Rangkuman SEJARAH KERAJAAN SRIWIJAYA
5. NATHANAEL MAHENDRA (22) KELOMPOK 6 1. ABI TRISTAN P. (01) 2. ANISA ARIYANTI (04) 3. BHINAR NOR C. (08) 4. MAULAA DANDY N. (18)
Kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan bercorak Buddha yang berdiri pada abad ke-7 Masehi di Sumatera Selatan. Kerajaan ini memiliki pengaruh besar di kawasan Nusantara barat dan menjadi pusat agama, budaya, dan perdagangan di Asia Tenggara dan Asia Timur. SEJARAH KERAJAAN SRIWIJAYA Aliran Buddha yang dipelajari di Sriwijaya meliputi Mahayana dan Hinayana. Kerajaan Sriwijaya punya beberapa pemuka atau pengajar agama Buddha yang kesohor, yakni Dharmapala, Sakyakirti, dan Dharmakirti. A) ALIRAN KERAJAAN Dari prasasti-prasasti yang ditemukan dapat diketahui bahwa letak Kerajaan Sriwijaya di wilayah Sumatra bagian selatan. Diperkirakan pusat pemerintahannya terletak di tepi Sungai Musi atau di sekitar Kota Palembang sekarang. Dari tepian Sungai Musi, pengaruh Kerajaan Sriwijaya terus meluas mencakup Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Bangka, Laut Jawa bagian barat, Bangka, Jambi Hulu, Semenanjung Malaya, hingga ke Tanah Genting Kra. Luas wilayah laut yang dikuasai Kerajaan Sriwijaya menjadikan Sriwijaya sebagai kerajaan maritim yang besar. B) LETAK GEOGRAFIS
LETAK GEOGRAFIS
a) Prasasti Kedukan Bukit Isi prasasti ini adalah keterangan bahwa Raja Dapunta Hyang Sri Jayanasa berhasil menaklukkan Kerajaan Melayu (Minangatamwan) dan berhasil memperluas kekuasaannya hingga ke Jambi. b) Prasasti Telaga Batu Secara garis besar isi prasasti ini adalah kutukan terhadap siapa saja yang melakukan kejahatan di Kerajaan Sriwijaya dan tidak taat kepada perintah raja. c) Prasasti Talang Tuo Isi prasasti ini adalah titah Raja Dapunta Hyang Sri Jayanasa untuk membangun Taman Srisetra sebagai tempat rekreasi untuk rakyat Sriwijaya. d) Prasasti Karang Berahi Isi prasasti ini adalah keterangan tentang penguasaan Sriwijaya atas daerah Jambi. e) Prasasti Ligor Isi prasasti ini menyebutkan tentang ibu kota Ligor yang berfungsi mengawasi pelayaran dan perdagangan di Selat Malaka. f) Prasasti Kota Kapur Isi prasasti ini menyebutkan usaha Sriwijaya untuk menaklukkan Bhumi Jawa yang tidak tunduk kepada Sriwijaya. g) Prasasti Nalanda Dalam prasasti juga dituliskan bahwa Kerajaan Sriwijaya telah mengadakan hubungan dengan Kerajaan Pala di Benggala (India Timur). h) Candi Muara Takus Diperkirakan Candi Muara Takus dibangun pada abad VII-XII M pada masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya. C) SUMBER SEJARAH 1. Sumber dari Dalam Negeri 2. Sumber Luar Negeri Sumber dari luar negeri yang menerangkan Kerajaan Sriwijaya adalah berita Cina, berita India, dan berita Arab.
TELAGA BATU TALANG TUO CANDI, PRASASTI DAN BENDERA
Kerajaan Sriwijaya dikenal sebagai kerajaan maritim karena fokus pada perdagangan antarpulau dan antarkawasan. Dengan menguasai Selat Malaka, Tanah Genting Kra, dan Selat Sunda, Sriwijaya menjadi pusat perdagangan vital di Asia Tenggara. Sebagai pelabuhan transit yang ramai disinggahi kapal asing, Sriwijaya memperoleh keuntungan dari ekspor komoditas seperti kayu gaharu, kapur barus, kayu cendana, gading, rempah-rempah, dan sebagainya ke Arab, serta gading, kemenyan, buah-buahan, gula putih, gelas, pakaian, bumbu masak, dan lainnya ke Cina. Hal ini menjadi sumber keuntungan besar bagi Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan Sriwijaya berkembang menjadi kerajaan besar karena faktorfaktor strategis seperti letaknya yang berada di jalur perdagangan antara India dan Cina, runtuhnya Kerajaan Funan, majunya aktivitas pelayaran dan perdagangan antara India dan Cina, kekuatan armada laut, serta distribusi ke wilayah-wilayah di Nusantara. Pemerintahan berbasis pada beragam jabatan seperti menteri, bupati, panglima, pembesar, pegawai istana, hakim, dan kepala pasukan yang dipilih dan diberhentikan oleh kehendak raja. Pada abad ke-8 dan ke-9, Kerajaan Sriwijaya mencapai kejayaan di bawah pemerintahan Raja Balaputradewa dari dinasti Syailendra. Namun, pada akhir abad ke-12 M, kerajaan ini mengalami kemunduran yang disebabkan oleh serangan, pelepasan diri wilayah, tekanan dari kerajaan tetangga, serta penurunan perekonomian dan perdagangan. D) KEHIDUPAN POLITIK DAN PEMERINTAHAN E) KEHIDUPAN EKONOMI
F) KEHIDUPAN SOSIAL G) KEHIDUPAN BUDAYA Bukti bahwa Kerajaan Sriwijaya memiliki kebudayaan yang tinggi adalah dari prasasti-prasasti yang ditemukan. Prasasti tersebut tidak lagi menggunakan bahasa Sanskerta, tetapi sudah menggunakan bahasa Melayu Kuno. Hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Kerajaan Sriwijaya tidak menerima budaya asing begitu saja, tetapi disesuaikan dengan budaya setempat Hasil budaya peninggalan Kerajaan Sriwijaya adalah berupa prasasti, arca Buddha di Bukit Siguntang, bangunan suci di Jambi, kompleks Candi Muara Takus, beberapa bangunan suci diGunung Tua (Padang Lawas), dan arca Awalokiteswara yang ditemukan di Tapanuli Selatan. Untuk meningkatkan kehidupan sosial masyarakat, Kerajaan Sriwijaya mengadakan hubungan dengan kerajaan di sekitarnya dan mengembangkan pendidikan. Bukti bahwa Kerajaan Sriwijaya dikenal sebagai pusat pendidikan agama Buddha adalah catatan | Tsing yang menyatakan bahwa terdapat seribu pendeta Buddha yang belajar agama Buddha di Sriwijaya, bahkan I Tsing menyarankan kepada pendeta Cina agar belajar terlebih dahulu di Sriwijaya sebelum melanjutkan pendidikan di India. Salah satu guru yang terkenal adalah Dharmakirti. Berdasarkan catatan | Tsing dapat diketahui bahwa rakyat Kerajaan Sriwijaya sudah berpendidikan tinggi. Oleh karena itu, Sriwijaya dapat dikatakan sebagai pusat ilmu pengetahuan agama.
1. Dapunta Hyang Sri Jayanasa (683 M) 2. Indrawarman (702 M) 3. Rudra Wikrama (728-742 M) 4. Sangramadhananjaya (775 M) 5. Dharanindra/Rakai Panangkaran (778 M) 6. Samaragrawira/Rakai Warak (782 M) 7. Dharmasetu (790 M) 8. Samaratungga/Rakai Garung (792 M) 9. Balaputradewa (850 M) 10. Sri Udayadityawarman (960 M) 11. Sri Wuja atau Sri Udayadityan (961 M) 12. Hsiae-she (980 M) 13. Sri Cudamaniwarmadewa (988 M) 14. Malayagiri/Suwarnadwipa (990 M) 15. Sri Marawijayottunggawarman (1008 M) 16. Sumatrabhumi (1017 M) 17. Sri Sanggrama Wijayatunggawarman (1025 M) 18. Sri Dewa (1028 M) 19. Dharmawira (1064 M) 20. Sri Maharaja (1156 M) 21. Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa (1178 M) H) RAJA YANG MEMIMPIN
Pada masa kepemimpinan Raja Balaputradewa kerajaan Sriwijaya dapat meraih masa kejayaannya. Salah satunya di bidang maritim. Sriwijaya menguasai perdagangan pada jalur Selat Malaka, Selat Sunda, dan Semenanjung Malaya. Menjadikan Sriwijaya sebagai pusat perdagangan. Perekonomian Sriwjaya berkembang pesat karena pemasukan dari pajak kapal yang singgah. Kerajaan Sriwijaya dikenal sebagai kerajaan maritim karena terletak di tepi sungai Musi dekat pantai, sehingga bidang perdagangan kerajaan ini pun menjadi cepat berkembang. Selanjutnya, perdagangan menjadi mata pencaharian pokok kerajaan Sriwijiya. Didukung lokasinya yang strategis menjadikan perdagangan berkembang pesat. Sriwijaya juga terletak di persimpangan jalan perdagangan internasional. Para pedagang Cina yang akan ke India singgah dahulu di Sriwijaya. Sehingga kerajaan ini menguasai perdagangan nasional maupun internasional di kawasan perairan Asia Tenggara. Dengan perdagangan ini menjadikan pencaharian pokok penduduknya itulah kerajaan Sriwijaya disebut sebagai kerajaan maritim. I) MASA KEJAYAAN
Kemunduran Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-14 disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, perubahan keadaan alam di sekitar Palembang menyebabkan pendangkalan sungai yang mengakibatkan sulitnya kapal dagang singgah, serta penurunan pendapatan karena berkurangnya pajak dari pedagang. Kedua, wilayah kekuasaan yang melepaskan diri menyebabkan pendapatan pajak menipis dan kontrol militer yang lemah. Ketiga, serangan dari kerajaan-kerajaan lain, termasuk serangan dari Kerajaan Medang Kamulan, kerajaan Colamandala, ekspedisi Pamalayu oleh Raja Kertanegara dari Singosari, dan serangan kerajaan Majapahit yang berhasil menaklukkan Sriwijaya pada tahun 1477 M dalam upaya menyatukan seluruh Nusantara. J) MASA AKHIR
Peninggalan kerajaan Sriwijaya mencakup berbagai prasasti dan candi yang merupakan bukti sejarah keberadaan kerajaan ini. - Prasasti seperti Prasasti Kota Kapur, Prasasti Kedukan Bukit, Prasasti Karang Berahi, Prasasti Ligor, Prasasti Palas Pasemah, Prasasti Hujung Langit, dan Prasasti Leiden, memberikan informasi historis dan hubungan internasional Sriwijaya. - Candi-candi peninggalan seperti Candi Muara Takus, Candi Muaro Jambi, Candi Biaro Bahal, dan Candi Kota Kapur, mencerminkan keagungan dan keberadaan agama Buddha pada masa Kerajaan Sriwijaya. Prasasti-prasasti tersebut memberikan informasi mengenai hubungan Sriwijaya dengan wilayah lain, kutukan terhadap orang-orang yang tidak setia terhadap Raja Sriwijaya, serta kisah-kisah Raja Sriwijaya. Sementara itu, candi-candi peninggalan Sriwijaya menunjukkan keberadaan agama Buddha dan corak Budha yang khas pada masa Kerajaan Sriwijaya. Candi-candi tersebut juga mencerminkan kompleksitas dan kebesaran arsitektur pada masa tersebut. K) PENINGGALAN
DAFTAR PUSTAKA Purnomo,Agus dkk.Modul Belajar Praktis IPS Sejarah untuk SMA/MA dan SMK/MAK kelas X Semester 2.Klaten:Viva Pakarindo. Faizi, Lutfan. 2023. Daftar Nama Raja Kerajaan Sriwijaya dari Masa ke Masa. Diakses pada 24 Januari 2024 dari https://daerah.sindonews.com/read/1204801/174/daftar-nama-rajakerajaan-sriwijaya-dari-masa-ke-masa-1695092958?showpage=all Faaizah, Noor. 2023. Sejarah Kerajaan Sriwijaya: Awal Berdiri, Masa Kejayaan, dan Keruntuhan.Diakses pada 24 Januari 2024 dari https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6950066/sejarah-kerajaansriwijaya-awal-berdiri-masa-kejayaan-dan-keruntuhan Hanifah, Muthi. 2023. 12 Bukti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya di Kota Palembang. Diakses pada 24 Januari 2024 dari https://www.detik.com/sumbagsel/budaya/d-6929390/12-buktipeninggalan-kerajaan-sriwijaya-di-kota-palembang