Desya Amalia PO713203221061 PENANGANAN SPECIMEN DARAH
Tujuan Pembelajaran Mahasiswa mampu menjelaskan jenis – jenis spesimen darah Mahasiswa mampu menjelaskan beberapa jenis zat additif Mahasiswa mengetahui parameter pemeriksaan spesimen darah Mahasiswa mengetahui prosedur penanganan spesimen darah Mahasiswa mampu menjelaskan penolakan spesimen darah
Jenis - Jenis Specimen Darah Whole Blood (Darah Utuh) Spesimen darah yang memiliki komponen darah secara utuh dan kondisinya sama dengan didalam aliran darah dalam tubuh. Plasma Bagian cair darah yang tidak mengandung sel-sel darah tetapi masih mengandung faktor – faktor pembekuan darah. Serum Bagian cair darah yang tidak mengandung sel - sel darah dan faktor – faktor pembekuan darah
Jenis - Jenis Specimen Darah “Zat additif merupakan zat yang ditambahkan ke dalam tabung penampung darah yang memiliki pengaruh yang berbeda terhadap spesimen darah. Zat additif yang diberikan seperti antikoagulan, antiglikolitik, clot activator dan Thixotropic Gel Separator” Zat Additif pada Tabung Vacuum Antikoagulan Aktivator Bakuan Thixotropic Gel Separator Antiglikolitik Zat yang meningkatkan koagulasi dalam tabung yang digunakan untuk mengumpulkan serum Zat yang ditambahkan kedalam darah dengan tujuan untuk menghambat atau mencegah proses pembentukan bekuan darah dengan cara mengikat atau mengendapkan ion ca dan menghambat pembentukan thrombin dari protrombin Bahan sintetik yang tidak bereaksi yang membentuk barrier fisik antara bagian sel spesimen dan bagian serum atau plasma setelah proses sentrifugasi. Zat yang mencegah glikolisis, pemecahan atau metabolisme glukosa oleh sel darah
Mengandung K2 dan Na2 (bentuk kering) dan K3 (bentuk cair) Sering digunakan untuk pemeriksaan hematologi Tidak merubah morfologi sel dan menghambat agregasi trombosit dengan lebih baik dari antikoagulan lainnya. EDTA mencegah koagulasi dengan cara mengikat ion kalsium sehingga terbentuk garam kalsium yang tidak larut, dengan demikian ion kalsium yang berperan dalam koagulasi tidak aktif dan mengakibatkan tidak terjadinya proses pembentukan bekuan darah. Perbandingan EDTA dengan darah dalam bentuk serbuk yaitu 1 mg dalam 1 ml darah, sedangkan untuk EDTA cair dengan konsentrasi 10% yaitu 10 μl EDTA dalam 1 ml darah EDTA < Darah = Darah akan mengalami koagulasi EDTA > Darah = Eritrosit mengkerut / menyusut Jenis Zat Additif EDTA (Ethylen Diamine Tetracetic Acid)
Natrium sitrat digunakan dalam bentuk larutan pada konsentrasi 3,2% dan 3,8% Natrium sitrat menghambat koagulasi dengan cara mengendapkan ion kalsium sehingga menjadi bentuk yang tidak aktif Natrium sitrat 3,2% direkomendasikan International Committee for Standardization in Hematology (ICSH) dan International Society for Thrombosis and Haematology sebagai antikoagulan terpilih untuk pengujian koagulasi dan agregasi trombosit. Penggunaan Na.Citrat 3,2% adalah 1 : 9 ( 1 bagian Na.Citrat 3,2% kedalam 9 bagian darah) Penggunaan Na.Citrat 3,2% untuk pemeriksaan Hemostasis / Koagulasi test Penggunaan Na.Citrat 3,8% adalah 1 ; 4 ( 1 bagian Na.Citrat 3,8% kedalam 4 bagian darah) Penggunaan Na.Citrat 3,8% untuk pemeriksaan Laju Endap Darah (LED) metode westergreen Jenis Zat Additif Natrium Sitrat 3,2% dan 3,8%
Tersedia dalam bentuk Na.Oksalat, Kalium Oksalat dan Ammonium Oksalat. Bekerja sebagai antikoagulan dengan cara mengendapkan ion kalsium Paling banyak digunakan dalam bentuk Kalium Oksalat Penggunaan Kalium Oksalat dikombinasikan dengan Natrium Flouride (NaF) untukpemeriksaan glukosa dalam darah Kalium Oksalat juga dikombinasikan dengan Ammonium Oksalat yang juga dikenal sebagai double oxalate atau balanced oxalate mixture Jika hanya menggunakan kalium oksalat sel-sel eritrosit akan mengkerut Jika hanya menggunakan ammonium oksalat sel-sel eritrosit akan mengembang Campuran kedua garam dengan perbandingan 2 kalium oksalat : 3 ammonium oksalat tidak akan mempengaruhi ukuran eritrosit Double oxalate digunakan sebanyak 2 mg untuk 1 ml darah Kelebihan penambahan oksalat dapat menyebabkan hemolisis Jenis Zat Additif Oksalat
Jenis Zat Additif Terdapat 3 macam heparin yaitu ammonium heparin, lithium heparin dan sodium heparin Heparin untuk mencegah pembekuan dengan cara menghambat pembentukan thrombin. Trombin adalah enzim yang dibutuhkan untuk mengubah fibrinogen menjadi fibrin Darah heparin tidak merubah ukuran eritrosit tetapi menyebabkan clumping leukosit dan trombosit. Tidak disarankan menggunakan heparin untuk apusan darah tepi karena akan menyebabkan latar belakang berwarna gelap (biru) Konsentrasi penggunaannya adalah 0,1 ml atau 1 mg untuk 10 ml darah Heparin merupakan antikoagulan terpilih untuk pemeriksaan osmotic fragility test (OFT) Heparin
Natrium Flouride merupakan antiglikolitik yang mencegah metabolisme glukosa dengan cara menghambat kerja enzim Phospoenol pyruvate dan urease sehingga kadar glukosa dalam darah tetap stabil. Penggunaannya dikombinasikan dengan antikoagulan kalium oksalat Darah dengan zat additive ini dapat bertahan selama 3 hari yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri, menurunkan aktivitas fosfatase asam, meningkatkan aktivitas amilase Jenis Zat Additif Natrium Flourida
Clot activator adalah zat yang mengaktifkan koagulasi melalui aktivasi trombosit seperti partikel silika, inert clays like celite dan thrombin. Tabung yang mengandung partikel silika terdapat pada serum separator tubes (SST). Penggunaan partikel silika akan membekukan darah dalam waktu 15 – 30 menit Pada darah yang dikumpulkan dalam tabung thrombin, umumnya terjadi bekuan dalam waktu 5 menit. Tabung dengan clot activator harus dibolak balikan isinya minimal 5 kali CLOT CLOT Jenis Zat Additif Clot Activator
Zat sintetis non reaktif Terletak didasar tabung Memiliki berat jenis antara gel berat jenis sel dan lapisan serum/plasma Jenisnya yang mengandung heparin disebut plasma separated tube (PST) dan yang tidak mengandung heparin disebut serum separated tube (SST) Bila darah dalam tabung disentrifus lapisan gel berubah viskositasnya menjadi tebal dan pindah posisi antara sel dan serum/plasma Mencegah kelanjutan metabolisme didalam lapisan serum/plasma SST Thixotropic gel separator PST Jenis Zat Additif
Parameter Pemeriksaan Spesimen Darah
Prosedur Penanganan Spesimen Darah Parameter Pemeriksaan HEMATOLOGI Parameter Pemeriksaan KIMIA KLINIK Parameter Pemeriksaan IMUNOSEROLOGI
Penyimpanan Darah Selama penyimpanan, konsentrasi konstituen darah pada spesimen dapat berubah sebagai hasil dari berbagai proses. Perubahan ini terjadi dalam berbagai tingkat, pada suhu kamar, dan selama pendinginan atau pembekuan. SPersyaratan penyimpanan bervariasi secara luas. Studi stabilitas telah menunjukkan bahwa perubahan analit yang signifikan secara klinis terjadi jika serum/plasma kontak dalam waktu yang lama dengan sel darah
Penyimpanan Spesimen darah Whole Blood (Darah Utuh) Suhu ruang dan suhu 2-8ºC sesuai parameter pemeriksaan Plasma & Serum Disimpan secara aliquot, Disimpan disuhu 2- 8ºC atau dibekukan disuhu <= -20ºC Plasma NaF Disimpan disuhu 2-8ºC tanpa aliquot
Sampel tidak berlabel / tidak memiliki identitas Label pada sampel berbeda dengan label pada formulir permintaan lab Salah tabung penampung darah Volume sampel yang tidak adekuat Jenis spesimen yang tidak tepat Hemolisis Lipemik Ikterik Beku ulang Clotting Penolakan Spesimen Darah