1 BERKREASI MELALUI PUISI I Putu Surya Hadi, S.Pd SMA Negeri 1 Negara A. Tujuan Pembelajaran 1. Peserta didik dapat mengidentifikasi informasi teks fiksi (puisi) yang disimak. 2. Peserta didik dapat menganalisis dan menilai gagasan dan pesan teks diskusi dalam teks fiksi (puisi) yang dibaca. 3. Peserta didik dapat mengubah dan menampilkan teks puisi ke dalam format kreatif (musikalisasi puisi) yang dapat dipublikasikan di media cetak maupun elektronik. 4. Peserta didik dapat menulis tanggapan terhadap antologi puisi secara logis dan kritis. 5. Peserta didik dapat menampilkan pembacaan puisi. B. Pengertian Puisi Puisi merupakan satu bentuk karya sastra yang berisi ungkapan hati, pikiran, dan perasaan penyair yang dituangkan dengan memanfaatkan segala daya bahasa, kreativitas dan imajinasi pengarang dengan rangkaian bahasa yang indah serta mengandung irama dan juga makna. Secara etimologis, istilah puisi berasal dari bahasa Yunani yaitu pocima (membuat) atau pocisis (pembuatan). Sementara itu, dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah poetry, sebagai bentuk jenis sastra. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, mantra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Jadi, dapat disimpulkan bahwa puisi adalah ungkapan pikiran dan perasaan penyair yang dituangkan dengan menggunakan gaya bahasa dan mengandung makna yang mendalam.
2 C. Ciri-Ciri Puisi Puisi memiliki ciri yang membedakannya dengan karya sastra lain, yaitu: 1. Berisikan ungkapan pikiran, perasaan, dan pengalaman penyair yang bersifat imajinatif. 2. Menggunakan bahasa konotatif. 3. Terdapat pemadatan segala unsur daya bahasa. 4. Menggunakan diksi yang tepat dengan memperhatikan irama atau bunyi. 5. Dapat dibentuk oleh tipografi. 6. Ambiguitas (memberikan banykak penafsiran). D. Jenis-Jenis Puisi Berdasarkan Isi Puisi terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu puisi naratif, puisi lirik, dan puisi deskriptif. Apa saja perbedaan diantara ketiganya? 1. Puisi Naratif Puisi naratif mengungkapkan cerita atau penjelasan penyair. Puisi ini terbagi ke dalam beberapa macam, yaitu balada dan romansa. Balada adalah puisi yang berisi cerita tentang orang-orang perkasa ataupun tokoh pujaan. Romansa adalah jenis puisi cerita yang menggunakan bahasa romantik yang berisi kisah percintaan, yang diselingi perkelahian dan petualangan. 2. Puisi Lirik Puisi lirik berisi ungkapan perasaan yang tersusun dalam larik-larik atau baris. Puisi lirik terdiri dari tiga jenis, yaitu elegi, ode, dan serenada. Elegi adalah puisi yang mengungkapkan perasaan duka. Sementara itu, ode adalah puisi yang berisi pujian terhadap seseorang, suatu hal, atau suatu keadaan. Terakhir, serenada merupakan sajak percintaan yang dapat dinyanyikan. Kata serenada sendiri berarti nyanyian yang tepat dinyanyikan di waktu senja.
3 3. Puisi Deskriptif Puisi deskriptif adalah puisi yang disampaikan oleh penulis untuk memberi kesan terhadap keadaan, peristiwa, benda, atau suasana yang dipandang menarik kepada pembaca. Puisi yang termasuk ke dalam jenis puisi deskriptif, misaInya satire dan puisi yang bersifat kritik sosial. E. Unsur Pembangun Puisi Sebelum membuat puisi, kamu harus tahu unsur pembangunnya nih. Ada unsur fiksi dan unsur batin. Keduanya penting agar orang yang mendengar atau membaca puisi kamu memahami maksud yang hendak kamu sampaikan. Unsur Fisik Puisi 1. Diksi Diksi adalah pemilihan kata yang dapat menimbulkan imajinasi estetis. Penyair dalam membuat puisi harus selalu mempertimbangkan diksi agar memberikan kekuatan dan daya magis. 2. Imaji Pengimajian adalah susunan kata yang dapat menimbulkan khayalan dan imaji. Imaji yang terdapat pada puisi dapat menimbulkan khayalan pada pembaca sehingga pembaca seolah merasa, melihat, dan mendengar sesuatu yang diungkapkan penyair. 3. Kata konkret Bertujuan untuk menimbulkan imajinasi pada pembaca. Kata konkret harus memperjelas isi puisi agar menimbulkan imaji penglihatan, pendengaran, atau perasaan pembaca. Kata konkret ini selalu berkaitan dengan pengimajian. 4. Bahasa figuratif (Majas) Majas adalah bahasa yang digunakan penyair untuk mengungkapkan sesuatu dengan cara membandingkan suatu hal dengan hal lainnya. Bahasa figuratif terdiri atas pengiasan yang menimbulkan makna kias dan pelambangan yang menimbulkan makna lambang.
4 5. Verifikasi Verifikasi adalah merupakan unsur pembentuk keindahan sebuah puisi. Ketika membaca puisi tentu saja kita akan menikmati rima, ritma, dan metrum yang terdapat dalam puisi tersebut. 6. Tipografi Adalah pembeda yang penting antara puisi dengan prosa dan drama. Tipografi merupakan bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi. F. Unsur Batin Puisi Unsur batin puisi merupakan unsur yang berkaitan dengan batin dalam pembacaan puisi. 1. Tema Tema adalah unsur utama pada puisi karena tema berkaitan erat dengan makna yang dihasilkan dari suatu puisi. 2. Rasa Rasa atau feeling pada puisi merupakan sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. 3. Nada Yang dimaksud nada atau suasana pada puisi adalah sikap penyair terhadap pembacanya. 4. Amanat Pada puisi, amanat atau tujuan merupakan pesan yang terkandung di dalam sebuah puisi.
5 G. Struktur Puisi Struktur puisi terdiri dari 2 jenis, yakni struktur batin dan struktur fisik. Berikut penjelasannya: 1. Struktur Batin Struktur batin adalah unsur pembangun puisi yang tidak tampak langsung dalam penulisan kata-katanya. Struktur batin puisi meliputi tema, amanat, dan sikap penyair. 2. Struktur Fisik Struktur fisik adalah unsur pembangun puisi yang bersifat fisik atau tampak dalam bentuk susunan kata-katanya. Struktur fisik puisi meliputi majas, rima, konotasi, kata berlambang, dan pengimajian. H. Bentuk Penyampaian Puisi Nggak seperti teks biasa, puisi dibacakan dengan teknik-teknik tertentu. Cara penyampaian puisi ini bertujuan agar isi puisi dapat dihayari oleh pendengarnya. Apa saja sih bentuk penyampaian puisi? 1. Membacakan Puisi Teknik membacakan puisi dilakukan dengan cara menyampaikannya dengan bahasa lisan atau ucapan. Saat membaca puisi menggunakan teknik ini, kamu bisa membaca teks puisi ke depan panggung. 2. Deklamasi Puisi Deklamasi puisi adalah teknik menyampaikan puisi secara lisan, tetapi penyampaiannya dilakukan dengan penghayatan yang lebih dalam dan luapan kejiwaan. Kadang, pembacanya juga bisa menggunakan gerakan tangan atau kaki. Saat melakukan deklamasi puisi, kamu harus menghafalkan puisi alias nggak bisa membuat teksnya ke atas panggung. 3. Pertunjukkan Puisi Bentuk penyampaian puisi melalui pertunjukkan dibagi menjadi dua jenis yaitu musikalisasi puisi dan dramatisasi puisi. Saat melakukan musikalisasi puisi, kamu harus mengubah teks puisi menjadi sebuah lagu. Pastikan penyampaian puisi dan irama lagu harus selaras agar lebih hikmat disimak. Sementara itu, dramatisasi puisi dilakukan
6 dengan memperagakan atau memerankan tokoh sesuai dengan peristiwa yang ada di dalam puisi. Dramatisasi puisi bisa dilakukan secara individu atau kelompok sesuai dengan kebutuhan. I. Membaca Puisi Beberapa hal yang harus dipahami ketika akan membacakan puisi. Berikut adalah hal-hal yang harus diperhatikan: a. Rima dan irama, artinya dalam membaca puisi tidak terlalu cepat ataupun terlalu lambat. Membaca puisi berbeda dengan membaca sebuah teks biasa karena puisi terikat oleh rima dan irama sehingga dalam membaca puisi tidak terlalu cepat ataupun juga terlalu lambat. b. Artikulasi atau kejelasan suara, artinya suara kita dalam membaca puisi harus jelas, misalnya saja dalam mengucapkan huruf-huruf vokal /a/, /i/, /u/, /e/, /o/, /ai/, /au/. c. Ekspresi mimik wajah, artinya ekspresi wajah kita harus bisa disesuaikan dengan isi puisi. Ketika puisi yang kita bacakan adalah puisi sedih, maka ekspresi mimik wajah kitapun harus bisa menggambarkan isi puisi sedih tersebut. d. Mengatur pernapasan, artinya pernapasan harus diatur jangan tergesa-gesa. Sehingga tidak akan mengganggu ketika membaca puisi. e. Penampilan, artinya kepribadian atau sikap kita saat di panggung usahakan harus tenang, tak gelisah, tak gugup, berwibawa, dan meyakinkan (tidak demam panggung). Selain hal-hal di atas, ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika akan membacakan puisi yaitu sebagai berikut. a. Vokal: Suara yang dihasilkan harus benar. Salah satu unsur dalam vokal ialah artikulasi (kejelasan pengucapan). Kejelasan artikulasi dalam mendemonstrasikan puisi sangat perlu. Bunyi vokal seperti /a/, /i/, /u/, /e/, /o/, /ai/, /au/, dan sebagainya harus jelas terdengar. Demikian pula dengan bunyi-bunyi konsonan. b. Ekspresi: Ekspresi ialah pengungkapan atau proses menyatakan yang memperlihatkan atau menyatakan maksud, gagasan, dan perasaan.
7 Ekspresi mimik atau perubahan raut muka harus ada, namun harus proporsional, sesuai dengan kebutuhan menampilkan gagasan puisi secara tepat. c. Intonasi (Tekanan Dinamik dan Tekanan Tempo) Intonasi adalah ketepatan penyajian dalam menentukan tinggi rendahnya pengucapan suara pada kata. Intonasi terbagi menjadi dua yaitu intonasi dinamik dan intonasi tempo. Tekanan dinamik adalah tekanan pada suku kata yang dianggap penting dan tekanan tempo adalah cepat lambat pengucapan suku kata atau kata. J. Penampilan Puisi Puisi dapat ditampilkan secara langsung maupun disajikan dalam bentuk musikalisasi puisi. Musikalisasi puisi adalah upaya kolaborasi antara teks puisi dengan musik. Dalam hal ini, teks puisi ditampilkan tidak hanya dibaca, tetapi dipadukan dengan instrumen musikal. Ada beberapa jenis musikalisasi puisi, yaitu pembacaan puisi dengan iringan musik, ada yang mengubah puisi menjadi lirik atau syair lagu dengan iringan musik, dan menyajikan dalam bentuk drama musikalisasi puisi. Musikalisasi puisi memiliki beberapa unsur yang harus diperhatikan sebagai berikut. 1. Nada 2. Irama 3. Pelafalan 4. Harmoni 5. Ekspresi Berikut beberapa hal yang perlu dipersiapkan dalam menampilkan puisi. 1. Pemilihan puisi. 2. Pemahaman makna puisi. 3. Penentuan alat dan jenis musik. 4. Penentuan nada dan irama. 5. Berlatih sebelum tampil.
8 K. Contoh Puisi Do’a di Medan Laga (Oleh Subagio Sastrowardoyo) Berilah kekuatan sekeras baja Untuk menghadapi dunia ini, untuk melayani zaman ini Berilah kesabaran seluas angkasa Untuk mengatasi siksaan ini, untuk melupakan derita ini Berilah kemauan sekuat garuda Untuk melawan kekejaman ini, untuk menolak penindasan ini Berilah perasaan selembut sutra Untuk menjaga peradaban ini, untuk mempertahankan kemanusiaan ini Sajak Putih (Oleh Chairil Anwar) Bersandar pada tari warna pelangi Kau depanku bertudung sutra senja Di hitam matamu kembang mawar dan melati Harum rambutmu mengalun bergelut senda Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba Meriak muka air kolam jiwa Dan dalam dadaku memerdu lagu Menarik menari seluruh aku Hidup dari hidupku, pintu terbuka Selama matamu bagiku menengadah Selama kau darah mengalir dari luka Antara kita Mati datang tidak membelah…
9 Balada Orang-Orang Tercinta (oleh: WS Rendra) Kita bergantian menghirup asam Batuk dan lemas terceruk Marah dan terbaret-baret Cinta membuat kita bertahan dengan secuil redup harapan Kita berjalan terseok-seok Mengira lelah akan hilang di ujung terowongan yang terang Namun cinta tidak membawa kita memahami satu sama lain Kadang kita merasa beruntung Namun harusnya kita merenung Akankah kita sampai di altar Dengan berlari terpatah-patah Mengapa cinta tak mengajari kita Untuk berhenti berpura-pura? Kita meleleh dan tergerus Serut-serut sinar matahari Sementara kita sudah lupa rasanya mengalir bersama kehidupan Melupakan hal-hal kecil yang dulu termaafkan Mengapa kita saling menyembunyikan Mengapa marah dengan keadaan? Mengapa lari ketika sesuatu membengkak jika dibiarkan? Kita percaya pada cinta Yang borok dan tak sederhana Kita tertangkap jatuh terperangkap Dalam balada orang-orang tercinta
10 Tangis (oleh: WS Rendra) Ke mana larinya anak tercinta yang diburu segenap penduduk kota? Paman Doblang! Paman Doblang! la lari membawa dosa tangannya dilumuri cemar noda tangisnya menyusupi belukar di rimba. Sejak semalam orang kota menembaki dengan dendam tuntutan mati dan ia lari membawa diri. Seluruh subuh, seluruh pagi. Paman Doblang! Paman Doblang! Ke mana larinya anak tercinta di padang lalang mana di bukit kapur mana mengapa tak lari di riba bunda? Paman Doblang! Paman Doblang! Pesankan padanya dengan angin kemarau ibunya yang tua menunggu di dangau Kalau lebar nganga lukanya mulut bunda ‘kan mengucupnya Kalau kotor warna jiwanya Ibu cuci di lubuk hati Cuma ibu yang bisa mengerti Ia membunuh tak dengan hati Kalau memang hauskan darah manusia Suruhlah minum darah ibunya Paman Doblang! Paman Doblang! Katakan, ibunya selalu berdoa Kalau ia ‘kan mati jauh di rimba Suruh ingat marhum bapanya
11 Yang di sorga, di imannya Dan di dangau ini ibunya menanti dengan rambut putih dan debar hati Paman Doblang! Paman Doblang! Kalau di rimba rembulan pudar duka Katakan, itulah wajah ibunya Aku Ingin (oleh: Sapardi Djoko Damono) Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada Referensi: Kosasih, E. 2017. Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud Pradopo, Rachmat Djoko. 2010. Pengkajian Puisi (Cet. 12). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Tim Redaksi KBBI Edisi V. 2021. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud. Waluyo, Herman J. 2004. Apresiasi Puisi. Jakarta: Gramedia.