The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by baluknugroho, 2023-02-01 23:49:41

PENELITIAN GEOGRAFI_X.1_13, 15, 19, 31

PENELITIAN GEOGRAFI_X.1_13, 15, 19, 31

i LAPORAN OBSERVASI PENELITIAN GEOGRAFI DAN SOSIOLOGI PENGARUH KUALITAS AIR DAN PERANAN KALI LAMAT DI SEKITAR SMA PANGUDI LUHUR VAN LITH BERASRAMA MUNTILAN TERHADAP LINGKUNGAN DAN MASYARAKAT SEKITAR Disusun untuk Memenuhi Tugas Geografi dan Sosiologi Fase E Disusun oleh: Bonaventura Samuel Hadiatma X.1/13 Christian Abie Pratama X.1/15 Dionisius Dipto Hanubowo X.1/19 Richard Alvino Dharma Putra X.1/31 SMA Pangudi Luhur Van Lith Berasrama Muntilan Jalan Katini No. 1 Muntilan, Kab. Magelang, Jawa Tengah 56411 2023


ii HALAMAN PERSETUJUAN PENGARUH KUALITAS AIR KALI LAMAT DI SEKITAR SMA PANGUDI LUHUR VAN LITH BERASRAMA MUNTILAN TERHADAP LINGKUNGAN DAN MASYARAKAT SEKITAR Tugas ini Telah Disetujui dan Disahkan untuk Penilaian Mata Pelajaran Geografi dan Sosiologi Hari : Tanggal : Disusun oleh: Menyetujui, Pendamping Mata Pelajaran Geografi Robertus Baluk Nugroho, S.Pd. Pendamping Mata Pelajaran Sosiologi Theodorus Hadi Saputra, S.Pd. Bonaventura Samuel Hadiatma X.1/13 Christian Abie Pratama X.1/15 Dionisius Dipto Hanubowo X.1/19 Richard Alvino Dharma Putra X.1/31


iii HALAMAN PENGESAHAN LAPORAN OBSERVASI PENELITIAN GEOGRAFI DAN SOSIOLOGI Laporan Pengaruh Kualitas Air dan Peranan Kali Lamat di Sekitar SMA Pangudi Luhur Van Lith Berasrama Muntilan Terhadap Lingkungan dan Masyarakat Sekitar ini disusun sebagai pemenuhan tugas dari mata pelajaran Geografi dan Sosiologi. Muntilan, … … 2023 Mengetahui, Ketua Kelompok Richard Alvino Dharma Putra Pendamping Mata Pelajaran, Geografi Pendamping Mata Pelajaran, Sosiologi Robertus Baluk Nugroho, S.Pd. Theodorus Hadi Saputra, S.Pd.


iv HALAMAN MOTTO Keberhasilan adalah sebuah proses. Niatmu adalah awal keberhasilan. Peluh keringatmu adalah penyedapnya. Tetesan air matamu adalah pewarnanya. Doamu dan doa orang-orang disekitarmu adalah bara api yang mematangkannya. Kegagalandi setiap langkahmu adalah pengawetnya. aka dari itu, bersabarlah! Allah selalu menyertai orangorang yang penuh kesabaran dalam proses menuju keberhasilan. Sesungguhnya kesabaran akan membuatmu mengerti bagaimana cara mensyukuri arti sebuah keberhasilan


v HALAMAN PERSEMBAHAN Dengan penuh syukur atas berkat Tuhan Yang Maha Kuasa, penulis mempersembahkan hasil laporan dan observasi penelitian geografi dan sosiologi ini kepada: 1. Allah Tritunggal Mahakudus yang senantiasa mencurahkan berkat, rahmat, dan perlindungan-Nya selama pembuatan laporan ini. 2. Bapak Robertus Baluk Nugroho, S.Pd. dan Bapak Theodorus Hadi Saputra, S.Pd. selaku pendamping mata pelajaran geografi dan sosiologi. 3. Ibu Dra. Catharina Cosma Elsih Lestari selaku wali kelas X.1 yang selalu mendampingi dan menyayomi penulis. 4. Teman-teman seperjuangan di kelas X.1 yang senantiasa hadir untuk menyemangati dan memotivasi penulis. 5. Teman-teman seperjuangan di Asrama Putra, terutama Unit Jawa, Nusa Tenggara, dan Sulawesi. 6. Segenap orang tua dan keluarga penulis yang senantiasa mendoakan dan menyemangati penulis dalam studi penulis. 7. Kepada mas dan mbak angkat yang senantiasa hadir untuk memberikan semangat dan dukungan dalam setiap langkah penulis.


vi HALAMAN PERNYATAAN Penulis menyatakan sebesar-besarnya dan sejujur-jurjurnya, bahwa laporan observasi dan penelitian geografi dan sosiologi yang berjudul “Pengaruh Kualitas Air dan Peranan Kali Lamat di sekitar SMA Pangudi Luhur Van Lith Berasrama Muntilan Terhadap Lingkungan dan Masyarakat Sekitar” ini sepenuhnya karya sendiri. Tidak ada bagian di dalamnya yang merupakan jiplakan atau plagiat dari karya orang lain. Penulis tak melakukan penjiplakan dan pengutipan dengan cara-cara yang tak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan. Atas penrnyataan ini, penulis siap menanggung risiko/sanksi yang dijatuhkan apabila ditemukan adanya pelanggaran pada etika keilmuan dalam laporan observasi dan penelitian geografi dan sosiologi ini., atau ada klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya penulis. Muntilan, 2 Februari 2023 Yang membuat pernyataan, Penulis


vii KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya sehingga makalah “Pengaruh Kualitas Air dan Peranan Kali Lamat di sekitar SMA Pangudi Luhur Van Lith Berasrama Muntilan Terhadap Lingkungan dan Masyarakat Sekitar” dalam rangka pelajaran geografi dan sosiologi ini dapat selesai dengan baik, tepat waktu, dan sesuai jadwal. Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Robertus Baluk Nugroho, S.Pd. selaku pendamping pelajaran geografi, Bapak Theodorus Hadi Saputra, S.Pd. selaku pendamping pelajaran sosiologi, Ibu Dra. Catharina Cosma Elsih Lestari selaku wali kelas X.1, segenap orang tua penulis yang mendoakan dan menyemangati, serta seluruh teman-teman yang sudah memberi harapan sehingga makalah ini dapat selesai dengan baik. Makalah ini berisi mengenai permasalahan yang ada di Kali Lamat di sekitar SMA Pangudi Luhur Van Lith Berasrama Muntilan. Penulis membahas mengenai kebiasaan masyarakat sekitar di Kali Lamat, kualitas air Kali Lamat, hingga pengaruhnya bagi lingkungan dan kondisi masyarakat sekitar. Penulis pun membahas solusi bagi pemerintah dan warga dalam menjaga kualitas air Kali Lamat. Besar harapan penulis agar makalah ini bisa dijadikan acuan dan referensi bagi khalayak umum dan pemerintah dalam menjaga kebersihan dan kualitas sungai, terutama Kali Lamat. Penulis menyadari bahwa pembuatan makalah ini sungguh jauh dari kata sempurna. Maka, segala kritik dan saran yang membangun sangat penulis butuhkan dan apresiasi demi kelanjutan serta perkembangan penulis ke depannya. Semoga makalah ini dapat menjadi manfaat bagi perkembangan kesadaran masyarakat serta inovasinya bagi segenap bangsa dan negara. Muntilan, 17 Januari 2023 Tertanda, Penulis


viii DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ……………………………………………………………..i HALAMAN PERSETUJUAN ................................................................................ii HALAMAN PENGESAHAN................................................................................iii HALAMAN MOTTO ............................................................................................iv HALAMAN PERSEMBAHAN..............................................................................v HALAMAN PERNYATAAN................................................................................vi KATA PENGANTAR...........................................................................................vii DAFTAR ISI ........................................................................................................viii DAFTAR TABEL ...................................................................................................x DAFTAR GAMBAR..............................................................................................xi DAFTAR BAGAN................................................................................................xii ABSTRAK ...........................................................................................................xiii BAB I: PENDAHULUAN ......................................................................................1 A. Latar Belakang .................................................................................................1 B. Rumusan Masalah ............................................................................................2 C. Tujuan Penelitian..............................................................................................3 D. Manfaat Penelitian............................................................................................3 BAB II: LANDASAN TEORI ................................................................................5 A. Kajian Pustaka..................................................................................................5 1.1. Konsep dan Peranan Air...................................................................................5 1.2. Informasi Seputar Sungai.................................................................................6 1.3. Informasi Seputar Kali Lamat..........................................................................8 1.4. Kualitas Air Bersih.........................................................................................10 B. Hasil Penelitian Terdahulu.............................................................................11


ix C. Kerangka Penelitian .......................................................................................12 D. Hipotesis.........................................................................................................13 BAB III: METODE PENELITIAN.......................................................................15 A. Tempat dan Waktu Penelitian ........................................................................15 B. Jenis Penelitian...............................................................................................15 C. Subjek Penelitian............................................................................................16 D. Prosedur Penelitian.........................................................................................17 E. Teknik Pengumpulan Data .............................................................................19 F. Teknik Analisis Data......................................................................................20 BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .....................................23 A. Hasil Penelitian ..............................................................................................23 4.1. Kondisi dan Peranan Kali Lamat ...................................................................23 4.2. Kualitas Air Kali Lamat .................................................................................24 B. Pembahasan....................................................................................................26 BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN...............................................................33 A. Kesimpulan.....................................................................................................33 B. Saran...............................................................................................................35 DAFTAR PUSTAKA............................................................................................37 LAMPIRAN ..........................................................................................................44 A. Pertanyaan Wawancara ..................................................................................44 B. Jawaban Pertanyaan Wawancara ...................................................................44


x DAFTAR TABEL Tabel 3.1 Tabel Penelitian Sosial ………………………………………………. 22 Tabel 3.2 Tabel Penelitian Alam ……………………………………………….. 21


xi DAFTAR GAMBAR Gambar 1.1 Sampah yang ada di DAS Kali Kali Lamat ………………………… 2 Gambar 2.1 Peta Kali Lamat ……………………………………………………... 9 Gambar 3.1 Cawan petri yang tak ditumbuhi organisme apapun ………………. 25 Gambar 3.2 Lendir di atas teh dan perubahan warna teh ……………………….. 25


xii DAFTAR BAGAN Bagan 2.1 Kerangka Konsep Pemikiran ………………………………………… 12 Bagan 2.2 Kerangka Variabel Penelitian Sosial .……………………………….. 12 Bagan 2.3 Kerangka Variabel Penelitian Alam ………………………………… 13


xiii ABSTRAK


1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kehidupan masyarakat di seluruh dunia tidak bisa dilepaskan dari namanya air. Rata-rata, air mengambil 65% total berat tubuh manusia. Tubuh manusia membutuhkan satu hingga dua setengah liter air tiap hari, setara dengan enam hingga delapan gelas tiap harinya.1 Air dalam tubuh digunakan unuk menunjang pelarutan zat-zat nutrisi serta menciptakan cairan kimia yang diperlukan tubuh. Selain masalah biologis, manusia juga membutuhkan air untuk masalah kebersihan (mandi, cuci, kakus), memasak, transportasi, dll. Salah satu sumber air yang cukup sering dijumpai adalah sungai. Sungai seringkali digunakan oleh warga sekitar untuk berbagai kebutuhan, mulai dari mencuci, mandi, kakus, minum, memasak, transportasi, dll. Bahkan, peradaban-peradaban awal manusia dimulai dari sungai, seperti Peradaban Mesir Kuno di Sungai Nil, Peradaban Sungai Indus, dan Peradaban Mesopotamia di Sungai Eufrat dan Tigris. Bahkan, Pradaban Mesir Kuno sempat disebut sebagai anugerah Sungai Nil karena kaya akan air (sumber: nationalgeographic.grid.id). Bukan hanya bagi masyarakat, sungai juga memiliki peranan peting bagi ekosistem sekitar. Sungai menjadi ekosistem air mengalir (lotik) yang membentuk aliran dari daratan hulu ke hilir laut. Banyak biota akuatik maupun non akuatik yang mendiami sungai, terutama daerah alirannya atau DAS. Pada DAS, ada zona riparian yang berisi vegetasi penyangga eksositem perairan dan kesuburan. Daerah DAS ini juga mengandung banyak material organik dan 1 Kenapa Kita Perlu Minum Air Putih Setiap Hari? Kupas Tuntas Pentingnya Mengkonsumsi Air Putih. 2022. Diakses pada 17 Januari 2023 pukul 22.11 WIB melalui https://budaya.jogjaprov.go.id/berita/detail/1149-kenapa-kita-perlu-minum-air-putih-setiap-harikupas-tuntas-pentingnya-mengkonsumsi-airputih#:~:text=Manusia%20juga%20membutuhkan%20air%20untuk,kimia%20yang%20diperlukan %20dalam%20tubuh.


2 anorganik. Banyak biota perairan yang gemar mendiami daerah ini untuk berkembang biak, mencari nutrisi, dan berkoloni. Salah satu sungai yang dekat dengan keseharian siswa-siswi SMA Pangudi Luhur Van Lith Berasrama Muntilan adalah Kali Lamat. Kali ini senantiasa dilewati siswa-siswi ketika akan kembali ke asrama (siswi), maupun ketika ada kegiatan di sekitaran daerah. Jika ditilik lebih saksama, kondisi Kali Lamat terbilang cukup kotor saat ini. Banyak sampah ditemukan di bantaran sungai dekat rumah warga, seperti galon air bekas, bekas kain, sabun, dll. Gambar 1.1 Sampah yang ada di DAS Kali Kali Lamat Sumber: Dokumentasi Pribadi Dengan kondisi Kali Lamat yang seperti itu, tentu ada suatu dampak yang terjadi jika menilik dari kondisi lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Kondisi ini juga menyebabkan adanya anomali kualitas air Kali Lamat sehingga dampaknya akan berujung pada kondisi lingkungan dan masyarakat sekitar. Maka, penulis ingin mengetahui bagaimana kondisi air Kali Lamat pertama-tama, lalu baru menganalisisnya dengan dampak yang bisa terjadi jika terus-menerus dibiarkan. Ditambah, penulis ingin melihat tanggapan dan saran dari perspektif masyarakat sekitar terhadap kondisi Kali Lamat tersebut. B. Rumusan Masalah Penelitian ini dibentuk dan dilaporkan untuk menjawab beberapa rumusan masalah sebagai berikut: 1. Apa saja peranan Kali Lamat di sekitar SMA Pangudi Luhur Van Lith Berasrama Muntilan bagi lingkungan dan masyarakat di berbagai segi kehidupan?


3 2. Bagaimana kualitas air Kali Lamat di sekitar SMA Pangudi Luhur Van Lith Berasrama Muntilan dilihat dari berbagai perspektif? 3. Apa pengaruh kualitas air Kali Lamat di sekitar SMA Pangudi Luhur Van Lith Berasrama Muntilan bagi lingkungan dan masyarakat sekitar? 4. Apa yang bisa diusulkan oleh pemerintah dan warga setempat terkait menjaga dan memperbaiki kualitas Kali Lamat di sekitar SMA Pangudi Luhur Van Lith Berasrama Muntilan bagi lingkungan dan masyarakat sekitar? C. Tujuan Penelitian Penelitian ini memiliki tujuan utama untuk memenuhi standar penilaian untuk mata pelajaran sosiologi dan georafi fase E. Namun, penulis menyadari bahwa ada beberapa tujuan yang ingin dicapai penulis lewat penelitian ini, antara lain: 1. Mengetahui kualitas air Kali Lamat di sekitar SMA Pangudi Luhur Van Lith Berasrama Muntilan menurut kajian yang bersih dan baik. 2. Meningkatkan kesadaran pemerintah dan warga sekitar akan pentingnya menjaga kebersihan sungai, terutama Kali Lamat di sekitar SMA Pangudi Luhur Van Lith Berasrama Muntilan karena memiliki pengaruh yang sangat besar bagi masyarakat sekitar. 3. Menambah wawasan mengenai Kali Lamat di sekitar SMA Pangudi Luhur Van Lith Berasrama Muntilan dari hal sejarah, peranan, hingga kepentingannya. 4. Memberikan acuan, referensi, dan pertimbangan bagi berbagai pihak mengenai kualitas dan kondisi Kali Lamat. D. Manfaat Penelitian Berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis, penulis mendapatakn banyak sekali manfaat, bagi penulis sendiri maupun bagi masyarakat atau khalayak yang membaca dan mekajinya. Manfaat penelitian antara lain:


4 1. Mengimplementasikan pengetahuan dan kemampuan penulis terhadap penelitian tingjkat lanjut yang berguna bagi masyarakat sekitar. 2. Memberikan informasi pada khalayak seputar kondisi Kali Lamat di sekitar SMA Pangudi Luhur Van Lith Berasrama Muntilan terhadap lingkungan dan masyakat. 3. Hasil penelitian bisa menjadi acuan, referensi, dan pertimbangan berbagai pihak untuk lebih memerhatikan kualitas dan kondisi Kali Lamat.


5 BAB II LANDASAN TEORI A. Kajian Pustaka 1.1. Konsep dan Peranan Air Air adalah cairan yang terdiri ari triliunan molekul H2O, yakni atom hidrogen dan atom oksigen. Ketika oksigen dan hidrogen yang berwujud gas bereaksi, maka akan menghasilkan senyawa dengan wujud cair, yakni air. Air juga merupakan benda yang sangat bermanfaat di berbagai bidang, industri, kesehatan, kebudayaan, sosial, dan banyak hal lainnya. Di bidang kebudayaan misalnya, menurut Prof. Sahid Teguh Widodo, M. Hum., Ph.D., air adalah mantra budaya pendorong dan menjadi fondasi dalam terbentuknya suatu peradaban. Air merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Umumnya, orang dewasa membutuhkan sekitar dua liter atau sekitar delapan gelas air setiap hari agar tetap terhidrasi (sumber: halodoc.com). Air memiliki peranan penting, terutama dalam melancarkan metabolisme tubuh karena sifatnya sebagai katalisator. Dengan terjaganya metabolisme sel-sel tubuh, kondisi fisik dan psikis juga akna terjaga, seperti kulit yang terjaga, terhindar dari obesitas, suhu tubuh stabil, dll. Terlebih, air memiliki tingkat kepolaran dan ikatan yang khas. Atom oksigen memiliki tingkat keelektronegativitasan yang tinggi sehingga electron dari hidrogen lebih tertarik pada oksigen. Hal ini menyebabkan terdapat ketidakstabilan kepolaran atau muatan di dalam molekul. Muatan inilah yang memiliki peranan dalam memisahkan ikatan-ikatan kimia zat terlarut. Inilah alas an mengapa air mampu melarutkan berbagai zat. Kemampuan air dalam melarutkan zat-zat dipakai dalam berbagai kegiatan. Campuran air dan sabun bisa digunakan untuk membersihkan karena tingkat kebasaan zat. Kotoran dan sisa-sisa zat pengotor bisa


6 dibersihkan dari pakaian, peralatan, dll. Air juga bisa digunakan untuk konsumsi karena mampu melarutkan mineral-mineral yang diperlukan tubuh. Selain itu, air menjadi sumber yang melimpah di bumi. Maka itu tak jarang, banyak penduduk memanfaatkan berbaga sumber air untuk berbagai keperluan, seperti danau, laut, rawa, hingga sungai. 1.2. Informasi Seputar Sungai Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pemutakhiran Oktober 2022, sungai adalah aliran air yang besar (biasanya buatan alam); kali. Menurut National Geographic, sungai adalah aliran besar air alami yang mengalir. Sungai menjadi awal peradaban dan sejak dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat (sumber: foresteract.com). Sungai memiliki berbagai jenis berdasarkan berbagai kategori juga. Berdasarkan asal kejadiannya (genetikanya), sungai dibagi menjadi sungai konsekuen (mengikuti kemiringan lereng/lahan), subsekuen (lurus dengan konsekuen), resekuen (sejajar dengan konsekuen), anteseden (punya kekuatan erosi sehingga mengimbangi daerah yang dilalui), reserve (punya kekuatan erosi, tapi tak bisa mengimbangi daerah yang dilalui), serta insekuen (tidak mengikuti perlapisan batuan sehingga arahnya tak menentu. Jika dilihat dari struktur geologinya, sungai dibagi jadi sungai anteseden dan superposed. Sungai anteseden meruapakan sungai yang aliran airnya konstan, walau ada batuan melintang. Sungai superposed adalah sungai yang berbentuk melintang sehingga proses dan strukturnya dibantu lapisan batuan yang menutupinya. Menurut pola alirannya, sungai dibagi menjadi enam jenis. Sungai radial sentrifugal adalah sungai dengan pola aliran menyebar meninggalkan pusat. Sungai radial sentripetal adalah sungai dengan pola aliran berkumpul menuju pusat. Sungai dendritik adalah sungai yang alirannya tak teratur. Sungai trellis adalah sungai yang alirannya menyirip


7 mirip daun. Sungai rektangular adalah sungai yang alirannya berbentuk mirip sudut siku-siku. Terakhir, sungai anular adalah sungai dengan pola lingkaran. Jika dilihat dari siklus hidrologinya, sungai dibagi menjadi tiga jenis. Pertama, sungai hujan, yakni berasal dari proses presipitasi (hujan) dan keluar lewat mata air di hulu. Kedua, sungai gletser yang berasal dari es atau salju yang mencair. Terakhir, sungai campuran, di mana airnya berasal dari air hujan dan pencairan es atau salju. Sungai pun dibagi berdasarkan debit atau kecepatan arus airnya. Sungai permanen memiliki debit yang merata dan tetap sepanjang tahun, mau itu musim kemarau maupun hujan. Contohnya adalah Sungai Barito, Kapuas, Musi, dan Memberamo. Sungai periodik. memilki debit yang melimpah pada musim hujan, tetapi kecil pada musim kemarau. Sungai ini banyak ditemukan di daerah Jawa, seperti Bengawan Solo dan Kali Brantas. Pada jenis sungai episodik, sungai ini benar-benar besar saat hujan dan benar-benar kering saat kemarau. Contoh sungai ini adalah Sungai Kalada di Sumbawa. Dilansir dari smpislamkreatifmuhammadiyah.sch.id, kawasan sungai dalam ilmu geografi sering disebut Daerah Aliran Sungai (DAS), yakni daerah yang dibatasi punggung-punggung gunung, di mana air hujan yang jatuh pada daerah tersebut akan ditampung punggung gunung dan dialirkan lewat sungai kecil ke sungai utama (Asdak, 1995). DAS meliputi aliran air sekaligus bentang alam yang ada di sekitarnya. Menurut Junaidi (2014), sungai terbentuk dari mata air yang mengalir di atas permukaan bumi. Aliran air tersebut akan semakin bertambah seiring dengan terjadinaya hujan karena limpasan yang tak dapat diserap bumi akan ikut mengalir ke sungai. Sungai memilki tiga bagian, yakni hulu, tengah, dan hilir. Bagian hulu sungai memiliki arus kuat akibat lereng yang curam. Hal ini


8 menyebabkan pengikisan pada daerah dasar sungai. Lalu, bagian tengah mulai mengalami pengurangan kekuatan arus karena kecuraman lereng berkurang, Hal ini membuat badan sungai melebar dan berkelok sehingga arus melambat. Bagian hilir menjadi bagian yang terlebar, sekaligus terpelan. Sungai memiliki banyak kegunaan, baik dari segi sosial maupun alamnya. Sungai sebagai sumber air, sering digunakan untuk mandi, minum, mencuci, masak, dan berbagai keperluan pokok lain. Selain itu, sungai bisa memberi air bagi ternak dan penanaman tanaman. Produk dari sungai juga berguna dan bisa dimanfaatkan, seperti ikan, tanah liat, alangalang, dll. Sungai yang panjang serta lebar hingga melewati berbagai daerah sering digunakan sebagai sarana transportasi dalam menuju daerah lainnya. Kecepatan arus yang dimiliki sungai pun bisa digunakan untuk memberi daya dalam menghidupkan berbagai mesin, salah satunya pembangkit listrik. Bentang alam yang ada di sekitar sungai pun seringkali digunakan untuk sarana rekreasi dan olahraga, seperti berlayar, arung jeram, memancing, dll. 1.3. Informasi Seputar Kali Lamat Sungai atau Kali Lamat merupakan salah satu sungai yang ada di Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Blongkeng), tepatnya di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Kali Lamat ini memiliki hulu di sekitar Gunung Merapi di wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, tepatnya di Desa Banyubiru, Kecamatan Dukun (7°55’ LS dan 110° 31’ BT). Hilir dari Kali Lamat berada di Kecamatan Muntilan (7° 58’ LS dan 110° 30’ BT) dan muara di Sungai Blongkeng (7° 60’ LS dan 110° 30’ BT). Panjang sungai ini antara hulu dan hilirnya menjapai kurang lebih 6,8 kilometer.


9 Gambar 2.1 Peta Kali Lamat Sumber: Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan Vol. 9, No. 2, Juni 2017 Hal. 95 Kali Lamat memiliki berbagai peranan dalam kehidupan masyarakat sekitar. Dilansir dari antaranews.com, Kali Lamat sering digunakan penduduk sekitar bantaran sebagai fasilitas MCK (mandi, cuci, kakus). Sumber airnya pun sering digunakan untuk menyediakan sumber air sumur bagi penduduk yang jauh. Selain fungsi sosial tersebut, Kali Lamat pun seringkali menjadi jalur lahar dingin paska-erupsi. Sebagai sebuah sungai, Kali Lamat pasti juga mengandung berbagai zat-zat, baik zat yang berguna maupun zat polutan/pencemar. Kali Lamat menjadi salah satu sungai yang berpotensi tercemari akibat zat-zat erupsi gunung maupun aktivitas manusia. Pada akhir April 2011, sekitar 35% produk letusan Gunung Merapi mengalir ke sungai-sungai yang berhulu di lereng Merapi, salah satunya Kali Lamat (Ermawati dan Hartanto, 2017: 92- 104). Jika diteliti, daerah DAS Blongkeng tempat keberadaan Kali Lamat memiliki tingkat pencemaran tinggi dalam tingkat kritis (Badan Lingkungan Hidup, 2015). Nilai biokimianya mencapai 3.000 kg/hr, nilai oksigen organiknya melebihi 3.000 kg/hr, dan nilai suspensi padatannya melebihi 1.000 kg/hr.


10 1.4. Kualitas Air Bersih Air adalah elemen bumi yang paling dibutuhkan untuk keberlangsungan makhluk hidu di bumi. Dilansir dari alvawater.co.id, air yang bersih adalah air yang bebas kontaminasi mikroba, kimia, maupun fisik, seperti bakteri dan logam berat. Air yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat yang pokok terus meningkat sejalan dengan peningkatan mastarakat dan pola hidupnya (Simanjuntak, Zai, dan Tampubolon, 2021:187). Menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 115 Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air Pasal 2 Ayat (1), status mutu air ditentukan dengan metode STORET. Metde STORET adalah membandingkat data kualitas air dengan baku mutu air yang disesuaikan. Penentuan status mutu menggunakan sistem nilai US-EPA (Environmental Protection Agency), yakni kelas A (baik, skor 0, memenuhi baku mutu), kelas B (baik, skor -1 – -10, cemar ringan), kelas C (sedang, skor -11 - -30, cemar sedang), dan kelas D (buruk, skor ≥ -31, cemar berat). Prosedur metode STORET ini digunakan dengan mengumpulkan kualitas dan debit air sevara periodic, lalu membandingkannya dengan parameter. Dilansir dari gramedia.com, air bersih secara umum memiliki beberapa ciri-ciri. Pertama tidak berwarna. Tingkat kejernihan harus stabil dan tak menimbulkan endapan jika dituang ke suatu wadah. Kedua, tidak berasa. Ketiga, tidak berbau. Bau ditandai adanya bakteri yang membusukkan zat organik, maupun kontaminasi zat (contohnya air kolam renang yang ada zat klorin). Keempat, tidak lengket setelah digunakan. Tekstur ini diakibatkan kandungan beberapa zat tertentu, seperti aluminium, magnesium, mangan, maupun timah. Kelima, tingkat keasaman (pH) netral, sekitar 6,5 – 8,5. Keenam, tidak mengandung bakteri penyebab penyakit. Terakhir, tidak ada debu, pasir, tanah, atau sedimen lainnya.


11 B. Hasil Penelitian Terdahulu Berdasarkan hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Ristie Ermawati dan Lono Hartono pada Juni 2017 dalam Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan Vol. 9 No. 2 Halaman 92-104, Kali Lamat merupakan sungai yang memiliki potensi tercemar, baik dari limbah rumah tangga hingga limbah industri. Penelitian tersebut dilakukan dengan pengumpulan data primer dan sekunder. Data primer yang dikumpulkan adalah lokasi/titik koodinat sumber penvemar, baik limbah cair maupun padat di Kali Lamat. Selain itu, ada pula pengambilan data sekunder yang diambil, yakni dari peta administrasi Kabupaten Magelang, data kualitas air Kali Lamat tahun 2005-2015, peta penggunaan lahan Kabupaten Magelang, dan peta DAS Kabupaten Magelang. Hasil dari penelitian tersebut dimulai dari penggunaan lahan di Sub DAS Blongkeng, takni air tawar, semak belukar, gedung, hutan, kebun, pemukiman, rumput, sawah irigasi, sawah tadah hujan, tanah berbatu, dan tegalan. Semua hal tersebut turut menyumbang limbah cair dan padat ke dalam DAS. Dalam penelitian, ditemukan limbah cair berasal dari sekitar sungai dan limbah domestik. Masyarakat da yang membuat limbah cair lewat pipa-pipa yang secara tak langsung mencemari DAS lewat selokan. Limbah padatan pun juga ditemukan, di mana bentknya lebih ke arah timbunan sampah. Sampah padatan ini terbawa arus hinga lama-kelamaan mengeluarkan leachate (air lindi/air sampah). Potensi-potensi polutan tersebut diteliti dan diperika kualitas dan mutunya. Kualitas air Kali Lamat diukur dengan metode STORET. Secara keseluruhan, kualitas Air Kali Lamat pada tahun 2011-2015 tergolong baik hingga cemar ringan. Pencemaran ringan timbul dari konsentrasi timbal yang mencapai 0,4 – 0,6 mg/L. Pada nyatanya, sungai memiliki kemampuan self purification sehingga mampu memulihkan diri dari zat pencemar. Skor indeks pencemar dari bagian


12 hulu ke hilir pun mengalami kenaikan, di mana bagian hilir memiliki skor indeks pencemar hingga 2,4. Hal ini disebabkan bagian hilir seringkali digunakan untuk aktivitas lahan sehingga zat pencemar ikut masuk ke sungai. Ditambah morfologi Kali Lamat yang tenang dan jarak yang tak panjang, membuat proses self purification tak bisa berjalan optimal. C. Kerangka Penelitian Kerangka penelitian merupakan cara yang digunakan untuk menjelaskan hubungan atau kaitan antara variabel yang akan diteliti (Ntoatmodjo, 2018, p. 83). Pada penelitian ini, variabel yang penulis teliti berhubungan dengan hal sosial dan alam. Maka, perlu adanya konsep kerangka penelitian yang dibuat berdasarkan kedua konsep sehingga didapatkan keismpulan data yang akurat. Bagan 2.1 Kerangka Konsep Pemikiran Sumber: Pribadi Bagan 2.2 Kerangka Variabel Penelitian Sosial Sumber: Pribadi Pengaruh Kualitas Air Kali Lamat bagi Masyarakat dan Lingkungan Kualitas Air Kali Lamat Peranan Kali Lamat bagi Masyarakat Peranan Kali Lamat Peranan dan Kondisi Kali Lamat menurut perspektif narasumber Pengetahuan narasumber atas Kali Lamat Pengalaman Narasumber atas Kali Lamat Lokasi Kali Lamat sebagai perhatian Variabel Terikat Variabel Bebas Variabel Bebas Variabel Kontrol


13 Bagan 2.3 Kerangka Variabel Penelitian Alam Sumber: Pribadi D. Hipotesis Berdasarkan penelitian terdahulu dan diskusi kelompok sebelum memulai penelitian dan observasi, penulis mengemukakan hipotesis bahwa kondisi air Kali Lamat tergolong baik hingga tercemar ringan. Penulis mengemukaan hipotesis ini, melihat kondisi air Kali Lamat yang tergolong stabil, tetapi cukup banyak sampah-sampah yang nampak di sekitar bantaran sungai. Kondisi tersebut kemungkinan tak jauh dari peranan Kali Lamat itu sendiri bagi masyarakat. Kali Lamat kemungkinan digunakan dalam pemenuhan kebutuhan MCK (Mandi, Cuci, Kakus) serta minum dan memasak. Selain itu, mungkin pula Kali Lamat dijadikan lokasi pemancingan berbagai jenis ikan dan irigasi/pengairan beberapa sawah dan ladang. Hal-hal ini cukup memengaruhi kondisi lingkungan sekitar Kali Lamat yang pada akhirnya memengaruhi kondisi masyarakat sekitar. Penumpukan sampah yang dilihat penulis, kemungkinan dapat menyebabkan kerusakan lingkungan sekitar bantaran sungai, terutama sampah plastik. Partikel komponen sampah plastik kemungkinan akan meluruh dan mengkontaminasi tanah sekitar bantaran sungai. Hal ini akan menyebabkan tanah menjadi kurang cocok untuk ditanami berbagai jenis tumbuhan. Kualitas Air Kali Lamat Kondisi Kali Lamat berdasarkan warna, bau, tingkat keasaman, jumlah mikroorganisme, dan logam berat. Kadar logam berat air Kali Lamat Tingkat keasaman air Kali Lamat Jumlah mikroorganisme di air Kali Lamat Volume Air Kali Lamat Variabel Terikat Variabel Kontrol


14 Kondisi air yang walau stabil, tetapi tercemar ringan, mungkin dapat menyebabkan beberapa komplikasi bagi warga masyarakat itu sendiri, terutama yang menggunakannya untuk MCK, minum, memasak, dll. Terlebih jika air sungai tersebut tak disaring atau difilter tterlebih dahulu. Komplikasi bisa melibatkan masalah pencernaan, masalah kulit, dll. Hipotesis peneliti meliputi peran Kali Lamat yang dikabarkan menjadi jalur lahar dingin. Hal ini pasti membuat adanya kandungan belerang atau sulfur yang cukup tinggi dalam air Kali Lamat. Kandungan sulfur atau belerang bisa saja menyebabkan iritasi bagi masyarakat yang menggunakan air Kali Lamat untuk MCK. Pengaruh sulfur dalam air yang diminum juga bisa menyebabkan keracunan, seperti mual, muntah, dan diare.


15 BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penulis mengambil lokasi penelitian di Kali Lamat sekitar SMA Pangudi Luhur Van Lith Berasrama Muntilan. Lokasi penelitian berada di Jembatan Pepe, Jl. Pepe, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Lokasi astronomisnya terletak di antara 7° 34’ 50.2” LS dan 110° 17’ 42.0” BT. Untuk lokasi penelitian sosial, penulis mengambil lokasi di sekitar SMA Pangudi Luhur Van Lith Berasrama Muntilan, tepatnya yang berorientasi di sekitar Kali Lamat, baik itu pedagang, guru, karyawan, maupun siswa-siswi. Waktu penelitian dilakukan sejak pemberian tugas oleh pendamping, yakni tanggal 3 Januari 2022. Pelaksanaan penelitian berupa pembuatan konsep, kerangka, dan fondasi dimulai tanggal 10 Januari 2023. Selanjutnya, penelitian dengan wawancara dan observasi masyarakat sekitar dimulai dari tanggal 10 Januari 2023 sampai 15 Januari 2023. Kemudian, penelitian menggunakan laboratorium dan metode ilmiah dimulai pada tanggal 18 Januari 2023 sampai tanggal 23 Januari 2023. Penelitian dan penulisan laporan akan berakhir pada tanggal 26 Januari 2023, bertepatan dengan pengumpulan hasil laporan sebagai penilaian mata pelajaran geografi dan sosiologi. B. Jenis Penelitian Menurut Soetriso Hadi, penelitian merupakan usaha dalam menemukan segala sesuatu untuk mengisi kekosongan/kekurangan yang ada, menggali lebih dalam apa yang telah ada, menegmbangkan dan memperluas, serta menguji keenaran dari apa yang telah ada, tapi masih diragukan kebenarannya (sumber: maxmanroe.com). Penelitian sendiri dilakukan atas dasar analisis dan konstruksi secara sistematis, metodologis, dan kondsisten menurut Soerjono Soekanto.


16 Penelitian memiliki ciri-ciri tertentu. Penelitian yang baik harus bersifat ilmiah, yakni sesuai prosedur dan menggunakan bukti yang meyakinkan dalam bentuk fakta secara objektif. Lalu, penelitian perlu memiliki proses yang berkesinambunan sehingga dapat disempurnakan dari waktu ke waktu lewat proses. Penelitian juga harus bersifat analitis, yakni dapat dibuktikan dan diuraikan dengan metode ilmiah serta memiliki hubungan sebab-akibat antarvariabel. Pada akhirnya, penelitian haruslah memberi kontribusi atau nilai tambah pada ilmu pengetahuan yang sudah ada. Pada penelitian yang penulis kerjakan, penelitian berkutat pada beberapa jenis. Berdasarkan tujuannya, penulis melakukan penelitian terapan. Di sini, penulis mencoba menemukan solusi serta memecahkan masalah terkait dengan kondisi air di Kali Lamat untuk kehidupan lingkungan dan masyarakat sekitar. Berdasarkan metodenya, penelitian yang penulis lakukan termasuk penelitian observasi. Penulis mencoba untuk mengobservasi secara ilmiah air di kali lamat menggunakan tingkat keasaman, jumlah mikroorganisme, dll. Berdasarkan taraf pemberian informasinya, penelitian ini termasuk penelitian deskriptif dan eksplanatif. Penulis mencoba menemukan bagaimana dan mengapa kondisi air Kali Lamat berdampak pada kondisi lingkungan dan masyarakat sekitar. Berdasarkan tempat pelaksanannya, penulis melaksanakan penelitian secara laboratorium dan lapanan. Penulis akan terjun secara langsung ke lapangan untuk mengambil sampel dan mewawancarai beberapa narasumber terkait dengan kondisi dan eksistensi dari Kali Lamat, khususnya di sekitar SMA Pangudi Luhur Van Lith Berasrama Muntilan. Berdasarkan data yang didapat, penulis melakukan penelitian kualitatif, di mana penulis menitikberatkan penelitian pada deskripsi permasalahan dan pembahasan. C. Subjek Penelitian Subjek penelitian sosial yang penulis tentukan berkisar pada masyarakat sekitar SMA Pangudi Luhur Van Lith Berasrama Muntilan, terutama yang bertempat tinggal atau bekerja di sekitar Kali Lamat.


17 Dalam penelitian ini, subjek penelitian sosial yang penulis ambil adalah Ibu Dra. Catharina Cosma Elsih Lestari yang bertempat tinggal di Jagalan (sekitar 2,4 km dari SMA Pangudi Luhur Van Lith Berasrama Muntilan), Agustina Subiyanti, M.Pd., BI., Pak Herlambang (penjual toko kelontong dekat Pusat Budidaya Ikan Air Tawar Muntilan), Pak Prio (penjual kerupuk di dekat Kerkof Muntilan), Pak Moersid (tukang sapu di sekitar Jembatan Pepe), Sdr. Albertus Dimas Putra Renanta (siswa SMA Pangudi Luhur Van Lith Berasrama Muntilan yang lahir dan bertempat tinggal di Muntilan, dekat Kali Lamat), dan Mas Yadi yang bertempat tinggal di Jagalan (karyawan di Asrama Putra SMA Pangudi Luhur Van Lith Berasrama Muntilan) Untuk subjek penelitian alam ilmiah, penulis memilih lokasi air di Kali Lamat di bawah Jembatan Pepe, yakni di koordinat antara 7° 34’ 50.2” LS dan 110° 17’ 42.0” BT. Kondisi air saat itu cukup keruh karena setelah terjadi hujan cukup deras sehingga endapan lumpur cukup banyak yang terbawa arus. D. Prosedur Penelitian Langkah pertama yang penulis lakukan adalah merancang jadwal kerangka penelitian. Kerangka dibuat satu minggu setelah tugas diberikan lantaran adanya kesibukan dalam pembuatan tugas lain dalam pembelajaran di SMA Pangudi Luhur Van Lith Berasrama Muntilan. Kerangka peneltian yang dilakukan oleh penulis adalah sebagai berikut: a. Selasa, 10 Januari 2023 Pembuatan konsep, kerangka, dan fondasi b. Selasa, 10 Januari 2023 – Minggu, 15 Januari 2023 Wawancara dan observasi masyarakat sekitar. c. Rabu, 18 Januari 2023 – Senin, 23 Januari 2023 Penelitian laboratorium berbasis metode ilmiah. d. Senin, 23 Januari 2023 – Kamis, 26 Januari 2023 Finishing dan pengumpulan laporan. Konsep yang dirancang penulis mencakup tema dan judul. Tema yang ingin penulis sampaikan adalah “Tingkat Kebersihan dan Kesehatan Lingkungan


18 Sekitar bagi Lingkungan dan Masyarakat Sekitar”. Dari tema tersebut, penulis mengambil judul “Pengaruh Kualitas Air dan Peranan Kali Lamat di sekitar SMA Pangudi Luhur Van Lith Berasrama Muntilan Terhadap Lingkungan dan Masyarakat Sekitar”. Kemudian, penulis mencoba mencari apa kira-kira latar belakang yang mendasari penelitian dan observasi penulis ini. Penulis mencoba mengamati daerah sekitar dan menemukan latar belakang. Latar belakang penulis kerucutkan ke kondisi sekitar Kali Lamat yang kebetulan sangat dekat dalam hal lokasi maupun kehidupan dengan siswa Asrama Putra SMA Pangudi Luhur Van Lith Berasrama Muntilan. Selain itu, penulis juga memerhatikan kegiatan masyarakat sekitar yang ternyata pun tak jauh-jauh dari peranan Kali Lamat. Lantaran kondisi Kali Lamat yang kelihatannya cukup banyak sampah, juga warna air yang seringkali cokelat, membuat penulis berkeinginan untuk mencari gagasan dan solusi terkait permasalahan apa yang ada di Kali Lamat. Lalu, kegiatan penelitian berlanjut pada perumusan masalah. Penulis mencoba mencari kira-kira apa yang akan dibahas dalam pembahasan, terkait dengan informasi apa yang akan penulis dapatkan. Setelah mendapatkan keseluruhan informasi, penulis mencoba merangkumnya dengan pertanyaan 5W + 1H atau ‘ADIKSIMBA’. Dalam pembuatan dan perancangan landasan teori, penulis mengambil beberapa jurnal dan artikel dari penelitian beberapa pihak terdahulu. Penulis juga mengambil beberapa liputan berita yang ada terkait dengan Kondisi Kali Lamat, entah itu berhubungan dengan lokasi, kejadian, aktivitas warga, maupun kondisi Kali Lamat di beberapa waktu terakhir. Selain itu, penulis juga menyertakan landasan mengenai air agar menjadi penguat pentingnya air bagi kehidupan manusia. Salah satu sumber air yang menjadi kajian penulis adalah sungai atau kali, maka penulis juga menyertakan landasan mengenai sungai. Terakhir, penulis menyertakan landasan akan kriteria air bersih sehingga benar-benar valid dan tertuntun hasil penelitian serta observasinya. Setelah mendapatkan landasan teorinya, penulis mencoba mencari penelitian terdahulu dari pihak lain mengenai kondisi Kali Lamat. Penelitian


19 yang diambil penulis berasal dari jurnal mahasiswa maupun dari pemerintah. Dari hasil penelitian terdahulu, penulis mencoba membentuk suatu hipotesis berdasarkan diskusi mengenai kondisi Kali Lamat terkini. Penulis mencoba menguraikan segala hal yang perlu diteliti dari rumusan masalah. Seteah uraian hal didapat, penulis memulai penelitian dengan wawancara dan observasi laboratorium. Wawancara dilakukan dengan mencari berbagai pihak dari dalam maupun luar SMA Pangudi Luhur Van Lith Berasrama Muntilan, termasuk penduduk sekitar. Observasi laboratorium dilakukan dengan pengambilan sampel dari Kali Lamat, lalu menelitinya secara ilmiah di laboratorium sesuai waktu yang ditentukan. Setelah semua data terkumpul, penulis mulai menganalisis data-data tersebut. E. Teknik Pengumpulan Data Penelitian sosial berbasis wawancara dan observasi dilakukan dengan metode pengambilan sampel. Pengambilan sampel menggunakan metode area probability sampling dan snowball sampling. Penulis akan mengambil narasumber dari masyarakat sekitar, guru, karwayan, dan siswa SMA Pangudi Luhur Van Lith Berasrama Muntilan dengan memerhatikan kondisi area/lokasi di mana narasumber tinggal dan bekerja, yakni di sekitar Kali Lamat Muntilan. Dari setiap jawaban yang diberikan narasumber, penulis mencoba menganalisis dan menanyakan kembali kebenaran dan eksistensi dari jawaban narasumber kepada narasumber lain. Hal ini bertujuan agar sampel yang dicari semakin banyak, luas, dan variatif. Dalam penelitian alam ilmiah, penulis mengambil sampel air Kali Lamat sebanyak 10 – 12 liter air. Lalu, peneliti mengecek kualitas air sesuai dengan landasan teori atau dasar yang ada. Pengecekan penulis berupa penelitian kimiawis, fisis, dan biologis, fisis. Penelitian kimiawis penulis dimulai dengan menggunakan kertas lakmus. Kertas lakmus yang diuji ke dalam air mengalami perubahan warna yang menjadi tanda apakah air Kali Lamat asam, basa, atau netral. Lalu, penulis juga menggunakan cairan teh yang dicampur dengan air Kali Lamat untuk


20 mendeteksi kandungan logam berat. Jika larutan yang didiamkan beberapa hari mulai muncul lendir, lapisan minyak, dan perubahan warna, maka air mengandung logam berat. Kemudian untuk penelitian fisis, penulis mengecek kualitas air dengan menggunakan panca indra secara langsung. Penulis melihat bagaimana warna serta bagaimana bau dari air Kali Lamat tersebut. Penulis tak mencoba rasa karena kandungan dalam air Kali Lamat yang tak diketahui. Penelitian biologis digunakan untuk meneliti kehidupan organisme dalam air. Penulis menggunakan mikroskop serta menempatkan air dalam cawan petri agar jika memang ada kehidupan, organisme tersebut akan berkembang biak dalam cawan petri. F. Teknik Analisis Data Sebelumnya, penulis memepersiapkan variabel penelitian. Menurut Sugiyono (2009), variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan peneliti untuk diperlajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Variabel penelitian menjadi titik perhatian peneliti (Arikunto, 2010) dan menjadi pengenal dalam variasi antarobjek dalam kelompok tertentu (Sugiarto, 2017). Variabel penelitian menurut Winarno (2013) dibagi berdasarkan kedudukannya dalam penelitian. Variabel terikat (dependent variable) adalah variabel respon atau output, yakni variabel yang dipengarui karena adanya variabel bebas. Variabel ini tak dapat dimanipulasi, melainkan hanya diamati variasinya. Variabel bebas (independent variable) adalah variabel yang menjadi sebab munculnya variabel terikat. Variabel ini menjadi stimulus yang dapat diubah, diamati, dan diukur. Variabel moderator/antara adalah variabel bebas sekunder yang diangkat utuk menentukan pengaruh hubungan variabel bebas primer dan terikat. Variabel ini dapat dimanipulasi, diubah, dan diukur untuk mengubah hubungan variabel bebas dan terikat. Variabel kontrol adalah variabel yang dibuat selalu sama dan netral agar menjamin pengaruh variabel lainnya. Variabel diskrit/nominal/kategori adalah variabel dengan kutub ‘ya’


21 dan ‘tidak’ sebagai penanda kategori. Terakhir, variabel kontinum dibagi menjadi variabel ordinal (penunjuk tata urutan berdasarkan tingkatan), variabel interval (penunjuk jarak perbandingan), dan variabel rasio (penunjuk perbandingan). Di dalam penelitian ini, penulis membagi variabel menjadi variabel penelitian sosial dan variabel penelitian alam. Variabel penelitian sosial mencakup sebagai berikut: Variabel Penelitian Sosial Variabel Terikat Peranan dan Kondisi Kali Lamat menurut persektif narasumber dari berbagai segi. Variabel Bebas • Pengetahuan narasumber atas Kali Lamat. • Pengalaman narasumber di Kali Lamat. Variabel Moderator/Antara - Variabel Kontrol Lokasi Kali Lamat yang menjadi perhatian. Variabel Diskrit Eksistensi pengetahuan dan pengalaman narasumber mengenai Kali Lamat. Variabel Ordinal - Variabel Interval - Variabel Rasio Kondisi Kali Lamat sekarang dan beberapa waktu lalu sesuai ingatan narasumber. Tabel 3.1 Tabel Variabel Penelitian Sosial Sumber: Pribadi Untuk variabel penelitian alam, hal-halnya mencakup: Variabel Penelitian Alam Variabel Terikat Kondisi Kali Lamat berdasarkan warna, bau, tingkat keasaman, jumlah mikroorganisme, dan logam berat.


22 Variabel Bebas • Pencampuran senyawa lain dalam air Kali Lamat. • Pengecekan air Kali Lamat dengan kertas lakmus, mikroskop, dan panca indra, Variabel Moderator/Antara - Variabel Kontrol • Volume air Kali Lamat • Volume air bersih sebagai pebanding Variabel Diskrit - Variabel Ordinal - Variabel Interval Rentangan pH sekitar 6,5 – 8 Variabel Rasio Kondisi air Kali Lamat dibandingkan dengan air bersih biasa. Tabel 3.2 Tabel Variabel Penelitian Alam Sumber: Pribadi Terdapat perbedaan variabel penelitian secara wawancara, yakni sosial dan observasi laboratorium, yakni alam. Hal ini membuat penulis menggunakan metode analisis deskriptif dan eksplorasi. Metode analisis deskriptif adalah metode yang digunakan untuk mengetahui kondisi lapangan, sedangkan metode analisis eksplorasi adalah netode dengan mencari hubungan antarvariabel data untuk membentuk suatu hipotesis. Maka, penulis mencoba mendeskripsikan hasil data yang didapatkan. Lalu, data-data tersebut dihubungkan antarvariabelnya sehingga menjadi suatu kesimpulan konkret dan pasti. Variabel-variabel penelitian berupa data tersebut kemudian digabungkan dan ditujuan untuk mencari satu kesimpulan, yakni pengaruhnya bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.


23 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 4.1. Kondisi dan Peranan Kali Lamat Dari penelitian sosial dan alam yang dilakukan, penulis menemukan hasil yang cukup untuk menjawab berbagai rumusan masalah yang ada. Menurut beberapa narasumber, daerah Kali Lamat pernah memiliki air yang jernih hingga sekitar tahun 1970-an. Kondisi mulai berubah sekitar tahun 1990-an, di mana lokasi Kali Lamat mulai mengalami perubahan. Sejak dahulu, Kali Lamat digunakan untuk berbagai sarana. Beberapa narasumber mengatakan bahwa seringkali masyarakat menggunakan Kali Lamat sebagai sarana rekreasi, terutama bagi anak-anak bermain air. Lalu, beberapa warga pada zaman dahulu sering menggunakan Kali Lamat untuk mencuci dan mandi, hingga kakus. Tak lupa pula, fungsi air Kali Lamat digunakan juga untuk sumber air minum, terutama saat musim kemarau, di mana ketersediaan air cukup sulit. Pada masa kini, Kali Lamat digunakan untuk kegiatan industri pula. Bagian atas Kali Lamat sering digunakan sebagai tempat pertambangan pasir, terutama pasir dari lahar Gunung Merapi yang membeku. Selain itu, bagian hulu Kali Lamat digunakan untuk pengairan sawah dan ladang, terutama untuk tanaman cabai. Bagian hilir seringkali digunakan untuk memancing beberapa jenis ikan, kemudian dijual di bagian atas. Secara alami, Kali Lamat juga selalu menjadi jalur lahar dingin ketika terjadi erupsi Gunung Merapi. Namun, ada juga peranan buruk dari Kali Lamat yang cukup luas wilayahnya, yakni sebagai tempat pembuangan sampah. Kali Lamat sendiri sebagai suatu sungai, memiliki kaitan yang cukup erat dengan masyarakat sekitar. Sempat diketahui, terdapat kebiasan bagi sekolah-sekolah di sekitar Kali Lamat untuk menggunakannya bagi sarana


24 pembelajaran, seperti kegiatan kepramukaan. Ada pula kelompok budaya di Desa Pepe, yakni kelompok Jathilan. Kelompok ini adalah kelompok seni yang sering melestarikan kebudayaan setempat. Kelompok Jathilan sempat mengadakan pentas kebudayaan di dekat makam sekitar Kali Lamat. Menurut narasumber yang sempat menontonnya, upacara berlangsung seperti ada yang dadi atau kesurupan. Selain itu, sempat ada kebiasaan membersihkan Kali Lamat. Salah satunya adalah Gelar Seni Budaya: “Nandur Banyu Ngrukti Guwa Garbaning Pertiwi” yang diselenggarakan oleh Museum Misi Muntilan untuk melaksanakan dokumen Laudato si’ dari Vatikan pada tahun 2015. Gerakan ini dilaksanakan oleh warga paroki sekitar, warga desa, pelajar, dan berbagai lapisan dan kalangan masyarakat untuk membersihkan daerah sekitar Kali Lamat. Kegiatan ini bukan hanya membersihkan Kali Lamat, tetapi menampilkan berbagai kesenian daerah untuk melestarikan kebudayaan yang ada. Berdasarkan pengamatan dan kehidupan narasumber di sekitar Kali Lamat, kondisi Kali Lamat saat ini mengaami penurunan debit air. Kualitas kebersihan daerah sekitar Kali Lamat pun berkurang, walaupun meningkat dari beberapa waktu kemarin. Seringkali, Kali Lamat juga terjadi banjir, walaupun tak terlalu deras seperti zaman dahulu. Kehidupan di perairan Kali Lamat juga semakin jarang dijumpai lantaran sempat ada penyeteruman dari berbagai oknum sehingga organisme-organisme mulai berkurang hingga akar-akarnya. 4.2. Kualitas Air Kali Lamat Berdasarkan eksperimen dan percobaan yang penulis lakukan, ditemukan beberapa informasi yang menunjukkan kondisi dari air Kali Lamat itu sendiri. Penelitian diakukan berdasarkan fisis, biologis, dan kimiawis. Berdasarkan penelitian fisis, penulis menemukan bahwa warna air Kali Lamat berkisar antara jernih menuju jernih kekuning-kuningan.


25 Selain itu, bau dari air Kali Lamat ini seperti apek dan campuran sabun. Ketika disentuhkan ke kulit, tak ada tekstur lengket dan keset seperti halnya air sabun. Berdasarkan penelitian biologis, penulis tak mendapati adanya pergerakan organisme melalui mikroskop cahaya. Ketika air Kali Lamat dimasukkan dalam cawan petri dan dibiarkan beberapa hari, tidak terdapat pertumbuhan alga ataupun organisme lain. Gambar 3.1 Cawan petri yang tak ditumbuhi organisme apapun Sumber: Dokumentasi Pribadi Berdasarkan penelitian kimiawis, penulis menggunakan kertas lakmus yang dicelupkan dalam air. Hasil dari kertas lakmus menunjukkan tingkat keasaman (pH) angka tujuh (7) yang berarti netral. Ketika air Kali Lamat dicampur dengan teh, awalnya tak nampak perubahan apapun. Perubahan nampak sekitar tiga hari setelah penelitian. Tampak lendir di bagian atas gelas beaker dan perubahan warna teh menjadi lebih pekat. Gambar 3.2 Lendir di atas teh dan perubahan warna teh Sumber: Dokumentasi Pribadi


26 B. Pembahasan Kondisi Kali Lamat mengalami perubahan dalam dua hingga tiga dekade terakhir. Pada tahun 1970, tercatat penduduk Indonesia sebesar 119,2 juta jiwa dan meningkat menjadi 179,4 juta jiwa pada tahun 1990 (sumber: lokadata.beritagar.id). Hal ini menunjukkan adanya peningkatan penduduk di Indonesia, tak terkecuali di daerah Muntilan, Jawa Tengah. Peningkatan penduduk ini menyebabkan meningkatnya kebutuhan ekonomi warga. Dalam pemenuhan kebutuhan, penduduk banyak yang menghasilkan sampah. Sampah dibuang ke daerah yang tak semestinya, salah satunya daerah Kali Lamat. Hal ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi dan penduduk berbanding lurus dengan peningkatan sampah (sumber: sumbar.antarnews.com). Sampah yang dibuang sembarangan ini menunjukkan kurangnya edukasi masyarakat akan lokasi pembuangan sampah yang baik dan benar. Selain itu, hal ini juga mengindikasikan kurangnya lokasi pengelolaan sampah di daerah Muntilan, Jawa Tengah. Padahal, pembuangan sampah di sungai dapat menyebabkan berbagai dampak. Dampak-dampaknya seperti ketersediaan air bersih berkurang, sungai kotor dan bau, pendangkalan dasar sungai, banjir, kadar oksigen air menurun, hingga sumber penyakit. Selain pembuangan sampah, peranan Kali Lamat yang lain juga ikut memberikan sumbangsih bagi pencemaran. Pada dasarnya, Kali Lamat berlokasi di dekat lereng Gunung Merapi yang aktif. Ketika terjadi erupsi, lava Gunung Merapi akan mengalir menuju daerah yang lebih rendah, yakni aliran sungai, salah satunya Kali Lamat. Hal ini berdampak pada tingginya kadar belerang di DAS tersebut. Kadar belerang yang terlalu tinggi bisa menyebabkan berbagai komplikasi, baik lingkungan maupun masyarakat, salah satunya erosi email gigi (Wibowo, 2012:40-41). Selain masalah kadar belerang, peranan Kali Lamat karena lokasinya ini adalah sebagai tambang pasir. Lahar dingin berupa abu, kerikil, pasir, dan bebatuan dari Gunung Merapi akan tersapu air hujan sehingga mengalir menuju sungai-sungai, salah satunya Kali Lamat. Abu, pasir dan bebatuan ini


27 memilki nilai ekonomis yang tinggi. Pasir tersebut dapat digunakan sebagai penjernih air karena pola silikanya berujung runcing sehingga mampu menyerap partikel. Pasir ini juga sangat bagus untuk dicampur sebagai bahan beton sehingga semen memiiliki kekuatan yang lebih kuat (sumber: sains.kompas.com). Hal ini menyebabkan daerah hulu Kali Lamat seringkali digunakan sebagai tambang pasir. Tambang pasir secara berlebihan ini menyebabkan kontur alami Kali Lamat mengalami kerusakan. Dasar kali pun mengalami penurunan yang memengaruhi habitat organisme yang biasa hidup di daerah dasar sungai. Sebagai sumber air yang bermanfaat bagi kelangsungan kehidupan banyak organisme, masyarakat banyak menggunakan air Kali Lamat sebagai sumber irigasi/pengairan ladang dan sawah, terutama pertanian cabai. Namun, ada dampak yang cukup signifikan terhadap sungai. Pada kenyataannya, banyak sungai yang digunakan sebagai irigasi/pengairan sawah dan ladang mengalami pengurangan dalam debit airnya (sumber: ens-newswire.com). Kondisi debit air Kali Lamat yang berkurang dari waktu ke waktu juga menunjukkan pengaruh dari peranannya sebagai sumber irigasi/pengairan sawah dan ladang. Ada pula beberapa jenis ikan yang ditemukan di perairan Kali Lamat yang sering digunakan oleh warga sekitar, seperti ikan cetol (Gambusia affinis) dan ikan wader (Barbodes binotatus). Ikan-ikan ini memang seringkali ditemukan di perairan-perairan, mulai dari sungai hingga selokan. Ikan cetol sering digunakan dalam pembuatan rempeyek, pakan ternak, pakan ikan, hingga olahan makanan kucing dan anjing karena mudah ditemukan dan bergizi (sumber: manfaat.co.id). Ikan wader sendiri memiliki gizi yang sangat tinggi sehingga seringkali dimasak dengan digoreng, lalu dimakan dengan lalapan. Ikan ini tergolong murah dan mudah didapat, sekaligus bergizi karena mengandung lemak omega tiga serta zat besi yang cocok untuk tumbuh kembang anak (sumber: kkp.go.id). Namun, hal ini menyebabkan ikan-ikan tersebut diambil dan dipancing secara besar-besaran. Sempat ada penyeteruman di daerah Kali Lamat sehingga hampir seluruh populasi ikan mengalami penurunan. Listrik yang bertegangan tinggi bukan hanya


28 mematikan populasi ikan pilihan hingga akar-akarnya (telur), tetapi juga mematikan organisme yang tak seharusnya dipilih. Maka itu, dibentuk Undang-Undang No. 31 Tahun 2004 yang diubah dengan Undang-Undang No. 45 Tahun 2009, di mana pelaku penyeteruman ikan akan diancam pidana penjara maksimal enam tahun dan dena maksimal sebesar Rp 1,2 miliar (sumber: kumparan.com). Di daerah atas Kali Lamat pun terdapat pasar ikan. Di sanalah kemungkinan besar hasil pemancingan dijual. Selain penangkapan ikan, ternyata air Kali Lamat juga digunakan untuk mengisi ar dalam kolam-kolam ikan. Beberapa warga masih menggunakan air Kali Lamat dalam mengairi kola mikan, sentah kolam ikan hias maupun kolam ikan penangkaran sebagai tambak. Kali Lamat sebagai sebuah sungai memiliki peranan yang dekat dengan masyarakat, terutama masalah budaya. Salah satu komunitas budaya yang ada di Muntilan adalah Jathilan, di mana komunitas ini meresmikan budaya-budaya yang ada di dalam kebudayaan Jawa, terutama di daerah setempat. Sempat ada pelaksanaan kebudayaan tersebut di Desa Pepe, tepatnya di kuburan dekat Kali Lamat. Pelaksanaan kebudayaan tersebut bernama Dadi atau semacam kesurupan. Hal ini berarti, Kali Lamat masih cukup erat kaitannya dengan kebudayaan yang ada di sekitar. Selain semua hal tersebut, Kali Lamat juga seringkali digunakan sebagai lokasi pembelajaran atau edukasi bagi berbagai sekolah. Pada masa-masa terdahulu, Kali Lamat pernah digunakan untuk sarana edukasi bagi kegiatan kepramukaan sekolah. Kegiatan pramuka, seperti perjalanan dan petualangan menggunakan sarana Kali Lamat, seperti untuk menyusuri jalan, mencari jejak, dan lain sebagainya. Sempat ada kegiatan “Gelar Budaya Ngrukti Kali-Ngruwat Lamat” pada tahun September tahun 2015. Kegiatan ini diprakarsai oleh Musem Misi Muntilan atas dasar gerakan Laudato si’ oleh Paus Fransiskus saat itu. Kegiatan ini melibatkan ribuan pelajar dari sejumlah sekolah di Muntilan. Tujuan dari kegiatan ini adalah mewujudkan lingkungan lestari agar alur sungai menjadi bersih dan sehat. Kegiatan dilaksanakan oleh warga dari Desa Kuwilet,


29 Kecamatan Dukun hingga Desa Gunung Pring, Kecamatan Muntilan sejauh tiga kilometer. Ada sekitar 500 orang yang bekerja bakti membantu membersihkan Kali Lamat. Pemerintah pun turut ikut serta dalam mengikuti kegiatan, terutama dengan menyediaan angkutan truk sampah oleh BLH Pemkab Magelang (sumber: antaranews.com). Setelah kegiatan bersih-bersih tersebut, dilakukan pula gelar kebudayaan pada malam harinya sehingga turut melestarikan kebudayaan yang ada. Kegiatan ini dilakukan kembali pada Oktober 2016 dengan judul “Nandur Banyu Ngrukti Guwa Garbaning Pertiwi”. Kegiatan ini kembali diprakarsai Museum Misi Muntilan sekitar tanggal 21 – 23 Oktober di Lapangan Peemuda Muntilan. Sekolah-sekolah, seperti SMP Marganingsih, SMA Van Lith, SMK Pangudi Luhur, SMK Sanjaya, SMP Kanisius, dll juga ikut turut serta. Pada puncak kegiatannya, ada pelaksanaan pameran aneka produk pangan ekonomi masyarakat dan pentas seni di Lapangan Pemuda, Muntilan (sumber: krjogja.com). Kualitas air Kali Lamat sendiri berdasarkan eksperimen dan percobaan menunjukkan hasil yang cukup stabil, seperti penelitian terdahulu. Air Kali Lamat memiliki warna jernih menuju kekuningan. Kemungkinan besar, air berwarna kekuningan karena suspensi lumpur yang terdispersi dalam sungai. Terlebih, pengambilan air dilakukan saat musim hujan. Hal ini menyebabkan lumpur menempel di sekitar pinggiran sungai (sumber: metrokalimantan.com). Pengaruh bau apek dicampur sabun kemungkinan berasal dari limbah deterjen hasil rumah tangga yang dibuang secara langsung tanpa pengolahan terlebih dahulu. Namun ketika disentuhkan pada kulit, tak ada tekstur lengket maupun keset seperti halnya pada air sabun. Hal ini menunjukkan zat-zat sabun yang merupakan sisa dari limbah rumah tangga tak terlalu terakumulasi. Di dalam air Kali Lamat pula, tak ditemukan pergerakan mikroorganisme melalui mikroskop cahaya. Hal ini mengindikasikan bahwa Kali Lamat terdiri dari organisme yang berukuran lebih kecil dari 0,25 mikrometer sehingga hanya bisa diamati dengan mikroskop elektron. Tak adanya organisme seperti Paramaecium sp. dan Amoeba menunjukkan bahwa Kali Lamat adalah sungai


30 yang motil atau mengalir terus, tidak menggenang di satu daerah tertentu. Kondisi aliran air Kali Lamat juga ditunjukkan ketika airnya dimasukkan ke dalam cawan petri. Tidak ditemukan adanya perkembangan organisme sejenis alga, seperti pertumbuhan berwarna hijau di sisi-sisi cawan petri. Ketika dimasukkan kertas lakmus ke dalam air Kali Lamat, ditemukan bahwa air Kali Lamat memiliki tingkat keasaman (pH) tujuh (7). Tandanya, air tidak terlalu asam maupun tak terlalu basa. Pencampuran air Kali Lamat dengan cairan teh menunjukkan tanda-tanda yang signifikan. Setelah dibiarkan tiga hari, tampak lendir kecokelatan di atas gelas beaker dan perubahan warna teh menjadi lebih pekat. Hal ini menandakan adanya kandungan logam berat dalam air Kali Lamat. Kemungkinan jenis logam yang ada berdasarkan penelitian terdahulu adalah timbal (Pb). Pada akhirnya, air Kali Lamat memiliki tingkat pencemaran yang cukup ringan dan masih bisa dicegah hingga ditanggulangi. Masalah terbesar dari zatzat yang ada di air Kali Lamat adalah logam timbal. Logam timbal sendiri adalah logam alami yang ada di kerak bumi. Timbal dapat masuk ke badan perairan hingga daratan dari aktivitas manusia, seperti buangan limbah. Timbal-timbal tersebut bisa mengendap dan menjadi sedimen. Lamakelamaan, sedimentasi ini akan menyebabkan dasar sungai menjadi semakin dangkal. Selain itu, kandungan timbal bisa menyebabkan berbagai biota mengalami kontaminasi. Jika terkonsumsi, dapat mengakibatkan berbagai komplikasi bagi manusia. Terlebih, timbal sulit didegradsi sehingga akan terakumulasi pada akhirnya (Budiastuti, Raharjo, Dewanti, 2016:119-120). Jika dilihat dari segi kesehatan, timbal yang masuk ke dalam tubuh manusia akan menggangggu sistem saraf pusat, sistem reproduksi, sistem ginjal, sistem kardiovaskuler, hingga sistem imunitas atau kekebala tubuh. Paparan timbal pula dapat meningkatkan risiko keguguran, lahir mati, kelahiran premature, hingga berat badan bayi yang rendah pada ibu hamil (sumber: mediakom.kemkes.go.id). Timbal akan terakumulsi di gigi dan tulang dari


31 waktu ke waktu. Hal inilah yang akan menyebabkan hambatan pertumbuhan dan perkembangan bagi anak-anak yang tak sengaja terkontaminasi timbal. Sumber timbal di Kali Lamat tentu masih belum bisa penulis ketahui. Masih ada penelitian lanjutan mengenai asal dari logam berat ini. Secara umum, timbal biasanya bersumber dari aktivitas transportasi, di mana kandungan timbal tersebut ada pada bahan bakar anti pemecah minyak. Polutan timbal ini akan terlepaskan ke atmosfer lewat knalpot (Harmesa dan Cordova, 2021). Lalu, kandungan timbal akan bersatu dengan uap air di atmosfer sehingga jatuh sebagai hujan. Hujan inilah yang mengandung timbal dan menjadi zat polutan Kali Lamat. Selain itu, kandungan lumpur yang ada di aliran Kali Lamat perlu diperhatikan jika ingin digunakan, terutama untuk Mandi, Cuci, Kakus (MCK) serta minum. Hal ini dikarenakan lumpur menjadi habitat yang baik bagi cacing, seperti cacing kremi, cacing tambang, dll. Cacing tambang (Ancylostoma duodenale) adalah cacing yang senang hidup di tanah yang basah. Telur-telur cacing ini seringkali ditemukan di daerah yang terhindar sinar matahari, salah satunya lumpur. Jika terinfeksi cacing tambang, seseorang dapat terkena diare, sakit perut, demam, hingga BAB berdarah (sumber: alodokter.com). Agar menghindari segala dampak buruk dengan potensi yang tinggi, perlu ada antisipasi dan solusi dari berbagai pihak, terutama masyarakat sekitar dan pelajar, serta pemerintah. Bagi masyarakat sekitar, diharapkan untuk tidak asal membuang sampah sembarangan dalam bentuk apapun itu. Perlu pula untuk senantiasa memelihara lingkungan sekitar bantaran sungai karena bukan hanya air saja yang akan berdampak pada kesehatan masyarakat dan lingkungan, tetapi juga lingkungan bantaran. Selain itu, perlu pula bagi penduduk yang ingin memanfaatkan daerah bantaran sungai untuk melihat kembali peraturan mengenai penggunaannya. Sudah tertera dalam Undang-Undang No.17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air Pasal 7, bahwa “Sumber Daya Air tidak dapat dimiliki dan/atau dikuasai oleh perseorangan, kelompok masyarakat, atau badan usaha.” Pada dasarnya, Sumber Daya Air terdiri dari air, sumbernya, dan


32 daya yang ada. Maka, daerah bantaran sungai pun bukanlah miliki suatu pihak, melainkan milik negara. Perlu juga bagi setiap warga masyarakat untuk lebih sering mengingatkan antarwarga agar tak asal membuang sampah sembarangan. Pola pikir perlu diubah, bahwa sungai ini bukanlah hanya untuk satu orang, melainkan untuk seluruh warga masyarakat yang ada. Selain itu, komunitas masyarakat juga bisa membuat program koordinasi, misalnya monitoring bagian Kali Lamat agar senantiasa bersih dan aman (Matnuh, Adawiah, dan Shalihah, 2015:784-792). Ketika hendak menggunakan air Kali Lamat untuk MCK maupun minum karena satu dan lain hal, ada baiknya jika menggunakan penyaring air hingga pembersih air. Kualitas air Kali Lamat yang masih belum bisa dipastikan 100% bersih, masih kurang memungkinkan untuk diminum ataupun digunakan. Terakhir, masyarakat bisa memberikan saran dan solusi bagi pemerintah secara aktif, terutama dalam menjaga kebersihan dan kelestarian Kali Lamat. Bagi pelajar sendiri, ada pentingnya untuk mencermati setiap edukasi yang diberikan agar pola pikir yang ada tak melenceng dari apa yang baik. Para pelajar pun bisa terus berinovasi dan menemukan solusi-solusi lain dalam menjaga Kali Lamat. Bagi pemerintah sendiri, perlu ada program bagi edukasi masyarakat mengenai kepentingan kelestarian Kali Lamat, salah satunya Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH). Menurut Daryanto dan Agung Suprihatin (2013:2), PLH adalah suatu proses untuk membangun populasi manusia didunia yang sadar dan peduli terhadap lingkungan total (keseluruhan) dan segala masalah yang berkaitan dengannya, dan masyarakat yang memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap dan tingkah laku, motivasi dan komitmen untuk bekerja sama, baik secara individu maupun secara kolektif, untuk dapat memecahkan berbagai permasalahan lingkungan saat ini dan mencegah timbulnya masalah baru. Bukan hanya dengan masyarakat, para pelajar juga diusahakan untuk ikut serta. Lalu, bisa pula dengan peningkatan kualitas hukum bagi pembuangan sampah dan pembangunan di daerah bantaran sungai. Salah satu penerapan hukum yang bisa diadaptasi adalah hukum di Jepang. Jepang memiliki regulasi spesifik antara kategori sampah ketika akan dibuang, misalnya tutup botol dan


33 badan botol dipisah, sisa makanan dan tempatnya dipisah, dll (sumber: scmp.com). Selain itu, butuh adanya sosialisasi dengan warga setempat bersama dengan unit-unit yang ada. Sosialisasi bukan hanya masalah edukasi, tetapi juga masalah pelestarian dan penjagaannya. Bukan hanya program PLH, pemerintah bisa mengusahakan program pelestarian, seperti penjagaan bergilir, kerja bakti periodik, dan kegiatan lain secara rutin dan konsisten. Dapat pula pemerintah melakukan pendataan dalam hal ekonomi warga, terutama warga yang bekerja dalam hal pertambangan pasir dan pemancingan ikan. Dalam hal pendataan pula, harus diberikan syarat-syarat tertentu yang mengkualifikasi warga boleh atau tidak dalam melakukan tindakan tersebut (sumber: regional.kompas.com). Terakhir, pemerintah dapat lebih menyeleksi kendaraan-kendaraan bermotor yang melewati sekitar Kali Lamat. Hal ini karena asap pembakaran tak sempurna kendaraan bermotor bisa menghasilkan timbal. Timbal yang terakumulasi di atmosfer bisa turun dalam bentuk hujan dan mencemari daerah Kali Lamat. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Kali Lamat merupakan sumber mata air yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat, terutama masyarakat di sekitar SMA Pangudi Luhur Van Lith Berasrama Muntilan. Kualitas dan peranan dari Kali Lamat sendiri sangat menentukan kehidupan masyarakat. Kali Lamat sendiri memiliki peranan yang sangat penting bagi masyarakat sekitar sejak zaman dahulu hingga zaman sekarang. Pada zaman dahulu, Kali Lamat digunakan untuk sarana Mandi, Cuci, dan Kakus (MCK). Kali Lamat juga pernah digunakan untuk kegiatan minum dan memasak karena airnya yang jernih dan melimpah. Selain itu, Kali Lamat sering digunakan sebagai


34 sarana rekreasi, terutama bagi anak-anak. Pada pertengahan masa, Kali Lamat digunakan sebagai tempat pembuangan sampah karena semakin meningkatnya konsumsi masyarakat akibat meningkatnya populasi penduduk. Pada masa kini, Kali Lamat banyak digunakan untuk kegiatan industri, seperti tambang pasir, irigasi ladang/sawah, dan pemancingan ikan. Namun, pemancingan ternyata pernah menggunakan penyeteruman. Hal ini berakibat pada matinya berbagai organisme hingga akar-akarnya. Kali Lamat ternyata juga seringkali digunakan masyarakat sekitar sebagai sarana budaya, yakni untuk komunitas Jathilan dan edukasi, seperti kegiatan kepramukaan. Pernah pula ada program dari Museum Misi Muntilan untuk membersihkan aliran Kali Lamat, sekaligus pentas budaya pada tahun 2015 dan 2016. Secara keseluruhan, kondisi air Kali Lamat tak bisa dilepaskan dari peranannya itu sendiri. Kondisi Kali Lamat pada saat ini mengalami penurunan debit air yang cukup banyak. Hal ini disebabkan adanya irigasi di bagian hulu Kali Lamat. Selain itu, kebersihan daerah sekitar mulai menurun, walau ada pula peningkatan. Banyak sampah, seperti sisa kursi, kertas-kertas, galon bekas, dll ditemukan di sekitar bantaran kali. Kualitas Kali Lamat juga ternyata hanya tercemar ringan. Hal ini terlihat dari bau sungai yang apek dan wangi sabun deterjen karena sisa-sisa limba rumah tangga, tingkat keasaman yang netral (tujuh), tidak ada alga (sungai masih mengalir), warna sungai kekuningan tanda adanya endapat lumpur, dan kandungan logam berat yang kemungkinan adalah timbal (Pb). Keberadaan timbal dapat berdampak pada kerusakan saraf, ginjal, kulit, hingga pencernaan manusia dan organisme sekitarnya. Endapan lumpur yang tak sengaja diminum, bisa menjadi sumber penyakit bagi manusia, misalnya cacing tambang. Pertambangan pasir berdampak pada semakin dangkalnya daerah sungai sehingga organisme yang biasa hidup di dasar akan berkurang.


35 Untuk menjaga kelestarian Kali Lamat, perlu adanya kerja sama pihak masyarakat (termasuk pelajar) dan juga pemerintah. Masyarakat dapat berkontribusi dengan tidak asal membuang sampah sembarangan, memelihara lingkungan sekitar bantaran sungai, mencermati kembali peraturan mengenai pemaanfaatan bantaran sungai, mengingatkan antarwarga agar tak asal membuang sampah sembarangan, mengubah pola pikir, mengadakan program koordinasi, menggunakan filter jika ingin meminum atau MCK dengan air Kali Lamat, aktif memberikan saran dan solusi, serta terus belajar dan berinovasi, Bagi pemerintah sendiri, bisa berkontribusi dengan cara mengadakan program edukasi Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH), meningkatan kualitas hukum bagi pembuangan sampah dan pembangunan di daerah bantaran sungai, adaptasi hukum-hukum dari luar negeri, sosialisasi dengan warga setempat bersama unit yang ada, mengusahakan program pelestarian, seperti penjagaan bergilir, kerja bakti periodik, dan kegiatan lain secara rutin dan konsisten, mendata ekonomi warga, terutama warga yang bekerja dalam hal pertambangan pasir dan pemancingan ikan, serta menyeleksi kendaraankendaraan bermotor yang melewati sekitar Kali Lamat. B. Saran Saran yang bisa penulis berikan ada dua, yakni bagi masyarakat umum serta bagi pemerintah. Saran-saran ini merupakan poin-poin inti yang bisa dikembangkan secara lebih dengan berbagai program terencana lainnya. 1. Saran bagi Masyarakat a. tidak asal membuang sampah sembarangan b. memelihara lingkungan sekitar bantaran sungai c. mencermati kembali peraturan mengenai pemaanfaatan bantaran sungai d. mengingatkan antarwarga agar tak asal membuang sampah sembarangan e. mengubah pola pikir f. mengadakan program koordinasi


36 g. menggunakan filter jika ingin meminum atau MCK dengan air Kali Lamat h. aktif memberikan saran dan solusi i. terus belajar dan berinovasi 2. Saran bagi Pemerintah a. mengadakan program edukasi Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) b. meningkatan kualitas hukum bagi pembuangan sampah dan pembangunan di daerah bantaran sungai c. adaptasi hukum-hukum dari luar negeri d. sosialisasi dengan warga setempat bersama unit yang ada e. mengusahakan program pelestarian, seperti penjagaan bergilir, kerja bakti periodik, dan kegiatan lain secara rutin dan konsisten f. mendata ekonomi warga, terutama warga yang bekerja dalam hal pertambangan pasir dan pemancingan ikan g. menyeleksi kendaraan-kendaraan bermotor yang melewati sekitar Kali Lamat


37 DAFTAR PUSTAKA 4 Manfaat Ikan Cetol untuk Pembuatan Rempeyek hingga Pakan Ternak. 2017. Diakses pada 25 Januari 2023 pukul 20.21 WIB melalui https://manfaat.co.id/manfaat-ikan-cetol Agus. 2016. Ratusan Pelajar Bersihkan Kali Lamat. Diakses pada 25 Januari 2023 pukul 20.44 WIB melalui https://www.krjogja.com/beritalokal/read/357323/ratusan-pelajar-bersihkan-kali-lamat Air Sungai Hulu Jadi Kuning Pekat, Ada Apa? 2020. Diakses pada 25 Januari 2023 pukul 21.29 WIB melalui metrokalimantan.com/2020/11/air-sungai-hulujadi-kuning-pekat-ada.html Akibat Penambangan Pasir, Kerusakan Sungai Brantas Makin Mengkhawatirkan. 2019. Diakses pada 25 Januari 2023 pukul 20.01 WIB melalui https://jatim.antaranews.com/berita/315086/akibat-penambangan-pasirkerusakan-sungai-brantas-makin-mengkhawatirkan Ambawati, R.D. Air bagi Kehidupan Manusia. Banten: Dinas Banten. Andi. 2016. Sejarah Singkat Muntilan. Diakses pada 25 Januari 2023 pukul 07.11 WIB melalui https://kecamatanmuntilan.magelangkab.go.id/home/detail/sejarahsingkat-muntilan/32 Andini, Risa Afni. 2022. Mengenal Sungai. Diakses pada 24 Januari 2023 pukul 19.37 WIB melalui https://www.smpislamkreatifmuhammadiyah.sch.id/read/306/mengenalsungai Arief, Teuku Muhammad Valdy. 2019. Mengapa Menyetrum Ikan Dilarang?. Diakses pada 25 Januari 2023 pukul 20.20 WIB melalui https://kumparan.com/kumparannews/mengapa-menyetrum-ikan-dilarang1552451525629864360/full


Click to View FlipBook Version