The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by rianidairi, 2023-02-11 01:08:41

Bahan Ajar MATEMATIKA Final

Bahan Ajar MATEMATIKA Final

1 DIKLAT PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA PADA KUIKULUM MERDEKA Penyusun : ❖ Drs. M. Nawi Harahap, M.Pd. ❖ Drs. Ahmadin Sitanggang, M.Pd. ❖ Dermalince Sitinjak, S.Pd., M.Pd.


i KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas selesainya penyusunan Bahan Ajar yang disusun oleh Tim Fasilitator Diklat Pengembangan Pembelajaran Matematika SMK pada Kurikulum Merdeka yaitu Drs. Muhammad Nawi Harahap, M.Pd, Drs Ahmadin Sitanggang, M.Pd dan Dermalince Sitinjak, S.Pd., M.Pd sebagai widyaiswara pada Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Bangunan dan Listrik (BBPPMPV BBL). Kegiatan penyusunan Bahan Ajar ini dilaksanakan untuk peningkatan kompetensi, profesionalisme dan kinerja widyaiswara dalam melaksanakan proses belajar, mengajar dan sekaligus memberikan kemudahan kepada guru Matematika SMK sebagai peserta diklat dalam mengikuti Pendidikan dan Pelatihan yang diselenggarakan oleh Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Bangunan dan Listrik (BBPPMPV BBL). Selanjutnya dengan adanya bahan ajar ini diharapkan dapat menunjang tugas pokok dan fungsi widyaiswara di BBPPMPV BBL dan guru-guru matematika SMK di daerah kabupaten/kota di sebelas Provinsi binaan BBPPMPV BBL yang sekaligus akan meningkatkan mutu Pendidikan Indonesia. Bahan ajar ini masih jauh dari sempurna, maka demi penyempurnaannya, kami sangat mengharapkan sumbangan pemikiran baik berupa saran maupun kritik yang sifatnya membangun untuk peningkatan mutu Bahan Ajar pada masa yang akan datang. Semoga Bahan Ajar ini bermanfaat dan dapat dipergunakan sebaik-baiknya. Medan, 08 Februari 2023 Penulis Tim Widyaiswara Matematika


ii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR …………………………………………………………..…………….. i DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………….. ii BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………………………. 1 A. Latar Belakang…………………………………………………………………. 1 B. Dasar Hukum…………………………………………………………………… 2 C. Tujuan……………………………………………………………….…………… 3 D. Ruang Lingkup…………………………………………………….………….. 4 BAB II RASIONAL,TUJUAN DAN KARAKTERISTIK MATA PELAJARAN MATEMATIKA I. Tujuan Pembelajaran………………………………………………………… 5 II. Materi Pokok……………………………………………………………………. 5 A. Rasionalisasi Mata Pembelajaran Matematika………………………. 5 B. Tujuan Mata Pelajaran Matematika…..……………………..…………. 6 C. Karakteristik Mata Pelajaran Matematika ……….…………………… 7 III. Penugasan ………………………………………………………………… 10 BAB III ANALISIS KONSEP MATA PELAJARAN MATEMATIKA SMK………….. 13 I. Tujuan Pembelajaran……………………………………………………….. 13 II. Materi Pokok ………………………………………………………….………. 13 A. Struktur Kurikulum SMK………………………………..…………………. 13 B. Capaian Pembelajaran Matematika di SMK…………………………. 18 III. Penugasan……………………………………………………………………… 28 BAB IV PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA………………………. 29 I. Tujuan Pembelajaran…………………………………………… ….…….. 29 II. Materi Pokok………………………………………………………… ……….. 29 A. Prinsip Pembelajaran dan Prinsip Asesmen……………….………… 29 B. Merencanakan Pembelajaran…………………………………….......... 32 C. Pelaksanaan Pembelajaran……………………………………………….. 32 III. Penugasan………………………………………………………………………. 36


iii BAB V ASESMEN PEMBELAJARAN MATEMATIKA…………………………………… 37 I. Tujuan Pembelajaran………………………………………………………… 37 II. Materi Pokok…………………………………………………………….……… 37 A. Rencana Asesmen dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Atau Modul Ajar …………………………………………………………….. 37 B. Merencanakan Asesmen…………………………………................... 42 III. Penugasan………………………………………………………….………….. 43 BAB VI PENGEMBANGAN MODUL AJAR MATEMATIKA…………………………… 44 I. Tujuan Pembelajaran……………………………………………………….. 44 II. Materi Pokok……………………………………………………………………. 44 A. Komponen Modul Ajar……………………………………………………….. 46 B. Contoh Modul Ajar……………………………………………………………. 50 III. Penugasan……………………………………………………………………….. 74 DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………….. 75


1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pada Pasal 1 butir 1 menyatakan bahwa “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”. Guru merupakan salah satu komponen terpenting dalam ekosistem Pendidikan dan memegang peranan yang sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan. Untuk terselenggaranya pendidikan yang baik. Guru dituntut memiliki kualifikasi sesuai dengan standar yang telah ditetapkan pemerintah yaitu memiliki kompetensi pedagogik, profesionalisme, kepribadian, dan sosial seperti yang diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Kompetensi paedagogik terdiri dari : (a) menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional, dan intelektual, (b) menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik, (c) mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran/bidang pengembangan yang diampu, (d) menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik, (e) memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan penyelenggaraan kegiatan pembelajaran yang mendidik, (f) memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasi berbagai potensi yang dimiliki, (g) berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik, (h) menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar, (i) memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran, dan (j) melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran. Kompetensi Profesional terdiri dari: (a) menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan


2 yang mendukung mata pelajaran yang diampu, (b) menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran yang diampu. (c) mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif, (d) mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif, dan (e) memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengembangkan diri. Dari keterangan diatas sangat diharapkan agar guru senantiasa mengempbangkan kompetensinya guna tercapainya peningkatan mutu pendidikan. Perubahan terus terjadi sesusai kondisi sosial masyarakat dan perubahan teknologi demikian juga kurikulum selalu disesuaikan sesuai kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman. Saat ini sedang dilaksanakan Kurikulum Merdeka yang harus dipahami oleh semua guru agar bisa diimplementasikan di sekolah masing-masing. Untuk bisa memahami kurikulum Merdeka tersebut guru dapat mempelajarinya secara mandiri dan dengan mengikuti pelatihan baik secara daring maupun luring. Terkait dengan hal tersebut Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Bangunan dan Listrik (BBPPMPV BBL) Medan melaksanakan diklat untuk meningkatkan kompetensi guru SMK yang salah satunya adalah Diklat Pengembangan Pembelajaran Matematika SMK pada kurikulum Merdeka. Untuk mencapai tujuan diklat tersebut maka fasilitator mengembangkan bahan ajar. B. Dasar Hukum 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. 3. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 Tentang Standar Kompetensi Guru


3 4. Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 262/M/2022 Tentang Perubahan Atas Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi Nomor 56/M/2022 Tentang Pedoman Penerapan Kurikulum Dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran. 5. Salinan Keputusan Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi No. 033/H/KR/2022 tentang Capain Pembelajaran pada Kurikulum Merdeka. 6. Panduan Pembelajaran dan Asesmen, Badan Standar, Kurikulum, Dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi Republik Indonesia, 2022 7. Program Kerja BBPPMPV BBL tahun 2023 8. Surat Penugasan Pembuatan Modul Ajar C. Tujuan Tujuan Modul Ajar ini membekali guru mata pelajaran Matematika SMK untuk dapat mengembangkan dan melaksanakan pembelajaran sesuai dengan Kurikulum Merdeka. Melalui Modul Ajar ini diharapkan guru mampu memahami Rasional, Tujuan, dan Karakteristik Mata Pelajaran Matematika serta dapat menganalisis konsep mata pelajaran Matematika SMK sesuai Kurikulum Merdeka. Selanjutnya diharapkan guru mampu merancang pembelajaran dan asesmen mata pelajaran Matematika SMK hingga mengembangkannya dalam bentuk Modul Ajar.


4 D. Ruang Lingkup Modul Ajar ini terbatas pada ruang lingkup Pengembangan pembelajaran matematika SMK pada kurikulum merdeka meliputi: 1. Rasional, Tujuan dan Karakteristik Mata Pelajaran Matematika 2. Analisis Konsep Mata Pelajaran Matematika SMK 3. Perancangan Pembelajaran Matematika 4. Asesmen Pembelajaran Matematika 5. Pengembangan Modul Ajar Matematika


5 BAB II RASIONAL, TUJUAN DAN KARAKTERISTIK MATA PELAJARAN MATEMATIKA I. Tujuan Pembelajaran Tujuan mata diklat ini adalah untuk membekali peserta diklat agar memahami rasional, tujuan dan karakteristik mata pelajaran matematika guna dapat dimanfaatkan dalam pengembangan pembelajaran matematika. II. Materi Pokok A. Rasional Mata Pelajaran Matematika Matematika merupakan ilmu atau pengetahuan tentang belajar atau berpikir logis yang sangat dibutuhkan manusia untuk hidup yang mendasari perkembangan teknologi modern. Matematika mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Matematika dipandang sebagai materi pembelajaran yang harus dipahami sekaligus sebagai alat konseptual untuk mengonstruksi dan merekonstruksi materi tersebut, mengasah, dan melatih kecakapan berpikir yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah dalam kehidupan. Belajar matematika dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif. Kompetensi tersebut diperlukan agar pembelajar memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, penuh dengan ketidakpastian, dan bersifat kompetitif. Mata Pelajaran Matematika membekali peserta didik tentang cara berpikir, bernalar, dan berlogika melalui aktivitas mental tertentu yang membentuk alur berpikir berkesinambungan dan berujung pada pembentukan alur pemahaman terhadap materi pembelajaran matematika berupa fakta, konsep, prinsip, operasi, relasi, masalah, dan solusi matematis tertentu


6 yang bersifat formal-universal. Proses mental tersebut dapat memperkuat disposisi peserta didik untuk merasakan makna dan manfaat matematika dan belajar matematika serta nilai- nilai moral dalam belajar Mata Pelajaran Matematika, meliputi kebebasan, kemahiran, penaksiran, keakuratan, kesistematisan, kerasionalan, kesabaran, kemandirian, kedisiplinan, ketekunan, ketangguhan, kepercayaan diri, keterbukaan pikiran, dan kreativitas. Dengan demikian relevansinya dengan profil pelajar Pancasila, Mata Pelajaran Matematika ditujukan untuk mengembangkan kemandirian, kemampuan bernalar kritis, dan kreativitas peserta didik. Adapun materi pembelajaran pada Mata Pelajaran Matematika di setiap jenjang pendidikan dikemas melalui bidang kajian Bilangan, Aljabar, Pengukuran, Geometri, Analisis Data dan Peluang, dan Kalkulus (sebagai pilihan untuk kelas XI dan XII). B. Tujuan Mata Pelajaran Matematika Mata Pelajaran Matematika bertujuan untuk membekali peserta didik agar dapat: 1. memahami materi pembelajaran matematika berupa fakta, konsep, prinsip, operasi, dan relasi matematis dan mengaplikasikannya secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah matematis (pemahaman matematis dan kecakapan prosedural), 2. menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematis dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika (penalaran dan pembuktian matematis), 3. memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematis, menyelesaikan model atau menafsirkan solusi yang diperoleh (pemecahan masalah matematis). 4. mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah, serta menyajikan suatu


7 situasi ke dalam simbol atau model matematis (komunikasi dan representasi matematis), 5. mengaitkan materi pembelajaran matematika berupa fakta, konsep, prinsip, operasi, dan relasi matematis pada suatu bidang kajian, lintas bidang kajian, lintas bidang ilmu, dan dengan kehidupan (koneksi matematis), dan 6. memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap kreatif, sabar, mandiri, tekun, terbuka, tangguh, ulet, dan percaya diri dalam pemecahan masalah (disposisi matematis). C. Karakteristik Mata Pelajaran Matematika Mata Pelajaran Matematika diorganisasikan dalam lingkup lima elemen konten (dengan tambahan 1 elemen sebagai pilihan untuk kelas XI dan XII) dan lima elemen proses. 1. Elemen konten dalam Mata Pelajaran Matematika terkait dengan pandangan bahwa matematika sebagai materi pembelajaran (subject matter) yang harus dipahami peserta didik. Pemahaman matematis terkait erat dengan pembentukan alur pemahaman terhadap materi pembelajaran matematika berupa fakta, konsep, prinsip, operasi, dan relasi yang bersifat formal-universal. Elemen Deskripsi Bilangan Bidang kajian Bilangan membahas tentang angka sebagai simbol bilangan, konsep bilangan, operasi hitung bilangan, dan relasi antara berbagai operasi hitung bilangan dalam subelemen representasi visual, sifat urutan, dan operasi


8 Aljabar Bidang kajian Aljabar membahas tentang aljabar nonformal dalam bentuk simbol gambar sampai dengan aljabar formal dalam bentuk simbol huruf yang mewakili bilangan tertentu dalam subelemen persamaan dan pertidaksamaan, relasi dan pola bilangan, serta rasio dan proporsi. Pengukuran Bidang kajian Pengukuran membahas tentang besaranbesaran pengukuran, cara mengukur besaran tertentu, dan membuktikan prinsip atau teorema terkait besaran tertentu dalam subelemen pengukuran besaran geometris dan nongeometris. Geometri Bidang kajian Geometri membahas tentang berbagai bentuk bangun datar dan bangun ruang baik dalam kajian Euclides maupun Non-Euclides serta ciricirinya dalam subelemen geometri datar dan geometri ruang. Analisis Data dan Peluang Bidang kajian Analisis Data dan Peluang membahas tentang pengertian data, jenis-jenis data, pengolahan data dalam berbagai bentuk representasi, dan analisis data kuantitatif terkait pemusatan dan penyebaran data serta peluang munculnya suatu data atau kejadian tertentu dalam subelemen data dan representasinya, serta ketidakpastian dan peluang. Kalkulus (sebagai pilihan untuk kelas XI dan XII) Bidang kajian Kalkulus membahas tentang laju perubahan sesaat dari suatu fungsi kontinu, dan mencakup topik limit, diferensial, dan integral, serta penggunaannya.


9 2. Elemen proses dalam mata pelajaran Matematika terkait dengan pandangan bahwa matematika sebagai alat konseptual untuk mengonstruksi dan merekonstruksi materi pembelajaran matematika berupa aktivitas mental yang membentuk alur berpikir dan alur pemahaman yang dapat mengembangkan kecakapan- kecakapan. Elemen Deskripsi Bilangan Bidang kajian Bilangan membahas tentang angka sebagai simbol bilangan, konsep bilangan, operasi hitung bilangan, dan relasi antara berbagai operasi hitung bilangan dalam subelemen representasi visual, sifat urutan, dan operasi Aljabar Bidang kajian Aljabar membahas tentang aljabar nonformal dalam bentuk simbol gambar sampai dengan aljabar formal dalam bentuk simbol huruf yang mewakili bilangan tertentu dalam subelemen persamaan dan pertidaksamaan, relasi dan pola bilangan, serta rasio dan proporsi. Pengukuran Bidang kajian Pengukuran membahas tentang besaran- besaran pengukuran, cara mengukur besaran tertentu, dan membuktikan prinsip atau teorema terkait besaran tertentu dalam subelemen pengukuran besaran geometris dan non-geometris. Geometri Bidang kajian Geometri membahas tentang berbagai bentuk bangun datar dan bangun ruang baik dalam kajian Euclides maupun Non-Euclides serta ciricirinya dalam subelemen geometri datar dan geometri ruang.


10 Analisis Data dan Peluang Bidang kajian Analisis Data dan Peluang membahas tentang pengertian data, jenis-jenis data, pengolahan data dalam berbagai bentuk representasi, dan analisis data kuantitatif terkait pemusatan dan penyebaran data serta peluang munculnya suatu data atau kejadian tertentu dalam subelemen data dan representasinya, serta ketidakpastian dan peluang. Kalkulus (sebagai pilihan untuk kelas XI dan XII) Bidang kajian Kalkulus membahas tentang laju perubahan sesaat dari suatu fungsi kontinu, dan mencakup topik limit, diferensial, dan integral, serta penggunaannya. III. Penugasan Peserta diklat dikelompokkan menjadi 6 kelompok. Masing-masing kelompok mengerjakan tugas sebagai berikut: Lembar Kegiatan 1 (LK 1) Petunjuk: 1. Bacalah Salinan Keputusan Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi No. 033/H/KR/2022 tentang Capain Pembelajaran pada Kurikulum Merdeka. 2. Jawablah pertanyaan berikut:


11 Kelompok Pertanyaan Dokumentasi 1 dan 4 Kurikulum terus dikembangkan sesuai dengan perkembangan jaman, baik pada konten dan proses pembelajarannya. Bagaimanakah Rasionalisasi mata pelajaran matematika pada kurikulum merdeka? Foto (maks 6 pc) 1. hasil kerja 2. proses diskusi 3. proses presentasi Di edit pada word dan di upload di Gdrive 2 dan 5 Peserta didik sudah mempelajari mata pelajaran matematika sejak dari sekolah dasar hingga sekolah menengah kejuruan. Untuk apakah mereka mempelajari matematika tersebut? 3 dan 6 Dalam merancang pembelajaran selain dari mempertimbangkan karakteristik peseta didik guru juga harus mempertimbangkan karakteristik mata pelajaran. Setiap mata pelajaran memiliki karakteristik masing-masing. Bagaimanakah karakteristik mata pelajaran matematika pada kurikulum merdeka ? 3. Jawaban dikerjakan pada kertas plano dan disajikan sesuai kreatifitas masing-masing kelompok. (Boleh memanfaatkan kertas warna yg tersedia) 4. Setiap kelompok menyajikan hasil kerja masing-masing (menempel didinding diupayakan tidak merusak atau meninggalkan bekas pada dinding) 5. Dua orang dari masing-masing kelompok menjadi penjaga (presenter) hasil kerja kelompok. 6. Tiga orang yang lain berbelanja ke kelompok lain (2 kelompok) untuk memahami hasil kerja 2 kelompok lainnya.


12 7. Masing-masing kelompok berdiskusi lagi. (2 orang penjaga hasil memaparkan saran dan masukan dari pengunjung dan yang 3 orang yang berbelanja memaparkan materi hasil kunjungan dari 2 kelompok lainnya. 8. Hasil diskusi dan dokumentasi diunggah di bit.ly/TugasMat3matika dengan kode file Nomor Urut Peserta (Lihat Panduan).Nama Peserta (Hasil kerja kelompok diunggah masing-masing individu) 9. Selamat Bekerja


13 BAB III ANALISIS KONSEP MATA PELAJARAN MATEMATIKA SMK I. Tujuan Pembelajaran Tujuan mata diklat ini adalah untuk membekali peserta diklat agar mampu menganalisis konsep mata pelajaran Matematika di SMK sesuai dengan stuktur kurikulum dan capaian pembelajaran pada Kurikulum Merdeka. II. Materi Pokok A. Struktur Kurikulum SMK Untuk dapat merancang pembelajaran matematika, guru haruslah mengetahui struktur kurikulum untuk kelas yang diampunya. Struktur kurikulum pada kurikulum merdeka dapat dilihat pada Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 262/M/2022 Tentang Perubahan Atas Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi Nomor 56/M/2022 Tentang Pedoman Penerapan Kurikulum Dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran. Struktur kurikulum mengatur beban belajar untuk setiap muatan atau mata pelajaran dalam jam pelajaran (JP) tahunan dan/atau per 3 (tiga) tahun atau per 4 (empat) tahun atau dikenal dengan sistem blok. Oleh karena itu, satuan pendidikan dapat mengatur pembelajaran secara fleksibel di mana alokasi waktu setiap minggunya tidak selalu sama dalam 1 (satu) tahun. Struktur kurikulum SMK/MAK terbagi menjadi 2 (dua), yaitu: a. pembelajaran intrakurikuler; dan b. projek penguatan profil pelajar Pancasila yang dialokasikan sekitar 30% (tiga puluh persen) total JP per tahun. Pelaksanaan projek penguatan profil pelajar Pancasila dilakukan secara fleksibel, baik secara muatan maupun secara waktu pelaksanaan. Secara muatan, projek


14 profil harus mengacu pada capaian profil pelajar Pancasila sesuai dengan fase peserta didik, dan tidak harus dikaitkan dengan capaian pembelajaran pada mata pelajaran. Secara pengelolaan waktu pelaksanaan, projek dapat dilaksanakan dengan menjumlah alokasi jam pelajaran projek dari semua mata pelajaran dan jumlah total waktu pelaksanaan masing-masing projek tidak harus sama.Untuk struktur kurikulum SMK tertera pada Salinan Lampiran hal 27/31) sebagai berikut. 1. Struktur Kurikulum kelas X SMK/MAK (Asumsi 1 tahun = 36 minggu, dan 1 JP = 45 menit) Mata Pelajaran Alokasi Intrakurikuler Per Tahun Alokasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Per Tahun Total JP Per Tahun A. Kelompok Mata Pelajaran Umum: 1 Pendidikan Agama dan Budi Pekerti* 90 18 108 2 Pendidikan Pancasila 54 18 72 3 Bahasa Indonesia 108 36 144 4 Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan 90 18 108 5 Sejarah 54 18 72 6 Seni Budaya** 54 18 72 7 Muatan Lokal*** 72 72 Jumlah JP Mata Pelajaran Umum (A): 450 126 576 B. Kelompok Mata Pelajaran Kejuruan: 1 Matematika 108 36 144 2 Bahasa Inggris 108 36 144 3 Informatika 108 36 144 4 Projek Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial**** 162 54 216 5 Dasar-Dasar Program Keahlian 432 432 Jumlah Kelompok Mata Pelajaran Kejuruan (B): 918 162 1080 Total ***** 1368 288 1656 Keterangan: * Diikuti oleh peserta didik sesuai dengan agama masing-masing.


15 ** Satuan pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (Seni Musik, Seni Rupa, Seni Teater, dan/atau Seni Tari). Peserta didik memilih 1 (satu) jenis seni (Seni Musik, Seni Rupa, Seni Teater, atau Seni Tari). *** Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per tahun. **** Proporsi JP antara aspek Ilmu Pengetahuan Alam dan aspek Ilmu Pengetahuan Sosial disesuaikan dengan kebutuhan Program Keahlian. ***** Total JP tidak termasuk mata pelajaran Muatan Lokal dan/atau mata pelajaran tambahan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan. 2. Struktur Kurikulum kelas XI SMK/MAK (Asumsi 1 tahun = 36 minggu, dan 1 JP = 45 menit) Mata Pelajaran Alokasi Intrakurikuler Per Tahun Alokasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Per Tahun Total JP Per Tahun A. Kelompok Mata Pelajaran Umum: 1 Pendidikan Agama dan Budi Pekerti* 90 18 108 2 Pendidikan Pancasila 54 18 72 3 Bahasa Indonesia 108 36 144 4 Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan 90 18 108 5 Sejarah 54 18 72 6 Muatan Lokal** 72 72 Jumlah JP Mata Pelajaran Umum (A): 342 90 432 B. Kelompok Mata Pelajaran Kejuruan: 1 Matematika 90 18 108 2 Bahasa Inggris 108 36 144 3 Mata Pelajaran [Konsentrasi Keahlian] *** 648 648 4 Projek Kreatif dan Kewirausahaan 180 180 5 Mata Pelajaran Pilihan**** 144 144 Jumlah Kelompok Mata Pelajaran Kejuruan (B): 1170 54 1224 Total***** 1512 144 1656 Keterangan: * Diikuti oleh peserta didik sesuai dengan agama masing- masing. ** Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per tahun.


16 *** Nama mata pelajaran merupakan nama Konsentrasi Keahlian. **** Nama mata pelajaran merupakan mata pelajaran yang dipilih oleh peserta didik. ***** Total JP tidak termasuk mata pelajaran Muatan Lokal dan/atau mata pelajaran tambahan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan. 3. Struktur Kurikulum kelas XII SMK/MAK (Asumsi 1 tahun = 36 minggu, dan 1 JP = 45 menit) Keterangan: * Diikuti oleh peserta didik sesuai dengan agama masing- masing. ** Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per tahun. Mata Pelajaran Alokasi Intrakurikuler Per Tahun Alokasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Per Tahun Total JP Per Tahun A. Kelompok Mata Pelajaran Umum: 1 Pendidikan Agama dan Budi Pekerti * 36 18 54 2 Pendidikan Pancasila 36 36 3 Bahasa Indonesia 36 18 54 4 Muatan Lokal** 72 72 Jumlah JP Mata Pelajaran Umum (A): 108 36 144 B. Kelompok Mata Pelajaran Kejuruan: 1 Matematika 54 54 2 Bahasa Inggris 72 72 3 Mata Pelajaran [Konsentrasi Keahlian]*** 396 396 4 Projek Kreatif dan Kewirausahaan 90 90 5 Praktik Lapangan 792 792 6 Mata Pelajaran Pilihan**** 108 108 Jumlah Kelompok Mata Pelajaran Kejuruan (B): 1512 0 1512 Total***** 1620 36 1656


17 *** Nama mata pelajaran merupakan nama Konsentrasi Keahlian. **** Nama mata pelajaran merupakan mata pelajaran yang dipilih oleh peserta didik. ***** Total JP tidak termasuk mata pelajaran Muatan Lokal dan/atau mata pelajaran tambahan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan. 4. Struktur Kurikulum kelas XIII SMK/MAK (Asumsi 1 tahun = 36 minggu, dan 1 JP = 45 menit) Mata Pelajaran Alokasi Intrakurikuler Per Tahun Alokasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Per Tahun Total JP Per Tahun A. Kelompok Mata Pelajaran Umum: Jumlah Kelompok Mata Pelajaran Umum (A): - - - B. Kelompok Mata Pelajaran Kejuruan: 1 Matematika 72 - 72 2 Bahasa Inggris 216 - 216 3 Praktik Kerja Lapangan * 1368 - 1368 Jumlah Kelompok Mata Pelajaran Kejuruan (B): 1656 - 1512 1656 - 1656 Keterangan: * Praktik Kerja Lapangan dilaksanakan sekurang-kurangnya selama 10 (sepuluh) bulan 27 (dua puluh tujuh) sampai dengan 28 (dua puluh delapan) minggu di kelas XIII.


18 B. Capaian Pembelajaran Matematika SMK Capaian Pembelajaran (CP) merupakan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dirangkaikan sebagai satu kesatuan proses yang berkelanjutan sehingga membangun kompetensi yang utuh dari suatu mata pelajaran. Capaian Pembelajaran (CP) bukan pengganti Standar Kompetensi Lulusan/ Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (SKL/STPPA). Dalam kerangka kurikulum, Capaian Pembelajaran kedudukannya di bawah Standar Nasional Pendidikan (SNP), setara dengan Kompetensi Inti-Kompetensi Dasar dalam Kurikulum 2013. Capaian Pembelajaran pada kurikulum merdeka dapat dilihat pada Salinan Lampiran I Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, Dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi Nomor 033/H/Kr/2022 Tentang Capaian Pembelajaran Pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, Dan Jenjang Pendidikan Menengah Pada Kurikulum Merdeka. Dalam lampiran III halaman 1 dinyatakan bahwa Capaian Pembelajaran untuk semua mata pelajaran dalam kelompok umum, mata pelajaran Matematika, mata pelajaran Bahasa Inggris, dan mata pelajaran Informatika dalam kelompok kejuruan untuk SMK/MAK mengacu pada Capaian Pembelajaran untuk SMA/MA. Kompetensi adalah rangkaian dari pengetahuan, keterampilan, disposisi (sikap) tentang ilmu pengetahuan, dan sikap terhadap proses belajar (dorongan untuk belajar dan motivasi untuk menggali konsep lebih dalam). Dengan demikian, keterampilan, pengetahuan, dan sikap tidak sepatutnya dipisahkan. Penyusunan Capaian Pembelajaran (CP) per fase merupakan upaya penyederhanaan sehingga peserta didik dapat memiliki waktu yang memadai dalam menguasai kompetensi. Penyusunan CP per fase ini juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar sesuai dengan tingkat pencapaian (Teaching at the Right Level), kebutuhan, kecepatan, dan gaya belajar mereka. Hal ini karena CP disusun dengan


19 memperhatikan fase-fase perkembangan anak. Selain itu, penyusunan CP per fase berguna bagi guru dan satuan pendidikan. Guru dan satuan Pendidikan dapat memperoleh keleluasaan dalam menyesuaikan pembelajaran sehingga selaras dengan kondisi dan karakteristik peserta didik. 1.Capaian Pembelajaran Fase E (Umumnya untuk kelas X SMA/MA/Program Paket C) Pada akhir fase E, peserta didik dapat menggeneralisasi sifatsifat operasi bilangan berpangkat (eksponen), serta menggunakan barisan dan deret (aritmetika dan geometri) dalam bunga tunggal dan bunga majemuk. Mereka dapat menggunakan sistem persamaan linear tiga variabel, sistem pertidaksamaan linear dua variabel, persamaan dan fungsi kuadrat dan persamaan dan fungsi eksponensial dalam menyelesaikan masalah. Mereka dapat menentukan perbandingan trigonometri dan memecahkan masalah yang melibatkan segitiga siku-siku. Mereka juga dapat menginterpretasi dan membandingkan himpunan data berdasarkan distribusi data, menggunakan diagram pencar untuk menyelidiki hubungan data numerik, dan mengevaluasi laporan berbasis statistika. Mereka dapat menjelaskan peluang dan menentukan frekuensi harapan dari kejadian majemuk, dan konsep dari kejadian saling bebas dan saling lepas. Fase E Berdasarkan Elemen Elemen Capaian Pembelajaran Bilangan Di akhir fase E, peserta didik dapat menggeneralisasi sifat-sifat bilangan berpangkat (termasuk bilangan pangkat pecahan). Mereka dapat menerapkan barisan dan deret aritmetika dan geometri, termasuk


20 masalah yang terkait bunga tunggal dan bunga majemuk. Aljabar and Fungsi Di akhir fase E, peserta didik dapat menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan sistem persamaan linear tiga variabel dan sistem pertidaksamaan linear dua variabel. Mereka dapat menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan persamaan dan fungsi kuadrat (termasuk akar imajiner), dan persamaan eksponensial (berbasis sama) dan fungsi eksponensial. Pengukuran - Geometri Di akhir fase E, peserta didik dapat menyelesaikan permasalahan segitiga siku-siku yang melibatkan perbandingan trigonometri dan aplikasinya. Analisis Data dan Peluang Di akhir fase E, peserta didik dapat merepresentasikan dan menginterpretasi data dengan cara menentukan jangkauan kuartil dan interkuartil. Mereka dapat membuat dan menginterpretasi box plot (box-andwhisker plot) dan menggunakannya untuk membandingkan himpunan data. Mereka dapat menggunakan dari box plot, histogram dan dot plot sesuai dengan natur data dan kebutuhan. Mereka dapat menggunakan diagram pencar untuk menyelidiki dan menjelaskan hubungan antara dua variabel numerik (termasuk salah satunya variabel bebas berupa waktu). Mereka dapat mengevaluasi laporan statistika di media berdasarkan tampilan, statistika dan representasi data. Peserta didik dapat menjelaskan peluang dan


21 menentukan frekuensi harapan dari kejadian majemuk. Mereka menyelidiki konsep dari kejadian saling bebas dan saling lepas, dan menentukan peluangnya. 1. Capaian Pembelajaran Fase F (Umumnya untuk kelas XI dan XII SMA/MA/Program Paket C) Pada akhir fase F, peserta didik dapat memodelkan pinjaman dan investasi dengan bunga majemuk dan anuitas. Mereka dapat menyatakan data dalam bentuk matriks, dan menentukan fungsi invers, komposisi fungsi dan transformasi fungsi untuk memodelkan situasi dunia nyata. Mereka dapat menerapkan teorema tentang lingkaran, dan menentukan panjang busur dan luas juring lingkaran untuk menyelesaikan masalah. Mereka juga dapat melakukan proses penyelidikan statistika untuk data bivariat dan mengevaluasi berbagai laporan berbasis statistik. Fase F Berdasarkan Elemen Elemen Capaian Pembelajaran Bilangan Di akhir fase F, peserta didik dapat memodelkan pinjaman dan investasi dengan bunga majemuk dan anuitas, serta menyelidiki (secara numerik atau grafis) pengaruh masing-masing parameter (suku bunga, periode pembayaran) dalam model tersebut. Aljabar dan Fungsi Di akhir fase F, peserta didik dapat menyatakan data dalam bentuk matriks. Mereka dapat menentukan fungsi invers, komposisi fungsi, dan transformasi fungsi untuk memodelkan situasi dunia nyata


22 menggunakan fungsi yang sesuai (linear, kuadrat, eksponensial). Pengukuran - Geometri Di akhir fase F, peserta didik dapat menerapkan teorema tentang lingkaran, dan menentukan panjang busur dan luas juring lingkaran untuk menyelesaikan masalah (termasuk menentukan lokasi posisi pada permukaan Bumi dan jarak antara dua tempat di Bumi). Analisis Data dan Peluang Di akhir fase F, peserta didik dapat melakukan proses penyelidikan statistika untuk data bivariat. Mereka dapat mengidentifikasi dan menjelaskan asosiasi antara dua variabel kategorikal dan antara dua variabel numerikal. Mereka dapat memperkirakan model linear terbaik (best fit) pada data numerikal. Mereka dapat membedakan hubungan asosiasi dan sebab-akibat. Peserta didik memahami konsep peluang bersyarat dan kejadian yang saling bebas menggunakan konsep permutasi dan kombinasi. Kalkulus – 2. Capaian Pembelajaran Fase F+ (Sebagai pilihan untuk kelas XI dan XII) Pada akhir fase F+, peserta didik dapat menyelesaikan masalah terkait polinomial, melakukan operasi aljabar pada matriks dan menerapkannya dalam transformasi geometri. Mereka dapat menyatakan vektor pada bidang datar, melakukan operasi aljabar pada vektor dan


23 menggunakan-nya pada pembuktian geometris. Mereka dapat mengenal berbagai fungsi dan menggunakannya untuk memodelkan fenomena, serta menyatakan sifat-sifat geometri dengan persamaan pada sistem koordinat. Mereka dapat mengevaluasi hasil keputusan dengan menggunakan distribusi peluang dengan menghitung nilai yang diharapkan, dan juga dapat menerapkan konsep dasar kalkulus di dalam konteks pemecahan masalah aplikasi dalam berbagai bidang. Fase F+ Berdasarkan Elemen Elemen Capaian Pembelajaran Bilangan - Aljabar dan Fungsi Di akhir fase F+, peserta didik dapat melakukan operasi aritmetika pada polinomial (suku banyak), menentukan faktor polinomial, dan menggunakan identitas polinomial untuk menyelesaikan masalah. Peserta didik dapat melakukan operasi aljabar pada matriks dan menerapkannya dalam transformasi geometri. Peserta didik dapat menyatakan fungsi trigonometri menggunakan lingkaran satuan, memodelkan fenomena periodik dengan fungsi trigonometri, dan membuktikan serta menerapkan identitas trigonometri dan aturan cosinus dan sinus. Peserta didik dapat mengenal berbagai fungsi (termasuk fungsi rasional, fungsi akar, fungsi eksponensial, fungsi logaritma, fungsi nilai mutlak, fungsi tangga dan fungsi piecewise) dan menggunakannya untuk memodelkan berbagai fenomena.


24 Pengukuran - Geometri Di akhir fase F+, peserta didik dapat menyatakan vektor pada bidang datar, dan melakukan operasi aljabar pada vektor. Mereka dapat melakukan pembuktian geometris menggunakan vektor. Peserta didik dapat menyatakan sifat-sifat geometri dari persamaan lingkaran, elips dan persamaan garis singgung. Analisa Data dan Peluang Di akhir fase F+, peserta didik memahami variabel diskrit acak dan fungsi peluang, dan menggunakannya dalam memodelkan data. Mereka dapat menginterpretasi parameter distribusi data secara statistik (seragam, binomial dan normal), menghitung nilai harapan distribusi binomial dan normal, dan menggunakannya dalam penyelesaian masalah. Kalkulus Di akhir fase F+, peserta didik dapat memahami laju perubahan dan laju perubahan rata-rata, serta laju perubahan sesaat sebagai konsep kunci derivatif (turunan), baik secara geometris maupun aljabar. Mereka dapat menentukan turunan dari fungsi polinomial, eksponensial, dan trigonometri, dan menerapkan derivatif (turunan) untuk membuat sketsa kurva, menghitung gradien dan menentukan persamaan garis singgung, menentukan kecepatan sesaat dan menyelesaikan soal optimasi. Mereka dapat memahami integral, baik sebagai proses yang merupakan kebalikan dari derivatif (turunan) dan


25 juga sebagai cara menghitung luas. Mereka memahami teorema dasar kalkulus sebagai penghubung antara derivatif (turunan) dan integral. Pada Kurikulum Merdeka Prinsip penyusunan CP menggunakan pendekatan konstruktivisme yang membangun pengetahuan dan berdasarkan pengalaman nyata dan kontekstual. Menurut teori belajar konstruktivisme (constructivist learning theory), pengetahuan bukanlah kumpulan atau seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah untuk diingat. Konsep “Memahami” dalam Capaian Pembelajaran (CP) dalam konstruktivisme adalah proses membangun pengetahuan melalui pengalaman nyata. Pemahaman tidak bersifat statis, tetapi berevolusi dan berubah secara konstan sepanjang siswa mengonstruksikan pengalaman-pengalaman baru yang memodifikasi pemahaman sebelumnya. Jika mengacu kepada teori konstruktivisme, kemampuan memahami ada di level paling tinggi, berbeda jika mengacu pada Taksonomi Bloom yang menempatkan kemampuan memahami di level C2. Menururt Wiggins ada 6 aspek pemahaman (Wiggins and Tighe, 2005) yaitu facet of understanding; merupakan bentuk-bentuk pemahaman yang digunakan dalam CP dan Tidak harus hirarkis yaitu: 1. Penjelasan (Explanation) Mendeskripsikan suatu ide dengan kata-kata sendiri, membangun hubungan antar topik, mendemonstrasikan hasil kerja, menjelaskan alasan/cara/prosedur , menjelaskan sebuah teori menggunakan data, berargumen dan mempertahankan pendapatnya. 2. Interpretasi (Interpretation) Menerjemahkan cerita, karya seni, atau situasi. Interpretasi juga berarti memaknai sebuah ide, perasaan atau sebuah hasil karya dari satu media


26 ke media lain, dapat membuat analogi, anekdot, dan model. Melihat makna dari apa yang telah dipelajari dan relevansi dengan dirinya. 3. Aplikasi (Application) Menggunakan pengetahuan, keterampilan dan pemahaman mengenai suatu dalam situasi yang nyata dalam kehidupan sehari-hari atau sebuah simulasi ( menyerupai kenyataan) 4. Perspektif (Perspective) Melihat suatu hal dari sudut pandang yang berbeda, siswa dapat menjelaskan sisi lain dari sebuah situasi , melihat gambaran besar, melihat asumsi yang mendasari suatu hal dan memberikan kritik. 5. Empati (Empathy) Menaruh diri di posisi orang lain. Merasakan emosi yang dialami oleh pihak lain dan/ atau memahami pikiran yang berbeda dengan dirinya. Menemukan nilai (value) dari sesuatu. 6. Pengenalan diri (Self-Knowledge) Memahami diri sendiri; yang menjadi kekuatan, area yang perlu dikembangkan serta proses berpikir dan emosi yang terjadi secara internal. Enam Aspek/Facet Pemahaman merupakan cara untuk mengkonfirmasi pemahaman siswa atas apa yang telah mereka pelajari dan tidak hirarkis/bukan merupakan siklus. Jika siswa melakukan salah satu dari keenam Aspek/Facet Pemahaman ini (mampu menjelaskan, menginterpretasi, menerapkan/mengaplikasikan, berempati, memiliki sebuah sudut pandang, atau memiliki pengenalan diri), berarti mereka telah mendemonstrasikan sebuah tingkat pemahaman. Aspek Pemahaman sejalan dengan model teori-teori kontemporer yang dikutip para pakar pendidikan. 6 Aspek atau facet pemahaman ini


27 merupakan modal dasar untuk menentukan Tujuan Pembelajaran (TP) dan penyusunan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) serta menentukan apa saja hal yang perlu diasess. Berikut ini kita dapat melihat contoh-contoh bukti pemahaman dalam CP dari berbagai aspek seperti penjelasan, interpretasi, aplikasi, empati dan pengenalan diri. Contoh Bentuk Pemahaman Dalam CP CP Matematika Fase B elemen Bilangan Peserta didik menunjukkan pemahaman dan intuisi bilangan (number sense) untuk bilangan cacah sampai dengan 10.000. Mereka dapat membaca, menulis, menentukan nilai tempat, membandingkan, mengurutkan, menggunakan nilai tempat, melakukan komposisi dan dekomposisi bilangan. Mereka juga dapat menyelesaikan masalah berkaitan dengan uang menggunakan ribuan sebagai satuan. 1. Penjelasan (Explanation) Mendeskripsikan makna dari bilangan 10.000 dengan kata-kata sendiri, mengaitkan dengan nilai tempat, mengurutkan dan membandingkan bilangan 10.000 dengan bilangan lain 2. Interpretasi (Interpretation) Menerjemahkan makna 10.000 menggunakan gambar. 3. Aplikasi (Application) Menggunakan pemahaman 10.000 untuk memecahkan masalah dalam dunia nyata (misalnya berbelanja di kantin dengan uang Rp.10.000,00 atau soal cerita/ simulasi jual-beli) 4. Perspektif (Perspective) Menemukan berbagai cara berbeda untuk mendapatkan nilai 10.000


28 III. Penugasan LK 2. (Dikerjakan dalam kelompok dan hasil kerja kelomok di unggah pada G Drive yang tersedia secara individu) LK2a 1. Bacalah Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 262/M/2022 Tentang Perubahan Atas Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi Nomor 56/M/2022 Tentang Pedoman Penerapan Kurikulum Dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran. Kemudian pahami struktur kurikulum SMK khususnya kemudian perhatikan jumlah alokasi waktu intrakurikuler mata pelajaran Matematika per tahun pada tiap kelas. 2. Bacalah Salinan Lampiran I Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, Dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi Nomor 033/H/Kr/2022 Tentang Capaian Pembelajaran. Pahami konsep/materi mata pelajaran Matematika pada Capaian Pembelajaran tersebut. 3. Analisis Konsep/materi mata pelajaran matematika pada setiap Fase dan petakan masing-masing materi pada kelas maupun semester dan tentukan alokasi waktunya sesuai dengan table berikut. Fase CP Kelas CP Berdasarkan Elemen Materi Pokok Alokasi Waktu Ket Semester I Semester II E X 1. 2. dst 1. 2. dst


29 F XI XII F+ XI XII LK2b 1. Pilihlah salah satu capaian pembelajaran berdasarkan elemen. 2. Tentukanlah Bentuk Pemahaman Dalam Capaian Pembelajaran pada table berikut. Capaian Pembelajaran Penjelasan Interpretasi Aplikasi Perspektif Empaty Pengenalan diri


30 BAB IV PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA I. Tujuan Pembelajaran: 1.Peserta dapat Menjelaskan prinsip Pembelajaran dan Assesmen 2.Peserta dapat Merencanakan pembelajaran yang berdifrensiasi II. Materi Pokok: A. Prinsip Pembelajaran dan Prinsip Assesmen Pembelajaran dan asesmen merupakan satu kesatuan yang sebaiknya tidak dipisahkan. Pendidik dan peserta didik perlu memahami kompetensi yang dituju sehingga keseluruhan proses pembelajaran diupayakan untuk mencapai kompetensi tersebut. Perencanaan asesmen, terutama pada asesmen awal pembelajaran sangat perlu dilakukan karena untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar peserta didik, dan hasilnya digunakan untuk merancang pembelajaran yang sesuai dengan tahap capaian peserta didik. Perencanaan pembelajaran meliputi tujuan pembelajaran, langkahlangkah pembelajaran, dan asesmen pembelajaran yang disusun dalam bentuk dokumen yang fleksibel, sederhana, dan kontekstual. Tujuan Pembelajaran disusun dari Capaian Pembelajaran dengan mempertimbangkan kekhasan dan karakteristik Satuan Pendidikan. Pendidik juga harus memastikan tujuan pembelajaran sudah sesuai dengan tahapan dan kebutuhan peserta didik. Proses selanjutnya adalah pelaksanaan pembelajaran yang dirancang untuk memberi pengalaman belajar yang berkualitas, interaktif, dan kontekstual. Pada siklus ini, pendidik diharapkan dapat menyelenggarakan pembelajaran yang: (1) interaktif; (2) inspiratif; (3) menyenangkan; (4) menantang; (5) memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif; dan (6) memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, kemandirian sesuai bakat, minat dan perkembangan fisik, serta psikologis peserta didik. Sepanjang proses


31 pembelajaran, pendidik dapat mengadakan asesmen formatif untuk mengetahui sejauh mana tujuan pembelajaran sudah dicapai oleh peserta didik. Tahapan selanjutnya adalah proses asesmen pembelajaran. Asesmen pembelajaran diharapkan dapat mengukur aspek yang seharusnya diukur dan bersifat holistik. Asesmen dapat berupa formatif dan sumatif. Asesmen formatif dapat berupa asesmen pada awal pembelajaran dan asesmen pada saat pembelajaran. Asesmen pada awal pembelajaran digunakan mendukung pembelajaran terdiferensiasi sehingga peserta didik dapat memperoleh pembelajaran sesuai dengan yang mereka butuhkan. Sementara, asesmen formatif pada saat pembelajaran dapat dijadikan sebagai dasar dalam melakukan refleksi terhadap keseluruhan proses belajar yang dapat dijadikan acuan untuk perencanaan pembelajaran dan melakukan revisi apabila diperlukan. Apabila peserta didik dirasa telah mencapai tujuan pembelajaran, maka pendidik dapat meneruskan pada tujuan pembelajaran berikutnya. Namun, apabila tujuan pembelajaran belum tercapai, pendidik perlu melakukan penguatan terlebih dahulu. Selanjutnya, pendidik perlu mengadakan asesmen sumatif untuk memastikan ketercapaian dari keseluruhan tujuan pembelajaran. Dalam prosesnya, pendidik dapat melakukan refleksi, baik dilakukan secara pribadi maupun dengan bantuan kolega pendidik, kepala satuan pendidikan, atau pengawas sekolah. Oleh karena itu, proses pembelajaran dan asesmen merupakan satu kesatuan yang bermuara untuk membantu keberhasilan peserta didik. Pemerintah tidak mengatur pembelajaran dan asesmen secara detail dan teknis. Namun demikian, untuk memastikan proses pembelajaran dan asesmen berjalan dengan baik, Pemerintah menetapkan Prinsip Pembelajaran dan Asesmen. Prinsip pembelajaran dan prinsip asesmen diharapkan dapat memandu pendidik dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran yang bermakna agar peserta didik lebih kreatif, berpikir kritis, dan inovatif.


32 B. Merencanakan Pembelajaran Rencana pembelajaran dirancang untuk memandu guru melaksanakan pembelajaran sehari-hari untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran. Dengan demikian, rencana pembelajaran disusun berdasarkan alur tujuan pembelajaran yang digunakan pendidik sehingga bentuknya lebih rinci dibandingkan alur tujuan pembelajaran. Perlu diingatkan kembali bahwa alur tujuan pembelajaran tidak ditetapkan oleh pemerintah sehingga pendidik yang satu dapat menggunakan alur tujuan pembelajaran yang berbeda dengan pendidik lainnya meskipun mengajar peserta didik dalam fase yang sama. Oleh karena itu, rencana pembelajaran yang dibuat masingmasing pendidik pun dapat berbeda-beda, terlebih lagi karena rencana pembelajaran ini dirancang dengan memperhatikan berbagai faktor lainnya, termasuk faktor peserta didik yang berbeda, lingkungan sekolah, ketersediaan sarana dan prasarana pembelajaran, dan lainlain. Setiap pendidik perlu memiliki rencana pembelajaran untuk membantu mengarahkan proses pembelajaran mencapai CP. Rencana pembelajaran ini dapat berupa: (1) rencana pelaksanaan pembelajaran atau yang dikenal sebagai RPP atau (2) dalam bentuk modul ajar. Apabila pendidik menggunakan modul ajar, maka ia tidak perlu membuat RPP karena komponen-komponen dalam modul ajar meliputi komponenkomponen dalam RPP atau lebih lengkap daripada RPP. C. Pelaksanaan Pembelajaran Kurikulum Merdeka menekankan pentingnya keterpaduan pembelajaran dengan asesmen, terutama asesmen formatif, sebagai suatu siklus belajar. Prinsip Pembelajaran dan Asesmen mengindikasikan pentingnya pengembangan strategi pembelajaran sesuai dengan tahap capaian belajar peserta didik atau yang dikenal juga dengan istilah teaching at the right level (TaRL). Pembelajaran ini dilakukan dengan memberikan materi pembelajaran yang bervariasi sesuai dengan pemahaman peserta


33 didik. Tujuan dari diferensiasi ini adalah agar setiap anak dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Dengan demikian, pembelajaran yang berorientasi pada kompetensi membutuhkan asesmen yang bervariasi dan berkala. Pendekatan pembelajaran seperti inilah yang sangat dikuatkan dalam Kurikulum Merdeka. Berdasarkan hasil asesmen di awal pembelajaran, pendidik perlu berupaya untuk menyesuaikan strategi pembelajaran agar sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik. Namun demikian, bagi sebagian pendidik melakukan pembelajaran terdiferensiasi bukanlah hal yang sederhana untuk dilakukan. Sebagian pendidik mengalami tantangan karena keterbatasan waktu untuk merancang pembelajaran yang berbeda-beda berdasarkan kebutuhan individu peserta didik. Sebagian yang lain mengalami kesulitan untuk mengelompokkan peserta didik berdasarkan kesiapan karena jumlah peserta didik yang banyak dan ruangan kelas yang terbatas. Memahami adanya tantangan-tantangan tersebut, maka pendidik sebaiknya menyesuaikan dengan kesiapan pendidik serta kondisi yang dihadapi pendidik. Beberapa alternatif pendekatan pembelajaran sesuai tahap capaian peserta didik yang dapat dilakukan pendidik adalah sebagai berikut: ■ Alternatif 1: Berdasarkan asesmen yang dilakukan di awal pembelajaran, peserta didik di kelas yang sama dibagi menjadi dua atau lebih kelompok menurut capaian belajar mereka, dan keduanya diajarkan oleh guru yang sama atau disertai guru pendamping/asisten. Selain itu, satuan pendidikan juga menyelenggarakan program pelajaran tambahan untuk peserta didik yang belum siap untuk belajar sesuai dengan fase di kelasnya. ■ Alternatif 2: Berdasarkan asesmen yang dilakukan di awal pembelajaran, peserta didik di kelas yang sama dibagi menjadi dua atau lebih kelompok menurut capaian belajar mereka, dan keduanya diajarkan oleh guru yang sama atau disertai guru pendamping/asisten.


34 ■ Alternatif 3: Berdasarkan asesmen yang dilakukan di awal pembelajaran, pendidik mengajar seluruh peserta didik di kelasnya sesuai dengan hasil asesmen tersebut. Untuk sebagian kecil peserta didik yang belum siap, pendidik memberikan pendampingan setelah jam pelajaran berakhir. Pendidik dan satuan pendidikan dapat memilih strategi pembelajaran sesuai dengan tahap capaian peserta didik dari tiga alternatif pilihan di atas maupun merancang sendiri pendekatan yang akan digunakannya. Namun demikian, hal penting yang perlu diperhatikan dalam melakukan pembelajaran terdiferensiasi menurut kesiapan peserta didik tersebut adalah bahwa pengelompokan peserta didik berdasarkan capaian atau hasil asesmen tidak mengarah pada terbentuknya persepsi tentang pengkategorian peserta didik ke dalam kelompok yang “pintar” dan tidak. Terbentuknya kelompok “unggulan” hingga kelompok yang dinilai paling rendah kemampuannya dapat menyebabkan diskriminasi terhadap peserta didik. Mereka yang ditempatkan pada kelompok yang paling marginal akan cenderung menilai diri mereka sebagai individu yang tidak memiliki kemampuan untuk belajar sebagaimana temantemannya yang lain. Demikian pula pendidik sering tanpa sadar memiliki harapan atau ekspektasi yang rendah terhadap peserta didik yang sudah dianggap kurang berbakat atau kurang mampu secara akademik. Akibatnya, mereka akan terus terpinggirkan. Untuk menghindari dampak negatif sebagaimana dijelaskan di atas, hal yang dapat dilakukan ketika mengelompokkan peserta didik untuk keperluan pembelajaran terdiferensiasi sesuai dengan tahap capaian peserta didik, antara lain sebagai berikut. 1) Pembelajaran dalam kelompok kecil adalah metode yang biasa dilakukan peserta didik. Ada kalanya pendidik membagi kelompok berdasarkan minat (misalnya, kesamaan minat permainan olahraga dalam mata pelajaran PJOK), melakukan pengamatan atau eksperimen dalam mapel IPA secara berkelompok yang ditetapkan secara acak oleh pendidik, sehingga pengelompokan berdasarkan


35 kemampuan akademik dalam suatu pertemuan adalah hal yang biasa. 2) Pengelompokan berdasarkan kemampuan berubah sesuai dengan kompetensi yang menjadi kekuatan peserta didik, tidak permanen sepanjang tahun atau semester, dan tidak berlaku di semua mata pelajaran. Misalnya, di mata pelajaran bahasa Indonesia peserta didik A tergabung dalam kelompok yang masih butuh bimbingan, tetapi pada pelajaran IPA peserta didik A tergabung dalam kelompok yang sudah mahir. 3) Bagi peserta didik yang sudah mahir perlu dipikirkan bentuk tantangan yang lebih beragam, menjadi tutor sebaya bisa menjadi salah satu opsi, namun tanggung jawab memfasilitasi sepenuhnya ada di pendidik. 4) Perlu ada peran beragam yang bisa dipilih oleh peserta didik untuk memperkaya atau mendalami kompetensi yang dibangun. Misalnya, di awal tahun ajaran pendidik mengajak peserta didik berdiskusi mengenai peran –peran apa yang dibutuhkan. Dalam proses pembelajaran, salah satu diferensiasi yang dapat dilakukan pendidik adalah diferensiasi berdasarkan konten/ materi, proses, dan/atau produk yang dihasilkan peserta didik. Sebagai contoh, ketika mengajarkan materi tertentu, peserta didik yang perlu bimbingan dapat difokuskan hanya pada 3 (tiga) poin penting saja, sementara untuk peserta didik yang sudah cukup memahami materi dapat mempelajari seluruh topik; dan peserta didik yang mahir dapat melakukan pendalaman materi di luar materi yang diajarkan. Begitu juga dengan tagihan atau produk, peserta didik yang perlu bimbingan dapat bekerja kelompok dengan mengumpulkan satu lembar hasil kerja, sementara untuk peserta didik yang cukup mahir dapat mengumpulkan 5 (lima) lembar hasil kerja mandiri, dan peserta didik yang sudah mahir dapat mempresentasikan hasil kerja menggunakan power point dengan dilengkapi gambar dan grafis.


36 III. Penugasan/LK 3: Rancanglah pembelajaran berdiffrensiasi sesuai dengan topic yang dipilih.


37 BAB V ASESMEN PEMBELAJARAN MATEMATIKA I. Tujuan Pembelajaran: 1. Peserta dapat menjelaskan konsep assesmen dalam RPP atau modul ajar 2. Peserta dapat merencanakan assesmen penilaian pembelajaran II. Materi Pokok: A. Rencana Asesmen dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Atau Modul Ajar Dalam modul ajar, rencana asesmen ini dilengkapi dengan instrumen serta cara melakukan penilaiannya. Dalam dunia pedagogi dan asesmen, terdapat banyak teori dan pendekatan asesmen. Bagian ini menjelaskan konsep asesmen yang dianjurkan dalam Kurikulum Merdeka. Asesmen dilakukan untuk mencari bukti ataupun dasar pertimbangan tentang ketercapaian tujuan pembelajaran. Pendidik dianjurkan untuk melakukan asesmen-asesmen berikut ini: 1. Asesmen formatif, yaitu asesmen yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik bagi pendidik dan peserta didik untuk memperbaiki proses belajar. a. Asesmen di awal pembelajaran yang dilakukan untuk mengetahui kesiapan peserta didik untuk mempelajari materi ajar dan mencapai tujuan pembelajaran yang direncanakan. Asesmen ini termasuk dalam kategori asesmen formatif karena ditujukan untuk kebutuhan guru dalam merancang pembelajaran. b. Asesmen di dalam proses pembelajaran yang dilakukan selama proses pembelajaran untuk mengetahui perkembangan peserta didik dan sekaligus pemberian umpan balik yang cepat. Biasanya asesmen ini dilakukan sepanjang atau di tengah kegiatan/langkah


38 pembelajaran, dan dapat juga dilakukan di akhir langkah pembelajaran. Asesmen ini juga termasuk dalam kategori asesmen formatif. 2. Asesmen sumatif, yaitu asesmen yang dilakukan untuk memastikan ketercapaian keseluruhan tujuan pembelajaran. Asesmen ini dilakukan pada akhir proses pembelajaran atau dapat juga dilakukan sekaligus untuk dua atau lebih tujuan pembelajaran, sesuai dengan pertimbangan pendidik dan kebijakan satuan pendidikan. Berbeda dengan asesmen formatif, asesmen sumatif menjadi bagian dari perhitungan penilaian di akhir semester, akhir tahun ajaran, dan/atau akhir jenjang. Kedua jenis asesmen ini tidak harus digunakan dalam suatu rencana pelaksanaan pembelajaran atau modul ajar, tergantung pada cakupan tujuan pembelajaran. Pendidik adalah sosok yang paling memahami kemajuan belajar peserta didik sehingga pendidik perlu memiliki kompetensi dan keleluasaan untuk melakukan asesmen agar sesuai dengan kebutuhan peserta didik masingmasing. Keleluasaan tersebut mencakup perancangan asesmen, waktu pelaksanaan, penggunaan teknik dan instrumen asesmen, penentuan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran, dan pengolahan hasil asesmen. Termasuk dalam keleluasaan ini adalah keputusan tentang penilaian tengah semester. Pendidik dan satuan pendidikan berwenang untuk memutuskan perlu atau tidaknya melakukan penilaian tersebut. Pendidik perlu memahami prinsip-prinsip asesmen di mana salah satu prinsipnya mendorong penggunaan berbagai bentuk asesmen, bukan hanya tes tertulis, agar pembelajaran bisa lebih terfokus pada kegiatan yang bermakna serta informasi atau umpan balik dari asesmen tentang kemampuan peserta didik juga menjadi lebih kaya dan bermanfaat dalam proses perancangan pembelajaran berikutnya.


39 Untuk dapat merancang dan melaksanakan pembelajaran dan asesmen sesuai arah kebijakan Kurikulum Merdeka, berikut ini adalah penjelasan lebih lanjut tentang asesmen formatif dan asesmen sumatif sebagai acuan. Asesmen Formatif Penilaian atau asesmen formatif bertujuan untuk memantau dan memperbaiki proses pembelajaran, serta mengevaluasi pencapaian tujuan pembelajaran. Asesmen ini dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar peserta didik, hambatan atau kesulitan yang mereka hadapi, dan juga untuk mendapatkan informasi perkembangan peserta didik. Informasi tersebut merupakan umpan balik bagi peserta didik dan juga pendidik. ■ Bagi peserta didik, asesmen formatif berguna untuk berefleksi, dengan memonitor kemajuan belajarnya, tantangan yang dialaminya, serta langkahlangkah yang perlu ia lakukan untuk meningkatkan terus capaiannya. Hal ini merupakan proses belajar yang penting untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat. ■ Bagi pendidik, asesmen formatif berguna untuk merefleksikan strategi pembelajaran yang digunakannya, serta untuk meningkatkan efektivitasnya dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran. Asesmen ini juga memberikan informasi tentang kebutuhan belajar individu peserta didik yang diajarnya. Agar asesmen memberikan manfaat tersebut kepada peserta didik dan pendidik, maka beberapa hal yang perlu diperhatikan pendidik dalam merancang asesmen formatif, antara lain sebagai berikut: • Asesmen formatif tidak berisiko tinggi (high stake). Asesmen formatif dirancang untuk tujuan pembelajaran dan tidak seharusnya digunakan untuk menentukan nilai rapor, keputusan


40 kenaikan kelas, kelulusan, atau keputusan-keputusan penting lainnya. • Asesmen formatif dapat menggunakan berbagai teknik dan/atau instrumen. Suatu asesmen dikategorikan sebagai asesmen formatif apabila tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas proses belajar. • Asesmen formatif dilaksanakan bersamaan dengan proses pembelajaran yang sedang berlangsung sehingga asesmen formatif dan pembelajaran menjadi suatu kesatuan. • Asesmen formatif dapat menggunakan metode yang sederhana, sehingga umpan balik hasil asesmen tersebut dapat diperoleh dengan cepat. • Asesmen formatif yang dilakukan di awal pembelajaran akan memberikan informasi kepada pendidik tentang kesiapan belajar peserta didik. Berdasarkan asesmen ini, pendidik perlu menyesuaikan/memodifikasi rencana pelaksanaan pembelajarannya dan/ atau membuat diferensiasi pembelajaran agar sesuai dengan kebutuhan peserta didik. • Instrumen asesmen yang digunakan dapat memberikan informasi tentang kekuatan, hal-hal yang masih perlu ditingkatkan oleh peserta didik dan mengungkapkan cara untuk meningkatkan kualitas tulisan, karya atau performa yang diberi umpan balik. Dengan demikian, hasil asesmen tidak sekadar sebuah angka. Contoh-contoh pelaksanaan asesmen formatif. • Pendidik memulai kegiatan tatap muka dengan memberikan pertanyaan berkaitan dengan konsep atau topik yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya. • Pendidik mengakhiri kegiatan pembelajaran di kelas dengan meminta peserta didik untuk menuliskan 3 hal tentang konsep


41 yang baru mereka pelajari, 2 hal yang ingin mereka pelajari lebih mendalam, dan 1 hal yang mereka belum pahami. • Kegiatan percobaan dilanjutkan dengan diskusi terkait proses dan hasil percobaan, kemudian pendidik memberikan umpan balik terhadap pemahaman peserta didik. • Pendidik memberikan pertanyaan tertulis, kemudian setelah selesai menjawab pertanyaan, peserta didik diberikan kunci jawabannya sebagai acuan melakukan penilaian diri. • Penilaian diri, penilaian antarteman, pemberian umpan balik antar teman dan refleksi. Sebagai contoh, peserta didik diminta untuk menjelaskan secara lisan atau tulisan tentang konsep yang dipelajari. • Pada PAUD, pelaksanaan asesmen formatif dapat dilakukan dengan melakukan observasi terhadap perkembangan anak saat melakukan kegiatan bermain-belajar. • Pada pendidikan khusus, pelaksanaan asesmen diagnostik dilakukan untuk menentukan fase pada peserta didik sehingga pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik, misalnya: salah satu peserta didik pada kelas X SMALB (Fase E) berdasarkan hasil asesmen diagnostik berada pada Fase C sehingga pembelajaran peserta didik tersebut tetap mengikuti hasil asesmen diagnostik yaitu Fase C. Asesmen Sumatif Penilaian atau asesmen sumatif pada jenjang pendidikan dasar dan menengah bertujuan untuk menilai pencapaian tujuan pembelajaran dan/atau CP peserta didik sebagai dasar penentuan kenaikan kelas dan/atau kelulusan dari satuan pendidikan. Penilaian pencapaian hasil belajar peserta didik dilakukan dengan membandingkan pencapaian hasil belajar peserta didik dengan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran. Sementara itu, pada


42 pendidikan anak usia dini, asesmen sumatif digunakan untuk mengetahui capaian perkembangan peserta didik dan bukan sebagai hasil evaluasi untuk penentuan kenaikan kelas atau kelulusan. Adapun asesmen sumatif dapat berfungsi untuk: • alat ukur untuk mengetahui pencapaian hasil belajar peserta didik dalam satu atau lebih tujuan pembelajaran di periode tertentu; • mendapatkan nilai capaian hasil belajar untuk dibandingkan dengan kriteria capaian yang telah ditetapkan; dan • menentukan kelanjutan proses belajar siswa jenjang berikutnya. Asesmen sumatif dapat dilakukan setelah pembelajaran berakhir, misalnya pada akhir satu lingkup materi, pada akhir semester dan pada akhir fase; khusus asesmen pada akhir semester, asesmen ini bersifat pilihan. Jika pendidik merasa masih memerlukan konfirmasi atau informasi tambahan untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik, maka dapat melakukan asesmen pada akhir semester. Sebaliknya, jika pendidik merasa bahwa data hasil asesmen yang diperoleh selama 1 semester telah mencukupi, maka tidak perlu melakukan asesmen pada akhir semester. Hal yang perlu ditekankan, untuk asesmen sumatif, pendidik dapat menggunakan teknik dan instrumen yang beragam, tidak hanya berupa tes, namun dapat menggunakan observasi dan performa (praktik, menghasilkan produk, melakukan projek, dan membuat portofolio) B. Merencanakan asesmen Apabila pendidik menggunakan modul ajar yang disediakan, maka ia tidak perlu membuat perencanaan asesmen. Namun, bagi pendidik yang mengembangkan sendiri rencana pelaksanaan pembelajaran dan/atau modul ajar, maka ia perlu merencanakan


43 asesmen formatif. Rencana asesmen dimulai dengan perumusan tujuan asesmen. Tujuan ini tentu berkaitan erat dengan tujuan pembelajaran. Setelah tujuan dirumuskan, pendidik memilih dan/atau mengembangkan instrumen asesmen sesuai tujuan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan instrumen, antara lain: karakteristik peserta didik, kesesuaian asesmen dengan rencana/ tujuan pembelajaran dan tujuan asesmen, kemudahan penggunaan instrumen untuk memberikan umpan balik kepada peserta didik dan pendidik. Berikut adalah contoh instrumen penilaian atau asesmen yang dapat menjadi inspirasi bagi pendidik, yaitu: rubric, ceklis, catatan anecdotal, dan grafik perkembangan. Instrumen asesmen dapat dikembangkan berdasarkan teknik penilaian yang digunakan oleh pendidik. contoh teknik asesmen yang dapat diadaptasi, yaitu: observasi, kinerja, proyek, dan tes tertulis III. Penugasan/LK 4: Susunlah instrument penilaian pembelajaran sesuai dengan TP yang dipilih


44 BAB VI PENGEMBANGAN MODUL AJAR MATEMATIKA I. TUJUAN PEMBELAJARAN PENGEMBANGAN MODUL AJAR: 1. Mampu memahami konsep, tujuan, strategi dan prosedur pengembangan modul ajar pembelajaran sesuai capaian pembelajaran; 2. Mampu memodifikasi/menyusun modul ajar sesuai dengan karakteristik/kebutuhan; 3. Mengembangkan perangkat ajar yang memandu guru melaksanakan pembelajaran; 4. Mampu menentukan asesmen/penilaian yang sesuai dari modul ajar yang disusun. II. MATERI POKOK PENGEMBANGAN MODUL AJAR MATEMATIKA Modul ajar merupakan perangkat pembelajaran atau rancangan pembelajaran yang berlandaskan pada kurikulum yang diaplikasikan dengan tujuan untuk menggapai standar kompetensi yang telah ditetapkan.Modul ajar mempunyai peran utama untuk menopang guru dalam merancang pembelajaran.Pada penyusunan perangkat pembelajaran yang berperan penting adalah guru, guru diasah kemampuan berpikir untuk dapat berinovasi dalam modul ajar. Oleh karena itu membuat modul ajar merupakan kompetensi pedagogik guru yang perlu dikembangkan, hal ini agar teknik mengajar guru di dalam kelas lebih efekti, efisien, dan tidak keluar pembahasan dari indikator pencapaian. Secara ideal, guru perlu menyusun modul ajar secara maksimal, namun kenyataannya banyak guru yang belum paham betul teknik menyusun dan mengembangkan modul ajar, terlebih pada kurikulum


45 merdeka belajar. Proses pembelajaran yang tidak merencanakan modul ajar dengan baik sudah dapat dipastikan penyampaian konten kepada siswa tidak sistematis, sehingga pembelajaran terjadi tidak seimbang antara guru dan siswa. Dapat dipastikan hanya guru yang aktif atau sebaliknya dan pembelajaran yang dilaksanakan terkesan kurang menarik karena guru tidak mempersiapkan modul ajar dengan baik. Pada dasarnya modul ajar merupakan materi pembelajaran yang disusun secara ekstensif dan sistematis dengan acuan prinsip pembelajaran yang diterapkan guru kepada siswa. Sistematis dapat diartikan secara urut mulai dari pembukaan, isi materi, dan penutup sehingga memudahkan siswa belajar dan memudahkan guru dalam menyampaikan materi. Selain itu, menurut sungkono modul ajar bersifat unik dan spesifik, yang berarti ditujukan untuk sasaran tertentu dalam proses pembelajaran yang sesuai dengan sasarannya. Sementara spesifik dapat diartikan bahwa modul ajar didesain secara maksimal untuk mencapai indikator keberhasilan. Modul ajar sangat dipentingkan dalam proses pembelajaran bagi guru dan siswa. Sejatinya, guru akan mengalami kesulitan untuk mengupgrade efektivitas mengajar jika tidak disandingkan dengan modul ajar yang lengkap. Hal ini berlaku untuk siswa, karena yang disampaikan oleh guru tidak sistematis. Kemungkinan penyampaian materi tidak sesuai dengan kurikulum yang seharusnya diterapkan, oleh karena itu modul ajar adalah media utama untuk meningkatkan kualitas dalam pembelajaran yang mana berperan baik bagi guru, siswa dan proses pembelajaran. Modul ajar merupakan bahasa baru dari RPP, namun terdapat perbedaan secara signifikan pada konten modul ajar dengan RPP. Sebagian sekolah telah menyusun Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan (KOSP) sebelum pembelajaran pertama dimulai, poin-poin yang disusun meliputi tujuan pembelajaran dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP).


46 Tujuan pengembangan modul ajar menurut panduan pembelajaran dan asesmen adalah untuk memperkaya perangkat pembelajaran yang dapat memandu guru untuk melaksanakan pembelajaran di kelas tertutup dan terbuka. Dalam hal ini, kurikulum merdeka memberikan keleluasaan kepada guru untuk memperkaya modul melalui dua cara, yaitu guru dapat memilih atau memodifikasi modul ajar yang sudah disiapkan oleh pemerintah dan disesuaikan dengan karakter siswa serta menyusun modul secara individual sesuai dengan materi dan karakter siswa. Adapun kriteria modul ajar kurikulum merdeka adalah sebagai berikut; (1) Esensial yaitu setiap mata pelajaran berkonsep melalui pengalaman belajar dan lintas disiplin ilmu, (2) Menarik, bermakna, dan menantang yaitu guru dapat menumbuhkan minat kepada siswa dan menyertakan siswa secara aktif pada pembelajaran, berkaitan dengan kognitif dan pengalaman yang dimilikinya sehingga tidak terlalu kompleks dan tidak terlalu mudah untuk seusianya, (3) Relevan dan kontekstual yaitu berkaitan dengan unsur kognitif dan pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya dan sesuai kondisi waktu dan tempat siswa berada, dan (4) Berkesinambungan yaitu kegiatan pembelajaran harus memiliki keterkaitan sesuai dengan fase belajar siswa (fase A, fase B, fase C, fase D, fase E dan fase F). Kriteria modul ajar perlu dijadikan acuan ketika menyusun modul ajar. Setelah menetapkan prinsip dari kriteria di atas, guru harus membuat modul ajar sesuai dengan komponen yang ditentukan berdasarkan kebutuhan. Namun, secara global modul ajar memiliki komponen sebagai berikut: a) Komponen informasi umum; b) Komponen inti; c) Lampiran. A. Komponen Modul Ajar a) Komponen informasi umum meliputi: 1. Identitas penulis modul, institusi asal, dan tahun dibentuknya modul ajar, jenjang sekolah, kelas, alokasi waktu.


Click to View FlipBook Version