The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

0-Modul_2_-_Manajemen-Bencana-di-Sekolah-lowres

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by bandungkab.bpbd.pk, 2023-01-31 22:37:15

0-Modul_2_-_Manajemen-Bencana-di-Sekolah-lowres

0-Modul_2_-_Manajemen-Bencana-di-Sekolah-lowres

MODUL 2 PILAR 2 - MANAJEMEN BENCANA DI SEKOLAH KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


MODUL 2 PILAR 2 - MANAJEMEN BENCANA DI SEKOLAH BIRO PERENCANAAN DAN KERJASAMA LUAR NEGERI SEKRETARIAT JENDERAL KEMENDIKBUD JAKARTA, 2015


PILAR 2 -MODUL MANAJEMEN BENCANA DI SEKOLAH Disusun oleh: Gogot Suharwoto Nurwin Nur’amiaty TD Rubadi Supatma Dirhamsyah Rudianto Endang Dwi Jayanti Adinanto Mahulae Anwar Taufik Desi Elvera Inu Kertapati Kartika Paramitha S Nandana Bhaswara Diana Sari Nur Hidayati Indah Meiwanty Erita Nurhalim (World Bank) Ida Ngurah (Plan Indonesia) Jamjam Muzaki (Kerlip) Maharani Hardjoko (UNICEF) Yusra Tebe (Plan Indonesia) Disusun atas kerjasama dengan ii


BIRO PERENCANAAN DAN KERJASAMA LUAR NEGERI, SEKRETARIAT JENDERAL KEMENDIKBUD - Tahun 2015 KATA PENGANTAR I ndonesia merupakan salah satu negara yang memiliki wilayah yang rentan terhadap bencana termasuk gempa dan tsunami. Salah satu dampak dari gempa dan tsunami yang terjadi di Indonesia adalah kerusakan sarana dan prasarana bangunan, termasuk bangunan sekolah, yang mengakibatkan terganggunya proses pembelajaran siswa di sekolah. Lebih dari 7.000 sekolah rusak berat akibat gempa dan tsunami sejak tahun 2004. Dampak tersebut akan lebih parah jika bencana terjadi pada saat proses belajar-mengajar sedang berlangsung di sekolah, karena reruntuhan bangunan dan benda sekitarnya dapat menimpa dan atau menimbun peserta didik, guru maupun tenaga kependidikan lainnya. Oleh karena itu, diperlukan sekolah yang dapat menjamin keamanan dan keselamatan warga sekolah siaga setiap saat termasuk dari ancaman bencana alam. Sejalan dengan semangat untuk melindungi hak-hak anak atas perlindungan, keamanan dan kelangsungan hidup dan juga hak untuk mendapatkan pendidikan dasar yang berkualitas dan berkesinambungan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bermaksud untuk dapat menyebarkan pengetahuan mengenai pengurangan risiko bencana berikut fasilitas sekolah yang aman dan manajemen bencana di sekolah melalui guru maupun fasilitator, salah satunya dengan menyusun modul-modul yang dapat menjadi referensi para guru. Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan memetakan Perka BNPB No. 4 tahun 2012 tentang Pedoman Penerapan Sekolah/Madrasah Aman Bencana terhadap Kerangka Kerja Sekolah Aman yang Komprehensif, di mana Kerangka Kerja ini dengan tiga pilarnya sudah disepakati oleh dunia internasional, khususnya UNISDR sebagai Badan PBB bidang Pengurangan Risiko Bencana. Selanjutnya dilakukan penelaahan materi yang berasal dari berbagai sumber, baik dari Kementerian/ Lembaga (Kemendikbud, BNPB, dan KemenPU), organisasi/ lembaga (ChildFund, INEE, Konsorsium Pendidikan Bencana, MDMC, Plan Indonesia, Save the Children, World Bank, dan World Vision), serta lembaga PBB (UNDP – SCDRR Project, UNESCO, dan UNICEF), dan setelah dikompilasi dan dianalisa, materi-materi ini disusun dan dibagi menjadi tiga modul yang mengacu pada Kerangka Kerja Sekolah Aman yang Komprehensif: • Modul 1 – Pilar 1: Fasilitas Sekolah Aman • Modul 2 – Pilar 2: Manajemen Bencana di Sekolah • Modul 3 – Pilar 3: Pendidikan Pencegahan dan Pengurangan Risiko Bencana Dalam ketiga modul ini, yang dimaksud dengan sekolah adalah sekolah yang berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta madrasah yang berada di bawah naungan Kementerian Agama. Penyusunan modul-modul referensi ini merupakan hasil kerjasama antara Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri dengan UNICEF Indonesia dalam Program Pengurangan Risiko Bencana yang bertujuan untuk membangun masyarakat yang aman dari ancaman bencana melalui berbagai upaya pengurangan risiko bencana. Diharapkan modul-modul referensi tersebut dapat menjadi pembelajaran berharga bagi berbagai pihak dalam penerapan dan pengembangan Konsep Sekolah Aman ke depan. Jakarta, Juli 2015 Kepala Biro Perencanaan dan KLN Ananto Kusuma Seta iii


PILAR 2 -MODUL MANAJEMEN BENCANA DI SEKOLAH SAMBUTAN SEKRETARIS JENDERAL KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN Pemerintah Indonesia telah menetapkan Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang menekankan bahwa Penanggulangan Bencana tidak hanya terpaku pada tahap tanggap darurat/ respons saja, tetapi juga mencakup tahap pra bencana (kesiapsiagaan) dan pasca bencana (pemulihan), di mana Undang-Undang tersebut secara jelas menyatakan bahwa setiap orang berhak mendapatkan pendidikan, pelatihan, penyuluhan, dan keterampilan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana, baik dalam situasi tidak terjadi bencana maupun situasi terdapat potensi bencana. Melalui pendidikan diharapkan agar upaya pengurangan risiko bencana dapat mencapai sasaran yang lebih luas dan dapat dikenalkan secara lebih dini kepada seluruh peserta didik, misalnya dengan mengintegrasikan pendidikan pengurangan risiko bencana ke dalam kurikulum sekolah dan kegiatan ekstrakurikuler, dll. Kemudian upaya untuk memastikan bahwa lingkungan pendidikan – sekolah dan fasilitas pendidikan – aman dari bencana dan bukan merupakan tempat yang dapat membahayakan kehidupan peserta didik, guru dan tenaga kependidikan lainnya. Modul ini merupakan salah satu wujud Komitmen Indonesia dalam mendukung WISS (Worldwide Initiative Safe Schools) sebagaimana telah dideklarasikan di Sendai, Jepang pada saat UNWCDRR ketiga. Komitmen Indonesia akan diimplementasikan kepada sekolah di Indonesia dan yang lebih utama terhadap sekolah di daerah rawan bencana. Modul-modul ini disusun dengan pemikiran bahwa sebuah acuan mengenai upaya-upaya pencegahan dan pengurangan risiko bencana, pada masa tanggap darurat dan pasca bencana pada sektor pendidikan yang dapat digunakan oleh para guru dan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap dunia pendidikan. Sekretariat Jenderal, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menyambut baik penyusunan Modul-modul Sekolah Aman yang merupakan kerjasasama antara Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri, Sekretariat Jenderal dengan UNICEF Indonesia. Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah aktif mendukung terselesaikannya modul sekolah aman ini. Akhir kata, kami berharap terbitnya modul-modul Sekolah Aman ini benar-benar dapat menjadi acuan bagi para guru dan pemerhati pendidikan di Indonesia dalam memastikan bahwa Sekolah Aman dapat terwujud. Jakarta, Juli 2015 Sekretaris Jenderal Kemendikbud Dr. Didik Suhardi iv


BIRO PERENCANAAN DAN KERJASAMA LUAR NEGERI, SEKRETARIAT JENDERAL KEMENDIKBUD - Tahun 2015 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR iii SAMBUTAN SEKRETARIS JENDERAL KEMENDIKBUD iv DAFTAR ISI v BAB I – PENDAHULUAN 1 Latar Belakang 1 Maksud dan Tujuan 2 Dasar Hukum 3 Kerangka Kerja Sekolah Aman 4 BAB II – PILAR 2 - MANAJEMEN BENCANA DI SEKOLAH 8 2.1. Tahap Persiapan 10 2.1.1. Membentuk Perwakilan Komite Manajemen Bencana Sekolah 10 2.1.2. Adanya kebijakan, kesepakatan dan/atau peraturan sekolah 13 yang mendukung upaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB) di sekolah 2.2. Melakukan kajian terhadap risiko, bahaya, kerentanan dan sumber daya 13 2.2.1. Mengkaji bahaya dan risiko 14 2.2.2. Menilai keamanan non-struktural 15 2.2.3. Pengkajian kapasitas dan sumber daya untuk mitigasi, respon dan pemulihan 16 2.2.4. Menggunakan peta risiko sederhana tingkat sekolah dan 17 sumber daya sekolah dan lingkungan 2.3. Perencanaan 18 2.3.1. Mengurangi risiko 18 2.3.2. Keterampilan merespon (SOP, Rencana Kontinjensi, simulasi) dan 22 penyediaan perlengkapan kebencanaan 2.3.2.1. Prosedur Operasional Standar 22 2.3.2.2. Sistem Komando Kejadian (Incident Command Systems atau ICS) 35 2.3.2.3. Penyediaan barang kebutuhan respon/ tanggap darurat 39 2.3.2.4. Simulasi, refleksi terhadap kegiatan simulasi, dan memperbaharui 40 Rencana Kontinjensi 2.3.3. Rencana kesinambungan pendidikan 40 2.3.3.1. Anak dan remaja dengan disabilitas 41 2.3.3.2. Lokasi alternatif, fasilitas pembelajaran sementara 42 2.4. Keberlanjutan 49 2.4.1. Pemantauan 49 2.4.1.1. Memonitor indikator bagi manajemen bencana di sekolah 49 2.4.1.2. Bekerja sama dan mengkomunikasikan rencana (kontinjensi) 49 2.4.1.3. Melibatkan pihak lain 50 2.4.2. Pengkinian 50 BAB III – INDIKATOR KETERCAPAIAN PILAR 2 53 LAMPIRAN 56 v


PILAR 2 -MODUL MANAJEMEN BENCANA DI SEKOLAH vi


BIRO PERENCANAAN DAN KERJASAMA LUAR NEGERI, SEKRETARIAT JENDERAL KEMENDIKBUD - Tahun 2015 1 BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari 17.508 pulau, di mana 6.000 pulau di antaranya tidak berpenghuni, dan terletak di Asia Tenggara di antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Indonesia memiliki luas keseluruhan sebesar 5.180.053 km2 , yang terdiri dari daratan seluas 1.922.570 km2 (37,1%) dan lautan seluas 3.257.483 km2 (62,9%) dengan garis pantai sepanjang 81.000 km. Secara geografis, terletak di rangkaian lempeng tektonik: Australasia, Pasifik, Eurasia dan Filipina yang membuat Indonesia menjadi rentan terhadap perubahan geologis. Selain itu, terdapat 5.590 daerah aliran sungai (DAS) yang terletak antara Sabang dan Merauke telah yang juga berkontribusi membantu membentuk Indonesia. Iklim Indonesia sangat dipengaruhi oleh lokasi dan karakteristik geografis. Membentang di 6.400 km antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, Indonesia memiliki 3 pola iklim dasar: monsunal1 , khatulistiwa dan sistem iklim lokal. Hal ini telah menyebabkan perbedaan dramatis dalam pola curah hujan di Indonesia. Karena posisi geografis dan lokasinya yang berada di salah satu daerah bencana paling aktif di dunia, maka wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan daerah rawan Bencana. Setidaknya ada 12 ancaman bencana yang dikelompokkan dalam bencana geologi (gempabumi, tsunami, gunungapi, gerakan tanah/tanah longsor), bencana hidrometeorologi (banjir, banjir bandang, kekeringan, cuaca ekstrim, gelombang ekstrim, kebakaran hutan dan lahan), dan bencana antropogenik (epidemi wabah penyakit dan gagal teknologi-kecelakaan industri). Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), dalam kurun waktu lebih dari 30 tahun terakhir (1982-2014) terjadi 13.729 kejadian bencana, yang didominasi oleh banjir dan diikuti oleh tanah longsor, angin kencang, kekeringan dan bencana lain. Namun memang bencana yang paling banyak memakan korban adalah bencana gempa bumi yang diikuti oleh tsunami (mengakibatkan 174.101 orang meninggal), gempa bumi (15.250 orang meninggal), banjir dan tanah longsor (7.555 orang meninggal) dan bencana lain (28.603 jiwa)2 . Kondisi yang kompleks dan menantang ini diperumit lagi oleh dampak perubahan iklim yang diakibatkan oleh kerusakan lingkungan. Perubahan iklim akan terus memberikan dampak yang cukup besar bagi intervensi program kemanusiaan dan program pengembangan, dan akan terus memberikan tantangan bagi pengembangan dan penyelenggaraan sektor pendidikan. Dari data yang tercantum di Indeks Risiko Bencana Indonesia 2013 (IRBI 2013) yang dikeluarkan oleh BNPB, terdapat 80% wilayah Indonesia yang berisiko tinggi terhadap bencana, mencakup 205 juta jiwa terpapar pada risiko bencana dengan 107 juta jiwa di antaranya adalah anak usia sekolah. Dari pertimbangan risiko bencana dan luasnya paparan, maka diperlukan upaya terpadu, sinkron dan sinergis antar Kementerian/ Lembaga, masyarakat dan dunia usaha untuk mencegah risiko bencana, menguatkan kemampuan lembaga dan masyarakat, mengurangi dampak bencana, menyiapsiagakan masyarakat, memastikan sistem peringatan dini, serta menguatkan kemampuan tanggap darurat dan pemulihan. 1 Gejala musim ini dapat dibagi menjadi 2, yaitu pada saat matahari berada di utara garis khatulistiwa dan di selatan garis khatulistiwa. Untuk daerah lintang tinggi, musim dapat dibagi menjadi 4, yaitu musim gugur, dingin, semi dan panas. Sedangkan di daerah tropis seperti Indonesia hanya ada 2, yaitu musim kemarau dan musim hujan, yang sangat dipengaruhi oleh pola angin monsunal. 2 Berdasarkan Laporan Kajian Nasional Pengurangan Risiko Bencana 2013 yang dikeluarkan oleh BNPB pada tahun 2013.


MODUL 2 PILAR 2 - MANAJEMEN BENCANA DI SEKOLAH 2 Terkait dengan upaya untuk melindungi warga negaranya terhadap bencana, Pemerintah Indonesia telah memberlakukan UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. UU tersebut secara jelas menyatakan bahwa setiap orang berhak mendapatkan pendidikan, pelatihan, dan keterampilan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana, baik dalam situasi tidak terjadi bencana maupun situasi terdapat potensi bencana. Melalui pendidikan diharapkan agar upaya pengurangan risiko bencana dapat mencapai sasaran yang lebih luas dan dapat diperkenalkan secara lebih dini kepada seluruh peserta didik, dengan mengintegrasikan pendidikan pengurangan risiko bencana ke dalam kurikulum sekolah maupun ke dalam kegiatan ekstrakurikuler. Maksud dan Tujuan a. Maksud Sejalan dengan semangat untuk melindungi hak-hak anak atas perlindungan, keamanan dan kelangsungan hidup dan juga hak untuk mendapatkan pendidikan dasar yang berkualitas dan berkesinambungan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bermaksud untuk dapat menyebarkan pengetahuan mengenai pengurangan risiko bencana berikut fasilitas sekolah yang aman dan manajemen bencana di sekolah melalui guru maupun fasilitator. b. Tujuan 1. Memberi acuan standar bagi guru dan/ atau fasilitator dalam menyebarkan pengetahuan mengenai Sekolah Aman melalui serangkaian modul standar Sekolah Aman yang terdiri atas 3 (tiga) modul, yaitu: • Modul 1 – Fasilitas Sekolah Aman • Modul 2 – Manajemen Bencana di Sekolah • Modul 3 – Pendidikan Pengurangan Risiko 2. Memberikan kesempatan bagi pihak-pihak yang memiliki ketertarikan dalam membantu penyebaran pengetahuan ini, untuk dapat berkontribusi terhadap tersebarnya pengetahuan ini dengan hasil yang standar, terutama dalam memberikan pelatihan bagi fasilitator (melalui Pelatihan untuk Pelatih atau ToT – Training of Trainer).


BIRO PERENCANAAN DAN KERJASAMA LUAR NEGERI, SEKRETARIAT JENDERAL KEMENDIKBUD - Tahun 2015 3 Dasar Hukum 1. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, amandemen Pasal 28, Pasal 31 serta Pasal 34 Ayat 2. 2. Undang-undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Azazi Manusia. 3. SNI 03-1726-2002 Tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung 4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak 5. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301). 6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 29/PRT/M/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung. 7. Pedoman Teknis Rumah dan Bangunan Gedung Tahan Gempa, Ditjen. Cipta Karya, 2006, yang dilengkapi dengan Metode dan Cara Perbaikan Konstruksi. 8. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. 9. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana untuk Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah (SD/ MI), Sekolah Menengah Pertama/ Madrasah Tsanawiyah (SMP/ MTs), dan Sekolah Menengah Atas/ Madrasah Aliyah (SMA/ MA). 10. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 45/PRT/M/2007 tentang Pedoman teknis pembangunan gedung Negara. 11. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 33 Tahun 2008 tentang Standar Sarana dan Prasarana untuk Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB), dan Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB). 12. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 40 Tahun 2008 tentang Standar Sarana dan Prasarana untuk Sekolah Menengah Kejuruan/ Madrasah Aliyah Kejuruan (SMK/ MAK). 13. Surat Endaran Menteri Pendidikan Nasional No. 70a/MPN/SE/2010 tentang Pengarusutamaan Pengurangan Risiko Bencana di Sekolah. 14. Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 4 Tahun 2012 tentang Pedoman Penerapan Sekolah/Madrasah Aman Bencana. 15. Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan UU No. 232 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. 16. Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. 17. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Republik Indonesia No. 2 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. 18. Penjelasan Atas Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah. 19. Standar Nasional Indonesia Nomor 7937 Tahun 2013 tentang Layanan Kemanusiaan dalam Bencana. 20. Undang Undang Nomor 10 Tahun 2012 tentang Pengesahan Optional Protocol to the Convention on the Rights of the Child on the Sale of Children, Child Prostitution and Child Pornography (Protokol Opsional Konvensi Hak-hak Anak mengenai Penjualan Anak, Prostitusi Anak, dan Pornografi Anak). 21. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2011 Tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas. 22. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan.


MODUL 2 PILAR 2 - MANAJEMEN BENCANA DI SEKOLAH 4 Kerangka Kerja Sekolah Aman Setiap anak memiliki hak atas keselamatan dan kelangsungan hidup, selain juga hak untuk mendapatkan pendidikan dasar yang berkualitas dan berkesinambungan. Hak-hak ini sering kali terancam tidak terpenuhi akibat bahaya alam dan bahaya terkait teknologi yang menyebabkan terjadinya bencana besar dan kecil. Bencana ini, baik sekala besar, sedang maupun kecil, memberikan dampak terhadap keselamatan dan pendidikan anak-anak. Saat pendidikan menjadi terganggu, pendidikan seorang anak bisa menjadi terputus, kadang terputus selamanya, yang berarti memberikan dampak negatif yang permanen, baik secara ekonomi maupun sosial, terhadap anak tersebut, keluarganya dan komunitasnya. Untuk sektor pendidikan, dampak terburuk dari sebuah bencana adalah hilangnya nyawa maupun terjadinya cedera parah di sekolah. Terdapat banyak konsekuensi lain yang dapat secara permanen mempengaruhi masa depan anak-anak: • Sekolah yang tidak bisa digunakan karena rusak • Sekolah yang tidak bisa digunakan karena digunakan sebagai hunian sementara atau tempat pengungsian • Sekolah yang sudah tidak dapat diakses • Hilangnya akses fisik ruang bermain anak yang ramah • Hillangnya peralatan sekolah dan materi pendidikan • Guru tidak bisa mengajar • Peserta didik diharapkan untuk mencari nafkah, membantu dalam pemulihan maupun dalam mengasuh adiknya secara purna waktu • Gangguan psikososial pada guru, peserta didik dan tenaga kependidikan lainnya Sektor pendidikan memiliki peran penting dalam menghadapi berbagai tantangan yang diakibatkan oleh terjadinya bencana dan dalam mencegah bahaya menjadi bencana. Dengan melakukan pengkajian terhadap bahaya dan risiko, melakukan perencanaan berdasarkan hasil kajian tersebut, melakukan perlindungan fisik dan lingkungan, serta membuat rencana kesiapsiagaan, maka bahaya dapat dicegah untuk tidak menjadi bencana. Sekolah merupakan lembaga tempat berbagi pengetahuan dan keterampilan, sehingga harapan bahwa sekolah menjadi panutan dalam melakukan pencegahan bencana menjadi tinggi. Keberhasilan mitigasi bencana merupakan salah satu ujian utama terhadap keberhasilan pendidikan yang diberikan dari generasi ke generasi. Pada tahun 2012, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengeluarkan Perka BNPB No. 4 Tahun 2012 tentang Pedoman Penerapan Sekolah/ Madrasah Aman dari Bencana (SMAB), di mana Perka ini bertujuan untuk: 1. Mengidentifikasi lokasi sekolah/ madrasah pada prioritas daerah rawan bencana gempa bumi dan tsunami; 2. Memberikan acuan dalam penerapan Sekolah/ Madrasah Aman dari bencana baik secara struktural maupun non-struktural. Ruang lingkup pedoman penerapan sekolah/ madrasah aman dari bencana ini diarahkan pada aspek mendasar, yaitu: (1) Kerangka Kerja Struktural, yang terdiri dari: • Lokasi aman • Struktur bangunan aman • Desain dan penataan kelas aman • Dukungan sarana dan prasara aman


BIRO PERENCANAAN DAN KERJASAMA LUAR NEGERI, SEKRETARIAT JENDERAL KEMENDIKBUD - Tahun 2015 5 (2) Kerangka Kerja Non-Struktural, yang terdiri dari: • Peningkatan pengetahuan, sikap dan tindakan • Kebijakan sekolah/ madrasah aman • Perencanaan kesiapsiagaan • Mobilitas sumberdaya Di tingkat global, terdapat kerangka kerja Sekolah Aman yang Komprehensif yang merangkum kedua Kerangka Kerja yang tercakup pada Perka BNPB No. 4 Tahun 2012. Sasaran sekolah aman yang komprehensif Sasaran dari sekolah aman yang komprehensif dalam menghadapi bahaya yang sudah diperkirakan, baik yang alami ataupun buatan manusia, adalah untuk: • Melindungi peserta didik, guru dan tenaga kependidikan lainnya dari risiko kematian dan cedera di sekolah • Merencanakan kesinambungan pendidikan dalam menghadapi bahaya yang sudah diperkirakan • Memperkuat ketangguhan warga komunitas terhadap bencana melalui pendidikan • Melindungi investasi di sektor pendidikan Tiga pilar sekolah aman yang komprehensif Sekolah aman yang komprehensif dapat dicapai melalui kebijakan dan perencanaan yang sejalan dengan manajemen bencana di tingkat nasional, provinsi, kabupaten/ kota dan di tingkat sekolah. Sekolah aman yang komprehensif ini ditopang oleh tiga pilar sebagai berikut: 1. Fasilitas Sekolah Aman 2. Manajemen Bencana di Sekolah 3. Pendidikan Pencegahan dan Pengurangan Risiko Bencana • Perawatan Gedung • Mitigasi non-struktural • Keselamatan terhadap kebakaran • Pendidikan akan keamanan struktural • Konstruksi sebagai peluang pendidikan Pilar 1 Fasilitas Sekolah Aman Pilar 2 Manajemen Bencana di Sekolah Pilar 3 Pendidikan Pencegahan • Analisis sektor Pendidikan • Kajian risiko multi bahaya • Kajian dan perencanaan yang berpusat pada anak • Rencana bencana di tingkat keluarga • Rencana reunifikasi keluarga • Latihan (simulasi) sekolah


MODUL 2 PILAR 2 - MANAJEMEN BENCANA DI SEKOLAH 6 Fasilitas Sekolah Aman Bangunan sekolah dan fasilitas sekolah yang tidak aman dari bencana akan sangat rentan dari segi keamanannya, bukan saja mengancam jiwa anak-anak, tetapi kerusakan maupun kehancuran sarana dan prasarana fisik ini merupakan kehilangan aset ekonomi bagi negara dan komunitas pada khususnya, dan biaya untuk membangun ulang akan membebani perekonomian3 . Fasilitas Sekolah Aman melibatkan pihak-pihak berwenang di sektor pendidikan, peserta didik (anak-anak), perencana, arsitek, insinyur, para tukang bangunan dan anggota komite sekolah dalam menentukan lokasi yang aman, perancangan, konstruksi dan perawatan (termasuk akses yang aman dan berkelanjutan untuk mencapai fasilitas tersebut). Pengetahuan mengenai Fasilitas Sekolah Aman merupakan langkah awal untuk memastikan bahwa sekolah yang berlokasi di daerah rawan bahaya sudah dirancang dan dibangun sedemikian rupa sehingga penggunanya (peserta didik, guru dan tenaga kependidikan lain) terlindungi. Pengetahuan ini juga dapat digunakan dalam melakukan penguatan (retrofit) terhadap bangunan sekolah, sehingga lingkungan belajar menjadi tempat berlindung yang aman, dan bukan merupakan tempat yang dapat membahayakan bagi kehidupan mereka. Pendekatan konstruksi dan penguatan (retrofit) terhadap sekolah aman yang melibatkan masyarakat luas dalam memadukan pengetahuan baru dan keterampilan pencegahan bencana dapat berdampak lebih luas daripada dampak terhadap sekolah itu sendiri. Pendekatan sekolah aman dapat menjadi model konstruksi dan peningkatan tingkat keamanan untuk pembangunan rumah, pusat kesehatan masyarakat, dan bangunan fasilitas umum lainnya. Manajemen Bencana di Sekolah Manajemen Bencana di Sekolah merupakan proses pengkajian yang kemudian diikuti oleh perencanaan terhadap perlindungan fisik, perencanaan pengembangan kapasitas dalam melakukan respon/ tanggap darurat, dan perencanaan kesinambungan pendidikan, di tingkat sekolah masing-masing sampai dengan otoritas pendidikan di semua tingkatan, baik kabupaten/ kota, provinsi hingga nasional. Manajemen Bencana di Sekolah ditentukan melalui pihak-pihak berwenang di sektor pendidikan tingkat nasional, provinsi, kabupaten/ kota dan di tingkat komunitas sekolah (termasuk peserta didik dan orang tua peserta didik), bekerja sama dengan mitra di bidang manajemen bencana, untuk menjaga lingkungan belajar yang aman serta merencanakan kesinambungan pendidikan pendidikan baik di masa tidak ada bencana maupun di saat terjadi bencana, sesuai dengan standar internasional. Pendidikan Pencegahan dan Pengurangan Risiko Bencana Pendidikan Pencegahan dan Pengurangan Risiko Bencana atau lebih sering disebut sebagai Pendidikan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) merupakan sebuah kegiatan jangka panjang dan merupakan bagian dari pembangunan berkelanjutan. Melalui pendidikan diharapkan agar upaya pengurangan risiko bencana dapat mencapai sasaran yang lebih luas dan dapat dikenalkan secara lebih dini kepada seluruh peserta didik, yang pada akhirnya dapat berkontribusi terhadap kesiapsiagaan individu maupun masyarakat terhadap bencana. 3 Guidance Notes on Safer School Construction, the Inter-Agency Network for Education in Emergencies (INEE) and the Global Facility for Disaster Reduction and Recovery (GFDRR) at the World Bank, in partnership with the Coalition for Global School Safety and Disaster Prevention Education, the IASC Education Cluster and the International Strategy for Disaster Risk Reduction


BIRO PERENCANAAN DAN KERJASAMA LUAR NEGERI, SEKRETARIAT JENDERAL KEMENDIKBUD - Tahun 2015 7 Pendidikan Pencegahan dan Pengurangan Risiko Bencana harus dirancang untuk membangun budaya aman dan komunitas yang tangguh. Keterkaitan antara Kerangka Kerja Struktural dan Kerangka Kerja Non-Struktural yang tercantum di dalam Perka BNPB No. 4 Tahun 2012 mengenai SMAB dengan Kerangka Kerja global Sekolah Aman yang Komprehensif adalah sebagai berikut: • Cakupan Kerangka Kerja Struktural tercantum di dalam Pilar 1 Kerangka Kerja Sekolah Aman yang Komprehensif • Cakupan Kerangka Kerja Non-Struktural tercantum di dalam Pilar 2 dan Pilar 3 Kerangka Kerja Sekolah Aman yang Komprehensif


MODUL 2 PILAR 2 - MANAJEMEN BENCANA DI SEKOLAH 8 BAB II PILAR 2 – MANAJEMEN BENCANA DI SEKOLAH Setiap tahunnya, terjadi lebih dari 400 bencana nasional di dunia yang memberikan dampak terhadap lebih dari 230 juta orang dan bila dirata-ratakan menyebabkan terjadinya sekitar 75.000 kematian per tahunnya. Di seluruh dunia, terdapat 450 kota dengan populasi penduduk lebih dari 1 juta orang menghadapi bahaya gempa bumi yang berulang. Badai siklon, angin topan dan badai merupakan bencana yang paling mematikan dan paling mahal. Di Indonesia, berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), dalam kurun waktu lebih dari 30 tahun terakhir (1982-2014) terjadi 13.729 kejadian bencana yang berarti terjadi sekitar 420 bencana per tahun – walaupun dengan skala bencana yang bervariasi. Gempa bumi, tanah longsor, banjir, letusan gunung api merupakan bencana yang sering terjadi di Indonesia. Banjir yang datang setiap tahunnya menyebabkan jutaan anak di dunia tidak dapat menghadiri kegiatan belajar mengajar dengan penuh, dan hal ini juga terjadi dengan anak-anak Indonesia. Mendapatkan pendidikan merupakan hak asasi manusia, yang universal dan tidak dapat dicabut. Pendidikan sangat penting dalam memungkinkan orang-orang dalam mencapai potensi penuh mereka dan dalam menggunakan hak-hak lainnya. Hak atas pendidikan ini tidak hilang atau ditangguhkan karena bencana dan kedaruratan. Ketika pendidikan terganggu atau menjadi terbatas, peserta didik berhenti dari bersekolah, dengan dampak ekonomi dan sosial yang negatif dan permanen, terhadap peserta didik tersebut, keluarga dan komunitasnya. Bahaya alam merupakan bagian dari konteks perencanaan pendidikan. Baik setiap tahun terjadi banjir, gempa terjadi sekali dalam 100 tahun, meningkatnya keparahan dari badai dan topan, kekurangan air, atau naiknya permukaan air laut, bahaya-bahaya yang sudah dikenal dan diperkirakan ini dapat dimitigasi dengan pengetahuan, pendidikan dan kecerdasan yang diaplikasikan. Manusia tidak dapat mencegah bumi dari kegempaan, bertiupnya angin, ataupun turunnya hujan. Namun, dengan melakukan pengkajian dan perencanaan, melakukan perlindungan fisik dan lingkungan, serta melakukan kesiapsiagaan, maka bahaya dapat dicegah agar tidak menjadi bencana. Karena sekolah merupakan lembaga universal tempat berbagi pengetahuan dan keterampilan, pengharapan bahwa sekolah bisa menjadi panutan dalam pencegahan bencana menjadi tinggi. Keberhasilan mitigasi bencana merupakan salah satu ujian utama terhadap keberhasilan pendidikan yang diberikan dari generasi ke generasi. Konsep sekolah aman yang belakangan dikembangkan menjadi Sekolah Aman yang Komprehensif mencakup unsur-unsur sebagai sub-pilar yang menunjang manajemen bencana di sekolah seperti tertera dalam diagram ini:


BIRO PERENCANAAN DAN KERJASAMA LUAR NEGERI, SEKRETARIAT JENDERAL KEMENDIKBUD - Tahun 2015 9 • Perawatan Gedung • Mitigasi non-struktural • Keselamatan terhadap kebakaran • Pendidikan akan keamanan struktural • Konstruksi sebagai peluang pendidikan • Analisis sektor Pendidikan • Kajian risiko multi bahaya • Kajian dan perencanaan yang berpusat pada anak • Rencana bencana di tingkat keluarga • Rencana reunifikasi keluarga • Latihan (simulasi) sekolah Pilar 1 Fasilitas Sekolah Aman - Pemilihan lokasi - Kode (peraturan konstruksi) bangunan - Standar Kinerja - Desain yang aman terhadap bencana - Pelatihan bagi pembuat bangunan - Pengawasan konstruksi - Kontrol terhadap kualitas - Perkuatan (retrofit) - Pemodelan Ulang Pilar 2 Manajemen Bencana di Sekolah - Pengkajian dan perencanaan - Perlindungan fisik dan lingkungan - Keterampilan dan perlengkapan response - Perwakilan komite manajemen bencana di sekolah - Rencana keberlanjutan pendidikan - Prosedur Tetap (PROTAP atau SOP) - Rencana kontijensi Pilar 3 Pendidikan Pencegahan dan Pengurangan Risiko Bencana - Terintegrasi ke dalam kurikulum formal - Pelatihan guru & pengembangan staff - Ekstrakurikuler dan pendidikan informal berbasis-masyarakat Modul Manajemen Bencana di Sekolah ini disusun bagi pemangku kepentingan pendidikan, guru, tenaga kependidikan lain, dan para pihak yang terlibat dalam kesiapsiagaan kedaruratan dan bencana di sekolah, untuk: • Memberikan pedoman bagi pengelola dan tenaga kependidikan sekolah dalam mengkaji risiko dan merencanakan, serta melaksanakan upaya-upaya perlindungan fisik; • Mengembangkan keterampilan dan mempersiapkan perlengkapan kebencanaan untuk kesiapsiagaan bencana dan kedaruratan, tanggap darurat, dan pemulihan cepat; • Mendukung upaya sekolah dalam menyusun SOP (Prosedur Operasional Standar atau POS) dan/atau rencana kontinjensi yang spesifik bagi keperluan setempat dan merefleksikan praktik-praktik baik nasional maupun internasional.


MODUL 2 PILAR 2 - MANAJEMEN BENCANA DI SEKOLAH 10 Dalam kerangka sekolah aman yang komprehensif, pilar manajemen bencana di sekolah memiliki delapan strategi yang dirangkum dalam tabel berikut: PERSIAPAN PERENCANAAN KEBERLANJUTAN 1. Membentuk Perwakilan Komite Manajemen Bencana Sekolah 2. Adanya kebijakan, kesepakatan dan/ atau peraturan sekolah yang mendukung upaya PRB di sekolah 1. Melakukan kajian terhadap risiko, bahaya, kerentanan dan sumber daya 1. Mengurangi risiko 2. Keterampilan merespon (SOP, Rencana Kontinjensi, simulasi) dan Penyediaan Perlengkapan Kebencanaan 3. Rencana Kesinambungan Pendidikan 1. Pemantauan 2. Pengkinian 2.1. Tahap Persiapan 2.1.1. Membentuk Perwakilan Komite Manajemen Bencana Sekolah Keamanan sekolah adalah tugas dan tanggung jawab seluruh komunitas sekolah. Upaya ini membutuhkan kepemimpinan dan koordinasi oleh pihak pengelola sekolah, dan memerlukan keterlibatan dan partisipasi dalam semua bidang oleh komunitas sekolah. Setiap sekolah harus membuat “manajemen bencana di sekolah” yang merupakan bagian dari pekerjaan komite sekolah yang ada, atau membentuk sebuah ‘Komite Sekolah Penanggulangan Bencana’ atau sub-komite ‘Sekolah Aman’ untuk tujuan ini. Di tahun pertama biasanya akan diperlukan pertemuan setiap bulan, tetapi dengan seluruh partisipasi dari sekolah dan terintegrasi dengan pendidikan formal dan informal, maka di tahun berikutnya dapat diteruskan dengan tiga atau empat pertemuan per tahun. Komite ini memberikan kepemimpinan dalam mengembangkan, melakukan adaptasi, melaksanakan, dan memperbarui rencana penanggulangan bencana sekolah. Hal ini mendorong kesiapsiagaan pribadi dan organisasi, panduan kerja mitigasi, memastikan adanya dua latihan kebakaran dan evakuasi bangunan dalam setiap tahun, mengadakan pelatihan simulasi setiap tahunnya, melakukan evaluasi, dan memastikan semua sesuai dengan rencana. Idealnya Komite Sekolah diberdayakan dan mengelola keterkaitan antara pihak sekolah dan otoritas penanggulangan bencana (dalam hal ini: BPBD). Sekolah harus menyiapkan sumber daya manusia, sarana, dan prasarana, serta sumber daya finansial dalam pengelolaan untuk menjamin kesiapsiagaan bencana di sekolah. Mobilisasi sumber daya didasarkan pada kemampuan sekolah dan pemangku kepentingan sekolah. Mobilisasi ini juga terbuka bagi peluang partisipasi dari para pemangku kepentingan lainnya. Keterlibatan masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan intervensi, pelaksanaan program dan kebijakan sangat penting untuk keberhasilan kesiapsiagaan dan tanggap darurat. Peran Komite Sekolah dan Orang Tua Peserta Didik – Komite Sekolah merupakan komponen sekolah yang sangat diperlukan untuk memberikan dukungan secara penuh dan langsung kepada sekolah dalam implementasi pengarusutamaan pengurangan risiko bencana di sekolah. Komite sekolah, sebagai lembaga


BIRO PERENCANAAN DAN KERJASAMA LUAR NEGERI, SEKRETARIAT JENDERAL KEMENDIKBUD - Tahun 2015 11 mandiri, dibentuk dan berperan dalam peningkatan mutu pelayanan dengan memberikan pertimbangan, arahan dan dukungan tenaga, sarana dan prasarana, serta pengawasan dalam pelaksanaan pengurangan risiko bencana di sekolah yang bersangkutan. Komite sekolah dan orangtua peserta didik sebagai anggota masyarakat berkenaan dengan penyelenggaraan penanggulangan bencana mempunyai hak sebagai berikut: a. mendapatkan perlindungan sosial dan rasa aman, khususnya bagi kelompok masyarakat rentan bencana; b. mendapatkan pendidikan, pelatihan, dan keterampilan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana; c. mendapatkan informasi secara tertulis dan/atau lisan tentang kebijakan penanggulangan bencana; d. berperan serta dalam perencanaan, pengoperasian, dan pemeliharaan program penyediaan bantuan pelayanan kesehatan termasuk dukungan psikososial; e. berpartisipasi dalam pengambilan keputusan terhadap kegiatan penanggulangan bencana, khususnya yang berkaitan dengan diri dan komunitasnya; dan f. melakukan pengawasan sesuai dengan mekanisme yang diatur terhadap pelaksanaan penanggulangan bencana. Selain memiliki hak, komite sekolah maupun orangtua peserta didik juga memiliki kewajiban yang berkenaan dengan penyelenggaraan penanggulangan bencana, yaitu: a. menjaga kehidupan sosial masyarakat yang harmonis, memelihara keseimbangan, keserasian, keselarasan, dan kelestarian fungsi lingkungan hidup; b. melakukan kegiatan penanggulangan bencana; dan c. memberikan informasi yang benar kepada publik tentang penanggulangan bencana. Komite ini membutuhkan kepemimpinan yang kuat (idealnya seorang Kepala Sekolah atau Wakil Kepala Sekolah). Secara khusus ada orang-orang tertentu yang perlu untuk diundang untuk ikut berpartisipasi, sehingga menjadi lebih efektif ketika melibatkan yang mewakili seluruh pemangku kepentingan, seperti daftar di bawah ini: • Pengelola sekolah; • Guru – Sekolah yang besar harus memastikan bahwa seluruh bagian/ aspek sekolah terwakili; • Staf atau tenaga kependidikan lain – hal ini termasuk bagian sarana, pemeliharaan, nutrisi, keamanan, kesehatan, konseling, transportasi, dll. • Orang tua peserta didik atau walisiswa – Harus terkait dengan organisasi walisiswa dan guru atau komite sekolah; • Warga sekitar sekolah – Hal ini termasuk perwakilan komite managemen bencana lokal. Dan sebaiknya juga melibatkan RT/RW dan pertahanan sipil setempat. Dapat dilengkapi dengan komunikasi dan hubungan yang baik dengan pihak kepolisian, pemadam kebakaran, pemda, ormas, mitra bisnis setempat, Dewan Sekolah, Lurah dan sebagainya; • Kelompok rentan - Juga penting untuk memiliki perwakilan dari para penyandang disabilitas dan kelompok rentan lainnya yang kebutuhannya sering terabaikan; • Pelajar - Idealnya ada perwakilan peserta didik yang terpilih di antara para peserta didik yang ada dan diutamakan dari peserta didik kelas yang lebih tua (misalkan kelas 5 dan kelas 6 untuk SD, atau perwakilan dari OSIS – Organisasi Siswa Intra Sekolah – untuk tingkat SMP dan SMA).


MODUL 2 PILAR 2 - MANAJEMEN BENCANA DI SEKOLAH 12 Perwakilan diperlukan untuk memfasilitasi komunikasi dua arah antara semua kelompok yang bersangkutan dalam proses perencanaan. Susun daftar dan kalendar aktivitas. Setiap anggota harus ingat bahwa ketahanan atau daya lenting (resiliensi) tidak didapatkan begitu saja, tapi dari proses yang berkesinambungan yang dapat dipecah dalam beberapa langkah-langkah kecil. Setiap langkah menjadi penting untuk pencapaian keberhasilan dalam hal keselamatan dan kesinambungan pendidikan. Komite sebaiknya mulai untuk menyusun kalendar aktivitas untuk mengembangkan kepedulian dan membangun momentum dalam tahun ajaran. Yang termasuk langkah-langkah utama: • Membentuk Komite dan Tim Kerja • Mendistribusikan formulir Perencanaan Kesiapsiagaan Bencana untuk Keluarga, untuk semua tenaga kependidikan, peserta didik dan keluarganya. • Melakukan identifikasi dampak bahaya terhadap sekolah. • Melakukan identifikasi tingkat kerentanan dan kapasitas yang tersedia. • Melakukan identifikasi hal-hal yang membahayakan sekolah dan lingkungan sekitar. • Memasang hasil kajian risiko dan rencana di tempat yang mudah untuk dilihat, misalnya di Majalah Dinding. • Memperbaharui Profil Sekolah (lihat Lampiran) untuk memasukkan data penting (yang idealnya akan menjadi bagian dari sistem informasi manajemen pendidikan (EMIS)). • Memprioritaskan kegiatan mitigasi, misalnya: penanaman pohon, pembuatan dinding penahan longsor, membangun saluran air, melakukan retrofitting, dll. • Mengembangkan rencana pelatihan untuk tenaga kependidikan. • Meninjau Prosedur Dasar Kedaruratan dan POS – Prosedur Operasional Standar. • Melakukan identifikasi bahaya yang terdapat di sekolah dan lingkungannya. • Memeriksa apakah Peta Rute Evakuasi Sekolah sudah terpasang di setiap kelas dan koridor. • Memeriksa alat pemadam kebakaran. • Mengidentifikasi risiko-risiko dan sumber daya di peta sekolah dan lingkungan. • Memasang Peta Sekolah dan Lingkungan di tempat-tempat yang mudah terlihat • Memeriksa dan mengisi ulang Tas-Siap-Bawa bagian administrasi, bagian UKS, dan kelas. • Meminta kepada keluarga untuk memberikan barang-barang yang dibutuhkan peserta didik dalam kondisi tertentu (peralatan kenyamanan peserta didik). • Memeriksa dan isi ulang kotak P3K dan perangkat kedaruratan. • Mengkomunikasikan prosedur pemulangan peserta didik dari sekolah ke keluarga pada saat tanggap darurat atau prosedur penyatuan kembali (reunifikasi) peserta didik kepada keluarganya. • Memperbaharui ijin pelepasan/ pemulangan peserta didik karena kondisi darurat. • Membuat jadwal piket guru dan tenaga kependidikan. • Menjadwalkan latihan kebakaran dan latihan simulasi penuh. • Mempraktekkan latihan dengan masing-masing kelas. • Minimal melakukan dua latihan kebakaran dan evakuasi dalam setahun. • Melaksanakan latihan simulasi penuh untuk bahaya lainnya. • Mengevaluasi latihan dan merevisi rencana dan prosedur. • Meningkatkan jejaring komunikasi sekolah dengan orang tua peserta didik/ walisiswa. • Melibatkan masyarakat dan lingkungan sekitar. • Mengimplementasikan rencana jika keadaan membutuhkan.


BIRO PERENCANAAN DAN KERJASAMA LUAR NEGERI, SEKRETARIAT JENDERAL KEMENDIKBUD - Tahun 2015 13 2.1.2. Adanya kebijakan, kesepakatan dan/atau peraturan sekolah yang mendukung upaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB) di sekolah Pembentukan Komite Manajemen Bencana di Sekolah akan menjadi lebih kuat dan bermakna jika hal ini didukung oleh adanya kebijakan atau peraturan sekolah yang mendukung upaya PRB di sekolah. Orang tua peserta didik ataupun walisiswa juga dapat membuat kesepakatan ini setelah mendapat penjelasan dari pihak sekolah. Kesepakatan lain yang sebaiknya dibuat adalah kesepakatan dengan warga lingkungan sekitar mengenai upaya PRB, sehingga upaya yang dilakukan oleh sekolah, orang tua peserta didik ataupun walisiswa, dan juga oleh peserta didik sekolah tersebut dapat terkoordinasi dengan upaya yang dilakukan oleh warga lingkungan sekitar sekolah. Adalah ide yang baik untuk memiliki majalah dinding yang diisi dengan informasi mengenai Sekolah Aman di tempat yang mudah terlihat, yang dapat digunakan oleh komite untuk berbagi informasi penting dan untuk menciptakan dan memelihara kesadaran pencegahan bencana pada warga sekolah. Selain itu, juga bisa dibuat papan petunjuk dengan gambar yang mudah dimengerti oleh anak mengenai pesan-pesan keselamatan, misalnya jalur evakuasi, nomor telpon penting, langkah-langkah yang harus dilakukan bila terjadi gempa, dll. Rencana Penanggulangan Bencana di Sekolah yang Partisipatif akan selalu dikembangkan dan diperbaharui setiap tahun, dan tidak akan pernah menjadi dokumen yang dianggap sudah selesai. Saat sedang dalam proses perencanaan, pastikan semua dokumen berada pada satu tempat di kantor yang dapat dilihat dan diakses oleh semua orang. Suksesnya sebuah perencanaan adalah pada proses perencanaannya, dan bukan dinilai dari sekedar setumpuk dokumen yang dijilid. Oleh karena itu, Rencana Penanggulangan Bencana di Sekolah sangat penting untuk disosialisasikan kepada seluruh pihak terkait, antara lain kepada kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lain, peserta didik dan orang tua peserta didik ataupun walisiswa, penjaga sekolah, perwakilan masyarakat sekitar (RT/RW) dan pihak terkait lainnya. Apabila dokumen ini diperbaharui, maka upaya sosialisasi dokumen yang baru harus juga dilakukan. Dalam perjalanan langkah-langkah berikutnya, akan dihasilkan dan kembali dihasilkan dokumentasi yang selalu berkembang yang akan membentuk dan menyempurnakan rencana penanggulangan bencana ini. Hal yang sangat penting adalah melibatkan setiap orang untuk berpartisipasi dalam perencanaan dan pembelajaran dan melanjutkan untuk mengembangkan perencanaan melalui praktek langsung. 2.2. Melakukan Kajian terhadap risiko, bahaya, kerentanan dan sumber daya Pengkajian dan perencanaan adalah titik awal upaya mitigasi dan keselamatan. Kedua hal tersebut harus berdampingan, karena tanpa pengkajian, maka perencanaan akan berantakan, dan tanpa perencanaan, pengkajian akan dilakukan tanpa tujuan. Mereka yang terlibat dalam kebijakan pengembangan pendidikan dan implementasi seharusnya berbagi informasi mengenai kebijakan dan respon strategis. Hal ini sangat penting dalam mengurangi konflik dan bencana. Informasi harus mudah dipahami dan dapat diakses oleh semua pihak.


MODUL 2 PILAR 2 - MANAJEMEN BENCANA DI SEKOLAH 14 Undang-undang, peraturan dan kebijakan harus dikembangkan berdasarkan informasi yang akurat. Manajemen sistem informasi data pendidikan harus dihubungkan dengan informasi mengenai wilayah dan kelompok penduduk yang rentan terhadap jenis situasi darurat tertentu. Hal ini adalah strategi kesiapsiagaan yang dapat memberikan masukan untuk perencanaan pendidikan nasional dan daerah. Bila memungkinkan, data pendidikan yang dikumpulkan oleh masyarakat harus dimasukkan ke dalam sistem informasi manajemen pendidikan nasional. Risiko dikaji/ diidentifikasi dengan mempertimbangkan potensi bahaya (alam, buatan manusia, atau gabungan) dalam hubungannya dengan karakteristik kerentanan masyarakat. Kerentanan dapat bersifat fisik, sosial, ekonomi atau lingkungan. Sebagai contoh, anak-anak, dewasa, orang-orang penyandang disabilitas, orang-orang miskin, kelompok minoritas, pendatang baru, dan orang-orang yang buta huruf lebih rentan jika mereka tidak memiliki sistem pendukung. Bangunan yang dibangun tanpa memperhitungkan ketahanannya terhadap bahaya akan menjadi salah satu sumber kerentanan. Garis pantai tidak terlindungi oleh terumbu karang dan hutan bakau akan rentan terhadap angin kencang. Kehidupan laut lebih rentan dengan adanya tumpahan minyak, dan sebagainya. Langkah di bawah ini akan memberikan panduan dalam mendokumentasikan bahaya yang dihadapi, karakteristik kerentanan masyarakat dan kerentanan lokasi, serta risiko yang dihasilkan. Membuat Matriks Risiko akan membantu dalam melihat gambaran yang lebih besar, dan membantu dalam memfokuskan dan memprioritaskan upaya-upaya mengurangi kerentanan dan risiko. Dalam pembuatannya akan diperlukan penelitian dan diskusi. 2.2.1. Mengkaji Bahaya dan Risiko Menggunakan Matriks Identifikasi Risiko, langkah-langkah yang digunakan (dilakukan dalam kelompok): a. Mengidentifikasi semua bahaya yang dihadapi komunitas sekolah. Mungkin berasal dari “alam” dan/atau “buatan manusia”. Lihat daftar bahaya yang tersedia di lampiran. b. Diskusikan kemungkinan terjadinya bahaya. Pada kasus gempa bumi, banjir, gunung merapi, longsor dan sejenisnya, gunakan data ilmiah dan teknis atau data dari otoritas manajemen bencana (misalnya: BNPB, BPBD, BMKG, dll.) untuk memastikan bahwa anda memiliki pemahaman terhadap situasi. Beberapa bahaya seperti banjir yang terjadi musiman, gempa bumi mungkin jarang terjadi tapi memiliki kemungkinan untuk terjadi pada suatu waktu. Buatlah rencana berdasarkan perkiraan apa-apa saja yang akan terjadi selama bekerja di sekolah, atau selama masa sekolah anak dan cucu anda. Beri kemungkinan terjadinya: tinggi, sedang atau rendah. c. Pertimbangkan tingkat keparahan untuk setiap bahaya dan pikirkan tentang berbagai kerugian yang mungkin dihadapi sekolah dan masyarakat, termasuk faktor-faktor: • Manusia – kematian, luka-luka, disabilitas • Fisik – kerusakan bangunan, kerusakan peralatan, kerusakan perlengkapan • Sosial dan Budaya – gangguan dan kehilangan teman, mentor, masyarakat, warisan budaya • Ekonomi – biaya perbaikan dan penggantian, biaya untuk peserta didik dan keluarga dari pendidikan yang tertunda dan tidak lengkap, kehilangan mata pencaharian di bidang pendidikan • Lingkungan – hilangnya sumber daya alam dan habitat • Psikososial –hilangnya kesinambungan, harapan dan impian • Pendidikan – layanan, kualitas dan hasil menjadi terganggu atau rusak


BIRO PERENCANAAN DAN KERJASAMA LUAR NEGERI, SEKRETARIAT JENDERAL KEMENDIKBUD - Tahun 2015 15 Komunitas Anda sebaiknya melakukan kesiapsiagaan untuk beberapa jenis bahaya tertentu. Ketika kerentanan berkurang, maka kekhawatiran juga berkurang. Nilailah tingkat keparahan dampak bahaya sebagai Tinggi, Sedang ataupun Rendah. Akan diperlukan beberapa tingkat tindakan, tergantung pada apakah bahaya-bahaya tersebut menimbukan ancaman yang serius dan menengah. Coba lakukan latihan dengan metoda Pemetaan Pikiran (lihat lampiran), bersama kelompok orang dewasa dan kelompok anak-anak, untuk memecahkan masalah dengan kreatif. 2.2.2. Menilai Keamanan Non-Struktural Jika prioritas sudah ditekankan pada ancaman (misalnya: kebakaran, gempa bumi, banjir, atau angin kencang), maka langkah selanjutnya yang harus diambil adalah melakukan pengkajian terhada risiko non-struktural terkait bangunan (sekolah). Hal ini akan membantu dalam mengidentifikasikan hal-hal yang harus diambil untuk membuat ruang kelas, kantor, dan ruang umum menjadi lebih aman. Tim peninjau harus juga terdiri dari pengguna dari masing-masing ruangan serta tenaga kependidikan bagian pemeliharaan fasilitas. Gunakan imajinasi dan akal sehat saat meninjau dari satu ruang ke ruang lain, dan sekitar gedung. Ajak pula perwakilan peserta didik sebagai bagian dari tim peninjau karena anak-anak (terutama yang sudah dilatih) memiliki imajinasi dan akal yang lebih hebat dibandingkan dengan orang dewasa. Tindakan pencegahan dan keselamatan terhadap kebakaran merupakan bagian dari desain awal sekolah, dan yang juga memerlukan pemeliharaan secara rutin dan pengujian. Lakukan kajian untuk memastikan: • Sumber bahan yang mudah terbakar dan berbahaya jumlahnya terbatas, terisolasi, dihilangkan, atau diamankan. Termasuk jalur listrik dan peralatan listrik, pemanas dan kompor, pipa gas alam, tabung gas elpiji, cairan yang mudah terbakar. Termasuk juga pohon dan bahan mudah terbakar lainnya yang berada di dekat bangunan. • Rute keluar gedung yang jelas untuk memfasilitasi evakuasi yang aman dalam kasus kebakaran atau keadaan darurat lainnya • Alat pendeteksi dan sistem tanda bahaya bekerja dengan baik • Alat pemadam kebakaran secara teratur diisi ulang • Alat pemadam kebakaran lainnya dan peralatan kontrol diuji secara teratur dan dipelihara • Peralatan mekanis (bila ada), listrik, struktur bangunan dan sistem yang dipelihara dan dioperasikan sesuai dengan kriteria keselamatan kebakaran. Untuk keamanan terhadap angin kencang, pikirkan mengenai benda-benda yang mudah terkoyak, terbang atau rusak akibat angin di luar. Termasuk di antaranya adalah pohon-pohon yang tinggi, kabel listrik, tangki air, dan bangunan lainnya. Apa saja yang dapat jatuh ke bangunan atau melayang ke arah bangunan. Catat apa saja yang dapat dilakukan, siapa yang harus melakukan, dan kapan (pekerjaan tersebut) dapat diselesaikan. Untuk keamanan terhadap gempa, periksa semua ruang di setiap bangunan selain juga daerah di luar bangunan. Pikirkan mengenai benda-benda yang mungkin dapat meluncur, jatuh, dan terbang, dan terutama apapun yang dapat mengakibatkan cedera atau memblokir jalan keluar. Catat apa saja yang dapat dilakukan, siapa yang harus melakukan, dan kapan (pekerjaan tersebut) dapat


MODUL 2 PILAR 2 - MANAJEMEN BENCANA DI SEKOLAH 16 diselesaikan. Gunakan lembar Identifikasi terhadap Bahaya yang tersedia di Lampiran untuk membantu memprioritaskan mitigasi non-struktural sebagai berikut: Prioritas 1: Mengamankan benda-benda yang dapat menghilangkan nyawa seseorang atau melukai atau memblokir jalan keluar (misalnya alat berat, unit AC, pipa, tangki air, lampu gantung, lemari buku, bahan kimia berbahaya, cairan mudah terbakar, barang-barang yang berpotensi untuk menutupi jalan). Catatan: setiap pintu keluar harus membuka ke arah luar. Prioritas 2: Mengamankan benda-benda yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi atau budaya secara signifikan, menyebabkan luka-luka, atau menghentikan proses belajar mengajar (misalnya komputer, peralatan audio-visual, penghargaan sekolah, barang yang mudah pecah, plafon gantung). Prioritas 3: mengamankan benda-benda yang jika rusak dapat menghambat pemulihan. Untuk keamanan terhadap air pasang atau banjir maupun banjir bandang: Periksa apakah ruang penyimpanan atau gudang berada di lantai dua, di atas lemari tinggi, atau di keranjang yang digantung di atas perkiraan tinggi air, atau apakah kotak penyimpanan tahan air tersedia untuk menyimpan peralatan sekolah dan persediaan jika terjadi hujan lebat? 2.2.3. Pengkajian Kapasitas dan Sumber Daya untuk Mitigasi, Respon dan Pemulihan Komunitas sekolah memiliki banyak kekuatan, kapasitas dan sumber daya yang perlu untuk diidentifikasi dan dimobilisasi. Saat bekerja sama, pemahaman yang baik akan berkembang untuk beberapa tindakan perlindungan secara fisik, sebagaimana keterampilan merespon dan keterampilan melakukan pemulihan serta sumber daya yang akan dibutuhkan. Buat catatan dari semua kebutuhan ini. Kemudian, di dalam komunitas, identifikasi setiap orang dan tempat berikut pengetahuan, keterampilan, dan persediaan/ perlengkapan yang dibutuhkan, dan temukan bagaimana agar dapat mengaktivasi kapasitas tersebut untuk mengurangi risiko dan mempercepat pemulihan. Indentifikasi sumber daya dan penyelesaian masalah untuk mengatasi kesenjangan yang ada. Termasuk nama, keterampilan/sumber daya, lokasi, dan informasi kontak. Dalam hal pengetahuan dan keterampilan dalam pengurangan risiko, yang perlu dipikirkan adalah: insinyur teknik sipil (struktur bangunan), insinyur teknik lingkungan, ahli keamanan, staf bagian fasilitas, tukang, tukang pipa, tukang listrik, dan tukang bangunan. Untuk tanggap darurat (respon) dan pemulihan, yang perlu dipikirkan adalah: petugas pemadam kebakaran, profesional di bidang SAR (termasuk penambang), ahli manajemen kedaruratan, tenaga medis, kelompok relawan, pramuka, kelompok wanita, ahli di bidang penyediaan, ahli komunikasi, ahli konstruksi hunian sementara, manajemen persediaan. Bagaimana mereka dapat membantu? Cari tahu keterampilan merespon yang dimiliki oleh para tenaga kependidikan dan peserta didik, dan cari kemungkinan untuk mengatasi kesenjangan keterampilan dan kesenjangan pengetahuan tersebut. Terakhir, pertimbangkan persediaan/ perlengkapan yang dibutuhkan untuk melakukan respon dan pemulihan. Sebagai patokan, bersama komunitas secara kolektif rencanakan kebutuhan selama 7 hari agar dapat mengurus diri sendiri. Di antara tempat tinggal, sekolah dan tempat kerja, semua orang akan membutuhkan empat liter air per orang per hari dan makanan padat kalori. Untuk komunitas sekolah, Anda akan diharapkan untuk memiliki kepemimpinan dalam hal perencanaan ini. Perencanaan bagi hunian sementara dan sanitasi serta lokasi penyimpanan persediaan komunitas, merupakan hal yang diharapkan dari sekolah. Jika sekolah akan digunakan sebagai tempat pengungsian/ hunian sementara, maka penting untuk merencanakan bagaimana cara melindungi aset sekolah, dan untuk bisa segera menyiapkan ruang belajar alternatif.


BIRO PERENCANAAN DAN KERJASAMA LUAR NEGERI, SEKRETARIAT JENDERAL KEMENDIKBUD - Tahun 2015 17 2.2.4. Menggunakan Peta Risiko Sederhana Tingkat Sekolah dan Sumberdaya Sekolah dan Lingkungan Peta sekolah dan lingkungannya merupakan perangkat yang sangat diperlukan untuk mencatat dan menggambarkan risiko-risiko dan sumberdaya di dalam lingkungan sekolah dan komunitas sekitar. Peta ini akan membantu dalam mengenali dan memikirkan lebih lanjut cara untuk mengatasi kesenjangan antara kerentanan dan kapasitas. Buat sebuah Peta Sekolah dan tandai baik kerentanan maupun sumber daya seperti berikut ini: • Pintu masuk dan pintu keluar • Daerah berbahaya (di) bangunan • Tempat pendaftaran pengunjung • Daerah berbahaya di bawah tanah (untuk masuk ke sekolah) • Daerah berbahaya di atas kepala • Tempat berkumpul darurat • Lokasi material berbahaya • Lokasi keran pipa gas • Peralatan pemadam kebakaran • Lokasi meteran listrik • Area pertolongan pertama • Lokasi keran air • Gerbang Permintaan dan Penyatuan Kembali • Rute evakuasi dari bangunan (reunifikasi) • Perlengkapan/ perbekalan untuk respon • Orang-orang dengan disabilitas dan anak (yang tersimpan di lingkungan sekolah) usia dini Pada Peta Lingkungan, tandai kerentanan dan sumber daya seperti berikut: • Rute evakuasi darurat • Orang-orang yang dapat menjadi tempat • Rute kendaraan darurat bertanya (nara sumber) • Tempat berkumpul alternatif, hunian sementara • Sumber daya transportasi alternatif, dan tempat aman alternatif • Populasi rentan (manula, anak kecil) • Fasilitas kesehatan • Bangunan yang rentan, jalanan yang rentan, • Pos Pemadam Kebakaran dan fasilitas yang rentan • Tempat materi berbahaya • Orang-orang yang dapat membantu dalam • Peralatan (misalnya: generator) respon dan pemulihan • Perlengkapan/ perbekalan untuk respon yang disimpan di lingkungan luar sekolah Gunakan pemecahan masalah secara kreatif untuk menjembatani kesenjangan antara kebutuhan dan sumber daya: Di sebuah universitas, satu pemasok tunggal mengirimkan air minum (galon air minum) ke banyak bangunan dan departemen, namun tidak ada yang memiliki persediaan air minum lebih. Lalu universitas melakukan pembelian satu kali (one-time purchase) untuk persediaan air darurat. Sekarang pemasok air menggunakan persediaan air ini untuk didistribusikan ke seluruh bagian universitas, dan melakukan pembelian ulang untuk menjaga persediaan, sehingga universitas akan selalu memiliki persediaan air minum segar untuk masa darurat.


MODUL 2 PILAR 2 - MANAJEMEN BENCANA DI SEKOLAH 18 Pasang peta-peta ini di Papan Buletin Keamanan Sekolah, dan buatlah peta-peta ini menjadi bagian dari buku pegangan tenaga kependidikan dan bagian dari program orientasi tenaga kependidikan. Tinjau dan revisi peta ini saat mengembangkan dan merevisi rencana pencegahan bencana. 2.3. Perencanaan Perencanaan kesiapsiagaan bertujuan untuk menjamin adanya tindakan cepat dan tepat guna pada saat terjadi bencana dengan memadukan dan mempertimbangkan sistem penanggulangan bencana di daerah dan disesuaikan dengan kondisi wilayah setempat. 2.3.1. Mengurangi risiko Evakuasi dipahami sebagai proses menyelamatkan diri atau kelompok secara mandiri ke daerah atau titik aman dengan selamat dan tepat waktu. Untuk memungkinkan evakuasi berjalan sebagaimana diharapkan, maka diperlukan rencana yang baik. Peringatan dini adalah informasi yang perlu disebarluaskan dengan segera, sesaat sebelum bahaya datang, agar seluruh warga dapat menyelamatkan diri ke tempat aman, sesuai dengan rencana evakuasinya. Informasi ini bisa didapat langsung dari tanda-tanda alam, misalnya berupa getaran gempa yang dirasakan di lingkungan sekolah. Jika sekolah berada di daerah pesisir rawan tsunami, bisa jadi gempa tersebut menimbulkan bahaya tsunami. Maka sekolah perlu segera menyebarluaskan informasi kepada seluruh warga sekolah untuk melakukan evakuasi, meskipun informasi resmi dari pemerintah atau aparat berwenang belum diterima. Tujuan pengembangan Sistem Peringatan Dini Sekolah adalah memberdayakan individu dan komunitas sekolah yang terancam bahaya, agar dapat bertindak tepat waktu dan tepat cara untuk menghindari kemungkinan terjadinya korban jiwa rusaknya harta benda dan lingkungan. Syarat Sistem Peringatan Dini: 1. Ada informasi resmi atau informasi yang dapat dipercaya 2. Ada alat dan tanda bahaya yang disepakati sekolah 3. Ada cara untuk menyebarluaskan informasi tersebut kepada seluruh warga sekolah Peringatan yang diterima ini harus diteruskan ke seluruh warga sekolah, menggunakan alat-tanda yang dimiliki sekolah, seperti kentongan, lonceng, dan lainnya yang sudah disepakati. Penyebaran informasi dan arahan evakuasi dilakukan oleh Satgas Peringatan Dini, yang telah disetujui oleh Kepala Sekolah. Tersedianya tanda bahaya (alarm) kebakaran setempat merupakan sebuah bentuk sistem peringatan dini yang paling sederhana yang dibutuhkan oleh setiap sekolah. Tanda bahaya ini haruslah mudah untuk dibunyikan oleh orang pertama yang menemukan sumber api tersebut, dan hanya berarti untuk satu hal: “Evakuasi diri dari bangunan ini dengan mengikuti prosedur operasi standar, dan berkumpulah di area evakuasi yang aman”. Kemudian, apakah terdapat tanda bahaya dan sistem peringatan dini untuk bahaya-bahaya lain yang ada di lingkungan anda? Apakah Anda sudah pasti mendapatkan pesan-pesan peringatan dini ini dan apakah orang lain mengerti betul arti dari tanda-tanda tersebut, dan tindakan apakah yang harus dilakukan? Buatlah catatan mengenai hal ini dan lakukan perbaikan dengan Lembar Kerja Peringatan Dini Anda.


BIRO PERENCANAAN DAN KERJASAMA LUAR NEGERI, SEKRETARIAT JENDERAL KEMENDIKBUD - Tahun 2015 19 Setelah memahami risiko yang dihadapi, begitu rencana aksi dimulai. Libatkan guru-guru, tenaga kependidikan lain, peserta didik dan orang tua peserta didik. Gunakan kreativitas dan rencanakan hal-hal yang dapat dicapai bersama, serta meminta bantuan untuk mengatasi kebutuhan yang sudah diidentifikasi. Semua tindakan yang dapat dilakukan untuk mengurangi kerentanan dan meningkatkan kapasitas, akan mengurangi dampak bahaya yang dihadapi oleh sekolah dan komunitas. Mengurangi Risiko Struktural Keamanan Struktural dibahas di modul 1 karena mencakup keamanan bangunan dan/ atau keamanan lokasi sekolah, namun perawatan bangunan merupakan komponen penting dari menjaga keamanan (mengurangi risiko) struktural dan non-struktural. Kerusakan harus segera diperbaiki, dan keamanan struktural tidak boleh dikompromikan melalui perubahan (dipermak) dan penyalahgunaan. Tanggung jawab untuk menjaga keamanan struktural terletak pada pengelola sekolah dan juga staf bagian fasilitas dan pemeliharaan. Periksa untuk memastikan bahwa: • Kolom atau balok tidak dirusak dengan memotong, mengekspos, atau membolonginya. • Tidak membiarkan besi beton penguat terpapar udara atau oleh kelembaban. • Tutup besi beton dengan adukan beton. • Kayu yang lapuk, adukan yang retak, batu bata yang retak dan beton yang rusak sudah diperbaiki. • Selokan dan sistem drainase terbebas dari puing-puing maupun kotoran lain. • Air dan kelembaban tidak mengganggu kekuatan bangunan dengan cara membuat saluran yang baik. • Atap terpasang kencang terhadap bangunan. • Kaca yang pecah sudah diganti. Mengurangi Risiko Non-Struktural Keamanan Non-Struktural – mengatasi bahaya yang ditimbulkan oleh perabot dan peralatan bangunan, serta elemen bangunan seperti atap, jendela, tangga, alat pendingin udara, penyimpanan air, perpipaan, jalur keluar. Termasuk juga keamanan terhadap kebakaran. Langkah-langkah keamanan non-struktural adalah hal-hal yang tidak terkait dengan sistem menahanbeban bangunan, dan merupakah hal-hal yang tergantung dari para pengguna bangunan. Termasuk di antaranya adalah pencegahan kebakaran dan tersedianya peralatan pencegah kebakaran. Perhatian khusus diperlukan untuk memastikan bahwa semua penghuni bangunan dapat dengan selamat keluar dari bangunan saat terjadi tindakan evakuasi. Untuk gempa dan badai, yang menjadi pertimbangan utama adalah pencegahan terjadinya cedera baik saat masih berada di dalam bangunan atau saat sesudah berada di luar bangunan. Periksa apakah: • Semua pintu ruang kelas, pintu ruang yang biasa terisi penuh dan pintu menuju keluar membuka ke arah luar (dan bukan membuka ke dalam ruangan). • Jalur keluar tidak ada penghalang. • Bagian-bagian non-struktural dari bangunan (misalkan lemari buku, papan tulis, dll.) dikencangkan terhadap bangunan (misalnya dipaku ke dinding) supaya dapat tahan dari guncangan saat gempa ataupun dari angin kencang.


MODUL 2 PILAR 2 - MANAJEMEN BENCANA DI SEKOLAH 20 • Peralatan pencegah kebakaran ditempatkan di lokasi yang tepat dan selalu dirawat sehingga bisa dipergunakan dengan baik. • Bahan yang mudah terbakar dan berbahaya jumlahnya dibatasi, terisolasi, dihilangkan dan dipisahkan dari sumber panas. • Sistem pelistrikan terpelihara dan dijaga agar tidak diberi beban terlalu berat. • Jika memungkinkan, ruang kelas memiliki dua pintu keluar (kadang-kadang, pintu keluar kedua merupakan jendela). Jika menghadapi gempa dan angin kencang: • Pindahkan barang berat agar berada di ketinggian di bawah kepala. • Ikat atau amankan perabotan dan perangkat yang tinggi dan berat ke dinding, lantai dan langit-langit (misalnya gunakan siku-L untuk mengencangkan lemari ke dinding). • Kencangkan pintu dan laci-laci lemari dengan pengunci agar tetap tertutup saat guncangan gempa terjadi. • Amankan perangkat pendingin udara (AC) dengan mengencangkannya ke dinding dalam atau luar bangunan. • Kencangkan tangki gas elpiji, tangki pemadam kebakaran dan tangki-tangki lain ke dinding. • Berlindung dari kaca yang mungkin bisa pecah dalam potongan besar misalnya dengan mengatur posisi perabotan, menggunakan kaca film, dll. • Amankan perangkat elektronik yang berat dan penting ke atas meja atau ke lantai dengan diikat. • Kencangkan lampu-lampu ke langit-langit. • Kencangkan gambar-gambar dan foto-foto di dinding dengan menggunakan paku yang melengkung tertutup. Dan untuk banjir: • Pergi ke ruang kelas dan kantor yang berada di tempat lebih tinggi. • Buat rak-rak yang digantung tinggi untuk menyimpan persediaan/ perlengkapan dan perangkat saat musim hujan dan naikkan benda-benda penting (misalnya rapor, dokumen sekolah, dll.) ke tempat tinggi di atas perkiraan ketinggian air. Gunakan kotak penyimpanan yang tahan air. Mengurangi Risiko Infrastruktur Setempat Yang dimaksud di sini adalah infrastruktur di daerah sekitar sekolah seperti air, listrik, gas, dan juga saluran komunikasi dan transportasi, termasuk keselamatan transportasi. Biasanya hal ini merupakan bagian dari sistem yang dirawat dan dijaga oleh pemerintah dan badan terkait (misalnya PLN, PDAM, dll.). Dengan melakukan perancangan dan pemecahan masalah terkait jauh hari sebelumnya bersama pemerintah (setempat) dan badan-badan terkait, dapat melindungi peserta didik dan aset pendidikan, serta meningkatkan ketahanan infrastruktur setempat. Tergantung dari bahaya yang dihadapi, solusi-solusi di bawah ini dapat dipertimbangkan: • Memindahkan kabel-kabel dan tiang yang menggantung di atas yang dapat memblokir atau menutup rute keluar • Memasang keran tutup otomatis untuk saluran gas yang berada di lingkungan sekolah atau di sekitar sekolah • Menggunakan penyambung fleksibel untuk saluran perpipaan


BIRO PERENCANAAN DAN KERJASAMA LUAR NEGERI, SEKRETARIAT JENDERAL KEMENDIKBUD - Tahun 2015 21 Keselamatan transportasi juga mencakup kondisi jalan, trotoar dan tempat penyebrangan pejalan kaki, serta kendaraan operasional sekolah, maupun kendaraan antar jemput sekolah. Setiap tahunnya, di seluruh dunia, kecelakaan transportasi adalah penyebab utama kematian dan cedera peserta didik. Tanda jalan yang jelas dan pandangan di jalan yang tidak terganggu, tanda berhenti, lampu lalu lintas, tempat penyebrangan pejalan kaki yang diberi tanda dengan jelas, serta penjagaan di persimpangan di daerah perlintasan yang sibuk merupakan langkah-langkah keamanan yang penting. Keamanan kendaraan, ujian dan pelatihan bagi pengemudi, pemasangan, perawatan dan penggunaan sabuk pengaman kendaraan, serta pemilihan rute dengan hati-hati merupakah hal penting untuk memastikan bahwa peserta didik aman dalam transportasi terkait sekolah. Saat berada di dalam transportasi sekolah (misalnya di bis sekolah), aturan mengenai akses dan perilaku, serta pengawasan oleh orang dewasa menjadi faktor penting. Mencapai sekolah dengan selamat serta menghindari banjir akan memerlukan penelitian dan dokumentasi terhadap bahaya setempat, juga memerlukan permintaan serta advokasi bagi pemeliharaan jalan, sistem drainase, gorong-gorong dan jembatan. Bisa juga termasuk mengusahakan transportasi gratis dengan menggunakan perahu. Mengurangi Risiko Lingkungan Yang dimaksud di sini adalah kondisi lingkungan sekolah seperti suhu udara, genangan dan banjir, pelepasan bahan berbahaya, dan dampak perubahan iklim. Pikirkan semua kondisi yang dihadapi oleh lingkungan sekolah dan juga isu-isu terkait lingkungan yang dapat ditelaah untuk meningkatkan keselamatan warga sekolah. KONDISI SOLUSI YANG DAPAT DICARI Cuaca ekstrim selama tahun ajaran Rancang bangun sekolah, lokasi alternatif, metode alternatif penyampaian pelajaran Longsor Penanaman pohon, menstabilkan kemiringan lahan, pemasangan dinding penahan, rute evakuasi Kebakaran hutan Pembendungan kanal, sekat penahan api Tsunami Rute evakuasi, tangga Kekeringan/ kerawanan pangan Menadah hujan, penanaman (sayuran, dll.) di sekolah, penanaman pohon, penyimpanan bahan makanan Pengelolaan limbah padat (sampah) Tempat daur ulang Kekurangan air dan energi, serta pembiayaannya Penghematan air dan energi, pemasangan turbin kecil di sungai Produksi bahan berbahaya dan penyimpanannya Hak-untuk-mengetahui bagi masyarakat sekitar, tinjauan rutin terhadap langkah-langkah pengamanan Polusi udara Berjalan kaki dan bersepeda ke sekolah Terdapat banyak cara untuk melindungi lingkungan yang dapat dilakukan oleh warga sekolah, termasuk mitigasi terhadap perubahan iklim – melalui upaya ‘sekolah hijau’ dan melalui aktivitas masyarakat setempat berupa kerja bakti membersihkan lingkungan, pemasangan tanda dilarang membuang sampah, kampanye kesadaran dan aktivitas serupa lainnya yang medorong warga untuk melakukan pengurangan sampah, penggunaan kembali serta pendaur-ulangan.


MODUL 2 PILAR 2 - MANAJEMEN BENCANA DI SEKOLAH 22 2.3.2. Keterampilan Merespon (SOP, Rencana Kontinjensi, simulasi) dan Penyediaan Perlengkapan Kebencanaan Keterampilan merespon diasosiasikan dengan peran yang berbeda di Peran dan Tanggung Jawab Sistem Komando Kejadian (Incident Command Systems Roles and Responsibilities). Banyak dari tenaga kependidikan di sekolah yang sudah memiliki keterampilan merespon seperti yang akan dijelaskan di bawah. Lebih banyak lagi keterampilan yang dapat dipelajari dari program belajar-sendiri secara online. Materi pelatihan dapat juga ditemukan di komunitas Anda seperti misalnya dari unit pemadam kebakaran, unit perlindungan masyarakat, Palang Merah Indonesia, dan sumber-sumber lain. Buatlah Rencana Pelatihan Tenaga Kependidikan tahunan, untuk mengisi kesenjangan dalam keterampilan melakukan respon yang diperlukan. Banyak sekolah menemukan bahwa tenaga kependidikan yang memperoleh keterampilan merespons dan mempraktekkannya saat latihan simulasi, kemudian dapat menyampaikan pengetahuan ini kepada tenaga kependidikan baru melalui sesi pelatihan 30 menit dengan jumlah peserta yang sedikit. 2.3.2.1. Prosedur Operasional Standar Prosedur standar bagi tanggap darurat tergantung dari jenis bahaya, dan harus disesuaikan dengan kondisi unik lingkungan Anda. Prosedur ini disusun berdasarkan enam prosedur dasar kedaruratan seperti berikut ini: • Evakuasi (dari) bangunan/ gedung • Perlindungan-di-tempat • Mengunci-diri • Berkumpul dan Berlindung di Luar • Evakuasi ke Tempat Aman • Proses Aman Penyatuan Kembali (Reunifikasi) Keluarga Setiap prosedur dipaparkan dengan rinci berikut penjelasan mengenai tanggung jawab administrasi dan tanggung jawab tenaga kependidikan lainnya. Peserta didik juga dapat diberi tanggung jawab untuk setiap situasi. Selalu ingat bahwa orang-orang penyandang disabilitas, penutur bahasa asing dan tamu sekolah yang sedang berkunjung mungkin tidak terbiasa dengan prosedur-prosedur ini sehingga memerlukan bantuan untuk bisa memahami dan mengikuti prosedur ini. Bagan Pengambilan Keputusan Prosedur Kedaruratan ini diharapkan dapat menggambarkan kondisi yang berbeda yang kemudian mengarah ke enam prosedur dasar ini. Pertanyaan #1 – Apakah terdapat peringatan dini sebelum terjadinya dampak bahaya? Apakah bahaya tersebut terjadi dengan cepat, tanpa ada peringatan (seperti misalnya peristiwa kekerasan/ kerusuhan, gempa, kebakaran)? Jika ya, maka apakah Anda bisa bereaksi secara otomastis dengan menggunakan prosedur operasi standar yang sesuai? Jika bahaya tersebut terjadi dengan lambat atau tidak terlalu cepat (seperti misalnya banjir, angin kencang, dll.), peringatan dini seperti apakah yang miliki? Apakah sistem peringatan dini tersebut sudah diuji? Apakah ada cukup waktu untuk membubarkan sekolah dan menggunakan prosedur normal untuk memulangkan peserta didik agar mereka bisa berkumpul kembali dengan selamat dengan keluarganya? Jika tidak, maka akan diberlakukan prosedur seperti untuk situasi bahaya yang terjadi dengan cepat.


BIRO PERENCANAAN DAN KERJASAMA LUAR NEGERI, SEKRETARIAT JENDERAL KEMENDIKBUD - Tahun 2015 23 Pertanyaan #2: Apakah bangunan (sekolah ini) aman? Jika bangunan tidak aman maka Evakuasi (dari) Bangunan harus segera dijalankan. Dalam kasus bahaya yang terjadi dengan cepat seperti kebakaran ataupun gempa yang kuat, maka harus diasumsikan bahwa bangunan tidak kuat, dan karenanya evakuasi dari bangunan harus secara otomatis dilakukan. (Perlu diingat bahwa selama gempa berlangsung, semua orang harus melakukan “berlutut, lindungi dan bertahan sambil berpegangan 4 ” dan evakuasi hanya boleh dimulai jika goyangan gempa sudah berhenti.) Di situasi lain, kajian cepat dapat dilakukan sebelum tindakan untuk evakuasi disebarluaskan melalui tanda bahaya sekolah. Jika bangunan aman maka peserta didik, guru dan tenaga kependidikan lain harus diberi instruksi untuk melakukan Perlindungan-di-Tempat (Shelter-in-Place). Kembali ke tempat (evakuasi terbalik) dilakukan untuk kembali ke tempat asal dengan teratur, dari tempat berkumpul kembali ke ruang kelas, ke Perlindungan-di-Tempat. Pertanyaan #3: Apakah halaman sekolah (juga) aman? Jika halaman sekolah dinyatakan aman maka Berkumpul dan Berlindung di Luar menjadi prosedur yang dipilih. Jika halaman sekolah sudah diketahui kurang aman (misalnya untuk daerah pantai dengan risiko tsunami) maka secara otomatis Evakuasi ke Tempat Aman harus dilakukan. Kajian cepat (misalkan terhadap materi berbahaya, kabel listrik yang putus, saluran pipa yang retak) dapat membantu pengambilan keputusan antara dua pilihan tersebut. Untuk semua situasi, setelah tindakan berkumpul, lakukan kajian ulang mengikuti Pertanyaan 1, 2, 3 yang sebaiknya dilakukan secara berkala dan salah satu dari tindakan ini harus dipertahankan. Pertanyaan #4: Apakah komunitas aman? Apakah anak-anak bisa dengan aman berkumpul kembali dengan keluarga mereka, menggunakan prosedur normal, tanpa menghadapi risiko bahaya, risiko kematian dan kerusakan? Jika tidak aman, maka prosedur aman penyatuan kembali keluarga harus dijalankan, dan anakanak harus tetap berada di sekolah dengan pengawasan, sampai mereka berkumpul kembali dengan selamat dengan keluarganya. Untuk kondisi di mana terjadi bencana dan keadaan darurat, Prosedur Aman Penyatuan Kembali (Reunifikasi) Keluarga sebaiknya dimulai, untuk memastikan bahwa peserta didik hanya dipulangkan kepada orang tua/ pengasuh/ walisiswa atau pihak yang sudah ditunjuk sebelum bencana terjadi, dan setiap pertemuan didokumentasikan. Peserta didik sebaiknya tetap dijaga dan berada di bawah pengawasan pihak sekolah hingga peserta didik terakhir dipertemukan dan status “Kondisi Aman” sudah dikeluarkan oleh pihak yang paling berwenang (akan dijelaskan dalam bagian berikutnya). Saat simulasi maupun kejadian kecil lain, prosedur Kembali ke Tempat dapat dijalankan untuk kembali ke kelas, sebelum status “Kondisi Aman” dikeluarkan dan kelas dimulai kembali. 4 Dari “drop-cover-hold” yang sampai sekarang di Indonesia masih belum ada kesepakatan mengenai istilah dalam bahasa Indonesia. Untuk keperluan modul ini, maka digunakan “berlutut, lindungi, dan bertahan sambil berpegangan”.


MODUL 2 PILAR 2 - MANAJEMEN BENCANA DI SEKOLAH 24 PROSEDUR PENGAMBILAN KEPUTUSAN KONDISI DARURAT Kekerasan Gempa bumi Kebakaran Jenis  lain  &   KAJI  LAGI   MENGUNCI-­‐DIRI   ¥Bunyikan tanda bahaya ¥Hubungi  no.  darurat ¥Semua berada di    dalam!   ¥Kunci semua pintu ¥Tidak ada  yang  masuk        atau keluar ¥Beri tanda di jendela EVAKUASI  DARI   BANGUNAN   ¥Bunyikan tanda bahaya ¥Kebakaran:  Hubungi  no.        darurat ¥Sisir bangunan ¥Bantu  mereka  yang  berke-­‐      butuhan khusus    dan        pengunjung ¥Bawa peralatan-­‐siap-­‐bawa ¥Gempa:  beri tanda di              pintu BERLUTUT,  LINDUNGI   &  BERSEMBUNYI   PERLINDUNGAN  DI   TEMPAT   ¥Beri pengumuman ¥Tetap berada di dalam        bangunan di  area  yang        aman ¥Tidak ada  yang  masuk        atau keluar BERLUTUT,  LINDUNGI   &  BERTAHAN  SAMBIL   BERPEGANGAN  jika diperlukan BERLUTUT,  LINDUNGI   &  BERTAHAN   MERANGKAK   jika diperlukan Apakah bangunan aman?   BAHAYA  TERJADI  CEPAT   TANPA  PERINGATAN   BAHAYA  TERJADI  LAMBAT   ADA  PERINGATAN  DINI   Apakah halaman  (sekolah)   aman?   BERKUMPUL  &   BERLINDUNG  DI  LUAR   ¥Hitung jumlah siswa ¥Buat perlindungan ¥Rawat siswa dan awasi EVAKUASI     KE  TEMPAT  AMAN   ¥Pindah ke tempat aman ¥Hitung jumlah siswa ¥Minta kendaraan ¥Gunakan kendaraan        sebagai tempat berlindung TIDAK   YA   YA   TIDAK   KAJI  LAGI:   Jika aman,  apakah     juga aman bagi masyarakat?   PEMULANGAN   DARURAT  SISWA   ¥Diserahkan hanya kepada        kontak darurat  yang  sudah        diverifikasi dan disetujui ¥Proses penyatuan        (reunifikasi)        didokumentasikan TIDAK   KELAS  DILANJUTKAN  LAGI   dan/  atau pemulangan kembali siswa dengan prosedur  normal/  biasa YA  


BIRO PERENCANAAN DAN KERJASAMA LUAR NEGERI, SEKRETARIAT JENDERAL KEMENDIKBUD - Tahun 2015 25 Prosedur Evakuasi dari Bangunan, Evakuasi ke Tempat Aman dan Berkumpul Administrasi: Tanda bahaya kebakaran berbunyi. Segera umumkan kepada para peserta didik dan tenaga kependidikan lain. Untuk situasi kebakaran, tutup pintu dan jendela. Untuk situasi di mana terdapat materi berbahaya, tutup sistem ventilasi udara. Aktifkan Sistem Komando Kejadian (Incident Command System) yang sesuai. Monitor dan sediakan informasi dan instruksi terbaru bilamana ada. Jaga (saluran) komunikasi. Umumkan prosedur baru. Umumkan “Kondisi Aman” saat kondisi darurat sudah berakhir. Tenaga kependidikan: Sebelum terjadi bencana: Berlatih bersama (per kelas), mengikuti prosedur Kebakaran dan prosedur Gempa. Identifikasi peserta didik atau guru atau tenaga kependidikan lain yang membutuhkan bantuan khusus selama evakuasi. Pelajari dari mereka yang membutuhan bantuan khusus ini bagaimana cara terbaik untuk membantu mereka. Sebelum terjadi bencana, ajari peserta didik cara untuk memberikan bantuan. Di sekolah yang memiliki peserta didik penyandang disabilitas dengan jumlah yang banyak dan membutuhkan bantuan, sebaiknya relawan setempat direkrut dan dilatih sesegera mungkin. Bersiaplah untuk memberikan bantuan bagi pengunjung. Saat tanda bahaya berhenti berbunyi atau guncangan gempa sudah berhenti: 1. Ingatkan peserta didik untuk mengikuti instruksi evakuasi dari bangunan: “Jangan berbicara. Jangan mendorong. Jangan lari. Jangan kembali (ke kelas).” Peserta didik sebaiknya keluar dengan temannya setiap dua orang. Periksa apakah peserta didik atau guru atau staf lain yang memerlukan bantuan sudah mendapatkannya. Ingatkan peserta didik untuk TIDAK menggunakan ponsel mereka, untuk menjaga agar jalur komunikasi bisa digunakan untuk pembicaraan darurat! 2. Bawalah: • Tas-Siap-Bawa (Go-Bag) ataupun Kotak-Siap-Bawa (Go-Bucket) kelas 5 • Clipboard atau Buku Catatan Darurat yang berisi daftar nama murid dan Form Laporan Status Kelas (lihat Lampiran) • Tas perjalanan yang berisi Tas Kenyamanan Murid (Student Comfort Bags) 3. Gunakan Sistem Dua Orang (Buddy System). Gunakan waktu beberapa detik bersama guru di kelas untuk memeriksa sekilas di sebelah kiri, sebelah kanan, depan dan belakang kita untuk melihat siapa saja yang memerlukan bantuan. Lakukan evakuasi dengan dipimpin satu orang dewasa di depan iring-iringan evakuasi untuk memeriksa apakah rute evakuasi bebas dari bahaya, diikuti di belakangnya oleh seorang peserta didik yang bertanggungjawab untuk memantau agar peserta didik lain tetap tenang dan tertib. Di belakang iring-iringan, seorang guru lain dan seorang peserta didik yang bertanggung jawab untuk memantau apakah para peserta didik tetap bersama. Kecuali diinstruksikan yang berbeda, maka evakuasi dilakukan mengikuti rute normal evakuasi dari bangunan yang sudah dipasang. Jika menghadapi hambatan atau penghalang, seperti pintu yang terhalang sehingga tidak bisa dibuka, bersiaplah untuk menggunakan rute alternatif. Langsung jauhi bangunan saat sudah keluar dari bangunan. Guru-guru dari setiap bagian sekolah yang sudah ditunjuk harus memeriksa kamar kecil (WC/ toilet) sambil berjalan ke luar. 5 Merupakan tas darurat atau tempat penyimpanan darurat yang berisi segala kebutuhan untuk situasi darurat. Biasanya untuk kebutuhan selama 1-3 hari.


MODUL 2 PILAR 2 - MANAJEMEN BENCANA DI SEKOLAH 26 4. Ambil posisi di tempat berkumpul keadaan darurat (biasanya diatur berdasarkan kelas). Jaga agar peserta didik tetap berada bersama peserta didik sekelasnya. Periksa lagi apakah ada yang terluka. Jika ada yang terluka, kirim peserta didik tersebut ke tempat P3K dengan didampingi dua orang peserta didik lain, dengan instruksi agar dua peserta didik pendamping tadi segera kembali ke tempat berkumpul. Untuk sekolah yang besar, gunakan papan identifikasi kelas (misalnya: kelas 1A, kelas 2C, dll.) di depan kumpulan peserta didik per kelas. Isi Form Laporan Status Kelas dan berikan kepada Pusat Komando Kejadian (Incident Command Center) melalui peserta didik yang sudah ditugaskan. 5. Ingatkan peserta didik mengenai prosedur memulangkan peserta didik dan prosedur aman penyatuan kembali (reunifikasi) keluarga serta maksud dari prosedur-prosedur ini, yaitu untuk menjaga keselamatan peserta didik. Ingatkan mereka untuk tidak menggunakan ponsel mereka untuk menjaga agar jalur komunikasi bisa digunakan untuk pembicaraan darurat. Untuk komunikasi darurat, hanya gunakan SMS. Jaga agar peserta didik tetap memiliki kesibukan misalnya dengan membantu di tempat berkumpul keadaan darurat, dan tetap tenang saat peserta didik dipulangkan (atau sampai ada tanda “Kondisi Aman” dan kembali ke kelas). 6. Jika Anda menjadi anggota tim SAR, tim P3K atau tim Pengendalian Kebakaran, minta agar guru di kelas sebelah membantu mengawasi kelas Anda dan segeralah menuju ke Pusat Komando Kejadian (Incident Command Center). 7. Guru-guru harus tetap bersama dengan peserta didik kelasnya setiap saat. Para peserta didik harus tetap duduk bersama per kelas. Secara berkala, lakukan presensi terhadap peserta didik yaitu memanggil nama peserta didik satu per satu untuk memeriksa keberadaan mereka. Jaga agar peserta didik tetap tenang sehingga mereka bisa mendengar pengumuman. Peserta didik hanya boleh meninggalkan (area) sekolah jika didampingi oleh petugas (guru atau tenaga kependidikan lain) yang ditunjuk. Pusat Komando Kejadian (Incident Command Center) akan memberikan informasi terbaru dan akan membebastugaskan guru dan tenaga kependidikan lain. Catatan: Semua orang yang tidak memiliki tugas atau kelas khusus harus segera melapor kepada Pusat Komando Kejadian (Incident Command Center) untuk mendapatkan instruksi. Semua tenaga kependidikan yang tidak memiliki kelas harus segera menuju tempat berkumpul untuk membantu mengawasi peserta didik. Evakuasi ke Tempat Aman: Semua sekolah wajib untuk memiliki tempat berkumpul alternatif jika ternyata harus dilakukan evakuasi dari area sekolah (termasuk keluar dari halaman sekolah). Identifikasikan rute evakuasi jauh hari sebelumnya, dan beri tahu orang tua murid mengenai lokasi alternatif ini. Sekolah-sekolah yang menghadapi risiko yang sudah dikenal seperti misalnya banjir, tanah longsor, aliran reruntuhan/ puing dan bahan kimia, serta tsunami, ataupun sekolah yang tidak memiliki tempat aman untuk berkumpul di lingkungan sekolah, wajib mengusahakan dan mempersiapkan tempat aman – termasuk penyediaan perlengkapan kebencanaan – jauh hari sebelumnya. Jika memungkinkan, persiapkan juga sarana transportasi (berikut pengaturannya) untuk menuju ke tempat aman. Tergantung dari jenis bahaya yang dihadapi, tindakan evakuasi ke tempat aman dapat terjadi secara otomatis (misalnya menyusul kejadian gempa di daerah pantai yang memiliki bahaya tsunami), atau bisa juga menunggu dilakukannya evaluasi oleh Komandan Kejadian bersama tim pengkajian yang berada di lokasi.


BIRO PERENCANAAN DAN KERJASAMA LUAR NEGERI, SEKRETARIAT JENDERAL KEMENDIKBUD - Tahun 2015 27 Kembali ke Tempat: Ada juga saatnya ketika diperlukan untuk kembali ke dalam (sekolah atau kelas), karena di dalam lebih aman daripada di luar. Latih evakuasi kembali ke tempat di akhir latihan simulasi, saat semua harus kembali ke ruang kelas, dengan mengikuti semua peraturan. PERHATIAN: SELALU ASUMSIKAN DAN BERTINDAK SEOLAH TANDA BAHAYA DIBUNYIKAN KARENA BAHAYA MEMANG (SEDANG) TERJADI. Tanpa melihat apakah tanda bahaya dibunyikan karena situasi bahaya memang nyata terjadi, atau karena sedang latihan, atau bahkan karena merupakan tanda bahaya palsu, tuntutan keselamatan mengharuskan Anda untuk bertindak sebagaimana jika situasinya adalah nyata! Prosedur Perlindungan-di-Tempat Anda mungkin diminta untuk berlindung-di-tempat saat bahaya justru berada di luar sekolah yang menghalangi pemulangan peserta didik secara normal, misalnya karena cuaca yang sangat buruk ataupun banjir, kecelakaan teknologi (biologi, kimia, dll.) ataupun serangan teroris. Berlindung-di-tempat menjadi lebih sesuai saat tindakan evakuasi tidak mungkin dijalankan, atau saat tidak tersedia banyak waktu untuk melakukan evakuasi. Pengumuman harus dilakukan di seluruh (bagian) sekolah dengan menggunakan prosedur pengumuman yang berlaku di sekolah atau dapat juga dengan pengumuman tatap muka. Administrasi: Aktivasi Sistem Komando Kejadian (Incident Command System) bilamana diperlukan. Umumkan kepada peserta didik dan tenaga kependidikan lain untuk tetap tinggal (di sekolah), atau kembali ke area perlindungan di dalam sekolah. Tutup semua pintu dan jendela, jika diperlukan. Tutup sistem ventilasi, jika diperlukan. Monitor/ pantau dan beri informasi terbaru dan instruksi begitu tersedia. Umumkan “Kondisi Aman” saat situasi darurat sudah berakhir. Tenaga kependidikan: 1. Segera kosongkan aula dari peserta didik dan tenaga kependidikan dan melapor ke ruang kelas atau lokasi perlindungan yang sudah ditunjuk yang tersedia di dalam lingkungan sekolah. 2. Para guru harus membawa tas-siap-bawa (go-bag) atau kotak-siap-bawa (go-bucket) darurat dan buku catatan atau clipboard darurat. 3. Bantu mereka yang berkebutuhan khusus. 4. Tutup semua jendela dan pintu serta kunci pintu masuk/ gerbang, jika diperlukan. 5. Segel ruangan untuk menghalangi masuknya udara dari luar, matikan pendingin ruangan, tutup ventilasi, jika diperlukan. 6. Periksa kehadiran semua peserta didik (per kelas) dan berikan Form Laporan Status Kelas kepada Komandan Kejadian saat kondisi sudah dirasa aman. 7. Nyalakan radio/ TV (jika ada) dan pantau untuk mendapatkan informasi maupun instruksi lebih lanjut. 8. Minta peserta didik untuk meninggalkan ponsel mereka di meja. Umumnya saat keadaan darurat, penting untuk menjaga agar jalur komunikasi bisa digunakan untuk pembicaraan darurat. Jaga agar peserta didik tetap memiliki kesibukan misalnya dengan membantu di tempat berkumpul keadaan darurat, dan tetap tenang saat peserta didik dipulangkan (atau sampai ada tanda “Kondisi Aman” dan kembali ke kelas). 9. Tetap berada di tempat sampai diinstruksikan lebih lanjut oleh yang berwenang di sekolah. 10.Buatlah jadwal untuk belajar, berekreasi, makan dan tidur.


MODUL 2 PILAR 2 - MANAJEMEN BENCANA DI SEKOLAH 28 Prosedur Mengunci-Diri Mengunci-diri diperlukan saat ada penyusup masuk ke lingkungan sekolah dengan kekerasan atau orang masuk dengan membawa senjata, jika timbul bahaya kekerasan atau kondisi darurat lain muncul di dalam ataupun di luar sekolah, dan jika melakukan evakuasi atau pindah ke tempat lain menjadi sebuah tindakan yang berbahaya. Tanda bahaya berupa sirene atau alarm yang keras bunyinya harus digunakan sebagai tanda untuk segera melakukan penguncian. Administrasi: Aktifkan tanda penguncian (diri) dan umumkan “Perhatian – Ada penyusup di dalam bangunan. Lakukan Prosedur Mengunci-Diri”. Jangan mengaktifkan tanda bahaya kebakaran! Berlindung. Aktivasi Komando Kejadian dan bersiaplah untuk mengalihkan komando kepada pihak kepolisian atau kepada pihak yang berwenang untuk menjaga keselamatan umum. Pantau situasinya. Kaji ulang dan berikan informasi terbaru serta instruksi saat tersedia. Pihak yang berwenang untuk menjaga keselamatan umum akan mengembalikan komando kepada pihak sekolah saat keadaan dirasa sudah aman. Setelah kejadian, beritahu peserta didik dan orang tua peserta didik, sebagaimana mestinya, dengan mengalokasikan waktu untuk melakukan peninjauan dan diskusi. Tenaga kependidikan: 1. Kumpulkan peserta didik ke dalam kelas, jaga untuk tetap tenang. Usahakan untuk memperingatkan staf pengajar dan tenaga kependidikan lain, peserta didik dan pengunjung untuk segera berlindung. Jika Anda berada di luar bangunan, segera menuju ke tempat yang aman, yang jauh dari ancaman. 2. Tutup dan kunci pintu dari dalam ruang. Jaga untuk tetap tidak terlihat dan menjauhlah dari pintu dan jendela. Jika memungkinkan, gulingkan meja yang tersedia sehingga bisa menjadi perisai pelindung kita dengan mengarah ke gang di luar kelas dan/ atau jendela. 3. Instruksikan murid untuk Menjatuhkan diri dan Berlindung di balik meja serta membuat diri mereka sekecil mungkin agar tidak bisa menjadi sasaran. Jangan menutup bagian luar jendela (untuk jendela yang memiliki daun jendela rangkap). 4. Matikan lampu dan matikan radio atau perangkat lain yang bisa mengeluarkan suara. Semua ponsel harus dibuat tidak bersuara. 5. Tetap tinggal di tempat sampai diberi instruksi oleh polisi atau pihak berwenang di sekolah secara langsung. 6. Ikuti instruksi untuk meneruskan kegiatan belajar mengajar di kelas dan/ atau gunakan prosedur Pemulangan Peserta didik saat Situasi Bencana atau Darurat. Prosedur Aman Penyatuan Kembali (Reunifikasi) Keluarga Prosedur pemulangan peserta didik saat situsi bencana atau darurat dimaksudkan untuk memastikan bahwa peserta didik dan keluarga benar-benar bisa bertemu kembali dengan aman, setelah sebelumnya terjadi kondisi tidak aman atau tidak biasa. Di saat terjadinya suatu kondisi darurat atau bencana, peserta didik di bawah umur 16 tidak boleh mendapat ijin untuk meninggalkan sekolah kecuali dengan didampingi oleh orang dewasa yang sudah disetujui oleh orang tua atau wali siswa tersebut. Orang tua peserta didik: Berikan dan perbaharui Daftar Kontak Darurat untuk anak Anda. Daftar ini harus berisi orang tua peserta didik ataupun walisiswa dan dua sampai tiga anggota keluarga ataupun teman keluarga yang dipercayai yang tinggal dekat atau yang dapat menjemput peserta didik saat kondisi darurat. Saat terjadi keadaan darurat ataupun bencana, peserta didik hanya akan diserahkan kepada


BIRO PERENCANAAN DAN KERJASAMA LUAR NEGERI, SEKRETARIAT JENDERAL KEMENDIKBUD - Tahun 2015 29 orang yang namanya ada di dalam daftar tersebut atau diberi kewenangan oleh orang yang berada di dalam daftar tersebut. Administrasi: Pastikan bahwa Daftar Kontak Darurat untuk setiap peserta didik sudah diperbaharui oleh orang tua peserta didik di awal tahun ajaran baru, dan dapat diperbaharui lagi oleh orang tua peserta didik kapan saja. Simpan salinan Kontak Darurat peserta didik di Kotak-Siap-Bawa (Go-Box) dan setiap awal tahun ajaran baru di Kotak Perlengkapan Darurat Sekolah. Guru: Pastikan bahwa baik peserta didik maupun orang tua peserta didik paham betul akan prosedur pelepasan (pemulangan) peserta didik di kondisi darurat dan bencana. Tim Penyatuan Kembali (Reunifikasi): Sambut orang tua peserta didik dan mereka yang namanya ada di dalam kontak darurat di gerbang (sekolah) yang sudah ditentukan, dan berikan kepada mereka Form Penyatuan Kembali Peserta Didik dengan Keluarga (Ijin untuk Melepaskan/ Memulangkan Peserta Didik) untuk diisi. Lakukan verifikasi untuk memastikan bahwa orang dewasa yang menjemput memang tercatat di dalam Daftar Kontak Darurat dan juga lakukan verifikasi terhadap identitas penjemput. Simpan salinan Form Penyatuan Kembali Peserta Didik dengan Keluarga untuk menanggapi permintaan apapun. Organisasikan fungsi permohonan dan penyatuan kembali demi efisiensi dan keamanan yang maksimum. Prosedur Tanggap Darurat untuk Bahaya Khusus Umum: Registrasi pengunjung: Untuk melindungi pengunjung dari semua bahaya, dan untuk melindungi peserta didik dan tenaga kependidikan dari pengacau/ penyusup, sekolah harus memiliki satu pintu masuk dan sistem registrasi dengan label nama (name-tag) untuk pengunjung, sehingga tenaga kependidikan dan peserta didik akan tahu jika ada orang yang tidak dikenal berada di dalam area sekolah. Komunikasikan peraturan ini secara luas dan bantu pengunjung saat proses registrasi. Panggilan darurat: Saat menghubungi polisi, ambulans, petugas pemadam kebakaran atau petugas darurat lainnya, bersiaplah untuk menjelaskan APA, KAPAN, DI MANA terjadi, SIAPA Anda dan BAGAIMANA cara menghubungi Anda kembali. Jangan putuskan pembicaraan telpon sebelum diminta. Untuk keselamatan pribadi sebaiknya anda memasukkan nomor telpon keluarga dekat setelah nama “ICE” di ponsel Anda. “ICE” merupakan istilah universal untuk “Dalam Keadaan Darurat” (“In Case of Emergency”). Darurat Medis: Sediakan layanan medis secepatnya dan panggil ambulans bila diperlukan. Ancaman Kekerasan Insiden kekerasan di sekolah tidak terjadi secara impulsif, acak, ataupun epidemik. Di banyak kejadian, sebelum terjadi insiden, si penyerang menginformasikan orang lain mengenai ide ataupun rencananya. Tidak ada profil yang akurat dari seorang penyerang. Banyak dari mereka, tetapi tidak semua, merupakan peserta didik memiliki kesulitan sosial, dan terdapat banyak motivasi bagi terjadinya kekerasan. Pencegahan dapat dicapai dengan membangun iklim rasa percaya dan menghargai antara peserta didik dan orang dewasa. Sekolah harus menyediakan ruang untuk diskusi terbuka di mana keragaman dan perbedaan diperbolehkan, serta komunikasi didorong dan didukung. Perhatian harus diberikan pada kebutuhan sosial dan emosional peserta didik, selain kebutuhan akademik.


MODUL 2 PILAR 2 - MANAJEMEN BENCANA DI SEKOLAH 30 Setiap kali sebuah ancaman dilakukan, jangan abaikan, dan jangan juga bereaksi berlebihan. Ancaman kekerasan bisa: langsung – tindakan khusus terhadap sasaran khusus diidentifikasikan dalam tingkah laku yang jelas dan gamblang; tidak langsung – kekerasan yang samar, tidak jelas, ambigu ataupun tersirat; terselubung – ancaman tersirat tapi tidak secara eksplisit; kondisional – peringatan, jika persyaratan tidak terpenuhi (misalnya pemerasan). Tim kajian yang terlatih secara professional mungkin perlu mengevaluasi apakah ancaman tersebut berisiko rendah, menengah ataupun tinggi, dengan mempertimbangkan perilaku peserta didik, kepribadiannya, sekolah, sosial, dan dinamika keluarganya. • Jika ada orang yang mencurigakan atau tidak dikenal: Jika dirasa merupakan ancaman, minta seorang rekan untuk segera membantu. Jika Anda merasa terancam, percayalah pada perasaan Anda. Jaga jarak. Gunakan bahasa verbal yang asertif dan bahasa tubuh yang kuat. Panggil polisi jika diperlukan. Minta untuk segera dilakukan Penguncian-diri (lockdown) jika diperlukan. • Jika menghadapi penindasan (bullying): Budaya sekolah tidak boleh mentoleransi penindasan dan siapapun yang menyaksikan atau mengalami penindasan harus merasa nyaman untuk melaporkannya dan paham bahwa orang dewasa akan melakukan upaya tindak lanjut. Intervensi dukungan dari keluarga mungkin diperlukan baik untuk korban maupun pelaku penindasan. Untuk informasi lebih lanjut, lihat http://www.stopbullyingnow.hrsa.gov/kids/ atau http://id.theasianparent.com/si-penindas-di-kelas/ • Jika terjadi perkelahian di antara peserta didik: Panggil atau kirim seseorang ke Ruang Kepala Sekolah atau Ruang Guru. Anda tidak diharuskan untuk memisahkan secara fisik. Identifikasi (sebut nama) diri Anda dan instruksikan pihak yang berkelahi untuk berhenti. Panggil nama mereka, instruksikan para penonton untuk menyingkir. Ingat kejadiannya untuk laporan yang runtut. Kirim tenaga kependidikan untuk mengendalikan dan membubarkan para penonton. • Jika ada orang yang membawa senjata: Hubungi atau kirim seseorang ke Ruang Kepala Sekolah atau Ruang Guru. Anda tidak diharuskan untuk mengintervensi secara fisik. Jaga untuk tetap tenang. Usahakan untuk tidak bertindak apapun yang dapat memicu penembakan aktif. Ancaman bisa berisiko tinggi, menengah ataupun rendah tergantung oleh banyak faktor. Seorang tenaga kependidikan harus menghubungi polisi dan menjelaskan situasinya: misalnya kondisi statis (penyusup terhalang di suatu area) atau dinamis (penyusup bergerak bebas), apakah terdapat tenaga kependidikan atau peserta didik yang terluka, jumlah, lokasi dan deskripsi mengenai penyusup. Juga laporkan peralatan yang mencurigakan, dengan deskripsi dan lokasinya. • Jika terdapat ancaman bom: Tetap tenang. Jaga agar penelpon ancaman tetap berbicara. Jangan membuat penelpon menjadi jengkel. Indikasikan kemauan Anda untuk bekerjasama. Jangan mengaktifkan tanda bahaya kebakaran. Beri isyarat tanpa suara kepada rekan kerja untuk segera memanggil polisi. Buat agar si penelpon untuk berbicara sebanyak mungkin tanpa interupsi. Catat apapun yang dikatakan oleh penelpon termasuk observasi terhadap suara latar, karakteristik suara, bahasa, dll. Tanyakan pertanyaan yang spesifik sebanyak mungkin. Saat akan menutup telpon segera aktifkan pelacak nomor telpon (caller ID) jika tersedia. Bicara ke polisi. Tulis semuanya. Polisi akan memberikan saran jika evakuasi dari bangunan harus dilakukan. Jika harus dilakukan, bagian administrasi harus mengumumkan Evakuasi dari Bangunan. Tenaga kependidikan harus melakukan pemeriksaan secara visual terhadap ruang kelas atau daerah sekitar.


BIRO PERENCANAAN DAN KERJASAMA LUAR NEGERI, SEKRETARIAT JENDERAL KEMENDIKBUD - Tahun 2015 31 Apapun yang sepertinya mencurigakan harus segera dilaporkan tapi jangan disentuh. Siapapun di sekolah tidak boleh memegang, mencari, atau memindahkan benda yang dicurigai sebagai bom. Guru kelas harus segera melakukan evakuasi dari benda atau area yang dicurigai. Jangan gunakan radio, HT/ walkie-talkie atau ponsel untuk mencegah terpicunya perangkat ledak secara tidak sengaja. Tenaga kependidikan yang berada di dekat kompor, peralatan dan pipa gas harus segera mematikan atau menutupnya. Jangan kembali ke bangunan sekolah sampai polisi, personel pemadam kebakaran atau bagian administrasi memberikan tanda “Kondisi Aman”. • Saat sedang dalam perjalanan: Saat sedang menuju ke atau dari sekolah, untuk mengurangi kerentanan terhadap kemungkinan terjadinya kekerasan, tenaga kependidikan dan peserta didik sebaiknya menggunakan rute yang terbuka dan tidak berbahaya. Berjalanlah secara asertif dan selalu waspada dengan situasi di sekeliling, dan terutama di malam hari selalu berjalan bersama seorang teman atau pendamping. Terdapat beberapa situasi khusus di mana pihak berwenang menyarankan orang-orang untuk memvariasikan rute perjalanan mereka, untuk menghindari dari dijadikan sasaran penyerangan. Hindari bahaya dengan berjalan cepat. Berteriaklah dengan keras untuk meminta bantuan. Bermacam jenis patroli profesional maupun patroli lingkungan bisa meningkatkan keamanan personal. Kebakaran • Jika Anda melihat kebakaran: Matikan api kecil dengan pemadam kebakaran yang tersedia atau tutupi sumber api dengan selimut. Untuk perangkat pemadam kebakaran yang modern, ingat langkah ini: Tarik komponen pengaman dari pegangannya. Arahkan ke dasar kobaran api. Tekan tombol pemicu. Arahkan perangkat dari sisi satu ke sisi lainnya di dasar kobaran api. Tutup sumber pemicu kebakaran jika aman untuk dilakukan (misalnya gas). Aktivasi tanda bahaya kebakaran. Beri tahu yang lain. Hubungi nomor telpon darurat dan laporkan lokasi kebakaran. Evakuasi dari bangunan. Tutup pintu dan jendela. • Jika mendengar tanda bahaya kebakaran: Anggap bahwa bunyi tersebut memang untuk kejadian darurat yang benar terjadi. Ikuti prosedur evakuasi dari bangunan. Jangan membuka pintu tertutup tanpa memeriksa apakah hawa panas. Jangan membuka pintu yang panas. • Jika terperangkap dalam asap: Berlututlah dan merangkak ke luar. Ambil nafas pendek melalui hidung. Tahan nafas selama mungkin. Gunakan lap basah untuk menutup mulut dan hidung. • Jika terperangkap dalam ruang karena kebakaran di luar ruang: Halangi masuknya asap dengan menggunakan lap basah yang disumpal ke bawah (di sela) pintu. Lakukan terhadap pintu-pintu lain. Beri isyarat dan informasikan lokasi Anda melalui telpon. • Jika seseorang atau bajunya terbakar: Berhenti di tempat Anda berada. Segera jatuhkan diri ke lantai. Berguling. Jika orang lain yang terbakar, dorong mereka ke lantai, gulingkan mereka dan/ atau tutupi dengan selimut, karpet atau mantel.


MODUL 2 PILAR 2 - MANAJEMEN BENCANA DI SEKOLAH 32 Gempa Selama gempa berlangsung: Saat gempa mulai terjadi, instruksikan dengan keras “Posisi gempa: Berlutut, Lindungi dan Bertahan”. (Di daerah dengan risiko tsunami, mulailah berhitung – yang dimaksud dengan berhitung “satu – seribu, dua – seribu, tiga – seribu…” yang dihitung adalah lamanya guncangan untuk memeriksa apakah gempat tersebut gempa besar). Saat guncangan berhenti, lakukan evakuasi ke luar bangunan, menjauh dari bangunan. • Di kelas, orang yang terdekat dengan lokasi pintu harus segera membuka pintu lebar-lebar. Siapapun yang berada dekat dengan sumber kobaran api harus mematikannya. JATUH berlutut dan buat diri Anda sekecil mungkin. LINDUNGI kepala, leher dan muka Anda. POSISI-kan di bawah meja yang kokoh untuk melindungi kepala dan leher dan juga sebanyak mungkin bagian tubuh anda. BERTAHAN-lah sambil berpegangan pada benda yang melindungi Anda. Menjauhlah dari perabot atau peralatan yang tinggi dan berat, dan yang membuat lebih panas lagi. • Untuk kursi roda, kunci rodanya dan ambil “posisi bertahan” dengan melindungi kepala dan leher. Jika berada di tempat duduk di stadion, ambil posisi bertahan di kursi Anda. • Di laboratorium dan di dapur matikan kompor dan tutup tempat material berbahaya dan/ atau pindahkan dari lokasi berbahaya. Menjauhlah dari kompor panas, lemari yang menjadi panas dan dari materi berbahaya yang mungkin dapat tumpah. • Di tempat terbuka di mana tidak ada tempat berlindung, bergeraklah menuju dinding dalam dan menjauh dari bahaya kejatuhan dan bahaya di atas kita. Berlutut, Lindungi dan Bertahan, lindungi kepala dan leher dengan lengan Anda. • Di perpustakaan, bengkel, tempat pertunjukkan dan di dapur, menjauhlah dari lemari, (tumpukan) buku-buku dan peralatan lain jika memungkinkan. • Di tempat duduk di stadion: Ambil “posisi bertahan” sampai guncangan berhenti. Ikuti instruksi pemandu untuk proses evakuasi yang teratur. • Di luar menjauhlah dari bangunan, dinding, kabel listrik, pohon, tiang listrik dan bahaya lain. Berlututlah dan lindungi kepala dan leher Anda. • Di dalam kendaraan antar jemput sekolah, pengemudi harus menepi dan menghentikan kendaraan, menjauh dari bahaya yang terdapat di atas kepala. Ambil “posisi bertahan”. Saat guncangan lanjutan sedang terjadi: Ambil tindakan perlindungan yang sama dengan tindakan perlindungan saat guncangan awal. Saat guncangan sudah berhenti: Dalam kasus gempa dengan skala sedang atau berat, sebelum meninggalkan ruangan, periksa sekeliling Anda untuk melihat apakah ada yang terluka. Lakukan pertolongan untuk menyelamatkan nyawa (buka saluran nafas, menghentikan pendarahan, dll.). Minta peserta didik untuk membantu merawat yang terluka ringan. Jika ada yang terluka parah ataupun terperangkap di reruntuhan, buat agar mereka menjadi lebih nyaman. Beri mereka peluit dan benda yang membuat


BIRO PERENCANAAN DAN KERJASAMA LUAR NEGERI, SEKRETARIAT JENDERAL KEMENDIKBUD - Tahun 2015 33 mereka nyaman, dan tentramkan mereka dengan menginformasikan bahwa team SAR akan segera membantu mereka. Jika tinggal di tempat ternyata membahayakan, orang-orang yang terluka dan tidak dapat berjalan harus dipindahkan dengan hati-hati. Buatlah api unggun kecil. Lihat sekeliling selama 10 detik dan buatlah catatan di dalam hati mengenai kerusakan dan bahaya untuk kemudian dilaporkan. Beri tanda di pintu kelas Anda dengan tulisan hijau “Semua Sudah Di Luar” atau tulisan merah “TOLONG/ BERBAHAYA”. Tinggalkan ruang kelas tanpa dikunci. Periksa rute keluar yang aman dan dengan hati-hati lakukan evakuasi dari bangunan, menjauh dari bangunan. Tsunami • Untuk tsunami yang terjadi dalam jarak dekat: Peringatannya berupa gempa yang sangat kuat guncangannya, tidak seperti gempa yang pernah Anda alami. • Untuk tsunami yang terjadi dalam jarak menengah: Peringatannya berupa gempa yang guncangannya berlangsung sekitar 40 detik atau lebih. • Untuk tsunami yang terjadi dalam jarak jauh: Peringatannya datang dari lembaga-lembaga internasional dan sistem peringatan dini nasional melalui TV, radio, pengeras suara, dan megafon. Perhatikan/ simak peringatan ini sampai ada pengumuman bahwa peringatan sudah dicabut atau bahaya sudah lewat. Di semua kasus: segera lakukan evakuasi ke tempat yang lokasinya lebih tinggi yang sebelumnya telah ditetapkan sebagai tempat aman di lokasi yang tinggi dan jauh dari bibir pantai, atau ke tempat evakuasi vertikal. Badai Ikuti instruksi peringatan dini. Berlindung-di-Tempat. • Jika berada di dalam ruangan: Jauhkan diri dari semua telepon. Jalur telepon dapat menghantarkan listrik. Cabut kabel TV, komputer dan perangkat lain. Petir dapat menyebabkan lonjakkan daya listrik dan mengalir melalui jalur listrik. Menjauhlah dari air yang mengalir dari keran, bak cuci dan bak mandi. Listrik dari petir dapat masuk melalui saluran perpipaan. Tutup jendela, dan menjauhlah dari jendela. Dengarkan peringatan cuaca melalui radio yang menggunakan baterai. Segera patuhi saran. • Jika berada di luar ruang/ bangunan: Lakukan perencanaan sebelumnya. Tahu ke mana harus pergi jika topan badai terjadi tanpa diharapkan. Pantau kondisi cuaca dan bersiaplah untuk melakukan tindakan secepatnya untuk mencapai tempat aman sebelum topan badai tiba. Jika sedang berperahu atau berenang, segera kembali ke daratan, jauhi pantai dan cari tempat aman secepatnya. Jauhkan diri dari air, yang dapat menghantarkan listrik dari petir. Berlindunglah di tempat yang lebih permanen dan tertutup, seperti misalnya bangunan yang diperkuat. Jika tidak ada bangunan yang strukturnya diperkuat, masuk ke dalam mobil atau bis, jaga agar jendela tertutup. Jaga agar tangan Anda tetap berada di pangkuan dan kaki tidak menyentuh lantai. Jika sedang berada di hutan, cari area yang terlindung oleh rumpunan pohon yang rendah. Jangan berdiri di bawah pohon besar yang tumbuh sendirian di tempat terbuka. Sebagai tindakan terakhir, tujulah dataran yang rendah dan terbuka. Jangan berdiri di bawah benda yang tinggi – pohon, menara, pagar, tiang telepon atau tiang listrik. Waspada terhadap potensi banjir di daerah dataran rendah.


MODUL 2 PILAR 2 - MANAJEMEN BENCANA DI SEKOLAH 34 • Dalam kasus hujan es: Tempat paling aman adalah dengan berada di dalam bangunan, jauh dari jendela, dengan penutup yang terkunci. Jika berada di dalam kendaraan, tetaplah berada di dalam kendaraan dan jauhkan diri sebisa mungkin dari jendela. Merunduklah dan tutupi kepala dengan lengan. Jika berada di luar, gunakan lengan dan tas untuk melindungi kepala dan bergeraklah ke tempat terlindung. • Jika merasakan atau melihat kilat: (Catatan: jika Anda merasa bahwa rambut menjadi berdiri, kilat akan segera terjadi.) Berjongkok serendah mungkin dengan bertumpu di tumit kaki sehingga muatan listrik dapat kembali mengalir ke tanah. Tutupi telinga dengan tangan Anda dan merunduklah. Buat diri Anda sekecil mungkin. Jangan berbaring di tanah! • Jika petir menyambar seseorang: Minta pertolongan. Minta seseorang untuk memanggil pertolongan medis. Seseorang yang terkena sambaran petir memerlukan perhatian medis secepat mungkin. Berikan pertolongan pertama. Jika orang tersebut berhenti bernafas, langsung berikan nafas buatan (jika Anda terlatih). Jika detak jantung orang tersebut berhenti, orang lain yang sudah terlatih untuk memberikan resusitasi jantung dan paru-paru (RJP atau CPR) harus melakukannya. Lihat dan rawat luka-luka yang mungkin terjadi dan periksa apakah terjadi luka bakar. Pindahkan korban ke tempat yang lebih aman. Ingat, orang yang tersambar petir tidak membawa listrik, dan mereka dapat ditangani dengan aman. Banjir Ikuti instruksi peringatan dini. Lakukan evakuasi ke tempat yang lebih tinggi atau lakukan Perlindungan-diTempat. • Banjir yang terjadi dengan lambat: Memberikan waktu untuk melakukan evakuasi sebelum banjir datang, menyimpan dan melindungi catatan/ dokumen penting dan peralatan elektronik sebaik mungkin. Ambil tindakan normal untuk evakuasi dari bangunan dan tujulah tempat aman. • Banjir yang datang dengan tiba-tiba atau banjir bandang: Lakukan evakuasi secepat mungkin. Relokasi atau pindah ke tempat aman di bagian tertinggi dari bangunan dengan membawa Tas-Siap-Bawa ataupun Kotak-Siap-Bawa dan Clipboard atau Buku Catatan Darurat. JANGAN mencoba untuk mengarungi banjir dengan ketinggian berapa pun. JANGAN mencoba meninggalkan bangunan dengan menggunakan mobil. Jika harus melakukan evakuasi, pakailah jaket-penyelamat (yang bisa menjadi pelampung) ataupun peralatan pelampung lainnya. Pelepasan Bahan Berbahaya Lakukan evakuasi dengan melawan angin ke Tempat Aman atau Berlindung-di-Tempat, tutup dan sumbat jendela serta saluran udara. • Tumpahan bahan kimia atau bahan mencurigakan lainnya: Jika memungkinkan, batasi tumpahan dari sumbernya dan tampung tumpahannya. Matikan peralatan. Lakukan evakuasi segera ke daerah sekitar. Jika bahaya meluas melebihi daerah sekitar, aktifkan tanda bahaya kebakaran dan ikuti Prosedur Evakuasi dari Bangunan dan Berkumpul. Orang yang menjadi saksi pertama dari tumpahnya materi berbahaya dapat menelpon nomor darurat dan memberikan informasi mengenai materi tersebut dan lokasi kejadian, berikut jumlah orang di tempat kejadian. • Kebocoran gas: Jangan nyalakan tanda bahaya kebakaran – karena dapat menyebabkan ledakan. Tinggalkan lokasi dan hubungi nomor telepon darurat. Keluarkan peringatan dengan menggunakan


BIRO PERENCANAAN DAN KERJASAMA LUAR NEGERI, SEKRETARIAT JENDERAL KEMENDIKBUD - Tahun 2015 35 sistem pengumuman bagi umum atau dengan cara mengumumkan dari pintu-ke-pintu. Lakukan evakuasi dengan mengikuti Prosedur Evakuasi dari Bangunan dan Berkumpul. • Ledakan: Jatuhkan diri dan berlindung di bawah meja atau perabot lain yang dapat melindungi diri dari potongan kaca dan reruntuhan yang terbang. Begitu dirasa aman, hubungi nomor darurat dan segera laporkan terjadinya ledakan. Buka pintu untuk memberikan jalan keluar, jika bangunan rusak. Jauhkan diri dari tembok luar dan area di mana terdapat potongan kaca yang besar dan/ atau benda berat yang ditopang ala kadarnya. Bersiaplah untuk instruksi lebih lanjut yang diberikan oleh komandan kejadian. Lembaga atau organisasi yang melakukan respon dengan menggunakan Sistem Komando Kejadian (Incident Command Systems) Kapasitas melakukan tanggap darurat melibatkan pengetahuan, prosedur, keterampilan dan pemilikan barang darurat. Aspek terpenting dari kapasitas merespon adalah pengorganisasian dan mobilisasi keterampilan dan sumber daya yang ada. Sebuah sistem standar pengelolaan kedaruratan, seperti Sistem Komando Kejadian (Incident Command System – ICS) yang digambarkan dalam diagram berikut, dapat digunakan sebagai kerangka kerja pedoman bagi koordinasi untuk banyak fungsi standar yang mungkin akan digunakan dalam situasi berbagai kedaruratan. Bagaimana aplikasinya di situasi sekolah tergantung dari ukuran sekolah, jumlah orang dewasa (tenaga kependidikan dan relawan dari lingkungan sekitar, peserta didik yang lebih senior yang sudah dilatih untuk membantu). Dengan memahami beragam fungsi yang penting setelah terjadinya sebuah bencana, maka akan tergantung dari “komandan kejadian” (biasanya kepala sekolah atau orang yang ditunjuk) untuk memobilisasi semua orang agar dapat memenuhi semua tugas yang harus dilakukan. Semua orang akan memiliki pemahaman yang jelas mengenai di mana pekerjaan dan keterampilan mereka dapat digunakan. Maka dari itu penting untuk mengidentifikasikan pemimpin tim dan alternatifnya jauh hari sebelum sebuah bencana terjadi. Gunakan Matriks Tim Respon Sistem Komando Kejadian (ICS Response Team Matrix) untuk mencatat penugasan kepemimpinan dan tim. 2.3.2.2. Sistem Komando Kejadian (Incident Command Systems atau ICS) Tujuan dari ICS adalah untuk memastikan bahwa semua bantuan dapat menjangkau mayoritas orang yang terdampak, dan untuk menyediakan sistem yang konsisten sehingga tenaga kependidikan, peserta didik, dan personel kedaruratan dapat menggunakannya baik di sekolah, maupun di mana saja. Prinsip utamanya adalah: • Standardisasi – menggunakan istilah yang umum digunakan (dan tanpa kode) • Alur komando yang terpadu agar sumber daya dapat dialokasikan untuk efektivitas yang maksimal • Organisasi yang fleksibel dan modular, sehingga dapat dimobilisasi sesuai kebutuhan, dan • Komunikasi yang terintegrasi Terdapat lima fungsi utama di dalam ICS yang dapat dimobilisasi sesuai kebutuhan bagi situasi tertentu. Kelima fungsi ini membentuk pendekatan umum untuk mengatur respon terhadap keadaan darurat atau bencana. Tergantung dari jumlah tenaga kependidikan dan relawan yang dapat dipercaya atau ketersediaan peserta didik yang lebih senior dan terlatih, beberapa orang mungkin akan memiliki banyak peran.


MODUL 2 PILAR 2 - MANAJEMEN BENCANA DI SEKOLAH 36 Komando Kejadian: Merupakan para Pembuat-Keputusan (bertanggung jawab untuk atau menentukan misi respon/ tanggap darurat). Walaupun seseorang di sekolah mungkin ditunjuk sebagai “Manajer Kedaruratan” di situasi normal, dalam situasi darurat atau bencana yang nyata, “Komandan Kejadian” adalah orang yang paling memiliki kapasitas di lokasi kedaruratan, sampai fungsi tersebu ditransfer kepada orang yang lebih memiliki kemampuan atau kepada otoritas yang lebih tinggi. Bahkan jika di situasi normal orang tersebut adalah Kepala Sekolah atau Wakil Kepala Sekolah, beberapa orang yang berlainan sebaiknya berlatih untuk memegang peran ini, karena ada kemungkinan saat kedaruratan atau bencana nyata terjadi, mereka dapat atau tidak dapat menjalankan fungsi itu. Tim Komunikasi: Mereka adalah para Komunikator (pendengar dan pembicara). Tim komunikasi merupakan tangan kanan dari Komandan Kejadian, yang membangun hubungan dengan otoritas administrasi pendidikan, keamanan umum, dan manajemen kedaruratan, serta dengan para orang tua peserta didik dan pihak umum, dengan arahan dari Komandan Kejadian. Saat sistem komunikasi beroperasi beberapa informasi dapat disebarkan dengan menggunakan sistem pohon telpon (phone tree), dan pengumuman radio. Dalam kebencanaan berskala besar, komunikasi utama adalah dengan para peserta didik (biasanya dilakukan oleh Kepala Sekolah atau Wakil Kepala Sekolah, dengan menggunakan megafon untuk berkomunikasi) dan dengan orang tua peserta didik untuk antisipasi proses penyatuan kembali para peserta didik. Cabang (tim/ bagian) Operasi: Mereka adalah para Pelaksana (yang menjalankan operasi respon). Bagian ini memerlukan seorang Kepala Bagian Operasi yang sangat sistematis dan dihargai, yang akan mengelola tim untuk memenuhi: operasi SAR ringan, upaya pemadaman api dan pengendalian material berbahaya, mematikan jaringan listrik, upaya pertolongan pertama saat bencana, dukungan psikososial, pengamanan lokasi, dan fungsi pemulangan/ penyatuan kembali para peserta didik. Cabang (tim/ bagian) Logistik: Mereka adalah para Penyedia/ Pendukung (yang menyokong terjadinya operasi respon). Tim ini memerlukan Kepala Bagian Logistik yang mengenal dengan baik lingkungannya (area sekolah) dan sumber daya yang tersedia. Tim akan mencari dan mendistribusikan perbekalan dan (barang) persediaan, hunian sementara dan sanitasi, air dan gizi, serta mengorganisasi rekrutmen relawan dan penugasannya. Informasi dan Perencanaan: Mereka adalah para Dokumentator dan Penganalisa data (mendukung operasi respon/ tanggap darurat). Tim ini biasanya dimobilisasi sebagai tim pendahulu di sebuah bencana, yang kemudian akan melakukan indentifikasi dan mencari tahu sumber daya (yang tersedia di lokasi bencana), melaksanakan nota kesepahaman di awal setelah terjadi bencana. Saat kejadian, tim ini akan melakukan dokumentasi terhadap situasi, kegiatan, dan memastikan pencatatan yang akurat. Bagian Keuangan/ Administrasi: Mereka merupakan para Pembayar (untuk memproses pembayaran dan melakukan negosiasi). Fungsi ini biasanya melakukan pencatatan terhadap sumber daya, waktu kerja tenaga kependidikan dan uang yang dipergunakan selama masa darurat, melakukan proses kompensasi bilamana diperbolehkan, dan melakukan negosiasi sebagaimana diperlukan terhadap sumber daya yang diperlukan. Sistem Komando Kejadian/ ICS merupakan sistem yang fleksibel yang dapat diaktivasi di berbagai tingkatan, tergantung dari situasinya. Sebagai contoh, ada penyusup ke dalam bangunan sekolah, terjadi perkelahian


BIRO PERENCANAAN DAN KERJASAMA LUAR NEGERI, SEKRETARIAT JENDERAL KEMENDIKBUD - Tahun 2015 37 peserta didik, atau kecelakaan jalanan yang dapat ditangani dengan mengaktifkan penanganan Tingkat I saja. Kebakaran kecil atau banjir kecil mungkin memerlukan aktivasi penanganan Tingkat II. Bencana besar, seperti gempa bumi, mungkin memerlukan aktivasi lengkap dari beberapa tim di Tingkat III. Dengan mempertahankan struktur ini, memungkinkan lebih banyak pelaku tanggap darurat yang akan diintegrasikan, menjaga rantai komando, dan rentang kendali yang terkelola (yaitu 5-8 orang per pengawas/ supervisor). Biasanya tidak dianjurkan untuk memiliki tim yang permanen dengan fungsi tunggal karena setiap situasi berbeda, dan mungkin membutuhkan lebih banyak atau lebih sedikit orang untuk tim tertentu. Selama sumber dayanya memungkinkan, tenaga kependidikan harus mendapatkan pelatihan yang bermacam jenisnya. Bahkan jika tim respon/ tanggap darurat dibentuk jauh hari sebelumnya, tenaga kependidikan harus paham dan siap untuk menerima penugasan apapun, selama diperlukan. Sistem Komando Kejadian dirancang untuk bersifat fleksibel, yang diaktivasi dari atas sampai bawah, dan hanya fungsi-fungsi yang dibutuhkan oleh bencana atau situasi darurat tertentu.


MODUL 2 PILAR 2 - MANAJEMEN BENCANA DI SEKOLAH 38 Struktur Sistem Komando Kejadian 41 KOMITE MANAJEMEN BENCANA SEKOLAH Operasi Peralatan & Persediaan Perencanaan, Analisis & Keuangan Dokumentasi Pembelian Relawan & Kepegawaian Transportasi & Lalu Lintas Huntara & Sanitasi Air & Makanan Logistik Tim Komunikasi Tingkat I Tingkat II Tingkat III Petugas Keamanan Petugas Penghubung/ Petugas Humas Komandan/ Manajemen Kajian Kerusakan SAR Ringan Pemadam Kebakaran Dukungan Psikososial Pengawasan Siswa Pemulangan Siswa P3K Admin, Keuangan & Dokumentasi


BIRO PERENCANAAN DAN KERJASAMA LUAR NEGERI, SEKRETARIAT JENDERAL KEMENDIKBUD - Tahun 2015 39 2.3.2.3. Penyediaan Barang Kebutuhan Respon/ Tanggap Darurat Untuk kasus di mana dibutuhkan bangunan atau tempat evakuasi, terdapat beberapa perlengkapan penting yang harus siap untuk dibawa. Persediaan ini juga akan dibutuhkan jika Anda melakukan perlindungan-di-tempat. Daftar periksa yang tersedia di Lampiran merekomendasikan persediaan yang harus disimpan oleh bagian administrasi, bagian UKS (Usaha Kesehatan Sekolah atau klinik sekolah), di setiap kelas, dan di seluruh (bagian) sekolah. Kotak-Siap-Bawa (go-box) bagian administrasi sekolah yang memuat daftar kelas dan jadwal para tenaga kependidikan dan peserta didik, serta untuk sekolah dasar dan sekolah menengah kotak tersebut haruslah berisi Daftar Kontak Darurat Peserta Didik, buku catatan kehadiran peserta didik serta catatan pengunjung, peta sekolah, nomor telpon penting, kunci-kunci, dan peralatan kantor. Kotak-Siap-Bawa bagian UKS (atau klinik sekolah) harus berisi obat yang diresepkan untuk peserta didik dan perlengkapan pertolongan pertama. Perlengkapan pertolongan pertama sekolah harus cukup untuk kebutuhan satu sekolah. Lihat http://en.wikipedia.org/wiki/First_aid_kit Setiap kelas harus memiliki Tas-Siap-Bawa (go-bag) atau Kotak-Siap-Bawa (go-bucket). Perlengkapan evakuasi ini harus dibawa saat sedang melakukan perjalanan lapangan, dan dapat juga digunakan saat kondisi penguncian (lockdown) ataupun perlindungan-di-tempat. Setiap kelas juga harus memiliki clipboard atau buku catatan darurat yang dapat digantungkan di kaitan pintu keluar, atau disimpan di dalam Tas-Siap-Bawa. Buku Catatan Darurat ini harus diperbaharui (informasinya) di setiap awal tahun ajaran baru dan saat melakukan persiapan bagi latihan simulasi sekolah. Tas-Kenyamanan-Murid (student comfort-bag) harus dimintakan dari orang tua peserta didik dan disimpan di dalam tas bepergian ataupun tas ransel di ruang kelas, yang disiapkan di dekat pintu keluar. Asosiasi orang tua-guru mungkin ingin membantu menata barang-barang ini, terutama bagi banyak dari mereka yang tidak sanggup untuk menyediakannya. Orang tua peserta didik yang mampu bisa diminta untuk menyumbangkan satu selimut per anak kepada sekolah, yang kemudian akan disimpan di Kotak Penyimpanan Perlengkapan Kedaruratan (lihat di bawah). Perbekalan kedaruratan sekolah harus ditempatkan di sebuah gudang, di dalam wadah, yang disimpan di luar bangunan utama sekolah. Perbekalan kedaruratan ini harus juga terdiri dari air minum (sekitar 4 liter air per orang per hari – setengah untuk diminum, dan setengahnya lagi untuk kebersihan). Perbekalan ini dapat digunakan oleh sekolah maupun masyarakat sekitar, jika sekolah digunakan sebagai tempat pengungsian. Perbekalan juga sebaiknya termasuk perangkat komunikasi. Dan bilamana diperlukan, lengkapi dengan rompi dan topi yang keras (helm) untuk digunakan oleh anggota tim respon, kemudian perangkat hunian sementara, terpal pelindung (tabir) untuk WC darurat, dan perangkat ringan SAR jika diperlukan. Tim respon akan memerlukan akses ke beberapa salinan Catatan Tim Respon Kedaruratan (lihat Lampiran) yang mencakup peta sekolah dan peta area berkumpul, daftar induk peserta didik, jadwal guru dan tenaga kependidikan lain, matriks respon bencana dan kedaruratan sekolah, catatan mengenai tanggung jawab (untuk) sistem komando kejadian, dan prosedur dasar serta khusus untuk kedaruratan. Tim juga memerlukan akses terhadap meja, bangku, dan peralatan kantor.


MODUL 2 PILAR 2 - MANAJEMEN BENCANA DI SEKOLAH 40 2.3.2.4. Simulasi, Refleksi terhadap kegiatan simulasi, dan Memperbaharui Rencana Kontinjensi Latihan simulasi sekolah dapat disesuaikan untuk bahaya yang sudah diperkirakan. Setiap sekolah paling tidak harus menyelenggarakan latihan simulasi kebakaran sebanyak tiga kali per tahun, dan paling tidak satu simulasi penuh. Sekolah yang berlokasi di daerah rawan gempa atau rawan banjir harus melakukan latihan untuk bahaya-bahaya ini. Untuk setiap latihan simulasi yang dilakukan dengan pengumuman terlebih dahulu, pastikan untuk melakukan satu latihan simulasi yang tidak diumumkan sebelumnya. Lakukan beberapa kali dengan skenario yang berbeda, pada waktu yang berbeda (pagi atau siang). Coba lakukan simulasi saat Kepala Sekolah ada di sekolah dan saat beliau tidak ada di sekolah. Tujuan dari latihan simulasi ini adalah untuk bersiap menghadapi hal yang tidak terduga, sehingga jika latihan dibuat terlalu mudah, maka kita tidak akan belajar bagaimana cara mengadaptasinya ke situasi nyata. Latihan simulasi harus selalu dianggap sebagai “kejadian nyata”. Latihan simulasi yang baik merupakan sebuah proses pembelajaran. Dimulai dengan persiapan matang yang dilakukan oleh tenaga kependidikan, memberikan kesempatan untuk melatih peserta didik secara berkelompok per kelas, ingat prosedurnya, dan periksa keperluannya. Simulasi itu sendiri merupakan kesempatan pembelajaran percobaan. Setelah latihan simulasi, peserta didik dapat melakukan tanya jawab mengenai jalannya simulasi dengan guru di kelas. Pertemuan seluruh guru dan peserta didik sekolah merupakan cara penting untuk melakukan tanya jawab, dan juga menjadi cara untuk meningkatkan upaya mitigasi dan kesiapsiagaan tanggap darurat. Bagian terpenting dari latihan simulasi adalah diskusi dan pembaharuan/ pengkinian (up-date) rencana aksi yang berasal dari pengalaman. 2.3.3. Rencana Kesinambungan Pendidikan Ketika peserta didik berada di luar sekolah untuk jangka waktu yang lama, tingkat putus sekolah meningkat dan memberikan dampak negatif seumur hidup. Dan hal ini juga diikuti oleh angka pengangguran. Diperlukan rencana khusus untuk memastikan agar penyediaan pendidikan bagi peserta didik dapat dilakukan secepat mungkin setelah bencana terjadi. Hal ini terutama berlaku bagi sekolah-sekolah yang menghadapi bahaya berulang seperti banjir tahunan. Kalendar yang fleksibel, lokasi sekolah alternatif, ruang belajar sementara, pengiriman paket tugas pekerjaan rumah, penyampaian bahan pelajaran melalui media radio dan televisi hanyalah beberapa alternatif kreatif untuk memastikan bahwa pendidikan terus berlanjut. Di tahap pasca-bencana, peserta didik juga perlu berpartisipasi dalam upaya pemulihan, dan perlu memiliki waktu untuk mengikuti berbagai kegiatan psikososial untuk membantu proses penyesuaian diri terhadap kehilangan yang terjadi secara mendadak di dalam hidup mereka. Ada kemungkinan bahwa sekolah Anda – jika dalam kondisi yang baik – juga akan diminta untuk bisa digunakan sebagai tempat penampungan darurat. Jika hal ini yang terjadi, maka kira-kira apa saja yang harus dipersiapkan agar keberlanjutan pendidikan bisa tetap terjadi? Apakah lokasi alternatif atau peralatan untuk membuat ruang belajar sementara maupun cara pengajaran alternatif sudah disiapkan? Jika sebelumnya di sekolah terdapat program gizi, apakah upaya meneruskan program ini sudah dipersiapkan? Jika terdapat pihak-pihak lain yang membantu penyediaan jasa di sekolah (misalnya perusahaan alih daya untuk pengamanan sekolah, kebersihan sekolah, dll.), maka pihakpihak lain ini harus dilibatkan dalam proses perencanaan. Sebaiknya jauh hari sebelumnya, kesepakatan kerjasama sudah dibuat dengan pihak-pihak lain seperti dengan perusahaan kontraktor yang dapat


BIRO PERENCANAAN DAN KERJASAMA LUAR NEGERI, SEKRETARIAT JENDERAL KEMENDIKBUD - Tahun 2015 41 memeriksa kondisi bangunan sekolah dan fasilitas sekolah lainnya untuk memastikan keamanan, dengan pihak penyedia pompa air, dan berbagai langkah kontinjensi yang dapat dilakukan sebelumnya sehingga dapat mempercepat proses pemulihan. 2.3.3.1. Anak dan remaja dengan disabilitas Semua anak dan remaja memiliki hak terhadap pendidikan yang berkualitas baik. Di semua bagian wilayah dunia, anak-anak dan remaja dengan disabilitas mulai dimasukkan ke sekolah-sekolah dan tempattempat pembelajaran non-formal lainnya. Mereka berpartisipasi secara aktif dan berhasil dalam pendidikan dan mereka berprestasi. Akan tetapi, banyak peserta didik dengan disabilitas yang masih ditolak untuk mendapatkan hak akan pendidikan yang berkualitas, dan tidak mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan untuk belajar dan berkembang. Hal ini termasuk ribuan anak dan remaja yang terluka atau terkena dampak bencana seperti gempa bumi, angin topan atau konflik. Dalam situasi darurat, bepergian pada jarak berapapun mungkin menjadi sulit bagi setiap orang. Bagi anak-anak, remaja dan dewasa dengan disabilitas tertentu, masalah bepergian – bahkan dalam jarak yang dekat – mungkin menjadi hal yang lebih berat. Tantangan-tantangan ini mungkin telah ada sebelum masa darurat namun kini menjadi lebih buruk. Jarak Kekurangan sekolah, dikarenakan penutupan atau kerusakan selama masa darurat, mungkin membuat banyak anak dan remaja harus menempuh jarak yang jauh dan menghadapi lebih banyak rintangan atau kesulitan dalam perjalanan mereka. Hal ini mempengaruhi siapa saja – terutama saat jalan-jalan yang mereka lalui atau kondisi cuaca yang buruk – namun akan secara khusus menjadi sulit bagi mereka yang menghadapi tantangan mobilitas atau yang tidak bisa bepergian seorang diri. Permukaan jalan yang kasar dan jalan yang berbahaya, jalan-jalan dan gang-gang yang mungkin berlubang, berbatu, berpasir, atau licin, bersisian dengan selokan yang dalam, dsb., membuat sulit untuk dilalui bagi orang-orang yang menggunakan kruk, kursi roda atau alat bantu mobilitas, dan tidak aman bagi orang-orang yang memiliki kesulitan dalam penglihatan. Jalur utama mungkin menjadi lebih kasar, sebagian ditutup atau terlalu berbahaya untuk digunakan karena ranjau darat, tanah longsor, reruntuhan bebatuan, banjir dan seterusnya. Bahaya kemungkinan meningkat di lokasi sekolah selama masa darurat, khususnya setelah bencana alam, lingkungan sekolah seringkali penuh dengan bahaya seperti puing-puing, bangunan yang tidak stabil dan material yang berbahaya (seperti kaca, blok semen, batu-bata, pohon yang tumbang, mobil yang rusak, reruntuhan batu dan sebagainya). Keamanan pribadi Kekerasan yang sedang berlangsung mungkin menambah risiko bagi orang yang bepergian terutama risiko terhadap ancaman fisik atau pelecehan seksual. Anak-anak dan remaja dengan disabilitas, terutama anak-anak perempuan, mungkin akan merasa kurang aman. Orang tua/ walisiswa atau pengasuh mereka mungkin merasa bahwa lebih aman untuk menjaga mereka tetap di rumah atau di dalam wilayah di mana keluarganya berada.


MODUL 2 PILAR 2 - MANAJEMEN BENCANA DI SEKOLAH 42 Ketidaktersediaan atau tidak adanya akses untuk sarana transportasi Sistem transportasi (bis, angkutan kota, dsb.) mungkin tidak ada, terutama di wilayah pedesaan yang terpencil. Yang tadinya tersedia, mungkin menjadi terganggu, dihentikan, atau menjadi tidak memadai selama masa krisis. Kendaraan seringkali tidak bisa digunakan oleh para penumpang yang memakai kursi roda, kruk atau alat bantu mobilitas lainnya, dan mungkin akan membuat kendaraan menjadi penuh sesak sehingga tidak memungkinkan untuk duduk dengan nyaman. Alat-alat transportasi lokal atau tradisional, seperti sepeda, kereta, mobil atau keledai mungkin dibutuhkan untuk tugas-tugas lain saat banyak komunitas membangun kembali, merekonstruksi atau memindah lokasi tempat tinggal mereka. Aset-aset seperti itu mungkin juga telah hilang, rusak atau hancur, sehingga menghadirkan sebuah tantangan bagi orang-orang dengan disabilitas yang sebelumnya mengandalkan alat-alat tersebut. Pemindahan Sebuah masa darurat bisa berarti bahwa sebuah komunitas berpindah ke tempat lain dengan sebuah sekolah atau ruang pembelajaran baru, atau sekolah komunitas mungkin secara sementara atau permanen dipindah ke tempat yang lebih aman. Untuk anak-anak dan remaja yang mengalami kesulitan mobilitas, penglihatan, pendengaran atau lainnya, sebuah rute yang tidak biasa menuju sekolah dan di sekitar lokasi sekolah baru mungkin menyebabkan bertambahnya kesulitan. Mereka yang memiliki kelemahan intelektual mungkin tidak tahu bagaimana berhadapan dengan orang-orang asing yang mereka temui di jalan. Para orang tua kemungkinan menjaga agar anak-anak mereka tetap di rumah, karena khawatir mereka akan tersesat. Pengaruh memiliki disabilitas baru Dalam banyak bencana alam atau konflik, banyak anak dan remaja tiba-tiba memiliki disabilitas yang diakibatkan oleh masa darurat tersebut. Banyak gempa bumi yang menyebabkan peningkatan jumlah kasus disabilitas yang besar pada anak dengan disabilitas jangka panjang maupun pendek. Anak-anak tersebut dan keluarga mereka harus menghadapi tantangan seperti yang diuraikan di atas, tanpa memiliki waktu untuk mengembangkan strategi untuk mengelola kondisi disabilitas mereka yang baru. Hal ini, digabungkan dengan akibat langsung dari cedera, dapat mengakibatkan kebanyakan anak-anak dan remaja dengan disabilitas yang baru diperolah memilih untuk tinggal di rumah sementara teman-teman sebaya mereka kembali ke sekolah. 2.3.3.2. Lokasi alternatif, fasilitas pembelajaran sementara Jika bangunan sekolah rusak berat, tidak dapat diakses, atau harus digunakan sebagai tempat pengungsian sementara, Anda mungkin harus mengatur lokasi atau sarana alternatif agar kegiatan belajar mengajar dapat terus berlangsung. Pertimbangkan baik ruang kelas maupun area bermain. Bisa berada di dalam bangunan yang sudah ada atau di tempat belajar sementara: • yang berada di halaman sekolah • berbagi dengan sekolah lain • bertempat di bangunan fasilitas umum atau bangunan tempat ibadah atau di halamannya • bertempat di bangunan milik swasta • bertempat di rumah-rumah Pedoman berikut ini dapat membantu dalam mempertimbangkan pilihan terbaik bagi fasilitas belajar sementara dengan komunitas Anda, dan untuk mencari penyelesaian yang kreatif dan aman.


BIRO PERENCANAAN DAN KERJASAMA LUAR NEGERI, SEKRETARIAT JENDERAL KEMENDIKBUD - Tahun 2015 43 Fasilitas Belajar Sementara 1. Jika bertempat di dalam bangunan, pastikan bahwa struktur bangunan dalam kondisi baik. 2. Pastikan bahwa tempat itu: • Bebas dari benda-benda berbahaya, seperti batu tajam, logam, gelas, atap dari logam yang hampir lepas dan dari pohon atau cabangnya yang bisa mengakibatkan kerusakan. • Memiliki tempat teduh (ada atapnya) dan melindungi dari angin, hujan dan debu. • Berlokasi jauh dari jalan utama dan titik distribusi (barang bantuan). • Berlokasi jauh dari air yang menggenang, tempat drainase yang kotor. • Berlokasi dekat dengan tempat tinggal mayoritas anak-anak, terutama anak perempuan dan anak berkebutuhan khusus. • Memiliki rute akses yang aman antara tempat belajar sementara dengan tempat tinggal anak-anak. 3. Menyediakan akses ke sanitasi dan layanan air bersih. Yang berarti: • Akses terhadap air untuk mencuci tangan setelah buang air dan sebelum makan atau menyiapkan makanan. • Akses terhadap air minum yang aman. • Drainase air dirancang, dibangun dan dirawat dengan baik. • Toilet harus terletak jauh dari sumber air dan harus memperhitungkan arah angin. • Toilet terpisah untuk anak perempuan dan anak laki-laki serta dibuat dengan memperkecil ancaman terhadap pengguna dan menawarkan privasi. Toilet harus ditempatkan di lokasi yang aman, nyaman, sesuai dengan budaya dan mudah diakses, termasuk bagi mereka dengan kebutuhan khusus. • Untuk lingkungan sekolah, 1 toilet digunakan bagi 30 anak perempuan dan 1 toilet digunakan oleh 60 anak laki-laki. • Toilet berlokasi tidak melebihi 50 meter dari hunian ataupun tempat belajar sementara. 4. Memiliki tempat penyimpanan perlengkapan sekolah, makanan (jika sekolah memiliki program pemberian makanan tambahan) 5. Kaji potensi bahaya iklim/ geografis dan pilih tempat yang lokasinya tidak terpapar oleh bahaya atau ancaman yang dikenal. 6. Untuk bangunan sementara, pertama-tama pertimbangkan material lokal (dan/ atau material yang berasal dari bangunan yang rusak. Keuntungannya adalah karena material tersedia saat itu juga, hemat biaya, dan warga sekitar dapat mengerjakannya sendiri). 7. Pastikan untuk berkoordinasi dengan pemimpin komite penanggulangan bencana setempat untuk memastikan bahwa semua kebutuhan anak-anak dapat terpenuhi di fasilitas sementara, yaitu: • Air, sanitasi dan kebersihan • Perlindungan anak • Pengelola hunian sementara (pengungsian) • Kesehatan • Gizi


Click to View FlipBook Version