BATUAN BEKU
apa sih batuan beku itu?
Batuan beku atau juga kerap disebut Igneous Rock berasal dari kata Ignis yang
artinya api. Seperti yang sudah disebutkan diatas, batuan ini terbentuk dari
magma yang berasal dari dalam permukaan bumi.
Oleh karena itu, dapat kita simpulkan bahwa batuan beku adalah batuan yang
terbentuk dari hasil pembekuan magma baik di dalam maupun di permukaan
bumi.
Batuan beku adalah salah satu jenis batuan yang paling banyak ada di bumi kita.
Selain batuan sedimen dan batuan metamorf, batu ini merupakan salah satu dari
3 klasifikasi besar batu yang ada pada siklus batuan.
Batu ini berasal dari pembekuan magma yang berasal dari dalam perut bumi.
Magma ini kemudian akan membeku di kerak-kerak bumi atau bahkan di atas
permukaan bumi.
Proses Terbentuknya Batuan Beku
Seperti namanya, batuan beku terbentuk dari proses pembekuan magma yang
berasal dari perut bumi. Magma ini nantinya akan membeku secara
perlahan-lahan, baik di dalam kerak ataupun di atas permukaan bumi.
Magma sendiri adalah lelehan batuan dan mineral yang tercampur di bawah
permukaan bumi. Magma sendiri berbentuk cair kental karena suhu di dalam
bumi sangat panas, sehingga batuan-batuan tersebut meleleh.
Secara umum proses pembentukan batuan beku dapat disederhanakan menjadi
beberapa langkah yaitu
● Magma bergerak ke atas permukaan bumi
● Magma mendingin di permukaan bumi ataupun di kerak bumi
● Terbentuk batuan beku dengan karakteristik yang sesuai dengan magma
penyusunnya, proses, serta lokasi pembekuannya
Magma yang ada di dalam permukaan bumi bergerak ke permukaan bumi
karena proses vulkanisme dan proses-proses tektonik lainnya. Magma yang
bergerak keatas tersebut akan mendingin secara perlahan-lahan karena telah
kehilangan sumber panasnya.
Laju pendinginan magma tersebut berbeda-beda, ada yang mendingin dengan
cepat ada pula yang mendingin dengan lambat. Semuanya bergantung pada
kondisi lingkungan dan lokasi dimana batuan tersebut mendingin.
Ciri-Ciri Batuan Beku
Dalam melakukan klasifikasi batuan, seharusnya ada indikator-indikator jelas
yang dapat digunakan untuk mengkategorisasi batu tersebut. Dalam
mengkategorisasi batuan beku, faktor-faktor inilah yang kerap dijadikan tolak
ukur
● Warna Batuan
● Tekstur Batuan
● Derajat Kristalisasi
● Bentuk Kristal
● Visualisasi Granular
Warna Batuan
Tentu saja, warna batuan menjadi salah satu indikator paling mudah untuk
menentukan jenis suatu batuan. Hal ini pun berlaku untuk batuan beku dimana
warna yang berbeda-beda berkorelasi dengan material penyusun yang
berbeda-beda pula.
Dengan mengetahui apa warna dari batuan yang ada, kita dapat menebak
sebenarnya batu tersebut terdiri dari mineral apa saja. Oleh karena itu, semua
geologist dan geografer lingkungan harus paham mengenai warna-warna
mineral dan batuan.
Umumnya, batuan beku memiliki warna yang beragam, mulai dari yang
berwarna cerah seperti putih ataupun merah, hingga yang berwarna gelap
seperti hitam dan abu-abu.
Tekstur Batuan
Tekstur juga merupakan ciri batuan beku yang cukup vital, dengan mengetahui
teksturnya seperti apa, kita dapat menarik kesimpulan mengenai karakteristik
batuan tersebut.
Secara umum, batuan beku terbagi menjadi dua berdasarkan teksturnya, yaitu
yang bertekstur kasar dan batuan beku yang bertekstur halus. Semua ini
bergantung pada proses pembekuan dan mineral penyusunnya.
Derajat Kristalisasi
Derajat kristalisasi pada dasarnya adalah, seberapa banyak kristal yang menyusun
batuan tersebut. Terkadang, ada batuan beku yang hampir semuanya terdiri dari
kristal, tetapi ada pula yang hampir tidak ada kristalnya.
Semakin lama proses pembekuannya, maka kristal yang akan terbentuk juga
akan semakin besar. Hal ini terjadi karena semakin lama proses pendinginan,
maka semakin banyak waktu yang ada bagi kristal-kristal tersebut untuk
beraglomerasi dan bertumbuh.
Sedangkan, jika waktu pendinginannya sangat singkat, maka kristal-kristal kecil
yang ada langsung akan membeku tanpa bisa bergabung membentuk kristal
besar yang terlihat. Oleh karena itu, disini akan terbentuk kristal-kristal yang
sangat halus.
derajat kristalisasi dapat diklasifikasikan menjadi 3 bagian yaitu :
● Holokristalin adalah batuan yang hampir semuanya terdiri dari kristal.
Umumnya, batuan beku intrusif lah yang memiliki karakteristik kristalisasi
seperti ini
● Hipokristalin adalah batuan yang sebagian tersusun dari kristal dan
sebagian tersusun dari gelas. Disini, keduanya sama besar dan tidak ada
yang dominan.
● Holohialin adalah batuan yang hampir semuanya tersusun dari material
gelas. Umumnya, batuan beku ekstrusif yang memiliki karakteristik ini.
Contoh paling jelasnya adalah batuan Obsidian.
Ketiga derajat kristalisasi tersebut berkorelasi dengan proses pembentukan
batuan dan material penyusun yang berbeda-beda pula.
Bentuk Kristal
Seperti yang sudah kita bahas di atas, batu-batu pada umumnya memiliki derajat
kristalisasi tertentu. Namun, kristal yang ada pada batuan tersebut ternyata
memiliki bentuk atau struktur yang berbeda-beda juga lho!
Jika dilihat dari 2 dimensi, terdapat 3 bentuk kristal yang dapat kita temukan
pada batuan beku. Ketika bentuk tersebut antara lain adalah
● Euhedral dimana batas kristal jelas
● Subhedral dimana batas kristal kurang jelas
● Anhedral dimana tidak terlihat batas-batas kristalnya
Sedangkan, jika kita melihat bentuk kristal pada batuan beku dengan sudut
pandang 3 dimensi, maka kita akan mendapatkan bahwa terdapat 4 bentuk
kristal yaitu
● Equidimensional dimana dimensi kristal sama panjang
● Tabular dimana dimensi kristal memanjang
● Prismatik dimana dimensi kristal berbentuk seperti prisma segitiga
● Irregular dimana kristal tidak memiliki bentuk yang teratur
Bentuk-bentuk kristal ini nantinya akan mempengaruhi karakteristik batuan
yang terbentuk.
Visualisasi Granular
Yang dimaksud dengan granularitas disini adalah apakah butir-butir batuan dan
kristal yang ada dapat dibeda-bedakan dengan mata. Secara umum, terdapat 2
jenis granularitas yaitu
● Fanerik dimana partikel-partikelnya jelas terlihat
● Afanitik dimana partikelnya tidak dapat dilihat
Fanerik pada dasarnya adalah batuan-batuan yang kristal-kristal penyusunnya
dapat dilihat dan dibedakan. Artinya, kristal-kristal yang ada pada batuan fanerik
cukup besar untuk dibedakan secara makroskopis.
Terdapat 4 jenis butiran pada batuan fanerik berdasarkan ukuran dan diameter
batuan/mineral yang terlihat yaitu
● Halus dimana ukuran butiran < 1 mm
● Sedang dimana ukuran butiran 1 – 5 mm
● Kasar dimana ukuran butiran 5 – 30 mm
● Sangat Kasar dimana ukuran butiran > 30 mm
Sedangkan, afanitik adalah istilah bagi batu-batuan yang tidak terlihat butir-butir
kristal/mineralnya. Oleh karena itu, untuk meneliti batuan afanitik, diperlukan
mikroskop dan alat bantu lainnya.
Secara umum, terdapat 3 jenis batuan afanitik berdasarkan ukuran
kristal-kristalnya yaitu
● Mikrokristalin dimana ukuran butirannya adalah 0.1 – 0.01 mm
● Kriptokristalin dimana ukuran butirannya adalah 0.01 – 0.002 mm
● Hyalin/glassy/amorf dimana semuanya terdiri dari material gelas yang
tidak
dapat dibedakan partikel2 butirannya
Oleh karena itu, ketika kalian sudah mengetahui seperti apa bentuk kristalisasi
dan granularitas batuan tersebut, kalian sudah bisa mulai menebak kira-kira batu
apa itu.
TEKSTUR BATUAN BEKU
Proses pembentukan batuan beku yang berbeda-beda akan menyebabkan
terbentuknya batuan dengan tekstur yang berbeda-beda pula. Tekstur ini akan
dipengaruhi oleh ukuran kristal, adanya rongga-rongga, ataupun komposisi dari
batuan tersebut.
Secara umum, tekstur batuan beku dapat dibagi menjadi beberapa jenis seperti
yang ada di bawah ini
● Faneritik
● Afanitik
● Porfiritik
● Glassy/Kaca
● Piroklastik
● Vesikular
● Frothy/Berbusa
Agar kalian bisa lebih mudah memahami tekstur-tekstur batuan seperti yang
sudah disebutkan diatas, kita akan mencoba membahas secara lebih detail di
bawah ini
Tekstur Faneritik
Faneritik adalah jenis tekstur batuan kasar yang dapat dilihat oleh mata telanjang
tanpa menggunakan alat bantu. Hal ini terjadi karena kristal-kristal pada batuan
faneritik berukuran lebih besar dan lebih kasar dibandingkan dengan batuan
lainnya.
Umumnya, batuan yang tergolong sebagai faneritik merupakan batuan yang
terbentuk di dalam perut bumi atau kerap disebut sebagai batuan beku dalam.
Waktu pembekuan yang lama membuat kristal-kristal dari batuan ini menjadi
besar dan dapat dilihat oleh mata.
Tekstur Afanitik
Berbeda dengan faneritik, batuan dengan tekstur afanitik umumnya memiliki
ukuran kristal yang kecil dan tidak dapat dilihat secara jelas oleh mata telanjang.
Hal ini terjadi karena kristal-kristal pada batuan bertekstur ini memiliki ukuran
yang sangat kecil. Ukuran kristal yang kecil ini terjadi karena batuan mengalami
pembekuan yang relatif cepat, sehingga tidak sempat mengalami kristalisasi.
Proses pembekuan yang cepat ini terjadi karena batuan bertekstur afanitik
umumnya membeku di atas permukaan bumi, sehingga langsung terkena udara
dan juga elemen lainnya seperti hujan.
Tekstur Porfiritik
Batuan dengan tekstur profiritik memiliki komposisi dan tekstur yang campuran
antara kristal besar dan juga kristal kecil. Oleh karena itu, batuan ini tidak sekasar
batuan fanerik namun tidak sehalus batuan afanitik.
Tekstur batuan porfiritik ini umumnya ditemukan pada batuan yang membeku
di kerak-kerak permukaan bumi atau lebih dikenal sebagai batuan beku gang.
Tekstur Glassy
Batuan dengan tekstur glassy atau layaknya kaca tidak memiliki kristal apapun
dan semuanya terlihat seperti kaca mengkilap karena membeku dengan sangat
cepat.
Umumnya, batuan glassy ini terbentuk ketika magma yang keluar ke permukaan
bumi langsung membeku tanpa sempat menghasilkan kristal apapun.
Contohnya adalah batu obsidian yang memang permukaannya sangat
mengkilap.
Tekstur Piroklastik
Tekstur piroklastik terbentuk dari kombinasi magma letusan gunung api yang
membeku dengan cepat entah itu di udara atau setelah dia mendarat di
permukaan bumi.
Contoh dari batuan yang memiliki tekstur piroklastik adalah macam-macam
batu tuff mulai dari batu tuff riolit hingga tuff granitik.
Tekstur Vesikuler
Batuan dengan tekstur vesikuler terbentuk ketika magma mengandung banyak
sekali uap air ataupun gas lainnya, sehingga gas tersebut keluar ketika sedang
membeku.
Proses keluarnya gas ini menghasilkan lubang-lubang dan juga ceruk-ceruk
dalam batuan yang membeku. Umumnya tekstur vesikuler ini ditemukan pada
batuan-batuan hasil erupsi vulkanis seperti yang ditemukan pada batu
piroklastik.
Tekstur Frothy
Tekstur berbusa atau frothy umumnya ditemukan pada batuan-batuan dengan
rongga udara yang sangat banyak, sehingga batuan tersebut dipenuhi oleh
lubang dan juga cenderung ringan. Contoh paling terkenal dari batuan frothy ini
adalah batu apung.
Klasifikasi Batuan Beku Secara Umum
Secara umum, batuan beku dapat dibagi menjadi 3 jenis batuan secara umum.
Ketiga jenis batuan tersebut adalah batuan beku dalam, batuan beku gang, dan
batuan beku luar.
Batuan Beku Dalam
Seperti namanya, batuan ini terbentuk dari magma yang membeku di dalam
kerak bumi. Karena pembentukannya berada di dalam kerak bumi, maka
pendinginannya juga berjalan secara lambat.
Oleh karena itu, batuan ini memiliki kristal yang sangat banyak dan berukuran
besar. Batuan ini umumnya memiliki karakteristik holokristalin dengan
granularitas yang fanerik.
Berikut ini adalah beberapa contoh batuan beku dalam yang sering kita temukan
sehari-hari
● Granit
● Diorit
● Gabri
● Syenit
Batuan-batuan tersebut memiliki karakteristik dan mineral pembentuk yang
berbeda-beda. Oleh karena itu, wujud dan penampakannya juga berbeda-beda.
Batuan Beku Luar
Seperti namanya, batuan ini membeku di atas permukaan bumi dari
keluaran-keluaran lava aktivitas vulkanik. Karena proses pendinginan yang cepat
di permukaan bumi, maka kristal-kristal yang terbentuk juga cenderung lebih
kecil dan sulit dilihat oleh mata telanjang.
Oleh karena itu, batuan ini umumnya memiliki karakteristik afanitik. Bahkan, ada
beberapa jenis batuan yang memiliki karakteristik seperti gelas atau holohyalin.
Berikut ini adalah beberapa contoh batuan beku luar yang sering kita temukan di
kehidupan sehari-hari
● Batu apung
● Rhyolite
● Andesit
● Granite
● Basalt
● Obsidian
Batuan-batuan tersebut memiliki karakteristik dan mineral pembentuk yang
berbeda-beda. Oleh karena itu, wujud dan penampakannya juga berbeda-beda.
Selain itu, karena batuan ini membeku di atas permukaan bumi, magma yang
membentuknya pun sudah bercampur dengan berbagai macam mineral yang
ada di kerak bumi dan juga permukaan bumi.
Oleh karena itu, terkadang sifat batuan ini sedikit berbeda dengan komposisi
magma yang ada di mantel bumi dibawahnya.
Batuan Beku Gang
Batuan beku gang merupakan batuan yang mendingin di celah-celah retakan
kerak bumi. Karena sudah berada di antara permukaan bumi dan juga perut
bumi, kecepatan pendinginan batuan ini juga tidak terlalu cepat.
Oleh karena itu, batuan beku gang ini sudah mengalami proses kristalisasi,
berbeda dengan batuan beku luar. Hanya saja, ukuran kristalnya jauh lebih kecil
dibandingkan dengan batuan beku dalam.
Berikut ini adalah beberapa contoh dari batuan beku gang yang kerap kita temui
dalam kehidupan sehari-hari
● Porfir Granit (Porphyritic Granite)
● Porfir Syenit (Porphyritic Sienite)
● Porfir Gabro (Porphyritic Gabbro)
Keunikan dari batuan beku gang ini adalah komposisi batuan tersebut yang
relatif masih mirip atau bahkan sama dengan komposisi magmanya. Meskipun
begitu, terkadang ada saja batuan-batuan yang berbeda komposisinya.
Klasifikasi Batuan Beku Berdasarkan Warna
Jika dilihat berdasarkan perbedaan warnanya, maka batuan beku setidaknya
dapat dibagi menjadi 4 klasifikasi batuan. Sekarang kita akan mencoba meninjau
pendapat para ahli mengenai klasifikasi warna ini
Menurut S.J Shand, batuan beku jika dilihat dari warnanya setidaknya terbagi
menjadi 3 jenis batuan yaitu
● Leucoctaris Rock yaitu batuan yang memiliki kadar mineral mafic
dibawah 30%
● Mesococtik Rock yaitu batuan yang mengandung kadar mineral mafic
diatas 30% namun dibawah 60%
● Melanocratic Rock adalah batuan yang mengandung kadar mineral
mafic diatas 60%
Selain Shand, ada ahli lain yang berpendapat mengenai klasifikasi batuan
berdasarkan warnanya. Menurut S.J Ellis, setidaknya ada 4 klasifikasi batuan beku
menurut warnanya
● Holofelsic adalah batuan yang memiliki indeks warna kurang dari 10%
● Felsic adalah batuan yang memiliki indeks warna lebih dari 10% namun
lebih
rendah dari 40%
● Mafelsic adalah batuan yang memiliki indeks warna lebih dari 40%
namun
lebih rendah dari 70%
● Mafic adalah batuan beku yang memiliki indeks warna diatas 70%
Pendapat kedua ahli ini dapat kalian jadikan basis untuk mengklasifikasikan
batuan berdasarkan warnanya. Keduanya sama-sama dapat diaplikasikan dalam
proses klasifikasi batuan oleh ahli geologist.
Klasifikasi Batuan Beku Berdasarkan Komposisi Kimiawi
Sebenarnya, pembagian batuan sesuai komposisi kimiawi ini relatif mirip dengan
klasifikasi sesuai dengan warna diatas. Namun, disini yang ditekankan lebih ke
arah komposisi mineralnya, bukan implikasi dari mineral terhadap warnanya.
Klasifikasi batuan beku berdasarkan komposisi kimiawi
Klasifikasi Batuan Sesuai Mineralnya (University of Saskatchewan)
Berdasarkan ilustrasi diatas, kita dapat membagi klasifikasi batuan beku sesuai
dengan mineralnya setidaknya menjadi 4 bagian yaitu
● Felsic
● Intermediate
● Mafic
● Ultramafic
Batuan felsic memiliki kadar silikat yang lebih tinggi sehingga memiliki tingkat
keasaman yang lebih tinggi dan warna yang lebih terang pula. Contohnya adalah
batu Granit dan Rhyolite
Seiring dengan digantikannya mineral Potassium-Feldspar dengan mineral yang
lebih gelap seperti Plagioklas dan Piroksen, maka batuan tersebut akan semakin
gelap warnanya dan menjadi lebih basa.
Batuan ultramafic seperti Peridotit dan Komatit adalah batuan yang paling basa
dan memiliki warna gelap kehijauan. Hal ini terjadi karena kandungan mineral
olivin nya sangat tinggi.
Contoh Batuan Beku
Agar kalian mendapatkan gambaran yang lebih baik mengenai batuan beku dan
jenis-jenisnya, berikut ini adalah beberapa batuan beku yang kerap kalian
temukan di kehidupan sehari-hari
Batu Apung
Obsidian
Granit
Basal
Andesit
Gabbro
Granodiorit
Kimberlite
Felsit
Komatit
Latit
Tuff
Anorthosite
Dunite
Peridotit
Rhyolite
Manfaat Batuan Beku
Batuan beku merupakan salah satu sumber daya alam yang memiliki banyak
sekali manfaat baik untuk manusia maupun untuk alam disekitarnya.
Disini, kita akan mencoba memberikan beberapa contoh manfaat dari batuan
beku pada kehidupan sehari-hari
Bahan Konstruksi
Batuan beku dapat digunakan sebagai bahan dasar proyek-proyek konstruksi
mulai dari konstruksi skala kecil hingga pembangunan gedung-gedung besar.
Granit merupakan batuan beku yang pada zaman dahulu sering digunakan
sebagai tiang ataupun batuan dasar pondasi bangunan. Namun, seiring dengan
berjalannya waktu, fungsi ini digantikan oleh beton yang terkadang diperkaya
oleh batuan Basalt.
Sekarang, granit umumnya digunakan sebagai bahan lantai ataupun meja
makan serta meja dapur yang relatif lebih mahal dan mewah.
Kegunaan Seni
Granit seringkali digunakan sebagai material pilihan untuk memperindah fasad
bangunan dan membuat patung-patung. Sifatnya yang kokoh dan cukup indah
ketika sudah dipoles membuat granit menjadi batu primadona untuk
fungsi-fungsi estetik baik pada bangunan ataupun karya seni lainnya.
Senjata
Seperti yang sudah kita sebutkan diatas, pada zaman dahulu, batuan beku
Obsidian sering dijadikan sebagai senjata karena ujungnya yang sangat tajam
jika diasah dengan baik.
Ujung yang tajam ini memudahkan pemburu ataupun petarung untuk
memotong dan mencabik lawannya dengan efektif dan efisien.
Selain itu, kita juga sering melihat batuan lainnya digunakan sebagai alat
peperangan dan juga berburu. Contohnya adalah kapak perimbas yang terbuat
dari batu pada zaman praaksara manusia.
Meskipun begitu, sekarang kita sudah tidak lagi melihat batu digunakan sebagai
senjata. Hal ini karena efektivitas dan fleksibilitas batu sebagai senjata lebih
rendah dibandingkan dengan logam seperti besi, perunggu, dan tembaga.
Industri Fashion
Apakah kalian pernah memakai pakaian yang berbahan dasar denim? Jika iya,
tentu kalian paham bahwa semakin pudar atau terkesan digunakan sebuah
denim, maka semakin keren bukan?
Terkadang, pengguna ingin mendapatkan kesan faded look tersebut langsung
ketika membeli celana ataupun jaket jeans nya. Oleh karena itu, muncullah
produk-produk denim yang sudah di treatment sedemikian rupa agar terkikis
dan terkesan sudah digunakan.
Treatment ini ternyata menggunakan batu apung yang diatur agar
perlahan-lahan menggerus kain denim sehingga menimbulkan kesan seperti
sering digunakan berkegiatan sehari-hari dan banyak gesekan/kerusakan
kecilnya.