DAWET AYU BANJARNEGARA DAWET AYU BANJARNEGARA KELASV UPACARA ADAT UJUNGAN Oleh. Muji Triyono, S.Pd
UPACARA ADATUJUNGAN Sejarah upacara adat Ujungan Upacara adat Ujungan berawal dari peristiwa perselisihan antara dua orang petani dari dukuh tritis ( Gumelem) Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara yang berebut air untuk mengairi sawahnya pada tahun 1960an. ketika itu Gumelem sedang dilanda kemarau panjang. Dalam perselisihan tersebut kegua petani saling pukul (Sabet) menggukanan batang Rasidhe sampai berdarah-darah. Tidak berselang lama tiba-tiba turun hujan sangat lebat dan perselisihanpun berhenti. Akhirnya kedua petani tersebut berhenti dan saling meminta maaf karena telah menyadari kesalahannya. Peristiwa tersebut disepakati oleh para tetua tokoh adat dukuh Tritis (Gumelem) sebagai simbol peringatan selalu “Munjung” atau memohon datangnya hujan kepada Yang Maha Kuasa ketika terjadi kemarau panjang. Dalam perkembangannya, kegiatan “Munjung” atau memohon Do,a tersebut berubah menjadi seni pertunjukan yang menampilkan pertarungan para penari/pesertanya dan dikenal dengan nama upacara adat Ujungan.
PELAKSANAAN UPACARA ADAT UJUNGAN 1. 3 2. Upacara adat ujungan sekarang sudah dikemas sebagai sebuah pertunjukan kesenian dengan beberapa perubahan penyajiannya namun ciri khas “sakralny” tetap dipertahankan. Tempat upacara yang semula di persawahan yang mengalami kekeringan sekarang di halaman Gedung Balai Budaya di Desa Gumelem Wetan. Pertarungan antar peserta dipimpin oleh seorang wasit yang disebut “WALADANG” Peserta tidak hanya masyarakat lokal, namun boleh dari luar daerah atau Wisatawan baik lokal maupun Internasional. Hal tersebut untuk promosi wisata.
UJUNGAN Kostum/pakaian dan peralatan pemain Ujungan Topi Rompi kain atauiket sarungtangan Topi berfungsi sebagai hiasan dan pelindung kepala Rompi atau baju tanpa lengan Diikatkan di tangan kiri pada lengan bagian atas Digunakan sebagai pelindung pergelangan tangan kiri Tongkatrotan kain ataukejer Bajukhusus Panjang kira-kira 75 cm Sebagai alat pemukul, dipegang tangan kanan Diikatkan di pinggang, salah satu ujung menjurai sampai kaki sebelah kiri fungsinya sebagai pelindung Baju khusus yang dipakai oleh Waladang/wasit
ALAT MUSIK PENGIRING Kendang Alat Musik Pengiring Demung Gong Saron
SINDEN Pelantun tembang yang melengkapi musik pengiring. Purwakane sejarah Ujungan Nalikane titi mangsa terang Ora ana udan, pamong tani kesusahan Lan kebingungan Bapak tani banjur pada memuji Marang Gusti Kang Maha Suci Mula para kanca sing percaya Marang kang Maha Kuwasa Panyuwunan bisa kasembadan Kanti sarana nganakna Ujungan Bareng pada tumandang minangka Hiburan, bisa kaleksanan (diciptakan oleh Bpk. Sumino, tokoh budaya desa Gumelem) Contoh tembang yang sering di lantunkan
1. waladang menyiapkan upacara 2. kedua pemain siap bermain 3. pemain beraksi dengan lincah 4. Setelah ber,main kedua pemain berjabat tangan rangkaian pelaksanaan upacara adat ujungan
Nilai-nilai yang ada dalam Upacara adat Ujungan 3. Nilai Cinta Budaya Lokal 2. Nilai Sportivitas 1. Nilai Silaturohmi Peserta tidak hanya warga masyarakat setempat tetapi terbuka untuk umum bahkan dari luar daerah juga Pada akhir pertarungan kedua peserta berjabat tangan dan tidak ada dendam diantara peserta Pelaksanaan upacara adat ujungan merupakan salah satu upaya pelestarian budaya lokal yang ada di Banjarnegara