36
4) Lansia dengan komplikasi atau lansia yang tidak komplikasi
5) Lansia yang tinggal di RW 05 Kelurahan pondok Agung.
3.2.4. Kriteria eksklusi
Kriteria eksklusi adalah kriteria yang tidak layak diteliti sehingga
menghilangkan subjek yang memenuhi kriteria inklusi karena berbagai
sebab. Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah:
1) Lansia yang tidak bersedia menjadi responden penelitian
2) Lansia dengan gangguan panca indera (pendengaran).
3.3. Lokasi dan Waktu Pengumpulan Data
Penelitian ini dilakukan di wilayah RW 05, Desa Pondok Agung,
Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang. Pengumpulan data penelitian
dilakukan pada tanggal 15-20 Februari 2022.
3.4. Variabel dan Definisi Operasional Penelitian
3.4.1. Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini adalah gaya hidup lansia penderita
hipertensi. yang terdiri dari kebiasaan mengkonsumsi natrium, sayur, buah,
kebiasaan merokok, dan durasi tidur.
3.4.2. Definisi Operasional
Definisi operasional adalah definisi yang diberikan oleh periset agar
variabel dapat diukur dan diobservasi sehingga ada hasil yang diperoleh,
tetapi operasionalisasi harus menganut kaidah umum pada teori atau ilmu
yang mendasari. Definisi operasional variabel harus dapat menggambarkan
37
apa yang hendak diukur, alat ukur yang digunakan, cara mengukur, dan
hasil ukur yang diperoleh (Suprajitno, 2016).
Definisi operasional dalam penelitian ini yaitu:
Tabel 3.1
No. Variabel Definisi Operasional Parameter
Penelitian
1. Gaya hidup Gaya hidup adalah Gambaran gaya
cara hidup hidup lansia
berdasarkan pola hipertensi,
perilaku yang dapat meliputi:
diidentifikasi dan 1. Konsumsi
ditentukan oleh garam
interaksi antara 2. Konsumsi
karakteristik pribadi sayur
seseorang, interaksi 3. Konsumsi
sosial, dan kondisi buah
sosial ekonomi dan 4. Kebiasaan
lingkungan hidup. merokok
5. Durasi tidu
38
1. Definisi Operasional Skala Hasil Ukur
Ukur
Alat Ukur a. Konsumsi Natrium
Ordinal 1. Normal = ≤ 2000 mg perhari
a Kuesioner: atau 1 sendok teh.
a. Konsumsi 2. Tinggi = >1 sendok teh.
natrium, sayur (Permenkes RI, 2014).
dan buah
menggunakan b. Konsumsi Sayur
formulir Recall 1. Baik = ≥4 porsi (400 gr).
24 jam 2. Kurang = < 4 porsi (400 gr)
(Sirajuddin et (Permenkes RI, 2014).
al., 2018)
b. Kebiasaan c. Konsumsi Buah
merokok 1. Baik = ≥ 4 porsi (200 gr).
menggunakan 2. Kurang = < 4 porsi (200 gr).
(Permenkes RI, 2014).
ur kuesioner dari
Budi (2016) d. Kebiasaan Merokok
1. Perokok Berat : > 20
c. Durasi tidur batang/hari
menggunakan 2. Perokok Sedang: 11-20
formulir batang/hari
Pittsburgh 3. Perokok Ringan: ≤ 10
Sleep Quality batang/hari
Index (PSQI) 4. Bukan Perokok: Tidak pernah
sama sekali merokok, pernah
merokok dahulu, telah berhenti
merokok ≥ 6 bulan.
(Alifariki, n.d.).
No. Variabel Definisi Operasional Alat Ukur
Penelitian
39
Cara Ukur Skala Hasil Ukur
Ukur
e. Istirahat dan Tidur
1. Durasi tidur
- Baik = >7 jam
- Cukup = 6-7 jam sehari.
- Kurang = <6 jam sehari
(Hasnawati, 2021).
40
3.5. Pengumpulan Data
3.5.1. Instrument pengumpulan data
Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk
mengumpulkan, memeriksa, menyelidiki suatu masalah, atau
mengumpulkan, mengolah, menganalisis dan menyajikan data-data secara
sistematis serta objektif (Pamungkas & Usman, 2017).
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah spignomanometer,
stetoskop, kuisioner, dan alat tulis. Spignomanometer/tensimeter adalah
alat yang digunakan untuk mengukur tekanan darah responden. Kuesioner
adalah kumpulan pertanyaan-pertanyaan tertulis yang digunakan untuk
memperoleh informasi kepada responden (Pamungkas & Usman, 2017).
Instrument penelitian ini terdapat dua bagian. Bagian A yaitu data
demografi dan bagian B yaitu kuesioner gaya hidup yang meliputi,
kebiasaan konsumsi natrium, konsumsi sayur, buah, kebiasaan merokok,
dan durasi tidur.
3.5.2. Tahap Pengumpulan Data
Tahap pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:
1. Peneliti meminta surat permohonan ijin penelitian dari Program Studi
Diploma 3 Keperawatan Blitar untuk diserahkan kepada Kepala Desa
Pondok Agung, kemudian meminta suart ijin penelitian dari Badan
Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat Kabupaten
Malang yang kemudian diserahkan kepada Ketua RW 05, Desa
Pondok Agung.
2. Peneliti menyeleksi responden yang sesuai.
41
3. Peneliti mengunjungi rumah responden dan menjelaskan maksud dan
tujuan penelitian.
4. Peneliti memberikan inform consent kepada responden setelah
memberikan penjelasan.
5. Peneliti meminta responden yang bersedia dilakukan penelitian untuk
mengisi kuesioner yang sudah diberikan peneliti.
6. Setelah lembar kuesioner terisi lengkap, selanjutnya peneliti
melakukan pengolahan data.
3.6. Pengolahan Data dan Penyajian Data
3.6.1. Pengolahan data
1. Persiapan
Peneliti mengecek kelengkapan data, memeriksa kelengkapan
lembaran instrument dalam kuesioner untuk memastikan data yang
diambil sesuai dengan yang diharapkan.
2. Data Editing
Kegiatan untuk melakukan pengecekan isian formulir atau kuesioner
apakah jawaban yang ada di kuesioner sudah lengkap, jelas, relevan,
dan konsisten (I. Kartika, 2017).
3. Data Coding
Data coding merupakan kegiatan merubah data berbentuk huruf
menjadi data berbentuk angka/bilangan (I. Kartika, 2017).
Kategori jenis kelamin: 1 = laki-laki, 2 = perempuan. Pendidikan
terakhir: 1 = tidak sekolah, 2 = SD, 3 = SLTP/sederajat, 4 =
42
SLTA/sederajat, 5 = perguruan tinggi. Pekerjaan: 1 = ibu rumah
tangga, 2 = buruh, 3 = PNS, 4 = Wiraswasta, 5 = petani, 6 = lainnya.
Lama hipertensi: 1 = <1 tahun, 2 = 1-10 tahun, 3 = >10 tahun.
Kepatuhan minum obat: 1 = teratur, 2 = tidak teratur. Konsumsi
natrium: 1 = ≤2000 mg/hari, 2 = >2000 mg/hari. Konsumsi sayur: 1 =
≥400 gr, 2 = <400 gr. Konsumsi buah: 1 = ≥200 gr, 2 = <200 gr.
Kebiasaan merokok: 1 = >20 batang/hari, 2 = 11-20 batang/hari, 3 =
≤10 batang/hari, 4 = bukan perokok. Durasi tidur: 1 = >7 jam, 2 = 6-7
jam, 3 = <6 jam.
4. Data Entry
Setelah data file dilakukan, langkah selanjutnya adalah memproses
data agar data yang sudah dapat dianalisis. Pemrosesan data dilakukan
dengan cara meng-entry data dari kuesioner ke paket program
komputer (I. Kartika, 2017).
5. Data Cleaning
Merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang sudah di-entry
apakah ada kesalahan atau tidak (I. Kartika, 2017).
3.6.2. Penyajian data
Cara penyajian data penelitian dilakukan melalui berbagai bentuk,
yaitu penyajian dalam bentuk teks (bentuk uraian kalimat), dan penyajian
dalam bentuk tabel (tersusun dalam kolom).
43
3.7. Etika Penelitian
Etika riset merupakan pedoman perilaku periset dalam melakukan
aktivitas penulisan proposal, pelaksanaan, pelaporan, dan publikasi hasil
riset. Etika riset bertujuan mendidik dan memantau para ilmu ilmuwan
(periset) dalam melakukan kegiatan riset menggunakan standar etika yang
tinggi (Suprajitno, 2016)
Ada beberapa prinsip etik menurut (Pamungkas & Usman, 2017)
dalam penelitian yang melibatkan manusia sebagai objek penelitian
diantaranya:
a. Tidak membahayakan atau mengganggu kenyamanan (the right to
freedom from harm and discomfort)
Sesuatu yang membahayakan yang harus dicegah itu dapat berupa
cedera fisik (luka ataupun aktivitas yang membuat responden kelelahan),
emosional (penelitian yang membuat responden stress atau ketakutan
ataupun masalah), sosial (misalnya kehilangan dukungan sosial),
ataupun masalah finansial (misalnya kehilangan uang/harta).
b. Hak perlindungan dari eksploitasi
Menjaga kerahasiaan dari responden dan tidak mengekspos yang dapat
merugikan responden.
c. Menghormati harkat dan martabat manusia (respect for human dignity)
Peneliti tidak boleh memaksakan kehendak atas apa yang diinginkan
responden sehingga perlu adanya penghargaan dan penghormatan
terhadap apa yang menjadi keputusan responden.
44
d. Menghormati privasi dan kerahasiaan subjek penelitian (respect for
privacy and confidentiality)
Peneliti tidak diperbolehkan menampilkan semua informasi mengenai
identitas responden untuk menjaga kerahasiaan identitas responden.
e. Keadilan dan inklusivitas (respect for justice and inclusiveness)
Peneliti tidak boleh memihak terhadap beberapa kelompok atau
responden tertentu yang dapat mengakibatkan ketidakadilan bagi semua
responden penelitian. Dan penelitian harus dilakukan secara jujur, hati-
hati, professional, dan berperikemanusiaan.
BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dideskripsikan tentang hasil penelitian dan pembahasannya.
Hasil penelitian akan mendeskripsikan tentang gambaran lokasi penelitian, data
umum, dan data khusus. Hasil penelitian dari data umum akan disajikan dalam
bentuk diagram lingkaran dan data khusus dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.
4.1. Gambaran Umum Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Dusun Sambirejo RW 05,
Desa Pondok Agung, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang. Dusun
Sambirejo terdapat tiga RT yaitu RT 01, RT 02, dan RT 03 yang
merupakan wilayah tempat responden peneliti. Desa Pondok Agung
terbagi menjadi beberapa dusun yaitu Dusun Gobet, Mendalan, Rekesan,
Bocok, Sambirejo, Sumberejo, Pondok, dan Sukorejo. Kecamatan
Kasembon dikelilingi oleh beberapa kecamatan lainnya. Di sebelah utara
berbatasan langsung dengan Kabupaten Mojokerjo. Sedangkan di sebelah
timur, berbatasan dengan Kecamatan Pujon. Di sebelah selatan berbatasan
dengan Kecamatan Ngantang. Dan di sebelah barat berbatasan dengan
Kecamatan Kandangan, Kabupaten Kediri.
Pengambilan data dari penelitian ini yaitu di Posyandu Lansia
Dusun Sambirejo. Posyandu lansia adalah salah satu pelayanan kesehatan
dasar pada lansia yang berguna untuk meningkatkan derajat kesehatan
lansia. Pada Posyandu Lansia RW 05, Desa Pondok Agung biasanya di
hadiri oleh perawat dari Puskesmas Kasembon, dan kader kesehatan
45
46
sejumlah 7 orang dari wilayah setempat. Di Posyandu Lansia ini, lansia
bisa mengecek kesehatannya seperti mengecek tekanan darah, kadar gula
darah, kolesterol, dan asam urat. Selain itu, lansia juga bisa berobat atau
meminta obat dari pihak puskesmas sesuai dengan keluhannya. Kegiatan
lainnya yang di dapatkan di posyandu lansia ini yaitu lansia bisa
melakukan senam lansia setiap satu bulan sekali. Selain itu, lansia juga
mendapatkan penyuluhan kesehatan. Kegiatan ini biasanya dilakukan
setiap satu bulan sekali yaitu pada minggu ke 3.
4.2. Hasil Penelitian
4.2.1 Data Umum
Data umum dalam penelitian gaya hidup lansia hipertensi di RW 05,
Kelurahan Pondok Agung, meliputi:
a) Jenis Kelamin
Laki-laki
27%
Perempuan
73%
Gambar 4.1 Diagram Lingkaran jenis kelamin lansia hipertensi di RW 05,
Kelurahan Pondok Agung, Februari 2022 (n=30).
Berdasarkan gambar 4.1 diketahui bahwa sebagian besar lansia berjenis
kelamin perempuan yaitu sebanyak 22 lansia (73%).
47
b) Umur
Lanjut usia tua
(75-90)
17%
Lanjut usia
(60-74)
83%
Gambar 4.2 Diagram lingkaran umur lansia hipertensi di RW 05, Kelurahan
Pondok Agung, Februari 2022 (n=30).
Berdasarkan gambar 4.2 diketahui bahwa sebagian besar umur lansia yaitu
60-74 tahun dengan jumlah 25 lansia (83%).
c) Pendidikan Terakhir Tidak sekolah
7%
SLTA/sederajat
13%
SLTP/sederajat
7%
SD
73%
Gambar 4.3 Diagram lingkaran pendidikan terakhir lansia hipertensi di RW
05, Kelurahan Pondok Agung, Februari 2022 (n=30).
Berdasarkan gambar 4.3 diketahui bahwa sebagian besar lansia hipertensi
yaitu berpendidikan terakhir SD dengan jumlah 22 lansia (73%).
48
d) Pekerjaan
Lainnya
3%
Petani Ibu rumah
27% tangga
63%
Wiraswasta
7%
Gambar 4.4 Diagram lingkaran pekerjaan lansia hipertensi di RW 05,
Kelurahan Pondok Agung, Februari 2022 (n=30).
Berdasarkan gambar 4.4 diketahui bahwa pekerjaan sebagian besar lansia
adalah ibu rumah tangga dengan jumlah 19 lansia (63%).
e) Klasifikasi Hipertensi
Derajat 1
30%
HST
57%
Derajat 2
Derajat 3 10%
3%
Gambar 4.5 Diagram lingkaran klasifikasi hipertensi di RW 05, Kelurahan
Pondok Agung, Februari 2022 (n=30).
Berdasarkan gambar 4.5 diketahui bahwa sebagian besar lansia mengalami
hipertensi sistolik terisolasi (HST) dengan jumlah 17 lansia (57%).
49
f) Lama Menderita Hipertensi
<1 tahun
7%
>10
tahun
23%
1-10 tahun
70%
Gambar 4.6 Diagram lingkaran lama lansia menderita hipertensi di RW 05,
Kelurahan Pondok Agung, Februari 2022 (n=30).
Berdasarkan gambar 4.6 diketahui bahwa sebagian besar lansia menderita
hipertensi yaitu sekitar 1-10 tahun dengan jumlah 21 lansia (70%).
g) Kepatuhan Minum Obat
Teratur
23%
Tidak
teratur
77%
Gambar 4.7 Diagram lingkaran kepatuhan minum obat lansia hipertensi di RW
05, Kelurahan Pondok Agung, Februari 2022 (n=30).
Berdasarkan gambar 4.7 diketahui bahwa sebagian besar lansia tidak
teratur minum obat yaitu sejumlah 23 lansia (77%).
50
4.2.2 Data Khusus
Data khusus penelitian gambaran gaya hidup lansia penderita hipertensi di
RW 05, Kelurahan Pondok Agung yaitu meliputi kebiasaan konsumsi natrium,
konsumsi sayur, konsumsi buah, kebiasaan merokok, dan durasi tidur.
a) Konsumsi Natrium
Tabel 4.1 Distribusi frekuensi konsumsi natrium lansia hipertensi di RW 05,
Kelurahan Pondok Agung, Februari 2022 (n=30).
Konsumsi Natrium Frekuensi Persentase (%)
Normal 20 67
Tinggi 10 33
Jumlah 30 100
Berdasarkan tabel 4.1 menunjukkan bahwa gaya hidup konsumsi natrium
lansia hipertensi dalam batas normal (≤2000 mg/hari) yaitu sebanyak 20 lansia
(67%).
b) Konsumsi Sayur
Tabel 4.2 Distribusi frekuensi konsumsi sayur lansia hipertensi di RW 05,
Kelurahan Pondok Agung, Februari 2022 (n=30).
Konsumsi Sayur Frekuensi Persentase (%)
Baik 6 20
24 80
Kurang 30 100
Jumlah
Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan bahwa sebagian besar lansia
hipertensi mengonsumsi sayur <400 gr/hari atau dengan kategori kurang yaitu
sebanyak 24 lansia (80%).
51
c) Konsumsi Buah
Tabel 4.3 Distribusi frekuensi konsumsi buah lansia hipertensi di RW 05,
Kelurahan Pondok Agung, Februari 2022 (n=30).
Konsumsi Buah Frekuensi Persentase (%)
Baik 10 33
20 67
Kurang 30 100
Jumlah
Berdasarkan tabel 4.3 menunjukkan bahwa sebagian besar lansia
hipertensi mengonsumsi buah <200 gr/hari atau dengan kategori kurang yaitu
sebanyak 20 lansia (67%).
d) Kebiasaan Merokok
Tabel 4.4 Distribusi frekuensi kebiasaan merokok lansia hipertensi di RW 05,
Kelurahan Pondok Agung, Februari 2022 (n=30).
Kebiasaan Merokok Frekuensi Persentase (%)
Perokok berat 0 0
Perokok sedang 1 3
Perokok ringan 3 10
Bukan perokok 26 87
Jumlah 30 100
Berdasarkan tabel 4.4 menunjukkan bahwa hampir seluruh lansia
hipertensi memiliki kebiasaan tidak merokok yaitu sebanyak 26 lansia (87%).
e) Durasi tidur
Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi durasi tidur lansia hipertensi di RW 05,
Kelurahan Pondok Agung, Februari 2022 (n=30).
Durasi Tidur Frekuensi Persentase (%)
Baik 4 13
Cukup 21 70
5 17
Kurang 30 100
Jumlah
52
Berdasarkan tabel 4.5 menunjukkan bahwa sebagian besar lansia
hipertensi sudah cukup dalam memenuhi kebutuhan tidurnya yaitu sekitar 6-7
jam dengan jumlah 21 lansia (70%).
f) Tabulasi silang antara pekerjaan dengan klasifikasi hipertensi
Tabel 4.6 Tabulasi silang antara pekerjaan dengan klasifikasi hipertensi di RW
05, Kelurahan Pondok Agung, Februari 2022 (n=30).
Klasifikasi Hipertensi
Pekerjaan Derajat 1 Derajat 2 Derajat 3 HST Jumlah
f% f%
F%f %f % 11 36,7 19 63,3
1 3,3 2 6,7
IRT 7 23,3 1 3,3 0 0 5 16,7 8 26,7
00 1 3,3
Wiraswasta 1 3,3 0 0 0 0 17 56,7 30 100
Petani 0 0 2 6,7 1 3,3
Lainnya 1 3,3 0 0 0 0
Jumlah 9 30 3 10 1 3,3
Keterangan:
HST = Hipertensi Sistolik Terisolasi
Berdasarkan tabel 4.6 menunjukkan bahwa sebagian besar lansia yang
bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga mengalami hipertensi sistolik terisolasi
dengan jumlah 11 lansia (36,7%).
g) Tabulasi silang antara umur dengan klasifikasi hipertensi
Tabel 4.7 Tabulasi silang antara umur dengan klasifikasi hipertensi di RW 05,
Kelurahan Pondok Agung, Februari 2022 (n=30).
Klasifikasi Hipertensi HST Jumlah
Umur Derajat 1 Derajat 2 Derajat 3 f% f%
13 43,3 25 83,3
f%f%f% 4 13,3 5 16,7
60-74 tahun 8 26,7 3 10 1 3,3 17 56,7 30 100
75-90 tahun 1 3,3 0 0 0 0
Jumlah 9 30 3 10 1 3,3
Keterangan:
HST = Hipertensi Sistolik Terisolasi
Berdasarkan tabel 4.7 menunjukkan bahwa sebagian besar kelompok umur
60-74 tahun mengalami hipertensi sistolik terisolasi dengan jumlah 13 lansia
(43,3%).
53
h) Tabulasi silang antara pekerjaan dengan umur
Tabel 4.8 Tabulasi silang antara pekerjaan dan umur lansia hipertensi di RW
05, Kelurahan Pondok Agung, Februari 2022 (n=30).
Umur Jumlah
Pekerjaan 60-74 tahun 75-90 tahun F%
19 63,3
IRT F%f% 2 6,7
Wiraswasta 8 26,7
Petani 15 50 4 13,3 1 3,3
Lainnya 30 100
2 6,7 0 0
Jumlah
7 23,3 1 3,3
1 3,3 0 0
25 83,3 5 16,7
Berdasarkan tabel 4.8 menunjukkan bahwa separuh lansia yang bekerja
sebagai ibu rumah tangga berumur 60-74 tahun dengan jumlah 15 lansia
(50%).
4.3. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian di dapatkan gaya hidup lansia penderita
hipertensi di RW 05, Kelurahan Pondok Agung yaitu sebagai berikut:
a) Gambaran gaya hidup berdasarkan konsumsi natrium
Sesuai dengan hasil tabulasi data lansia yang frekuensi konsumsi natrium,
lansia dengan hipertensi mengonsumsi natrium dalam batas normal yaitu
sebanyak 20 lansia (67%). Sedangkan lansia hipertensi yang masih
mengonsumsi natrium tinggi yaitu sebanyak 10 lansia (33%). Sehingga dapat
disimpulkan bahwa sebagian besar lansia hipertensi di RW 05, Kelurahan
Pondok Agung mengonsumsi natrium dalam batas normal, namun tidak
sedikit juga yang masih mengonsumsi natrium tinggi.
54
Natrium tinggi yang dikonsumsi lansia hipertensi di RW 05, Kelurahan
Pondok Agung paling banyak yaitu berasal dari garam meja, kecap, dan
biscuit. Semua lansia memasak dengan menambahkan garam meja dalam
masakannya. Kandungan natrium pada 1 sendok teh garam meja sebesar 2000
mg. Sementara setengah dari seluruh responden menambahkan kecap dalam
makanannya. Kandungan natrium pada 1 sendok makan (10gr) kecap sebesar
400 mg. Dan beberapa lansia memakan biscuit dalam makanan selingannya.
Kandungan natrium pada 25 gram biscuit sebesar 125 mg.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Aprilliyanti & Budiman (2020),
menyatakan bahwa tidak ada hubungan asupan natrium dengan kejadian
hipertensi di Posyandu Lansia Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan,
Kabupaten Kediri. Ketidaksesuaian hasil penelitian dengan teori yang ada
dikarenakan oleh adanya faktor lain yang lebih berpengaruh terhadap kejadian
hipertensi.
Meskipun begitu lansia hipertensi harus tetap menjaga asupan natrium
sesuai dengan anjuran. Menurut (Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia,
2019) konsumsi garam berlebih terbukti meningkatkan tekanan darah dan
meningkatkan prevalensi hipertensi. Sehingga direkomendasikan penggunaan
natrium sebaiknya tidak lebih dari 2 gram/hari (setara dengan 5-6 gram NaCl
perhari atau 1 sendok teh garam dapur).
Peneliti berpendapat bahwa asupan natrium yang terlalu tinggi dapat
memicu terjadinya tekanan darah tinggi. Sehingga lansia yang menderita
hipertensi harus menyeimbangkan asupan natriumnya sesuai dengan anjuran.
Sebagian besar responden yang sudah menerapkan konsumsi natrium sesuai
55
dengan anjuran namun masih menderita hipertensi bisa disebabkan karena
faktor lain. Untuk itu lansia hipertensi juga perlu memperhatikan gaya hidup
yang lainnya.
b) Gambaran gaya hidup berdasarkan konsumsi sayur
Sesuai dengan hasil tabulasi data lansia frekuensi konsumsi sayur, lansia
dengan hipertensi kurang mengonsumsi sayur dalam sehari dengan jumlah 24
lansia (80%). Dan lansia yang mengonsumsi sayur dengan kategori baik yaitu
sejumlah 6 lansia (20%). Sehingga dapat disimpulkan bahwa lansia hipertensi
di RW 05, Kelurahan Pondok Agung sebagian besar kurang mengonsumsi
sayur sesuai dengan anjuran yaitu >400 gr/hari.
Sayur-sayuran yang dikonsumsi lansia hipertensi di RW 05, Kelurahan
Pondok Agung pada data Recall 24 jam yang di dapatkan peneliti yaitu sayur
bayam, kentang, kol putih, kacang panjang, kangkung, wortel, sawi, daun
singkong, daun papaya, terong, kembang turi, jamur, daun katuk, jagung
manis, rebung, dan taoge.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Putri
dkk. (2018) yang menyatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara
riwayat konsumsi sayur dengan kejadian hipertensi pada lansia di Kabupaten
Bantul. Lansia dengan riwayat konsumsi sayur yang kurang memiliki risiko
2,276 kali lebih besar mengalami hipertensi dibandingkan dengan lansia yang
cukup mengonsumsi sayuran.
Sama halnya dengan penelitian yang yang dilakukan oleh Yasril &
Rahmadani (2020) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara
konsumsi serat dengan kejadian hipertensi pada masyarakat di wilayah kerja
56
Puskesmas Kebun Sikolos Kota Padang Panjang pada tahun 2019.
Menyebutkan bahwa orang yang jarang mengonsumsi serat memiliki 2 kali
lebih besar untuk mengalami kejadian hipertensi dibanding dengan orang yang
sering mengonsumsi serat. Dalam penelitiannya disebutkan bahwa masih
banyak masyarakat yang jarang mengonsumsi sayuran, bahkan beberapa dari
masyarakat ada yang menyatakan bahwa mereka tidak menyukai sayur-
sayuran.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 41
tahun 2014 tentang pedoman gizi seimbang, menganjurkan lansia harus makan
sayuran sebanyak 4 porsi perhari atau setara dengan 400 gr/hari baik lansia
laki-laki maupun perempuan (Permenkes RI, 2014).
Menurut peneliti konsumsi sayur yang cukup ikut berperan dalam menjaga
kenormalan tekanan darah. Kurang mengonsumsi sayur dapat menyebabkan
sulit buang air besar/sembelit dan kegemukan yang merupakan faktor risiko
terjadinya hipertensi. Sehingga sebagian lansia hipertensi yang mengonsumsi
sayur kurang dari anjuran sebaiknya lebih memperhatikan sesuai dengan
anjuran dan dapat menerapkan gaya hidup sehat.
c) Gambaran gaya hidup berdasarkan konsumsi buah
Sesuai dengan hasil tabulasi data lansia frekuensi konsumsi buah, lansia
dengan hipertensi kurang mengonsumsi buah dalam sehari yaitu sebanyak 20
lansia (67%). Dan lansia yang mengonsumsi sayur dengan kategori baik
sejumlah 10 lansia (33%). Sehingga dapat disimpulkan bahwa lansia
hipertensi di RW 05, Kelurahan Pondok Agung sebagian besar kurang
mengonsumsi buah sesuai anjuran yaitu >200 gr/hari.
57
Data dari Recall 24 jam pada lansia hipertensi di RW 05, Kelurahan
Pondok agung didapatkan buah-buahan yang dikonsumsi responden
diantaranya Pisang Ambon, Pisang Mas, Pisang Raja, Pisang Kepok, jeruk
manis, papaya, semangka, rambutan, apel, alpukat, dan buah naga.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Farhat & Yanti (2021) menyatakan
bahwa asupan buah ada pengaruh terhadap kejadian hipertensi lansia di
Puskesmas Astambul Martapura, Banjar. Buah mengandung polifenol yang
dapat melindungi jantung. Ada beberapa jenis buah memiliki beban glikemik
yang rendah sehingga tidak berisiko menyebabkan hipertensi.
Konsumsi buah yang dianjurkan menurut Menteri Kesehatan Republik
Indonesia, untuk kelompok usia lansia yaitu 4 porsi perhari atau setara dengan
200 gr/hari baik lansia laki-laki maupun perempuan (Permenkes RI, 2014).
Peneliti berpendapat bahwa konsumsi buah yang cukup ikut berperan
dalam menjaga kenormalan tekanan darah. Buah-buahan merupakan sumber
vitamin, mineral, dan serat pangan yang baik untuk tubuh sehingga dapat
mencegah berbagai macam penyakit salah satunya hipertensi. Untuk itu,
sebagian besar lansia hipertensi yang kurang mengonsumsi buah-buahan
sebaiknya memperhatikan sesuai dengan anjuran supaya memenuhi gizi
seimbang dan bisa menjaga kenormalan tekanan darahnya.
d) Gambaran gaya hidup berdasarkan kebiasaan merokok
Sesuai dengan hasil tabulasi data lansia frekuensi kebiasaan merokok,
lansia dengan hipertensi dengan kategori bukan perokok sejumlah 26 lansia
(87%), lansia dengan kebiasaan perokok ringan sejumlah 3 lansia (10%), dan
lansia dengan kebiasaan perokok sedang sejumlah 1 lansia (3%). Sehingga
58
dapat disimpulkan bahwa hamper seluruh lansia hipertensi di RW 05,
Kelurahan Pondok Agung memiliki kebiasaan tidak merokok karena pada
penelitian ini sebagian besar responden yaitu berjenis kelamin perempuan.
Sama halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Wahyuni (2021) pada
gaya hidup penderita hipertensi di Kecamatan Medan Deli, menunjukkan
bahwa paling banyak responden tidak merokok, namun beberapa responden
yang merokok memiliki hipertensi. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh
Angga & Elon (2021) menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan yang
signifikan antara jumlah rokok, usia mulai merokok dan anggota yang
merokok terhadap kejadian peningkatan tekanan darah. Namun didapati
hubungan yang signifikan antara lamanya merokok dengan peningkatan
tekanan darah sistolik dan diastolik.
Menurut Sukmana dalam (Widayanti, 2021) merokok dapat menyebabkan
hipertensi akibat zat-zat kimia yang terkandung dalam tembakau terutama
nikotin yang dapat merangsang saraf simpatis sehingga memicu kerja jantung
lebih cepat sehingga peredaran darah mengalir lebih cepat dan terjadi
penyempitan pembuluh darah, serta peran karbon monoksida yang dapat
menggantikan oksigen dalam darah dan memaksa jantung memenuhi
kebutuhan oksigen tubuh.
Perokok dapat juga dibagi berdasarkan cara bahan kimia masuk ke dalam
tubuh, yaitu perokok aktif dan perokok pasif. Perokok aktif adalah orang yang
merokok dan langsung menghisap rokok serta bisa mengakibatkan bahaya
bagi kesehatan diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Sedangkan perokok
pasif adalah asap rokok yang dihirup oleh seseorang yang tidak merokok.
59
Asap rokok yang dihembuskan oleh perokok aktif dan dihirup oleh perokok
pasif, lima kali lebih banyak mengandung karbon monoksida, empat kali lebih
banyak mengandung tar dan nikotin (Widayanti, 2021).
Menurut peneliti, baik perokok aktif maupun pasif yang menghirup asap
rokok dapat memicu terjadinya hipertensi. Didapatkan hasil dari wawancara
kuesioner kebiasaan merokok, sebagian besar responden tidak merokok
namun dilingkungan rumah atau tempat kerja responden banyak yang
mempunyai kebiasaan merokok. Sehingga lansia hipertensi sebaiknya
menghindari asap rokok untuk meminimalisir tekanan darah tinggi.
e) Gambaran gaya hidup berdasarkan istirahat tidur
Sesuai dengan hasil data lansia frekuensi istirahat tidur, lansia dengan
hipertensi yang cukup dalam memenuhi kebutuhan tidurnya sebanyak 21
lansia (70%), lansia dengan durasi tidur kurang sebanyak 5 lansia (17%), dan
lansia dengan durasi tidur baik sebanyak 4 lansia (13%). Sehingga dapat
disimpulkan bahwa sebagian besar lansia hipertensi di RW 05, Kelurahan
Pondok Agung sudah cukup dalam memenuhi kebutuhan tidurnya yaitu 6-7
jam, namun ada beberapa lansia yang kurang dalam memenuhi kebutuhan
tidurnya. Dari hasil wawancara kuesioner, lansia yang kurang memenuhi
kebutuhan tidurnya diakibatkan karena sering tidak dapat tidur dalam waktu
lebih dari 30 menit, sering terbangun di tengah malam atau sangat pagi, sering
terbangun karena ingin ke toilet, dan merasa nyeri pada sebagian tubuhnya.
Waktu tidur yang cukup adalah terpenuhinya kecukupan durasi maupun
kualitas tidur. Tidur yang cukup sangat penting bagi kesehatan tubuh lansia.
Tidur berpengaruh terhadap produktivitas, kestabilan emosi, kesehatan otak,
60
menjaga kesehatan jantung, fungsi imun, kreativitas vitalis hingga berat badan
stabil. Saat tidur, otak mempersiapkan tubuh untuk esok hari. Oleh karena itu,
kurang waktu istirahat akan membuat kita kesulitan dalam bekerja, belajar,
berkarya dan berkomunikasi dengan orang lain keesokan harinya. Bahkan
kurang tidur dapat menyebabkan berbagai penyakit serius seperti penyakit
jantung, diabetes, obesitas hingga kematian dini (Widodo & Sumanto, 2019).
Peneliti berpendapat bahwa kurang tidur bisa menyebabkkan orang mudah
stress sehingga berdampak pada meningkatnya tekanan darah. Namun lansia
hipertensi di RW 05, kelurahan Pondok Agung sebagian besar sudah
memperhatikan kebutuhan istirahat dan tidurnya. Selain kebutuhan istirahat
dan tidur ada banyak faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tekanan darah
tinggi. Oleh karena itu, lansia hipertensi perlu memperhatikan gaya hidup
sehat yang lainnya supaya bisa menjaga kestabilan tekanan darah.
f) Gambaran tabulasi silang pekerjaan dengan klasifikasi hipertensi
Sesuai dengan hasil tabulasi silang pekerjaan dengan klasifikasi hipertensi
diketahui bahwa sebagian besar lansia bekerja sebagai ibu rumah tangga
dengan jumlah 19 lansia (63,3%). Urutan kedua yaitu bekerja sebagai petani
dengan jumlah 8 lansia (26,7%). Urutan ketiga yaitu bekerja sebagai
wiraswasta dengan jumlah 2 lansia (6,7%). Dan urutan terakhir yaitu satu
lansia yang bekerja sebagai peternak (3,3%).
Diketahui pula bahwa sebagian besar lansia mengalami hipertensi sistolik
terisolasi yaitu sejumlah 17 lansia (56,7%). Urutan kedua yaitu lansia yang
mengalami hipertensi derajat 1 yaitu sejumlah 9 lansia (30%). Urutan ketiga
yaitu lansia yang mengalami hipertensi derajat 2 dengan jumlah 3 lansia
61
(10%). Dan urutan terakhir yaitu lansia yang mengalami hipertensi derajat 3
dengan jumlah 1 lansia (3,3%).
Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar lansia bekerja
sebagai ibu rumah tangga dan mengalami hipertensi sitolik terisolasi.
g) Gambaran tabulasi silang umur dengan klasifikasi hipertensi
Sesuai dengan hasil tabulasi silang umur dengan klasifikasi hipertensi
diketahui bahwa sebagian besar lansia yang berumur 60-74 tahun sebanyak 25
lansia (83,3%). Dengan urutan yang terbanyak yaitu hipertensi sistolik
terisolasi sejumlah 13 lansia (43,3%). Urutan kedua yaitu lansia yang
mengalami hipertensi derajat 1 dengan jumlah 8 lansia (26,7%). Urutan ketiga
yaitu lansia yang mengalami hipertensi derajat 2 yaitu sejumlah 3 lansia
(10%). Dan urutan terakhir yaitu lansia yang mengalami hipertensi derajat 3
yaitu sejumlah 1 lansia (3,3%).
Sementara lansia yang berumur 75-90 tahun yaitu sebanyak 5 lansia
(16,7%). Dengan ururtan yang terbanyak yaitu hipertensi sistolik terisolasi
dengan jumlah 4 lansia (13,3%). Dan lansia yang mengalami hipertensi derajat
1 yaitu sejumlah 1 lansia (3,3%).
Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar lansia berumur
60-74 tahun dan mengalami hipertensi sistolik terisolasi.
h) Gambaran tabulasi silang pekerjaan dan umur
Sesuai dengan hasil tabulasi silang pekerjaan dan umur dapat diketahui
bahwa sebagian besar lansia bekerja sebagai ibu rumah tangga yaitu sejumlah
19 lansia (63,3%). Diantaranya yaitu yang berumur 60-74 tahun sebanyak 15
lansia (50%), dan yang berumur 75-90 tahun sebanyak 4 lansia (13,3%).
62
Diurutan kedua yaitu lansia yang bekerja sebagai petani dengan jumlah 8
lansia (26,7%). Diantaranya yaitu yang berumur 60-74 tahun sebanyak 7
lansia (23,3%), dan yang berumur 75-90 tahun sebanyak 1 lansia (3,3%).
Diurutan ketiga yaitu lansia yang bekerja sebagai wiraswasta juga berumur 60-
74 tahun sebanyak 2 lansia (6,7%). Dan diurutan terakhir yaitu lansia yang
bekerja sebagai peternak juga berumur 60-74 tahun sebanyak 1 lansia (3,3%).
Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar lansia bekerja
sebagai ibu rumah tangga dan berumur 60-74 tahun.
4.4. Keterbatasan Penelitian
Adapun keterbatasan dalam penelitian ini yaitu peneliti hanya meneliti
dalam satu hari, dan untuk mengukur asupan natrium, sayur, buah berdasarkan
pendapat dari responden (bersifat subjektif) karena peneliti tidak mengetahui
asupan lansia selama 24 jam secara langsung. Selain itu, dalam pengisian
kuesioner sebagian besar lansia memerlukan bantuan dari pihak keluarga dan
peneliti sendiri. Karena ada beberapa lansia yang sudah mengalami penurunan
penglihatan dan juga tingkat pendidikan rendah sehingga memerlukan bantuan
dalam memahami pengisian kuesioner.
BAB 5
SIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini akan diuraikan tentang simpulan dan saran dalam penelitian ini
yang merupakan tujuan dari penelitian.
5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mengenai gambaran gaya
hidup lansia hipertensi di RW 05, Kelurahan Pondok Agung secara umum
sebagian besar lansia yang mengalami hipertensi berjenis kelamin
perempuan, berusia sekitar 60-74 tahun, pendidikan terakhir SD, pekerjaan
sebagai ibu rumah tangga, mengalami hipertensi sistolik terisolasi, lama
hipertensi sekitar 1-10 tahun, dan tidak teratur dalam minum obat.
Sedangkan gaya hidup dari 30 lansia yang mengalami hipertensi, meliputi:
1. Konsumsi natrium lansia hipertensi di RW 05, Kelurahan Pondok
Agung sebagian besar yaitu dalam batas normal (≤2000 mg/hari)
dengan jumlah 20 lansia (67%).
2. Konsumsi sayur lansia hipertensi di RW 05, Kelurahan Pondok
Agung menunjukkan kategori kurang (<400 gr/hari) dengan jumlah
24 lansia (80%).
3. Konsumsi buah lansia hipertensi di RW 05, Kelurahan Pondok
Agung menunjukkan kategori kurang (<200 gr/hari) dengan jumlah
20 lansia (67%).
63
64
4. Kebiasaan merokok lansia hipertensi di RW 05, Kelurahan Pondok
Agung sebagian besar yaitu bukan perokok dengan jumlah 26
lansia (87%).
5. Durasi tidur lansia hipertensi di RW 05, Kelurahan Pondok Agung
sebagian besar dalam kategori cukup (6-7 jam) dengan jumlah 21
lansia (70%).
5.2 Saran
5.2.1 Bagi Subjek Studi Kasus
Setelah dilakukan hasil penelitian, lansia hipertensi dianjurkan
untuk lebih menerapkan gaya hidup sehat lagi, seperti mengonsumsi
natrium dalam batas normal, mengonsumsi sayur dan buah sesuai
dengan anjuran, menghilangkan kebiasaan merokok, istirahat dan tidur
dengan cukup. Diharapkan lansia hipertensi mempertahankan dengan
perilaku CERDIK agar tekanan darah pada lansia tidak terus bertambah
dan bisa stabil.
5.2.2 Bagi Institusi Pendidikan
Setelah dilakukan penelitian, diharapkan penelitian ini dapat
berguna sebagai dasar perkembangan ilmu pengetahuan dalam bidang
pendidikan terutama pada bidang kesehatan.
5.2.3 Bagi Peneliti
Bagi peneliti yang akan melakukan penelitian selanjutnya
diharapkan bisa melakukan pengembangan dari hasil penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Alfi, W. N., & Yuliwar, R. (2018). The Relationship between Sleep Quality and
Blood Pressure in Patients with Hypertension. Jurnal Berkala Epidemiologi,
6(1), 18. https://doi.org/10.20473/jbe.v6i12018.18-26
Angga, Y., & Elon, Y. (2021). Hubungan kebiasaan merokok dengan tekanan
darah. Jurnal Kesehatan Komunitas, 7(1), 124–128. http://jurnal.htp.ac.idj
Aprilliyanti, D. R., & Budiman, F. A. (2020). Hubungan Asupan Natrium dengan
Kejadian Hipertensi di Posyandu Lansia Desa Tegowangi Kecamatan
Plemahan Kabupaten Kediri. Universitas Bumigora, 1(1), 7–11.
https://journal.universitasbumigora.ac.id/index.php/nutroilogy/article/view/7
29/453
Asikin, M., & Nuralamsyah, M. (2016). Keperawatan Medikal bedah Sistem
Kardiovaskular (R. Astikawati & E. Dewi (eds.)). PT. Gelora Aksara
Pratama.
Budi, A. (2016). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Hipertensi
Tidak Terkendali Pada Penderita Yang Melakukan Pemeriksaan Rutin di
Puskesmas Kedungmundu Kota Semarang Tahun 2014. Public Health
Perspective Journal, 1(1), 12–20.
Dahlan, andi kasrida, Umrah, a. st., & Abeng, T. (2018). Kajian Teori
Gerontologi dan Pendekatan Asuhan (Issue January 2018).
Darmawan, H., Tamrin, A., & Nadimin, N. (2018). Hubungan Asupan Natrium
dan Status Gizi Terhadap Tingkat Hipertensi Pada Pasien Rawat Jalan Di
RSUD Kota Makassar. Media Gizi Pangan, 25(1), 11.
https://doi.org/10.32382/mgp.v25i1.52
Ekasari, M. F., Riasmini, N. M., & Hartini, T. (2018). MENINGKATKAN
KUALITAS HIDUP LANSIA KONSEP DAN BERBAGAI INTERVENSI -
Google Books. In Wineka Media.
Ernawati, I., Fandinata, S., & Permatasari, S. (2020). Kepatuhan konsumsi obat
pasien hipertensi : pengukuran dan cara meningkatkan kepatuhan- Google
Books (N. Reny (ed.)). Penerbit Graniti.
https://www.google.co.id/books/edition/Buku_referensi_kepatuhan_konsums
i_obat_p/81EMEAAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=cara+mencegah+hipertens
i&pg=PR3&printsec=frontcover
Farhan Aulia Rahman, S. K. (2021). Lindungi Dirimu dengan APD ( Anti
Penyakit Degeneratif ). 144 halaman.
https://www.google.co.id/books/edition/Lindungi_Dirimu_dengan_APD_An
ti_Penyakit/BN4iEAAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=pencegahan+asam+urat
&pg=PA132&printsec=frontcover
65
66
Farhat, Y., & Yanti, R. (2021). Pengaruh Asupan (Natrium, Lemak, Sayur Dan
Buah), Dan Tingkat Pengetahuan Terhadap Kejadian Hipertensi Lansia Di
Puskesmas Astambul Martapura. Jurnal Skala Kesehatan, 12(2), 105–114.
https://doi.org/10.31964/jsk.v12i2.325
Gomo, A. (2021). Healthy Food & 25 Ideas Of Healthy Cooking - Google Books.
In Deepublish.
https://www.google.co.id/books/edition/Healthy_Food_25_Ideas_Of_Health
y_Cooking/vk0tEAAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=perubahan+gaya+hidup+
menimbulkan+berbagai+penyakit+degeneratif&printsec=frontcover
Hastuti, A. P. (2019). HIPERTENSI - Google Buku. In I. M. Ratih (Ed.), Penerbit
Lakeisha (I). Penerbit Lakeisha.
https://books.google.co.id/books?id=TbYgEAAAQBAJ&pg=PA8&hl=id&s
ource=gbs_toc_r&cad=3#v=onepage&q&f=false
Hidayat, A. (2015). Metode Penelitian Kesehatan Paradigma Kuantitatif - Google
Books (Aulia (ed.)). Health Books Publishing.
https://www.google.co.id/books/edition/Metode_Penelitian_Kesehatan_Para
digma_Ku/voATEAAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=buku+panduan+riset+kar
ya+tulis+ilmiah+keperawatan&printsec=frontcover
Jayanti, I. G. A. N., Wiradnyani, N. K., & Ariyasa, I. G. (2017). Hubungan pola
konsumsi minuman beralkohol terhadap kejadian hipertensi pada tenaga
kerja pariwisata di Kelurahan Legian. Jurnal Gizi Indonesia (The Indonesian
Journal of Nutrition), 6(1), 65–70. https://doi.org/10.14710/jgi.6.1.65-70
Kartika, I. (2017). Dasar-Dasar Riset Keperawatan dan Pengolahan Data
Statistik. CV. Trans Info Media.
Kartika, L. A., Afifah, E., & Suryani, I. (2017). Asupan lemak dan aktivitas fisik
serta hubungannya dengan kejadian hipertensi pada pasien rawat jalan.
Jurnal Gizi Dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and
Dietetics), 4(3), 139. https://doi.org/10.21927/ijnd.2016.4(3).139-146
Kemenkes RI. (2016). SITUASI LANJUT USIA (LANSIA) di Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Buku Foto Makanan
(PORSIMETRI). 1–260.
http://sikap.pemkomedan.go.id/sipolan/porsimetri.pdf
Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Puslitbang Humaniora
dan Manajemen Kesehatan, K. R. (2018). Hasil Utama Riskesdas 2018
Provinsi Jawa Timur. 1–82.
Kholifah, S. (2016). KEPERAWATAN GERONTIK. Pusdik SDM Kesehatan.
67
Kurnia, A. (2021). SELF-MANAGEMENT HIPERTENSI - Google Books. In
CV. Jakad Media Publishing.
https://www.google.co.id/books/edition/SELF_MANAGEMENT_HIPERTE
NSI/a18XEAAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=komplikasi+pada+hipertensi+la
nsia+pdf&printsec=frontcover
Kuswati, A. (2016). Asuhan Keperawatan Gerontik (P. Christian (ed.)). Penerbit
CV. ANDI OFFSET.
Ladyani, F., Febriyani, A., Prasetia, T., & Berliana, I. (2021). Hubungan antara
Olahraga dan Stres dengan Tingkat Hipertensi Pada Lansia. Jurnal Ilmiah
Kesehatan Sandi Husada, 10(1), 82–87.
https://doi.org/10.35816/jiskh.v10i1.514
Mufarokhah, H. (2019). HIPERTENSI DAN INTERVENSI KEPERAWATAN -
Google Books (Muslikh (ed.)). Penerbit Lakeisha.
https://www.google.co.id/books/edition/HIPERTENSI_DAN_INTERVENSI
_KEPERAWATAN/ILggEAAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=perilaku+cerdik
+hipertensi&pg=PA17&printsec=frontcover
Nasrullah, D. (2016). KEPERAWATAN GERONTIK.
Neolaka, A. (2019). Isu-isu Kritis Pendidikan: Utama dan Tetap Penting Namun
Terabaikan - Prof. Dr. Ir. Amos Neolaka, M.Pd. - Google Buku.
Prenadamedia Group. https://books.google.co.id/books?id=Wb-
NDwAAQBAJ&pg=PA55&lpg=PA55&dq=Ki+Hajar+Dewantara+sebagai+t
okoh+pendidikan+berpendapat+bahwa+keluarga+adalah+kumpulan+bebera
pa+orang+yang+kerena+terikat+oleh+satu+turunan+lalu+mengerti+dan+mer
asa+berdiri+sebagai+satu+
Nurillah, R. (2018). HUBUNGAN GAYA HIDUP TERHADAP TERJADINYA
RISIKO HIPERTENSI PADA LANSIA DI WILAYAH PUSKESMAS
UNIT II KECAMATAN SUMBAWA. Lansia, 67(6), 14–21.
Nuryanti, E., Amirus, K., Aryastuti, N., Negeri, P., Kabupaten, B., Kanan, W.,
Kesehatan, F., Universitas, M., Tulang, K., & Way, K. (2020). Hubungan
Merokok , Minum Kopi dan Stress dengan Kejadian Hipertensi pada Pasien
Rawat Jalan di Puskesmas Negeri Baru Kabupaten Way Kanan Tahun 2019
Relationship Smoking , Drinking Coffee and Stress with Hypertension in
Outpatients at The Public Health Cen. 9(2), 235–244.
Pamungkas, R., & Usman, A. (2017). Metodologi Riset Keperawatan (T. Ismail
(ed.)). CV. Trans Info Media.
Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia. (2019). Konsensus Penatalaksanaan
Hipertensi 2019 (A. A. Lukito, E. Harmeiwaty, & N. M. Hustrini (eds.)).
http://www.inash.or.id/upload/event/event_Update_konsensus_2019123191.
pdf
68
Permenkes RI. (2014). PERATURAN MENTERI KESEHATAN RI NO.41 TAHUN
2014. 564, 1–73.
Putri, A. W., Jamil, M. D., & Ulya, L. F. (2018). Hubungan Riwayat Konsumsi
Sayur Dan Buah Serta Air Minum Dengan Kejadian Hipertensi Pada Lansia
Di Kabupaten Bantul. Universitas Alma Ata Yogyakarta, 4–23.
Rauf, S., Malawat, & Zahir, M. (2021). Pandu Lansia ( Buku Pegangan bagi
Kader Posyandu Lansia ). 1–71.
Resusun, D. E., & Leiwakabessy, T. F. F. (2021). SKRINING PENYAKIT TIDAK
MENULAR PADA LANSIA DI KELURAHAN URITETU Ivan Paskalis
Tanlain, Eko Santoso, Rezky Memea Nicholas Helwend, Christmas
Saamangun, Decelcya Estelita Resusun, Theophilia F F Leiwakabessy. 1,
83–87.
Sirajuddin, Surmita, & Astuti, T. (2018). SURVEY KONSUMSI PANGAN.
Sumedi, T. (2016). Asuhan Keperawatan Gerontik (P. Christian (ed.)). CV. Andi
Offset.
Suprajitno. (2016). Pengantar Riset Keperawatan. Pusdik SDM Kesehatan.
Trisnawan, A. (2019). Mengenal Hipertensi (Ade (ed.)). Penerbit Mutiara Aksara.
Wahyuni, S. (2021). Gambaran Gaya Hidup Penderita Hipertensi di Kecamatan
Medan Deli.
Widayanti, T. A. (2021). Pengaruh Merokok Terhadap Penyakit Hipertensi.
https://doi.org/10.1038/132817a0
Widiany, F. L. (2019). Pemeriksaan Kesehatan Lansia di Posyandu Lansia Dusun
Demangan Gunungan, Pleret, Bantul. Jurnal Pengabdian Dharma Bakti,
2(2), 45. https://doi.org/10.35842/jpdb.v2i2.89
Widodo, D., & Sumanto, A. (2019). Filosofi Hidup Sehat - Google Books.
Alineaku Publisher.
https://www.google.co.id/books/edition/Filosofi_Hidup_Sehat/tEBbEAAAQ
BAJ?hl=id&gbpv=1&dq=buku+pentingnya+tidur+yang+cukup+bagi+lansia
&pg=PA815&printsec=frontcover
Yasril, A. I., & Rahmadani, W. (2020). Hubungan Pola Makan dengan Kejadian
Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Kebun Sikolos Kota Padang
Panjang Tahun 2019. 15(2), 33–43.
Yulia Susanti, Anita, & Santoso, D. Y. A. (2021). Perilaku Cerdik Penderita
Hipertensi Dimasa Pandemi Covid 19. Jurnal Keperawatan, 13(1), 61–76.
Lampiran 1
PENJELASAN UNTUK MENGIKUTI PENELITIAN
Saya Laily Achsani Takwima adalah mahasiswa dari institusi/jurusan/
program studi DIII Keperawatan blitar, Poltekkes Kemenkes Malang dengan ini
meminta Bapak/Ibu untuk berpartisipasi dengan sukarela dalam penelitian yang
berjudul “Gambaran Gaya Hidup Lansia Penderita Hipertensi di RW 05
Kelurahan Pondok Agung”.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran gaya hidup lansia
penderita hipertensi di RW 05 Kelurahan Pondok Agung. Sampel/orang yang
terlibat dalam penelitian/bahan berupa data yang akan diambil dengan cara
kuesioner.
Prosedur pengambilan bahan penelitian/data dengan cara mengisi
kuesioner. Cara ini mungkin akan menyebabkan ketidaknyamanan yaitu
membutuhkan waktu untuk mengisi kuisioner.
Keuntungan yang Bapak/Ibu peroleh dalam keikutsertaan dalam penelitian
ini adalah dapat mengetahui gaya hidup lansia penderita hipertensi. Seandainya
Bapak/Ibu tidak menyetujui cara ini maka Bapak/Ibu dapat memilih cara lain
yaitu mengikuti di hari lain atau tidak mengikuti penelitian ini sama sekali. Untuk
itu, Bapak/Ibu tidak dikenakan sanksi apapun. Nama dan jati diri Bapak/Ibu tetap
akan dirahasiakan.
Peneliti,
Laily Achsani Takwima
69
Lampiran 2
LEMBAR PENJELASAN KEPADA RESPONDEN PENELITIAN
Nama Peneliti : Laily Achsani Takwima
Judul Penelitian : Gambaran Gaya Hidup Lansia Penderita Hipertensi di
RW 05, Desa Pondok Agung.
Saya adalah mahasiswi Poltekkes Kemenkes Malang, Program Studi D3
Keperawatan Blitar, yang sedang melakukan penelitian sebagai salah satu
Kegiatan untuk menyelesaikan tugas akhir. Untuk keperluan tersebut saya
memohon kesediaan ibu/bapak untuk menjadi responden di penelitian ini dan
bersedia mengisi kuesioner. Penelitian ini bersifat sukarela, sehingga ibu/bapak
dapat mengundurkan diri setiap saat tanpa ada sanksi apapun. Jika ibu/bapak
bersedia, harap memberikan tanda tangan sebagai bukti kesukarelaan. Saya
mengharapkan tanggapan/jawaban yang diberikan sesuai dengan pendapat diri
sendiri dan tidak dipengaruhi oleh pihak lain. Identitas pribadi dan semua
informasi yang diberikan akan dirahasiakan dan hanya akan digunakan dalam
penelitian ini. Terimakasih atas partisipasi dan kerjasama ibu/bapak dalam
penelitian ini.
Responden Malang, Februari 2022
Peneliti
(Laily Achsani Takwima)
70
Lampiran 3
LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN PENELITIAN
(INFORMED CONSENT)
Kode Responden :
Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama/Inisial :
Usia :
Menyatakan dengan sesungguhnya setelah mendapatkan penjelasan
mengenai penelitian ini dan saya memahami informasi yang diberikan oleh
peneliti. Dengan menandatangani pernyataan ini saya dengan sebenar-benarnya
dan penuh kesadaran tanpa paksaan dari pihak lain dengan sukarela menjadi
responden dalam penelitian ini.
Peneliti Malang, Februari 2022
Responden
(Laily Achsani Takwima)
P17230194096
71
Lampiran 4
INSTRUMENT PENELITIAN
GAYA HIDUP LANSIA PENDERITA HIPERTENSI
RW 05, PONDOK AGUNG
LEMBAR KUESIONER PENELITIAN
Hari/Tanggal :
Kode :
Bagian A : Data Demografi
Jawablah daftar pertanyaan berikut ini dengan menuliskan tanda checklist (√)
pada kotak dan mengisi pada isian titik-titik yang telah tersedia.
1. Nama/Inisial :
2. Umur (tahun) :
3. Agama :( ) Islam
4. Jenis Kelamin ( ) Katholik
5. Pendidikan terakhir ( ) Protestan
6. Pekerjaan ( ) Budha
( ) Hindu
7. Lama hipertensi ) Laki-laki
:( ) Perempuan
( ) Tidak sekolah
) SD
:( ) SLTP/sederajat
( ) SLTA/sederajat
( ) Perguruan Tinggi
( ) Ibu Rumah Tangga
( ) Buruh
) PNS
:( ) Wiraswasta
( ) Petani
( ) Lainnya:……………………
(
( ) Teratur/Rutin
( ) Tidak teratur/Tidak rutin
:
8. Obat yang dikonsumsi:
9. Kepatuhan minum :(
obat (
72
Lampiran 4
Bagian B : Kuesioner Gaya Hidup
RECALL 24 JAM
Kode Responden :
Umur :
Waktu Ukuran
Makan
(Jam) Nama Makanan Bahan Makanan Brt
(gr)
URT
Pagi
Siang
Malam
Sumber: (Sirajuddin et al., 2018).
(Catatan: untuk melihat ukuran Recall 24 jam menggunakan pedoman Buku Foto
Makanan (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2014).
73
Lampiran 4
Kebiasaan Merokok
1. Apakah anda merokok ? ( ) Ya
( ) Tidak
(Jika tidak, lanjut ke nomor 6)
2. Umur berapa anda berhenti ( ) tahun
merokok?
3. Mulai umur berapa anda merokok ? ( ) tahun lama: ….
4. Sudah berapa lama anda merokok? ( ) 1-10 tahun
( ) > 10 tahun
5. Berapa batang anda merokok dalam ( ) <10 batang/hari
sehari? ( ) 11-20 batang/hari
( ) ≥20 batang/hari
6. Apakah dirumah anda ada yang ( ) Ya
mempunyai kebiasaan merokok? ( ) Tidak
7. Apakah ditempat kerja atau ( ) Ya
lingkungan Anda sering terpapar ( ) Tidak
asap rokok?
74
Lampiran 4
Pola Tidur
1. Selama seminggu terakhir, pukul Jawab :
berapa anda biasanya tidur di
malam hari ?
2. Selama seminggu terakhir, jam Jawab :
berapa anda biasanya bangun
setiap pagi?
3. Selama seminggu terakhir, berapa Jawab :
jam anda tidur di malam hari?
(jumlah jam pada tidur malam)
4. Selama seminggu terakhir, Tidak ada Sekali atau Lebih dari
dua kali 3x
seberapa sering anda mengalami selama seminggu seminggu
gangguan tidur, yang disebabkan seminggu
karena … terakhir
a. Tidak dapat tidur dalam waktu
30 menit
b. Terbangun di tengah malam
atau sangat pagi
c. Terbangun karena ingin ke
toilet
d. Tidak dapat bernafas dengan
nyaman
e. Batuk atau mendengkur
dengan keras
f. Merasa sangat kedinginan
g. Merasa sangat kepanasan
h. Mimpi buruk
i. Merasa nyeri Jawab :
j. Alasan lain, jelaskan…
75
Data Umum dan Data Khusus Gaya
di RW 05, Kelurah
Kepatuh
Jenis Pendidikan Lama Minum
No. Kelamin Terakhir Pekerjaan Hipertensi Obat
12 2 12 1
22 3 11 1
32 2 13 2
41 4 52 2
52 2 53 2
62 2 12 2
71 2 52 2
81 2 63 2
92 2 12 2
10 1 4 43 2
11 2 2 13 2
12 2 2 11 1
13 2 2 52 1
14 2 2 12 2
15 2 2 12 2
16 2 2 12 1
17 1 4 52 1
18 2 1 13 2
19 2 1 13 1
7
Lampiran 5
a Hidup Lansia Penderita Hipertensi
han Pondok Agung
han
m Konsumsi Konsumsi Konsumsi Kebiasaan Durasi
Tidur
t Natrium Sayur Buah Merokok
2
221 4 2
2
122 4 1
1
122 4 2
2
121 4 2
2
112 4 2
3
122 4 3
3
122 3 1
2
221 3 2
2
221 4 2
3
122 4
222 4
222 4
122 4
112 4
222 4
111 4
111 4
122 4
121 4
76
20 1 3 42 2
21 2 2 12 2
22 2 2 12 2
23 1 4 52 2
24 2 2 12 2
25 2 2 12 2
26 2 2 12 2
27 2 2 12 2
28 2 2 12 2
29 1 2 52 2
30 2 2 52 2
Keterangan: Pendidikan Terakhir:
Jenis Kelamin: 1= Tidak sekolah
1= Laki-laki 2 = SD
2= Perempuan 3= SLTP/sederajat
4= SLTA/sederajat
7
Lampiran 5
22 24 2
12 24 3
12 14 2
11 23 2
22 14 2
11 14 1
12 24 2
12 24 2
12 24 2
22 22 2
22 24 2
Pekerjaan: Lama Hipertensi:
1= Ibu rumah tangga
2= Buruh 1= <1 tahun
3= PNS
4= Wiraswasta 2= 1-10 tahun
5= Petani
6= Lainnya 3= >10 tahun
77 Kepatuhan Minum Obat:
1= Teratur
2= Tidak teratur
Konsumsi Natrium: Konsumsi Buah:
1= Normal (≤2000 mg/hari) 1= Baik (≥200 gr)
2= Tinggi (>2000 mg/hari) 2= Kurang (<200 gr)
Konsumsi Sayur: Kebiasaan Merokok:
1= Baik (≥400 gr) 1= >20 batang/hari
2= Kurang (<400 gr) 2= 11-20 batang/hari
3= ≤10 batang/hari
4= Bukan perokok
7
Lampiran 5
Durasi Tidur:
1= Baik (>7 jam)
2= Cukup (6-7 jam)
3= Kurang (<6 jam)
78
Lampiran 6
Ukuran Recall 24 Jam Lansia Penderita Hipertensi
di RW 05, Kelurahan Pondok Agung
No. Ukuran Natrium Ukuran Sayur Ukuran Buah
(mg/hari) (mg/hari) (mg/hari)
1 2232.7 135.0 450
2 970.4 230.0 140
3 423.5 155.0 150
4 784.8 30.0 360
5 1762.2 485.0 60
6 933.2 170.0 0
7 802.0 300.0 0
8 2321.8 75.0 200
9 2275.1 50.0 200
10 1459.4 350.0 80
11 3327.7 300.0 60
12 2231.4 300.0 0
13 1782.9 300.0 0
14 1116.7 530.0 61
15 2415.0 300.0 0
16 1244.5 560.0 250
17 1274.1 560.0 360
18 762.1 150.0 100
19 692.5 200.0 200
20 2688.0 0.0 150
21 1196.5 250.0 0
22 1511.8 0.0 280
23 704.2 500.0 90
24 2036.2 40.0 200
25 573.6 687.5 300
26 537.2 350.0 0
27 1052.0 300.0 0
28 788.3 150.0 0
29 2035.0 250.0 100
30 2392.4 200.0 200
Mean 1477.573 263.583 133.03
Minimum 423.5 0 0
Maximum 3327.7 687.5 450
79
Lampiran 7
80