PROLOG Keluarga, bagiku satu kata yang selalu menggambarkan sebuah kehancuran bahkan aku tidak tahu bagaimana rasa hangatnya pelukan dari papah dan mama. Apa yang salah dariku? Papah mamah, kakak kakakku mereka semua selalu membenciku. Entahlah aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan tentangku sampai mereka membenci keberadaanku. Mah pah, aku juga ingin disayang seperti anak lainnya, aku ingin merasakan keharmonisan sebuah keluarga. Tetapi bagaimanapun sikap mereka kepadaku, aku tetap menyayangi mereka semua dengan tulus. Aku ingin jika aku harus pergi, aku sudah merasakan pelukan papa mama dan kehangatan keluarga ku.
Renjana dan Lukanya Kebanyakan orang setelah pulang les sudah pasti pulang ke rumah, tapi tidak dengan anak lelaki manis ini. Dia lebih memilih berdiam diri di pinggiran sungai yang sepi, mungkin memikirkan hidupnya. *suara Hp berdering 'incoming voice call' "Halo ma?" Sapa Bumi pada Mamanya. "Dijemput Pak Jajang" Ucap sang Mama singkat. "Aku peng- *tutt tutt (Aku pengen dijemput Mama, sekali aja Ma) Waktu menunjukan pukul 20:15 malam, Bumi dan pak Jajang baru saja sampai di rumah. "Den bumi, selamat istirahat jangan lupa makan dulu ya den." Ucap Pak Jajang. "Iya Pak terima kasih yaa, Bapak juga istirahat." Jawab Bumi. Bumi baru saja sampai di 'rumahnya', diantar jemput oleh Pak Jajang sudah menjadi rutinitasnya. Bumi melangkahkan kaki nya masuk ke dalam. Tepat di ruang keluarga, ia melihat para anggota keluarganya yang sedang quality time bersama dengan harmonis 'tanpa dirinya'. Sudah biasa bagi Bumi untuk merasakan hal seperti ini. "Wihhh Bumi udah balik niih, sana makan makin kurus aja gue liat liat" hanya Zura yang menyapanya tidak dengan Abang dan Mama Papanya.
"Iya Kak, gue ke kamar ya" Setelahnya Bumi pun melangkahkan kakinya menuju kamar. Bagi Bumi untuk sekedar makan pun sudah tidak berselera, ia lebih baik memilih tidur untuk menenangkan pikirannya. Itulah Bumi, jika ia ingin menenangkan pikirannya tidur adalah solusinya. Sekitar 30 menit ia terlelap, Bumi terperanjat bangun dari tidurnya. "Astaga besok ada ulangan Kimia, gue belom belajar lagi" Bumi belajar semalaman hanya agar nilai Kimia nya sempurna. Begitulah Bumi, ia tidak ingin kena omel Mama nya kalau sampai ada nilai yang turun. Malam berganti pagi, bagi Bumi waktu terasa lebih cepat, ia harus bangun pagi agar bisa meminta Mama nya untuk mengantarnya ke sekolah. "Ma, Mama bisa ga anter Bumi ke sekolah?, hari ini aja kok ma pulangnya Bumi sama pak Jajang aja” Mohon Bumi kepada Mamanya. "Gabisa mama udah ada janji” Ucap sang Mama. "Oh yaudah gapapa ma, have fun buat hari ini ma. Bumi sayang mama" Mama lebih dulu pergi meninggalkan bumi di meja makan. Setelahnya ada Zura yang mengambil roti sambil berteriak "MAA JADIKAN ANTAR ZURAA??" tanya zura kepada mamanya. "Lo mau kemana kak? di anter mama?" Bumi bertanya. "Ada acara kampus gue harus dateng pagi, Iya dong siape lagi Pak Jajang kan nganter lo, Mama juga katanya mau sekalian ketemuan sama temen temennya, tapi nanti juga gue pulangnya sama Mama sekalian shopping hehe" Ucap Zura. Bumi hanya bisa tersenyum mendengarnya. Inilah janji Mama yang dimaksud, padahal Bumi ingin sekali diantar Mama nya. Dan apa tadi shopping bersama, yang bahkan Bumi tidak tahu rasanya. Tidak apa setidaknya masih ada Pak Jajang yang mengantarnya.
Saat sedang dalam perjalanan, mobil yang dikendarai oleh pa jajang mendadak berhenti. "Euleuh kenapa mati ini teh" ucap Pak Jajang. "Kenapa pak?" Bumi bertanya pada Pak Jajang. "Kayanya mobilnya mogok ieu den, kalau den Bumi tunggu disini sebentar gapapa? Saya mau cari bengkel dulu sebentar" Tanya Pak Jajang. "Iya pak gapapa kok" Jawab Bumi. Pak Jajang pun pergi mencari bengkel terdekat, karena bosan menunggu Bumi keluar dari mobil "Hfft udah jam segini lagi ini mah 5 menit lagi bel bunyi..." *Broom broom bromm Ketika sedang menunggu, tiba tiba ada dua orang yang menghampiri Bumi dengan seragam sekolah yang sama seperti Bumi. "Bro lu sekolah di Widyarta yee?" salah satu dari mereka bertanya kepada Bumi. Bumi yang bingung hanya bisa mengangguk. "NAHHH kebetulan kita juga murid baru disana. Nih keliatannya lu mogok ya, mau bareng kita aja ga?" Ucap salah satu dari mereka. Setelah lama berpikir, menurut Bumi mungkin itu bukan ide yang buruk untuk menumpang dengan mereka dan ia tidak akan telat nantinya. "Boleh deh" Bumi pun setuju dan menerima ajakan mereka untuk berangkat bersama. "GAS KUYYY" Ajak teman yang mengajak Bumi barusan. Benar saja ketika sampai pas sekali bel berbunyi mereka sampai tepat tiga detik sebelum bel.
"Makasih tumpangannya, gue duluan" ucap bumi kepada mereka. "Eh mau kemane bro, kenalan dulu kali kite siapa tau kita bisa temenan, kenalin gue Zaid" kata orang bernama Zaid itu. "Gue Ozi, sepupunya Zaid ya gak sayang?" "Cuih geli banget gue" Jawab Zaid. "Gue Bumi" Ucap Bumi. "Anjay kaku banget, lo kelas berape Bumi?" Ozi bertanya. "XI MIPA 1" Jawab Bumi singkat. "ANJAAAAI ANAK IPA BANGET BROO" Teriak Ozi. "Brisik banget buset alay, gue sama si Ozi XI IPS 2, nanti kalo mau main ke kelas kite aja yee Bumi" lanjut Zaid. "Iya, gue duluan" ucap Bumi meninggalkan mereka berdua. Setelahnya mereka menuju kelas masing masing, dan memulai kegiatan belajar seperti biasa. "Bang, si Bumi tadi kaku banget orangnya anjir tapi gue pengen temenan ama si Bumi itu kek nya seru kita temenan ama orang kaku" Ungkap Ozi si mulut terompet. "Nah gibah kan lo, gue si ayo aja cuma si Bumi nya mau kaga temenan ama kita, apalagi temenan ama lo yang berisik mulut terompet gini" jawab Zaid. Berbeda halnya dengan Bumi, ia sedang menyelesaikan ulangan Kimia nya dengan serius seperti teman kelas lainnya, tapi tiba tiba ia kepikiran tentang Zaid dan Ozi. Apa sudah saatnya dia membuka diri dan mulai berteman? Bel istirahat berbunyi, semua orang mulai berhamburan keluar kelas dan pergi menuju kantin. Tapi tidak dengan Bumi, ya nasib tidak punya teman siapa yang mau mengajaknya ke kantin. Ia pun memutuskan untuk memakan bekalnya sendirian di
kelas. Namun, saat Bumi sedang memakan bekalnya, Bumi dikejutkan oleh dua orang yang ia pikirkan sejak tadi. "HEY BABY I THINK I WANNA MARRY YOU" Ozi bernyanyi sambil berteriak, mengejutkan Bumi. "Ukhuk ukhuk" Bumi tersedak. "Berisik Ozi, kasian noh si Bumi keselek gegara lo" Ucap Zaid. "Bang gomen bang, minum bang Bumi minum" Panik Ozi sambil menyodorkan air mineral untuk Bumi. "Makasih," singkat Bumi. Kasihan sekali pasalnya Bumi benar benar terkejut. Ditengah sepinya kelas tiba tiba ada teriakan Ozi, begitulah tingkah si mulut terompet. Setelahnya Zaid dan Ozi mengajak Bumi ke kantin dan meminta Bumi menjadi tour guide mereka untuk berkeliling sekolah, kebetulan mereka juga jamkos karena guru guru sedang rapat. Setelah berkeliling, mereka memutuskan untuk bersitirahat di rooftop. "Oiya btw Bumi, rumah lo dimana dah?" tanya Zaid. "Altura Regency" Jawab Bumi. "Anjir sriusan?? BANG BUMI ORANG KAYA, TEMEN GUE ORKAY COY" teriakan heboh Ozi, seperti biasa. "Heh brisik anjir, kek gapernah liat orkay lu" Sinis Zaid "Kekayaan nya punya ortu gue kok" Lanjut Bumi "Yaelah sama aje bang Bumi kan keluarga lu itu" Ucap Ozi. "Keluarga ya? Gatau dah gue gatau rasanya punya keluarga" Ucap Bumi membuat Zaid dan Ozi saling melirik.
"EKHEMMM, eh bang lu tau ga di kantin yang jualan cireng sape si ENAK BENER ITU CIRENGNYA SUMPAH" Ucap Ozi mencoba mengalihkan pembicaraan. "Cireng Mbak Siti" jawab Bumi sambil terkekeh. "Bumi, mulai sekarang lo jadi temen kita yaaa, ini bukan pertanyaan tapi pernyataan. Jadi kalo lo ada apa apa bilang ke kita, cerita aja ke kita" ucap Zaid pada Bumi. "Iya tul betul kata Zaid, tenang aje Bumi sekarang ada kite. Udahlah lupakan kesedihan mari berdangdut bersama Ozi Dahlia. 1 2 3!!!! BERGADANG JANGAN BERGADANG KALAU TIADA ARTINYA BERGADANG BOLEH SAJA KALAU PUNYA DUIT" Heboh Ozi. "Sabar sabarin ya temen lo ini emang rada rada, gue udah tahan kok sepupuan sama ni orang" ucap pasrah Zaid pada Bumi. Bumi hanya tertawa sedikit sambil melihat tingkah konyol ke dua temannya itu. Inikah rasanya memiliki teman? Mengapa ia baru merasakan hal seperti ini, ia merasa sangat beruntung bertemu teman seperti Ozi dan Zaid yang sangat menghibur kesepiannya selama ini. Mereka terus mengobrol, dan menertawakan tingkah Ozi terompet. Hingga bel pulang sekolah berbunyi, barulah mereka berpisah dan pergi ke kelas masing masing. "Lo dijemput?" tanya Zaid pada Bumi. "Iya, lo duluan aja sama Ozi" jawab Bumi. "Yaudeh duluan ya bang Bumi, nanti kita main lagi tiati bang sepatunya diinjek" ucap Ozi bergurau. Mereka pun pulang ke rumah masing masing, namun tidak dengan Bumi. Bumi lelah, namun apa boleh buat ia harus pergi les, sudah menjadi hal wajib bagi Bumi.
"Selamat sore anak anak perkenalkan saya Arya, guru les baru disini. Saya harap kalian bisa nyaman dengan saya" Ucap seseorang yang baru saja datang ke ruangan kelas tempat Bumi les. Setelahnya, sekitar pukul 7:20 malam mereka semua sudah selesai dan mulai pergi keluar meninggalkan ruangan kelas tempat mereka belajar. Namun, saat sedang menunggu jemputan masing masing, Pak Arya pun menghampiri mereka. "Loh kalian belum pulang? Lagi nunggu jemputan ya?" Tanya Pak Arya. “Iya nih Pak, btw Bapak ganteng banget Pak rokok nya apa Pak?" Ucap Dani teman les Bumi bergurau. "Bisa saja kamu Dani, tidak boleh merokok kasihan paru paru" Jawab Pak Arya. "Ah bapak gak asikk" Lanjut Dani. Tidak begitu lama menunggu, jemputan Dani pun akhirnya tiba, dan sekarang hanya tersisa Bumi. Ya dari sekian banyak yang mengikuti les ini Bumi selalu jadi orang terakhir yang akan pulang. "Nah sisa kamu ni, kamu sudah menghubungi orang tuamu belum?" Tanya Pak Arya. Pasalnya sudah 30 menit berlalu setelah Dani dijemput orang tuanya. Bumi hanya mengangguk karena merasa canggung dengan pak Arya. "Waduh tapi lama sekali ya? Apa memang sudah terbiasa pulang selalu larut atau memang kali ini jemputannya telat?" tanya pak Arya lagi. "Tidak tahu pak, supir yang biasa jemput saya tidak aktif nomor handphone nya" Jawab Bumi sambil menghela napas pasrah. "Orang tuamu bagaimana?" Pak Arya kembali bertanya. Bumi termenung bingung mendengar pertanyaan itu, pasalnya ia tak pernah sekali pun dijemput oleh orang tuanya. "Heii saya bertanya kok melamun?" Pak Arya menyadarkan Bumi.
"Saya gak pernah dijemput oleh orang tua saya pak" Ujar Bumi sambil menunduk. Baiklah, sepertinya Arya sudah bisa membaca bagaimana keluarganya. "Rumah mu dimana?" Tanya Pak Arya "Altura Regency" Jawab Bumi. "Deket kok dengan kosan saya, ayo saya antar saja sekalian saya pulang" Ajak Pak Arya. Bumi melihat motor vespa abu tua itu dengan sedikit bingung. "Oh tenang saja motor saya ini antik, kamu tidak tahu motor ini saksi perjuangan saya dari Bandung ke Jakarta" ujar pak Arya sambil terkekeh. Setelahnya Bumi setuju dan mengangguk untuk diantar pulang oleh pak Arya. "KAMU BELUM MAKAN KAN?" Tanya Pak Arya berteriak, karena tidak akan terdengar jika sedang berada di jalanan ramai kota Jakarta ini. "BELUM PAK" Jawab Bumi berteriak. Setelahnya pak Arya mengajak Bumi untuk makan nasi goreng langganan nya dipinggir jalan. "Ini nasgor langganan saya dari jaman saya kuliah, ayo kita makan dulu. Tenang saya yang traktir" ucap pak Arya. Bumi yang baru pertama kali merasakan makan dipinggir jalan seperti ini pun langsung mendudukan diri nya, unik tempat nasgor lesehan. "Bagaimana enak tidak? Mantap kan?" Tanya Pak Arya yang melihat Bumi begitu lahap memakan nasgor tersebut. "Ewnak pwak ini swoalnhya gratis" Jawab Bumi dengan mulut penuhnya. "Telan dulu telan nanti tersedak" Ujar Pak Arya sambil terkekeh dan menyodorkan air.
Mereka memutuskan untuk mengobrol sebentar, Bumi rasa ia dan Pak Arya ini satu frekuensi karena semua pembicaraan Bumi selalu sama apa yang dipikirkan oleh Pak Arya. "Tak disangka kita bisa nyambung seperti ini, nanti nanti kita harus banyak mengobrol lagi yah. Kapan kapan kita menonton pororo bersama" Ucap Pak Arya. Ya, terdengar aneh namun inilah adanya mereka sama sama menyukai series kartun pororo itu. Mereka juga sama sama tidak suka sayur brokoli, dan masih banyak kesamaan lainnya yang membuat topik mereka sangat panjang. "Pak sudah sangat larut" Ujar Bumi. "Astaga iya ayo saya antar kamu" Ucap Pak Arya. Butuh waktu sekitar 15 menit saja untuk sampai ke rumah Bumi. Bumi sangat berterima kasih pada pak Arya, ia senang bertemu seseorang seperti pak Arya. "Jangan lupa istirahat Bumi" Ucap Pak Arya. Bumi tersenyum lebar dan mengangguk, lalu saat ingin membuka gerbang pak Arya menahannya. "Tunggu sebentar Bumi" cegah pak Arya. "Ada ap-" Hangat dan nyaman. Itu yang Bumi rasakan, inikah rasanya pelukan?, nyaman sekali. Bumi sangat merasa aman mendapat pelukan hangat ini. "Semangat selalu Bumi, kamu bisa cerita apapun dan kapan saja kamu mau pada saya" ucap pak Arya. "Terima kasih Pak Arya" Ucap Bumi. Pak Arya pun berpamitan, dan Bumi melangkahkan kaki nya masuk ke dalam rumah. Seperti dugaannya keluarga nya tidak ada yang peduli satu orang pun padanya. Tidak apa, ia sudah terbiasa. Bumi memutuskan untuk pergi ke kamar dan beristirahat. Saat ini ia merasa seperti orang paling bahagia di dunia. Pagi hari ia mendapat teman, malam nya ia mendapatkan pelukan hangat. Entahlah ia merasa satu persatu doa nya terkabul, walau bukan berasal dari keluarganya setidaknya ia merasakan bahagia.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Bumi jarang merasa kesepian sekarang, karena Ozi, Zaid, dan Pak Arya. Ya Ozi dan Zaid memutuskan untuk pindah tempat les ke tempat lesnya Bumi. Pak Arya dan Bumi semakin dekat saja setiap harinya, terlebih sekarang pak Arya selalu mengantar Bumi pulang ke rumahnya. "OI BUMI COME HERE LAH KITA DRINKING DRINKING DI MBAK SITI CAFFE" Teriak Ozi dari gedung IPS ke gedung IPA kelas Bumi. Bumi hanya mengangguk dan berlari menghampiri ke dua sahabatnya itu. "Makin hari cireng Mbak Siti makin enak aja heran gue" Ujar Ozi dengan tatapan bangga menatap cireng mbak Siti. Bumi hanya tertawa saja melihat sahabatnya itu. "Eh nanti les berangkat bareng yu, kita gapernah anjir berangkat bareng" Ajak Ozi pada dua sahabatnya itu. "ayo deh gue juga kayanya gaakan dijemput Pak Jajang" Jawab Bumi. "Gaskeunn" Seru Zaid. Mereka bertiga sampai di tempat les, dan belajar bersama dengan Pak Arya seperti biasa. Setelah selesai, Ozi ditelfon oleh Ibunya untuk menjemputnya. Begitu pula dengan Zaid ia tidak bisa mengantar Bumi pulang karena ia harus ke bandara menjemput Kakanya. "Yaudah gapapa kalian hati hati, masih ada ojol elah" ucap Bumi pada dua orang sahabatnya. "tapi lu tiati yee Bumi kabarin kita kalo sampe rumah" ujar Ozi. Mendengar ucapan itu Bumi hanya bisa mengangguk pasrah. Kemudia mereka berdua pun mulai pergi meninggalkan Bumi. "Nih pake" Pak Arya menyodorkan helm pada Bumi. "Saya antar kamu, jangan kaya orang sedih gitu dong" Ujar Pak Arya lagi. Bumi pun tersenyum lalu langsung menaiki motor vespa pak Arya.
"Pak makasih ya ini udah keberapa kalinya Bapak anter saya" Ucap Bumi sambil tersenyum. "Santai aja Bumi, kan sekalian saya pulang" Jawab Pak Arya. "Yasudah kalau begitu saya langsu- "Renjana?" tiba tiba terdengar suara Mama Bumi keluar dari rumahnya. Pak Arya dan Mama Bumi nampak saling memandang satu sama lain. "Ratih.... Jangan bilang" Ucap pak Arya lanjut memandang Bumi. "Wah kalian sudah saling kenal ya?" Tanya Bumi pada Pak Arya dan Mama nya. "BRENGSEK KAMU RENJANA UNTUK APA KAMU MEMUNCULKAN DIRIMU DIDEPANKU???" Teriak Mama Bumi hingga membuat suami dan anak anaknya keluar dari rumahnya. "Tenang dulu Ratih, aku pun tidak tau kalau kita akan bertemu lagi..... Jadi Bumi a-anaku kan Ratih?" Tanya Pak Arya. Mama hanya bisa memandang Bumi dengan tatapan yang sulit diartikan. "Ya, anak haram itu adalah darah daging kamu Renjana" Jawab sang Mama. "A-anak haram? Ah jadi ini alasan aku selalu dibenci dikeluarga ini? Ini alasan aku tidak pernah mendapatkan perlakuan kasih sayang di keluarga ini?" Tanya Bumi sambil meneteskan air matanya. Bumi berlari sekencang mungkin, saat ini yang ia ingin hanya menghilang, ia benci sangat benci. Sesak, itu yang Bumi rasakan. Ia memilih untuk menaiki bus, entahlah ia ingin kabur saja sekarang. "Ozi lo dirumah engga?" Tanya Bumi pada Ozi ditelfon. "Yaa di rumah dong bang, ngape ni mau nginep?" Balas Ozi. "Iya, gue mau nginep di rumah lo" Jawab Bumi. Hening sebentar lalu selanjutnya Ozi pun mengiyakan.
Setelah sampai di rumah Ozi, Bumi disambut hangat oleh keluarganya yang sangat ramai ada Adik, Kaka, Ayah, dan Ibunya Ozi. "Nak Bumi ayo kita makan bareng sini. Ayo sini nak" Ajak Ibunya Ozi. Hangat, setiap ia pergi ke rumah Ozi hanya ada keharmonisan keluarga nya. Makanya ia sangat nyaman berada disini. Setelah makan malam bersama, Ozi dan Bumi langsung menuju ke kamar Ozi. "Ada apa gerangan nih, biasanya kalo lo nginep berarti ada apa apa" Ucap Ozi bersuara. "Sakit zi, tau fakta ini. Ternyata selama ini gue anak haram yang ga diinginkan. Pantes aja selama ini mereka kaya ga nerima banget ada gue" Jawab Bumi dengan senyum palsunya. "Dan lo tau? Pak Arya itu Bokap kandung gue zi, lucu banget alur Tuhan. Takdir yang gue benci" lanjut Bumi. "Gaada takdir Tuhan yang salah Bumi, ini namanya cobaan yang Tuhan kasih ke lo. Mau gamau lo harus terima, emangnya lo tau alasan dibalik kenapa lo bisa disebut anak haram? Ya gue tau gaada enaknya dengan julukan itu. Tapi bisa aja ada keadaan dimana emang mengharuskan mama papa lo ga menikah atau ga berjodoh kan" Ujar Ozi menenangkan. "Sekarang gini, lo gamau emang ketemu sama keluarga asli lo yang jelas jelas udah ada di depan mata lo Bumi. Gue yakin banget Pak Arya pasti bahagia banget ketemu anaknya, apalagi anaknya hebat tegar kuat biskuat kaya lo gini" Ujar Ozi smabil bergurau mencoba menghibur Bumi. Bumi terkekeh mendengarnya. "Makasih udah hibur gue, tapi tetep aja Zi gue masih sakit hati sedikit. Aslinya gue seneng banget ketemu sama Ayah gue sendiri. Pantesan gue sama Pak Arya banyak kesamaan bahkan dulu pelukan pertama Pak Arya bikin gue nyaman, merasa terlindungi" Lanjut Bumi mencoba mengingat kala dulu pertama kali bertemu dengan Pak Arya. Setelahnya mereka sama sama tertidur, namun suara Ibunya Ozi mengintrupsi.
"Ozi heh bangun dulu cepet" Ucap sang Ibu membangunkan Ozi. "Kenapa si Bu ini jam 11 malem loh aku ngantuk" Ujar Ozi dengan mata nya yang mengantuk. "Ada guru les kamu dibawah" Jawab sang Ibu yang mampu membuat Ozi kembali segar, bahkan berhasil membangunkan Bumi. "Biar gue aja Zi gapapa masalah ini harus kelar" Ucap Bumi dan langsung menuju ke ruang tamu keluarga Ozi. "Astaga Bumi, nak....saya cari kamu kemana mana ternyata kamu disini" Ucap Pak Arya lebih dulu bersuara. "Mind to explain?" Tanya Bumi. Pak Arya menghela napas panjang dan mengangguk. Ia menceritakan dari awal, bagaimana Ratih dan dirinya bisa bertemu, menjalin kasih, dan pada akhirnya terjadi satu kefatalan yang tidak disengaja hingga melibatkan perselisihan hebat. Yang dimana permasalahn tersebut Membuat orang tua Arya tidak menyetujui bahwa Arya ingin menikahi Ratih, karena posisinya Ratih sedang mengandung. Arya dipandang buruk oleh keluarganya, orang tua Arya membawa Arya pergi menjauh dari Ratih dan membiarkan Ratih hidup sendirian. Dari situlah ia tidak pernah lagi mendengar kabar Ratih walau sudah mencoba mencarinya. Dan Arya pun menceritakan bahwa sebenarnya Bumi memiliki nama akhir yaitu 'Renjana' yang dimana itu merupakan nama keluarga dari sang Ayah. "Ayah mohon nak pulang.... Mama itu sebenarnya sangat sayang dengan mu, tapi dia masih belum bisa menerima kenyataan pahit dan menyesakan kala itu nak" Ucap Arya sambil menitikan air matanya. Bumi menatap ayahnya dengan perasaan tak tega. "Aku mau pulang tapi asal aku mau tinggal sama Ayah, aku gamau tinggal sama Mama" Pinta Bumi. Ayah nya terdiam dan berpikir sendiri. "Oke kalau itu mau kamu, tapi sekarang pulang ya nak?" Tanya Ayahnya.
Bumi mengangguk, lalu kemudian ia berpamitan pada Ozi dan keluarganya tidak lupa mengucapkan terima kasih. Setelahnya, Bumi benar benar ingin tinggal bersama Ayahnya. Arya pun harus meminta izin pada Ratih terlebih dahulu. Ratih menperbolehkannya, sebenarnya lebih tidak peduli. Toh Ratih pun merasa ia tidak perlu mengurus anak haram itu lagi. Sesampainya di kosan Ayahnya, Bumi sangat semangat dan menjadi lebih berisik pikir Ayahnya. "Ayah aku bahagia, aku bahagia banget. Pas pertama kali ketemu sama Ayah aku harap Ayah itu Ayahku, eh ternyata benar aja" Ujar Bumi dengan penuh semangat. Arya yang mendengarnya hanya terkekeh ia senang jika anaknya ikut senang. "Maaf kalau dikosan dulu ya nak? Ayah masih mengumpulkan uang untuk membeli rumah, tapi Ayah janji kita akan pindah ke rumah yang lebih bagus" Ucap Arya pada anak nya itu. "Ayah, mau kita tinggal dimanapun itu asalkan sama Ayah aku gapapa. Sekarang aku bahagia, terima kasih Ayah hebatku" Jawab Bumi sambil memeluk sang Ayah. Beginilah ‘keluarga’ yang sebenarnya diinginkan oleh Bumi, yang sudah seharusnya diselimuti oleh kehangatan dan keharmonisan. Bukan keluarga yang menatap dengan tatapan kebencian. Tuhan tolong jangan biarkan kebahagiaan Bumi ini hilang, ia sekadang merasa sangat bahagia. Tepat dua bulan kemudian setelah kejadian hari itu, 6 Juni itu adalah hari dimana Bumi lahir. 'Ayah tau gak ya hari ulang tahun ku?' Batin Bumi berbicara. "DORRRR KAGET DONG KAGET DONG HARUS KAGET KARENA HARI INI HARI ULTAHNYA BUMI EARTH ANJAYYYYY" Teriak Ozi sambil membawa tiga balon bergambar pororo, teriakannya mampu membuat tiga kelas sekaligus heboh. Begitulah tingkah si biduan mulut terompet ini.
"Selamat ultah bestie ku tercintah, nih kita punya kado buat lo. Maaf ya kalo ga mewah, kita bukan Choi Sengucheol oppa seventeen yang kalok jalan aura duitnya kecium. Happy birthday Bumi Harsa Renjana we love you so much much much" Heboh ozi mengucapkan selamat pada Bumi. Bumi berterima kasih dan tertawa melihat tingkah sahabatnya. "Semoga dengan bertambahnya umur lo ini, lo semakin bahagia Bumi. Ada kita disini yang selalu senantiasa jadi sahabat lo" Ujar Zaid, membuat suasana menjadi mellow. "hiksh hissk dede sedih bang, mellow banget anjir" Sembari mengelap ingus pada baju Bumi. Bumi yang diperlakukan sudah biasa itu hanya tertawa. "Makasih banyak, kalo dulu mobil yang dibawa sama pak Jajang ga mogok kayanya kita gaakan ketemu. Gue sayang sama kalian yang udah mau jadi sahabat gue. Makasih" Ujar Bumi. Mereka pun merayakan hari ulang tahun Bumi dengan memakan cireng mbak siti yang tiada tandingannya itu, karena Bumi yang traktir. Bumi merasa bahagia karena sahabatnya mengingat hari lahirnya, ia terus berdoa pada Tuhan agar selalu bisa bersama sama dengan sahabatnya. "Bumi Bapak lo nelpon noh" Ujar Ozi. Bumi mengangkat ponselnya "Halo ayah, kenapa?" Tanya Bumi pada Ayahnya. "Nanti setelah pulang sekolah, temui ayah di Caffee Brownzies dekat kosan kita ya, ajak teman teman mu itu" Jawab Ayahnya. "Emangny- *tutt tutt yah dimatiin. "Kenape bang?" Tanya Zaid "Ni Ayah gue minta nanti kita pulang sekolah suruh ke Caffee Brownzies yang deket kosan Ayah gue itu" Jawab Bumi. "OWALAH YANG KATA SAMPING SALON MBA MBA CAKEP KAN YA?" Ujar Ozi heboh.
"Dih yang cakep cakep aja inget lo" Sinis Zaid. Bumi tertawa dan mengangguk setelahnya. Seperti yang sudah dikatakan Ayahnya, Bumi, Zaid, dan Ozi pun pergi setelah pulang sekolah ke Caffee tersebut, dan mereka sudah menunggu sekitar 15 menit. "Ni Caffee ga biasa anjir dihias cakep begini" Ujar Ozi. Bumi dan Zaid pun mengamati tempat ini, lalu mengangguk. "Tapi Pak Arya lama amat anjir, coba telpon dah Bumi" Ujar Zaid, Bumi pun langsung menelepon Ayahnya. "Ayah halo? Ayah dimana, Bumi udah 15 menit disini loh" Tanya Bumi. "Coba kamu liat ke samping" Di sebrang Caffee, terlihat Arya yang sedang melambaikan tangan ke arah Anak kesayangannya itu. "Hahaha kamu lucu sekali, selamat ulang tahun Anak kesayangannya Ayah. Ayah selalu bangga sama apa yang Bumi capai, Bumi harus berjanji sama Ayah Bumi jadi orang sukses ya Nak? Ayah akan selalu dukung kamu apapun yang Bumi lakukan" Ujar sang Ayah pada Bumi melalui panggilan telfon yang masih tersambung. Bumi hanya mengangguk dan tersenyum "Yaudah Ayah kesini dong, kita tiup lilin bareng hehe" lanjut Bumi. Selanjutnya Ayahnya terkekeh lalu mulai melangkahkan kaki nya dan *tiiiinnnnn brughhhhhhh Ingatkan pada Bumi itu hanya mimpi? Tidak mungkin kan apa yang ia lihat sekarang? Telfon masih bersambung "A-ayah sayang Bumi, j-jadi orang sukses y-ya Nak??" Bumi yang sudah tak memperdulikan sekitar berteriak dan berlari. "AYAHHHHHHHH!!!!!" Zaid dan Ozi yang kaget mengikuti Bumi pergi kekuar dari Caffee tersebut
"Ayah, Ayah kan mau lihat Bumi wisuda Ayah.... Ayah udah janji mau tinggal selamanya sama Bumi, Ayah bangun Ayah gaboleh pergi AYAHHHHH!!!!" Histeris Bumi terus meneriaki Ayahnya sambil menangis. /ceklek Suara pintu ruangan tersebut terbuka. "Dokter bagaimana keadaan ayah saya Dokter?" Tanya Bumi menggebu pada sang Dokter. "mohon maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin namun sepertinya kehendak Tuhan berkata lain. Pak Arya sudah tiada semenjak dibawa ke rumah sakit ini. Tetapi saya menemukan sebuah surat usang ini dikantung baju nya" Dokter memberi surat tersebut pada Bumi. "Saya harap kamu merelakan kepergiannya, saya permisi" Ujar Dokter tersebut membuat Bumi lemas tak kuat berdiri dan terjatuh. Lalu ia membaca surat tersebut. 'Bumi anak Ayah tercinta, kamu hebat kamu kuat. Ayah selalu bangga apapun yang Bumi lakukan, Ayah ingin sekali melihat kamu wisuda nanti. Janji ya Bumi menjadi orang yang sukses, tunjukan pada dunia kamu bisa meraih bintang dengan cara yang hebat. Buktikan kalau takdir Tuhan itu indah Bumi, ingat selalu Bumi masih banyak yang sayang sama Bumi selain Ayah kok. Ozi dan Zaid jangan dilupakan mereka orang baik nak. Selamat berulang tahun anaku tersayang, Ayah sayang Bumi. Sangat, sangat sayang♡' Begitulah isi surat tersebut, yang mampu membuat Bumi kembali menangis histeris. "AYAHHHH!!!! Ayah pergi ninggalin Bumi? Ayah aku juga sayang ayah" Sendu Bumi sambil memeluk surat usang tersebut. "Bumi lo anak kuat dan hebat, Ayah lo lasti bangga sama lo Bumi" Ucap Zaid mencoba menenangkan Bumi. "Masih ada kita Bumi, lo engga sendiri. Ayo bangkit sama sama Bumi. Buktiin ke Ayah lo, lo pasti bisa sukses dengan keren" Ujar Ozi.
Bumi menghapus air matanya, lalu berdiri dan memeluk kedua sahabatnya itu. Begitulah takdir Tuhan, indah namun alurnya tak ada yang bisa menebak. Apapun yang ada di dunia ini tak ada yang abadi, sama seperti perginya Arya yang meninggalkan bekas luka dihati Bumi. Kehilangan menjadi satu satunya kata yang Bumi benci, dan ia berjanji untuk ayah nya. Ia akan menjadi orang sukses di masa depan. 8 tahun kemudian..... *Tok tok tok "Silahkan masuk." "Pak ini ada beberapa berkas permintaan kerja sama dari beberapa studio yang harus Bapak tanda tangani" ujar seseorang itu. "Yailah Ozi, segala make Bapak gue gamau dipanggil Bapak Bapak" Jawab nya. "YEHH GUE HARUS PROFESIONAL ANJIR" Teriak Ozi pada bos nya itu. Iya, setelah banyak waktu yang mereka lewati, mereka bertiga lulus SMA dan masuk Universitas yang sama dan mulai merintis usaha kecil kecilan. Hingga sekarang, Bumi menjadi pemilik salah satu Agensi Digital ternama di Jakarta 'The Renjana's'. Banyak hal yang mereka lalui untuk mencapai titik tertinggi ini. Namun mereka sanggup melewati masa masa sulit itu, mereka memutuskan untuk tinggal bersama dan berjanji untuk selalu bersama. Begitu indahnya, walau hidup Bumi tanpa keluarga sekarang setidaknya ia memiliki dua orang yang menjadi sahabat karib yang tulus menemaninya dari sejak ditinggalkan oleh ayahnya. Tiada lagi tumpahnya air mata, sekarang hanya ada kebahagiaan menyelimuti Bumi. Bumi bahagia..... Kali ini ia tidak akan meminta Tuhan untuk membiarkan kebahaagiaan ini tetap bersamanya. Tetapi ia mulai berpasrah akan jalannya alur Tuhan, ia tidak ingin berharap lebih.
'Arya Renjana' tulisan di batu nisan itu membuat Bumi merindukan sosok ayahnya "Ayah apa kabar, kalau aku sih baik gausah ditanya. Tapi aku sedikit capek, kadang aku bahagia karena masih ada Ozi dan Zaid. Tapi aku gabisa bohong sama perasaanku sendiri kalau aku masih merasa kesepian, Ayah aku kangen Ayah. Aku mau ketemu Ayah, gapapa kan Yah? Ayah gaakan marah kan aku temui Ayah?" Selanjutnya Bumi mengeluarkan benda tajam itu dan menusukan nya pada bagian dada kirinya. Bumi terkapar tak berdaya setelah melakukan itu. Rasa sakit yang teramat telah tiada, rasa rindu yang melanda pun sudah tak dirasa lagi olehnya. Laki manis yang malang itu lebih memilih pergi meninggalkan sahabatnya dan menemui ayah nya. Terima kasih Bumi sudah mau bertahan menjadi sosok yang kuat. Kisahmu selalu terkenang.... Selesai.