Berdasarkan
(0,008 < 0,05
rata-rata pada
kelompok ko
3. Judul : 1. Desain : quasi eksperimen Kelompok in
Pengaruh dengan rancangan pretest- 1. Nilai
Nafas Dalam posttest with control group. respo
dan Posisi 2. Sampel : 30 sampel dalam
Terhadap 3. Inklusi dan Eksklusi : fowle
Saturasi Inklusi yaitu pasien asma 2. Hasil
Oksigen dan dengan kondisi sadar dan nilai p
Frekuensi kooperatif, mampu ada b
Nafas Pada berkomunikasi dengan baik SpO2
Pasien Asma dan mempunyai pendengaran interv
Penulis : Anita yang baik, bersedia menjadi panga
Yulia, responden dan mengikuti 3. Rata
Dahrizal, prosedur penelitian sampai sebelu
Widia Lestari akhir sedangkan eksklusi posisi
Kota : yaitu kelainan bawaan seperti 4. Hasil
Bengkulu deformitas dinding dada yang p valu
Tahun : 2019 tidak memungkinkan beda
dilakukan penelitian, pasien sebelu
asma dengan penurunan dan interv
posisi terhadap nilai saturasi panga
oksigen dan frekuensi napas Kelompok k
4. Tempat : IGD RSUD Dr. M. 1. Nilai
Yunus Bengkulu. respo
5. Variabel :
3
hasil uji ANOVA, p value Ada pengaruh pada Intervensi nafas
5) sehingga terdapat perbedaan
a kelompok intervensi dan nilai saturasi dalam dan posisi
ontrol
oksigen dan dapat diterapkan
ntervensi:
rata-rata saturasi oksigen dari 15 frekuensi napas pada pasien
onden sebelum diberikan napas
m dan pengaturan posisi semi yang signifikan asma.
er adalah 94,00
l analisis SpO2 menunjukkan ketika diberikan Modifikasi
p value = 0,001 < 0,05 sehingga
beda nilai rata-rata antara nilai intervensi napas teknik relaksasi
2 sebelum dan setelah diberikan
vensi napas dalam dan dalam dan posisi nafas dalam dan
aturan posisi semi fowler
– rata RR dari 15 responden semi fowler pada posisi semi
um napas dalam dan pengaturan
i semi fowler adalah 30,00 pasien asma. fowler
l analisis RR menunjukkan nilai
ue = 0,001 < 0,05 sehingga ada Latihan napas merupakan suatu
nilai rata-rata antara nilai RR
um dan setelah diberikan dalam dilakukan bentuk asuhan
vensi napas dalam dan
aturan posisi semi fowler karena keperawatan
kontrol:
rata-rata saturasi oksigen dari 15 memaksimalkan yang dapat
onden sebelum diberikan
ventilasi paru dan meningkatkan
mengurangi kerja ventilasi paru
otot pernapasan, dan
sehingga meningkatkan
meningkatkan oksigen dalam
perfusi dan darah
perbaikan alveoli
untuk
mengefektifkan
difusi oksigen yang
34
a. Variabel Terikat : penga
saturasi oksigen dan 93,13
frekuensi napas 2. Hasil
sebelum dan sesudah nilai p
dilakukannya ada b
intervensi napas SpO2
dalam dan pengaturan penga
posisi semi fowler 3. Rata–
selama 30 menit sebelu
b. Variabel Bebas : fowle
intervensi napas 4. Hasil
dalam dan posisi semi p val
fowler selama 30 beda
menit sebelu
6. Instrumen : alat Standar panga
Operasional Prosedur (SOP), Perbedaan r
stopwatch dan pulse oximeter setelah tin
7. Analisa Data : data dianalisa intervensi da
sebelum dan sesudah 1. Berda
intervensi napas dalam dan p valu
pengaturan posisi semi disim
fowler selama 30 menit rata a
dengan menggunakan interv
a. uji Wilcoxom untuk 2. Berda
dibandingkan apakah p valu
ada pengaruh posisi disim
semi fowler dan napas rata
dalam terhadap dan k
3
aturan posisi semi fowler adalah akan meningkatkan
3
l analisis SpO2 menunjukkan kadar oksigen
p value = 0,001 < 0,05 sehingga
beda nilai rata-rata antara nilai dalam paru dan
2 sebelum dan setelah diberikan
aturan posisi semi fowler meningkatkan
–rata RR dari 15 responden
um pengaturan posisi semi saturasi oksigen.
er adalah 30,93
l analisis RR menunjukkan nilai Pengaturan posisi
lue = 0,001<0,05 sehingga ada
semi fowler
nilai rata-rata antara nilai RR
um dan setelah diberikan dilakukan karena
aturan posisi semi fowler
rata-rata nilai SpO2 dan RR dapat
ndakan antara kelompok
an kelompok kontrol: meningkatkan
asarkan hasil uji mann whitney,
ue = 0,009 < 0,05 sehingga dapat ventilasi paru dan
mpulkan ada perbedaan nilai rata-
antara nilai SpO2 pada kelompok meningkatkan
vensi dan kelompok kontrol.
asarkan hasil uji mann whitney, oksigen dalam
ue = 0,012 < 0,05 sehingga dapat
mpulkan ada perbedaan nilai rata- darah
RR pada kelompok intervensi
kelompok kontrol.
35
saturasi oksigen dan
frekuensi napas pada
pasien asma
b. Uji mann whitney
untuk menguji
perbandingan 2
populasi yang sama
dengan median atau
nilai tengah yang
berbeda.
4. Judul : 1. Desain : Quasy Experiment Kelompok in
Perbedaan dengan rancangan pre-post 1. Nilai
Efektivitas test with control group 14
Posisi Semi design. nebul
Fowler Dan 2. Sampel : 28 sampel 94,43
High Fowler 3. Inklusi : pasien asma 2. Ada
Terhadap 4. Tempat : IGD RSUD satura
Saturasi Kabupaten Klungkung. yang
Oksigen Pada 5. Variabel : dan
Pasien Asma a. Variabel Terikat : fowle
Yang saturasi oksigen Kelomok ko
Diberikan sebelum dan sesudah 1. Nilai
Nebulizer Di diberikan pengaturan respo
Rumah Sakit posisi semi fowler dan denga
Umum Daerah high fowler yang 2. Ada
Kabupaten diberikan nebulizer satura
Klungkung yang
3
ntervensi: Hasil penelitian ini High fowler
i rata-rata saturasi oksigen dari
menunjukan ada lebih efektif
responden yang diberikan
lizer dengan posisi semi fowler perbedaan saturasi meningkatkan
3%
oksigen yang saturasi oksigen
perbedaan yang signifikan
asi oksigen pada pasien asma signifikan pada saat daripada Semi
diberikan nebulizer sebelum posisi semi fowler fowler hal ini
setelah diberikan posisi semi
er dengan p value < 0,05 dan high fowler disebabkan
ontrol:
rata-rata saturasi oksigen dari 14 terhadap pasien karena
onden yang diberikan nebulizer
an posisi high fowler 94,43% asma yang pada pemberian
perbedaan yang signifikan diberikan nebul. posisi high
asi oksigen pada pasien asma
Posisi high fowler fowler
diberikan nebulizer sebelum
lebih efektif melibatkan otot
meningkatkan diafragma dan
saturasi oksigen otot interkosta
karena dapat eksternal.
menghilangkan
tekanan pada
diafragma sehingga
36
Penulis : b. Variabel Bebas : dan
Tjokorda Istri posisi semi fowler dan fowle
Eka high fowler Perbedaan r
Anggayanthi, 6. Instrumen : pulse oximeter kelompok
Putu Wira 7. Analisa Data : uji kontrol:
Kusuma Putra, Independen T Test untuk Berdasarkan
Ida Ayu Agung membandingkan rata rata dua 0,015 < 0,05
Laksmi grup yang tidak berhubungan rata-rata sat
Kota : satu dengan yang lain (dua intervensi da
Klungkung sampel bebas)
Tahun : 2019
5. Judul : 1. Desain : Quasi Eksperiment Kelompok in
Perbedaan dengan menggunakan 1. Rata-
Posisi Tripod rancangan separate sampel respo
Dan Posisi pretest posttest. tripod
Semi Fowler 2. Sampel : 22 sampel 2. Rata-
Terhadap 3. Inklusi : pasien asma respo
Peningkatan 4. Tempat : RS Paru dr. Ario tripod
Saturasi Wirawan Salatiga. 3. Uji de
sebes
Oksigen Pada 5. Variabel :
Pasien Asma a. Variabel Terikat : saturasi menu
Di RS Paru dr. oksigen sebelum dan secara
Ario Wirawan sesudah diberikan oksig
Salatiga intervensi posisi tripod dan diberi
Penulis : Dwi saturasi oksigen sebelum asma
Istiyani, Sri dan sesudah diberikan
Puguh intervensi posisi semi
fowler
3
setelah diberikan posisi high dapat
er dengan p value < 0,05 meningkatkan
rata-rata saturasi oksigen pada fungsi ventilasi
paru
intevensi dan kelompok
hasil uji t indepen, p value =
5 menunjukkan ada perbedaan
turasi oksigen pada kelompok
an kelompok kontrol.
ntervensi: Berdasarkan hasil Pemberian
-rata nilai saturasi oksigen 11 penelitian ini posisi semi
onden sebelum diberikan posisi terdapat perbedaan fowler pada
d yaitu 88,27% setelah dilakuakn pasien asma
-rata nilai saturasi oksigen 11 posisi tripod dan dalam bernapas
onden sesudah diberikan posisi posisi semi fowler dapat dibantu
d yaitu 97,18% terhadap dengan
ependen, didapatkan p value peningkatan nilai memanfaatkan
sar 0,000 < α (0,05), ini saturasi oksigen. gaya gravitasi
unjukan bahwa ada perbedaan Pemberian posisi bumi dimana
a bermakna nilai saturasi tripod lebih efektif adanya gaya
gen sebelum dan sesudah meningkatkan tarikan dari
ikan posisi tripod pada pasien saturasi oksigen punggung atau
karena dapat pelebaran pada
membantu ekspansi jalan napas.
dada menjadi lebih
baik. Posisi ini
37
Kristiyawati, b. Variabel Bebas : posisi Kelompok k
Supriyadi tripod dan posisi semi 1. Rata-
Kota : fowler respo
Semarang semif
Tahun : 2015 6. Instrumen : oksimetri nadi 2. Rata-
7. Analisa Data : respo
semif
a. Analisis univariat : Uji 3. Uji de
normalitas sebes
menu
b. Analisis bivariat : untuk secara
menguji hipotesis baik itu oksig
uji hipotesis hubungan dua diberi
variabel atau uji hipotesis pasien
perbedaan di antara dua
variabel Perbedaan p
dan kelompo
peningkatan
Berdasarkan
(0,000 < 0,05
perbedaan sa
intervensi da
3
kontrol: efektif dalam
-rata nilai saturasi oksigen 11 menurunkan sesak
onde sebelum diberikan posisi napas dan
fowler sebesar 87,91% meningkatkan
-rata nilai saturasi oksigen 11 fungsi paru serta
onden sesudah diberikan posisi meningkatkan
fowler sebesar 92,64% saturasi oksigen
ependen, didapatkan p value secara signifikan.
sar 0,000 < α (0,05), ini
unjukan bahwa ada perbedaan
a bermakna nilai saturasi
gen sebelum dan sesudah
ikan posisi semi fowler pada
n asma
pengaruh kelompok intervensi
ok kontrol terhadap
n saturasi oksigen:
hasil uji t independen, p value
5) menunjukkan terdapat
aturasi oksigen pada kelompok
an kelompok kontrol
38
39
Lima artikel menyajikan data mengenai pengaruh posisi semi fowler
terhadap perubahan saturasi oksigen pada pasien asma bronkial. Berdasarkan
tabel 1 sampai 5 responden dalam penelitian ini adalah pasien asma. Jumlah
sample paling sedikit adalah 20 responden sedangkan paling banyak 35
responden.
Pemberian posisi semi fowler pada pasien asma merupakan faktor utama
yang dapat menigkatkan nilai saturasi oksigen, dengan artikel 1, 2, 3, 4, dan 5
menyatakan bahwa pemberian posisi semi fowler berhubungan dengan nilai
saturasi oksigen dalam tubuh. Disamping itu artikel 1 menyatakan bahwa pada
dasarnya oksigen juga dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu usia, jenis
kelamin, nutrisi, ekspansi paru serta cara pemberian oksigen. Sedangkan artikel
2, 3, 4 dan 5 sepakat bahwa dengan posisi semi fowler dapat meningkatkan
kapasitias ventilasi pada paru dan mengurangi tekanan pada diafragma.
4.2 Pembahasan
Hasil dari review lima jurnal mengatakan saturasi oksigen pada sampel
pasien asma bronkial dibawah normal yaitu < 95%. Saturasi oksigen yang
tidak normal inilah yang membuat perawat melakukan tindakan mandiri
perawat yaitu dapat dilakukan dengan cara mengatur posisi istirahat yang
nyaman, sehingga otot napas tambahan dapat bekerja dengan baik.
Perubahan posisi semi fowler pada pasien asma ini dilakukan karena adanya
gaya gravitasi yang menarik diafragma kebawah sehingga ekspansi paru
jauh lebih baik pada posisi semi fowler (Eka et al., 2019).
Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
(Yulia et al., 2019) ditemukan tinggi respirasi sebelum diberikan pengaturan
40
posisi semi fowler. Hal ini disebabkan karena asma dapat menyebabkan
terjadinya penyempitan saluran pernapasan yang diinterprestasikan melalui
sesak napas dan penurunan saturasi oksigen dalam tubuh. Masalah tersebut
dapat dikurangi jika pasien asma diberikan pengaturan posisi semi fowler
karena dapat meringankan kemampuan pengembangan dinding dada.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan didapatkan peningkatan
saturasi oksigen setelah dilakukannya posisi semi fowler dikarenakan posisi
semi fowler memberi kenyamanan pada pasien asma bronkial. Metode yang
sangat sederhana untuk mengurangi resiko penurunan pengembangan
dinding dada dengan posisi semi fowler yaitu tempat tidur dimana posisi
kepala tubuh ditinggikan 15o hingga 45o. Posisi ini biasanya disebut dengan
posisi fowler rendah dan biasanya ditinggikan setinggi 30o (Kozier dan
Erb’s, 2014)
Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa adanya
pengaruh yang signifikan terhadap perubahan saturasi oksigen sebelum dan
sesudah dilakukannya pengaturan posisi semi fowler. Karena posisi pasien
juga dapat menjadi salah satu yang dapat memperberat keadaan asma dan
nilai saturasi oksigen sangat dipengaruhi oleh posisi istirahat yang nyaman,
sehingga otot napas tambahan dapat bekerja dengan baik. Jadi dilakukanlah
pengaturan posisi semi fowler atau posisi setengah duduk dimana bagian
kepala dinaikan bagian kepala tempat tidur lebih tinggi dan posisi ini
dilakukan dikarenakan adanya gaya gravitasi yang menarik diafragma
kebawah sehingga ekspansi paru jauh lebih baik pada posisi semi fowler
(Eka et al., 2019).
41
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Istiyani
et al., 2016) posisi semi fowler yang diberikan dengan cara pengaturan
elevasi kepala dan leher meningkatkan ekspansi paru dan efisiensi otot
pernapasan. Dengan pemberian psosisi ini, pasien asma dalam bernapas
dapat dibantu dengan memanfaatkan gaya gravitasi bumi dimana adanya
gaya tarikan dari punggung atau pelebaran pada jalan napas. Pelebaran pada
jalan napas dapat meningkatkan inspirasi oksigen, dengan demikian asupan
oksigen yang dibutuhkan tubuh dapat terpenuhi sehingga pada pengukuran
saturasi oksigen juga ikut meningkat.
Dengan ini bahwa pengaturan posisi semi fowler sangat berpengaruh
terhadap perubahan saturasi oksigen pada pasien asma bronkial karena
sebelum dilakukan pengaturan posisi semi fowler saturasi oksigen kurang
dari normal dan setelah dilakukan pengaturan posisi semi fowler saturasi
oksigen mengalami peningkatan. Didukung oleh penelitian yang dilakukan
(Istiyani et al., 2016) Bahwa rata – rata nilai saturasi oksigen pasien asma
sebelum diberikan posisi semi fowler 87,91% kemudian meningkat menjadi
92,64% sesudah diberikan posisi semi fowler. Berdasarkan uji t dependen,
didapatkan p-value sebesar 0,000. Terlihat bahwa p-value 0,000 < α (0,05),
ini menunjukan bahwa ada perbedaan secara bermakna nilai saturasi
oksigen sebelum dan sesudah diberikan posisi semi fowler pada pasien
asma.
Dari kelima artikel dijelaskan bahwa peningkatan saturasi oksigen pada
pasien asma bronkial bukan hanya dilakukan dengan posisi semi fowler saja
namun juga dapat dilakukan dengan pemberian intervensi yang lain berupa
42
posisi fowler, posisi high fowler, posisi tripod, nebulizer, terapi oksigen dan
latihan napas dalam. Semua tindakan tersebut sama – sama menunjukkan
peningkatan yang signifikan terhadap saturasi oksigen pada pasien asma
bronkial.
Perbandingan terhadap posisi semi fowler dan fowler pada pasien asma
yang diberikan terapi oksigen memiliki hasil yang sama yaitu menunjukkan
peningkatan saturasi oksigen karena pemberian kedua posisi tersebut
meningkatkan ekspansi paru. Peningkatan ekspansi paru ini menjadikan
proses respirasi eksternal dan internal lebih baik. Pertukaran O2 dari udara
di dalam alveolus dengan CO2 dalam kapiler darah membaik dan pertukaran
O2 dari aliran darah dengan CO2 dari sel-sel jaringan tubuh juga turut
membaik. Proses pengikatan oksigen dimulai dari O2 masuk ke dalam darah
melalui difusi melewati membran alveolus dikarenakan alveolus memiliki
O2 lebih tinggi dari O2 di dalam darah. Sebagian besar O2 di dalam darah
diikat oleh Hb yang terdapat pada eritrosit dan menjadi oksihemoglobin
(HbO2). Setelah berada di dalam darah, O2 kemudian masuk ke jantung
melalui vena pulmonaris untuk diedarkan ke seluruh tubuh yang
membutuhkan jaringan sel untuk proses oksidasi. Hal ini yang membuat
saturasi oksigen mengalami peningkatan (Putra, 2016).
Pertukaran gas di tingkat kapiler paru dan kapiler jaringan berlangsung
secara difusi pasif sederhana O2 dan CO2 menuruni gradien tekanan parsial.
Peristiwa difusi merupakan peristiwa pasif yang tidak memerlukan energi
ekstra. Tidak terdapat mekanisme transport aktif dalam pertukaran gas-gas
ini. Suatu tekanan yang ditimbulkan secara independen atau tersendiri oleh
43
masing-masing gas dalam suatu campuran gas disebut tekanan parsial gas.
Hukum yang berlaku sehingga terjadi pertukaran udara yaitu hukum dalton
tentang tekanan parsial gas. Dalam hukum dalton disebutkan bahwa total
tekanan suatu campuran gas adalah sama dengan jumlah tekanan parsial dari
masing-masing bagian gas (Putra, 2016).
pemberian kedua posisi tersebut meningkatkan ekspansi dada dan
ventilasi paru sehingga hal tersebut membuat oksigen di dalam paru–paru
meningkat dan posisi ini juga berpengaruh pada transport oksigen menjadi
optimal. Transport oksigen yang optimal ini membuat kadar oksigen
didalam darah meningkat dan saturasi oksigen menjadi meningkat. Dalam
hal ini, pemberian terapi oksigen juga menjadi salah satu faktor dalam
memperngaruhi peningkatan saturasi oksigen karena dapat memperbaiki
hipoksemia sehingga membuat kadar oksigen dalam darah meningkat.
Pemberian posisi semi fowler dan high fowler dengan nebulizer dan
terapi oksigen juga didapatkan hasil berupa peningkatan saturasi oksigen
karena dengan nebulizer dapat mengatasi gejala penyempitan saluran
pernapasan sehingga jumlah oksigen yang masuk ke paru - paru akan
meningkat (ventilasi meningkat) dan kadar oksihemoglobin (HbO2) juga
meningkat. Dengan adanya peningkatan kadar HbO2 maka saturasi oksigen
ikut meningkat. Perubahan saturasi oksigen dan frekuensi napas pada pasien
asma juga dapat dipengaruhi oleh pemberian intervensi napas dalam.
Intervensi napas dalam dilakukan karena dapat memaksimalkan ventilasi
paru dan mengurangi kerja otot pernapasan sehingga meningkatkan perfusi
dan perbaikan alveolus untuk mengefektifkan difusi oksigen yang mana
44
perpindahan keluar masuk oksigen ke dalam aliran darah menjadi optimal,
sehingga kadar HbO2 meningkat dan meningkatkan saturasi oksigen.
Pemberian posisi semi fowler dan high fowler pada pasien asma yang
diberi nebulizer menunjukkan terdapat perbedaan saturasi oksigen. Posisi
high fowler lebih efektif meningkatkan saturasi oksigen karena dapat
menghilangkan tekanan pada diafragma sehingga dapat meningkatkan
fungsi ventilasi paru dan kadar oksihemoglobin (HbO2) juga meningkat.
Dengan adanya peningkatan kadar HbO2 maka saturasi oksigen ikut
meningkat. Perbandingan antara posisi tripod dan posisi semi fowler
didapatkan hasil bahwa pemberian posisi tripod lebih efektif meningkatkan
saturasi oksigen karena dapat membantu ekspansi dada menjadi lebih baik
yang menyebabkan terjadinya pengembangan volume paru–paru saat
seseorang menarik napas dan menghembuskannya. Hal tersebut membuat
lebih banyak oksigen masuk ke dalam paru-paru sehingga pertukaran gas
membaik dan kadar oksigen dalam darah menjadi meningkat.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Terdapat perubahan yang signifikan pada sebelum dan sesudah
pemberian posisi semi fowler terhadap saturasi oksigen pada pasien asma
bronkial. Pemberian posisi semi fowler ini dapat menarik diafragma ke
bawah dikarenakan adanya gaya gravitasi sehingga ekspansi paru jauh lebih
baik. Peningkatan ekspansi paru ini menjadikan proses respirasi eksternal
dan internal lebih baik. Pertukaran O2 dari udara di dalam alveolus dengan
CO2 dalam kapiler darah membaik dan pertukaran O2 dari aliran darah
dengan CO2 dari sel-sel jaringan tubuh juga turut membaik. Proses
pengikatan oksigen dimulai dari O2 masuk ke dalam darah melalui difusi
melewati membran alveolus dikarenakan alveolus memiliki O2 lebih tinggi
dari O2 di dalam darah. Sebagian besar O2 di dalam darah diikat oleh Hb
yang terdapat pada eritrosit dan menjadi oksihemoglobin (HbO2). Setelah
berada di dalam darah, O2 kemudian masuk ke jantung melalui vena
pulmonaris untuk diedarkan ke seluruh tubuh yang membutuhkan jaringan
sel untuk proses oksidasi. Hal ini yang membuat saturasi oksigen mengalami
peningkatan. Tetapi dalam penelitian ini, posisi semi fowler juga didukung
dengan intervensi yang lain. Intervensi tersebut berupa terapi oksigen,
nebulizer, latihan napas dalam dan dibandingkan dengan posisi fowler, high
fowler, dan posisi tripod. Semuanya memiliki hasil yang signifikan dalam
peningkatan saturasi oksigen.
45
46
5.2 Saran
Berdasarkan hasil temuan dalam penelitian ini, maka dapat
dikemukakan beberapa saran sebagai berikut :
5.2.1 Bagi penderita asma
Penderita yang memiliki saturasi oksigen dibawah 95%
sangat dianjurkan untuk mengatur posisi tidurnya dengan posisi
semi fowler untuk meningkatkan ekspansi paru dan kenyamanan.
5.2.2 Bagi tenaga kesehatan
Dijadikan acuan dalam menyusun program edukasi pada
pasien asma bronkial dalam melakukan posisi semi fowler untuk
meningkatkan saturasi oksigen.
DAFTAR PUSTAKA
Adha Nur Qahar. (2018). Desain Alat Ukur Denyut Jantung Dan Saturasi
Oksigen Pada Anak Menggunakan Satu Sensor.
https://dspace.uii.ac.id/handle/123456789/11820
Arifian, L., & Kismanto, J. (2018). PENGARUH PEMBERIAN POSISI SEMI
FOWLER TERHADAP RESPIRATION RATE PADA PASIEN ASMA
BRONKIAL DI PUSKESMAS AIR UPAS KETAPANG. Jurnal Kesehatan
Kusuma Husada, 134–141. https://doi.org/10.34035/JK.V9I2.272
Boki, A., Rolly, M., Franly, R., Program, O., Keperawatan, S. I., & Kedokteran,
F. (2015). PENGARUH PEMBERIAN POSISI SEMI FOWLER
TERHADAP KESTABILAN POLA NAPAS PADA PASIEN TB PARU DI
IRINA C5 RSUP PROF Dr. R. D. KANDOU MANADO. JURNAL
KEPERAWATAN, 3(1). https://doi.org/10.35790/JKP.V3I1.6696
Bramanto, W. (2013). (92) Makalah asma bronchial | widi bramanto -
Academia.edu.
https://www.academia.edu/35556045/Makalah_asma_bronchial
Cozier, Barbara. (2009). Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep, Proses, &
Praktik. Jakarta: EGC.
Eka, A. T. I., Kusuma, putra P. W., & Agung, L. I. A. (2019). Perbedaan
Efektivitas Posisi Semi Fowler Dan High Fowler Terhadap Saturasi Oksigen
Pada Pasien Asma Yang Diberikan Nebulizer Di Rumah Sakit Umum
Daerah Kabupaten Klungkung. XII(2), 119–124.
Elon, Y., & Marbun, F. (2019). TEKANAN DARAH BERDASARKAN POSISI
FLAT ON BED, SEMIFOWLER DAN FOWLER PADA VARIASI
KELOMPOK USIA. Jurnal Skolastik Keperawatan, 3(2), 124–131.
https://doi.org/10.35974/jsk.v3i2.746
Erb’s, K. (2014). Kozier and Erb’s fundamentals of nursing : concepts process
and practice. https://lib.ui.ac.id/detail.jsp?id=20397954
Fadlilah, S., Rahil, N. H., & Lanni, F. (2020). ANALISIS FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI TEKANAN DARAH DAN SATURASI OKSIGEN
PERIFER (SPO2). Jurnal Kesehatan Kusuma Husada, 21–30.
https://doi.org/10.34035/JK.V11I1.408
Firdaus, S., Ehwan, M. M., & Rachmadi, A. (2019). Efektivitas Pemberian
Oksigen Posisi Semi Fowler Dan Fowler Terhadap Perubahan Saturasi Pada
Pasien Asma Bronkial Persisten Ringan. JKEP, 4(1), 31–43.
https://doi.org/10.32668/JKEP.V4I1.278
GINA. (2021). Global Initiative for Asthma – GINA 2021. Bethesda: Global
Strategy for Asthma Management and Prevention. Ginasthma.Org, 217.
Giuliano, K. K., & Higgins, T. L. (2005). New-Generation Pulse Oximetry in the
47
48
Care of Critically Ill Patients. American Journal of Critical Care, 14(1), 26–
37. https://doi.org/10.4037/AJCC2005.14.1.26
Istiyani, D., Kristiyawati, sri pungguh, & Supriyadi. (2016). Perbedaan Posisi
Tripod Dan Posisi Semi Fowler Terhadap Peningkatan Saturasi Oksigen
Pada. Jurnal Ilmu Keperawatan Dan Kebidanan (JIKK), 1–10.
Kemenkes RI. (2019). Hari Asma Sedunia 2019 : Dukungan Global untuk
Penyandang Asma dan Keluarganya - Direktorat P2PTM.
http://p2ptm.kemkes.go.id/kegiatan-p2ptm/pusat-/hari-asma-sedunia-2019-
dukungan-global-untuk-penyandang-asma-dan-keluarganya
Kurniawan. (2008). ASUHAN KEPERAWATAN PADA KELUARGA Tn.A
DENGAN GANGGUAN SISTEM PERNAFASAN: ASMA BRONKIAL PADA
Ny. S DI PUSKESMAS TANJUNG, JUWIRING, KLATEN - UMS ETD-db.
http://eprints.ums.ac.id/2923/
Nugroho, S.Kep.Ns., MNS, F. A. (2019). Tingkat Kualitas Tidur Pada Pasien
Gagal Jantung Kongestif (CHF) Dengan Posisi Tidur Semi Fowler, Semi
Fowler Miring Kanan, Dan Semi Fowler Miring Kiri di Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah Gombong. Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, 15(1),
40–46. https://doi.org/10.26753/JIKK.V15I1.326
Nugroho, C. R. (2019). ALAT PENGUKUR SATURASI OKSIGEN DALAM
DARAH MENGGUNAKAN METODE PPG REFLECTANCE PADA
SENSOR MAX30100.
Oktarini, S. (2019). Pengaruh Teknik Pernafasan Buteyko terhadap Frekuensi
Kekambuhan Asma pada Penderita Asma Bronkhial Di UPT Puskesmas
Wilayah Kerja Lima Kaum 1 Kabupaten Tanah Datar. Jurnal Amanah
Kesehatan, 1(2), 23–27. https://doi.org/10.55866/JAK.V1I2.24
PDPI. (2003). Guideline_Asma_PDPI_2003. Pedoman Diagnosis
Danpenatalaksanaan Asma Di Indonesia.
Prince, SA, Wilson, LM 2006, Pathophyfisiology: Clinical Concepts Of Disease
Processes, vol.2, edk 6,EGC. Jakarta
Putra, K. A. H. & A. M. (2016). Fisiologi Ventilasi Dan Pertukaran Gas. Journal
Respiratory, http://simdos.unud.ac.id/uploads/file_penelitian_1_dis, 30.
Refi Safitri, A. A. (2011). KEEFEKTIFAN PEMBERIAN POSISI SEMI
FOWLER TERHADAP PENURUNAN SESAK NAFAS PADA PASIEN
ASMA DI RUANG RAWAT INAP KELAS III RSUD Dr. MOEWARDI
SURAKARTA | Safitri | Gaster. Jurnal Aiska University, 8, 783–792.
http://jurnal.aiska-university.ac.id/index.php/gaster/article/view/29
Santoso, K. (2020). STUDI LITERATUR : PEMBERIAN POSISI SEMI FOWLER
PADA PASIEN TB PARU DENGAN MASALAH KEPERAWATAN
KETIDAKEFEKTIFAN POLA NAFAS - Umpo Repository.
http://eprints.umpo.ac.id/6156/
Saranani, M. (2016). View of Efektifitas Posisi Semi Fowler Terhadap Penurunan
49
Sesak Nafas Pada Pasien Asma Bronchiale Di RSUD Kota Kendari. Jurnal
Ilmiah Ilmu Keperawatan Dan Kedokteran Komunitas. https://stikesks-
kendari.e-journal.id/TJ/article/view/328/149
Singh, D., & Brightling, C. (2022). Bronchiectasis, the Latest Eosinophilic
Airway Disease: What About the Microbiome? American Journal of
Respiratory and Critical Care Medicine, 205(8), 860–862.
https://doi.org/10.1164/RCCM.202201-0105ED
Sucahyono, W. (2012). Repositori Institusi | Universitas Kristen Satya Wacana:
Identifikasi Penempatan Posisi Terhadap Saturasi Oksigen pada Pasien
Penyakit Paru Obstruksi Kronis di Ruang Dahlia Rumah Sakit Paru Dr. Ario
Wirawan Salatiga. Program Studi Ilmu Keperawatan FIK-UKSW.
https://repository.uksw.edu/handle/123456789/2023
Sukmana, M., Miharja, E., Nopriyanto, D., Parellangi, A., & Muda, I. (2020).
MODUL PRAKTIK KLINIK HOMECARE.
https://repository.unmul.ac.id/handle/123456789/6279
Supadi. (2008). Analisis Hubungan Posisi Tidur Semi Fowler dengan Kualitas
Tidur pada Klien Gagal Jantung di RSUD Banyumas Jawa Tengah.
Universitas Indonesia, IV(02), 97–108.
http://lib.ui.ac.id/detail?id=20438095&lokasi=lokal
Susatia, B., Wildan, M., Mustafa, A., & Rahman, N. (2020). New_PEDOMAN
KTI STUDI LITERATUR.
Suwaryo, P. A. W., Amalia, W. R., & Waladani, B. (2021). Efektifitas Pemberian
Semi Fowler dan Fowler terhadap Perubahan Status Pernapasan pada Pasien
Asma. Proceeding of The URECOL, 1–8.
http://repository.urecol.org/index.php/proceeding/article/view/1245
Tanjung, D. (2003). Asuhan Keperawatan Asma Bronkial. Universitas Sumatra
Utara, 1–10.
Wijayati, S., Ningrum, D. H., & Putrono, P. (2019). Pengaruh Posisi Tidur Semi
Fowler 450 Terhadap Kenaikan Nilai Saturasi Oksigen Pada Pasien Gagal
Jantung Kongestif Di RSUD Loekmono Hadi Kudus. Medica Hospitalia :
Journal of Clinical Medicine, 6(1), 13–19.
https://doi.org/10.36408/MHJCM.V6I1.372
Yulia, A., Dahrizal, D., & Lestari, W. (2019). Pengaruh Nafas Dalam dan Posisi
Terhadap Saturasi Oksigen dan Frekuensi Nafas Pada Pasien Asma. Jurnal
Keperawatan Raflesia, 1(1), 67–75. https://doi.org/10.33088/jkr.v1i1.398
50
51
52
53
54
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Curriculum Vitae
A. DATA PRIBADI : Ahmad Rajiv Qalbi
1. Nama : Probolinggo, 24 Maret 2001
2. Tempat & Tanggal Lahir : Laki-laki
3. Jenis Kelamin : Islam
4. Agama : Perum Leces Permai D24
5. Alamat Asal
Rt 04 Rw 06
6. No. Telepon Kec. Leces Kab. Probolinggo
7. Email Prov. Jawa Timur, 67273
: 089676563776
: [email protected]
B. RIWAYAT PENDIDIKAN FORMAL
1. TK : TK TARUNA Dra. ZULAEHA (2005-2007)
2. SD : SD TARUNA Dra. ZULAEHA (2007 - 2013)
3. SMP : SMP TARUNA Dra. ZULAEHA (2013 - 2016)
4. SMA : SMA TARUNA Dra. ZULAEHA (2016 - 2019)