The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by attionkaskus, 2022-04-24 22:22:07

KONEKSI ANTAR MATERI 3.1

KONEKSI ANTAR MATERI 3.1

KONEKSI ANTAR MATERI

Modul 3.1

Pramawati Suryaningrum, S. Pd

PENGAMBILAN KEPUTUSAN
SEBAGAI PEMIMPIN
PEMBELAJARAN

Program Pendidikan Guru Penggerak ini menjadi wadah
yang memberikan kesempatan bagi pendidik untuk

mengembangkan kompetensi dan keterampilan dalam
mengemban dan menjalankan tugas dan tanggungjawab

sebagai pendidik yang merupakan pilar utama dalam
mewujudkan transformasi pendidikan kedepannya.

Dalam rangka memperdalam dan memperkaya
pengetahuan melalui berbagai kegiatan yang dimulai dari
pemahaman filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, nilai

dan peran seorang guru, profil pelajar pancasila,
pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran kompetensi

sosial emosional, coaching hingga pada pengambilan
keputusan sebagai pemimpin dalam pembelajaran
mengantarkan kita semakin tergerak untuk bergerak,
berinovasi dan merubah paradigma terhadap nilai dan
peran yang semestinya dimiliki oleh seorang pendidik
demi mewujudkan pembelajaran yang memerdekakan

siswa.

Untuk mewujudkan hal tersebut bukanlah hal yang mudah, berbagai
proses pasang surut, tantangan dan kendala yang harus dilewati memicu
semangat dan motivasi untuk tetap terus berjuang. Hal ini mengajarkan
bahwa untuk mewujudkan suatu perubahan transformasi dibidang
pendidikan membutuhkan semangat yang tinggi agar tetap konsisten
mewujudkan tujuan yang ingin dicapai.

Tulisan yang saya tuangkan pada blog kali ini akan membahas tentang
keterkaitan setiap materi yang telah dipelajari, berikut adalah beberapa
gambarannya:

1. Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap
Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan
keputusan sebagai pemimpin pembelajaran diambil?

Ki Hajar Dewantara yang merupakan Bapak Pendidikan yang
mengemukakan bahwa tujuan dari suatu pendidikan adalah menuntun
segala kodrat yang ada pada anak, agar dapat mencapai keselamatan dan
kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun
sebagai anggota masyarakat. Anak-anak tumbuh dan berkembang sesuai
dengan kodratnya, yaitu kodrat alam dan zaman. Pendidik hanya dapat
merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat tersebut. Seorang guru yang
baik adalah yang belajar memahami karakteristik siswanya, dan
menyadari setiap siswa memiliki keunikan, keunggulan, diferensiasi
baik pada gaya belajarnya, arah dan kecepatannya dalam menerima dan
merespon stimulus yang diberikan. Untuk itu, dalam memaksimalkan
tumbuh kembang dan potensi yang dimiliki anak tersebut seorang guru
memiliki peran penting menjadi coach, fasilitator, mentoring dan
motivator dalam pembelajaran.

Filosofi pratap triloka yang diusung oleh Ki Hajar Dewantara menjadi
prinsip yang mendasari seorang pendidik dalam melakukan proses dan
perannya untuk menuntun siswa yaitu "ing ngarsa sung tuladha, ing
madya mangun karsa, dan tut wuri handayani". Ing ngarsa Sung Tulada
artinya menjadi contoh ketika berada di depan, bagaimana prinsip ini
kemudian mengantarkan seorang pendidik untuk mampu menjadi
teladan dan memberikan contoh kepada siswa. Ing madya mangun karsa
artinya member semangat ketika berada di tengah, prinsip ini
memberikan gambaran bahwa sebagai seorang pendidik harusnya
menjadi motivator, penyemengat siswa yang mampu membangkitkan
kemauan, membangun keanekaragaman potensi siswa untuk dapat
berkembang. Tut wuri handayani artinya ketika berada di belakang
bagaimana seorang pendidik mampu mengarahkan, member semangat
dan mendorong siswa untuk belajar dan memaksimalkan potensi yang
dimilikinya.

Pandangan Ki Hajar Dewantara ini tentu sejalan dan memberi pengaruh
pada mindset atau pemikiran yang digunakan dan menjadi dasar dalam
sebuah pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.

Seorang pemimpin atau guru harus mengambil keputusan yang tepat,
arif, bijaksana dan berpihak pada siswa. Tentunya dari pemahaman dan
pendalaman filosofi ini membuat seorang pendidik dalam mengambil
keputusan sebagai pemimpin dalam pembelajaran didasarkan pada
manfaat atau mengedepankan kepentingan siswa. Dimana apa dan
bagaimana pengambilan keputusan ini akan menjadi cerminan dan
teladan bagi siswa kedepannya.

2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh
pada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu
keputusan?

Nilai adalah keyakinan sebagai standar, pedoman yang mengarahkan
perbuatan dan standar pengambilan keputusan terhadap objek atau
situasi yang sifatnya sangat spesifik. Nilai-nilai yang tertanam dalam
diri kita menjadi cerminan atas pola pandangan dan bagaimana kita
menentukan sikap, kecenderungan kita dalam mengambil dan
melakukan keputusan terhadap suatu situasi. Setiap orang memiliki
keyakinan nilai yang ada pada dirinya, begitupula dengan seorang
pendidik tentunya memiliki nilai-nilai kebaikan yang diyakininya dan
tercermin melalui perilaku keseharian yang menjadi kebiasaan. Nilai-
nilai tersebut antara lain mandiri, kolaboratif, reflektif, inovatif dn
berpihak pada murid. Melalui PGP ini kemudian nilai-nilai tersebut
semakin diperkuat, ditingkatkan untuk menjalankan peran sebagai
seorang pemimpin dalam pembelajaran.

Nilai-nilai tersebut mempengaruhi cara berfikir seorang pendidik dalam
mengambil sebuah keputusan terhadap situasi permasalahan yang
dihadapi. Paradigma dilema etika apa yang digunakan, prinsip berfikir
seperti apa yang dijadikan standar acuan dalam menentukan sebuah
keputusan banyak dipengaruhi oleh nilai keyakinan yang cenderung
dalam diri seorang pendidik. Keputusan yang diambil dengan
memperhitungkan dan mempertimbangkan segala bentuk hasil akhir
atau konsekuensi yang ada, namun mengedepankan kepentingan dan
keberpihakan pada siswa. Bagaimana implementasi dari kompetensi
sosial emosional kesadaran diri, keterampilan pengelolaan diri dan
emosional yang dijadikan manifestasi dan pertimbangan agar tidak
secara gamblang membuat keputusan yang akhirnya akan disesali dan
mencederai pihak lainnya.

3. Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi
pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan coaching yang
diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses
pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan
yang telah kita lakukan. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah
efektif, masihkah ada pertanyaan dalam diri kitas atas keputusan
tersebut. Hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi coaching yang telah
dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Coaching menjadi salah satu proses kolaborasi yang dilakukan untuk
membuat dan mengambil keputusan secara tepat dan efektif dengan
memaksimalkan potensi yang dimiliki siswa dalam menyelesaikan
permasalahan yang dihadapi. Dimana melalui proses coaching ini
memberikan manfaat dan membantu seorang pendidik dalam
meningkatkan kemampuan dan potensi siswa dalam pembelajaran.
Pertanyaan-pertanyaan reflektif yang diajukan seorang pendidik selaku
coach dalam menggali dan mengidentifikasi permasalahan yang
sebenarnya terjadi, kemudian menstimulus pemikiran siswa dalam
menentukan alternatif solusi seperti apa yang dapat dilakukan dengan
melihat potensi yang dimiliki. Hal ini menciptakan kondisi
pembelajaran yang lebih berpihak pada siswa dengan mengoptimalkan
potensi yang dimiliki sesuai dengan kodratnya. Sehingga, coaching
menjadi sangat erat kaitannya dengan pengambilan keputusan yang
dilakukan.

4. Bagaimana pembahasan studi kasus yang focus pada moral atau etika
kembali pada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Permasalahan yang dihadapi oleh seorang pendidik dari waktu ke waktu
yang mengharuskannya mengambil sebuah keputusan, dimana
keputusan yang diambil tidak terlepas dari nilai-nilai yang diyakini.
Bagaimana bentuk keputusan yang diambil apakah berdampak pada
kepentingan siswa atau malah mencederainya merupakan buah
cerminan dari nilai yang diyakini tersebut. Permasalahan dilema etika
ataupun bujukan moral yang dihadapi diselesaikan dengan berdasarkan
pada prinsip dan nilai yang diyakini. Jika nilai yang diyakini adalah
positif maka tentu keputusan yang diambil mempertimbangkan segala
konsekuensi yang ada dengan memilih keputusan yang sesuai dengan
nilai moral dan dapat dipertanggungjawabkan. Sebaliknya, jika nilai
yang diyakini negatif sedikit banyak berpengaruh pada keputusan yang
diambil kadang melenceng dari aturan yang sebenarnya, yang hanya
benar menurut pandangannya tetapi mencederai pihak lainnya.

Nilai-nilai yang dimiliki oleh seorang pendidik seperti mandiri, reflektif,
kolaboratif, inovatif dan berpihak pada siswa akan mendorong dan
memotivasi pendidik dalam membuat dan mengambil sebuah keputusan
yang sesuai, tepat dan efektif serta berpihak pada siswa. Nilai-nilai
inilah yang diyakini dan menjadi acuan standar berfikir atau prinsip
yang digunakan dalam mengambil dan membuat sebuah keputusan.

5. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak
pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan yang tepat tentunya berdampak pada
terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Hal
ini dikarenakan, keputusan tersebut merupakan keputusan yang tepat
dan efektif sehingga tidak mencederai pihak yang terlibat dan dapat
mengakomodasi kebutuhan atau kepentingan berbagai pihak.

Pengambilan keputusan ini dapat dilakukan dengan 9 langkah agar
keputusan yang diambil sesuai dan tidak melanggar aturan yang ada.
Langkah-langkah ini menjadi cara yang diyakini dapat diterapkan dalam
mengambil dan menguji keputusan. Dimana sebelum melakukan
pengambilan keputusan hendaknya melihat dan mengidentifikasi secara
jelas permasalahan atau situasi yang ada, apakah termasuk dilema etika
atau bujukan moral.

6. Apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan anda yang sulit
dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap
kasus dilemma etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan
paradigma di lingkungan anda?

Sebagai pendidik yang tentunya mengalami dan diperhadapkan berbagai
permasalahan dari waktu ke waktu yang menuntut dilakukannya
pengambilan sebuah keputusan. Permasalahan dan situasi yang dihadapi
perlu untuk dicermati dan dianalisis dengan seksama agar kita tidak
terjebak pada keputusan yang akhirnya disesali karena kurang mampu
dalam menelaah situasi yang dihadapi secara jelas apakah termasuk
dilema etika atau sekedar bujukan moral.

Ketika diperhadapkan dengan situasi dilema etika tentu adakalanya
mengalami kesulitan-kesulitan dalam menjalankan pengambilan
keputusan tersebut. Adapun kesulitan-kesulitan tersebut antara lain:

a. Masih minimnya pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki dalam
menyelesaikan situasi permasalahan yang dihadapi.

b. Kurang percaya diri dalam menjalankan solusi penyelesaian atau
keputusan yang telah diambil.

c. Kekhawatiran apakah keputusan yang diambil merupakan keputusan
yang tepat dan dapat mengakomodasi serta tidak mencederai pihak
lainnya.

d. Perbedaan mindset dan sudut pandang yang menyebabkan sulitnya
menemukan solusi atau kesepakatan yang dapat diterima oleh setiap
pihak yang terlibat.

Dari kesulitan-kesulitan yang dipaparkan di atas merupakan bagian dari
pengaruh perubahan paradigma yang dipegang dan tertanam oleh pihak
yang ada di sekolah.

7. Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan
pengajaran yang memerdekakan siswa kita?

Pengambilan keputusan yang dilakukan tentu akan mempengaruhi pola
pengajaran yang kita lakukan terhadap siswa. Sejatinya dalam proses
belajar mengajar diperlukan kemerdekaan dalam belajar, yang tanpa

harus diintervensi oleh beragam aturan dan sistem yang membuat pada
kurangnya tempat dalam menyalurkan potensi siswa. Ada banyak hal
yang dapat dilakukan untuk memerdekakan siswa, salah satunya adalah
dengan melakukan pengambilan keputusan yang tepat dan efektif serta
berpihak pada siswa. Keputusan yang diambil sebagai bentuk proses
dalam menuntun siswa untuk merdeka, tumbuh dan berkembang sesuai
dengan kodrat alam, zaman dan potensi yang dimiliki. Hal ini dapat
dilakukan dengan menerapkan coaching sebagai upaya dalam menuntun
siswa mengeksplorasi pemikiran-pemikirannya dengan memaksimalkan
potensinya untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.

8. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil
keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan siswa?

Sebuah keputusan yang diambil oleh seorang pemimpin dalam
pembelajaran tentu akan mempengaruhi bagaimana kehidupan masa
depan siswa. Masa depan siswa terwujud dari tangan pendidik yang
peduli, kreatif, dan inovatif. Kemajuan suatu generasi tergantung dari
pendidik yang memusatkan pemikiran, memaksimalkan usaha dan
potensinya serta langkahnya untuk kemajuan siswanya. Seorang
pendidik seharusnya dapat menjalankan perannya untuk menuntun
siswa dalam mengeksplorasi pemikiran dan potensi yang dimiliki dalam
menemukan solusi dan mengatasi permasalahan yang dihadapi. Dari
proses coaching yang dilakukan dapat membantu pendidik dalam
menentukan keputusan yang tepat dan efektif bagi siswa dalam rangka
melejitkan dan memaksimalkan potensinya untuk tumbuh dan
berkembang sesuai dengan kodratnya masing-masing. Keputusan yang
diambil oleh seorang pendidik yang mengedepankan kepentingan siswa
secara tidak langsung memberikan cerminan dan teladan bagi siswa
bagaimana mereka kedepannya merespon permasalahan yang dihadapi.

9. Apakah kesimpulan akhir yang dapat anda tarik dari pembelajaran
modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul sebelumnya.

Pembelajaran dan pengalaman yang saya peroleh dari mempelajari
modul 3.1 terkait pengambilan keputusan sebagai pemimpin
pembelajaran adalah seorang pendidik yang merupakan pilar utama
dalam dunia pendidikan yang berinteraksi langsung dengan siswa
sehingga sering diperhadapkan oleh situasi dan problematika yang
mengharuskan dilakukannya pengambilan keputusan. Tentunya harapan
dari pengambilan keputusan yang dilakukan ini bukanlah suatu
keputusan gegabah, terburu-terburu yang kemudian tidak
mempertimbangkan konsekuensi dan situasi tak terduga lainnya di masa
depan serta mencederai pihak lainnya. Pengambilan keputusan yang
dilakukan merupakan rangkaian proses yang memunculkan kehati-
hatian dalam menentukan sikap dan langkah tindakan dari berbagai
kemungkinan situasi yang ada.

Proses panjang melalui pendalaman materi sebelumnya yang telah
dipelajari semakin menguatkan keterkaitan antar materi yang ada
sebagai dasar konsep pemahaman yang mesti dimiliki oleh seorang
pendidik dalam menjalankan peran sebagai pemimpin dalam
pembelajaran. Bagaimana seorang pendidik yang baik seharusnya
memahami dan memperkuat nilai-nilai kebaikan diri serta peran dan
fungsinya sebagai model keteladanan dalam menumbuhkembangkan
karakter nilai yang tercermin dalam profil pelajar pancasila serta sebagai
fasilitator dalam pembelajaran yang mengedepankan kepentingan siswa.

Pengambilan keputusan merupakan salah satu langkah yang ditempuh
oleh seorang pendidik sebagai pemimpin pembelajaran yang memberi
kemerdekaan atau memerdekakan siswa untuk tumbuh dan berkembang
sesuai dengan kodrat dan potensi yang dimilikinya masing-masing tanpa
harus merasa terkunkung dan terintervensi untuk menjadi diri orang lain.
Hal ini sejalan dengan akar dari filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara
yang menepatkan kemerdekaan sebagai syarat dan juga tujuan
membentuk kepribadian serta kemerdekaan bathin.

Merdeka belajar bermakna bahwa dalam belajar harus dilakukan dengan
membangun kemauan dan semangat, mewujudkan kebebasan untuk
menyatakan pikiran, dan bebas dari segala bentuk rasa takut.
Kemerdekaan dalam belajar ini akan dirasakan oleh siswa ketika
seorang pendidik mampu menciptakan pembelajaran yang
memperhatikan dan mempertimbangkan kebutuhan belajar siswa.
Berangkat dari pemahaman bahwa setiap siswa itu berbeda, mereka
tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodratnya serta belajar dengan
gaya, arah dan kecepatannya masing-masing. Maka pembelajaran yang
hendaknya diterapkan adalah pembelajaran yang mengakomodasi
perbedaan tersebut, baik dari diferensiasi minat, profil dan kesiapan
belajar siswa. Selain itu, mengkombinasikan pembelajaran dengan
mengintegrasikan keterampilan sosial emosional sebagai upaya untuk
menjadikan kondisi berkesadaran penuh dan focus dalam pembelajaran
yang dilakukan. Hal tersebut menjadi uapaya atau usaha yang dilakukan
dalam rangka memaksimalkan potensi yang dimiliki siswa.

Selain itu, coaching juga menjadi salah satu usaha yang dilakukan oleh
seorang pendidik dalam menuntun siswa untuk memaksimalkan segala
potensi yang dimiliki dalam menyelesaikan permasalahan yang
dihadapi. Proses coaching ini dilakukan dengan menjalin dan
membangun hubungan kolaborasi dengan menggunakan komunikasi
asertif serta mengajukan pertanyaan-pertanyaan reflektif yang
menstimulus siswa dalam mengeksplorasi potensi yang dimiliki untuk
mengatasi permasalahan yang dihadapi. Coaching sendiri tidak hanya
dilakukan pada siswa, tetapi dapat juga diterapkan untuk membantu
rekan guru, atau seluruh warga sekolah untuk menciptakan kondisi yang
ideal dan membangun kebiasaan budaya positif sekolah dengan
memaksimalkan potensi yang dimiliki.


Click to View FlipBook Version