The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Jejak Spiritualitas dan Lokalitas dalam Gambar

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tebakanginpohmanis, 2022-05-22 09:53:03

Rajah Rasa

Jejak Spiritualitas dan Lokalitas dalam Gambar

Keywords: #rajahrasa,#tebakanginpohmanis,#baktiwiyasa

JEJAK SPIRITUALITAS DAN LOKALITAS
DALAM GAMBAR

Oleh : I Made Bakti Wiyasa

Rajah
Rajah merupakan guratan gambar dan aksara yang sederhana hingga detail, diwujudkan dengan tujuan
tertentu. Media rajah ada beragam yaitu rajah dengan media tubuh dan rajah dengan media benda-
benda. Pada umumnya rajah bentuknya sederhana, esensial, monocromatik seperti nuansa hitam,
nuansa putih, nuasa merah.

Rajah Bali, Detail karya Ketut Liyer. Pengosekan Ubud Bali , sumber account facebook Inilah Bali

Rajah saat dikaji jenisnya beragam juga beragam media dan alat-alat mengambarnya. Secara umum
kitab bisa menyimak media rajah adalah tubuh dan benda. Pada tubuh rajah diguratkan, digambarkan
pada lidah, gigi, wajah, perut, lengan, punggung tangan kaki serta leher.
Rajah pada media benda diguratkan pada kertas, kain, tembikar, kayu, daun, logam seperti lempengan
emas, lempengan tembaga, lempengan perunggu.
Media rajah pada tubuh yang sufatnya temporer berupa cairan yang menyiratkan warna-warna hitam
menggunakan media arang, jelaga. Untuk menyiratkan warna merah menggunakan darah, dan untuk
menyiratkan warna putih menggunakan pamor.
Media rajah pada tubuh yang sifatnya permanen menggunakan tinta dengan bahan-bahan khusus
mengahsilkan warna gelap dan warna-warna yang dinginkan diguratkan dibawah kulit menjadi gambar
saat ini juga disebut dengan gambar tato dan berkembang menjadi seni tato.

Seni tato berawal dari rajah

Selain rajah / guratan gambar memolakan wujud warna juga bisa diguratkan dengan rasa-rasa misalnya
rasa manis dengan tujuan yang mulia dan kehidupan yang manis, media yang digunakan madu. Alat
yang digunakan beragam dari tangkai daun sirih, ujung keris, ujung pisau.

Rajah pada tubuh yang sifatnya sakral dan temporer menggunakan sistem rajah organic yaitu
menggunakan tangkai dedaunan misalnya tangkai daun sirih. Rajah pada daun biasanya menggunakan
ujung keris, ujung pisau, pemutik atau pisau khusus untuk menulis guratan aksara dan gambar pada
daun lontar

Rajah juga merupakan guratan akasara suci, gambar suci di atas media tubuh, anggota badan, lidah, gigi,
kuku, telapak tangan, kening, dll dengan media; madu, darah, arang, pamor, dll. Rajah kadang dilengkapi
dengan pengurip-urip berupa mantra bertujuan untuk pemolaan energi tertetntu sesuai tujuannya;
menstimulan spirit kesejahtraan, kewibawaan, rejeki, kekuasaan, menghilangkan suatu hama,
kesembuhan dan membagun suatu harmonisasi selaras alam dan lainnya.

Demikian rajah diterapkan yang dimana rajah identik dengan gambar yang dimasa kini pupuler dengan
sebutan drawing.

Rajah juga diterapkan pada kertas menjadi drawing, pada kulit binatang kemudian ditatah menjadi seni
wayang, diterapkan pada kain kemudian di Bali menjadi kober semacam bendera , semacam panji-panji,
juga menjadi kajang semacam kain bergambar dengan aksara-aksara suci yang digunakan untuk
penutup kepala dan tubuh dan mejadi media dari suatu piranti spitiual pada seseorang, pada wujud
perlambang rangda dan di gunakan pada orang yang meninggal.

Pada tahap ini kitab isa menyimak jika rajah, gambar telah menjadi kultur yang mempunyai peran
penting dimasyrakat Bali.

Spritualitas merupakan suatu konten nilai dalam karya seni, khususnya seni gambar. Gambar merupakan
karya seni yang sifatnya simbolik mengandung nilai-nilai estetik, philosofis, spiritual.

Seni gambar di Indonesia telah ada dan menjadi kultur diwarisi dari para leluhur Bangsa Indonesia, seni
gambar ini adalah seni rajah. Rajah adalah guratan berupa gambar dan guratan aksara suci yang dibuat
pada media seperti; tubuh, kertas, kain, lempengan logam; emas, perak, perunggu, tembaga serta pada

media tembikar, dedaunan seperti daun sirih, daun pisang, janur, daun lontar. Guratan rajah juga bisa
ditemui Bali dibuat pada buah kelapa muda dan lainnya. Rajah menjadi media ungkap yang sembolik
dan telah menjadi kultur dalam doa, dalam suatu harapan dengan memolakan bentuk - bentuk,
mengguratkan pola rias yang komposisinya dinamis dan simetris.

Simbol-simbol yang dihadirkan dalam tradisi rajah/ tradisi gambar yang telah membudaya menjadi
khasanah budaya rupa di tanah air sifatnya etnik menghadirkan simbol-simbol lokal dengan estetika
artistik lokal dan pakem pakem etnis. Nilai-nilai budaya gambar tersebut dapat dibaca bahwa dalam
guratan-guratan visual berupa gambar, guratan aksara menandakan kehadiran nilai-nilai spiritual,
didalamnya terkandung nilai philosofis, estetis yang menyatu dan telah menjadi media komunikasi,
media simbolis, media pernyataan, media eksekusi media spirit dan media yang sifatnya holistik. seni
gambar telah hadir sebagai kultur rajah di beberapa wilayah di Indonesia.

Dalam melacak jejak visual seni gambar di Indonesia pada keempatan webminar FDI ini saya
mengunakan pendekatan pada kebeadaan seni rajah, berdasarkan telah mengkulturnya rajah sebagai
medium komunikasi, serta eksisnya rajah pada budaya-budaya di berbagai daerah seperti Bali, Sumatra,
Kalimantan, Sunda, Sulawesi dan hampir semua pada kebudayaan tua di berbagai daerah ditanah air.

Jejak budaya gambar di Bali telah tercerap menjadi budaya bahkan sangat esensial dan menjadi bagian
dari spiritualitas berkehidupan. Seni rajah di Bali membudaya menjadi rerajahan. Rerajahan adalah
suatu budaya gambar yang mengandung suatu keyakian, simbol-simbol spirit, kekuatan etnik, estetika
lokal, yang dihadirkan menjadi media untuk perantara penyambung rasa, media menghadirkan suatu
keyakinan, media spiritualitas dan media yang sifatnya holistik pada suatu masyarakat.

Rerajahan di Bali telah menjadi kultur. Jadi Bali dapat dikatakan memiliki budaya gambar yang
mentradisi dengan estetika, keilmuan, idiologi, daya guna yang telah dipraktikan sejak mula-mula
sebagai wujud simbolik dalam bersyukur, berdoa, menangkal suatu wabah, media harmonisasi.
Masyrakat di Bali telah menempatkan budaya gambar sebagai suatu teknologi, sebagai media yang
sifatnya spiritual juga sebagai media yang sifatnya sekuler dengan segala ciri dan penandanya.

Jejak budaya gambar, budaya rerajahan di Bali telah tercatat pada lontar-lontar tua, guratannya pada
pusaka, pada lempengan logam; emas, perak, perunggu, kertas, kain, bilah-bilah tembikar, bilah kayu
tertentu, pada permukaan batu-batu yang disakralkan. dengan paparan ini sebenarnya kita telah
mengidentifikasi kekayaan jejak spiritualitas dan lkalitas dalam gambar itu yang berupa rajah ini
beragam yaitu;

Rajah Tubuh
Rajah Daun
Rajah Kertas
Rajah Kain
Rajah Logam
Rajah Tembikar

Rajah-rajah diatas elemennya dapat dibagi menjadi elemen gambar dan elemen aksara dalam budaya
rerajahan / budaya gambar di Bali
Rajah ada yang sifatnya murni gambar saja dan ada yang kemudian dihidupkan dengan mantra. disini
bisa kita sima budaya gambar juga diasilitasi dengan budaya sastra guna mencapai suatu capaian kondisi
rasa yang maha utama.

Rajah Bali yang menggabungkan guratan gambar dan aksara
Dalam penelitian saya mengamati jejak seni gambar di Bali akhirnya pula mendapatkan jenis gambar,
rajah beragam.
Rajah organik media daun dengan tintanya berupa madu dan alat menguratkan gambar dan aksara
berupa tangakai daun sirih (katik base) rajah organik ini mengeklpor rasa; rasa manis, rasa pahit, rasa
masam, rasa asin, rasa sepat, rasa sesuatu yang busuk. Rajah organik juga mengekplorasi warna (manis
dan gambar dengan mediaum mantra. pamor, arang dan darah
Rajah Batu merupakan guratan yang dibuat diatas batu yang menandakan susuatu guratannya berupa
pola-pola yang simbolik berwujud lingkaran, garis, garis lengkung, titik, serta telah menerapkan
komposisi yang simetris dan komposisi yang dinamis. Rajah Batu selain menghadirkan guratan gambar
garis dan wujud figur dan pola hias tertentu juga mengguratkan aksara-aksara suci.

Rajah Batu saah satunya bisa kita simak hari ini pada situs pura Pucak Penulisan di Kintamani Bali.
Budaya gambar di Bali eksis menjadi bagian dari tiap - tiap peradaban dan masa. Hal ini bisa kita simak
pada jejak jejak gambar ada pada beberapa pustaka, purana, prasasti, perasi, lontar dan beberapa
sarana upacara.
Peradaban gambar di Bali cukup tinggi. Kemampuan gambar yang tinggi bisa dilihat pada digunakannya
beragam media untuk gambar, untuk rajah. Misalnya pada goresan simetris berupa lingkaran dan
elemen- elemen garis lengkung yang simetris di situs Pura Pucak Penulisan di Kintamani, Bangli Bali.
Disana kita bisa simak seni gambar telah muncul berupa guratan rajah batu dengan cara diguratkan lalu
ditatah. Peradaban jejak seni gambar di Bali terlihat pada salah satu bagunan berupa pelinggih kuno
pada media batu berjumlah sepasang yaitu dua batu dengan beda elemen guratan gambar yang
ditatahkan.

Prasasti Ciaruteun yang menampakan guratan aksara Palawa berbahasa Sansekerta foto sumber dari
internet.

guratan gambar telapak kaki dan aksara merupakan rajah pada Batu.
Rajah Batu ini sebagai media informasi keberadaan keagungan Maharaja Purnawarman pemimpin
kerajaan Tarumanegara
Rajah memiliki nilai - nilai spritual yang menandakan kesepakatan-kesepakatan lokal yang hadir menjadi
suatu kultur bahkan dianggap pula bernilai sakral. Pada rajah nilai-nilai simbolik diguratkan sebagai
tanda-tanda tertentu yang menunjukan suatu kekhususan yang bisa dibaca dan menjadi pendanda dan
spirit penting dari suatu masyarakat tertentu.

***

Pemahaman ragam budaya Bali kontemporer tidak dapat dilepaskan dari dinamika sejarah Bali masa
lalu. Budaya Bali sekarang adalah hasil akulturasi budaya lokal dan budaya yang datang dari luar Bali.
Beberapa ahli yang mengkaji ini, menegaskan bahwa unsur dari luar menjadi faktor dominan dalam
pembentukan budaya Bali. Demikian juga perkembangan rajah-gambar hingga menjadi seni gambbar
popular saat ini.

Posisi seni gambar secara implisit bisa disimak lewat penelitian arkeologis telah mendapatkan bukti yang
dapat menjelaskan perubahan secara gradual bentuk-bentuk seni dari seni pahat yang berasal langsung
dari India ke bentuk-bentuk Bali yang khas yang makin bertambah.

Seni Bali kuno menurut Stutterheim dibagi menjadi tiga periode: (1) periode Bali-Hindu pada abad ke-8
sampai abad ke-10, ...”yang selama itu mendapat pengaruh langsung dari India (Buddhisme), atau
pengaruh dari Jawa atau kedua-duanya, seni pahat dari yang benar-benar India dicipta”., (2) masa Bali
Kuno, abad ke-10 sampai abad ke-13. …”yang didalamnya pengaruh India diadaptasi serta digabungkan
dalam sebuah seni yang dengan jelas menjadi Bali dan dengan tidak terelakkan menjadi lebih primitive
pada awalnya dari seni periode yang mendahului”; dan (3) periode Bali Tengah yang berkembang
selama abad ke-13 dan ke-14, ”yang membentuk sebuah transisi ke seni modern”.

Pada waktu pemerintahan Ugrasena (896 M), dalam prasasti yang ada menyebutkan istilah
parbhwayang, yakni bentuk-bentuk gambar wayang yang kemungkinan ditujukan pada seni rupa
pewayangan. Selanjutnya bentuk seni rupa di Bali mengalami perkembangan yang berbeda dengan
daerah di Jawa.

Bentuk perubahan ini bersifat sebagai penyesuaian terhadap karakter orang Bali yang ekspresif, suka
lelucon serta bersungguh-sungguh; mewah dengan warna-warna emas dan terang; musiknya, walaupun
kaya dan melodis, adalah karakteristik eksplosif (meledak-ledak).

Sekitar abad ke-XI (1045-1447), dalam beberapa prasasti yang di keluarkan Raja Anak Wungsu terdapat
istilah aringgit. Ini memberi petunjuk telah dikenal adanya kelompok yang mempunyai keahlian melukis
wayang, yang pada salah satu prasastinya terdapat goresan gambar motif wayang yang menggambarkan
Batara Siwa. Selanjutnya pada naskah-naskah kuno berupa lontar bisa ditemukan lukisan-lukisan
dengan cerita atau motif wayang, yang sampai sekarang masih digemari masyarakat Bali. Gaya lukis
pada lontar inilah yang rupanya menjadi cikal bakal perkembangan seni lukis Bali klasik.

Gaya lukis seperti ini berkembang terutama di Kamasan, Klungkung sekitar abad XV, dan mendapatkan
masa keemasan pada saat pemerintahan Dalem Waturenggong. Pada saat peralihan Gelgel-Klungkung
(mulai dari 1600-an) memberikan gambaran dimana seni rupa Bali mengalami kemajuan pesat
dibuktikan dengan lukisan-lukisan wayang yang ada di balai Kerta Gosa yang dibangun pada masa
pemerintahan Dewa Agung Jambe (tahun 1622 saka atau 1700 masehi).

Dilihat dari segi motif lukisannya menekankan pada motif wayang dengan corak yang bersifat dekoratif.
Dengan latar belakang sosiokultural dan religius masyarakat Hindu yang dibawa Majapahit, masyarakat
mendapatkan pengalaman estetisnya lewat ritual upacara dan cerita-cerita dari kitab ajaran yang
menjadi pedoman dalam kehidupan tiap anggota masyarakatnya. Karya-karya yang ditampilkan
merupakan ilustrasi naratif baik cerita maupun ikonografinya diturunkan langsung dari kesenian
wayang. Pemesan atau konsumen karya seni adalah golongan bangsawan untuk puri-puri mereka dan

masyarakat biasa untuk pura-puranya. Sebagaimana yang dilakukan pada masa dari ayah I Gusti
Nyoman Lempad, yaitu I Gusti Ketut Mayuka seorang sangging yang terbiasa kerja per-undagi-an, yang
memperbaiki kuil atau membantu masyarakat menyelesaikan upacara tertentu.

Istilah juru gambar atau juru patung disebut sangging, istilah seniman belum dikenal pada waktu itu.
Pada umumnya mereka berkarya sebagai bagian dari tugas sosial dan religiusnya (ayahan). Hampir
semua karya mempunyai fungsi religius, dan agama turut menentukan baik tempat, wujud, maupun
penggunaan karya yang bersangkutan. Misalnya raksasa dan binatang ditempatkan pada posisi yang
rendah dan di daerah yang relatif kotor dari pura atau puri/rumah, sedangkan secara simetris dewa-
dewa menempati posisi tinggi di daerah yang suci.

Kemampuan seorang sangging berbeda-beda sampai pada tahap tingkatan yang tertinggi, yang sudah
berhasil meloloskan murid-muridnya menjadi seorang sangging yang pandai dan diakui masyarakat.
Maka guru sangging tersebut mendapat gelar; Sangging Labdhakarya. Karya sangging yang berprestasi
dijadikan parameter dan dipersembahkan penilainnya kepada masyarakat luas. Karya yang berprestasi
kemudian dikagumi selanjutnya dijadikan model dan acuan untuk karya-karya berikutnya atas kesadaran
bersama. Seorang sangging tidak akan menuntut hak paten jika karyanya ditiru.

Kebudayaan tradisional yang bersifat kolektif di Bali menghasilkan karya-karya seni gambar yang bersifat
simbolis dan bernilai sakral. Di Bali lukisan tradisional dengan basis gambar merupakan bagian dari
berbagai upacara Panca Yadnya yang diterapkan pada Tabing, Ider-ider, Langse, serta Kober, demikian
juga halnya dengan lukisan wayang klasik gaya Kamasan, serta Rerajahan yang biasanya dikerjarupakan
oleh sangging sehingga karya tersebut punya nilai taksu.

Warna-warna yang dipilih menurut fungsi simbolis yang terkait dengan letak figur yang bersangkutan di
atas “pangider-ider, alias peta mata angin kosmis Bali. Adapun “seniman” sebagai manipulator lambang
dan fungsi agama, selain harus ditasbih melalui, upacara tersendiri, tidak dapat mulai berkarya tanpa
mempertimbangkan “dewasa” positif dan negatif serta melakukan upacara kecil terkait. Inspirasinya
tidak dikaitkan dengan bakat individual, tetapi dengan nama taksu (religius dan ber-ruh), dipersepsikan
sebagai berkah warisan kekuatan ”niskala” (gaib), yang pada umumnya dimohonkan melalui
perantaraan kuil- kuil yang berfungsi membuka komunikasi dengan leluhur. Tatanan estetis baku: ruang,
ikon, dan sub ikon terpatron dan berulang-ulang, warna stabil dan dibatasi kontur, garis terkekang
narasi.

Keadaan Bali dengan kehidupan sangging-sangging , juru gambar tersebut terus berlangsung dari masa
kerajaan, yang selanjutnya masih tetap bertahan pada periode kedatangan bangsa Barat, pendudukan
Jepang, sampai pada periode revolusi bahkan sampai periode kemerdekaan Indonesia, hingga sekarang.
Namun biasanya mereka tetap hanya punya orientasi mengabdi pada masyarakat sesuai dengan konsep
Tri Hita Karana yang menyangkut desa, kala dan patra atau kesadaran akan tempat, waktu dan ruang.


Click to View FlipBook Version