3. Menurunkan permukaan air tanah pada tingkat yang ideal.
4. Mengendalikan erosi tanah, kerusakan jalan dan bangunan yang ada.
5. Mengendalikan air hujan yang berlebihan sehinga tidak terjadi bencana banjir.
6. Mengeringkan bagian wilayah kota yang permukaan lahannya rendah dari genangan
sehingga tidak menimbulkan dampak negative berupa kerusakan infrastruktur kota
dan harta benda milik masyarakat.
7. Mengalirkan kelebihan air permukaan ke badan air terdekat secepatnya agar tidak
membanjiri/menggenangi kota yang dapat merusak selain harta benda masyarakat
juga infrastruktur perkotaan.
8. Mengendalikan sebagian air permukaan akibat hujan yang dapat dimanfaatkan untuk
persediaan air dan kehidupan akuatik.
9. Meresapkan air permukaan untuk menjaga kelestarian air tanah.
10. Mengeringkan daerah becek dan genangan air
11. Mengendalikan akumulasi limpasan air hujan yang berlebihan
12. Mengendalikan erosi, kerusakan jalan dan bangunan-bangunan.
g. Analisa Frekuensi Curah Hujan
Distribusi frekuensi digunakan untuk memperoleh probabilitas besaran curah hujan
rencana dalam berbagai periode ulang. Dasar perhitungan distribusi frekuensi adalah
parameter yang berkaitan dengan analisis data yang meliputi ratarata, simpangan baku,
koefisien variasi, dan koefisien skewness (kecondongan atau kemencengan).
h. Bentuk Penampang Saluran
Bentuk-bentuk saluran untuk drainase tidak jauh berbeda dengan saluran irigasi pada
umumnya. Dalam perancangan dimensi saluran harus diusahakan dapat membentuk
dimensi yang ekonomis, sebaliknya dimensi yang terlalu kecil akan menimbulkan
permasalahan karena daya tamping yang tidak memedai. Adapun bentuk-bentuk saluran
antara lain :
1. Trafesium
Pada umumnya saluran ini terbuat dari tanah akan tetapi tidak menutup kemungkinan
dibuat dari pasangan batu dan beton. Saluran ini memerlukan cukup ruang. Berfungsi
51
untuk menampung dan menyalurkan limpasan air hujan serta air buangan domestik
dengan debit yang besar.
2. Persegi
Saluran ini terbuat dari pasangan batu dan beton.Bentuk saluran ini tidak memerlukan
banyak ruang dan areal. Berfungsi untuk menampung dan menyalurkan limpasan air
hujan serta air buangan domestik dengan debit yang besar
3. Segitiga
Saluran ini sangat jarang digunakan tetap mungkin digunakan dalam kondisi tertentu.
4. Saluran ini terbuat dari pasangan batu atau dari beton dengan cetakan yang telah
tersedia. Berfungsi untuk menampung dan menyalurkan limpasan air hujan serta air
buangan domestik dengan debit yang besar.
52
i. Drainase Permukaan
Fungsi drainase permukaan pada konstruksi jalan raya pada umumnya berfungsi sebagai
berikut:
1. Mengalirkan air hujan/air seecepat mungkin keluar dari permukaan jalan dan
selanjutnya dialirkan lewat saluran samping menuju saluran pembuangan akhir.
2. Mencegah aliran air yang berasal dari daerah pengaliran sekitar jalan masuk ke
daerah perkerasan jalan.
3. Mencegah kerusakan lingkungan disekitar jalan akibat aliran air
j. Sistem Drainase Permukaan
Sistem draiase permukaan pada prinsipnya terdiri dari :
1. Kemiringan melintang pada pada perkarasan jalan dan bahu jalan.
2. Selokan samping
3. Gorong-gorong.
4. Saluran penangkap
k. Selokan samping
Selokan samping adalah selokan yang dibuat disisi kiri dan kanan badan jalan. Fungsi
selokan samping antara lain sebagai berikut :
1. Menampung dan membuang air yang berasal dari permukaan jalan.
2. Menampung dan membuang air yang berasal dari daerah pengaliran sekitar jalan.
3. Dalam hal daerah pengaliran luas sekali atau terdapat air limbah maka untuk itu harus
di buat sistem drainase terpisah atau tersendiri.Dalam pemilihan jenis material untuk
seokan samping pada umumnya ditentukan oleh besarnya kecepatan rencana aliran air
yang akan melewati selokan samping tersebut. Kecepatan aliran air ditentukan oleh
sifat hidrolis penampang saluran, salah satunya adalah kemiringan saluran.
l. Drainase Saluaran Terbuka
53
Drainase saluran terbuka adalah sistem saluran yang permukaan airnya
terpengaruh dengan udara luar (atmosfir). Drainase saluran terbuka biasanya mempunyai
luasan yang cukup dan digunakan untuk mengalirkan air hujan atau air limbah yang tidak
membahayakan kesehatan lingkungan dan tidak mengganggu keindahan.saluran ini yang
lebih cocok untuk drainase air hujan yang terletak didaerah yang mempunyai luasan yang
cukup, ataupun untuk drainase air non-hujan yang tidak membahayakan kesehatan/
mengganggu lingkungan. Drainase terbuka memiliki bentuk berupa saluran air yang
terbuka.Biasanya drainase terbuka dipakai untuk mendukung berbagai fungsi saluran air
terutama untuk menampung dan mengalirkan air hujan. Drainase terbuka yang dibuat di
pinggiran kota tidak perlu dilapisi lining. Tetapi drainase yang dibangun di tengah kota
harus dilapisi pelindung seperti beton, pasangan batu, atau pasangan bata. Ada beberapa
macam bentuk dari saluran terbuka, ada yang bentuknya trapesium, segi empat, segitiga,
setengah lingkaran, ataupun kombinasi dari bentuk-bentuk tersebut. Sebagai contoh,
Anda bisa lihat contoh saluran yang bentuknya trapesium di bawah ini.
Saluran trapesium berfungsi untuk menampung dan menyalurkan limpasan air
hujan dengan debit yang besar. Sifat alirannya terus menerus dengan fluktuasi kecil.
Bentuk saluran ini dapat digunakan pada daerah yang masih cukup tersedia lahan. Untuk
bentuk-bentuk lainnya nanti kalau ada waktu kita lihat bersama, karena sudah malam
kalau gambar semuanya capek.Umumnya saluran yang berbentuk trapeseium digunakan
pada daerah yang masih mempunyai lahan cukup luas, dan harga lahan murah, umumnya
digunakan untuk saluran yang relatif besar.
Selain sistem tebuka juga ada sistem tertutup. Drainase sistem tertutup adalah
sistem saluran yang permukaan airnya tidak terpengaruh dengan udara luar (atmosfir).
Saluran drainase tertutup sering digunakan untuk mengalirkan air limbah atau air kotor
yang menggangu kesehatan lingkungan dan menggangu keindahan. Konstruksi saluran
tertutup terkadang ditanam pada kedalaman tertentu di dalam tanah yang disebut dengan
sistem sewerage. Walaupun tertutup alirannya tetap mengikuti gravitasi yaitu aliran pada
saluran terbuka
Saluran terbuka ini dapat menampung dan mengalirkan air hujan dari hulu ke
hilir. Semakin ke hilir, saluran terbuka berfungsi sebagai saluran campuran. Ukurannya
54
pun beragam, ada yang kecil, sedang bahkan besar tergantung dari volume dan debit air
pada wilayah tersebut. Di pinggiran kota saluran ini masih alami dan tidak perlu diberi
lining (lapisan pelindung). Saluran ini dibedakan menjadi :
1. Saluran Alam (natural), meliputi selokan kecil, kali, sungai kecil dan sungai besar
sampai saluran terbuka alamiah.
2. Saluran Buatan (artificial), seperti saluran pelayaran, irigasi, parit pembuangan, dll.
Menurut asalnya dibedakan menjadi :
a. Saluran (canal) Biasanya panjang dan merupakan selokan landai yang
dibuatditanah.
b. Got miring (chute) Merupakan selokan yang curam.
c. Terjunan (drop) Contohnya got miring dimana perubahan tinggi air terjadi dalam
jangka pendek.
d. Gorong-gorong (culvert) Merupakan saluran tertutup (pendek) yang mengalirkan
air melewati jalan raya, jalan kereta api, atau timbunan lainnya.
e. Terowongan Air Terbuka (open-flow tunnel) Merupakan selokan tertutup yang
cukup panjang, dipakai untuk mengalirkan air menembus
f. bukit/gundukan tanah.
m. Persyaratan saluran terbuka
1. Saluran berbentuk ½ lingkaran, diameter minimum 20cm.
2. Kemiringan saluran minimum 2%
3. Kedalaman saluran minimum 40cm.
4. Bahan bangunan : tanah liat, beton, batu bata, batu kali;
n. Manfaat sistem darinase terbuka
1. Mengeringkan daerah becek dan genangan air sehingga tidak ada akumulasi air tanah.
2. Menurunkan permukaan air tanah pada tingkat yang ideal.
3. Mengendalikan erosi tanah, kerusakan jalan dan bangunan yang ada.
4. Mengendalikan air hujan yang berlebihan sehingga tidak terjadi bencana banjir.
o. Drainase Jalan Raya
Drainase jalan raya dibedakan untuk perkotaan dan luar kota.Umumnya di
perkotaan dan luar perkotaan,drainase jalan raya selalu mempergunakan drainase muka
55
tanah (Surface drainage). Di perkotaan saluran muka tanah selalu ditutup sebagai bahu
jalan atau trotoar.Walaupun juga sebagaiman diluar perkotaan, ada juga saluran drainase
muka tanah tidak tertutup (terbuka lebar), dengan sisi atas saluran rata dengan muka jalan
sehingga air dapat masuk dengan bebas. Drainase jalan raya pi perkotaan elevasi sisi atas
selalu lebih tinggi dari sisi atas muka jalan .Air masuk ke saluran melalui inflet. Inflet
yang ada dapat berupa inflet tegak ataupun inflet horizontal.Untuk jalan raya yang lurus,
kemungkinan letak saluran pada sisi kiri dan sisi kanan jalan. Jika jalan ke arah lebar
miring ke arah tepi, maka saluran akan terdapat pada sisi tepi jalan atau pada bahu jalan,
sedangkan jika kemiringan arah lebar jalan kea rah median jalan maka saluran akan
terdapat pada median jalan tersebut. Jika jalan tidak lurus ,menikung, maka kemiringan
jalan satu arah , tidak dua arah seperti jalan yang lurus. Kemiringan satu arah pada jalan
menikung ini menyebabkan saluran hanya pada satu sisi jalan yaitu sisi yang rendah.
Untuk menyalurkan air pada saluran ini pada jarak tertentu,direncanakan adanya pipa nol
yang diposisikan dibawah badan jalan untuk mengalirkan air dari saluran
p. Drainase Lapangan Terbang
Drainase lapangan terbang pembahasannya difokuskan pada draibase area run
way dan shoulder karena runway dan shoulder merupakan area yang sulit diresapi , maka
analisis kapasitas / debit hujan memepergunakan formola drainase muka tanah atau
surface drainage. Kemiringan keadan melintang untuk runway umumnya lebih kecil atau
samadengan 1,50 % , kemiringan shoulder ditentukan antara 2,50 % sampai 5
%.Kemiringan kea rah memanjang ditentukan sebesar lebih kecil atau sama dengan 0,10
% ,ketentuan dari FAA. Amerika Serikat , genangan air di permukaan runway maksimum
14 cm, dan harus segera dialirkan. Di sekeliling pelabuhan udara terutama di sekeliling
runway dan shoulder , harus ada saluran terbuka untuk drainase mengalirkan air
(Interception ditch) dari sis luar lapangan terbang.
q. Drainase Lapangan Olah Raga
Drainase lapangan olahraga direncanakan berdasarkan infiltrasi atau resapan air
hujan pada lapisan tanah, tidak run of pada muka tanah (sub surface drainage) tidak boleh
terjadi genangan dan tidak boleh tererosi.Kemiringan lapangan harus lebih kecil atau
sama dengan 0,007. Rumput di lapangan sepakbola harus tumbuh dan terpelihara dengan
56
baik.Batas antara keliling lapangan sepakbola dengan lapangan jalur atletik harus ada
collector drain. Pelaksanaan Pembangunan Drainase Jalan Mrican Salah satu dari KSM
yang telah terbentuk di Gumawang adalah KSM Dahlia yang bertugas melaksanakan
pembangunan drainase sepanjang 500 meter lebih di sepanjang jalan Mrican.Setelah
kemarin material disiapkan, maka pelaksanaan fisik minggu ini juga kini mulai
dilaksanakan. Pekerjaan dimulai dari menentukan elevasi sesuai dengan hasil pengukuran
dengan theodolite yang sudah dilakukan sebelumnya.Kemudian memasang bowplank di
beberapa titik dan dilanjut dengan penggalian tanah.
r. Sistem Drainase
Sistem jaringan drainase perkotaan umumnya dibagi atas 2 bagian, yaitu :
a. Sistem Drainase Mayor Sistem drainase mayor yaitu sistem saluran/badan air yang
menampung dan mengalirkan air dari suatu daerah tangkapan air hujan (Catchment
Area). Pada umumnya sistem drainase mayor ini disebut juga sebagai sistem saluran
pembuangan utama (major system) atau drainase primer. Sistem jaringan ini
menampung aliran yang berskala besar dan luas seperti saluran drainase primer,
kanalkanal atau sungai-sungai. Perencanaan drainase makro ini umumnya dipakai
dengan periode ulang antara 5 sampai 10 tahun dan pengukuran topografi yang detail
mutlak diperlukan dalam perencanaan sistem drainase ini.
b. Sistem Drainase Mikro Sistem drainase mekro yaitu sistem saluran dan bangunan
pelengkap drainase yang menampung dan mengalirkan air dari daerah tangkapan
hujan. Secara keseluruhan yang termasuk dalam sistem drainase mikro adalah saluran
di sepanjang sisi jalan, saluran/selokan air hujan di sekitar bangunan, gorong-gorong,
saluran drainase kota dan lain sebagainya dimana debit air yang dapat ditampungnya
tidak terlalu besar. Pada umumnya drainase mikro ini direncanakan untuk hujan
dengan masa ulang 2, 5 atau 10 tahun tergantung pada tata guna lahan yang ada.
Sistem drainase untuk lingkungan permukiman lebih cenderung sebagai sistem
drainase mikro.
s. Jenis Drainase
Drainase dibedakan menjadi beberapa bagian yaitu :
Menurut sejarah terbentuknya
57
1. Drainase alamiah (Natural Drainage) Drainase alamiah adalah sistem drainase yang
terbentuk secara alami dan tidak ada unsur campur tangan manusia.
2. Drainase buatan (Artificial Drainage) Drainase alamiah adalah sistem drainase yang
dibentuk berdasarkan analisis ilmu drainase, untuk menentukan debit akibat hujan,
dan dimensi saluran.
58
BAB VI
SISTEM PLUMBING (PERPIPAAN)
Plambing merupakan seni dan teknologi pemipaan dan peralatan untuk menyediakan air
bersih ke tempat yang dikehendaki, baik dalam hal kuantitas, kualitas maupun kontinuitas yang
sesuai dengan syarat dan penyaluran air buangan dari tempat-tempat tertentu dengan tidak
menyemari bagian terpenting lainnya, untuk mencapai kondisi yang higenis dan kenyaman serta
kepuasan yang diinginkan
Sistem instalasi air bersih merupakan sistem pemipaan yang harus disiapkan pada
bangunan baik di dalam maupun di luar bangunan untuk mengalirkan air bersih dari sumber
menuju ke outlet (keluaran). Sistem instalasi air bersih direncanakan guna untuk memenuhi
kebutuhan air bersih yang sesuai dengan syarat sehingga layk konsumsi. Ada beberapa hal
penting yang harus diperhatikan dalam sistem penyediaan air bersih yaitu mengenai kualitas air
yang akan didistribusikan, sistem penyediaan air bersih yang digunakan, pencegahan
pencemaran air, laju aliran air dalam pipa, kecepatan aliran serta tekanan air.
Utilitas Bangunan merupakan kelengkapan dari suatu bangunan gedung, agar bangunan
gedung tersebut dapat berfungsi secara optimal. Disamping itu penghuninya akan merasa
nyaman, arnan, dan sehat.
Ruang lingkup dari Utilitas Bangunan diantaranya adalah
1. Sistem plumbingair minum
2. Sistem plumbing air kotor
3. Sistem plumbing air hujan
4. Sistem pembuangan sampan
5. Sistem pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran
6. Sistem instalasi listrik Sistem pengkondisian udam
7. Sistem transportasi vertikal
8. Sistem telekomunikasi Sistem penangkal petir
59
Salah satu bagian dari utilitas bangunan adalah Plumbing. Termasuk dalam ruang lingkup
plumbing diantaranya adalah :sistem penyediaan air minum, sistem pembuangan air kotor, dan
sistem pembuangan air hujan didalam bangunan gedung.
Plambling dapat didefirlisikan sebagai berikut Sistem Plumbing suatu bangunan gedung
adalah : pemipaan sistem penyediaan air minum, pemipaan sistem pembuangan air kotor, dan
pemipaan sistem pembuangan air hujan, Karena plumbing, merupakan bagian dari utilitas
bangunan, maka tujuan penempatan Plumbing dalam suatu bangunan gedung juga, agar
penghuni bangunan gedung tersebut merasa aman, nyaman, dan sehat.
A. Sistem Plumbing Air Minum
Air adalah unsur penting yang sangat,ber peran dalam semua kehidupan, termasuk
kehidupan manusia. Tjdak- saja karena sekitar (65-80) % dari tubuh manusia, terdiri dari
cairan, tetapi juga karena di dalam air itu terdapat berbagai mineral dan unsur kimia seperti
Ca, Fe, F, J, dan lain-lain yang diperlukan untuk pertumbuhan dan untuk menjaga kesehatan
manusia.
Selain dari pada itu air juga merupakan tempat hidup binatang–binatang air, mulai
dari ikan sampai mikroorganisme. Mikroorganisme-mikroorganisme yang hidup di dalam air
sangat bermacam–macam, ada yang pathogen (membahayakan bagi kesehatan manusia dan
ada yang tidak pathogen. Oleh karem itu, air disamping sebagai kebutuhan hidup juga
sebagai media/sarana penularan penyakit Sejumlah penyakit menular, terutama penyakit
penyakit perut yang tergolong dalam " Water borne deseases" , seperti typos, cholera, :
gastrolenteritis (common diarrhea) adalah penyakit-penyakit yang dapat berkembang dan
ditularkan melalui air.. Hal ini .dapat dijelaskan sebagai berikut : "Bila sumur tidak hygenis
dan letaknya dekat sekali dengan kakus, dimana pada kakus itu ada faeses yang mengandung
kuman-kuman cholera, maka kuman-kuman cholera tadi akan ikut dengan air. yang
merembes masukkedalam sumur. Bila air sumur yang telah terkontaminasi oleh kuman-
kurnan cholera digunakan oleh manusia tanpa pengolahan terlebih dahulu, rmaka kuman-
kuman cholera itu akan masuk kedalarn perut manusia dan akan berkembang biak, maka
manusianya akan sakit".
60
Disamping air sebagai media penularan penyakit perut, air pun merupakan pelarut
yang sangat baik. Oleh karena itu di dalam air banyak dijurnpai zai-zat kimia atau mineral-
mineral. Zat kirma dan mineral-mineral itu kadar di dalam air tergantung dari daerah yang di
laluinya.
Syarat-syarat kualitas air minum adalah :
1. Syarat fisik : Jernih, tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau, dan sejuk (temperatur
dibawah suhu kamar).
2. Syarat kimiawi : air mengandung zat-zat kimia atau mineral-mineral dalam kadar
tertentu.
3. Syarat bakteriologi: Air tidak boleh mengandung bakteri-bakteri pathogen.
B. Sistem Perpipaan Air
a. Sistem Sambungan langsung
Pada sistem ini pipa distribusi di dalam gedung disambung langsung dengan pipa
utama penyediaan air bersih. Sistem seperti ini dapat diterapkan untuk perumahan dan
gedung-gedung kecil dan rendah, karena pada umumnya tekanan dalam pipa utama
pada perumahan dan gedung kecil terbatas dan dibatasinya ukuran pipa cabang dari
pipa utama tersebut. Yang ukuran pipa cabang biasanya ditetapkan atau diatur oleh
Perusahaan Air Minum. Tangki pemanas air biasanya tidak disambung langsung
kepada pipa distribusi, dan dibeberapa daerah tidak diizinkan memasang katup gelontor
61
b. Sistem tangki atap
Dalam sistem ini, air ditampung terlebih dahulu dalam tangki bawah (dipasang pada
lantai yang terendah pada bangunan atau dibawah muka tanah), yang kemudian
dipompakan ke tangki atas yang biasanya dipasang di atas atap atau 7 di atas lantai
yang tertinggi pada bangunan. Dari tangki ini, air didistribusikan ke seluruh bangunan.
Sistem ini diterapkan dengan beberapa alasan sebagai berikut :
1. Selama airnya digunakan, perubahan tekanan yang terjadi pada alat plambing
hampir tidak berarti. Perubahan tekanan ini hanyalah akibat perubahan muka air
dalam tangki atap.
2. Sistem pompa yang menaikkan air ke tangki atap bekerja secara otomatik dengan
cara yang sangat sederhana sehingga kecil sekali kemungkinan timbulnya kesulitan.
Pompa biasanya dijalankan dan dimatikan oleh alat yang mendeteksi muka dalam
tangki atap
3. Perawatan tangki atap sangat sederhana bila dibandingkan dengan misalnya tangki
tekan.
4. Hal terpenting dalam sistem ini adalah menentukan letak tangki atap tersebut,
penentuan ini didasarkan atas jenis alat plambing yang dipasang pada lantai yang
tertinggi dalam bangunan dan yang menuntut tekanan kerja tinggi.
62
c. Sistem tangki tekan
Prinsip dalam sistem ini yaitu air yang telah ditampung dalam tangki bawah kemudian
dipompakan ke dalam tangki tertutup sehingga udara di dalamnya terkompresi. Air dari
tangki tersebut dialirkan ke dalam sistem distribusi bangunan. Pompa bekerja secara
otomatik yang diatur oleh suatu detektor tekanan. Daerah fluktuasi biasanya ditetapkan
1.0 sampai 1.5 kg/cm2 . Sistem tangki tekan ini biasanya dirancang agar volume udara
tidak lebih dari 30% terhadap volume tangki dan 70% volume tangki berisi air. Apabila
awalnya seluruh tangki tekan berisi udara bertekanan atmosfer, kemudian diisi air,
maka volume air yang akan mengalir hanya 10% dari volume tangki. Kelebihan sistem
tangki tekan adalah dari segi estetika tidak terlalu menyolok dibandingkan dengan
tangki atap, mudah dalam perawatan karena dapat dipasang dalam ruang mesin
bersama pompa-pompa lainnya dan harga awal lebih rendah dibandingkan dengan
tangki yang harus dipasang di atas menara
63
d. Sistem tanpa tangki
Dalam sistem ini tidak digunakan tangki apapun, baik tangki bawah, tangki tekan
ataupun tangki atap. Air dipompakan langsung ke sistem distribusi bangunan dan
pompa menghisap air langsung dari pipa utama (misal : pipa utama PDAM). Ada dua
macam dalam pelaksanaan sistem ini, dikaitkan dengan kecepatan putaran pompa
konstan dan variabel. Namun sistem ini dilarang di Indonesia, baik oleh perusahaan air
minum maupun pada pipa-pipa utama dalam pemukiman khusus (tidak untuk umum).
C. Jenis Pipa
Pipa merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengalirkan fluida. Terdapat beberapa
jenis pipa yang pada umumnya digunakan pada instalasi di dalam gedung adalah sebagai
berikut :
1. Pipa PVC (Poly Vinyl Chloride)
Pipa PVC merupakan pipa ini terbuat dari gabungan material vinyl plastik yang
menghasilkan pipa yang kuat, ringan, tidak berkarat serta mempunyai viskositas bagian
dalamnya tinggi. Jenis pipa ini biasa digunakan untuk instalasi air bersih dingin dan air
kotor.
2. Pipa HDPE (High Density Poly Ethylene)
64
Pipa HDPE ini terbuat dari bahan poly-ethylene yang mempunyai kepadatan tinggi
sehingga dapat menahan daya tekan yang lebih tinggi. Sehingga jenis pipa HDPE Pipa
jenis ini biasanya digunakan untuk instalasi air panas.
3. Pipa PPR PN (Poly Propylene Random)
Pipa steri dari bahan plastik polypropylene yang cocok untuk instalasi air bertekan, kuat
terhadap panas dan anti bocor penyambungan dan fitting yang sangat kuat, yang
memiliki permukaan yang licin dan suah memenuhi standart untuk instalasi siap minum.
Dalam menentukan jenis pipa yang akan digunakan harus diperhatikan jenis fluida yang akan
dialirkan, debit air serta kecepatan aliran
D. Pompa Air
Pompa air adalah suatu alat untuk menaikan air dari level yang rendah ke level yang, lebih
tiriggi. Dillhat dari jenisnya dapat dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu pompa hisap dan pompa
hisap-tekan. Pompa hisap hanya menaikan air dari level di bawah pompa kelevel sama
dengan level pompa. Pompa hisap-tekan menaikan air dari level dibawah pompa ke level
diatas pompa
E. Sistem Air Kotor
Sistem pembuangan air kotor dalam bangunan gedung dapat dijelaskan sebagai
berikut : "Air kotor yang dibuang melalui alat-alat saniter, dialirkan melalui pipa
pembuangan air kotor ke tempat pengolahan air kotor (septic tank atau unit pengolahan air
kotor melalui riool kota)".
Pada umumnya air kotor mengalir secara gravitasi, penggunaan pompa hanya untuk
memompa air kotor dari bak periampung air kotor yang berlokasi di bagian bawah bangunan
(basement) ke unit pengolahan air kotor.
Sarana pengaliran air kotor pada umumnya ber-upa pemipaan. Bahan pipa yang
dimmakan hares memenuhi persyaratan sebagai berikut
- Tidak, mudah bocor
- Tahan terhadap asam
- Tahan terhadap cuaca, untuk pipa yang.diletakan di luar bangunan gedung.
Nama-nama pemipaan yang ada dalam sistem plumbing air kotor diantaranya adalah :
65
- Pipa cabang mendatar
- P i p a tegak
- Saluran pembuangan gedung
- Pipa ven
Fungsi dari pipa-pipa tersebui adalah : Pipa cabang mendatar adalah pipa
pembuangan mendatar yang menghuhungkan pembuangan alat plumbing dengan pipa tegak
air buangan. Berfungsi untuk mengalirkan air kotor dari alat plumbing ke pipa tegak air
kotor.
Dalam sistem plumbing air kotor, sistem pembuangan harus mampu mengalirkan air
buangan dengan cepat, dan biasanya air buangan mengandung bagianbagian padat. Oleh
karena itu pipa pembuangan cabang mendatar harus mempunyai ukuran dan kemiringan
yang cukup, sesuai dengan banyaknya dan jenis air buangan yang dialirkan. Pada umumnya
kemiringan pipa pembuangan cabang mendatar sebesar 2%.
Pipa tegak adalah pipa pembuangan air kotor yang rnenghubungkan pipa cabang
datar dengan pipa Saluran pembuangan gedung. Saluran pembuangan gedung adalah bagian
jaringan pipa terendah dari sistem pembuangan air kotor yang menerima air kotor dan,
saluruh jaringa air kotor dan menyalurkannya ke tempat pengolahan air kotor. Kemiringan
saluran pembuangan gedung sebesar (0,50 - 4) %.
Pipa ven adalah pipa yang dipasang untuk sirkulasi udara ke seluruh bagian system
pembuangan air kotor, dan mencegah terjadinya kerja sifon dan tekanan balik pada
perangkap
66
BAB VII
SISTEM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP
Kepedulian umat manusia terhadap lingkungan hidup pada saat ini sudah merupakan kep
edulian global dalam rangka kepentingan hidup umat itu sendiri. Kepedulian sekelompok
manusia saja terhadap lingkungan hidup tidak cukup oleh karena perubahan suatu lingkungan
yang dampaknya bukan saja terbatas secara lokal, tetapi berdampak global. Itulah sebabnya
mengapa "United Nations Conference on the Human Environment" yang diselenggarakan di
Stockholm tanggal 5 - 16 Juni 1972 telah menegaskan bahwa pengelolaan lingkungan hidup
demi pelestarian kemampuan lingkungan hidup merupakan kewajiban dari segenap umat
manusia dan setiap pemerintah di seluruh dunia.
Pada tahun 1982 Indonesia mengeluarkan undang-undang yang sangat penting mengenai
pengelolaan lingkungan hidup, yaitu: Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang
KetentuanKetentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (filosofinya bertumpu pada “hukum
lingkungan sebagai payung”), yang kemudian telah diganti dengan Undang-Undang Nomor 23
Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (selanjutnya disebut Undang-Undang
Pengelolaan Lingkungan Hidup/UUPLH) (filosofinya bertumpu pada “pengelolaan”). Kebijakan
tentang pengelolaan lingkungan hidup dengan diundangkannya undang-undang lingkungan
hidup tersebut merupakan tanggapan (response) pemerintah dan bangsa Indonesia terhadap hasil
United j bnva sswzZANations Conference on The Human Environment yang diselenggarakan
tanggal 5 sampai dengan 16 Juni 1972 di Stockholm itu.
Menyadari perlunya dilakukan pengelolaan lingkungan hidup demi pelestarian
kemampuan lingkungan hidup yang serasi dan seimbang untuk menunjang pembangunan yang
berkesinambungan, maka perlu meningkatkan pemanfaatan potensi sumber daya alam dan
lingkungan hidup dengan melakukan konversi, rehabilitasi dan penghematan penggunaan dengan
menerapkan teknologi ramah lingkungan, serta mendayagunakan sumber daya alam untuk
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dengan memperhatikan kelestarian fungsi dan
keseimbangan lingkungan hidup, pembangunan yang berkelanjutan, kepentingan ekonomi dan
67
budaya masyarakat lokal serta, penataan ruang, yang pengusahaannya diatur dengan undang-
undang.
Pengertian lingkungan hidup tidak dapat dipisahkan dari ekologi, ekosistem dan daya
dukung lingkungan. Istilah ekologi pertama kali digunakan oleh Haeckel di tahun 1860-an.
Istilah ekologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu eikos yang berarti rumah dan logos berarti ilmu.
Oleh karena itu, secara harfiah ekologi berarti tentang mahluk hidup dalam rumahnya atau dapat
diartikan juga sebagai ilmu tentang rumah tangga mahluk hidup. Istilah ekologi saat ini semakin
populer, karena bila terjadi kerusakan/pencemaran lingkungan, maka pikiran seketika tertuju
pada persoalan ekologi. Ekologi menyatakan bahwa persoalan ekologi yang terjadi karena
kecenderungan manusia memisahkan masalah lingkungan hidup dengan manusia itu
sendiri.“Ekologi adalah ilmu dasar untuk mempertanyakan, menyelidiki, dan memahami
bagaimana alam bekerja, bagaimana keberadaan mahluk hidup dalam sistem kehidupan, apa
yang mereka perlukan dari habitatnya untuk dapat melangsungkan kehidupannya, bagaimana
dengan melakukan semuanya itu dengan komponen lain dan spesies lain, bagaimana individu
dalam spesies itu beradaptasi, bagaimana mahluk hidup itu menghadapi keterbatasan dan harus
toleran terhadap berbagai perubahan, bagaimana individu-individu dalam spesies itu mengalami
pertumbuhan sebagai bagian dari suatu populasi atau komunitas. Semuanya ini berlangsung
dalam suatu proses yang mengikuti tatanan, prinsip dan ketentuan alam yang rumit, tetapi cukup
teratur, yang dengan ekologi kita memahaminya.”
Ekosistem merupakan salah satu komponen yang juga mempunyai hubungan yang erat
dengan ekologi. Hubungan antara manusia dengan lingkungan sekitarnya terjalin sangat erat.
Manusia merupakan bagian dari lingkungan itu sendiri. Manusia hidup dengan manusia yang
lain serta makhluk-makhluk yang lain secara berkelompok membentuk sebuah ekosistem.
Ekosistem adalah kesatuan makhluk dalam suatu daerah tertentu (abiotic community) di mana di
dalamnya tinggal suatu komposisi organisme hidup (biotic community) yang di antara keduanya
terjalin suatu interaksi yang harmonis dan stabil, terutama dalam jalinan bentuk-bentuk sumber
energi kehidupan. “Bahwa suatu konsep sentral dalam ekologi ialah ekosistem., yaitu suatu
sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara mahluk hidup dengan
lingkungannya.
68
Ekosistem terbentuk oleh komponen hidup dan tidak hidup yang berinteraksi membentuk
suatu kesatuan yang teratur. Keteraturan terjadi oleh arus antara komponen dalam ekosistem itu.
Masing-masing komponen itu mempunyai fungsi. Selama masing-masing komponen itu
melakukan fungsinya dan bekerja dengan baik, keteraturan ekosistem itu terjaga. Pengertian
Hukum Lingkungan Hukum lingkungan dalam bidang ilmu hukum, merupakan salah satu bidang
ilmu hukum yang paling strategis karena hukum lingkungan mempunyai banyak segi yaitu segi
hukum administrasi, segi hukum pidana dan segi hukum perdata. Dalam pengertian sederhana,
hukum lingkungan diartikan sebagai hukum yang mengatur tatanan lingkungan (lingkungan
hidup), dimana lingkungan mencakup semua benda dan kondisi, termasuk didalamnya manusia
dan tingkah perbuatannya yang terdapat dalam ruang dimana manusia berada dan memengaruhi
kelangsungan hidup serta kesejahteraan manusia serta jasad-jasad hidup lainnya. Dalam
pengertian secara modern, hukum lingkungan lebih berorientasi pada pada lingkungan atau
EnvironmentOriented Law, sedang hukum lingkungan yang secara klasik lebih menekankan
pada orientasi penggunaan lingkungan atau Use-Oriented Law.
Hukum lingkungan modern dalam hukum lingkungan modern, ditetapkan ketentuan dan
norma-norma guna mengatur tindak perbuatan manusia dengan tujuan untuk melindungi
lingkungan dari kerusakan dan kemerosotan mutunya demi untuk menjamin kelestariannya agar
dapat secara langsung terus-menerus digunakan oleh generasi sekarang maupun generasi-
generasi mendatang. Hukum lingkungan modern berorientasi pada lingkungan, sehingga sifat
dan waktunya juga mengikuti sifat dan watak dari lingkungan itu sendiri dan dengan demikian
lebih banyak berguru kepada ekologi. Dengan orientasi kepada lingkungan ini, maka hukum
lingkungan modern memiliki sifat utuh menyeluruh (komprehensif integral), selalu berada dalam
dinamika dengan sifat dan wataknya yang luwes. Hukum lingkungan klasik sebaliknya, hukum
lingkungan klasik menetapkan ketentuan dan norma-norma dengan tujuan terutama sekali untuk
menjamin penggunaan dan eksploitasi sumber-sumber daya lingkungan dengan berbagai akal
dan kepandaian manusia guna mencapai hasil semaksimal mungkin, dan dalam jangka waktu
yang sesingkat-singkatnya. Hukum lingkungan klasik bersifat sektoral, serta kaku dan sukar
berubah. Mochtar Kusumaatmadja mengemukakan.
Sistem pendekatan terpadu atau utuh harus diterapkan oleh hukum untuk mampu
mengatur lingkungan hidup manusia secara tepat dan baik, sistem pendekatan ini telah melandasi
69
perkembangan hukum lingkungan di Indonesia. Drupsteen mengemukakan, bahwa hukum
lingkungan (Millieu recht) adalah hukum yang berhubungan dengan lingkungan alam (Naturalijk
milleu) dalam arti seluas-luasnya. Ruang lingkupnya berkaitan dengan dan ditentukan oleh ruang
lingkup pengelolaan lingkungan. Mengingat pengelolaan lingkungan dilakukan terutama oleh
pemerintah, maka hukum lingkungan sebagian besar terdiri atas hukum pemerintahan
(bestuursrecht). Hukum lingkungan merupakan instrumentarium yuridis bagi pengelolaan
lingkungan hidup, dengan demikian hukum lingkungan pada hakikatnya merupakan suatu bidang
hukum yang terutama sekali dikuasai oleh kaidah-kaidah hukum tata usaha negara atau hukum
pemerintahan. Untuk itu dalam pelaksanaannya aparat pemerintah perlu memperhatikan asas-
asas umum pemerintahan yang baik (Algemene Beginselen van Behoorlijk Bestuur/General
Principles of Good Administration). Hal ini dimaksudkan agar dalam pelaksanaan
kebijaksanaannya tidak menyimpang dari tujuan pengelolaan lingkungan hidup.
Adapun sasaran pengelolaan lingkungan hidup adalah :
1. Tercapainya keselarasan, keserasian dan keseimbangan antara manusia dan
lingkungan hidup
2. Terwujudnya manusia Indonesia sebagai insane lingkungan hidup yang memiliki
sikap dan tindak melindungi dan membina lingkungan hidup
3. Terjaminnya kepentingan generasi masa kini dan generasi masa depan
4. Tercapainya kelestarian fungsi lingkungan hidup 2
5. Terkendalinya pemanfaatan sumber daya secara bijaksana
6. Terlindunginya Negara Kesatuan Republik Indonesia terhadap dampak usaha
dan/atau kegiatan di luar wilayah Negara yang menyebabkan pencemaran dan/atau
perusakan lingkungan hidup.
Pelestarian fungsi lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk memelihara
kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. Daya dukung muerupakan
kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup
lain, sedangkan daya tampung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk
menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang masuk atau dimasukkan ke dalamnya.
70
Upaya perlindungan lingkungan dilakukan berdasarkan baku mutu lingkungan, baik
berupa criteria kualitas lingkungan (ambient) maupun kualitas buangan atau limbah (effluent).
Baku mutu lingkungan hidup adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau
komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya
dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsure lingkungan hidup. Baku mutu sebagai tolok
ukur untuk menetapkan apakah lingkungan telah rusak atau apakah suatu kegiatan telah merusak
lingkungan perlu dilaksanakan dan diacu dalam kegiatan pembangunan nasional. Baku mutu
lingkungan dapat berbeda untuk setiap wilayah atau waktu yang berbeda mengingat adanya
perbedaan kondisi lingkungan, tata ruang dan teknologi
A. Permasalahan Lingkungan
Permasalahan lingkungan alam di Indonesia terutama meliputi 6 hal:
1. Sumber daya lahan
2. Sumber daya air
3. Sumber daya hutan
4. Keaneka ragaman hayati
5. Pesisir dan lautan
6. Udara
B. Pendekatan dalam pengelolaan lingkungan hidup
1. Pendekatan teknologis
2. Pendekatan hukum, peraturan
3. Pedekatan ekonomis
4. Pendekatan pendidikan
5. Pendekatan sosial budaya
6. Pendekatan politik
7. Pendekatan ekologis
8. Pendekatan agama
C. Baku Mutu Lingkungan
71
Baku mutu lingkungan hidup adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat,
energi, atau komponen yang ada atah harus ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang
keberadaannya dalam suatu sumberdaya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup. Jadi, jika
unsur-unsur pencemar dalam suatu lingkungan sudah melewati batas baku mutu yang
ditetapkan menurut undang-undang, maka lingkungan tersebut dikatakan telah mengalami
pencemaran. Undang-Undang No. 23 tahun 1997 menjelaskan bahwa pencemaran
lingkungan hidup adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi,
dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga
kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak
dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya
Dengan adanya baku mutu ini diharapkan akan terjadi kesamaan pandang dalam
memandang lingkungan, dan memang baku mutu ini dimaksudkan untuk melindungi
lingkungan dengan semkin banyaknya kegiatan manusia. Berikut ini contoh baku mutu
limbah cair industri tekstil berdasarkan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Istimewa
Yogyakarta Nomor : 281/KPTS/1998
Parameter-parameter yang digunakan dalam pengukuran kualitas air limbah:
- BOD (Biochemical Oxygen Demand) adalah banyaknya oksigen dalam ppm atau mg/l
yang dipergunakan untuk menguraikan bahan organik oleh mikroorganisme. (secara
biokimiawi)
72
- COD (Chemical Oxygen Demand) adalah banyaknya oksigen dalam ppm atau mg/l yang
dibutuhkan untuk menguraikan bahan organik secara kimiawi (menggunakan oksidator
yang kuat seperti asam dikhromat & asam sulfat atau potasium permanganat dan asam
sulfat dengan katalis garam perak dan garam merkuri)
- TSS (Total Suspended Solid) adalah total padatan tersuspensi, yaitu padatan yang
menyebabkan kekeruhan air, tidak larut dan tidak mengendap langsung.
- DO (Dissolved Oxygen) atau oksigen terlarut adalah banyaknya oksigen yang terkandung
di dalam air dan diukur dalam satuan mg/l. Oksigen terlarut ini digunakan sebagai
derajat pengotoran limbah yang ada. Semakin besar oksigen terlarut, maka derajat
pengotoran semakin kecil.
D. Permasalahan Lingkungan Hidup
Di Indonesia, secara garis besar ada 5 permasalahan pengelolaan lingkungan hidup, yaitu
kebijaksanaan, peraturan perundang-undangan, kelembagaan, dukungan data dan informasi
lingkungan serta kesiapan teknologi pengelolaan lingkungan dan peran serta masyarakat
1. Kebijaksanaan
2. Peraturan perundangan undangan
3. Kelembagaan
4. Dukungan data dan informasi
5. Peran serta Masyarakat
E. Sistem Pengelolaan Lingkungan Hidup
Semua kegiatan manusia mempunyai dampak pada lingkungan hidup. Kegiatan
hayatinya seperti pembuangan sisa metabolismenya dalam bentuk air seni dan tinja,
berdampak pada lingkungan hidup. Dampak itu makin besar lagi dengan berkembangnya
kegiatan ekonomi dan teknologi yang memberikan kemampuan kepadanya untuk melakukan
rekayasa dan meningkatkan penggunaan energi.
Sikap dan kelakuan kita terhadap lingkungan hidup sangan didominasi oleh
pertimbangan ekonomi, bahkan kadang berlebihan sehingga mendorong terjadinya
73
eksploitasi tanpa diikuti oleh tindakan perlindungan yang memadai. Perilaku tersebut juga
dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan atau kurangnya penghargaan terhadap fungsi
ekologi lingkungan hidup yang memberikan layanan pada manusia, sehingga mengakibatkan
kerusakan lingkungan hidup. Untuk itu perlu mengubah sikap dan kelakuan kita menjadi
perilaku yang ramah lingkungan.
Mengubah sikap dan kelakuan bukanlah pekerjaan yang mudah. Namun pada
dasarnya usaha itu dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu
1. Dengan instrument pengaturan dan pengawasan
2. Dengan instrument ekonomi
3. Dengan Instrumen Suasif, yaitu mendorong masyarakat secara persuasive, bukan paksaan
Khusus di Indonesia, ada beberapa hal yang menjadi kendala dalam rangka penegakan
hukum yaitu
1. Hambatan yang bersifat alamiah
2. Kesadaran Hukum Masyarakat masih Rendah
3. Belum lengkap Peraturan Hukum menyangkut penanggulangan masalah Lingkungan,
khususnya Pencemaran, Pengurasan dan Perusakan Lingkungan
4. Khusus untuk Penegakan Hukum Lingkungan, para Penegak Hukum belum mantap dan
professional
5. Masalah pembiayaan
F. Implemtasi Pasal 33 UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 terhadap Pengelolaan
Lingkungan Hidup
Dalam rangka pengelolaan lingkungan demi untuk kemakmuran masyarakat, maka
sudah selayaknya pemerintah ambil bagian dalam pengaturan, terutama berkait dengan
masalah pembangunan karena sering ada anggapan bahwa pembangunan merupakan
penyebab rusaknya lingkungan. Pembangunan berkelanjutan menurut Undang Undang
Nomor 32 tahun 2009 adalah upaya sadar dan terencana yang memadukan aspek lingkungan
hidup, sosial, dan ekonomi ke dalam strategi pembangunan untuk menjamin keutuhan
lingkungan hidup serta keselamatan, kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi
74
masa kini dan generasi masa depan. Hal ini perlu dipakai sebagai landasan pembangunan di
Indonesia, karena sesuai Pasal 33ayat (3) UUD negara Republik Indonesia tahun 1945
bahwa ¥%XPL GDQ DLU GDQ NHNDyaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai
oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya
Berkait dengan hal tersebut, perizinan menjadi faktor penting dalam rangka kegiatan
pembangunan, supaya tujuan awal bahwa alam ini diciptakan demi untuk meningkatkan
kesejahteraan manusia maka hendaknya dalam pengelolaan harus dilakukan secara
bijaksana. Perizinan merupakan kewenangan dari pemerintah untuk mengadakan pengaturan
supaya timbul adanya ketertiban. Berdasar ketentuan pasal 36 ayat (1) Undang Undang
Nomor 32 tahun 2009 bahwa setiap usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki amdal atau
UKL-UPL (upaya pengelolaan lingkungan hidup ± upaya pemantauan lingkungan hidup )
wajib memiliki izin lingkungan, mengingat dampak yang dapat timbul akibat kegiatan
manusia terhadap lingkungan dapat meliputi :
1. Perubahan iklim,
2. Kerusakan, kemerosotan, dan/atau kepunahan keanekaragaman hayati,
3. Peningkatan intensitas dan cakupan wilayah bencana banjir, longsor, kekeringan,
dan/atau kebakaran hujtan dan lahan,
4. Penurunan mutu dan kelimpahan sumber daya alam,
5. Peningkatan alih fungsi kawasan hutan dan/atau lahan,
6. Peningkatan jumlah penduduk miskin atau terancamnya keberlanjutan penghidupan
sekelompok masyarakat; dan/atau
7. Peningkatan risiko terhadap kesehatan dan keselamatan manusia
Kemakmuran yang yang menjadi tujuan akhir dari pengelolaan lingkungan ini, di
dalam pelaksanaannya harus benar-benar memperhatikan ketentuan sebagaimana diatur
dalam undang-undang, seperti halnya adanya ketentuan untuk mencantumkan analisis
mengenai dampak lingkungan (AMDAL) bagi suatu usaha atau kegiatan, sekalipun tidak
setiap usaha/kegiatan harus disertai AMDAL. AMDAL adalah telaahan secara cermat dan
mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. Sesuai
75
Pasal 22 Undang Undang Nomor 32 tahun 2009 bahwa usaha/kegiatan yang harus disertai
AMDAL adalah yang menimbulkan dampak penting yang ditentukan berdasarkan criteria:
a. besarnya jumlah penduduk yang akan terkena dampak rencana usaha dan/atau kegiatan;
b. luas wilayah penyebaran dampak;
c. intensitas dan lamanya dampak berlangsung;
d. banyaknya komponen lingkungan hidup lain yang akan terkena dampak;
e. sifat kumulatif dampak;
f. berbalik atau tidak berbaliknya dampak; dan/atau
g. kriteria lain sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
76
BAB VIII
TATA PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI BANK SAMPAH
Sampah adalah sesuatu yang tidak dikehendaki oleh yang punya dan bersifat padat.
Menurut Undang-Undang No. 18 Tahun 2008, tentang Pengelolaan sampah menyatakan bahwa
sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat.
Pengertian sampah menurut SNI 19-2454-2002 tentang Tata Cara Teknik Operasional Pengelolaan
Sampah Perkotaan adalah limbah yang bersifat padat terdiri dari bahan organik dan bahan
anorganik yang dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak membahayakan
lingkungan dan melindungi investasi pembangunan
A. Klasifikasi Sampah
1. Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No. 18 Thn 2008 Sampah yang dikelola
berdasarkan undang-undang ini terdiri atas:
- Sampah rumah tangga, sampah ini berasal dari kegiatan sehari-hari dalam rumah
tangga, tidak termasuk tinja dan sampah spesifik
- Sampah sejenis sampah rumah tangga sampah ini berasal dari kawasan komersial,
kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas sosial, fasilitas umum dan/ atau fasilitas
lainnya
- Sampah spesifik, sampah ini meliputi: sampah yang mengandung bahan berbahaya
dan beracun, sampah yang timbul akibat bencana, puing bongkaran bangunan, sampah
yang secara tekologi belum dapat diolah, dan/atau sampah yang timbul tidak secara
periodik
77
2. Berdasarkan Asalnya
Secara umum, jenis sampah berdasarkan asalnya dapat dibagi menjadi 2 (dua) yaitu
sampah organik dan sampah anorganik.
Sampah organik terdiri dari bahan- bahan penyusun tumbuhan dan hewan yang
diambil dari alam atau dihasikan dari kegiatan rumah tangga, pertanian, perkantoran, dan
kegiatan lain. Sampah ini dengan mudah diuraikan dalam proses alami. Sampah rumah
tangga sebagian besar merupakan bahan organik. Sampah organik itu adalah sampah dari
dapur seperti sisa makanan, sayuran, kulit buah, rampah-rempah dan lain-lain
Sampah anorganik berasal dari sumber daya alam tak terbaharui seperti mineral,
minyak bumi, dan atau dari proses industri. Beberapa dari bahan ini tidak terdapat di alam
seperti plastik dan alumunium. Sebagai zat anorganik secara keseluruhan tidak dapat di
urai oleh alam, sedangkan sebagaian lainya hanya dapat diurai dalam waktu yang sangat
lama. Sampah jenis ini dalam tingkat rumah tangga dalam bentuk botol kaca, botol plastik,
tas plastik, dan kaleng. Kertas, koran dan karton yang berupa perkecualian. Berdasarkan
asalnya, kertas, koran dan karton termasuk sampah organik. Tetapi karena kertas, koran
dan karton dapat di daur ulang seperti sampah anorgaik lain (misalnya gelas, kaleng dan
plastik), maka dimasukkan kedalam kelompok sampah anorganik
3. Berdasarkan Sifatnya
Secara garis besar sampah dapat di golongakan sebagai berikut
- Degradable waste (sampah yang mudah membusuk atau terurai). Sampah ini dapat
diurai secara sempurna oleh proses biologi baik aerob maupun anaerob misalnya: sisa
makanan, sayuran, daging dan lain-lain
78
- Non-Degradable waste (sampah tidak mudah terurai atau membusuk) yaitu: plastik,
kaleng bekas dan lain-lain. Jenis sampah ini dapat dibagi lagi menjad
a. Recyclable, sampah yang dapat diolah dan digunakan kembali karena memiliki
nilai ekonomis seperti plastik, kertas, pakaian dan lainya
b. Non-reccyable, sampah yang tidak memiliki nilai ekonomi dan tidak dapat diolah
atau diubah kembali seperti tetra pacs,carbon paper, thermo coal dan lain-lain
- Combustable waste (sampah yang mudah terbakar), misalnya kertas, daun-daun
kering, dan lain-lain
- Non- Combustable waste (sampah yang tidak mudah terbakar), misalnya: besi, kaleng
bekas, gelas dan lain-lain
B. Sumber-Sumber Sampah
Sampah yang dikelola oleh pemerintah kota di Indonesia sering dikategorikan dalam beberapa
kelompok, yaitu
1. Sampah dari rumah tinggal: merupakan sampah yang dihasilkan dari kegiatan atau
lingkungan rumah tangga atau sering disebut dengan istilah sampah domestik. Dari
kelompok sumber ini umumnya dihasilkan sampah berupa sisa makanan, plastik, kertas,
karton, kain, kayu, kaca, daun, logam dan kadang-kadang sampah berukuran besar seperti
dahan pohon. Praktis tidak terdapat sampah yang biasa dijumpai di negara industri seperti
mebel, TV bekas, kasur dll. Kelompok ini dapat meliputi rumah tinggal yang di tempati
oleh sebuah keluarga, atau sekelompok rumah yang berada dalam suatu kawasan
pemukiman, maupun unit rumah tinggal yang berupa rumah susun. Dari rumah tinggal
79
tinggal juga dapat dihasilkan sampah golongan B3 (bahan berbahaya dan beracun), seperti
misalnya baterei, lampu TL, sisa obat-obatan, oli bekas, dll.
2. Sampah dari daerah komersial : sumber sampah dari kelompok ini berasal dari pertokoan,
pusat perdagangan, pasar, hotel, perkantoran, dll. Dari sumber ini umumnya dihasilkan
sampah berupa kertas, plastik, kayu, kaca, logam dan juga sisa makanan. Khusus dari
pasar tradisional banyak dihasilkan sisa sayur, buah, makanan yang mudah membusuk.
Secara umum sampah dari sumber ini adalah mirip dengan sampah domestik tetapi dengan
komposisi yang berbeda.
3. Sampah dari perkantoran/institusi : sumber sampah dari kelompok ini meliputi
perkantoran, sekolah, rumah sakit, lembaga pemasyrakatan dll
4. Sampah dari jalanan/ taman dan tempat umum : sumber dari sampah ini dapat berasal dari
jalan kota, tempat parkir, tempat rekreasi, saluran drainase kota dll. Dari daerah ini
umumnya di hasilkan sampah berupa daun/dahan pohon, pasir/lumpur, sampah umum
seperti plastik, kertas dan lain-lain.
5. Sampah dari industri dan rumah sakit yang sejenis dengan sampah kota : kegiatan umum
dari industri dan rumah sakit tetap menghasilkan sampah sejenis sampah domestik, seperti
sisa makanan, kertas, plastik dan lain-lain. Yang perlu mendapat perhatian adalah,
bagaimana sampah yang tidak sejenis sampah kota tersebut tidak masuk dalam sistem
pengelolaan sampah kota.
C. Pengelolaan Sampah
Menurut PP No. 81 tahun 2012, tentang Pengelolaan Sampah Sejenis Sampah
Rumah Tangga, pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh dan
80
berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Pengelolaan sampah
dimulai dari sumber, pewadahan, pengumpulan, transfer/pemindahan dan
transport/pengangkutan, pengolahan serta pembuangan akhir. Pengurangan meliputi
pembatasan timbulan, pendaur ulangan sampah dan atau pemanfaatan kembali sampah.
Penanganan sampah meliputi kegiatan pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, dan
pemrosesan akhir sampah.
Dalam perencanaan sistem pengelolaan persampahan suatu kota perlu diketahui
data awal berupa timbulan, komposisi dan karakteristik sampah, sehingga pengelolaan
persampahan mulai dari sumber, pewadahan, pengumpulan, transfer dan transpor, pengolahan
serta pembuangan akhir akan lebih optimal. Timbulan (kuantitas) sampah merupakan volume
sampah atau berat sampah yang dihasilkan dari jenis sumber sampah di wilayah tertentu per
satuan waktu
D. Permasalahan Pengelolaan Sampah
Masalah-masalah pokok dalam pengelolaan persampahan kota diantaranya yaitu :
1. Perbedaan tingkat sosial budaya penduduk kota
2. Sirkulasi dana serta prioritas penanganan yang relatif rendah dari pemerintah daerah
merupakan masalah umum dalam skala nasional
3. Pergeseran teknik penanganan makanan, misalnya menuju pengemas makanan yang tidak
dapat terurai seperti plastik
4. Keterbatasan sumber daya manusia
5. Pengembangan perancangan peralatan persampahan yang bergerak sangat lambat
6. Partisipasi masyarakat yang masih kurang terorganisir di lapangan
81
Sampah yang merupakan permasalahan penting yang sulit diselesaikan. Hal ini disebabkan
karena permasalahan sampah menyangkut banyak hal diantaranya, aspek kesehatan, lingkungan,
sosial, budaya, bahkan politik. Menangani sampah secara sederhana (konvensional) sebenarnya
sangat mudah dilakukan, yaitu dengan membakar, mengumpulkan di tempat pembuangan 20 akhir
(TPA), atau dengan menimbun secara langsung. Namun cara seperti itu, tidak menjadikan
permasalahan sampah tuntas.
Permasalahan sampah bukan hanya berdampak pada persoalan lingkungan, tetapi juga telah
menimbulkan kerawanan sosial dan bencana kemanusiaan. Ada beberapa hal kreatif dan efektif
yang bisa kita lakukan agar sampah tidak menggunung dan menyebabkan kerusakan lingkungan
yaitu menerapkan prinsip 3R yaitu :
1. Reduce (mengurangi sampah); sebisa mungkin lakukan minimalisasi barang atau material
yang kita pergunakan. Beberapa cara diantaranya:
- Membawa tas belanja sendiri untuk mengurangi sampah kantong plastik pembungkus
barang belanjaan
- Membeli kemasan isi ulang untuk shampoo dan sabun daripada membeli botol baru
ataupun shaset sekali pakai setiap kali habis
- Membeli susu, makanan kering, deterjen dan lain-lain dalam paket yang besar daripada
membeli beberapa paket kecil untuk volume yang sama
2. Reuse (memakai kembali); sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa dipakai kembali.
Beberapa cara diantaranya :
- Memanfaatkan botol-botol bekas untuk wadah
- Memanfaatkan kantong plastic bekas kemasan belanja untuk pembungkus
82
- Memanfaatkan pakaian atau kain-kain bekas untuk kerajinan tangan, perangkat
pembersih (lap), maupun berbagai keperluan lainnya
3. Recycle (mendaur ulang); sebisa mungkin, barang-barang yang sudah tidak berguna lagi bisa
didaur ulang. Beberapa cara diantaranya :
- Mengumpulkan kertas, majalah dan surat kabar bekas untuk di daur ulang
- Mengumpulkan sisa-sisa kaleng atau botol gelas untuk di daur ulang
- Menggunakan berbagai produk kertas maupun barang lainnya hasil daur ulang
E. Beberapa permasalahan yang mungkin timbul dalam sistem pengelolaan sampah yaitu :
a. Dari segi pengumpulan sampah dirasa kurang efisien karena mulai dari sumber sampah
sampai ke tempat pembuangan akhir, sampah belum dipilah-pilah sehingga kalaupun akan
diterapkan teknologi lanjutan berupa composting maupun daur ulang perlu tenaga untuk
pemilahan menurut jenisnya sesuai dengan yang dibutuhkan dan hal ini akan memerlikan
data maupun menyita waktu.
b. Pembuangan akhir ke TPA dapat menimbulkan masalah, diantaranya :
- Memerlukan lahan yang besar bagi tempat pembuangan akhir (TPA) sehingga hanya
cocok bagi kota yang masih mempunyai banyak lahan yang tidak terpakai. Apalagi
bila kota menjadi semakin bertambah jumlah penduduknya, maka sampah akan
menjadi bertambah juga sehingga lahan TPA yang diperlukan menjadi bertambah luas.
- Biaya operasional sangat tinggi bagi pengumpulan, pengangkutan dan pengolahan
lebih lanjut. Apalagi bila letak TPA jauh dan bukan di wilayah ekonomi.
83
F. Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat
Pengelolaan sampah berbasis masyarakat adalah penanganan sampah yang melibatkan
partisipasi aktif dari masyarakat untuk mengatasi sampah secara terorganisir pada tahap
penimbulan, pengumpulan, pengolahan dan pemrosesan akhir terhadap sampah yang
dihasilkan,. Pelaksanaan pengelolaan sampah berbasis masyarakat ini sebagian sudah
dilakukan dengan memilah sendiri sampah rumah tangganya dan kemudian menjualnya ke
pengepul untuk sampah yang laku dijual. Bahkan ada sebagian masyarakat yang memulung
sampah yang ada dilingkungannya untuk dijual ke pengepul. Namun sistemnya belum
terorganisir dan hanya dilakukan oleh sebagian kecil masyarakat saja
G. Pengertian dan Fungsi Bank Sampah
Menurut permen LH RI No 13 Tahun 2012 Bank Sampah adalah tempat pemilihan
dan pengumpulan sampah yang dapat di duar ulang dan atau digunakan ulang yang memiliki
nilai ekonomi. Bank Sampah merupakan tempat menabung sampah yang telah terpilah
menurut jenis sampah, sampah yang ditabung pada bank sampah adalah sampah yang
mempunyai nilai ekonomis. Cara kerja bank sampah pada umumnya hampir sama dengan
bank lainnya, ada nasabah, pencatatan pembukuan dan manajemen pengelolaannya, apabila
dalam bank yang biasa kita kenal yang disetorkan nasabah adalah uang. Akan tetapi, dalam
bank sampah yang disetorkan adalah sampah yang mempunyai nilai ekonomis, sedangkan
pengelola bank sampah harus orang yang kreatif dan inovatif serta memiliki jiwa
kewirausahaan agar dapat meningkatkan pendapatan masyarakat
84
H. Standar Manajemen Bank Sampah
Merujuk pada Permen LH No 13 Tahun 2012 berikut adalah standar menajemen dalam bank
sampah
a. Penabung Sampah
- dilakukan penyuluhan Bank Sampah paling sedikit 1 (satu) kali dalam 3 (tiga) bulan
- setiap penabung diberikan 3 (tiga) wadah/tempat sampah terpilah
- penabung mendapat buku rekening dan nomor rekening tabungan sampah
- telah melakukan pemilahan sampah
- telah melakukan upaya mengurangi sampah
b. Pelaksana Bank Sampah;
- menggunakan alat pelindung diri (APD) selama melayani penabung sampah
- mencuci tangan menggunakan sabun sebelum dan sesudah melayani penabung
sampah
- direktur Bank Sampah berpendidikan paling rendah SMA/sederajat
- telah mengikuti pelatihan Bank Sampah
- melakukan monitoring dan evaluasi (monev) paling sedikit 1 (satu) bulan sekali
dengan melakukan rapat pengelola Bank Sampah
- jumlah pengelola harian paling sedikit 5 (lima) orang
- pengelola mendapat gaji/insentif setiap bulan.
c. Pengepul/pembeli sampah/industri daur ulang;
- tidak melakukan pembakaran sampah
- Mempunyai naskah kerjasama/mou dengan Bank Sampah sebagai mitra dalam
pengelolaan sampah
85
- mampu menjaga kebersihan lingkungan seperti tidak adanya jentik nyamuk dalam
sampah kaleng/botol
- mempunyai izin usaha
d. Pengelolaan sampah di Bank Sampah;
- sampah layak tabung diambil oleh pengepul paling lama sebulan sekali
- sampah layak kreasi didaur ulang oleh pengrajin binaan Bank Sampah
- sampah layak kompos dikelola skala RT dan/atau skala komunal
- sampah layak buang (residu) diambil petugas PU 2 (dua) kali dalam 1 (satu) minggu
- cakupan wilayah pelayanan Bank Sampah paling sedikit 1 (satu) kelurahan (lebih
besar dari 500 (lima ratus) kepala keluarga)
- sampah yang diangkut ke TPA berkurang 30-40 % setiap bulannya
- jumlah penabung bertambah rata-rata 5-10 penabung setiap bulannya
- Adanya replikasi Bank Sampah setempat ke wilayah lain.
e. Peran pelaksana Bank Sampah;
- sebagai fasilitator dalam pembangunan dan pelaksanaan Bank Sampah
- menyediakan data “pengepul/pembeli sampah“ bagi Bank Sampah
- menyediakan data “industri daur ulang”
- memberikan reward bagi Bank Sampah
86
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
http://repository.lppm.unila.ac.id/26780/1/PENGANTAR%20HIDROLOGI.pdf
https://www.researchgate.net/publication/343098045_Hidrologi_dan_Pengembangan_Sumbe
r_Daya_Air
http://repository.warmadewa.ac.id/id/eprint/16/1/100-187-1-SM.pdf
https://repository.unej.ac.id/bitstream/handle/123456789/88442/TRIESCA%20WAHYU%20
NURRAHMA%20-%20161910301153_.pdf?sequence=1&isAllowed=y
http://repository.ut.ac.id/4313/1/PWKL4221-M1.pdf
https://berliansuryarimbani.wordpress.com/2013/11/05/makalah-siklus-hidrologi/
https://www.academia.edu/9297518/HIDROLOGI_SIKLUS_HIDROLOGI
http://riffanty16.blogspot.com/2019/03/makalah-siklus-hidrologi-untuk-memenuhi.html
http://e-journal.uajy.ac.id/17548/2/TS161951.pdf
BAB II
Arisandi, P. Melaksanakan Pembangunan Berkelanjutan Dengan Menegakkan Hukum
Lingkungan Bagi Pencemar. Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah.
http://www.terranet.or.id
Undang-Undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan
Hidup
BAB III
https://www.researchgate.net/publication/280082419_Sistem_Air_Minum_dan_Permasalaha
nnya
http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-16453-2409105025-paperpdf.pdf
87
http://www.opi.lipi.go.id/data/1228964432/data/13086710321320047571.makalah.pdf
http://eprints.polsri.ac.id/3689/3/BAB%20II.pdf
BAB IV
https://media.neliti.com/media/publications/107940-ID-none.pdf
http://repository.warmadewa.ac.id/id/eprint/232/1/BUKU%20AJAR%20PENGELOLAAN%
20AIR.pdf
http://eprints.undip.ac.id/4616/1/06-RUBIANTO_NE_W_108-121.pdf
http://bapelkescikarang.bppsdmk.kemkes.go.id/kamu/kurmod/sandar/MODUL%20MI%202
%20PENGELOLAAN%20AIR%20BERSIH.pdf
BAB V
https://media.neliti.com/media/publications/212028-perencanaan-pengolahan-air-limbah-
sistem.pdf
36704-91650-1-PB.pdf
https://simdos.unud.ac.id/uploads/file_pendidikan_1_dir/5099c1d958ba3deb6270dea7d2bc8
bf6.pdf
https://www.iuwashplus.or.id/cms/wp-content/uploads/2017/04/Buku-San1-SPALD-
Setempat.pdf
http://sibima.pu.go.id/pluginfile.php/8059/mod_resource/content/1/CK02-
Spesifikasi%20Teknis%20Air%20Limbah-
Sistem%20Pengelolaan%20Air%20Limbah%20Domestik-
Terpusat%20Skala%20Permukiman.pdf
http://sibima.pu.go.id/pluginfile.php/92631/mod_resource/content/1/Puti%20Sri%20Komala-
Pengelolaan%20Air%20Limbah%20Domestik.pdf
https://dlhk.sidoarjokab.go.id/downloads/PENGELOLAAN%20LIMBAH%20CAIR%20DO
MESTIK%20KAB.pdf
https://core.ac.uk/download/pdf/18605614.pdf
88
BAB VI
http://repository.lppm.unila.ac.id/7519/1/SISTEM%20DRAINASE%20SALURAN%20TER
BUKA.pdf
https://media.neliti.com/media/publications/144141-ID-perencanaan-sistem-drainase-
berwawasan-l.pdf
http://eprints.polsri.ac.id/1241/3/BAB%20II.pdf
https://dspace.uii.ac.id/bitstream/handle/123456789/12890/8.%20BAB%203%20TA%20.pdf
?sequence=8&isAllowed=y
BAB VII
http://sipil.upi.edu/wp-content/uploads/2016/11/sni-03-7065-2005-plambing.pdf
https://media.neliti.com/media/publications/177029-ID-perancangan-sistem-plambing-
instalasi-ai.pdf
http://file.upi.edu/Direktori/FPTK/JUR._PEND._TEKNIK_ARSITEKTUR/19760527200501
1-USEP_SURAHMAN/Mekanikal_Elektrikal_%28e-
learning%29/RKP_ME/Materi_perkuliahan/Sistem_pemipaan_%28plumbing%29_%286%2
9%29.pdf
https://www.researchgate.net/publication/315536283_PERANCANGAN_SISTEM_PLAMB
ING_INSTALASI_AIR_BERSIH_DAN_AIR_BUANGAN_PADA_PEMBANGUNAN_GE
DUNG_PERKANTORAN_BERTINGKAT_TUJUH_LANTAI
http://eprints.umm.ac.id/41690/3/BAB%20II.pdf
http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/2016-9/20248674-S50751-Arya%20Pinandita.pdf
https://www.academia.edu/38351811/Perencanaan_Plumbing_Gedung_pdf
http://repositori.kemdikbud.go.id/8071/1/Modul%20J%20Plambing.pdf
89
BAB VIII
http://staffnew.uny.ac.id/upload/131572380/pendidikan/Modul+Pengelolaan+Lingkungan.pd
f
file:///C:/Users/User/Downloads/Kebijakan-Hukum-Pengelolaan-Lingkungan-Hidup-di-
Indonesia.pdf
https://media.neliti.com/media/publications/23268-ID-konsep-pengelolaan-lingkungan-
hidup-menuju-kemakmuran-masyarakat.pdf
https://media.neliti.com/media/publications/23268-ID-konsep-pengelolaan-lingkungan-
hidup-menuju-kemakmuran-masyarakat.pdf
https://www.pustaka.ut.ac.id/lib/wp-content/uploads/pdfmk/PWKL4305-M1.pdf
https://media.neliti.com/media/publications/23268-ID-konsep-pengelolaan-lingkungan-
hidup-menuju-kemakmuran-masyarakat.pdf
https://www.researchgate.net/publication/333517244_Perlindungan_dan_Pengelolaan_Lingk
ungan_Hidup_Dalam_UUPPLH_Tahun_2009
https://www.academia.edu/5370225/PELAKSANAAN_SISTEM_KEBIJAKSANAAN_PEN
GELOLAAN_LINGKUNGAN_HIDUP_DENGAN_Oleh_BUDIANTO_SH_NIM_B4A_09
8_027
90