The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Penjelasan tim kajian sentralisasi keuangan HKBP

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by pdt_nekson, 2022-04-04 10:59:08

Sosialisasi Sentralisasi Keuangan HKBP

Penjelasan tim kajian sentralisasi keuangan HKBP

Keywords: Sentralisasi HKBP

0 | Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP P a g e

Daftar Isi
KATA PENGANTAR ...................................................................................................................................... 2
SOSIALISASI RENCANA PELAKSANAAN........................................................................................................ 4

I. LATAR BELAKANG PEMIKIRAN ............................................................................................................. 4
II. DAMPAK DESENTRALISASI DAN KEMANDEGAN ORGANISASI............................................................. 7
III. HARAPAN BARU HKBP DALAM SISTEM SENTRALISASI KEUANGAN.................................................... 9

3.1. Kajian Teologis ............................................................................................................................. 9
3.2. Dasar Kerja Tim Kaji ................................................................................................................... 10
3.3. Visi dan Nilai-nilai....................................................................................................................... 11
3.4. Manfaat Sentralisasi Keuangan HKBP ........................................................................................ 12
3.5. Alur Sentralisasi Keuangan ......................................................................................................... 13
IV. BAGAIMANA SISTEM SENTRALISASI TERLAKSANA? ......................................................................... 13
4.1. Potensi Keuangan Huria ............................................................................................................. 14
4.2. Potensi Keuangan dari Lembaga dan Unit Pelayanan HKBP....................................................... 17
4.3. Sumber-sumber Lain .................................................................................................................. 17
4.4. Sentralisasi Pembiayaan HKBP ................................................................................................... 17

a. Pembiayaan Gaji Pelayan dan Pegawai dalam bentuk Payroll .................................................. 18
b. Pembiayaan Operasional dan Program Kantor Pusat................................................................ 19
c. Pembiayaan Operasional dan Program Distrik dan Ressort...................................................... 19
V. SISTEM SENTRALISASI KEUANGAN BERBASIS DATABASE.................................................................. 20
5.1. Rancang Bangun Sistem Sentralisasi Keuangan ......................................................................... 20
5.2 Perlukah Dana Awal? .................................................................................................................. 22
5.3 Perubahan Buku Tingting Huria .................................................................................................. 22
5.4 Pengelolaan Keuangan yang Profesional..................................................................................... 23
VI. PERATURAN PENDUKUNG SENTRALISASI KEUANGAN HKBP ........................................................... 23
6.1 Amandemen AP HKBP................................................................................................................. 23
6.2. PPKU HKBP yang Baru ................................................................................................................ 23
6.3. Pedoman Kepersonaliaan .......................................................................................................... 24
VI. PENUTUP ......................................................................................................................................... 24
Lampiran – 1: Kajian teologis komisi Teologi HKBP................................................................................... 25
Lampiran – 2: SK TIM ................................................................................................................................ 35

1 | Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP P a g e

KATA PENGANTAR

Pdt Dr. Robinson Butarbutar, Ephorus HKBP

Saudara-saudara, Bapak/Ibu, Pemuda dan remaja serta anak-anak Sekolah Minggu HKBP yang
saya kasihi, warga dan pelayan HKBP yang terhormat di mana saja berada, di rumah, tempat
tugas, dan tempat bersekutu di Indonesia dan di luar negeri. Kasih karunia karunia dari Allah
Tritunggal kiranya menyertai saudara sekalian. Salam sejahtera.

Buku Kecil Sosialisasi Sentralisasi Keuangan HKBP yang ada di depan Saudara/di tangan
Saudaraku ini dipersiapkan dan disediakan untuk membantu kita semua memahami alasan,
tujuan serta pelaksanaan dari Sistem Sentralisi Keuangan di HKBP, yang sudah ditetapkan
sebelumnya pada Sinode-sinode Agung HKBP, terakhir pada Sinode Agung 2018, dan yang
segera akan kita tetapkan pada Sinode Agung HKBP pada tangal 24-27 Oktober 2022, di mana
akan dimulai (dilaunching) pelaksanaan Sentralisasi Keuangan di HKBP pada bulan Januari 2023.
Pada Amandemen ke-4 Aturan-Peraturan HKBP yang juga akan ditetapkan di Sinode Oktober
itu, akan dicantumkan hal Sentralisasi Keuangan, dan – sebagai turunannya, Peraturan
Pelaksanaan Keuangan (PPKU) HKBP dan Peraturan Kepersonaliaan HKBP – akan dibuat sesuai
dengannya.

Pentingnya Sosialisasi ini didasarkan pada ketetapan Rapat-rapat Praeses dan Rapat-rapat MPS
HKBP sejak Januari 2021 hingga Pebruari 2022 yang menetapkan agar menuju Sinode Godang
Oktober 2022 telah tercipta/terbentuk pemahaman yang tepat, baik dan menyeluruh di
seluruh HKBP tentang bagaimana HKBP melaksanakan Sentralisasi Keuangan itu, demi
kemajuan pesat pelaksanaan tugas-tugas HKBP sebagai gereja, pertumbuhan iman warga HKBP
sebagaimana diharapkan Rencana Strategis HKBP 2020-2024 dan mewujudkan visi HKBP
menjadi berkat bagi dunia.
Buku Kecil Sosialisasi ini - yang merupakan hasil kerja dari Tim Kaji yang ditugasi oleh Ephorus
HKBP pada bulan April 2021 berdasarkan keputusan Rapat MPS HKBP sejak Februari 2021 dan
yang sudah disajikan dan sesetujui di rapat Praeses, Rapat MPS pada bulan Nopember 2021

2 | Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP P a g e

maupun Pebruari 2022, juga sebelumnya pada Rapat Pendeta HKBP Oktober 2021, - disediakan
untuk menopang sosialisasi verbal yang dilakukan pada bulan April hingga Mei 2021 di lima
regional – yaitu pada tgl 7 April di Pematangsiantar, 21 April di Doloksanggul, 26 April di
Pekanbaru, 9 Mei di Yogyakarta, dan 16 Mei di Medan. Sosialisasi verbal melalui tatap muka itu
terhadap tokoh-tokoh kunci jemaat dan resort serta distrik HKBP dilakukan oleh para pimpinan
HKBP di tingkat pusat dan di tingkat distrik dengan topangan Tim Kaji Sentralisasi Keuangan itu
sendiri.

Marilah kita menggunakannya sebaik-baiknya sehingga tekad kita melalui Tahun Kesehatian
2022 meningkatkan pelayanan HKBP di segala aras sebagai gereja yang besar dan dewasa di
tengah dunia yang cepat berubah dan mengharapkan peran HKBP yang besar, bermakna, dan
berdampak bagi warganya dan bagi dunia ini.

Kita ungkapkan rasa terima kasih kita pada Convener Tim Kaji ini, Bapak Praeses Nekson
Simanjuntak dan seluruh anggotanya, secara khusus Bapak Sukur Nababan, salah seorang
warga HKBP yang memberikan hati, waktu, tenaga, fasilitas dan kemampuannya untuk
mengkaji dan merancang pelaksanaan Sentralisasi Keuangan di HKBP, yang merupakan jawaban
utuh pada sekian banyak persoalan di HKBP selama ini yang menghalangi pelayanan penuh
HKBP menghadapi tantangan-tangtangan besar di hadapannya dan di hadapan kita saat ini.
Tuhan Allah Tritunggal memberikati hidup, keluarga, karya dan masa depan mereka semuanya.
Salam dan doa.
Pearaja Tarutung, akhir Maret 2022

Pdt. Dr. Robinson Butarbutar
Ephorus HKBP

3 | Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP P a g e

SOSIALISASI RENCANA PELAKSANAAN
SENTRALISASI KEUANGAN HKBP

I. LATAR BELAKANG PEMIKIRAN

HKBP merupakan gereja yang terus menerus menggumuli panggilannya agar tetap relevan dalam
melakukan tugas-tugas panggilannya di dunia ini, baik di bidang koinonia, marturia, dan diakonia.
Gereja HKBP diberkati dengan anugerah-Nya yang besar sehingga dari waktu ke waktu HKBP bisa
terus berkembang, berawal dari Bona Pasogit hingga menyebar ke seluruh nusantara dan luar
negeri. Sampai saat ini, HKBP terdiri dari 3.336 Huria, 107 Parmingguon, 186 Pos Pelayanan, 777
Resort, 32 distrik, serta 1 Persiapan distrik. Seluruh gereja ini tersebar di Wilayah Indonesia dan
beberapa di luar negeri.

Pertumbuhan gereja HKBP diikuti juga oleh pertumbuhan tenaga pelayan HKBP, baik pelayan
tahbisan penuh waktu maupun non tahbisan (pegawai), ditambah dengan pelayan sintua di huria
masing-masing. Hingga saat ini pelayan tahbisan penuh waktu terdiri dari Pendeta: 2.109 orang,
Guru Huria : 276 orang, Bibelvrouw: 503 orang, Diakones: 358 orang, dan Pegawai: 227 orang,
ditambah lagi tenaga-tenaga voluntir lainnya di Distrik, Resort, dan di Huria masing-masing.
Pelayan tahbisan HKBP dan pegawai HKBP yang menerima penetapan (SK) dari Pimpinan HKBP
menerima gaji atau “balanjo” dari HKBP.

Dalam mempersiapkan tenaga pelayan tahbisannya ini, HKBP memiliki beberapa lembaga
pendidikan teologi yaitu: Sekolah Tinggi Teologi HKBP Pematangsiantar (STT), Sekolah Tinggi
Guru Huria (STGH) di Seminarium Sipoholon, Sekolah Tinggi Bibelvrouw (STB) di Laguboti,
Sekolah Tinggi Diakones (STD) di Balige, dan Sekolah Pendeta untuk merekrut partohonan guru
huria menjadi pendeta. Melalui lembaga ini HKBP mempersiapkan para calon pelayan yang kelak
akan meneruskan tugas-tugas pelayanan HKBP secara berkesinambungan. Selain itu, HKBP juga
ikut mendukung program pemerintah mencerdaskan kehidupan bangsa melalui Yayasan
Pendidikan mulai dari PAUD/TK, SD, SMP, SMU/SMK dan Universitas. Di bidang kesehatan, HKBP

4 | Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP P a g e

memiliki rumah sakit: RS Balige dan RS Nainggolan dan Pos-pos Kesehatan yang ada di huria-huria
tertentu.

Dalam melaksanakan oraganisasinya, HKBP memiliki tata dasar dan tata laksana yang disebut
dengan Aturan dan Peraturan – AP HKBP. Aturan dan Peraturan awalnya dibuat periodik sepuluh
tahun, namun pada AP HKBP 2002, perubahan dilakukan berdasarkan pada keputusan Sinode
untuk mengamandemen butir-butir tertentu. Sejak AP HKBP 2022 diberlakukan, HKBP telah
membuat Amandemen sebanyak tiga kali dan pada Sinode 2022 akan diadakan Amandemen
keempat. Ini berarti HKBP terus memperbaiki Tata Kelola organisasi guna menemukan peraturan
yang relevan dalam mengembangkan pelayanan HKBP.

Dasar ajaran HKBP ialah Alkitab. Pokok-pokok ajaran itu tertuang dalam Konfessi HKBP.
Peribadahan diatur dalam Agenda HKBP, dan etika kehidupan warga jemaat diaturkan dalam
Ruhut Parmahanion dan Paminsangon (RPP HKBP). Semua ini merupakan perangkat pelayanan
HKBP yang menopang pelayanan holistik bagi warga jemaat.

Mengenai sumber daya pelayan, HKBP menganut model “sending pastors/sending servants,”
artinya Sinode atau Kantor Pusat HKBP mengutus atau menempatkan tenaga pelayan Pendeta,
Guru Huria, Bibelvrouw dan Diakones ke Huria, Ressort, Distrik dan Hatopan. Penggajian tenaga
pelayan HKBP terdiri dari dua bagian: (1) Pelayan yang ditempatkan di ulaon Hatopan dan
lembaga menerima gaji atau balanjo dari Kantor Pusat yang sumber keuangannya dari
Persembahan II, Namarboho, dan penerimaan dari lembaga. Penetapan besaran gaji pelayan di
hatopan ditetapkan berdasarkan PPKU (Pedoman Pengelolaan Keuangan Umum HKBP). Buku
PPKU ini ditetapkan oleh Majelis Pekerja Sinode. (2) Pelayan yang di tempatkan di jemaat
(Huria/Resort) menerima balanjo atau gaji dari Huria yang dilayaninya. Penetapan besaran
balanjo/gaji pelayan di Huria diserahkan sepenuhnya kepada kebijakan gereja lokal.
Mekanismenya diatur melalui tahapan: Parhalado membuat Konsep Anggaran, dan konsep ini
ditetapkan dalam Rapat Huria. Inilah yang disebut dengan sistem desentralisasi.

Dengan demikian, di dalam sistem desentralisasi, penggajian pelayan yang melayani di jemaat
ditentukan oleh jemaat setempat. Akibatnya, terjadi ketimpangan kesejahteraan yang diterima
oleh masing-masing pelayan karena kemampuan jemaat yang berbeda-beda. Perbedaan itu bisa

5 | Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP P a g e

sangat kontras. Para pelayan yang memiliki masa kerja dan golongan yang sama bisa saja
menerima balanjo/gaji yang sangat jauh berbeda. Selain ketimpangan kesejahteraan, ada juga
ketimpangan pelayanan. Ada Huria yang dilayani oleh empat atau lima pelayan karena mereka
mampu memberi balanjo/gaji para pelayan tersebut. Sementara itu, ada Resort dengan belasan
Huria hanya dilayani oleh satu orang pelayan penuh waktu karena ketidakmampuan ekonomi
mereka.

Selain soal ketimpangan, sistem desentralisasi memiliki dampak pada persoalan mutasi pelayan.
Ada banyak jemaat yang menahan pendeta yang sudah dimutasikan dan ada pula pelayan yang
tidak mau dimutasi karena pertimbangan kesejahteraan yang sangat berbeda. Masalah mutasi
dan penempatan pelayan merupakan masalah yang sulit diatasi dari periode demi periode
sehingga menjadi masalah yang akut di HKBP. Sampai saat ini, mutasi masih menjadi persoalan
di HKBP, dan solusi atas masalah itu terus dicari agar pelayan HKBP bisa fokus dalam
pelayanannya tanpa khawatir dimutasi.

Sebelumnya HKBP telah pernah menetapkan program sentralisasi penggajian pelayan HKBP
dengan sistem dana abadi pada tahun 2002. Dalam rencana program dana abadi, HKBP akan
mengumpulkan Rp 310.000.000.000,00 (310 miliar rupiah) dan disimpan dalam bentuk deposito.
Bunga deposito inilah yang didistribusikan menjadi gaji pelayan yang pada saat itu berjumlah
1.500 Orang. Program ini gagal karena HKBP tidak berhasil mengumpulkan dana sebesar itu.
Menurut berbagai analisis, kekeliruan mendasar dari sistem dana abadi ini adalah gaji/belanja
pelayan bersumber dari bunga deposito. Padahal, seorang pekerja harus hidup dari pekerjaannya
atau dengan kata lain gaji adalah upah kerja dari usaha dan pekerjaan yang dilakukan, bukan dari
bunga deposito. Terlepas dari kontra dan pro atas sistem dana abadi, hal paling nyata bahwa
kenaikan suku bunga deposito dalam resesi ekonomi sangat menentukan besar kecilnya bunga
deposito.

Sekalipun demikian, HKBP tidak berhenti memikirkan jalan keluar dari pergumulan-pergumulan
yang membebani HKBP. Sinode Godang 2016 kembali mengamanatkan agar HKBP melaksanakan
sentralisasi keuangan dengan terlebih dahulu melakukan suatu kajian. Atas amanat Sinode
Godang ini, Pimpinan HKBP Periode 2020-2024 pun berupaya merealisasikan pelaksanakan

6 | Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP P a g e

sistem Sentralisasi Keuangan HKBP. Program itu telah ditetapkan pada Rapat MPS Januari 2021
sebagai salah satu program utama periode ini. Sebelum Sentralisai Keuangan HKBP itu ditetapkan
dan dilaksanakan, Pimpinan HKBP merasa perlu untuk melakukan kajian mendalam terlebih
dahulu. Dalam melakukan kajian inilah Ephorus HKBP telah mengangkat dan menetapkan Tim
Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP dengan SK No: 541/L08/IV/2021 tertanggal 26 April 2021.
Anggota Tim Kaji ini terdiri dari unsur praeses, pendeta, dan warga jemaat yang profesional di
bidang masing-masing.

II. DAMPAK DESENTRALISASI DAN KEMANDEGAN ORGANISASI

Sejak ditugaskan oleh Ephorus HKBP, Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP telah melakukan
pengamatan, diskusi, dan analisa tentang keadaan HKBP yang sekarang yang menganut sistem
desentralisasi beserta dampak-dampak yang ditimbulkannya. Berikut ini beberapa langkah yang
dilakukan oleh Tim Kaji dan hasil analisis terhadap dampak dari desentralisasi yang terjadi di
HKBP, ykani:

2.1. Tim Kaji telah melakukan rapat kordinasi dengan seluruh anggota dan telah sepakat untuk
membuat kajian Sentralisasi Keuangan HKBP untuk ditawarkan untuk diberlakukan di HKBP demi
perbaikan HKBP.

2.2. Tim Kaji telah membaca dengan seksama hasil Studi Banding Balitbang HKBP kepada
gereja-gereja tetangga yang telah lebih dahulu melaksanakan Sentralisasi Penggajian
Pelayanan.

2.3. Tim Kaji telah melakukan kajian tentang dampak dari desentralisasi yang selama ini
diterapkan di HKBP. Tim Kaji menemukan sistem desentralisasi di HKBP banyak mempengaruhi
konflik internal sehingga menciptakan kondisi organisasi yang kurang sehat, yakni:

a. Adanya kesenjangan balanjo dan kesejahteraan pelayanan dari 1 kali SK bruto, sampai 3x
SK bruto dengan tambahan-tambahan lainnya. Kesejahteraan pelayan ditentukan tempat
pelayanan, bukan berdasarkan masa kerja, golongan dan hasil kinerja.

b. Adanya kesenjangan di jemaat perihal distribusi tenaga pelayan, di mana ada satu gereja
yang mampu membiayai gaji pelayan hingga memiliki lebih dari satu orang di dalam satu

7 | Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP P a g e

jemaat, namun ada banyak jemaat di dalam satu Resort hanya dilayani oleh satu orang
pendeta karena ketidakmampuan jemaat membayar gaji pelayan. Keadaan ini membuat
ketimpangan pelayanan di seluruh jajaran pelayanan HKBP. Gereja-gereja yang tidak
mampu membiayai pelayan akan sulit mendapatkan tenaga pelayan. Banyak anggota
jemaat yang tidak “tersentuh” pelayanan karena tidak memiliki pelayan di gerejanya.
Sementara di gereja-gereja yang mampu, pelayanan semakin maju karena sumber daya
pelayan tersedia.
c. Sistem desentralisasi membuka lebar benturan kepentingan jemaat dan Kantor Pusat. Di
saat Kantor Pusat memutasikan seorang pelayan, ada jemaat yang menahan sang pelayan,
maka terjadilah kemandegan organisasi dalam hal mutasi pelayan. Sebaliknya, ada juga
pelayan yang sudah ditetapkan di Resort atau Huria tertentu tetapi karena berbagai alasan
ditolak oleh jemaat. Kasus-kasus semacam ini semakin sering yang jika tidak dicarikan
solusinya akan semakin berdampak buruk bagi Huria dan bagi organisasi HKBP secara
umum.
d. Sistem desentralisasi membuat HKBP kurang mampu melakukan misi pelayanan di luar
lingkup gereja, seperti di lingkungan masyarakat pinggiran kota, menciptakan stasi misi
baru, dan pelayanan-pelayanan di luar jemaat HKBP karena terbentur pembiayaan. Gereja
lokal berorientasi melayani anggota jemaat, pembiayaan mereka diupayakan untuk
memenuhi anggaran gereja lokal dan kurang memperhatikan misi ke luar. Sementara
Kantor Pusat pun tidak memiliki dana besar karena untuk memenuhi kebutuhan rutin pun
sangat sulit, sehingga tidak ada dana Kantor Pusat untuk mengutus tenaga pelayan yang
berperan di tengah-tengah masyarakat. Sistem desentralisasi keuangan yang demikian
membuat pelayanan HKBP perpusat pada pelayanan Huria semata. Memang ada Huria-
huria yang melakukan pelayanan di dalam masyarakat, namun hanya bersifat lokal dan
biasanya temporer.

2.4. Adanya ketidakpastian bagi para pelayan dalam hal kesejahteraan. Dalam sistem
desentraslisasi, setiap mutasi akan berdampak pada pendapatan pelayan. Kesejahteraan
pendeta ditentukan oleh tempat pelayanan dan kemampuan gereja lokal. Dalam keadaan
seperti itu, Kantor Pusat akan mengalami kesulitan dalam menjalankan roda organisasi. Kantor

8 | Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP P a g e

Pusat akan menghadapi konflik terhadap jemaat dan pelayan yang menolak mutasi pelayan
bersangkutan. Hal semacam ini merusak kesehatan organisasi HKBP.

2.5. Sistem Desentralisasi berdampak pada konflik antara pelayan dan parhalado. Di satu sisi,
pelayan tentu berusaha untuk meningkatkan kesejahteraannya. Dalam prosesnya, terkadang
Parhalado menjadi penghambat atas kenaikan parbalanjoon/gaji pelayan. Konflik pun terjadi.
Konflik semacam ini berdampak buruk pada pelayan, Huria, dan pelayanan itu sendiri.

2.6. Tim Kaji telah melakukan diskusi tentang dasar-dasar teologi persembahan dalam sistem
sentralisasi. Tim sepakat bahwa sentralisasi keuangan tidak mengubah makna persembahan
dan jenis-jenis yang ada di HKBP. Itu semua tetap berjalan sesuai dengan apa yang ada.
Perubahan dalam sentralisasi hanya pada pengelolaan, yaitu perubahan dari desentralisasi ke
sentralisasi.

2.7. Tim Kaji menemukan bahwa sumber keuangan HKBP adalah dari Huria yang terdiri dari
persembahan (Pelean), Pesta Huria, dan Pemasukan dari usaha berupa gedung serbaguna dan
pendapatan lainnya. Uang masuk ke Huria inilah yang dikirimkan untuk Pembiayaan Pusat (dari
Pelean II dan na marboho), dan membiayai anggaran Distrik yang ditetapkan di Sinode Distrik,
anggaran biaya Resort yang ditetapkan Rapat Parhalado Resort dan Gaji Pelayan Huria
setempat yang ditetapkan oleh Rapat Huria. Dengan demikian beban pembiayaan dari pusat
hingga Huria termasuk di dalamnya gaji pelayan semuanya bersumber dari persembahan Huria.

III. HARAPAN BARU HKBP DALAM SISTEM SENTRALISASI KEUANGAN

3.1. Kajian Teologis

Tim Kaji Sentralisasi sudah meminta Komisi Teologi untuk membuat kajian teologis atas program
sentralisasi. Kajian awal ini sudah dipresentasikan dan didiskusikan bersama antara Tim Kaji dan
Komisi Teologi (artikel terlampir).
Dalam kajian teologisnya ini, Komisi Teologi menegaskan bahwa selama ini ke-hatopan-an HKBP
sudah terwujud hampir di segala bidang, seperti liturgi, struktur, dan berbagai teknis pelayanan.

9 | Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP P a g e

Namun, pengelolaan keuangan belum bersifat hatopan. Berdasarkan prinsip ke-hatopan-an ini,
mestinya sentralisasi menjadi sangat mungkin untuk dilakukan di HKBP.
Uang dan pengelolaan keuangan adalah hal yang teologis dan alkitabiah. Uang dan harta benda
disebut sampai ribuan kali dalam Alkitab kita. Yesus sendiri berkali-kali bicara tentang uang
terutama lewat perumpamaan-Nya. Selain itu, gerakan Yesus itu sendiri adalah gerakan yang
memerlukan uang, dan memiliki bendahara untuk mengelola keuangan mereka (Lih. Mat. 2:10-
11; Yoh. 12:4-6). Artinya, gereja memang harus lebih serius dan terbuka membicarakan serta
mengelola keuangannya agar ia dapat menjadi berkat bagi dunia seperti yang selalu kita
sampaikan lewat doa persembahan kita: “Pasupasu ma i jala ramoti asa huparhaseang hami
pelean on, patimbulhon harajaon-Mu di tongatonga ni HuriaM dohot di portibi on.”
Pengelolaan keuangan yang tersentralisasi kita yakini sebagai salah satu cara HKBP untuk
memasuki babak baru transformasi gereja. Pengelolaan keuangan yang tersentralisasi ini
mensyaratkan sumber daya manusia yang kapabel dan berintegritas tinggi. Selain itu, tentu saja
dibarengi sistem keuangan yang modern, profesional, akuntabel, transparan, dan berkeadilan.
Dari sanalah kita harapkan visi HKBP ‘menjadi berkat bagi dunia’ dapat kita wujudkan.

3.2. Dasar Kerja Tim Kaji

Setelah ditetapkan oleh Ephorus HKBP, Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP telah bekerja
dengan berpedoman pada tugas tim yang termaktub dalam SK, yaitu Melakukan Kajian
terhadap pelaksanaan sentralisasi penggajian; menghitung kebutuhan yang berkaitan dengan
sentralisasi penggajian; dan melakukan studi banding ke gereja yang sudah melaksanakan
sentralisasi penggajian. Kemudian menyampaikan hasil kajian kepada ephorus HKBP untuk
disampaikan ke Rapat Praeses, MPS, dan Sinode Godang

Dalam melakukan tugas-tugas ini Tim Kaji tetap berkoordinasi dengan Pimpinan HKBP dan telah
menyampaikan informasi kajian tim ke rapat MPS Oktober 2021, Rapat Pendeta HKBP Oktober
2021 dan rapat Gabungan Praeses dan MPS tanggal 14-16 Februari 2022.

10 | Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP P a g e

3.3. Visi dan Nilai-nilai

Kajian Sentralisasi Keuangan HKBP ini disinari oleh terang visi HKBP: Menjadi berkat bagi dunia.
Dalam mewujudkan itu HKBP terus melakukan kajian dan langkah-langkah yang dianggap
strategis untuk membenahi pengelolalaan keuangan dan sistem tata kelola organisasi HKBP
sehingga HKBP dapat mengembangkan dan meningkatkan pelayanan di tengah-tengah bangsa
dan negara kita.

Tim Sentralisas Keuangan HKBP membuat kajian sentralisasi keuangan dengan didasari nilai-
nilai:

a. Kesetaraan (Equality): seluruh pelayan HKBP mendapatkan kesejahteraan yang setara
menurut golongan dan masa kerja. Demikian juga dengan jemaat, mendapatkan
kesempatan yang sama dalam menerima pelayanan dari HKBP.

b. Berkeadilan (Justice): Setiap pelayan HKBP yang menerima gaji dari HKBP mendapatkan
kesejahteraan yang lebih adil. Sistem sentralisasi keuangan terikat sebagai suatu sistem
kinerja (merit system).

c. Berkelanjutan (Sustainable), seluruh pelayan HKBP memiliki kepastian kesejahteraan
jangka panjang. Kesejahteraan mereka tidak ditentukan oleh tempat pelayanan, tetapi
oleh sistem yang disebut dengan Sentralisasi Keuangan. HKBP telah membuat
perencanaan jangka panjang akan kepastian kenaikan kesejateraan setiap pelayan.

d. Kebersamaan satu keluarga (fraternity), semua pembiayaan dalam HKBP dipikul bersama
oleh warga jemaat HKBP yang dikoordinir melalui Huria masing-masing dan diaturkan
oleh Kantor Pusat HKBP. Ibarat dalam satu keluarga, semua pembiayaan rumah tangga
merupakan tanggungjawab bersama anggota keluarga dan dikepalai kepala rumah
tangga. Demikian halnya dalam pelaksanaan Sentralisasi Keuangan ini, penerimaan
bersumber pada persembahan jemaat, baik dalam ibadah minggu, ibadah keluarga,
ibadah khusus dan pelayanan-pelayanan lainnya. Semua persembahan dikelola dan
diorganisir dengan baik untuk kepentingan semua dan didistribusikan oleh Kantor Pusat
HKBP sesuai dengan ketentuannya masing-masing.

11 | Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP P a g e

3.4. Manfaat Sentralisasi Keuangan HKBP
Untuk mengelola keuangan dengan baik, adanya pemerataan kesejahteraan serta distribusi
tenaga pelayan yang semakin merata di seluruh aras pelayanan HKBP, maka HKBP harus
melakukan Sentralisasi Keuangan. Sentralisasi keuangan HKBP ini dilaksanakan dengan cara:
semua Huria berkontribusi untuk hatopan HKBP dan HKBP hatopan mendistribusikan sesuai
dengan anggaran dan kebutuhan masing-masing.
a. Sentralisasi akan menjawab berbagai permasalahan yang ada di HKBP, baik hal mutasi,

kesejahteraan, dana pensiun, asuransi kesehatan dan hak-hak lainnya.
b. Sistem sentralisasi keuangan akan mempermudah HKBP mengatur roda organisasi dan

mengurangi berbagai konflik kepentingan antara pelayan tahbisan dan parhalado dalam
hal menyusun anggaran.
c. Sistem Sentralisasi keuangan akan semakin mendorong pelayan HKBP inovatif dan kreatif
di dalam pelayanan dan tingkat kemandirian pelayan lebih tinggi karena sudah fokus pada
pelayanan.
d. Sistem Sentralisasi Keuangan HKBP akan mengurangi konflik kepentingan Pimpinan HKBP
pada penempatan pelayan. Sehingga pemilihan dalam periode kepemimpinan tidak
begitu berpengaruh lagi pada penempatan pelayan.
e. Sistem Sentralisasi Keuangan HKBP berdampak pada kesatuan HKBP secara keseluruhan
(songon sada hatopan) karena keuangan dan pengelolaannya dikelola hatopan secara
keseluruhan.
f. Manfaat lainnya, dalam sistem keuangan berupa bankable.

12 | Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP P a g e

3.5. Alur Sentralisasi Keuangan

IV. BAGAIMANA SISTEM SENTRALISASI TERLAKSANA?
Dalam konsep sentralisasi yang diajukan oleh Tim Kaji, HKBP tidak mengubah sistem
pemasukan di Huria yang umumnya bersumber dari persembahan anggota jemaat. Semua
tetap berjalan sebagaimana adanya, yang berubah adalah pengelolaan atau manajemennya.
Pertama, HKBP menghitung potensi dan sumber keuangan yang ada secara menyeluruh.
Kedua, HKBP melakukan perhitungan pembiayaan yang terdiri dari : Gaji pelayan (take home

pay) dibiayai dari Pusat, yang terdiri dari pelayan tahbisan dan non tahbisan,
anggaran program dan biaya operasional hatopan dan lembaga, anggaran program
dan operasional Distrik, anggaran operasional dan program Resort.
Ketiga, HKBP menetapkan jumlah pembiayaan dari item-item pemasukan yang ada dan
didistribusikan sesuai dengan anggaran dan kebutuhan setelah ditetapkan melalaui
Anggaran Belanja Tahunan.
13 | Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP P a g e

4.1. Potensi Keuangan Huria
Tim Kaji telah melakukan penghitungan potensi keuangan HKBP dengan mendata jenis-jenis
persembahan yang ada di Huria selama tiga tahun berturut-turut 2018, 2019, dan 2020 yakni:

Potensi keuangan ini belum termasuk pesta-pesta Huria, pesta pembangunan, dan pemasukan
lainnya di Huria berupa sewa gedung serbaguna dan lain-lain.

14 | Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP P a g e

Berdasark

15 | Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP P a g e

kan Distrik

Rata-ra

No. Nama Distrik Pelean IA Pelean IB Pelean II Pelean
Partangiangan
01 TABAGSEL-SUMBAR 3,655,541,436 2,013,905,920
02 SILINDUNG 4,706,406,362 2,939,530,423 1,574,657,169 495,075,376
03 HUMBANG 5,531,616,125 2,757,429,256 976,211,772 547,163,004
04 TOBA 7,724,617,322 3,839,755,337 972,999,632
05 SUMATERA TIMUR 10,440,476,321 4,259,618,423 1,057,670,860 1,194,271,337
06 DAIRI 4,964,090,993 2,467,158,640 1,687,835,084 2,699,059,111
07 SAMOSIR 4,726,137,910 1,322,846,206 2,170,640,572 699,401,333
08 DKI JAKARTA 26,062,985,316 15,564,412,069 1,315,760,606 704,693,756
09 SIBOLGA - TAPTENG - NIAS 7,402,696,949 2,319,541,558 3,561,481,457
10 MEDAN ACEH 24,040,591,624 11,135,488,780 697,144,904 1,396,348,381
11 TOBA HASUNDUTAN 2,131,893,289 12,087,760,078 4,303,756,244
12 TANAH ALAS 1,384,624,533 694,018,092 1,568,057,347 190,278,164
13 ASAHAN LABUHAN BATU 3,771,403,040 718,158,133 5,312,628,723 295,375,200
14 TEBING TINGGI DELI 3,497,291,794 2,255,659,447 1,108,283,261
15 SUMBAGSEL 3,650,730,098 2,093,351,735 404,505,813 1,029,449,563
16 HUMBANG HABINSARAN 4,945,151,516 2,303,128,170 382,713,867 735,613,139
17 INDONESIA BAGIAN TIMUR 4,687,249,511 2,878,841,545 1,513,944,701 304,364,867
18 JABARTENGDIY 4,715,459,830 3,544,275,067 1,012,581,497 1,421,237,133
19 BEKASI 10,082,831,974 3,136,202,701 2,062,887,217 654,902,832
20 KEPULAUAN RIAU 7,591,227,581 6,211,204,789 556,156,386 2,840,947,172
21 BANTEN 8,497,694,461 5,364,373,051 2,360,570,873 1,961,206,775
22 RIAU 18,082,813,524 5,259,456,292 2,578,134,226 1,408,961,956
23 BINJAI - LANGKAT 3,515,577,421 33,285,327,022 4,732,287,053 5,058,523,355
24 TANAH JAWA 1,271,244,685 1,374,698,342 3,849,645,134 1,231,000,486
25 JAMBI 2,939,145,539 552,710,200 3,549,500,743 440,289,530
26 LABUHAN BATU 3,077,111,624 1,840,109,773 5,754,497,149 863,748,579
27 BORNEO 3,078,067,065 2,006,517,907 1,312,314,995 684,171,465
28 DEBOSKAB 6,641,302,772 2,376,165,007 333,985,799 1,135,919,539
29 DELI SERDANG 4,328,882,982 4,701,066,395 1,173,635,932 1,154,561,115
30 RIAU PESISIR 7,643,592,922 2,091,252,875 1,274,572,915 1,062,777,841
31 MEDAN UTARA 3,760,744,554 3,989,898,559 1,947,181,935 2,332,396,572
32 LAMPUNG 2,394,527,044 1,323,212,282 3,092,527,576 764,726,136
33 BARUS RAYA 6,587,039,606 1,698,869,545 921,344,809 1,091,045,879
217,530,767,725 4,909,675,035 2,341,180,668 1,177,342,876
Total 143,227,858,578 704,520,887 45,521,373,067
459,101,776
1,406,665,247
72,172,824,312

16 | Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP P a g e

ata Tiga Tahun Terakhir (dalam ribuan rupiah)

Pelean Sermon Pelean Pelean Pelean Ulaon Pelean Pelean Ucapan
Kategorial Nabadia
Bulanan/Pelean Pasupasu/Martupp Partangiangan Syukur/Perpuluhan
187,985,637 Khusus/Kasual /Hamauliateon
Taon ol 283,808,670
97,437,597
223,037,646 3,507,167,515 280,980,913 237,220,005 458,244,386 1,561,140,581
141,996,456 2,903,962,456 351,985,898 440,637,121 227,874,544 1,632,056,077
165,021,233
230,642,726 2,506,745,023 421,840,364 125,458,745 658,297,824 1,894,005,409
424,507,488 6,648,721,680 661,618,394 1,510,121,767 539,942,297 4,779,165,463
285,939,228
767,317,076 5,849,088,048 822,596,669 547,386,871 2,249,991,266 5,119,264,446
54,503,907
237,525,428 5,159,276,386 389,493,877 134,252,533 175,568,717 2,491,798,526
220,278,958 2,068,372,769 382,792,630 148,024,673 260,702,625 1,950,951,173
178,992,482
1,352,974,900 22,394,577,569 2,982,398,363 194,098,121 2,504,886,451 36,132,474,139
76,791,016
310,478,847 4,196,590,957 320,932,259 300,599,640 609,868,053 3,332,449,619
634,546,020 11,601,240,235 948,455,515 660,586,847 699,457,760 9,913,959,521
864,561,884
76,422,255 752,281,282 193,789,624 623,146,381 121,682,847 921,199,304
3,911,987,010
68,662,667 874,558,133 118,538,933 978,453,810 37,505,333 586,788,267
292,171,213 5,093,110,366 312,861,983 207,615,066 166,659,276 2,021,316,099
49,921,234
250,504,110 3,267,554,480 275,569,853 348,067,812 493,308,669 2,378,309,111
83,001,185
241,150,479 2,785,849,579 278,477,558 477,149,064 253,473,077 2,627,411,593
90,270,286 2,410,470,040 241,810,167 796,197,851 190,589,461 2,166,987,713
76,157,376
601,430,544 4,205,617,323 190,159,008 404,454,098 1,603,059,995 4,133,924,819
351,114,709 6,034,946,315 489,029,213 59,272,865 620,014,677 4,426,149,020
328,724,855
896,113,849 11,234,109,312 891,579,235 73,542,376 1,924,683,638 10,851,190,615
14,911,118,961
802,168,302 4,098,524,915 329,342,499 769,203,702 2,933,166,298
657,453,211 6,877,101,282 635,480,604 1,140,499,244 3,270,092,584

1,956,492,867 14,529,192,245 1,452,389,968 2,243,757,411 9,744,921,708

217,144,512 2,368,029,414 305,606,566 170,067,520 1,542,358,285
76,964,219 1,068,248,572 116,350,822 9,290,909 726,457,552

206,776,448 3,109,857,891 245,400,576 334,526,425 2,146,548,123

162,322,281 3,950,971,024 191,159,381 164,446,306 1,673,880,545
216,672,772 5,308,456,247 1,211,850,655 146,133,908 3,025,938,631

397,680,444 4,518,130,612 355,335,261 793,005,698 3,968,233,677

256,487,704 3,490,565,809 248,877,871 754,368,504 2,374,023,899
438,175,308 7,968,074,596 490,646,742 579,512,706 3,317,848,914

120,847,380 1,731,551,061 178,590,450 823,714,327 1,315,803,867
129,844,000 2,812,546,533 341,325,873 183,046,855 2,303,904,436

210,667,535 6,545,939,012 607,324,041 144,692,447 3,997,740,094

13,260,842,639 171,871,428,681 17,264,591,767 22,052,076,855 141,261,460,105

4.2. Potensi Keuangan dari Lembaga dan Unit Pelayanan HKBP
Setelah mempelajari Anggaran Kantor Pusat: Sekretariat Pusat, Departemen dan Biro-biro yang
ada di bawah jajarannya serta Lembaga-Lembaga Pendidikan yang dikelola HKBP ditemukan
ada potensi uang masuk ke HKBP.

4.3. Sumber-sumber Lain
HKBP masih dapat mengembangkan sumber-sumber keuangan lainnya untuk menambah
pemasukan bagi Sentralisasi Keuangan HKBP, yakni:
a. Kontribusi yayasan-yayasan HKBP seperti yayasan HKBP Nommensen.
b. Unit usaha berupa hotel dan penginapan.
c. Perkebunan HKBP dan pemanfaatan aset/lahan kosong HKBP agar produktif.
d. Hibah dari dalam dan luar negeri yang sevisi dengan HKBP.
e. Persembahan masing-masing keluarga Warga Jemaat HKBP untuk menopang

Sentralisasi Keuangan HKBP.

4.4. Sentralisasi Pembiayaan HKBP
Tim Kaji telah mempelajari Anggaran Hatopan: Kantor Pusat dan lembaga tahun 2020, 2021 dan
2022.
17 | Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP P a g e

a. Pembiayaan Gaji Pelayan dan Pegawai dalam bentuk Payroll

Jumlah Data Personalia HKBP yang menerima Gaji/Balanjo dari HKBP:

1. Pendeta : 2.109 Orang

2. Guru Huria : 276 Orang

3. Bibelvrouw : 503 Orang

4. Diakones : 358 Orang

5. Pegawai : 227 Orang

Balanjo/Gaji dari semua personil HKBP ini telah dibukukan dalam bentuk “Payroll” dalam
sistem Sentralisasi Keuangan HKBP.

18 | Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP P a g e

b. Pembiayaan Operasional dan Program Kantor Pusat
c. Pembiayaan Operasional dan Program Distrik dan Ressort
19 | Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP P a g e

Semua pembiayaan ini harus fixcost yang didata telah dimasukkan dalam Database yang
dirancang dalam Website. Dalam meng-update data base ini, Ephorus akan menetapkan Tim
Data Kantor Pusat.

V. SISTEM SENTRALISASI KEUANGAN BERBASIS DATABASE
5.1. Rancang Bangun Sistem Sentralisasi Keuangan
Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP telah merancang sebuah Website sebagai alat untuk
mengelola data. Website ini persembahan keluarga Bapak Sukur Nababan. Di dalamnya, segala
data yang dibutuhkan dalam data Sentralisasi Keuangan HKBP telah dibuat, sehingga
pelaksanaan dan monitoring sesuai dengan tingkat atau level jabatan masing-masing menjadi
mudah untuk dilakukan. Pimpinan HKBP di Kantor Pusat dapat memonitoring keseluruhan
pelaksanaan, Praeses dapat memonitoring di Distrik masing-masing, dan Pendeta Resort dapat
memonitoring Huria-Huria yang ada di resort masing-masing.
Untuk selengkapnya kami tampilkan picture berikut:

20 | Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP P a g e

Dalam rancangan Database di dalam Website ini telah dibangun sistem yang komprehensif
untuk mendukung sentralisasi keuangan HKBP:
- Beranda
- Potensi Keuangan HKBP
- Anggaran Sentralisasi
- APP (Anggaran Penerimaan dan Pengeluaran HKBP)
- Nomen Klatur Balanjo Pelayan (Pelayan Tahbisan dan Pegawai HKBP)
- Balanjo Pelayan (Pelayan Tahbisan dan Pegawai HKBP)
- Payroll
- Pelayan HKBP (Data Personil HKBP secara lengkap)

21 | Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP P a g e

Dengan adanya Website yang terintegrasi dengan sistem keuangan HKBP, maka HKBP akan
lebih mudah mengakses dan mengetahui data-data yang dibutuhkan termasuk setoran dari
masing-masing Huria serta dapat diakses setiap saat.

5.2 Perlukah Dana Awal?

Sistem Sentralisasi Keuangan ini tidak membutuhkan dana awal, namun seluruh Huria wajib
menyetorkan persembahan yang ditetapkan secara rutin setiap minggu, atau setidaknya pada
hari Senin di minggu terakhir setiap bulan. Semua bendahara Huria telah menyetorkan
kewajibannya ke Kantor Pusat HKBP dengan melampirkan bukti setoran yang dapat di-upload
dalam Website Sistem sentralisasi keuangan HKBP. Kemudian Kantor Pusat mengirimkan gaji
pelayan HKBP setiap bulannya sesuai dengan payroll masing-masing.

5.3 Perubahan Buku Tingting Huria

Setelah ditetapkan item-item potensi keuangan dan besaran persentasi dari setiap Huria, maka
bentuk laporan tingting keuangan Huria ke depan akan berupa:

No Uraian Masuk Huria Sentralisasi Jumlah
(Ditetapkan Persentasi)
500.000 500.000 1.000.000
1 Pelean Minggu I A
2 Pelean Minggu I B
3 Pelean Minggu II
4 Pelean Partangiangan
5 Pelean Sermon Kategorial
6 Pelean Bulanan/Taon
7 Pelean Partumpolon/Pasu2
8 Pelean Ulaon Na Badia
9 Pelean Ibadah Kasual

22 | Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP P a g e

10 Pelean Hamauliaten/
Uc.Syukur/Perpuluhan

5.4 Pengelolaan Keuangan yang Profesional
Dengan Sistem Sentralisasi Keuangan ini, HKBP akan memasuki tahapan baru bahwa
pengelolaan keuangan HKBP dikelola secara profesional, berbasis akutansi dan payroll yang
dimonitoring oleh orang yang ahli di bidangnya. Maka perlu dipertimbangkan agar pengelolaan
keuangan dalam Sistem Sentralisai Keuangan HKBP dibentuk suatu badan yang di dalamnya ada
arus masuk keluar (cashflow), pengawasan dan audit.

VI. PERATURAN PENDUKUNG SENTRALISASI KEUANGAN HKBP
6.1 Amandemen AP HKBP
Dalam memastikan pelaksanaaan sentralisasi ini, dalam Amandemen AP (Oktober 2022) harus
diaturkan pasal-pasal yang mendukung sentralisai keuangan HKBP. Dalam rapat gabungan MPS
dan Praeses 14-16 Februari 2022 telah disepakati agar Komisi AP mencantumkan pasal-pasal
yang berkaitan dengan keuangan dan dihubungkan dengan Sentralisasi Keuangan HKBP.

6.2. PPKU HKBP yang Baru
Untuk mengatur alur pemasukan ke sentralisai, bagaimana menetapkan anggaran dan
penentuan besaran gaji, dan tunjangan pelayan dituangkan dalam PPKU HKBP. Ephorus HKBP
telah membentuk Tim Penyusun PPKU HKBP dan diharapkan selesai sebelum Rapat MPS pada
September 2022. Anggaran tahunan ditetapkan oleh Rapat Majelis Pekerja Sinode.

23 | Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP P a g e

6.3. Pedoman Kepersonaliaan
Dengan sistem sentralisasi keuangan ini, HKBP akan dimudahkan dalam mengelola organisasinya.
Pimpinan HKBP akan lebih mudah memperhatikan kinerja pelayan. Oleh sebab itu perlu ada
peraturan kepersonaliaan yang baru yang tertuang dalam Buku Pedoman Kepersonaliaan HKBP.
Di dalamnya diaturkan pula sistem punishment and reward.

VI. PENUTUP
Demikian hasil kajian Tim Kaji Sentralisasi Keuangan ini yang ditujukan sebagai bahan sosialisasi
yang diagendakan oleh HKBP di bulan April dan Mei ini. Diharapkan dengan penjelasan ini semua
pelayan, parhalado dan ruas dapat memahami Sentralisasi Keuangan HKBP dan bersama-sama
mewujudkannya. Kita semua berharap dengan Sistem Sentralisasi Keuangan ini HKBP akan lebih
maju dan lebih cepat mengembangkan pelayannya baik secara internal maupun eksternal.
Sentralisasi ini akan menjadi legacy bagi HKBP dalam menjawab berbagai permasalahan yang ada
di HKBP melalui pengelolaan keuangan yang baik, transparan, dan terukur. Dari sana kita
berharap HKBP menjadi organisasi yang membawa berkat bagi dunia.

Salam dan hormat kami
Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP

Penanggungjawab: Ephorus
Atas Nama Tim Kaji Sentralisasi:
Pdt. Nekson M Simanjuntak (Ketua)
Bpk. Ir Sukur Nababan (ide dan design web.)
Didukung Seluruh Anggota Tim Kaji (SK Terlampir)

24 | Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP P a g e

Lampiran – 1: Kajian teologis komisi Teologi HKBP

RANGKUMAN KAJIAN AWAL MENGENAI LANDASAN
TEOLOGI MENUJU SENTRALISASI KEUANGAN HKBP

Tim dan Komisi Teologi HKBP 2020-2024

Beranjak dari Titik Gumul Teologis-Praktis
Kajian ini beranjak dari beberapa fakta di lapangan, mengapa penatalayanan
keuangan HKBP perlu digumuli secara teologis praktis, dikarenakan oleh sedikitnya
3 fakta yang kerap kali dijumpai di lapangan pelayanan HKBP:
Pertama, terdapat perbedaan yang amat mencolok antara Huria yang ada di
perkotaan dengan Huria yang ada di pedesaan terutama dalam hal kemampuan
finansial untuk membelanjai kebutuhan pelayanan dalam jemaat. Sejumlah gereja
yang kurang mampu secara finansial tidak terlayani secara optimal bermula dari
keterbatasan sumber daya finansial, berakibat kepada ketidakmampuan
menyediakan tenaga pelayan yang memadai sesuai dengan kebutuhan jemaat.
Sementara itu, sejumlah gereja di perkotaan yang memiliki jemaat dengan tingkat
pendapatan ekonomi yang relatif stabil dan lebih baik dapat membelanjai pelayanan
sebagaimana diaturkan dalam Aturan Peraturan HKBP bahkan mampu
menyediakan jumlah pelayan dan membelanjainya secara baik.
Kedua, pemberlakuan sistem desentralisasi dinilai tidak sepenuhnya dapat
menyelesaikan masalah parbalanjoon pelayan di HKBP. Semua pendeta dan full
timer lainnya diangkat dengan besaran balanjo yang sama menurut jenjang dan
golongannya. Namun pada kenyataannya besaran balanjo yang diterima amat
bergantung kepada kemampuan jemaat setiap bulannya. Sejumlah pendeta

25 | Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP P a g e

mendapat jumlah parbalanjoon sekitar 2-3 kali dari SK yang ditentukan, sementara
sebagian gereja lainnya hanya mampu menyediakan sebesar 1 kali SK, dan tidak
dapat dipungkiri bahwa besaran balanjo yang dicantumkan dalam SK merupakan
parbalanjoon yang relatif begitu rendah. Kesenjangan ini timbul karena kemampuan
finansial antara jemaat yang mampu diperhadapkan dengan jemaat yang kurang
mampu. Bahkan, sesama jemaat di perkotaanpun memberlakukan sistem
desentralisasi ini dengan cara yang berbeda-beda.

Ketiga, dampaknya kepada pelayanan. Sistem ini serta merta berdampak kepada
kwalitas pelayanan. Beberapa jemaat yang jumlah pelayan pendeta dan full
timernya tersedia lebih dari 1 orang, idealnya akan berpotensi mendapat pelayanan
yang lebih baik, sementara di sebagian wilayah khususnya daerah pedesaan yang
kurang mampu secara finansial harus digabung ke dalam pelayanan 1 orang pendeta
resort, padahal luas wilayah yang digabungkan menjadi 1 resort ini terbilang cukup
luas. Alasan utamanya bahkan satu-satunya adalah kendala secara finansial.
Dampaknya terhadap jemaat akan berpotensi menimbulkan perlambatan
pertumbuhan jemaat secara kwalitas.

Selain itu, masih terdapat sejumlah fakta dan masalah lainnya, seperti persoalan
mutasi, dll yang berkaitan erat dengan desentralisasi, namun tim dan komisi
melihat ketiga fakta dan masalah ini telah cukup dan memadai untuk merumuskan
satu titik gumul teologis yang utama mengenai tata kelola keuangan di HKBP. Tim
dan komisi menemukan bahwa keadaan ini telah melahirkan rasa ketidakadilan
dalam kehidupan berjemaat. Ketimpangan dalam hal sumber daya pelayan,
ketidakadilan dalam pembayaran balanjo termasuk ketimpangan dalam kwalitas
pelayanan, bahkan berdampak pada pemutasian pendeta.

Rasa keadilan dan kwalitas pelayanan ini adalah tanggung jawab etis-
teologis HKBP terhadap jemaat dan pelayannya yang melayani. Meski tidak dapat
dipungkiri, bahwa tanggung jawab etis teologis ini berkemungkinan akan bergeser
kepada pergumulan baru 'menyelamatkan pelayan' dan 'mengorbankan jemaat dan

26 | Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP P a g e

pelayanan', bahkan bisa terjerumus kepada menjadikan materi/uang sebagai
motivasi dan tujuan utama pelayanan bukan sebagai akibat dari pelayanan.

Beberapa Pijakan Teologis dalam Rangka Memikirkan Ulang
Desentralisasi Keuangan HKBP

(1) OIKONOMIA, SABAGAS DOHOT SAPANGANAN DI ASI NI ROHA NI
DEBATA

Kata ini adalah padanan dari 2 kata dalam bahasa Yunani, yakni oikos dan nomos
atau nemein. Kata ini digunakan secara berulang khususnya dalam Perjanjian Baru
dalam Lukas 16:2; 16:3; 16:4; 1 Korintus 9:17; Efesus 1:10; 3:2; Kolose 1:25 dan 1
Timotius 1:4 dan beberapa teks lainnya, untuk menjelaskan Oikos sebagai rumah
yang tidak hanya berisikan ayah, ibu dan anak, tetapi juga mencakup keluarga
dalam artian yang lebih luas, bahkan termasuk para hamba dan buidak. Dipimpin
oleh seorang tuan rumah, disebut oikodespotes dalam Lukas 12:39, Mat. 13:27, 52;
20:1; 21:33. Biasanya dalam keluarga yang relatif kecil tanggung jawab ini dipegang
oleh seorang istri, tetapi dalam bentuk yang lebih besar dikelola oleh seorang hamba
yang memiliki keahlian, yang biasa disebut dengan 'oikonomos', penata rumah.
Tugas hamba ini lebih dari sekedar mengelola segala kebutuhan dalam rumah, atau
penjaga rumah (1) sedangkan nomos atau nemein, artinya mengelola tetapi untuk
memastikan ketersediaan seluruh anugerah Allah bagi anggota keluarga.

Uju diompoi gareja dohot dipeakhon batu ojahan ni gareja, tangkas do didok “dongan
saharajon jala dongan sabagas do Huria i di Debata’ (Agenda HKBP, mangompoi
gareja dohot mameanghon batu ojahan). Jala ndada holan dongan sabagas alai dohot
do nang dongan sapanganan di asi ni roha ni Debata (Agenda HKBP,
manghatindanghon haporseaon). Jika dalam satu rumah ada yang kekenyangan
karena kelimpahan, namun di sisi lain ada orang yang nyaris kelaparan karena
kekurangan, bagaimanakah hal itu dapat terjadi? Masalahnya bukan karena
makanan yang tidak tersedia atau tidak cukup melainkan karena para 'oikonomos'

27 | Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP P a g e

(pengatur atau pengelola) tidak mengelola untuk seisi rumahnya. Padahal, jika
dikeola secara baik dan bnar maka semua penghuni rumah akan sama-sama
kenyang, meski berada di kamar-kamar yang berbeda. Jika sistem desentralisasi
adalah makan sendiri-sendiri, maka sentralisasi adalah makan bersama-sama.

Sejatinya perbedaan (apalagi secara finansial) bukan dilihat sebagai sesuatu yang
memisahkan tetapi peluang untuk membangun persekutuan dalam semangat
kebersamaan.

(2) KOINONIA, PARPUNGUAN LAHO SUMARIHON DONGAN

Koinonia, sejatinya bukan hanya sekedar berkumpul dan beribadah bersama,
melainkan persekutuan yang memiliki rasa solidaritas (compassion) satu dengan
yang lainnya. Kasih yang diajarkan Yesus semata-mata untuk kerelaan saling
membantu yang merupakan ciri khas sebagai orang Kristen, bukan karena dipaksa.

Jala domu tu si do nang ganup disungguli punguan manang parpunguan di Agenda
ni HKBP, sai umbuk doi taringot tu ngolu na marpanarihon, solidaritas ndada holan
rumang ni parsaoran sambing di tonga ni Huria laho mangeahi dohot patuduhon
suman ni punguan (di hangoluan) na ro sogot.

Semangat saling menolong ini adalah pola hidup dari jemaat mula-mula. Bahwa satu
keluarga Allah (familia Dei) memiliki kebiasaan untuk saling memperhatikan.
Sebagai tugas bersama yang harus diwujudkan oleh Gereja sepanjang abad. Tolong-
menolong, kasih-mengasihi, topang-menopang harus tetap terlepihara dalam
kehidupan menggereja dalam persekutuan orang percaya.

Tanda ni naung tajalo apuapul dohot pasupasu na sian Debata, (1) lehononta ma
rohanta dohot dagingta tu ibana asa Ibana nampuna hita (2) taihuthon ma Tuhan
Jesus, ta oloi hataNa jala lam badia ma parangenta paboa mauliate ni rohanta di
Ibana (3) lam marsada ni roha, masihaholongan, lam masiurupan ma hita sama hita

28 | Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP P a g e

songon na tama di Huria ni Tuhan Jesus, sian i ma botoon ni halak na sisean ni
Tuhan Jesus hita (Agenda HKBP, Tangiang di ulaon na badia).

(3) HATOPAN DO HURIA I

Dalam doa persembahan HKBP disebut demikian: “Pasupasu ma i jala ramoti asa
huparhaseang hami pelean on, patimbulhon harajaonMu di tongatonga ni HuriaM
dohot di portibi on”. Manakah yang dimaksud oleh kalimat 'patimbulhon
harajaonMu di tongatonga ni 'HuriaM' atau manakah yang dimaksud dengan
‘HuriaM’? Konfesi HKBP 1996 pasal 7C secara tegas dan jelas menyebut “Hatopan
do Huria i” dan kemudian dalam pasal 7D jelaskan sada do Huria i songon
pamatang ni Kristus. Alani holan dibagasan Kristus do marojahan nasa hasadaon,
jala nionjar ni hasadaon i patar ma hasadaon di ngolu: haporseaon, pandidion,
panghirimon, roha na masiantusan, masiurupan, masihaposan, masihaholongan...
(Ep. 4:4-6; 1 Kor 12:20; Joh 17:20-21) (Konfesi HKBP 1996 bindu 7D).

Bukti lain bahwa “Hatopan do Huria i” adalah dalam Agenda Mameakhon Batu
Ojahan. Gereja membuat surat perjanjian (ruas, uluan ni Huria, pandita resort,
praeses, ephorus). Isi ni poti: Alkitab, Agenda Na Balga, Agenda Na Metmet, Agenda
Singkola Minggu, Konfesi, Katekismus, Padan na Robi na pinajempek, Padan na
Imbaru na pinajempek, aturan parauran, RPP, Buku Ende Namarhaluaon Na
Gok/SDJ, jala ingkon ephorus do na manguluhon. Marpadan ma ruas: (1) Kristus
ojahanni Huria I (2) Manontong marsaor dohot Debat, (3) Mangalehon pelean tu
Debata, (4) Gareja i dohot sude perangkatna milik ni HKBP.

Intinya, sudah final dan mengikat bahwa Hatopan do Huria i, dan secara praktis
penjelasan yang disebutkan dalam Konfesi ini sudah sepenuhnya dilaksanakan
dalam bentuk sentralisasi seperti halnya liturgi, almanak dan kalender gerejawi,
terkecuali dalam hal keuangan. Sada do Agendanta, sada do Almanakta, sada
Epistel, Evangelium di si ganup Minggu dohot nasa partangianganta, alai

29 | Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP P a g e

papulikpulik do pe molo parhepengonta, meski sesungguhnya secara eksplisit
hadomuan ni nasa pelean i dirujuk dalam tangiang pelean HKBP.

(4) TEOLOGI KEUANGAN HKBP

Keuangan yang baik adalah suara Alkitab. Itulah inti dari teologi keuangan yang
tertuang dalam berbagai dokumen HKBP. Beranjak dari surat Rasul Paulus
menunjukkan bahwa cinta uang adalah akar dari segala kejahatan, artinya
kejahatan atau kebaikan terletak pada bagaimana kita menggunakanny. Serta,
Yesus menyoroti uang berpotensi menjadi berhala yang sangat merusak yang dapat
ditempatkan di atas Allah. Bila menempatkan uang menjadi berhala orang
berpotensi membenci Tuhan.

Lukas 16:13, Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena
jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau
ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu
tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."

Bahkan dalam perumpamaan tentang talenta, Matius 25 secara tidak langsung
menggambarkan bagaimana mengelola keuangan secara baik. Lebih dari setengah
perumpamaan Yesus berbicara tentang uang dan harta benda (Stephen Grunlan).
Lebih dari 2300 ayat dalam Alkitab berbicara mengenai harta benda dan uang
tercatat dalam Alkitab. Dan fakta bahwa Yesus menugaskan seorang bendahara
untuk menatalayani keuangan, artinya terpusat pada seseorang. Memiliki tugas dan
waktu yang khusus untuk mengelola keuangan, dan Yesus memiliki uang dan tidak
miskin secara finansial (Matius 2:10-11 dan Yohanes 12:4-6)

Sekali lagi keuangan yang baik adalah suara Alkitab. Namun apa yang dikuatirkan
oleh Douglas ditemukan juga dalam HKBP, bahwa cukup sering uang disamakan
dengan sekularisme dan karena itu tidak banyak diajarkan dalam konteks teologi
(Douglas Johnson dalam 'Finance Your Church'). Meski sesungguhnya secara
eksplisit teologi HKBP mengenai hal ini cukup jelas, baik secara teori maupun

30 | Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP P a g e

praksis. Salah satu tugas dari tohonan Sintua misalnya "Mangurupi paturehon
angka guguan dohot ulaon na ringkot tu Harajaon ni Debata".

Uang tidak selalu identik dengan pelean, demikian juga pelean tidak selalu identik
dengan uang. Namun yang jelas sejumlah besar pelean dalam HKBP adalah dalam
bentuk uang. Doa persembahan HKBP dalam kaitannya dengan tata kelola
keuangan berbunyi demikian: “Asa huparhaseang hami pelean on patimbulhon
harajaonMu”. Gereja bukanlah bisnis yang mengukur capaiannya dengan tolok
ukur profitabilitas, sebagaimana dikatakan oleh Carr (1979), tetapi teologi HKBP
secara tegas dan jelas berkomitmen menujukkan dan mengerahkan segenap
kemampuan pelayanannya melalui manajemen keuangan yang baik dan tujuannya
adalah patimbul harajaon ni Debata.

Selanjutnya, dalam RPP HKBP tercermin sikap etis-teologis HKBP mengenai
persembahan (termasuk guguan di dalamnya), khususnya bagi jemaat yang dikenai
siasat gereja “ndang etongon be nasida ruas ni Huria. Ndang haposan, ndang dohot
ibana marsoara di parpunguan ni halak kristen, ndang jaloon guguan Huria sian
ibana” (RPP HKBP).

Prinsip dan dedikasi HKBP mengenai pelean dan tata kelola keungan begitu tegas
dan komprehensif. Sebab itu, mengacu kepada tata kelola yang dirujuk dalam surat
Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus:

1 Korintus 16:2-3 Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu
masing-masing — sesuai dengan apa yang kamu peroleh — menyisihkan
sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu baru
diadakan, kalau aku datang. Sesudah aku tiba, aku akan mengutus orang-
orang, yang kamu anggap layak, dengan surat ke Yerusalem untuk
menyampaikan pemberianmu.

Ini merupakan tindakan dedikasi, pengabdian serta pengudusan persembahan
untuk Tuhan. Tuhan dan gereja menunjuk unit khusus untuk menerima
persembahan. Ini diakui oleh jemaat sebagai yang layak menerima dan

31 | Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP P a g e

mengelolanya (2 Kro. 8:9,17-23;9:3). Di dalam Perjanjian Lama orang Lewi
mengumpulkan persembahan dan memastikan bahwa mereka mencapai tujuan
yang dimaksudkan oleh Allah.

(5) HUBUNGANNYA DENGAN PARBALANJOON

Parbalanjoon bukan satu-satunya tujuan tata kelola keuangan yang baik di HKBP.
Parbalanjoon hanya salah satunya, namun demikian Tim dan Komisi merasa perlu
untuk memberikan beberapa penjelasan informatoris dokumen HKBP mengenai hal
ini.

Dalam doa pertama dalam Agenda penahbisan pendeta di HKBP, tercatat demikian:
Lehon ma Tondi Parbadia, asa: (1) Malo manjamitahon hataM, (2) Marhiras ni roha
mamboan Barita nauli, (3) Asa mian nasida dibagasan Ho, (4) Asa tung bulus
rohanasida maniop HataM, mangharingkothon ulaon na pinasahatMu tu nasida, (5)
Asa maruli upa nasida rap dohot angka na pinarmahanna di hangoluan sogot.

Memperbaiki tata kelola keuangan HKBP adalah dalam rangka memenuhi tanggung
jawab gereja terhadap poin nomor 4 (penomoran dibuat sendiri oleh tim dan komisi),
agar pendeta dapat melakukan tugasnya secara tutul dan penuh tanggung jawab
mengerjakan segenap tugas yang diembankan kepadanya. Meski di sini hanya
pendeta yang disebut, dikarenakan semua tohonan sudah tercakup di dalamnya
ketika tohonan kependetaan dibahas. Oleh karena, pada hakikatnya di HKBP hanya
ada 1 tahbisan, dari tahbisan yang satu itulah dibagikan sebagian tugas kepada
tahbisan yang lainnya.

Penutup

Menutup bagian ini, tim dan komisi kembali ke liturgi HKBP. HKBP mewarisi
teologi pemberian persembahan dalam Perjanjian Lama dan Baru, bahwa 'pelean do
pamusatan ni nasa parsombaon tu Debata', bagian terakhir sebelum berkat

32 | Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP P a g e

disampaikan oleh imam. Meski sejatinya pemberian terbesar adalah Allah sendiri
yang memberikan Putera Tunggal-Nya untuk keselamatan dunia. Itulah puncak
dari segala persembahan. Artinya persembahan yang mengandung watak
soteriologis ini sudah dikenal luas dalam Alkitab. Indah sekali jika tata kelola
keuangan pun benar-benar mengandung watak soteriologis seperti ini, luput dari
pementingan diri sendiri maupun kelompok tetapi mengenyangkan seluruhnya
dongan sabagas ni Debata.
Daftar Acuan
Alkitab
Agenda HKBP
Konfesi HKBP 1996
RPP HKBP
Aturan Paraturan HKBP
Dan sejumlah Kamus dan Buku-Buku Teologi sebagai penunjang

33 | Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP P a g e

34 | Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP P a g e

Lampiran – 2: SK TIM
35 | Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP P a g e

36 | Tim Kaji Sentralisasi Keuangan HKBP P a g e


Click to View FlipBook Version