JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN Modul 2 oleh : Raden Setiawan CGP Angkatan 7
CGP FASILITATOR RADEN SETIAWAN PEMBIMBING PRAKTIK AMALA SUNARTI, MA WURI HANDAJANI, S. PD.
Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran BerdiferensiasI JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 2.1
01 02 03 PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI STRATEGI KARAKTERISTIK K ERAGAMAN DIKELAS DIFERENSIASI KONTEN DIFERENSIASI PROSES DIFERENSIASI PRODUK
PEMBELAJARAN SOSIAL DAN EMOSIONAL JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 2.2 Model : Segitiga Refleksi
Setelah mempelajari modul 2.2 tentang pembelajaran sosial emosional, saya akhirmya memahami bahwa pembelajaran sosial emosional merupakan pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh warga sekolah. Pembelajaran ini meliputi 5 kompetensi yaitu kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Kelima kompetensi tersebut harus dipahami dan sudah tertanam dalam diri seorang guru maupun tenaga pendidik agar dapat diimplementasikan dalam setiap kegiatan yang ada di sekolah baik itu kegiatan pembelajaran, budaya kelas atau sekolah dan pengajaran eksplisit. Guru dan tenaga kependidikan yang ada di sekolah harus mampu menjadi teladan dalam penerapan kompetensi sosial emosional, belajar mengelola emosi dengan mempraktekkan mindfulness metode STOP agar apapun yang kita lakukan atau kita putuskan sudah dengan pemikiran terlebih dahulubukan dilandasi dengan emosi. Kolaborasi antarwarga sekolah dalam penerapan kompetensi sosial emosional dapat mewujudkan well being di sekolah. Penjelasan
Setelah mempelajari modul 2.2 tentang pembelajaran sosial emosional, saya akhirnya mampu mengintegrasikan kompetensi sosial emosional dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Misalnya sebelum kegiatan pembelajaran saya akan mengindentifikasi dulu perasaan murid-murid saya, jangan sampai mereka mengikuti pembelajaran saya dalam suasana hati yang sedih atau marah secara online dengan menggunakan Gform yang sudah saya siapkan. Teknik STOP sangat efektif untuk saya terapkan dalam pembelajaran terutama pada jam-jam terakhir yang konsentrasi dan semangat sudah mulai berkurang. Setelah mempelajari modul ini,saya juga mampu melatihkan ketrampilan berelasi terhadap muridmurid saya yang biasanya selalu berada dalam zona nyaman yang hanya mau bekerja dengan temanteman yang sama dan bahkan terkadang menolak untuk bekerja dengan salah satu teman yang mereka anggap tidak se-frekuensi. Cara yang saya lakukan adalah dengan melakukan pembelajaran secara berkelompok yang anggotanya selalu berganti-ganti tapi nama kelompok Tetap dan menggunakan nama Profil Pelajar Pancasila, disini saya terlebih dahulu akan menjelaskan kepada mereka maksud dan tujuan pergantian anggota kelompok tersebut. Penjelasan
Perasaan saya setelah saya mempelajari modul 2.2 dan mengimplementasikannya di kelas tentunya saya merasa senang dan bersyukur karena saya dapat memperoleh materi baru dan sangat bermanfaat. Awalnya saat saya mempelajari modul ini saya merasa bingung karena saya susah sekali memahami materi terutama pada lima kompetensi sosial emosional, namun perasaan bingung tersebut berangsur-angsur hilang saat sesi ruang kolaborasi dan saling bertukar fikiran dengan teman-teman CGP, apalagi penguatan materi dari Intruktur dan fasilitator Ibu Amala sangat membuka wawasan saya sehingga saya paham bagaimana mengimplementasikan kompetensi sosial emosional tersebut di kelas dan sekolah. Setelah saya mencoba mengimplementasikan dalam pembelajaran dan melihat respon siswa yang luar biasa, perasaan saya bertambah bahagia karena saya ternyata mampu mengaplikasikan ilmu yang saya peroleh di kelas saya sehingga dalam pembelajaran tercipta well being sesuai dengan motto saya "Belajar Nyaman, Belajar Bahagia dan Belajar Menjadi Maslahat" Penjelasan
Setelah saya mempelajari modul 2.2 dan mengimplementasikannya di kelas, maka target saya selanjutnya adalah mengajak rekan sejawat yaitu guru dan tenaga kependidikan di sekolah saya untuk menerapkan motode STOP agar tidak selalu emosi ketika melihat perilaku murid yang tidak sesuai dengan keinginan. Guru adalah teladan, jika kita menginginkan murid dapat mengelola emosi dengan baik, maka terlebih dahulu guru yang harus bisa mengontrol emosinya. Berawal dari guru yang memiliki kesadaran diri dan mampu mengelola dri, maka akan muncul kesadaran sosial sehingga akan terjalin ketrampilan berelasi antar sesama guru, tenaga pendidik, murid dan orang tua. Akhirnya semua keputusan yang diambil adalah keputusan yang bertanggung jawab sehingga akan terwujud student well being. Penjelasan
COACHING Untuk Supervisi Akademik JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 2.3 Model : Segitiga Refleksi
Penjelasan Pada pembelajaran kali ini saya memahami bahwa untuk menjadi seorang coach bisa siapa saja, apalagi seorang guru yang memiliki komunikasi yang baik, menjadi pendengar yang baik, dan mampu mengarahkan pertanyanpertanyan yang berbobot kepada coachee sehingga potensi seorang coachee tergali dan menemukan solusi dari kejadian/permaslahan yang sedang dihadapinya. Seorang coach juga mampu memberikan umpan balik yang positif dan menjalin komunikasi yang baik, menjalin kemitraan satu sama lain (artinya tidak ada yang merasa senior/junior dan siapa yang hebat), saing mempercayai serta berlandaskan data , guna memunculkan solusi yang baik.
Penjelasan Pada pembelajaran kali ini saya mampu memahami bahwa seorang coach hanya membantu menuntun seorang coachee untuk menggali potensi yang ada pada dirinya. seorang coach tidak boleh memberikan solusi masalah yang dihadapi dari coacheenya akan tetapi, seorang coach harus mampu mengelola pertanyaan yang berbobot dan efektif sehingga seorang coachee mampu menemukan solusi dirinya dari permasaahan yang dihadapinya. Selain itu seorang coach mampu mengahdirkan dirinya secara penuh (Present) dan bisa menjadi pendengar yang baik bagi coachee.
Penjelasan Perasaan saya setelah melewati serangkaian kegiatan pembelajaran melaui alur merdeka, Saya merasa sangat senang dan bersyukur karena saya dapat pengetahuan tentang coaching dimana pengetahuan ini sangat dibutuhkan seorang pendidik. Selain itu juga saya mempelajari teknik coaching secara mendalam melalui pendekatan ALUR TIRTA yang dapat berguna untuk membantu seorang coachee untuk menggali potensi dirinya, dari dalam murid serta rekan sejawatnya.
Penjelasan Rencana dan target saya selanjutnya adaah berusaha untuk selalu konsisten menjalankan coaching untuk murid saya dikelas guna menggali potensi yang dimiliki oleh murid saya, dan membantu menuntun mereka dalam penyelesaian masalah. Hal ini sesuai dengan filosofi Pemikiran KHD dimana guru sebagai penuntun untuk mencapai kebahagian dan keselamatan yang setingi-tingginya, ini lah yang menjadi dasar pemahaman saya, coaching ini perlu diterapkan.Selain itu jika ada rekan-rekan guru yang membutuhkan saya untuk berdiskusi terkait permasaahan anak atau pembelajaran dikelas saya siap untuk membantu dengan menerapkan pendekatan coaching sebagai bagian dari menuntun untuk menemukan solusi yang terbaik.