The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by nunoriza, 2022-10-25 10:27:13

Majalah Guru Petung ED IV Tahun 1

Majalah Guru Petung ED IV Tahun 1

Keywords: Majalah Guru Petung

MAJALAH
GURU PETUNG

Edisi IV Tahun I - Oktober 2022

Artikel Spesial

Guru Sulit Belajar
Terpenjara Miskonsepsi

Berbagi Praktik Baik

Merdeka Belajar dan
Sarpras yang Terbatas

Nonton Bareng

Film Pendek SALAH BARUT

GURU BELAJAR
SAMPAI AKHIR

@majalahgurupetung @majalahgurupetung Majalah Guru Petung

Kontributor

MAJALAH Editor Tulisan

GURU PETUNG

Info Gita Putri A. Hanif Affan E.P.

Majalah Guru Petung SMP SATAP Tlogohendro SDN 02 Simego
terbit setiap tiga bulan

sekali dengan
menampilkan berbagai
topik terkini pendidikan

dipadukan dengan
praktik baik pembelajaran

dari guru di Kecamatan
Petungkriyono

Dewan Redaksi Hanggoro Bergas Hadi Suprapto

Siswadi, S.Pd.I. SMAN 1 Petungkriyono SDN 02 Yosorejo
Nunuk Riza Puji, S.T.
Desain Grafis





Alamat

Jl. Raya Yosorejo,
Kec. Petungkriyono

Kab. Pekalongan
Jawa Tengah 51193

Fendy Nugroho Nunuk Riza P.

SDN 03 Songgowedi SMAN 1 Petungkriyono

[email protected]

@majalahgurupetung

@majalahgurupetung Fidya Hidayati Yuli Tri Utomo
Majalah Guru Petung
SMPN 1 Petungkriyono SMP SATAP Tlogohendro

2 Edisi IV Tahun I - Oktober 2022

Daftar Isi

1 Halaman Depan
2 Kontributor
3 Daftar Isi
4 Apakah guru masih perlu belajar lagi?
5 Guru Sulit Belajar, Terpenjara Miskonsepsi
10 Sekolah Tak Punya Guru PAI Tetap Berprestasi di MAPSI
12 Merdeka Belajar Ditengah Sarpras Yang Terbatas
16 M A B A R
21 Puisi
22 Salah Barut
23 Membuat Animasi untuk Media Pembelajaran

Edisi IV Tahun I - Oktober 2022 3

Dari Redaksi

H. Siswadi

SDN 03 Kayupuring

"Apakah guru masih perlu belajar
lagi?"

Pada suatu hari saya diundang oleh Dinas
Pendidikan di salah satu kota di Jawa Tengah untuk
memberikan paparan terkait Implementasi
Kurikulum Merdeka dengan jumlah peserta sebanyak
500 orang. Saya mengawali presentasi dengan
melontarkan pertanyaan diatas kepada peserta yang
seluruhnya adalah guru. Ternyata jawaban peserta
semua sama. Senada layaknya orkestra. Gegap
gempita seperti paduan suara. Mereka manjawab
dengan mantap dan seksama, "YA!".

Jika demikian, seharusnya guru-guru kita adalah
guru yang melek teknologi, dong. Guru-guru kita itu
seharusnya adalah guru-guru yang sudah
menerapkan strategi-strategi belajar untuk
mewujudkan generasi kompeten sesuai dengan
kebutuhan abad 21. Sayangnya, kenyataan
dilapangan tidaklah demikian. Guru-guru kita
terbukti gagap ketika pandemi COVID-19 menerpa.

Mengapa bisa? Setidaknya ada beberapa alasan
mengapa ini bisa terjadi. Semua kita kupas dalam
artikel berjudul "Miskonsepsi Guru Belajar". Dalam
edisi ini juga kita hadirkan praktik baik gerakan
guru belajar yang ada di Petungkriyono melalui
komunitas Guru Petung Belajar Lagi (GPBL).

4 Edisi IV Tahun I - Oktober 2022

Daftar Isi

Nunuk Riza P.

SMAN 1 Petungkriyono

GURU SULIT BELAJAR,
TERPENJARA MISKONSEPSI

*) Artikel ini adalah liputan hasil diskusi pada grup WhatsApp komunitas Guru Petung Belajar Lagi

"Guru" dan "belajar" adalah dua entitas "Peserta lebih ramai menanyakan link
yang tidak bisa dipisahkan. Saling kehadiran, tanda tangan surat tugas,
terkait, dan saling mendukung. Peran atau kapan sertifikat dibagikan.
guru tidak pernah dapat dilepaskan Mayoritas peserta tidak antusias
dari tugasnya sebagai profil yang mengikuti pelatihan", begitu kata Pak
selalu membimbing dan membina Affan. Beliau mengaku pernah
murid agar menjadi insan cendekia. mengikuti webinar yang saat itu
Guru juga menjadi pihak yang selalu diselenggarakan oleh salah satu
mengajak murid dan masyarakat kampus pendidikan ternama.
untuk terus belajar dimanapun,
kapanpun, dan dengan cara apapun. Hal senada juga disampaikan Bu Gita
yang baru saja mengikuti pelatihan di
Sejatinya, guru juga menjadi profil tingkat kabupaten. Menurut Bu Gita,
yang tidak pernah bisa berhenti meskipun panitia telah berusaha
belajar. Tantangan jaman yang terus mendatangkan narasumbernya dari
bergerak cepat, ilmu pengetahuan luar kota, lengkap dengan gelar
dan teknologi yang berkembang akademik yang mentereng, namun
pesat, memaksa guru untuk tidak jika peserta datang bukan karena
jalan ditempat. Untuk itu, jika keadaan keinginan sendiri maka setiba di lokasi
demikianlah yang terjadi, seharusnya pelatihanpun tidak akan fokus dengan
ruang-ruang belajar bagi guru adalah maksimal.
ruang yang ramai, riuh, dengan segala
aktifitas belajar meraka. Workshop, Pak Fendy melihat dari sudut
diklat, pelatihan, dan apapun bentuk pandang lain lagi, beliau menyatakan
ruang belajar guru itu akan menjadi bahwa belajar akan menjadi efektif
tempat-tempat yang dirindukan. jika pesertanya hadir karena merasa
butuh akan materi yang disampaikan.
Namun kenyataan yang terjadi Jadi bukan tentang siapa pematerinya
dilapangan tidak begitu. Workshop namun lebih kepada apa materi yang
yang dilaksanakan oleh beberapa disampaikan. Keinginan belajar yang
pihak tidak banyak diwarnai dengan tinggi akan membuat seseorang hadir
suasana keseriusan belajar dari sepenuhnya pada sesi belajar.
peserta. Setidaknya itu yang dirasakan Menurutnya, ini kunci utama ketika
oleh guru-guru di Petungkriyono guru mengikuti sesi belajar.
melalui diskusi grup WhatsApp.
5
Edisi IV Tahun I - Oktober 2022

Artikel

Seharusnya, guru sebagai pihak yang Harus Ada Sertifikat
sangat dekat dengan kata "belajar" 32 Jam
mampu menjadi teladan bagi
masyarakat dengan menunjukkan Ini adalah miskonsepsi yang sangat
ketertarikan yang tinggi terhadap sesi-
sesi belajar, terlepas dari apapun sering terjadi. Proses belajar guru
materi yang dibahas pada sesi
tersebut. Namun mengapa hal hampir selalu dihubungkan dengan
demikian tidak selalu terjadi?
sertifikat. Itupun harus memunculkan
Setidaknya ada enam hal yang bisa
disimpulkan dari hasil diskusi di grup "32 jam pelajaran" dalam redaksi
WhatsApp komunitas Guru Petung
Belajar Lagi (GPBL). sertifikatnya. Sehingga acap kali kita

Pilih-pilih temui poster-poster promosi dari
Narasumber
kegiatan pelatihan/ workshop
Tidak jarang guru pilih-pilih
narasumber ketika akan mengikuti pendidikan yang memunculkan
sebuah sesi belajar. Hal ini pernah
dirasakan oleh Pak Bergas. Beliau sertifikat sebagai daya tariknya. Dan
sebagai guru SMA menanggap bahwa
guru SMA tidak bisa belajar dari guru ironisnya, hal ini terbukti berhasil
SD, SMP, atau bahkan TK. Pak Bergas
merasa cara mengajar di SMA berbeda dibanding dengan promo kegiatan
dengan tingkat dibawahnya.
guru yang tidak memunculkan iming-
Namun pemahaman ini luntur sejak
Pak Bergas mengikuti sesi belajar di iming berupa sertifikat.
GPBL. Ternyata beliau bisa belajar
menggunakan kartu kwartet untuk Tentunya hal ini akan menjadi
asesmen diagnosis dari Bu Gita yang berbahaya, ketika keinginan untuk
nota bene adalah guru SMP. Beliau mendapatkan sertifikat menggeser
juga bisa belajar dari pak Fendi yang tujuan dari proses belajar guru itu
pernah mengintegrasikan materi sendiri. Sertifikat dapat mendistraksi
belajar di SD dengan seni kuda tujuan mulia dari kegiatan belajar
lumping. Sekarang Pak Bergas merasa guru. Sertifikat ini memang menjadi
bahwa guru tidak boleh lagi pilih-pilih penting terutama bagi guru-guru
narasumber. Beliau juga meyakini yang sedang mengejar kenaikan
bahwa semua guru itu ahli karena pangkat/golongan. Namun dengan
pengalamannya. Sehingga semua fokus pada sertifikat maka
guru berhak membagikan praktik kebermaknaan kegiatan belajar guru
baiknya kepada guru lain sebagai berpotensi akan luntur.
inspirasi dan inovasi.
Menunggu perintah
dari atasan

Belajar adalah kebutuhan guru

sebagai salah satu cara guru untuk

terus meningkatkan kompetensi dan

menyesuaikan perubahan jaman.

Untuk itu, guru sendirilah yang

seharusnya memperjuangkannya.

Namun masih banyak juga guru yang

menunggu perintah pimpinan untuk

bisa belajar.

6 Edisi IV Tahun I - Oktober 2022

Artikel

Membutuhkan biaya
besar

Tidak jarang, untuk menggelar sebuah Sejatinya, guru juga menjadi
sesi belajar guru, panitia/organizer profil yang tidak pernah bisa
membutuhkan biaya yang tidak berhenti belajar. Tantangan
sedikit. Hal ini sangat mungkin terjadi jaman yang terus bergerak
jika kegiatan akan dilakukan di tempat
ber-AC dengan makanan ala katering cepat, ilmu pengetahuan
dan fasilitas yang lengkap. Belum lagi dan teknologi yang
jika narasumber harus didatangkan berkembang pesat,
dari luar kota dan merupakan
pembicara yang terkenal. Tentunya memaksa guru untuk tidak
harus ada alokasi dana yang besar jalan ditempat.
guna mewujudkannya. Namun
kenyataannya, tempat yang mewah, Nunuk Riza P.
makanan berkelas, dan narasumber
yang terkenal ternyata juga tidak SMAN 1 Petungkriyono
selalu mendatangkan efektifitas
belajar bagi guru. Komunitas GPBL di 7
Petungkriyono telah membuktikan
bahwa hal-hal tersebut bukanlah hal
utama ketika menggelar sesi belajar
bagi guru.

Dalam pertemuan-pertemuannya,

GPBL hanya memanfaatkan ruangan

kelas, taman, atau bahkan di rumah

salah satu anggotanya. Sederhana,

simpel. Konsumsinyapun jauh dari

kesan mewah. Semua anggota

membawa makanan dan minuman

seadanya dari rumah masing-masing

untuk kemudian disatukan dalam

wadah besar dan dinikmati bersama-

sama. Justru suasana ini menambah

keakraban antar peserta. Tidak

membutuhkan biaya besar serta tidak

mengurangi kebermaknaan proses

belajar guru. "Menurut saya ini konsep

belajar guru yang menarik. Tidak

memberatkan secara biaya dan

peserta tetap efektif menimba ilmu.

Lagian kita datang untuk belajar, kan?

bukan untuk acara makan-makan?",

begitu kata pak Afan, kepala SDN 02

Simego.

Edisi IV Tahun I - Oktober 2022

Infografis

Beberapa hal ini bisa
mengganggu kebermaknaan

Miskonsekpesgi Giautarnu bBeelalajajarrg*uru

Pilih-pilih Harus ada
Narasumber sertifikat 32 jam

Menunggu surat Biaya belajar

tugas dari atasan besar MAJALAH

Yang narsumnya GURU PETUNG
guru PAUD itu ya?
saya kan Edisi ke tiga Tahun kesatu,
September 2022

Bu besok ikut saya guru SMA, gak ada Ada makan-
belajar di emang cara sertifikat gak makannya
alun-alun
kajen yuks ngajarnya sama? bikin saya nggak?
terpikat

8 Edisi IV Tahun I - Oktober 2022

Infografis

Bagaimana agar guru
Tidak Sulit Belajar Lagi?

Semua guru punya tujuan belajar masing-
masing, untuk itu pastikan Anda memilih
kegiatan belajar yang sesuai dengan tujuan.
Sehingga akan merasa lebih bersemangat
dalam belajar karena merasa perlu ilmunya.

Kembalikan kata "belajar" pada makna aslinya,
dimana belajar itu untuk kepentingan diri
sendiri agar bisa meningkatkan kompetensi.
Bukan karena sertifikat, kenaikan pangkat,
perintah atasan, atau karena uang.

Ajak rekan sekitar agar mau berbagi praktik baik. Yakinkan bahwa
semua guru adalah ahli. Dengan berbagi maka kita belajar lagi.

*) Hasil diskusi dalam grup WhatsApp Komunitas Guru Petung Belajar Lagi MAJALAH
GURU PETUNG

Edisi ke tiga Tahun kesatu,
September 2022

Ilustrator: Fidya Hidayati
Penyunting: Hanif Affan E. P.

Stock: canva.com

Fidya Hidayati

SMPN 1 Petungkriyono

Edisi IV Tahun I - Oktober 2022 9

Liputan

SEKOLAH TAK PUNYA GURU PAI
TETAP BERPRESTASI DI MAPSI

*) Liputan khusus acara Tasyakuran atas prestasi yang diraih pada lomba MAPSIi

Murid Petungkriyono kembali

menorehkan prestasi. Kali ini dari

lomba Mata Pelajaran Pendidikan

Agama Islam dan Seni Islami (MAPSI)

tingkat Kabupaten Pekalongan. Dua

putra terbaik dari kafilah Kecamatan

Petungkriyono berhasil meraih juara

dalam lomba yg dilaksanakan pada 13

Oktober 2022 tersbut.

"Ada hal menarik dalam pencapaian "Dengan prestasi ini menunjukkan
ini, dimana anak-anak yang berhasil bahwa seharusnya tidak ada lagi
meraih juara berasal dari sekolah
paling terpencil di Kab. Pekalongan sekat antara sekolah kota dan
serta tidak memiliki guru PAI", begitu pelosok. Semua memiliki
disampaikan oleh ketua KKG PAI Kec.
Petungkriyono, H. Siswadi, S.Pd.I. kesempatan yang sama. Kuncinya
diikuti tepuk tangan riuh dari seluruh ada pada semangat guru yang
hadirin yg hadir. Pernyataan tersebut senantiasa berpihak pada murid
disampaikan pada acara tasyakuran dan kepercayaan untuk
atas kejuaraan yang diaraih sekaligus memberikan yang terbaik bagi
pembinaan dari pengawas PAI kab. murid"
Pekalongan pada hari senin, 24
Oktober 2022 di Cafe Kayoe Barn, Sri Larasati, M.Pd.
Petungkriyono. Pengawas PAI Kec. Petungkriyono

10 Edisi IV Tahun I - Oktober 2022

Liputan

Acara tasyakuran yang di inisiasi oleh Kelompok Kerja Guru (KKG) PAI Kecamatan
Petungkriyono ini dilaksanakan secara khusus dalam rangka mengapresiasi
pencapaian yang diraih oleh murid dalam lomba MAPSI sekaligus melecutkan
kembali motivasi bagi guru2 PAI di Petungkriyono agar terus bersemangat dalam
melaksanakan tugas sebagai guru PAI. Sehingga diharapkan kejuaraan yang diraih
dalam lomba MAPSI tahun ini menjadi kredit tersendiri yang semakin
menunjukkan bahwa prestasi apapun bisa diraih oleh siapapun termasuk oleh
murid dari sekolah-sekolah pelosok.

Guru PAI kecamatan Petungkriyono pada sesi foto bersama pengawas.

Kegiatan tasyakuran dilanjutkan dengan pembinaan yang dilakukan secara
langsung oleh Ibu Sri Larasati, M.Pd.I kepada seluruh guru PAI di Kec.
Petungkriyono. Mengawali pembinaannya, beliau tidak lupa menyampaikan
ucapan selamat kepada ananda Bagus Binastiar dari SDN 03 Songgowedi yang
berhasil meraih juara 3 dalam lomba khutbah putra dan ananda Teguh Ainurrofiq
dari SDN 02 Simego yang berhasil meraih juara harapan 1 pada mata lomba praktik
sholat putra.

"Dengan prestasi ini menunjukkan bahwa seharusnya tidak ada lagi sekat antara
sekolah kota dan pelosok. Semua memiliki kesempatan yang sama. Kuncinya ada
pada semangat guru yang senantiasa berpihak pada murid dan kepercayaan untuk
memberikan yang terbaik bagi murid", begitu disampaikan oleh pengawas PAI kec.
Petungkriyono disela-sela pembinaan. (NUX)

Edisi IV Tahun I - Oktober 2022 11

Berbagi Praktik Baik

Hanggoro Bergas

SMAN 1 Petungkriyono

MERDEKA BELAJAR

DITENGAH SARPAS YANG TERBATAS

Oleh: Hanggoro Bergas / SMAN 1 Petungkriyono

Mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Namun permasalahannya, sekolah

Olahraga Rekreasi, dan Kesehatan tidak memiliki sarana prasarana yang

(PJOK) adalah mata pelajaran yang cukup lengkap guna mendukung

sangat diminati murid SMA Negeri 1 pembelajaran PJOK terutama untuk

Petungkriyono. Mata pelajaran ini materi Permainan Bola Besar, yaitu

dianggap sebagai sarana refreshing bola basket. Tidak ada lapangan

ditengah kepadatan kegiatan belajar basket yang representatif, tidak ada

murid. Mata pelajaran ini juga penting ring basket, hanya ada 3 buah bola

bagi murid karena bertujuan untuk basket saja. Padahal hasil dari

memahamkan bahwa olahraga adalah asesmen diagnostik awal

hal yang penting untuk kehidupan menunjukkan bahwa mayoritas murid

manusia. Jadi titik tekan mata belum mengenal cabang olahraga

pelajaran PJOK bukanlah menghafal, bola basket, seperti: peraturan

namun mengajak kepada seluruh permainan, jenis bola yang digunakan,

murid untuk menyehatkan bentuk lapangan, dan lain-lain. Hal ini

jasmaninya. Banyak potensi yang disebaban karena bola basket

dimiliki murid-murid SMAN 1 bukanlah cabang olahraga yang

Petungkriyono di bidang olahraga, banyak diminati di wilayah Kecamatan

seperti: bola volly, atletik, sepak takraw, Petungkriyono.

dan sepak bola. Hal ini disebabkan

karena wilayah geografis Kecamatan

Petungkriyono yang terletak di daerah

dataran tinggi telah menempa murid

menjadi pribadi yang berfisik kuat.

Saya selaku guru PJOK di SMAN 1
Petungkriyono juga melihat bahwa
potensi murid di bidang olahraga ini
sangat bagus sehingga disayangkan
jika tidak diberikan ruang untuk
dikembangkan.

12 Edisi IV Tahun I - Oktober 2022

Berbagi Praktik Baik

Awalnya, kondisi sarana dan prasarana

yang minim ditambah intake murid

yang rendah ini saya anggap sangat

menghambat proses belajar

mengajar. Sehingga proses belajar

pun saya lakukan dengan cara

mengajak murid melihat video

permainan bola basket saja.

Harapannya, murid menjadi kenal

dengan cabang olahraga bola basket

termasuk model lapangan, peraturan

permainan, serta jenis bolanya.

Namun kegiatan belajar seperti ini

ternyata membuat murid menjadi

bosan. Apalagi mereka sebenarnya

memiliki ekspektasi yang tinggi

terhadap mata pelajaran PJOK.

Melihat murid yang mulai resah di

dalam kelas, saya mencoba mengajak

mereka ke lapangan voli. Ini satu-

satunya tanah lapang yang dimiliki "Potensi murid di
bidang olahraga ini
sekolah dengan tekstur tanah yang sangat bagus
sehingga
cukup rata. Wajah-wajah ceria tampak disayangkan jika
tidak diberikan
mulai muncul. Semangat belajar pun ruang untuk
"dikembangkan.
sepertinya sudah tumbuh kembali.

Dilapangan, saya meminta murid
untuk mempraktekkan teknik-teknik
dasar bermain bola basket secara
bergantian. Satu per satu murid pun
mencoba menggiring, mengumpan,
dan menembak. Kegiatan belajar di
lapangan ini membuat murid memiliki
kesempatan yang lebih banyak untuk
bergerak dari pada kegiatan
sebelumnya yang dilakukan di kelas.
Namun tetap saja belum berhasil
membuat seluruh murid aktif terlibat.
Hal ini disebabkan karena terbatasnya
jumlah bola basket yang tersedia.
Akibatnya banyak murid yang tidak
aktif ketika menunggu giliran praktik.
Pembelajaran hari itu pun ditutup
dengan ketidakpuasan dihati saya.

Edisi IV Tahun I - Oktober 2022 13

Berbagi Praktik Baik

Pada pertemuan selanjutnya, saya Dengan memodifikasi peraturan
mencoba merubah strategi agar tersebut, kegiatan pembelajaran
pembelajaran pada materi bola basket untuk materi bola basket dapat
ini dapat berjalan dengan lebih berjalan dengan lebih mudah dan
menyenangkan dan bermakna menyenangkan. Murid lebih banyak
meskipun dalam keadaan yang penuh bergerak karena semua murid terlibat
tantangan. Saya memulainya dengan dalam permainan basket yang
meyederhanakan peraturan bola dimodifikasi ini. Murid jadi mengenal
basket agar murid tetap memahami tentang cabang olahraga bola basket
aturan dasar bermain bola basket dan langsung mempraktikannya.
meskipun dilaksanakan dengan Tantangan keterbatasan sarpras pun
beberapa penyesuaian. Beberapa dapat teratasi.
penyederhanaan yang dilakukan,
yaitu: Diakhir kegiatan belajar, tidak lupa

Mengganti ring basket dengan saya menjelaskan bahwa aturan
kursi sebagai target untuk
mendapatkan poin. permainan yang digunakan dalam

pembelajaran tadi bukanlah aturan

resmi. Murid terlihat jauh lebih

Murid boleh menggiring dengan bahagia meskipun keringat
dua tangan secara bersamaan.
Pada aturan resmi, hal ini tidak membasahi seragam olah raganya.
diperbolehkan namun guru
memodifikasi karena melihat Sekarang saya semakin menyadari
kondisi lapangan yang tidak rata
sehingga berpotensi mempersulit bahwa untuk berolahraga itu tidak
murid ketika mendribel bola.
harus rumit. Semua cabang olah raga

dapat dimodifikasi dengan tujuan

untuk meningkatkan kesehatan

jasmani sekaligus sarana rekreasi.

Jumlah pemain dalam satu tim Profil penulis:
Hanggoro Bergas, S.Pd. saat ini aktif sebagai
lebih banyak jika dibandingkan guru mata pelajaran PJOK di SMAN 1
Petungkriyono. Tinggal di desa Karangsari,
dengan aturan resmi. Hal ini kecamatan Karanganyar, kabupaten
Pekalongan.
dilakukan karena guru

mempertimbangkan waktu serta

perbandingan antara media yang

ada dengan jumlah murid.

"Creativity is seeing what
others see and thinking what

no one else ever thought."
Albert Einstein

14 Edisi IV Tahun I - Oktober 2022

Berbagi Praktik Baik

Kreatifitas ditengah sarpras
terbatas ala Pak Bergas

Mau ngajar materi bola basket, tapi di sekolah cuma ada 3 Awal
buah bola. Tidak ada lapangan basket, tidak ada ring basket.

Murid tidak aktif, cenderung bosan jika hanya diputarkan
video tentang bola basket.

Tantangan Bagaimana agar proses
pembelajaran bisa menyenangkan
dan bermakna meskipun sarpras
terbatas?

Ganti ring basket dengan kursi sebagai target untuk Aksi
mendapatkan poin

Modifikasi aturan main

Jumlah pemain dalam satu tim lebih banyak karena
mempertimbangkan waktu serta perbandingan antara
media yang ada dengan jumlah murid.

Perubahan Kegiatan pembelajaran untuk materi bola basket dapat
berjalan dengan lebih mudah dan menyenangkan.

Murid lebih banyak terlibat dalam proses belajar.

Murid jadi mengenal tentang cabang olahraga bola
basket dan langsung mempraktikannya.

Tantangan keterbatasan sarpras pun dapat teratasi.

Edisi IV Tahun I - Oktober 2022 15

Cerpen

Hadi Suprapto

SDN 02 Yosorejo

MABAR

Hihihihii... hahahahaa....
Terdengar suara gelak tawa seorang anak yang sedang bermain gim digital sambil
menatap tajam telepon pintar ditangannya. Dia adalah Kai, seorang anak yang saat
ini masih berusia tujuh tahun. Meskipun usianya tergolong masih kanak-kanak
namun Kai sudah memiliki kemampuan untuk menginstalasi sendiri aplikasi-
aplikasi digital kedalam telepon pintar. Gim yang sedang Kai mainkan kali ini
bernama bloodshoot. Ia memsang gim ini tanpa sepengetahuan orang tua. Ketika
memainkannya, mimik wajah Kai berubah-ubah dengan cepat. Kadang tampak
semringah sambil sesekali berteriak kencang dengan diikuti wajah yang puas.
Namun tiba-tiba bisa berubah menjadi sangat serius dengan mata melotot dan
tangan yang menekan gawai dengan ngotot.

Ibunda Kai yang saat ini sedang duduk

tidak jauh dari tempat Kai bermain

pun menjadi penasaran dan tergerak

hatinya untuk mencoba memeriksa

kira-kira seperti apa gim yang sedang

dimainkan anaknya itu. Setelah

mencoba mendekati dan

memperhatikan kearah layar telepon

pintar yang di genggam Kai, sang ibu

merasa sangat kaget. Gim yang

dimainkan Kai ini ternyata penuh

dengan adegan kekerasan.

Pada gim tersebut setiap pemain

bertugas untuk melemparkan

senjatanya kearah pemain lawan

sebagai sasaran. Senjata dilepaskan

dengan dengan tujuan agar dapat

mengenai bagian terpenting dari

badan pemain lawan. Pemain

disuguhkan dengan adegan-adegan

penuh kekerasan dimana senjata akan

menancap tepat di kaki, perut, dada,

bahkan kepala. Ketika senjata tersebut

menancap, seketika itu pula muncul

animasi darah yang tersembur keluar

disertai efek suara yang mengerikan.

16 Edisi IV Tahun I - Oktober 2022

Cerpen

Ngeri!! Benar-benar mengerikan! Obrolan awal berlangsung dengan
Sebagai orang tua, ibunya sangat
panik seketika itu. Ia merasa hangat. Pak Nuno membuka
kecolongan, marah, dan amat kecewa.
Ingin rasanya membentak anaknya pertemuan dengan menceritakan
untuk mengungkapkan betapa
kecewanya ia saat itu. Namun ketika kemajuan belajar Kai selama
mulut ibu baru saja hampir terbuka
untuk meluapkan ledakan emosinya, pembelajaran jarak jauh di masa
tiba-tiba terdengar suara salam dari
seseorang yang berada di balik pintu pandemi. Sesekali ibu Kai juga
depan rumah.
mengungkapkan betapa sulit
“Assalamu’alaikum, Bu Dyah...”, sapa
seseorang yang suaranya sudah tidak mendampingi anaknya ketika belajar
asing di telinga Kai.
dari rumah. Tidak lupa pula ibu Kai
Merasa mengenal baik suara ini, Kai
langsung berlari ke ruang tamu. Ia menceritakan tentang kejadian yang
membuka sedikit tirai jendela dan
mengintip keluar untuk sekedar baru saja berlangsung.
memastikan siapakah orang yang
datang bertamu tersebut. Ternyata “Coba bayangkan Pak, bagaimana
dugaan Kai kali ini tidak meleset. saya tidak marah, Kai diam-diam
Tamu itu adalah Pak Nuno, wali kelas memasang gim yang ada adegan
Kai. tidak pantas. Saya sampai ngeri
melihat ada darah yang keluar dari
“Ibu... ibu.... ada Pak Nuno, Bu!”, teriak kepala seperti ditunjukkan pada gim
kai dengan gembira. itu. Ingin rasanya saya memarahi Kai
dan menyita HP itu agar Kai tidak
“Klik.. klik..”, terdengar suara seseorang mengulangi perbuatannya lagi.”,
membuka kunci. Ibu Kai mencoba begitu cerita ibu Kai kepada Pak Nuno.
membuka pintu.
“Wah, Kai ini memang anak yang
“Wa’alaikumsalam, silahkan masuk cerdas ya, Bu? Di usia yang masih kecil
Pak Nuno.”, sahut ibu Kai. Ia ternyata dia sudah bisa menginstalasi
mempersilahkan wali kelas Kai itu gim sendiri kedalam telepon pintar.”,
masuk. Pak Nuno pun masuk ke ruang begitu kata Pak Nuno. Ia mencoba
tamu dan duduk. Dengan wajah menenangkan ibu Kai agar tidak
gembira, Kai duduk tidak jauh dari Pak terlalu larut dalam emosinya.
Nuno.

Edisi IV Tahun I - Oktober 2022 17

Cerpen

“Tapi saya rasa memarahi anak bukan

cara yang tepat Bu. Menyita gadget

juga sepertinya bukan tindakan yang

pas. Menurut saya, jika ibu

melakukannya justru akan

memunculkan masalah baru. Kai pasti

akan marah. Besoknya lagi bisa saja

dia malah sembunyi-sembunyi agar

bisa memainkan gim ini.”, sambung

Pak Nuno dengan berharap Bu Dyah “Kai, kamu mau ngajarin saya cara
main gim itu nggak?”, kata pak Nuno.
bisa mengerti.
“Benarkah Pak? Mau pak, mau!”, kata
“Memangnya gim apa sih yang kamu Kai dengan wajah yang sangat
mainkan ini, Kai?, tanya Pak Nuno. bahagia dan hati yang riang.

“Namanya Bloodshoot, Pak.”, jawab Kai Rasa tidak nyaman yang tadi muncul
lirih. di hati Kai tiba-tiba lenyap. Bu Dyah
tampak bingung dengan apa yang
Kai merasa terpojok karena ibunya dilakukan Pak Nuno. Tanpa sadar
mengadukan kejadian tadi kepada mata Bu Dyah pun terbuka sedikit
Pak Nuno. Ia takut Pak Nuno marah lebih lebar, menandakan bahwa ia
kepadanya. Padahal sebenarnya Pak kaget dengan aksi Pak Nuno. Namun
Nuno tidak marah. Pak Nuno hanya Bu Dyah tidak berani berkomentar. Ia
ingin mengajak Bu Dyah dan Kai memilih untuk diam dan menunggu
mencari jalan keluar bersama. Namun seperti apa rencana wali kelas Kai ini.
Pak Nuno perlu mempelajari telebih Semangat yang sangat tinggi
dahulu cara main gim tersebut agar menyelimuti Kai ketika memberi tahu
kemudian bisa mencari celah solusi satu demi satu menu dan fitur yang
dari masalah ini. ada di gim Bloodshoot. Pak Nuno
mengikuti instruksi dan sesekali
“Gim apa itu Kai? Saya kok baru tampak menganggukan kepalanya.
dengar ya?”, tanya Pak Nuno.
Setelah pak Nuno menguasai cara
“Gimnya seru Pak!”, jawab Kai. main Bloodshoot, munculah ide untuk
menghubungkan gim ini dengan
“Coba sini, saya ingin lihat seperti apa mata pelajaran matematika. Ya,
gim yang kamu mainkan itu.”, pinta meskipun penuh dengan adegan
Pak Nuno. kekerasan, sebenarnya gim ini juga
mengenalkan anak-anak pada materi
Kai pun bergerak agar lebih mendekat matematika yaitu pengukuran sudut.
kepada pak Nuno. Ia menyerahkan
gawai yang sedari tadi dipegangnya.

18 Edisi IV Tahun I - Oktober 2022

Cerpen

Pak Nuno bergegas untuk mengambil “Sudut adalah salah satu materi dalam
papan tulis kecil yang ia bawa. Ia mulai mata pelajaran matematika, Kai.”,
menggambar busur dan mengajak Kai sambung Pak Nuno.
untuk lebih mendekat kepadanya.
“Ternyata matematika itu asyik ya
“Kai, kamu ingin memenangkan gim Pak? Sangat bermanfaat.”, begitu kata
itu nggak?”, kata Pak Nuno. Kai.

“Mau dong, Pak. Kai dari tadi belum “Betul Kai, matematika itu ilmu yang
bisa menang.”, jawab Kai penuh harap. sangat besaar manfaatnya, terutama
jika kita memahami konsepnya.”, kata
“Sini, bapak ajari caranya.”, lanjut Pak Pak Nuno menjelaskan.
Nuno.
Melihat Kai yang sedang gembira, Pak
Pak Nuno bersyukur ternyata Kai Nuno merasa ini adalah momen yang
tepat untuk mengajak Kai berefleksi.
senang sekali dengan ajakannya itu.
“Oh iya, menurut kamu, jika seseorang
Pak Nuno meminta Kai meletakkan ditusuk perutnya menggunakan anak
panah atau kapak kira-kira sakit atau
telepon pintarnya untuk sejenak. tidak?”, tanya Pak Nuno.

Kemudian Pak Nuno mencoba “Pasti sakit dong, Pak.”, jawab Kai.

mengenalkan tentang pengukuran “Apalagi tadi waktu kita main
Bloodshoot, ada yang mengenai
sudut dengan cara yang sangat kepala juga, ‘kan?”, lanjut Pak Nuno.

sederhana agar dapat dimengerti oleh “Iya Pak, kasihan orangnya yang ada di
gim itu, pasti dia kesakitan.”, begitu
Kai. Setelah itu mereka pun bermain kata Kai sambil mengernyitkan dahi.

bloodshoot berdua dengan “Nah, sekarang kamu sudah tahu
bahwa menyakiti orang lain itu tidak
memanfaatkan materi besar sudut enak. Kita juga tidak mau disakiti,
bukan?”, kata Pak Nuno mencoba
yang telah didiskusikan sebelumnya. berdiskusi dengan diikuti anggukan
Kai.
Setelah mengenal pengukuran sudut,
ternyata Kai semakin lihai dan dapat
memenangkan gim bloodshoot
dengan lebih mudah. Kai terlihat
sangat gembira dan merasa dirinya
sekarang lebih pintar dalam
memainkan gim ini.

“Bagaimana Kai, seru nggak?”, tanya
Pak Nuno.

“Seru sekali Pak! Dengan memahami
besar sudut, ternyata membuat saya
bisa menang Pak.”, jawab Kai.

Edisi IV Tahun I - Oktober 2022 19

Cerpen

“Untuk itu kita juga tidak boleh “Terimakasih Pak Nuno.”, kata Bu
menyakiti orang lain. Adegan di gim Dyah.
bloodshoot barusan itu termasuk
adegan yang kasar dan tidak baik “Sama-sama Bu”, jawab Pak Nuno.
karena mempertontonkan seseorang
yang menyakiti orang lain.”, lanjut Pak “Apa yang saya saksikan hari ini telah
Nuno. membuka pemahaman baru bagi
saya berkenaan dengan gim. Ternyata
“Tapi gim ini seru. Kai juga sudah penting bagi orang tua seperti saya
pintar memainkannya. Kai sudah bisa untuk memiliki kemampuan memilih
memilih sudut yang tepat untuk gim mana saja yang memiliki konten
melempar senjata. Kai sudah bisa dan potensi paling tepat guna
menang. Pak Nuno lihat, ‘kan?”, kata memenuhi kebutuhan belajar anak-
Kai menyergah. anak ya, Pak?”, kata Bu Dyah.

“Ada kok gim lain yang cara mainnya “Betul Bu Dyah, Menjauhkan anak-
sama seperti itu tapi tidak ada adegan
kasarnya.”, kata Pak Nuno. anak dari gim sudah bukan lagi

“Oh ya, Pak?”, jawab Kai penuh rasa pilihan. Justru meningkatkan
penasaran.
pemahaman kita akan potensi positif
“Iya Kai. Nah, gimana kalau kita cari
gim lain saja yang tidak kalah seru dari gim dan bagaimana pemanfaatannya
gim tadi tapi tidak ada adegan
menyakiti orang lain. Nanti kita mabar, secara optimal untuk mendukung
deh.”, kata Pak Nuno.
proses interaksi dan pembelajaran
“Benarkah ada gim lain lagi yang
seperti ini? Ayo kita download, Pak!”, yang positif bisa menjadi pilihan yang
seru Kai dengan semangat.
lebih bijaksana.”, ujar Pak Nuno.
Ibu Kai hanya bisa melongo melihat
Pak Nuno berhasil mengajak kai untuk Kaki Pak Nuno melenggang dengan
tidak lagi bermain game yang penuh wajah berseri mengarah ke sepeda
kekerasan itu. Ajakan Pak Nuno ontelnya yang diparkir dihalaman
dilakukan dengan cara yang sangat rumah Kai. Kemudian kedua kakinya
apik. Diskusi bermakna lebih mulai mengayuh sepeda bututnya. Ia
diketengahkan olehnya dibandingkan sangat bersyukur karena kejadian hari
bentakan-bentakan. Ia mengawali itu berakhir dengan refleksi yang
dengan memahami anak terlebih indah dan penuh makna. Tanpa sadar
dahulu baru selanjutnya ia meminta benaknya menerawang jauh ke
anak untuk memahaminya. angkasa mencari cara menerapkan
pembelajaran pada anak didiknya
yang akan ia jumpai esok hari.

Profil penulis:
Hadi Suprapto, S.Pd. saat ini aktif sebagai
guru di SD Negeri 03 Yosorejo, kecamatan
Petungkriyono. Tinggal di desa
Sumubkidul, kecamatan Sragi, kabupaten
Pekalongan.

20 Edisi IV Tahun I - Oktober 2022

Puisi

Wahyu Hendro W.

SDN 02 Simego

AKU DAN SEMESTA

Kabut tebal menggelora menyelimuti langit di ujung senja
Memberikan rasa semangat di dalam heningnya putus asa
Menyibak derasnya rindu yang hebat diantara riuhnya hati dan rasa
Ingin rasanya aku bisa melewatinya

Dinginya udara yang menghiasi tentramnya jiwa
Sepinya malam yang kadang terasa mencekam
Suara angin yang kencang sampai gendang telinga
Sampai embun pagipun ikut serta seakan dia tersenyum menyapa

Bertahun – tahun aku menghadapinya
Tanpa ada rasa kecewa
Rasa sakitpun seakan aku enyahkan sementara
Yang tersisa hanyalah bersyukur atas nikmatNya

CINTA DAN PUTUS ASA

Rasa cinta yang terbenam dihati
Memberi gairah untuk selalu memiliki
Walaupun kadang itu menyakitkan hati
Tapi dengan cinta hidup selalu penuh dengan arti

Dalam hati aku selalu memujamu
Dalam hati aku selalu ingin berjuang untukmu
Namun … apalah arti hidup dan cintaku
Karena kamu telah pergi meninggalkanku

Hanya lukisan wajahmu yang kini menghiasi hariku
Walaupun aku kesepian tanpa cintamu
Tiada lagi harapan untukku
Yang terbaik memohon doa agar kamu selalu bahagia
bersama kekasihmu

Edisi IV Tahun I - Oktober 2022 21

Nobar

SALAH BARUT

Pendidikan yang memerdekakan wajib diwujudkan!

Bertajuk "SALAH BARUT", film ini manjadi karya anggota PGRI Kecamatan
Petungkriyono yang mengisahkan tentang sosok guru bernama Pak Bergas yang
berjuang di garis terdepan untuk menghadirkan pendidikan berkualitas di daerah
pegunungan nan minim fasilitas. Film fiksi berdurasi 10 menit ini mengusung
tema merdeka belajar dengan menghadirkan cerita penuh makna. Penggarapan
yang apik serta dibungkus cerita yang menarik membuat para guru wajib
menyaksikan film ini. Berikut kami bubuhkan pranala YouTube film pendek
berdurasi 10 menit dengan tema pendidikan di masa pandemi yang juga berhasil
meraih Juara 1 lomba Film Pendek dalam rangka hari Guru Nasional tingkat
Kabupaten Pekalongan tahun 2021. Selamat menonton!

https://bit.ly/filmpendeksalahbarut

22 Edisi IV Tahun I - Oktober 2022

Tutorial

Yuli Tri Utomo

SMP SATAP Tlogohendro

15 Menit Langsung Bisa

Membuat Animasi Untuk Media Pembelajaran

Tentunya murid kita sangat suka film animasi bukan? Hampir semua anak-anak
pasti suka film animasi. Bayangkan, seperti apa kelas yang didalamnya
menampilkan media pembelajaran berbasis animasi. Pastinya seru sekali. Nah
dalam rubrik tutorial kali ini kita akan mengupas cara membuat animasi sederhana
dengan memanfaatkan aplikasi VideoScribe. Aplikasi yang dibuat oleh Sparkol ini
kita pilih karena sangat sederhana dalam pembuatannya sehingga memungkinkan
semua guru untuk bisa memproduksi media pembelajaran animasi sendiri. Yuk
langsung saja pindai QR code atau klik pada link yang ada di bawah ini untuk
menuju ke video tutorialnya. Saran saya, langsung dipraktikkan ya? Selamat belajar..

https://bit.ly/GPBLbelajaranimasi

Edisi IV Tahun I - Oktober 2022 23

MAJALAH
GURU PETUNG

@majalahgurupetung
@majalahgurupetung
Majalah Guru Petung
[email protected]


Click to View FlipBook Version