The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by nasrudinn1994, 2020-12-10 08:10:45

NAMA:NAILA ASYFA SUDRAJAT KELAS:X TATABOGA 1

Materi Tentang Pembelajaran Jarak Jauh

Keywords: E BOOK DIGITAL

Pandemi COVID-19 telah mengubah tatanan kehidupan masyarakat di seluruh dunia, termasuk di

Indonesia. Sejak wabah Coronavirus menghantam Indonesia, pemerintah memberlakukan berbagai
peraturan ketat untuk mencegah penularan yang lebih meluas lagi. Salah satunya kebijakan bagi
dunia pendidikan yakni pembelajaran jarak jauh. Pembelajaran jarak jauh ini merupakan kebijakan
yang dikeluarkan pemerintah, khususnya Kemendikbud dan Kemenristek/BRIN, untuk mencegah
penyebaran COVID-19 di sekolah

Pembelajaran Jarak Jauh dirancang agar siswa/mahasiswa bisa belajar secara virtual dengan
memanfaatkan teknologi informasi. Biasanya siswa bertemu denga guru pada jam pembelajaran
yang telah ditetapkan oleh pihak sekolah. Selain itu, siswa juga diberikan tugas secara mandiri yang
harus dikumpulkan kepada guru. Tidak hanya proses pembelajaran yang dilakukan secara virtual,
proses ujian pun dilakukan secara virtual. Sekolah biasanya menggunakan aplikasi pertemuan virtual
seperti Zoom dan Google Meet saat proses pembelajaran. Oleh karena itu, siswa dan guru sangat
memerlukan peralatan IT seperti laptop dan smartphone dalam proses pembelajaran. Tak lupa,
kuota atau wifi juga diperlukan agar proses pembelajaran secara virtual bisa berjalan dengan baik.

Meskipun Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dilaksanakan untuk mencegah penyebaran COVID-19,
namun bukan berarti pembelajaran ini bebas hambatan. Kepala Badan Penelitian, Pengembangan,
dan Perbukuan Kemendikbud Totok Supriyanto mengatakan bahwa pandemi virus Corona membuat
hambatan belajar (Pikiran Rakyat, 9 Juli 2020). Hal ini karena semua tidak bisa belajar secara tatap
muka di kelas, tapi harus belajar di rumah dengan menggunakan teknologi informasi. Padahal tidak
semua guru dan siswa memiliki kemampuan yang memadai untuk melaksanakan Pembelajaran Jarak
Jauh (PJJ). Bukan hanya persoalan kemampuan finansial dan kepemilikan alat IT, namun juga
masalah kemampuan dalam mengoperasikan aplikasi-aplikasi untuk proses pembelajaran virtual.
Pembelajaran jarak jauh telah memaksa dunia pendidikan beradaptasi dengan teknologi informasi
serta berbagai platform digital untuk mendukung proses pembelajaran. Namun sayangnya kondisi di
lapangan yang sangat beragam tentunya menjadi kendala tersendiri dalam pelaksanaan PJJ,
terutama masalah sarana dan prasarana serta kualitas SDM.

Bukan hanya masalah kualitas guru yang belum merata, kemampuan siswa untuk mengikuti
Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) juga menjadi salah satu hambatan dalam proses pembelajaran.
Sebagian anak sulit memahami tugas dari guru karena tidak bisa berkomunikasi dengan guru secara
langsung. Meskipun terdapat kelas virtual yang telah ditentukan waktunya sesuai dengan jadwal,
namun ada juga guru yang lebih memilih untuk memberikan tugas karena lebih praktis. Pemberian
tugas didominasi dengan pengerjaan latihan soal. Masalah Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) juga
dirasakan oleh para orangtua. Orangtua merasa kesulitan mendampingi anak saat belajar di rumah.
Terutama bagi orangtua yang melakukan Work From Home (WFH), mereka harus bekerja sambil
menemani anaknya belajar juga. Hal ini karena tugas-tugas yang diberikan kepada siswa juga
terkadang memerlukan bantuan orangtua seperti membuat video, membuat simulasi,
mendokumentasikan kegiatan harian, dan lain-lain. Selain itu, orangtua juga terbebani kuota
internet untuk keperluan belajar di rumah dan penyediaan fasilitas untuk PJJ seperti HP dan laptop.
Belum meratanya kemampuan ekonomi untuk mendukung fasilitas dasar dalam pembelajaran
daring adalah suatu kenyataan. Masih banyak pula daerah yang belum akrab dengan dunia internet
karena persoalan sinyal (Pikiran

Pandemi COVID-19 ini telah memberi pelajaran bagi para guru mengenai pentingnya penggunaan
teknologi komunikasi dalam proses belajar mengajar. Dalam proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)
saat ini, suka tidak suka, guru dan siswa dipaksa untuk lebih melek terhadap teknologi dan mampu
menggunakannya dalam kegiatan sekolah sehari-hari. PJJ telah memaksa dunia pendidikan

beradaptasi dengan teknologi komunikasi serta berbagai platform digital untuk mendukung proses
pembelajaran

Melihat situasi dan kondisi saat ini dimana pandemi COVID-19 belum menunjukkan adanya
penurunan yang signifikan, sepertinya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) masih akan terus dilakukan
hingga waktu yang belum ditentukan. Meskipun ada wacana agar siswa masuk sekolah dengan tetap
menerapkan protokol kesehatan ketat dalam rangka Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB), namun banyak
pihak yang tidak setuju dengan kembalinya siswa masuk sekolah karena kondisi saat ini dianggap
belum kondusif.

Dengan situasi saat ini yang mengalami berbagai perubahan, tentunya perlu adanya beberapa upaya
yang dilakukan agar dapat menyesuaikan diri dengan keadaan. Pandemi COVID-19 ini belum bisa
diprediksikan kapan berakhirnya sehingga kita tidak bisa menunggu situasi kembali normal untuk
mulai beraktivitas kembali. Termasuk dalam hal pembelajaran, adanya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)
dengan segala dinamikanya masih merupakan pilihan yang logis agar para siswa tetap belajar dan
menghindari penyebaran virus Corona. Meskipun wacana masuk sekolah di zona hijau pun tetap ada
dan akan segera dilakukan di beberapa daerah zona hijau, namun hal yang lebih penting dari semua
itu adalah upaya untuk mempersiapkan guru, siswa, dan orangtua dalam menghadapi perubahan
proses pembelajaran di tengah pandemi ini.

Menurut Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan pada Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan, Iwan Syahril, Kemendikbud tetap berkomitmen meningkatkan kompetensi guru dalam
memanfaatkan teknologi pembelajaran. Dan upaya untuk meningkatkan kompetensi guru ini akan
terus dilakukan secara simultan. Namun masih ada persoalan tingkat kecemasan guru yang tinggi
dalam menggunakan teknologi pembelajaran. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena tidak semua guru
terbiasa menggunakan teknologi dalam proses pembelajaran. Tetapi dengan kondisi saat ini, para
guru wajib dipersiapkan untuk menghadapi perubahan metode pembelajaran dan kurikulum
pembelajaran. Selain itu, pemerintah juga perlu memperhatikan sarana dan prasarana yang
dibutuhkan dalam pembelajaran, mengingat tidak meratanya kondisi geografis serta keadaan sosial
ekonomi di Indonesia. Ada sekolah yang masih tidak terjangkau internet atau jaringan internetnya
tidak stabil. Dalam kondisi demikian, tidak mungkin memakai internet seperti di kota-kota besar.
Apalagi menggunakan aplikasi-aplikasi pendukung PJJ seperti Google Meet dan Zoom (Pikiran
Rakyat, 9 Juli 2020). Oleh karena itu, pemerintah juga perlu menyediakan atau memberikan bantuan
kepada guru/sekolah terkait penyediaan sarana prasarana tersebut.

Kemudian bagi para orangtua dan siswa, sebenarnya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di tengah
pandemi COVID-19 ini bisa dimanfaatkan untuk merekatkan kembali hubungan antara orangtua dan
anak. Para orangtua sebaiknya memberikan pendidikan nonformal juga bagi anak seperti pendidikan
agama dan karakter yang tidak diajarkan di sekolah terutama saat PJJ ini. Peran orangtua memang
bisa diminimalisir namun tetap tidak bisa dihilangkan karena saat PJJ seperti ini, justru orangtua
yang lebih banyak berinteraksi dengan anak.

Namun memang perlu adanya penyesuaian waktu dan kegiatan bagi orangtua sehingga pekerjaan
kantor/pekerjaan rumah tetap bisa dilakukan sambil membantu anak mengikuti proses
pembelajaran. Jadi, perlu adanya kerjasama antara sekolah, guru, dan orangtua untuk merancang
dan mempersiapkan pembelajaran terbaik bagi anak. Sehingga tidak ada alasan penurunan kualitas
proses pembelajaran maupun kualitas output pembelajaran meskipun dilakukan di tengah
keterbatasan saat ini.

Indonesia dengan adanya kebijakan dari pemerintah yang mengharuskan Bekerja dari rumah belajar
dari rumah dan ibadah dari rumah. Kondisi demikian menurut lembaga pendidikan untuk melakukan
inovasi dalam proses pembelajaran salah satu bentuk inovasi tersebut ialah dilakukan disekolah kini
berubah menjadi pembelajaran dari rumah secara daring.

Pemanfaatan teknologi informasi sangat membantu dalam proses pembelajaran jarak jauh ditengah
pandemi virus Corona covid 19 sehingga semua proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik
kemajuan teknologi informasi yang sudah maju saat ini, internet bisa menghubungkan siswa dengan
guru melalui WhatsApp group,google class, google doc, atau google form, zoom, YouTube dan
google meet

Adapun kekurangan pembelajaran daring adalah sulit untuk mengontrol mana siswa yang setiap
mengikuti pelajaran dan mana yang tidak pembelajaran lebih banyak bersifat teoritis dan minim
praktik karena tidak memungkinkan adanya interaksi langsung dengan siswa


Click to View FlipBook Version