Ketepatan Diksi
dalam Karya Tulis Ilmiah
Tim MKDU Bahasa Indonesia FKIP Unpas
1. Desti Fatin Fauziyyah, S.Pd., M.Pd.
2. Yeni Cania Puspita, S.Pd., M.Pd.
3. Frilia Shantika Regina, S. Pd., M.Pd.
Apa saja yang akan Anda pelajari?
A. Pengertian Diksi
B. Syarat-Syarat Diksi
C. Kata Konotatif dan Denotatif
D. Kata Umum dan Kata Khusus
E. Kata Konkret dan Kata Abstrak
F. Pembentukan Kata
G. Kesalahan Pembentukan dan Pemilihan Kata
H. Ungkapan/Idiomatik
A. Pengertian Diksi
• Diksi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah
pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya)
untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu
seperti yang diharapkan.
• Diksi merupakan ketepatan pemilihan kata. Kata dalam bahasa
Indonesia banyak mempunyai kemiripan arti maupun bentuk.
• Pilihan kata memiliki tiga aspek utama, yakni (1) ketepatan, (2)
kesesuaian, dan (3) kebenaran.
Diksi Ketepatan Ketepatan berarti kata yang dipilih Pembentukan kata mengacu pada
Kesesuaian memiliki makna paling tepat dengan kaidah yang berlaku agar tidak terjadi
Kebenaran maksud penulis. varian bentuk
Kesesuaian berkenaan dengan Pengejaan mengacu pada penulisan
keselarasan penggunaan suatu kata kata yang sesuai dengan aturan tata
dengan konteks situasi penggunaannya
tulis yang berlaku
kata yang sesuai denganaturan
masing-masing. Kebenaran mengacu
kepada masalah pelafalan, pengejaan,
dan pembentukan
B. Syarat-Syarat Diksi
1. Dapat membedakan makna denotatif dan konotatif dengan cermat.
2. Menggunakan kata umum dan khusus secara cermat.
3. Menggunakan kata yang berubah makna dengan cermat.
4. Menggunakan kata abstrak dan konkret secara cermat.
5. Menggunakan penggunaan kata yang tepat
6. Mencermati kesalahan pembentukan dan pemilihan kata
7. Menggunakan kata-kata idiomatik berdasarkan susunan yang tepat.
C. Kata Konotatif dan Kata Denotatif
Cermati contoh kalimat berikut!
1. Mata Najwa selalu menyediakan kursi panas.
2. Dilarang buang air kecil di sini.
3. Karyawan tersebut dirumahkan.
4. Pernyataan pejabat itu di media massa menjadi bumerang bagi
karier politiknya.
5. Padanan meja hijau itu sangat sesuai dengan konsep ruangan.
KRITERIA KONOTASI DENOTASI
Tautan pikiran yang menimbulkan nilai Makna denotasi disebut makna konseptual,
PENGERTIAN rasa pada seseorang ketika berhadapan makna sebenarnya, dan makna lugas.
dengan sebuah kata, makna yang
ditambah pada makna denotasi.
CIRI-CIRI 1. Makna emotif atau makna evaluatif. Konseptual artinya makna yang sesuai
2. Makna yang mengandungi nilai-nilai dengan hasil observasi menurut
emosional. penglihatan, penciuman, pendengaran,
3. Makna konotatif berlaku karena perasaan, atau pengalaman yang
pembicara ingin menimbulkan berhubungan dengan informasi (data)
perasaan setuju - tidak setuju, senang – faktual dan objektif.
tidak senang kepada pihak pendengar Sebenarnya, umpamanya kata kursi yaitu
tempat duduk yang berkaki empat.
Nilai rasa sebuah kata dapat diperhalus Lugas artinya makna apa adanya, lugu,
agar tidak menyinggung perasaan atau polos, makna sebenarnya bukan makna
lebih sopan. Perubahan makna tersebut kias.
karena faktor kejiwaan dengan
pertimbangan: (a) rasa takut, (b) kehalusan
ekspresi, dan (c) kesopanan.
D. Kata Umum dan Kata Khusus
▪ Kata umum dibedakan dari kata khusus berdasarkan ruang
lingkupnya. Makin luas ruang lingkup suatu kata, makin umum
sifatnya. Sebaliknya, makin sempit ruang lingkupnya makin
khusus sifatnya.
▪ Makin umum suatu kata makin besar kemungkinan terjadi salah
paham atau perbedaan tafsiran. Sebaliknya, makin khusus,
makin sempit ruang lingkupnya, makin sedikit kemungkinan
terjadi salah paham. Dengan kata lain, semakin khusus makna
kata dipakai, pilihan kata semakin tepat.
No Kata Umum Kata Khusus
1 melihat
melotot
2 berjalan melirik
3 jatuh mengintip
menatap
memandang
tertatih-tatih
terseok-seok
langkah tegap
terpeleset
terjengkang
tergelincir
tersungkur
terjerembab
terperosok
terjungkal
E. Kata Konkret dan Kata Abstrak
Cermati contoh kalimat berikut!
1. Volume penjualan bulan ini naik 15% dibandingkan dengan
bulan yang lalu.
2. Komoditas tertentu harganya naik rata-rata 5%.
3. Karena harga pangan melonjak drastis, maka situasi keamanan
menjadi tidak kondusif.
4. Kebenaran pendapat itu tidak terlalu tampak.
5. Baju itu berwarna agak keabuan.
KATA KONKRET KATA ABSTRAK
Kata yang acuannya semakin mudah diserap Kata yang acuannya tidak mudah diserap
pancaindra disebut kata konkret. Kata konkret pancaindra disebut kata abstrak, Sesuai dengan
memiliki ciri bisa dirasakan, bisa dilihat, diraba, namanya kata abstrak lebih memerlukan
didengar, dan bisa dicium. pendalaman pemahaman, karena sifatnya yang
tidak nyata, seperti : ide, kesibukan, dan gagasan
▪ Dalam penulisan karya ilmiah, kata-kata yang Kata abstrak adalah kata yang mempunyai referen
digunakan harus konkret agar tidak berupa konsep, karena itu lebih sulit dipahami
menimbulkan pertanyaan bagi pembaca. Jika daripada kata konkret.
yang akan dideskripsikan suatu fakta, maka
harus lebih banyak menggunakan kata konkret,
agar konsep yang dikemukakan penulis
memberikan gambaran yang jelas bagi
pembaca.
▪ Kata konkret adalah kata yang mempunyai
referen objek yang dapat diamati, dapat diberi
contoh atau gambar mengenai objek yang
dimaksud.
F. Pembentukan Kata (Morfologi)
bentuk proses kata jadian penggunaan
dasar morfologis be-+ajar dalam frasa
ajar dan kalimat
afiksasi
reduplikasi sedang
kompositum belajar
Dimensi Morfologi Bentuk Berkaitan dengan ‘apakah proses Contoh:
Fungsi morfologis itu membuat di- + cium = dicium
Makna meN- + cium = mencium
terjadinya perubahan fonologis
(perubahan bunyi) pada unsur- Fungsi Inflektif uaitu ketika kelas
kata tidak mengalami perubahan
unsur pembentuknya’. setelah proses morfologi.
Contoh:
Berkaitan dengan ‘apakah kelas tulis v
kata pada bentuk dasar berubah meN- + tulis = menulis v
setelah mengalami proses Fungsi derivatif yaitu ketika kelas
morfologis’. kata mengalami perubahan setelah
proses morfologi.
Fungsi dibagi menjadi dua: Contoh:
sepatu n
Makna gramatikal yaitu makna ber- + sepatu = bersepatu v
yang tidak mengubah makna
sebenarnya.
Contoh
anak
anak-anak
Makna leksikal yaitu makna yang
mengubah makna sebenarnya.
Contoh
meja + hijau = meja hijau
panjang + tangan = panjang tangan
G. Kesalahan Pembentukan dan Pemilihan Kata
1. Peluluhan bunyi /c/
2. Bunyi /s/, /k/, /p/, dan /t/ yang tidak luluh
3. Awalan ke- yang keliru pemakaian akhiran –ir
4. Padanan yang tidak serasi
5. Pemakaian kata depan di, ke, dari, bagi, pada, daripada, dan
terhadap
6. Penggunaan kata yang hemat
7. Analogi
8. Bentuk jamak dalam bahasa Indonesia
G. Kesalahan Pembentukan dan Pemilihan Kata
NO KRITERIA PENGERTIAN CONTOH
1 Peluluhan bunyi /c/ Kata dasar yang diawali bunyi c Ali sedang menyuci mobil. (salah)
sering menjadi luluh apabila Ali sedang mencuci mobil. (benar)
mendapat awalan me-.
2 Bunyi /k/, /t/, /s/, /p/ Kata dasar yang bunyi awalnya /s/, 1. Semua warga negara harus mentaati peraturan yang
yang tidak luluh /k/, /p/, atau /t/ harus lebur berlaku (salah)
menjadi bunyi sengau. 2. Semua warga negara harus menaati peraturan yang
berlaku (benar)
3 Awalan ke- yang Pada kenyataan sehari-hari, kata- Ke-
keliru dan pemakaian kata yang seharusnya berawalan 1. Pengendara mator itu meninggal karena ketabrak oleh
akhiran -ir ter- sering diberi awalan ke-. kereta api. (salah)
Pemakaian kata akhiran –ir dalam 2. Pengendara motor itu meninggal karena tertabrak oleh
bahasa Indonesia baku untuk kereta api. (benar)
akhiran –ir adalah -asi atau -isasi. -ir
1. Saya sanggup mengkoordinir kegiatan itu (salah)
2. Saya sanggup mengoordinasi kegiatan itu (benar)
4 Padanan tidak serasi Hal ini terjadi karena dua kaidah 1. Karena modal di bank terbatas, tidak semua pengusaha
yang berselang, atau yang lemah memperoleh kredit. (benar)
bergabung dalam sebuah kalimat. 2. Modal di bank terbatas sehingga, tidak semua pengusaha
lemah memperoleh kredit. (benar)
3. Karena modal di bank terbatas, sehingga tidak semua
pengusaha lemah memperoleh kredit (salah)
NO KRITERIA PENGERTIAN CONTOH
5 Pemakaian kata depan di, ke, Dalam pemakaian sehari-hari, 1. Putusan dari pada pemerintah itu melegakan hati
dari, bagi, daripada, dan pemakaian kata di, ke, dari, bagi, rakyat. (salah)
terhadap pada, daripada, dan terhadap
sering dipertukarkan. 2. Putusan pemerintah itu melegakan hati rakyat.
(benar)
6 Penggunaan kata yang hemat Kalimat efektif adalah pemakaian Tidak Tepat/Boros Tepat/Tidak Boros
bahasa yang hemat kata, tetapi Sejak dari sejak atau dari
padat isi. Agar supaya agar atau supaya
7 Bentuk jamak dalam bahasa 1. Bentuk jamak dengan 1. meja-meja; buku-buku; rumput-rumput
Indonesia melakukan pengulangan kata
yang bersangkutan
2. Bentuk jamak dengan 2. sekalian tamu; beberapa meja; semua buku
menambah kata bilangan
3. Bentuk jamak dengan 3. para tamu; para siswa; para mahasiswa
menambahkan kata bantu
jamak
4. Bentuk jamak dengan 4. mereka,; kita; kami; kalian
menggunakan kata ganti orang
Idiomatik/UngkapanH. Ungkapan/Idiomatik Idiom atau ungkapan adalah rangkaian
kata yang menghasilkan makna kias.
Pengertian Idiom merupakan gabungan dua kata
Sudut Pandang
atau lebih untuk mengkiaskan suatu hal.
Contoh
Idiom Penuh
Idiom penuh adalah jenis ungkapan
yang maknanya tidak tergambar pada
unsur-unsur pembentuknya
Idiom Sebagian
Idiom sebgaian adalah jenis ungkapan
yang maknanya masih tergambar dalam
makna unsur pembentuknya
Idiom Penuh
Gulung + tikar = bangkrut
Buah + hati = kesayangan
Darah + biru = bangsawan
Idiom Sebagian
Kabar + burung = berita belum pasti
Daftar + hitam = daftar pelaku
kejahatan
Pustaka Utama
Tim Penyusun. (2016). Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta : Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia
Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan.
Pustaka Pendukung
1. Arifin, E. Zaenal. (1987). Petunjuk Praktis penyusunan Karya Ilmiah. Jakarta: Media Sarana Press.
2. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2014). Bahasa Indonesia: Ekspresi Diri dan Akademik untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Kemendikbud.
3. Keraf. Gorys. (2004). Komposisi. Ende: Nusa Indah.
4. Keraf, Gorys. (.2001). Tata Bahasa Indonesia. Ende: Nusa Indah.
5. Keraf, Gorys. (2001). Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia.
6. Keraf, Gorys. (2001). Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Gramedia.
7. Kosasih, E. (2001). Kompetensi Ketatabahasaan, Cermat Berbahasa Indonesia. Bandung: Yrama Widya.
8. Ramlan, M. (1993). Paragraf: Alur Pikiran dan Kepaduannya dalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Andi Offset.
9. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2014). Bahasa Indonesia: Ekspresi Diri dan Akademik untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Kemendikbud.
10. Sugihastuti . (2000). Bahasa Laporan Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar