The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Herman Permata, 2020-09-28 02:24:12

bahan ajar

e book

Keywords: bahan ajar ips kelas 8

Ilmu Pengetahuan Sosial

Pergerakan Nasional pada Masa Pendudukan Jepang

BAHAN AJAR K13

Tema/Sub Tema : Perubahan masyarakat indonesia pada masa Penjajahan dan tumbuhnya semangat
kebangsaan

Kelas/Semester : VIII/Genap
Hari/Tanggal :
Alokasi Waktu : 2x45 menit ( satu kali pertemuan )

A. Judul : Pergerakan Nasional pada Masa Pendudukan Jepang

B. Kompetensi Inti (KI) : Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa

ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait

fenomena dan kejadian tampak mata

C. Kompetensi Dasar Dan Indikator Pencapaian Kompetensi

1. KD pada KI-3

Menganalisis kronologi, perubahan dan kesinambungan ruang (geografis, politik, ekonomi, pendidikan,

sosial, budaya) dari masa penjajahan sampai tumbuhnya semangat kebangsaan.

2. Indikator

 Menjelaskan proses penguasaan Indonesia oleh Jepang.

 Mennganalisis kebijakan Pemerintah militer Jepang.

 Menganalisis beberapa bentuk perjuangan pada zaman Jepang oleh kaum pergerakan.

 Menganalisis dampak positif dan negatif pendudukan Jepang di Indonesia.

D. Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti pembelajaran, peserta didik diharapkan dapat:

1. Menjelaskan proses penguasaan Indonesia oleh Jepang dengan tepat;

2. Menganalisis tentang kebijakan Pemerintah militer Jepang dengan kalimat sendiri;

3. Menganalisis beberapa bentuk perjuangan pada zaman Jepang oleh kaum pergerakan dengan tepat;

4. Menganalisis dampak positif dan negatif pendudukan Jepang di Indonesia dengan kalimat sendiri;

5. Menyajikan hasil diskusi tentang pergerakan nasional pada masa pendudukan Jepang dengan percaya

diri.

E. Materi Pembelajaran

1. Proses penguasaan Indonesia

2. Kebijakan Pemerintah Militer Jepang

3. Sikap Kaum Pergerakan

Pergerakan Nasional pada Masa Pendudukan Jepang

Sumber:https://sumberbelajar.belajar.kemdikbud.go.id/SitePages/TopikMateriAjar.aspx?JenjangID
=6&KelasID=26&MapelID=2399&GuruID=7139&TopikMateriAjarID=20467 Gambar 4.33 Kerja paksa

pada zaman Jepang.
Amatilah gambar kerja paksa pada masa penjajahan Jepang di Indonesia di atas! Kerja paksa pada
masa kependudukan Jepang dikenal dengan istilah romusha. Romusha merupakan salah satu bukti
penderitaan rakyat Indonesia pada masa pendudukan Jepang. Kapan Jepang mulai menguasai Indonesia?
Bagaimana Jepang menguasai Indonesia? Bagaimana kondisi bangsa Indonesia pada masa penjajahan
Jepang?
a. Proses Penguasaan Indonesia
Awal mula tujuan Jepang menguasai Indonesia ialah untuk kepentingan ekonomi dan politik.
Jepang merupakan negara industri yang sangat maju dan sangat besar. Jepang sangat menginginkan bahan
baku industri yang tersedia banyak di Indonesia untuk kepentingan ekonominya. Indonesia juga
merupakan daerah pemasaran industri yang strategis bagi Jepang untuk menghadapi persaingan dengan
tentara bangsabangsa Barat. Untuk menyamakan jalur pelayaran bagi bahan-bahan mentah dan bahan
baku dari ancaman Sekutu serta memuluskan ambisinya menguasai wilayahwilayah baru, Jepang
menggalang kekuatan pasukannya serta mencari dukungan dari bangsa-bangsa Asia.

sumber : https://www.academia.edu/22957367/PETA_KEDATANGAN_JEPANG_KE_INDONESIA_1941-1942

Perhatikan gambar peta di atas! Peta tersebut menggambarkan gerakan tentara Jepang ketika
masuk ke Indonesia. Terdapat tiga tempat penting pendaratan Jepang ketika masuk ke Indonesia, yakni
Tarakan (Kalimantan), Palembang (Sumatra), dan Jakarta (Jawa). Berdasarkan tiga lokasi tersebut, lokasi
manakah yang paling dekat dengan tempat tinggal kalian? Dapatkah kalian temukan alasan mengapa
Jepang memilih menduduki tempat tersebut? Tempat-tempat tersebut merupakan tempat yang strategis
untuk menguasai Indonesia. Selain itu, tiga lokasi tersebut merupakan pusat perkembangan politik dan
ekonomi pada masa kependudukan Belanda. Pada tanggal 8 Desember 1941, Jepang melakukan
penyerangan terhadap pangkalan militer AS di Pearl Harbour. Setelah memborbardir Pearl Harbour,
Jepang masuk ke negara-negara Asia dari berbagai pintu. Pada tanggal 11 Januari 1942, Jepang
mendaratkan pasukannya di Tarakan, Kalimantan Timur. Jepang menduduki kota minyak Balikpapan
pada tanggal 24 Januari. Selanjutnya, Jepang menduduki kota-kota lainya di Kalimantan. Jepang berhasil
menguasai Palembang pada tanggal 16 Februari 1942. Setelah menguasai Palembang, Jepang menyerang
Pulau Jawa. Pulau Jawa merupakan pusat pemerintahan Belanda. Batavia (Jakarta) sebagai pusat
perkembangan Pulau Jawa berhasil dikuasai Jepang pada tanggal 1 Maret 1942. Setelah melakukan
berbagai pertempuran, Belanda akhirnya menyerah tanpa syarat kepada Jepang pada tanggal 8 Maret
1942 di Kalijati, Subang-Jawa Barat. Surat perjanjian serah terima kedua belah pihak ditandatangani oleh
Letnan Jenderal Ter Poorten (Panglima Angkatan Perang Belanda) dan diserahkan kepada Letnan
Jenderal Imamura (pimpinan pasukan Jepang). Sejak saat itu seluruh Indonesia berada di bawah kekuasan
Jepang.

b. Kebijakan Pemerintah Militer Jepang
Pada saat kependudukannya di Indonesia, Jepang melakukan pembagian tiga daerah pemerintahan

militer di Indonesia, yakni:
1) Pemerintahan Angkatan Darat (Tentara XXV) untuk Sumatra, dengan pusat di Bukittinggi.
2) Pemerintahan Angkatan Darat (Tentara XVI) untuk Jawa dan Madura dengan pusat di Jakarta.
3) Pemerintahan Angkatan Laut (Armada Selatan II) untuk daerah Sulawesi, Kalimantan, dan

Maluku dengan pusat di Makassar.

Sumber: http://www.donisetyawan.com/Gambar 4.35 Peta pembagian pemerintahan militer Jepang.

Jepang menggunakan sistem pemerintahan berdikari dalam menjalankan pemerintahan di daerah
kependudukannya. Berdikari berarti “berdiri sendiri”. Maksudnya, pemerintah pusat tidak banyak berperan
dalam upaya pemenuhan kebutuhan pasukan di daerah kependudukannya. Dengan demikian, pemerintahan
militer Jepang di Indonesia lebih leluasa untuk menerapkan sistem penjajahan. Jepang melakukan propaganda
dengan semboyan “Tiga A” (Jepang Pemimpin Asia, Jepang Pelindung Asia, Jepang Cahaya Asia) untuk
menarik simpati rakyat Indonesia. Selain itu, Jepang menjanjikan kemudahan bagi bangsa Indonesia dalam
melakukan ibadah, mengibarkan bendera merah putih yang berdampingan dengan bendera Jepang,
menggunakan bahasa Indonesia, dan menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” bersama lagu
kebangsaan Jepang “Kimigayo”.

Sumber:http://www.pojokilmu.com/organisasi-pergerakan- zaman-jepang
Gambar 4.36 Jargon Gerakan 3 A Jepang

Kemudahan-kemudahan yang ditawarkan oleh Jepang hanyalah janji manis saja. Sebagai penjajah, Jepang
justru lebih kejam dalam menjajah bangsa Indonesia. Jepang melakukan beberapa kebijakan terhadap
negara jajahan Indonesia. Program yang paling mendesak bagi Jepang adalah mengerahkan seluruh
sumber daya yang ada di Indonesia untuk tujuan perang. Beberapa kebijakan tersebut antara lain sebagai
berikut

1. Membentuk Organisasi-Organisasi Sosial
Organisasi-organisasi sosial yang dibentuk oleh Jepang di antaranya Gerakan 3A, Pusat Tenaga

Rakyat, Jawa Hokokai, dan Masyumi. Gerakan 3A Dipimpin oleh Mr. Syamsudin, dengan tujuan meraih
simpati penduduk dan tokoh masyarakat sekitar. Dalam perkembangannya, gerakan ini kurang berhasil
sehingga Jepang membentuk organisasi yang lebih menarik. Sebagai ganti Gerakan Tiga A, Jepang
mendirikan gerakan Pusat Tenaga Rakyat (Putera) pada tanggal 1 Maret 1943. Gerakan Putera dipimpin
tokoh-tokoh nasional yang sering disebut Empat Serangkai, yaitu Soekarno, Mohammad Hatta, K.H. Mas
Mansyur, dan Ki Hajar Dewantara. Gerakan Putera cukup diminati oleh kalangan tokoh pergerakan
Indonesia. Pemerintah Jepang kurang puas dengan kegiatan yang dilakukan oleh gerakan Putera karena
para tokoh gerakan Putera memanfaatkan organisasi ini untuk melakukan konsolidasi dengan tokoh-
tokoh perjuangan. Pada akhirnya, organisasi Putera dibubarkan oleh Jepang. Pada tahun 1944, dibentuk
Jawa Hokokai (Gerakan Kebaktian Jawa). Gerakan ini berdiri di bawah pengawasan para pejabat Jepang.

Tujuan pokoknya adalah menggalang dukungan untuk rela berkorban demi pemerintah Jepang. Islam
adalah agama yang dianut mayoritas penduduk Indonesia. Jepang merasa harus bisa menarik hati
golongan ini. Maka, pada tahun 1943 Jepang membubarkan Majelis Islam A’la Indonesia dan
menggantikannya dengan Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia). Masyumi dipimpin oleh K.H.
Hasyim Ashari dan K.H. Mas Mansyur

Sumber: http://www.pelajaransekolah.net/2016/08/nama-nama-organisasi-bentukan-jaman-jepang.
html Gambar 4.37 Empat Serangkai.

2. Pembentukan Organisasi Semi Militer
Jepang menyadari pentingnya mengerahkan rakyat Indonesia untuk membantu perang menghadapi

Sekutu. Oleh karena itu, Jepang membentuk berbagai organisasi semimiliter, seperti Seinendan, Fujinkai,
Keibodan, Heiho, dan Pembela Tanah Air (Peta).

Organisasi Barisan Pemuda (Seinendan) dibentuk pada 9 Maret 1943. Tujuannya adalah memberi
bekal bela negara agar siap mempertahankan tanah airnya. Dalam kenyataannya, tujuan itu hanya untuk
menarik minat rakyat Indonesia. Maksud sesungguhnya adalah untuk membantu menghadapi tentara
Sekutu.

Sumber: http://www.duniapendidikan.net/2015/09/organisasi-semi-militer-bentukanjepang.
htmlGambar 4.38 Gerakan Seinendan.

Fujinkai merupakan himpunan kaum wanita di atas 15 tahun untuk terikat dalam latihan
semimiliter. Keibodan merupakan barisan pembantu polisi untuk laki-laki berumur 20-25 tahun. Heiho
yang didirikan tahun 1943 merupakan organisasi prajurit pembantu tentara Jepang. Pada saat itu, Jepang
sudah mengalami kekalahan dibeberapa front pertempuran. Adapun Peta yang didirikan 3 Oktober 1943
merupakan pasukan bersenjata yang memperoleh pendidikan militer secara khusus dari Jepang. Kelak,
para eks-Peta memiliki peranan besar dalam pertempuran melawan Jepang dan Belanda.

Sumber::http://pustaka.islamnet.web.id/Bahtsul_Masaail/Artikel/sejarah_perjuangan/indexaebc.h
tml Gambar 4.39 Gerakan Fujinkai.

3. Pengerahan Romusha
Jepang melakukan rekruitmen anggota romusha dengan tujuan mencari bantuan tenaga yang lebih

besar untuk membantu perang dan melancarkan aktivitas Jepang. Anggota-anggota romusha dikerahkan
oleh Jepang untuk membangun jalan, kubu pertahanan, rel kereta api, jembatan, dan sebagainya. Jumlah
Romusha paling besar berasal dari Jawa, yang dikirim ke luar Jawa, bahkan sampai ke Malaya, Myanmar,
dan Thailand.

Sumber: http://www.gurusejarah.com/2015/01/pengerahan-romusha.
html Gambar 4.40 Kerja paksa para romusha.

Perhatikan gambar romusha di atas. Sebagian besar romusha adalah penduduk yang tidak
berpendidikan. Mereka terpaksa melakukan kerja rodi karena takut kepada Jepang. Pada saat mereka
bekerja sebagai romusha, makanan yang mereka dapat tidak terjamin, kesehatan sangat minim, sementara
pekerjaan sangat berat. Ribuan rakyat Indonesia meninggal akibat romusha. sangat menyengsarakan
adalah pemaksaan wanitawanita untuk menjadi Jugun Ianfu. Jugun Ianfu adalah wanita yang dipaksa
Jepang untuk menjadi wanita penghibur Jepang di berbagai pos medan pertempuran. Banyak gadis-gadis
desa diambil paksa tentara Jepang untuk menjadi Jugun Ianfu. Sebagian mereka tidak kembali walaupun
Perang Dunia II telah berakhir
4. Eksploitasi Kekayaan Alam

Jepang tidak hanya menguras tenaga rakyat Indonesia. Pengerukan kekayaan alam dan harta benda
yang dimiliki bangsa Indonesia jauh lebih kejam daripada pengerukan yang dilakukan oleh Belanda.
Semua usaha yang dilakukan di Indonesia harus menunjang semua keperluan perang Jepang.

Jepang mengambil alih seluruh aset ekonomi Belanda dan mengawasi secara langsung seluruh
usahanya. Usaha perkebunan dan industri harus mendukung untuk keperluan perang, seperti tanaman jarak
untuk minyak pelumas. Rakyat wajib menyerahkan bahan pangan besar-besaran kepada Jepang. Jepang
memanfaatkan Jawa Hokokai dan intansi-instansi pemerintah lainnya. Keadaan inilah yang semakin
menyengsarakan rakyat Indonesia.

Pada masa panen, rakyat wajib melakukan setor padi sedemikian rupa sehingga mereka hanya
membawa pulang padi sekitar 20% dari panen yang dilakukannya. Kondisi ini mengakibatkan musibah
kelaparan dan penyakit busung lapar di Indonesia. Banyak penduduk yang memakan umbi-umbian liar,
yang sebenarnya hanya pantas untuk makanan ternak. Sikap manis Jepang hanya sebentar. Pada tanggal 20
Maret 1942, dikeluarkan maklumat pemerintah yang isinya berupa larangan pembicaraan tentang
pengibaran bendera merah putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Hal ini tentu membuat kecewa
bangsa Indonesia

Sumber: http://www.boombastis.com/terowongan-niyama/85040
Gambar 4.41 Penderitaan rakyat Indonesia akibat romusha

c. Sikap Kaum Pergerakan
Bangsa Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk menanggapi kebijakan Jepang tersebut.

Propaganda Jepang sama sekali tidak memengaruhi para tokoh perjuangan untuk percaya begitu saja.
Bagaimanapun, mereka sadar bahwa Jepang adalah penjajah. Bahkan, mereka sengaja memanfaatkan
organisasi-organisasi pendirian Jepang sebagai ‘batu loncatan’ untuk meraih Indonesia merdeka. Beberapa
bentuk perjuangan pada zaman Jepang adalah sebagai berikut.

1. Memanfaatkan Organisasi Bentukan Jepang
Kelompok ini sering disebut kolaborator karena mau bekerja sama dengan penjajah. Sebenarnya, cara ini
bentuk perjuangan diplomasi. Tokoh-tokohnya adalah para pemimpin Putera, seperti Sukarno, Mohammad

Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan K.H. Mas Mansyur. Mereka memanfaatkan Putera sebagai sarana
komunikasi dengan rakyat. Akhirnya, Putera justru dijadikan para pemuda Indonesia sebagai ajang
kampanye nasionalisme. Pemerintah Jepang menyadari hal tersebut dan akhirnya membubarkan Putera dan
digantikan Barisan Pelopor. Sama seperti Putera, Barisan Pelopor yang dipimpin Sukarno ini pun selalu
mengampanyekan perjuangan kemerdekaan.

2. Gerakan Bawah Tanah

Larangan berdirinya partai politik pada zaman Jepang mengakibatkan sebagian tokoh perjuangan
melakukan gerakan bawah tanah. Gerakan bawah tanah merupakan perjuangan melalui kegiatan-kegiatan
tidak resmi, tanpa sepengetahuan Jepang (gerakan sembunyi-sembunyi). Dalam melakukan perjuangan,
mereka terus melakukan konsolidasi menuju kemerdekaan Indonesia. Mereka menggunakan tempat-tempat
strategis, seperti asrama pemuda untuk melakukan pertemuan-pertemuan. Penggalangan semangat
kemerdekaan dan membentuk suatu negara terus mereka kobarkan. Tokoh-tokoh yang masuk dalam garis
pergerakan bawah tanah adalah Sutan Sjahrir, Achmad Subarjo, Sukarni, A. Maramis, Wikana, Chairul
Saleh, dan Amir Syarifuddin. Mereka terus memantau Perang Pasifik melalui radio-radio bawah tanah.
Pada saat itu, Jepang melarang bangsa Indonesia memiliki pesawat komunikasi. Kelompok bawah tanah
inilah yang sering disebut golongan radikal/ keras karena mereka tidak mengenal kompromi dengan Jepang.

3. Perlawanan Bersenjata
Di samping perjuangan yang dilakukan dengan memanfaatkan organisasi bentukan Jepang dan gerakan
bawah tanah, ada pula perlawanan-perlawanan bersenjata yang dilakukan bangsa Indonesia di antaranya
sebagai berikut.

a. Perlawanan Rakyat Aceh
Dilakukan oleh Tengku Abdul Djalil, seorang ulama di Cot Plieng Aceh, menentang peraturan-
peraturan Jepang. Pada tanggal 10 November 1942, ia melakukan perlawanan. Dalam perlawanan
tersebut ia tertangkap dan ditembak mati.

b. Perlawanan Singaparna, Jawa Barat
Dipelopori oleh K.H. Zainal Mustofa, yang menentang seikerei yakni menghormati Kaisar Jepang.
Pada tanggal 24 Februari 1944, meletus perlawanan terhadap tentara Jepang. Kiai Haji Zainal Mustofa
dan beberapa pengikutnya ditangkap Jepang, lalu dihukum mati.

c. Perlawananan Indramayu, Jawa Barat
Pada bulan Juli 1944, rakyat Lohbener dan Sindang di Indramayu memberontak terhadap Jepang. Para
petani dipimpin H. Madrian menolak pungutan padi yang terlalu tinggi. Akan tetapi, pada akhirnya
perlawanan mereka dipadamkan Jepang.

d. Perlawanan Peta di Blitar, Jawa Timur

Sumber: http://www.bintang.com/ Gambar 4.42 Pasukan
Peta.

Perlawanan PETA merupakan perlawanan terbesar yang dilakukan rakyat Indonesia pada masa penjajahan
Jepang. Perlawanan ini dipimpin Supriyadi, seorang Shodanco (Komandan pleton). Peta tanggal 14 Februari
1945, perlawanan dipadamkan Jepang karena persiapan Supriyadi dkk. kurang matang. Para pejuang Peta
yang berhasil ditangkap kemudian diadili di mahkamah militer di Jakarta. Beberapa di antaranya dihukum
mati, seperti dr. Ismail, Muradi, Suparyono, Halir Mangkudidjaya, Sunanto, dan Sudarmo. Supriyadi, sebagai
pemimpin perlawanan tidak diketahui nasibnya. Kemungkinan besar Supriyadi berhasil ditangkap Jepang
kemudian dihukum mati sebelum diadili.

F. Daftar Pustaka;
Buku Siswa Ilmu Pengetahuan Sosial / Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan, 2017.
https://www.youtube.com/watch?v=nW0-zhUn9jU&ab_channel=DedeArt
https://www.youtube.com/watch?v=JgGAxj8Vc0M&ab_channel=erwinmramdan
https://www.youtube.com/watch?v=odTUlVYfMTw&ab_channel=tvOneNews


Click to View FlipBook Version