1
2
3
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah
Yang Maha Pemurah atas segala pertolongan-Nya
sehingga buku ini dapat diselesaikan. Buku ini dibuat
sebagai pedoman dalam melaksanakan “Model
Pembelajaran Problem Based Learning Berbasis Metode
Bermain Peran Makro untuk Meningkatkan
Keterampilan Berbahasa Anak”.
Sajian materi pada buku ini mengenai beberapa
teori tentang model pembelajaran problem based
learning, metode bermain peran, aspek keterampilan
berbahasa dan pengimplementasiannya dalam kegiatan
pembelajaran PAUD sebagai upaya untuk meningkatkan
keterampilan berbahasa anak. Adapun acuan indikator
yakni berdasarkan pada fonologi/sistem suara
(mendengarkan dan membedakan bunyi suara, bunyi
bahasa dan mengucapkannya dengan lafal yang benar),
morfologi/aturan untuk mengkombinasikan unit suku
kata (mengucapkan kata sederhana), sintaksis/aturan
membuat kalimat (membuat kalimat pertanyaan,
menyusun kalimat yang sederhana dengan struktur
lengkap S-P-O-K), semantik/sistem makna (mengetahui
4
makna sederhana dalam sebuah kalimat), dan
pragmatik/aturan penggunaan dalam berkomunikasi
(berkomunikasi secara lisan dan berinteraksi dengan
teman dan guru menggunakan bahasa yang sederhana).
Penyusunan buku pedoman guru ini penulis
banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu
terima kasih penulis ucapkan dengan tulus dan sedalam-
dalamnya kepada Bapak Pembimbing yakni :
1. Dr. Usman Bafadal, M.Si.
2. Dr. Muhammad Yusri Bachtiar,M.Pd.
Penulis menyadari bahwa buku ini memiliki
keterbatasan sehingga tidak menutup kemungkinan
terdapat banyak kekurangan. Untuk itu dengan segala
kerendahan hati, penulis menghaturkan terima kasih dan
semoga segala bantuannya bernilai ibadah.
Makassar, April 2022
Penyusun
5
DAFTAR ISI
SAMPUL...................... ...................................................i
KATA PENGANTAR.....................................................ii
DAFTAR ISI..................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...........................................................1
B. Tujuan Penulisan.......................................................5
C. Sasaran.......................................................................6
BAB II KONSEPTUAL
A. Model Pembelajaran Problem Based Laerning……..8
B. Metode Pembelajaran……………….………..….....8
C. Konsep Bermain……………………………..........19
D. Metode Bermain Peran Makro…………...............22
E. Konsep Keterampila Berbahasa…………………...25
F. Muatan Indikator………………………………….29
BAB III MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM
BASED LEARNING BERBASIS METODE
BERMAIN PERAN MAKRO
A. Langkah-Langkah Penerapan Model Pembelajaran
Problem Based Learning Beerbasis Metode Bermain
Peran Makro……………………….………………31
B. Aspek Pendukung Pembelajaran………….............32
6
C. Peran Guru dalam Model Pembelajaran Problem
Based Learning Beerbasis Metode Bermain Peran
Makro………………..........................................33
D. Peran Anak dalam Model Pembelajaran Problem
Based Learning Beerbasis Metode Bermain Peran
Makro …………...............................................34
E. Penilaian……………………………………….….35
F. Kriteria Penilaian………………………………….38
BAB IV PENUTUP…………………………………..42
DAFTAR PUSTAKA………………………………...43
7
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan
pendidikan yang sangat fundamental dalam memberikan
kerangka dasar terbentuk dan berkembangnya dasar-
dasar pengetahuan, sikap dan keterampilan pada anak
usia dini. Parapat (2020) menyatakan bahwa anak usia
dini adalah individu yang sedang mengalami proses
pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat
bahkan anak usia dini dikatakan golden age (usia emas)
yaitu usia yang berharga, masa dimana setiap anak ada
pada fase kehidupan yang unik dengan berbagai
karakteristik khas baik secara fisik, psikis, sosial dan
moral. Anak pada masa usia dini memiliki kemampuan
belajar yang sangat luar biasa, karena keinginan mereka
untuk belajar menjadi aktif dan eksploratif.
Kemampuan belajar anak pada masa usia dini
sangat luar biasa, hal ini karena keingitahuan anak akan
berbagai hal serta masa itu menjadi masa dimana
berbagai aspek perkembangan anak berkembang. Salah
satu aspek yang penting dikembangkan sejak usia dini
8
adalah kemampuan bahasa. Melalui kemampuan bahasa
anak akan berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang
lain. Menurut Lestariningrum (2017) bahasa merupakan
salah satu aspek yang harus dikembangkan dalam
pendidikan anak usia dini, diarahkan agar anak mampu
menggunakan dan mengekspresikan pemikirannya
dengan menggunakan kata-kata yang tepat.
Selain itu menurut Beverly (2016) bahasa
merupakan hal pokok bagi masyarakat. Melalui bahasa,
akan membentuk dasar presepsi, komunikasi dan
interaksi harian kita. Bahasa merupakan suatu sistem
simbol yang mengkategorikan, mengorganisasikan dan
mengklarifikasikan pikiran kita. Melalui bahasa kita
menggambarkan dunia serta tanpa bahasa masyarakat
dan budaya tidak akan pernah ada. Agar mampu berhasil
dalam masyarakat, anak perlu mengembangkan
kemampuan aspek berbahasanya dengan luas. Tidak
semata-mata perlu memperoleh bahasa lisan, anak juga
harus menggunakan bahasa secara efektif diberbagai
situasi dan kondisi, berbicara melalui telfon dengan
teman-temannya, berinteraksi dengan pelayan ketika
hendak membayar sayuran, mendengar berbagai acara
dengan berbagai gaya bahasa dan penyampaian,
9
bagaimana seorang guru yang sedang mengajar
siswanya. Sehingga dengan kemampuan bahasa yang
anak miliki mampu membuat anak untuk dapat
berparitsipasi secara aktif dan efektif diberbagai kegiatan
sosial serta dalam konteks rutinitas sehari-hari.
Keterampilan berbahasa pada anak usia dini
dapat kita kembangkan melalui model pembelajaran
problem based learning. Hal ini sejalan dengan yang
dinyatakan oleh Zaduqisti (2019) bahwa problem based
learning sebagai model pembelajaran yang melibatkan
anak didik untuk memecahkan suatu masalah sederhana
yang terjadi melalui tahapan tertentu sehingga anak didik
dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan
dengan masalah tersebut dan memiliki keterampilan
untuk memecahkan suatu masalah. Serta model
pembelajaran ini efektif dalam meningkatkan
kompetensi dalam berpikir kritis, kolaborasi, kreatif dan
komunikasi pada anak.
Selain itu, menurut Sari dan Astuti (2017) bahwa
problem based learning merupakan suatu strategi
pembelajaran yang melibatkan anak didik dalam
memecahkan suatu masalah dengan mengintegrasikan
10
berbagai konsep dan keterampilan dari berbagai disiplin
ilmu pengetahun. Penerapan model pembelajaran
problem based learning seringkali digunakan dalam
pembelajaran di kelas akan tetapi dalam penerapan
model pembelajaran tersebut masih perlu adanya strategi
lain yang dapat meningkatkan keterampilan berbahasa
anak usia dini. Sehingga dalam penelitian
pengembangan yang akan dilakukan yakni untuk
meningkatkan kemampuan bahasa anak, maka pada
penelitian ini pengembangan yang akan dilakukan yakni
pengembangan model pembelajaran Problem Based
Learning (PBL) berbasis metode bermain peran makro.
Menurut Yukire (2018) bermain peran makro
anak akan banyak melakukan dialog secara langsung
dengan teman sebaya, mengekspresikan ide, menirukan
tokoh dan menceritakan kembali cerita yang sudah
dimainkan dengan begitu perkembangan kemampuan
berbahasa anak usia dini akan berkembang dengan
optimal. Sedangkan menurut Lestariningsih (2017)
metode bermain peran makro merupakan kegiatan
bermain yang sifatnya kerja sama lebih dari dua orang
bahkan lebih khususnya pada anak usia taman kanak-
11
kanak. Anak secara langsung akan bermain menjadi
tokoh untuk memainkan peran-peran tertentu sesuai
dengan tema serta kegiatan ini menggunakan berbagai
alat bermain dengan ukuran sesungguhnya.
B. Tujuan Penulisan
Secara umum tujuan penulis mengemas model
pembelajaran problem based learning berbasis metode
bermain peran makro, pada anak usia dini sebagai upaya
meningkatkan keterampilan berbahasa anak secara
optimal, melalui pengembangan yang dilakukan.
Menyadari bahwa dunia anak adalah dunia bermain,
maka indikator capaian dan kegiatan yang dimaksud
dikolaborasikan ke dalam program pembelajaran yang
dapat dikemas dan diimplementasikan melalui nuansa
bermain dan menyenangkan bagi anak. Adapun tujuan
khusus pengembangan ini yakni sebagai berikut :
1. Memberikan acuan bagi pendidik PAUD dalam
memahami dan mengembangkan keterampilan
berbahasa anak secara optimal
2. Membantu pendidik PAUD dalam meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan tentang
pengembangan model pembelajaran problem based
learning berbasis metode bermain peran makro.
12
3. Bagi anak usia dini yakni keterampilan
berbahasanya dapat berkembang melalui kegiatan
yang menyenangkan dan tentunya dengan nuansa
bermain. Sehingga kemampuan anak dapat
berkembang sesuai dengan tahapan usianya.
C. Sasaran
Sasaran dari pengembangan model pembelajaran
problem based learning berbasis metode bermain peran
makro untuk meningkatkan keterampilan berbahasa anak
ini adalah pendidik dan tenaga kependidikan PAUD dan
pengembangan aspek perkembangan anak usia dini.
Target utama dari pedoman model pembelajaran
problem based learning berbasis metode bermain peran
makro ini adalah untuk meningkatkan keterampilan
berbahasa anak seperti:
1. Fonologi/sistem suara (mendengarkan dan
membedakan bunyi suara, bunyi bahasa dan
mengucapkannya dengan lafal yang benar)
2. Morfologi/aturan untuk mengkombinasikan unit suku
kata (mengucapkan kata sederhana), sintaksis/aturan
membuat kalimat (membuat kalimat pertanyaan,
menyusun kalimat yang sederhana dengan struktur
lengkap S-P-O-K)
13
3. Semantik/sistem makna (mengetahui makna
sederhana dalam sebuah kalimat)
4. Pragmatik/aturan penggunaan dalam berkomunikasi
(berkomunikasi secara lisan dan berinteraksi dengan
teman dan guru menggunakan bahasa yang
sederhana).
14
BAB II
KONSEPTUAL
A. Model Pembelajaran Problem Based Learning
1. Pengertian Problem Based Learning
Problem Based Learning yang disingkat PBL,
sebagai salah satu model pembelajaran yang berpuat
pada peserta didik tersebut dengan berbagai masalah
yang dihadapi dalam kehidupannya. Menurut Aisyah
(2018) problem based learning adalah salah satu model
pembelajaran pembelajaran yang menuntut aktivitas
mental anak didik untuk memahami suatu konsep
pembelajaran melalui situasi dan masalah yang disajikan
pada awal pembelajaran dengan tujuan untuk melatih
anak dalam menyelesaikan masalah dengan
menggunakan pendekatan pemecahan masalah.
Selain itu, menurut Wulan (2018) model
pembelajaran problem based learning adalah cara
penyajian bahan pelajaran dengan menjadikan masalah
sebagai titik tolak pembahasan untuk dianalisis dan
disintesis dalam usaha mencari pemecahan atau jawaban
oleh anak. Sedangkan menurut Triyadi (2018)
pembelajaran berbasis masalah yaitu pembelajaran
15
dengan menyajikan masalah kontekstual sehingga
merangsang anak untuk belajar. Didalam kelas yang
menerapkan model pembelajaran berbasis masalah, anak
didik bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah.
Masalah yang diberikan pada anak ini digunakan untuk
mengikat rasa ingin tahu pada pembelajaran.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli diatas, maka
dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran problem
based learning merupakan pembelajaran yang
penyampaiannya dilakukan dengan menyajikan suatu
permasalahan, mengajukan pertanyaan, memfasilitasi
penyeledikan dan membuka dialog.
2. Karakteristik Model Pembelajaran Problem
Based Laerning
Pada setiap model pembelajaran mempunyai
karakteristik masing-masing, hal inilah yang
membedakan model pembelajaran yang satu dengan
model pembelajaran yang lainnya. Adapun karakteristik
dari model pembelajaran problem based learning yang
dikemukakan menurut Triyadi (2018) yakni :
a) Pembelajaran Berpusat Pada Anak
Proses pembelajaran dalam problem based
learning lebih menitikberatkan pada anak untuk belajar.
16
b) Masalah Sebagai Fokus Pembelajaran
Masalah yang disajikan kepada anak adalah
masalah yang otentik sehingga anak akan mampu
dengan mudah untuk memahami masalah tersebut serta
dapat menerapkannya dalam kehidupan profesionalnya
dimasa yang akan datang.
c) Infomasi Baru Diperoleh Melalui Pembelajaran
Sendiri
Proses pemecahan masalah memungkinkan
masih terdapat anak didik yang belum mengetahui dan
memahami semua pengetahuan prasyaratnya, sehingga
anak berusaha mencari sendiri melalui berbagai sumber.
d) Pembelajaran Dengan Kelompok Kecil
Pada pelaksanaan problem based learning, agar
terjadi interaksi secara ilmiah dan tukar pemikiran dalam
membangun pengetahuan secara kolaboratif, problem
based learning dilaksanakan dalam kelompok kecil.
e) Guru Berperan Sebagai Fasilitator
Pada pelaksanaan problem based learning, guru
berperan sebagai fasilitator. Namun, walaupun begitu
guru harus selalu memantau perkembangan aktivitas
anak didik dan mendorong anak didik agar dapat
mencapai tujuan dari pembelajaran.
17
Sedangkan Azizi (2019) berpendapat juga bahwa
terdapat beberapa karakteristik dari model pembelajaran
problem based learning diantaranya yaitu adanya
pengajuan pertanyaan atau masalah, berfokus pada
keterkaitan antar disiplin, penyelidikan autentik,
menganalisis masalah, menghasilkan sebuah produk atau
karya dan mempresentasikannya dan kerja sama.
3. Kelebihan Model Pembelajaran Problem Based
Learning
Setiap model pembelajaran yang diterapkan pada
kegiatan belajar mengajar tentunya memiliki kelebihan,
hal ini sama dengan penerapan model pembelajaran
problem based learning. Menurut Sari dan Astuti (2017)
kelebihan model pembelajaran problem based learing
(pembelajaran pemecahan masalah) yakni sebagai
berikut :
a) Mengembangkan pemikiran kritis dan keterampilan
kreatif anak didik;
b) Dapat meningkatkan kemampuan memecahkan
masalah para anak didik dengan sendirinya;
c) Meningkatkan motivasi anak didik dalam belajar;
d) Membantu anak dalam belajar untuk mentransfer
pengetahuan dengan situasi yang serba baru;
18
e) Dapat mendorong anak didik mempunyai inisiatif
untuk belajar secara mandiri;
f) Mendorong kreativitas anak dalam pengungkapan
penyelidikan masalah yang telah ia lakukan;
g) Model pembelajaran ini dapat meningkatkan
kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif
anak dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar,
dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal
dalam bekerja kelompok.
4. Kekurangan Model Pembelajaran Problem Based
Learning
Pada model pembelajaran problem based
learning, selain kelebihan dari model pembelajaran
tersebut, tentunya terdapat pula kekurangan dalam
penerapannya. Menurut Wahyuni (2018) kekurangan
dari model pembelajaran berbasis masalah yaitu:
a) Model ini membutuhkan pembiasaan, karena dalam
pelaksanaannya yang rumit dan anak dituntut untuk
berkonsentrasi dan daya kreasi yang tinggi;
b) Persiapan proses pembelajaran membutuhkan waktu
yang lama, hal tersebut karena sedapat mungkin
persoalan yang ada harus dipecahkan sampai tuntas,
agar maknanya tidak terpotong;
19
c) Anak didik tidak dapat benar-benar tahu apa yang
mungkin penting bagi mereka untuk belajar,
terutama bagi mereka yang tidak memiliki
pengalaman.
Tak jarang guru juga merasa kesulitan, hal tersebut
disebabkan karena guru kesulitan dalam menjadi
fasilitator dan mendorong anak didik untuk mengajukan
pertanyaan yang tepat daripada menyerahkan mereka
solusi.
B. Metode Pembelajaran
1. Pengertian Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran sebagai cara yang
digunakan pendidik dalam melakukan kegiatan
pembelajaran kepada anak didik untuk mencapai
kompetensi tertentu. Dalam penerapan metode
pembelajaran harus dirancang dalam kegiatan bermain
yang bermakna dan menyenangkan bagi anak. Menurut
Gitting (Akbar,2020) metode pembelajaran dikatakan
sebagai cara atau pola yang khas dalam memanfaatkan
berbagai prinsip dasar pendidikan serta berbagai teknik
dan sumber daya terkait lainnya agar terjadi proses
pembelajaran pada diri pembelajar. Dengan kata lain
metode pembelajaran merupakan teknik penyajian yang
20
dikuasai oleh seorang guru untuk menyajikan materi
pembelajaran kepada murid di dalam kelas, baik secara
individual maupun secara kelompok agar materi
pembelajaran dapat diserap, mudah dipahami dan
dimanfaatkan oleh murid dengan baik serta metode
pembelajaran memegang peran yang sangat penting,
karena keberhasilan pembelajaran sangat tergantung cara
guru dalam menggunakan metode pembelajaran.
Selain itu, menurut Parapat (2020) metode
pembelajaran adalah segala usaha yang digunakan oleh
guru untuk mencapai tujuan pembelajaran yang
diharapkan serta metode pembelajaran menekankan
kepada bagaimana aktivitas seorang guru dalam
mengajar dan aktivitas peserta didik saat mengikuti
proses pembelajaran. Sehingga metode pembelajaran
sebagai cara atau teknik yang digunakan agar tujuan
pembelajaran tercapai. Penggunaan metode
pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan karakter anak
akan dapat memfasilitasi perkembangan berbagai potensi
dan kemampuan anak secara optimal.
2. Tujuan Metode Pembelajaran
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan
metode pembelajaran menurut Latif (2018) yakni
sebagai berikut :
21
a) Tujuan yang hendak dicapai. Tujuan yang ingin
dicapai dalam setiap proses belajar mengajar yang
dilakukan harus menjadi perhatian paling utama bagi
seorang guru dalam menentukan metode apa yang
hendak digunakan.
b) Kemampuan guru. Efektif tidaknya suatu metode
pembelajaran yang dilakukan juga sangat
dipengaruhi pada kemampuan guru dalam
menggunakannya.
c) Anak didik. Guru dalam kegiatan belajar mengajar
harus memperhatikan setiap anak didik. Karena
masing-masing mereka mempunyai kemampuan,
bakat, minat, kecerdasan, karakter, latar belakang
yang berbeda-beda.
d) Situasi dan kondisi proses mengajar dimana
berlangsung. Situasi dan kondisi proses belajar
mengajar yang berada di lingkungan dekat pasar
yang ramai akan berdampak pada metode
pembelajaran yang akan digunakan.
e) Fasilitas yang tersedia. Tersedianya fasilitas seperti
alat praga, media pengajaran dan fasilitas-fasilitas
lainnya sangat menentukan terhadap efektif tidaknya
metode pembelajaran yang digunakan.
22
f) Waktu yang tersedia. Masalah waktu yang tersedia
juga perlu diperhatikan, agar sesuai dengan metode
yang digunakan.
Setiap metode pembelajaran tentunya memiliki
kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kekurangan
suatu metode dapat dilengkapo dengan metode yang lain.
Oleh karena itu, guru harus mempertimbangkan metode
mana yang akan digunakan. Dalam kenyataannya, cara
atau metode pembelajaran yang digunakan untuk
menyampaikan informasi berbeda dengan cara yang
ditempuh untuk memaksimalkan anak dalam menguasai
pengetahuan, keterampilan dan sikap. Khusus metode
pembelajaran di kelas, efektivitas metode pembelajaran
dipengaruhi oleh faktor tujuan, faktor siswa, faktor
situasi dan faktor dari guru itu sendiri.
3. Prinsip Metode Pembelajaran
Pemilihan metode pembelajaran menjadi hal
yang penting guna untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Terdapat beberapa prinsip metode pembelajaran pada
anak usia dini menurut Yurike (2018), antara lain yaitu:
a) Berpusat pada anak
Artinya bahwa penerapan metode berdasarkan
kebutuhan dan kondisi anak bukan berdasarkan
23
keinginan dan kemampuan pendidik. Pendidik
menyesuaikan diri keinginan dan kemampuan bukan
sebaliknya anak menyesuaikan keinginan pendidik.
b) Partisipasi aktif
Penerapan metode pembelajaran ditujukan untuk
membangkitkan anak untuk ikut berpartisipasi aktif
dalam proses pembelajaran sehingga anak mampu
termotivasi dan berinisiatif untuk berperan aktif
mengikuti kegiatan pembelajaran.
c) Bersifat holistik dan integratif
Kegiatan belajar yang diberikan kepada anak
tentunya tidak terlepas dari cara terpadu dan menyeluruh
yang selalu terkait antara satu bidang dengan bidang
yang lainnya. Pembahasan terhadap suatu masalah
mengandung materi membaca, berhitung, sejarah,
pengetahuan umum.
1) Fleksibel
Metode pembelajaran pada anak usia dini bersifat
dinamis artinya yaitu tidak terstruktur dan disesuaikan
dengan bagaimana kondisi dan cara belajar anak yang
memang tidak terstruktur. Anak belajar sesuai dengan
yang disukainya sehingga pendidik mengarahkan dan
membimbing anak berdasarkan pilihannya.
24
2) Perbedaan individual
Setiap anak memiliki perbedaan masing-masing
bahkan anak yang lahir kembar sekali pun. Oleh karena
itu, sebagai pendidik dituntut untuk merancang kegiatan
guna memberi pilihan kepada anak sesuai minat dan
kemampuannya.
C. Konsep Bermain
1. Pengertian Bermain
Dunia anak adalah dunia bermain, maka wajar
jika segala aktivitas anak sehari-hari lebih banyak
dengan nuansa bermain. Bermain dikatakan sebagai
kebutuhan primer bagi semua anak usia dini karena
aktivitas bermain sangat penting bagi perkembangan
semua anak. Sehingga setiap pembelajaran pada anak
usia dini diharapkan menyenangkan dan bermakna.
Menurut Rahayu (2017) bermain adalah kegiatan
yang sangat penting untuk pertumbuhan dan
perkembangan anak. Bermain harus dilakukan atas
inisiatif anak dan atas keputusan dari anak itu sendiri.
Bermain harus dilakukan dengan rasa senang, sehingga
semua kegiatan bermain yang menyenangkan akan
menghasilkan proses belajar pada anak.
Sejalan dengan pendapat diatas, Indrijati (2016)
mengatakan bahwa diharapkan melalui bermain dapat
25
memberi kesempatan anak berkolaborasi, menemukan,
mengekspresikan perasaan, berkreasi dan belajar secara
menyenangkan. Melalui bermain dapat membantu anak
untuk mengenal dirinya sendiri, dengan siapa dia hidup
serta bagaimana lingkungan tepat dia hidup.
2. Manfaat Bermain Bagi Anak
Menurut Zaini (2016) bermain memiliki manfaat
sebagai berikut :
a) Memperkuat fisik (tubuh) lewat gerakan-gerakan otot.
Anak yang berusia 4-6 tahun terkadang tidak mengenal
lelah. Mereka selalu gembira. Kegembiraan tersebut
diekspresikan dengan berlari, melompat, menendang
bola, mendorong kursi dan sebagainya.
b) Mengembangkan kepribadian. Yakni melalui sikap
sportif, jujur, bekerja sama dan moral. Lewat bermain
anak semain bersikap positif dan mempu berinisiatif.
c) Meningkatkan komunikasi, semakin mendekatkan
hubungan antara anak dan teman-temannya, orang tua
dan gurunya.
d) Melatih bermasyarakat. Dengan bermain anak berlatih
menaati aturan dan tata tertib permainan, serta
melakukan hak dan kewajibannya. Bila anak
melanggar aturan, akan dikenai sanksi dari temannya.
26
3. Faktor yang Mempengaruhi Bermain Anak
Bermain bukanlah hal biasa untuk anak namun
bermain dapat mempengaruhi perkembangan jiwa pada
anak. Menurut Zaini (2016) terdapat beberapa faktor
yang dapat mempengaruhi bermain anak yakni:
a) Kesehatan. Anak yang sehat mempunyai banyak energi
untuk bermain dibandingkan anak yang kurang sehat.
Sehingga anak yang sehat akan menghabiskan banyak
waktunya dengan bermain yang tentunya akan
membutuhkan energi yang banyak.
b) Intelegensi. Anak yang cerdas cenderung akan lebih
aktif disbanding dengan anak yang kurang cerdas.
Anak yang cerdas lebih menyenangi permainan yang
bersifat intelektual atau permainan yang banyak
merangsang daya pikir mereka misalnya permainan
dramam, membaca bacaan dan sebagainya.
c) Jenis kelamin. Anak perempuan lebih sedikit
melakukan permainan yang menghabiskan banyak
energi, misalnya memanjat, berlari atau kegiatan fisik
lainnyaa dibandingkan dengan anak laki-laki.
d) Lingkungan. Anak yang dibesarkan di lingkungan
yang kurang menyeediakan peralatan, waktu dan ruang
bermain bagi anak, akan menimbulkan kegiatan
bermain yang kurang.
27
D. Metode Bermain Peran Makro
1. Pengertian Metode Bermain Peran Makro
Bermain peran sebagai kegiatan pembelajaran di
mana anak memerankan tokoh-tokoh tertentu atau
benda-benda tertentu dengan menggunakan daya hayal
mereka, seolah-olah mereka menjadi orang yang
diperankannya. Menurut Mutiah (2017) main peran
adalah disebut juga main simbolis, pura-pura, fantasi,
imajinasi atau main drama, sangat penting untuk
perkembangan kognitif, sosial dan emosi anak pada tiga
sampai enam tahun.
Metode bermain peran terdiri atas dua jenis yakni
bermain peran mikro dan bermain peran makro. Menurut
Lestariningsih (2017) bermain peran makro merupakan
bermain yang sifatnya kerja sama lebih dari 2 orang
bahkan lebih khususnya pada anak usia taman kanak-
kanak. Anak secara langsung akan bermain menjadi
tokoh untuk memainkan peran-peran tertentu sesuai
dengan tema. Menggunakan alat bermain dengan ukuran
sesungguhnya.
Sehingga dapat dikatakan bahwa bermain peran
makro sebagai salah satu strategi pembelajaran yang
diarahkan pada suatu upaya pemecahan masalah yang
28
berkaitan dengan hubungan antar manusia, terutama
yang menyangkut kehidupan sekolah, keluarga maupun
perilaku masyarakat sekitar lingkungan anak.
2. Tujuan dan Manfaat Metode Bermain Peran
Makro
Metode bermain peran juga memberikan prioritas
pada peningkatan kemampuan bahasa untuk
berhubungan dengan orang lain. Menurut Ermita (2018)
metode bermain peran makro memiliki tujuan sebagai
berikut :
a) Anak dapat mengeksplorasi perasaan. Artinya bahwa
anak mampu mengolah perasaanya sesuai dengan
kemampuan yang dimilikinya. Misalnya bagaimana
anak bersikap spoan, marah, berkuasa dan sedih.
b) Memperoleh wawasan tentang sikap, nilai dan
persepsinya. Hal ini anak akan mendapatkan
wawasan dari peran yang dimainkannya.
c) Mengembangkan keterampilan dan sikap dalam
memecahkan masalah yang dihadapi. Yakni anak
belajar untuk mampu memecahkan suatu masalah
dalam kehidupan sehari-hari maupun belajar untuk
mengambil keputusan.
d) Melatih daya tangkap. Melalui kegiatan bermain
peran maka anak akan melatih daya tangkap dalam
29
bermain misalnya dengan mendengakan dialog
teman, maka anak bisa langsung menanggapinya.
e) Membantu perkembangan fantasi. Kegiatan bermain
peran juga mengembangkan dunia fantasi anak,
mereka bisa seakan-akan menjadi hidup seperti tokoh
yang sedang diperankannya.
f) Mencapai kemampuan berkomunikasi secara
spontan/berbicara lancar. Bermain peran tentunya
bisa mengembangkan kemampuan berkomunikasi,
anak dengan spontan dapat berbicara lancar
maksudnya tanpa disadari anak akan bebas berbicara
sesuai dengan perannya serta sesuai dengan apa yang
pernah ia lihat, alami serta di dengar.
Selain tujuan tersebut, bermain peran makro juga
memiliki manfaat. Menurut Lestariningsih (2017)
bermain peran makro memiliki manfaat sebagai dassar
perkembangan daya cipta, tahapan, ingatan, kerjasama
kelompok, penyerapan kosakata, konsep hubungan
kekeluargaan, keterampilan mengambil sudut pandang
spasial, afeksi serta kognisi. Sebab dengan bermain
peran makro anak akan diajak untuk berfikir
memecahkan masalah pribadi, dengan bantuan kelompok
sosial yang anggotanya teman-temannya sendiri.
30
E. Konsep Keterampilan Berbahasa
1. Pengertian Perkembangan Bahasa
Anak usia dini adalah masa yang sangat penting
perkembangan bahasanya. Pada manusia bahasa
merupakan suatu sistem simbol untuk berkomuikasi
dengan orang lain, meliputi daya cipta dan sistem aturan.
Salah satu teori perkembangan bahasa yang terkenal
yakni teori nativis yang dipelopori oleh Noam Chomsky.
Menurut Chomsky (Otto,2016) semua manusia pada
dasarnya memiliki kapasitas memperoleh bahasa, karena
adanya susunan kognitif yang memproses bahasa secara
berbeda-beda yang diperoleh dari rangsangan orang lain
serta bahasa merupakan adaptasi biologis untuk
mengomunikasikan informasi. Pada teori nativis juga
dikatakan bahwa individu dilahirkan dengan alat
penguasaan bahasa dan menemukan sendiri cara kerja
bahasa tersebut, yang artinya bersifat alamiah.
Menurut Ulfa (2019) bahwa dalam kehidupan
sehari-hari bahasa menjadi hal yang sangat penting.
Bahasa diperlukan untuk membaca, menulis, berbicara
dan mendengarkan orang lain. Dengan bahasa seseorang
mampu untuk mendeskripsikan peristiwa-peristiwa yang
telah terjadi di masa lalu dan untuk merencanakan masa
31
depan. Berdasarkan hal-hal tersebut, aspek bahasa
merupakan aspek perkembangan pada anak usia dini
yang akan terlihat perkembangannya dari kemampuan
anak berbahasa dalam kehidupan sehari-harinya.
Badudu (Nurbiana,2016) menyatakan bahwa
bahasa adalah alat penghubung atau komunikasi antara
anggota masyarakat yang terdiri atas individu-individu
yang menyatakan pikiran, perasaan, dan keinginannya.
Bahasa sebagai suatu sistem lambang bunyi yang bersifat
arbiter (mana suka) digunakan masyarakat dalam rangka
untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi
diri. Berbahasa berarti menggunakan bahasa berdasarkan
pengetahuan individu tentang adat sopat santun. Dari
uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa bahasa
merupakan suatu sistem lambang yang digunakan
sebagai alat komunikasi oleh anggota masyarakat yang
bersifat arbiterdan manusiawi.
Kemampuan berbahasa berbeda dengan
kemampuan berbicara. Bahasa merupakan suatu sistem
kata bahasa yang relatif rumit dan bersifat semantik,
sedangkan kemampuan berbicara merupakan suatu
ungkapan dalam bentuk kata-kata. Bahasa ada yang
bersifat reseptif (diterima, dimengerti) maupun ekpresif
32
(dinyatakan). Bahasa adalah berbicara dan menuliskan
informasi untuk di komunikasikan pada orang lain.
2. Indikator Kemampuan Bahasa Anak Usia Dini
Ruang lingkup capaian perkembangan anak
dalam Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak
(STPPA) pada aspek bahasa berdasarkan Peraturan
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
Nomor 7 Tahun 2022 Tentang Standar Isi Pendidikan
Anak Usia Dini, diantaranya yaitu: (a) mendapatkan
informasi dilakukan melalui antara lain: percakapan,
interaksi, kolaborasi, beragam media, serta eksplorasi
fakta dan objek secara langsung dibawah bimbingan
orang dewasa; (b) cara berkomunikasi yang
mempengaruhi keterampilan untuk menghasilkan karya
bersama orang lain dan menyampaikan
ide/informasi/maksud yang diinginkan; (c) hubungan
antara pesan visual yang tertuang dalam berbagai media
dan simbol alfabet, suara, rangkaian kata, dan makna
dari suatu kata; (d) penggunaan ragam cara dan alat tulis
sebagai media untuk mengekspresikan pikiran; dan (e)
minat, kegemaran, dan gairah pada bacaan yang
ditumbuhkan melalui dukungan lingkungan yang kaya
33
literasi, positif, dan bermakna. Adapun STPPA aspek
keterampilan bahasa anak yakni:
a) Mampu menyimak
b) Memiliki kesadaran akan pesan teks, alphabet,
fonemik
c) Memiliki kemampuan dasar yang diperlukan untuk
menulis
d) Memahami instruksi sederhana
e) Mampu mengutarakan pertanyaan dan gagasannya
Mampu menggunakan kemampuan bahasa untuk
bekerjasama
F. Muatan Indikator
Materi pelajaran yang digunakan berdasarkan
hasil observasi analisis kebutuhan di lapangan yang
menjadi fokus pengembangan keterampilan berbahasa
anak dengan mengacu pada teori perkembangan bahasa
yang dikemukakan oleh Santrock (2007) yakni sebagai
berikut:
1) Fonologi/sistem suara (mendengarkan dan
membedakan bunyi suara, bunyi bahasa dan
mengucapkannya dengan lafal yang benar)
2) Morfologi/aturan untuk mengkombinasikan unit suku
kata (mengucapkan kata sederhana)
34
3) Sintaksis/aturan membuat kalimat (membuat kalimat
pertanyaan, menyusun kalimat yang sederhana dengan
struktur lengkap S-P-O-K)
4) Semantik/sistem makna (mengetahui makna
sederhana dalam sebuah kalimat)
5) Pragmatik/aturan penggunaan dalam berkomunikasi
(berkomunikasi secara lisan dan berinteraksi dengan
teman dan guru menggunakan bahasa yang sederhana)
35
BAB III
MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED
LEARNING BERBASIS METODE BERMAIN
PERAN MAKRO DALAM MENINGKATKAN
KETERAMPILAN BERBAHASA
A. Langkah-Langkah Penerapan Problem Based
Learning Berbasis Metode Bermain Peran Makro
Penerapan pembelajaran problem based learning
berbasis metode bermain peran makro dalam kegiatan
pembelajaran, langkah-langkah yang dilakukan yakni:
1) Mengorientasikan peserta didik terhadap masalah
a) Guru memunculkan masalah dan menyampaikan
tujuan pembelajaran serta topik materi.
b) Menjelaskan materi
c) Guru mengumpulkan anak-anak untuk diberikan
pengarahan serta aturan dan tata tertib dalam
melakukan kegiatan bermain peran makro
2) Mengorganisasikan peserta didik untuk belajar
a) Guru telah menyiapkan semua alat/media akan
digunakan dalam bermain peran makro
b) Guru memberikan pengarahan kepada anak
3) Membimbing penyelidikan individual/kelompok
a) Guru membagikan tugas kepada masing-masing anak
b) Guru menjelaskan alat/media yang akan digunakan
oleh anak saat bermain peran makro
36
c) Anak bermain sesuai dengan perannya.
d) Guru mengawasi setiap anak serta mendampingi
anak dalam kegiatan bermain peran makro
4) Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan
masalah
a) Memberikan refleksi dan evaluasi terhadap proses
dan hasil penyelidikan
b) Mendiskusikan bersama kesimpulan dari hasil
pemecahan masalah yang telah dilakukan.
B. Aspek Pendukung Pembelajaran
Adapun aspek pendukung pembelajaran dalam
melakukan model pembelajaran problem based learning
berbasis metode bermain peran makro adalah sebagai
berikut :
1) Ruang belajar, yakni dimana kegiatan ini dapat
dilakukan di dalam ataupun di luar ruangan.
2) Berbagai media pembelajaran yang sesuai dengan
topik kgiatan bermain peran yang akan dilakukan,
3) Setelah kegiatan selesai, kemudian guru dapat
melakukan pengayaan atau tanya jawab tentang
kegiatan bermain peran yang baru saja telah
dilakukan.
37
C. Peran Guru dalam Model Pembelajaran Problem
Based Learning Berbasis Metode Bermain Peran
Makro
Penerapan model pembelajaran problem based
learning berbasis metode bermain peran makro tentunya
guru harus memahami apa saja peran yang harus
dilakukan guru. Adapun peran tersebut yakni:
1) Guru menjelasan tujuan pembelajaran
2) Guru menjelaskan tentang cara bermain yang akan
dilakukan
3) Guru menyampaikan dengan jelas apa yang menjadi
topik kegiatan bermain peran yang akan dilakukan
saat ini.
4) Guru memberikan arahan dan peraturan pada anak
saat bermain.
5) Guru menyampaikan media pembelajaran yang
digunakan
6) Guru mempersilahkan anak untuk memilih perannya
dalam kegiatan tersebut
7) Setelah kegiatan dilakukan, guru melakukan refleksi
kepada anak tentang kegiatan yang akan dilakukan
8) Guru pada hal ini banyak berperan sebagai fasilitator
saat kegiatan dilaksanakan sehingga anak menjadi
lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran.
38
D. Peran Anak dalam Model Pembelajaran Problem
Based Learning Berbasis Metode Bermain Peran
Makro
Aktivitas kegiatan bermain peran makro dalam
pembelajaran pada kalangan anak sangat populer. Anak-
anak cenderung lebih senang melakukan permainan
bermain peran. Terdapat beberapa peran anak saat
melakukan model pembelajaran problem based learning
berbasis metode bermain peran makro yakni:
1) Anak harus fokus terhadap peran yang dimainkannya
dan memainkan sesuai dengan peran.
2) Anak memahami tokoh yang akan diperankannya
pada kegiatan yang akan dilakukan
3) Anak memiliki kontrol diri dalam berinteraksi
dengan pemeran lain, juga memiliki kontrol diri
dalam menggunakan alat/media bermain peran
4) Setelah selesai bermain hendaknya masing-masing
anak membereskan semua alat/media bermain peran
makro yang telah digunakan ke tempat wadah
semula.
E. Penilaian
Penilaian sebagai tahapan yang penting dalam
pembelajaran sebab dengan melakukan penilaian guru
mampu melihat bagaimana kemampuan yang setiap anak
39
miliki serta sebagai acuan dalam merancang
pembelajaran selanjutnya sesuai dengan kebutuhan anak.
Adapun penilaian perkembangan keterampilan berbahasa
melalui model pembelajaran problem based learning
berbasis metode bermain peran makro tersebut yakni :
1) Mendengarkan dan membedakan bunyi suara, bunyi
bahasa
2) Mengucapkannya dengan lafal yang benar
3) Mengucapkan kata sederhana
4) Membuat kalimat pertanyaan
5) Menyusun kalimat yang sederhana dengan struktur
lengkap S-P-O-K
6) Mengetahui makna sederhana dalam sebuah kalimat
Selain itu, penilaian yang dilakukan tersebut,
maka guru sdapat menggunakan penilaian yakni:
Nilai Uraian
BSB Berkembang Sangat Baik
BSH Berkembang Sesuai Harapan
MB
BB Mulai Berkembang
Belum Berkembang
Pada penilaian perkembangan keterampilan
berbahasa anak yang dilakukan, maka adapun bentuk
instrumen penilaian perkembangan keterampilan
40
berbahasa anak melalui model pembelajaran problem
based learning berbasis metode bermain peran makro
yakni dapat menggunakan instrumen penilaian
perkembangan yakni sebagai berikut:
Penilaian Keterampilan Berbahasa Anak
Nama :
Kelompok :
Usia :
No Indikator Kriteria Penilaian Ket
BB MB BSH BSB
1. Mendengarkan dan
membedakan bunyi
suara, bunyi bahasa
2. Mengucapkan kata
sederhana
3. Menyusun kalimat
yang sederhana
dengan struktur
lengkap S-P-O-K
4. Mengetahui makna
sederhana dalam
sebuah kalimat
5. Berkomunikasi secara
lisan
6. Berinteraksi dengan
temandan guru
menggunakan bahana
sederhana
41
F. Kriteria Penilaian
Berdasarkan beberapa uraian indikator
keterampilan berbahasa, maka adapun kriteria penilaian
dari masing-masing indikator tersebut yakni:
Mendengarkan dan membedakan bunyi suara, bunyi
bahasa
BB : Anak belum mampu mendengarkan dan
membedakan bunyi suara, bunyi bahasa
MB : Anak mulai mampu mendengarkan dan
membedakan bunyi suara, bunyi bahasa namun
dengan bantuan guru/temannya
BSH : Anak mampu mendengarkan dan membedakan
bunyi suara, bunyi bahas dengan baik
BSB : Anak mampu mendengarkan dan membedakan
bunyi suara, bunyi bahas dengan baik dan
mampu membantu temannya
Mengucapkan kata sederhana
BB : Anak belum mampu mengucapkan kata
sederhana
MB : Anak mulai mampu mengucapkan kata
sederhana namun dengan bantuan guru
BSH : Anak mampu mengucapkan kata sederhana
dengan tepat
42
BSB : Anak mampu mengucapkan kata sederhana
dengan tepat dan mampu membantu temannya
Mengucapkan kata sederhana
BB : Anak belum mampu mengucapkan kata
sederhana
MB : Anak mulai mampu mengucapkan kata
sederhana namun belum sepenuhnya
BSH : Anak mampu mengucapkan kata sederhana
dengan baik
BSB : Anak mampu mengucapkan kata sederhana
dengan baik dan mampu mengarahkan
temannya
Menyusun kalimat yang sederhana dengan struktur
lengkap S-P-O-K
BB : Anak belum mampu menyusun kalimat yang
sederhana dengan struktur lengkap S-P-O-K
MB : Anak mulai mampu menyusun kalimat yang
sederhana dengan struktur lengkap S-P-O-K
BSH : Anak mampu menyusun kalimat yang
sederhana dengan struktur lengkap S-P-O-K
dengan baik
BSB : Anak mampu menyusun kalimat yang
sederhana dengan struktur lengkap S-P-O-K
dengan baik dan mandiri
43
Mengetahui makna sederhana dalam sebuah kalimat
BB : Anak belum mampu mengetahui makna
sederhana dalam sebuah kalimat
MB : Anak mulai mampu mengetahui makna
sederhana dalam sebuah kalimat namun dengan
bantuan guru.temannya
BSH : Anak mampu mengetahui makna sederhana
dalam sebuah kalimat dengan baik.
BSB : Anak mampu mengetahui makna sederhana
dalam sebuah kalimat dengan baik dan mampu
mengarahkan temannya
Mampu berkomunikasi secara lisan
BB : Anak belum mampu berkomunikasi secara lisan
MB : Anak mulai berkomunikasi secara lisan namun
dengan bantuan guru/temannya
BSH : Anak mampu berkomunikasi secara lisan
BSB : Anak mampu berkomunikasi secara lisan dan
mampu membantu temannya
44
BAB IV
PENUTUP
Panduan kegiatan model pembelajaran problem
based learning berbasis metode bermain peran makro ini
diharapkan dapat membantu guru dalam melaksanakan
proses belajar mengajar di sekolah, dimana guru
merupakan sumber belajar utama di sekolah. Dengan
adanya buku panduan ini, guru dapat lebih melaksanakan
pembelajaran sebagaimana mestinya khususnya dalam
meningkatkan keterampilan berbahasa anak usia dini.
45
DAFTAR PUSTAKA
Akbar M.Pd, Eliyyi. 2020. Metode Belajar Anak Usia
Dini Edisi I. Jakarta : Kencana.
Azizi, Asrorul. 2019. Implementasi Problem Based
Learning (PBL) Dengan Bermain Peran
(BP) Terhadap Kemampuan Memecahkan
Masalah. Jurnal Pendidikan Mandala.
4(5).2548-5555.
Dewita, Eni. 2020. Pengaruh Metode Bermain Peran
Makro Terhadap Perkembangan Bahasa
Anak. Jurnal PGPAUD.
Herdina, Indrijati dkk. 2016. Psikologi Perkembangan
dan Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta :
Prenada Media Group.
Mutiah, Diana. 2016. Psikologi Bermain Anak Usia
Dini. Jakarta : Prenada Media Group.
Otto, Beverly. 2016. Perkembangan Bahasa Pada Anak
Usia Dini. Jakarta : Prenada Media Group.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia. 2014. Standar Tingkat Pencapaian
Perkembangan Anak (STTPA) Nomor 137.
Jakarta.
Rahayu Sri. 2017. Pengembangan Bahasa Pada Anak
Usia Dini. Yogyakarta : Kalimedia.
Ramang, Sugiyanto 2021. Model Pembelajaran
Penerapan Promblem Based Learning (PBL)
46
pada Anak Usia Dini. Wiyatamandala : Jurnal
Pendidikan dan Pengajaran. 1(1). 2775-5681.
Ulfa, Zakiyah.2019. Pengembangan Bahasa Anak Usia
Dini (Analisis Kemampuan Bercerita Anak)
Yogyakarta : Ar-Ruzz Media.
Wulandari, Afrenia. 2020. Pengaruh Model Problem
Based Learning Terhadap Kemampuan
Karakter Kerjasama Anak Usia Dini. Jurnal
Obsesi:Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini.4(2).
2549-8959. DOI: 10.31004/obsesi.v412.448
Zaini, Ahmad. 2016. Bermain Sebagai Metode
Pembelajaran Bagi Anak Usi Dini.Jurnal Thuful,
3(1).
47