42 Dr. Sigit Sapto Nugroho, S.H., M.Hum. Bahkan penjelasan umum Undang-Undang Dasar dengan tegas mengatakan bahwa negara Indonesia berdasar atas hukum (Rechtsstaat) tidak berdasar atas kekuasaan belaka (Machtsstaat). Pemerintah berdasarkan sistem konstitusional dan bukan berdasarkan atas absolutisme. Paham negara hukum mengandung makna adanya pengakuan terhadap prinsip supremasi hukum dan konstitusi, dianutnya prinsip pemisahan dan pembatasan kekuasaan menurut sistem konstitusional yang diatur dalam Undang-undang Dasar, adanya jaminan HAM dalam Undang-Undang Dasar, adanya prinsip peradilan yang bebas dan tidak memihak yang menjamin persamaan setiap warga negara dalam hukum, serta menjamin keadilan bagi setiap orang termasuk terhadap penyalahgunaan wewenang oleh pihak yang berkuasa itu sendiri dibangun dan ditegakkan menurut prinsip-prinsip demokrasi, karena prinsip supremasi hukum dan kedaulatan hukum itu sendiri pada pokoknya berasal dari kedaulatan rakyat. Hukum tidak boleh dibuat, ditetapkan, ditafsirkan, dan ditegakkan dengan tangan besi berdasarkan kekuasaan belaka. Prinsip negara hukum tidak boleh ditegakkan dengan mengabaikan prinsip-prinsip demokrasi yang diatur dalam Undang-undang Dasar. Negara hukum dalam pengertian modern sekarang, tentu tidak dapat dibatasi dengan asas legalitas yang kaku, dalam arti penyelenggara negara hanya dapat bertindak berdasarkan aturanaturan hukum yang tegas, yaitu aturan-aturan yang telah ada sebelum tindakan itu dilakukan Untuk menjalankan tugasnya dengan sempurna, para penyelenggara negara memerlukan keleluasaan bertindak berdasarkan kepentingan umum, tentunya dengan memperhatikan asas-asas hukum yang berlaku.48 48 Sigit Sapto Nugroho et’all, (2021), Pengantar Ilmu Hukum, Lakeisha, Klaten…….lihat juga dalam Sigit Sapto Nugroho, (2020), Pengantar Hukum Indonesia, Lakeisha, Klaten.
HUKUM HAK ASASI MANUSIA 43 Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 merupakan dasar konstitusional bahwa Indonesia merupakan negara hukum. Sebelum amandemen, pernyataan Indonesia sebagai negara hukum ditemukan dalam penjelasan UUD 1945. Dilihat dari segi bentuk negara dan sistem penyelenggaraan pemerintahan, Indonseia adalah negara kesatuan yang menganut desentralisasi27. Sistem desentralisasi mengatur bahwa penyelenggaraan pemerintahan tidak hanya dilaksanakan oleh pemerintah pusat, tetapi dilaksanakan juga oleh satuan pemerintahan daerah. Di samping itu, Indonesia merupakan negara yang menganut ajaran negara kesejahteraan (welafare state) dan dapat dikategorikan sebagai negara hukum demokratis. Eksistensi Indonesia sebagai negara hukum secara tegas disebutkan dalam penjelasan UUD 1945 (sebelum amandemen) Pasal 1 Ayat (3): Indonesia ialah negara yang berdasar atas hukum (rechtsstaat). Indikasi bahwa Indonesia menganut konsepsi Welfare State terdapat pada kewajiban pemerintah untuk mewujudkan tujuan-tujuan negara, sebagaimana yang termuat dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi: Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan melaksanakan ketertiban dunia “. Tujuan-tujuan ini diupayakan perwujudannya melalui pembangunan yang dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan dalam program jangka pendek, menengah, dan panjang. Idealitas negara berdasarkan hukum ini, pada dataran implementasi memiliki karakteristik yang beragam sesuai dengan muatan lokal, falsafah bangsa, ideologi negara dan latar belakang historis masing-masing negara. Oleh karena itu, secara historis dan praktis, konsep negara hukum muncul dalam berbagai model, seperti negara hukum menurut Qur’an dan Sunnah atau nomokrasi Islam, negara hukum menurut konsep Eropa Kontinental yang dinamakan rechtsstaat, negara hukum menurut konsep Anglo-
44 Dr. Sigit Sapto Nugroho, S.H., M.Hum. Saxon (rule of law), konsep Socialist Legality, dan konsep negara hukum Pancasila.49 Menurut Philipus M. Hadjon, karakteristik negara hukum Pancasila tampak pada unsur-unsur yang ada dalam negara Indonesia, antara lain: 50 1. Keserasian hubungan antar pemerintah dan rakyat berdasarkan asas kerukunan. 2. Hubungan fungsional yang proporsional antara kekuasaankekuasaan negar. 3. Prinsip penyelesaian sengketa secara musyawarah dan peradilan merupakan sarana terakhir. 4. Keseimbangan antara hak dan kewajiban. Penegasan Indonesia adalah negara hukum yang selama ini diatur dalam penjelasan UUD 1945 dengan kalimat “Indonesia ialah negara yang berdasar atas hukum (rechtsstaat)…“, dalam Perubahan UUD 1945 pernyataan prinsip negara hukum itu penuangannya di dalam konstitusi dipindahkan ke dalam Pasal 1 Ayat (3) dengan kalimat yang netral, yaitu: “Negara Indonesia adalah negara hukum “. Konsekuensi ketentuan ini adalah bahwa setiap sikap, kebijakan, dan perilaku alat negara dan penduduk harus berdasar dan sesuai dengan hukum. Penetralan kalimat ini bukan tidak penting karena di dalamnya terkandung konsep prismatik tentang negara hukum, yakni penggabungan unsur-unsur baik dari berbagai konsep yang berbeda ke dalam satu konsep yang menyatu (integratif) yang implementasinya disesuaikan dengan tuntutan perkembangan. Dalam konteks ini, konsep negara hukum Indonesia menerima prinsip kepastian hukum di dalam rechtsstaat sekaligus prinsip rasa keadilan di dalam rule of law serta nilai spiritual dari hukum 49 Sigit Sapto Nugroho, (2020), Sukma Hukum: Keadilan berhati Nurani, Uwais inspirasi Indonesia, Ponorogo. 50 Syuhada, O. (2021). Karakteristik Negara Hukum Pancasila Yang Membahagiakan Rakyatnya. Journal Presumption of Law, 3 (1), 1-18.
HUKUM HAK ASASI MANUSIA 45 agama. Hukum agama dan segala ketentuan proseduralnya (rechtsstaat) diterima di dalam negara hukum Indonesia tetapi semua itu harus diletakkan dalam rangka menegakkan keadilan (the rule of law); ketentuan-ketentuan tertulis yang menghalangi keadilan dapat ditinggalkan. Penguatan dari konsepsi ini adalah penyebutan di dalam fungsi kekuasaan kehakiman untuk menegakkan hukum dan keadilan seperti tertulis pada Pasal 24 Ayat (1) serta penegasan di dalam Pasal 28D Ayat (1) tentang hak memperoleh kepastian hukum yang adil dan Pasal 28H bahwa hukum harus dibangun berdasarkan keadilan dan kemanfaatan. Berdasarkan konsepsi di atas, maka di dalam negara hukum, hukumlah yang merupakan pemegang komando tertinggi dalam penyelenggaraan negara. Dalam paham negara hukum harus dibuat jaminan bahwa hukum itu sendiri dibangun dan ditegakkan menurut prinsip-prinsip demokrasi. Oleh karena itu, prinsip supremasi hukum dan kedaulatan hukum itu sendiri pada dasarnya berasal dari kedaulatan rakyat. Oleh sebab itu, prinsip negara hukum hendaklah dibangun dan dikembangkan menurut prinsipprinsip demokrasi atau kedaulatan rakyat (democratische rechtsstaat). Hukum tidak boleh dibuat, ditetapkan, ditafsirkan dan ditegakkan dengan tangan besi berdasarkan kekuasaan belaka (machtsstaat). Prinsip negara hukum tidak boleh ditegakkan dengan mengabaikan prinsip-prinsip demokrasi yang diatur dalam UndangUndang Dasar. Karena itu perlu ditegaskan pula bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat yang dilakukan menurut Undang-undang Dasar (constitutional democracy) yang diimbangi dengan penegasan bahwa negara Indonesia adalah negara hukum yang berkedaulatan rakyat atau demokratis (democratische rechtsstaat).
46 Dr. Sigit Sapto Nugroho, S.H., M.Hum. B. Relasi HAM, Demokrasi dan Negara Hukum Konsepsi HAM dan demokrasi dapat dilacak secara teologis berupa relativitas manusia dan kemutlakan Tuhan. Konsekuensinya, tidak ada manusia yang dianggap menempati posisi lebih tinggi, karena hanya satu yang mutlak dan merupakan prima face, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Semua manusia memiliki potensi untuk mencapai kebenaran, tetapi tidak mungkin kebenaran mutlak dimiliki oleh manusia, karena yang benar secara mutlak hanya Tuhan. Oleh karena itu, semua pemikiran manusia juga harus dinilai kebenarannya secara relatif. Pemikiran yang mengklaim sebagian benar secara mutlak, dan yang lain berarti salah secara mutlak, adalah pemikiran yang bertentangan dengan kemanusiaan dan ketuhanan.51 Manusia diciptakan oleh Tuhan yang Maha Esa dengan seperangkat hak yang menjamin derajatnya sebagai manusia. Hakhak inilah yang kemudian disebut dengan hak asasi manusia, yaitu hak yang diperoleh sejak kelahirannya sebagai manusia yang merupakan karunia Sang Pencipta. Dianggap bahwa beberapa hak itu dimilikinya tanpa perbedaan atas dasar bangsa, ras, agama, atau jenis kelamin dan karena itu manusia harus memperoleh kesempatan untuk berkembang sesuai dengan bakat dan citacitanya. Karena setiap manusia diciptakan kedudukannya sederajat dengan hak-hak yang sama, maka prinsip kesamaan dan kesederajatan merupakan hal utama dalam interaksi sosial. Namun kenyataan menunjukkan bahwa manusia selalu hidup dalam komunitas sosial untuk dapat menjaga derajat kemanusiaan dan mencapai tujuannya. Hal ini tidak mungkin dapat dilakukan secara individual. Akibatnya muncul struktur sosial, sehingga dibutuhkan kekuasaan untuk menjalankan organisasi sosial tersebut.52 51 Mukhoyyaroh, M. (2019). Hak Asasi Manusia dalam Kehidupan Sosial Dalam Perspektif Al-Qur’an. Jurnal Studi Al-Qur'an, 15 (2), 219-234. 52 ibid
HUKUM HAK ASASI MANUSIA 47 Kekuasaan dalam suatu organisasi dapat diperoleh berdasarkan komitmen religius, legitimasi ideologis eliter atau melalui legitimasi pragmatis. Namun kekuasaan berdasarkan legitimasi di atas dengan sendirinya mengingkari kesamaan dan kesederajatan manusia, karena mengkalim kedudukan lebih tinggi sekelompok manusia dari manusia lainnya. Selain itu, kekuasaan yang berdasarkan ketiga legitimasi di atas akan menjadi kekuasaan yang absolut, karena asumsi dasarnya menempatkan kelompok yang memerintah sebagai pihak yang berwenng secara istimewa dan lebih tahu dalam menjalankan urusan kekuasaan negara. Kekuasaan yang didirikan berdasarkan ketiga legitimasi tersebut bias dipastikan akan menjadi kekuasaan yang otoriter. Konsepsi demokrasilah yang memberikan landasan dan mekanisme kekuasaan berdasarkan prinsip persamaan dan kesederajatan manusia. Dalam prinsip demokrasi, manusia ditempatkan sebagai pemilik kedaulatan rakyat. Konsepsi HAM dan demokrasi dalam perkembangannya sangat terkait dengan konsepsi negara hukum. Dalam konsepsi ini, sesungguhnya hukumlah yang memerintah bukan manusia. Hukum dimaknai sebagai kesatuan hirarkis tatanan norma hukum yang berpuncak pada konstitusi. Hal ini berarti bahwa dalam sebuah negara hukum menghendaki adanya supermasi konstitusi. Supermasi konstitusi di samping merupakan konsekuensi dari konsep negara hukum, sekaligus merupakan pelaksanaan demokrasi karena konstitusi adalah wujud dari perjanjian sosial tertinggi. Negara dengan sendirinya tidak dapat memaksakan kehendaknya kepada rakyat, karena rakyat adalah sumber kekuasaan negara. Setiap tindakan penguasaan negara, terlebih dahulu harus mendapatkan persetujuan rakyat, baik secara langsung maupun melalui wakil-wakil mereka di parlemen yang dipilih secara demokratis. Arah perumusan norma-norma tidak harus memberikan jaminan kemudahan dan kesempatan yang seluas-luasnya bagi
48 Dr. Sigit Sapto Nugroho, S.H., M.Hum. rakyat untuk menunjukkan bahwa merekalah yang berdaulat. Kebebasan menyatakan pikiran, baik lisan maupun tulisan, haruslah dijamin penuh karena tanpa kebebasan itu tidak mungkin rakyat akan dapat menyatakan apa yang diinginkannya, apa yang ditolaknya dan sebagainya. Dengan demikian dalam negara demokrasis tidak mungkin ada norma-norma hukum yang dapat membatasi atau mengurangi kebebasan menyatakan pendapat. Selain itu, prinsip demokrasi dapat menjamin peran serta masyarakat dalam proses pengambilan keputusan sehingga setiap peraturan perundang-undangan benar-benar mencerminkan perasaan keadilan masyarakat hukum dan peraturan perundangundangan yang berlaku tidak boleh ditetapkan dan diterapkan sepihak oleh dan atau hanya untuk kepentingan penguasa, karena hal ini bertentangan dengan prinsip yang dianut dalam demokrasi Hukum tidak dimaksudkan hanya untuk menjamin kepentingan beberapa orang yang berkuasa, melainkan menjamin kepentingan keadilan bagi semua orang. Dengan demikian, negara hukum yang dikembangkan bukan absolute rechtsstaat melainkan democratische rechtstaat. Dengan perkataan lain, dalam setiap negara hukum yang bersifat demokratis harus dijamin adanya demokrasi, sebagaimana di dalam setiap negara demokrasi harus dijamin penyelenggaraannya berdasar atas hukum. Ketentuan yang memberikan jaminan konstitusi terhadap hak-hak asasi manusia itu sangat penting bahkan dianggap merupakan salah satu ciri pokok dianutnya prinsip negara hukum di suatu negara.53 Konsepsi hak-hak asasi manusia dan demokrasi dalam perkembangannya selalu terkait dengan konsepsi negara hukum. Dalam konsepsi ini, sesungguhnya hukumlah yang memerintah bukan manusia. Hukum dimaknai sebagai kesatuan hirarkis tatanan norma hukum, berpuncak pada konstitusi. Ini berarti bahwa dalam 53 Subechi, I. (2012). Mewujudkan Negara Hukum Indonesia. Jurnal Hukum dan Peradilan, 1 (3), 339-358.
HUKUM HAK ASASI MANUSIA 49 sebuah negara hukum menghendaki adanya supermasi hukum yang merupakan konsekuensi dari konsep negara hukum sekaligus sebagai pelaksanaan demokrasi, karena konstitusi merupakan wujud dari perjanjian sosial tertinggi.
50 Dr. Sigit Sapto Nugroho, S.H., M.Hum. BAGIAN 4 HAK ASASI MANUSIA PERSPEKTIF KONSTITUSI A. Relasi Konstitusi dan Hak Asasi Manusia onsep negara hukum indonesia diwujudkan dalam bentuk perlindungan terhadap warga negara dalam UUD Negara Republik Indonesia. Negara hukum merupakan usaha pembatasan absolutisme negara (raja) melalui seperangkat aturan dalam konstitusi (konstitusionalisme). Menurut Sri Soemantri54 , pada umumnya materi konstitusi atau undang-undang dasar mecakup tiga hal yang fundamental: 1. Adanya jaminan terhadap HAM dan warganya; 2. Ditetapkannya susunan ketatanegaraan suatu negara yang bersifat fundamental; 3. Adanya pembagian dan pembatasan tugas ketatanegaraan yang juga bersifat fundamental. 54 Jimly Asshiddiqie, 2004, Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia, Mahkamah konstitusi RI dan Pusat Studi Hukum Tata Negara Fak. Hukum UI, Jakarta, hal. 1. K BAGIAN 4 HAK ASASI MANUSIA PERSPEKTIF KONSTITUSI
HUKUM HAK ASASI MANUSIA 51 Eksistensi UUD 1945 sebagai konstitusi, menurut A.A.H. Struycken Undang-Undang Dasar (grondwet) sebagai konstitusi tertulis merupakan sebuah dokumen formal yang berisi: 1. Hasil perjuangan politik bangsa di waktu yang lampau; 2. Tingkat-tingkat tertinggi perkembangan ketatanegaraan bangsa; 3. Pandangan tokoh-tokoh bangsa yang hendak diwujudkan, baik sekarang maupun untuk masa yang akan datang; 4. Suatu keinginan, dengan mana perkembangan kehidupan ketatanegaraan bangsa hendak dipimpin.55 Muatan dalam UUD 1945 berdasarkan pendapat A.A.H. Struycken telah memuat pandangan, keinginan dan perkembangan kehidupan negara oleh tokoh-tokoh bangsa, yang menginginkan terbentuknya negara hukum yang melindungi HAM. Dalam perkembangannya Istilah negara hukum dalam berbagai literatur tidak bermakna tunggal, tetapi dimaknai berbeda dalam tempus dan locus yang berbeda, sangat tergantung pada idiologi dan sistem politik suatu negara.56 Pembagian dalam beberapa locus dan tempus yang berbeda tersebut dapat digolongkan menjadi dua kelompok besar yang diterapkan oleh negara-negara, yaitu rechtstaat dan rule of law. Moh. Mahfud MD menyatakan bahwa negara hukum dalam konsepsi rechtstaat berakar pada sistem hukum civil law yang menitikberatkan pada administrasi dan mengutamakan wetmatigheid dan rechtmatigheid. Di sisi lain, the rule of law berakar pada sistem hukum common law yang menitikberatkan pada aspek yudisial dan mengutamakan prinsip equality before the law26 . Dalam pandangan A. V. Dicey, merumuskan tiga makna the rule of law, Pertama, the rule of law bermakna supremasi absolut atau predomnasi hukum dan meniadakan kesewenang-wenangan (arbitrariness). Kedua, the rule of law, bermakna persamaan 55 Dahlan Thaib., et. all., Teori dan Hukum Konstitusi, PT Rajagrafindo Persada, jakarta, hal15 56 Ibid
52 Dr. Sigit Sapto Nugroho, S.H., M.Hum. kedudukan di depan hukum (equality before the law). Ketiga, the rule of law berarti pengakuan hukum konstitusi bukan merupakan sumber bagi hak asasi manusia, melainkan sebaliknya, sebagai konsekuensi dari pengakuan atas HAM. 57 Pendapat lain oleh Friderich Julius Stahl mengemukakan empat unsur rechtstaat, yaitu: 1. Perlindungan HAM; 2. Pemisahan atau pembagian kekuasaan untuk menjamin hak-hak itu; 3. Pemerintahan berdasarkan peraturan-peraturan; 4. Peradilan administrasi dalam perselisihan. Salah satu ciri negara hukum, yang dalam bahasa inggris disebut rule of law atau dalam bahasa Belanda disebut rechtstaat, ciri pembatasan penyelenggaraan kekuasaan negara. Ciri-ciri negara hukum menurut Franz Magnis Suseno58 adalah: 1. Kekuasaanya dijalankan sesuai dengan hukum positif yang berlaku; 2. Kegiatan negara berada di bawah kontrol kekuasaan kehakiman yang efektif; 3. Berdasarkan sebuah undang-undang dasar yang menjamin HAM, dan; 4. Menurut pembagian kekuasaan. Demikian pula Scheltema menyatakan bahwa unsur-unsur Rechtsstaat adalah:59 1. Kepastian hukum; 2. Persamaan; 3. Demokrasi. Bahwa pemerintah yang harus melayani kepentingan publik warga negaranya, bukan sebaliknya warga negara melayani 57 Janedjri M. Gaffar, 2013, Demokrasi dan Pemilu di Indonesia, Konstitusi Press, Jakarta. 58 Ibid 59 Ibid
HUKUM HAK ASASI MANUSIA 53 pemerintahnya. Selanjutnya, Philipus M. Hadjon60 mengemukakan ciri-ciri Rechtsstaat adalah: 1. Adanya undang-undang dasar atau konstitusi yang memuat ketentuan tertulis tentang hubungan antara penguasa dan rakyat. 2. Adanya pembagian kekuasaan negara. 3. Diakui dan dilindunginya hak-hak kebebasan rakyat. Sehingga HAM dapat dipahami sebagai bagian dalam konstitusi dan merupakan hal yang wajib dilindungi oleh konstitusi itu sendiri. Masyur Efendi menjelaskan pengertian hak asasi manusia dari berbagai pendapat diantaranya:61 “The United Nations Centre for Human Right (PBB) defines: human rights as those rights which are inherent in our nature and without which we cannot live as human beings.’ “Human Rights have also be defined as moral rights of the higher order stemming from socially shared moral conceptions of the nature of the human person and the condition necessary for a life of dignity.“ Nickel; “Characerizes human rights as norms which are definite, high priority, universal, existing and valid independently of recognition or implementation in the customs or legal systems of particular countries.“ Szabo; “Puts human rights within the framework of contitutional law, the purpose of which is to defend by institutional means the rights of human beings against abuses of power committed by the organs of the state and at the same time to promote the establishment of humane living conditions and 60 Philipus M. Hadjon, 1987, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat Indonesia, PT. Bina Ilmu, Surabaya, hal. 76. 61 Darren J O’byrne, 2004, Human Rights an Introduction, Pearson Education, Singapore, hal. 27
54 Dr. Sigit Sapto Nugroho, S.H., M.Hum. the multidimensional development of human personality. Human rights are those minimal rights which every individual must have against the state or other public authority by virtue of his being a ‘member of the human family’, irrespective of any other consideration“. 35 “Human rights are universal, that is, they belong to each of us regardless of ethnicity, race, gender, sexuality, age, religion, political conviction, or type of government.“ “Human rights are incontrovertible, that is they are absolute and innate. They are not grants from states and thus cannot be removed or denied by any political authority, and they do not require, and are not negated by the absence of, any corresponding duties.“ “Human rights are subjective. They are the properties of individual subjects who possess the because of their capacity for rationality, agency and autonomy.“ Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia40 mengartikan HAM sebagai: “…Seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerahNya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, Pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. “ Senada dengan makna tersebut terdapat dalam dasar pertimbangan undang-undang dimaksud yang menyebutkan bahwa: “…hak asasi manusia merupakan hak dasar yang secara kodrati melekat pada diri manusia, bersifat universal dan langgeng, oleh karena itu harus dilindungi, dihormati, dipertahankan, dan tidak boleh diabaikan, dikurangi, atau dirampas oleh siapapun.
HUKUM HAK ASASI MANUSIA 55 Sehingga HAM sebagaimana dikatakan Szabo HAM tanpa dibingkai dalam hukum konstitusi akan menimbulkan kesewenangwenangan. Penegakan HAM di Indonesia mengalami fase-fase yang berbeda menurut sejarah. Dikarenakan Konstitusi itu tidak merupakan sumber dari HAM dan jika HAM itu diletakkan dalam konstitusi, itu hanya sebagai penegasan bahwa HAM itu harus dilindungi. Jika tidak, tentu saja dapat melanggar hak warga negara. B. Hak Asasi Manusia dalam UUD 1945 Sebagai konstitusi Indonesia, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 pada pokoknya memuat dua bagian dimaksud. Khusus untuk bagian materiil, pendiri bangsa (the founding fathers) mengidealkan Indonesia sebagai negara yang berdasarkan atas hukum (rechtsstaat atau the rule of law). Penegasan Indonesia sebagai negara berdasarkan hukum dapat dibaca dalam Penjelasan umum UUD 1945. Bahkan, pada perubahan UUD 1945 (1999- 2002), gagasan itu dituangkan secara eksplisit dalam Pasal 1 Ayat (3) UUD 1945 yang menyatakan “Negara Indonesia adalah negara hukum “. Penegasan Indonesia sebagai negara hukum diiringi dengan pengaturan tentang HAM yang lebih luas dan komprehensif pada Bab khusus, yaitu Bab XI A yang terdiri dari Pasal 28A-28J. Dalam bab ini semua aspek hak asasi mendapatkan jaminan. Aspek tersebut tidak hanya hak di bidang sipil dan politik, tetapi juga hak atas kesejahteraan masyarakat seperti hak di bidang ekonomi, sosial dan budaya. Pengaturan HAM dalam UUD 1945 merupakan komitmen negara untuk memenuhi syarat keberadaan Indonesia sebagai negara hukum. Konsep dan pengaturan HAM dalam UUD 1945 disahkan pada Rapat Paripurna Sidang Tahunan MPR 18 Agustus 2000. Sebelum disahkan, materi tentang hak asasi manusia sudah mulai
56 Dr. Sigit Sapto Nugroho, S.H., M.Hum. dibahas sejak tahun 1999. Materi ini pertama kali dibahas dalam Panitia Ad-Hoc (PAH) III Badan Pekerja (BP) MPR. Berikutnya, hasil pembahasan PAH III dilanjutkan PAH I pada rentang waktu 1999-2000. Pembahasan oleh PAH I menghasilkan draf perubahan pasal-pasal mengenai HAM. Rancangan itu kemudian dibawa ke forum Komisi A dalam ST MPR 20008 dan kemudian disahkan melalui Rapat Paripurna MPR.62 Ketentuan mengenai hak asasi manusia dimuat dalam Bab XA tentang Hak Asasi Manusia yang terdiri dari sepuluh pasal. Pasal-pasal dimaksud adalah Pasal 28A, Pasal 28B, Pasal 28C, Pasal 28D, Pasal 28E, Pasal 28F, Pasal 28G,Pasal 28H, Pasal 28I dan Pasal 28J. Sepuluh pasal tersebut terdiri dari 26 ayat. Dari 26 ayat dimaksud, 21 ayat di antaranya mengatur tentang hak, dua ayat mengatur tentang kewajiban, dua ayat menyangkut pembatasan hak, satu ayat pengaturan lebih lanjut terkait jaminan pelaksanaan HAM. Pertama, ketentuan tentang hak, dari 21 ketentuan terkait hak dapat dibagi lagi atas ketentuan yang mengatur hak individu secara umum, hak yang khusus dimiliki warga negara dan hak kelompok rentan. Dari jumlah itu, ada 18 ketentuan terkait hak individu, satu ketentuan khusus untuk warga negara dan dua ketentuan terkait kelompok khusus, yaitu anak dan masyarakat tradisional. Hak yang bersifat individual adalah hak setiap individu manusia. Hak ini dalam konstitusi dirumuskan dengan kalimat “setiap orang “. Setiap orang berarti siapa saja. Tindak pandang apakah warga negara Indonesia atau bukan. Sepanjang dia manusia dan hidup di 62 Tim Penyusun Naskah Komprehensif Proses dan Hasil Perubahan UUD 1945,2010, Naskah Komprehensif Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Latar Belakang, Proses, dan Hasil Pembahasan, 1999-2002, Buku VIII Warga Negara dan Penduduk, Hak Asasi Manusia, dan Agama (Edisi Revisi), Jakarta: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi, hal. 8
HUKUM HAK ASASI MANUSIA 57 Indonesia, maka UUD 1945 mengakui dan menjamin keberadaan dan kelangsungan hak asasinya. Rumusan serupa juga ditemukan dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights) dan berbagai konvensi utama di bidang hak asasi manusia. Hal demikian menunjukkan bahwa HAM dalam UUD 1945 merupakan hak-hak yang juga diakui secara universal. Selain itu, dengan rumusan hak yang begitu terbuka, UUD 1945 secara prinsip mengadopsi semangat bahwa HAM memiliki nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang berlaku universal. Hak (individu) yang diatur dalam UUD 1945 sama dengan hak yang diatur dan dipersepsikan oleh dunia. Hak yang terkategori sebagai hak individu yang diatur dalam UUD 1945 adalah sebagai berikut: 1. Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya. 2. Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah.Setiap orang b 3. erhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia. 4. Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa dan negaranya. 5. Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.Setiap orang ber 6. hak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja. 7. Setiap orang berhak atas status kewarganegaraan.
58 Dr. Sigit Sapto Nugroho, S.H., M.Hum. 8. Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agama-nya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali. 9. Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya. 10. Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat. 11. Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. 12. Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi. 13. Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia dan berhak memperoleh suaka politik dari negara lain. 14. Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. 15. Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan. 16. Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat. 17. Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenangwenang oleh siapapun.
HUKUM HAK ASASI MANUSIA 59 18. Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu. Adapun ketentuan terkait hak yang diakui khusus bagi warga negara merupakan hak yang tidak berlaku bagi siapa saja seperti hak yang bersifat individual, melainkan hanya diakui sebagai hak individu yang berstatus warga negara saja. Hak ini tidak berlaku umum. Hak ini hanya dimiliki individu yang memenuhi kualifikasi tertentu, yaitu sebagai warga negara Indonesia. Hak dimaksud adalah hak untuk memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan. Sedangkan hak terkait kelompok khusus merupakan hak bagi kelompok yang “dikhususkannya “oleh UUD 1945. Disebut kelompok khusus, karena UUD 1945 mengaturnya secara tersendiri dengan istilah tersendiri pula. Sekalipun sudah ada ketentuan terkait hak yang serupa, namun UUD 1945 tetap mengaturnya secara tersendiri. Contohnya hak anak atas kelangsungan hidup. Hak ini diatur secara khusus dalam Pasal 28B Ayat (2) UUD 1945. Padahal pada Pasal 28A UUD 1945 telah mengatur tentang hak setiap orang untuk hidup (setiap orang berarti juga termasuk anak, karena anak juga merupakan orang). Hal itu menandakan bahwa UUD 1945 memberikan perhatian khusus terhadap anak. Sebab, anak merupakan salah satu kelompok yang sangat rentan menjadi korban pelanggaran hak asasi manusia. Selain anak, kelompok yang juga mendapatkan perhatian khusus dalam UUD 1945 adalah masyarakat tradisional masyarakat hukum adat. Pengakuan hak masyarakat adat atau indegenous people merupakan konsekuensi dari bahwa Indonesia adalah Negara yang multi-etnik, multi-kultur, multi-agama, dan multi-bahasa. Jaminan penghormatan hak masyarakat tradisional diatur dalam Pasal 28I Ayat (3) UUD 1945 yang menyatakan Indentitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban.
60 Dr. Sigit Sapto Nugroho, S.H., M.Hum. Kedua, ketentuan terkait kewajiban dalam konteks hak asasi manusia, terdapat dua ayat yang mengaturnya dalam UUD 1945, yaitu: 1. Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab negara, terutama pemerintah. 2. Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Apa yang diatur dalam Pasal 28 I Ayat (4) UUD 1945 sebagaimana pada poin satu di atas merupakan ketentuan yang berkenaan dengan kewajiban dalam konteks hak asasi manusia. Perlindungan, pemajuan, penegakan dan pemenuhan hak asasi manusia merupakan kewajiban negara. Oleh karena itu, negara terutama pemerintah wajib melaksanakannya. Ada empat kewajiban yang dibebankan kepada negara terkait hak asasi manusia, yaitu: melindungi, memajukan, menegakkan dan memenuhi hak asasi manusia. Selain negara, juga ada pihak lain yang dibebani kewajiban terkait hak asasi manusia, yaitu individu. Berbeda dengan negara, individu hanya dibebani kewajiban untuk menghormati HAM orang lain. Sesuai dengan Pasal 28J Ayat (1), individu tentunya tidak dibebani kewajiban-kewajiban lain sebagaimana yang dibebankan kepada negara melalui Pasal 28I Ayat (4) UUD 1945. Ketiga, ketentuan terkait pembatasan hak. Selain mengatur pengakuan terhadap HAM, UUD 1945 juga mengatur tentang pembatasan hak. Terdapat dua ayat terkait pembatasan hak, yaitu: 1. Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undangundang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.
HUKUM HAK ASASI MANUSIA 61 2. Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun. Ketentuan pada poin satu di atas dimuat dalam Pasal 28J Ayat (2) UUD 1945. Berdasarkan ketentuan tersebut, HAM yang dimiliki setiap orang atau setiap individu bukan tanpa batas. Melainkan bahwa hak seseorang hanya bebas dimiliki dan dilaksanakan sepanjang pelaksanaannya tidak melanggar hak dan kebebasan orang lain. Adapun maksud pembatasan hak hanyalah sebatas untuk menjamin agar pelaksanaan kebebasan seseorang tidak berbenturan dengan pelaksanaan hak kebebasan manusia lainnya. Itu berarti bahwa pembatasan hak untuk maksud selain itu, sama sekali tidak dapat dibenarkan. Pembatasan hak sebagaimana dimaksud Pasal 28J Ayat (2) merupakan otoritas negara. Hanya saja, terdapat ketentuan yang mengatur bahwa ada sejumlah hak yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun. Artinya negara tidak dapat menyimpangi tanggung jawabnya secara hukum, termasuk keadaan darurat sekalipun. Sebab, hak-hak ini memiliki sifat absolut. Hak tersebut merupakan HAM minimal yang tidak boleh dilanggar dalam kondisi apapun (non derogable). Hak-hak itulah yang diatur dalam Pasal 28I Ayat UUD 1945 sebagaimana terdapat pada poin dua di atas. Keempat, ketentuan tentang pengaturan lebih lanjut terkait jaminan pelaksanaan HAM. Terdapat satu ayat pada Bab Hak Asasi Manusia dalam UUD 1945 yang memberi mandat kepada peraturan perundang-undangan untuk mengatur pelaksanaan hak asasi manusia. Pengaturan itu dimaksudkan agar pelaksaan hak asasi manudsia dilakukan sesuai dengan prinsip negara hukum yang
62 Dr. Sigit Sapto Nugroho, S.H., M.Hum. demokratis. Ketentuan ini terdapat dalam Pasal 28I ayat (5) UUD 1945. Berdasarkan uraian tersebut, dapat dikonstruksi sebuah konsep bahwa terdapat subjek yang bertindak selaku pemangku kewajiban dan subjek yang bertindak sebagai pemangku hak dalam konteks hukum HAM. Pemangku kewajiban menurut UUD 1945 adalah negara dan individu. Negara dan individu memiliki beban kewajiban yang berbeda. Sebagai subjek, negara menjalankan kewajiban sebagaimana diatur Pasal 28I Ayat (4), sedangkan individu menjalankan kewajiban sebagaimana termuat dalam Pasal 28J ayat (1) UUD 1945. Kewajiban negara yang ditegaskan Pasal 28I Ayat (4) adalah berkenaan dengan kewajiban untuk mengambil tindakan-tindakan legislatif, administratif, peradilan dan praktis yang diperlukan untuk memastikan bahwa hak-hak yang diperhatikan dilaksanakan sebesar mungkin.38 Artinya semua lembaga-lembaga yang menjalankan fungsi negara memiliki beban tanggung jawab atas terselenggaranya penghormatan, penegakan, perlindungan dan pemenuhan terhadap HAM. Selain negara dan individu, yang juga bertindak sebagai pemangku kewajiban dalam HAM adalah korporasi multinasional. Masuknya korporasi multinasional sebagai pemangku kewajiban karena berbagai kebijakan negara di bidang ekonomi tidak saja sepenuhnya dibuat oleh negara, melainkan dibuat bersama atau atas instruksi dan pengaruh lembaga dana internasional dan kepntingan investasi perusahaan multinasional. Adapun pemangku hak adalah individu dan kelompok khusus. Setiap individu merupakan pemangku hak atas segala hak yang dijamin dalam UUD 1945. Begitu juga dengan kelompok khusus seperti masyarakat hukum adat juga bertindak sebagai pemangku hak seperti dijamin dalam Pasal 28I Ayat (3) UUD 1945.
HUKUM HAK ASASI MANUSIA 63 C. Sepuluh (10) Jaminan Perlindungan Hak Asasi Manusia dalam UUD 1945 HAM merupakan hak yang dimiliki setiap manusia sejak dia lahir. Sebagai bentuk usaha menjamin pemenuhan hak-hak warganya, pemerintah membuat peraturan yang mengatur tentang hak asasi manusia. Peraturan tersebut dituangkan dalam UdangUndang Dasar 1945 dan Undang-Undang. Berikut ini merupakan 10 jaminan HAM yang tertuang dalam undang-undang dan UUD 1945. 1. Hak untuk Hidup Jaminan yang paling dasar yang diatur dalam undangundang adalah jaminan untuk hidup. Jaminan hak untuk hidup ini tercantum padapasal 28 A UUD 1945. Pada pasal 28 A disebutkan bahwa “Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya.“ Jaminan mengenai hak untuk hidup ini dijabarkan lagi pada UndangUndang Nomor 39 Tahun 1999 pasal 9 sebagai berikut: Pasal 9, setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup dan meningkatkan taraf kehidupannya. Setiap orang berhak hidup tenteram, aman, damai, bahagia, sejahtera lahir dan batin. Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. 2. Hak Berkeluarga dan Melanjutkan Keturunan Jaminan perlindungan HAM mengenai hak untuk membangun keluarga dan melanjutkan keturunan tercantum dalam UUD 1945 pasal 28 B ayat 1 yang menyebutkan bahwa “Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah“. Penjelasan lebih lanjut mengenai jaminan hak warga untuk berkeluarga dan
64 Dr. Sigit Sapto Nugroho, S.H., M.Hum. melanjutkan keturunan dapat ditemui pada Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Pasal 10 yaitu: • Pasal 10, setiap orang berhak membentuk suatu keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah. Perkawinan yang sah hanya dapat berlangsung atas kehendak bebas calon suami dan calon istri yang bersangkutan, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan 3. Hak Mengembangkan Diri Kebebasan untuk mengembangan diri tercantum di beberapa pasal dalam UUD 1945. Pertama tercantum dalam pasal 28C ayat 1 dan 2 yang berbuyi: 1. Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia. 2. Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa, dan negaranya. 3. Selain Pasal 28 C, kebebasan untuk mengembangkan diri juga tercantum pada Pasal 31 ayat 1 yang menyebutkan bahwa “Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. “Selanjutnya kebebasan mengembangan diri ini dijabarkan lebih lanjut pada ndang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Pasal 11-16. Berikut ini merupakan pasal-pasal tersebut: Pasal 11, setiap orang berhak atas pemenuhan kebutuhan dasarnya untuk tumbuh dan berkembang secara layak.
HUKUM HAK ASASI MANUSIA 65 Pasal 12, setiap orang berhak atas perlindungan bagi pengembangan pribadinya, untuk memperoleh pendidikan, mencerdaskan dirinya, dan meningkatkan kualitas hidupnya agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa, bertanggung jawab, berakhlak mulia, bahagia, dan sejahtera sesuai dengan hak asasi manusia Pasal 13, setiap orang berhak untuk mengembangkan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya sesuai dengan martabat manusia demi kesejahteraan pribadinya, bangsa dan umat manusia. Pasal 14, setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi yang diperlukan untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya. setiap orang berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis sarana yang tersedia. Pasal 15, setiap orang berhak untuk memperjuangkan hak pengembangan dirinya, baik secara pribadi maupun kolektif, untuk membangun masyarakat, bangsa dan negaranya. Pasal 16, setiap orang berhak untuk melakukan pekerjaan sosial dan kebajikan, mendirikan organisasi untuk itu, termasuk menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran, serta menghimpun dana untuk maksud tersebut sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
66 Dr. Sigit Sapto Nugroho, S.H., M.Hum. 4. Hak Memperoleh Keadilan Hak memperoleh keadilan tercantum dalam UUD 1945 pasal 28 D ayat 1 yang menyebutkan bahwa “Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di depan hukum“. Peratuan mengenai hak atas keadilan ini tertuang pula dalam ndang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 pasal 17-19 sebagai berikut: Pasal 17 Setiap orang, tanpa diskriminasi, berhak untuk memperoleh keadilan dengan mengajukan permohonan, pengaduan, dan gugatan, dalam perkara pidana, perdata, maupun administrasi serta diadili melalui proses peradilan yang bebas dan tidak memihak, sesuai dengan hukum acara yang menjamin pemeriksaan yang objektif oleh hakim yang jujur dan adil untuk memperoleh putusan yang adil dan benar. Pasal 18 Setiap orang yang ditangkap, ditahan, dan dituntut karena disangka melakukan sesuatu tindak pidana berhak dianggap tidak bersalah, sampai dibuktikan kesalahannya secara sah dalam suatu sidang pengadilan dan diberikan segala jaminan hukum yang diperlukan untuk pembelaannya, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Setiap orang tidak boleh dituntut untuk dihukum atau dijatuhi pidana, kecuali berdasarkan suatu peraturan perundang-undangan yang sudah ada sebelum tindak pidana itu dilakukannya. Setiap ada perubahan dalam peraturan perundang-undangan, maka berlaku ketentuan yang paling menguntungkan bagi tersangka. Setiap orang yang diperiksa berhak mendapatkan bantuan hukum sejak saat penyidikan sampai adanya putusan
HUKUM HAK ASASI MANUSIA 67 pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Setiap orang tidak dapat dituntut untuk kedua kalinya dalam perkara yang sama atas suatu perbuatan yang telah memperoleh putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Pasal 19 Tiada suatu pelanggaran atau kejahatan apa pun diancam dengan hukuman berupa perampasan seluruh harta kekayaan milik yang bersalah. Tidak seorangpun atas putusan pengadilan boleh dipidana penjara atau kurungan berdasarkan atas alasan ketidakmampuan untuk memenuhi suatu kewajiban dalam perjanjian utang piutang. 5. Hak Atas Kebebasan Pribadi Terdapat beberapa pasal mengenai kebebasan pribadi ini. Kebebasan pribadi yang diberikan meliputi kebebasan memeluk agama, kebebasan berpendapat, status kewarganegaraan, dan lain-lain. Pada UUD 1945 kebebasan memeluk agama dijelaskan pada Pasal 29 ayat 2 yaitu “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu“ Kebebasan untuk berpendapat terdapat pada Pasal 28 UUD 1945 yang menyebutkan bahwa “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang “. Selain itu juga dijelaskan pada Pasal 28 F yaitu “Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. “Kebebasan pribadi
68 Dr. Sigit Sapto Nugroho, S.H., M.Hum. mengenai agama, berpendapat, dan memilih tempat tinggal juga dijelaskan pada Pasal 28 E yang terdiri dari 3 ayat berikut: 1. Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali. 2. Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya. 3. Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat. Peraturan yang menjamin hak atas kebebasan pribadi juga terdapat pada pasal 28 I UUD 1945 ayat 1-2 yang menyatakan bahwa: 1. Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun. 2. Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.’’’ Jaminan atas hak-hak kebebasan pribadi juga tercantum dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 pasal 20-27 sebagai berikut: Pasal 20, tidak seorangpun boleh diperbudak atau diperhamba. Perbudakan atau perhambaan, perdagangan
HUKUM HAK ASASI MANUSIA 69 budak, perdagangan wanita, dan segala perbuatan berupa apa pun yang tujuannya serupa, dilarang. • Pasal 21, Setiap orang berhak atas keutuhan pribadi, baik rohani maupun jasmani, dan karena itu tidak boleh menjadi objek penelitian tanpa persetujuan darinya. • Pasal 22, setiap orang bebas memeluk agamanya masingmasing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Negara menjamin kemerdekaan setiap orang memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. • Pasal 23, setiap orang bebas untuk memilih dan mempunyai keyakinan politiknya. Setiap orang bebas untuk mempunyai, mengeluarkan dan menyebarluaskan pendapat sesuai hati nuraninya, secara lisan dan atau tulisan melalui media cetak maupun elektronik dengan memperhatikan nilai-nilai agama, kesusilaan, ketertiban, kepentingan umum, dan keutuhan bangsa. • Pasal 24, setiap orang berhak untuk berkumpul, berapat, dan berserikat untuk maksud-maksud damai. Setiap warga negara atau kelompok masyarakat berhak mendirikan partai politik, lembaga swadaya masyarakat atau organisasi lainnya untuk berperan serta dalam jalannya pemerintahan dan penyelenggaraan negara sejalan dengan tuntutan perlindungan, penegakan, dan pemajuan hak asasi manusia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. • Pasal 25, setiap orang berhak untuk menyampaikan pendapat di muka umum, termasuk hak untuk mogok sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. • Pasal 26, setiap orang berhak memiliki, memperoleh, mengganti, atau mempertahankan status kewarganegaraan-
70 Dr. Sigit Sapto Nugroho, S.H., M.Hum. nya. Setiap orang bebas memilih kewarganegaraannya dan tanpa diskriminasi berhak menikmati hak-hak yang bersumber dan melekat pada kewarganegaraannya serta wajib melaksanakan kewajibannya sebagai warga negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. • Pasal 27, setiap warga negara Indonesia berhak untuk secara bebas bergerak, berpindah, dan bertempat tinggal dalam wilayah negara Republik Indonesia. Setiap warga negara Indonesia berhak meninggalkan dan masuk kembali ke wilayah negara Republik Indonesia, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 6. Hak Atas Rasa Aman Bentuk dalam mengatur beberapa jaminan perlindungan HAM, yang banyak dipunyai dalam jaminan atas rasa aman diatur pada UUD 1945 tepatnya pada pasal 28 G yaitu: 1. Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, masyarakat, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi. 2. Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia dan berhak memperoleh suaka politik dari negara lain. Dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 hak atas rasa aman dijelaskan pada pasal 28-35. Pasal-pasal tersebut adalah sebagai berikut: Pasal 28, setiap orang berhak mencari suaka untuk memperoleh perlindungan politik dari negara lain. Hak
HUKUM HAK ASASI MANUSIA 71 sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku bagi mereka yang melakukan kejahatan nonpolitik atau perbuatan yang bertentangan dengan tujuan dan prinsip Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pasal 29, setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan hak miliknya. Setiap orang berhak atas pengakuan di depan hukum sebagai manusia pribadi di mana saja ia berada. Pasal 30, setiap orang berhak atas rasa aman dan tenteram serta perlindungan terhadap ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Pasal 31, tempat kediaman siapa pun tidak boleh diganggu. Menginjak atau memasuki suatu pekarangan tempat kediaman atau memasuki suatu rumah bertentangan dengan kehendak orang yang mendiaminya, hanya diperbolehkan dalam hal-hal yang telah ditetapkan oleh undang-undang. Pasal 32, kemerdekaan dan rahasia dalam hubungan suratmenyurat termasuk hubungan komunikasi melalui sarana elektronik tidak boleh diganggu, kecuali atas perintah hakim atau kekuasaan lain yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 33, setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan, penghukuman, atau perlakuan yang kejam, tidak manusiawi, merendahkan derajat dan martabat kemanusiaannya. Setiap orang berhak untuk bebas dari penghilangan paksa dan penghilangan nyawa. Pasal 34, setiap orang tidak boleh ditangkap, ditahan, disiksa, dikucilkan, diasingkan, atau dibuang secara sewenangwenang.
72 Dr. Sigit Sapto Nugroho, S.H., M.Hum. Pasal 35, setiap orang berhak hidup di dalam tatanan masyarakat dan kenegaraan yang damai, aman, dan tenteram, yang menghormati, melindungi, dan melaksanakan sepenuhnya hak asasi manusia dan kewajiban dasar manusia sebagaimana diatur dalam undang-undang ini. 7. Hak atas Kesejahteraan Dalam UUD 1945 juga mengatur mengenai hak atas kesejahteraan yang tercantum dalam pasal 28H ayat 1-4 sebagai berikut: 1. Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.’’ 2. Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan.’’ 3. Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat. 4. Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenangwenang oleh siapa pun.’’ Dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 jaminan perlindungan HAM dalam hak mengenai kesejahteraan di jelaskan pada pasal 36-42 sebagai berikut: Pasal 36, setiap orang berhak mempunyai milik, baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain demi pengembangan dirinya, keluarga, bangsa, dan masyarakat dengan cara yang tidak melanggar hukum. Tidak boleh seorangpun boleh dirampas miliknya dengan sewenangwenang dan secara melawan hukum. Hak milik mempunyai fungsi sosial.
HUKUM HAK ASASI MANUSIA 73 Pasal 37 pencabutan hak milik atas suatu benda demi kepentingan umum, hanya diperbolehkan dengan mengganti kerugian yang wajar dan segera serta pelaksanaannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Apabila sesuatu benda berdasarkan ketentuan hukum demi kepentingan umum harus dimusnahkan atau tidak diberdayakan baik untuk selamanya maupun untuk sementara waktu maka hal itu dilakukan dengan mengganti kerugian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan kecuali ditentukan lain. Pasal 38, setiap orang berhak, sesuai dengan bakat, kecakapan, dan kemampuan, berhak atas pekerjaan yang layak. Setiap orang berhak dengan bebas memilih pekerjaan yang disukainya dan berhak pula atas syarat-syarat ketenagakerjaan. Setiap orang, baik pria maupun wanita yang melakukan pekerjaan yang sama, sebanding, setara atau serupa, berhak atas upah serta syarat-syarat perjanjian kerja yang sama. Setiap orang, baik pria maupun wanita, dalam melakukan pekerjaan yang sepadan dengan martabat kemanusiaannya berhak atas upah yang adil sesuai dengan prestasinya dan dapat menjamin kelangsungan kehidupan keluarganya. Pasal 39, setiap orang berhak untuk mendirikan serikat pekerja dan tidak boleh dihambat untuk menjadi anggotanya demi melindungi dan memperjuangkan kepentingannya serta sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. • Pasal 40, setiap orang berhak untuk bertempat tinggal serta berkehidupan yang layak. • Pasal 41, setiap warga negara berhak atas jaminan sosial yang dibutuhkan untuk hidup layak serta untuk perkembangan pribadinya secara utuh. Setiap penyandang cacat, orang yang berusia lanjut, wanita hamil, dan anakanak, berhak memperoleh kemudahan dan perlakuan khusus.
74 Dr. Sigit Sapto Nugroho, S.H., M.Hum. • Pasal 42, setiap warga negara yang berusia lanjut, cacat fisik dan atau cacat mental berhak memperoleh perawatan, pendidikan, pelatihan, dan bantuan khusus atau biaya negara, untuk menjamin kehidupan yang layak sesuai dengan martabat kemanusiaannya, meningkatkan rasa percaya diri, dan kemampuan berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. 8. Hak Turut Serta dalam Pemerintahan Kebebasan bagi seluruh warga untuk berpartisipasi dalam pemerintahan diatur pada pasal 28 D ayat 3 yang menyatakan bahwa “Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan“. Penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 pasal 43 dan 44 sebagai berikut: Pasal 43, setiap warga negara berhak untuk dipilih dan memilih dalam pemilihan umum berdasarkan persamaan hak melalui pemungutan suara yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Setiap warga negara berhak turut serta dalam pemerintahan dengan langsung atau dengan perantaraan wakil yang dipilihnya dengan bebas, menurut cara yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan. Setiap warga negara dapat diangkat dalam setiap jabatan pemerintahan. Pasal 44, setiap orang baik sendiri maupun bersama-sama berhak mengajukan pendapat, permohonan, pengaduan, dan atau usulan kepada pemerintah dalam rangka pelaksanaan pemerintahan yang bersih, efektif, dan efisien, baik dengan lisan maupun dengan tulisan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
HUKUM HAK ASASI MANUSIA 75 9. Hak Wanita Hak wanita diatur dalam UU no 39 Tahun 1999 pada pasal 45-51, yang harus kita ketahui beberapa pasalnya dalam perundang-undangan alkitab sebagai berikut: Pasal 45, hak wanita dalam Undang-undang ini adalah hak asasi manusia. Pasal 46, sistem pemilihan umum, kepartaian, pemilihan anggota badan legislatif, dan sistem pengangkatan di bidang eksekutif, yudikatif, harus menjamin keterwakilan wanita sesuai persyaratan yang ditentukan. Pasal 47, seorangwanitayangmenikah dengan seorang pria berkewarganegaraan asing tidak secara otomatis mengikuti status kewarganegaraan suaminya tetapi mempunyai hak untuk mempertahankan, mengganti, atau memperoleh kembali status kewarganegaraannya. Pasal 48, wanita berhak untuk memperoleh pendidikan dan pengajaran di semua jenis, jenjang dan jalur pendidikan sesuai dengan persyaratan yang ditentukan. Pasal 49, wanita berhak untuk memilih, dipilih, diangkat dalam pekerjaan, jabatan, dan profesi sesuai dengan persyaratan dan peraturan perundang-undangan. Wanita berhak untuk mendapatkan perlindungan khusus dalam pelaksanaan pekerjaan atau profesinya terhadap hal-hal yang dapat mengancam keselamatan dan atau kesehatannya berkenaan dengan fungsi reproduksi wanita. Hak khusus yang melekat pada diri wanita dikarenakan fungsi reproduksinya, dijamin dan dilindungi oleh hukum. Pasal 50, wanita telah dewasa dan atau telah menikah berhak untuk melakukan perbuatan hukum sendiri, kecuali ditentukan lain oleh hukum agamanya. Pasal 51, seorang isteri selama dalam ikatan perkawinan mempunyai hak dan tanggung jawab yang sama dengan suaminya atas semua hal yang berkenaan dengan kehidupan
76 Dr. Sigit Sapto Nugroho, S.H., M.Hum. perkawinannya, hubungan dengan anak-anaknya, dan hak pemilikan serta pengelolaan harta bersama. Setelah putusnya perkawinan, seorang wanita mempunyai hak dan tanggung jawab yang sama dengan mantan suaminya atas semua hal yang berkenaan dengan anak-anaknya, dengan memperhatikan kepentingan terbaik bagi anak. Setelah putusnya perkawinan, seorang wanita mempunyai hak yang sama dengan mantan suaminya atas semua hal yang berkenaan dengan harta bersama tanpa mengurangi hak anak, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 10. Hak Anak Peraturan yang mengatur mengenai hak anak pada UUD 1945 berada pada pasal 28B ayat 2 yang menyatakan bahwa “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan diskriminasi.“ Peraturan lebih detil mengenai perlindungan hak anak dijelaskan pada Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Pasal 52-66.
HUKUM HAK ASASI MANUSIA 77 BAGIAN 5 PENGADILAN HAK ASASI MANUSIA A. Dasar Hukum Pengadilan Hak Asasi Manusia enurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia, dijelaskan bahwa: Pengadilan Hak Asasi Manusia yang selanjutnya di sebut Pengadilan Hak Asasi Manusia adalah pengadilan khusus terhadap pelanggaran Hak Asasi Manusia yang berat. Pengadilan Hak Asasi Manusia merupakan pengadilan yang khusus yang berada di lingkungan pengadilan umum yang terkhusus mengadili pelanggaran HAM yang berat. Salah satu perwujudan dari perlindungan HAM adalah bahwa seseorang yang melakukan pelanggaran HAM berat yang dapat diketahui harus diadili dan bila terbukti harus dihukum sesuai sanksi hukum yang diancamkan. Hal tersebut seperti diatur pada Pasal 104 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yang menentukan: M BAGIAN 5 PENGADILAN HAK ASASI MANUSIA
78 Dr. Sigit Sapto Nugroho, S.H., M.Hum. (1) Untuk mengadili pelanggaran HAM yang berat dibentuk Pengadilan Hak Asasi Manusia di lingkungan peradilan umum. (2) Pengadilan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dibentuk dengan undang-undang dalam jangka waktu paling lama 4 (empat) tahun. (3) Sebelum terbentuk Pengadilan Hak Asasi Manusia sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), maka kasus-kasus pelanggaran HAM sebagaimana dimaksud dalam ayat diadili oleh penga-dilan yang berwenang, Sebagai konsekuensi diundangkannya undang-undang ini, maka ada kewajiban pemerintah untuk membentuk Pengadilan HAM. Untuk perkara pelanggaran HAM berat yang dilakukan sebelum Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000, dibentuk Pengadilan HAM Ad Hoc khusus. Kekhususan ini merupakan kekecualian untuk menganut asas retroaktif. Sebagai realisasinya, pada tanggal 23 April 2001 telah diundangkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2001 tentang Pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Dengan diadakannya perubahan (amademen) kedua atas Undang-Undang Dasar1945, terutama dengan menambah Bab X A tentang Hak Asasi Manusia yang terdiri 10 (sepuluh) pasal, yaitu Pasal 28 a sampai dengan 28 j, hal ini lebih mempertegaskan komitmen bangsa Indonesia terhadap upaya perlindungan dan penegakan Hak Asasi Manusia. Berdasarkan landasan Konstitusional Undang-Undang Dasar 1945, sebagaimana telah dikemukakan sebelumya majelis permusyawaratan Rakyat Indonesia, sebagai pemegang kedaulatan rakyat tertinggi, melalui ketetapan Nomor XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia, menugaskan kepada semua lembaga tinggi Negara dan seluruh aparatur pemerintah untuk menghormati, menegakkan dan menyebarluaskan pemahaman mengenai Hak Asasi Manusia kepada seluruh masyarakat.
HUKUM HAK ASASI MANUSIA 79 Berdasarkan penugasan dari Majelis Permusyawaratan Rakyat ini, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia sebagai badan legislatif menetapkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 165). B. Perwujudan Pengadilan Hak Asasi Manusia Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999, melalui pasal 104 memerintahkan pembentukan pengadilan Hak Asasi Manusia, dengan rumusan sebagai berikut. (1) Untuk mengadili pelanggaran Hak Asasi Manusia yang berat di bentuk pengadilan Hak Asasi Manusia di lingkungan peradilan umum. (2) Pengadilan sebagaimana di maksud dalam ayat (1) dibentuk dengan undang-undang dalam jangka waktu paling lama (4) tahun. (3) Sebelum terbentuknya pengadilan Hak Asasi Manusia sebagaimana di maksud dalam ayat (2) maka kasus-kasus pelanggaran HakAsasi Manusia sebagaimana di maksud dalam ayat (1) di adili oleh pengadilan yang berwenang. Menurut ketentuan pasal 104 ayat (2) Undang-Undang Nomor 39 tahun 1999 tersebut di atas, pengadilan Hak Asasi Manusia tersebut harus sudah dibentuk selambat-lambatnya 4 (empat) tahun sesudah Undang-Undang ini diundang-undangkan. Satu tahun sesudah diundangkannya Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, Dewan Perwakilan Rakyat sudah berhasil pula menetapkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang pengadilan Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 208). Pasal 3 Undang-Undang Nomor 26 tahun 2000 tentang pengadilan Hak Asasi Manusia, menyatakan sebagai berikut. Ayat (1): “pengadilan Hak Asasi Manusia berkedudukan di daerah
80 Dr. Sigit Sapto Nugroho, S.H., M.Hum. kabupaten, atau daerah kota yang daerah hukumnya meliputi daerah hukum pengadilan negeri yang bersangkutan.“ Ayat (2): “Untuk daerah Khusus Ibu kota Jakarta, pengadilan Hak Asasi Manusia berkedudukan di setiap wilayah pengadilan negeri yang bersangkutan”. Melalui proses yang cukup panjang, akhirnya terbentuklah Pengadilan HAM Ad Hoc. Pengadilan HAM Ad Hoc bertempat di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (sesuai Keppres Nomor 96 Tahun 2001). Hakim Pengadilan HAM tingkat pertama dilantik pada tanggal 31 Januari 2002. Kemudian, Jaksa Agung Republik Indonesia melalui keputusan Jaksa Agung Nomor Kep 092/A/JA/02/2002 tanggal 7 Februari 2002 telah mengangkat 24 (dua puluh empat) Jaksa Ad Hoc, dan pada hari Kamis tanggal 21 Februari 2002 penyerahan perkara untuk pertama kalinya oleh Jaksa diserahkan pada Peradilan HAM Ad Hoc. Pada hakikatnya, HAM tersebut adalah merupakan hak dasar yang dimiliki oleh setiap manusia semenjak dia lahir dan merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian, Hak Asasi Manusia bukanlah merupakan hak bersumber dari Negara dan hukum. Oleh karena itu, sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya yang diperlukan dari Negara dan hukum hanyalah pengakuan dan jaminan perlindungan terhadap Hak Asasi Manusia tersebut. Dalam masyarakat internasional Hak Asasi Manusia tersebut telah diakui secara resmi, dengan dideklarasikannya suatu piagam oleh perserikatan bangsa-bangsa (PBB) yang di kenal dengan “Universal Declaration of HumanRight“ (pernyataan sejagat tentang Hak Asasi Manusia), pada tanggal 10 Desember 1948. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya melalui ketetapan MPR Nomor XVII/ MPR/1998tentang Hak Asasi Manusia, menugaskan kepada semua lembaga-lembaga tinggi Negara dan seluruh aparatur pemerintahan untuk menghormati, menegakkan, dan me-
HUKUM HAK ASASI MANUSIA 81 nyebarluaskan pemahaman mengenai Hak Asasi Manusia kepada seluruh warga masyarakat dan segera meratifikasi berbagai instrumen PBB tentang Hak Asasi Manusia, sepanjang tidak bertentangan dengan pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. (Tap MPR No. XVII/MPR/1998). Perlindungan terhadap Hak Asasi Manusia sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, selain menggunakan instrumen hukum, dapat pula dilakukan melalui instrumen dan kelembagaan, baik yang bersifat nasional maupun internasional. Perlindungan Hak Asasi Manusia melalui kelembagaan dapat dilakukan melalui Komisi Hak Asasi Manusia PBB, Mahkamah Internasional, dan secara nasional melalui Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Pengadilan Hak Asasi Manusia, dan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi. Pembentukan komisi nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM) telah dilakukan sebelum ditetapkannya ketetapan MPR Nomor 22XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia dan Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, melalui Keppres Nomor 5 Tahun 1993 Tanggal 7 Juli 1993, sedangkan Pengadilan Hak Asasi Manusia dan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi pembentukannya di dasarkan pada Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. Pembentukan Pengadilan Hak Asasi Manusia di Indonesia, tidak hanya sekadar memenuhi kebutuhan secara nasional, tetapi juga memenuhi tuntutan masyarakat internasional. Kebijakan PBB dalam upaya perlindungan terhadap Hak Asasi Manusia secara universal melalui beberapa instrumennya member kewenangan kepada PBB untuk terlibat secara langsung dalam suatu Negara berdaulat, dengan alasan untuk melindungi HAM. Susunan majelis hakim pengadilan Hak Asasi Manusia terdiri atas 5 orang hakim yang berasal dari hakim pada pengadilan Hak Asasi Manusia yang berjumlah 2 orang dan 3 orang dari hakim Ad Hoc. Majelis hakim ini di ketuai oleh salah seorang hakim dari
82 Dr. Sigit Sapto Nugroho, S.H., M.Hum. pengadilan yang bersangkutan. Setiap pengadilan Hak Asasi Manusia diangkat 12 orang hakim Ad Hoc. Pengangkatan di lakukan oleh presiden selaku kepala Negara atau usul ketua Mahkamah Agung. Hakim Ad Hoc di angkat untuk masa jabatan 5 tahun dan dapat di angkat kembali 1 kali masa jabatan. Menurut penjelasan Pasal 28 ayat1 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000, hakim Ad Hoc adalah hakim yang diangkat dari luar hakim karir yang memenuhi persyaratan profesional, berdedikasi dan berintegrasi tinggi, menghayati cita-cita Negara hukum dan Negara kesejahteraan yang berintikan keadilan, memahami dan menghormati Hak Asasi Manusia dan kewajiban dasar manusia. Selanjutnya, Pasal 29 Undang-UndangNomor 26 Tahun 2000, menyebutkan syarat-syarat yang harus di penuhi seseorang untuk dapat diangkat sebagai hakim Ad Hoc, yaitu sebagai berikut. a. Warga Negara Republik Indonesia b. Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. c. Berumur Sekurang-kurangnya 40 tahun dan paling tinggi 65 tahun. d. Berpendidikan sarjana hukum atau sarjana lain yang mempunyai keahlian di bidang hukum. e. Sehat jasmani dan rohani. f. Berwibawa, jujur, adil dan berkelakuan tidak tercela. g. Setia kepada pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. h. Memiliki pengetahuan dan kepedulian di bidang hak asasi manusia. Dalam penjelasan pasal 29 angka 4 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000, dijelaskan bahwa yang di maksud dengan “keahlian di bidang hukum“, adalah antara lain Sarjana Syariah atau Sarjana Lulusan Penguruan Tinggi Ilmu Kepolisian. Sebelum menjalankan tugasnya, seorang hakim Ad Hoc yang telah diangkat oleh presiden, wajib mengucapkan sumpah sesuai dengan agamanya masing-masing di mana sebagai tugas profesinya dan
HUKUM HAK ASASI MANUSIA 83 sebagai penegak hukum dalam peradilan yang lafalnya berbunyi sebagai berikut. “Saya bersumpah/berjanji dengan sungguh-sungguh bahwa saya untuk melaksanakan tugas ini, langsung atau tidak langsung, dengan menggunakan nama atau cara apa pun juga, tidak akan memberikan atau menjanjikan sesuatu apa pun kepada siapa pun juga.“ “Saya bersumpah/berjanji bahwa saya, untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam tugas ini, tidak sekali-kali akan menerima langsung atau tidak langsung dari siapa pun juga suatu janji atau pemberian.“ “Saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan setia kepada dan akan mempertahankan serta mengamalkan pancasila sebagai dasar Negara,Undang-Undang Dasar 1945, serta peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi Negara Republik Indonesia.“ “Saya bersumpah/berjanji bahwa saya senang tiasa akan menjalankan tugas ini dengan jujur, saksama dan objektif dengan tidak membeda-bedakan orang, dan akan menjunjung tinggi etika profesi dalam melaksanakan kewajiban saya ini dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya seperti layaknya bagi seorang petugas yang berbudi baik dan jujur dalam menegakkan hukum dan keadilan.“ (Pasal 26 UU No.26 Tahun 2000). Susunan majelis hakim di pengadilan Tinggi Hak Asasi Manusia sama dengan pengadilan Hak Asasi Manusia, yaitu 2 orang hakim dari pengadilan tinggi yang bersangkutan dan 3 orang hakim Ad Hoc. Di setiap pengadilan tinggi Hak Asasi Manusia, sekurang-kurangnya di angkat 12 orang hakim Ad Hoc. Untuk hakim Ad Hoc pada pengadilan tinggi Hak Asasi Manusia juga
84 Dr. Sigit Sapto Nugroho, S.H., M.Hum. berlaku syarat-syarat sebagaimana syarat-syarat yang berlaku bagi hakim Ad Hoc di pengadilan Hak Asasi Manusia dan juga diwajibkan mengucapkan sumpah sebagaimana yang di lakukan oleh hakim ad Hoc di pengadilan Hak Asasi Manusia. Demikian juga di Mahkamah Agung susunan majelis hakimnya sama dengan susunan majelis hakim pada pengadilan Hak Asasi Manusia dan pengadilan tinggi Hak Asasi Manusia, yaitu sebanyak 5 orang, yang terdiri dari 2 orang hakim agung dan 3 orang hakim Ad Hoc. Hakim Ad Hoc di tingkat Mahkamah Agung sekurangkurangnya berjumlah 3 orang, diangkat oleh Presiden selaku kepala Negara atas usul dewan perwakilan rakyat Republik Indonesia. Hakim Ad Hoc pada Mahkamah Agung di angkat hanya untuk 1 kalimasa jabatan dan tidak boleh lagi diangkat untuk masa jabatan berikutnya. Menurut ketentuan Pasa l33 ayat 6 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000, syarat-syarat yang harus di penuhi oleh seseorang untuk dapat diangkat sebagai hakim Ad Hoc pada Mahkamah Agung adalah sebagai berikut. 1. Warga Negara Republik Indonesia. 2. Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 3. Berumur sekurang-kurangnya 50 tahun. 4. Berpendidikan sarjana hukum atau sarjana lain yang mempunyaikeahlian di bidang hukum. 5. Sehat jasmani dan rohani. 6. Berwibawa, jujur, adil dan berkelakuan tidak tercela. 7. Setiap kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. 8. memiliki pengetahuan dan kepedulian di bidang hak asasi manusia.
HUKUM HAK ASASI MANUSIA 85 C. Pelanggaran Hak Asasi Manusia Menurut Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia, dijelaskan bahwa: Pelanggaran HAM yang berat adalah pelanggaran HAM sebagaimana di maskud dalam Undang-Undang ini. Pelanggaran HAM adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termaksud aparat Negara baik di sengaja ataupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara hukum mengurangi, menghalangi, membatasi, dan atau mencabut hak asasi manusia seseorang atau kelompok orang yang di jamin oleh Undang-Undang ini, dan tidak didapatkan, atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar,berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku (UndangUndang Nomor. 26 Tahun 2000 tentang pengadilan Hak Asasi Manusia). Pada dasarnya pelanggaran HAM merupakan pelanggaran terhadap berbagai instrument nasional seperti Konversi Internasional Hak Sipil dan Politik, Konvensi Anti penyiksaan dan penghukuman atau perlakuan yang kejam, tidak manusiawi dan merendahkan martabat manusia dan deklarasi mengenai perlindungan kepada semua orang terhadap penghilangan paksa. Pelanggaran HAM merupakan pelanggaran yang telah diatur dalamUndang-Undang Pengadilan Hak Asasi Manusia baik itu aparatur Negara yang melakukan pelanggaran HAM atau kelompok sehingga memberikan situasi yang tidak tenang. Penentuan kompetensi pengadilan Hak Asasi Manusia adalah sangat penting dan perlu dirumuskan dengan cermat, guna mencegah terjadinya tumpang tindih kewenangan antara pengadilan Hak Asasi Manusia dengan pengadilan pidana. Pembunuhan dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain adalah merupakan pelanggaran terhadap hak asasi seseorang (hak untuk hidup) dan perbuatan ini dapat di jerat melalui Pasal 340
86 Dr. Sigit Sapto Nugroho, S.H., M.Hum. KUHP, dan di adili oleh pengadilan pidana dan bukan oleh pengadilan Hak Asasi Manusia. Menurut ketentuan Pasal 4 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000, pengadilan Hak Asasi Manusia bertugas dan berwenang memeriksa dan memutuskan perkara pelanggaran Hak Asasi Manusia yang berat. Dari ketentuan pasal ini jelas bagi kita bahwa tidak semua pelanggaran Hak Asasi Manusia dapat diadili oleh pengadilan Hak Asasi Manusia, seperti contoh kasus pembunuhan di atas, tetapi terbatas pada “pelanggaran Hak Asasi Manusia yang berat “. Di maksud dengan pelanggaran Hak Asasi Manusia yang berat menurut ketentuan Undang-UndangNomor 26 Tahun 2000 adalah sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 7 yang berbunyi sebagai berikut. “Pelanggaran Hak Asasi Manusia yang berat meliputi: a. Kejahatan Genosida. b. Kejahatan Terhadap Kemanusiaan. Yang dimaskud dengan kejahatan genosida adalah setiap perbuatanyang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memutuskan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok etnis, kelompok agama dengan cara: 1. Membunuh anggota kelompok 2. Mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap anggota-anggota kelompok. 3. Menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang akan mengakibatkan pemusnahan secara fisik baik seluruh atau sebagiannya. 4. Memaksakan tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran di dalam kelompok. 5. Memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok tertentu kekelompok lain. Sedangkan yang dimaksud dengan kejahatan terhadap kemanusiaan adalah salah satu perbuatan yang di lakukan sebagai
HUKUM HAK ASASI MANUSIA 87 bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil, berupa hal-hal berikut: 1. Pembunuhan, dengan rumusan delik sebagaimana di dalam Pasal 340 kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). 2. Pemusnahan, meliputi perbuatan yang menimbulkan penderitaan yang dilakukan dengan sengaja, antara lain berupa perbuatan menghambat pemasokan barang makanan dan obatobatan yang dapat menimbulkan pemusnahan pada sebagian penduduk. 3. Perbudakan, dalam ketentuan ini termasuk perdagangan manusia, khususnya perdagangan wanita dan anak-anak. 4. Pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa, yaitu pemindaan orang-orang secara paksa dengan cara pengusiran atau tindakan pemaksaan yang lain dari daerah di mana mereka bertempat tinggal secara sah, tanpa di dasari alasan yang diizinkan oleh hukum Internasional. 5. Perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain secara sewenang-wenang yang melanggar (asas-asas) ketentuan pokok hukum internasional. 6. Penyiksaan yaitu segaja melawan hukum, menimbulkan kesakitan atau penderitaan yang berat baik fisik maupun mental, terhadap seorang tahanan atau seorang yang berada di bawah pengawasan. 7. Perkosaan, perbudakan seksual, pelacuran secara paksa, pemaksaan kehamilan, pemandulan atau sentralisasi secara paksa atau bentuk-bentuk kekerasan seksual lain yang setara. 8. Penganiyaan terhadap suatu kelompok tertentu atau perkumpulan yang didasari persamaan paham politik, ras, kebangsaan, etnis, budaya, agama, jenis kelamin, atau alasan lain yang telah diakui secara universal sebagai hal yang dilarang menurut hukum internasional.
88 Dr. Sigit Sapto Nugroho, S.H., M.Hum. 9. Penghilangan orang secara paksa, yaitu penangkapan, penahanan, atau penculikan seseorang oleh atau dengan kuasa, dukungan atau persetujaun dari Negara atau kebijakan organisasi, diikuti oleh penolakan untuk mengakui perampasan kemerdekaan tersebut, dengan maksud untuk melepaskan dari perlindungan hukum dalam waktu jangka panjang. 10. Kejahatan apartheid adalah perbuatan tidak manusiawi dengan sifat yang sama dengan sifat-sifat yang disebutkandalam Pasal 8 yang dilakukan dalam konteks suatu rezmi kelembagaan berupa penindasan dan dominasi oleh suatu kelompok rasial atas suatu kelompok atau kelompok-kelompok ras lain dan dilakukan dengan maksud untuk mempertahankan rezim itu. Pola-pola kejahatan terhadap kemanusian (crimes against humanity ) adalah salah satu bentuk pelanggaran berat Hak Asasi Manusia (gross violition of human rights) yang menjadi tanggung jawab Negara. Akan tetapi, demi keadilan pelanggaran HAM yang berat tersebut harus dipertanggung jawabkan secara perorangan. Kedua pasal tersebut di atas yang mengatur tentang kejahatan genosida dan kejehatan terhadap kemanusiaan, diadopsi dari pasal 6 dan Pasal 7 Rome Statue Of Internasional Criminal Court. Pengadilan Hak Asasi Manusia menurut ketentuan UndangUndang Nomor 26 Tahun 2000, di samping berwenang memeriksa dan memutus perkara pelanggaran Hak Asasi Manusia yang berat yang terjadi di territorial wilayah Negara Republik Indonesia (Asas Teritorialitet), juga berwenang memeriksa dan memutus perkara pelanggaran HAM yang berat dilakukan oleh warga Negara Indonesia di luar Teritorial wilayah Negara Republik Indonesia (Asas Nasionalitet), tujuan dimuatnya ketentuan ini adalah untuk melindungi warga Negara Indonesia yang melakukan pelanggaran HAM yang berat di luar negeri, karena dengan ketentuan ini mereka dapat diadili dan dihukum berdasarkan hukum yang berlaku di Indonesia.
HUKUM HAK ASASI MANUSIA 89 Selanjutnya Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 pasal 6 memberikan pengecualian berkenaan weweng Pengadilan Hak Asasi Manusia sebagai berikut. “Pengadilan Hak Asasi Manusia tidak berwenang memeriksa dan memutus perkara pelanggaran Hak Asasi Manusia yang berat yang dilakukan oleh seseorang yang berumur di bawah 18 (delapan belas) tahun pada saat kejahatan dilakukan.“ Hak ini berarti bahwa seseorang yang berumur di bawah 18 (delapan belas) tahun yang melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia yang berat, tetap diperiksa dan diputus oleh pengadilan Negeri sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan bukan oleh Pengadilan Hak Asasi Manusia. Dalam penjelasan Pasal 4 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 dinyatakan bahwa dalam kewenangan memeriksa dan memutus yang dimiliki pengadilan Hak Asasi Manusia, termaksud menyelesaikan perkara yang menyangkut kompensasi, restitusi, dan rehabilitasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundanganundangan yang berlaku. Dari apa yang telah di kemukakan di atas bahwa pengadilan Hak Asasi Manusia hanya berwenang memeriksa memutus perkara pelanggaran HAM yang berat. Seperti telah di kemukakan sebelumnya, pelanggaran HAM yang berat itu meliputi: kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
90 Dr. Sigit Sapto Nugroho, S.H., M.Hum. DAFTAR PUSTAKA Alamsyah, B. (2010). Kedudukan dan Wewenang Komisi Yudisial dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia (Doctoral dissertation, Universitas Islam Indonesia). Ansori, M. (2020). Dimensi HAM dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003. Iaifa Press. Asnawi, H. S. (2012). Hak Asasi Manusia Islam dan Barat: Studi Kritik Hukum Pidana Islam dan Hukuman Mati. Supremasi Hukum: Jurnal Kajian Ilmu Hukum, 1 (1). Asshiddiqie, J. (2011, November). Gagasan negara hukum Indonesia. Makalah Disampaikan dalam Forum Dialog Perencanaan Pembangunan Hukum Nasional yang Diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum dan HAM. Assya'bani, R. (2018). Hak Asasi Manusia (Ham) Dalam Islam: Menelusuri Konsep Ham Dalam Piagam Madinah. Al-Falah: Jurnal Ilmiah Keislaman dan Kemasyarakatan, 18 (2), 152- 175.
HUKUM HAK ASASI MANUSIA 91 Dahlan Thaib., et. al., Teori dan Hukum Konstitusi, PT Rajagrafindo Persada, Jakarta. Darren J O’byrne, 2004, Human Rights an Introduction, Pearson Education, Singapore. Dwi, S., Triwahyuningsih, T., & Dikdik Baehaqi Arif, D. B. A. (2012). Hak Azasi Manusia. El-Muhtaj, M. (2017). Hak asasi manusia dalam konstitusi Indonesia. Prenada Media.Jakarta. Faisal, F. (2019). Eksistensi Pengadilan Hak Asasi Manusia Terhadap Penegakan Hak Asasi Manusia Dalam Sistem Peradilan. Gorontalo Law Review, 2 (1), 33-48. Firdaus Arifin, S. H. (2019). Hak Asasi Manusia Teori, Perkembangan Dan Pengaturan. Hakim, L. (2011). Kewenangan organ negara dalam penyelenggaraan pemerintahan. Jurnal Konstitusi, 4 (1). Ishom, M. (2019). Hak Asasi Manusia (HAM) Dalam Perspektif Maqashid Al-Syari’ah. Al Qisthas: Jurnal Hukum Dan Politik Ketatanegaraan, 7 (2), 117-136. Janedjri M. Gaffar, 2013, Demokrasi dan Pemilu di Indonesia, Konstitusi Press, Jakarta. Jimly Asshiddiqie, 2004, Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia, Mahkamah konstitusi RI dan Pusat Studi Hukum Tata Negara Fak. Hukum UI, Jakarta. Jumadi, J. (2017). Negara Hukum dan Pembangunan Nasional Berwawasan Hukum. Jurisprudentie: Jurusan Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum, 4 (1), 68-82.