The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Susilo Slo, 2024-01-08 20:39:01

Bina Pribadi Islam

BAB 1 Kunci Ma'rifat

disusun oleh : Susilo, SE.,MM ISLAM BINA PRIBADI YAYAYSAN DARUL MUKMIN KARIMUN


BINA PRIBADI ISLAM YAYASAN DARUL MUKMIN KARIMUN Tahun 2024 BAB 1 (khusus untuk internal Yayasan Darul Mukmin Karimun)


BAB 1 Kunci Ma’rifat etahuilah bahwa kunci makrifat kepada Allah adalah mengenal jati diri dan mengetahui hakikat nafsu. Hal ini sejalan dengan firman Allah, “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di seluruh penjuru bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tidak cukupkah bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (QS Fushilat [41]: 53). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Siapa saja yang mengenal dirinya, maka dia akan mengenal tuhannya.” Artinya, tidak ada yang lebih dekat dengan kita kecuali diri kita sendiri. Sehingga ketika kita tidak mengenal diri sendiri, bagaimana mengenal tuhan kita? Namun, maksud “mengenal diri” di sini bukan mengenal diri dalam pengertian biasa. Boleh jadi ada orang yang berkata, “Saya sudah mengenal diri saya,” namun maksudnya adalah mengenal diri secara zahir atau fisiknya saja, yang terdiri dari tubuh, tangan, kaki, kepala, dan seterusnya. Sementara sesuatu yang ada di balik tubuh tidak diketahui, dimana ketika marah dia ingin memusuhi, ketika berhasrat dia ingin menikah, ketika lapar dia ingin makan, ketika haus dia ingin minum, dan seterusnya. Pada tingkatan ini, kita sama dengan hewan atau binatang. Karena itu, kita harus mengetahui hakikat diri kita yang sesungguhnya, sehingga kita tahu, terdiri dari apa diri kita, dari mana diri kita berasal sehingga sampai di tempat ini, untuk apa kita diciptakan, karena apa kita berbahagia, dan karena apa kita sengsara? Ketahui pula bahwa dalam diri kita terkumpul sifat-sifat kebinatangan, sifat-sifat hewan buas, sifat-sifat setan, dan sifat-sifat malaikat. Pantaslah Allah menyatakan dalam Al-Qur’an, Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya, (QS As-Syams [91]:8).


Semakin jauh dari sifat-sifat kebinatangan, semakin jauh dari sifat-sifat setan, dan semakin dekat dengan sifat-sifat malaikat, maka semakin luhur derajat kita sekaligus semakin dekat dengan kebahagiaan hakiki. Makanya manusia harus tahu yang diinginkan oleh sifat-sifat tersebut, apa saja makanannya, dan di manakah letak kebahagiaan masing-masing. Kebahagiaan hewan terletak pada makan, minum, tidur dan lainnya. Jika kita tergolong mereka, maka yang kita pentingkan tentunya adalah isi perut, tidur. Kemudian kebahagiaan hewan buas terletak pada memukul dan mencabik-cabik tubuh lawan atau mangsa. Kemudian kebahagiaan setan terletak pada perbuatan tipu daya dan berbagai keburukan. Jika kita bagian dari mereka, maka lakukanlah perbuatan-perbuatan tersebut. Sementara kebahagiaan malaikat terletak pada menyaksikan keindahan hadirat Allah. Tidak ada jalan sedikit pun bagi para malaikat untuk marah atau memenuhi keinginan syahwat. Jika kita merasa satu tujuan dengan para malaikat, maka berusahalah mengetahui jati diri sendiri agar bisa mengenal Allah dan berhasil menggapai kebahagiaan yang hakiki nan abadi. Sebab, kebahagiaan yang hakiki berada di sisi Dzat Yang Abadi, menyaksikan keagungan dan keindahanNya tanpa penghalang apa pun. Pada saat yang sama, kita harus berusaha mengenali sifat-sifat yang dominan pada diri kita, membebaskan diri dari sifat-sifat hewan dan setan, menjauhkan diri dari tipu daya nafsu dan amarah, dan mendekatkan diri dengan sifat-sifat para malaikat. Namun, hal ini tidak boleh dipahami bahwa kita tidak boleh makan, minum, tidur, dan kawin dengan pasangan, melainkan menjadikan nafsu sebagai tahanan kita, bukan kita yang menjadi tawanannya. Sebab, Allah menciptakan nafsu untuk melestarikan kehidupan kita, bukan untuk menghancurkan kehidupan. Maka jadikanlah nafsu di belakang kita, bukan di depan kita. Jadikan nafsu sebagai kendaraan kita mencapai tujuan, bukan untuk menggagalkan tujuan. Setibanya di tujuan, letakkanlah kembali nafsu pada tempatnya, yakni di bawah kendali makrifat, hati, dan akal sehat kita. Fokuslah pada tempat dan sumber kebahagiaan, yakni Allah swt. Sebab, itulah tempat kebahagiaan hakiki dan abadi. Siapa pun yang menginginkan kebahagiaan itu haruslah mengetahui hakikat dirinya dan makrifat kepada Tuhannya. Demikian penjelasan tentang kunci makrifat kepada Allah dan kebahagiaan hakiki sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Ghazali (Lihat: Kimiya as-Sa‘adah, haj. 124 Sumber : M. Tatam Wijaya & dan Lainnya


1.Tekad yang Kuat seorang Muslim Suatu saat, seseorang pernah bertanya kepada Ibnu Al-Jauzi. Orang tersebut menanyakan perihal bolehkah ia bersenang-senang dan berhibur sejenak untuk melupakan sementara waktu akan kepenatan hidup? Ibnu Al-Jauzi yang dikenal pakar dan piawai itu pun menjawab, “Jangan biarkan dirimu lalai,” kata tokoh yang bernama lengkap Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Al-Jauzi Al-Qurasyi Al-Baghdadi itu. Demikian juga dengan Ahmad bin Hanbal. Ia memberikan doktrin kepada buah hatinya untuk tetap bertekad kuat dan tidak mudah tergelincir. “Wahai anakku, aku telah berikan komitmen keseriusan dari diriku,” kata pendiri Mazhab Hanbali tersebut. Sang anak pun berbalik bertanya, kapankah ia mesti beristirahat untuk memanjakan diri? Ahmad bin Hambal yang juga pakar hadis itu pun berkata, “(Nanti), saat kaki pertama melangkah di surga.” Seberapa pentingkah memiliki tekad (himmah) yang kuat bagi seorang Muslim? Termasuk juga bercita-cita tinggi? Syekh Hasan bin Sa’id Al-Hasaniyah dalam bukunya berjudul Al-Qamam Ya Ahl Al-Himam memaparkan ada setidaknya empat alasan, mengapa seorang Muslim dituntut mempunyai tekad bulat dan cita-cita mulia. Alasan pertama : Yang ia kemukakan ialah bahwasanya setiap manusia diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Hal ini sebagaimana ditegaskan ayat 56 Surah Adz-Dzaariyaat. Dan, beribadah itu tak cukup hanya dengan ritual biasa; selesai begitu saja dengan ditunaikannya ibadah. Alasan kedua, : Hidup di dunia adalah peperangan antara semangat kebajikan dan nafsu angkara. Kedua hal itu saling berlomba untuk mendominasi satu sama lain. “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman, sedangkan mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-Ankabuut: 2). Tanpa tekad kuat, sulit untuk tetap bertahan dan tampil sebagai pemenang.


Alasan ketiga, : Islam adalah agama yang menekankan produktivitas dan karya nyata. Sayyid Qutub dalam Fi Dzilal Al-Qur an, mengomentari ayat ke-12 Surah Maryam. Ia mengatakan atas izin Allah, Nabi Yahya mewarisi tonggak kepemimpinan dan estafet kenabian dari sang ayah, Zakaria. Yahya AS pun akhirnya menerima tugas tersebut dengan segenap amanat, kemampuan, dan komitmen tinggi. Ia bertekad tidak akan mundur dari kewajibannya itu. Alasan keempat, : Peradaban ‘pesaing’ Islam senantiasa menunggu generasi muda mereka lalai. Sekejap saja tidak waspada, maka dengan mudahnya mereka akan mengubah pola pikir, gaya hidup, dan cara berinteraksi mereka sehari-hari. Dengan demikian, bukan tidak mungkin posisi negara-negara Islam dalam kancah percaturan dunia akan kian terpuruk. Sumber : Chairul Akhmad dkk Banyak di antara orang orang sukses dalam hidupnya memiliki dua karakter dasar, dengannya kesuksesan itu diraih. Kedua karakter itu ialah: ilmu dan tekad (kemauan) kuat. Dengan dua hal ini kedudukan manusia bertingkat tingkat. Manusia yang berada di tingkat paling bawah adalah yang tidak memiliki ilmu lagi lemah tekad. Ada kelompok orang yang memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan namun tidak memiliki tekad kuat sehingga ia terus berada dalam kondisi yang sama, tidak dapat maju dan mencurahkan potensi yang dimilikinya, merasa puas dengan kondisi yang dialaminya sekarang. Ada juga yang sebaliknya, memiliki semangat dan kemauan besar, namun minim ilmu pengetahuan, sehingga daya dan energinya terkuras pada hal yang tidak jelas dan tanpa arah. Dan yang paling sempurna jika kedua hal tersebut terkumpul pada diri seseorang. Ia memiliki cita cita yang jelas, dibangun di atas ilmu yang benar, kemudian dengan tekad yang kuat berusaha mewujudkan cita cita tersebut. Kebanyakan orang yang gagal dalam kehidupannya, penyebab utamanya adalah karena lemah tekad, tidak memiliki kehendak kuat dalam menghadapi ujian ujian kehidupan dan pergolakannya.


Tekad kuat adalah karakter yang dimiliki oleh manusia manusia pilihan Allah Ta’ala dari kalangan para Rasul dan Nabi serta pengikut setia mereka. Allah Ta’ala memuji mereka dalam al-Qur’an dan mengisahkan betapa tinggi semangat dan obsesi mereka untuk menggapai kemuliaan dunia dan akhirat. Terkhusus di antara mereka para rasul yang digelar dengan “Ulil ‘azmi” yang berarti orang orang yang memiliki tekad yang sangat kuat. Oleh karena itu, Allah Ta’ala perintahkan kita untuk mengikuti jejak mereka, Ia berfirman: “Maka bersabarlah kamu seperti Ulul ‘azmi (orang-orang yang mempunyai keteguhan hat)i dari rasul-rasul telah bersabar” [QS. al Ahqaf:35]. Mereka digelar dengan Ulul ‘azmi karena memiliki kesabaran dan keteguhan yang luar biasa, memperjuangkan prinsip dan akidah yang dibawanya dan tetap bersabar dan komitmen dengannya walaupun harus berhadapan dengan ujian yang sangat berat. Mereka adalah nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad shallallahu alaihim wasallam. Di dalam al-Qur’an sangat banyak ayat-ayat yang mengajak manusia, terkhusus orang orang beriman, untuk bersegera berbuat dan berlomba lomba dalam kebaikan, baik itu kebaikan dunia maupun kebaikan akhirat. Al-Qur’an mengajarkan tekad kuat dalam beramal. Di antara ayat ayat itu adalah: “Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya” [QS. al Hadid:21]. “Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan” [QS. al Baqarah:148]. Setelah Allah Ta’ala menyebutkan beberapa kenikmatan surga yang akan disiapkan bagi penghuninya, Ia berfirman memotivasi orang orang beriman agar dapat meraih kenikmatan itu: “Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba” [QS. al Muthaffifin:26] Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sangat menyadari akan pentingnya tekad kuat, khususnya dalam mengemban amanah tablig syariat Allah Ta’ala di tengah tengah kesyirikan dan kekufuran yang merajalela. Ini dapat kita lihat dalam kehidupan beliau, memiliki pribadi yang kokoh dengan tekad yang kuat tanpa mengenal lelah dan menyerah.


Sifat ini juga ditanamkan pada pribadi pribadi sahabatnya, agar memiliki obsesi tinggi dan meninggalkan perkara sepele yang tidak bernilai dan tidak mendatangkan manfaat. Rasulullah sangat sering memanjatkan doa: “Ya Allah, aku memohon kepadaMu keteguhan dalam urusan, dan tekad kuat di atas petunjuk”, beliau memohon kepadaNya keteguhan dan komitmen terhadap apa yang telah terealisasi dan tekad kuat untuk menyempurnakannya dengan tekad yang senantiasa berada dalam bimbinganNya. Beliau juga mengajarkan doa ini kepada sahabat dan umatnya. Tekad kuat bersumber dari dalam jiwa manusia yang terwujud dengan perbuatan anggota tubuh. Oleh karena itu, kita melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam banyak kesempatan mengarahkan para sahabatnya untuk membangun tekad kuat dalam hatinya, karena hati adalah pemimpin seluruh anggota tubuh yang tunduk dalam komandonya. Dalam banyak kesempatan, beliau menyampaikan kepada para sahabatnya bahwa dengan kehendak kuat dalam hati, seseorang dapat sampai kepada derajat tinggi, walaupun jasmaninya belum sempat melaksanakannya. Beliau bersabda: “Barang siapa yang bertekad melakukan suatu kebaikan dan belum melaksanakannya maka Allah telah menulisnya sebagai satu kebaikan” [HR. Bukhari & Muslim]. Dan sabdanya: “Siapa yang memohon kepada Allah mati syahid maka Ia akan menyampaikannya ke derajat para syuhada walaupun ia wafat di atas tempat tidurnya” [HR. Muslim]. Tentang para sahabatnya yang tidak ikut dalam perang Tabuk disebabkan ada halangan, beliau bersabda kepada sahabatnya yang ikut perang bersamanya: “Sungguh ada orang orang di Medinah, kalian tidak melalui suatu perjalanan, dan melewati lembah kecuali mereka bersama kalian (dalam pahala -pen), mereka terhalangi udzur” [HR. Bukhari & Muslim].


Lebih dari itu, seorang miskin, dengan niat tulusnya, dapat menyaingi orang kaya, sebagaimana sabdanya: “Satu dirham mengalahkan seratus ribu dirham”, sahabat bertanya: “bagaimana bisa satu dirham mengalahkan seratus ribu dirham wahai Rasulullah?”, beliau menjawab: “Seorang hanya memiliki dua dirham, lalu ia mensedekahkan satu dirham, dan orang lain memiliki harta melimpah lalu mengambil sedikit darinya senilai seratus ribu dirham untuk disedekahkan” [HR. Ahmad]. Dalam hadits ini terdapat pesan moral dari Rasulullah, bahwa dengan tekad kuat dan jujur, amalan sedikit dapat mengantar pelakunya kepada nilai yang berlipat ganda dibandingkan amalan dari seorang yang lemah tekad dan niat. Beliau mengajarkan umatnya bahwa dengan tekad kuat seseorang akan dapat melewati beratnya perjalanan, sebagaimana lemahnya tekad menunjukkan lemahnya hati seseorang. Bahkan beliau melarang umatnya bersikap lemah dan menyerah tanpa usaha. Dalam sebuah hadits beliau bersabda: “Orang Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukaiAllah daripada orang Mukmin yang lemah. Masing–masing ada kebaikannya. Bersemangatlah untuk mengerjakan sesuatu yang bermanfaat bagi dirimu, serta mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan menjadi orang lemah” [HR. Muslim]. Kendati demikian, seorang mukmin tidak bertumpu total pada kekuatan yang dimilikinya, tapi selalu bersandar kepada kekuasaan dan kekuatan Allah Ta’ala. Usaha yang dilakukannya hanyalah sebatas sebab kemudian Allah yang menakdirkan sesuai kehendak-Nya. Oleh karena itu, Rasulullah senantiasa mengaitkan tekad dan usaha dengan tawakal (berserah diri) kepada Allah Ta’ala semata. Kisah hijrah beliau bersama Abu Bakar dari Mekah ke Madinah sangat gamblang menggambarkan tingkat tawakal beliau kepada Allah setelah melakukan berbagai usaha untuk menghindar dari kejaran orang orang musyrik Qurays. Ketika beliau berdua bersembunyi di gua gunung Tsaur, orang orang musyrik hampir saja menemukannya, membuat Abu Bakar sangat khawatir akan terlihat oleh mereka yang berakibat fatal bagi Rasulullah.


Namun dengan penuh tawakal kepada Allah, beliau berkata kepada sahabat setianya : “Wahai Abu Bakar, apa dugaanmu terhadap dua orang, Allah adalah yang ketiga di antara mereka berdua?” [HR. Bukhari & Muslim]. Demikian juga al-Qur’an memerintahkan kita agar tawakal kepada Allah setelah membulatkan tekad untuk melakukan suatu perbuatan. Allah Ta’ala berfirman: “Apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya” [QS. Ali Imran:159]. Kalau kita ingin kejayaan Islam senantiasa wujud di bumi ini, maka sifat terpuji ini patut kita tanamkan pada diri kita dan generasi kita. Tanpa usaha maksimal dan tekat kuat, perubahan menuju kejayaan itu sulit terwujud. “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” [QS. ar Ra’d:11]. Sumber : Ust Aswanto Muhammad,Lc.


2. Perbanyak Istighar dan Taubat Diantara sebab terpenting diturunkannya rizki adalah itsighfar (memohon ampun) dan taubat kepada Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Menutupi (kesalahan). Untuk itu, pembahasan mengenai pasal ini kami bagi menjadi dua pembahasan. Hakikat Istighfar dan Taubat Dalil Syar’i Bahwa Istighfar Dan Taubat Termasuk Kunci Rizki. Sebagian besar orang menyangka bahwa istighfar dan taubat hanyalah cukup dengan lisan semata. Sebagian mereka mengucapkan. ْستَ ْغِف ر َ أ َ ْو ب َو ال ّل ّّه ت أ ْي ِه َ لَ ِ إ “Aku mohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya“. Tetapi kalimat-kalimat diatas tidak membekas di dalam hati, juga tidak berpengaruh dalam perbuatan anggota badan. Sesungguhnya istighfar dan taubat jenis ini adalah perbuatan orangorang dusta. Para ulama -semoga Allah memberi balasan yang sebaik-baiknya kepada mereka- telah menjelaskan hakikat istighfar dan taubat. Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani menerangkan : “Dalam istilah syara’, taubat adalah meninggalkan dosa karena keburukannya, menyesali dosa yang telah dilakukan, berkeinginan kuat untuk tidak mengulanginya dan berusaha melakukan apa yang bisa diulangi (diganti). Jika keempat hal itu telah terpenuhi berarti syarat taubatnya telah sempurna” Imam An-Nawawi dengan redaksionalnya sendiri menjelaskan : “Para ulama berkata, ‘Bertaubat dari setiap dosa hukumnya adalah wajib. Jika maksiat (dosa) itu antara hamba dengan Allah, yang tidak ada sangkut pautnya dengan hak manusia maka syaratnya ada tiga. Pertama, hendaknya ia menjauhi maksiat tersebut. Kedua, ia harus menyesali perbuatan (maksiat)nya. Ketiga, ia harus berkeinginan untuk tidak mengulanginya lagi. Jika salah satunya hilang, maka taubatnya tidak sah.


Jika taubatnya itu berkaitan dengan hak manusia maka syaratnya ada empat. Ketiga syarat di atas dan Keempat, hendaknya ia membebaskan diri (memenuhi) hak orang tersebut. Jika berbentuk harta benda atau sejenisnya maka ia harus mengembalikannya. Jika berupa had (hukuman) tuduhan atau sejenisnya maka ia harus memberinya kesempatan untuk membalasnya atau meminta ma’af kepadanya. Jika berupa ghibah (menggunjing), maka ia harus meminta maaf. Adapun istighfar, sebagaimana diterangkan Imam Ar-Raghib Al-Asfahani adalah ” Meminta (ampunan) dengan ucapan dan perbuatan. Dan firman Allah. ت ْ ْم ل ا ْستَ ْغِف روا بَّك َر فَق ِنَّه إ َكا َن ا ًرا َغفَّ “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun” [Nuh/71 : 10] Tidaklah berarti bahwa mereka diperintahkan meminta ampun hanya dengan lisan semata, tetapi dengan lisan dan perbuatan. Bahkan hingga dikatakan, memohon ampun (istighfar) hanya dengan lisan saja tanpa disertai perbuatan adalah pekerjaan para pendusta” Beberapa nash (teks) Al-Qur’an dan Al-Hadits menunjukkan bahwa istighfar dan taubat termasuk sebab-sebab rizki dengan karunia Allah Ta’ala. Dibawah ini beberapa nash dimaksud : 1. Apa Yang Disebutkan Allah Subhana Wa Ta’ala Tentang Nuh Alaihis Salam Yang Berkata Kepada Kaumnya. ت ْ ْم ل ا ْستَ ْغِف روا بَّك َر فَق ِنَّه َء ﴾ي ْر ِس ِل َغفَّ ١٠ إ َكا َن ا ًرا﴿ ْم ال َّس َما ْيك َع ﴿ لَ ِمدْ ١١ْ م َرا ًرا َو ﴾ ا ل َوي ْمِددْك ْم َ ْل َو ب بَنِي َن ِأ َو ْ يَ ْجعَ ْل َج ل نَّا ت َك م َويَ ْجعَ ْم َه ل ا ًرا َك ْن َ أ “Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu’, sesunguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai”. [Nuh/71 : 10-12] Ayat-ayat di atas menerangkan cara mendapatkan hal-hal berikut ini dengan istighfar. Ampunan Allah terhadap dosa-dosanya. Berdasarkan firman-Nya : ِنَّه إ َكا َن ا ًرا َغفَّ “Sesungghuhnya Dia adalah Maha Pengampun“.


Diturunkannya hujan yang lebat oleh Allah. Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata َرا ًرا) ْمد (ِadalah (hujan) yang turun dengan deras. Allah akan membanyakan harta dan anak-anak, Dalam menafsirkan ayat ( مْ َوا ل َوي ْمِددْك ْم َ َو ب بَنِي َن ِأ ) Atha’ berkata : Niscaya Allah akan membanyakkan harta dan anak-anak kalian” Allah akan menjadikan untuknya kebun-kebun. Allah akan menjadikan untuknya sungai-sungai. Imam Al-Qurthubi berkata : “Dalam ayat ini, juga yang disebutkan dalam (Hud/11 : 3) ِن َ َوأ ْم ا ْستَ ْغِف روا َر َّم بَّك ْي ِه ِ ث ت وب وا لَ إ “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhamnu dan bertaubat kepada-Nya) adalah dalil yang menunjukkan bahwa istighfar merupakan salah satu sarana meminta diturunkannya rizki dan hujan” Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata : ” Maknanya, jika kalian bertaubat kepada Allah, meminta ampun kepadaNya dan kalian senantiasa menta’atiNya, niscaya Ia akan membanyakkan rizki kalian menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit, mengeluarkan untuk kalian berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untuk kalian, melimpahkan air susu perahan untuk kalian, membanyakan harta dan anak-anak untuk kalian, menjadikan kebun-kebun yang di dalamnya bermacammacam buah-buahan untuk kalian serta mengalirkan sungai-sungai diantara kebun-kebun itu (untuk kalian)” Demikianlah, dan Amirul Mukminin Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu juga berpegang dengan apa yang terkandung dalam ayat-ayat ini ketika beliau memohon hujan dari Allah Ta’ala. Mutharif meriwayatkan dari Asy-Sya’bi : “Bahwasanya Umar Radhiyallahu ‘anhu keluar untuk memohon hujan bersama orang banyak. Dan beliau tidak lebih dari mengucapkan istighfar (memohon ampun kepada Allah) lalu beliau pulang. Maka seseorang bertanya kepadanya, ‘Aku tidak mendengar Anda memohon hujan’. Maka ia menjawab, ‘Aku memohon diturunkannya hujan dengan majadih langit yang dengannya diharapkan bakal turun hujan. Lalu beliau membaca ayat.


Baca Juga Bertaubat Sebelum Tidur ْم ا ْستَ ْغِف روا َربَّك ِنَّه َء ﴾ي ْر ِس ِل َغفَّ ١٠ إ َكا َن ا ًرا﴿ ْم ال َّس َما ْيك َعلَ َرا ًرا ِمدْ “Mohonlah ampun kepada Tuhamu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat“.[Nuh/71 : 10-11] Imam Al-Hasan Al-Bashri juga menganjurkan istighfar (memohon ampun) kepada setiap orang yang mengadukan kepadanya tentang kegersangan, kefakiran, sedikitnya keturunan dan kekeringan kebun-kebun. Imam Al-Qurthubi menyebutkan dari Ibnu Shabih, bahwasanya ia berkata : ”Ada seorang laki-laki mengadu kepada Al-Hasan Al-Bashri tentang kegersangan (bumi) maka beliau berkata kepadanya, ‘Ber-istighfar-lah kepada Allah!. Yang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan maka beliau berkata kepadanya, ‘Ber-istighfar-lah kepada Allah!. Yang lain lagi berkata kepadanya, ‘Do’akanlah (aku) kepada Allah, agar Ia memberiku anak!, maka beliau mengatakan kepadanya, ‘Ber-istighfar-lah kepada Allah!. Dan yang lain lagi mengadu kepadanya tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan (pula) kepadanya, ‘Ber-istighfar-lah kepada Allah!”. Dan kami menganjurkan demikian kepada orang yang mengalami hal yang sama. Dalam riwayat lain disebutkan : ”Maka Ar-Rabi’ bin Shabih berkata kepadanya, ‘Banyak orang yang mengadukan macammacam (perkara) dan Anda memerintahkan mereka semua untuk ber-istighfar. Maka Al-Hasan Al-Bashri menjawab, ‘Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh. ْم ا ْستَ ْغِف روا َربَّك ِنَّه َء ﴾ي ْر ِس ِل َغفَّ ١٠ إ َكا َن ا ًرا﴿ ْم ال َّس َما ْيك َع ﴿ لَ ِمدْ ١١ْ م َرا ًرا َو ﴾ ا ل َوي ْمِددْك ْم َ ْل َو ب بَنِي َن ِأ َو ْ يَ ْجعَ ْل َج ل نَّا ت َك م َو ْ يَ ْجعَ لَك م َها ًرا ْن َ أ “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anakanakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai- sungai“. [Nuh /71: 10-12]


Allahu Akbar ! Betapa agung, besar dan banyak buah dari istighfar ! Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang pandai ber-istighfar. Dan karuniakanlah kepada kami buahnya, di dunia maupun di akhirat. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan. Amin, wahai Yang Maha hidup dan terus menerus mengurus mahlukNya. 2. Ayat lain adalah Firman Allah Yang menceritakan Tentang Seruan Hud Alaihis Shalatu Was Sallam Kepada Kaumnya Agar Ber-istighfar. َويَا ْم ْوِم َر َّم قَ ا ْستَ ْغِف روا بَّك ْي ِه ِ ث ت وب وا لَ َء ي ْر ِس ِل إ ْم ال َّس َما ْيك َعلَ ْم َرا ًرا ِمدْ َويَ ِزدْك َّوةً ى ق لَ ِ ْم إ َو ق َل َّوتِك ْوا َّ م ْجِر تَتَ ِمي َن َول “Dan (Hud berkata), Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat lebat atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa“. [Hud /11: 52] Al-Hafiz Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat yang mulia di atas menyatakan : “Kemudian Hud Alaihis salam memerintahkan kaumnya untuk ber-istighfar yang dengannya dosa-dosa yang lalu dapat dihapuskan, kemudian memerintahkan mereka bertaubat untuk masa yang akan mereka hadapi. Barangsiapa memiliki sifat seperti ini, niscaya Allah akan memudahkan rizkinya, melancarkan urusannya dan menjaga keadaannya. Karena itu Allah berfirman. َء ي ْر ِس ِل ْم ال َّس َما ْيك َعلَ َرا ًرا ِمدْ “Niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat lebat atasmu“ Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang memiliki sifat taubat dan istighfar, dan mudahkanlah rizki-rizki kami, lancarkanlah urusan-urusan kami serta jagalah keadankeadaan kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha mengabulkan do’a. Amin, whai Dzat Yang Memiliki keagungan dan kemuliaan. 3. Ayat lain adalah firman Allah. ِن َ َوأ ْم ا ْستَ ْغِف روا َر َّم بَّك ْي ِه ِ ث ت وب وا لَ ْم إ ِعْك َمتّ ى َم ي تَا ًعا َح َسنًا لَ َج إ ل ِ ْن َوي ْؤ ِت م َس أ ًّمى َ ِ َو ك َّل ِذي فَ ْض ل فَ ْضلَه ۖ إ ْوا َّ ِي َول فَإ َخا ف ِ تَ نّ َ أ ْم ْيك ِي ر َع َب لَ َك َعذَا يَ ْو م ب


“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepadaNya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terusmenerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari Kiamat“. [Hud/11 : 3] Pada ayat yang mulia di atas, terdapat janji-janji dari Allah Yang Mahakuasa dan Maha Menentukan berupa kenikmatan yang baik kepada orang yang ber-istighfar dan bertaubat. Dan maksud dari firmanNya. ْم ِ ْعك َمتّ َم ي تَا ًعا َح َسنًا “Niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu“. Sebagaimana dikatakan oleh Abdullah bin Abbas Radhiyallahu‘anhuma adalah. ‘Ia akan menganugrahi rizki dan kelapangan kepada kalian’. Sedangkan Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan : ”Inilah buah istighfar dan taubat. Yakni Allah akan memberikan kenikmatan kepada kalian dengan berbagai manfaat berupa kelapangan rizki dan kemakmuran hidup serta Ia tidak akan menyiksa kalian sebagaimana yang dilakukanNya terhadap orang-orang yang dibinasakan sebelum kalian” Dan janji Tuhan Yang Mahamulia itu diutarakan dalam bentuk pemberian balasan sesuai dengan syaratnya. Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi berkata : ”Ayat yang mulia tersebut menunjukkan bahwa ber-istighfar dan bertaubat kepada Allah dari dosa-dosa adalah sebab sehingga Allah menganugrahkan kenikmatan yang baik kepada orang yang melakukannya sampai pada waktu yang ditentukan. Allah memberikan balasan (yang baik) atas istighfar dan taubat itu dengan balasan berdasarkan syarat yang ditetapkan” 4. Dalil lain Bahwa Istighfar Dan Taubat Adalah Diantara Kunci-Kunci Rizki Yaitu hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan AlHakim dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. َ ْك َش َم َر ْن َر أ ْغفَا َجعَ ا َل ْلِ ْستِ َّّللا ه َر َجا، ِم ْن ِ ل ِم ْن َ َو ِ ك ّل َه ّم فَ َر َزقَه ق َم ْخ َر َج ًّا لَ يَ ْحتَ ِس ب ِم َحْي ش ْن َو ك ّل ِضْي


“Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah) niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitannya kelapangan dan Allah akan memberinya rizki (yang halal) dari arah yang tidak disangkasangka“ Dalam hadits yang mulia ini, Nabi yang jujur dan terpercaya, yang berbicara berdasarkan wahyu, Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan tentang tiga hasil yang dapat dipetik oleh orang yang memperbanyak istighfar. Salah satunya yaitu, bahwa Allah Yang Maha Memberi rizki, Yang Memiliki kekuatan akan memberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka dan tidak diharapkan serta tidak pernah terdetik dalam hatinya. Karena itu, kepada orang yang mengharapkan rizki hendaklah dia bersegera untuk memperbanyak istighfar (memohon ampun), baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan. Dan hendaknya setiap muslim waspada!, sekali lagi hendaknya waspada! dari melakukan istighfar hanya sebatas dengan lisan tanpa perbuatan. Sebab ia adalah pekerjaan para pendusta. Sumber : Dr. Fadhl Ilahi & lainnya


3.Jauhi Maksiat Maksiat adalah perbuatan yang melanggar perintah Allah, yang bila dilakukan akan berdosa. Perilaku maksiat tidak selalu diidentikkan dengan tindakan yang melanggar asusila. Maksiat berasal dari bahasa Arab, معصية asal katanya يعصي عصى yang maknanya menentang, mendurhakai, melanggar, dan membangkang. Artinya jika kita durhaka kepada Allah dengan melanggar larangan-larangan yang telah ditetapkan-Nya, berarti kita telah bermaksiat kepada Allah swt Allah berfirman dalam Surat an-Nisa ayat 14 : Doa agar Terhindar dari Kemaksiatan َعذَا ٌب ُمِهي ٌن َولَهُ َها هُ نَا ًرا َخاِلدًا فِي ْ َويَتَعَدَّ ُحدُودَهُ يُدْ ِخل ََ َم ْن يَ ْع ِص هللاَ َو َرسُولَهُ Artinya: Barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuanketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan (QS an-Nisa: 14). Ayat di atas menjelaskan bahwa perbuatan durhaka atau maksiat kepada Allah dapat berakibat kekekalan di dalam neraka. Bentuk hukuman yang berat menunjukan suatu larangan yang wajib dihindari. Setiap larangan memiliki konsekuensi atau akibat yang akan ditanggung oleh pelakunya, begitu pun kemaksiatan. Imam al-Hârits al-Muhâsibi memperingatkan kita dalam kitabnya, Risalah al-Mustarsyidîn. Cegah Maksiat dengan Sholawat ْ ْو ِر ُث ال تُ لَةُ غَفْ ْ َوال لَةَ غَفْ ْ ْو ِر ُث ال ْو َب تُ نُ َّن الذُّ َ ِخي أ َ ْم يَا أ َو َر ا ْعلَ بُ ْعدُ ِم َن هللاِ يُ ْو ِر ُث النَّا ْ َوال بُ ْعدَ ِم َن هللاِ ْ ْو ِر ُث ال قَ ْسَوةُ تُ ْ َوال قَ ْسَوةَ ِ ُح ِب الدُّْنيَا َس ُهْم ب ْنفُ َ ْوا أ َماتَ َوا ُت فَقَد أ ْم َّما األَ َ ُء َوأ ْحيَا َما يَتَفَ َّكُر فِي َهِذِه األَ ِنَ َوإ Artinya: Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa dosa-dosa mengakibatkan kelalaian, dan kelalaian mengakibatkan keras (hati), dan keras hati mengakibatkan jauhnya (diri) dari Allah, dan jauh dari Allah mengakibatkan siksaan di neraka. Hanya saja yang memikirkan ini adalah orang-orang yang hidup, adapun orang-orang yang telah mati, sungguh mereka telah


mematikan diri mereka dengan mencintai dunia (Imam al-Hârits al-Muhâsibi, Risâlah alMustarsyidîn, Dar el-Salâm, halaman 154-155) Syekh Abdul Fattah Abu Guddah meringkas akibat-akibat dari maksiat dan dosa dari kitab alJawâb al-Kâfi liman Sa`ala ‘an ad-Dawâ asy-Syâfi. Menurutnya, di antara akibat melakukan kemaksiatan adalah terhalangnya seseorang dari ilmu dan rezeki, timbul perilaku menyimpang antara dirinya dengan Allah, dirinya dengan orang lain, mempersulit urusan-urusannya, gelapnya hati, wajah, dan kuburan, lalainya hati dan badan, terhalangnya dari ketaatan, sia-sianya umur, menumbuhkan kemaksiatan sejenisnya, melemahkan keinginannya untuk taat pada Allah swt. Imam Ibnu Qayyim al-Jauzi berkata dalam kitabnya Shayd al-Khâthir mengatakan: Tidaklah merasakan kenikmatan maksiat melainkan orang yang selalu lalai. Adapun orang mukmin yang sadar, maka sesungguhnya ia tidak merasakan kenikmatan dari maksiat, karena ilmunya akan menghentikan perbuatan tersebut bahwa perilaku maksiat adalah haram (Imam al-Hârits al-Muhâsibi, Risâlah al-Mustarsyidîn, Dar el-Salâm, halaman 158). Lalu bagaimana caranya agar kita terhindar dari maksiat? Syekh Mushtofa as-Sibâ’i memberikan tips atau cara untuk menghindar dari maksiat dalam kitabnya Hâkadzâ ‘Allamtanî al-Hayât: إذا ه مت نفسك بالمعصية فذكرها باهلل، فإذا لم ترجع فذكرها بأخالق الرجال، فإذا لم ترجع فذكرها بالفضيحة إذا علم بها الناس، فإذا لم ترجع فاعلم أنك تلك الساعة قد انقلبت إلى حيوان. Artinya: Apabila dirimu tergerak melakukan maksiat maka ingatlah Allah. Apabila rasa itu belum hilang juga maka ingatlah akhlak seseorang (yang mulia). Apabila belum hilang juga maka ingatlah dengan terungkapnya maksiat tersebut apabila orang-orang mengetahuinya, apabila belum hilang juga maka ketahuilah saat itu juga engkau telah berubah menjadi binatang! (Syekh Mushtafa as-Sibâ’i, Hâkadzâ ‘Allamtanî al-Hayât, halaman 13). Semoga dari penjelasan di atas kita menjadi paham dan menghindari perbuatan maksiat yang dilarang Allah swt. Karena setiap perbuatan maksiat akan tercatat sebagai dosa yang harus dipertanggung jawabkan di akhirat kelak. Sumber : Ila Fadilasari & lainnya


4. Tingkatkan Ketaatan Taat atau patuh terhadap perintah Allah SWT sudah semestinya dilakukan muslim. Orang yang taat kepada Allah SWT akan senantiasa mengerjakan segala perintahNya dan menjauhi laranganNya. Perintah untuk taat kepada Allah SWT termaktub dalam Al Quran surat An Nisa ayat 59: َها اَيُّ ي ِذْي َن ٰٓ َّ ْٰٓوا َم ال ن ِطْيع وا ّٰللاَ ِطْيع وا ا اَ ال َّرس ْو َل وِلى َواَ َو ِر ا ْم ْلَ ا ْم ْم ِمْنك ْوه ى ْي فِ ء ْي فَِا ْن تََنا َز ْعت ردُّ َش فَ َ ْم اِ ْن َوال َّرس ْو ِل اِل ّٰللاِ ك ْنت ب يَ ْوِم ِ ت ْؤ ِمن ا ّٰللِ ْو َن ْ ا ِل َك ْ ل ِخ ِر َوال ِو ذ خَيْ ر َّواَ ْح َس ن ْي ًل تَأ ࣖ - ٥٩ْ Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." Surah An Nisa Ayat 59 Berisi Tentang Apa? Dalam ayat tersebut, Allah SWT memerintahkan hambaNya untuk taat kepadaNya, kepada Rasulullah, dan kepada Ulil Amri atau pemimpin di antara mereka. Ulama tafsir, Muhammad Quraish Shihab menerangkan, ketaatan terhadap Ulil Amri sebagaimana dijelaskan dalam ayat tersebut berkaitan dengan ketaatan kepada Allah SWT dan RasulNya. Artinya, perintah Ulil Amri haruslah sejalan dengan perintah Allah SWT dan RasulNya. Apabila perintah tersebut bertentangan, maka tidak dibenarkan untuk mentaatinya. Dikutip dari buku Pendidikan Agama Islam: Akidah Akhlak untuk MTs Kelas VII karya Hasan, seseorang disebut taat kepada Allah jika selalu mengerjakan perintahNya menjauhi laranganNya. Begitu pula dengan taat kepada Rasul seperti dalam hadits berikut, ِ ْي ْن َع ب َ َر أ ةَ َرْي ِ ِه َر ِض َي ه ْم ب َمْرت ك َ َو َما أ ْم َعْنه فَا ْجتَنِب ْوه ، َهْيت ك َما نَ ْو ل: َم يَق َّ َو َسل ْي ِه َّى للا َعلَ للا َعْنه قَا َل: َس ِم ْع ت َرس ْو َل للاِ َصل ْوا ت ْ َم فَأ ِمْنه ا ْم، َم ا ْستَ ا َط ْعت َك ِنَّ فَإ ْهلَ أ ِذْي َن َ ْم ال ِم ْن َّ َر قَ ْبِلك ة ْ ِهْم َكث َم َس ْ ائِِل هم َو ى ا ْختِلَف ِهْم لَ َع ئِ َِيا ْنب َ أ


Artinya: Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dia berkata: "Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,'Apa saja yang aku larang terhadap kalian, maka jauhilah. Dan apa saja yang aku perintahkan kepada kalian, maka kerjakanlah semampu kalian. Sesungguhnya apa yang membinasakan umat sebelum kalian hanyalah karena mereka banyak bertanya dan menyelisihi nabi-nabi mereka (tidak mau taat dan patuh)'.(HR Bukhari dan Muslim). Dijelaskan dalam kitab Ar-Risalah karya Imam Syafi'i, melalui surat An Nisa ayat 80, Allah SWT memberitahukan perjanjian dengan Rasulullah adalah perjanjian dengan Allah SWT. Begitu pula dengan ketaatan kepada Rasulullah juga merupakan ketaatan kepada Allah SWT. Salah satu hikmah taat kepada Allah SWT dan RasulNya adalah kelak masuk surga, bersama orang-orang yang diberi nikmat Allah SWT. Hikmah ini dijelaskan dalam QS An Nisa ayat 69, ِ َو َم ْن ِٕى َك َو يُّ ِطع ّٰللاَ ال َّرس ْو َل ٰۤ ِذْي َن َم َع فَا ول َّ ال َ ِهْم اَْنعَم ّٰللا ْي ِّم َن َن َعلَ ّٖ ِيّ َن ِء َو النَّب ال ِّصِدّْيِقْي ٰۤ َحس َن َوال ٰصِل ِحْي َن َوال ُّش َهدَا ِٕى َك َو ٰۤ َرفِ ْيًق ا ا ول - ٦٩ Artinya: "Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya." Itulah makna taat kepada Allah SWT beserta RasulNya, yakni dengan mengerjakan segala perintahNya dan menjauhi laranganNya. "Makna Taat pada Allah SWT, Mengerjakan Perintah dan Menjauhi LaranganNya" Betapa besar pengorbanan nabi Ibrahim dalam menaati perintah Allah SWT. Beliau rela diperintah oleh Allah untuk menyembelih putra kesayangannya, Ismail. Bagi nabi Ibrahim, Ismail adalah buah hati, harapan dan cintaannya yang telah lama beliau dambakan. Namun, di tengah rasa bahagia itu, turunlah perintah Allah kepada beliau untuk mengorbankan putra kesayangannya tersebut. Allah berfirman: َّما َغ ه َ َي َمعَ فَل بَلَ ِي َّي ال َّس ْع قَا َل َر إ ى ِ يَاب َن نّ َم أ ِفي نَاِم َ ِي ْ ال نّ أ َب ح َك َ ذْ اذَا أ ْر َ َم َرى فَاْنظ تَ


”Tatkala anak itu telah mencapai usia sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “Anakku, sungguh aku melihat dalam mimpiku bahwa aku menyembelih dirimu. Karena itu pikirkanlah apa pendapatmu.” (Q.S. ash-Shaffat [37]: 102). Perhatikan! Apakah Nabi Ibrahim menolak? Tidak! Beliau mengedepankan kecintaan yang tinggi, yakni kecintaan kepada Allah. Sebaliknya, beliau segera menyingkirkan kecintaan yang rendah, yakni kecintaan kepada anak, harta dan dunia. Perintah amat berat itu pun disambut oleh Ismail dengan penuh kesabaran. Bahkan beliau mengukuhkan keteguhan jiwa ayahnya dengan mengatakan: قَا َل بَ ِت ِج ت ْؤ د نِي َم َم ر اف ا ْعَ يَاأ ْل َ ْن َستَ ِ ِ ِر َشا َّّللا ِم َن ين َء إ ال َّصاب Ayah, lakukanlah apa yang telah Allah perintahkan kepada engkau. Insya Allah engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar (Q.S. ash-Shaffat [37]: 102). Kisah nabi Ibrahim dan nabi Ismail tersebut seharusnya menjadi teladan bagi kita saat ini. Tidak hanya teladan dalam pelaksanaan ibadah haji dan ibadah kurban, tapi juga teladan dalam berjuang dan berkorban. Mewujudkan ketaatan kepada Allah secara total. Ketaatan pada syariah-Nya secara kaffah. Bukankah saat ini syariah Allah diabaikan dan dicampakkan? Terutama syariah-Nya yang berkaitan dengan pengaturan kehidupan bermasyarakat dan bernegara seperti pemerintahan, ekonomi, sosial, hukum pidana, pendidikan, politik luar negeri dan sebagainya. Teladan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sungguh sangat berarti bagi kita dalam menjalankan semua perintah Allah, yakni dengan mengamalkan dan menerapkan syariah-Nya secara kaffah. Termasuk kewajiban memutuskan perkara dengan hukum-Nya. Sebagaimana yang telah Allah tegaskan dalam firman-Nya: ِن َ َو ْ أ هْم ا ْحك م ب ْن َز َل ِ َم بَ ا ْينَ َل َ ْم ِ ْع َو أ َّّللا َء تَتَّب ه ْه َوا َ ْم أ ْره ْن َوا ْحذَ أ تِن و َك َ ْن َز َل َم يَف َع ْن بَ ْع ِض ا ْ أ َّّللا ْي َك َ لَ إ ْن ِ ِ فَإ ْوا َّ َول ْم ا َم تَ فَا ْعلَ نَّ َ ِر أ يد ي ْن َّّللا َ ِ ِه ب ْم ِ ي ِصيبَ هْم بَ ْع ِض أ َّن ن وب ِ إ النَّا ِس َكثِي ًرا ِم َن َو ذ ل و َن َفَا ِسق ”Hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut wahyu yang telah Allah turunkan. Janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka. Berhati-hatilah engkau terhadap mereka. Jangan sampai mereka memalingkan engkau dari sebagian wahyu yang telah Allah turunkan kepadamu” (Q.S. al-Maidah [5]: 49).


Dalam ayat tersebut, Allah memerintahkan Rasulullah agar memutuskan perkara berdasarkan hukum yang telah diturunkan kepada beliau. Perintah tersebut juga berlaku bagi umatnya. Pengertian dari ayat ini, yakni hendaknya umat Islam mewujudkan seorang hakim (penguasa) sepeninggal Rasulullah untuk memutuskan perkara menurut hukum-hukum Allah. ْع َو َم َر َض ْن ِذ َّن ْك َع ِري أ ْن َ ِ فَإ لَه َمِعي َشةً ْن ًكا َض ره نَ ْحش َ َو َم يَ ْوم ِة ِقيَا ْع َم ال ى ْ َ أ “Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, sungguh bagi dia kehidupan yang sempit dan Kami akan mengumpulkan dia pada Hari Kiamat nanti dalam keadaan buta” (Q.S. Thaha [20]: 124). Menurut Imam Ibnu Katsir, makna “berpaling dari peringatan-Ku” adalah “menyalahi perintahKu dan apa saja yang telah Aku turunkan kepada Rasul-Ku, melupakannya dan mengambil petunjuk dari selainnya.” (Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, V/323). Adapun kehidupan yang sempit di dunia tidak lain adalah kehidupan yang semakin melarat, miskin, sengsara, menderita, terjajah, teraniaya, tertindas dan sebagainya. Sebagaimana yang terjadi di negara-megara muslim saat ini. Oleh karena itu, kondisi buruk ini tentu tak boleh terus berlangsung. Kaum muslim harus segera mewujudkan ketaatan penuh dengan menerapkan syariah Islam secara kaffah. Demikian sebagaimana yang Allah inginkan dalam firman berikut: َها يُّ يَاأ ِذي َن َ َّ َم ال ن وا آ وا ادْ خل فِي ِم ْ ال ِّسل َو َكاف َل َّةً َو تَتَّب ا ِت ِع وا ِن خط ال َّشْي نَّه َطا ِ ْم إ و لَك ِي ن َعد مب “ Janganlah kalian mengikuti langkah langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagi kalian” (Q.S. al-Baqarah [2]: 208). Mari terus gelorakan perjuangan penerapan syariah Islam kaffah dalam sistem Islam, sebagai wujud ketaatan total kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Sumber : Kristina & Darzan Hanan Mahmroni A.Md.


5. Tebarkan Manfaat Mari menjadi yang terbaik dengan berbagi manfaat, karena sebaik-baik manusia adalah yang bernafaat bagi sesama manusia Diantara perbuatan baik yang menjadi ciri khas orang bertakwa adalah menebar manfaat kepada sesama manusia. Jika takwa merupakan kedudukan terbaik di sisi Allah (Qs Al-Hujurat:13) maka salah satu jalan utama untuk menjadi yang terbaik dan paling bertakwa tersebut adalah berbagi manfaat kepada sesama. Allah Ta’ala berfirman; ْم اِ َّن ْم اَ ْك ِعْندَ ّٰللاِ َر َمك ىك اَتْق Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. (Qs. Al-Hujurat:13) Senada dengan ayat di atas Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; وخير الناس أنفعهم للناس “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. AthThabrani) Apa yang terbesit di benak anda ketika mendengar dan atau membaca sabda Nabi, manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya? Mungkin ada yang berpikir, manfaat yang diberikan haruslah sesuatu yang sangat bernilai seperti harta benda, barang mewah, pakaian indah dan sebagainya. Ternyata manfaat yang menjadikan seseorang sebagai manusia terbaik dalam pandangan Allah dan Rasul-Nya tidak selamanya berupa pemberian barang yang bernilai mahal.


Manfaat yang membuat seseorang makin terbaik dan dicintai Allah kadang berupa hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana dijelaskan oleh Nabi (masih dalam hadits Thabrani melalui Sahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, seorang pria bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “manusia (seperti) apa yang paling dicintai Allah”? Rasul menjawab dengan sabdanya; أح ُّب الناس إلى للا أنفعهم للناس، وأح ُّب األعمال إلى للا عز وجل، سرور تدخله على مسلم، تكشف عنه كربة، أو تقضي عنه دينا، أو تطرد عنه جوعا، وألن أمشي مع أخ في حاجة، أح ُّب إلي من أن أعتكف في هذا المسجد، يعني مسجد المدينة . شهرا...) رواه الطبراني في األوسط والصغير “Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya, dan amalan paling dicintai Allh adalah rasa gembiara yang engkau masukukan ke dalam diri seorang Muslim, engkau hilangkan kesusahannya, atau engkau bayarkan hutangnya, atau engkau hilangkan rasa laparnya, sungguh aku berjalan bersama saudara seiman untuk memenuhi hajatnya lebih aku sukai daripada beri’tikaf di masjid Nabawai ini selama sebulan”. (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Ausath dan ash-Shaghir) Dalam hadits ini terdapat pelajaran bahwa orang yang berbagi manfaat kepada orang lain merupakan manusia terbaik dan paling dicintai Allah. Tentu saja adalah kedudukan yang mulia, karena cinta Allah pada seorang meruapakan sesuatu yang agung dan istimewa. Sebab jika Allah mencintai seorang hamba maka Allah umumkan hal itu kepada penduduk langit, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah, Rasul bersabda: إذا أحب للا العبد، نادى جبريل، إن للا يحب فلنا فأحببه، فيحبه جبريل، فينادي جبريل في أهل السماء، إن للا يحب فلنا فأحبوه، فيحبه أهل السماء، ثم يوضع له القبول في األرض ) متفق عليه Jika Allah mencintai seorang hamba, Allah memanggil Malaikat Jibril dan menyampaikan kepadanya badwa Dia mencintai sifulan maka cintailah dia, sehingga Jibril turut mencintainta, selanjutnya Jibrul mengummukan klepada penduduak langit ‘’sesungguhnya Allah mencintai sifulan maka cintailah dia” sehingga penduduk langit ikut mencintainya kemudian ditetapkan bahwa daia diterima di bumi”. (Muttafaq alaih).


Masya Allah, luar biasa. Dicintai oleh Allah, dicintai oleh para penduduk langit sehingga ditetapkan sebagai orang yang diterima di bumi. Mungkin inilah satu rahasinya mengapa ‘’orang baik” yang gemar menebar manfaat kepada sesama ummumnya dicintai dan diterima oleh semua kalangan. Karena manfaat yang dia tebarkan kepada sesama menjadikannya dikenal dan dicintai oleh Allah. Llau menggerakkkan hati seluruh makhkluq untukmmenerima dan mencintainya. Hadits ini juga memberi isyarat bahwa wujud dan bentuk kemanfaatan yang diberikan kepada bisa berankea ragam. Diantaranya adalah memasukan perasan suka cita dan kegembiraan ke dalam diri sesama Muslim. Nabi menganjurkan untuk memmpersembahkan manfaat kepada orang lain dengan bentuk dan jenis apapun. Dalam suatu hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu mengatakan, Pamanku biasa meruqyah untuk menghilangan sengantan hewan berbisa. Ketika Rasul melarang untuk melaruqyah pamanku mendatanagi beliau dan bertanya, “Wahai Rasul,engkau melarang ruqyah, sementara aku terbiasa meruqyah orang tersengat hewan berbisa. Beliau bersa bda; “Siapa yang sanggup memberi manfaat kepada saudaranya hendaknya dia lakukan”. (HR. Ahmad dan hakim) Singkatnya, pintu-pintu kebaikan itu sangat banyak dan beraneka ragam serta tidak terbatas. Seorang tinggal memilih melakukan kebaikan yang bermanfaat bagi dirnya dam an orang lain di sekitarnya. Beberapa jenis dan pintu kebaikan ini telah disebutkan secara singkat oleh Nabi shallaallahu ‘alaihi wa sallam melalui sabdanya yang disebutkan di awal. Dalam hadits lain beliau juga bersabda : “Setiap Muslim berkewajiabnn bersedekah”. Para sahabat bertanya, “Wahai Nabi Allah, jika dia tidak memliliki apa-apa”. Beliau bersabda, “hendaknya dia bekerja dengan tangannya sehingga dia memberi manfaat kepada dirinya dan dapat bersedekah”. Jika dia tidak memiliki apa-apa? “Hendaknya Dia membantu memenuhi kebutuhan orang yang teraniaya, lemah, dan terdesak”. Jika dia tidak punya apa-apa? Beliau bersabda, “Hendaknya dia melakukan kebaikan dan menahan diri dari berbuat buruk”. (Muttafaq alaih).


Artinya, pelung untuk berbuat baik dan berbagi manfaat kepada sesama untuik menjadi yang tebaik dan paling dicintai Allah terbuka lebar. Jika tidak dapat memberi sama sekali. Maka paling miniml menahan diri dari keburukan dan hal-hal yang tidak bermanfaat, sebab “tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan yang tidak bermanfaat baginya”.


Click to View FlipBook Version