The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Analisis kualitatif dan kuantitatif konvensional

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by elly suoth, 2021-09-16 04:55:49

KIMIA ANALISIS

Analisis kualitatif dan kuantitatif konvensional

Keywords: Kimia analisis

selanjutnya dapat dititrasi dengan larutan baku natrium tiosulfat.
Larutan natrium tiosulfat yang digunakan setara dengan iodium
dan setara dengan banyaknya sampel. Sebagai contoh yaitu
penetapan kadar (Cl2) pada pemutih. Iodida akan dioksidasi oleh
klorin yang menghasilkan iodium. Kemudian iodium yang
dibebaskan, dititrasi dengan larutan standar atau larutan baku
natrium tiosulfat.
2. Permanganometri

Pada metode ini larutan baku yang digunakan adalah
kalium permanganate yang merupakan pengoksidasi yang
penting dalam reaksi redoks. Dalam Farmakope Indonesia larutan
baku kalium permanganate hanya digunakan untuk penetapan
kadar hydrogen peroksida. Kalium permanganat jika digunakan
sebagai oksidator dalam larutan alkalis kuat maka terdapat dua
kemingkinan reaksi yang terjadi yaitu reaksi yang berjalan
relative cepat dan reaksi yang berlangsung relatif lambat.
Penambahan ion barium yang akan membentuk barium manganat
berupa endapan dalam reaksi yang relatif berjalan cepat dapat
membuat jalannya reaksi berlangsung dengan baik.

Pemanasan dan penyaringan yang berfungsi untuk
menghilangkan zat-zat mudah teroksidasi dapat membuat
penurunan kekuatan dari larutan baku kalium permanganate.
Dalam kondisi alkalis kalium permanganat secara kuantitatif
direduksi menjadi mangan oksida.

51

3. Serimetri

Pada metode ini larutan baku yang digunakan adalah

serium (IV) sulfat. Larutan baku ini dalam suasana asam sulfat

encer merupakan zat pengoksidasi yang kuat serta lebih stabil dari

pada larutan kalium permanganate. Keunggunlan dari larutan

serium (IV) sulfat yaitu :

a. Larutan serium (IV) sangat stabil pada penyimpanan yang

lama serta tidak harus terlindung dari cahaya bahkan pada

pemanasan sampai pendidihan dengan waktu lama tidak akan

mengalami penurunan konsentrasi.

b. Larutan serium (IV) dapat juga digunakan untuk penetapan

kadar klorida dengan konsentrasi tinggi,

c. Reaksi dengan reduktor dalam larutan asam menghasilkan

perubahan valensi yang sederhana

d. Serium (IV) sulfat merupakan oksidator yang baik dimana

semua senyawa yang dapat ditetapkan dengan kalium

permanganate juga dapat ditetapkan dengan larutan baku

serium (IV) sulfat

e. Serium (IV) sulfat memiliki warna yang tidak terlalu pekat

seperti kalium permanganate sehingga memudahkan dalam

mengamati titik akhir titrasi.

Larutan serium (IV) dalam pelarut asam klorida jika dididihkan

akan menjadi tidak stabil karena terjadi reduksi oleh asam klorida

serta terjadi pelepasan klorin. Reaksi tersebut berjalan sangat

cepat sehingga jika diperlukan pemanasan sampai mendidih maka

dapat digunakan asam klorida encer.

52

Senyawa-senyawa yang dapat ditetapkan kadarnya
dengan cara serimetri pada farmakope Indonesia yaitu besi (III)
fumarat, besi (II) glukonat, vitamin K juga vitamin E bebas.
4. Titrasi yang melibatkan brom

Brom merupakan salah satu senyawa yang bersifat
oksidator yang sama seperti iodium. Brom akan direduksi
menghasilkan senyawa subsitusi yang tidak larut air oleh
senyawa-senyawa organik. Senyawa-senyawa tersebut misalnya
tribromofenol, tribromoanilin serta senyawa lainnya yang dapat
bereaksi secara kuantitatif. Pada metode ini brom digunakan
sebagai larutan baku yang misalnya dapat digunakan untuk
penetapan senyawa-senyawa organik seperti fenol. Berdasarkan
Farmakope Indonesia senyawa-senyawa yang dapat ditetapkan
kadarnya dengan larutan baku brom yaitu klorokresol, fenol,
fenol cair, fenileprin HCl, resorsinol dan timol. Brom dapat
diperoleh dari hasil pencampuran kalium bromate dengan kalium
bromida pada suasana asam kuat.
5. Titrasi yang melibatkan kalium iodat

Larutan baku kalium iodat dapat diperoleh dengan
melarutkan sejumlah kalium iodat dalam air. Kalium iodat dapat
diperoleh dengan keadaan murni dan stabil sehingga larutan
tersebut dapat langsung digunakan tanpa harus dibakukan
kembali. Konsentrasi larutan baku kalium iodat yaitu molaritas.
Untuk menetapkan titik akhir pada titrasi dengan larutan baku
kalium iodat maka ditambahkan kloroform atau karbon

53

tetraklorida namun dapat juga digunakan zat warna tertentu
misalnyaamaranth, brilliant Ponceau dan lain sebagainya.

Reduksi kalium iodat menjadi iodida tidat dapat seragam
seperti kalium bromat. 1 mol kalium iodat setara dengan 6
elektron akibatnya valensinya adalah 6 sehingga 0,05 M sama
dengan 0,3 N. jika digunakan kelebihan kalium iodat maka yang
terjadi ialah terbentunya iodium, sehingga kelebihan iodat dan
iodium dapat ditetapkan secara iodometri.

Hasil reduksi iodat menjadi iodida dan iodium dapat
diubah menjadi I- secara kuantitatif. Dalam titrasi pengubahan
menjadi I- dilakukan dengan penambahan konsentrasi HCl yang
lebih tinggi. Iodium yang awalnya terbentuk dari kalium iodat
mengalami solvalisis dalam pelarut polar. Adanya konsentrasi
HCl yang cukup maka kation iodium akan membentuk kompleks
iodomonoklorida yang kemudian mengalami stabilisasi
membentuk ion kompleks. Pembentukan iodo monoklorida
tersebutlah yang digunakan pada penetapan kadar beberapa zat
reduktor.
6. Titrasi dengan kalium bromate

Kalium bromate juga merupakan salah satu oksidator kuat
pada lingkungan asam. Reaksi kalium bromate dengan zat-zat
pereduksi akan berubah menjadi bromida. Pada saat terbentuknya
brom maka titi akhir titrasi dapat diamati dengan terbentuknya
larutan berwarna kuning. Namun agar perubahan warna tersebut
lebih jelas lagi maka perlu untuk ditambahkan indicator seperti
jingga metil dan merah fuchsin. Indicator-indikator yang

54

digunakan dalam metode ini adalah bersifat irreversible. Pada
titik akhir titrasi kelebihan brom akan membuat indicator menjadi
rusak sehingga warnanya berubah dan tidak dapat kembali lagi
walaupun ditambahkan kembali reduktor. Titrasi langsung
dengan larutan bromate sebagai larutan baku dilakukan dalam
suasana asam dengan menggunakan HCl 1,5N

55

BAB V
GRAVIMETRI
5.1. Pendahuluan
Gravimetri merupakan salah satu analisis kuantitatif yang
sudah sangat lama digunakan. Analisis gravimetri digunakan
untuk penetapan kadar suatu zat berdasarkan pengukuran massa
atau perubahan massa. Pada analisis ini zat atau unsur yang akan
dianalisis dipisahkan bahan pengetornya. Bagian terbesar dari
ananlisis ini yaitu perubahan gugus atau unsur dari senyawa yang
akan dianalisis menjadi senyawa lainnya yang murni. Rumus
senyawa ataupun berat atom dapat di dihitung untuk mengetahui
berat unsur yang dianalisis. Biasanya reagen atau pereaksi yang
ditambahkan untuk membentuk endapan diberi berlebihan untuk
menekan kelarutan endapan. Sehingga persyaratan pada analisis
gravimetri harus dipenuhi yaitu ;
1. Proses pemisahan analit yang dituju harus berlangsung
secara sempurna supaya banyaknya analit yang tidak
mengendap secara analitis tidak terdeteksi
2. Hasil akhir dari analisis berupa zat yang dapat ditimbang
serta harus murni dan mempunyai susunan yang pasti.
Analisis gravimetric memiliki keuntungan disbanding dengan
analisis volumetri yaitu penyusun yang dianalisis dapat diketahui
jika ada pengotornya serta bila terjadi kesalahan dapat dilakukan
pembetulan kembali. Sedangkan kekurangannya yaitu analisis
gravimetric dalam pelaksanaannya membutuhkan waktu yang
cukup lama.

56

5.2. Teknis Analisis
Beberapa langkah dalam analisis gravimetric yaitu

pengendapan, penyaringan, pencucian endapan pengeringan
hingga penimbangan endapan hingga memiliki berat konstan.
1. Pengendapan

Analit yang akan dianalisis diendapkan dari larutannya
dalam bentuk senyawa yang tidak larut atau sukar larut sehingga
selama penyaringan, pencucian dan penimbangan tidak ada yang
akan hilang. Pada pengendapan dianggap bahwa senyawa yang
terpisah dari larutan merupakan senyawa murni. Pengendapan
dilakukan dengan menggunakan pereaksi yang ditempatkan
secara perlahan-lahan dalam gelas piala memakai alat berupa
pipet atau alat sejenis sambil terus diaduk. Faktor-faktor yang
mempengaruhi pengendapan dapat berhasil yaitu :

a. Agar tidak ada kehilangan yang berarti pada proses
penyaringanmaka endapan harus benar-benar tidak larut.

b. Keadaan fisis dari endapan harus sedemikian rupa agar
supaya dapat segera dipisahkan dari larutannya dengan
penyaringankemudian dapat dicuci dan bebas dari
pengotor

c. Endapan harus dapat diubah menjadi senyawa murni yang
memiliki susunan kimia pasti

2. Penyaringan
Penyaringan bertujuan untuk mendapatkan endapan yang

terpisah atau bebas dari larutan induk. Alat yang biasa digunakan
dalam penyaringan yaitu kertas saring yang digunakan bersama

57

corong gelas atau krus yang dilapisi dengan serat asbes. Kertas
saring digunakn untuk endapan yang berbentuk gelatin atau
endapan yang akan dipijarkan dengan menggunakan suhu yang
tinggi.

Kertas saring yang digunakan pada analisis gravimetric
jika dibakar hamper tidak meninggalkan abu sehingga ukuran
yang digunakan yaitu kertas saring dengan bentuk potongan bulat
diameter 7,9,10 dan 11 cm. jika menggunakan kertas saring lebih
besar diameternya maka abu yang terbentuk tidak boleh lebih dari
0,0001 gram. Jika menghasilkan abu lebih dari itu maka berat dari
abu tersebut harus diperhitungkan. Untuk itu sebaiknya kadar abu
yang dihasilkan dari kertas saring harus terlebih dahulu diuji. Ada
tiga macam kertas saring berdasarkan besar pori-pori kertas yaitu
kertas saring untuk endapan yang sangat halus, kertas saring
untuk endapan sedang dan kertas saring untuk endapan yang
berbentuk gelatin.

Pada saat menyaring paruh corong harus menempel pada
gelas piala yang digunakan sebagai penampung. Hal tersebut
bertujuan untuk menghindari cairan agar supaya tidak memercik.
Cairan dituangkan melalui batang pengaduk yang dipegang pada
bagian pinggir corong tapi jangan sampai menempelkan batang
pengaduk pada corong.
3. Pencucian endapan

Untuk memisahkan atau membersihkan endapan dari
cairan induk yang terbawa maka dilakukanlah pencucian
endapan. Jika ada cairan induk yang terbawa maka pada

58

pemanasan akan meninggalkan bahan-bahan yang tidak mudah
menguap, itulah sebabnya endapan harus dibersihkan hingga
bebas dari cairan pembawa. Larutan yang digunakan sebagai
pncuci harus cairan yang tidak dapat melarutkan endapan. Cara
untuk mengetahui bersih tidaknya endapan dilakukan dengan
menguji tapisan dari bahan pengeotor. Syarat cairan pencuci yaitu

a. Tidak melarutkan endapan namun kotoran yang ada dapat
cepat terlarut

b. Tidak menyebabkan dispersi pada endapan
c. Tidak membentuk senyawa lain yang sukar larut atau

menguap dengan endapan
d. Cairan mudah menguap dari endapan pada saat

pengeringan
e. Tidak mengandung zat-zat yang dapat mengganggu

proses analisis
Aquades dapat digunakan jika tidak melarutkan endapan atau
tidak menyebabkan peptisasi. Biasanya untuk mengurangi daya
larut dari endapan dan mencegah peptisasi digunakan cairan
pencuci seperti asam nitrat encer.
4. Pengeringan

Endapan dapat ditimbang apabila sudah menjadi bentuk
yang susunanya tetap. Untuik mendapatkan susunan yang tepat
maka dilakukan penguapan atau pengeringan atau
pemanasan/pemijaran. Proses mana yang akan dilakukan
tergantung dari sifat endapan serta alat penyaring digunakan.
Dikeringkan jika suhu yang digunakan lebih rendah dari 2500C,

59

pemijaran dilakukan pada suhu antara 250-10000C. endapan yang
akan dikeringkan dalam wadah berupa krus penyaring kemudian
pemanasan dilakukan dengan menggunakan alat pengering.

5.3. Alat-Alat Yang Digunakan
1. Gelas piala

Yang digunakan yaitu gelas paisa yang ada bagian bibir untuk
menuang. Fungsi dari bagian bibir gelas piala yaitu sebagai
wadah untuk mengaduk pada saat gelas piala ditutup dengan gelas
arloji. Fungsi lainnya yaitu sebagai lubang untuk mengeluarkan
uap/gas yang terbentuk. Besar kecilnya gelas piala yang
digunakan tergantung volume dari sampel yang akan dianalisis.
Sebaiknya untuk melakukan penguapan dipilih gelas piala yang
dangkal.
2. Labu Erlenmeyer

Alat ini digunakan untuk menampung tapisan pada
penyaringan. Labu Erlenmeyer memiliki keuntungan seperti tidak
perlu di klem. Untuk penyaringan dengan penghisap digunakan
labu hisap Erlenmeyer yang memiliki pipa cabang untuk hisapan
3. Corong

Terdapat berbagai ukuran garis tengah untuk corong gelas
yaitu 5,7 cm dan 9 cm. Panjang paruh tidak melebihi 15 cm,
sedangkan diameter paruh pipa paling kecil yaitu 4 mm.
4. Botol pencuci

Alat ini ada yang terbuat dari kaca ada juga yang terbuat dari
plastik polietilena. Botol pencuci diisi dengan larutan pencuci

60

endapan atau biasa diisi dengan aquades saja. Akhir-akhir ini
botol yang terbuat dari plastik lebih banyak digunakan.
5. Gelas pengaduk

Alat ini terbuat dari gelas padat yang memiliki garis tengah 3-
5 mm dengan panjang 20-25 cm. gelas pengaduk atau batang
pengaduk berfungsi untuk melepaskan endapan yang melekat
pada dasar gelas paisa.
6. Alat pemanas

Terdapat berbagai macam alat pemanas. Untuk pemanasan
yang tinggi digunakan pembakar Bunsen atau Meker yang
memakai bahan bakar gas. Jika menggunakan krus platina,
pemanasan dapat dilakukan dengan suhu 1100-12000C. Untuk
krus porselein pemanasannya mencapai 800-9000C. Sekarang
untuk pemanasan yang tinggi digunakan muffle furnace yang
disambungkan dengan listrik dan disertai dengan pengatur suhu.
Muffle furnace memiliki suhu sampai 12000C. sedangkan untuk
pemanasan yang menggunakan suhu rendah digunakan oven
dengan suhu pemanasan mencapai 3000C.
7. Eksikator

Alat ini digunakan untuk mendinginkan krus setelah
pemanasan atau pemijaran untuk mencapai suhu kamar. Selama
pendinginan eksikator harus ditutup dari udara luar sehingga
tidak akan menyerap lembab. Bahan pengering yang digunakan
seperti CaO, CaCl2 anhydrous, silika gel dan lain sebagainya.
Bagian tutup eksikator dilapisi oleh vaselin agar supaya penutup
tersebut rapat dan kedap udara. Pada saat membuka eksikator

61

harus secara hati-hati dengan menggeser penutup kesamping
bukan mengangkatnya. Untuk memasukkan krus yang panas ke
dalam eksikator maka digunakan tang krus yang harus dipanasi
terlebih dahulu sehingga pada saat menjepit krus yang masuh
panas, krus tidak akan retak.
8. Krus

Krus porselin atau krus platina yang sering digunakan untuk
pemanasan atau pemijaran. Namun yang sering digunakan adalah
krus porselin karena krus platina harganya mahal. Selain
pemijaran atau pemanasan digunakan juga untukpeleburan
bahan-bahan tertentu. Peleburan dengan soda, hydrogen fluoride
(HF) dan pirosulfat tidak dapat dilakukan pada krus porselin.

62

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Rohman, 2009, Kromatografi Untuk Analisis Obat, Graha
Ilmu, Yogyakarta

C Polling, Harsono Tjokrodangerdjo, 1983, Ilmu Kimia Karbon,
Erlangga, Jakarta

Ralp Fessenden, Joan Fessenden, 1986, Kimia Organik,
Erlangga, Jakarta

Hardjono Sastrohamidjojo, 2005, Kromatografi, Liberty
Yogyakarta, Yogyakarta

Hermin Sulistyarti, 2017, Kimia Analisa Dasar Untuk analisis
Kualitatif, UB Press, Malang

Hiskia Achmad, 2012, Kimia Analitik Kualitatif, PT Citra Aditya
Bakti, Bandung

Ibnu gholib, Abdul Rohman, 2007, Kimia Farmasi Analisis,
Pustaka Belajar, Yogyakarta.

Indayatmi, 2020, Analisis Titrimetri dan Gravimetri, AG
Publisher, Yogyakarta

Sumar Hendayana, 2010, Kimia Pemisahan, PT Remaja
Rosdakarya, Bandung

Vogel, 1990, Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan
Semimikro, PT Kalman Media Pusaka, Jakarta

Wardiyah, 2016, Kimia Organik, Kementerian Kesehatan
republik Indonesia, Jakarta

Yusnidar Yusuf, 2019, Belajar Mudah Kimia Analisis, Edu
Center Indonesia
63


Click to View FlipBook Version