The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Dwi Nila Andriani, 2023-03-20 00:15:08

ebook ekonomi mikro

ebook

Keywords: economy

48 rincikan macam-macam elastistas penawaran sebagai berikut. Penawaran Elastis ( Es > 1 ). Suatu penawaran dikatakan elastis jika penawaran tersebut memiliki koefisien elastitisitas penawaran lebih besar daripada 1. Keadaan ini terjadi apabila persentase perubahan penawaran lebih besar daripada persentase perubahan harga. Sebagai contoh, jumlah penawaran kue donat di suatu toko makanan meningkat dari 25.000 menjadi 30.000. Gejala ini merupakan dampak dari kenaikan harga kue donat dari Rp 250 menjadi Rp 300. Elastisitas penawaran berdasarkan rumus di atas dapat dihitung sebagai berikut. Kurva menunjukkan bahwa kenaikan harga dari P0 ke P1 mengakibatkan kenaikan penawaran dari Q0 ke Q1. Tampak bahwa


49 Q0 Q1 > P0 P1. Jadi penawaran tersebut bersifat elastis. Kurva penawaran elastis Penawaran Inelastis ( Es < 1 ). Suatu penawaran dikatakan inelastis jika penawaran tersebut memiliki koefisien elastisitas penawaran lebih kecil daripada 1. Keadaan ini terjadi apabila persentase perubahan penawaran lebih kecil daripada persentase perubahan harga. Sebagai contoh, harga tomat di pasar naik dari Rp 3.000 menjadi Rp 3.500, sementara kuantitas penawaran hanya meningkat dari 8.000 menjadi 8.500. Elastisitas penawaran dengan demikian dapat dihitung sebagai berikut.


50 Kurva penawaran inelastis Kurva tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga dari P0 ke P1 mengakibatkan kenaikan penawaran dari Q0 ke Q1. Tampak bahwa Q0 Q1 < P0 P1. Jadi penawaran ini bersifat inelastis. Penawaran Elastis Uniter. Suatu penawaran dikatakan elastis uniter jika penawaran tersebut memiliki koefisien elastisitas penawaran sama dengan 1. Keadaan ini terjadi apabila persentase perubahan penawaran sama dengan persentase perubahan harga. Sebagai contoh, harga seperangkat radio kaset naik dari Rp 300.000 menjadi Rp 350.000. Gejala ini diikuti oleh kenaikan penawaran dari 6.000 menjadi 7.000. Elastisitas penawaran dengan demikian dapat dihitung sebagai berikut.


51 Kurva penawaran elastis uniter Kurva di atas menunjukkan bahwa kenaikan harga dari P0 ke P1 diikuti oleh kenaikan penawaran dari Q0 ke Q1. Tampak bahwa Q0 Q1 = P0 P1. Penawaran Elastis Sempurna. Suatu penawaran dikatakan elastis sempurna jika penawaran tersebut memiliki koefisien elastisitas penawaran sama dengan tidak terhingga. Kasus ini termasuk kasus yang ekstrem, karena penurunan harga sedikit saja akan mengurangi jumlah penawaran sampai dengan nol. Atau sebaliknya, kenaikan harga sedikit saja akan menaikkan jumlah penawaran luar biasa besarnya. Dalam kasus ini rasio persentase perubahan antara jumlah


52 penawaran terhadap persentase perubahan harga sangatlah besar, sehingga kurva penawarannya berbentuk horizontal. Perhatikan perhitungan elastisitas penawaran sebagai berikut. Kurva penawaran elastis sempurna Kurva di atas menunjukkan bahwa kurva penawaran sangat rentan terhadap perubahan harga lainnya. Penawaran Inelastis Sempurna. Suatu penawaran dikatakan inelastis sempurna jika penawaran tersebut memiliki koefisien elastisitas penawaran sama dengan 0. Keadaan ini merupakan kasus ekstrem lainnya karena pada tingkat harga berapa pun, besarnya penawaran tidak


53 berubah, atau dengan kata lain, penjual sama sekali tidak dapat menambah penawarannya meskipun harga bertambah tinggi. Perhatikan perhitungan elastisitas penawaran sebagai berikut. Kurva penawaran inelastisitas sempurna Kurva di atas menunjukkan bahwa kurva penawaran ( SS) tidak berubah pada tingkat harga berapa pun. Sejumlah faktor sebagai berikut dapat mempengaruhi tingkat elastisitas penawaran. 1. Kapasitas Produksi. Apabila industri berada di bawah kapasitas (tidak beroperasi optimal) dan sumber daya tidak seluruhnya dipakai, kurva penawaran cenderung elastis. Industri dapat


54 segera meningkatkan kapasitas dengan mengikutsertakan faktorfaktor produksi yang belum sepenuhnya digunakan. Sebagai contoh, jika kapasitas mesin belum digunakan sepenuhnya dan permintaan meningkat, perusahaan tinggal menambahkan jumlah tenaga kerja. 2. Besarnya Jumlah Persediaan. Apabila pemasok menyimpan persediaan dalam jumlah besar, kurva penawaran akan elastis. Perusahaan dapat segera memasok pasar jika ada permintaan. Jika persediaan sudah habis, perusahaan akan sulit menyiapkan keperluan pasar dengan segera sehingga kurva penawaran akan inelastis. 3. Jangka Waktu Produksi. Jangka waktu berproduksi suatu barang sangat mempengaruhi elastisitas penawaran barang yang bersangkutan. Penawaran barang hasil industri dan hasil pertanian berbeda. Untuk menambah penawaran, sektor pertanian membutuhkan waktu yang relatif panjang. Ini terjadi karena kegiatan produksi dilakukan sejak melakukan penanaman sampai hasil itu dapat dipanen. Sementara untuk penambahan hasil industri, sangat bergantung dari persediaan bahan baku, atau apabila sarana industri telah terpasang dan dapat digunakan secara penuh (optimum), penambahan produksi harus menunggu sampai ada pembukaan/perluasan pabrik yang siap berproduksi. Itulah mengapa penawaran hasil


55 pertanian dan hasil industri elastis untuk jangka panjang, namun inelastis dalam jangka pendek. 4. Daya Tahan Penyimpanan. Barang-barang yang tidak tahan lama, lekas busuk, dan mudah rusak seperti sayuran, buah memiliki kecenderungan penawaran yang inelastis. Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar! 1. Apakah yang dimaksud dengan elastisitas permintaan dan penawaran! 2. Sebutkan macam-macam elstisitas dan jelaskan? 3. Jelaskan tentang penawaran yang bersifat elastis sempurna dan gambar kurvanya! 4. Apa tujuan mempelajari elastisitas? 5. Pasa saat harga Rp. 5.000,00 per unit, jumlah barang yang ditawarkan 20 unit. Kemudian harga turun menjadi Rp. 4.500,00 perunit dan jumlah barang yang ditawarkan menjadi 10 unit. Hitunglah besarnya koefisien elastisitas penawarannya!


56 TEORI PERILAKU KONSUMEN Menerangkan perilaku pembeli dalam menggunakan dan membelanjakan pendapatan yang diperolehnya, yaitu : a. Alasan para pembeli / konsumen untuk membeli lebih banyak barang pada harga yang lebih rendah akan mengurangi pembelian pada harga yang tinggi. b. Bagaimana seseorang konsumen menentukan jumlah dan komposisi dari barang yang akan dibeli dari pendapatan yang diperolehnya. Nilai guna (utility) adalah kepuasan atau kenikmatan yang diperoleh seseorang dari mengkonsumsi barang-barang. Jika kepuasan itu makin tinggi, maka makin tinggi pula nilai gunanya (utility-nya). PENDEKATAN TEORI PERILAKU KONSUMEN : a. Pendekatan Nilai Guna (Utility) Kardinal, dianggap manfaat atau kenikmatan yang diperoleh seorang konsumen dapat dinyatakan secara kuantitatif. b. Pendekatan Nilai Guna (Utility) Ordinal, manfaat atau kenikmatan yang diperoleh masyarakat dari mengkonsumsi barangbarang tidak dikuantifikasi.


57 TEORI NILAI GUNA Kepuasan atau kenikmatan yang diperoleh seseorang dari mengkonsumsi barang semakin tinggi, maka makin tinggi pula nilai gunanya (utilitynya). Terbagi atas : a. Nilai Guna Total (Total Utility/TU) : jumlah seluruh kepuasan yang diperoleh dari mengkonsumsikan sejumlah barang tertentu. b. Nilai Guna Marginal (marginal Utility/MU) : pertambahan/pengurangan kepuasan sebagai akibat dari penambahan/pengurangan penggunaan suatu unit barang tertentu. Hipotesis utama teori nilai guna : hukum nilai guna marginal yang semakn menurun, menyatakan bahwa tambahan nilai guna yang akan diperoleh seseorang dari mengkonsumsikan suatu barang akan menjadi lebih sedikit apabila orang tersebut terus menambah konsumsinya atas barang tersebut. MEMAKSIMALKAN NILAI GUNA (UTILITY) Dalam keadaan dimana harga-harga berbagai macam barang adalah berbeda, syarat yang harus dipenuhi untuk memberikan nilai guna yang maksimum adalah : setiap rumah yang dikeluarkan untuk membeli unit tambahan berbagai jenis barang akan memberikan nilai guna marginal yang sama besarnya. Hipotesis : a. Seseorang akan memaksimumkan nilai guna dari barang-barang yang dikonsumsinya


58 apabila perbandingan nilai guna marginal berbagai barang tersebut adalah sama dengan perbandingan harga-harga barang tersebut. b. Seseorang akan memaksimumkan nilai guna dari barang-barang yang dikonsumsinya apabila nilai guna marginal untuk setiap rupiah yang dikeluarkan adalah sama untuk setiap barang yang dikonsumsikan. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang harus melakukan pilihan. Pilihan tersebut harus dilakukan agar pemenuhan kebutuhan dapat mencapai utilitas yang maksimal. Setiap orang berbeda dalam menentukan pilihannya. Sebagai contoh, apakah Anda akan sarapan pagi dengan makan nasi atau makan roti? Setelah sarapan pagi, apakah Anda akan minum teh, kopi, susu, atau air putih? Pengambilan keputusan atas berbagai pilihan yang ada akan membentuk pola perilaku konsumen. Dalam teori perilaku konsumen, ada dua pendekatan yang digunakan, yaitu sebagai berikut. Pendekatan Kardinal Pendekatan utilitas kardinal menyatakan bahwa utilitas dapat diukur secara langsung melalui angka-angka. Oleh karena itu, pendekatan ini disebut juga dengan pendekatan kardinal (cardinal approach). Kata utilitas berasal dari bahasa Inggris, yaitu utility. Utilitas memiliki satuan yang disebut util.


59 Utilitas yang diperoleh konsumen dalam mengonsumsi dapat berupa utilitas total (total utility) dan utilitas marjinal (marginal utility). Teori utilitas menyatakan utilitas barang dan jasa tertentu tidak bisa diukur dengan skala objektif, konsumen berwenang dalam memberikan peringkat terhadap beberapa alternatif yang berbeda. Dalam pendekatan ini, digunakan konsep Total Utility (TU) dan Marginal Utility (MU). Untuk memahami penerapan pendekatan utilitas kardinal ini, misalnya setelah berolahraga, Anda akan merasa haus. Untuk menghilangkan rasa haus tersebut, Anda memutuskan untuk meminum air dalam gelas. Kali pertama Anda meminum satu gelas air, Anda akan mendapatkan tingkat utilitas atau utilitas tertentu. Selanjutnya, Anda meminum air dalam gelas yang kedua. Dengan mengonsumsi air dalam gelas kedua, total utilitas Anda akan meningkat karena air dalam gelas kedua memberikan tambahan utilitas. Demikian juga, jika Anda memutuskan untuk meminum air dalam gelas ketiga, nilai total utility akan bertambah karena air dalam gelas ketiga memberikan tambahan utilitas. Tambahan utilitas ini disebut utilitas marjinal atau marginal utility . Sejalan dengan hukum utilitas marjinal yang semakin berkurang (the law of diminishing marginal utility), semakin banyak Anda mengonsumsi air, utilitas tambahan yang diperoleh dari mengonsumsi air tersebut semakin berkurang. Utilitas marjinal yang semakin berkurang muncul dari kenyataan bahwa


60 kenikmatan yang Anda peroleh dari meminum air tersebut akan menurun sejalan dengan makin banyaknya air yang dikonsumsi. Dengan semakin berkurangnya utilitas tambahan tersebut, utilitas total akan meningkat dengan laju yang semakin menurun. Nilai utilitas total akan maksimum pada saat nilai utilitas marjinal sama dengan nol (MU = 0). Konsep preferensi berkaitan dengan kemampuan konsumen menyusun prioritas pilihan agar dapat mengambil keputusan. Minimal ada dua sikap yang berkaitan dengan preferensi konsumen, yaitu lebih suka (prefer) dan sama-sama disukai (indifference). Misalnya, ada dua barang X dan Y, konsumen mengatakan X lebih disukai daripada Y (X > Y) atau X sama-sama disukai seperti Y (X = Y). Tanpa sikap ini perilaku konsumen sulit dianalisis. Hukum Gossen I Berdasarkan pola konsumsi manusia dalam mengonsumsi satu jenis barang untuk mencapai utilitas maksimum, lahirlah Hukum Gossen I yang dikemukakan oleh Hermann Heinrich Gossen. Pada intinya, hukum ini menyatakan: ”Jika pemenuhan kebutuhan akan satu jenis barang dilakukan secara terus-menerus, utilitas yang dinikmati konsumen akan semakin tinggi, tetapi setiap tambahan konsumsi satu unit barang akan memberikan tambahan utilitas yang semakin kecil.”


61 Utilitas dari meminum air dapat dinyatakan dalam angka. Misalnya, pada saat Anda pertama kali minum, tingkat utilitas Anda baru mencapai nilai 6 util. Selanjutnya, pada saat Anda meminum air dalam gelas kedua nilai tingkat utilitas Anda meningkat menjadi 11util. Demikian juga, pada saat Anda meminum air dalam gelas ketiga nilai tingkat utilitas Anda naik lagi menjadi 15 util. Selanjutnya, secara berturut-turut untuk gelas keempat nilai tingkat utilitasnya menjadi 18 util, untuk gelas kelima nilai tingkat utilitasnya menjadi 20 util, untuk gelas keenam nilai tingkat utilitasnya adalah 21 util, untuk gelas ketujuh juga nilai tingkat utilitasnya adalah 21 util. Apabila situasi tersebut digambarkan dalam tabel akan tampak sebagai berikut. Tabel 1. Utilitas Total dan Utilitas Marjinal Jumlah Air yang Dikonsumsi (Gelas) Utilitas Total (dalam Util) Utilitas Marjinal (dalam util) 0 1 2 3 4 5 6 7 0 6 11 15 18 20 21 21 – 6 5 4 3 2 1 0 Dari Tabel 1. terlihat bahwa utilitas total akan naik sejalan dengan kenaikan konsumsi air, tetapi laju


62 kenaikannya yang semakin menurun. Tabel 1. juga memperlihatkan bahwa utilitas total dari mengkonsumsi sejumlah air sama dengan jumlah seluruh utilitas marjinal yang diperoleh hingga ke titik tertentu. Coba Anda perhatikan. Pada saat Anda mengonsumsi 4 gelas air minum, utilitas total adalah 18 util. Jumlah dari utilitas marjinal hingga Anda mengonsumsi 4 gelas air minum adalah 6 + 5 + 4 + 3 = 18 util. Jadi, utilitas total adalah jumlah seluruh utilitas marjinal yang diperoleh hingga ke titik tertentu. Jika data dari Tabel 1. dibuat kurva akan tampak sebagai berikut. Kurva 1. Utilitas Total dan Utilitas Marjinal Hukum Gossen 2 Tidak dapat dipungkiri, manusia memiliki kebutuhan yang tidak terbatas. Manusia memiliki banyak


63 kebutuhan, mulai kebutuhan yang sangat penting sampai kebutuhan yang kurang atau tidak penting. Mulai dari kebutuhan primer sampai kebutuhan yang bersifat tersier. Untuk itu, H.H. Gossen mengemukakan lagi teorinya, yang dikenal dengan hukum Gossen 2, yang menyatakan: “Jika konsumen melakukan pemenuhan kebutuhan akan berbagai jenis barang dengan tingkat pendapatan dan harga barang tertentu, konsumen tersebut akan mencapai tingkat optimisasi konsumsinya pada saat rasio marginal utility (MU) berbanding harga sama untuk semua barang yang dikonsumsinya.” Contoh Tabel 1. tersebut menguraikan tentang seorang konsumen yang memaksimumkan utilitas dari satu barang (air minum) yang dikonsumsinya. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap konsumen selalu mencoba mencapai utilitas maksimum dari berbagai jenis barang yang dikonsumsinya. Seandainya harga setiap barang adalah sama, utilitas akan mencapai maksimum pada saat utilitas marjinal dari setiap barang adalah sama. Sebagai contoh, Fatimah mengonsumsi 3 jenis barang yaitu X, Y, dan Z. Ternyata kuantitas X yang kedua, kuantitas Y yang ketiga, dan kuantitas Z yang kelima, memberikan utilitas yang sama. Jadi, Fatimah akan mencapai utilitas maksimum pada saat mengonsumsi dua unit barang X, tiga unit barang Y, dan lima unit barang Z.


64 Secara ringkas, hal tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut: MUX = MUY = MUZ Adapun untuk barang yang memiliki harga berbeda berlaku rumus sebagai berikut: Keterangan: MUX = marginal utility barang X MUY = marginal utility barang Y MUZ = marginal utility barang Z PX = price (harga) barang X PY = price (harga) barang Y PZ = price (harga) barang Z Sebagai contoh, barang yang dikonsumsi Fatimah memiliki harga yang berbeda-beda, yaitu barang X harga per unit Rp500,00, barang Y harga per unit Rp5.000,00, dan harga barang Z harga per unit Rp10.000,00. Utilitas maksimum akan dicapai oleh Fatimah jika setiap unit barang memberikan utilitas marjinal yang sama untuk setiap rupiah yang dibelanjakan. Kondisi tersebut tercapai pada saat nilai MU barang X adalah 5, nilai MU barang Y adalah 50, dan nilai MU barang Z adalah 100. Dengan demikian, untuk mencapai utilitas maksimum dari berbagai barang yang dikonsumsi, seseorang


65 harus mengatur konsumsinya sedemikian rupa sehingga setiap unit barang memberikan utilitas marjinal yang sama untuk setiap rupiah yang dibelanjakan. Tokoh Ekonomi Hermann Heinrich Gossen Gossen ialah orang yang kali pertama memperkenalkan hukum tambahan utilitas yang semakin berkurang (the law of diminishing marginal utility). Gossen hidup pada masa 1810–1858. Pada 1854, beliau menulis karya ilmiah yang berjudul Enwicklung der Gesetze des Menschlichen Verkers und die Darausfliessenden Regeln fuer Menschliches Handeln. Karya ilmiah tersebut merupakan pendahulu dari pemikiranpemikiran yang dikembangkan oleh para pakar NeoKlasik. Di antara pemikiran-pemikiran beliau, terdapat dua pemikiran dasar yang menonjol, yang dikenal dengan dua hukum Gossen yaitu Hukum Gossen I dan Hukum Gossen II. (Sumber: Perkembangan Pemikiran Ekonomi, 1991) Pendekatan Ordinal Dewasa ini, para ahli ekonomi menolak gagasan tentang utilitas yang dapat diukur dengan angka-angka terhadap barang yang dikonsumsi sehari-hari. Kini telah dikembangkan pendekatan baru untuk menjelaskan prinsip memaksimumkan utilitas oleh seorang konsumen dengan pendapatan yang terbatas. Teori ini dikenal dengan teori utilitas


66 ordinal, yang menyatakan bahwa utilitas tidak dapat dihitung, melainkan hanya dapat dibandingkan. Jadi, menurut teori ini yang berlaku adalah apakah seorang konsumen lebih menyukai kombinasi barang tertentu daripada kombinasi barang lainnya. Dalam teori utilitas ordinal digunakan pendekatan kurva utilitas sama (indifference curve) dan garis anggaran (budget line). Perbedaan antara pendekatan kardinal dan ordinal adalah: Dilihat dari pengertian: Pendekatan Ordinal: Pendekatan ini menyebutkan bahwa tingkat kepuasan konsumen dalam mengkonsumsi suatu barang tidak dapat diukur dengan satu satuan tetapi hanya bisa dibandingkan (tidak dapat dikuantitatifkan). Dalam pendekatan ordinal, cara membandingkan kepuasan konsumen dengan menggunakan konsep Pendekatan Kurva Indeferen / IC. Sedangkan Pendekatan Kardinal adalah daya guna dapat diukur dengan satuan uang atau utilitas, dan tinggi rendahnya nilai atau daya guna tergantung kepada subyek yang menilai. Dilihat dari asumsi/landasan dasarnya: A. Pendekatan kardinal , asumsi (landasan) dasarnya:


67 1. Kepuasan konsumsi dapat diukur dengan satuan ukur. 2. Makin banyak barang dikonsumsi makin besar kepuasan. 3. Terjadi hukum The law of deminishing Marginal Utility pada tambahan kepuasan setiap satu satuan. Setiap tambahan kepuasan yang diperoleh dari setiap unit tambahan konsumsi semakin kecil. ( Mula – mula kepuasan akan naik sampai dengan titik tertentu atau tambahan kepuasan akan semakin turun ). Hukum ini menyebabkan terjadinya Downward sloping Marginal Utility curva (bentuk kurva miring kebawah). Tingkat kepuasan yang semakin menurun ini dikenal dengan hukum Gossen. 4. Tambahan kepuasan untuk tambahan konsumsi 1 unit barang bisa dihargai dengan uang, sehingga makin besar kepuasan makin mahal harganya. Jika konsumen memperoleh tingkat kepuasan yang besar maka dia akan mau membayar mahal, sebaliknya jika kepuasan yang dirasakan konsumen redah maka dia hanya akan mau membayar dengan harga murah. Pendekatan kardinal biasa disebut sebagai Daya guna marginal. Asumsi seorang konsumen : Konsumen harus rasional yaitu menginginkan kepuasan maksimal.


68 Konsumen punya preferensi jelas akan barang dan jasa terdapat kendala anggaran. B. Pendekatan Ordinal Mendasarkan pada asumsi bahwa kepuasan tidak bisa dikuantitatifkan dan antara satu konsumen dengan konsumen yang lain akan mempunyai tingkat kepuasan yang berbeda dalam mengkonsumsi barang dalam jumlah dan jenis yang sama. Oleh karena itu kemudian muncul pendekatan ordinary yang menunjukkan tingkat kepuasan mengkonsumsi barang dalam model kurva indifferent. Pendekatan ordinal berdasarkan pembandingan sesuatu barang dengan barang yang lain, lalu memberikan urutan dari hasil pembandingan tersebut. Contoh penggunaan metode ordinal antara lain dalam suatu lomba atau kejuaraan, pengukuran indeks prestasi dan pengukuran yang sifatnya kualitatatif misalnya bagus, sangat bagus, paling bagus. Dalam teori perilaku konsumen dengan pendekatan ordinal asumsi dasar seorang konsumen adalah : Konsumen rasional, mempunyai skala preferensi dan mampu merangking kebutuhan yang dimilikinya. Kepuasan konsumen dapat diurutkan, ordering. Konsumen lebih menyukai yang lebih banyak dibandingkan lebih sedikit, artinya semakin banyak barang yang dikonsumsi menunjukkan


69 semakin tingginya tingkat kepuasan yang dimilikinya. Pendekatan ordinal membutuhkan tolok ukur pembanding yang disebut dengan indeferent kurve. Kurva Indeferent adalah kurva yang menggambarkan hubungan antara dua jenis barang di mana konsumen mendapatkan kepuasan yang sama (indiferen) pada tiap-tiap titik kombinasi kuantitas (Q) kedua jenis tersebut. Kurva indiferen mengasumsikan bahwa banyak lebih disukai daripada sedikit. Kurva ini akan cembung dari biasanya Kurva Indiferen (Indifference Curve) Kurva indiferen adalah kurva yang menggambarkan kombinasi beberapa barang yang sama-sama disukai oleh konsumen, yaitu tidak ada pilihan untuk satu kombinasi dengan barang lain karena semuanya memiliki tingkat utilitas yang sama (atau jumlah utilitas yang sama) untuk konsumen. Dalam teori ini terdapat asumsi yang menyatakan bahwa konsumen dapat memilih kombinasi konsumsi tanpa harus mengatakan bagaimana ia memilihnya. Sebagai contoh, Anda diberi kombinasi barang tertentu, misalnya 10 unit pakaian dan 8 unit buku. Kemudian, Anda diberi beberapa alternatif pilihan kombinasi barang dengan jumlah yang berbeda, misalnya 8 unit pakaian dan 10 unit buku. Jika Anda menilai alternatif yang diberikan yaitu berupa tambahan 2 unit buku lebih rendah daripada pengurangan 2 unit pakaian, Anda akan memilih kombinasi barang yang pertama. Anda menilai kedua


70 kombinasi barang tersebut tidak berbeda atau indifferen. Setelah beberapa alternatif kombinasi barang diberikan, Anda memperoleh beberapa kombinasi barang yang Anda anggap indiferen. Dengan kata lain, kombinasi barang tersebut menurut Anda akan memberikan utilitas yang sama. Setiap kombinasi barang tersebut dapat dilihat pada Tabel 2. sebagai berikut. Tabel 2. Pilihan Kombinasi Barang yang Memberikan Utilitas (Utilitas yang Sama) Kombinasi Barang Pakaian Buku A B C D E 20 10 8 5 4 4 8 10 16 20 Jika digambarkan dalam kurva, diperoleh kurva indiferen sebagai berikut.


71 Kurva 2. Kurva Indiferen. Tabel 2. dan Kurva 2. merupakan salah satu dari berbagai kemungkinan yang tak terhitung banyaknya. Pembuatan tabel dan kurva semacam ini dapat diulang sebanyak yang diperlukan. Misalnya, Anda dapat membuat tabel dan kurva yang menggambarkan kombinasi barang yang memberikan tingkat utilitas yang lebih besar kepada konsumen. Dalam hal ini, asumsinya adalah bahwa konsumen akan memperoleh tingkat utilitas yang lebih tinggi dengan menambah jumlah konsumsi kedua jenis barang. Penambahan konsumsi kedua barang tersebut akan menyebabkan pergeseran ke kanan atas. Hal ini, kurva indiferen akan semakin jauh dari titik nol. Dengan kata lain, semakin jauh kurva indiferen dari titik nol, semakin tinggi tingkat utilitas yang diberikan oleh kombinasi kedua barang. Himpunan dari beberapa kurva indiferen dinamakan peta indiferen (indifference map).


72 Sebagai contoh, Kurva 3. memperlihatkan kurva indiferen yang dikembangkan dari Kurva 2, yaitu sebagai berikut. Kurva 3. Peta Indiferen. Jadi, kurva IC2 menggambarkan tingkat utilitas yang lebih tinggi dibandingkan kurva IC1, kurva IC3 lebih tinggi dibandingkan kurva IC2, dan seterusnya. Garis Anggaran (Budget Line) Konsumen yang memiliki pendapatan tetap dalam membelanjakan uangnya dihadapkan pada berbagai pilihan barang. Misalnya, Anda memiliki pendapatan tetap sebagai pelajar seperti kiriman uang dari orangtua Anda sebesar Rp500.000,00 dan uang tersebut Anda belikan pakaian dan buku pelajaran. Adapun harga pakaian adalah Rp20.000,00 per unit


73 dan harga buku adalah Rp25.000,00 per unit. Anda akan menghabiskan uang yang ada untuk membeli pakaian dan buku. Anda dapat membelanjakan uang tersebut untuk membeli berbagai alternatif kombinasi pakaian dan buku. Jika seluruh uang yang ada dibelanjakan untuk membeli pakaian, Anda dapat membeli 25 potong pakaian. Adapun jika digunakan untuk membeli buku, Anda dapat membeli 20 buku. Beberapa kemungkinan dari kombinasi pakaian dan buku tersebut terlihat pada Tabel 3. berikut. Tabel 3. Alternatif Kombinasi Pakaian dan Buku Pakaian Buku 25 20 15 10 5 0 0 4 8 12 16 20 Berdasarkan Tabel 3, dapat digambarkan kurva garis anggaran yang berbentuk garis lurus. Kurva garis anggaran menunjukkan seluruh kombinasi dari kedua barang yang mungkin terjadi, sehingga seluruh pendapatan konsumen habis dibelanjakan. Dengan demikian, garis anggaran menggambarkan semua kombinasi barang-barang yang tersedia bagi rumah tangga pada penghasilan atau pendapatan tertentu dan pada harga barang-barang yang dibelinya.


74 Kurva 4. Garis Anggaran. Jika dilihat perilaku konsumen dalam mengonsumsi suatu barang dibedakan menjadi dua macam, yaitu perilaku konsumen rasional dan perilaku konsumen tidak rasional. a) Perilaku Konsumen Rasional Suatu konsumsi dapat dikatakan rasional jika memerhatikan hal-hal berikut: 1. barang tersebut dapat memberikan kegunaan optimal bagi konsumen; 2. barang tersebut benar-benar diperlukan konsumen; 3. mutu barang terjamin; 4. harga sesuai dengan kemampuan konsumen. b) Perilaku Konsumen tidak Rasional Suatu perilaku dalam mengonsumsi dapat dikatakan tidak rasional jika konsumen tersebut membeli barang tanpa dipikirkan kegu naannya terlebih dahulu. Contohnya, yaitu: 1. tertarik dengan promosi atau iklan baik di media cetak maupun elektronik;


75 2. memiliki merek yang sudah dikenal banyak konsumen; 3. ada bursa obral atau bonus-bonus dan banjir diskon; 4. prestise atau gengsi. Keseimbangan Konsumen Untuk mengetahui bagaimana konsumen mengalokasikan pendapatannya di antara dua produk, perlu digabungkan pengertian tentang apa yang ingin diperbuat dan apa yang dapat diperbuat oleh konsumen. Ini dilakukan dengan menggabungkan peta indiferen dan kurva garis anggaran konsumen. Penggabungan peta indiferen dan kurva garis anggaran konsumen tampak pada Kurva 5. berikut. Kurva 5. Keseimbangan Konsumen Berdasarkan Kurva 5, dalam garis anggaran dapat diletakkan AB di atas peta indiferen konsumen.


76 Perhatikan. Posisi di kanan atas garis AB menunjukkan kombinasi barang yang tidak dapat dibeli dengan anggaran yang dimiliki. Adapun posisi di kiri bawah garis AB menggambarkan kombinasi barang yang harga belinya lebih rendah dari pendapatan sehingga tidak masuk hitungan karena diasumsikan bahwa Anda akan membelanjakan seluruh pendapatan sebesar Rp500.000,00. Jadi posisi manakah yang akan Anda pilih? Oleh karena Anda ingin memaksimumkan utilitas, Anda ingin mencapai kurva indiferen tertinggi yang dapat dicapai. Dengan mengamati Kurva 5, Anda akan mencapai utilitas maksimum pada saat garis anggaran menyinggung kurva indiferen tertinggi yang dapat dicapai. Keadaan ini disebut dengan keseimbangan konsumen. Dari Kurva 5, kombinasi barang yang paling disukai dan dapat dicapai dengan anggaran yang ada terletak pada titik E. Pada titik E tersebut, Anda akan mencapai utilitas maksimum dengan anggaran terbatas. Artinya, Anda dalam mencapai utilitas maksimum dibatasi oleh tingkat pendapatan Anda. Keterbatasan di sini merupakan satu kenyataan bahwa seseorang tidak akan dapat mengkonsumsi barang yang nilainya melebihi pendapatannya.


77 Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar! 1. Apa yang dimaksud dengan Perilaku Konsumen (Consumer Behaviour)? 2. Jelaskan perbedaan pendekatan kardinal dan ordinal! 3. Apa saja karakteristik dari pendekatan kardinal dan ordinal! 4. Faktor apa saja yang ada dalam keputusan pembelian barang oleh konsumen ? 5. Sebutkan langkah-langkah apa saja yang dilakukan konsumen dari keputusan membeli hingga setelah keputusan membeli ?


78 TEORI PRODUKSI DAN KEGIATAN PERUSAHAAN A. Bentuk-bentuk perusahaan 1. Perusahaan perorangan Dimiliki, dikelola dan dipimpin oleh seseorang yang bertanggung jawab penuh terhadap semua resiko dan aktivitas perus ahaan. Tidak ada pemisahan modal antara kekayaan pribadi dan kekayaan perusahaan. Kebaikan : Pemilik bebas mengambil keputusan Seluruh keuntungan perusahaan menjadi hak pemilik perusahaan Rahasia perusahaan terjamin Pemilik lebih giat berusaha Keburukan : Tanggungjawab pemilik tidak terbatas Sumber keuangan perus ahaan terbatas Kelangsungan hidup perusahaan kurang terjamin Seluruh aktivitas manajemen dilakukan sendiri, sehingga pengelolaan manajemen menjadi kompleks 2. Firma Persekutuan antara dua orang atau lebih dengan bersama untuk melaksanak an usaha, umumnya dibentuk oleh orang-orang yang memiliki Keahlian sama atau seprofesi dengan tanggungjawab masing-masing anggota tidak


79 terbatas, laba ataupun kerugian akan ditanggung bersama. Kebaikan : Kemampuan manajemen lebih besar, karena ada pembagian kerja diantara para anggota Pendiriannya relatif mudah, baik dengan Akta atau tidak memerlukan Akta Pendirian Kebutuhan modal lebih mudah terpenuhi Keburukan : Tanggungjawab pemilik tidak terbatas Kerugian yang disebabkan oleh seorang anggota, harus ditanggung bersama anggota lainnya Kelangsungan hidup perusahaan tidak menentu. 3. Perseroan Komanditer (CV) Bentuk Badan Usaha CV adalah bentuk perusahaan kedua setelah PT yang paling banyak digunakan para pelaku bisnis untuk menjalankan kegiatan usahanya di Indonesia. Namun tidak semua bidang usaha dapat dijalankan Perseroan Komanditer (CV), hal ini mengingat adanya beberapa bidang usaha tertentu yang diatur secara khusus dan hanya dapat dilakukan oleh badan usaha Perseroan Terbatas (PT). Perseroan Komanditer adalah bentuk perjanjian kerjasama berusaha bersama antara 2 (dua) orang atau dengan AKTA OTENTIK sebagai AKTA PENDIRIAN yang dibuat dihadapan NOTARIS yang berwenang.


80 Para pendiri perseroan komanditer terdiri dari PESERO AKTIF dan PERSERO PASIF yang membedakan adalah tanggungjawabnya dalam perseroan. Persero Aktif yaitu orang yang aktif menjalankan dan mengelola perusahaan termasuk bertanggung jawab secara penuh atas kekayaan pribadinya. Persero Pasif yaitu orang yang hanya bertanggung jawab sebatas uang yang disetor saja kedalam perusahaan tanpa melibatkan harta dan kekayaan peribadinya. Kebaikan : Kemampuan manajemen lebih besar Proses pendirianya relatif mudah Modal yang dikumpulkan bisa lebih besar Mudah memperoleh kredit Keburukan : Sebagian sekutu yang menjadi Persero Aktif memiliki tanggung tidak terbatas Sulit menarik kembali modal Kelangsungan hidup perusahaan tidak menentu 4. Perseroan Terbatas (PT) Bentuk badan usaha PT adalah bentuk perusahaan yang paling populer dalam bisnis dan paling banyak digunakan oleh para pelaku bisnis di Indonesia dalam menjalankan kegiatan usaha diberbagai bidang. Selain memiliki landasan huk um yang jelas seperti yang diatur


81 dalam Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang PERSEROAN TERBATAS bentuk PT ini juga dirasakan lebih menjaga keamanan para pemegang saham/pemilik modal dalam berusaha. Sama halnya dengan CV pendirian PT juga dilakukan minimal oleh 2 (dua) orang atau lebih, karena sistem hukum di Indonesia menganggap dasar dari perseroan terbatas adalah suatu perjanjian maka pemegang saham dari perseroan terbatas pun minimal haruslah berjumlah 2 (dua) orang, dengan jumlah modal dasar minimum Rp. 50.000.000,-, sedangkan untuk bidang usaha tertentu jumlah modal dapat berbeda seperti yang ditentukan serta berlaku aturan khusus yang mengatur tentang bidang usaha tersebut. Berdasarkan Jenis Perseroan, maka Perseroan Terbatas (PT) dibagi menjadi : PT-Non Fasilitas Umum atau PT. Biasa PT-Fasilitas PMA PT-Fasilitas PMDN PT-Persero BUMN PT-Perbankan PT-Lembaga Keuangan Non Perbankan PT-Usaha Khusus Berdasarkan penanaman modalnya jenis perseroan terbatas dibagi menjadi : Perseroan Terbatas dalam rangka rangka Penanaman Modal Asing (PT-PMA)


82 Perseroan Terbatas dalam rangka Penanaman Modal Dalam Negeri (PT-PMDN) Perseroan Terbatas yang modalnya dimiliki oleh Warga Negara Indonesia/Badan Hukum Indonesia (PT-SWASTA NASIONAL) PT-Perseron BUMN,Perseroan Terbatas yang telah go public (PT-Go Public) yaitu perseroan yang sebagian modalnya telah dimiliki Publik dengan jalan membeli saham lewat pasar modal (Capital Market) melalui bursa-bursa saham Walaupun populer dalam kegiatan bisnis bentuk PT pun memiliki kebaikan dan keburukan antara lain : Kebaikan : Pemegang saham bertanggung jawab terbatas terhadap hutang-hutang perusahaan Mudah mendapatkan tambahan dana/modal misalnya dengan mengeluarkan saham baru Kelangsungan hidup perusahaan lebih terjamin Terdapat efesiensi pengelolaan sumber dana dan efesiensi pimpinan, karena pimpinan dapat diganti sewak tu-waktu melalui Rapat Umum Pemegang Saham Kepengurusan perseroan memiliki tanggung jawab yang jelas kepada pemilik atau pemegang saham. Diatur dengan jelas oleh undang-undang perseroan terbatas serta peraturan lain yang


83 mengikat dan melindungi kegiatan perusahaan. Keburukan : Merupakan subjek pajak tersendiri dan deviden yang diterima pemegang saham akan dikenak an pajak Kurang terjamin rahasia perusahaan, karena semua kegiatan harus dilaporkan kepada pemegang saham Proses pendiriannya membutuhkan waktu lebih lama dan biaya yang lebih besar dari CV Proses Pembubaran, Perubahan Anggaran Dasar, Penggabungan dan Pengambilalihan perseroan membutuhk an waktu dan biaya serta persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) B. Perusahaan Ditinjau Dari Sudut Teori Ekonomi Dalam teori ekonomi, berbagai jenis perusahaan dipandang sebagai unit-unit badan usaha yang mempunyai tujuan sama yaitu : “mencapai keuntungan yang maksimum”. 1. Cara Memaksimumkan Keuntungan Keuntungan yang maksimum dicapai apabila perbedaan antara hasil penjualan dan biaya produksi mencapai tingkat yang paling besar. Masalah pokok yang harus dipecahkan produsen adalah : a. Komposisi faktor produksi yang bagaimana perlu digunakan untuk mencapai tingkat


84 produksi yang tinggi. Sehingga perlu memperhatikan fungsi produksi, yaitu hubungan antara faktor-faktor produksi dan tingkat produksi yang diciptakannya. b. Komposisi faktor produksi yang bagaimana meminimumkan biaya produksi yang dikeluarkan untuk mencapai satu tingkat produksi tertentu. Produsen perlu memperhatikan : Besarnya pembayaran kepada faktor produksi tambahan yang akan digunakan. Besarnya pertambahan hasil penjualan yang diwujudkan oleh faktor produksi yang ditambah tersebut. 2. Fungsi Produksi Menunjukkan sifat hubungan antara faktor-faktor produksi dan tingkat produksi yang dihasilkan, faktor-faktor produksi disebut sebagai input dan jumlah produksi disebut sebagai output. C. Teori Produksi Dalam Ilmu Ekonomi Teori produksi menyebutkan bahwa kepuasan produsen diperoleh dengan memaksimumkan keuntungan produksi (maksimation of profit). Proses produksi : rangkaian dari kegiatankegiatan produksi.


85 Proses distribusi : rangkaian dari kegiatankegiatan distribusi Proses konsumsi : rangkaian dari kegiatankegiatan konsumsi. Kegiatan produksi: kegiatan menciptakan/meningkatkan kefaedahan Produksi : Proses mempergunakan unsurunsur produksi dengan maksud menciptakan faedah untuk memenuhi kebutuhan manusia. Kebutuhan manusia ada dua : barang-barang dan jasa. Barang : alat penemuan kebutuhan manusia yang tampak. Jasa : alat penemuan kebutuhan manusia yang tidak tampak tapi dapat dirasa Barang ekonomi : Barang-barang yang diperoleh dengan mengorbankan sesuatu. Dalam ilmu ekonomi, teori produksi dalam analisis dibedakan pada dua pendekatan, yaitu :


86 1. Teori Produksi dengan Satu Faktor Berubah Teori produksi menggambarkan tentang hubungan antara tingkat produksi suatu barang dengan jumlah tenaga kerja yang digunakan untuk menghasilkan berbagai tingkat produksi barang tersebut. Dengan demikian dalam analisis faktor-faktor lainnya dianggap tetap. 2. Teori Produksi dengan Dua Faktor Berubah Teori produksi menggambarkan tentang hubungan antara tingkat produksi suatu barang dengan dua jenis faktor produksi (tenaga kerja dan modal) dapat diubah yang digunakan untuk menghasilkan berbagai tingkat produksi yang tersebut. Pada prinsipnya kegiatan produksi yang dilakukan oleh produsen-produsen dalam pendekatannya dibagi 3 bagian : Jangka pendek (short run) : (1). Waktunya cukup pendek sehingga ada faktor input tetap (fixed input), (2). teknologi yang digunakan tidak berubah (konstan), (3). satu siklus produksi dapat diselesaikan. Jangka panjang (long run) : (1). Tidak ada input tetap lagi, hanya input variabel (variable input) saja yang ada, (2). Teknologi konstan. Jangka sangat panjang (very long run) : teknologi berubah, dan biasanya tidak hanya membicarakan satu fungsi produksi saja.


87 D. Faktor-Faktor Produksi Faktor-faktor produksi (sumber-sumber daya) adalah benda-benda yang disediakan oleh alam atau diciptakan oleh manusia yang dapat digunakan untuk memperoduksi barang-barang dan jasa-jasa. Faktor-faktor produksi yang tersedia dalam perekonomian akan menentukan sampai dimana suatu negara dapat menghasilkan barang dan jasa. Faktor produksi yang tersedia dalam perekonomian dibedakan dalam 4 jenis, yaitu : 1. Tanah dan Sumber Alam Faktor produksi yang disediakan alam, meliputi : tanah, berbagai jenis barang tambang, hasil hutan dan sumber alam lainnya yang dapat dijadikan modal. Kekayaan alam meliputi : (1) Tanah dan keadaan iklim, (b) Kekayaan hutan, (c) Kekayaan di bawah tanah (bahan pertambangan), (d) Kekayaan air, sebagai sumber tenaga penggerak, untuk pengangkutan, sebagai sumber bahan makanan (perikanan), sebagai sumber pengairan dll. Keadaan alam, khusus tanah dipengaruhi oleh : luas tanah, mutu tanah dan keadaan iklim. Sumber-sumber alam merupakan dasar untuk kegiatan disektor pertanian, kehewanan, perikanan dan di sektor pertambangan. Sektorsektor itu lazim disebut produksi primer (industri pabrik dipandang sebagai produksi sekunder).


88 2. Tenaga Kerja Tenaga kerja adalah semua yang bersedia dan sanggup bekerja. Golongan ini meliputi yang bekerja untuk kepentingan sendiri, baik anggota-anggota keluarga yang tidak menerima bayaran berupa uang maupun mereka yang bekerja untuk gaji dan upah. Juga yang menganggur, tetapi yang sebenarnya bersedia dan mampu untuk bekerja. Berdasarkan umur tenaga kerja dibagi tiga : a. Penduduk dibawah usia kerja : dibawah 15 tahun b. Golongan antara 15 - 64 tahun c. Golongan yang sebenarnya sudah melebihi umur kerja, diatas 65 tahun. Faktor produksi berupa tenaga kerja ini adalah manusia/SDM yang mempunyai keahlian dan ketrampilan yang dibedakan 3 golongan, yaitu : a. Tenaga kerja kasar, adalah tenaga yang tidak berpendidikan atau berpendidikan rendah dan tidak memiliki keahlian dalam suatu bidang pekerjaan (contoh : tukang sapu jalan, kuli bangunan dll). b. Tenaga kerja terampil, adalah tenaga kerja yang memiliki keahlian dari pelatihan atau


89 pengalaman kerja (contoh : montir mobil, tukang kayu, perbaikan TV dan lain-lain). c. Tenaga kerja terdidik, adalah tenaga kerja yang memiliki pendidikan cukup tinggi dan ahli dalam bidang tertentu (contoh : dokter, akuntan, insinyur, dll). 3. Modal Faktor produksi berupa benda yang diciptakan manusia akan digunakan untuk memproduksi barang-barang dan jasa-jasa yang mereka butuhkan (contoh : bangunan pabrik, mesin-mesin dan peralatan pabrik, alatalat angkutan, dll). Setiap waktu ada persediaan barang-barang yang ditanam di gudang-gudang atau toko-toko dan sudah siap untuk dijual. Semua bahan-bahan mentah dan barangbarang selesai yang ada dalam persediaan tadi disebut stock (inventory). 4. Keahlian Keusahawanan (pengelolaan) Faktor produksi ini berbentuk keahlian dan kemampuan usaha untuk mendirikan dan mengembangkan keterampilan berupa benda yang diciptakan manusia dan digunakan untuk memproduksi barang-barang dan jasa-jasa yang mereka butuhkan. Keahlian keusahawanan meliputi kemahirannya mengkoordinasi berbagai sumber atau faktor produksi tersebut secara efektif dan efisien,


90 sehingga usahanya berhasil dan berkembang serta dapat menyediakan barang dan jasa untuk masyarakat. Tugas pengelolaan adalah untuk mengatur ketiga faktor produksi di atas untuk kerja sama dalam proses produksi. Peranan pengelolaan (skills), yaitu memimpin usahausaha yang bersangkutan, mengatur organisasinya dan menaikkan mutu tenaga manusia untuk mempergunakan unsur-unsur modal dan alam dengan sebaik-baiknya. Pengertian skills meliputi : 1) Managerial skills atau entrepreneurial skills. Kemampuan untuk mempergunakan kesempatan-kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya. 2) Technological skills Berhubungan dengan keahlian yang khusus bersifat ekonomis teknis yang diperlukan untuk kegiatan ekonomi dan produksi. 3) Organizational skills Kecerdasan untuk mengatur berbagai usaha. Hal ini bertalian dengan hal-hal didalam lingkungan sebuah perusahaan (hal-hal intern dari perusahaan) maupun dengan kegiatan-kegiatan di dalam rangka masyarakat seperti usaha menyusun koperasi, bank-bank dsb.


91 Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar! 1. Jelaskan bentuk-bentuk perusahaan! 2. Sebutkan kebaikan dan kelemahan dari Perseroan Terbatas! 3. Jelaskan perbedaan teori produksi satu variabel berubah dan dua variabel berubah! 4. Bagaimana cara memaksimumkan keuntungan? 5. Sebutkan dan jelaskan faktor-faktor produksi!


92 REFERENSI Boediono, Ekonomi Mikro, Edisi Kedua, 2010. Yogyakarta : BPFE. Dominick, Mikroekonomi, Edisi keempat, 2007. Jakarta : Erlangga Euston Quah, N.Gregory Mankiw, 2014. Pengantar Ekonomi Mikro, Jakarta : Salemba Empat. Nuraini, Ida. 2015. Pengntar Ekonomi Mikro, Universitas Muhammadiyah Malang Sukirno, sadono. 2015. MikroEkonomi Teori Pengantar. Jakarta : Grafindo Persada Yana Rohmana, Eeng Ahman, 2016. Ekonomi Mikro Suatu Pengantar, Bandung : Rizqi Press


Click to View FlipBook Version