33
3.8 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
3.8.1Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan suatu proses pendekatan kepada
subjek dan proses pengumpulan karakteristik subjek yang dibutuhkan
dalam penelitian. Langkah-langkah dalam melakukan pengumpulan data
bergantung pada rancangan penelitian dan teknik instrumen yang
digunakan (Nursalam, 2015). Teknik pengumpulan data dalam penelitian
ini, yaitu :
1. Sebelum melakukan penelitian, peneliti mengurus surat pengantar
dari Kampus Poltekkes Kemenkes Malang Program Studi D3
Keperawatan Blitar untuk diberikan ke (Badan Kesatuan Bangsa,
Politik, dan Penanggulangan Bencana Daerah) Bakesbangpol dan
PBD Kota Blitar, setelah mendapat surat ijin dari Bakesbangpol PBD
Kota Blitar, peneliti menyerahkan ke Kepala UPTD Puskesmas
Kecamatan Sananwetan Kota Blitar untuk mendapat persetujuan
penelitian.
2. Setelah mendapat persetujuan peneliti menentukan responden yang
akan diteliti sesuai dengan sampel yaitu 36 balita berdasarkan data
balita stunting tahun 2021.
3. Kemudian peneliti melakukan koordinasi dengan beberapa kader
posyandu yang berada di Kecamatan Sananwetan untuk
mengklarifikasi usia, status stunting, dan alamat tempat tinggal
responden.
34
4. Peneliti mengunjungi rumah responden satu per satu kemudian
menjelaskan maksud dan tujuan penelitian, menjelaskan etika
penelitian yang meliputi informed consent, anonymity, confidelity,dan
menjelaskan cara pengisian kuesioner.
5. Peneliti memberikan lembar persetujuan untuk ditandatangani sebagai
bukti terlibat dalam penelitian.
6. Kemudian, peneliti memberikan lembar kuesioner kepada responden
dan memberikan waktu untuk menjawab pertanyaan.
7. Setelah kuesioner diisi, kuesioner dikumpulkan kepada peneliti dan
dilakukan pengecekan kelengkapan pengisian kuesioner.
3.8.2Instrumen Pengumpulan Data
Pada penelitian ini pengumpulan data menggunakan lembar
kuesioner Faktor Penyebab Stunting milik (Hendra, 2017) yang berisi
tentang faktor MP-ASI yang tidak adekuat dan faktor menyusui, serta dua
faktor lainnya berdasarkan tinjauan pustaka.
3.9 Pengolahan dan Analisa Data
3.9.1Pengolahan Data
1. Persiapan
a) Mengecek nama dan kelengkapan identitas responden
b) Memeriksa kelengkapan data
c) Memeriksa macam pengisian data untuk menghindari kekeliruan
pengisian data oleh responden.
35
2. Editing
Editing merupakan kegiatan pengecekan dan perbaikan isian
formulir atau kuesioner, apakah sudah lengkap diisi dan jawaban atau
tulisan cukup jelas dan terbaca (Notoatmodjo, 2012).
3. Coding
Pengkodean atau coding dilakukan setelah seluruh kuesioner
disunting atau diedit, yaitu merubah data yang berbentuk kalimat atau
huruf menjadi data angka atau bilangan (Notoatmodjo, 2012).
4. Tabulasi
Tabulasi adalah membuat tabel-tabel data sesuai dengan tujuan
penelitian atau yang diinginkan oleh peneliti (Notoatmodjo, 2012).
3.9.2Analisa Data
Teknik analisa dalam penelitian ini adalah deskriptif, yaitu data yang
telah diolah disajikan dalam bentuk diagram lingkaran.
Hasil jawaban seluruh responden dari setiap faktor dijumlah dan
dipresentasekan menggunakan rumus. Rumus yang digunakan adalah :
= × 100%
Keterangan :
P : Presentase
F : jumlah jawaban sesuai faktor yang diperoleh dari seluruh
responden
n : total seluruh responden
36
3.10 Etika Penelitian
3.10.1 Lembar Persetujuan (Informed Consent)
Merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dan responden
penelitian dengan memberikan lembar persetujuan sebelum penelitian
dilakukan. Tujuannya agar subjek mengerti maksud dan tujuan penelitian
dan mengetahui dampaknya.
3.10.2 Tanpa Nama (Anonimity)
Peneliti memberikan jaminan dalam penggunaan subjek penelitian
dengan cara tidak memberikan atau mencantumkan nama responden
melainkan menggunakan kode atau inisial nama responden pada lembar
pengumpulan data atau hasil penelitian.
3.10.3 Kerahasiaan (Confidentiality)
Peneliti memberikan jaminan kerahasiaan hasil, baik informasi
maupun masalah-masalah lainnya. Segala informasi yang telah
dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti.hasil penelitian hanya
akan diketahui oleh kelompok tertentu, misalnya seperti tim penelitian
dan peneliti selanjutnya.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dideskripsikan mengenai hasil penelitian dan
pembahasannya. Hasil penelitian akan menjabarkan tentang gambaran umum
tempat penelitian, data umum dan data khusus. Data umum akan disajikan dalam
bentuk diagram lingkaran dan data khusus akan disajikan dalam bentuk tabel
distribusi frekuensi.
4.1 Gambaran Umum Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di wilayah Kecamatan Sananwetan Kota Blitar.
Kecamatan Sananwetan merupakan salah satu diantara tiga Kecamatan
yang berada di Kota Blitar. Luas wilayah Kecamatan Sananwetan adalah
12,15 km2. Wilayah Kecamatan Sananwetan ini terbagi menjadi tujuh
kelurahan yaitu Kelurahan Bendogerit, Kelurahan Gedog, Kelurahan
Karangtengah, Kelurahan Klampok, Kelurahan Plosokerep, Kelurahan
Rembang, dan Kelurahan Sananwetan. Berdasarkan tata letaknya, sebelah
utara wilayah Kecamatan Sananwetan berbatasan dengan Kecamatan
Kepanjenkidul, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Kanigoro dan
Sanankulon Kabupaten Blitar, sebelah selatan berbatasan dengan
Kecamatan Garum dan Kecamatan Kanigoro, dan sebelah barat berbatasan
dengan Kecamatan Kepanjenkidul dan Kecamatan Sukorejo.
Kecamatan Sananwetan memiliki satu unit pelayanan kesehatan yaitu
Puskesmas Sananwetan yang dapat digunakan sebagai sarana kesehatan
masyarakat. Puskesmas Sananwetan memiliki banyak tenaga kesehatan
seperti perawat, bidan, dokter, ahli gizi, tenaga farmasi, dan tenaga
37
38
kesehatan masyarakat yang akan melayani kebutuhan terkait kesehatan. Di
Puskesmas Sananwetan ini, masyarakat dapat melakukan pemeriksaan
kesehatan rutin seperti mengecek tekanan darah, kadar gula darah,
kolesterol, dan asam urat. Pelayanan kesehatan lainnya yaitu pelayanan
kesehatan ibu dan anak, persalinan, rawat luka, dan pemeriksaan gigi.
4.2 Hasil Penelitian
4.2.1 Data Umum
Data umum dalam penelitian ini meliputi pendidikan ayah dan ibu balita,
pekerjaan ayah dan ibu balita, jenis kelamin balita, usia balita, tinggi badan
balita, dan berat badan balita.
a) Pendidikan Ayah
17% 19% SD
11% SMP
SMA
53% Perguruan Tinggi
Gambar 4.1 Diagram lingkaran pendidikan ayah balita stunting di
Kecamatan Sananwetan, Juli 2022 (n=36)
Berdasarkan gambar 4.1 diketahui bahwa sebagian besar ayah dari
balita stunting berpendidikan terakhir SMA yaitu sebanyak 19 orang
(53%).
39
b) Pendidikan Ibu
14% 11% SD
SMP
31% SMA
44% Perguruan Tinggi
Gambar 4.2 Diagram lingkaran pendidikan ibu balita stunting di
Kecamatan Sananwetan, Juli 2022 (n=36)
Berdasarkan gambar 4.2 diketahui bahwa sebagian besar ibu dari
balita stunting berpendidikan terakhir SMA yaitu sebanyak 16 orang
(44%).
c) Pekerjaan Ayah
3% Tidak Bekerja
Buruh
11% Wiraswasta
19% Petani
PNS
25% Swasta
Lain-lain
28%
11%
3%
Gambar 4.3 Diagram lingkaran pekerjaan ayah balita stunting di
Kecamatan Sananwetan, Juli 2022 (n=36)
Berdasarkan gambar 4.3 diketahui bahwa sebagian besar ayah dari
balita stunting bekerja sebagai wiraswasta yaitu sebanyak 10 orang
(28%).
40
d) Pekerjaan Ibu
3% Tidak Bekerja
6% Buruh
Wiraswasta
14% Swasta
Lain-lain
8%
69%
Gambar 4.4 Diagram lingkaran pekerjaan ibu balita stunting di
Kecamatan Sananwetan, Juli 2022 (n=36)
Berdasarkan gambar 4.4 diketahui bahwa sebagian besar ibu dari
balita stunting tidak bekerja yaitu sebanyak 25 orang (69%).
e) Jenis Kelamin Balita
39%
Laki-laki
Perempuan
61%
Gambar 4.5 Diagram lingkaran jenis kelamin balita stunting di
Kecamatan Sananwetan, Juli 2022 (n=36)
Berdasarkan gambar 4.5 diketahui bahwa sebagian besar balita
stunting berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 22 orang (61%).
41
f) Usia Balita
3% 12-24 Bulan
25% 25-36 Bulan
37-48 Bulan
39% 49-60 Bulan
33%
Gambar 4.6 Diagram lingkaran usia balita stunting di Kecamatan
Sananwetan, Juli 2022 (n=36)
Berdasarkan gambar 4.6 diketahui bahwa sebagian besar balita
stunting berusia 37-48 bulan yaitu sebanyak 14 orang (39%).
g) Tinggi Badan Balita
44% < 88 cm
56% 88-96 cm
Gambar 4.7 Diagram lingkaran tinggi badan balita stunting di
Kecamatan Sananwetan, Juli 2022 (n=36)
Berdasarkan gambar 4.7 diketahui bahwa sebagian besar balita
stunting memiliki tinggi badan < 88 cm yaitu sebanyak 20 orang (56%).
42
h) Berat Badan Balita < 12 kg
12-14 kg
22%
78%
Gambar 4.8 Diagram lingkaran berat badan balita stunting di
Kecamatan Sananwetan, Juli 2022 (n=36)
Berdasarkan gambar 4.8 diketahui bahwa sebagian besar balita
stunting memiliki berat badan < 12 kg yaitu sebanyak 28 orang (78%).
4.2.2 Data Khusus
Data Khusus pada penelitian ini yaitu meliputi faktor maternal,
faktor lingkungan rumah, faktor MP-ASI yang tidak adekuat, faktor
menyusui, dan faktor infeksi.
a) Faktor Maternal
(1) Kebutuhan Nutrisi Ibu Sebelum Kehamilan
Tabel 4.1 Distribusi frekuensi kebutuhan nutrisi ibu sebelum masa
kehamilan pada balita yang mengalami stunting di Kecamatan
Sananwetan, Juli 2022 (n=36)
Kebutuhan Nutrisi Ibu Frekuensi Presentase (%)
Sebelum Masa Kehamilan
34 94
Terpenuhi 2 6
Tidak Terpenuhi 36 100
Jumlah
43
Berdasarkan Tabel 4.1 menunjukkan bahwa sebagian besar
nutrisi ibu sebelum masa kehamilan pada balita yang mengalami
stunting terpenuhi yaitu sebanyak 34 orang (94%).
(2) Kebutuhan Nutrisi Ibu Selama Masa Kehamilan
Tabel 4.2 Distribusi frekuensi kebutuhan nutrisi ibu selama masa
kehamilan pada balita yang mengalami stunting di Kecamatan
Sananwetan, Juli 2022 (n=36)
Kebutuhan Nutrisi Ibu Frekuensi Presentase (%)
Selama Masa Kehamilan
34 94
Terpenuhi 2 6
Tidak Terpenuhi 36 100
Jumlah
Berdasarkan Tabel 4.2 menunjukkan bahwa sebagian besar
nutrisi ibu selama masa kehamilan pada balita yang mengalami
stunting terpenuhi yaitu sebanyak 34 orang (94%).
(3) Kebutuhan Nutrisi Ibu Saat Menyusui
Tabel 4.3 Distribusi frekuensi kebutuhan nutrisi ibu saat menyusui
pada balita yang mengalami stunting di Kecamatan Sananwetan,
Juli 2022 (n=36)
Kebutuhan Nutrisi Ibu Frekuensi Presentase (%)
Saat Menyusui
Terpenuhi 35 97
Tidak Terpenuhi 1 3
Jumlah 36 100
Berdasarkan Tabel 4.3 menunjukkan bahwa hampir seluruh
kebutuhan nutrisi ibu saat menyusui pada balita yang mengalami
stunting terpenuhi yaitu sebanyak 35 orang (97%).
44
(4) Usia Ibu saat Kehamilan Pertama
Tabel 4.4 Distribusi frekuensi usia ibu saat kehamilan pertama pada
balita yang mengalami stunting di Kecamatan Sananwetan, Juli
2022 (n=36)
Usia Ibu saat Kehamilan Frekuensi Presentase (%)
Pertama
> 17 tahun 33 92
< 17 tahun 3 8
Jumlah 36 100
Berdasarkan Tabel 4.4 menunjukkan bahwa hampir seluruh ibu
yang memiliki balita yang mengalami stunting hamil pertama kali
pada usia > 17 tahun yaitu sebanyak 33 orang (92%).
(5) Berat Badan Lahir Balita yang Mengalami Stunting
Tabel 4.5 Distribusi frekuensi berat badan lahir balita yang
mengalami stunting di Kecamatan Sananwetan, Juli 2022 (n=36)
Berat Badan Lahir Balita Frekuensi Presentase (%)
> 2500 gram 23 64
< 2500 gram 13 36
Jumlah 36 100
Berdasarkan Tabel 4.5 menunjukkan bahwa sebagian besar
balita yang mengalami stunting lahir dengan berat badan > 2500
gram yaitu sebanyak 23 orang (64%).
45
(6) Usia Kehamilan Ibu Saat Melahirkan
Tabel 4.6 Distribusi frekuensi usia kehamilan saat melahirkan pada
ibu yang memiliki balita yang mengalami stunting di Kecamatan
Sananwetan, Juli 2022 (n=36)
Usia Kehamilan Saat Frekuensi Presentase (%)
Melahirkan
> 37 minggu 25 69
< 37 minggu 11 31
Jumlah 36 100
Berdasarkan Tabel 4.6 menunjukkan bahwa sebagian besar ibu
yang memiliki balita yang mengalami stunting melahirkan dengan
usia kehamilan > 37 minggu yaitu sebanyak 25 orang (69%).
(7) Jarak Kehamilan Anak Pertama dan Kedua
Tabel 4.7 Distribusi frekuensi jarak kehamilan anak pertama
dan kedua pada ibu yang memiliki balita yang mengalami
stunting di Kecamatan Sananwetan, Juli 2022 (n=36)
Jarak Kehamilan Anak Frekuensi Presentase (%)
Pertama dan Kedua
> 2 tahun 28 78
< 2 tahun 8 22
Jumlah 36 100
Berdasarkan Tabel 4.7 menunjukkan bahwa sebagian besar ibu
yang memiliki balita yang mengalami stunting memiliki anak
pertama dan kedua dengan jarak > 2 tahun yaitu sebanyak 28 orang
(78%).
46
b) Faktor Menyusui
(1) Inisiasi Menyusu Dini
Tabel 4.8 Distribusi frekuensi inisiasi menyusu dini pada balita
yang mengalami stunting di Kecamatan Sananwetan, Juli 2022
(n=36)
Inisiasi Menyusu Dini Frekuensi Presentase (%)
Ya 33 92
3 8
Tidak 36 100
Jumlah
Berdasarkan Tabel 4.8 menunjukkan bahwa sebagian besar ibu
yang memiliki balita yang mengalami stunting melakukan Inisiasi
Menyusu Dini pada balitanya yaitu sebanyak 33 orang (92%).
(2) Pemberian ASI 8-12 Kali per Hari
Tabel 4.9 Distribusi frekuensi pemberian ASI 8-12 kali per
hari pada balita yang mengalami stunting di Kecamatan
Sananwetan, Juli 2022 (n=36)
Pemberian ASI 8-12 kali Frekuensi Presentase (%)
per hari
Ya 30 83
Tidak 6 17
Jumlah 36 100
Berdasarkan Tabel 4.9 menunjukkan bahwa sebagian besar ibu
yang memiliki balita yang mengalami stunting memberikan ASI 8-
12 kali perhari pada balitanya yaitu sebanyak 30 orang (83%).
47
(3) Pemberian ASI Eksklusif
Tabel 4.10 Distribusi frekuensi pemberian ASI eksklusif pada balita
yang mengalami stunting di Kecamatan Sananwetan, Juli 2022 (n=36)
Pemberian ASI Eksklusif Frekuensi Presentase (%)
Ya 32 89
4 11
Tidak 36 100
Jumlah
Berdasarkan Tabel 4.10 menunjukkan bahwa sebagian besar ibu
yang memiliki balita yang mengalami stunting memberikan ASI
Eksklusif pada balitanya yaitu sebanyak 32 orang (89%).
c) Faktor MP-ASI Tidak Adekuat
(1) Pemberian MP-ASI Usia 6 Bulan
Tabel 4.11 Distribusi frekuensi pemberian MP-ASI pada usia 6 bulan
pada balita yang mengalami stunting di Kecamatan Sananwetan, Juli
2022 (n=36)
Pemberian MP-ASI pada Frekuensi Presentase (%)
Usia 6 Bulan
Ya 36 100
Tidak 0 0
Jumlah 36 100
Berdasarkan Tabel 4.11 menunjukkan bahwa seluruh ibu yang
memiliki balita yang mengalami stunting mulai memperkenalkan
MP-ASI pada balitanya di usia 6 bulan yaitu sebanyak 36 orang
(100%).
48
(2) Pemberian MP-ASI 2-3x per Hari pada Usia 6-8 Bulan
Tabel 4.12 Distribusi frekuensi pemberian MP-ASI 2-3x per
hari di usia 6-8 bulan pada balita yang mengalami stunting di
Kecamatan Sananwetan, Juli 2022 (n=36)
Pemberian MP-ASI 2-3x Frekuensi Presentase (%)
per Hari pada Usia 6-8
34 94
Bulan 2 6
Ya 36 100
Tidak
Jumlah
Berdasarkan Tabel 4.12 menunjukkan bahwa hampir seluruh
ibu yang memiliki balita yang mengalami stunting memberikan MP-
ASI sebanyak 2-3x per hari pada balitanya di usia 6-8 bulan, yaitu
sebanyak 34 orang (94%).
(3) Pemberian MP-ASI 3-4x per Hari pada Usia 9-11 Bulan
Tabel 4.13 Distribusi frekuensi pemberian MP-ASI 3-4x per hari di
usia 9-11 bulan pada balita yang mengalami stunting di Kecamatan
Sananwetan, Juli 2022 (n=36)
Pemberian MP-ASI 3-4x Frekuensi Presentase (%)
per Hari pada Usia 9-11
32 89
Bulan 4 11
Ya 36 100
Tidak
Jumlah
Berdasarkan Tabel 4.10 menunjukkan bahwa sebagian besar ibu
yang memiliki balita yang mengalami stunting memberikan MP-ASI
sebanyak 3-4x per hari pada balitanya di usia 9-11 bulan yaitu sebanyak
32 orang (89%).
49
d) Faktor Infeksi
(1) Diare dalam Waktu 1 Bulan Terakhir
Tabel 4.14 Distribusi frekuensi diare dalam waktu 1 bulan terakhir
pada balita yang mengalami stunting di Kecamatan Sananwetan, Juli
2022 (n=36)
Diare dalam Waktu 1 Bulan Frekuensi Presentase (%)
Terakhir
Ya 5 14
Tidak 31 86
36 100
Jumlah
Berdasarkan Tabel 4.14 menunjukkan bahwa sebagian besar
balita stunting tidak mengalami Diare dalam waktu 1 bulan terakhir
yaitu sebanyak 31 orang (86%).
(2) Cacingan dalam Waktu 1 Bulan Terakhir
Tabel 4.15 Distribusi frekuensi cacingan dalam waktu 1 bulan terakhir
pada balita yang mengalami stunting di Kecamatan Sananwetan, Juli
2022 (n=36)
Cacingan dalam Waktu 1 Frekuensi Presentase (%)
Bulan Terakhir
Ya 0 0
Tidak 36 100
Jumlah 36 100
Berdasarkan Tabel 4.15 menunjukkan bahwa seluruh balita
stunting tidak mengalami cacingan dalam waktu 1 bulan terakhir
yaitu sebanyak 36 orang (100%).
50
(3) ISPA dalam Waktu 1 Bulan Terakhir
Tabel 4.16 Distribusi frekuensi ISPA dalam waktu 1 bulan terakhir
pada balita yang mengalami stunting di Kecamatan Sananwetan, Juli
2022 (n=36)
ISPA dalam Waktu 1 Bulan Frekuensi Presentase (%)
Terakhir
Ya 23 64
Tidak 13 36
36 100
Jumlah
Berdasarkan Tabel 4.16 menunjukkan bahwa sebagian besar
balita stunting mengalami ISPA dalam waktu 1 bulan terakhir yaitu
sebanyak 23 orang (64%).
e) Faktor Lingkungan Rumah
(1) Pemberian Makanan Keluarga 3-4x per Hari pada Usia 12 Bulan ke
Atas
Tabel 4.17 Distribusi frekuensi pemberian makanan keluarga 3-4x
per hari pada usia 12 bulan ke atas pada balita yang mengalami
stunting di Kecamatan Sananwetan, Juli 2022 (n=36)
Pemberian Makanan Keluarga 3-4x Frekuensi Presentase (%)
per Hari pada Usia 12 Bulan ke Atas
31 86
Ya 5 14
Tidak 36 100
Jumlah
Berdasarkan Tabel 4.17 menunjukkan bahwa sebagian besar
balita yang mengalami stunting diberikan makanan keluarga 3-4x
per hari saat usia 12 bulan ke atas yaitu sebanyak 31 orang (86%).
51
(2) Pemberian Makanan Bervariasi Setiap Hari
Tabel 4.18 Distribusi frekuensi pemberian makanan bervariasi
setiap hari pada balita yang mengalami stunting di Kecamatan
Sananwetan, Juli 2022 (n=36)
Pemberian Makanan Frekuensi Presentase (%)
Bervariasi Setiap Hari
35 97
Ya 1 3
Tidak 36 100
Jumlah
Berdasarkan Tabel 4.18 menunjukkan bahwa hampir seluruh
balita yang mengalami stunting diberikan makanan bervariasi setiap
hari yaitu sebanyak 35 orang (97%).
(3) Akses Air Bersih di Lingkungan yang Memadai
Tabel 4.19 Distribusi frekuensi akses air bersih yang memadai di
lingkungan balita yang mengalami stunting di Kecamatan
Sananwetan, Juli 2022 (n=36)
Akses Air Bersih di Frekuensi Presentase (%)
Lingkungan yang Memadai
36 100
Ya 0 0
Tidak 36 100
Jumlah
Berdasarkan Tabel 4.19 menunjukkan bahwa akses air bersih
dilingkungan seluruh balita yang mengalami stunting memadai yaitu
sebanyak 36 orang (100%).
52
(4) Memiliki Tempat Pembuangan Limbah dan Kotoran
Tabel 4.20 Distribusi frekuensi tempat pembuangan limbah dan
kotoran pada balita yang mengalami stunting di Kecamatan
Sananwetan, Juli 2022 (n=36)
Memiliki Tempat Pembuangan Frekuensi Presentase (%)
Limbah dan Kotoran
Ya 34 94
Tidak 2 6
36 100
Jumlah
Berdasarkan Tabel 4.20 menunjukkan bahwa hampir seluruh
balita yang mengalami stunting memiliki tempat pembuangan
limbah dan kotoran yaitu sebanyak 34 orang (94%).
4.3 Pembahasan
Stunting adalah suatu keadaaan ketika balita mengalami gagal tumbuh
dikarenakan oleh ketidakseimbangan asupan gizi sehingga mengakibatkan
standar tinggi badan atau berat badan balita tidak sesuai dengan usianya.
Ketidakseimbangan asupan gizi dapat terjadi sejak balita masih dalam rahim
ibu dan saat masa 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), kemudian baru
akan terlihat balita mengalami stunting atau tidak ketika balita sudah
mencapai usia 2 tahun (Choliq et al., 2020). Menurut WHO dalam Rahayu
et al., (2018), faktor yang menyebabkan terjadinya stunting pada balita
terbagi menjadi 4 kategori besar, yaitu faktor maternal dan lingkungan
rumah, faktor MP-ASI yang tidak adekuat, faktor menyusui, dan faktor
infeksi.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai faktor
penyebab stunting pada balita di Kecamatan Sananwetan Kota Blitar,
didapatkan hasil sebagai berikut :
53
a) Faktor Infeksi
Berdasarkan hasil penelitian, faktor tertinggi penyebab terjadinya
stunting pada balita yaitu penyakit infeksi. Balita yang menderita
penyakit infeksi (ISPA) dalam satu bulan terakhir sebesar 64% (23
anak) dan penyakit infeksi (Diare) dalam satu bulan terakhir sebesar
14% (5 anak). Ditinjau dari data umum didapatkan hasil bahwa berat
badan balita < 12 kg sebanyak 78% (28 anak) dengan usia balita rata-
rata 37-48 bulan sebanyak 39% (14 anak), hal ini menunjukkan bahwa
lebih dari separuh balita yang mengalami penyakit infeksi memiliki
berat badan balita yang tidak ideal dengan usianya. Balita dengan usia
37-48 bulan seharusnya memiliki berat badan > 12 kg.
Diare dan ISPA merupakan penyakit infeksi yang rentan terjadi
pada balita. Pada penelitian yang telah dilakukan oleh Dewi & Widari
(2018) menyatakan bahwa penyakit infeksi yang terjadi secara terus
menerus akan mempengaruhi status gizi. Penyakit infeksi dengan
status gizi merupakan dua hal yang saling berkaitan. Penurunan status
gizi dapat menyebabkan balita beresiko terkena infeksi. Pada balita
dengan imunitas rendah maka akan mudah terserang penyakit
sehingga menyebabkan kurangnya kemampuan melawan suatu
penyakit dan tumbuh kembangnya akan terhambat.
Peneliti berpendapat bahwa penyakit infeksi dapat terjadi karena
kebersihan dalam rumah tangga yang buruk dan imunitas tubuh yang
rendah sehingga memicu timbulnya bakteri yang akan masuk ke
dalam tubuh dan menyebabkan munculnya masalah kesehatan seperti
54
diare dan ISPA. Penyakit infeksi yang terjadi dalam jangka panjang
dapat menyebabkan penurunan berat badan pada balita dan akan
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya. Dalam keluarga
terutama ibu harus memiliki pengetahuan yang baik tentang cara
menjaga kebersihan dalam rumah tangga dan cara pencegahan
mengenai penyakit infeksi. Pengetahuan ini bisa didapatkan saat ibu
mengikuti kegiatan posyandu atau saat melakukan pemeriksaan di
pelayanan kesehatan, dan informasi akan disampaikan oleh kader atau
tenaga kesehatan sehingga diharapkan angka kejadian penyakit
infeksi pada balita dapat berkurang.
b) Faktor Menyusui
Faktor kedua penyebab stunting pada balita dalam penelitian ini
adalah faktor menyusui. Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan
sebanyak 39% (22 balita) tidak mendapatkan ASI hingga 2 tahun dan
11% (4 balita) tidak mendapatkan ASI Eksklusif. Menurut hasil
wawancara yang dilakukan saat penelitian, beberapa responden
mengatakan tidak memberikan ASI Eksklusif karena balitanya tidak
mau minum ASI dan lebih memilih susu formula, produksi ASI yang
sedikit, dan ibu yang bekerja sehingga pemberian ASI diselang seling
dengan susu formula.
Menyusui merupakan proses dimana ibu memberikan ASI kepada
bayi. Frekuensi pemberian ASI yang baik adalah minimal 8-12 kali
dalam sehari. Pemberian ASI saja sebaiknya dilakukan pada bayi
55
sejak lahir hingga berusia 6 bulan atau dapat disebut dengan ASI
Eksklusif. Pemberian ASI Eksklusif pada bayi akan memberi
keuntungan dalam proses tumbuh kembangnya (Pramulya et al.,
2021), karena ASI memiliki banyak manfaat yang baik untuk
menunjang kebutuhan nutrisinya hingga usia 6 bulan. Hasil penelitian
ini sesuai dengan penelitian Annisa & Sumiaty, (2019) bahwa terdapat
hubungan yang bermakna antara pemberian ASI Eksklusif dengan
kejadian stunting pada balita. Pada penelitian Pramulya et al., (2021)
menyatakan bahwa balita yang tidak diberikan ASI Eksklusif akan
memiliki resiko yang lebih tinggi mengalami stunting daripada balita
yang diberikan ASI Eksklusif.
Peneliti berpendapat bahwa ASI Eksklusif memiliki peran yang
sangat penting dalam pemenuhan nutrisi bayi dan mampu mencegah
terjadinya stunting pada balita. Perilaku ibu dalam memberikan ASI
Eksklusif juga dapat dipengaruhi oleh faktor pengetahuan, sikap dan
perilaku ibu. Pengetahuan bisa didapatkan ibu melalui berbagai
sumber media atau dari tenaga kesehatan saat ibu melakukan
pemeriksaan rutin balitanya, apabila pengetahuan ibu baik mengenai
pentingnya pemberian ASI Eksklusif maka ibu akan berperilaku
memberikan ASI pada bayinya hingga usia 6 bulan dengan frekuensi
yang cukup setiap harinya.
56
c) Faktor Maternal
Faktor maternal dalam penelitian ini digolongkan menjadi
beberapa faktor, yaitu faktor nutrisi (sebelum masa kehamilan, saat
kehamilan, dan menyusui), faktor kehamilan pada usia remaja, faktor
BBLR, faktor kelahiran prematur, dan jarak kehamilan yang pendek.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa balita stunting di Kecamatan
Sananwetan lahir dengan berat badan <2500 gram atau BBLR
sejumlah 36% (13 anak), lahir prematur sejumlah 31% (11 anak),
jarak kehamilan anak pertama dan kedua < 2 tahun sejumlah 22% (8
orang), kehamilan ibu di usia < 17 tahun 8% ( 3 orang), kebutuhan
nutrisi ibu tidak terpenuhi sebelum kehamilan 6% (2 orang),
kebutuhan nutrisi ibu tidak terpenuhi saat kehamilan 6% (2 orang),
dan kebutuhan nutrisi ibu tidak terpenuhi saat menyusui 3% (1 orang).
Ditinjau dari data kebutuhan nutrisi selama masa kehamilan sejumlah
6% (2 ibu) mengalami nutrisi kurang, hal ini disebabkan karena ibu
tidak menyukai beberapa makanan seperti sayuran hijau dan susu
yang seharusnya dikonsumsi saat kehamilan. Selain karena nutrisi
yang kurang, ibu balita mengatakan karena saat kehamilan mengalami
preeklampsia sehingga harus melahirkan bayinya di usia kurang dari
9 bulan.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Wardita & Suprayitno,
(2021) menyatakan bahwa riwayat maternal ibu berhubungan dengan
kejadian stunting pada balita. Balita dengan riwayat BBLR dapat
beresiko 1,6 kali lebih tinggi mengalami stunting. Menurut penelitian
57
lain yang dilakukan oleh Sri Sumardilah et al., (2019) menyatakan
bahwa ada hubungan yang bermakna antara riwayat kelahiran
prematur dengan kejadian stunting pada balita. Bayi yang lahir
prematur akan mengalami hambatan dalam pertumbuhan dan dua kali
beresiko terjadi stunting pada usia 6-12 bulan. Sedangkan menurut
penelitian yang dilakukan oleh Trisyani et al., (2020) menyatakan
bahwa jarak kehamilan yang pendek, kehamilan pada usia remaja
tidak ada hubungan yang bermakna dengan kejadian stunting.
Peneliti beranggapan bahwa faktor maternal dapat mempengaruhi
kejadian stunting pada balita. Status gizi yang buruk pada saat
kehamilan akan meningkatkan resiko terjadinya Kurang Energi
Kronis (KEK) pada ibu, melahirkan bayi dengan BBLR, dan
terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan janin yang
menyebabkan kelahiran prematur. Asupan gizi selama masa
kehamilan sangat perlu untuk diperhatikan. Ibu hamil harus menjaga
agar nutrisinya selama kehamilan terpenuhi agar dapat melahirkan
bayi yang sehat dan berat badan yang tidak kurang dari 2500 gram
serta lahir dengan usia kehamilan 9 bulan. Selain itu, ibu juga harus
memeriksakan kehamilannya ke pelayanan kesehatan setidaknya satu
bulan sekali untuk memantau perkembangan janin yang
dikandungnya dan ibu bisa mendapatkan informasi mengenai
kebutuhan nutrisi yang harus terpenuhi oleh ibu hamil melalui dokter,
bidan, atau tenaga kesehatan lainnya.
58
d) Faktor Lingkungan Rumah
Faktor lingkungan rumah yang dimaksud dalam penelitian ini
yaitu sanitasi dan pasokan air yang kurang memadai, serta asupan
makanan dalam rumah tangga yang kurang memadai (Rahayu et al.,
2018). Sesuai dengan hasil tabulasi data ibu balita memberikan
makanan keluarga pada balita usia 12 bulan ke atas dengan frekuensi
3-4x dalam sehari sebanyak 86% (31 ibu balita) dan ibu balita tidak
memberikan makanan keluarga pada balita usia 12 bulan ke atas
dengan frekuensi 3-4x dalam sehari sebanyak 14% (5 ibu balita),
balita diberikan makanan bervariasi setiap hari sebanyak 97% (35
balita) dan balita tidak diberikan makanan bervariasi hanya 3% (1
balita), kemudian seluruh ibu balita memiliki akses air bersih yang
memadai yaitu sejumlah 100% (36 ibu balita) dan yang memiliki
tempat pembuangan limbah dan kotoran sebanyak 94% (34 ibu
balita).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Dayuningsih et al.,
2021) pola asuh pemberian makan memiliki pengaruh terhadap
kejadian stunting pada balita serta faktor sanitasi dan lingkungan
rumah yang buruk akan menimbulkan infeksi. Balita dengan pola asuh
pemberian makan yang rendah akan beresiko 6 kali lebih tinggi terjadi
stunting daripada balita dengan pola asuh pemberian makan yang
tinggi (Dayuningsih et al., 2021). Peneliti berpendapat bahwa
frekuensi pemberian makanan yang kurang dari kebutuhan akan
menimbulkan resiko kekurangan asupan gizi dan dapat menyebabkan
59
stunting. Terkadang balita yang enggan untuk menghabiskan
makanan yang diberikan dan menolak saat diberikan makanan
dikarenakan menu yang disediakan kurang menarik atau makanan
yang disajikan sama dalam satu hari. Hal ini menyebabkan frekuensi
makanan yang dimakan dalam sehari dapat berkurang dari jumlah
kebutuhan, oleh karena itu ibu balita harus pandai mencari ide untuk
menyediakan makanan yang menarik dan bervariasi agar balita
tertarik dan mau menghabiskan makanan yang disajikan. Faktor
sanitasi dan lingkungan rumah yang buruk juga akan memicu
timbulnya penyakit, terutama penyakit infeksi yang sering terjadi pada
balita yaitu diare, cacingan, dan ISPA. Agar balita terhindar dari
penyakit infeksi dalam keluarga harus memiliki sanitasi yang baik,
mampu menjaga kebersihan rumah dengan baik agar kumuh dan
lembab. Ditinjau dari data umum ibu dengan pendidikan SD sejumlah
11% (4 ibu), ibu dengan pendidikan SMP sejumlah 31% (11 ibu), ibu
dengan pendidikan SMA sejumlah 44% (16 ibu), ibu dengan
pendidikan perguruan tinggi 14% (5 ibu). Pendidikan yang baik akan
berpengaruh pada pengetahuan. Apabila ibu berpendidikan baik
tentunya memiliki pengetahuan yang baik pula mengenai cara
mengolah makanan yang menarik dan bergizi serta cara menjaga
kebersihan lingkungan rumah yang baik.
60
e) Faktor MP-ASI yang tidak adekuat
MP-ASI merupakan makanan pendamping ASI yang diberikan
pada balita saat usianya mencapai 6 bulan ke atas. MP-ASI yang
diberikan dapat berupa bubur, roti, dan biskuit yang dilumatkan. Pada
hasil penelitian didapatkan bahwa seluruh balita mulai diperkenalkan
MP-ASI pada saat usia mencapai 6 bulan dengan jumlah 100% (36
anak). Saat usia 6-8 bulan balita yang diberikan MP-ASI dengan
frekuensi 2-3x dalam sehari sebanyak 94% (34 anak) dan saat usia 9-
11 bulan balita yang diberikan MP-ASI dengan frekuensi 3-4x dalam
sehari sebanyak 89% (32 anak). Hasil penelitian ini sesuai dengan
penelitian yang dilakukan oleh (Widiastity & Harleli, 2021) bahwa
tidak ada hubungan antara waktu pemberian MP-ASI dengan kejadian
stunting pada balita. Hal ini dikarenakan ibu balita memberikan MP-
ASI sesuai dengan usia balita, yaitu setelah balita mencapai usia 6
bulan.
Berdasarkan teori dan fakta peneliti berpendapat bahwa
pemberian MP-ASI sesuai dengan usia merupakan hal penting yang
harus diperhatikan oleh ibu, jenis dan frekuensi yang diberikan juga
harus tepat sesuai dengan usianya. Pada penelitian ini MP-ASI yang
diberikan ibu balita sudah tepat diberikan sesuai dengan usia,
sehingga kejadian stunting yang terjadi pada balita disebabkan oleh
faktor lain yaitu karena frekuensi pemberian MP-ASI yang tidak
sesuai dengan kebutuhan, beberapa ibu mengatakan pemberian MP-
ASI dilakukan hanya 2 kali dalam sehari pada balita usia 9-11 bulan
61
selain itu kejadian stunting pada balita disebabkan oleh faktor infeksi,
ASI tidak eksklusif, faktor maternal, dan faktor lingkungan rumah,
sehingga pertumbuhan dan perkembangannya terhambat.
4.4 Keterbatasan Penelitian
Adapun keterbatasan dalam penelitian ini adalah saat melakukan
penelitian di lapangan peneliti kesulitan untuk menyesuaikan waktu dengan
responden karena saat dikunjungi ada beberapa responden sedang bekerja
dan ada tidak bertempat tinggal diwilayah tersebut.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan
mengenai Analisa Faktor Penyebab Stunting pada Balita di Kecamatan
Sananwetan Kota Blitar, dapat disimpulkan bahwa faktor penyebab
stunting pada balita yaitu :
a) Faktor Infeksi dengan ISPA sejumlah 64% dan Diare sejumlah
14%
b) Faktor Menyusui dengan balita tidak mendapatkan ASI hingga 2
tahun sebanyak 39% dan tidak mendapatkan ASI Eksklusif
sebanyak 11% (4 balita).
c) Faktor Maternal dengan berat badan <2500 gram atau BBLR
sejumlah 36%, lahir prematur sejumlah 31%, jarak kehamilan
anak pertama dan kedua < 2 tahun sejumlah 22%, kehamilan ibu
di usia < 17 tahun 8%, kurang nutrisi sebelum dan saat kehamilan
6%, dan kurang nutrisi saat menyusui 3%.
d) Faktor Lingkungan Rumah dengan ibu balita tidak memberikan
makanan keluarga pada balita usia 12 bulan ke atas dengan
frekuensi 3-4x dalam sehari sebanyak 14%, balita tidak diberikan
makanan bervariasi 3%, tidak memiliki tempat pembuangan
limbah dan kotoran sebanyak 6%.
e) Faktor MP-ASI yang tidak adekuat dengan usia 6-8 bulan balita
tidak diberikan MP-ASI dengan frekuensi 2-3x dalam sehari
62
63
sebanyak 6% dan saat usia 9-11 bulan balita tidak diberikan MP-
ASI dengan frekuensi 3-4x dalam sehari sebanyak 11%.
5.2 Saran
Setelah dilakukan hasil penelitian, ibu balita perlu untuk lebih
meningkatkan pengetahuan mengenai cara menjaga kesehatan dan
kebersihan dalam rumah tangga, serta cara pemenuhan asupan gizi
yang tepat, pengetahuan tersebut dapat diperoleh melalui berbagai
sumber media dan dari petugas kesehatan dengan melakukan
edukasi mengenai cara menjaga kesehatan dan kebersihan rumah
tangga dan upaya perbaikan gizi, kemudian dianjurkan untuk rutin
pergi ke pelayanan kesehatan setidaknya 1 bulan sekali untuk
mendeteksi sedini mungkin adanya tanda-tanda infeksi,
meningkatkan imunitas tubuh dengan melakukan imunisasi lengkap,
serta meningkatkan kreatifitas dalam menyediakan makanan yang
menarik dan bervariasi.
Pencegahan mengenai stunting tentunya perlu dilakukan sejak
sebelum masa kehamilan hingga masa balita, oleh karena itu
diperlukan kerjasama dari berbagai sektor untuk melakukan
pencegahan dan penanganan stunting sehingga tercapainya generasi
penerus bangsa yang berkualitas dan sesuai harapan.
5.2.1 Bagi Institusi Pendidikan
Penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi kepustakaan
dan memberikan tambahan sumber ilmu pengetahuan bagi pembaca.
64
5.2.2 Bagi Peneliti Selanjutnya
Peneliti selanjutnya yang akan melakukan penelitian mampu
melakukan penelitian dengan indikator yang lebih tajam mengenai
faktor penyebab stunting.
DAFTAR RUJUKAN
Annisa, N., & Sumiaty, S. (2019). Hubungan Inisiasi Menyusu Dini dan ASI
Eksklusif dengan Stunting pada Baduta Usia 7-24 Bulan.
Jurnal.Poltekkespalu.Ac.Id.
http://jurnal.poltekkespalu.ac.id/index.php/JBC/article/view/256
Beal, T., Tumilowicz, A., Sutrisna, | Aang, Doddy Izwardy, |, Neufeld, L. M., Gizi
Masyarakat-Kementerian, D., & Ri, K. (2018). A review of child stunting
determinants in Indonesia. https://doi.org/10.1111/mcn.12617
Bellamy, C., & UNICEF. (1998). The state of the world’s children 1998. Oxford
University Press for UNICEF.
Choliq, I., Nasrullah, D., & Mundakir. (2020). Pencegahan Stunting di Medokan
Semampir Surabaya Melalui Modifikasi Makanan pada Anak. Journal.Um-
Surabaya.Ac.Id, 1. http://journal.um-
surabaya.ac.id/index.php/HMN/article/view/4544
Darwis, D. Y. (2020). Status Gizi Balita.
Dayuningsih, Permatasari, T., & Supriyatna, N. (2021). Pengaruh pola asuh
pembrian makan terhadap kejadian stunting pada balita.
Jurnal.Fkm.Unand.Ac.Id.
http://jurnal.fkm.unand.ac.id/index.php/jkma/article/view/527
Dewi, N. T., & Widari, D. (2018). Hubungan berat badan lahir rendah dan
penyakit infeksi dengan kejadian stunting pada baduta di Desa Maron Kidul
Kecamatan Maron Kabupaten. Ojs2.e-Journal.Unair.Ac.Id.
https://doi.org/10.2473/amnt.v2i4.2018.373-381
Djaali. (2021). Metodologi Penelitian Kuantitatif. Bumi Aksara.
https://books.google.co.id/books?id=wY8fEAAAQBAJ
Dwi Yanti, N., Betriana, F., & Rahmayunia Kartika, I. (2020). Faktor Penyebab
Stunting Pada Anak: Tinjauan Literatur. 3.
https://ojs.fdk.ac.id/index.php/Nursing/index
Hendra, A. (2017). Kuesioner Stunting.
https://www.scribd.com/document/477435249/Kuesioner-stunting
Imani, N. (2020). Stunting Pada Anak: Kenali dan Cegah Sejak Dini. Hijaz
Pustaka Mandiri. https://books.google.co.id/books?id=NmRVEAAAQBAJ
Kurniawati, A., & Hanifah, L. (2015). Hubungan Pengetahuan Ibu Tentang
Stimulasi Tumbuh Kembang Bayi Dengan Perkembangan Bayi Usia 12-36
Bulandi Posyandu Kasih Ibu 7 Banyu Urip Klego. Jurnal Kebidanan.
http://jurnal.stikesmus.ac.id/index.php/JKebIn/article/view/103
Kusumawaty, I., Yunike, Y., & Podojoyo, P. (2021). Mereduksi Potensi
Gangguan Psikososial Anak melalui Optimalisasi Pengetahuan Ibu tentang
Stunting. Journal of Community Engagement in Health, 4(2), 269–274.
https://doi.org/10.30994/jceh.v4i2.238
65
66
Mahanani Mulyaningrum, F., & Mulya Susanti, M. (2021). Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Stunting pada Balita di Kabupaten Grobogan.
Mulyaningsih, T., Mohanty, I., Widyaningsih, V., Gebremedhin, T. A., Miranti,
R., & Wiyono, V. H. (2021). Beyond personal factors: Multilevel
determinants of childhood stunting in Indonesia. PLoS ONE, 16(11
November). https://doi.org/10.1371/JOURNAL.PONE.0260265
Notoatmodjo, S. (2012). Metodologi Penelitian Kesehatan (2nd ed.).
Nurlaila, N., Utami, W., & Cahyani, T. (2018). Buku Ajar Keperawatan. 26–27.
https://books.google.co.id/books?id=cNWFDwAAQBAJ
Nursalam. (2015). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.
http://www.penerbitsalemba.com
Pramulya, I., Wijayanti, F., & Saparwati, M. (2021). Hubungan Pemberian ASI
Eksklusif dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 24-60 Bulan.
Jurnal.Ukh.Ac.Id, 2021. http://jurnal.ukh.ac.id/index.php/JK/article/view/545
Rahayu, A., Yulidasari, F., Putri, A. O., & Anggraini, L. (2018). Study Guide-
Stunting dan Upaya Pencegahannya.
Sri Sumardilah, D., Rahmadi, A., Gizi, J., & Kesehatan Tanjungkarang, P. (2019).
Risiko stunting anak baduta (7-24 bulan). Ejurnal.Poltekkes-Tjk.Ac.Id, 10(1).
http://www.ejurnal.poltekkes-tjk.ac.id/index.php/JK/article/view/1245
Tanjung, A. A., & Muliyani. (2021). Metodologi Penelitian: Sederhana, Ringkas,
Padat dan Mudah Dipahami. Scopindo Media Pustaka.
https://books.google.co.id/books?id=7sFHEAAAQBAJ
Trisyani, K., Fara, Y. D., Mayasari, A. T., & Abdullah. (2020). Hubungan Faktor
Ibu Dengan Kejadian Stunting. Journal.Aisyahuniversity.Ac.Id.
http://journal.aisyahuniversity.ac.id/index.php/Jaman/article/view/126
Wahyuningsih, H. (2018). Gambaran Pemberian Informasi Obat Pada
Swamedikasi Diare Anak Balita Di Apotek Wilayah Kecamatan Mertoyudan.
http://eprintslib.ummgl.ac.id/1831/
Wardita, Y., & Suprayitno, E. (2021). Determinan Kejadian Stunting pada Balita.
Ejournalwiraraja.Com, VI.
https://www.ejournalwiraraja.com/index.php/JIK/article/view/1347
Widiastity, W., & Harleli. (2021). Hubungan Pemberian MP-ASI Terhadap
Kejadian Stunting Pada Balita Usia 6–24 Bulan di Puskesmas Soropia.
Ojs.Nchat.Id. http://ojs.nchat.id/index.php/nchat/article/view/13
Yuliastati, Arnis, A., & Sri Ningsih, N. (2016). Keperawatan-Anak-Komprehensif.
Lampiran 1
PENJELASAN SEBELUM PENELITIAN
Saya Hanifah Rohmatul Laili mahasiswa Politeknik Kesehatan
Kementerian Kesehatan Malang Program Studi D3 Keperawatan Blitar akan
menjelaskan kepada responden terkait penelitian yang akan saya lakukan dengan
judul “Analisa Faktor Penyebab Stunting pada Balita di Kecamatan Sananwetan
Kota Blitar”.
Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi Faktor Penyebab Stunting
Pada Balita Di Kecamatan Sananwetan Kota Blitar.
Prosedur
Pada penelitian ini responden akan diberikan lembar kuesioner mengenai
Faktor Penyebab Stunting dan dianjurkan untuk mengisi kuesioner dengan jujur dan
jawaban sebenar-benarnya. Peneliti membutuhkan waktu selama 1 hari dalam
pengisian kuesioner.
Manfaat
Untuk mengetahui Faktor Penyebab Stunting Pada Balita Di Kecamatan
Sananwetan Kota Blitar serta sebagai acuan atau pedoman untuk program
puskesmas selanjutnya dan dapat memberikan gambaran pemikiran baru sebagai
bahan masukan mengenai analisa faktor penyebab stunting pada balita.
Kerahasiaan
Data yang diambil dari responden akan dijaga kerahasiaannya. Responden
tidak dipaksa untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Apabila responden tidak
menghendaki, responden berhak untuk menolak tanpa mendapat sanksi apapun.
Apabila responden bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini maka responden
dapat mengisi lembar pernyataan persetujuan dan ditandatangani bahwa responden
telah memahami maksud dan prosedur dalam penelitian ini.
67
Demikian penjelasan sebelum penelitian ini, apabila responden
membutuhkan penjelasan lebih lanjut mengenai penelitian ini responden dapat
bertanya secara langsung kepada peneliti.
Blitar, Juni 2022
Peneliti
Hanifah Rohmatul Laili
NIM.P17230191034
68
Lampiran 2
LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN PENELITIAN
Saya Hanifah Rohmatul Laili, mahasiswa Poltekkes Kemenkes Malang
Program Studi D3 Keperawatan Blitar sedang melaksanakan penelitian yang
berjudul “Analisa Faktor Penyebab Stunting pada Balita di Kecamatan Sananwetan
Kota Blitar”. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui faktor penyebab
stunting pada balita di Kecamatan Sananwetan Kota Blitar. Oleh karena itu saya
mengharapkan kesediaan saudara untuk menjadi responden dalam penelitian ini dan
mengisi kuesioner dengan jujur dan memberikan jawaban dengan sebenar-
benarnya. Jawaban dan informasi mengenai data pribadi saudara akan dirahasiakan
dan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian ini. Data tidak akan
disalahgunakan untuk maksud-maksud lain. Apabila saudara bersedia menjadi
responden dalam penelitian ini, silahkan menandatangani lembar persetujuan ini.
Demikian penjelasan ini saya sampaikan. Atas partisipasi dan kesediaan saudara
saya ucapkan terimakasih.
Peneliti Blitar,.....................2022
Responden
Hanifah Rohmatul Laili ..................................
NIM. P17230191034
69
Lampiran 3
KISI-KISI PENYUSUNAN KUESIONER
No. Variabel Parameter Nomor Jumlah
Soal Soal
1. Faktor Penyebab 1. Faktor maternal (nutrisi yang tidak 1-7 7
Stunting pada adekuat selama prekonsepsi,
Balita di kehamilan, dan laktasi, faktor genetik
Kecamatan ibu yang memiliki tinggi badan
Sananwetan Kota rendah, kehamilan pada usia remaja,
Blitar IUGR, kelahiran prematur, jarak
kehamilan yang pendek)
2. Faktor lingkungan rumah ( sanitasi 16-20 5
dan pasokan air yang kurang memadai
, asupan makanan dalam rumah
tangga yang kurang memadai)
3. MP-ASI yang tidak adekuat : 13-15 3
pemberian MP-ASI yang tidak sesuai 8-12 5
usia
4. Menyusui : tidak diberikan ASI
Eksklusif
5. Infeksi : mengalami Diare / Cacingan 21-25 5
/ ISPA dalam 1 bulan terakhir
70
Lampiran 4
LEMBAR KUESIONER
Analisa Faktor Penyebab Stunting pada Balita di Kecamatan Sananwetan Kota
Blitar
No. Responden :
Tanggal Pengisian :
Identitas Keluarga
Nama Orang tua
Ayah :
Ibu :
Usia orang tua
Ayah :
Ibu :
Pendidikan Orang tua
Ayah : Tidak sekolah SD SMP SMA
Perguruan Tinggi
Ibu : Tidak sekolah SD SMP SMA
Perguruan Tinggi
Pekerjaan Orang tua
Ayah : Tidak bekerja Buruh Wiraswasta Petani
Swasta Lain-lain....................
PNS Buruh Wiraswasta Petani
Swasta Lain-lain....................
Ibu : Tidak bekerja
PNS
Identitas Balita
Nama :
Usia :
Jenis Kelamin : Laki-laki Perempuan
Berat Badan :............kg
Tinggi Badan :...........cm
71
Petunjuk : Pilihlah jawaban “Ya” atau “Tidak” dari pertanyaan berikut dengan
memberi tanda (√) pada kolom jawaban yang tersedia.
NO. PERTANYAAN YA TIDAK
1. Apakah sebelum masa kehamilan kebutuhan
nutrisi ibu telah terpenuhi?
meliputi : (karbohidrat : nasi, gandum, kentang),
(protein hewani : ikan, telur, ayam), (protein
nabati : tempe,tahu, kacang-kacangan), (vitamin,
mineral dan serat : sayuran dan buah-buahan),
(minyak/lemak), (susu rendah lemak), (gula)
2. Apakah kebutuhan nutrisi ibu selama masa
kehamilan telah terpenuhi ?
meliputi : (karbohidrat : nasi, gandum, kentang),
(protein hewani : ikan, telur, ayam), (protein
nabati : tempe,tahu, kacang-kacangan), (vitamin,
mineral dan serat : sayuran dan buah-buahan),
(minyak/lemak), (susu rendah lemak), (gula)
3. Apakah selama menyusui ibu mengkonsumsi
makanan sehat dan bergizi setiap hari ?
meliputi : (karbohidrat : nasi, gandum, kentang),
(protein hewani : ikan, telur, ayam), (protein
nabati : tempe,tahu, kacang-kacangan), (vitamin,
mineral dan serat : sayuran dan buah-buahan),
(minyak/lemak), (susu rendah lemak), (gula)
4. Apakah kehamilan pertama ibu diusia < 17 tahun
?
5. Apakah bayi ibu lahir dengan berat badan < 2500
gram ?
6. Apakah ibu melahirkan dengan usia kehamilan <
37 minggu?
7. Apakah jarak kehamilan anak pertama dan kedua
< 2 tahun ? (jika anak lebih dari 1)
72
8. Apakah setelah melahirkan ibu segera
memberikan ASI yang pertama kali keluar pada
bayi ibu ?
9. Apakah ibu memberikan ASI dengan frekuensi
minimal 8-12 kali per hari ?
10. Apakah ibu memberikan ASI saja pada bayi ibu
hingga berusia 6 bulan ?
11. Apakah setelah anak ibu berusia 6 bulan tetap
diberikan ASI ?
12. Apakah pada saat anak berusia 12-24 bulan tetap
diberikan ASI ?
13. Apakah saat anak ibu mencapai usia 6 bulan
mulai diperkenalkan dengan MP-ASI ? ( seperti
bubur susu, roti, biskuit yang dilumatkan)
14. Apakah pada usia 6-8 bulan MP-ASI berikan
sebanyak 2-3x dalam sehari ?
15. Apakah pada usia 9-12 bulan MP-ASI berikan
sebanyak 3-4x dalam sehari ?
16. Apakah pada saat usia 12 bulan ke atas anak
mulai diperkenalkan dengan makanan keluarga ?
17. Jika “Ya” apakah makanan keluarga diberikan
sebanyak 3-4x dalam sehari ?
18. Dalam memberikan makanan pada anak, apakah
meliputi bubur atau nasi, sayur, dan lauk ?
19. Apakah pemberian makanan pada anak
dihentikan apabila anak sudah merasa kenyang ?
20. Apakah makanan yang diberikan pada anak
bervariasi setiap hari?
21. Apakah anak ibu pernah mengalami diare dalam
waktu 1 bulan terakhir ?
22. Apakah anak ibu pernah mengalami cacingan
dalam waktu 1 bulan terakhir ?
73
23. Apakah anak ibu pernah mengalami batuk,pilek
dalam waktu 1 bulan terakhir ?
24. Apakah akses air bersih dilingkungan ibu sudah
memadai ?
25. Apakah ibu memiliki tempat pembuangan
limbah dan kotoran?
Catatan :
74
Lampiran 5
TABULASI DATA UMUM
ANALISA FAKTOR PENYEBAB STUNTING PADA BALITA
DI KECAMATAN SANANWETAN KOTA BLITAR
No Pendidikan Pendidikan Pekerjaan Pekerjaan JK Usia BB TB
Ayah Balita Balita
Resp Ibu Ayah Ibu
14 3 1 2 1 1 11
25 2 2 3 1 1 11
35 4 1 3 1 2 11
44 3 1 2 1 3 22
55 5 1 3 1 3 12
62 2 1 5 2 2 12
74 4 1 5 2 2 11
83 4 1 4 2 1 11
94 4 1 3 1 1 12
10 4 4 3 3 1 2 11
11 2 3 2 1 2 3 22
12 4 4 1 5 2 1 11
13 2 4 1 3 1 1 21
14 4 3 3 3 1 3 22
15 4 4 1 6 1 3 12
16 2 2 3 3 2 4 11
17 4 3 1 2 1 1 11
18 4 3 1 2 1 3 11
19 5 5 1 6 2 3 12
20 4 3 1 5 2 2 11
21 4 4 7 7 2 2 12
22 4 4 6 6 1 3 12
23 4 3 1 2 2 3 22
24 4 5 1 3 2 2 11
25 4 3 7 7 1 3 22
26 4 4 1 3 1 3 22
27 3 3 1 7 1 3 12
28 5 5 3 6 2 1 11
29 5 5 3 6 2 1 11
30 2 4 1 7 1 2 12
31 3 4 1 2 1 3 11
32 4 4 1 6 2 2 21
33 2 3 1 6 1 2 11
34 4 4 1 6 1 2 12
35 2 2 2 2 1 2 11
36 3 4 1 6 1 3 11
75
Keterangan : d) Pekerjaan Ayah
- 1 = Tidak Bekerja
a) Pendidikan Ibu - 2 = Buruh
- 1 = Tidak Sekolah - 3 = Wiraswasta
- 2 = SD - 4 = Petani
- 3 = SMP - 5 = PNS
- 4 = SMA - 6 = Swasta
- 5 = Perguruan Tinggi - 7 = Lain-lain
b) Pendidikan Ayah e) JK Balita
- 1 = Tidak Sekolah - 1 = Laki-laki
- 2 = SD - 2 = Perempuan
- 3 = SMP
- 4 = SMA f) Usia Balita
- 5 = Perguruan Tinggi - 1 = 12-24 bulan
- 2 = 25-36 bulan
c) Pekerjaan Ibu - 3 = 37-48 bulan
- 1 = Tidak Bekerja - 4 = 49-60 bulan
- 2 = Buruh
- 3 = Wiraswasta g) BB Balita
- 4 = Petani - < 12 kg
- 5 = PNS - 12-14 kg
- 6 = Swasta - 14-16 kg
- 7 = Lain-lain
h) TB Balita
- < 88 cm
- 88-96 cm
- 96-103 cm
- 103-110 cm
76
TABULASI DA
ANALISA FAKTOR PENYEBA
DI KECAMATAN SANAN
NO. P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 P9 P10 P11 P12 P13
RESP
1 000000100 0 0 1 0
2 000010100 0 0 0 0
3 000000101 0 0 1 0
4 000011000 0 0 0 0
5 000000000 0 0 0 0
6 000111000 0 0 0 0
7 000000000 0 0 0 0
8 000000000 0 0 0 0
9 000000000 0 0 0 0
10 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0
11 1 0 1 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0
12 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0
13 1 1 0 0 1 1 1 1 0 0 1 1 0
14 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
15 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 1 0
16 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0
17 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 1 1 0
18 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
7
Lampiran 6
ATA KHUSUS
AB STUNTING PADA BALITA
NWETAN KOTA BLITAR
P14 P15 P16 P17 P18 P19 P20 P21 P22 P23 P24 P25
000000010000
000000000100
010100000100
000000000100
110100000100
000000000100
000000000100
000000000100
000000010100
000000100100
000000000100
010100000100
000000010100
000100000101
000000000100
100000000100
000000000000
000001000000
77
19 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
20 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 0
21 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0
22 0 0 0 0 1 1 0 0 1 0 0 1 0
23 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0
24 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0
25 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0
26 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
27 0 0 0 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0
28 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0
29 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0
30 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0
31 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 1 0
32 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 1 0
33 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 1 0
34 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0
35 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0
36 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0
7
000000000000
000000000100
000010000100
000000000101
000000000000
000000000000
000000000000
000010000100
010100000100
000000000100
000000000100
000000000000
000000000000
000000010000
000000010000
000000000000
000000000100
000000000000
78
Keterangan : P8
- 0 = Bukan Faktor
P1 - 1 = Faktor
- 0 = Bukan Faktor
- 1 = Faktor P9
P2 - 0 = Bukan Faktor
- 0 = Bukan Faktor - 1 = Faktor
- 1 = Faktor
P3 P10
- 0 = Bukan Faktor - 0 = Bukan Faktor
- 1 = Faktor - 1 = Faktor
P4
- 0 = Bukan Faktor P11
- 1 = Faktor - 0 = Bukan Faktor
P5 - 1 = Faktor
- 0 = Bukan Faktor
- 1 = Faktor P12
P6 - 0 = Bukan Faktor
- 0 = Bukan Faktor - 1 = Faktor
- 1 = Faktor
P7 P13
- 0 = Bukan Faktor - 0 = Bukan Faktor
- 1 = Faktor - 1 = Faktor
7
P14 P20
- 0 = Bukan Faktor - 0 = Bukan Faktor
- 1 = Faktor - 1 = Faktor
P15 P21
- 0 = Bukan Faktor - 0 = Bukan Faktor
- 1 = Faktor - 1 = Faktor
P16 P22
- 0 = Bukan Faktor - 0 = Bukan Faktor
- 1 = Faktor - 1 = Faktor
P17 P23
- 0 = Bukan Faktor - 0 = Bukan Faktor
- 1 = Faktor - 1 = Faktor
P18 P24
- 0 = Bukan Faktor - 0 = Bukan Faktor
- 1 = Faktor - 1 = Faktor
P19 P25
- 0 = Bukan Faktor - 0 = Bukan Faktor
- 1 = Faktor - 1 = Faktor
79