124 2. Formasi Lingkaran Para peserta didik duduk pada sebuah lingkaran tanpa meja atau kursi untuk melakukan interaksi berhadap-hadapan secara langsung. Sebuah lingkaran ideal untuk diskusi kelompok penuh. Jika guru menginginkan peserta didik memiliki tempat untuk menulis, hendaknya digunakan susunan peripheral, yakni meja ditempatkan di belakang peserta didik. Guru dapat menyuruh peserta didik memutar kursikursinya melingkar ketika guru menginginkan diskusi kelompok.
125 3. Susunan Chevron (V) Sebuah susunan ruang kelas tradisional tidak memungkinkan untuk melakukan belajar aktif. Jika terdapat banyak peserta didik (tiga puluh atau lebih) dan hanya tersedia beberapa meja, barangkali guru perlu menyusun peserta didik dalam bentuk ruang kelas. Susunan V mengurangi jarak antara para peserta didik, pandangan lebih baik dan lebih memungkinkan untuk melihat peserta didik lain daripada baris lurus. Dalam susunan ini, tempat paling bagus ada pada pusat tanpa jalan tengah, seperti tampak pada gambar berikut: 4. Kelas Tradisional Jika tidak ada cara untuk membuat lingkaran dari baris lurus yang berupa meja kursi, guru dapat mencoba mengelompokkan kursi-kursi dalam pasangan-pasangan yang memungkinkan penggunan teman belajar. Guru dapat mencoba membuat nomor genap dari baris-baris ruangan yang cukup diantara mereka sehingga pasangan-pasangan peserta didik pada baris-baris nomor ganjil dapat memutar kursi-kursi mereka melingkar dan membuat persegi panjang dengan pasangan tempat duduk persis di belakang mereka pada baris berikutnya. Format atau setting kelas ini banyak digunakan di lembaga pendidikan manapun karena paling mudah dan sederhana. Tetapi secara psikologis, bila digunakan sepanjang masa tanpa variasi format lain akan berpengaruh
126 terhadap gape psikologis peserta didik seperti merasa minder, takut dan tidak terbuka dengan teman, karena sesama peserta didik tidak pernah saling berhadapan (face to face) dan hanya melihat punggung temannya sepanjang tahun dalam belajar. Meskipun demikian tidak berarti format kelas seperti ini tidak bisa digunakan untuk pembelajaran aktif, tentu hal ini tergantung bagaimana guru menciptakan suasana belajar aktif dengan strategi yang tepat. Berikut ini tampak gambar/formasi kelas tradisional: F. Kurikulum Merdeka Belajar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Nadiem Anwar Makarim saat berpidato pada acara Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2019 mencetuskan konsep “Pendidikan Merdeka Belajar”. Konsep ini merupakan respons terhadap kebutuhan sistem pendidikan pada era revolusi industri 4.0. Nadiem menyebutkan merdeka belajar merupakan kemerdekaan berfikir. Kemerdekaan berpikir ditentukan oleh guru (Tempo.co, 2019). Jadi kunci utama menunjang sistem pendidikan yang baru adalah guru. Menurut Nadiem (2019) guru tugasnya mulia dan dan sulit. Dalam sistem pendidikan nasional guru
127 ditugaskan untuk membentuk masa depan bangsa, namun terlalu dibebani dengan sejumlah aturan yang menyulitkan guru. Guru ingin membantu murid untuk mengerjakan ketertinggalan di kelas, tetapi waktu habis untuk mengerjakan administrasi tanpa manfaat yang jelas. Guru mengetahui potensi siswa tidak dapat diukur dari hasil ujian, namun guru dikejar oleh angka yang didesak oleh berbagai pemangku kepentingan. Guru ingin mengajak murid ke luar kelas untuk belajar dari dunia sekitarnya, tetapi kurikulum yang ada kurang mendukung untuk dilakukannya petualangan. Guru mengetahui bahwa setiap murid memiliki kebutuhan berbeda, tetapi keseragaman mengalahkan keberagaman sebagai prinsip dasar birokrasi. Guru ingin setiap murid terinspirasi, tetapi guru tidak diberi kepercayaan untuk berinovasi (Nadiem Makarim dalam Kemendikbud.go.id, 2019). R. Suyanto Kusumaryono (dalam Kemendikbud.go.id, 2019) menilai bahwa konsep “Merdeka Belajar” yang dicetuskan oleh Nadiem Makarim dapat ditarik beberapa poin: Pertama, konsep “Merdeka Belajar” merupakan jawaban atas masalah yang dihadapi oleh guru dalam praktik pendidikan. Kedua, guru dikurangi bebannya dalam melaksanakan profesinya, melalui keleluasaan yang merdeka dalam menilai belajar siswa dengan berbagai jenis dan bentuk instrumen penilaian, merdeka dari berbagai pembuatan administrasi yang memberatkan, merdeka dari berbagai tekanan intimidasi, kriminalisasi, atau mempolitisasi guru. Ketiga, membuka mata kita untuk mengetahui lebih banyak kendala-kendala apa yang dihadapi oleh guru dalam tugas pembelajaran di sekolah, mulai dari permasalahan penerimaan peserta didik baru (input), administrasi guru dalam persiapan mengajar termasuk RPP, proses pembelajaran, serta masalah evaluasi seperti USBN-UN (output). Keempat, guru sebagai garda terdepan dalam membentuk masa depan bangsa melalui proses pembelajaran, maka menjadi penting untuk dapat menciptakan suasana pembelajaran yang lebih happy di dalam kelas, melalui sebuah kebijakan pendidikan yang nantinya akan berguna bagi guru dan siswa. Terakhir, dicetuskannya konsep “Merdeka Belajar” pada saat Nadiem Makarim
128 memberikan pidato pada acara Hari Guru Nasional (HGN) tersebut, diasumsikan tidak lagi menjadi gagasan melainkan lebih pada sebuah kebijakan yang akan dilaksanakan. Kesimpulan dari konsep merdeka belajar merupakan tawaran dalam merekonstruksi sistem pendidikan nasional. Penataan ulang sistem pendidikan dalam rangka menyongsong perubahan dan kemajuan bangsa yang dapat menyesuaikan dengan perubahan zaman, dengan cara mengembalikan hakikat dari pendidikan yang sebenarnya yaitu pendidikan untuk memanusiakan manusia atau pendidikan yang membebaskan. Dalam konsep merdeka belajar, antara guru dan murid merupakan subjek di dalam sistem pembelajaran. Artinya guru bukan dijadikan sumber kebenaran oleh siswa, namun guru dan siswa berkolaborasi sebagai penggerak dan mencari kebenaran. Dengan demikian, posisi guru di ruang kelas bukan untuk menanam atau menyeragamkan kebenaran menurut guru, namun menggali kebenaran, daya nalar dan daya kritisnya siswa melihat dunia dan fenomena. Peluang berkembangnya internet dan teknologi menjadi momentum kemerdekaan belajar, karena dapat meretas sistem pendidikan yang kaku atau tidak membebaskan, termasuk mereformasi beban kerja guru dan sekolah yang terlalu dicurahkan pada hal yang administratif. Oleh sebabnya kebebasan untuk berinovasi, belajar dengan mandiri, dan kreatif dapat dilakukan oleh unit pendidikan, guru dan siswa. Saat ini antara guru dan siswa memiliki pengalaman yang mandiri termasuk di lingkungan. Dan dari pengalaman yang ada tersebut akan dikursuskan di ruang kelas dan lembaga pendidikan. Adaptasi sistem pendidikan di era Revolusi Industri 4.0 harus distimulasi dengan proses literasi baru tersebut. Siswa/peserta didik pada era industri 4.0 memiliki pengalaman yang padat dengan dunia digital atau visual saat ini. Dan tugas guru, kepala sekolah termasuk lembaga pendidikan dapat mengarahkan, memimpin, dan menggali daya kritis dan potensi siswanya.
129 Salah satu bentuk implementasi dari kebijakan Merdeka Belajar adalah dihapuskannya Ujian Nasional (UN), karena UN dianggap membebani guru dan siswa sehingga banyak siswa yang tertekan, bahkan ada yang sampa bunuh diri. Ada beberapa bentuk ujian yang akan diberlakukan sebagai pengganti UN, salah satu di antaranya adalah Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). Contoh Soal HOTs pada Materi Pembelajaran dalam Kurikulum 2013: Untuk mencapai kompetensi “memahami makna Q.S. al-Jalzalah dengan tepat”, dilakukan pembelajaran, di antaranya: 1. Membaca Q.S. al-Zalzalah 2. Mengartikan Q.S. al-Zalzalah 3. Mendengarkan penjelasan tentang Q.S. al-Jalzalah 4. Mendiskusikan cara membaca Q.S. al-Zalzalah 5. Mendiskusikan arti perkata Q.S. al-Zalzalah 6. Mendiskusikan makna Q.S. al-Zalzalah Di antara urutan langkah pembelajaran yang tepat dengan menggunakan saintifik untuk mencapai kompetensi tersebut adalah …. A. 1, 2, 3, 4 B. 1, 2, 3, 5 C. 1, 2, 5, 6 D. 2, 3, 4, 1 E. 2, 3, 4, 6 TINDAK LANJUT BELAJAR Untuk meningkatkan kemampuan analisis, Saudara dapat melakukan beberapa aktivitas tindak lanjut dari kegiatan belajar ini, di antaranya sebagai berikut: 1. Simaklah sumber belajar dalam bentuk video/artikel pada LMS Program PPG. Kemudian lakukan analisis berdasarka konten! 2. Kaitkan konten video/artikel dengan nilai-nilai moderasi dalam proses pembelajarannya di sekolah/madrasah!
130 3. Ikuti tes akhir modul dan cermati hasil tesnya. Bila hasil tes akhir modul di bawah standar minimum ketuntasan (70), maka Saudara melakukan pembelajaran remedial dengan memperhatikan petunjuk dalam LMS program PPG. 4. Aktifitas tindak lanjut lebih detail, silahkan mengikuti tagihan tugas yang ada di LMS.
131 GLOSARIUM Kurikulum : seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu Pembelajaran : proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar TPACK : framework (kerangka kerja) dalam mendesain model pembelajaran baru bagi guru atau calon guru dengan menggabungkan tiga aspek utama yaitu teknologi, pedagogi dan konten/materi pengetahuan
132 DAFTAR PUSTAKA Anonymous. Jean Piaget: Cognitive development in the classroom. April 2011. http://www.funderstanding.com/educators/jean-piaget-cognitivedevelopment-in-the-classroom/ Asri Budiningsih. 2003. Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Yogyakarta Biehler, R.F. & Snowman, J. (1982). Psychology Applied to Teaching, Fourth edition, Boston: Houghton Mifflin Company. Brooks, J.G., & Brooks, M., (1993). The case for constructivist classrooms. association for supervision and curriculum development. Alexandria, Virginia. Chicago: Rand McNally. Collin, Catherine, dkk. 2012. The Psychology Book. London: DK. Dahar, R. W., (1989). Teori-teori Belajar. Jakarta: Depdikbud, Dirjen Dikti, P2LPTK. Degeng N.S., (1997). Pandangan Behavioristik vs Konstruktivistik: Pemecahan Degeng, I.N.S., (1989). Ilmu Pengajaran: Taksonomi Variabel. Jakarta: Depdikbud, Dirjen Dikti, P2LPTK. Dimyati, M, (1989). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Depdikbud, Dirjen Dikti, P2LPTK Gage, N.L., & Berliner, D. (1979). Educational Psychology. Second Edition, Chicago: Rand McNally. Guruvalah..Teori-teori Psikologi Belajar. Jigna, DU. Application of Humanism Theoryin The Teaching Approach. CS Canada: Higher Education of Social Sciences. Vol. 3, No. 1, 2012, pp. 32-36. DOI:10.3968/j.hess.1927024020120301.1593 Perkins, D.N., (1991). What Constructivism demands of the learner. Educational Technology. Vol. 33, No. 9, pp.19-21 Raka Joni, T. (1990). Cara belajar siswa aktif: CBSA: artikulasi konseptual, jabaran operasional, dan verivikasi empirik. Pusat Penelitian IKIP Malang. Ratna Wilis D. (1996). Teori-teori Belajar. Jakarta : Erlangga
133 Schunk, Dale. H. 2012. Learning Theories an Educational Perspective. Edisi keenam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Smaldino, dkk. 2010. Instructional Technology and Media for Learning. 10th edition. United State of America: Pearson. Smaldino, dkk. 2012. Instructional Technology and Media for Learning. 11th edition. United State of America: Pearson. Velenvuela, Julia Scherba. (2003). Sociocultural Theory. www.unm/~devalenz/handouts/sociocult.html - 9k – Chached – More from this site www.geocities.com/guruvalah/psikologi_belajar.pdtfHasilTambahan Yuliani Nurani Sujiono, dkk, III. (2005). Metode Pengembangan Kognitif. Jakarta : Pusat penerbitan Universitas Terbuka