisis tindak ujaran atau tuturan, dikaji tentang efek-efek tuturan

terhadap tingkah laku pembicara dan lawan bicaranya.

SEJARAH PRAGMATIK

Pragmatik telah tumbuh di Eropa pada 1940-an dan berkembang di Amerika sejak
tahun 1970-an. Morris (1938) dianggap sebagai peletak tonggaknya lewat pandangannya
tentang semiotik. Ia membagi ilmu tanda itu menjadi tiga cabang: sintaksis, semantik, dan
pragmatik. Kemudian Halliday (1960) yang berusaha mengembangkan teori sosial mengenai
bahasa yang memandang bahasa sebagai fenomena sosial. Di Amerika, karya filsuf Austin
(1962) dan muridnya Searle (1969, 1975), banyak mengilhami perkembangan pragmatik. Karya
Austin yang dianggap sebagai perintis pragmatik berjudul How to Do Things with Words (1962).
Dalam karya tersebut, Austin mengemukakan gagasannya mengenai tuturan performatif dan
konstatif. Gagasan penting lainnya adalah tentang tindak lokusi, ilokusi, perlokusi, dan daya
ilokusi tuturan. Beberapa pemikir pragmatik lainnya, yaitu: Searle (1969) mengembangkan
pemikiran Austin. Ia mencetuskan teori tentang tindak tutur yang dianggap sangat penting
dalam kajian pragmatik. Tindak tutur yang tidak terbatas jumlahnya itu dikategorisasikan
berdasarkan makna dan fungsinya menjadi lima macam, yaitu: representatif, direktif, ekspresif,
komisih, dan deklaratif.

Grice (1975) mencetuskan teori tentang prinsip kerja sama (cooperative principle) dan
implikatur percakapan (conversational implicature). Menurut Grace, prinsip kerja sama adalah
prinsip percakapan yang membimbing pesertanya agar dapat melakukan percakapan secara
kooperatif dan dapat menggunakan bahasa secara efektif dan efisien. Prinsip ini terdiri atas
empat bidal: kuantitas, kualitas, relasi, dan cara. Menurut Gunarwan (1994: 54), keunggulan
teori prinsip kerja sama ini terletak pada potensinya sebagai teori inferensi apakah yang dapat
ditarik dari tuturan yang bidal kerja sama itu. Keenan (1976) menyimpulkan bahwa bidal
kuantitas, yaitu “buatlah sumbangan Anda seinformatif-informatifnya sesuai dengan yang
diperlukan”. Hal ini berdasarkan penelitian tentang penerapan prinsip kerja sama di
masyarakat Malagasi. Goody (1978) menemukan bahwa pertanyaan tidak hanya terbatas
digunakan untuk meminta informasi, melainkan juga untuk menyuruh, menandai hubungan
antarpelaku percakapan, menyatakan dan mempertanyakan status. Fraser (1978) telah
melakukan deskripsi ulang tentang jenis tindak tutur. Gadzar (1979) membicarakan bidang
pragmatik dengan tekanan pada tiga topik, yaitu: implikatur, praanggapan, dan bentuk logis.

Gumperz (1982) mengembangkan teori implikatur Grizer dalam bukunya Discourse
Strategies. Ia berpendapat bahwa pelanggaran atas prinsip kerja sama seperti pelanggaran bidal
kuantitas dan cara menyiratkan sesuatu yang tidak dikatakan. Sesuatu yang tidak diekspresikan
itulah yang dinamakan implikatur percakapan. Levinson (1983) mengemukakan revisi sebagai
uapaya penyempurnaan pendapat Grize tentang teori implikatur. Leech (1983) mengemukakan
gagasannya tentang prinsip kesantunan dengan kaidah yang dirumuskannya ke dalam enam
bidal: ketimbangrasaan, kemurahhatian, keperkenanan, kerendahhatian, kesetujuan, dan
kesimpatian. Mey (1993) mengemukakan gagasan baru tentang pembagian pragmatik:
mikropragmatik dan makropragmatik. Schiffrin (1994) mambahas berbagai kemudian kajian
wacana dengan menggunakan pendekatan pragmatic. Yule (1996) mengembangkan teori
tentang PKS dengan menghubungkannya dengan keberadaan tamengan (hedges) dan tuturan
langsung-tuturan tak langsung. Van Dijk (1998-2000) mengembangkan model analisis wacana
kritis (Critical Discourse Analyses/ CDA) di dalam teks berita. Ia mengidentifikasi adanya lima
karakteristik yang harus dipertimbangkan di dalam CDA, yaitu: tindakan, konteks, historis,
kekuasaan dan ideologi.

RANGKUMAN:

1. Pragmatik adalah cabang ilmu yang mempelajari dan mengkaji makna yang
disampaikan oleh penutur atau penulis dan ditafsirkan oleh pembaca atau pendengar
dengan melihat kondisi dan situasi konteks penyampaiannya.

2. Ruang lingkup merupakan penjelasan tentang batasan sebuah subjek yang terdapat di
sebuah masalah. Bila diartikan secara luas ruang lingkup adalah batasan. Pragmatik
mempunyai ruang lingkup tersendiri yang menjadi bidang kajiannya. Pragmatik
mengkaji bidang-bidang seperti deiksis, praanggapan, implikatur percakapan dan tindak
tutur.

3. Pragmatik telah tumbuh di Eropa pada 1940-an dan berkembang di Amerika sejak
tahun 1970-an. Morris (1938) dianggap sebagai peletak tonggaknya lewat
pandangannya tentang semiotik.Kemudian Halliday (1960) yang berusaha
mengembangkan teori sosial mengenai bahasa yang memandang bahasa sebagai
fenomena sosial. Di Amerika, karya filsuf Austin (1962) dan muridnya Searle (1969,
1975), banyak mengilhami perkembangan pragmatik. Karya Austin yang dianggap
sebagai perintis pragmatik berjudul How to Do Things with Words (1962). Dalam karya
tersebut, Austin mengemukakan gagasannya mengenai tuturan performatif dan
konstatif. Gagasan penting lainnya adalah tentang tindak lokusi, ilokusi, perlokusi, dan
daya ilokusi tuturan.

LATIHAN:
1. Jelaskan pengertian pragmatik dari berbagai sumber dan ahli dan buatlah interpretasi
berdasarkan pemahaman anda!
2. Jelaskan ruang lingkup pragmatik berdasarkan pemahaman anda!
3. Jelaskan latar belakang lahirnya pragmatik!

BAB II

HUBUNGAN PRAGMATIK DENGAN CABANG ILMU LAIN, KEDUDUKAN PRAGMATIK DALAM
LINGUISTIK DAN KONTEKS TUTURAN

TUJUAN PEMBELAJARAN

Mahasiswa mampu:

1.Menginterpretasikan kedudukan pragmatik dalam linguistik

2.Menginterpretasikan cabang ilmu yang terkait dengan pragmatik

3. Menginterpretasikan keterkaitan pragmatik dengan pelbagai cabang ilmu tersebut

4. Menginterpretasikan pengertian konteks

5. Menguraikan aneka wujud konteks

6. Menjelaskan contoh penerapan konteks dalam peristiwa tutur

HUBUNGAN PRAGMATIK DENGAN CABANG STUDI LINGUISTIK LAINNYA

Pragmatik lebih memfokuskan kajian bahasa pada masalah bagaimana penggunaan
bahasa di tengah masyarakat (penutur), maka dalam perwujudannya pragmatik tidak dapat
dipisahkan dengan berbagai ragam wujud kebahasan yang digunakan oleh masyarakat dalam
sebuah tuturan. Dalam melahirkan sebuah tuturan, ada beberapa hal yang ikut
mempengaruhinya, yaitu: unsur gramatikal, semantik, sosiolinguistik, dan psikolinguistik.

Dalam memahami pragmatik, keempat unsur tersebut tidak dapat diabaikan karena
masing-masing kajian punya konstribusi baik langsung maupun tidak langsung. Keterkaitan
antara pragmatik dengan kajian gramatikal, semantik, sosiolinguistik, dan psikolinguistik dapat
Anda baca pada uraian berikut ini:

1. Pragmatik dan Gramatikal
Pragmatik dengan gramatikal (tata bahasa) merupakan dua hal yang menyatu

dalam suatu kerangka acuan studi linguistik. Sebab pada dasarnya, studi kebahasaan
secara umum dialamatkan pada dua hal yakni pada segi bentuk dan fungsi. Berdasarkan
kedua fokus kajian bahasa tersebut, pragmatik dapat dikategorikan sebagai suatu kajian
bahasa yang lebih menitikberatkan pada aspek fungsi, sementara gramatikal dapat
dikategorikan sebagai wujud kajian bentuk.

Dalam mengkaji suatu bahasa, kita tidak dapat memisahkan antara bentuk dan
fungsi karena keduanya ibarat dua sisi mata uang dalam kajian linguistik. Sebuah
tuturan akan berfungsi sebagai alat untuk mengekspresikan pikiran yang diinginkan
oleh penutur bila tuturan tersebut memiliki kaidahkaidah gramatikal yang sesuai
dengan fungsi yang diinginkan. Misalnya, bentuk kalimat tanya (interogative) berfungsi
sebagai alat bagi si penutur dalam bertanya (mencari informasi yang ingin
diketahuinya). Demikian juga bentuk tuturan kalimat perintah (imperative) berfungsi
sebagai alat bagi penutur untuk menyatakan keinginan kepada pihak lain. Dengan

demikian, antara bentuk dan fungsi dalam sebuah bahasa tidak dapat dipisahkan satu
sama lain.

Namun, dalam penerapannya, antara pragmatik dan gramatikal tidaklah sejalan.
Hal ini disebabkan karena pragmatik lebih menekankan pada maksud sebuah tuturan
sementara gramatika lebih terkonsentrasi pada bentuk sebuah tuturan.

Makna gramatikal sebuah tuturan bergantung pada aspek lingual serta
penempatan unsur lingual dalam sebuah tuturan. Dengan kata lain, makna gramatikal
sangat terikat pada kaidah-kaidah tatabahasa. Sedangkan makna pragmatik lebih
ditentukan oleh faktor konteks yang membangun sebuah tuturan.
Perhatikan contoh berikut ini!
Di sebuah pasar tradisional seorang ibu berkata pada penjual, Bu, saya dibungkus ya!
Secara gramatikal, kalimat tersebut tidak memiliki makna yang logis, karena ‘saya’
(pembeli) tidak mungkin di bungkus. Namun dengan memperhatikan konteks dan
situasi saat terjadinya peristiwa tutur tersebut, tentulah dapat dipahami bahwa yang
dibungkus bukanlah ‘saya’ (pembeli) tetapi barang yang dibeli.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa makna gramatikal sangat terikat
dengan kaidah-kaidah tata bahasa yang berlaku. Kaidah tata bahasa dapat berupa
pilihan kata yang digunakan, penempatan kata pada masingmasing unsur kalimat, serta
struktur kalimat. Sedangkan makna pragmatik lebih mengutamakan konteks sebagai
pembentuk makna. Konteks tersebut dapat berupa situasi, waktu, tempat, partisipan,
serta tujuan pembicaraan.
Contoh:
Perhatikan tuturan berikut: Hari ini di rumahku ada hajatan. Kamu ada acara nggak?

Kalimat “Kamu ada acara nggak?” secara gramatikal berfungsi sebagai alat bagi
penutur untuk mengetahui apakah lawan tuturnya ada acara atau tidak. Namun, secara
pragmatis, ungkapan tersebut berfungsi sebagai alat bagi penutur untuk meminta
kesediaan lawan tuturnya untuk datang ke rumahnya.
2. Pragmatik dan Semantik

Hubungan antara semantik dengan pragmatik berawal dari buah pemikiran
Charles Morris yang melahirkan konsep ilmu tanda atau yang dikenal dengan istilah
semiotik. Morris membagi kajian semiotik atas tiga bidang, yakni sintaksis, semantik,
dan pragmatik. Berdasarkan buah pikiran Morris tersebut terlihat bahwa semantik dan
pragmatik sama-sama berada dalam naungan kajian yang lebih besar, yaitu ilmu tentang
tanda (semiotic).

Pragmatik dan semantik merupakan dua cabang linguistik yang samasama
memfokuskan kajian pada aspek makna suatu bahasa. Namun, dalam prakteknya, kajian
semantik tidak bisa disamakan dengan pragmatik. Oleh Morris, semantik diberi batasan
sebagai “telaah mengenai hubungan formal di antara tanda (atau lambang) dan
objeknya”, sedangkan pragmatik didefinisikan sebagai “telaah mengenai hubungan di
antara lambang dan penafsirnya”.

Di samping itu, semantik memfokuskan kajian makna bahasa yang bersifat
otonom sesuai dengan wujud bahasa yang tampak. Sementara pragmatik lebih
memfokuskan analisis makna yang terikat oleh konteks. Perbedaan fokus kajian antara
semantik dan pragmatik dapat dilihat pada kasus berikut:
Pada saat proses pembelajaran di kelas, seorang guru berkata pada siswanya:
“ Ruangan ini panas sekali”.

Kalimat tersebut bila dimaknai secara semantik akan melahirkan pemahaman
bahwa di dalam ruangan itu suhu udara mungkin mencapai lebih dari 38 derajat Celsius.
Namun bila dimaknai secara pragmatis, tuturan tersebut mungkin berarti perintah
untuk membuka jendela agar udara segar dapat masuk dengan leluasa ke dalam kelas
sehingga udara bisa lebih terasa dingin.

Berdasarkan contoh di atas dapat disimpulkan bahwa semantik bertugas dalam
memberi arti sebuah tuturan sedangkan pragmatik bertugas menjelaskan maksud
sebuah tuturan. Dengan demikian, dalam pragmatik makna didefinisikan dalam
hubungannya dengan penutur atau pemakai bahasa, sedangkan dalam semantik, makna
didefinisikan semata-mata sebagai ciri-ciri ungkapan-ungkapan dalam suatu bahasa
tertentu terpisah dari situasi, petutur, dan penuturnya.

Akan tetapi, sebenarnya batas di antara semantik dan pragmatik tidak
sesederhana seperti yang terungkap melalui konsep di atas, karena keduanya sama-
sama mengecimpungi persoalan makna. Salah satu upaya untuk mempertegas batas di
antara semantik dan pragmatik itu terlihat pada pembuatan definisi berikut: “pragmatik
adalah telaah mengenai segala aspek makna yang tidak tercakup di dalam teori
semantik”; maksudnya, yang ditelaah pada pragmatik adalah makna setelah dikurangi
semantik. Semantik adalah telaah makna kalimat (sentence), sedangkan pragmatik
adalah telaah makna tuturan (utterance). Kalimat adalah wujud (entities) abstrak seperti
yang didefinisikan di dalam teori tata bahasa, dan tuturan adalah pengujaran kalimat
pada konteks yang sesungguhnya. Dengan demikian, semantik menggeluti makna kata
atau klausa, tetapi makna yang bebas-konteks (context-independent) makna yang stabil,
sedangkan pragmatik menggumuli makna yang terikat konteks (context-dependent).
3. Pragmatik dan Sosiolinguistik

Sosiolinguistik dan pragmatik sama-sama lahir dari buah pemikiran penganut
paham fungsionalis yang tidak puas terhadap penanganan bahasa bersifat formal
seperti yang dilakukan oleh kaum strukturalis. Kajian pragmatik dan sosiolinguistik
keberatan dengan pandangan kaum struktural dalam memandang bahasa yang hanya
berorientasi pada bentuk, tanpa mempertimbangkan bahwa satuan-satuan bahasa
sebenarnya hadir dalam konteks, baik konteks yang bersifat lingual (co-teks) maupun
konteks yang bersifat ekstralingual.

Dilihat dari sejarah pemunculannya, sosiolinguistik lebih dulu lahir dan lebih
dulu menemukan bentuknya yang mapan, sebagai suatu kelompok kegiatan (berciri
tertentu) yang menelaah bahasa, yakni pada akhir tahun 1960-an. Akan tetapi, dari segi
misinya (motif pemunculannya), ada kesamaan di antara sosiolinguistik dan pragmatik.
Keduanya muncul dengan langkah pendobrakan terhadap kekuatan kelompok kegiatan
menelaah bahasa yang bercokol kuat pada tahun 1950-1960-an, yakni aliran struktural
(pandangan kaum formalis).

Aliran struktural menyusun teori bahasa dengan data berupa kalimat yang
diidealkan (karena kalimat yang dianalisis dipersyaratkan harus sempurna, bebas dari
segala kesalahan, baik yang disengaja maupun yang tidak). Oleh karena itu, upaya ini
dapat dikatakan sebagai tindakan menghomogenkan bahasa. Penghomogenan bahasa
inilah yang diserang oleh pencanang sosiolinguistik. Menurut penganut sosiolinguistik,
bahasa pada hakikatnya adalah heterogen. Ada berbagai aneka bentuk bahasa (language
varieties), dan keanekaan bahasa itu ada karena pada dasarnya latar belakang sosial
penuturnya memang berbeda-beda.

Adapun yang dihantam oleh aliran pragmatik adalah tindakan aliran struktural
yang memandang kalimat bebas dari konteks. Padahal bahasa pada hakikatnya
digunakan di dalam komunikasi. Analisis kalimat harus disesuaikan dengan situasi
penggunaannya. Aliran pragmatik tidak setuju bila menganalisis kalimat dari segi
bentuk kalimat saja tetapi juga menyertai konteks yang menyertai dalam
penggunaannya pada situasi komunikasi.

Berdasarkan uraian di atas terlihat bahwa antara pragmatik dan sosiolinguistik
punya keterkaitan yang mendasar. Keterkaitan kedua bidang kajian tersebut tidak
hanya terlihat dari upaya keduanya dalam memerangi paham aliran struktural (seperti
yang sudah di jelaskan di atas) namun kedua bidang kajian ini juga saling memberikan
kontribusi yang cukup nyata. Keterkaitan kedua bidang kajian ini tersirat dari fungsi
keduanya dalam kajian kebahasaan. Sosiolinguistik yang memfokuskan kajian bahasa
dihubungkan dengan masyarakat penuturnya, berfungsi untuk mengantisipasi agar
proses komunikasi berjalan dengan baik dan lancar sesuai dengan karakteristik
penuturnya. Sedangkan Pragmatik yang lebih memfokuskan kajian bahasa dihubungkan
dengan konteks pembicaraan, berfungsi untuk memperlancar proses komunikasi di
tengah masyarakat. Dengan demikian, jelas bahwa keduanya (pragmatik dan
sosiolinguistik) punya keterkaitan dan saling berkontribusi antara yang satu dengan
yang lain.

PRAGMATIK DALAM LINGUISTIK

Pembahasan tentang makna membawa kita pada pentingnya semantik, yaitu tataran
linguistik yang mengkaji hubungan antara bentuk-bentuk linguistik (linguistic forms) dan
entitas yang terdapat di luar bahasa, dalam analisis bahasa. Berdasarkan truth conditional
semantics, untuk dapat dinyatakan benar, sebuah pernyataan harus dapat diverifikasi secara
empiris atau harus bersifat analitis. Dengan demikian, bentuk kucing menyapu halaman adalah
bentuk yang tidak berterima secara semantis, karena tidak dapat diverifikasi secara empiris dan
bukan termasuk pernyataan logika. Namun demikian, pembahasan makna dalam semantik
belum memadai, karena masih mengabaikan unsur pengguna bahasa, sehingga bentuk seperti
seandainya saya dapat berdiri tentu saya tidak akan dapat berdiri dan saya akan datang besok
pagi, meskipun bentuk seperti ini dapat saja kita jumpai, tidak dapat dinyatakan benar karena
yang pertama menyalahi logika dan yang kedua tidak dapat diverifikasi langsung. Dengan kata
lain, untuk menjelaskan fenomena pemakaian bahasa sehari-hari, di samping sintaksis dan
semantik, dibutuhkan juga pragmatik yang dalam hal ini saya pahami sebagai bidang yang
mengkaji hubungan antara struktur yang digunakan penutur, makna apa yang dituturkan, dan
maksud dari tuturan. Kegunaan pragmatik, yang tidak terdapat dalam sintaksis dan semantik,
dalam hal ini dapat ditunjukkan dengan, misalnya, bagaimana strategi kesantunan
mempengaruhi penggunaan bahasa, bagaimana memahami implikatur percakapan, dan
bagaimana kondisi felisitas yang memungkinkan bagi sebuah tindak-tutur.

Secara umum, dapat disimpulkan bahwa kaitan antara pragmatik dan pengajaran
bahasa adalah dalam hal kompetensi komunikatif yang mencakup tiga macam kompetensi lain
selain kompetensi gramatikal (grammatical competence), yaitu kompetensi sosiolinguistik
(sociolinguistic competence) yang berkaitan dengan pengetahuan sosial budaya bahasa tertentu,
kompetensi wacana (discourse competence) yang berkaitan dengan kemampuan untuk
menuangkan gagasan secara baik, dan kompetensi strategik (strategic competence) yang

berkaitan dengan kemampuan pengungkapan gagasan melalui beragam gaya yang berlaku
khusus dalam setiap bahasa.

KONTEKS TUTURAN

Pragmatik memandang konteks sebagai pengetahuan bersama antara pembicara dan
pendengar dan pengetahuan tersebut mengarah pada interpretasi suatu tuturan. Pengetahuan
atau konteks tertentu dapat mengakibatkan manusia mengidentifikasi jenis-jenis tindak tutur
yang berbeda.

Bahasa selalu diungkapkan dalam konteks. Di dalam dunia bunyi dan makna, terdapat
konteks yang mempengaruhi keserasian sistem suatu bahasa. Konteks adalah sesuatu yang
menjadi sarana penjelas suatu maksud. Sarana itu meliputi dua macam, yang pertama berupa
bagian ekspresi yang dapat mendukung kejelasan maksud dan yang kedua berupa situasi yang
berhubungan dengan suatu kejadian. Konteks yang berupa bagian ekpresi yang dapat
mendukung kejelasan maksud itu disebut ko-teks (co-teks). Sementara itu, konteks yang berupa
situasi yang berhubungan dengan suatu kejadian lazim disebut konteks saja.

Konteks adalah seperangkat asumsi yang dibangun secara psikologis oleh penutur dan
pendengar sesuai dengan pengetahuannya tentang dunia. Konteks ini tidak hanya terbatas pada
ujaran saat ini dan ujaran sebelumya, tetapi menyangkut semua yang dapat terlibat dalam
interpretasi, seperti harapan masa depan, hipotesis ilmiah, kepercayaan terhadap keagamaan,
kenangan lucu, asumsi tentang kebudayaan (faktor sosial, norma sosial, dan sebagainya) dan
kepercayaan terhadap penutur atau sebaliknya. Konteks ini mempengaruhi interpretasi
pendengar terhadap ujaran (wacana).

Konteks terdiri atas unsur-unsur seperti situasi, pembicara, pendengar, waktu, tempat,
adegan, topik, peristiwa, bentuk amanat, kode, dan sarana. Sementara itu, unsur konteks yang
berupa sarana adalah wahana komunikasi yang dapat berwujud pembicaraan bersemuka atau
melalui telepon, surat, dan televisi.

Dengan pijakan ilmu kebahasaan yang sudah ada, para ahli semakin lama semakin
menyadari bahwa sebenarnya konteks tidak hanya terikat pada waktu, tempat, situasi, topik,
partisipan, dan saluran percakapan saja, tetapi lebih meluas lagi dengan konteks-konteks yang
jauh di luar pembicara dan pendengar yang terlibat dalam suatu komuniaksi antarpersona.
Mereka telah mulai menjelajahi bahasa secara lebih khusus dan mendalam ke dalam kehidupan
manusia yang menggunakannya. Manusia menggunakan bahasa bersama dengan
perkembangan sosial budaya; manusia menggunakan bahasa dalam politik, ekonomi, agama,
pendidikan, sains dan teknologi. Maka konteks bahasa tidak lagi hanya konteks pembicara-
pendengar pada tempat, waktu, situasi, dan saluran tertentu, tetapi telah meluas ke dalam
segala segi kehidupan manusia.

Di dalam peristiwa tutur ada sejumlah faktor yang menandai keberadaan peristiwa itu,
yakni:

1. setting atau scene yaitu tempat dan suasana peristiwa tutur;
2. participant, yaitu penutur, mitra tutur, atau pihak lain;
3. end atau tujuan;
4. act, yaitu tindakan yang dilakukan penutur di dalam peristiwa tutur;

5. key, yaitu nada suara dan ragam bahasa yang digunakan di dalam mengekspresikan
tuturan dan ciri mengekspresikannya;

6. instrument, yaitu alat atau tulis, melalui telepon atau bersemuka;
7. norm atau norma, yaitu aturan permainan yang harus ditaati oleh setiap peserta

tutur dan
8. genre, yaitu jenis kegiatan seperti wawancara, diskusi, kampanye, dan sebagainya.

RANGKUMAN
1. Pragmatik lebih memfokuskan kajian bahasa pada masalah bagaimana penggunaan
bahasa di tengah masyarakat (penutur), maka dalam perwujudannya pragmatik tidak
dapat dipisahkan dengan berbagai ragam wujud kebahasan yang digunakan oleh
masyarakat dalam sebuah tuturan. Dalam melahirkan sebuah tuturan, ada beberapa hal
yang ikut mempengaruhinya, yaitu: unsur gramatikal, semantik, sosiolinguistik, dan
psikolinguistik. Dalam memahami pragmatik, keempat unsur tersebut tidak dapat
diabaikan karena masing-masing kajian punya konstribusi baik langsung maupun tidak
langsung. Keterkaitan antara pragmatik dengan kajian gramatikal, semantik,
sosiolinguistik, dan psikolinguistik.
2. Secara umum, dapat disimpulkan bahwa kaitan antara pragmatik dan pengajaran
bahasa adalah dalam hal kompetensi komunikatif yang mencakup tiga macam
kompetensi lain selain kompetensi gramatikal (grammatical competence), yaitu
kompetensi sosiolinguistik (sociolinguistic competence) yang berkaitan dengan
pengetahuan sosial budaya bahasa tertentu, kompetensi wacana (discourse competence)
yang berkaitan dengan kemampuan untuk menuangkan gagasan secara baik, dan
kompetensi strategik (strategic competence) yang berkaitan dengan kemampuan
pengungkapan gagasan melalui beragam gaya yang berlaku khusus dalam setiap bahasa.
3. Pragmatik memandang konteks sebagai pengetahuan bersama antara pembicara dan
pendengar dan pengetahuan tersebut mengarah pada interpretasi suatu tuturan.
Pengetahuan atau konteks tertentu dapat mengakibatkan manusia mengidentifikasi
jenis-jenis tindak tutur yang berbeda.

LATIHAN
1. Jelaskan kedudukan pragmatik dalam linguistik!
2. Jelaskan cabang ilmu yang terkait dengan pragmatik!
3. Jelaskan pengertian konteks!
4. Buatlah contoh penerapan konteks dalam peristiwa tutur!

BAB III

DEIKSIS

TUJUAN PEMBELAJARAN

Mahasiswa mampu:

1. Menginterpretasikan konsep deiksis

2.Memberikan contoh atas beberapa jenis deiksis

PENGERTIAN DEIKSIS

Dalam KBBI (2005:245), deiksis diartikan hal atau fungsi menunjuk sesuatu di luar
bahasa; kata yang mengacu kepada persona, waktu, dan tempat suatu tuturan. Dalam kegiatan
berbahasa. kata-kata atau frasa-frasa yang mengacu kepada beberapa hal tersebut
penunjukannya berpindah-pindah atau berganti-ganti, tergantung pada siapa yang menjadi
pembicara, saat dan tempat dituturkannya kata-kata itu. Kata-kata seperti saya, dia, kamu
rnerupakan kata-kata yang penunjukannya berganti-ganti. Rujukan kata-kata tersebut barulah
dapat diketahui jika diketahui pula siapa, di mana, dan pada waktu kapan kata-kata itu
diucapkan. Dalam bidang linguistik istilah penunjukan semacam itu disebut deiksis (Yule,
2006:13).

Kata deiksis berasal dari kata Yunani deiktikos yang berarti 'hal yang menunjuk secara
1angsung'. Dalam bahasa Yunani, deiksis merupakan istilah teknis untuk salah satu hal yang
mendasar yang dilakukan dalam tuturan. Sedangkan isti1ah deiktikos yang dipergunakan oleh
tata bahasa Yunani da1am pengertian sekarang kita sebut kata ganti demonstratif.

Dari definisi di atas, bisa disimpulkan bahwa deiksis adalah bentuk bahasa baik berupa
kata maupun lainnya yang berfungsi sebagai penunjuk hal atau fungsi tertentu di luar bahasa.
Dengan kata lain, sebuah bentuk bahasa bisa dikatakan bersifat deiksis apabila acuan/ rujukan/
referennya berpindah-pindah atau berganti-ganti pada siapa yang menjadi si pembicara dan
bergantung pula pada saat dan tempat dituturkannya kata itu. Jadi, deiksis merupakan kata-kata
yang tidak memiliki referen yang tetap. Seperti contoh dialog berikut ini:

Ani : Hari ini saya akan pergi ke Surabaya. Kalau kamu?

Ali : Saya santai di rumah.

Kata ‘Saya’ di atas sebagai kata ganti dari dua orang. Kata pertama adalah kata ganti dari
Ani. Sedangkan kedua adalah kata ganti Ali. Dari contoh di atas, tampak kata ‘saya’ memiliki
referen yang berpindah-pindah sesuai dengan konteks pembicaraan serta situasi berbahasa.

JENIS-JENIS DEIKSIS

1. Deiksis Persona
Deiksis persona berkaitan dengan peran peserta yang terlibat dalam peristiwa

berbahasa. Deiksis ini biasanya berupa kata ganti orang. Kata ganti orang itu ada tiga
kategori yaitu orang pertama, orang kedua dan orang ketiga.

Kata ganti orang pertama merupakan rujukan pernbicara kepada dirinya
sendirin. Dengan kata lain kata ganti persona pertama rnerujuk pada orang yang sedang
berbicara. Kata ganti persona ini dibagi rnenjadi dua, yaitu kata ganti persona pertarna
tunggal dan kata ganti persona pertarna jarnak.

Kata ganti persona pertama tunggal rnempunyai beberapa bentuk, yaitu aku,
saya, daku. Selain bentuk kata ganti persona di atas, digunakan pula nama-nama orang
untuk menunjuk persona pertama tunggal (Samsuri, 1987:238). Anak-anak biasa
memakai nama diri untuk merujuk, pada dirinya misalnya seorang anak bemama agus
suatu ketika dia ingin makan dan dia mengucapkan "Agus mau makan" yang berarti 'Aku
mau makan' (bagi diri Agus). Akan tetapi apabila kalimat itu diucapkan oleh seorang
ayah atau seorang ibu dengan nada bertanya seperti "Agus mau makan?" maka nama
Agus tidak lagi merujuk pada pembicara tetapi merujuk pada persona kedua tunggal
(mitra tutur).

Dalam hal pemakainnya, bentuk persona pertama aku dan saya ada perbedaan.
Bentuk saya adalah bentuk yang formal dan umumnya dipakai dalam tulisan atau ujaran
yang resmi. Untuk tulisan formal pada buku nonfiksi, pidato, sambutan bentuk saya
banyak digunakan bahkan pemakian bentuk saya sudah menunjukan rasa hormat dan
sopan. Namun demikian tidak menutup kemungkinan bentuk saya dipakai dalam situasi
nonformal.

Kata ganti persona kedua adalah rujukan pembicara kepada lawan bicara.
Dengan kata lain bentuk kata ganti persona kedua baik tunggal maupun jamak merujuk
pada lawan bicara. Bentuk pronomina persona kedua tunggal adalah kamu dan engkau.

Sebutan ketaklaziman untuk pronomina persona kedua dalam bahasa Indonesia
banyak ragamnya, seperti anda, saudara, leksem kekerabatan seperti bapak, ibu, kakak
dan leksem jabatan seperti guru, dokter. Pemilihan bentuk mana yang harus dipilih
ditentukan oleh aspek sosiolinguistik. Bentuk bapak/pak, ibu/bu yang merupakan
bentuk sapaan kekeluargaan menandakan dua pengertian. Pertama, orang yang
mamakai bentuk-bentuk tersebut memiliki hubungan akrab dengan lawan bicaranya.
Kedua, dipergunakan untuk memanggil orang yang lebih tua atau orang yang belum
dikenal. Dengan kata lain pengertian kedua menandakan hubungan antara pembicara
dengan lawan bicara kurang akrab. Sedangkan bentuk saudara, anda biasanya
digunakan untuk menghormat dan ada jarak yang nyata antara pembicara dan lawam
bicara. Khusus untuk bentuk ketakziman anda biasanya dimaksudkan untuk
menetralkan hubungan. Meskipun kata itu telah lama dipakai tetapi struktur nilai sosial
budaya kita masih membatasi pemakaian kata ganti tersebut.

Kata ganti persona ketiga merupakan kategori-sasi rujukan pembicara kepada
orang yang berada di luar tindak komunikasi. Dengan kata lain bentuk kata ganti
persona ketiga merujuk orang yang tidak berada baik pada pihak pembicara maupun
lawan bicara. Bentuk kata ganti persona ketiga dalam bahasa Indonesia ada dua, yaitu
bentuk tunggal dan bentuk jamak. Bentuk tunggal pronomina persona ketiga
mempunyai dua bentuk, yaitu ia dan dia yang mempunyai variasi -nya. Bentuk

pronomina persona ketiga jamak adalah mereka Di samping arti jamaknya, bentuk
mereka berbeda dengan kata ganti persona ketiga tunggal dalam acuannya. Pada
umumnya bentuk pronomina persona ketiga hanya untuk merujuk insani. Akan tetapi
pada karya sastra, bentuk mereka kadang-kadang dipakai untuk merujuk binatang atau
benda yang dianggap bemyawa. Bentuk pronomina persona ketiga jamak ini tidak
mempunyai variasi bentuk, sehingga dalam posisi manapun hanya bentuk itu yang
dipergunakan. Penggunaan bentuk persona ini digunakan untuk hubungan yang netral,
artinya tidak digunakan untuk lebih menghormati atau pun sebaliknya.

Kata ganti persona ketiga selain merujuk pada orang ketiga juga
kemungkinannya merujuk pada persona pertama dan persona kedua. Adanya
Kemungkinan rujukan lain merupakan akibat adanya perbedaan konteks penuturan.
Contoh ketiga macam deiksis personal di atas dalam kajian pragmatik adalah seperti
dalam dialog berikut ini:
Novi : Liburan nanti kamu pergi kemana?
Septi : Aku mau ke Sangata. Kalau kamu?
Novi : Aku ke Sangata juga.
Danar: Mereka semua liburan. Aku kesepian deh (gumam Danar dalam hati).
2. Deiksis Tempat
Deiksis ini berkaitan dengan pemberian bentuk kepada lokasi ruang dipandang dari
lokasi pemeran dalam suatu peristiwa berbahasa. Dilihat dari hubungan antara orang
dan benda yang ditunjukkan, deiksis tempat dibagi menjadi dua, yaitu jauh (distal) dan
dekat (proksimal). Deiksis tempat yang pertama menunjuk jarak yang jauh antara orang
dan benda yang ditunjukkan seperti di sana, itu, dan sebagainya. Deiksis tempat yang
kedua menunjuk jarak yang dekat antara orang dan benda yang ditunjukkan seperti di
sana, itu, dan sebagainya.

Akan tetapi, dalam mempertimbangkan deiksis tempat, perlu diingat bahwa
tempat, dari sudut pandang penutur, dapat ditetapkan baik secara mental maupun fisik.
Penutur yang untuk sementara waktu jauh dari rumah mereka, akan sering terus
memakai kata ‘di sini’ dengan maksud lokasi rumah (jarak fisik), seolah-olah mereka
masih ada di lokasi itu. Pernyataan ini kadang-kadang dideskripsikan sebagai proyek
deiksis dan kita lebih sering memanfaatkan kemungkinan-kemungkinanya seperti
kebanyakan teknologi yang memungkinkan untuk memanipulasi tempat.

Dimungkinkan bahwa dasar deiksis tempat yang benar sesungguhnya adalah
jarak psikologis. Objek-objek kedekatan secara fisik akan cenderung dipergunakan oleh
penutur sebagai kedekatan secara psikologis. Juga sesuatu yang jauh secara fisik secara
umum akan diperlakukan sebagai jauh secara psikologis (contoh: orang yang di sana
itu). Akan tetapi penutur mungkin juga bermaksud untuk menandai sesuatu yang jauh
secara psikologis ‘saya tidak menyukai itu’. Dalam analisis ini, sepatah kata seperti ‘itu’
tidak memiliki arti yang pasti, tetapi kata ;itu; ditanamkan dengan memiliki makna
dalam konteks oleh seorang penutur.
Contoh deiksis tempat berikut ini:
Agus : Om, kapan kamu ke sini?
Joko : Liburan nanti. Kalo kamu kapan main ke sini?
Agus : ….
3. Deiksis Waktu

Deiksis waktu menunjuk kepada pengungkapan jarak waktu dipandang dari
waktu atau saat suatu ungkapan dibuat oleh pembicara seperti sekarang, pada saat itu,

kemarin, besok dan lain sebagainya. Semua ungkapan tersebut tergantung pada
pemahaman penutur tentang pengetahuan waktu tutuan yang relevan. Jika waktu
tuturan tidak diketahui dari suatu catatan, ada ketidakjelasan dalam hal waktu, contoh
kembalilah satu jam lagi. Landasan psikologis dari deiksis waktu tampaknya sama
dengan deiksis tempat. Kejadian waktu dapat diperlakukan sebagai yang bergerak ke
penutur atau sebaliknya.

Contoh : Sekarang bayar besok gratis.
4. Deiksis Wacana

Deiksis wacana merupakan deiksis yang mengacu apa yang terdapat dalam
wacana. Berdasarkan posisi antensendennya, deiksis wacana dibagi dua,yaitu anafora
dan katafora. Deiksis katafoa merupakan deiksis yang mengacu apa yang telah disebut
contoh : Dedi adalah adik saya. Sekolahnya di Malang. Sedangkan deiksis anafora adalah
deiksis yang mengacu yang akan disebut contoh: Dengan keterampilannya dalam
berbicara, Desi disuruh menjadi MC.
5. Deiksis Sosial

Deiksis sosial mengungkapkan perbedaan-perbedaan kemasyarakatan yang
terdapat antara para partisispan yang dalam peristiwa berbahasa, tertutama yang
berhubungan dengan aspek budayanya. Adanya deiksis ini menyebabkan kesopanan
atau etiket berbahasa. Misalnya suatu masyarakat menganggap kata ‘dancok’ adalah
perkataan kasar. Tapi, menurut masyarakat lain, kata tersebut adalah biasa.

Kaitannya dalam kehidupan sehari-hari, yang perlu diperhatikan adalah
bagaimana menggunakan semua deiksis tersebut dengan tepat. Dengan perkataan lain,
dalam suatu peristiwa berbahasa pemakai bahasa dituntut dapat menggunakan semua
deiksis sesuai dengan kadar sosial dan santun berbahasa dengan tepat.

RANGKUMAN

1. Deiksis adalah bentuk bahasa baik berupa kata maupun lainnya yang berfungsi sebagai
penunjuk hal atau fungsi tertentu di luar bahasa. Dengan kata lain, sebuah bentuk
bahasa bisa dikatakan bersifat deiksis apabila acuan/ rujukan/ referennya berpindah-
pindah atau berganti-ganti pada siapa yang menjadi si pembicara dan bergantung pula
pada saat dan tempat dituturkannya kata itu. Jadi, deiksis merupakan kata-kata yang
tidak memiliki referen yang tetap.

2. Terdapat 5 jenis deiksis, yaitu deiksis persona, deiksis tempat, deiksis waktu, deiksis
sosial, dan deiksis wacana.

LATIHAN
1. Interpretasikan pengertian deiksis beserta contohnya!
2. Jelaskan konsep dari jenis-jenis deiksis berdasarkan pemamahaman anda!
3. Carilah sebuah karya sastra prosa dan identifikasikan contoh dari ke-5 jenis deiksis
dalam prosa tersebut!

BAB VI

TINDAK TUTUR

TUJUAN PEMBELAJARAN

Mahasiswa mampu:

1. Mengiterpretasikan pengertian dan contoh tindak tutur menurut Austin:
tindak tutur konstatif dan tindak tutur performatif

2. Menginterpretasi pengertian dan contoh tindak tutur menurut Searle:
tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi

3. Menginterpretasi rincian tindak tutur ilokusi: tindak tutur
asertif/reprsentatif, tindak tutur direktif, tindak tutur ekspresif, tindak
tutur komisif, dan tindak tutur deklarasi.

4. Membuat contoh dari tindak tutur

PENGERTIAN TINDAK TUTUR

Tindak tutur adalah bagian dari pragmatik. Tindak tutur merupakan pengujaran kalimat
untuk menyatakan agar suatu maksud dari pembicara diketahui pendengaran. Tindak tutur
(speech atcs) adalah ujaran yang dibuat sebagai bagian dari interaksi social. Menurut Leoni
(dalam Sumarsono, dan Paina Partama, 2010:329-330) tindak tutur merupakan bagian dari
peristiwa tutur, dan peristiwa tutur merupakan bagian dari situasi tutur. Setiap peristiwa tutur
terbatas pada kegiatan, atau aspek-aspek kegiatan yang secara langsung diatur oleh kaidah atau
norma bagi penutur. Dengan demikian, tindakan merupakan karakteristik tuturan dalam
komunikasi. Diasumsikan bahwa dalam merealisasikan tuturan atau wacana, seseorang berbuat
sesuatu, yaitu performansi tindakan. Tuturan yang berupa performansi tindakan ini disebut
dengan tuturan performatif, yakni tuturan yang dimaksudkan untuk melakukan suatu tindakan.

Tindak tutur merupakan gejala individu, bersifat psikologis, dan ditentukan oleh
kemampuan bahasa penutur dalam menghadapi situasi tertentu. Tindak tutur dititikberatkan
kepada makna atau arti tindak, sedangkan peristiwa tutur lebih dititikberatkan pada tujuan
peristiwanya. Dalam tindak tutur ini terjadi peristiwa tutur yang dilakukan penutur kepada
mitra tutur dalam rangka menyampaikan komunikasi. Austin (dalam Subyakto, 1992:33)
menekanka tindak tutur dari segi pembicara. Kalimat yang bentuk formalnya berupa
pertanyaan memberikan informasi dan dapat pula berfungsi melakukan suatu tindak tutur yang
dilakukan oleh penutur.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tindak tutur adalah kegiatan seseorang
menggunakan bahasa kepada mitra tutur dalam rangka mengkomunikasikan sesuatu. Apa
makna yang dikomukasikan tidak hanya dapat dipahami berdasarkan penggunaan bahasa
dalam bertutur tersebut tetapi juga ditentukan oleh aspek-aspek komunikasi secara
komprehensif, termasuk aspekaspek situasional komunikasi. Guru dan siswa merupakan
komponen dalam pengajaran holistik. Antara guru dengan siswa saling berpengaruh dan saling
mendorong untuk melakukan kegiatan yang satu dengan kegiatan yang lain. Pada dasarnya,
siswa adalah unsur penentu dalam pembelajaran holistik.

JENIS-JENIS TINDAK TUTUR

Austin membagi tindak tutur menjadi tiga macam tindakan, yaitu tindakan
menginformasikan atau menyatakan sesuatu “The act of saying something”, yang disebut dengan
tindak lokusi, tindakan menghendaki mitra tuturnya untuk melakukan sesuatu, “The act of doing
something” atau tindak ilokusi, dan tindakan memberikan pengaruh terhadap mitra tutur atau
menghendaki adanya reaksi atau efek atau hasil tertentu dari mitra tutur, “The act of affecting
someone” atau tindak perlokusi.

1. Lokusi
Tindak lokusi adalah sebuah tindakan mengatakan sesuatu. Tindak lokusi

terlihat ketika seseorang menuturkan sebuah tuturan atau pernyataan. Menurut
Levinson (dalam Cahyono,1995:224) tindak lokusi (locutionary act) adalah pengujaran
kata atau kalimat dengan makna dan acuan tertentu. Analisis tuturan berikut
diharapkan mampu memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai tindak lokusi.
Chaer dan Leonie (2010:53) menyatakan bahwa tindak lokusi adalah tindak tutur yang
menyatakan sesuatu dalam arti “berkata” atau tindak tutur dalam bentuk kalimat yang
bermakna dan dapat dipahami. Searle (dalam Rahardi, 2005: 35) menyatakan tindak
lokusioner adalah tindak bertutur dengan kata, frasa, dan kalimat sesuai dengan makna
yang dikandung oleh kata, frasa, dan kalimat itu. Uraian di atas, dapat disimpulkan
bahwa tindak tutur lokusi adalah tindak tutur yang berfungsi untuk menyatakan atau
menginformasikan sesuatu, yaitu mengucapkan sesuatu dengan makna kata dan makna
kalimat sesuai dengan makna kata itu sendiri kepada mitra tutur.
2. Ilokusi

Tindak ilokusi (illocutionary act) adalah pembuatan pernyataan, tawaran, janji,
dan lain-lain dalam pengujaran dan dinyatakan menurut daya konvensional yang
berkaitan dengan ujaran itu atau secara langsung dengan ekspresi-ekspresi performatif
(Levinson dalam Cahyono, 1995:224). Ketika penutur mengucapkan suatu tuturan,
sebenarnya dia juga melakukan tindakan, yaitu menyampaikan maksud atau
keinginannya melalui tuturan tersebut.

Wijana (1996:18-19) berpendapat bahwa tindak ilokusi adalah tindak tindak
tutur yang mengandung maksud dan fungsi daya ujar. Tindak tersebut diidentifikasikan
sebagai tindak tutur yang bersifat untuk menginformasikan sesuatu dan melakukan
sesuatu, serta mengandung maksud dan daya tuturan. Tindak ilokusi tidak mudah
diidentifikasi, karena tindak ilokusi berkaitan dengan siapa petutur, kepada siapa, kapan
dan di mana tindak tutur itu dilakukan dan sebagainya. Tindak ilokusi ini merupakan
bagian yang penting dalam memahami tindak tutur. Sementara

Chaer dan Leonie (2010:53) menyatakan bahwa tindak ilokusi adalah tindak
tutur yang biasanya diidentifikasikan dengan kalimat performatif yang eksplisit. Tindak
ilokusi ini biasanya berkenaan dengan pemberian izin, mengucapkan terimakasih,
menyuruh, menawarkan dan menjanjikan.

Uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tindak tutur ilokusi adalah tindak tutur
yang berfungsi menyampaikan sesuatu dengan maksud untuk melakukan tindakan yang
ingin dicapai oleh penuturnya pada waktu menuturkan sesuatukepada mitra tutur.
3. Perlokusi

Jenis tindak tutur yang terakhir adalah tindak tutur perlokusi. Perlokusi
merupakan akibat atau efek yang muncul pada diri mitra tutur setelah mendengar

sebuah tuturan. Levinson ( dalam Cahyono, 1995:224) berpendapat bahwa tindak
perlokusi (perlocutionary act) adalah pengaruh yang dihasilkan pada pendengar karena
pengujaran sebuah kalimat dan pengaruh itu berkaitan dengan situasi pengujarannya.
Tarigan (1986:114) mengilustrasikan daftar-daftar verba perlokusi dan ekspresi-
ekspresi menyerupai verba perlokusi yakni: mendorong menyimak (lawan tutur)
meyakini bahwa, meyakinkan, menipu, memperdayakan, membohongi, menganjurkan,
membesarkan hati, mengilhami, memengaruhi, mencamkan, membuat penyimak
memikirkan tentang dan lain sebagainya.

Chaer dan Leonie (2010:53) menjelaskan tindak perlokusi adalah tindak tutur
yang berkenaan dengan adanya ucapan orang lain sehubungan dengan sikap dan
perilaku non linguistik dari orang lain. Sebuah tuturan yang diutarakan oleh seseorang
seringkali mempunyai daya pengaruh (perlocutionary force), atau efek bagi yang
mendengarkannya. Efek atau daya pengaruh ini dapat secara sengaja atau tidak sengaja
dikreasikan oleh penuturnya. Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tindak tutur
perlokusi adalah tindak tutur yang pengutaraannya dimaksudkan untuk mempengaruhi
lawan tutur.

Pembagian tindak tutur berdasarkan maksud penutur ketika berbicara (ilokusi) Searle
membagi dalam lima jenis. Pembagian ini menurut Searle (1980:16) didasarkan atas asumsi
“Berbicara menggunakan suatu bahasa adalah mewujudkan prilaku dalam aturan yang
tertentu”. Kelima tindak tutur tersebut adalah sebagai berikut:

1. Tindak tutur reprsentatif, yaitu tindak tutur yang berfungsi untuk menetapan atau
menjelakan sesuatu apa adanya. Tindak tutur ini, seperti menyatakan, melaporkan,
memberitahukan, menjelaskan, mempertahankan, menolak dan lain-lain. Tindak
menyatakan, mempertahankan maksudnya adalah penutur mengucapkan sesuatu, maka
mitra tutur percaya terhadat ujaran penutur. Tindak melaporkan memberitahukan,
maksudnya ketika penutur mengujarkan sesuatu, maka penutur percaya bahwa telah
terjadi sesuatu. Tindak menolak, menyangkal, maksudnya penutur mengucapkan
sesuatu maka mitra tutur percaya bahwa terdapat alasan untuk tidak percaya. Tindak
menyetujui, menggakui, maksudnya ketika penutur mengujarkan sesuatu, maka mitra
tutur percaya bahwa apa yang diujarkan oleh penutur berbeda dengan apa yang ia
inginkan dan berbeda dengan pendapat semula. Contoh :
Guru : Pokok bahasan kita hari ini mengenai analisis wacana.
Tuturan guru di atas, merupakan salah satu contoh tindak tutur representatif yang
termasuk dalam tindak memberitahukan.

2. Tindak tutur komisif, yaitu tindak tutur yang berfungsi untuk mendorong pembicaraan
melakukan sesuatu, seperti berjanji, bernazar, bersumpah, dan ancaman. Komisit terdiri
dari 2 tipe, yaitu promises (menyajikan) dan offers (menawarkan) (Ibrahim, 1993:34).
Tindak menjanjikan, mengutuk dan bersumpah maksudnya adalah penutur menjajikan
mitra tutur untuk melakukan A, berdasarkan kondisi mitra tutur menunjukkan dia ingin
penutur melakukan A.
Contoh : saya berjanji akan datang besok
Tuturan di atas, merupakan salah satu contoh tindak komisif yang termasuk dalam
menjanjikan

3. Tindak tutur direktif, yaitu tindak tutur yang berfungsi untuk mendorong pendengar
melakukan sesuatu, misalnya menyuruh, perintah, meminta. Menutur Ibrahim

(1993:27) direktif mengespresikan sikap penutur terhadap tindakan yang akan
dilakukan oleh mitra tutur, mislnya meminta, memohon, mengajak, bertanya,
memerintah, dan menyarankan. Tindak meminta maksunya ketika mengucapkan
sesuatu, penutur meminta mitra tutur untuk melakukan A, maksudnya mitra tutur
melakukan A, karena keinginan penutur. Tindak memerintah, maksudnya ketika
penutur mengekspresikan keinginannya pada mitra tutur untuk melakukan A, mitra
tutur harus melakukan A, mitra tutur melakukan A karena keinginan penutur. Tindak
bertanya, ketika mengucapkan sesuatu penutur bertanya, mengekspresikan keingin
kepada mitratutur, mitra tutur menjawab apa yang ditanya oleh penutur.
Contoh : Guru : Siapa yang piket hari ini?
Siswa : Ani (siswa yang bersangkutan maju)
Tuturan di atas, merupakan suatu pernyatan yang tujuannya meminta informasi mitra
tutur.
Guru : Coba, ulangi jawabannya.
Tuturan ini juga termasuk tindak tutur direktif yang maksudnya menyuruh meminta si
A mengulangi kembali jawabannya.
4. Tindak tutur ekspresif, tindak tutur ini berfungsi untuk mengekspresikan perasaan dan
sikap. Tindak tutur ini berupa tindak meminta maaf, berterimakasih,menyampaikan
ucapan selamat, memuji, mengkritik. Penutur mengekspresikan perasaan tertentu
kepada mitra tutur baik yang berupa rutinitas maupun yang murni. Perasaan dan
pengekspresian penutur untuk jenis situasi tertentu yang dapat berupa tindak
penyampaian salam (greeting) yang mengekspresikan rasa senang, karena bertemu dan
melihat seseorang, tindak berterimakasih (thanking) yang mengekspresikan rasa
syukur, karena telah menerima sesuatu. Tindak meminta maaf (apologizing)
mengekspresikan simpati, karena penutur telah melukai atau mengganggu mitra tutur.
Contoh : Ya, bagus sekali nilai rapormu.
Tuturan di atas, merupakan salah satu contoh tindak ekspresif yang termasuk pujian.
5. Tindak tutur deklaratif, yaitu tindak tutur yang berfungsi untk memantapkan sesuatu
yang dinyatakan, atara lain dengan setuju, tidak setuju, benar-benar salah, dan
sebagainya.
Contoh: Adiknya sakit. Di mana handuk saya? Pergi!.
Berdasarkan mudusnya, kalimat atau tuturan dapat dibedakan menjadi tuturan
langsung dan tuturan tidak langsung. Misalnya: Tuturan langsung
A: Minta uang untuk membeli gula!
B: Ini. Tuturan tidak langsung
A: Gulanya habis, yah.
B: Ini uangnya. Beli sana!
Kadang-kadang secara pragmatis kalimat berita dan tanya digunakan untuk
memerintah, sehingga merupakan TT tidak langsung (indirect speech). Hal ini
merupakan sesuatu yang penting dalam kajian pragmatik. Misalnya:
- Rumahnya jauh (ada maksud: jangan pergi ke sana).
- Adiknya sakit (ada maksud: jangan ribut atau tengoklah!)

RANGKUMAN
1. Tindak tutur adalah kegiatan seseorang menggunakan bahasa kepada mitra tutur dalam
rangka mengkomunikasikan sesuatu. Apa makna yang dikomukasikan tidak hanya dapat
dipahami berdasarkan penggunaan bahasa dalam bertutur tersebut tetapi juga
ditentukan oleh aspek-aspek komunikasi secara komprehensif, termasuk aspekaspek
situasional komunikasi. Guru dan siswa merupakan komponen dalam pengajaran
holistik.
2. Austin membagi tindak tutur menjadi tiga macam tindakan, yaitu tindakan
menginformasikan atau menyatakan sesuatu “The act of saying something”, yang disebut
dengan tindak lokusi, tindakan menghendaki mitra tuturnya untuk melakukan sesuatu,
“The act of doing something” atau tindak ilokusi, dan tindakan memberikan pengaruh
terhadap mitra tutur atau menghendaki adanya reaksi atau efek atau hasil tertentu dari
mitra tutur, “The act of affecting someone” atau tindak perlokusi.
3. Pembagian tindak tutur berdasarkan maksud penutur ketika berbicara (ilokusi) Searle
membagi dalam lima jenis. Pembagian ini menurut Searle (1980:16) didasarkan atas
asumsi “Berbicara menggunakan suatu bahasa adalah mewujudkan prilaku dalam
aturan yang tertentu”, yaitutindaktutur representative, tindaktuturkomisif,
tindaktutrdirektif, tindaktuturekspresif, dantindaktuturdeklaratif.

LATIHAN
1. Interpretasikan konsep tindak tutur dan contohnya dalamkehidipan sehari-hari!
2. Jelaskanj jenis-jenis tindak tutur menurut Austin dan Scale beserta contohnya!
3. Tentukan jenis-jenis tindaktutur yang ada dalam karya sastra prosa!

BAB VII
PRAANGGAPAN

TUJUAN PEMBELAJARAN
Mahasiswa mampu:
1. Mengiterpretasikan pengertian praanggapan
2. Meinterpretasikan jenis dan contoh praanggapan
3. Menjelaskan praangaapan semantik dan pragmatik

4. Membuat contoh praanggapan

PRAANGGAPAN

Praanggapan merupakan suatu pengalaman manusia sehari-hari sehingga praanggapan
juga gejala yang mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Namun,sering kali kita sadar
akan hal itu , istilah praanggapan berasal dari bahasa inggris yaitu presupposition yang berarti
perkiraan, persangkan atau peranggapan.

PENGERTIAN PERANGGAPAN

Levinson dalam Suryanti (2020:54), memberikan konsep praanggapan yang disejajarkan
maknanya dengan praanggapan sebagai suatu macam atau pengetahuan latar belakang yang
membuat suatu tindakan, teori, ungkapan, mempunyai makna. Nabban dalam Suryanti
(2020:54) memberikan pengertian bahwa praanggapan sebagai dasar atau penyimpulan dasar
mengenai konteks dan situasi berbhasa (menggunakan bahasa) yang membuat bentuk bahasa
(kalimat atau ungkapan) mempunyai makna bagi pendengar atau penerima.

Kempso dalam Fahruroji (2021: 41) mengatakan bahwa praanggapan adalah asumsi
berdasrkan proposisi tertntu yang kebenaranya diakui begitu saja. Kebenaraan itu diakui tidak
saja oleh pembicaranya melainkan juga oleh setiap orang yang terlibat dalam percakapan.
Namun begitu, ujaran itu akan terasa wajar (felicitous) apabila pembicara dan pendengaranya
memiliki latar pengetahuan yang relatif sama. Praanggapan adalah sesuatu yang diasumsikan
oleh penutur sebagai kejadian sebelum menghasilakan suatu tuturan. Yule (2006: 43)
mengatakan bahwa praanggapan adalah sesuatu yang diasumsikan oleh penutur sebagai kajian
sebelum menghasilakn suatu tuturan

Dari beberapa defenisi praanggapan diatas dapat disimpulakan bahwa praanggapan
adaah kesimpulan atau asumsi awal penutur sebelum melakukan tuturan bawah apa yang

disampaikan juga dipahami oleh mitra tutur. Untuk memperjelas hal ini, perhatikan contoh
berikut:

A: “ Saya membeli bukunya Eka Kurniawan kemarin”

B: “ Dapat potongan 30 Persen Kan?

Contoh percakapan diatas menunjukan bahwa sebelum bertutur (a)

memilikiperanggapan bahwa, (b) mengetahui maksudnya yaitu terdapt sebuah buku

yang dituliskan oleh Eka Kurniawan.

JENIS PRAANGGAPAN

Praanggapan sudah diasosiasikan dengan pemakian sejumalh besar kata, frasa, dan
struktur (Yule, 2006: 46). Yule mengkalifikasikan praanggapan kedalam enam jenis
peranggapan, yaitu:

a. Praanggapann esistensial
Praanggapann esistensial adalah praanggapan yang menunjukan ekstensi yang
diungkapakan dengan kata yang definit.
Contohnya:
Orang itu mandi
Ada orang mandi.

b. Praanggapan faktif
Praanggapan faktif adalah praanggapan dimana informasi yang dipraanggapkan
mengikuti karta kerja dapat dianggap sebagi suatu kenyataan.
Contohnya:
Dia tidak menyadari bahwa dia sakit
Dia sakit

c. Praanggapan leksikal
Praanggapan leksikal dipahami sebagai bentuk praanggapan di mana makna yang
dinyatakan secara konvensial ditafsirkan dengan peranggapan bahwa suatu makna
lain ( yang tidak dinyatakan) dipahami.
Cotohnya:
Dia berhenti merokok
Dulu dia biasa merokok

d. Praanggapan non- faktif
Praanggapan non- faktif adalah suatu praanggapan yang diasumsikan tidak benar.
Contohnya:
Saya membayangkan berada di Seoul

Saya tidak berada di Seoul
e. Praanggapan strulktural.

Praanggapan strulktural mengacu pada struktur kalimat-kalimat tertentu telah
dianalisis sebagai praanggapan secara tetao dan konvesional diinterpretasikan
sengan kata tanya ( kapan dan dimana) sesudah diketahui sebagai masalah.

Contohnya: Kapan dia Kembali?
Dia kembali.

f. Praanggapan konterfaktual
Praanggapan konterfaktual adalah Presuposisi (praanggapan) konterfaktual berarti
bahwa yang dipraanggapkan tidak hanya tidak benar, tetapi juga merupakan
kebalikan ( lawan) dari benar atau bertolak belakang dengan kenyataan.
contohnya:
Seandainya ibu kota Nusa Tenggara Timur ada di Labuan Bajo.
Ibu kota Nusa Tenggara Timur bukan di Labuan Bajo

PRAANGGAPAN SEMANTIK DAN PRAGMATIK

Cummings, dkk (2011:120) menyatakan praanggapan dibagi menjadi dua jenis, yaitu
praanggapan semantik dan praanggapan pragmatik. Praanggapan semantik adalah
praanggapan yang dapat ditarik dari pernyataan atau kalimat melalui leksikon atau kosa
katanya, sedangkan praanggapan pragmatik adalah praanggapan yag ditarik berdasarkan atas
konteks ketika suatu kalimat atau pernyataan itu diucapkan.

a. Praanggapan Semantik
Menurut Cummings, dkk (2011:120) praanggapan semantic adalah yang ditarik dari
pernyataan atau kalimat melalui leksikon atau kosakatanya.
Contoh praanggapan semantikyaitu:
Contoh1
Seseorang mengatakan sebagai berikut :
(1) Adi tidak jadi pergi.
(2) Sepeda motornya mogok.
Dari kata-kata yang adadalampernyataanitudapatkitatarikpraanggapanbahwaAde
mempunyaisepeda motor.Untuk lebih jelas perhatikan contoh berikutnya.
Contoh 2
Rinto telah berhenti merokok.
Dari kata-kata yang dipakai dalam pernyataan itu terkandung dua biasa merokok,
sedangkan praanggapan yang kedua yaitu bahwa saat ini Rinto tidak merokok lagi.

b. Praanggapan Pragmatik
Praanggapan pragmatik adalah praanggapan yang ditarik berdasarkan atas konteks

ketika suatu kalimat atau pernyataan itu diucapkan.
Contoh
praanggapan pragmatik yaitu pada percakapan sebagai berikut:

Pada suatu waktu datang seorang tamu laki-laki kerumah Rinto. Rinto adalah seorang
direktur suatu perusahaan. Rinto pun mempersilahkan tamu itu untuk masuk dan
duduk diruang tamu. Tamu itu ternyata teman Rinto ketika sekolah di SMA. Dia
bernama Sany yang sampai saat ini belum bekerja. Sambil duduk Sany mengatakan:
Sany: “Aku merasa capek sekali karena berjalan kaki terlalu jauh. Tidak ada kendaraan”.
Rinto : (Segera ke belakang mengambil air minum dan ia mempersilahkan
Sanyomeneguknya). “Silahkan minum Sany”.
Sany : “Terima kasih. Kau tahu benar aku merasa haus”

Dari percakapan diatas dapat diketahui bahwa ketika Sany bercerita tentang proses
sampainya kerumah Rinto, Rinto berpraanggapan bahwa ada sesuatu yang diminta oleh
Sany dan Sany ingin minum. Selain itu berdasarkan percakapan diatas dapat diketahui
praanggapan semantik kalimat tau ialah “Sany merasa capek” dan kalimat “tidak ada
kendaraan di jalan”. Dalam hal ini tampak perbedaan antara praanggapan semantik dan
praanggapan pragmatik.

RANGKUMAN:

1. Praanggapan merupakan suatu pengalaman manusia sehari-hari sehingga
praanggapan juga gejala yang mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Namun,sering kali kita sadar akan hal itu , istilah praanggapan berasal dari bahasa
inggris yaitu presupposition yang berarti perkiraan, persangkan atau peranggapan.

2. Yule mengkalifikasikan Perangapan ada enam yaitu praanggapann esistensial,
praanggapan faktif, praanggapan leksikal, praanggapan non- faktif, praanggapan
strulktural dan praanggapan konterfaktual

3. Praanggapan semantik adalah praanggapan yang dapat ditarik dari pernyataan atau
kalimat melalui leksikon atau kosa katanya, sedangkan praanggapan pragmatik adalah
praanggapan yag ditarik berdasarkan atas konteks ketika suatu kalimat atau
pernyataan itu diucapkan.

LATIHAN:
1. Interpretasikan pengertian praanggapan berdasarkan pemahaman anda!
2. Yule mengkalifikasikan peranggapan ada 6, buatlah contoh dari ke-6 praanggapan
tersebut!
3. Jelaskan peraanggapan semantik dan praanggapan pragmatik!
4. Buatlah contoh praanggapan semantik dan praagmatik!

BAB VIII

PRINSIP KESANTUNAN DAN PRINSIP KERJA SAMA

TUJUAN PEMBELAJARAN

Mahasiswa mampu:

1.Menginderpretasikan pengertian dan penerapan prinsip kerja sama

2.Menginterpretasikan pengertian dan penerapan prinsip kesantunan

3. Mengidentifikasikan dan membuat contoh dari prinsip kerja sama dan prinsip
kesantunan

Prinsip Kesantunan
Komunikasi berfungsi sebagai sarana untuk menyampaikan pesan kepada orang lain

atau sebaliknya. Salah satu bentuk komunikasi manusia di antaranya yaitu dengan percakapan
atau tindak tutur. Dengan bertutur manusia dapat saling bertukar informasi. Namun dalam
bertutur manusia juga memiliki aturan-aturan yang harus dipatuhi, agar etika percakapan yang
santun dapat diwujudkan melalui komunikasi. Wujud etika percakapan yang santun tersebut
salah satunya melui prinsip kesantunan.

Agar sebuah percakapan tidak menyinggung mitra tuturnya, salah satu pendekatan yang
digunakan untuk menganalisis kesantunan yaitu dengan pendekatan pragmatik. Baryadi
(Nasanius, 2007:101) mengartikan kesantunan sebagai “salah satu wujud penghormatan
seseorang kepada orang lain”. Sedangkan Nasanius (2007:102) menyatakan bahwa perilaku
santun adalah perilaku yang didasari oleh pertimbangan akan perasaan orang lain agar orang
itu tidak tersinggung atau mukanya tidak terancam. Jadi dalam sebuah percakapan atau wacana
tidak hanya bertujuan menyampaikan pesan kepada mitra tutur tetapi juga harus menghormati
mitra tuturnya.

Yule (2006:104) menyatakan bahwa kesopanan dalam suatu interaksi dapat
didefinisikan sebagai alat yang digunakan untuk menunjukkan kesadaran tentang wajah orang
lain. Dari teori itu dapat diartikan bahwa jika seseorang bertutur dapat mempengaruhi wajah
seseorang, yaitu mengancam atau menyelamatkan wajah mitra tuturnya, karena wajah
berkaitan dengan ekspresi diri seseorang.

Dalam bertutur, penutur tidak cukup hanya mematuhi prinsip kerjasama saja. Karena
dalam bertutur, disamping menyampaikan amanat, penutur juga harus menjaga dan
memelihara hubungan sosial penutur pendengar. Namun sebenarnya prinsip kesantunan dapat
diartikan secara berbedabeda, tergantung pada latar belakang teori yang digunakan. Salah satu

teori yang akan digunakan oleh penulis yaitu teori dari Leech. Prinsip kesantunan Leech ini
didasarkan pada kaidah-kaidah. Kaidah-kaidah itu berupa maksim-maksim, dan maksim-
maksim itu menganjurkan agar kita mengungkapkan keyakinankeyakinan yang sopan dan
bukan keyakinan-keyakinan yang tidak sopan.

a. Prinsip Kesantunan Ketimbangrasaan
Berkaitan dengan Prinsip Kesantunan ini maka orang bertutur yang berpegang dan

melaksanakan Prinsip Kesantunan ini akan dapat dikatakan sebagai orang santun. Apabila di
dalam bertutur orang berpegang teguh pada maksim ketimbangrasaan, ia akan dapat
menghindarkan sikap dengki, iri hati dan sikap-sikap lain yang kurang santun terhadap mitra
tutur (Rahardi, 2006:60).
b. Prinsip Kesantunan Kemurahhatian

Prinsip Kesantunan kemurahhatian berkaitan dengan sifat murah hati yang diharapkan dari
penutur. Dalam prinsip ini penutur harus merelakan keuntungan yang maksimal berada pada
mitra tuturnya. Salah satu cara untuk mematuhi prinsip ini yaitu dengan menawarkan bantuan
kepada orang lain. Karena penghormatan terhadap orang lain akan terjadi apabila orang dapat
mengurangi keuntungan bagi dirinya sendiri dan memaksimalkan keuntungan bagi pihak lain
(Rahardi, 2006:61).
c. Prinsip Kesantunan Keperkenaan

Prinsip Kesantunan ini mengatakan “hindari mengatakan hal-hal yang tidak menyenangkan
mengenai orang lain, dan lebih khusus lagi, tentang penyimak Dapat diartikan bahwa prinsip ini
melarang orang untuk saling mengejek, mencaci, dan merendahkan orang lain. Dalam Prinsip
Kesantunan ini orang akan dianggap sopan jika bisa saling mengharagai.
d.Prinsip Kesantunan Kerendahhatian,

Dalam prinsip kesantunan yang harus dipatuhi adalah minimalkan pujian kepada diri sendiri
dan maksimalkan penjelekan kepada diri sendiri. Dengan Prinsip Kesantunan ini diharapkan
peserta tutur dapat bersikap rendah hati dengan cara mengurangi pujian terhadap dirinya
sendiri. Karena orang akan dikatakan sombong dan congkak hati apabila di dalam kegiatan
bertutur selalu memuji dan mengunggulkan dirinya sendiri (Rahardi, 2006:64). Jadi dapat
diartikan bahwa inti dari prinsip ini yaitu peserta tutur tidak boleh berlaku sombong.
e. Prinsip Kesantunan Kesetujuan

Di dalam Prinsip Kesantunan ini, ditekankan agar para peserta tutur dapat saling membina
kecocokan atau persetujuan di dalam kegiatan bertutur. Dalam masyarakat tutur Jawa, orang
tidak diperbolehkan memenggal atau bahkan membantah secara langsung apa yang dituturkan
oleh pihak lain (Rahardi, 2006:64).
f. Prinsip Kesantunan Kesimpatian

Dalam Prinsip Kesantunan kesimpatian, diharapkan agar para peserta tutur dapat
memaksimalkan sikap simpati antara pihak yang satu dengan pihak yanglain.
PRINSIP KERJASAMA

Prinsip kerjasama adalah sebuah prinsip yang antara lain mengatur apa yang harus dilakukan
oleh pesertanya agar percakapan itu terdenganr koheren terhadap koherensi percakapan, berarti
ia tidak mengikuti prinsip kerjasama. Prinsip kerjasama memang perlu dipatuhi dalam sebuah
percakapan, agar para peserta tutur dapat melakukan percakapan secara kooperatif, sehingga
percakapan dapat berjalan lancar.

Prinsip kerjasama Grice dibagi menjadi empat (Rahardi, 2006:53), yaitu prinsip kerjasama
kuantitas, prinsip kerjasama kualitas, prinsip kerjasama relevansi atau keterkaitan, dan prinsip
kerjasama cara.

1. Prinsip Kerjasama Kuantitas
Dalam prinsip kerjasama kuantitas, tuturan yang tidak mengandung informasi yang

sungguh-sungguh diperlukan mitra tutur, atau tuturan itu mengandung informasi yang
berlebihan, maka tuturan itu melanggar prinsip kerjasama kuantitas (Rahardi, 2006:53).
Jadi dalam prinsip ini penutur diharapkan dapat memberikan informasi yang cukup dan
relatif memadai.
2. Prinsip Kerjasama Kualitas

Dalam prinsip kualitas, tuturan hendaknya berisi nasehat untuk memberikan
kontribusi yang benar dengan bukti-bukti tertentu (Rahardi, 2006:53). Berarti pada
prinsip ini tuturan harus berisi sesuatu yang nyata dan sesuai dengan fakta.
3. Prinsip Kerjasama Relavansi

Di dalam prinsip kerjasama relevansi, dinyatakan bahwa agar terjalin kerjasama yang
baik antara penutur dan mitra tutur, masing-masing hendaknya dapat memberikan
kontribusi yang relevan tentang sesuatu yang sedang dipertuturkan itu (Rahardi,
2006:56).
4. Prinsip Kerjasama Cara

Prinsip kerjasama cara sebagai bagian prinsip kerjasama menyarankan penutur
untuk mengatakan sesuatu dengan jelas (Rahardi, 2006:53). Dalam prinsip ini penutur
harus berbicara secara langsung, tidak kabur dan tidak berlebih-lebihan.

RANGKUMAN:

1. Yule (2006:104) menyatakan bahwa kesopanan dalam suatu interaksi dapat
didefinisikan sebagai alat yang digunakan untuk menunjukkan kesadaran tentang
wajah orang lain. Dari teori itu dapat diartikan bahwa jika seseorang bertutur dapat

mempengaruhi wajah seseorang, yaitu mengancam atau menyelamatkan wajah
mitra tuturnya, karena wajah berkaitan dengan ekspresi diri seseorang.
2. Prinsip kesantunan Leech ini didasarkan pada kaidah-kaidah diantaranya: prinsip

kesantunan ketimbangrasaan, prinsip kesantunan kemurahhatian, prinsip

kesantunan keperkenaan, prinsip kesantunan keperkenaan, prinsip kesantunan

kerendahhatian, prinsip kesantunan kesetujuan dan prinsip kesantunan

kesimpatian.

3. Prinsip kerjasama Grice dibagi menjadi empat (Rahardi, 2006:53), yaitu prinsip
kerjasama kuantitas, prinsip kerjasama kualitas, prinsip kerjasama relevansi atau

keterkaitan, dan prinsip kerjasama cara.

LATIHAN:
1. Interpretasikan prinsip kesantunan menurut Baryadi menggunakan pemahaman
anda!
2. Jelaskan prinsip kesantunan menurut Leech berdasarkan kaidah-kaidahnya
menggunakan pemahaman anda dan berikan contohnya!
3. Jelasakan prinsip kerjasama Griceberdasarkan pemahaman anda dan berikan
contohnya!

BAB IX
IMPLIKATUR

TUJUAN PEMBELAJARAN

Mahasiswa mampu:
Menginterpretasikan implikatur percakapan secara unggul yang teliti, santun,
dan bertanggung jawab

PENGERTIAN IMPLIKATUR
Tindak komunikasi dalam suatu kelompok seringkali memunculkan suatu makna atau

maksud di balik tuturan tersebut. Implikatur percakapan sering muncul dalam tindak
komunikasi dalam suatu kelompok, baik implikatur percakapan khusus maupun implikatur
percakapan umum. Pemahaman terhadap implikatur percakapan akan lebih memperlancar
proses komunikasi khususnya dalam suatu kelompok.

Percakapan pada hakikatnya adalah peristiwa berbahasa lisan antara dua orang
partisipan atau lebih yang pada umumnya terjadi dalam suasana santai. Percakapan merupakan
wadah yang memungkinkan terwujudnya prinsip-prinsip kerjasama dan sopan santun dalam
peristiwa berbahasa. Untuk itu perlu memahami implikatur percakapan, agar apa yang
diucapkan dapat dipahami oleh lawan tutur.

Salah satu bagian dari kajian pragmatik adalah implikatur percakapan. Dalam suatu
komunikasi, di dalamnya dapat dipastikan akan terjadi suatu percakapan. Percakapan yang
terjadi antar pelibat sering kali mengandung maksud-maksud tertentu yang berbeda dengan
struktur bahasa yang digunakan. Dalam kondisi tersebut suatu penggunaan bahasa sering kali
mempunyai maksud-maksud yang tersembunyi di balik penggunaan bahasa secara struktural.
Pada kondisi seperti itulah suatu kajian implikatur percakapan mempunyai peran yang tepat
untuk mengkaji suatu penggunaan bahasa.

Implikatur yang biasa digunakan oleh penutur adalah bentuk tuturan yang digunakan
penutur untuk menyampaikan pesan kepada mitra tutur secara verbal dalam sebuah
percakapan, di mana wujud tuturan tersebut yang realisasinya berdasarkan makna di luar
bentuk linguistik.

JENIS-JENIS IMPLIKATUR
Ada beberapa jenis implikatur percakapan. Menurut Grice (Yule, 2006: 31) tiga jenis

implikatur percakapan yakni:
1. Implikatur konvensional

Implikatur konvensional yaitu implikatur yang diperoleh langsung dari makna kata,
dan bukan dari prinsip percakapan. Implikatur konvensional lebih mengacu pada makna
kata secara konvensional, makna percakapan ditentukan oleh “arti konvensional” kata-
kata yang digunakan. Sebagai contoh :
“Rinto tuli, oleh karena itu ia tidak dapat berbicara”.

Implikatur tuturan itu adalah bahwa Rinto tidak dapat berbicara merupakan
konsekuensi karena ia Rinto . Jika Rinto tidak tuli, tentu tuturan itu tidak berimplikasi
bahwa Rinto tidak dapat berbicara karena ia Tuli.
2. Implikatur praanggapan

Implikatur praanggapan berupa andaian penutur bahwa mitra tutur dapat mengenal
pasti orang atau benda yang diperkatakan. Sebuah tuturan dapat mempraanggapan
tuturan yang lain. Implikatur praanggapan lebih mengacu pada suatu pengetahuan
bersama antara penutur dan mitra tutur. Sebagai contoh :
“Rinto minum Aqua”.

Dari contoh tersebut, dapat disimpulkan bahwa praanggapan dari tuturan tersebut
adalah “Ada minuman merk Aqua” atau “Aqua adalah minuman yang dapat diminum
seperti teh, kopi, dll”.
3. Implikatur nonkonvensional
Implikatur nonkonvensional, merupakan suatu implikatur yang lebih mendasarkan
maknanya pada suatu konteks yang melingkupi suatu percakapan. Implikatur
nonkonvensional adalah implikasi pragmatis yang tersiran di dalam suatu percakapan.
Sebagai contoh : “Wah, Pak Rinto sekarang sudah menjadi orang”. Implikatur
percakapan tuturan itu adalah bahwa dahulu Pak Rinto belum sukses, karena “orang”
dalam tuturan tersebut dimaksudkan sebagai “orang sukses”.

RANGKUMAN:

1. Implikatur percakapan sering muncul dalam tindak komunikasi dalam suatu
kelompok, baik implikatur percakapan khusus maupun implikatur percakapan
umum. Pemahaman terhadap implikatur percakapan akan lebih memperlancar
proses komunikasi khususnya dalam suatu kelompok.

2. Percakapan pada hakikatnya adalah peristiwa berbahasa lisan antara dua orang
partisipan atau lebih yang pada umumnya terjadi dalam suasana santai. Percakapan
merupakan wadah yang memungkinkan terwujudnya prinsip-prinsip kerjasama dan
sopan santun dalam peristiwa berbahasa. Untuk itu perlu memahami implikatur
percakapan, agar apa yang diucapkan dapat dipahami oleh lawan tutur.

3. Salah satu bagian dari kajian pragmatik adalah implikatur percakapan. Dalam suatu
komunikasi, di dalamnya dapat dipastikan akan terjadi suatu percakapan.

4. Ada beberapa jenis implikatur percakapan. Menurut Grice (Yule, 2006: 31) tiga jenis
implikatur percakapan yakni: Implikatur konvensional, Implikatur praanggapan dan
Implikatur nonkonvensional.

Latihan:

1. Interpretasikan pengertian dari implikatur percakapan?
2. Jelaskan implaktur menurut Grice menurut pemahaman anda !
3. Buatlah contoh dari ketiga implikatur menurut Grice!

BAB X
PRAGMATIK DALAM PENGAJARAN BAHASA: SEBAGAI PENDEKATAN DALAM

PEMBELAJARAN DAN SEBAGAI MATERI AJAR

TUJUAN PEMBELAJARAN

Mahasiswa mampu:
Menginterprestasikan kegunaan pragmatik dalam pengajaran bahasa Indonesia di sekolah,
baik sebagai pendekatandalam pembelajaran maupun sebagai materi ajar

PRAGMATIK DALAM PENGAJARAN BAHASA: SEBAGAI PENDEKATAN DALAM
PEMBELAJARAN DAN SEBAGAI MATERI AJAR

Pada hakikatnya, belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi. Oleh karena itu,
pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah diarahkan untuk meningkatkan kemamapuan
peserta didik dalam berkomunikasi, baik secara lisan maupun tulisan. Bahasa sebagai sarana
komunikasi digunakan dalam bermacam-macam fungsi dan disajikan dalam konteks yang
bermakna, tidak dalam bentuk kalimat-kalimat lepas.

Di dunia pengajaran bahasa istilah pragmatik yang identik dan digunakan silih berganti
dengan istilah komunikatif digunakan untuk menyebut (1) kompetensi yang menjadi tujuan
pengajaran, (2) fungsi yang menjadi bahan pengajaran, dan (3) faktor-faktor yang membatasi
kompetensi dan fungsi yang diajarkan (Yohanes, 2006). Dari pendapat itu jelaslah bahwa
pendekatan komukatif merupakan suatu alternatif solusi menghadapi kebutuhan atau tuntutan
tersebut. Pendekatan komukatif mengacu pada fungsi bahasa sebagai alat komunikasi. Hal
inilah yang akan menjadikan pembelajaran bahasa semakin komunikatif ketika didekati dengan
cara-cara yang komunikatif.

Berorientasi pada suatu kemampuan komunikasi, pembelajaran bahasa juga dapat didekati
melalui salah satu bidang kajian bahasa yaitu pragmatik. Pengajaran bahasa dengan pendekatan
pragmatik lazim disebut dengan fungsi komunikatif dengan sejumlah fungsinya. Pragmatik
merupakan suatu kajian bahasa dengan melibatkan berbagai aspek di luar bahasa yang mampu
memberi makna. Gazdar (dalam Edi Subroto, 2011: 10) merumuskan bahwa pragmatik adalah
studi arti minus kondisi benar. Kondisi benar yang dimaksud adalah arti yang menunjukkan
benar berdasarkan arti kata-kata yang dipakai bersama aspek struktur dari tuturan itu. Dengan
demikian pragmatik mengkaji aspek-aspek arti lainnya di luar arti leksikal kata yang dipakai
bersama dengan arti struktural tuturan itu yang bersifat bebas konteks.

Kemampuan untuk mengkaji hal-hal di luar bahasa pastilah akan sangat membantu peserta
didik (peserta didik) dalam mengaplikasikan kompetensi berbahasa yang dimilikinya secara

praktis dalam kondisi senyatanya. Dengan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran bahasa
diharapkan peserta didik akan lebih dapat mengaktualisasikan kemampuan berbahasa yang
dimiliki dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat.

Pragmatik dalam Pengajaran Bahasa
Secara luas telah diketahui bahwa mutu pendidikan di Indonesia rendah. Dikaitkan dengan

pendidikan dalam bidang bahasa, guru lebih banyak memeberikan teori dari pada memberikan
kesempatan kepada peserta didik untuk mempraktikkan bahasa yang mereka pelajari. Guru
lebih banyak mengajarkan tentang bahasa dan bukan bagaimana menggunakan bahasa yang
baik dan benar. Setelah hal tersebut disadari kemudian muncul pendekatan baru dalam
pengajaran bahasa, yang kita kenal dengan pendekatan komunikatif. Pendekatan komunikatif
ini dilaksanakan melalui konsep baru yang disebut dengan pragmatik.
Sebelum mengkaji lebih jauh akan dipaparkan suatu pengertian dari pragmatik yang dikutip
dari salah satu ahli bahasa. Levinson berpendapat bahwa pragmatik ialah kajian dari hubungan
antara bahasa dan konteks yang mendasari penjelasan pengertian bahasa (Badrih, dkk, 2020:
9).

Dari pendapat tersebut terlihat bahwa pragmatik merupakaan salah satu bidang kajian
bahasa yang melibatkan unsur-unsur di luar bahasa (konteks) di dalam pengkajiannya. Dalam
pragmatik, pengkajian bahasa didasarkan pada penggunaan bahasa bukan pada struktural
semata. Konteks-konteks yang melingkupi suatu bahasa akan mendapat perhatian yang besar
dalam kaitannya dengan makna yang muncul dari suatu penggunaan bahasa. Kondisi praktis
tindak komunikasi menjadi pijakan utama dalam pengkajian pragmatik. Dalam hal ini, wacana-
wacana yang berkaitan dengan proses komunikasi akan dikaji.

Menurut Maidar Arsyad (Badrih, dkk, 2020: 8- 9), pragmatik membaca pengkajian bahasa
lebih jauh ke dalam keterampilan menggunakan bahasa berkomunikasi praktis dalam segala
situasi yang mendasari interaksi kebahasaan antara manusia sebagai anggota masyarakat.
Pendapat tersebut memberikan penjelasan bahwa orientasi pragmatik adalah pada suatu
komunikasi praktis, di mana pada tataran praktis muncul berbagai faktor di luar bahasa yang
turut memberi makna dalam proses komunikasi tersebut.

Nababan, (Badrih, dkk, 2020: 9)mengemukakan beberapa faktor penentu dalam
komunikasi:Siapa yang berbahasa;, dengan siapa; untuk tujuan apa, dalam situasi apa, (tempat
dan waktu); dalam konteks apa (peserta lain, kebudayaan dan suasana); dangan jalur apa (lisan
atau tulisan); media apa (tatap muka, telepon, surat, dan sebagainya); dalam peristiwa apa
(bercakap-cakap, ceramah, upacara, laporan, dan sebagainya)
Dari pendapat tersebut didapatkan beberapa faktor yang mungkin sekali memepengaruhi
proses tindak komunikasi yaitu pelaku, tujuan, situasi, konteks, jalur, media, dan peristiwa.

Sangatlah bahwa pragmatik sangat membantu dalam pengajaran bahasa khususnya di sekolah.
pengajaran bahasa yang berorientasi pada kajian bahasa secara “struktural” jelas akan
menimbulkan banyak kendala ketika tidak dikaitkan dengan penggunaan bahasa secara praktis
di lapangan.
Rangkuman:

1. bahasa adalah belajar berkomunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa
Indonesia di sekolah diarahkan untuk meningkatkan kemamapuan peserta didik
dalam berkomunikasi, baik secara lisan maupun tulisan. Bahasa sebagai sarana
komunikasi digunakan dalam bermacam-macam fungsi dan disajikan dalam konteks
yang bermakna, tidak dalam bentuk kalimat-kalimat lepas.

2. Di dunia pengajaran bahasa istilah pragmatik yang identik dan digunakan silih
berganti dengan istilah komunikatif digunakan untuk menyebut (1) kompetensi
yang menjadi tujuan pengajaran, (2) fungsi yang menjadi bahan pengajaran, dan (3)
faktor-faktor yang membatasi kompetensi dan fungsi yang diajarkan (Yohanes,
2006).

3. Pragmatik merupakaan salah satu bidang kajian bahasa yang melibatkan unsur-
unsur di luar bahasa (konteks) di dalam pengkajiannya. Dalam pragmatik,
pengkajian bahasa didasarkan pada penggunaan bahasa bukan pada struktural
semata.

4. Menurut Maidar Arsyad (Badrih, dkk, 2020: 8- 9), pragmatik membaca pengkajian
bahasa lebih jauh ke dalam keterampilan menggunakan bahasa berkomunikasi
praktis dalam segala situasi yang mendasari interaksi kebahasaan antara manusia
sebagai anggota masyarakat.

Latihan:
1. Interpretasikan pelajaran bahasa berdasarkan pemahaman anda?
2. Bagaimana Fungsi pragmatik dalam pragmatik dalam pengajaran bahasa?
3. Kemampuan apa yang di dapatakanmempelajari pragmatik dalam pengajaran bahasa?

DAFTAR PUSTAKA

Badrih, dkk . 2020. Linguistik Terapan Konsep dan Penelitian Linguistik Mutakhir.
Malang: Literasi Nusantara.

Budinuryanto Yohanes. (2006). Pendekatan Pragmatik. Di akses pada 2 November 2021,
dari http://digilib.upi.edu/pasca/available/etd-1127106-110028/.

Cummings. 2011. Pragmatik Sebuah Perspektif Multidisipliner. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.

Edi Subroto. 2011. Pengantar Studi Semantik dan Pragmatik. Surakarta: Cakrawala Media
Fahruroji, 2021. Memahami Wacana Demokrasi Pada Model Buku Teks”. Yogyakarta: Zahir

Publising.

Muhammad Rohmadi. 2004. Pragmatik Teori dan Analisis. Yogyakarta: Lingkar Media.

Nasanius, Yassir. 2007. PELBBA 18. Jakarta: Pusat Kajian Bahasa dan Budaya Unika
Atmajaya.

Rahardi, R. Kunjana. 2006. Dimensi-Dimensi Kebahasaan: Aneka Masalah Bahasa Terkini.
Jakarta: Erlangga.

Suryanti, 2020. Pragmatik. Jawa Tengah: Anggota IKAPI.

Tarigan, G. Henri. 2009. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Angkasa.

Yule, George. 2006. Pragmatik (edisi terjemahan oleh Indah Nur Wahyuni). Yogyakarta :
Pustaka Pelajar.

Yule, George. 2006. Pragmatik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


Click to View FlipBook Version
Previous Book
แหล่งเรียนรู้ห้องสมุดประชาชนจังหวัดพะเยา
Next Book
1-converted (1)