BAB V
DETAILING PADA SISTEM RANGKA PEMIKUL MOMEN
Tujuan:
Mahasiswa dapat melakukan detailing pada Sistem Rangka Pemikul
Momen Khusus (SRPM)
93
BAB V Detailing pada Sistem Rangka Pemikul Momen
(SRPM) Berdasarkan SNI 2847-20219
5.1 Persyaratan Detailing Balok
Tabel 5. 1 Detailing Balok SRPMM & SRPMK
SRPMK SRPMM
Pasal 18.2.5.1 Pasal 19.2.1.1
Mutu Beton Beton normal fc’ > 21 MPa Beton normal & beton ringan fc’ >
17 MPa
Beton ringan 21 MPa < fc’ < 35 MPa (jika digunakan
fc’>35 MPa, hrs dibuktikan dengan pengujian)
Pasal 18.6.2.1
Komponen lentur SRPMK harus memenuhi kondisi
berikut :
geometri - bw/h > 0,3,
- bw > 250 mm
- panjang bentang bersih (Ln) > 4 d Pasal 9.6.1.2
- Proyeksi lebar balok yang melampaui lebar kolom
penumpu tidak boleh melebihi nilai terkecil dari
c2 (b kolom) dan 0,75 c1 (h kolom) pada masing-
masing sisi kolom.
Pasal 9.6.1.2
Penulangan longitudinal Tulangan minimal harus sedikitnya Tulangan minimal harus
sedikitnya
bw d f ' dan 1,4bwd bw d ' dan 1,4bwd
4fy c fy 4fy c fy
f
pada tiap potongan atas dan bawah
pada tiap potongan atas dan
bawah
94
SRPMK SRPMM
Pasal 18.6.3.1 Pasal 18.4.2.1
- Balok-balok harus memiliki setidaknya dua batang Sedikitnya dipasang 2 tulangan
tulangan menerus pada sisi atas dan bawah diatas dan bawah yang menerus.
penampang. Luas tulangan bawah yang
menerus >= ¼ luas total tulangan
- Rasio tulangan maksimum < 0,025 bawah & harus diangkur agar
mencapai kekuatan leleh.
- Rasio tulangan maksimum <
0,75 b
Pasal 18.6.3.2 Pasal 18.4.2.2
Kekuatan momen positip di muka kolom > 1/2 kuat Kuat momen positip di muka
momen negatip di muka kolom kolom > 1/3 kuat momen negatip
di muka kolom.
Pasal 18.6.3.2 Pasal 18.4.2.2
Di tiap potongan sepanjang komponen tidak boleh ada Persyaratan sama, namun hanya
kuat momen negatip maupun positip yang kurang dari perlu 1/5 kuat momen maximum
1/4 kuat momen maximum yang terpasang di kedua di kedua muka kolom harus ada
muka kolom ditiap potongan komponen.
Pasal 18.6.3.3 Pasal 25
Sambungan lewatan (SL) SL diijinkan bila dipasang sengkang pengekang Menggunakan sengkang biasa
sepanjang SL, s harus < d/4 atau 100 mm.
Pasal 18.6.3.3
SL tidak boleh dipasang
- dalam HBK
- dalam jarak 2hbalok dari muka kolom
- dalam jarak 2hbalok dari dari penampang kritis di
mana pelelehan lentur dimungkinkan terjadi
sebagai akibat deformasi lateral yang melampaui
perilaku elastic.
95
SRPMK SRPMM
Pasal 18.6.3.4
Sambungan mekanis mengacu pada pasal 18.2.7.1&
18.2.7.2:
Sambungan mekanis tipe 1 tidak diijinkan dipasang
pada daerah sendi plastis.
Sambungan mekanis tipe 2 diijinkan dipasang pada
daerah sendi plastis.
Sambungan mekanis tipe 2 adalah sambungan yang
mampu mengembangkan tarik dan tekan, seperti
disyaratkan, paling sedikit 1,25 fy batang tulangan.
Pasal 18.6.3.5
Balok prategang harus memenuhi:
Gaya prategang a. Prategang rata-rata (fpc) yang dihitung untuk luas
yang sama dengan dimensi terkecil penampang
komponen struktur balok yang dikalikan dengan Pasal 18.4.2.4
dimensi penampang tegak lurusnya tidak boleh
melebihi nilai terkecil dari 3,5 MPa dan fc’/10.
b. Pada daerah yang berpotensi mengalami sendi
plastis, harus digunakan baja prategang tanpa
lekatan. Regangan yang diperhitungkan pada baja
prategang akibat perpindahan desain harus kurang
dari 0,01.
c. Baja prategang tidak boleh menyumbangkan lebih
dari seperempat kekuatan lentur positif atau negatif
pada penampang kritis di daerah sendi plastis dan
harus diangkur pada atau melampaui muka sisi luar
joint.
d. Pengangkuran tendon pasca tarik yang memikul
gaya gempa harus mampu memfasilitasi tendon
dalam menahan 50 siklus pembebanan, dengan
nilai gaya tulangan prategang di antara 40 hingga
85 persen kekuatan tarik baja prategang yang
ditetapkan.
Pasal 18.6.4.1
Penulangan Pengekangan / • Sengkang pengekang diperlukan sepanjang 2Hbalok Pada kedua ujung balok, harus
Confinement dari muka kolom pada kedua ujung komponen dipasang sengkang tertutup
lentur, dengan meletakkan hoop pertama sejarak 50 sepanjang >=2h diukur dari ke-2
mm dari muka kolom. muka kolom.
• Sengkang pengekang juga diperlukan sepanjang 2 x Sengkang tertutup pertama harus
d di dua sisi potongan yang momen leleh mungkin ditempatkan tidak lebih dari 50
timbul berkenaan dengan lateral displacement mm dari muka kolom/komponen
inelastic dari rangka struktur penumpu.
96
SRPMK SRPMM
Pasal 18.6.4.4 Pasal 18.4.2.4
Sengkang tertutup pertama harus ditempatkan tidak Spasi sengkang pengekang tidak
lebih dari 50 mm dari muka kolom/komponen boleh melebihi nilai terkecil dari:
struktur penumpu.
a. d/4
Dimana hoops disyaratkan, jarak s harus tidak b. 8 × D tulangan utama terkecil
melebihi: c. 24 × D sengkang pengekang
d. 300 mm
• d/4,
• 6 x D tulangan memanjang terkecil, atau Pasal 18.4.2.5
• 150 mm
Pasal 18.6.4.6
Bila sengkang pengekang tidak diperlukan, sengkang Sengkang harus dispasikan tidak
dengan kait gempa pada kedua ujungnya harus lebih dari d/2 sepanjang bentang
dipasang dengan spasi tidak lebih dari d/2 sepanjang balok.
bentang balok.
Pasal 18.6.4.7 Pasal 18.4.2.6
Pada balok yang mengalami gaya tekan aksial Pada balok yang memiliki gaya
terfaktor melebihi 0.1Agfc’ harus dipasang sengkang tekan aksial terfaktor melebihi
pengekang yang memenuhi 18.7.5.2 hingga 18.7.5.4 0.1Ag ', tulangan sengkang
sepanjang jarak yang ditentukan pada 18.6.4.1. perlu berdasarkan 18.4.2.5 harus
memenuhi 25.7.2.2 dan salah satu
Di luar jarak tersebut harus dipasang sengkang di antara 25.7.2.3 atau 25.7.2.4.
pengekang yang memenuhi 18.7.5.2 dengan spasi s
tidak lebih dari nilai terkecil antara:
• 6 x D tulangan memanjang terkecil, atau
• 150 mm
Pada kondisi tebal selimut beton melebihi 100 mm
di luar tulangan transversal, harus dipasang tulangan
transversal tambahan yang memiliki selimut beton
yang tidak lebih dari 100 mm dan spasi tidak lebih
dari 300 mm.
Pasal 18.6.5.1 Pasal 18.4.2.3
Gaya geser desain Ve harus dihitung dari tinjauan Vn tidak boleh kurang dari nilai
gaya-gaya terkecil:
Kekuatan geser pada bagian balok di antara kedua muka joint. (a) Jumlah gaya geser terkait
Momen-momen dengan tanda berlawanan yang dengan tercapainya Mn pada
terkait dengan kekuatan momen lentur maksimum muka joint di setiap ujung
yang mungkin terjadi, Mpr, harus diasumsikan balok akibat lentur berbalik
bekerja pada muka-muka joint dan balok dibebani arah (kurvatur ganda) dan
dengan beban gravitasi tributari terfaktor di geser yang dihitung untuk
sepanjang bentangnya. beban gravitasi terfaktor
Pasal 18.6.5.2 (b) Gaya geser maksimum yang
diperoleh dari kombinasi
97
SRPMK SRPMM
Vc = 0 bilamana: beban desain termasuk E,
dengan E ditetapkan sebesar
a) Gaya geser akibat gempa yang dihitung sesuai dua kali nilai yang
18.6.5.1 mewakili setidaknya setengah kekuatan dipersyaratkan SNI 1726.
geser perlu maksimum dalam bentang tersebut.
b) Gaya tekan aksial terfaktor Pu termasuk pengaruh
gempa kurang dari 0.2Agfc’.
98
Detailing balok SRPMM
Detailing balok SRPMM
Menentukan Vu pada balok SRPMM
99
Detailing balok SRPMM
100
Detailing balok SRPMK
Detailing balok SRPMK
101
Detailing balok SRPMK
Detailing balok SRPMK
Menentukan Vu pada balok SRPMK
102
5.2 Persyaratan Detailing Kolom
Tabel 5. 2 Persyaratan detailing kolom SRPM & SRPMK
SRPMK SRPMM
Umum Pasal 18.7.2.1
Kolom harus memenuhi syarat:
• Dimensi terkecil penampang > 300mm
• Rasio dimensi terkecil penampang
terhadap dimensi tegak lurusnya > 0,4
Pasal 18.7.3.2
Kuat lentur kolom harus memenuhi berikut ini
M nc > 1, 2 M nb
Penulangan Lentur Pasal 18.7.4.1 Pasal 10.6.1.1
Rasio tulangan harus: 0,01 < g < 0,06 Rasio tulangan harus : 0,01 <
g < 0,08
Pasal 18.7.4.2
Pada kolom-kolom dengan sengkang bundar,
jumlah batang tulangan longitudinal minimum
berjumlah 6.
Pasal 18.7.4.3
Sambungan mekanis mengacu pada pasal
18.2.7.1& 18.2.7.2:
Sambungan mekanis tipe 1 tidak diijinkan
dipasang pada daerah sendi plastis.
Sambungan mekanis tipe 2 diijinkan dipasang
pada daerah sendi plastis.
Sambungan mekanis tipe 2 adalah sambungan
yang mampu mengembangkan tarik dan
tekan, seperti disyaratkan, paling sedikit 1,25 fy
batang tulangan.
103
SRPMK SRPMM
Pasal 18.7.4.1
Sambungan Sambungan lewatan diizinkan hanya dalam
lewatan (SL) daerah tengah tinggi kolom dan harus didesain
sebagai sambungan lewatan tarik dan harus
dipasang tulangan transversal yang memenuhi
18.7.5.2 dan 18.7.5.3.
Pasal 18.7.5.1 Pasal 18.4.3.3
Tulangan Transversal (TT) Tulangan transversal perlu dipasang sepanjang Panjang lo tidak boleh
Tulangan Transversal (T T) kurang dari:
o dari muka balok dikedua ujung kolom:
1. 1/6 tinggi kolom
Panjang o harus tak boleh lebih kecil dari 2. Dimensi penampang
a. Tinggi penampang komponen terbesar kolom
b. 1/6 panjang bentang bersih 3. 450 mm
c. 450 mm
Pasal 18.4.3.3
Pasal 18.7.5.3
Spasi tulangan transversal tidak melebihi nilai Pada kedua ujung kolom,
terkecil dari (a) hingga (c): sengkang tertutup harus
dipasang dengan spasi so
a) 1/4 dimensi terkecil penampang kolom sepanjang lo dari muka joint.
Spasi so tidak boleh melebihi
b) 6D tulangan longitudinal terkecil nilai terkecil dari:
c) so, yang dihitung dengan: 1. 8 x D tulangan longitudinal
terkecil
so = 100 + 350 − hx
3 2. 24 x D sengkang
3. 0,5 dimensi terkecil kolom
Nilai so tidak boleh melebihi 150 mm dan 4. 300 mm
tidak perlu kurang dari 100 mm.
104
SRPMK SRPMM
Pasal 18.7.5.2 Pasal 18.4.3.4
Tulangan transversal harus sesuai a) hingga f): Sengkang pengekang
pertama harus ditempatkan
a) Tulangan transversal harus terdiri dari spiral tidak lebih dari so/2 dari
tunggal atau spiral saling tumpuk (overlap), muka joint.
sengkang pengekang bundar, atau sengkang
pengekang persegi, dengan atau tanpa ikat
silang.
b) Setiap tekukan ujung sengkang pengekang
persegi dan ikat silang harus mengait batang
tulangan longitudinal terluar.
c) Ikat silang dengan ukuran batang tulangan
yang sama atau yang lebih kecil dari diameter
sengkang pengekang diizinkan sesuai batasan
25.7.2.2. Ikat silang yang berurutan harus
diselang-seling ujungnya sepanjang tulangan
longitudinal dan sekeliling perimeter
penampang.
d) Jika digunakan sengkang pengekang
persegi ataupun ikat silang, tulangan transversal
tersebut harus berfungsi sebagai tumpuan
lateral untuk tulangan longitudinal sesuai
25.7.2.2 dan 25.7.2.3
e) Tulangan harus diatur sedemikian sehingga
spasi hx antara tulangantulangan longitudinal di
sepanjang perimeter penampang kolom yang
tertumpu secara lateral oleh sudut ikat silang
atau kaki-kaki sengkang pengekang tidak boleh
melebihi 350 mm.
f) Ketika Pu>0,3Ag ′ atau ′> 70 MPa pada
kolom dengan sengkang pengekang, setiap
batang atau bundle tulangan longitudinal di
sekeliling inti kolom harus memiliki tumpuan
lateral yang diberikan oleh sudut dari sengkang
pengekang ataupun oleh kait gempa, dan nilai
hx tidak boleh lebih dari 200 mm. Pu harus
merupakan gaya tekan terbesar yang konsisten
dengan kombinasi beban terfaktor termasuk E.
105
Pasal 18.7.5.4 Pasal 25.7.3.3
Faktor kekuatan beton (kf) dan faktor Untuk tulangan transversal
keefektifan pengekangan (kn) dihitung spiral:
berdasarkan:
s = 0,45 Ag − f '
Ac 1 c
fc '
kf = 175 + 0, 6 1, 0 f yh
n Nilai fyt < 700 MPa.
kn = n − 2
dimana nℓ adalah jumlah batang atau bundel
tulangan longitudinal.
Untuk tulangan transversal persegi
Pu 0, 3Agfc ' dan fc ' 70 MPa maka Ash sbc :
(a) Ag fc '
0, 3 Ach − 1 fyt
(b) 0, 09 fc '
fyt
Pu 0, 3Agfc ' dan fc ' 70 MPa maka Ash sbc :
(a) Ag fc '
0, 3 Ach −1 fyt
(b) 0, 09 fc '
fyt
(c) 0, 2kfkn Pu
fyt Ach
Untuk tulangan transversal spiral:
Pu 0, 3Agfc ' dan fc ' 70 MPa maka s:
(d) Ag fc '
0, 45 Ach −1 fyt
(e) 0,12 fc '
fyt
106
SRPMK SRPMM
Pu 0, 3Agfc ' dan fc ' 70 MPa maka s:
(d) Ag fc '
0, 45 Ach −1 fyt
(e) 0,12 fc '
fyt
(f) 0, 35kf Pu
fyt Ach
Pasal 18.7.5.4 Pasal 18.4.3.5
Di luar panjang lo harus diberi tulangan spiral Di luar panjang lo, spasi
atau sengkang yang memenuhi 25.7.2 hingga tulangan transversal (s) harus
25.7.4 dengan spasi s: memenuhi sesuai pasal
10.7.6.5.2:
a. < 6D tulangan longitudinal terkecil
b. 150 mm Vs 0, 33 fc ' bwd s = d 2 atau 600
Vs 0, 33 fc ' bwd s = d 4 atau 300
Pasal 18.7.5.6 Pasal 18.4.3.6
Kolom yang menumpu reaksi dari komponen Untuk Pu >= Agfc’/10, Kolom
struktur kaku yang tak menerus, seperti dinding, yang menumpu pada
harus memenuhi a) dan b): dinding struktural, sepanjang
kolom harus dipasang
a.Untuk Pu >= Agfc’/10, Tulangan transversal sengkang dengan spasi so,
sesuai 18.7.5.2 hingga 18.7.5.4 harus dipasang dan Pu harus ditingkatkan =
sepanjang tinggi kolom pada semua tingkat Agfc’/4.
di bawah lokasi diskontinuitas. Pu harus
ditingkatkan = Agfc’/4 Tulangan transversal harus
diteruskan ke atas dan ke
b.Tulangan transversal harus diteruskan ke bawah dari kolom yang
dalam komponen struktur kaku tak menerus ditinjau sesuai 18.7.5.6b).
paling sedikit sejarak D tulangan longitudinal
terbesar sesuai 18.8.5. Jika ujung bawah
kolom yang ditinjau berhenti pada suatu
dinding, tulangan transversal perlu harus
diteruskan ke dalam dinding paling sedikit
sepanjang ld tulangan longitudinal terbesar di
titik pemutusan. Kalau kolom berhenti pada
sistem fondasi, tulangan transversal perlu
harus diteruskan paling sedikit 300 mm ke
dalam sistem fondasi.
Pasal 18.7.5.7
Jika tebal selimut beton di luar tulangan
transversal pengekang yang ditetapkan
berdasarkan 18.7.5.1, 18.7.5.5, dan 18.7.5.6
melebihi 100 mm, maka harus disediakan
tulangan transversal tambahan dengan tebal
107
SRPMK SRPMM
selimut beton tidak melebihi 100 mm dan spasi
tidak melebihi 300 mm.
Pasal 18.7.6.1.1 Pasal 18.4.3.1
Gaya geser desain Ve harus ditentukan dari: Vn tidak boleh kurang dari
nilai:
a. M + Mpr toppr bottom a) Mn top + Mn bottom
Ln
Ln
Kekuatan Geser b. > Vu dari beban terfaktor.
b) Vu dari Kombinasi
pembebanan beban
gravitasi dan beban
gempa (E) yang dikali
dengan Ω0.
Pasal 18.7.6.2.1
Tulangan tranversal sepanjang lo dihitung
dengan Vc = 0, jika:
a. Gaya geser akibat gempa berdasarkan
18.7.6.1 dihitung dari Mpr (Ve) ≥ 1/2 dari
kekuatan geser perlu maks di sepanjang lo.
b. Pu < Ag.fc’/20
Detailing kolom SRPMM
108
Detailing kolom SRPMM
Detailing kolom SRPMM
109
Detailing kolom SRPMK
Detailing kolom SRPMK
Detailing kolom SRPMK
110
Menentukan Vu pada kolom SRPMK
Penulangan Memanjang Balok5.3 Persyaratan Detailing Hubungan Balok Kolom SRPMM
111
Tulangan SRPMK
Transversa
Pasal 18.8.2.1
l Gaya-gaya pada tulangan longitudinal balok di muka joint
harus dihitung dengan mengasumsikan tegangan pada
tulangan tarik lentur adalah 1,25fy.
Pasal 18.8.2.2
Tulangan longitudinal balok yang dihentikan pada kolom harus
diteruskan ke muka terjauh dari inti kolom terkekang dengan
panjang penyaluran (Ld) tarik sesuai 18.8.5 dan dalam tekan
sesuai 25.4.9.
Pasal 18.8.2.3
Bila tulangan longitudinal balok diteruskan melalui joint balok-
kolom, dimensi kolom yang paralel dengan tulangan balok
tersebut tidak boleh kurang dari 20 kali diameter tulangan
longitudinal terbesar balok untuk beton normal
(normalweight). Untuk beton ringan (lightweight), dimensinya
tidak boleh kurang dari 26 kali diameter tulangan.
Pasal 18.8.2.4
h joint ≥ ½ h balok yang merangka pada joint tersebut dan yang
menyebabkan geser pada joint sebagai bagian dari system
pemikul gaya seismik.
hjoint = hkolom
Pasal 18.8.3.1
Tulangan transversal joint harus memenuhi 18.7.5.2, 18.7.5.3,
18.7.5.4, dan 18.7.5.7, seperti tulangan transversal pada
kolom.
Kekuatan Geser Pasal 18.8.3.2
Bila pada ke-4 sisi joint terdapat balok yang merangka
Kekuatan Geser kepadanya dan bila lebar dari setiap balok ≥ ¾ dari lebar kolom,
maka jumlah tulangan transversal yang diperlukan 18.7.5.4
diizinkan untuk direduksi ½ nya, dan spasi yang disyaratkan
18.7.5.3 diizinkan hingga 150 mm.
Pasal 18.8.3.3
Tulangan longitudinal balok yang berada di luar inti kolom
harus dikekang oleh tulangan transversal yang menembus
kolom dengan spasi sesuai 18.6.4.4, dan persyaratan 18.6.4.2
dan 18.6.4.3, jika pengekangan tersebut tidak diberikan oleh
balok yang merangka ke dalam joint.
Pasal 18.8.3.4
Bila tulangan momen negative balok menggunakan tulangan
berkepala (headed deformed bar) yang berhenti di dalam joint,
maka ujung atas kolom harus diteruskan di atas joint
setidaknya setinggi h. Sebagai alternatif, tulangan balok harus
dikekang pada muka atas joint oleh tulangan joint vertikal
tambahan.
Pasal 18.8.4.1
Kekuatan geser nominal joint (Vn):
a. Joint yang terkekang balok pada ke-4 sisi: Vn = 1,7 fc ' Aj
b. Joint yang terkekang balok pada ke-3 sisi atau 2 sisi:
Vn = 1, 2 fc ' Aj
c. Untuk kasus lainnya: Vn = 1, 0 fc ' Aj
Untuk beton ringan, = 0,75
Untuk beton normal, = 1,0
Pasal 18.8.4.2
Joint dianggap terkekang oleh balok apabila lebar balok ≥ 3/4
dari lebar efektif joint.
Perpanjangan balok yang melewati muka joint setidaknya
sama dengan tinggi balok h boleh dianggap memberikan
kekangan pada muka joint tersebut.
Pasal 18.8.4.3
Luas penampang efektif dalam suatu joint (Aj) = hjoint × bjoint
efektif.
hjoint = hkolom, bjoint = bkolom,
kecuali bila ada balok yang merangka ke dalam kolom yang
lebih lebar, lebar joint efektif:
a. < bkolom + hjoint
b. < 2 × bbalok
Dua kali jarak tegak lurus yang lebih kecil dari sumbu
longitudinal balok ke sisi kolom.
112
Pasal 18.8.5.1
Panjang penyaluran tulangan tarik dengan kait standar untuk
Panjang penyaluran tulangan tarik tulangan D10 – D36:
ldh = fydb
5, 4 fc '
Untuk beton normal, ldh:
a. > 8Db
b. > 150 mm
untuk beton ringan, ldh:
a. > 10Db
b. > 190 mm
Nilai adalah 0,75 untuk beton ringan dan 1,0 untuk beton
normal.
Kait standar harus ditempatkan dalam inti terkekang kolom
atau elemen batas, dengan kait ditekuk ke dalam joint.
Pasal 18.8.5.2
Untuk tulangan berkepala yang memenuhi 20.2.1.6, panjang
penyaluran tarik harus sesuai 25.4.4, kecuali spasi bersih
antar tulangan diizinkan ≥ 3db.
Pasal 18.8.5.3
Panjang penyaluran tulangan tarik lurus untuk tulangan D10 –
D36:
a. > 2,5 ldh bila beton yang dicor di bawah tulangan tersebut
tidak melebihi 300 mm
> 3,25 ldh bila tinggi beton yang dicor bersamaan di bawah
batang tulangan melebihi 300 mm.
Pasal 18.8.5.4
Tulangan lurus yang berhenti pada joint harus melewati inti
terkekang kolom atau elemen batas. Semua bagian ld yang
tidak berada di dalam inti terkekang harus diperpanjang
dengan faktor sebesar 1,6 kali.
Pasal 18.8.5.5
Jika digunakan tulangan berlapis epoksi, maka panjang
penyaluran berdasarkan 18.8.5.1, 18.8.5.3, dan 18.8.5.4 harus
dikalikan dengan faktor yang sesuai 25.4.2.4 atau 25.4.3.2.
113
Penentuan kapsitas geser joint
Pca
Mca
Vca
T1 = = T2
T1 = = T2
Vcb
Mcb
Pcb
Gaya-gaya yang bekerja pada beam column joint
T1 +T2 – Vc1 < Vn
114
Referensi:
Alexander, N., Budiono, B., & Sukamta, D. (2019). Perubahan Signifikan
Terhadap Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk
Struktur Bangunan Gedung dalam ASCE, 7-16.
Amri, Ulil, A. Rosyidah (2021). Penerapan Metode Desain Kircher &
Associates 2015 Pada Anomali Respon Spektrum Berdasarkan SNI
1726:2019. Tugas Akhir, Politeknik Negeri Jakarta.
ASCE/SEI, 7-16. (2016). Minimum Design Loads and Associated
Criteria for Buildings and Other Structures. American Society of
Civil Engineers, VA.
Chock, G., Ghosh, S., O’Rourke, M., & Stafford, T. (2018). Significant
Changes to the Minimum Design Load Provisions of ASCE 7-16.
https://doi.org/10.1061/9780784414576
Giatmajaya, I. W., Sukawati, N. K. S. A., & Darmayasa, I. G. O. (2021).
Analisis Perilaku Struktur Komposit Pada Gedung Di Atas Tanah
Keras, Sedang, Dan Lunak Akibat Beban Gempa. 4(1), 1–15.
Irsyam, M., Hutapea, B. M., & Imran, I. (2017). Zonasi Hazard Gempa
Bumi untuk Wilayah Jakarta. Jurnal Teknik Sipil, 24(2), 159–166.
https://doi.org/10.5614/jts.2017.24.2.7
Kircher & Associates. (2015). Investigation of an identified short-
coming in the seismic design procedures of ASCE 7-10 and
development of recommended improvements for ASCE 7-16.
Seismic Design Procedures Study.
Luco, N., Ellingwood, B., Hamburger, R., Hooper, J., Kimball, J., &
Kircher, C. (2007). Risk-Targeted versus Current Seismic Design
Maps for the Conterminous United States.
M., A., M., I., B., B., W., T., & Hendriyawan, H. (2010). Development of
Spectral Hazard Map for Indonesia with a Return Period of 2500
Years using Probabilistic Method. Civil Engineering Dimension,
12(1). https://doi.org/10.9744/ced.12.1.52-62
Mohraz, B., & Sadek, F. (2001). Earthquake Ground Motion and
Response Spectra. The Seismic Design Handbook, 47–124.
https://doi.org/10.1007/978-1-4615-1693-4_2
115
Nasional, B. S. (2012). SNI 1726:2012 Tata Cara Perencanaan
Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non
Gedung.
Nasional, B. S. (2013). SNI 1727:2013 Beban Minimum untuk
Perancangan Bangunan Gedung dan Struktur Lain.
Nasional, B. S. (2019). SNI 1726:2019 Tata Cara Perencanaan
Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non
Gedung.
Nasional, B. S. (2019). SNI 2847:2019 Persyaratan Beton Struktural
untuk Bangunan Gedung.
Partono, W., Wardani, S. P. R., Irsyam, M., & Maarif, S. (2016). Seismic
microzonation of Semarang, Indonesia based on site response
analysis using 30 M soil deposit model. Jurnal Teknologi, 78(8–5),
31–38. https://doi.org/10.11113/jt.v78.9607
Prins, M. I., Dapas, S. O., & Wallah, S. E. (2017). Studi Komparasi Disain
Struktur Bangunan Bertingkat Akibat Gempa Pada 5 Kota Di
Indonesia. Jurnal Sipil Statik, 5(7), 411–423. www.puskim.pu.go.id
Purwoko, A., Purwanto, & Mahendra, W. (2012). Studi Perbandingan
Gaya Gempa Pada Struktur Bangunan Di Samarinda Berdasarkan
SNI 03-1726-2002 dan SNI 176-2019. Universitas 17 Agustus
1945 Samarinda.
Pustlitbang PUPR. (2017). Buku Peta Gempa 2017.
Rohman, R. K. (2014). Studi Perbandingan Analisis Gaya Gempa
Terhadap Struktur Gedung Di Kota Madiun Berdasar SNI 1726
2002 dan RSNI 201X. Agri-Tek, 15(1), 46–56.
Sengara, I. W., Irsyam, M., Sidi, I. D., Mulia, A., Asrurifak, M.,
Hutabarat, D., & Partono, W. (2020). New 2019 Risk-Targeted
Ground Motions for Spectral Design Criteria in Indonesian Seismic
Building Code. E3S Web of Conferences, 156, 03010.
https://doi.org/10.1051/e3sconf/202015603010
Stewart, J. P., & Seyhan, E. (2013). Semi-empirical nonlinear site
amplification and its application in NEHRP site factors. Berkeley,
United States of America: Pacific Earthquake Engineering
Research Center, November.
Sutjipto, S. (2016). An Overview of Design Response Spectra in the
116
Indonesian Seismic Code - SNI 1726 : 2012. The 3rd International
Conference on Earthquake Engineering and Disaster Mitigation
2016, 2016.
Sutjipto, S. (2018). Perbandingan Spektrum Respons Desain RSNI
1726 : 2018 dan SNI 1726-2012 Pada 17 Kota Besar Di Indonesia.
Konferensi Nasional Teknik Sipil 12.
Wahyudi, D. I. (2017). Pemilihan dan Pen-skala-an Rekaman
Akselerogram Gempa Nyata agar Sesuai dengan Spektrum
Respons SNI 1726-2012. Jurnal Aplikasi Teknik Sipil, 15(2), 67.
https://doi.org/10.12962/j2579-891x.v15i2.3103
Wayan Sengara, I., Sidhi, I. D., Mulia, A., Asrurifak, M., & Hutabarat, D.
(2016). Development of risk coefficient for input to new Indonesian
seismic building codes. Journal of Engineering and Technological
Sciences, 48(1), 49–65.
https://doi.org/10.5614/j.eng.technol.sci.2016.48.1.5
Wicaksana, A., & Rosyidah, A. (2020). Pembandingan Desain Bangunan
Tahan Gempa Menggunakan SNI 1726 : 2012 dan SNI 1726:2019.
11.
117
Biografi Penulis
Anis Rosyidah. Menyelesaikan S1 di Universitas
Negeri Yogyakarta tahun 1998. Menempuh
program Diploma IV di Politeknik Negeri
Bandung, lulus tahun 2001. Melanjutkan
pendidikan S2 di Institut Teknologi Sepuluh
Nopember Surabaya, selesai tahun 2004. Pada
tahun 2021 telah menyelesaikan program Doktor
di Universitas Katolik Parahyangan Bandung.
Sekarang ini sebagai mengajar di Jurusan Teknik
Sipil, Politeknik Negeri Jakarta dan melakukan penelitian bidang
struktur, yaitu mengenai model sambungan beton precast. Selain
mengajar juga sebagai praktisi bidang struktur. Organisasi Profesi yang
diikuti adalah Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI), Ikatan Ahli
Pracetak dan Prategang Indonesia (IAPPI), dan Asosiasi Dosen
Indonesia (ADI) hingga saat ini.
I Ketut Sucita. Menyelesaikan S1 di
Universitas Negeri Yogyakarta tahun 1997.
Menempuh program Diploma IV di Politeknik
Negeri Bandung, lulus tahun 2001.
Melanjutkan pendidikan S2 di Institut
Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya,
selesai tahun 2007. Sekarang ini sebagai
mengajar di Jurusan Teknik Sipil, Politeknik
Negeri Jakarta. Selain mengajar juga sebagai praktisi bidang
Manajemen Konstruksi.